Title: A Prince for A Princess
Author: KJR3497
Genre: Romance, Fantasy, AU, Adventure
Rating: T
Length: Chapter (9/...)
Disclaimer: Yesung is Ryeowook's and Ryeowook is Yesung's. No doubt!
Warning: Genderbender, OOC, typos, dll
Pairing: YeWook
.
.
Don't like don't read! I told you!
.
.
*Chapter Nine*
.
.
Ryeowook mengerjapkan matanya beberapa kali dengan pelan dan menguap kecil saat sinar matahari menerangi wajahnya, namun tak lama setelahnya ia kembali memejamkannya. Ia berusaha mencari posisi yang nyaman untuk dirinya. Sesuatu di bawah tubuhnya yang terasa hangat dan lembut membuatnya merasa lebih santai dan ingin kembali melanjutkan tidur. Seluruh tubuhnya terasa lelah dan sakit, lagipula sepertinya ini masih terlalu pagi untuknya bangun.
Ryeowook baru akan kembali tertidur saat ia merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya dengan cukup erat. Dengan malas ia mencoba untuk bangun dari posisinya yang menelungkup dengan kepala menghadap ke kanan namun gagal karena tertahan oleh rengkuhan lengan tersebut. Ia mendongakkan kepalanya dan menemukan wajah tampan Yesung yang sedang memejamkan matanya.
Wajah Yesung yang terlihat sangat tampan dan polos ketika tertidur membuat Ryeowook memandangnya cukup lama. Ryeowook membulatkan matanya kaget saat melihat dada bidang Yesung yang polos tidak tertutupi apapun. Ryeowook semakin kaget saat mendapati dirinya sama polosnya dengan Yesung dan posisinya saat ini yang tidur menelungkup di atas tubuh Yesung.
Saat itu juga Ryeowook berteriak dengan kencang membuat Yesung mengernyit pelan dan mengeluh kecil saat tidurnya terganggu oleh teriakan melengking milik Ryeowook. Wajah Yesung penuh dengan kekesalan dan dengan berat hati ia mencoba untuk membuka matanya secara perlahan.
"Ryeowook apa yang kau lakukan? Kenapa kau berteriak seperti itu? Ini masih sangat pagi."
Yesung membuka matanya dengan sempurna dan ia segera terbelalak kaget saat melihat tubuh Ryeowook yang cukup polos berada di atas tubuhnya. Yesung bisa merasakan dada Ryeowook yang lembut menyentuh dada Yesung membuat wajahnya memerah secara tiba-tiba. Ryeowook yang menyadari jika Yesung melihat ke arahnya segera menutupi kedua mata Yesung dengan telapak tangannya.
"Tutup matamu dan jangan mengintip Ilosia Archcaster atau aku benar-benar akan membunuhmu," ucap Ryeowook dengan panik.
Matanya mencari-cari dimana kotak perbekalan mereka berada. Ryeowook menghela napasnya berat saat tahu kotak itu berada cukup jauh dari posisinya saat ini. Ia melihat baju putih Yesung yang dipakainya kemarin sudah tergeletak tak jauh dari posisi mereka begitu juga dengan pakaian Yesung. Ia menggunakan satu tangannya untuk menutup mata Yesung dan segera menggunakan tangannya yang lain untuk meraih baju putih Yesung. Dengan susah payah akhirnya ia bisa mencapai pakaian itu. Ia segera bangkit dari posisinya dan meninggalkan Yesung yang masih menutup matanya secepat mungkin.
Ryeowook menemukan sungai kecil tak jauh dari tempatnya meletakkan barang-barang. Ia membentuk sebuah pelindung air disekelilingnya dan mandi di sungai tersebut. Pikirannya melayang mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan Yesung semalam namun hasilnya sia-sia saja, ia benar-benar tidak mengingatnya. Hal yang terakhir kali ia ingat adalah Yesung yang membangunkannya di tengah-tengah tidurnya dengan mata yang diselimuti kabut ungu dan apa yang terjadi setelahnya tidak diingatnya lagi.
'Apa yang kulakukan semalam dengan Yesung? Semoga saja tidak ada hal buruk yang akan terjadi,' batinnya dalam hati.
Ryeowook segera mempercepat acara mandinya dan memakai baju putih milik Yesung yang dibawanya dengan tergesa-gesa tadi. Ia berniat untuk menggantinya dengan gaun ungunya yang diletakkan di dalam kotak perbekalan mereka itu. Ketika Ryeowook kembali, Yesung sudah berpakaian lengkap. Ia duduk bersandar di sebuah batang pohon mengangkat sebelah kakinya sambil mengunyah sepotong roti di tangannya.
Yesung menyadari kehadiran Ryeowook yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Rambut caramelnya yang ikal panjang itu dibasahi dengan air. Baju putih Yesung juga terlihat kebesaran di tubuhnya. Yesung tertawa melihat penampilan Ryeowook tanpa menyadari gumpalan air yang ada di atas kepalanya yang kemudian tersiram ke tubuhnya. Yesung terdiam, kali ini Ryeowook yang tertawa.
"Kau sudah lama tidak mandi. Aku membawakanmu oleh-oleh air dari sungai yang kujadikan tempat mandiku tadi," ucap Ryeowook sambil memegangi perutnya, tak kuat menahan tawa.
Yesung hanya bisa cemberut saat tubuhnya tersiram dengan air yang cukup dingin itu. Ia harus mengganti pakaiannya lagi dan roti yang dipegangnya itu tentu saja harus dibuang karena sudah tidak layak untuk dimakan.
Ryeowook mendekati tempat dimana kotak perbekalan mereka tergeletak dan mengeluarkan gaun ungunya sambil tersenyum lebar. Tak lupa ia mengeluarkan pakaian Yesung dari dalam kotak dan melemparkannya ke arah Yesung.
"Gantilah dulu nanti kau sakit."
