.
I'm Not Four Years Old Anymore, Hyung!
.
Author : syubsyubchim
.
Cast :
Park Jimin X Min Yoongi
Slight!BTS
.
Rate : M
.
NOTE :
YAOI! BOYXBOY! TYPOs! Review Juseyo
.
.
.
Jimin memeriksakan penampilannya sekali lagi di depan cermin. Dirinya sudah siap dengan seragam sekolahnya dan seluruh keperluan ujian nasionalnya. Setelah menyisir helaiannya ke belakang dengan jemarinya, Jimin menuruni tangga menuju ruang makan keluarganya untuk sarapan bersama.
Sudah tiga hari berlalu sejak hari kelulusan Yoongi, itu artinya sudah tiga hari juga yang terlewati sejak Jimin menolak untuk menyentuh Yoongi. Ya, kau benar. Tidak perlu membacanya berulang kali.
Jimin. Menolak. Yoongi.
Jimin kembali membuang napas kasar dan mengacak surai hitamnya. Yoongi terlihat kecewa, benar-benar kecewa padanya. Mengingat kembali bagaimana sorot mata Yoongi saat itu sekali lagi membuat Jimin merasa bersalah. Jimin sadar betapa bodoh dirinya menolak Yoongi saat itu. Yoongi sudah menyerahkan dirinya secara suka rela pada Jimin dan Jimin sadar berapa besar usaha Yoongi untuk menekan harga dirinya, meninggalkannya dibelakang.
Tapi Jimin juga sudah berjanji pada dirinya sendiri, orang tuanya dan orang tua Yoongi untuk melindungi hyung gula kesayangannya itu. Jimin sudah berjanji untuk tidak menyentuh Yoongi sebelum waktunya, sebelum dirinya siap. Jimin memang sering menggoda Yoongi, tapi itu hanya sekedar menggoda, Jimin tidak ada maksud lebih daripada melihat wajah Yoongi yang sukses merona karena godaannya.
"Selamat pagi, Jimin," Ibu Jimin yang melihat Jimin masuk kedalam ruang makan langsung mendaratkan sebuah kecupan pada pipi sang anak.
"Selamat pagi juga, eomma. Bagaimana tidurmu?" Jimin balas mendaratkan sebuah kecupan pada pipi eommanya. Menanyakan tidur sang ibu adalah hal yang selalu dilakukannya setiap pagi. Kebiasaan sejak kecil.
"Eomma tidur nyenyak, sayang. Kau sudah siap untuk ujian akhirmu?"
Jimin mengangguk sebagai jawaban saat sang eomma mengusap sayang surai gelapnya.
"Bagus, sekarang, ayo sarapan terlebih dahulu. Eomma akan memanggil appa sebentar."
Jimin kembali mengangguk mengiyakan dan duduk di meja makan sesuai permintaan sang eomma. Hari ini hari terakhir ujian akhirnya dan Jimin berencana untuk menemui Yoongi sepulang sekolah. Jimin sudah menolak seluruh ajakan teman sekelasnya yang mengundang Jimin untuk pesta minum sebagai tanda berakhirnya ujian mereka. Jimin punya urusan yang lebih penting daripada sekedar acara minum-minum bodoh yang diadakan teman sekelasnya. Jimin belum bertemu lagi dengan Yoongi sejak tiga hari lalu dan itu membuat pikiran Jimin kacau. Berantakan, bahkan di minggu ujian akhirnya.
Bukannya Jimin tidak mencoba, tapi saat Nyonya Min melarang Jimin untuk masuk ke dalam kamar Yoongi, Jimin tahu kekasih gulanya butuh waktu sendiri. Jimin bukannya tidak mau menemani Yoongi, sungguh, dada Jimin seakan sesak saat mengetahui kekasih gulanya menangis di dalam kamarnya sendirian. Yah, sendirian tanpa ada bahu yang bisa disandarinya atau lengan yang memeluk dan mengusap surainya sayang. Tidak ada yang bisa menenangkan Yoongi saat itu. Jimin sekalipun. Karena Yoongi balik mendorong Jimin saat Jimin menolak untuk menyentuhnya.
Jimin kembali merutuki kebodohannya yang langsung melepas pelukan Yoongi di dalam toko bunga dan mengajaknya pulang saat itu. Tanpa memandang sedikit pun ke arah iris karamel yang selalu menjadi favoritnya. Jimin menolak Yoongi, secara tidak langsung menolak Yoongi tanpa memberikan penjelasan. Pikiran Jimin hanya sedang kacau saat itu dan dirinya tidak mau dibutakan oleh nafsu. Jimin ingin melindungi Yoonginya. Yoonginya yang rapuh dan rentan.
Sekali lagi Jimin mengusak surainya dan mengerang frustasi. Oh, rasanya Jimin ingin menebas habis tubuhnya sendiri sekarang juga.
.
.
.
Yoongi membuka irisnya, menolah kearah jendela dan melihat sinar matahari yang menyelinap malu-malu lewat gorden kamarnya. Sudah tiga hari dirinya tidak bertemu Jimin. Jimin bukannya tidak berusaha menemuinya. Yoongi tahu Jimin datang kerumahnya beberapa kali, atau menghabiskan waktu menatap kosong kearah jendela kamar Yoongi lewat jendela kamarnya sendiri. Yoongi pernah mendapati Jimin yang melamun di jendela kamarnya lewat gorden kamar Yoongi saat Jimin seharusnya belajar memeras otak untuk ujian akhirnya. Yoongi juga tahu berapa banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab yang ada di ponsel Yoongi dari nomor Jimin. Yoongi hanya belum merasa siap bertemu dengan kekasih bocahnya.
