-Silent and Blind-

Happy reading yeoreobun...

.

.

.

GS, OOC

DON'T LIKE, DON'T READ

NO BASH AND NO PLAGIARISM PLEASE ^^,

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

.

.

.

Silent and Blind

Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)

CHAPTER 10

I Still The Same

Previous chapter

Suara keras terdengar. Banyak orang berkumpul di tengah jalan. Jongin yang berusaha mengekar Kyungsoo tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya terpental. Kepalanya mengeluarkan darah segar karena terluka. Jongin yang lemas terus memanggil nama Kyungsoo dengan sisa tenaga yang ia miliki. Orang-orang yang mengerumuninya sibuk menghubungi 119 untuk meminta bantuan agar Jongin cepat ditangani.

"Kyung... soo... Kyung... Kyungsooya..."

Kyungsoo yang ketakutan di dalam mobil tidak tahu apa yang terjadi pasa kekasihnya. Air mata Kyungsoo terus mengalir, suara gemetarnya terus memanggil nama Jongin. Meminta Jongin untuk menolongnya. Dengan rasa takut dan bingung kenapa orang-orang ini membawanya, Kyungsoo hanya bisa menangis dan terus memanggil nama Jongin. Berharap Jongin datang dan menolongnya.

.

.

.

.

2 tahun kemudian...

"Eomma... aku pergi..." teriak seseorang dengan suara yang keras.

"Eoh, hati-hati Kyungsooya," sahut seseorang.

Langkah kaki penuh semangat berlari keluar dari rumah. Memulai harinya dengan semangatnya. Kyungsoo berlari menuruni tangga menuju pagar. Seseorang yang Kyungsoo panggil eomma keluar dengan appron yang mengikat di tubuhnya.

"Hati-hati, jangan berlari seperti itu."

Merasa bahwa dirinya dinasehati, Kyungsoo memperlambat langkahnya. Berbalik melihat ibunya dan tersenyum manis.

"Maaf eomma, aku terlalu bersemangat," balasnya malu.

"Hati-hati, kau akan pulang dengan Sehun nanti."

Kyungsoo mengernyitkan keningnya, bibirnya ia buat mengerucut, menandakan kalau dia tidak setuju dengan saran ibunya.

"Eomma..." rengek Kyungsoo.

"Tidak! Kau akan Sehun jemput. Selesai! Pergilah, nanti kau terlambat."

"Eomma..."

"Hati-hati putriku..."

Gagal! Misi membujuk ibunya dengan rengekan sekejap tidak berhasil. Terpaksa menerima bahwa nanti sore dia harus pulang dengan Sehun. Dalam waktu 2 tahun ini, Sehun menjadi musuh besar bagi Kyungsoo.

Ya, sudah 2 tahun ini Kyungsoo tinggal bersama ibunya. Lebih tepatnya bersama keluarga baru ibunya. Sehun adalah anak dari pernikahan ibu Kyungsoo dengan suaminya sekarang, Oh Jinhe. Mereka menjadi keluarga baru Kyungsoo.

Lalu, tak hanya itu. Kyungsoo pun sudah bisa melihat. Benar-benar melihat dengan matanya sendiri. Tidak perlu menunggu bantuan orang lain untuk menceritakan padanya apa yang mereka lihat. Setelah operasinya berhasil Kyungsoo tak bisa langsung melihat begitu saja. Kemampuan penglihatannya masih belum sempurna. Perlu waktu untuk mata barunya dan tubuh Kyungsoo melakukan penyesesuaian. Lagi pula, dokter mengatakan setelah operasi mata Kyungsoo tidak boleh dulu terkena cahaya langsung. Baru, setelah 3 bulan ia melakukan operasi Kyungsoo bisa melihat seutuhnya.

.

.

.

.

"Eonni, annyeong..." sapa Kyungsoo riang.

Setiap orang yang Kyungsoo lihat pasti ia beri salam. Dia sedang melakukan misinya, ini hari pertama Kyungsoo bekerja di sebuah yayasan tempat mengobati orang-orang yang membutuhkan bantuan secara psikologis. Ya, bisa dibilang Kyungsoo sebagai terapis. Tapi, Kyungsoo belum melakukan itu. Karena ini hari pertamanya, ia hanya membantu jika ada yang memerlukan babtuannya.

Ini bukan pekerjaan mudah. Terlebih Kyungsoo sama sekali tidak ada dasar sebagai seorang psikolog. Dia bisa bekerja disini pun karena ibunya kenal dengan pemilik yayasan. Memang, ini tidak dibenarkan. Disaat yang lain harus mengikuti tes dan sebagainya, tapi Kyungsoo masuk tanpa harus melewati tahap itu. Oleh karena itu, Kyungsoo tidak langsung diperbolehkan untuk menangani pasien.

