A Naruto

Romance & Angst

Pairing = SasufemNaru

Rated T

Diclaimer masashi kishimoto

Author :: hai senpai saya balik lagi buat lanjutin cerita ini jika ada kesalahaan maaf ya. Oke RnR senpai.

WARNING

OOC,OC,AU,AR,AT,AH,

FemNaru, terinfirasi dari Film BBF, Alur kecepetan,TYPO Dimana-mana, and many m0re

Cerita yang kemarin

"Ehm... Ayo pulang." ucap Naruko mengalihkan pembicaraanya sambil berjalan cepat menjauh dari Sasuke.
"Hey Dobe lanjutkan dulu perkataan mu tadi." ucap Sasuke yang mengejar Naruko.
"Tidak.!".

FOR YOU CHAPTER 10

Atas Sunanegashi.
Terlihat seorang gadis berpakaian seragam Sunanegashi itu tengah berdiri.
Merasakan hembusan angin yang membelai lembut pada rambut kuningnya.
Angin itu pun tak lupa menerpa mata yang sedang terpejam itu.
"Dobe." ucap seseorang dari belakang Naruko. Naruko bermaksud berbalik namun tak terjadi karena seseorang itu mencegahnya terlebih dahulu.
"Tak usah berbalik, pejamkan mata mu." cegah Sasuke yang semakin mendekati Naruko.
Naruko mengikuti perkataan Sasuke, ia mulai menutup matanya perlahan.
Beberapa saat setelah ia memejamkan mata ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di lehernya.
Mata iris biru langitnya itu mulai terbuka melihat apa yang melingkar di lehernya dan ternyata itu kalung perak berliontin kristal biru langit sama seperti matanya.
"Kau suka ?" tanya Sasuke begituh berhadapan dengan Naruko.
Naruko hanya mengangukan kepalanya tanda ia menyukainya.
"Kalau begitu kau mau mau berjanji.?" tanya Sasuke.
"Berjanji apa?" tanya balik Naruko tak mengerti.
"Berjanjilah kau akan menjaga dan tak melepaskan kalung itu" jawab Sasuke.
Naruko diam sejenak sebelum ia tersenyum dan menganggukan kepalanya lagi.
"Oia, Dobe boleh aku bertanya pada mu?" tanya Sasuke.
"Ehm... Ia apa Teme ?" tanya Naruko.
"Jujur padaku, apakah kau menyukaiku ?" tanya Sasuke tajam. Terlihat jelas keseriusan di mata kelamnya itu.
Naruko terdiam.
Ia binggung dengan perasaanya sendiri.

Perasaan apa ini?
Apa aku menyukai Sasuke ?
Atau ini hanya perasaan perlarian ku pada Gaara ?
Ooohh... Tuhan perasaan apa ini.
Ah... Apapun nama perasaan ini.
Aku merasa nyaman saat aku bersama Sasuke, perasaan yang lebih dari saat bersama Gaara.
"Ia, aku menyukaimu." balas Naruko sambil menundukan kepalanya, mungkin karena ada seburat merah yang menghiasi pipinya.
Sedangkan orang yang mendengarkannya tadi tak bisa berkata-kata lagi.
Seperti kamus dalam otak Uchiha super lengkap itu hilang begitu saja.
Ia terlalu senang karena semua perjuangannya selama ini tak sia-sia.
Dan Sasuke pun memeluk Naruko.
"Terimakasih... Dobe... Terimakasih." ucap Sasuke.
Cintanya tak bertepuk sebelah tangan lagi.
Naruko hanya bisa tersenyum dalam pelukan Sasuke.

Hari demi hari di lewati Naruko dan Sasuke dengan canda dan tawa, pertengkaran kecil, saling mengejek, kejar-kejaran, dan masih banyak lagi.
Membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri dengan mereka, dan tak terkecuali gadis yang memperhatikan kegiatan Sasuke dan Naruko dengan tatapan kebencian.
"Semua itu tak akan bertahan lama." ucap gadis itu sambil tersenyu licik.

01:00 pm
Kediaman Namikaze. Seorang gadis manis sedang belajar di sebuah meja belajarnya di dalam kamar yang bernuansa orange itu.
Ia membuka-buka bukunya mencari jawaban dari soal yang ia kerjakan.
Ia pun membuka buku halaman 117 dan terlihat ada secarik kertas.
Ia mengambil kertas itu lalu membacanya.
"Aku tunggu kau di taman Konoha jam 2 siang ini." ucap Naruko yang membaca secarik kertas itu.
"Teme ?" tebaknya asal mungkin karena Sasuke selalu membuat kejutan untuknya.

