Disclaimer : I don't own Bleach, but i stuck with this fiction for a couple month

.


Gomen, maaf sekali karena:

1. Sangat lambat waktu untuk saya bisa update

2. Fiction ini akan memasuki fase yang sesungguhnya dari kehidupan seorang Rukia.

3. Semua penurunan drastis dalam mood, grammar, typo(s), etc

Arigatou. Terima kasih:

1. Semua dukungan, review, masukan, kritikan, add fave & follow this fiction.

2. Telah berkenan mampir membaca karya yang sudah terlalu lama saya biarkan teronggok di folder lappy saya.

Selamat membaca & jangan lupa untuk memberi review ^_^


.

.

Tittle : You

By : Nakki Desinta

Cast : Ichigo X Rukia X Kaien

.

.

.

Chapter 10

.

.


Anak perempuan bertubuh mungil itu dengan cepat menguasai diri sekalipun melihat anak laki-laki yang menyebut namanya itu terlihat sangat dingin. Dia menoleh pada Ichigo. Sorot matanya sulit dimengerti oleh Ichigo, ternyata bukan hanya pola pikir, tapi kalau sudah begini Ichigo juga kesulitan mengerti apa yang sedang ingin di sampaikan oleh Rukia. Dia ingin mendekat pada Rukia, tapi anak laki-laki berseragam sekolah Hueco Mundo itu terlanjur menatapnya dengan mata bosan, mengalihkan perhatiannya.

"Kenapa kau bisa di sini? Seragam sekolah... Karakura?" kata anak laki-laki tadi dengan intonasi suara yang samar.

Sepertinya satu lagi orang yang Rukia kenal, yang satu belum selesai, sudah ada yang lain lagi, gumam Ichigo dalam hati kecilnya.

"Sa-Saya sekolah di Karakura," jawab Rukia seraya melangkah mendekat. Ichigo memperhatikan sepenuhnya pada gerak gerik anak laki-laki bermata hijau emerald dengan rambut sama hitam legamnya dengan Rukia, dan membandingkan dengan bagaimana reaksi kaku Rukia yang tiba-tiba muncul ke permukaan.

"Jadi benar apa kata Tousen? Kau kabur dan tinggal bersama..." kata-katanya terhenti saat lagi-lagi menatap Ichigo, namun terkesan tajam menusuk kali ini. Ichigo yang tidak mengerti sama sekali maksud tatapan tajam itu, jadi ikut panas karena sudah dipandang merendahkan seperti itu. Seperti sedang dimusuhi saja.

Tatsuki, Keigo, Hinamori dan Toushiro saling bertukar pandang, memperhatikan sosok tinggi kurus yang sepertinya dikenal dekat oleh Rukia. Mereka sedang berkutat dengan pikiran mereka sendiri, menilai anak laki-laki yang sepertinya sedang berada dipertengahan umur tujuh belas, lebih senior dari mereka. Kurus, bahkan kelewat kurus, seperti anak laki-laki penyakitan dengan wajah pucat bermata sayu, namun bersorot tajam di saat bersamaan.

"Kak, saya bukannya-" ucapan Rukia tertahan saat angin berhembus pelan saat pintu toko kembali terbuka, beberapa orang dengan seragam berlogo Hueco Mundo memasuki toko. Beberapa di antaranya memiliki gaya rambut yang agak aneh, bahkan ada yang bertubuh sangat besar dan gemuk dengan tulang rahang kaku memberi kesan seram. Keigo sampai merenggut lengan baju Toushiro karena bertemu tatap dengan si badan besar. Keigo merasa akan ditelan hidup-hidup saat melihat anak laki-laki yang besarnya menyerupai pegulat sumo itu ikut meliriknya.

"Kau masih belum dapat?" celetuk si badan besar berkepala plontos sambil mendengus mengejek.

"Jangan banyak bicara, Yammy! Kau mau aku masukkan ke rumah sakit lagi?" sahut anak laki-laki di hadapan Rukia itu dengan sorot mata membunuh. Ekor matanya menatap anak laki-laki bernama Yammy sekedarnya, namun itu saja sudah cukup membuat semua bulu di tengkuk Keigo berdiri.

Hinamori bahkan hampir mengeluarkan jerit ketakutan tertahan saat mendengar kalimat ancaman yang diucapkan dengan mudahnya itu. Dia sampai berpendapat, bahwa mungkin ini imbasnya sekolah di sekolah khusus cowok. Semuanya diselesaikan dengan jantan, alias 'ala tinju bebas' yang bisa berakhir pada terbaringnya korban di rumah sakit.

Beda lagi dengan Tatsuki yang justru malah tertarik untuk melawan si gendut besar yang kelihatannya sangat bertenaga. Tinjunya gatal minta ampun untuk mendarat di badan gempal itu.

Sementara Ichigo dan Toushiro menangkap dengan jelas sapaan hormat yang Rukia lontarkan barusan, yang sama sekali tidak diperhatikan sisa dari rombongan Karakura.

"Yah, terserah kau saja, Tuan Sok Sensitif!" Yammy dan kedua temannya langsung angkat kaki dari toko Urahara. Sepertinya anak laki-laki dengan rambut hitam pekat itu mampu menggertak walau hanya dengan sorot matanya. Perhatian pria kurus itu kembali pada Rukia, namun saat kembali menatap kolam biru gelap Rukia, sorot penuh gertakan itu hilang sama sekali, berganti lagi dengan pandangan sayu dan lemah serta terkesan bosan. "Rukia, kau-"

"Kakak, saya mohon..." Rukia membalas sorot mata anak laki-laki itu penuh keraguan. Ichigo yang mendengar sapaan hormat itu (untuk kedua kalinya) berusaha menalarkan sejelas mungkin. Dia hanya tidak bisa mengerti mengapa selalu bertemu orang-orang yang berhubungan dengan Rukia di saat yang tidak tepat, selalu di saat mereka seharusnya menghabiskan waktu dalam kesenangan. Sebelumnya bertemu ayahnya Rukia, yang berujung pada ancaman laporan penculikan. Lalu sekarang bertemu kakaknya Rukia, entah ancaman apalagi yang mungkin dia terima. Tapi kali ini Ichigo berjanji tidak akan takut, dia tidak mau kalah dengan anak SMA.

"Aku mengerti. Tapi kau tahu resiko apa yang harus kau tanggung, kan?" bisik anak laki-laki itu, dan langsung menyentuh puncak kepala Rukia. Rukia diam saja saat kedua tangan anak laki-laki itu melingkar di pinggangnya, membawanya masuk dalam pelukan yang hangat.

Ichigo berusaha keras menahan marah dan cemburu dengan mengepalkan tangannya, tapi kesabarannya benar-benar diuji. Dia lebih panas lagi saat melihat anak laki-laki tadi mengecup puncak kepala Rukia penuh sayang. Tangan Ichigo terkepal terlalu kuat hingga buku-buku jarinya memutih saking menahan emosi untuk meninju anak laki-laki kurus yang sudah berani menyentuh Rukia dengan sangat mudah, sangat lumrah dan Rukia pun menerima dengan tangan terbuka.

Hah, semakin dipikir semakin kesal saja bagi mahasiswa berambut orange itu.

"Apa kakak sudah pulang ke rumah? Bagaimana bisa mendengar tentang saya dari Pak Tousen?" tanya Rukia saat terlepas dari dekapan. Matanya menatap anak laki-laki kurus tadi, terkesan lemah dan berharap.

