Uzushiuogakure adalah sebuah desa yang menutup dirinya dari desa desa lain di dunia Shinobi. Mereka hanya membuka ikatan dengan desa kerabat mereka, yakni Konohagakure. Namun hal tersebut berubah ketika seorang Uzukage (pemimpin desa Uzu) muda naik menjabat menjadi yang keempat. Anak muda yang beru berusia 24 tahun tersebut adalah seorang prodigy Uzumaki yang terkenal dengan penguasaan sepuluh Sumi-kyō dan keahlian Fuinjutsu yang hebat. Yondaime Uzukage muda yang memiliki kharisma tinggi, tenang, ramah, baik terhadap semua orang serta dikenal sangat pandai dalam bertarung itu bernama Uzumaki Naruto.

Naiknya Uzumaki Naruto sebagai Yondaime Uzukage membuat Uzushiogakure membuka hubungan dan kerja samanya dengan desa desa lainnya, termasuk sebuah Negara Iblis yang dipimpin seorang Ratu bersifat dingin dan memiliki kemampuan menyegel setan serta memprediksikan kematian seseorang. Naruto yang mengunjungi Negara tersebut pertama kali langsung jatuh hati begitu bertemu dengan sang Ratu dalam sebuah jamuan yang mewah. Pertemuan dua hati yang suci pun terjadi, dengan hidupnya gerbang Saiken yang berada di wilayah barat Uzushiogakure, sang Uzukage pun datang melamar Ratu dari Negara Iblis, dan lamaran tersebut diterima dengan rasa cinta yang besar.

Dua pemimpin menyatu, namun kekuatan keduanya yang besar membuat takut desa desa Shinobi lainnya, dan akan menjadi awal dari sebuah bencana untuk Uzushiogakure..

Naruto by Masashi Kishimoto

The Uzukage by Doni Ren and Icha Ren

This Story for Naruto Lovers, and for Anella Gathra

Pairing : NaruShion

Rate : T+

Genre : Adventure, Romance

Warning : Typo, Abal abal, Gajeness, Kacau, Tata Kata Aneh Aneh, OOC, DLL

Normal POV

Naruto POV

Shion POV

Strong n Smart!Naru

Older!Naru

Older!Shion

.

.

.

"Pemimpin adalah sebuah wadah berisi yang akan mengisi wadah-wadah rakyat dengan pengabdiannya, bukan wadah kosong yang mengambil isi dari wadah-wadah rakyatnya"

Yondaime Uzukage, Uzumaki Naruto

The Fallen of Uzushiogakure

Chapter 10

Unknown, 27 November

Naruto POV

Setelah kebenaran yang menggemparkan dua Zetsu dua minggu yang lalu, aku tahu bahwa Madara benar-benar menaruh minat kepadaku dan sering mengajakku berbicara. Perasaanku mengatakan bahwa rival Hashirama Senju ini ingin menggunakanku sebagai alat rencana besar yang telah dia buat. Tetapi walau sebesar apapun argumen yang dia berikan untuk mempengaruhiku, hatiku tetap teguh memandangnya sebagai seseorang yang kalah dari kebenaran dan berusaha balas dendam. Aku yakin Madara dulunya adalah orang baik. Tetapi pasti ada satu hal atau beberapa hal yang mengubah pandangannya tentang kehidupan dan dunia ninja ini, yang mengubahnya menjadi jahat. Matanya, walaupun tajam dan licik, tetapi di sana tersirat kesedihan yang amat sangat banyak. Dia masih bisa bertahan sampai sekarang mungkin karena menyimpan dendam karena kesedihan itu di hatinya.

Kurasakan nikmatnya air panas yang membasahi kulit membuat perasaanku menjadi nyaman. Aku kini berendam di mata air panas di tempat ini bersama Zetsu spiral dan Zetsu putih. Mahluk-mahluk ini mengatakan bahwa mereka beruntung bertempat tinggal di sini karena ada mata air panas alami. Ini adalah lokasi favorit kedua mahluk tersebut karena merupakan suatu lokasi refreshing yang pas dan nikmat.

"Kakimu sudah benar-benar sembuh, Yondaime Uzukage?" tanya Zetsu putih yang kini memanggilku dengan cara berbeda setelah kejadian dua minggu lalu. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Tiba-tiba Zetsu spiral menyelam ke air dan muncul di sisi kiriku.

"Haaah, 'punya'mu besar juga ya Yondaime-" aku menampar wajah spiral itu dengan tangan kiriku sebelum dia menyelesaikan omongannya. Mahluk itu langsung tenggelam di air panas.

"Penyembuhan tempurung lututmu cepat juga. Walaupun kau harus berhati-hati agar tidak memecahkannya lagi…"

Kata-kata Zetsu putih membuatku kembali tersenyum "Itu berkat obat yang kau berikan. Obat penuh Kalsium kah?" tanyaku pelan.

"Fosfor juga penting untuk tulang…tulang adalah jaringan khusus yang dibentuk dari embrional tulang dan perikondrium. Lagipula tempurung lutut juga berasal dari tulang rawan fibrosa yang berdiferensiasi…" Zetsu putih menekan pelipis kirinya menggunakan tangan kirinya. Kebiasaan anehnya. Dia tersenyum angkuh "Khekhekhe…kau banyak berhutang budi kepadaku kan?"

"Ya." Aku menjawab dengan singkat. Kutatap kepulan-kepulan asap yang melayang di udara akibat panasnya air ini. Melihat itu mengingatkanku akan asap-asap kehancuran di Uzu. Tiba-tiba kurasakan sekujur tubuhku bergetar. Bergetar mengingat kejadian itu.

"Aku harus ke Uzu lagi."

Terdengar Zetsu putih berdehem. Aku menoleh ke arahnya perlahan.

"Ada apa?" tanyaku cepat.

"Apa yang ingin kau lihat di desamu yang hancur, Yondaime Uzukage? Di sana sudah menjadi puing-puing bangunan tak berguna. Mayat-mayat di sana juga sudah habis dimakan burung ataupun hewan pemakan bangkai. Aku sarankan kau tidak melihatnya."

Aku menghela napasku perlahan. Kulihat Zetsu putih menyandarkan tubuhnya di tepian air panas tersebut sambil menekan pelipis kirinya dengan tangan kirinya.

"Terima kasih atas sarannya. Tetapi jika aku melakukan hal tersebut, aku sama dengan tuanmu yang sudah tua renta itu…"

"Hantu Uchiha itu, khekhekhe…"

"Benar."

Aku melihat ke arah Zetsu spiral yang melompat dari dalam air dengan teriakan kesal. Cipratan air panas itu sedikit mengenai wajahku, membuatku meninju kepala mahluk berwajah spiral tersebut.

"Uchiha Madara telah lari dari kenyataan sebenarnya dan menjadikannya alasan untuk hidup. Walaupun tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu, aku yakin dia sudah lari dari suatu hal. Lari dari suatu kebenaran dan fakta…" aku berhenti sejenak "…Dengan melihat keadaan Uzu, aku tahu apa yang harus kulakukan dan apa yang tidak harus kulakukan. Ini bukan soal bagaimana kau mencari jawaban atas kesalahanmu di masa lampau, tetapi bagaimana kau bisa memperbaiki kesalahanmu, dan menjadikannya kemenanganmu di masa depan."

Zetsu putih melirikku dengan tatapan berbinar. Aku yakin dia takjub dengan pidato singkatku tadi. Saat kulihat kembali kepulan asap di pemandian air panas ini, bayangan Shion terlintas di kepalaku, membuatku ingin meraihnya tetapi hilang karena itu hanya asap di udara.

Istriku dan desaku…

Shion dan Uzu…

Teman-temanku…

Keluargaku…

Apa Madara merasakan hal itu juga?

.

.

.

Unknown, 28 November

"Kau ingin pergi, Yondaime Uzukage?"

Madara tersenyum tipis. dia bertanya dengan suara seraknya yang menyeramkan. Aku menganggukkan kepala perlahan untuk jawaban atas pertanyaannya.