Ryeowook melangkah ke balik sebuah pohon dengan diameter batang yang cukup besar dan mengganti bajunya disana. Ia heran saat melihat Yesung yang masih dengan pakaiannya yang basah duduk sambil melipat kedua tangannya dan memasang wajah cemberut. Lagi-lagi Ryeowook tertawa kecil. Ia berjalan mendekati Yesung dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan namja itu.
"Sedang merajuk eoh?"
Yesung memalingkan wajahnya kesal.
"Aku tidak ingin bicara denganmu. Pergi!"
"Ah Yesungie mianhae. Aku kan tidak hmm... sebenarnya aku memang sengaja sih melakukannya. Pokoknya maafkan aku ya?"
Yesung tidak menanggapi perkataan Ryeowook dan masih memasang raut wajah kesalnya. Ryeowook duduk di atas paha Yesung kemudian mengangkat baju atasan Yesung dengan perlahan. Yesung menoleh dengan cepat ke arah Ryeowook, kaget dengan apa yang dilakukan olehnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mencoba menggantikanmu baju karena kau tidak mau menggantinya sendiri. Aku kan sudah bilang kau bisa sakit jika pakai pakaian yang basah terus," ucap Ryeowook dengan raut wajah polosnya.
"Mianhae ne?" lanjut Ryeowook sembari mengecup pipi Yesung dengan pelan.
Yesung mengernyitkan dahinya, wajahnya masih tampak kesal.
"Kenapa kau mengernyit? Kau akan terlihat jelek jika begitu," ucap Ryeowook sambil terkekeh pelan.
Cuupp
Ryeowook mengecup bibir Yesung sekilas dan kemudian menyentil dahinya.
"Kau sudah mendapatkan permohonan maafmu kan anak nakal? Sekarang cepat ganti pakaianmu atau kita akan semakin lama disini."
Yesung tersenyum kecil dan mengecup bibir Ryeowook sekali lagi sebelum kemudian beranjak pergi ke balik pohon yang digunakan Ryeowook untuk berganti baju tadi. Ryeowook menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Yesung pagi ini. Sedikit terkekeh mengingat Yesung ternyata masih punya kelakuan seorang anak kecil di dalam tubuh dewasanya. Hatinya terasa hangat entah kenapa. Bahkan tadi ia berani mengecup bibir Yesung seakan-akan ia tahu apa yang sedang diinginkan Yesung yang tengah merajuk itu darinya.
Yesung sudah selesai berganti pakaian. Ia memeras pakaiannya tadi yang basah dan menjemurnya di atas sebuah ranting pohon. Ryeowook membantu Yesung menyingkirkan air di pakaiannya yang basah sehingga pakaian itu akan lebih cepat kering nantinya.
Yesung melangkah ke tempat kotak perbekalan mereka dan mengambil dua buah roti dan sebotol air minum dari dalamnya. Ia melangkah menuju tempat Ryeowook duduk dan menyerahkan sepotong roti itu padanya. Ryeowook menerima roti pemberian Yesung dan tersenyum sebagai tanda terima kasih. Yesung duduk di sebelahnya bersandar di batang pohon tersebut sambil mengunyah rotinya. Ryeowook mendekatkan dirinya ke tempat Yesung dan bersandar di bahunya.
"Kuharap kau tidak bosan dengan roti. Kita tidak bisa berburu di sini. Kau tahu sendiri kan hewan di Thodien ini tidak ada yang normal," ucap Yesung kemudian.
Ryeowook tertawa kecil lalu mengunyah rotinya.
"Bodoh tentu saja sebenarnya aku bosan tapi kalau kita tidak makan kita tidak akan punya tenaga lagipula aku sangat mengerti keadaan kita saat ini."
"Mianhae jika aku harus melibatkanmu dalam situasi seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku harus pergi ke Thodien sendirian," lanjut Ryeowook lagi.
"Gwaenchana. Sebenarnya aku tidak merasa direpotkan kok dan lagi situasi seperti ini membantuku untuk melatih kemampuan sihirku," ucap Yesung sambil tersenyum.
Ryeowook terkekeh kecil. Sesaat kemudian suasana hening menyelimuti mereka. Baik Ryeowook maupun Yesung tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka fokus dengan roti yang tengah mereka nikmati saat ini. Sesekali Ryeowook mencuri pandang ke arah Yesung. Ia ingin sekali bertanya namun hatinya bimbang akan pertanyaan yang akan diajukannya. Ryeowook menghela napas dengan pelan, menguatkan dirinya sebelum kemudian meletakkan rotinya dan memandang wajah Yesung dengan lekat. Yesung yang merasa dipandangi oleh Ryeowook pun segera menatapnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Ngg Yesung... a... aku... nggg... semalam... ke... kenapa... apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak mengingatnya."
Yesung menelan ludahnya dengan susah payah dan mengalihkan pandangannya dari Ryeowook. Jujur saja hal terakhir yang ia ingat saat terbangun semalam adalah wajah tertidur Ryeowook yang manis dan polos, apalagi Ryeowook tertidur di lengannya membuat Yesung tak bisa berhenti tersenyum. Tiba-tiba Yesung merasakan ada yang aneh pada tubuhnya dan setelah itu ia tidak mengingat apapun lagi. Apa yang bisa ia jawab saat dirinya sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi semalam dengan dirinya dan Ryeowook?
"Yesung..." panggil Ryeowook lagi, mencoba membuat namja tampan itu mengindahkan perkataannya.
"Eh... hmm... jujur saja aku sendiri tidak mengingatnya Ryeowookie," jawab Yesung jujur walau seperti orang yang salah tingkah.
Ryeowook menghela napasnya dengan berat. Baik dirinya maupun Yesung tidak mengingat peristiwa yang terjadi semalam namun firasat Ryeowook mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi dan sepertinya sesuatu itu cukup tidak mengenakkan. Ryeowook menggelengkan kepalanya berusaha mengusir firasat aneh yang muncul dalam hatinya.