"Tidak. Kau sepertinya lupa, aku tidak akan pulang, tinggal di asrama jauh lebih baik. Kebetulan saja hari ini aku dapat waktu luang untuk mencari buku bahan presentasi Biologiku, jadi bisa keluar dari asrama." anak laki-laki berwajah stoic itu melihat sekeliling toko, seolah mencari sesuatu, namun detik kemudian ia kembali menatap Rukia.

"Tapi kenapa kau berkeliaran sebebas ini. Apa kau tidak tahu apa yang akan ayah lakukan jika mengetahuinya?" kata siswa Hueco Mundo itu dengan suara pelan setengah berbisik.

"Saya... saya..." Rukia kehilangan keberanian untuk menjawab, dan hanya menekuri lantai yang sepertinya bisa memberikannya jawaban yang ia cari. Dia merinding, ketakutan ketika kakaknya mengungkit masalah ayah. Semua sudah sangat jelas untuknya, karena ketika ayahnya kembali dan mengambil tindakan atau hukuman untuknya, dia hanya perlu menyiapkan diri untuk menghadapinya.

"Sudahlah, kau seharusnya paling mengerti situasi ini. Ngomong-ngomong sepertinya kau tambah tinggi sedikit," kata anak laki-laki tadi sambil mengacak-acak rambut Rukia, dia sampai membungkukkan badan agar bisa menyamakan level pandangannya dengan Rukia.

Lagi-lagi mahasiswa bermata hazel itu mengadu giginya, menahan amarah yang semakin menumpuk. Kontak fisik anak laki-laki itu dengan Rukia terlalu sering, membuatnya tidak suka. Hal ini pun menjadi pikiran Toushiro. Siswa Karakura bermata torquise itu memperhatikan kedekatan Rukia dengan anak laki-laki yang bisa terbilang sekeren dirinya, dan mau tidak mau dia merasa agak panas.

"Saya bertambah tinggi banyak kok, hanya saja kakak yang terlalu cepat tinggi," jawab Rukia sambil tersenyum hambar, kekakuan masih terlihat jelas dari sikap Rukia yang tidak bisa ditutup-tutupi.

"Lalu kapan kakak akan pulang?" tanya Rukia takut-takut, dia bahkan terlihat begitu ragu untuk membalas sorot mata kakaknya.

"Aku akan pulang ke tempat yang kau sebut rumah itu jika memang sudah tiba sore, aku harus kembali ke asrama. Jaga dirimu Rukia, sampai ketemu lagi," tutur anak laki-laki itu seraya berbalik dan pergi dengan santainya, seolah pertemuan dengan Rukia adalah pertemuan yang lumrah dan biasa, padahal mereka sudah tidak bertemu hampir lima tahun penuh. Sebelum benar-benar pergi, dia melirik Ichigo sesaat, tatapan matanya monoton dan tanpa emosi tepat ke mata hazel Ichigo.

Ichigo yang tidak mengerti arti tatapan yang nyaris kosong itu jadi balik menimbang-nimbang sikap apa yang harus ia tunjukkan. Kalau marah juga tidak tepat, karena sepertinya bocah ini tidak sedang menilainya dengan rendah. Tersenyum juga sepertinya kurang tepat, karena dia sama sekali tidak bersikap ramah, dia bahkan tidak membalas senyum Rukia barusan. Padahal senyum Rukia termasuk langka dalam rentan waktu sebulan terakhir ini.

"Kakak juga jaga diri Kakak. Sampai jumpa Kak Ulqui!" seru Rukia sambil melambaikan tangannya, tapi yang diberi salam tidak memberi respon sama sekali, terus melangkah sampai hilang dari pandangan.

"Tadi itu kakakmu, Rukia? Ganteng..." kata Tatsuki dengan alis terangkat penuh selidik.

"Iya..." jawab Rukia dengan polosnya.

"Beneran?" celetuk Keigo tidak percaya, karena harga dirinya sebagai cowok ganteng seperti terlempar keluar angkasa begitu melihat kakak Rukia yang (dia malas mengakuinya) – enak dilihat (Keigo tidak mau pakai kata ganteng). Harga dirinya terluka ditelan depresinya sendiri.

Bagaimana mau dekat-dekat Rukia kalau ternyata kakaknya saja sudah sertinggi itu level tampannya, pasti sudah habis dibantai duluan si Keigo. Sudah begitu kakaknya Rukia terlihat garang banget, dan mengeluarkan aura pembunuh. Mungkin efek sekolah di Hueco Mundo.

"Sepertinya keluarga kalian memang dianugerahkan tampang yang bagus ya." lanjut Tatsuki, matanya berbinar cerah sementara Rukia hanya tersenyum menanggapinya.

"Pak Kaien ganteng, si Kepala Batu ini juga, sekalipun aku malas mengakuinya," lanjut Tatsuki sambil melirik Ichigo yang mencibir kesal dan mengangkat tangan pura-pura mau memukul kepala Tatsuki, tapi Tatsuki membalasnya dengan mata melotot yang tak kalah galaknya, lalu ia menambahkan, "Kau cantik, kakakmu juga ganteng. Hah... rasanya tidak adil, kenapa aku malah dikasih Kakak serampangan dan bertampang pas-pasan seperti Renji, sama pasnya dengan harga gabah yang ditentukan pemerintah!" gerutu Tatsuki, lebih pada dirinya sendiri.

Mendengar kata-kata Tatsuki ini Keigo, Hinamori dan Toushiro tertawa tertahan.

"Seharusnya kau bersyukur! Bukan malah mengeluh. Sengaja Tuhan kasih Renji sebagai kakakmu, biar kau bisa sedikit lebih jinak!" sahut Ichigo.

"Wah... ngajak duel nih si Kepala Batu! Kau kira aku ini macan tutul pakai dijinakkan segala? Ayo maju sini!" kata Tatsuki sambil menggulung lengan seragamnya yang sudah terlanjur pendek.

"Siapa takut. Ayo sini, Macan Totol!" Ichigo ikutan menggulung lengan kemejanya.

"Apa kau bilang tadi?" geram Tatsuki.

"Macan Totol!" balas Ichigo puas.

"Cih! Berani benar kau menantang sabuk hitam seperti aku... Kau lupa kau masih sabuk kuning?" balas Tatsuki yang uratnya sudah muncul di pelipis kanan dan kiri.

"Sudah, sudah. Kenapa kalian jadi bertengkar sih? Kasihan tuh kasirnya kelamaan nunggu kalian!" Hinamori yang jadi penengah kali ini. Bukan apa-apa sih, soalnya si kasir sudah kesal melihat mereka tidak maju-maju untuk menyelesaikan transaksi, padahal di belakang sudah ada yang mengantri juga.

"Tahu nih! Rukia saja kalem, kenapa jadi kalian yang ribet sih?" sahut Keigo, dan Rukia memberi senyum termanisnya pada Keigo, langsung membuat anak laki-laki lebay itu klepek-klepek nggak karuan, bahkan hampir mimisan tingkat dewa.

"Tapi kenapa dia melihat Ichigo begitu ya?" bisik Toushiro sambil berpikir keras, dan di akhir kalimatnya ia melirik pintu toko Urahara yang masih bergoyang pasca dilewati kakaknya Rukia.

"Begitu bagaimana maksudmu?" sergah Ichigo sinis.

"Ya... seperti melihat orang asing saja, padahal kalian masih saudara. Iya kan?"

"Kalau itu..." Ichigo melirik Rukia yang sudah bertampang grogi, karena jujur saja mereka yang dari awal menetapkan kalau Rukia adalah saudara jauh dari Kaien dan Ichigo, tapi kalau sudah bertemu kerabat Rukia yang lain, mereka bingung juga mau bilang apa.

"Itu.. itu..." Rukia ikut tergagap.