"Apa yang membuatmu benar-benar ingin melihat keadaan desamu? Uzu sudah pasti hancur…" tanya Madara pelan. Aku tahu, itu pertanyaan yang ingin memancing emosiku.

Aku menjawab dengan tegas pertanyaan pancingannya itu "Aku ingin melihat Uzu karena itu memang tanggung jawabku."

"Bukankah kau sudah melihatnya di tebing desa, Yondaime?" tanya Zetsu yang sedang berdiri di samping kiriku bersama dengan Zetsu spiral. Kulihat dia menekan pelipis kirinya lagi dengan tangan kirinya.

"Aku melihatnya dari jauh. Aku belum puas." Aku bejalan menuju ke arah Zetsu putih dan menatapnya tajam, namun tetap kupertahankan ketenangan dan wibawaku agar tidak menjadi tatapan mengintimidasi.

"Tolong bawa aku keluar dari tempat ini…"

"Kau akan kembali, Yondaime?"

Aku menoleh ke arah Madara. Orang tua itu menutup matanya dan tersenyum tipis. Perlahan, kembali kuanggukkan kepala dan kukatakan "Iya". Hantu Uchiha itu terkekeh pelan.

"Aku masih ada keperluan di sini…"

Madara membuka matanya dan menatapku tajam. Matanya berubah menjadi Sharingan.

"Nah, pergilah. Zetsu spiral, antar pemimpin muda ini ke desanya. Dia ingin melihat kenyataan kegagalannya sebagai pemimpin lebih dekat. Kau bisa mengubahnya jika kau mau mendengarkan nasihatku anak muda…"

Aku melirik ke arah Zetsu spiral yang melakukan gerakan hormat dan berjalan cepat ke arah sebuah lubang yang berada di sudut kanan ruangan ini. Aku melirik ke Madara yang menatapku dengan Sharingan sambil tersenyum. Entah kenapa, orang ini benar-benar memiliki kekuatan hebat untuk mempengaruhi orang lain.

"Aku sudah banyak mendengar nasihat darimu Madara…"

"Oh benarkah?"

"Heh," aku tersenyum tipis. Membalas senyumannya "Tentu saja, Hantu Uchiha. Nah…aku pergi dulu. Jaa!"

Aku pergi meninggalkan tempat suram itu dan masuk ke lubang berbentuk lingkaran tak beraturan. Besarnya ternyata cukup untuk orang dewasa yang merangkak. Kira-kira 45 langkah dari lubang luarnya, aku sampai di sebuah ruangan kosong yang hanya berisi cahaya lampu kuning suram. Tempat itu hanya memliki ukiran garis X di dinding sebelah timur. Aku melihat Zetsu spiral menekan dinding sebelah barat dan tiba-tiba dari langit-langit ruangan tersebut jatuh sebuah tangga kayu dan lubang besar. Ujung atas tangga kayu itu berada di tepian lubang langit-langit ruangan yang berbentuk persegi. Kulihat Zetsu spiral memberikan tanda untuk mengikuti dirinya dan aku menganggukkan kepala perlahan. Kami berdua menaiki tangga tersebut dan Zetsu spiral berada 2 hasta di atasku. Saat kepalaku sudah melewati lubang, mataku dihampiri dinding-dinding dalam gua, di mana ujung depannya adalah lubang keluar yang penuh cahaya putih. Aku memicingkan mataku saat melihat struktur dinding gua tersebut. Seperti tanah yang menyatu dengan baik, dan diselingi dengan akar-akar pohon raksasa yang tebal dan kuat. Aku tahu lokasi sebenarnya gua ini…

Aku sekarang berada di bawah akar pohon raksasa yang memiliki celah besar.

Setelah berdiri di tepi lubang persegi empat itu dan menatap sebentar tangga tersebut, aku menoleh ke arah Zetsu spiral yang melakukan kayang di belakangku. Aku sedikit kebingungan melihat tingkahnya. Aku berdehem pelan untuk memfokuskan perhatiannya kepadaku. Dia tidak menggubrisnya dan tetap melakukan kayang aneh.

"Hei mahluk yang tak tahu rasanya buang air be-"

"SEKARANG KAU TAHU RASANYA HAL TERSEBUT YONDAIME UZUKAGE?!" Mahluk itu melompat ke arahku dan membungkuk sedikit seperti tingkah anak kecil dengan nada yang luar biasa penasaran.

"Aku memang tahu, topeng spiral…" aku menepuk pelan pundaknya dan meninju lembut ke tengah dadanya.

"Arigatou…" kataku pelan. Mahluk itu berdiri kaku dan tidak merespon ucapanku.

"Ada apa?" tanyaku perlahan "Aku berterima kasih kepadamu karena telah merawatku selama ini…walaupun tindakanmu begitu menjengkelkan."

Dia tetap tidak menjawab.

"Tenang saja, aku akan kembali ke sini lagi, mahluk aneh…" aku tersenyum tulus dan berjalan menuju ke arah pintu gua. Tiba-tiba dia menarik pundak kiriku dan dengan paksa memutar tubuhku ke arahnya. Aku kembali menatap lubang hitam di topeng spiralnya tersebut.

"Ada apa?" tanyaku pelan.

"Tadi aku bertanya soal buang air besar dan kau malah mengalihkan topik pembicaraan ke pembahasan yang lain." Katanya ketus sambil melipat kedua tangannya di depan dada "Kau berkata, aku memang tahu…dan kau malah berbicara sok cool dengan pembukaan dramatis tentang perawatanku kepadamu."

"Jadi, apa maumu?" tanyaku tenang. Dia tiba-tiba salto belakang dan tepat berdiri di tepi lubang.

"Hati-hati mengamati desamu. Aku tertarik kata-katamu," aku dapat melihat suatu hal yang mengerikan di lubang hitam topeng spiral mahluk tersebut. Aku sedikit merinding membayangkan kegelapan di lubang spiralnya.

"Kau memang menarik, Yondaime Uzukage-sama…" dan dia melompat lurus ke bawah, ke dalam lubang dan terdengar bunyi jatuh yang tidak enak.

"UOOOOOHHHH!"

Aku menghela napas perlahan saat mendengar teriakan kesakitannya. Aku menoleh ke pintu gua yang dipenuhi sinar mentari, dan butiran-butiran salju yang mulai turun perlahan di luar sana. Kulangkahkan kedua kakiku ke arah luar, dengan perasaan yang campur aduk. Bersalah, marah, kecewa, sedih, dan sedikit optimis. Walaupun optimisme yang kecil.

Aku keluar dari cabang-cabang akar pohon yang besar tersebut dan kini berdiri di sebuah pohon raksasa yang memiliki batang besar dan kulit pohon yang terkelupas di beberapa bagian. Tanah di sekitarnya mulai ditutupi salju. Aku melihat ke atas, ke arah langit. Butiran salju tersebut jatuh ke tengah hidungku, merasakan dinginnya es yang membeku dan mengantarkanku dalam pikiran yang penuh ketenangan. Saat kubuka mata dan kulihat hujan salju semakin deras…aku sudah melakukan Hikari Sunshin ke Uzu dan berdiri tegak di tebing Gunung Matari. Pemandangan menyedihkan dan mencekam.

Desa yang dulunya dipenuhi senyuman dan tawa para rambut merah kini menjadi desa mati penuh puing-puing bangunan dan bau amis darah. Aku bahkan dapat mencium bau busuk mayat di tebing gunung ini. Uzu sebagian sudah ditutupi salju, dan mayat-mayat para Uzumaki masih tergeletak di desa dengan keadaan memprihatinkan karena semuanya sudah hampir mejadi tulang. Ada beberapa bagian tubuh para Uzumaki yang hilang dimakan hewan pemakan bangkai. Aku tak kuasa menahan air mata penyesalan. Aku bukan lemah, jangan menganggapku terlalu cengeng. Tapi inilah tabiat manusia jika sesuatu yang disayanginya benar-benar hancur. Hancur yang totalitas. Padahal aku begitu percaya diri menjaga Uzu karena aku kuat. Ya, karena aku kuat!

Aku memandang tanah di kakiku yang juga ditimbuni salju. Aku kembali menatap Uzu dan melihat salju di sana dengan sedih.