'Anggap saja tidak terjadi sesuatu semalam Ryeowook. Semua akan baik-baik saja,' batinnya dalam hati.
Ryeowook dan Yesung telah menyelesaikan potongan terakhir dari rotinya. Yesung segera beranjak berdiri sambil menepuk-nepuk bagian belakangnya yang kotor dan mengulurkan tangan untuk membantu Ryeowook berdiri. Ryeowook menerima uluran tangan Yesung dan membangunkan tubuhnya. Yesung segera membereskan pakaian dan barang-barang yang berserakan lalu bergegas memasukkannya ke dalam kotak perbekalan mereka. Ia menggandeng tangan Ryeowook yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri lalu tersenyum kepadanya.
"Ayo kita jalan lagi."
.
*A Prince for A Princess*
.
.
"Yesung bisa kita istirahat sebentar?" ucap Ryeowook pelan sambil melepaskan pegangan tangannya dari Yesung.
Ia menuju sebuah pohon terdekat dan duduk di sana sambil menyandarkan kepalanya. Yesung mengangguk dengan pelan walau raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran akan kondisi Ryeowook.
Sudah 3 minggu sejak keberangkatan mereka setelah dikejar laba-laba raksasa itu dan Ryeowook sekarang terlihat pucat dan gampang lelah. Mereka bahkan harus beristirahat 3 sampai 4 kali dalam sehari sebelum Ryeowook membaik dan bisa melanjutkan perjalanan mereka lagi. Sebenarnya Yesung curiga jika Ryeowook terkena racun laba-laba hingga membuatnya sakit, namun tetap saja Ryeowook akan selalu bilang ia baik-baik saja tiap kali Yesung bertanya. Untung saja tidak ada mahkluk aneh dan merepotkan menyerang mereka, kalau tidak entah bagaimana Yesung harus menjaga Ryeowook yang bahkan tidak bisa menopang dirinya sendiri sekarang.
Dari peta yang ada Yesung tahu bahwa mereka sudah dekat sekali dengan tempat Oracle, yang tepat berada di jantung Thodien. 2 hari perjalanan lagi dan Yesung yakin mereka pasti bisa menemukan Oracle. Namun kondisi Ryeowook yang sekarang sepertinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan dalam 2 hari saja karena ia membutuhkan banyak istirahat dan hal itu semakin membuat Yesung khawatir.
Yesung duduk di sebelah Ryeowook dan ikut menyandarkan dirinya pada pohon berdiameter besar itu. Ia meletakkan tangannya di dahi Ryeowook untuk memeriksa keadaan yeoja mungil tersebut.
"Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" tanya Yesung -mungkin untuk kesekian kalinya- sambil mengusap lembut pucuk kepala Ryeowook.
Ryeowook hanya bisa menggeleng lemah.
"Aku baik-baik saja hanya butuh istirahat sebentar dan aku akan kembali seperti semula."
"Tapi kau sudah seperti ini sekitar 3 minggu. Apa kau yakin kau baik-baik saja?"
Ryeowook meletakkan jari telunjuk tangan kanannya di bibir Yesung sebelum kemudian melatakkan kepalanya di bahu Yesung dan menggengam tangan Yesung dengan tangan kirinya.
"Aku baik-baik saja. Sedikit istirahat dan semua akan kembali normal."
Yesung menghela napasnya pelan, mengetahui sifat Ryeowook yang keras kepala ia pasti tak ingin mendengar argumen lain yang diajukan Yesung. Yesung melepaskan kotak perbekalan mereka dari tubuhnya dan meletakkannya tak jauh dari tempat mereka duduk. Sejak Ryeowook sakit ia menggantikan tugas Ryeowook membawa kotak perbekalan dan map mereka. Dibukanya kembali map hutan Thodien itu dan ia benar-benar yakin bahwa tujuan mereka sudah sangat dekat.
"Ryeowookie kau tahu kan sebentar lagi kita akan sampai ke tempat Oracle. Kumohon jangan jatuh sakit," ucap Yesung pelan.
Ryeowook mengangguk menanggapi ucapan Yesung namun tak membuka matanya yang terpejam.
"Mianhae Yesung," ucapnya lirih.
Yesung kembali menghela napas. Dirapikannya kembali map dan kotak perbekalannya. Lalu dengan pelan ia menegakkan tubuh Ryeowook yang bersandar padanya. Yesung berjongkok tepat di depan Ryeowook dan meraih kedua tangan Ryeowook, membuatnya mengalung di pundak Yesung sehingga mau tak mau Ryeowook sekarang bersandar di punggungnya.
"Apa yang kau lakukan Yesung?"
"Menggendongmu. Jadi kita bisa terus melakukan perjalanan. Aku tidak mau kau sakit di Thodien. Tidak ada yang bisa menolong kita disini. Sebaiknya kita cepat mencari Oracle lalu aku akan mengantarmu kembali ke Traerien," ucap Yesung sambil menggendong Ryeowook di punggungnya.
"Pegangan yang erat biar kau tidak jatuh."
Ryeowook menurut. Ia mempererat pegangannya pada Yesung dan menyandarkan kepalanya di bahu namja tampan itu.
"Yesung jika kau mengantarku ke Traerien kau akan masuk ke pengadilan agung."
Yesung terkekeh kecil.
"Bukankah kita memang sudah melakukan suatu kejahatan besar? Kau masuk ke Thorenwan, mengancam putra mahkota, menyamar, dan masuk ke Thodien. Sedangkan aku membantu penjahat sepertimu, kabur dari istana, dan pergi ke Thodien. Kita akan benar-benar dihukum ketika pulang nanti."
"Tapi Yesung..."
"Sudahlah yang penting kita cari Oracle dulu. Urusan kerajaan yang memusingkan akan kita pikirkan nanti. Aku tidak suka memikirkan hal itu disini, membuat kepalaku pusing saja."