"Kak Toushiro lupa ya?" Hinamori menepuk bahu kakaknya yang berambut salju itu.

"Lupa apa?" Toushiro balik bingung.

"Rukia kan saudara jauh dari Ichigo dan Pak Kaien, jadi jelaslah mereka jarang bertemu dan begitu ketemu langsung seperti bertemu orang asing," jelas Hinamori cepat.

Seketika itu juga Ichigo dan Rukia menghela napas bersamaan. Kali ini mereka selamat karena Hinamori mampu berpikir rasional. Ichigo melirik Rukia dan Rukia membalas tatapannya dalam binar kelegaan, mereka tersenyum bersamaan. Tapi sekali lagi Ichigo mendapati jantungnya menghantam tulang rusuknya karena melihat senyum polos dan manis dari Rukia, seketika itu juga ia memalingkan wajah dan menyembunyikan rona di wajahnya.

Gila! Anak kelas satu SMA bisa membuatku masuk rumah sakit jiwa karena tidak bisa mengendalikan emosi begini! Gawat! umpat Ichigo sambil menekap mulutnya.

.


.

Ujian tengah semester sudah tiba, Rukia disibukkan dengan agenda belajarnya yang super padat. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca dan belajar di kamar, dan kalau ada yang tidak dimengerti baru dia keluar kamar untuk mengejar Ichigo ataupun Kaien, minta diajari atau dijelaskan maksud dari pertanyaannya. Kaien mengagumi keseriusan Rukia dalam belajar, dan dia tidak heran kalau nilai Rukia bisa menduduki peringkat satu begitu usai ujian nanti. Berbanding terbalik dengan Ichigo yang nilai akademisnya tidak terlalu bagus, tapi nilai praktek dan olahraganya selalu dapat yang terbaik.

Yah, sekarang Kaien harus mengakui kalau dia memiliki dua orang adik yang harus ia perhatikan. Sekalipun dia masih ragu harus menganggap Rukia sebagai adik atau ada posisi lain yang ia sulit untuk akui.

Rukia membuka-buka buku panduan Matematikanya yang lain, tapi sudah dua buku dilahapnya, tidak juga keluar jawabannya di otak. Dia buntu dan akhirnya menyolek bahu Ichigo yang kebetulan duduk di sebelahnya. Ya, mereka sedang belajar bersama malam ini, tapi tentu saja dengan materi yang berbeda. Sementara itu Kaien mendapat tugas memasak hari ini, karena Rukia besok harus ujian. Dia ingin Rukia konsentrasi sepenuhnya pada ujian, jadi tidak ada tugas dapur untuk Rukia malam ini.

"Kenapa?" tanya Ichigo dengan dahi berkerut, terlihat agak kesal. Rukia yang mau bicara langsung bungkam lagi, nyalinya hilang begitu saja begitu lihat muka Ichigo yang persis algojo.

"Ti-tidak jadi, deh. Saya tanya Kaien saja nanti," ucap Rukia yang kembali menekuri bukunya.

"Memangnya kenapa kalau tanya padaku? Kau takut aku tidak bisa? Kau pikir aku lebih o'on dari Kaien? Jangan anggap remeh ya! Kau ini bocah masih kecil, sudah berani memvonis orang seperti itu. Mau jadi apa kau sudah besar nanti?" Ichigo memberi serangan beruntun, membuat Rukia mati kutu dan tidak memiliki peluang untuk membela diri. Dasar Ichigo, persis petasan mercon, sekalinya disulut cepat banget merembetnya, dan... Duar! Duar! Duar!

"Bu-bukan begitu. Saya cuma tidak ingin mengganggu, sepertinya Ichigo pusing sekali," gagap Rukia sambil merenggut pensilnya kuat-kuat.

"Memangnya kau bisa bedakan mana muka pusing dan mana yang bukan?" celetuk Ichigo sambil mencondongkan badan, membuat wajahnya begitu jelas dalam pandangan Rukia.

Rukia melihat kerut di dahi Ichigo yang tidak juga hilang. Begitu dia pikir dan ingat-ingat lagi, muka Ichigo memang sudah begitu dari sananya. Cetakan dari rahim sih kayaknya. Akhirnya Rukia memberi jawaban lewat gelengan kepalanya.

"Nah! Itu tahu, makanya sini. Yang mana yang tidak mengerti?" tanya Ichigo yang tersenyum puas. Kali ini Rukia harus mengakui kalau Ichigo memang susah ditebak, dan Ichigo bangga karena Rukia mulai belajar memahaminya.

"Makan malam sudah siap!" Kaien datang berhamburan ke ruang tengah dengan penuh kepercayaan diri, padahal celemek putih motif totol-totol merah masih melekat di badannya. Sudah begitu kacamatanya juga berkabut berkat asap masakan tadi.

"Sebentar lagi ya, Kaien. Saya tidak lama kok," jawab Rukia tanpa melewatkan senyum manisnya.

"Akh, Rukia... Manis banget! Sini aku peyuk..." senandung Kaien yang kemudian melepas kacamatanya, tidak ingin pandangannya terhalang kacamata yang buram, tangannya terentang lebar-lebar, siap memasukkan Rukia dalam pelukan hangatnya.

"Mandi dulu sana!" tiba-tiba Ichigo mendorong kepala Kaien sampai pria berumur 23 tahun itu hampir terjengkang ke belakang.

"Kenapa?" tanya Kaien dalam sorot mata berair. Dia terlihat sangat terluka mendapati tangannya kosong, tidak bisa membawa Rukia masuk dalam dekapannya.

"Bau asap! Bau bawang! Bau gas, pokoknya semua bau dapur tuh nempel di badanmu!" gerutu Ichigo kesal, matanya sampai melotot melihat Kaien dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak merasa iba sama sekali saat melihat mata Kaien berair dan berkali-kali menyedot ingus, entah beneran atau bohong, yang pasti Ichigo benar-benar berhati dingin untuk kakak melambainya itu. Setelah cukup menyakiti Kaien dengan sorot matanya, dia berdecak kesal dan kembali menekuri bukunya.

"Masa' sih? Kayaknya nggak deh..." Kaien mencoba membela diri, tapi begitu dia angkat ketiak, dan menyesapnya. Huwah... bau ketiak tujuh pertapa! Dia sendiri sampai mau pingsan.

Rukia tertawa melihat tingkah Kaien yang lebay, dan Kaien membalas tawa Rukia dengan senyum cerianya, terbalik dengan Ichigo yang malah cemberut kesal karena tidak bisa membuat Rukia tertawa seperti itu.

"Tadi mana yang belum bisa?" kata Ichigo, mengalihkan perhatian Rukia dari Kaien.

"Ini, rumus regresi dan korelasi," ucapnya sambil menunjuk barisan notasi Y, a, b & x yang mencantumkan tanda kuadrat dan keluarganya itu. Ichigo menggaruk kepalanya begitu melihat barisan rumus, namun yang membuatnya pusing bukan rumusnya, tapi kenapa bisa anak kelas satu SMA belajar rumus tingkat ini? Padahal kan ini seharusnya dipelajari di tingkat selanjutnya. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak menjawabnya dulu, tapi melihat tingkat pemahaman Rukia.

"Yang tidak dimengerti rumus atau apanya?" Ichigo benar-benar sudah menguras perhatian Rukia, karena itu Kaien undur diri, sambil ngedumel juga sih. Dia hanya tidak terima kalau sekarang Rukia jadi lebih dekat dengan Ichigo, apalagi Ichigo seperti sudah agak berubah sikapnya, jadi lebih sabar dan dia merasa terancam dengan perubahan sikap Ichigo. Rukia tersayangnya bisa sepenuhnya direbut Ichigo.