Yoongi merindukan Jimin. Sangat merindukan bocah bermental empat tahun yang dicintainya itu. Tapi Yoongi masih malu. Setelah Yoongi seakan memohan pada JImin untuk menyentuhnya dan Jimin menolak untuk menyentuhnya tanpa menatap matanya atau memberikan penjelasan, Yoongi rasa dirinya belum siap untuk bertemu Jimin dalam waktu dekat.
Yoongi masih harus meluruskan pikirannya. Dan harga dirinya, tentu saja.
Yoong meraih ponselnya yang terletak di nakas samping tempat tidur, mengecek waktu yang sudah lewat tengah hari. Yoongi menangis sepanjang tiga malam dan baru terlelap saat matahari hampir menunjukan sinarnya. Lingkar hitam dan bengkak di matanya sungguh tidak enak dipandang, tapi apa peduli Yoongi? Tidak akan ada orang yang melihatnya, kecuali orang tuanya. Itupun kalau Yoongi memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya yang sudah menjadi markas persembunyiannya selama tiga hari belakangan.
TOK TOK TOK
"Sayang, kau sudah bangun?" Terdengar suara sang ibu sesaat setelah pintu kamar Yoongi diketuk halus. Yoongi mengangguk sekilas, "Ya, aku sudah bangun. Ada apa, eomma?"
"Boleh eomma masuk ke dalam, sayang?"
Yoongi terlihat berfikir sebentar dan sedikit merapikan penampilannya yang tidak membantu sama sekali, "Hm, masuklah, eomma."
Eomma Yoongi melangkah masuk dengan senampan makanan kesukaan Yoongi, beserta dessertnya. Yoongi memang kurang menikmati apapun yang masuk kedalam mulutnya tiga hari belakangan, tapi Yoongi tetap menyukai rasa masakan sang ibu. Senyum Yoongi terkembang saat melihat daging domba di atas nampan yang dibawa ibunya dan beberapa lauk tambahan. Juga sepotong besar cheesecake. Tidak buruk.
Setelah menaruh nampan di atas nakas samping tempat tidur, Ibu Yoongi mendudukan dirinya disamping putra semata wayang kesayangannya. Yoongi tidak suka ekspresi ibunya saat melihat keadaannya saat ini. Sorot mata khawatir penuh kekecewaan itu seakan meremas dada Yoongi. "Eomma," Yoongi berbisik pelan saat sang ibu mengusap sayang sisi wajahnya.
"Hey, sayang. Kau tahu, eomma tidak ingin meninggalkanmu saat keadaanmu seperti ini, tapi eomma juga tidak punya pilihan lain saat kesehatan halmeoni kembali bermasalah di Daegu. Eomma dan appa harus pergi ke Daegu sekarang juga untuk melihat keadaan halmeoni. Tidak apa-apa eomma meninggalkanmu sendirian? Eomma janji akan pulang secepatnya."
Yoongi berusaha menunjukan senyum terbaiknya saat itu dan balas menggenggam tangan eomma yang berada di sisi wajahnya, "Ya, tidak apa-apa, eomma. Aku sudah dewasa dan bisa menjaga diriku sendiri. Tolong sampaikan salamku pada halmeoni."
Ibu Yoongi balas tersenyum dan mengangguk singkat, mencoba menghargai putranya yang sedang berusaha kuat agar tidak mencemaskannya. Ibu Yoongi tidak tahu permasalahan yang dialami oleh putranya dan kekasih bocahnya, namun Ibu Yoongi yakin mereka akan menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik. Jimin dan Yoongi bukanlah dua orang yang baru mengenal dalam hitungan bulan. Mereka mengenal satu sama lain sejak kecil. Dengan sangat baik. Luar dan dalam. Nyonya Min juga sangat mempercayakan putra kesayangannya pada calon menantu idealnya itu.
"Eomma memasakkan daging domba berlebih untukmu dan menyimpannya di dalam kulkas. Panaskanlah untuk makan malam. Eomma pergi dulu. Jaga dirimu, sayang. Telepon kalau terjadi sesuatu," lalu membawa tubuh ringkih putra kesayangannya kedalam dekapannya.
Yoongi hanya menggumamkan 'hm' dan mengantarkan kedua orang tuanya sampai pintu depan. Kecupan manis ditinggalkan di pipi masing-masing orang tuanya. Dan Yoongi melambai sampai mobil hitam ayahnya tidak kelihatan lagi setelah berbelok pada tikungan jalan. Yoongi berencana untuk menikmati daging dombanya setelah ini sambil menonton beberapa keping DVD. Yoongi butuh daging dombanya sekarang juga. Oh, memikirkannya saja membuat liur Yoongi menetes deras.
Tapi belum juga pintu rumahnya tertutup, Yoongi melihat sosok yang sangat amat dirindukannya tiga hari terakhir, berlari ke arahnya dengan rambut acak-acakan. Yoongi ingin segera menutup pintu rumahnya, lalu menguncinya dan bersembunyi di balik selimut tebalnya saat ini juga. Tapi, gerakannya seolah terkunci. Yoongi berdiri sambil memegangi gagang pintu dan memandang sayu kearah kekasih bocahnya yang sekarang sudah berdiri dihadapannya dengan senyum yang begitu lebar sambil mencoba mengatur napasnya.
"J-Jimin.." Yoongi berbisik kecil, mencoba meraih wajah Jimin dengan jemarinya yang diulurkan ke udara. Manik Yoongi memanas, entah sejak kapan dirinya menjadi cengeng hanya karena seorang Park Jimin.