Yesung berjalan dengan kecepatan normalnya walau ia harus menggendong Ryeowook yang agak berat. Ryeowook sendiri masih memejamkan matanya menikmati aroma bunga lavender dari tubuh Yesung yang sangat menenangkan. Entah kenapa di dalam hati Ryeowook jadi merasa sedih mengingat perjalanannya untuk menuju Oracle sudah hampir selesai dan ia mungkin tak akan lagi mencium aroma lavender dari tubuh Yesung.
Di sisi lain Yesung tengah terpaku dalam pikirannya sendiri. Tubuh Ryeowook yang hangat di punggungnya, rambut caramelnya yang tersapu angin dan membelai leher Yesung, dan jangan lupakan aroma vanilla yang manis dari tubuhnya. Jika mengingat itu semua akan berakhir saat perjalanan mereka selesai rasanya Yesung hampir gila. Orang yang selalu berada di sisinya selama sekitar sebulan terakhir ini adalah Ryeowook, Ayrie Vermilionfall, pangeran pertama sekaligus putra mahkota kerajaan Traerien. Dalam hati Yesung menolak Ryeowook pergi dari sisinya. Ia ingin bisa mendekap Ryeowook selamanya namun logikanya mengatakan bahwa ini semua harus diakhiri dan itulah yang selalu membuatnya sedih.
"Yesung awas!" teriak Ryeowook tiba-tiba.
Yesung tersadar dari lamunannya selama berjalan dan menemukan bahwa mereka hampir menabrak sebuah pohon besar jika saja Ryeowook tidak berteriak tadi. Yesung menghela napasnya sebelum kemudian berputar mengambil jalan lain untuk menghindari pohon itu.
"Yesung turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri."
Yesung berhenti berjalan dan mengerutkan keningnya.
"Apa kau yakin?"
Ryeowook mengangguk pelan. Walau ragu Yesung tetap menurunkan Ryeowook dari gendongannya dan menggandeng tangannya dengan erat.
"Kalau kau sudah tidak kuat berjalan bilang padaku, kalau mau istirahat juga harus bilang padaku, mau makan atau minum juga..."
Cuupp
"Harus bilang padamu kan? Iya aku mengerti Yesung. Bagaimana kalau sekarang kita makan saja sebelum kau semakin berisik?"
Ryeowook menyunggingkan senyumnya, puas melihat Yesung yang terdiam tepat setelah Ryeowook mengecup bibirnya. Ryeowook tertawa dengan puas melihat ekspresi kosong yang Yesung tunjukkan. Ternyata cara mendiamkan dan menghentikan acara ngambek Yesung, Ilosia Archcaster, putra mahkota dari Thorenwan adalah dengan mengecup bibirnya, lucu sekali, pikir Ryeowook.
Ryeowook menarik tangan Yesung dan membawanya duduk di sebuah pohon besar dengan akar gantung yang cukup lebat. Ia mengambil kotak perbekalan yang dikalungkan Yesung di lehernya dan mengeluarkan beberapa potong roti dari sana, sedangkan Yesung sendiri masih tetap memasang ekspresi bodohnya itu sambil memandang Ryeowook dengan takjub.
"Ini ambillah. Apa kau mau kusuapi hmm?"
Yesung menggeleng dengan cepat mendengar suara halus Ryeowook.
"Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri kok," ucap Yesung cepat sambil mengambil sepotong roti dari tangan Ryeowook dan menyembunyikan wajahnya yang memerah itu.
Ryeowook kembali tertawa melihat sikap lucu Yesung. Kalau diingat-ingat Yesung itu bisa jadi dingin, lembut, perhatian, kemudian manja , dan sekarang ia jadi malu-malu seperti ini, benar-benar bipolar sekali.
Ryeowook dan Yesung makan dalam diam. Ryeowook asyik memperhatikan tanaman-tanaman aneh yang didominasi warna gelap di sekelilingnya sedangkan Yesung tengah asyik memperhatikan Ryeowook yang menurutnya jauh lebih menarik dari sekedar pemandangan di sekeliling mereka yang membosankan karena Thodien hanya berisi pohon besar yang didominasi dengan pohon berakar gantung dan tanaman aneh dengan warna gelap. Roti yang menjadi makanan Yesung untuk siang menjelang sore itu telah habis tak bersisa. Yesung kembali memandangi Ryeowook yang sedang berada di dunianya sendiri. Ia mengerutkan dahinya saat melihat tangan mungil Ryeowook yang masih mengambil roti dari kotak perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan nikmat.
"Ryeowookie... kau tahu kan perjalanan kita masih cukup panjang dan jika roti itu habis kita tak bisa makan?"
"Hah? Apa Yesung? Aku tidak dengar."
Ryeowook masih sibuk mengunyah roti di tangannya saat Yesung berbicara padanya, apalagi dia sedang tidak fokus tadi.
Yesung menghela napasnya dengan kesal dan merebut roti yang ada di genggaman Ryeowook.
"Ryeowookie kalau kau makan terus nanti rotinya habis dan kita tidak punya makanan lain, ok?"
Ryeowook menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya lucu. Ia menatap Yesung dan rotinya yang direbut paksa dengan tatapan sebal.
"Tapi aku lapar dan aku mau makan roti itu. Kalau aku tidak cukup makan aku akan kelaparan dan jatuh sakit. Sini kemarikan. Kalau kita sedang melawan hewan buas itu kita juga suka melewatkan waktu makan kan. Jatah roti kita tak akan habis karena Zhoumi menyiapkan banyak."
Ryeowook merebut paksa rotinya yang tadi berada di tangan Yesung dan segera melahapnya dengan cepat sebelum Yesung mengambilnya kembali.
"Roti terakhir, ok?" ucapnya sambil tersenyum manis.
Walau kesal sebenarnya Yesung turut lega dalam hati setelah melihat rona merah muda yang mulai kembali di pipi Ryeowook. Wajah pucat Ryeowook akhir-akhir ini selalu membuatnya cemas dan khawatir. Walau sepertinya Ryeowook belum baikan paling tidak rona merah muda di pipinya menunjukkan bahwa kondisi Ryeowook mengalami kemajuan.