Kita kembali lagi ke Ichigo dan Rukia yang lagi berusaha keras memecahkan cara memahami rumus regresi dan korelasi.

"Sampai sini bisa?" tanya Ichigo sambil menunjuk barisan angka di kolom x yang ia tuliskan.

"Jadi kalau n-nya genap tidak ada nolnya?" Rukia mengulang penjelasan Ichigo.

"Iya, terus sisanya tinggal lanjut kok. Ku pikir tidak susah," jelas Ichigo asal, karena sejujurnya dia sendiri butuh waktu satu minggu sampai bisa lancar rumus ini, dan itupun ia pelajari di statistik semester satu. Maklum sekolahnya dulu kejuruan, jadi matematikanya tidak terlalu mendalam.

"Memangnya kau ujian sampai materi ini?" Ichigo meraih lagi bukunya, dan mulai membaca, sementara Rukia mengambil kalkulatornya dan mulai menghitung deretan angka di kolom xy.

"Belum, tapi saya ingin selangkah lebih cepat saja belajarnya."

"Pasti Rukia paling pintar di sekolah sebelumnya!" celetuk Kaien yang tahu-tahu sudah muncul di ruang tengah, bajunya sudah diganti, bahkan wangi parfum semerbak memenuhi ruangan kecil itu.

"Cepat banget? Mandi nggak tuh?" celetuk Ichigo sambil mengibas-ngibaskan tangannya, karena rasanya mau pingsan mencium parfum wangi bunga yang semerbak di musim semi menguar di seluruh ruangan. Kaien menggelengkan kepalanya dengan santai sambil pasang muka senyum tersipu malu-malu.

"Dasar jorok!" umpat Ichigo yang tidak melewatkan untuk memberi tatapan sebal ke Kaien.

"Ah, Ichigo suka begitu deh!" Kaien menutup mukanya, menyembunyikan semu yang bersarang di wajahnya.

"Aku tidak memujimu, Melambai!" sergah Ichigo kesal.

"Tapi Kaien wangi kok," sahut Rukia.

"Jangan bela dia!" lagi-lagi Ichigo marah melihat Rukia yang selalu saja lemah pada Kaien.

"Itu sih kau saja yang sinis sama kakakmu yang keren ini, Ichigo," balas Kaien sambil menjulurkan lidah penuh kemenangan.

"Beraninya kau-!" Ichigo mendelik, tidak terima sikap kekanak-kanakan kakaknya.

"Tapi Rukia memang pintar dan cerdas deh! Aku suka kalau mengajar di kelas melihat Rukia yang belajar dengan tekun," seloroh Kaien lagi, mengganti topik agar Ichigo tidak lagi berhasrat untuk memukulnya.

"Tidak juga, saya hanya belajar seperti yang lain," jawab Rukia.

"Apa sekolah sebelumnya juga ada guru yang seperti aku? Guru yang tampan, baik hati, tidak sombong, suka menolong dan-"

"Mulai narsis tuh!" potong Ichigo sambil menyikut kakaknya tanpa ampun, membuat Kaien menghentikan deretan kalimat pujian lain yang ingin ia tempelkan pada dirinya sendiri.

"Nggak apa-apa, kan?" sahut Kaien tetap dengan hidung terangkat tinggi penuh kebanggaan. "Itu semua kan kenyataan. Iya kan, Rukia?" rajuk Kaien lagi, meminta perhatian dan persetujuan dari anak perempuan bermata besar nan indah itu.

Rukia tersenyum, membuat Kaien makin bangga bisa mendapat senyum semanis itu dari Rukia. Kaien bahkan sampai melirik Ichigo penuh kemenangan, menantang adiknya untuk bisa mengalahkannya dalam mendapatkan senyum Rukia. Ichigo yang sudah terlanjur panas malah melempar bukunya tepat mengenai wajah Kaien, membuat sang guru SMA itu meringis kesakitan mendapati wajah tampan nan berharganya dilukai Ichigo.

Kaien beralih lagi pada Rukia yang masih terbengong melihat perdebatan adik kakak yang sama-sama tinggi ini. "Bagaimana Rukia, ada nggak guru yang-"

"Tidak perlu sebutkan semua pujian fitnah itu!" seloroh Ichigo sebelum Kaien melanjutkan kalimatnya, kontan Kaien mencibir pada adiknya.

Rukia meletakkan pensil dan melepas kalkulatornya, dia menatap Kaien sepenuhnya, seperti sedang berusaha menyamakan Kaien dengan seseorang. Lalu ia tersenyum samar, membuat kedua kakak beradik itu bingung mengartikan senyum Rukia.

"Sebelumnya saya tidak pernah belajar di sekolah seperti ini. Saya belajar di rumah," kata Rukia, dan kembali mengambil pensilnya, mulai menekan tombol angka di kalkulator.

"Home schooling?" tanya Kaien dengan suara tinggi melengking, Ichigo sampai heran, kenapa juga harus teriak seperti itu.

Rukia mengangguk dalam. "Saya tidak pernah masuk ke sekolah umum seperti yang lain, saya belajar di rumah. Tapi entah mengapa tiba-tiba ayah ingin saya sekolah di sekolah umum, saya juga kurang mengerti. Ayah ingin saya masuk sekolah khusus putra Hueco Mundo, tempat Kak Ulquiorra sekolah."

"Ulquiorra? Anak yang waktu itu ketemu di toko aksesoris?" sambung Ichigo cepat, dan ini mengundang tatapan tanya dari Kaien. Tatapannya seolah berkata 'Kalian kencan berdua?', lalu Ichigo membalasnya dengan senyum penuh kemenangan. Tertanya lebih mudah membalas Kaien dengan cara seperti ini, karena detik kemudian wajah Kaien berubah murung.

"Iya. Kak Ulqui sekolah di sana sejak SMP, kakak tidak pernah pulang ke rumah sejak ibu meninggal. Saya juga kurang paham alasan kakak tidak ingin tinggal bersama lagi. Kakak lebih memilih sekolah yang ada asramanya, bahkan kakak sekolah di sana dengan bea siswa yang ia dapat karena prestasinya bagus, dia menolak saat ayah hendak membayarkan biaya sekolahnya. Kakak sepertinya mengalami beda pendapat dengan ayah sampai memilih sekolah di asrama dan menolak semua bantuan dari ayah. Tapi saya tidak pernah tahu apa yang terjadi antara kakak dengan ayah, karena Pak Tousen seperti menutupi semuanya dari saya," tutur Rukia, wajahnya murung seketika, dan air bening mulai menggenang di pelupuk matanya.

Ini pertama kalinya Rukia bercerita tentang keluarganya, dan baru saja Rukia bicara, sudah menciptakan banyak pertanyaan di kepala Kaien dan Ichigo. Mereka ingin bertanya macam-macam, mengenai banyak hal, namun melihat air mata Rukia yang hampir menetes, mereka jadi menahan keinginan masing-masing. Kaien melirik Ichigo, bertanya lewat sorot mata pada adiknya agar memberi ide untuk mengalihkan pembicaraan, dan terutama mengalihkan air mata Rukia yang hampir menetes.

Detik berlalu dalam keheningan, malam yang tenang ini seolah menjadi momen paling berharga bagi mereka untuk saling mengenal, namun sekali lagi mereka melihat bahwa Rukia tidak sedang berada dalam keadaan nyaman untuk membuka diri. Dari caranya berbicara, semua terlihat jelas bahwa itu adalah duka. Kenyataan bahwa Ibunya telah meninggal, kenyataan bahwa Rukia ternyata memiliki seorang kakak yang tidak pernah ingin pulang, ayah yang berpikiran aneh dengan keinginan memasukkan putrinya ke sekolah khusus putra. Semua adalah jaring yang belum tersambung dan akan membentuk pola seperti apa nantinya.