Jimin tidak melepas pandangannya dari Yoongi sejak mengatur napasnya. Tersenyum sambil menggapai jemari kekasihnya yang kelihatan ragu, "Ya, hyung. Ini aku."
Jimin menciumi jemari Yoongi, namun alis Jimin mengerut tidak suka saat merasakan tubuh mungil dihadapannya menegang dan mencoba menarik diri darinya. Jimin tidak suka Yoongi menolaknya, Jimin ingin memperbaiki hubungannya dengan Yoongi dan Jimin tidak ingin Yoongi lari lagi darinya.
Oh, sepertinya bocah bantet kurang ajar satu ini lupa siapa yang menolak dan lari dari pasangannya terlebih dahulu tiga hari yang lalu.
Jimin mendorong pelan tubuh Yoongi untuk masuk kedalam rumah, menutup pintu dibelakangnya dan menguncinya. Yoongi hanya menatap sayu kearah Jimin. Tubuhnya gemetar ragu. Ingin lari dari Jimin dan bersembunyi di bawah selimut tebalnya sambil memeluk Kumamon erat-erat, namun juga begitu merindukan sentuhan Jimin pada tubuhnya. Pikiran dan tubuh Yoongi sedang tidak bekerja sama saat ini.
Jimin membalik tubuhnya, menarik tubuh Yoongi agar masuk kedalam dekapannya. "Hey," Jimin memanggil pelan, menangkup pipi Yoongi dengan tangan kasarnya.
Hati Jimin mencelos saat melihat lingkar hitam dan mata sayu kesayangannya yang bengkak. Menyesal. Jimin sungguh menyesal saat ini karena tidak melanggar larangan eomma Yoongi untuk tidak menemuinya dan memeluk tubuh ringkih kekasih gulanya. Jimin merutuki semua kebodohan yang dilakukannya selama tiga hari belakangan ini.
Jimin mendekatkan wajahnya kearah Yoongi, sampai hidung mereka hanya berjarak beberapa senti. Tubuh Yoongi menjadi semakin kaku dalam dekapan Jimin saat merasakan nafas panas yang menerpa wajahnya. Belum lagi lengan kasar yang melingkar posesif di sekeliling pinggangnya. Yoongi ingin balas mengalungkan lengannya ke sekeliling tubuh Jimin, menariknya mendekat dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Jimin, menghirup aroma maskulin sang kekasih bocah yang begitu dirindukannya.
Tetapi Yoongi tidak bisa. Ada bagian kecil dalam dirinya yang mendorong keinginan itu jauh-jauh ke dalam dasar hatinya. Yoongi takut Jimin kembali menolaknya. Yang bisa Yoongi lakukan saat ini hanyalah meremas sia-sia seragam Jimin di bagian depan, sambil menahan air matanya yang siap jatuh. Tanpa mendorongnya menjauh, ataupun menariknya mendekat.
Jimin membawa jarinya untuk mengusap sayang pipi Yoongi dengan gerakan melingkar, lalu mendaratkan kecupan yang lama pada kedua kelopak mata yang menyimpan iris karamel favoritnya bergantian. Yoongi hanya diam mencoba bertahan untuk tidak merespon apapun yang Jimin lakukan padanya. Meskipun pada akhirnnya pikiran Yoongi menyerah dan membiarkan tubuhnya bersandar seutuhnya dalam dekapan Jimin. Balas mengalungkan lengannya di sekeliling leher sang kekasih.
Jimin tersenyum penuh makna saat kekasihnya luluh, lalu mengangkat tubuh mungil Yoongi yang memaksa kedua kaki kurus itu melingkar manja di pinggangnya. "Hey sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menolakmu," Jimin menciumi wajah Yoongi, mendaratkan bibirnya di setiap inchi yang dilewatinya.
Yoongi terengah, apalagi saat bibir Jimin menyapa bibirnya, menyesapnya dengan sayang. Perlahan-lahan takut menyakiti Yoongi. Yoongi meremas surai hitam Jimin, mengacaknya membuat berantakan saat Jimin dengan begitu lihainya mengulum bibir bawahnya. Dan Yoongi tahu dengan pasti dirinya belum siap saat Jimin menyelipkan lidahnya kedalam mulut Yoongi. Lidah Jimin menarik lidah Yoongi keluar untuk bertamu didalam mulut Jimin. Yoongi tahu dirinya belum siap, tapi Yoongi lebih tahu dirinya menginginkan ini.
Nafas keduanya terengah saat Jimin menarik bibirnya dan melepaskan tautan mesra namun panas keduanya. Benang saliva tipis terbentuk dan kemudian terputus pada jarak yang seharusnya. Jimin tersenyum saat melihat kekasihnya yang terlihat berantakan karena serangkaian lumatan panas darinya. Bibir merekah yang membengkak, saliva yang berceceran disekitar bibirnya, bahkan sampai ke dagunya, pipi yang merona sampai ke telinganya dan iris karamel membengkak yang memandang sayu kearah Jimin. Mata Yoongi memang membengkak dan dihiasi lingkaran hitam dibawahnya, namun tidak memudarkan keindahan manik karamel favoritnya dalam sudut pandang Jimin.
"Sayang," Jimin menjilat bibir bergetar Yoongi yang terbuka mengais udara, "Apa kau masih menginginkan hadiah kelulusanmu?" Suara Jimin terdengar serak dan Jimin merasakan hasrat kelelakiannya sedang muncul. Jimin hanya berdoa kalau Yoongi mengiyakan, maka dirinya masih bisa bermain dengan halus, meningat ini pengalaman pertama untuk dirinya dan juga Yoongi.