Jam 02:00 pm.
Taman Konoha.
Naruko menunggu di bangku taman itu, taman itu tampak sepi hanya ada ia sendiri.
"Ck, Teme itu dimana si ?" ucapnya yang mulai bosan menunggu.
Naruko terus menunggu dan sangat tiba-tiba ada sesuatu yang menyekap mulutnya dengan sarung tangan
"Upp..ppttt.." serunya tak jelas sambil terus berontah dan berapa saat setelah itu ia tak sadarkan diri.
"Fu...fu...fu.." tawa licik dari seseorang.

-Senju Koori-

Seseorang gadis tengah tertidur dengan lelap di sebuah tempat tidur yang cukup besar di sebuah kamar yang seperti kamar hotel dan yang membuat anehnya kenapa ia tak mengunakan sehelai benang pun hanya selimut tembal yang menyelimutinya.
Kelopak mata itu mulai terbuak menujukan iris biru yang indah.
"Dimana aku?" tanyanya memegangi kepalanya yang berat sambil berusaha duduk.
Iris biru langit itu melihat-lihat sekitarnya, dantak lama kemudian iris itu berhenti begitu melihat kaca lemari hias itu di tulis dengan lipstik merah.
Dan tulisan itu adalah 'TERIMAKASIH ATAS TUBUH MU NONA' dan tulisan itu membuat Naruko melihat ke tubuhnya yang tak mengunakan apa pun itu.
"Ah...!" jeritnya tak percaya dengan apa yang terjadi padanya.
Air mata jatuh begitu saja.
"Hiks...hiks.." isaknya tanganya menyentuh sebuah foto, ia pun melihatnya.
Foto itu foto ia bersama seorang pria yang wajahnya mengunakan topeng tengah berpelukan.
"Hisk...hisk..tidak... Tidak mungkin.." isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

Tidak ini tak mungkin. Apa yang terjadi ada ku tidak..tidak...

Naruko pulang dengan tatapan kosong.
Namun begitu ia sampai di rumah ia menutupinya dengan senyuman palsunya.

Keesokan harinya di sekolah.
Hari ini semua murid Sunanegashi menatapnya dengan tatapan jijik dan tentu saja sambil berbisik-bisik.
"Hn, dia tak tahu diri ya."
"Tak ku sangka ia begitu."
"Dasar anak kampung."
"Hn, aku rasa ia akan dapat red card lagi."
Naruko tak mengerti dengan cacian itu.
Ia terus berjalan menuju kelasnya, namun matanya melihat seseorang yang selalu membuat ia tersenyum berjalan menuju kearahnya bersama dua temannya.
Naruko tersenyum sedangkan orang yang yang ia tersenyumi hanya menatap dingin padanya.
'Kenapa ini kenapa Sasuke menatap ku dingin' pikir Naruko.
"Tem.." ucapnya tak lengkap begitu Sasuke melewatinya begitu saja.
Naruko tak mengerti apa yang yang sebenarnya terjadi.
Tapi semua pertanyaan itu terjawab ketika ia melihat di sebuah LCD di depannya itu sendang menampilkan foto dirinya dan dengan pria bertopeng itu.
Air mata itu pun terjatuh lagi di iris langit cerah itu.

Naruko berjalan menuju ruang khusus AC. Ruangan yang dulu yang selalu ia datangi untuk memarahi Sasuke.

Naruko berdiri di depan pintu AC yang terbuka itu.
"Mau apa kau di situ ha!" ucap dingin Sasuke.
"Tem.." ucap Naruko terpotong.
"Jangan pernah memanggilku dengan nama itu.!" ucap tegas Sasuke mendekat kepada Naruko yang sedang berusaha menahan air matanya.

Mata biru itu tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Oh... Maaf tuan Uchiha." ucapnya yang masih menahan tangis.
Sasuke terus berjalan perlahan mendekati orang ia cintai itu.
"Hn, masih berani kau menemui aku?" ucapnya dingin begitu ia berhadapan dengan gadis berambut kuning itu.
"Ku kira kau itu berbeda dengan gadis lain. Hn, tapi aku salah kau sama saja dengan gadis-gadis itu, Murahan." ucap Sasuke tajam memberi penekanan pada kata Murahan.
Pllllaakkkk...
Tamparan telak hinggap mendarad di pipi kiri Sasuke.
"Hiks... Dengan Uchiha aku tak serendah yang kau pikirkan!" ucap Naruko kesal. Akhirnya air mata itu tumpah dari langit cerah itu.
Sasuke hanya menatap iris biru itu sambil memengangi pipi kirinya.