Hanya salju…tetapi salju di Uzu nampak berbeda.

Putihnya suram, bercampur dengan hitamnya arang kayu dan merahnya darah manusia. Aku menarik napas perlahan dan berlari cepat ke desa.

Ke desaku yang kini tinggal kenangan.

.

.

.

Tempat pertama yang kukunjungi adalah puing-puing Kuil Uzu . Kuil kerohanian dan kebanggan para Uzumaki kini hanya menjadi cerita menyedihkan dan sejarah. Aku melihat gerbang kuil masih berdiri tegak di depan tangga menuju bangunan utama yang sudah hancur lebur. Kudekati gerbang kuil tersebut dan kusentuh tiang gerbang yang dingin dengan telapak tanganku. Dinginnya menusuk tulangku dan meremas saraf-sarafku. Kupejamkan mata dan berdoa kepada Kami-sama. Aku pun berjalan menuju tempat kedua. Ya, tentu saja…

Tempat kedua yang harus kukunjungi adalah Istana Uzu. Kebanggan duniawi para Uzumaki. Simbol kekuatan para rambut merah. Simbol kekuasaan sang Uzukage.

Simbol monumental tersebut kini hancur berantakan. Tiang-tiang istana yang besar dan kuat hanya menyisakan bagian bawahnya yang masih tegak menancap di tanah. Aku berjalan memasuki istana dengan atap hancur tersebut dan melihat salju-salju putih yang menutupi bercak-bercak darah merah serta mayat-mayat membusuk di dalamnya. Aku tidak sanggup melihat pemandangan ini. Beberapa wajah dari mayat itu adalah pelayan setiaku. Andai saja aku langsung ingat Fuin di tebing Gunung Matari dan langsung shunshin ke sana, ini semua pasti masih bisa kutangani.

Tetapi nasi sudah menjadi bubur…tak akan bisa menjadi nasi lagi. Kulangkahkan kaki dengan berat menuju ruang tengah istana. Dinding-dindingnya benar-benar hancur, menyisakan dinding bagian bawah yang menancap di lantai yang retak. Beberapa kunai dan shuriken menancap di dinding dan lantai ruang tengah. Hiasan istana seperti patung, vas bunga, guci raksasa dan lukisan-lukisan kebesaran Uzumaki tergeletak di tanah dan ada beberapa yang pecah. Aku memungut kepingan guci yang berbentuk segitiga tak beraturan. Salah satu ujungnya memiliki bekas noda darah.

"Ini adalah darah Uzumaki…" aku meletakkan pecahan guci itu ke lantai. Saat mataku bergerak melihat seluruh keadaan ruang tengah, di dinding sebelah timur yang sedikit miring dan penuh retakan, terlihat mayat Uzumaki yang menancap di dinding tersebut oleh sebuah shuriken besar. Aku berjalan pelan menuju mayat tersebut. Tiba-tiba aku merasakan gejolak panas di dadaku. Getaran aneh menjalar rahangku, membuatnya terasa keras. Satu hal yang aku tahu…emosiku sedang membuncah dan meluap-luap bagai kawah api yang siap meledak.

"Keterlaluan! Para baji*gan itu memperlakukan mayat pelayanku seperti ini!" saat sudah berada 6 langkah di depan mayat Uzumaki tersebut, aku merasakan menginjak sesuatu. Suatu benda yang kukenal saat retinaku beralih ke lantai.

Sebuah topi dewan kepercayaanku, yang sedikit robek dan dihiasi noda darah. Aku mundur selangkah karena kaki kananku menginjak topi tersebut dan menutupi angka dewan pemilik topi itu. Saat itulah emosiku semakin membuncah saat melihat nomor kanji di topi dan membuat dadaku terasa perih.

Angka kanji 7 yang dihiasi noda darah tercetak jelas di sana. Di bawah topi itu aku dapat melihat sekumpulan uban-uban tipis yang juga dihiasi darah. Aku membungkuk untuk mengambil topi tersebut dan aku…aku tak tahu harus bagaimana! Ini yang tak kusanggup…ini yang tak mau aku lihat!

Melihat hal seperti ini saja membuatku benar-benar down sebagai jiwa pemimpin…apalagi jika aku melihar rambut Yahiko yang dihiasi darah, kepala Nagato atau tubuh Konan…ugh! Kami-sama…aku mohon jangan biarkan itu terjadi. Apalagi jika…apalagi jika aku melihat sesosok tubuh wanita yang bersimbah darah, dengan rambut pirang kepucatannya yang halus dan wajah bonekanya yang sulit dilupakan. Jika itu terjadi dan aku melihatnya…

Aku benar-benar gagal sebagai seorang pemimpin dan Shinobi…

"Gomen, Dewan ketujuh…aku tidak bisa melindungi desa…kau bilang aku lebih baik daripada ayahku karena tidak menangis saat adat suci pernikahan para Uzumaki. Te-tetapi…aku tidak bisa melindungi desa…a-aku…aku hanya sampah yang mendapatkan gelar Uzukage ini karena ayahku sebelumnya Uzukage ketiga-"

DHUAAARHHHH!

Aku menoleh cepat ke samping kanan. Arah suaranya berasal dari ruang tamu istana. Aku berlari ke sana dan terlihat patung Shodaime Uzukage jatuh dari tempatnya dan hancur berkeping-keping menjadi pecahan patung yang menyedihkan, dengan diselimuti oleh tumpukan salju yang semakin tebal. Patung itu pasti sudah retak dan rubuh karena ditimpa salju yang semakin banyak turun dari langit. Benar-benar situasi yang suram. Kejayaan Uzu benar-benar sudah sirna.

Aku pun meletakkan topi dewan ketujuh di atas pecahan kepala patung Shodaime Uzukage. Aku kembali ke ruang tengah dan menurunkan mayat pelayanku yang tertancap di dinding, lalu membaringkannya secara layak. Selama lebih dari satu jam aku mengelilingi seluruh istana dan tidak menemukan apa-apa. Yang dilihat oleh mataku hanya puing-puing istana, pecahan-pecahan patung, vas bunga, guci dan alat penghias istana lainnya, mayat-mayat para Uzumaki, alat-alat ninja yang berserakan di mana-mana, dan bercak-bercak darah pembantaian. Aku keluar dari istana saat matahari sedikit mulai meninggalkan tugasnya untuk digantikan sang bulan. Aku berada di Taman Uzu saat sunset matahari menerpa iris mataku dan taman yang kuharapkan tetap bertahan dengan keindahannya kini menjadi sebuah lapangan tanah kosong tanpa sisa. Perasaanku mengatakan bahwa di sini pasti sudah terjadi pertempuran hebat, karena tanah-tanah di Taman Uzu retak dengan celah yang besar dan bergelombang seperti habis diterpa gempa. Aku dapat melihat mayat-mayat Shinobi Uzushiogakure yang mengapung di kolam Taman Uzu. Air kolam itu sendiri menjadi merah pekat dan lalat-lalat berterbangan di sana, hinggap di mayat-mayat tersebut dan bau busuk menguar…membuat hidungku terasa sakit. Aku tidak peduli dengan bau ini. Demi para Uzumaki, aku terjun ke kolam dan mengeluarkan mayat-mayat para Shinobi hebat ini dari dalam air dan meletakkannya satu-persatu dengan layak di atas tanah taman. Saat semua mayat sudah selesai diletakkan di tanah, aku berdoa kepada Kami-sama supaya roh-roh Shinobi ini tenang di alam sana.