Kehidupan anak perempuan berumur lima belas tahun bisa terlihat begitu menarik untuk dikuak, namun untuk membukanya diperlukan keberanian menahan duka.

"Sebenarnya ayah kamu kerja apa? Sepertinya orang terpandang kalau dilihat dari mobil dan caranya berpakaian," kata Kaien hati-hati.

"Itu.. ayah saya..." Rukia menghindari tatapan mata Kaien, dan mengalihkan perhatiannya dengan mengerjakan soal yang tadi tertunda.

"Rukia..." Kaien meraih tangan Rukia, meremasnya lembut, memberi isyarat pada Rukia bahwa ia bisa jujur dan terbuka, tidak perlu sungkan. Rukia sempat menegakkan kepalanya dan membalas sorot mata Kaien, lalu melirik Ichigo yang sama terdiam menunggunya. Detik berlalu, yang muncul bukan keberanian, namun sorot mata takut yang begitu pekat memenuhi mata biru gelap itu. Rukia pun menggeleng pelan, lemah dan mengunci mulutnya, seolah tidak ingin menjawab dan tidak akan pernah menjawab.

"Saya tidak bisa mengatakannya. Tapi yang saya tahu, ayah saya sering bepergian, dan.. dan.. pulang bersama para pengawalnya hanya beberapa kali dalam sebulan."

"Pengawal? Memangnya ayahmu orang sepenting itu? Sudah sok diktator, maksa anaknya jadi cowok pula. Sudah pulang jarang masih berani semena-mena sama anaknya!" keluh Ichigo, mencemooh.

"Tapi saya tetap kuat kok! Saya sudah berjanji dalam hati untuk lebih menyiapkan diri untuk menghadapi ini semua. Karena ibu saya telah berpesan bahwa saya harus bisa menjaga diri ketika ibu tidak ada lagi di dunia ini. Ibu pasti tersenyum di atas sana melihat saya yang tegar, dan ditolong orang baik seperti Ichigo dan Kaien," kata Rukia yang langsung menghapus air matanya, senyumnya dipaksakan sekali hingga justru terlihat getir.

"Eh, saya merapikan buku saya dulu. Nanti makanannya keburu dingin. Sebentar ya, Ichigo, Kaien." Buku-buku yang berserakan di meja segera dirapihkan Rukia, hingga menjadi satu tumpuk dan alat tulisnya dia masukkan ke tempat pensil. Dia berdiri dan membungkuk dalam pada Ichigo.

"Kenapa kau membungkuk begitu?" Ichigo balik bingung melihat sikap Rukia, dia bahkan sampai menoleh pada Kaien, mungkin kakaknya tahu mengenai sikap aneh Rukia ini, tapi Kaien yang biasanya paling sensitifpun hanya mengendikkan bahu.

"Terima kasih telah mengajari saya, Ichigo." Rukia menegakkan badan dan berlari ke kamarnya, kaki mungilnya tidak bersuara saat menghentak lantai hingga ia hilang ditelan pintu kamarnya.

"Dia menutupinya," gumam Kaien yang kemudian mengambil tempat di samping Ichigo, membanting punggungnya hingga bertemu sandaran sofa yang empuk, helaan napasnya terdengar jelas di telinga Ichigo.

"Iya. Dia pintar mengalihkan pembicaraan. Terlalu halus dan sopan, nggak terang-terangan bilang kalau dia nggak mau ngomong. Seperti orang dewasa saja bocah itu!" sahut Ichigo kesal.

"Itulah yang tidak kita mengerti darinya. Dia mampu menempatkan diri dengan baik, bahkan seperti sudah bisa mengatur caranya bersikap. Terkadang aku ngeri melihat Rukia yang seperti itu," tutur Kaien yang menghela napas berat.

"Sudah ku bilang kan? Aku sih sudah kesal melihat cara bicaranya yang terlalu formal. Aku jadi tidak bisa melihat sosok anak umur 15 tahun kalau melihatnya!"

"Iya! Kau memang cuma bisa protes! Coba sesekali cari tahu tentang dia, kau kan lebih banyak waktu luang dari pada aku," keluh Kaien lagi.

Ichigo mempertimbangkan ucapan Kaien. Mungkin kalau dia memiliki akses khusus ke kakak kandung Rukia, dia bisa mendapat informasi lebih. Namun baru dia ingin mencari cara dan waktu agar bisa bicara dengan orang itu, subyek utama dalam benaknya itu malah sudah muncul dan mengajak mereka makan. Mungkin lain waktu dia akan memikirkan caranya, dan semoga saja saat itu belum terlalu terlambat untuk mengenal sosok Rukia.

.


.

Ujian tengah semester berjalan lancar, Rukia sangat memanfaatkan waktunya untuk belajar, persis seperti yang dipesankan oleh Kaien. Semua pekerjaan rumah dibagi habis ke Ichigo dan Kaien agar Rukia bisa konsentrasi belajar sepenuhnya. Hari-hari pun terasa begitu tenang, tidak ada kabar lagi dari ayah maupun kakaknya. Hal ini justru mencurigakan bagi Kaien yang menanti-nanti hari dimana kemunculan pria necis itu untuk memboyong Rukia pergi dari rumah. Kaien tidak akan pernah rela, terlebih lagi Ichigo, mereka sudah terlanjur terikat pada sosok Rukia.

Hari ini tepat satu minggu setelah ujian tengah semester, waktunya minggu olahraga bagi siswa SMU sekolah Karakura. Kegiatan ini adalah hal rutin yang dilakukan isi SMU Karakura sambil menunggu pengumuman peringkat yang akan ditempel sore ini. Seperti jadwal yang telah ditentukan, bahwa kelas 1A, yaitu kelas Rukia dkk akan bertanding volly dengan kelas 2A, dan parahnya itu adalah kelas Toushiro. Tidak perlu ditanya bagaimana perasaan masing-masing partisipan dalam pertandingan kali ini, karena Kaien juga menjadi pencatat skor dalam agenda kali ini, sementara Pak Kira yang berlaku sebagai wasit. Semua peserta sudah bersiap di sisi lapangan, tinggal menunggu para penyelenggara pertandingan.

"Kenapa harus tim campuran?" protes Hinamori saat melakukan peregangan badan.

"Sudahlah, Hinamori. Jangan banyak protes, kau harusnya bersyukur karena ada aku dan Rukia dalam tim ini." Tatsuki menggulung lengan kaos seragam olahraganya sampai batas bahu, sementara Rukia duduk tenang di kursi cadangan, padahal dia bukan pemain cadangan dalam pertandingan kali ini. Dia sedang merenung, berkutat dengan pikirannya sendiri.

"Kenapa diam? Kau tidak pemanasan dulu?" tanya Keigo yang sudah datang dengan bangganya, seragam olahraga Karakura plus ikat kepala bertuliskan 'kelas 1A pasti menang'.

"Saya belum meminta restu Kaien dan Ichigo," gumam Rukia yang terlihat cemas, matanya bergerak cepat memindai sisi lapangan.

"Restu?!" Keigo dan Tatsuki tertawa mendengar ucapan Rukia. "Kau ini. Memangnya mau dilamar? Kau mau menikah kapan, aku saja masih di sini? Atau pergi wajib militer?" sahut Keigo lagi, sementara Hinamori sedang berusaha menahan tawanya, karena dia mengerti Rukia paling sopan dalam tata bahasa, sampai pilihan katanya pun teramat resmi. Tapi si Keigo kepala kosong itu malah menanggapi Rukia dengan begitu sadis.