Hati kecilnya menjerit begitu ia melihat iris biru itu mengeluarkan tetes air mata lagi, Namun egonya yang begitu tinggi dan semua bukti yang dilihatnya membutakan hatinya.
"Maaf menganggumu tuan Uchiha Sasuke." ucapnya sebelum meninggalkan Sasuke dengan Kebodohanya.
Lelaki berjas hitam itu hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi dalam dadanya, sebelum ia melepaskannya pada tempok yang berada di sampingnya.
"Sial...!" ucap Sasuke kesal.

Senju Koori.

Naruko terus berjalan dengan air mata yang terus saja turun dari matanya.
Rasa sakit yang sama seperti waktu ia tahu kalau Gaara telah mempunyai kekasih.

Kenapa, kenapa, kenapa? Kau melukai hatiku saat aku mulai membuka hatiku untuk mu, saat aku sudah melupakannya karenamu.
Kenapa, kenapa kau menyakitiku, kenapa kau tak mau dengarkan penjelasanku !"

Kenangan-kenangan bersama saat bersama Sasuke terputar kembali.

"Hn, kau mau minta maaf Dobe? Kalau ia cepatlah."
"Ck, tubuhmu kotor Dobe."
"Baiklah aku minta maaf."
"Aku menyukaimu Dobe."
"Memang aku tampan kan?"
"Hormati sedikit pacarmu ini."
"Berjanjilah kau tak akan melepas kalung itu."
"Terimakasih... Dobe... Terimakasih."
Sakit sangat sakit, terlalu sakit untuk hatinya.

Pandangannya memudar, langkah demi langkahnya semakin Perlahan, kepalanya terasa sangat berat, hidungnya pun mengeluarkan darah.
Ia tak sanggup lagi berjalan...
Buuuukkkkk...
Ia terjatuh, tapi tunggu ? Ia bukan terjatuh di lantai sekolah yang dingin melainkan terjatuh di pelukan hangat seseorang.
"Naruko?" gumam lirih seseorang yang menangkap Naruko dari belakang itu. (Author :: ayo siapa?)

Rumah sakit Konoha.
Di sebuah ruangan yang cukup besar bernuansa putih itu terlihat seorang gadis yang tenggah berbaring lemah tak sadarkan diri di sebuah tempat tidur di ruangan itu dan seorang pemuda berambut merah yang duduk di sampingnya dengan tatapan cemas.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" ucap pemuda itu lembut.
Sesaat kemudian.
Kelopak tertutup itu mulai bergerak pelahan, membuka iris indah itu.
Pandangannya rabun namun makin lama semakin jelas.
"Gaara?" ucapnya yang masih tak jelas melihat orang yang tengah menatapnya itu.
"Kau kah itu?" tanya lagi sambil berusaha duduk.
"Ia, ini aku." Gaara berusaha membantu Naruko.
"Tapi.. Bagai" ucap Naruko terpotong.
"Aku pulang Naruko." Potong Gaara.
"Tapi kenapa?" tanya Naruko lagi
"Hanya ingin pulang" balas Gaara.
;Hanya itu" tanya Naruko kembali. Tak mungkinkan kalau Gaara pulang hanya karena ia ingin pulang?
"Ia." balas Gaara singkat.
'Dan kau Naruko." lanjut Gaara dalam hati.
"Lalu Hinata?" ucapnya penuh tanya.
"Kami sudah tak ada hubungan lagi." ucap singkat padat dan jelas dari Gaara.
"Oh..." kata Naruko. Ia kehilangkan kata untuk hal ini. Nakushita Kotoba.