Aku pun mengelilingi Taman Uzu kurang lebih 30 menit. Mayat-mayat yang tersangkut di pohon, ataupun berada dalam posisi tidak layak, aku benarkan dan kudoakan kepada Kami-sama. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mereka. Aku juga menemukan bangku di mana aku dan Shion hampir melakukan tindakan kurang senonoh akibat emosi dan nafsu yang sedikit meluap. Bangku itu patah dua dan tergeletak terbalik di tanah. Kenangan indah yang kini menjadi saksi bisu menyedihkan. Saat keluar dari Taman Uzu, hujan salju menjadi semakin deras. Aku berlari cepat menuju bangunan hotel yang rubuh. Uap kedinginan keluar dari mulutku dan tubuhku mulai sedikit menggigil. Aku berlindung di bawah dinding yang roboh ke tanah dalam keadaan miring, dan membentuk ruang segitiga yang bisa dimasuki satu orang dewasa. Kutatap kantor Uzukage yang sepertinya habis terbakar di depan kiri hotel ini. Pikiranku melayang kembali ke Shion…

Ini adalah hotel di mana Shion menginap.

Apakah jika aku mencari sang Ratu di sini, aku akan menemukan mayatnya dan mata bonekanya hanya menatap kosong ke langit?

Ugh…aku tidak bisa membayangkan hal tersebut.

Bagai orang terlantar, aku hanya bisa memandang kosong hempasan angin musim dingin yang begitu mencekam dan hantaman salju yang jatuh ke tanah mengikuti arah angin. Saat memasuki waktu malam, badai salju datang dan membuat beberapa rumah para Uzumaki yang memang sudah retak di mana-mana langsung rubuh ke tanah dihiasi bunyi keras yang menggelegar telinga. Hempasan puing-puing bangunan itu mengepul, membentuk asap berwarna putih bercampur salju yang semakin tebal di tanah Uzushiogakure. Aku juga dapat melihat beberapa potongan tubuh rakyatku berterbangan ke berbagai arah akibat hembusan kuat badai salju tersebut. Kupejamkan mataku perlahan. Mengingat semuanya. Mengingat semua kesalahan yang telah aku buat.

Entah kenapa senyuman licik Madara tua terlintas di kepalaku…

"Nah, pergilah. Zetsu spiral, antar pemimpin muda ini ke desanya. Dia ingin melihat kenyataan kegagalannya sebagai pemimpin lebih dekat. Kau bisa mengubahnya jika kau mau mendengarkan nasihatku anak muda…"

Orang tua itu…aku membuka mataku perlahan, dan tiba-tiba hembusan angin badai salju berubah dan bergerak ke arahku. Aku segera keluar dari tempat berlindung dan melompat ke kiri, menghindari hempasan salju yang begitu tinggi. 3 detik kemudian, dinding miring tempat aku berteduh tadi roboh dan berbaur dengan tumpukan salju di atasnya. Tubuhku terseret beberapa meter ke belakang akibat dorongan kuat angin badai tersebut. Aku memutuskan berlari memasuki hotel lebih dalam, apapun konsekuensi yang akan kulihat nantinya.

Hotel Uzu benar-benar menjadi pemandangan mengerikan. Mayat-mayat para pegawai hotel bergelimpangan di ruang lobi. Lobi tersebut juga menunggu waktu untuk ikutan roboh. Kepala atau pemilik hotel tergeletak dalam posisi punggung ke atas di bawah meja resepsionis yang terbalik. Noda merah kehitaman terlihat melekat di sekitar areal lehernya. Kulangkahkan kaki lebih jauh masuk ke dalam dan hempasan badai salju yang masuk dari lubang besar dinding membuatku merubah keputusan. Jari-jari tanganku mulai bergetar, menandakan alarm bahaya Hipotermia akan menyerangku. Secara cepat aku melakukan Sunshin ke Gunung tebing Matari dan berdiri di sana sambil mengamati Desa Uzu yang benar-benar ditutupi salju tebal. Angin di tebing ini sangat baik. Tenang dan kalem. Aku berjalan menuju cekungan gunung yang sedikit menjorok ke dalam. Di sana aku duduk dengan tenang dan memejamkan mata sambil menggosok kedua tanganku yang mulai berkeriput. Entah berapa lama aku melakukan hal tersebut, dan aku tertidur pulas di sana hingga fajar menyingsing alam.


Uzushiogakure, 29 November

Saat membuka mata, cahaya pagi matahari pertama kali menyapaku dan membuatku segera bangkit dari posisi duduk meringkuk kedinginan. Pagi ini benar-benar lebih baik dari semalam. Udara terasa sedikit hangat walaupun saat aku bernapas menggunakan mulut, uap air tetap setia keluar, menandakan dinginnya bulan November.

Tujuan inti akan segera kulaksanakan. Aku berlari kembali ke desa, kini dengan kecepatan tinggi. Melompati sisa-sisa rumah penduduk Uzumaki yang masih bertahan diterpa salju tadi malam, dan bergerak cepat menuju belakang desa, melewati Hutan Uzu, dan melompat cepat diantara dahan-dahan pohon yang ditimbuni salju tebal. Saat kakiku menginjak dahan-dahan tersebut, beberapa salju jatuh ke bawah dan bergabung dengan butiran putih di tanah. Setelah melewati Hutan Uzu selama kurang lebih 45 menit, aku sampai di sebuah komplek pemakaman yang dinding pembatasnya hancur berantakan.

"Ke*arat…mereka berani mengacau di kuburan para Uzukage…" aku dapat merasakan urat-urat di tangan kananku menekan kulit akibat genggaman tangan kananku yang begitu kuat. 5 desa besar benar-benar tidak bisa dimaafkan jika berani membongkar kuburan suci para Uzukage.

"Haah…" uap air kembali keluar dari mulutku. Aku berjalan menuju undakan tangga yang diselingi senjata-senjata ninja tertancap di setiap anak tangga. Ada juga beberapa bekas darah yang sudah mengering dari atas sampai ke bawah anak tangga. Aku tidak memperdulikan hal tersebut. Pikiranku kalut ke depan karena ada batu nisan seseorang yang ingin kubaca. Saat sampai di areal datar yang memiliki 3 gundukan kuburan, perasaanku sedikit meluap dan bercampur aduk dengan sangat amat kuat.

"Shodaime Uzukage-sama…" aku berlutut di depan kuburan sang Uzukage pertama yang dihiasi batu-batu granit hitam di seluruh sisi timbunan tanahnya, dan nisan keramik putihnya yang memantulkan cahaya pagi hari. Gelar Uzukage pertama tercetak jelas di sana. Di bawah namanya aku dapat membaca sebuah kalimat penting yang selalu Tou-san katakan sebagai petunjuk dari kekuatan para Uzukage.

"Bacalah nisan yang pertama…kedua…lalu ketiga jika aku tidak menjabat lagi. Kemudian dapatkan semuanya."

Saat itu diriku masih remaja dan menganggap kata-kata Tou-san hanya celotehan belaka. Tetapi entah kenapa saat situasi seperti sekarang, aku merasa bahwa Tou-san tahu suatu hari akan terjadi seperti ini. Dan kenapa para Uzukage suka mewasiatkan sebuah kalimat di nisan mereka di bawah nama mereka?

Mataku memandang kalimat di bawah nama Shodaime Uzukage dan membacanya perlahan.

"Demi Saiken yang bercahaya dan Haruki yang dikelilingi hutan, atas nama segel yang kuat, hidupkan tanda kekuatan kita."

Apa maksudnya? Berapa kali dibaca, aku tetap tidak mengerti maksud kalimat ini. Saiken dan Haruki adalah kedua gerbang di Uzu…Saiken adalah gerbang kekuatan yang akan bercahaya ketika ramalan Rikuodou Sannin menjadi nyata, dan pernikahanku dengan sang Ratu Negeri Iblis-Shion-adalah wujud nyatanya. Gerbang Haruki adalah gerbang kecerdasan. Terletak di dalam Hutan Uzu yang penuh misteri dan kekelaman. Atas nama segel yang kuat? Hm…

"Segel…Fuin-kah?" aku berdiri dan tidak sadar berjalan mondar-mandir di depan kuburan sang pendiri Uzushiogakure. Teringat perbuatan tersebut tidak sopan dalam adat kami para Uzumaki, aku segera berhenti dan menatap kuburan Uzukage kedua. Kuburan Nidaime Uzukage lebih sedikit besar dari kuburan Shodaime Uzukage. Di atas nisan keramik putihnya terdapat 3 batu berwarna merah, biru dan hijau. 3 batu itu diletakkan di nisan Nidaime Uzukage dengan Fuinjutsu, jadi tidak mudah dilepaskan dengan cara biasa. 3 batu tersebut merupakan penghargaan rakyat Uzushiogakure atas usaha Nidaime membuat Taman Uzu yang begitu indah. Tapi sekarang…

"Gomen Nidaime Uzukage-sama…" aku berlutut sedih di depan kuburannya dan menatap gundukan itu sambil menerawang ke depan. Ya…peninggalan Nidaime tidak dapat kujaga. Aku kembali mem-poinkan kegagalanku menjadi seorang pemimpin. Mataku beralih ke arah kalimat yang berada di bawah nama sang Nidaime Uzukage. Kalimat yang diukir di atas keramik nisan dengan rapi.