"Kyungsooya..." panggil seseorang.

"Eoh... eonni," balas Kyungsoo.

"Kau baru datang?"

"Iya. Baru saja."

"Ikutlah denganku. Biar aku tunjukan lokermu."

Dia adalah Soonil, Park Soonil. Anak dari pemilik yayasan yang juga berkerja di tempat ini. Selain itu, Soonil juga teman baru Kyungsoo. Umur Kyungsoo 2 tahun lebih muda dari Soonil, itu sebabnya ia memanggil Soonil dengan panggilan eonni. Walaupun Soonil meminta Kyungsoo tidak perlu melakukan itu, karena Soonil merasa tua jika seseorang memanggilnya eonni seperti yang Kyungsoo lakukan.

"Disini lokermu," jelas Soonil menunjuk sebuah loker besi berwarna merah.

"Terima kasih eonni."

"Dan... aku bawakan gembok ini untukmu," ucapnya menunjukkan gembok berbentuk beruang berwarna coklat pada Kyungsoo.

"Ini untukku?"

Soonil mengangguk.

"Uwaaa... terima kasih eonni."

"Hmmm... sama-sama."

Soonil mengajak Kyungsoo berkeliling, memperkenalkan Kyungsoo pada orang-orang yang bekerja disana. Tidak begitu banyak orang yang bekerja disini, meski ini yayasan yang menurut Kyungsoo sudah cukup besar. Selesai dengan itu, Kyungsoo mulai pekerjaannnya. Hari ini Kyungsoo diminta membantu Soonil dan belajar bagaimana melakukan konseling dengan pasien.

"Eonni, aku ingin bertanya."

"Iya, tanyakan saja. Semoga aku bisa menjawab pertanyaanmu."

"Apa mereka semua itu... gila?"

Soonil tertawa, "tidak, mereka tidak gila. Mereka hanya terlalu jauh masuk ke dalam dunianya sendiri."

Kyungsoo terlihat bingung mendengar jawaban Soonil. Berusaha membuat dirinya mengerti dan paham maksud dari jawaban Soonil.

"Aigu... seperti ini. Jika kau terlalu berpikir keras mencerna jawabanku. Mereka terlalu memikirkan yang begitu mereka ingin pikirkan sehingga itu membuat pikiran mereka sedikit terganggu dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar."

"Ah... eonni," rengek Kyungsoo.

"Nanti kau akan mengerti, ini pasien pertama kita. Namanya Kang Pilsup, dia sudah 2 bulan dirawat disini, dia mengalami gangguan psikologis karena selalu dipukuli oleh ayahnya. Dia seumuran denganmu."

"Annyeong, Pilsup-ah..." sapa Soonil begitu masuk ke dalam ruangan.

Akhirnya waktu makan siang. Kyungsoo tidak banyak melakukan pekerjaan yang berat tapi ia merasa sangat lelah. Kyungsoo duduk di kantin yang, di depannya, di atas meja tentunya sudah ada segelas susu coklat dingin dan dua potong roti isi keju. Dia lahap roti isi keju buatan ibunya dengan tanpa semangat. Soonil menghampiri Kyungsoo.

"Kau tidak makan siang?" tanyanya sambil menyimpan nampan berwarna biru dengan menu makan siang Soonil.

"Ini makan siangku," jawab Kyungsoo lemas.

"Hanya itu?"

"Hmmm... aku tidak sanggup untuk menelan makanan eonni."

"Kau ini. Isilah tenagamu. Kau baru satu hari disini."

"Eonni kau tidak lelah bekerja disini?"

"Tentu saja lelah, tapi ada kepuasan jika melihat mereka bisa kembali ke rumah dengan menjadi dia yang sebelumnya atau lebih baik."

"Aku tidak banyak melakukan banyak hal tapi aku merasa sangat lelah."

"Itu wajar, ini hari pertamamu. Nanti kau akan terbiasa."

.

.

.

.

"Ya! Kau dimana?" tanya Kyungsoo bicara di telepon.

"..."

"Cepatlah! Kakiku sudah pegal. Jika tidak aku akan pulang sendiri," omel Kyungsoo.

Sudah satu jam Kyungsoo berdiri menunggu adik barunya yang menyebalkan. Sehun selalu punya cara untuk membuat Kyungsoo kesal. Seperti sekarang, Sehun membuatnya menunggu selama satu jam. Akhirnya Sehun datang. Tapi, Kyungsoo benar-benar tidak percaya saat melihat Sehun turun dari bus.

"Kau naik bus kesini?"

"Lalu? Aku harus naik kuda bersayap?"

"Maksudku, kau tidak memakai mobil?"

"Kau pikir eomma akan memberi izin pria tampan tanpa surat izin mengendarai mobil?"

"Eyyy, kau ini."