"Sudah selesai? Ayo kita jalan lagi sebentar dan setelah itu kita cari tempat istirahat karena sekarang sudah sore."
Yesung bangkit dari posisi duduknya dan membantu Ryeowook untuk ikut berdiri. Ia menggenggam tangan Ryeowook dan mengalungkan kotak perbekalan mereka di badannya.
Ryeowook bersenandung kecil sambil mengayunkan pegangan tangannya dengan Yesung ke depan dan ke belakang layaknya seorang anak kecil. Yesung mau tak mau jadi tersenyum melihat sikap Ryeowook yang kekanakan itu. Ryeowook memandang Yesung tepat di matanya dan tersenyum manis.
"Rasanya jika seperti ini aku ingin terus bersamamu Yesung," ucapnya bahagia.
"Tidak ingin kembali ke istana?"
Ryeowook menggeleng pelan.
"Tidak ingin. Istana membosankan dan menyedihkan. Apa kau tahu peribahasa bagai burung dalam sangkar emas? Sebagus dan semewah apapun istana yang kumiliki rasanya mungkin tidak akan menyenangkan kalau kau tidak ada disana."
Yesung terdiam mencerna kata-kata Ryeowook. Memang benar, istana bagaikan sangkar emas yang selalu mengekangnya. Sejak bertemu dengan Ryeowook ia bisa merasakan apa yang namanya bahagia, bebas, dan juga menjadi kuat dalam menghadapi bahaya.
"Kau tahu Yesung ada orang yang pernah berkata padaku bahwa bahagia itu sederhana dan kau hanya perlu satu hal untuk bahagia. Sepertinya untukku harta dan sebagainya tidak termasuk dalam daftar kebahagiaan itu."
Yesung mengeratkan pegangan tangannya pada Ryeowook. Ia berhenti berjalan, membuat Ryeowook menatapnya dengan bingung. Tiba-tiba Yesung memeluk Ryeowook dengan erat, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Ryeowook, mencoba mengingat seluruh wangi vanilla di tubuh Ryeowook. Ryeowook yang tak mengerti hanya membalas pelukan Yesung dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut.
"Yesung ada apa?"
"Biarkan... biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Yesung semakin mengeratkan pelukannya.
'Jika aku katakan bahwa hal yang kuperlukan untuk bahagia adalah dirimu, egoiskah aku? Bisakah aku mendapatkanmu dalam daftar kebahagiaan itu?' batin Yesung di dalam hatinya.
Hampir beberapa menit mereka terdiam dalam posisi seperti itu hingga Yesung akhirnya melepaskan pelukannya dari Ryeowook. Yesung menatap ke dalam mata Ryeowook dan menghela napas pelan saat yeoja itu menatapnya dengan pandangan polosnya.
"Yesungie apa kau baik-baik saja?"
Yesung hanya bisa menggeleng pelan saat Ryeowook bertanya lagi kepadanya.
"Tidak ada apa-apa. Ayo kita cari tempat istirahat. Rasanya aku sudah lelah," ucap Yesung kembali menggandeng tangan Ryeowook dan mengajaknya ke sebuah pohon terdekat dan segera duduk bersandar disana dan memejamkan matanya.
"Yesung ini kan masih sore. Aku juga masih kuat berjalan kok. Kita lanjutkan saja ya?" ucap Ryeowook saat melihat Yesung yang melipat kedua tangannya di dada, memejamkan mata, dan meluruskan kedua kakinya.
"Yesung?" panggil Ryeowook lagi, namun tak ada satu pun jawaban yang didapatkannya dari Yesung.
Ryeowook menghela napasnya pelan, mau tak mau menuruti keinginan Yesung untuk kali ini. Ia membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di paha Yesung lalu memejamkan matanya, menunggu matahari terbenam di sore itu.
.
*A Prince for A Princess*
.
Yesung kembali membuka matanya saat dirasanya dengkuran halus Ryeowook. Ia memandangi sosok Ryeowook di tengah temaramnya cahaya karena matahari yang akan segera berganti tugas dengan sang bulan. Dengan pelan Yesung mengangkat tangannya dan mengusap rambut coklat caramel Ryeowook dengan lembut. Dadanya terasa sesak setiap kali melihat wajah Ryeowook. Cepat atau lambat mereka akan mengucapkan kata perpisahan itu.
Sungguhpun di awal Yesung menggerutu atas kehadiran Ryeowook dalam hidupnya namun semua itu telah berubah sekarang. Ia hanya ingin Ryeowook berada di sisinya dan sekarang ia merasa bodoh. Harusnya sejak ia mempunyai ketertarikan dengan Ryeowook, ia tak perlu melanjutkan perasaan itu lebih jauh, namun yang terjadi ia malah jatuh di dalamnya.
Yesung mulai membayangkan apa yang terjadi setelah ia berpisah dari Ryeowook. Appa pasti akan segera menghukumnya, menyuruhnya belajar hingga ingin mati, dan segera menjodohkannya dengan seorang asing yang tak dikenal dan tak disukainya lalu ia akan melanjutkan hidup monotonnya setiap hari setelah diangkat menjadi raja. Membayangkan kehidupan semacam itu sungguh sangat mengerikan. Hidup Yesung jauh lebih berwarna ketika ia bertemu dengan Ryeowook, entah sihir apa yang membuatnya begitu menarik bagi Yesung.
Yesung terus membelai rambut halus Ryeowook dan memandangi wajah polosnya saat tertidur.
"Jika aku memohon pada dewa, akankah mereka memberikanmu kepadaku?" gumam Yesung pelan.
.
*A Prince for A Princess*
.
.