Kenapa dengan semua ini? Apa takdir mempermainkanku. Kenapa kau kembali membawa harapan untuk ku saat aku sudah melupakan mu. Dan kenapa ia kembali melukai ku saat aku telah mencintainya.?
Luka baru tercipta di hati ku.
"Naruko?" panggil Gaara.
"Ah... Ia..ia, Gaara?" balas Naruko yang tersadar dari lamunannya.
"Kau sebenarnya sakit apa?" tanya langsung Gaara dan pertanyaan itu membuat Naruko terpaku seketika.
"Ehm... Aku...aku...ehm.. Mun..mungkin aku kecapean Gaara." balas asal Naruko ia binggung harus berkata apa.
"Aku tahu orang kecapean itu seperti apa. Dan keadaan mu sekarang bukan orang yang sedang kecapean." ucap Gaara tajam, sekarang Naruko benar-benar tak bisa berkata-kata lagi, Gaara tak bisa di bohongi.
"Kau sakit apa Naruko ?" ulang Gaara tajam.
Mata hijau itu bertemu dengan mata biru Naruko.
Bagaikan hamparan rumput yang hijau yang di dekatnya berada danau biru yang indah.
Naruko hanya menundukan kepalanya tak mampu lagi menatap mata hijau itu.
"Jawab aku Naruko." Gaara sedikit memaksa
"Hiks...hiks.." hanya isak tangis yang menjawab pertanyaan Gaara.
Gaara memeluk gadis munggil itu.
"Kau sakit apa?" tanya lembut Gaara.
"Hiks... Aku..aku.. Hiks.. Hatiku rusak, aku harus mendapatkan cangkok hati kalau tidak aku akan hiks.." jawab Naruko di sela isak tangisnya.
"Ussh... Jangan bicara yang tidak-tidak, kau akan hidup." ucap Gaara yang merekatkan pelukannya sambil mengelus-gelus helaiyan rambut Naruko.
"Hiks..hiks..."

Ku beritahu semua hal yang tak bisa ku beritahu pada orang lain kepada mu.

Naruko meminta pada Gaara untuk mengantarnya pulang.

Ia tak mau berlama-lama di rumah sakit itu karena menurutnya berlama-lama disana sama saja berada diloket kematian.

Gaara pun mengantar Naruko pulang mengunakan mobil putihnya itu. Di perjalan menuju ke rumah Naruko hanya diwarnai percakapan kecil diantara mereka.

"Kau jaga kesehatanmu, jangam bicara yang aneh-aneh lagi." ucap Gaara begitu Naruko keluar dari mobilnya dan berdiri di depan rumah kecil berwarna biru muda itu.

"Ia, kau hati-hati di jalan" balas Naruko seraya tersenyum,

Gaara membalas senyuman itu dan tak lama melajukan mobilnya.

Senyuman Naruko berkembang mengiringi melajunya mobil putih itu, tapi hilang seketika begitu mobi itu sudah tak terlihat dari pandangannya.

Hatinya kembali sakit.

Telinganya di penuhi oleh perkataan Sasuke.

MURAHAN

MURAHAN

MURAHAN.

Dengan pelan kelopak mata itu terpejam, merasakan perih luka hati itu.

Sasuke orang yang dulu mengobati rasa sakit ini, sekarang malah menyiramnya dengan rasa sakit yang lebih dari rasa sakit yang ia obati.

Dan hujan kembali turun dari langit cerah itu.

Namaku cinta ketika kita bersama

Berbagi rasa untuk selamanya

Namaku cinta ketika kita bersama

Berbagi rasa sepanjang usia

Hingga tiba saatnya aku pun melihat

Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat

Seorang pemuda tengah mengunakan pakaian karatenya lengkap dengan sabut hitam yang melingkar di perutnya itu tengah meluapkan emosinya kepada sebuah boneka latihan.

Meluapkan semua rasa sakit di dadanya.

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi

Aku tenggelam dalam lautan luka dalam

Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang

Aku tanpamu butiran debu

Namaku cinta ketika kita bersama

Berbagi rasa untuk selamanya

Namaku cinta ketika kita bersama

Berbagi rasa sepanjang usia

Hingga tiba saatnya aku pun melihat

Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat

malang nasib boneka latihan itu, bentuknya sudah tak karuan lagi karena terus menerus di tendang dan dipukul oleh pemuda itu.

Menepi menepilah menjauh

Semua yang terjadi di antara kita ooh

"Agh..." jeritnya sambil terus memukul dan menendang boneka itu tanpa perasaan.

Entah apa yang dicarinya dari setiap pukulannya itu.

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi

Aku tenggelam dalam lautan luka dalam

Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang

"Hohs...hohs...hohs.." nafasnya terengah-engah begitu melihat boneka rusak itu terjatuh di hadapannya.

"Ahhhhhhh..." jeritnya kepada langit-langit tempat latihan itu, melepaskan rasa sakit yang tak kunjung hilang.

Dan air mata jatuh pertama kali di iris hitam kelam itu.