Yoongi tersenyum malu-malu, dengan semburat merah yang semakin menghiasi wajahnya, Yoongi menganggukkan kepalanya.
Jimin menyeringai. Kali ini, apapun yang Yoongi minta akan Jimin kabulkan. Jimin tidak akan mengecewakan kekasih gulanya lagi. Sudah cukup Jimin dihantui perasaan bersalah setiap malam tiga hari belakangan ini. Kali ini biarkan Jimin memuaskan kekasih gulanya.
Kedua bibir bocah adam itu kembali tertaut. Jimin mengeratkan pegangannya pada tubuh Yoongi dan melangkahkan kakinya menuju kamar Yoongi. Membawa tubuh yang sedang menggantung manja padanya untuk tahap selanjutnya.
Jimin membuka pintu kamar Yoongi dengan sikunya dan menendangnya agar tertutup. Lalu membaringkan tubuh mungil Yoongi diatas tempat tidurnya. Tautan itu kembali terlepas saat Jimin menarik diri untuk melihat keadaan kekasih gulanya. Dan Jimin rasa dirinya akan klimaks saat itu juga, bahkan hanya dengan bayangan Yoongi yang berbaring telanjang dibawahnya dengan wajah memerah berantakan sehabis bercumbu.
"Kau cantik, sangat cantik, Yoongi-ah," Jimin berbisik rendah di telinga Yoongi, sambil menciumi dan sesekali mengulumnya. Erangan rendah Yoongi terdengar dan Jimin menyukainya. Amat sangat menyukanya tapi Jimin ingin Yoongi mengeluarkan suara seksinya lebih banyak lagi.
Jimin kembali mengangkat tubuhnya, membiarkan kedua kakinya memenjarakan tubuh mungil Yoongi yang berbaring pasrah di bawahnya. Lalu melepas blazernya dan seragamnya dan membuangnya asal kebawah ranjang. Yoongi memerah melihat dada telanjang Jimin di hadapannya. Yoongi ingin sekali melarikan jemarinya ke setiap jengkal otot perut Jimin yang terbentuk dengan indah. Mengusap abstrak dan menciumi sambil meninggalkan jejak. Yoongi ingin melakukannya dan akan segera melakukannya.
"Suka dengan apa yang kau lihat, Yoongi-ah?"
Suara Jimin terdengar menggoda, dan Yoongi merasa tergoda. "Ya, Jimin. Aku menyukainya," Yoongi perlahan duduk, mengusapkan lengannya sembarang arah di atas dada kecoklatan Jimin. Merasakan susunan otot yang selalu Jimin bangga-banggakan di depan Taehyung.
Saat jemari Yoongi mendarat di atas dadanya, pikiran Jimin menggelap. Dengan gerakan cepat Jimin mengenyahkan kaus longgar yang Yoongi gunakan untuk tidur. Dan itu kausnya. Ya, Yoongi menggenakan kausnya untuk tidur tadi malam dan itu membuat perasaan Jimin menghangat, sekaligus membuat gairah Jimin semakin panas. Malam ini Yoongi tidak butuh kausnya lagi untuk membuat tubuhnya hangat. Jimin akan dengan senang hati melingkarkan lengannya posesif ke sekeliling tubuh Yoongi dan menghangatkannya.
Kaus Yoongi terbuang begitu saja di lantai kamar Yoongi, dan celana pendek Yoongi menyusul selanjutnya. Kini, Yoongi hanya menggenakan celana dalamnya dan sedang berbaring pasrah dibawah tubuh Jimin. Yoongi memerah dan meremas gugup sprei dibawah tubuhya saat Jimin menatapnya dengan begitu intens. Manik Jimin tidak bisa lepas dari tubuh dibawahnya. Dan Jimin sedang mengucap berbagai jenis syukur kepada-Nya karena telah membiarkan dirinya, hanya dirinya yang menikmati pemandangan seindah ini.
"Kau sangat indah, Yoongi-ah," Jimin kembali berbisik dan menindih tubuh mungil Yoongi dibawah tubuh berototnya. Jimin mulai menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Yoongi. Menghisap, menggigit, menjilat sampai sebuah tanda keunguan muncul. Yoongi sontak meremas surai hitam Jimin dan menggigit bibir bawahnya. Mencegah suara apapun yang mungkin akan keluar dari belah bibirnya yang sudah membengkak.
"Jangan gigit bibirmu, sayang. Biarkan aku mendengar suaramu."
Yoongi menurut. Saat hisapan Jimin turun pada putingnya, desahan pertama Yoongi lolos begitu saja, "Jiminhh.."
Sial! Jimin merasa sesuatu diantara kedua pahanya memberontak untuk dikeluarkan saat itu juga. Jimin membawa sebelah tanggannya untuk menggoda puting Yoongi yang tidak terjamah oleh lidahnya dan mulutnya yang masih bekerja di puting Yoongi yang satunya. Jimin menghisap seperti bayi yang menyusu pada ibunya. Dan Yoongi menyukainya. Sensasi basah dan geli yang diberikan lidah Jimin membuat Yoongi menginginkan lebih. Tanpa sadar, Yoongi mendorong kepala Jimin agar meraup putingnya lebih dalam.
"Jiminhh.. ku-kumohon.." Yoongi merintih, memohon. Yoongi tidak tahu untuk apa dirinya memohon, tapi sepertinya Jimin tahu. Jimin memindahkan tangannya dari puting Yoongi kebawah. Mengusap dengan sensual pada tiap kulit Yoongi yang dilewatinya dan berhenti pada gundukan Yoongi yang sudah mengeras.