Sesosok pixie dengan tubuh yang dikelilingi sinar kebiruan mengintip dari jarak yang dirasanya cukup aman, mengawasi kedua pangeran yang dengan berani dan nekatnya masuk ke dalam hutan Thodien. Bola mata keunguannya tidak bisa dibohongi dengan sosok asli salah seorang pangeran yang sekarang telah berubah menjadi yeoja itu. Ia tersenyum, senyuman yang tidak jelas maknanya.
"Thorenwan yang sakit cinta dan Traerien yang tak sadar. Mungkin Oracle akan bersedia menemui mereka," gumamnya pelan sambil mengepakkan sayapnya menjauhi obyek yang ia mata-matai.
Pixie itu merentangkan tangannya dan membentuk sebuah gestur menyerupai lengkungan dan dalam sekejap terdapat sebuah portal yang bisa membuatnya langsung berpindah tempat. Tempat itu gelap dan memiliki sebuah kolam air mancur di tengahnya yang berwarna ungu kebiru-biruan. Batu-batu pijakan kaki berwarna abu-abu terlihat tersusun begitu rapi seperti lapisan lantai marmer dan sebuah patung dengan motif iblis bersayap berwarna hitam tertata rapi di pojok ruangan.
"Kau sudah datang Iris?" ucap seseorang di balik tudung kelambu berwarna gelap yang tersamarkan oleh keadaan sekelilingnya.
"Tidakkah kau berniat menemuinya Selene? Mereka sudah berjalan sejauh ini untuk menemuimu," ucap pixie yang dipanggil dengan nama Iris itu.
"Seberapa dekat jarak mereka dengan kita Iris?"
Iris tersenyum kecil.
"Jika kau ingin memanggil mereka malam ini juga, mereka bisa segera datang kepadamu dalam sekejap mata."
"Ah begitukah?" ucap sosok yang dipanggil Selene itu.
"Kalau begitu aku akan menemuinya malam ini. Hanya Traerien karena Thorenwan itu tidak berurusan denganku."
"Benarkah? Kukira mereka berdua itu yang sedang dibicarakan oleh para dewa dan dewi. Ingat tentang legenda lama itu?"
"Ya memang mereka ada hubungannya dengan legenda itu tapi aku hanya perlu menemui Traerien."
"Menurutmu bagaimana rencana para dewa itu untuk mewujudkan legenda lama itu? Tentu sebelum mereka berdua lahir pun kau telah tahu bahwa mereka akan datang kepadamu kan?"
"Aku memang telah mengetahuinya tapi untuk masa depan mereka, para dewa telah merahasiakannya dariku."
"Tidakkah kau ingin mencari tahu? Bukankah kau bisa jika kau mau?"
"Tidak perlu Iris. Sebentar lagi pun kita akan segera mengetahuinya."
"Kau memang selalu begitu Selene, tidak pernah melanggar kodratmu."
"Karena memang begitulah diriku Iris, tapi setidaknya aku sudah bisa membaca akhir dari legenda ini."
"Akan berakhir bahagia atau tidak?"
"Kau akan tahu saat kau sudah berada di waktu itu. Untuk sekarang nikmati saja dulu rasa penasaran ini. Aku sendiri pun sangat menikmatinya."
"Ck kau pelit sekali Oracle."
"Hei panggil aku dengan nama Selene."
"Semua orang di Rhalech memanggilmu dengan sebutan Oracle dan kau tak mempermasalahkannya."
"Karena mereka tak tahu nama asliku sehingga mereka menyebutku Oracle, orang yang bisa meramalkan masa depan."
"Yah terserah padamu saja. Kau perlu menidurkan Thorenwan itu dan membangunkan Traerien sesegera mungkin ketika malam tiba."
"Aku mengerti."
Iris segera menganggukkan kepalanya menanggapi Selene dan berbalik arah hendak kembali ke tempatnya semula sampai suara Selene menghentikkannya.
"Iris menurutmu apa yang membuat Traerien sakit?"
Iris memandang wajah cantik dengan kulit berwarna putih susu milik Selene yang sedikit tersingkap di balik tirainya. Iris tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seperti telah bisa mengerti maksud dari Selene.
"Kita buktikan saja apa benar ramalanmu itu Selene."
"Ramalan yang sudah dengan jelas tergambar di kepalaku pasti benar Iris. Hanya masa depannya saja yang masih sangat kabur."
"Ya baiklah. Aku pergi."
Dengan kata-kata itu Iris pergi meninggalkan Selene yang masih ada di balik tirai berwarna gelap itu. Selene memainkan kuku-kukunya yang panjang dan lentik itu di depan cermin besar yang ada di hadapannya. Cermin besar itu terlihat berkabut sebelum akhirnya menampilkan gambar dari sesosok namja yang tengah terlelap dengan posisi bersandar di sebuah batang pohon dan sesosok yeoja mungil yang tengah tertidur di pangkuannya. Selene mengetuk-ngetuk cermin tersebut tepat pada bagian yang menampilkan gambar si yeoja. Ia melihat pelindung transparan yang menyelimuti keduanya lalu tersenyum tipis.
"Aku sudah tak sabar bertemu denganmu Ayrie Vermilionfall."
.
.
*A Prince for A Princess*
.
.
Seorang namja dengan tubuh tinggi tegap yang terbentuk begitu sempurna dengan bola mata biru berdiri tegap di depan sebuah perkampungan. Ia memakai baju besi ksatria dan membawa pedangnya walau sebenarnya pedang itu hanya sebuah hiasan karena sejujurnya ia tak memerlukan pedang itu. Sihirnya sudah lebih dari cukup untuk membunuh seperempat orang di perkampungan ini.
Sesosok namja lain dengan tubuh sedikit lebih pendek dari namja satunya namun terbentuk itu menghampirinya dengan tergopoh-gopoh sambil memperbaiki penutup kepala besi yang tak terpasang pas di kepalanya. Dengan cepat namja itu menstabilkan deru napasnya dan membungkuk hormat pada namja bertubuh tinggi itu.