"Kau pikir Rukia mau menikah denganmu?" celetuk Tatsuki seraya menjitak kepala Keigo.

"Lho? Memangnya kenapa? Aku laki-laki tulen, bisa diuji." Keigo menunjukkan otot di tangannya yang tidak terlalu besar, bergaya bak binaragawan internasional.

"Bukan begitu! Kau punya cermin nggak di rumah? Lihat dulu tampang pas-pasanmu itu..."

"Sudah-sudah! Kenapa jadi kalian yang ribut sih?" potong Hinamori yang langsung berdiri di antara Keigo dan Tatsuki yang sudah mengangkat lengan baju tinggi-tinggi, siap saling gontok.

"Saya tidak bisa melakukan ujian atau pertandingan seperti ini tanpa restu orang di sekitar saya. Saya takut tidak bisa konsentrasi," jawab Rukia yang kembali mengatupkan telapak tangannya gugup, terlihat sekali ia sampai begitu canggung untuk berdiri di tengah lapangan.

"Waduh! Gawat kalau Rukia benar-benar tidak bisa bertanding!" gumam Tatsuki. "Kalau begitu sebentar aku carikan si Kelapa Batu itu!" kata Tatsuki penuh percaya diri.

"Siapa yang kau sebut Kepala Batu, hah?" suara lantang bermusuhan milik Ichigo menggema di lapangan.

Tatsuki berbalik dan mendapati sosok tinggi dengan rambut orange menyala tengah berdiri menjulang di dekatnya. Rukia terhentak dari duduknya, berlari-lari kecil mendekati Ichigo, senyumnya mengembang sangat lebar saat bertemu tatap dengan Ichigo. Sontak reaksi Rukia ini menarik perhatian Keigo, Hinamori dan Tatsuki. Ternyata pengaruh meminta restu sampai sebesar ini pada siswi kelas 1A bermata biru gelap itu.

"Panjang umur banget nih orang! Baru disebut sudah muncul," celetuk Tatsuki sambil mengendikkan bahu segan.

"Dan yang bilang begitu biasanya berumur pendek," celetuk Ichigo.

"Ngomong sembarangan lagi kau ya!" Tatsuki mengangka tinjunya, siap untuk membogem wajah tampan Ichigo.

"Tatsuki!" Suara galak nan menggeram menggema ke seluruh lapangan, mengalihkan perhatian semua orang untuk menoleh pada pemiliknya. Ichigo tidak perlu capek-capek menoleh agar bisa melihat si pemilik suara serak, kasar dan besar itu. Sungguh mencerminkan si empunya. Siapa lagi kalau bukan si rambut merah model nanas, Renji.

"Siapa bilang kau bisa menggunakan tinjumu sembarangan, hah?" omel sang kakak sambil menghampiri adik kesayangannya itu.

"Tapi, kak-!" Tatsuki sempat ngeper juga melihat kakaknya yang tinggi besar itu menjulang di depannya.

"Lihat tampangmu itu! Cewek bukan, sih? Pantas saja tidak ada yang mau mendekatimu," gerutu Renji yang kemudian menjitak kepala adiknya.

"Aku begini kan gara-gara kau juga! Kau yang memaksaku ikut taekwondo, sampai aku jadi perkasa dan tidak ada cowok yang mau mendekat!" protes Tatsuki dengan muka ditekuk ala onta padang pasir.

"Itu...?" Rukia melirik Renji takut-takut, tapi lalu Ichigo tersenyum dan menuding Renji terang-terangan.

"Itu kakaknya Tatsuki, Renji namanya. Dia satu tahun di atasku," jelas Ichigo santai, mulut Rukia membulat tanda mengerti, namun ia menunduk dalam penuh hormat saat Renji menoleh padanya, memperhatikannya hingga ke setiap detailnya.

"Siapa?" tanya Renji dengan dagu terangkat, mengisyaratkan penunjukkannya pada Rukia.

"Sudah! Jangan ganggu Rukia. Lagi pula kenapa kau ke sini?" kejar Tatsuki, mencegah ada yang jatuh lagi pada pesona kepolosan Rukia. Dia tidak rela kakaknya ikut terlena seperti Toushiro, Ichigo, apalagi Keigo yang mengejar-ngejar perhatian cewek paling polos di kelasnya.

"Oh, jadi namanya Rukia." Renji mengangguk dua kali sebelum kembali menoleh pada adiknya, karena dia membutuhkan beberapa saat untuk merekam wajah Rukia yang sepertinya tidak asing di ingatannya, namun menimbang ingatan Renji yang persis lukisan abstrak, dia jadi tidak bisa tahu dimana pernah melihat wajah polos dan lugu milik Rukia.

"Aku ingin mengantarkan ini, ketinggalan di atas meja." Renji menjulurkan ponsel pada Tatsuki, dan Tatsuki menyambutnya cepat.

"Kau tidak melihat-lihat isinya, kan?" buru Tatsuki penuh kecurigaan.

"Aku ini cemas padamu, malah kau curigai. Dasar adik tidak tahu terima kasih!" umpat Renji.

"Tumben!" celetuk Tatsuki.

"Soalnya aku lihat berita mengerikan tadi pagi. Di Paris ditemukan lagi lima mayat anak yang terpotong-potong, dan semuanya seumuran denganmu. Memangnya kau tidak takut?" jawab Renji, memasang wajah penuh perhatian ada adiknya yang tetap cuek.

"Tapi kan jarak dari Paris ke Karakura jauh, Kak! Kau yang benar saja," protes Tatsuki sambil tertawa meledek kakaknya.

"Bukan masalah jauhnya, Bodoh!" Renji menjitak kepala Tatsuki keras-keras. "Bagaimana kalau ternyata mereka itu sindikat dan mengincar remaja di Karakura juga?" kata Renji lagi. Tawa Tatsuki hilang seketika. Suasana hening, tidak ada komentar apapun saat Renji menyelesaikan kalimatnya. Terlebih lagi Rukia, dia bungkam seribu bahasa dengan mata menekuri lapangan, dia berusaha keras menutupi gemuruh kengerian yang membludak di dadanya, kengerian itu membuatnya hampir gemetar karena takut. Dia tidak pernah menyangka ini akan berkepanjangan, dan Paris adalah tempat dimana...

"Kenapa?" Ichigo menepuk bahu Rukia, dan Rukia hanya menggeleng pelan.

"Jangan bohong," kata Ichigo kembali mendesak Rukia bicara, namun Rukia tetap bungkam, dan anak perempuan berambut pendek itu malah meraih tangan Ichigo dan meletakkannya di puncak kepalanya.

"Saya.. saya hanya sedikit tegang karena akan bertanding, mohon Ichigo merestui saya agar saya bisa lebih tenang," kata Rukia yang akhirnya berani membalas sorot mata Ichigo. Ichigo mencondongkan tubuh hingga pandangannya sejajar dengan mata Rukia, dia meneliti sorot murung di mata Rukia, dan dia yakin Rukia menyembunyikan sesuatu di balik sikap sopannya, ini ada hubungannya dengan subjek yang tadi diangkat oleh Renji. Tapi lagi-lagi Rukia mengukuhkan tembok pembatasnya yang begitu kuat, kembali mengalihkan pembicaraan dengan sangat halus.

Ada apa dengan anak ini sebenarnya?