"Bacalah yang pertama, lalu pikirkan tentang Fuutari. Kemudian bacalah yang ketiga."

Fuutari…gerbang yang berada di Gua Uzu. Gerbang perdamaian. Simbol kecintaan para Uzumaki dan janji damai kami. Sudah ada 3 gerbang yang disebutkan di nisan-nisan ini. Kemudian…bacalah yang pertama? Hm…

"Membaca kalimat di nisan Shodaime-sama kah?" aku tidak tahan untuk tidak bergumam sendiri. Otakku berputar terus dan memikirkan kalimat "Kemudian bacalah yang ketiga." dengan kesimpulan pasti.

"Ketiga…Tou-san…" aku menatap nisan Tou-san yang memiliki keramik putih sama dengan dua Uzukage lainnya. Aku pernah membaca kalimat ini namun lupa karena hanya membacanya sekilas. Aku juga tahu bahwa Tou-san juga menuliskan kalimat di nisannya ini di surat wasiatnya. Surat wasiat yang berisi pesan dan nasihat kepadaku, dan juga memohon kepadaku untuk menjadi Uzukage nomor empat. Kalimat itu berbunyi…

"Putuskan ketiga lainnya, lihat dari atas, kau akan melihat itu di tengah, jangan di Kuil suci, ambil kekuatan Uzukage."

Oke. Aku tanpa sadar menepuk kedua telapak tanganku dan memejamkan mata perlahan. Putuskan ketiga lainnya? Ada tiga gerbang yang disebutkan…apakah itu maksudnya memutuskan tentang Gerbang Saiken, Gerbang Haruki dan Gerbang Fuutari. Lalu lihat dari atas? Aku harus melihat ketiga gerbang dari atas? Kau akan melihat itu di tengah. Melihat titik koordinat 'sesuatu' yang ada di tengah ketiga gerbang tersebut? Jangan di kuil suci. 'Sesuatu' itu tidak di Kuil suci…maksudnya tidak ada di Kuil Uzu? Ambil kekuatan Uzukage. 'Kekuatan' itu ada di tengah tiga gerbang. Kekuatan yang telah disiapkan para pendahuluku…

Apakah seperti itu?

Kesimpulan cepat yang dipikirkan otakku kini menuju realisasinya. Untuk melihat dari atas…dari mana? Di mana aku bisa melihat dari atas? Di mana aku bisa-

!

.

.

.

"Tentu saja…Tebing Gunung Matari!"

Aku pun melesat ke sana dengan Shunshin cahayaku dan melihat desa Uzu yang ditimbuni salju dari atas tebing favoritku ini. Mataku langsung mengobservasi semua petunjuk dari nisan keramik para Uzukage.

Gerbang Saiken yang menyala penuh kekuatan di arah jam 10.

Gerbang Haruki dikelilingi Hutan Uzu yang kelam di arah jam 2.

Gerbang Fuutari yang berada di Gua Uzu di arah jam 4.

Tengahnya…koordinatnya. Perkiraan titik tengah antara arah jam 10, arah jam 2, dan arah jam 4…

Mataku tepat terpaku pada puing-puing bangunan suci tersebut.

Kuil Uzu?! Titik koordinatnya di sana?! 'Sesuatu' yang dikatakan nisan keramik para Uzukage ada di situ?! Ada di Kuil Uzu?! Tunggu dulu…penolakan tentang suatu hal melintas di kepalaku dengan cepat. Salah satu penggalan kalimat di nisan Tou-san mengetuk pikiranku.

Jangan di Kuil Suci.

Negatif. Bukan di situ. Tetapi apakah aku benar-benar tepat menyimpulkan petunjuk dari ketiga nisan para Uzukage terdahulu? Aku kembali memejamkan mata dan semua kalimat masuk ke kepalaku. Membuatku berpikir keras. Udara dingin di pagi hari membuatku sedikit gemetaran saat mulai berhembus pelan.

Putuskan ketiga lainnya.

Ketiga? Aku menyimpulkan maksud dari ketiga itu adalah Gerbang Saiken, Gerbang Haruki dan Gerbang Fuutari. Apa benar itu yang dimaksud ketiga? Kata-kata dari petunjuk Tou-san adalah…

Putuskan ketiga lainnya.

.

.

.

"Ketiga lainnya…" aku tak kuasa untuk tidak bergerak. Angin dingin musim dingin kembali berhembus pelan. Kedua kakiku melangkah dengan pasti, membuatku mondar-mandir seperti orang gila. Aku dapat merasakan dahiku sedikit berkerut karena berpikir keras.

"Kenapa kau buat petunjuk yang paling susah, Tou-san…" petunjuk aneh. Petunjuk dari sang ayah. Saat menatap Uzu, aku terbayang wajahnya dan dia tersenyum kepadaku sambil mengatakan bahwa kelak aku akan menjadi Uzukage yang hebat. Entah kenapa hembusan angin semakin lebih kencang daripada tadi.

"Coba pikirkan Uzumaki Naruto-"

!

!

!

Aku merasakan sesuatu yang aneh berteriak di kepalaku. Ketiga lainnya. Dua kata itu membuatku menatap ke arah jam 8. Aku rasanya merasakan de javu, seperti saat setelah rapat dengan 10 dewan sebelum pernikahanku dan memandang Desa Uzu yang damai…aku teringat akan sesuatu.

Tiga gerbang suci lainnya, selain tiga gerbang utama Uzushiogakure…

"Itu maksud dari Putuskan ketiga lainnya!" aku tersenyum puas. Ketiga lainnya adalah tiga gerbang suci Uzu selain tiga gerbang utama desa. Ternyata Tou-san benar-benar mengetes intelektualku walaupun beliau sudah tiada. Aku menatap Uzu dan memperkirakan titik tengah dari gerbang-gerbang itu. Gerbang Saiken, Gerbang Haruki dan Gerbang Fuutari, serta 3 gerbang suci Uzu yang berkumpul di arah jam 8.

"Titik tengahnya di…"

"Begitu ya…" aku merasakan gejolak emosi kepuasan menghampiri hatiku. Aku teresenyum. Ya, tersenyum puas.

Yah, suatu kejutan kecil dari Uzushiogakure. Titik tengah 'sesuatu' itu ada di kantor Uzukage! Kantor di mana aku banyak memikirkan tentang Uzushiogakure!

.

.

.

Seperti bangunan lainnya, kantor Uzukage hanya menjadi kenangan sejarah bagiku. Bangunan yang kini tinggal puing-puing menyedihkan ini hanya terlihat menarik saat dibaluti salju putih musim dingin. Aku dapat melihat bekas-bekas pertarungan di dalam sini. Ribuan shuriken dan kunai berterbaran di lantai kantor yang pecah dan hancur. Saat masuk ke ruang utama-ruangan Uzukage-bisa dikatakan bahwa di sinilah kerusakan yang paling parah. Semua furniture ruangan tersebut hancur berantakan dan sebagian menjadi arang. Foto Uzukage pertama tertempel di dinding bagian bawah dekat lantai dengan dua kunai menancap tepat di wajah sang Uzukage pertama. Aku memperhatikan sekitar ruangan. Foto Nidaime Uzukage tidak terlihat. Foto ayahku sendiri tergeletak di lantai dengan kaca bingkainya yang pecah berhamburan. Kursi yang biasa kududuki kini tinggal arang dan menyisakan kaki kursi khasnya. Meja kerjaku terbelah dua dengan percikan darah di patahan bagian kanannya. Aku memeriksa darah itu. Hitam dan kental. Tanda yang mengerikan. Kuangkat kepalaku dan dapat kulihat angin musim dingin terlihat lebih tenang. Salju turun perlahan-lahan ke bawah.