"Apa kau sudah menemukan pangeran?" ucapnya dengan intonasi datar.
"Maaf Jendral aku sudah menyuruh semua prajurit untuk memeriksa daerah pemukiman ini namun pangeran tidak dapat ditemukan dimana pun."
Namja dengan tubuh tinggi yang memiliki kedudukan Jendral tadi mengerutkan dahinya.
"Ini adalah pemukiman terakhir di daerah Thorenwan. Jika pangeran tidak juga ada disini berartiā¦"
Jendral tersebut menghentikan kalimatnya, sedikit tak yakin dengan lanjutan kalimat yang akan ia ungkapkan. Namja dengan tubuh yang lebih pendek itu terkejut dan memasang wajah tak percaya.
"Mungkinkah pangeran pergi ke seberang?"
"Entahlah. Itu kemungkinan terbesarnya. Namun jika benar seharusnya mereka segera membawa pangeran ke pengadilan agung jika itu terjadi. Siapapun yang dengan sengaja melewati batas daerah tanpa ijin harus dihukum mati kecuali para bangsawan, mereka akan segera diproses ke dalam pengadilan agung."
"Apakah mungkin ada kemungkinan mereka menyekap pangeran disana?"
"Kita tidak tahu. Setidaknya walau negeri kita bermusuhan sebenarnya kita ini masih saudara dan kita sangat menjunjung tinggi peraturan yang ada."
Seorang namja lain menghampiri mereka dengan cara yang hampir sama dengan namja yang datang dengan tergopoh tadi. Ia segera membungkukkan badannya pada sang Jendral dan namja di sebelahnya dengan hormat sebelum melapor.
"Jendral dan wakil jendral saya mendapat laporan bahwa para prajurit Traerien berjaga di perbatasan hampir sebulan ini."
"Ah begitu rupanya. Sebenarnya apa yang membuat mereka berjaga di perbatasan?" ucap sang wakil Jendral.
Sang jendral terlihat berpikir sebelum kemudian memberikan komandonya.
"Taeyang bawa seluruh pasukan untuk berkumpul. Kita akan menuju ke perbatasan," perintahnya.
Wakil jendral yang dipanggil Taeyang tadi segera membungkuk hormat dan melaksanakan perintah atasannya dan membawa salah satu anak buahnya yang tadi melapor untuk turut membantunya. Sang jendral hanya bisa menghela napas dalam.
"Aku harap firasat buruk yang kurasakan akhir-akhir ini tidak terjadi," ucapnya pelan pada diri sendiri.
TBC
Annyeong I'm coming back! #plak
Oke pertama sekali Jeongmal mianhae karena uda begitu lama update. Masih ingat ga sama ceritanya? Uda ga ya? #pundung *reader: nanya sendiri jawab sendiri dasar orang aneh* Yang kedua buat yang uda mau nungguin ff ini Jeongmal kamsahamnida *bow*terutama buat yang nagih, harus kasih reviewnya ok? #plak Saya tahu ff ini banyak sekali kekurangannya tapi saya bersyukur kalo kalian masih menikmatinya walau banyak kekurangan disana-sini. Saya belajar banyak dari ff ini dan review kalian. Gomawo sekali sudah mau mengajar saya. Saya hargai tiap review yang masuk dari kalian.
Oke saatnya membalas review di chapter lalu ^^
LQ: iya mianhae jeongmal mianhae *nyanyi ala love really hurts punya Yesung* hiatus soalnya pc-nya rusak. Kemarin aja minta tolong temen buat update-in. Susah edit dr hp. Hehehehe. Ini uda dilanjut tuh. Gomawo ya uda RnR
yewook shipper: Aduh mianhae ya ga bisa dilanjut cepet-cepet. Hehehehe. Masih ditunggu kah? Gomawo uda RnR
hesty: mianhae jeongmal mianhae. Pcnya baru balik. Mianhae ne. Gomawo uda RnR
cloudsomnia: ga ada nc kok karena saya ga bisa bikinnya. Ahahahahaha. Ini uda dilanjut. Gomawo uda RnR
Shinra: ne gwaenchana. Gomawo uda RnR. Mind to RnR again?^^
YL: kapan ryeo balik jd namja? Boleh tanya sama oracle kalo penasaran. Perjalanannya sudah dekat, sebentar lagi mereka pulang kok. Hipnotisnya itu mengeluarkan perasaan yang tersembunyi jadi kalo mereka saling dendam bisa aja mereka malah bunuh membunuh disitu. Gomawo uda RnR
Pusycat3: wkwkwk ga naik kok. Masih dalam batas aman dikonsumsi. Gomawo uda RnR
okidoki . ratihchan: annyeong juga. Chil imnida. Ne gwaenchana. Makin langka ya? Terus dukung ff YeWook ya biar para authornya semangat menyebarkan cinta YeWook. Mianhae lama updatenya. Gomawo uda RnR
HanamiKim: iya ini diupdate deh buat Nami yg uda penasaran. Hmm memang agak sibuk dan pc-nya baru pulang dr tempat servis. Gomawo uda RnR
Guest: wkwkwk ga ada nc-nya kok jd aman dikonsumsi. Hehehehe. Gomawo uda RnR
Riska: Gomawo uda suka sama ff ini. Sudah dilanjut kok. Gomawo uda RnR
Guest: Mianhae uda bikin lama nunggu. Uda diupdate kok. Gomawo uda RnR
Tity KIM: ga ada nc kok. Wkwkwkwk. Gomawo uda sabar menunggu. Ya Wook Cuma bisa elemen air sama angin. Itu elemen dasar dia setelah jadi raja baru bisa menguasai 4 elemen. Gomawo uda RnR
Eunsoo1: Ah aku ga setega itu buat mereka pisah *ato lebih tega dari itu?* lihat aja deh nanti. Wkwkwkwk. Sudah dilanjut. Gomawo uda RnR