"Ok, kalau kau memang sebegitu takutnya!" Ichigo menepuk puncak kepala Rukia dan menarik sudut-sudut bibirnya antusias. "Kau harus menang, kalau kalah kau harus membantuku kerja sambilan selama seminggu," ancam Ichigo yang mengacak-acak rambut Rukia dan menyentuh pipi Rukia dengan tangannya yang satu lagi. Sontak gelenyar aneh itu kembali menyerang Ichigo. Dia tidak ingin melepaskan tangannya, menyentuh Rukia terasa begitu tepat untuknya. Rukia sendiri pun tetap diam, membiarkan mereka bertukar sorot mata untuk beberapa saat.

"Hei! Hei! Apa-apaan ini?" tiba-tiba muncul sepasang tangan yang memisahkan Ichigo dan Rukia. Sosok tinggi berkacamata Kaien berdiri menjulang di antara mereka.

"Kaien!" pekik Rukia senang.

"Siap bertanding, Kelinci Manisku..." gumam Kaien lembut, menggantikan tangan Ichigo untuk membelai rambut lembut Rukia.

"Apa kau bilang tadi? Kelinci Manis?" sergah Ichigo tidak terima dengan sebutan Kaien untuk Rukia.

"Kenapa memangnya? Kan aku dan Rukia seperti sepasang kelinci hutan yang manis. Iya kan?" Kaien mencubit pipi Rukia penuh sayang.

"Dua Bersaudara Aneh itu kenapa sih?" tanya Renji, tidak mengerti dengan sikap Kaien dan Ichigo yang terlihat berlebihan sekali karena kehadiran sosok polos dan lugu anak kecil berambut hitam pekat itu.

"Mereka jadi begitu kalau sudah mempertebutkan perhatian Rukia," jawab Tatsuki cuek.

"Memangnya dia siapa? Anak baru? Tapi kenapa Ichigo sampai ikut-ikutan?" cecar Renji lagi, habisnya ini pertama kali ia melihat rekan satu perguruan taekwondo itu sangat tertarik dengan makhluk bernama perempuan. Anehnya lagi, perempuan yang ia dekati justru masih anak bawang begitu.

"Tanyanya satu-satu kenapa sih? Kau kira aku ini mesin penjawab telepon yang bisa merekam semua pertanyaan terus aku jawab sekaligus?" protes Tatsuki dengan alis berkerut dalam.

"Eh.. berani bentak-bentak lagi!" balas Renji yang tanpa ampun mengapit leher Tatsuki, dan mulai menjitak kepala Tatsuki, pelan tapi penuh sayang.

"Ok! Semua peserta berkumpul, kita briefing dulu ya.." Kaien memberi aba-aba pada semua penghuni lapangan.

Rukia berkumpul bersama peserta lain yang membentuk barisan di sisi lapangan, semua mendengar instruksi dan penjelasan Kaien mengenai peraturan pertandingan, serta memperkenalkan dua orang hakim garis dari fakultas teknik Karakura yang menjadi relawan dalam pertandingan kali ini. Jadi lengkaplah sudah partisipan dalam acara pekan olahraga kali ini, karena seisi yayasan Karakura harus hadir untuk memeriahkan acara yang hanya berlangsung setahun dua kali.

"Semua peserta silahkan bersiap-siap, lima menit lagi berkumpul di lapangan untuk memulai pertandingan," kata Pak Kira menutup acara briefing.

Rukia kembali berdiri di sisi lapangan, namun kali ini pandangannya kosong, sepolos kertas putih menatap lapangan olahraga yang beraspal. Dia sedang berusaha meredakan ritme jantung yang sepertinya sulit untuk ia redakan. Cemas tanpa sebab mengejarnya, dia sampai memegangi dadanya untuk menenangkan dirinya. Tidak ada yang salah pada dirinya, tapi...

"Kenapa?" tanya Ichigo.

"Saya.. saya tidak tahu, tapi jantung saya terus berdebar keras. Seperti... seperti saat saya mendengar Ibu telah meninggal," gumam Rukia tiba-tiba.

"Mungkin kau grogi karena akan bertanding," jawab Ichigo mencoba menenangkan. Dia melirik Kaien yang sedang berdiskusi dengan Kira, dia ingin meminta si Melambai itu untuk memberi pencerahan pada Rukia, karena saat seperti ini hati yang sensitif dan melambai seperti Kaien justru diperlukan. Tapi Ichigo sendiri tidak rela memberikan momen berharga ini pada kakaknya.

"Sepertinya bukan. Saya biasanya cepat tenang kalau sudah meminta restu. Tapi ini..."

"Rukia?"

Baik Ichigo maupun Rukia menoleh ke arah datangnya suara, dan seorang wanita berseragam petugas tata usaha berdiri di hadapan mereka.

"Iya, Bu?" jawab Ichigo menggantikan Rukia.

"Ada tamu. Mereka bilang akan menjemputmu pulang," ucap sang petugas.

"Tamu?" ulang Ichigo yang kemudian menoleh pada Rukia. Seketika reaksi itu muncul kembali, raut wajah yang sama dengan saat Rukia bertemu dengan ayahnya. Seperti mimpi buruk yang datang kembali, sekujur tubuh Rukia gemetar, matanya membulat ketakutan.

"Mungkin bukan ayahmu," kata Ichigo seraya mengusap bahu Rukia penuh perhatian.

"Mereka menunggu di lobby," ujar sang petugas lagi, dan dia seperti tidak sabar menunggu Rukia mengikutinya.

"Ayo, kita temui. Aku akan meyakinkannya kalau kau tidak akan pulang." Ichigo menarik tangan mungil Rukia dan mulai melangkah mengikuti petugas tata usaha, mereka mengambil jalan pintas lewat belakang lapangan, karena itu Kaien tidak melihat mereka pergi meninggalkan lapangan. Guru satu itu masih sibuk berdiskusi dengan para panitia pertandingan. Sementara Ichigo terus melangkah menuju lobby yayasan Karakura.

"Bu, orang yang mencari saya seperti apa?" tanya Rukia tiba-tiba.

"Empat orang tinggi dengan jas hitam rapi."

"Apa salah satunya ada yang berambut cokelat?" lanjut Rukia.

"Tidak ada, tapi satu di antaranya berambut biru terang," jawab petugas tata usaha yang kemudian berbelok langsung menuju lobby utama.

Rukia menekuri lantai koridor lobby yang berpola, dan mulai memikirkan beberapa kemungkinan yang ada jika ternyata ayahnya tidak ikut menjemputnya kali ini. Ini bukan hal menyenangkan, ini adalah langkah awal baginya untuk kembali ke kekelaman hari-hari yang tak berujung, hingga ia sendiri merasa takut untuk melangkah lebih jauh, namun ia tahu, semua ini harus dihadapi. Ayahnya tidak akan pernah berhenti di satu langkah, terlebih lagi mundur teratur hanya dengan sikap keras Ichigo dan Kaien tempo hari.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi," jawab Ichigo yang balik heran, karena orang berambut biru terang yang disebut petugas tata usaha itu terlihat sopan dengan cara yang aneh, sikap sopan yang ditunjukkan sangat kaku. Sementara itu tiga orang lain dengan seragam senada berdiri di belakang orang itu.

"Aku tinggal ya," gumam petugas sambil melengos pergi.

"Terima kasih, Bu." jawab Rukia dengan membungkukkan badannya dalam-dalam penuh hormat

"Anda?" Ichigo yang pertama kali mempertanyakan identitas orang berjas di hadapannya. Rukia sendiri sudah melafalkan kalimat itu sejak pertama kali melihat orang itu, dia tidak pernah sekalipun melihat orang ini bersama ayahnya, mungkinkah ini orang baru yang direkrut ayahnya?

"Aku Grimmjow Jeagerjaquez, salam kenal," ucap orang itu sambil membuka kacamata hitamnya, menunjukkan warna matanya yang sama birunya dengan rambutnya.