Jimin menyeringai, lalu meremasnya lembut yang membuat pinggul Yoongi terangkat dan cakaran pada punggungnya. "A-Ahhh.. Jimin!"
Jimin suka, tidak! Jimin kecanduan dengan desahan Yoongi dan Jimin ingin mendengar lebih. Jadi Jimin menyelipkan tangannya kedalam fabric terakhir yang masih menempel di tubuh Yoongi dan menyapa langsung pusat kenikmatan Yoongi.
Yoongi mengerang, menjerit dengan begitu keras saat Jimin dengan begitu kurang ajar menggoda puncak kejantanannya tanpa mengeluarkannya dari dalam celana dalamnya.
"Kau suka, baby?"
Suka? Oh, Yoongi bahkan hampir gila dengan kenikmatan yang Jimin berikan. "Lepashh.. Jimin, lepashh.." Yoongi meronta, mengangkat pinggulnya dan menggesek dengan pusat kenikmatan Jimin. Di dalam sana sesak dan Yoongi ingin bebas.
Jimin mengumpat beberapa kali saat Yoongi dengan nakalnya menggesek ereksinya. Lalu dengan gerakan cepat celana dalam hitam itu juga bergabung dengan fabric lain yang sudah mendarat di lantai kamar Yoongi terlebih dahulu.
Saat kain terakhir yang menutupi tubuh Yoongi tanggal, Jimin kembali berhenti dari segala kegiatannya dan memandang tubuh polos Yoongi dengan sorot mata yang begitu memuja. Manik sayu yang menatapnya penuh permohonan, bibir membengkak yang terbuka mengais udara, menyebabkan dada putih Yoongi yang berhiaskan kissmarks Jimin naik-turun dengan begitu menggoda. Jangan lupakan kejantanan mungil yang menggantung di antara kedua paha Yoongi dengan precum yang menghiasi ujung kepalanya, menggundang Jimin untuk mengulumnya.
Kejantanan Jimin menjerit dari dalam celana sekolahnya dan Jimin yakin dirinya akan ejakulasi di dalam celana sebentar lagi kalau tidak melepas pandangannya dari tubuh Yoongi.
"Sial, sayang. Kau membuatku benar-benar keras."
Yoongi memerah, karena tatapan intens Jimin, juga karena ucapan kotor yang Jimin lontarkan pada dirinya. Dengan cepat, Jimin ikut menelanjangi dirinya sendiri dan kembali menindih tubuh Yoongi, membuat ereksinya bergesekan dengan ereksi Yoongi.
Kedua bibir itu kembali bertautan, tidak ada lagi permainan lidah yang lembut. Ciuman kali ini terasa berantakan, kasar dan bergairah. Tapi mereka menyukainya dan menikmatinya. Yoongi melarikan jemarinya ke seluruh dada berotot Jimin, mengusapnya kasar sambil sesekali mencubit puting Jimin yang menurutnya lucu. Jimin sendiri mengusap kedua paha Yoongi dan melebarkannya, memposisikan dirinya ditengah-tengah kaki kurus Yoongi.
Saat Jimin membawa tangannya kearah kejantanan Yoongi, tautan mereka terlepas dan desahan nyaring Yoongi kembali terdengar, "Agghh.. J-Jiminhh.. Jimin!"
Jimin suka bagaimana cara Yoongi meremas sprei dibawahnya putus asa sambil mendesahkan namanya sesuai dengan tempo kocokannya. Jimin mengusap penis Yoongi naik turun, sesekali menggoda ujungnya dengan ibu jarinya atau meremas nakal kedua bola dibawahnya. Jimin tahu Yoongi akan segera keluar saat tubuh mungil dibawahnya menegang, oleh karena itu Jimin semakin mempercepat tempo kocokannya pada Yoongi kecil.
"Jiminhh aku.. a-akuu... AH~"
Cairan putih kental Yoongi keluar terlebih dahulu sebelum Yoongi menyelesaikan ucapannya. Jimin membawa tanagnnya yang berlumuran sperma Yoongi ke mulutnya, mencoba rasa kekasihnya.
"Sial, kau sangat manis, Yoongi-ah."
Yoongi kembali memerah, apalagi saat merasakan sesuatu yang menyentuh lubangnya dibawah. "Aku akan mempersiapkanmu dulu," lalu satu jari masuk kedalam Yoongi.
Yoongi merintih dan mengigit bibir bawahnya saat merasa sensasi baru yang aneh menderanya. Itu tidak sakit, Jimin bahkan memperlakukannya terlalu lembut sampai-sampai Yoongi merasa melayang di atas awan. Tapi sensasi sebuah benda di dalam lubangnya adalah hal baru untuk Yoongi.
Setelah beberapa gerakan keluar masuk dan desahan Yoongi yang membuat Jimin hampir keluar, jari gemuk Jimin yang kedua melesak masuk, menyusul jari yang pertama.
"Ugh~" Yoongi melenguh dan menarik Jimin mendekat untuk mencumbunya kembali. Sepertinya bibir tebal Jimin akan menjadi candu tersendiri baginya. Saat jari-jari gemuk Jimin bergerak keluar masuk, Yoongi mendesahkan semuanya didalam mulut Jimin. Sesekali melepas tautan untuk mengambil nafas yang setelahnya kembali bertaut dengan sangat lama.
Jimin menggeram saat Yoongi berteriak kencang. Ujung jari gemuk Jimin menyentuh sesuatu didalam sana, dan sekarang Jimin ingin kepala kejantanannyalah yang menyentuh titik itu, bukan jari-jari gemuknya lagi.