"Jadi di mana 'sesuatu' yang dimaksudkan para Uzukage?"

Tiba-tiba terdengar cicitan tikus dari sudut ruangan dan keluar dari ruangan ini sambil terus bercicit ketakutan. Aku mendesah napas perlahan. Kudekati jendela ruang Uzukage dan menatap pemandangan di luar sambil memikirkan nasib Shion.

Istriku…kau masih hidup atau tidak? Oh Kami-sama, doaku selalu kuhaturkan untuknya. Untuk keselamatan sang Ratu dari Negeri Iblis.


Kirigakure, 29 November

Normal POV

"Sebulan lebih setelah penyerangan…Uzushiogakure telah jatuh…Yondaime Uzukage telah tiada. Bagaimana pendapatmu Danzo? Kau adalah orang pertama yang mempunyai ide untuk menyerang Uzu?" Raikage ketiga menatap Shimura Danzo dengan tajam, Danzo memejamkan matanya dengan tenang dan tersenyum tipis.

"Aku bukan mempunyai ide, Sandaime Raikage. Tetapi hal ini memang harus dilakukan."

Tsuchikage ketiga menggosok punggungnya dan mendecih pelan. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh Kage di ruang pertemuan tersebut.

"Nah, sekarang Kage muda yang mememiliki kesempatan terbesar untuk menghancurkan 5 desa besar Shinobi tidak ada lagi. Desanya juga sudah kita libas. Keputusannya?"

Semuanya terdiam menanggapi pertanyaan sang Tsuchikage. Keheningan yang mencekam menghinggapi kelima pemimpin desa besar tersebut.

"Kita adakan perdamaian." Kata Yagura, Yondaime Mizukage dengan nada tenang. Mizukage bertubuh kecil itu menatap satu persatu wajah para Kage yang menatapnya tajam. Detik waktu terus berjalan teratur di ruangan itu.

"Aku…" Danzo membuka matanya perlahan "…setuju!"

"Kau yakin?" tiba-tiba Sandaime Kazekage berbicara. Nadanya tetap dingin dan mengandung aura mengerikan. Tekanan atmosfir di sana menjadi sedikit lebih panas. Raikage menghela napasnya perlahan.

"Aku setuju untuk perdamaian. Nah…kita kesampingkan soal in-"

"Kita belum membuat keputusan!" kata Kazekage tegas. Matanya mendelik tajam Tsuchikage yang hanya menggosok punggungnya dari seperempat waktu pertemuan. Ketegasan sang pengendali pasir membuat Raikage mengangkat alis sebelah kanannya perlahan. Tsuchikage yang dari tadi dipandang tajam oleh Sandaime Kazekage membuat ekspresi wajah tidak suka.

"Semuanya sudah setuju bukan?" tanya Mizukage. Semuanya tidak menjawab. Kembali keheningan masuk ke atmosfir ruangan pertemuan itu. Danzo batuk perlahan, membuat semuanya memandang sang pemimpin Konoha tersebut.

"Begini, kita yakinkan dulu hati masing-masing…gencatan senjata memang harus dilakukan oleh para Kage dan desanya. Aku tidak mau terjadi Perang Dunia Shinobi ke-4. Sudah cukup para Ninja Konoha menghabiskan darahnya untuk hal-hal yang sia-sia." Danzo berbicara dengan nada stagnan dan penuh penekanan pada kata-katanya.

"Kita bertarung bukan untuk kesia-siaan…" kata Kazekage dingin "Tanah…sumber daya…kekuatan…kekayaan…harga diri…dan juga memang jiwa alami Shinobi." Kazekage ketiga menatap Raikage yang memasang raut tegang "Anak muda Uzumaki itu juga mempertanyakan arti kedamaian sebenarnya sebelum dia mati. Jika dunia Shinobi masih diliputi kegiatan kegelapan, ataupun bahkan kebencian yang masih membara-"

"Jangan mulai dengan Perang Dunia Shinobi ketiga, Kazekage-danna!" kata Tsuchikage memotong kata-kata Sandaime Kazekage. Sang pemimpin Suna menatap tajam orang tua tersebut.

"Diam dan urus punggung rapuhmu itu…" kata Kazekage datar. Tscuhikage membulatkan matanya kesal. Oran tua itu sedikit menegakkan punggungnya.

"Apa-apaan kau…" gumam pemimpin Iwa itu dengan sedikit menggeram.

"Kebencian membara…" Raikage menghela napas perlahan. Tsuchikage mengumpat

"Ayolah para Kage sialan! Kita sudah menghancurkan musuh utama kita, yakni si anak muda Yondaime Uzukage! Lalu sekarang pertemuan ini ingin membahas apa? Aku tidak mengerti!"

"Aku juga…"Mizukage Yagura menopang dagunya dengan tangan kanan. Raikage berdehem pelan. Sensi-nya kepada sang pemimpin Kiri menjadi lebih naik. Dia dan Mizukage keempat memang kurang cocok dan memiliki sedikit bau kebencian.

"Kau tidak sopan, Mizukage…"

Mizukage tersenyum miring "Ooh begitu, Raikage. Cara berpakaian anehmu itu yang membuatku merasa kau tidak pantas untuk-"

"KAU PEMIMPIN KIRI SIALAN!" Raikage tiba-tiba naik pitam "AKU TERINGAT DI PERANG DUNIA LALU, KAU MENGKHIANATI PASUKANKU DAN BERBALIK MENYERANG FRONT DEPAN SHINOBI KIRI DEMI MENDAPATKAN BIBIT GANDUM DI UTARA TAKIGAKURE! KAU BUKAN JIWA-"

"CUKUP!" Danzo juga tiba-tiba berteriak. Dia menggeram kesal "Yondaime Uzukage telah mati dan kalian masih bertengkar soal masa lalu. Ayolah…" Danzo tersenyum tipis "Mau mendinginkan kepala dan membahas yang lain?"

Raikage kembali menghela napasnya perlahan. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengangkat wajahnya ke atas. Mizukage tetap menopang dagunya dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.

"Membahas soal apa?" tanya Tsuchikage. Dia tidak lagi menggosok punggungnya.

"Wanita itu…" kata Danzo dengan nada licik sambil melirik ke arah pintu ruangan pertemuan tersebut. Di depan pintu tersebut, duduk bersimpuh sang Ratu Negeri Iblis dengan kedua tangan terikat ke belakang di bagian pergelangan tangan serta mulut yang ditutup dengan selotip hitam mengkilat. Wajah sang Ratu tetap dingin dan datar, walaupun sudah hampir sebulan lebih berada dalam situasi tersebut. Sang Ratu pun tetap menunjukkan keanggunannya sebagai penguasa dari Negeri Iblis.

"Bagaimana pendapatnya ketika mendengar berita bahwa suaminya telah mati hm? Hehehe…" Danzo berdiri dari kursi dan mengambil tongkat kayu yang diletakkan di samping kirinya. Semua mata memandang lelaki tua dengan wajah berperban itu. Danzo berjalan perlahan mendekati Shion dengan mata tertutup dan senyuman berseri. Danzo meletakkan tongkatnya di lantai dekat kakinya dan dia menggenggam bagian atas rambut sang Ratu dan menariknya ke atas, membuat wajah Shion menengadah ke atas.

"Nah, Ratu Shion…apa ramalanmu mengatakan kalau Uzumaki Naruto tewas oleh kami?"

Shion memandang datar Danzo. Yagura bangkit berdiri dan berjalan mendekati sang Ratu. Tanpa perasaan, Mizukage keempat itu menarik selotip hitam yang menutupi mulut sang Ratu dengan sekali tarikan. Shion berteriak pelan. Sebuah teriakan kesakitan.