Ya... Seorang Uchiha Sasuke mengeluarkan air mata, air mata kekecewaan.

Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu

Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu….

"Biarkan saja dia seperti itu dulu." ucap Shikamaru pada Sai, ternyata ia dan Sai memperhatikan Sasuke di balik pintu.

"Ia, tapi aku bingung? Apa benar yang di foto itu Naruko?" tanya Sai.

"Aku yakin itu Naruko. Tapi yang jadi masalahnya apa Naruko sadar saat ia melakukan itu.?" ucap Shikamaru serius, sedangkan Sai tengah tercengang dengan pemandangan ini. Seorang pemalas seperti Shikamaru bisa menjadi serius dalam menanggapi masalah yang bukan masalahnya.

"Tunggu, kenapa kau jadi serius begini? Biasanya kau kan tak mau ikut campur dan paling juga kau hanya bisa bilang 'merepotkan'." ucap Sai yang menurutka gaya Shikamaru saat berkata 'merepotkan'.

"hn, memang ini merepotkan, tapi aku tak mau jadi sasarah si Uchiha yang sedang patah hati itu. Dan jujur saja aku tak tega melihat gadis itu menangis." jelas Shikamaru.

"Oh..." balas Sai sambil mengangukan kepalanya, ia setuju karena ia juga tak mau jadi bahan amukkan Sasuke dan melihat Naruko menangis.

Kediaman Namikaze.

"Aku pulang."

seru Naruko begitu masuk kedalam rumah sederhananya itu.

Ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat sang kakak yang tengah duduk di ruang keluarga yang sedang berkuat dengan buku dan pulpennya itu.

"Hey kak." sapa Naruko sambil mendekati sang kakak.

"Oh.. Hay Naruko." balas Naruko yang masih tak berpaling dari buku-bukunya itu.

"Kakak sedang apa si? Sepertinya sibuk sekali?" tanya Naruko duduk di depan Kakaknya.

"Tugas dari Orochimaru-sensai." balas singat Naruko.

"Ohh..." balas Naruko sambil mencari-cari sesuatu yang selalu ada di dekat kakaknya.

"Laptop kakak mana? Biasanya selalu ada di samping kakak kalau kakak sedang mengerjakan tugas." tanya Naruko.

Naruto sedikit kaget mendengar ucapan adiknya itu.

"Ha?" balas Naruto.

"Laptop kakak dimana ?" ulang Naruko.

"Ha? Laptop ya? Laptop ku ehm... Di penjam Lee." ucap Naruto terputus-putus karena ia memikirkan alasannya.

"Oia? Setahu ku kak Lee punya laptop, kenapa ia harus meminjamnya?" tanya Naruko ia mencium kebohongan dari kakaknya itu.

"Ehm... Karena..." ucap Naruko tergantung ia bingung ia harus membalas apa.

"Kakak bohong kan! Kakak pasti menjual laptop kakak untuk membeli obat-obatanku yang tak berguna itu kan!" tebak Naruko tegas.

"Berhenti menyebut semua obat-obatanmu itu tak berguna!" bentak Naruto kesal karena sikap adiknya itu.

Naruko tersenyum pahit.

"Tapi benarkan kak, takdir ku mati!" teriak Naruko.

PLLLLLAAAAKKK..

Tamparan terasa dipipi kiri Naruko. Tamparan yang ia dapat dari sang kakak.

"Dengar ini Naruko! Takdir semua manusia itu adalah mati bukan kau saja! Tapi manusia harus berusaha sebelum takdir itu menjemput mereka.!" bentak Naruto kepada adiknya ia muak karena Naruko semakin lama semakin menyerah pada penyakitnya.

Mata biru mudah itu saling menatap dan tak berapa kemudian salah satu dari mata itu meneteskan air mata.

"Hiks...hiks... Maaf kak, aku hanya tak mau merepotkan kakak, ayah dan ibu karena penyakitku ini." ucap Naruko di cela tangisnya.

"Kakak, ayah dan ibu tak pernah merasa kau repotkan, kau akan sembuh Naruko." balas Naruko memeluk adiknya.

Memberi kehangatan seorang Kakak kepada adiknya. sedangkan sang adik terus meneteskan air mata.

Entah mengapa hari ini iris biru itu terus meneteskan air mata.

:::

:::

::::

:::::

::::;

:::::

:::::

Oke senpai TBC dlu ya.

Mohon d review ya senpai ^^

N maaf kl koori lama up datenya

Terimakasih yg telah baca fict gaje koori ini