"Aku akan masuk sekarang, sayang. Cakar dan gigiti aku kalau kau merasa sakit, jangan ditahan, okay?" suara serak Jimin terdengar telah diselimuti oleh nafsu. Dan Yoongi dapat merasakannya dengan sangat jelas karena saat ini Yoongi tidak kalah bernafsunya dari Jimin. Setelah mendapatkan anggukan persetujuan, Jimin mengangkat kedua kaki kecil Yoongi setinggi pinggangnya.
Yoongi mencoba mengangkat tubuhnya dan bertumpu dengan kedua sikunya hanya untuk mendapati Jimin yang sedang memompa kejantanannya sendiri dan memposisikannya di depan lubang Yoongi. Rasa hangat kembali menjalar ke wajahnya.
"Jiminhh~" Yoongi merengek, merentangkan lengannya meminta Jimin masuk kedalam pelukannya sebelum penis Jimin masuk ke dalam tubuhnya. Dan Jimin mengabulkannya, Jimin merendahkan tubuhnya kearah Yoongi yang langsung melingkarkan kedua lengannya manja ke sekeliling Jimin. Sebelah tangan Jimin menuntun kejantanannya ke dalam Yoongi dan sebelah lagi menopang tubuhnya untuk tidak menindih tubuh kurus Yoongi dibawahnya.
Jimin dapat merasakan cakaran pada punggungnya dan erangan tertahan Yoongi saat kepala kejantanannya masuk kedalam Yoongi. Dengan lembut, Jimin menciumi permukaan wajah Yoongi, membuat yang lebih mungil sedikit rileks dan meremas bahu Jimin.
Yoongi gugup, namun dirinya menginginkan Jimin lebih dari apapun saat ini. "Lanjutkan, Jimin."
Jimin mengangguk, mencoba mendorong masuk sedikit demi sedikit. Jimin menahan gairahnya untuk tidak mendorong masuk dengan kasar dan menghujami lubang ketat dan panas itu dengan brutal.
Erangan Yoongi dan cakaran pada tubuhnya bertambah keras seiring dengan kejantanannya yang masuk semakin dalam. Jimin berulang kali menggeram dan mengumpat. Sial, Yoongi meremasnya dengan begitu kuat didalam sana. Lubang ketat dan panas yang ingin Jimin gagahi dengan kasar saat ini benar-benar menggoda.
Jimin memindahkan tangannya, menangkup kedua bongkahan padat dibelakang Yoongi dan meremasnya gemas sambil memberikan dorongan kuat pada kejantananya agar tertanam dengan sempurna. Yoongi berteriak kencang. Jimin terlalu tiba-tiba dan Yoongi belum siap dengan terjangan kasar ke dalam tubuhnya.
Isakan kecil mulai terdengar dan Jimin mendiamkan miliknya di dalam Yoongi, lalu kembali memberikan ciuman menenangkan ke wajah dan tubuh Yoongi. "Maafkan aku, aku hanya tidak tahan."
Yoongi melenguh, mendesah sambil mengusak surai Jimin yang sekarang sedang menjilati dadanya. Saat Yoongi mengangkat pinggulnya ke arah Jimin dengan gerakan sensual, saat itu juga Jimin tahu Yoongi siap untuk menerima hujaman di lubangnya.
"Jiminhh.. Ji-Jimhh.. Aghh~ Jiminnhh.."
Jimin menyeringai puas. Jimin suka bagaimana Yoongi mendesahkan namanya di setiap tusukan yanh didapatkannya. Bagaimana jemari Yoongi meremas bisepnya putus asa. Dan bagaimana Yoongi ikut menggerakan pinggulnya berlawanan arah dengan Jimin, diam-diam memohon meminta lebih. Jimin mengumpat dan menggeram saat kedutan di sekeliling penisnya bertambah intens. Sialan, rasanya Jimin ingin keluar sekarang juga, namun Jimin berusaha mati-matian untuk menahan hasratnya di dalam. Ini terlalu cepat untuk keluar, Jimin masih belum mau kehilangan kenikmatan ini.
"Sedikit lagihh.. Ahh.. Ji-Jiminhh.."
Jimin mempercepat tusukannya, membuat Yoongi dibawahnya terlonjak liar. Gesekan panas dan kasar dibawah sana membuat keduanya makin bergairah. Jimin memompa Yoongi dengan sebelah tangannya. Membuat desahan Yoongi semakin menjadi-jadi dan upatan kasar tak luput dari bibir Jimin. Beberapa tusukan terakhir, Jimin keluar di dalam Yoongi dan Yoongi mengotori dadanya dan dada Jimin. Geraman rendah Jimin dan teriakan nyaring Yoongi mengakhiri percintaan pertama mereka.
Jimin menggulingkan tubuhnya di sebelah Yoongi setelah mengeluarkan miliknya. Dada keduanya naik-turun, mencoba mengais udara yang melangka beberapa saat lalu. Yoongi terkekeh kecil saat nafasnya kembali normal, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Jimin dan memeluknya manja.
"Yang tadi itu menakjubkan," pujinya di dalam dada sang kekasih. Jimin ikut tertawa, merapikan poni Yoongi yang menutupi wajah manis sang kekasih, "Ya, terlalu menakjubkan dan panas. Sangat panas."
Pipi Yoongi kembali bersemu saat Jimin menggodanya yang membuat tawa Jimin pecah. Sungguh? Setelah percintaan mereka yang begitu hebat Yoongi merona hanya karena kata-kata kotornya?