Sehun dan Kyungsoo berjalan dari halte bus menuju rumah. Kyungsoo sudah lelah berjalan. Jika seperti ini Kyungsoo ingin memiliki kekuatan super, agar dia bisa membuat dirinya cepat sampai di rumah. Sehun berjalan di depan Kyungsoo, berjalan dengan sesekali melihat kakaknya di belakang.

"Cepatlah."

Kyungsoo menghentikan langkahnya. Ia merasa ada sesuatu menghalangi matanya, seperti ada debu yang masuk. Dengan cepat Sehun menghampiri Kyungsoo, menahan tangan Kyungsoo yang sudah siap mengucek matanya. Sehun sedikit menunduk lalu meniup mata Kyungsoo.

"Terima kasih," ucap Kyungsoo.

"Jika kau pulang dan sesuatu terjadi aku akan di gantung oleh eomma."

Sehun mengeluarkan kacamata dari dalam sakunya lalu memasangkan kacamata itu pada Kyungsoo.

"Kau ini berkali-kali eomma menyuruhmu untuk memakai kacamata jika pergi keluar."

"Hmmm, ternyata kau ini bisa bersikap baik padaku," Kyungsoo memuji.

"Aku ini manusia nunim..." balas Sehun.

Kyungsoo dan Sehun akhirnya sampai di rumah. Ibu mereka sudah berdiri di depan pagar sambil melipat kedua tangannya di dada. Menunggu penjelasan dari kedua anaknya yang baru saja sampai.

"Dia datang terlambat, eomma," jelas Kyungsoo lebih dulu membela diri.

"Jalanan macet," jelas Sehun berikutnya.

"Aku terima alasan kalian, sekarang masuklah."

Sehun dan Kyungsoo masuk ke dalam sesuai perintah ibu mereka. Ibu Kyungsoo masih belum tenang membiarkan Kyungsoo pergi kemana pun hanya sendiri. Jadi, ibunya belum begitu bersikap biasa dengan Kyungsoo yang pulang bahkan hingga hari mulai gelap.

Semua seisi rumah berkumpul di meja makan. Menikmati makan malam bersama. Ibu, ayah, Sehun, dan tentu saja Kyungsoo. Kyungsoo terlihat terburu-buru menyelesaikan makan malamnya.

"Makanlah dengan tenang, Kyungsooya. Ibu tidak akan mengijinkanmu ke rumah kaca jika kau makan seperti itu."

Seperti sudah bisa membaca maksud dari Kyungsoo yang makan terburu-buru. Ada suatu hal yang tiba-tiba Kyungsoo miliki saat ia sudah bisa melihat. Kyungsoo pandai membuat tembikar. Tangannya tiba-tiba bergerak dengan lihai jika sudah berhadapan dengan tanah liat. Memang belum begitu bagus seperti seniman-seniman, tapi hasil karya Kyungsoo cukup bagus. Dulu sebelum Kyungsoo mulai bekerja, ia sering datang ke rumah kaca di rumahnya. Bagunan kecil dengan kaca yang mengililingi bangunan itu. Tak hanya jadi tempat Kyungsoo 'berkencan' dengan tembikar dan tanah liat, tapi juga tempat ibu Kyungsoo menanam banyak tanaman.

Sebenarnya ada alasan Kyungsoo melakukan ini. Menjadikan membuat tembikar ini kesenangannya. Kyungsoo ingin tahu, ingin mengingat, wajah seseorang. Ya, seseorang yang begitu berharga bagi Kyungsoo. Merubah hidup Kyungsoo. Membuat Kyungsoo bisa 'melihat' meski cahaya tak terlihat sedikit pun dari matanya dulu. Kyungsoo seperti ini karena rindu, rindu yang teramat sangat. Jongin, Kim Jongin. Itu alasan Kyungsoo. Kyungsoo berharap, sangat berharap saat ia bisa melihat lagi, Jongin lah yang ia lihat pertama kali. Pria yang merubah Kyungsoo, pria yang mau menerima Kyungsoo dalam keadaan apapun. Tapi, sekarang yang Kyungsoo bisa hanya meraba-raba, menerka-nerka bagaimana wajah Jongin sesuai ingatannya dulu saat tangannya mengenali wajah Jongin.

Tapi, berkali-kali Kyungsoo coba ia tidak pernah berhasil untuk membuat wajah Jongin dengan pasti. Sekali ia coba, tidak berhasil. Dua kali. Tiga kali. Bahkan berpuluh-puluh kali, Kyungsoo masih belum berhasil meyakinkan dirinya kalau tembikar wajah Jongin sesuai dengan ingatannya.