"Jawab…" kata Kazekage ketiga dari kursinya. Entah kenapa pemimpin Suna itu memandang tajam mata boneka Shion yang mengkilat dingin.

Shion diam. Dia tidak menjawab apa-apa. Sang Ratu menundukkan kepalanya, dan tubuhnya bergetar pelan.

"Ada apa Ratu?" tanya Danzo pelan. Saat Shimura tua itu ingin kembali mengangkat rambut Shion agar wajah sang Ratu terangkat ke atas, Shion lebih dulu mengangkat wajahnya dan menatap tajam kelima pemimpin 5 desa besar itu bergantian.

"Uzumaki Naruto…" Shion berhenti sejenak "…Tetap hidup! Kalian akan merasakan…" kembali sang ratu terdiam. Tetapi ekspresi bonekanya tetap bertahan.

"…Kalian akan…kalian akan dihancurkan olehnya!"

Semuanya mendengarkan baik-baik suara Ratu Negeri Iblis yang sedikit serak.

"Tunggu saja kebangkitan dari Uzukage dan desanya, wahai para pengkhianat baj*ngan yang tak tahu diri! Kehancuran kalian telah kulihat dalam ramalanku! Ramalanku mengatakan…"

Entah kenapa tiba-tiba tensi menjadi naik, suara Shion semakin meninggi dan penuh emosi.

"…Kalian semua, 5 desa besar, akan diluluhlantakkan oleh sang prodigy Uzumaki," mata Shion tertuju tajam ke Sandaime Kazekage "… Sang Yondaime Uzukage!"

Hening. Suasana di sana benar-benar sunyi. Bahkan suara Raikage ketiga yang menelan ludahnya sendiri terdengar di telinga orang-orang di ruangan tersebut. Tsuchikage terdiam. Matanya kembali membulat, namun kini membulat terkejut. Napas Mizukage Yagura sedikit tidak teratur, suatu bukti bahwa sang Mizukage keempat menjadi tidak tenang dan ketakutan. Tangan Danzo yang memegang rambut sang Ratu bahkan bergetar. Sangat jelas terlihat bergetar ngeri. Rambut-rambut Shion yang dia jambak ikutan bergerak mengikuti irama tangannya.

Siapa yang tidak ngeri dengan pernyataan jelas dari ramalan seorang peramal terbaik dan terhebat di Dunia Shinobi?! Siapa yang tidak bergetar ketakutan mendengar kata-kata ramalan dari peramal yang tidak pernah salah?! Siapa yang tidak mengakui kemampuan sang Ratu Negeri Iblis yang begitu hebat?!

Kazekage ketiga bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sang Ratu dengan wajah yang tidak berubah dari sebelumnya. Yagura bergerak ke kanan, membuat Kazekage ketiga tepat berdiri di hadapan sang Ratu. Kedua mata dingin itu saling bertemu.

"Bagus Shion-sama…kau adalah mahluk cantik yang pandai berbohong…"

Semuanya terkejut mendengar kata-kata dari Sandaime Kazekage.

"…Tetapi getaran matamu terlihat jelas di mataku…getaran mata putus asa seorang wanita ketika sesuatu yang dicintainya pergi meninggalkannya!"

PLAK! Sandaime Kazekage tiba-tiba menampar Shion dengan cepat. Shimura Danzo bahkan terlonjak ke belakang dan memandang shock ke arah Kazekage ketiga. Wajah Shion menghadap ke arah kanan. Pipi kiri pemimpin Negeri Iblis itu terlihat merah, bekas tamparan cepat Kazekage. Helaian rambut kuningnya jatuh lembut dan perlahan-lahan terurai ke wajah bonekanya, menutupi wajah boneka sang Ratu.

"Pandang aku…" kata Kazekage dengan nada dingin.

Hening. Yagura mundur 3 langkah ke belakang. Danzo menelan ludahnya perlahan. Tekanan aura mengerikan Kazekage benar-benar terasa di ruangan itu. Tsuchikage dan Raikage saling berpandangan. Mereka tahu, bagaimana khas gaya pemimpin Suna tersebut.

"Pandang aku…"

Shion tidak menanggapinya. Dia tetap menghadapkan wajahnya ke arah kanan.

"Pandang aku!" nada Kazekage ketiga sedikit lebih naik.

Tidak ada tanggapan dari Shion.

"PANDANG AKU, ISTRI YONDAIME UZUKAGE!" kata Sandaime Kazekage dengan tekanan kuat di kata "Yondaime Uzukage".

Shion tersentak sedikit. Namun dia tetap tidak menggerakkan lehernya untuk memandang sang pemimpin Suna tersebut. Kazekage ketiga terdiam. Dia menghela napasnya perlahan.

"Untuk mental seorang pemimpin wanita, kau cukup kuat. Psikologimu sebagai pemimpin aku akui sangat bagus. Sayang…" Kazekage ketiga berbalik dari hadapan Shion dan berjalan dengan tenang menuju kursinya.

"…Kau menikah dengan seorang pria lemah yang tidak pantas menyandang gelar Uzukage…"

SETT! Tiba-tiba Shion menoleh ke arah Kazekage yang membelakanginya dan mata bulat boneka itu benar-benar membulat penuh amarah. Getaran iris matanya dipenuhi luapan emosi. Shion berteriak keras, dengan suaranya yang semakin serak namun dipenuhi nada penuh kemarahan.

"JANGAN MENGATAKAN HAL TERSEBUT KEPADA SUAMIKU! Ka-kalian…KALIAN SEMUA PEMBUNUH TANPA PERASAAN YANG TELAH MENGHANCURKAN CINTA SUCI KAMI DAN KEBAIKAN PARA UZUMAKI! KUKUTUK KALIAN AKAN HANCUR BERKEPING-KEPING SEPERTI KALIAN MENGHANCURKAN UZUSHIOGAKURE DAN UZUMAKI NARUTO!"

Sandaime Kazekage tersenyum tipis. Tsuchikage dan Raikage memandang terkejut ke arah sang Ratu Negeri Iblis. Danzo dan Yagura saling berpandangan.

Ya…semuanya tahu bahwa Sang Ratu Negeri Iblis tadi sudah berbohong…dan sang pemimpin bergender wanita itu kini dipenuhi putus asa yang mengerikan…

Sandaime Kazekage duduk di kursinya dengan tenang. Pemimpin Suna itu melipat kedua tangannya dan memejamkan matanya perlahan. Danzo memandang tajam ke arah sang Kazekage ketiga.

"Ideologi dan cara berpikir orang ini berbahaya…" iris Danzo bergetar pelan "…Dia tipe pemimpin otoriter tegas yang sempurna dan mengerikan!"

Detik waktu di ruangan itu tetap berjalan dengan tenang dan semestinya, tetapi atmosfir di ruangan itu bergelut-gelut di kepala setiap orang di sana…

TBC

The Fallen of Uzushiogakure

Author Note:

I am back bro. Yap…The Fallen Of Uzushiogakure sudah mendekati akhir. Mudah-mudahan Readers-san mengerti kenapa saya mendetailkan "Kunjungan" Naruto ke desanya. Bukan sekedar melihat dan meng-eksploitasi kehancuran Uzu, tetapi 'sesuatu' hal yang memang Naruto akan dapatkan di akhir The Fallen part ini.

Dan…keberadaan Shion juga sudah diketahui kan. Sebenarnya saya ingin menahan dulu bagaimana kabar si cantik boneka ini dari jalan cerita TU, tetapi demi menunjukkan situasi selanjutnya dari 5 desa besar, saya harus memproposikan jalan cerita ke arah mereka agar juga arah cerita tidak ke Naruto melulu…bosan juga melihat kejatuhan harga diri sang Yondaime Uzukage yang berada dalam posisi kritis dan berusaha bangkit.

Nah, di bagian akhir juga saya telah mencoba memperlihatkan Readers masing-masing karakter dari para pemimpin 5 desa besar, yang akan mengantarkan main idea ke part selanjutnya. Ingat, tonggak dari fic ini adalah mengeksploitasi apa itu pemimpin, bagaimana karakter seorang pemimpin dan semuanya memang tertuju ke "Leadership Characters". Jadi, saya harap fic ini bisa memberikan 'sesuatu' kepada Readers sekalian bahwa memegang tanggung jawab itu benar-benar harus dilakukan dengan sepenuh hati dan berintegritas.