"Hey, jangan terlelap dulu, sayang. Kita harus membersihkan dirimu," Jimin membangunkan Yoongi saat iris karamel itu menutup. "Ugh~" rengekan dan rontaan lemah Yoongi terdengar. Dirinya kurang tidur dan begitu lelah setelah dimasuki Jimin, Yoongi butuh istirahat saat ini.
Jimin hanya tersenyum kecil melihat kekasihnya yang begitu kelelahan, jadi Jimin memutuskan untuk bangkit dan mengambil sebaskom air hangat dan handuk kecil untuk membasuh tubuh Yoongi diatas tempat tidur. Setidaknya Jimin tidak akan membiarkan kekasihnya tertidur dengan sperma kering yang menempel pada tubunya. Jimin ingin Yoongi merasa nyaman, bahkan setelah percintaan panas mereka.
Yoongi tersenyum malu-malu saat Jimin membasuh tubuhnya dengan handuk kecil dan air hangat, apalagi saat Jimin menyentuh lubangnya dibawah. Dan Jimin melakukannya dengan cepat, tentu saja. Jimin tidak ingin nafsu kembali mengambil alih dirinya dan menghujamkan kejantanan menegangnya ke dalam Yoongi lagi. Tidak untuk hari ini. Kekasih gulanya kelelahan dan butuh istirahat, jadi Jimin akan memberikan waktu istirahat yang cukup untuk kekasih gulanya.
Setelah membersihkan tubuh Yoongi dan menyusun kembali handuk dan baskom pada tempatnya, Jimin kembali ke pelukan Yoongi di atas tempat tidur. Jimin kira dirinya akan mendapati Yoongi yang tertidur kelelahan diatas ranjangnya, tapi tidak. Kekasih gulanya masih menunggunya sambil memeluk Kumamon kesayangannya.
Dan sekarang Jimin benar-benar gemas dengan tubuh telanjang Yoongi yang hanya dilapisi selapis selimut dan sedang memeluk Kumamon sambil menunggunya. Jangan bairkan Jimin mimisan sekarang, itu memalukan.
"Ayo tidur, hyung." Jimin memposisikan lengannya sebagai bantalan Yoongi dan memeluk erat pinggang sempit Yoongi. Yoongi mengiyakan dan menggulung tubuhnya ke arah Jimin sambil tetap memeluk Kumamon. Jimin tidak akan mengenyahkan makhluk hitam menyebalkan itu hari ini. Lagipula, kalau Jimin bisa mendapatkan tubuh mungil Yoongi di dalam dekapannya yang tertidur sambil tersenyum, tidak ada salahnya, kan?
.
.
.
TBC
.
.
.
INFIRES!
Annyeong~ Syubsyubchim balik bawain chapter baru fanfiction ini. ADA YANG MERASA TERPHPKAH DI AWAL CHAPTER? (ketawa setan) But as I promised at last chapter, here you go reader berotak mesum kaya Chimchim. Really, ini pertama kalinya syubsyub nulis naena, jadi maaf banget kalo mengecewakan dan ga hot sama sekali. Syubsyub udah ngasih yang terbaik yang syubsyub bisa, jadilah setengah chapter ini naena semua. Semoga ini berhasil menjerumuskan otak mensyum para reader ya (ehehehe) (ketawa nista).
Maaf juga karena ditengah pengetikan kakak syubsyub masuk ke kamar, jadi mau gamau syubsyub ngetik naenanya sembunyi-sembunyi, makanya kalo feelnya berubah-rubah mohon dimaklumi ya. Sebenarnya proses pengetikannya kena distract dua kali hari ini. Sungguh proses yang melelahkan (ngelap keringet).
Karena syubsyub belum tahu kelanjutan fanfic ini, kalo syubsyub kembali buat side story gimana? Syubsyub berencana buat side story tentang 365 Things Jiminie Loves Abut Yoongie. Tapi ga 365 juga sih, paling cuma 20an. Ada yang tertarik?
Dan syubsyub senang banget pada baper chapter lalu, sampe ada beberapa yang nangis, aduhh hati syubsyub gasanggup. Makasih banget loh, syubsyub merasa terharu gara-gara kalian semua. Sebagai gantinya syubsyub akan bagiin tissue gratis eheee (sebarin tisu lewat helikopter).
Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca, memfollow, memfavorite bahkan sampai mereview fanfic yang sangat tidak jelas asal-usulnya ini. Maaf kalau mengecewakan.