"Maaf sebelumnya, tapi kalau Anda ke sini untuk membawa Rukia pulang. Aku tidak akan membiarkan-"

"Oh, bukan, aku bukan datang untuk membawa Rukia pulang," jawab orang bernama Grimmjow itu dengan senyum lebar, menunjukkan barisan gigi putih bersih yang kesemuanya tajam, selayaknya serigala yang siap menerkam mangsanya.

"Lalu?" tanya Ichigo dengan dahi berkerut.

Grimmjow tidak lantas menjawab Ichigo, dia malah memberi aba-aba pada ketiga rekannya dengan anggukan kepala pelan. Rukia yang pertama kali melihat gelagat tidak benar ini. Dia mundur dan berusaha lari, tapi dengan cepat Grimmjow mencengkram pergelangan tangannya kuat, hingga seketika ia merasakan tulangnya akan remuk.

"Apa yang kau lakukan?" Ichigo mengangkat tinjunya dan melayangkannya tepat ke wajah Grimmjow, namun orang itu bisa menghindar dengan mudah, lalu sebagai gantinya Ichigo menerima tendangan di perutnya dari Grimmjow. Rukia berteriak histeris melihat Ichigo jatuh di lantai dan meringis kesakitan.

"Jangan ikut campur, ini urusan kami dan orang tua anak ini," celetuk Grimmjow tetap dengan seringai yang sama.

"Ichigo..." rengek Rukia.

"Tolong! TOLONG!" pekik Rukia putus asa.

"Berisik!" Grimmjow menampar pipi Rukia keras. Anak bertubuh ringkih itu menangis dan merintih kesakitan seketika. Pipinya panas terbakar merasakan tamparan dari orang tinggi besar itu, tubuh ringkihnya hampir terhempas ke lantai karena besarnya tenaga yang digunakan orang bernama Grimmjow.

"Jangan sentuh dia, Brengsek!" Ichigo kembali bangun, tapi tiga orang itu langsung berdiri di antara Grimmjow dan dirinya, mereka tidak memberi jeda sama sekali, dan mendaratkan pukulan dan tendangan keras ke Ichigo. Ichigo melawan habis-habisan, namun apa yang bisa ia lakukan jika tiga orang berbadan besar itu menghantamnya tanpa ampun.

"LEPAS! JANGAN PUKUL ICHIGO! JANGAN!" pintu Rukia dalam linangan air mata.

Ichigo melihat dengan mata buramnya, di antara pukulan yang ia terima, ia melihat sosok Rukia yang perlahan menjauh dari jarak pandangnya.

"RUKIA!" pekik Ichigo dengan sisa suaranya.

"TOLONG! ICHIGO... LEPAS..."

Dua orang petugas keamanan berhamburan menghampiri Ichigo, mereka mengeluarkan tongkat dan memukul Grimmjow, berusaha melepaskan Rukia dari cengkraman pria berwajah sadis itu. Tapi Grimmjow yang sepertinya sudah sangat terlatih untuk bertarung itu hanya perlu menggerakkan sedikit badannya saja untuk menumbangkan dua orang petugas keamanan.

"Hei! Apa yang kalian lakukan?"

Kaien, Renji dan Kira bersama siswa lain yang mendengar suara teriakan Rukia beberapa menit lalu, berlari dari lapangan belakang, dan beberapa orang dari dalam gedung sekolah berdatangan setelah mendengar suara teriakan dan ribut-ribut dari lobby. Kaien berlari sambil mengangkat bogemnya, dan dia menumbangkan satu orang yang masih menghajar Ichigo tanpa ampun.

"Kurang ajar!" umpatnya.

"Mati kalian!" Renji mengeluarkan jurus taekwondo andalannya, dan berhasil menendang seorang penjahat yang hendak menghajar Kaien.

Kaien tersenyum ke arah Renji, bersyukur pria itu ada di sini dan bisa membantunya. Dia kembali berusaha memukul penjahat yang tersisa, tapi tidak cukup cepat karena dia langsung menerima balasan dari orang yang ia hajar, penjahat itu cepat sekali bisa berdiri lagi. Kaien tersungkur di dekat Ichigo, dia meringis melihat adik dan dirinya yang dikalahkan seperti ini.

"Kaien. Rukia..." rintih Ichigo di antara erangan rasa sakitnya.

"Jangan pukul lagi, jangan!" pinta Rukia sambil memberontak berusaha lepas dari cengkraman kuat tangan Grimmjow. Airmatanya mengalir deras melihat Ichigo yang babak belur dipukuli hingga tak mampu melawan, bahkan Kaien ikut mereka pukul.

"Woi! Penculik! Berhenti!" pekik Keigo dan Toushiro yang ikut berlari mengejar Rukia.

Kaien berusaha tetap berdiri dengan sisa-sisa pening akibat hantaman di kepalanya, dia melihat ke gerbang sekolah, dan mendapati Rukia diseret pergi seseorang berambut biru. Kaien berlari mengejar si penculik, menyerahkan tiga orang penjahat pada Renji, Kira dan siswa lain.

"Jangan bergerak!" seru salah satu dari tiga tukang pukul tadi. Kaien tidak mempedulikan teriakan itu dan terus berlari mengejar Rukia, menyusul Keigo dan Toushiro, tapi kemudian...

Dor!

"Argh!" pekik ketakutan dan histeris memenuhi lobby.

"Kami tidak ingin semua isi senapan kami bersarang di badan kalian, tapi kalau kalian meminta ya... terserah..."

Kaien membeku di tempat, berhenti seketika mendengar suara memekakkan telinga. Dia melihat satu dari tiga revolver berwarna hitam yang terhunus di udara tengah mengarah padanya, Keigo dan Toushiro. Matanya membulat penuh ketakutan, namun yang membuat dadanya jauh lebih sesak adalah melihat Rukia yang dibawa masuk ke sebuah mobil hitam, dan mobil itu pergi melesat membawa anak mungil itu. Ketakutan yang amat sangat menggrogoti hatinya seketika. Dia ingin berlari mengejar Rukia, dia tidak peduli kalaupun harus tertembak, tapi dia juga tidak bisa meresikokan Keigo dan Toushiro terluka karena tindakan sembrononya.

Tiga orang algojo tadi meninggalkan lobby dengan santai, namun senapan di tangan mereka tidak pernah mengalihkan sasaran dari kumpulan orang di lobby, maupun Kaien, Toushiro dan Keigo di dekat gerbang.

Ichigo terbatuk hebat, dan darah keluar dari mulutnya, berbercak di lantai. Dia tidak peduli dengan luka yang ia derita, dia lebih cemas pada Rukia yang baru saja dibawa pergi oleh orang bernama Grimmjow. Seseorang yang pastinya bukan orang suruhan ayahnya, karena orang itu menyebutkan bahwa ini urusan mereka dengan ayah Rukia. Apakah ini sisi lain dari dunia Rukia? Jauh dari jangkauan akal sehat mereka bahwa anak sepolos dan sesopan dirinya bisa terlibat dengan orang-orang kejam bersenjata seperti itu karena ayahnya.

Suara sirine mobil polisi mendekat, namun tidak cukup cepat karena tiga orang dari rombongan penculik Rukia sudah pergi dengan mobil sedan hitam lain yang menjemput mereka, dan mobil si penjahat melesat dengan kecepatan tinggi, hanya meninggalkan kepulan kasap knalpot yang bercampur debu.

.

.

To Be Continued

.

.


AN:

Saya akan terus berusaha update lebih cepat.

I want to keep the spirit on! Hwaiting!

:-:-:-Nakki-:-:-:

25 Agustus 2012