hwook29: hayo jadi mikir apa nih? Hehehehe. Gomawo uda RnR
hana: ga ada nc. Ahahahahaha. Mian lama updatenya. Gomawo uda RnR
adwianesti: wah apaan ya yg terakhir saya juga ga tau #plak endingnya masih rahasia. Gomawo uda RnR
Kang Shin Ah: wah bisa juga ya olahraga jantung? Hehehe. Lanjut kok, mian lama ya. Gomawo uda RnR
Yulia CloudSomnia: errr mianhae lama updatenya. Ini sudah diupdate. Gomawo uda RnR
Kirefa: Laba-labanya gede segede godzilla kayanya #plak ga naik rate kok walo agak menjurus yg kemarin. Saya ga bisa bikin nc. Mian lama updatenya. Gomawo uda RnR
Sushimakipark: memang sejak kapan aku deskripsiin dongsaeng wookie berambut ikal? Boleh dilihat ulang aku Cuma tulis namja tampan dan tinggi lho. Mianhae lama updatenya. Gomawo uda RnR
Littleyewook: waduh agak capek juga dong ya bacanya? Penghuni tetap hutan? Wah boleh juga idenya. Tapi mereka dicariin udahan tuh. Gomawo uda mau nungguin. Mian lama updatenya. Gomawo uda RnR
mie2ryeosomgmail . com: Ne sudah dilanjut. Mian lama. Gomawo uda RnR
sirly3424: sip uda dilanjut. Gomawo uda RnR
wookiewavie: ne boleh panggil eonni ato Chil terserah aja kok. E-mail? 69 rocketmail . com. Fb-nya facebook ryeong7. Mian lama updatenya. Gomawo uda RnR
Eunsoo: mian ya lama updatenya. Sudah dilanjut kok. Gomawo uda RnR
cloud prince: wkwkwk kekuatan Wookie belom bisa dia kontrol. Jadi keluar dari tubuhnya tanpa sengaja ketika perasaan dia ga stabil jadi ya gitu deh. Perpaduan angin dingin dan air, jadi elemen baru. Mian ya lama updatenya. Gomawo uda RnR
nonakim15: Mianhae lama updatenya. Ini sudah dilanjut. Gomawo uda RnR
dyahYWS: ini ga terlalu lama kan? *kedip polos* Mianhae uda lama update. Sudah dilanjut. Gomawo uda RnR
dheek . enha1: Mianhae lama updatenya. Hehehe. Gomawo uda RnR
lailatul . magfiroh . 16: Mianhae lama updatenya. I\Sudah dilanjut. Gomawo uda RnR
Devi AF: ini uda dilanjut kok saeng. Mian ya lama. Jangan sedih oke? Gomawo uda RnR
riska137: ga ada nc. Saya ga kuat bikin OTL. Mian lama lanjutnya tp ini uda dilanjut kan? Hehehe. Gomawo uda RnR
ryeofha2125: ne sudah dilanjut kok. Mian lama. Panggil Chil aja boleh kok. Gomawo uda RnR
UyunElfRyeowook: Mian lama updatenya ya. Sudah dilanjut kok ini. Bentar lagi juga ketemu oracle. Gomawo uda RnR
hanazawa kay: ga ada limun. Mianhae lama updatenya. Gomawo uda RnR
Angels15: Mian ya lama updatenya. Gomawo uda RnR
ichigo song: pamit tapi kembali kan? Yang di fb tak perlu dikhawatirkan. Hehehe. Tuan laba-laba itu peliharaanku jadi aku ga mau bikin dia mati #pout Mian lama updatenya. Gomawo uda RnR
yensianx: hoho ini ga lama kan? #plak Gomawo uda RnR
Guest: ga ada nc. Saya ga bisa buat. Mian lama updatenya. Gomawo uda RnR
Kushina: lmao ditanya dulu ya wook mau hamil anak yesung ato ga. Mian lama update. Gomawo uda RnR
Ri Yong Kim: tau tuh yg serius dikit dong masa forest scene gini? #plak Mian lama updatenya. Gomawo uda RnR
Panda Shippo: ga ada nc kok. Gomawo uda RnR
Kim Sooyeon: huweee tp aku ga bisa nulis nc. Mian lama updatenya. Gomawo uda RnR
fieeloving13: yes negatif positif tergantung dari hati yg terjebak di dalamnya. Mian ya lama updatenya. Gomawo uda RnR
meidi96: huwaa saya ga bisa bikin enceh. Mianhae lama updatenya. Gomawo uda RnR
adel: jangan sedih ya udah kembali kok nih. Makasih lho uda dikangenin. Jadi terharu. Gomawo uda RnR
snowy:waduh aku ga bisa lanjutin *ikut sumpal tisu* Mian lama update. Gomawo uda RnR
yewook forever: Miaaaaannnn ga bisa lanjut kilat dan lama banget. Gomawo uda RnR
Rin4869: mian ya kalo kedekatan YeWook agak mengganjal buat kamu. Nanti ada penjelasannya kok tp bukan di chapter ini. Dan mungkin aku terlalu banyak skip time karna bosen di hutan mulu #plak
Okeh soal deskripsi tempatnya emang kurang banget nih. Next time kuperjelas lagi ya soalnya aku lg mau capture moment pertarungan YeWook yg aduhai #plak
Keterangan lebih lanjut? Orang kan mengira Oracle hanya mitos dan yg terakhir berhasil ketemu Oracle uda meninggal. Peta Mimi aja masih diragukan kebenarannya #plak
Ga canggung malah ga inget apapun #plak okeh mianhae lama banget updatenya. Diijinkan review kaya kereta api kok. Gomawo uda RnR saengie
Sekali lagi mianhae karena updatenya lama banget. Terima kasih banyak jika kalian masih mau menunggu ff ini dan juga terima kasih buat seluruh reader, sider, dan yg uda follow dan favorite ff ini. Kalian selalu membuatku semangat untuk melanjutkan. Last but not least.
Mind to RnR?^^
- Ryeowook's Aegi -