SPECIAL THANKS :
Jimsnoona : Duh bacanya sampe tiga kali, kok kaya setrikaan nun, wkwkk. Mungkin Jimin minum madu tiap hari makanya manis (garing)(ehehehee) | Viyomi : Yaoloh si chimchim belum lulus SMA udh ditanya aja nikahnya kapan. Duhduhhh XD | T : Diabetesye meletus ngebawah kemana-manaaa wkwkk. | cupid : Dasar kamu mesyum, btw ini adegan naenanya | Hyunshine : Sayangnya kapok bikin yang kotor-kotor, ini susah banget, syubsyub gasangguppp XD | XiayuweLiu : Trnyata tbc itu terkadang membantu ya, sekarang syubsyub bakal mendekin tbcnya kalo gitu (muehehehee) | dewiayukar : Ga nyangka kamu bahkal nangis yaolohhh. Syubsyub terharu ada yang nangis gegara fanfic balabal syubsyub nih tissue nihhh (lempar tisu sekotak) | tryss : Entahlah, sejujurnya syubsyub cuma berencana buat 2 chapter awalnya, tapi karena responnya bagus syubsyub malah keenakan ngetik, heheee | : Sabar sabar, ini udh ada kelanjutannya kokkk kkkkk~ | rossadilla17 : Sayangnya enchim lagi heng otaknya, jadi enchim nolak dehh kkkk~ | CandytoPuppy : They alrd get a room (ketawa nista) | cantika0127 : Aduhhh, makasih banget loh udah nangis gegara fanfic ini. Syubsyub ga nyangka fanfic ini meninggalkan korban yang banyak (lemparin tisu sekotak) | yourhope : Naenanya gimana? Mengecewakankah? Syubsyub ga sanggup baca ulang (hikseu) (mojok di ujung) | anunyajimin : Sayangnya chimchim juga mau ngelamar yoongi, gimana dong? kkkk~ | btsyugar : Terima kasih semangatnya, tsundere mah memang gitu, susah luluhnya. | Geusteu : Gimana digantungin? Kaya jemurankan? XD | funf : Here the next chapter, memang chim bf material sekali yaaa | Panda Item : Makasih banget loh udah nungguin fanfic ini (nangis bahagia) Btw, ini naenanya, kkkk~ | Dwimin chan | glow-rie : Ehey kamu yang reviewnya kaya kereta api. SELAMAT MEMBACA NAENA SI SEME MASO. Syubsyub terharu kamu menangis karena drama kacangan itu, sini syubsyub kasi tisu (lemparin tisu sepabrik-pabriknya) Yakali kamu doang yang mau di buatin 100 Things Jiminie Love About _, syubsyub juga mau atuhhhh, kokoro lelahh~ (kokoro) (sumpah syub ngakak) | kimjeaya : Syubsyub juga cinta kamuuuuu. Mungkin tbc sengaja di bagian itu biar kamunya gregetan dan sempet nafas. Kkkk~ | exoinmylove : Here you go reader mesyum, naenanya minyoon | HamirohLangen : Tsundere mah emang diem-diem nakal. | applecrushx : Yeah chapter lalu emng ada buat baperin kalian semua, sihiyyyy. Hayoloh hayo ter php ga sama awalannya? | Yessi94esy : Makasih banget loh kamu sampe udah nangis gegara fanfic balabal ini, syubsyub terharu banget banyak yang jadi korban baper fanfic ini nih tissue nihh (lempar tisu sekotak) | gbrlchnerklhn : kenapa nama kamu huruf vokalnya cuma satu? Maaf kalo syubsyub salah ngetik yaaa KKkk~ | minyoonlovers : Duh syubsyub juga iri nih sama Yoong, beruntung banget dia (mewek) | purplejams : Maafkan typo yang sangat bertebaran chapter lalu karen syubsyub ngetiknya tengah malam, sampe jam 5 pagi, jadi saat mata tinggal 5 watt, typo pun tak bisa dihindari (bows) Wah, kamu review sekarang aja syubsyub udah seneng bangett. Makasiiihhh~ | Yoongies (Reny246) : Dasar kamu reader mesyum, maunya naena terus. But here you go. | Fujimoto Yumi : JANGAN NGUCAP HAYOO CAPSLOCK JUGA, RUSAK YA?! Hayoloh mau nyentuh Yungi harus lewatin Chimchim dulu loh. Chim juga gabisa dibagi, udah hak milik si tsundere. DASAR SENPAI MESYUM NUNGGUIN MINYOON NAENA MULU. | whalme160700 : inyoon memang selalu jadi moodbooster eheeee | melindarenty : Thankyou banget udah mau baca dari awal dan reviewww. Here you go lanjutannya. | EmaknyaJimin : Makk, akhirnya kamu kembali ! Dasar emak mesyum giliran naena kepotong protes dehh. Tuh naenanyaa semoga suka makk ! | Minsilvi | wulancho95 : Aduh syubsyub seneng banget kamu review di setiap chapter yang ketinggalan. Kamu review di chapter terakhir aja cyubcyub berterima kasih banget loh, ini malah kamu review di setiap chapter yang kamu ketinggalan. And yes, syubysub setuju sama kamu minyoon chibi itu imutnya kebangetan terus si yoongi mah emang udah tsundere dari lahir, kutkan kali (digaplok) Si tsundere emang beda ya kalo mabuk, manja manja gimana gitu, ya namanya juga tsundere, real lifenya nutup nutupin, dibelakang nagih (digaplok lagi) JIMIN JANGAN DITIKUNG DONG KAN UDAH MILIK SI YUNGIII BIAS SENDIRI LAGI. Tapi kalo syubsyub bisa nikung juga syubsyub mau sih (dibuang ke laut) Last but not least makasih review di tiga chapternyaaa (kecup basah) | Cho Ryeomi : Mesyum kamuu maunya naena muluu. TBC itu disediakan untuk pernafasan loh, biar ga sesak nafas, eheheheee | SugarMint : Duhduh syubsyub terharu kamu baper sampe segitunyaa mumumuu | HelloSn : Nga full nc kok, syubsyub gasanggup, tapi semoga ga mengecewakan ya. | Nyippa-chan : Itu perasaan apa tali tambang? Kok ditarik ulur mulu (digaplok) Makasih banget loh kamu mau ngabisin cerita ini dalam sehari (kecup basah) | Phylindan : Jimin muda dinikmatin gimana(?) Syubsyub bingung ehee Thankyou for the reviewww | justcallmeBii : Here the next chapter, btw makasih banget loh kamu mau baca fanfic ini dari awal sampe abis dan mau review.
(P/S : Maaf kalau ada yang namanya salah ketik atau kelupaan.)
.
Terima Kasih.
.
Salam, INFIRES!