Baiklah, ane banyak bacot…kita langsung ke balasan Reviewer para Readers.

Dwi. Novian. 96: Hmm…lihat saja bro

Guest-Sama: Haha…terima kasih gan.

Adam. Muhammad. 980: Oke gan…

Brayen. Eretan: Halo bro, di sini yan up TU ane, sang pujangga Doni Ren haha. Wah wah, saran yang menarik and thanks

Kuro-yami: Yap…yang itu menunggu banyak perihal bro. Akan saya sampaikan ke Icha.

Lupa nama akun: Oke…kita lihat saja apakah Naruto akan menjadi jahat atau tidak. Satu hal yang pasti, down-nya Naruto pasti akan dimanfaatkan Madara, tergantung Naruto bisa mempertahankan ideology pemimpinnya atau tidak.

Shiro Hitori-kun: Oke gan…

Riki. Henera: Thanks bro

Shiruetto: Haha, maybe yes? Ngeri juga gan kalau begitu. Bisa-bisa berubah genre.

Teddyekap: Oke gan. Thanks…

Guest: Nyimak juga…

Monreal arieszz: Haha. Untuk itu, kemungkinan saya bisa bilang masih ada

AWM SS: Yap, untuk Shion sudah diketahui kan gan nasibnya

Bloody Dark Flame: Shion-nya di sini *nunjuk kamar Author* haha. Tidak-tidak, sudah diperlihatkan kan nasib dari Sang Ratu.

Donquixote Tamao: Oke sip.

Uzuna. Akira: Kita lihat nanti gan…

Lincoln Abe8479: Wah wah wah. Anda berpikir sampai ke sana gan *smirk* hebat-hebat. Kita lihat apakah Mbah Madara yang memang merencanakan kehancuran Uzushiogakure.

Narutouzumaki47: Hmm…akan saya pikirkan pesan anda untuk Naruto bro.

Rifaiuzukaki: Haha, oke oke…thanks.

Kamvrettema: Oke bro Kamv.

N. ares: Yap, mungkin benar katanya. Akan semakin ramai yang berada di pusaran cerita TU. Tapi saya akan tetap mempertahankan isi asli cerita dari fic ini.

HikariPuji-Chan: Oke Puji-chan. Kepalanya pusing? Mau dipijit? *alaSJ, WUAHAHAHA*

Al-Faraoh: Karakter Naruto memang saya berusaha tahan agar tidak lari dari ideology kepemimpinannya. Naru juga membuat tujuan khusus nan sederhana yang akan dia lakukan di fic ini.

QueeonofDarkness: Khekhekhe, anda suka?

Theuzu: Thanks gan.

QioQio. P: Haha, terbentur jadwal juga nih Qio-san. Yap, maksud sebenarnya dari perkataan Naruto adalah dia menyumbang tenaga, dan latihan dia hanya untuk meningkatkan kemampuan Sumi-Kyo nya. Jadi bisa jadi dia tidak sempat belajar Ninjutsu berbasis elemen ataupun memang sang Yondaime Uzukage tidak berminat mempelajarinya.

DxD: Wah wah, thanks gan

B-Zetterian: Oke gan

Sora Mizuhito: Nasib Obito masih rahasia gan. Dan untuk pembantaian klan Uchiha, hm…mungkin masih belum, karena ada clue-clue di depan soal sang prodigy Uchiha kan?

Entahlah: Sudah PDS-3 gan. Udah dijelaskan di cerita kan?

Yudhabagusdwi: Pertanyaan anda sudah satu di jawab di chap ini. Yeah, Shion still alive. Untuk yang keduanya, hehe, kita masih harus menunggu jalan cerita bung.

PredX: Hmm…itu masih jadi pertimbangan saya gan. Saya juga masih berpikir soal baik-buruknya Naruto menguasi jutsu tersebut.

Dafa Uzumaki: Masih rahasia gan.

Dandidandi185: Haha…lalu tiba-tiba MadaXZetsuPutih makin ngeri kan? Oke gan

RX88: Haha…ide akan saya tamping gan. Terima kasih.

Diery. Snap: Oke bro

Zy: Lebih parah bro :v

Guest: Oke, Thanks gan. Semangat ngerjakan tugasnya.

Aldrin952: Oke gan, thanks…

Guest: Thanks thanks. Saya akan tetap semangat melanjutkannya karena kalian.

Vangeance Uzu: Wah wah. Ide anda akan saya tampung. Hmm…anda jeli juga ya, ke mana mata Madara satunya? Sekarang menjadi pertanyaan bung.

Nadia kara annabele: Haha. Lihat saja, bagaimana aksi Naruto selanjutnya.

Milf: Oke err…sudah dibilang nama akun anda mantap abis bro

Black paper: Anda juga salah satu Readers yang jeli. Haha. Kita lihat saja siapa di peti itu bro.

Sederhana: Oke gan. Dan ini lebih banyak kan daripada chap lalu? *smirk*

Lier Chantomvive: Yap bisa jadi bisa jadi. Tetapi saya juga masih berpikir kalau Naruto membuat tujuan sebesar itu. Oke gan, thanks atas reviewnya.

Nanami: Oke Nanami-chan. Mudah-mudahan aja.

Keisuke. Uchida1: Untuk itu belum pasti gan, apakah Naruto akan menjadi Obito. Sama juga dengan Madara yang tahu kekuatan Naruto. Dan adios itu adalah Naruto sendiri.

Ambarthefill: Haha,bisa jadi bro, Naruto bisa jadi Dark-Mode. Tapi lihat saja nanti. Untuk Nagato, Unknown.

Zaldy844: wah wah, jangan marah bung. Ane udah lanjut nih

AripRif'an368: Yap, masih dipertanyakan gan. Kita belum tahu Naruto terpengaruh atau tidak.

JV8RF: Yang kurang tahunya di mana gan? Bisa tanyakan langsung ke saya lewat PM atau di sini :D. dan untuk buang air besar, tanya saja ke Mad Dog :v

Fadjar. Brotherhollicxz: Satu kata juga bro, Thanks.

Kagami: Haha, santai gan. Rahasia itu pasti akan terungkap.

The Black Water: Oke gan…

Evil God of Loki: Analisis yang bagus. Catatan Naruto menjadi dark "as like as" Obito Uchiha adalah ketika di depan matanya, orang yang dia cintai benar-benar terbunuh. Ingat, di depan matanya. Anda benar kawanku, dengan begitu, Naruto punya alasan, alibi, tujuan, latar belakang, ambisi dan motivasi untuk membentuk gang Akatsuki ataupun kelompok Ninja Missing-nin lainnya.

Ae Hatake: Hehe, kita lihat saja nanti gan…apakah Danzo akan melakukan hal tersebut.

Guest: Yap, bisa saya katakan Sumi-Kyo Naruto mungkin lebih ke kemampuan terapan kekuatan dan teknik ninja. Akan dijelaskan di chap-chap selanjutnya. Sumi-Kyo hanya mahluk-mahluk real yang tersegel di tubuh Naruto dna tidak bisa diimplementasikan atau disummon. Sudah tahu kan nasib Shion?

Byakuren Hikaru83: Yap, kita lihat nanti Hikaru-san. What happen with Naru-Shion :D

Ahmad. S. syafii. 9: Emang ane guru gan, haha. Thanks.

Archilles: Haha, tentu saja gan. Thanks.

The KidSNo OppAi: Oke bro

Terima kasih atas semua Readers yang sudah memberikan review, termasuk di dalamnya saran-kritik-pertanyaan-pernyataan-dugaan-analisis-komentar-dan lainnya. Terima kasih semuanya.

Yap, maaf untuk up yang lama karena kesibukan di dunia nyata sudah mau dimulai lagi…jadi ane masih mengurus beberapa hal.

Oke gan, see you next chap in TU 11…

THE FALLEN OF UZUSHIOGAKURE

Tertanda. Doni Ren