Sudah dua tahun Kyungsoo tidak bertemu Jongin. Bahkan tahu bagaimana kabarnya pun tidak. Kyungsoo sempat mencari Jongin, dengan pergi ke tempat tinggalnya dulu. Mengingat setiap langkahnya dulu melewati jalan menuju rumah Jongin. Tapi sayangnya, rumah yang ditinggali Jongin sudah kosong. Kyungsoo pun pergi ke kedai eomeoni, berharap eomeoni tahu dimana Jongin. Tapi Kyungsoo kembali kecewa, kedai eomeoni pun sudah berganti menjadi sebuah salon kecantikan.

.

.

.

.

I just wanna love you

Give me that chance

Wanna hold you

Baby you know

That i need you i need you

And i m wondering all the time

If you love me come

On over get to know me

Baby because i know

You need me you need me

And i want you

In my life yeah yeah…

Lagu Amber f(x) mengalun dengan volume keras terdengar begitu nyaring di rumah kaca. Hari ini hari Minggu, Kyungsoo libur dari pekerjaannya. Itu berarti waktu Kyungsoo 'berkencan' dengan gundukan tanah liat. Ya, Kyungsoo lakukan ini jika rindu. Sebentar, bukan jika rindu, tapi Kyungsoo selalu rindu. Rindu Jongin.

"Noona!" seseorang mengagetkan Kyungsoo.

"Aakk!" teriak Kyungsoo.

Kyungsoo berbalik. Bukan untuk mencari tahu siapa yang melakukan itu, karena Kyungsoo tahu siapa yang mengagetkannya. Sehun, pasti dia. Ternyata benar, Sehun yang melakukan itu.

"Ya!" omel Kyungsoo.

"Kau sedang apa?"

"Menurutmu apa yang aku lakukan jika aku sedang seperti ini?" Kyungsoo melirik ke arah tubuhnya sendiri memberi jawaban pada Sehun.

"Kau tidak bosan mendengar lagu ini? Ribuan kali kau dengar lagu ini."

"Itu urusanku. Pergilah jangan ganggu aku."

"Kau ini sebenarnya mencoba membuat wajah siapa?" tanya Sehun tiba-tiba.

Kyungsoo menghentikan kegiatannya. Menghela nafas panjang. Mengatur emosinya kemudian menjawab pertanyaan adiknya.

"Bukan siapa-siapa."

"Kekasihmu?"

Kyungsoo diam.

Sehun kembali bertanya, "aku benar, kan? Itu kekasihmu?"

"Kau ini sebenarnya untuk apa datang kesini?"

"Tidak ada. Hanya ingin melihatmu saja."

"Kalau begitu pergilah, jangan menggangguku."

"Apa kau berusaha membuat wajah orang yang sama?" Sehun kembali bertanya.

"Aku bilang ini bukan urusanmu."

"Karena aku lihat, tembikar berbentuk wajah buatanmu ini semua memiliki senyum yang sama."

"Benarkah?" Kyungsoo bertanya balik.

"Kau tidak sadar itu? Lihatlah, semua memiliki senyum yang sama. Walau memang wajah mereka berbeda. Tapi bentuk senyum yang kau buat sama semua."

Kyungsoo seperti baru saja mendapat juara di lomba maraton. Mendengar perkataan Sehun tentang itu. Kyungsoo pandangi satu per satu hasil karyanya. Senyum merekah di wajahnya.

"Kenapa aku tidak sadar selama ini," gumamnya.

"Kau membuat semua ini, dan kau tidak sadar itu?"

"Terima kasih Sehun-ah, aku akan belikan kau sesuatu nanti."

"Benarkah?"

"Hmmm."

"Yes! Aku ingin mobil tipe terbaru, karena sebentar lagi aku akan punya surat izin mengemudi."

Kyungsoo melirik ke arah Sehun.

"Ya! Kau pikir gajiku cukup untuk itu?"

Sehun tersenyum jahil, lalu pergi meninggalkan Kyungsoo. Sekarang yang Kyungsoo lakukan adalah menatap terus hasil karyanya. Menyentuh setiap senyum pada tembikar berbentuk wajah buatannya.

"Jadi begini senyumanmu, Jongin-ah," lirih Kyungsoo.

Tanpa Kyungsoo sadari air matanya jatuh menetes di pipinya. Kyungsoo benar-benar ingin melihat Jongin. Ingin bertemu Jongin. Rindu dengan apa yang selalu Jongin lakukan untuk membuat Kyungsoo nyaman. Suaranya. Bahkan wangi khas Jongin.

"Tidak bisakah aku bertemu denganmu, Jongin-ah? Walau itu hanya satu kali?"

.

.

.

.

Suara gaduh sudah menghiasi pagi hari Kyungsoo. Kyungsoo terjebak di kamarnya. Di atas ranjangnya. Di dalam selimut yang biasa ia gunakan untuk tidur. Semua ini tak ada yang lain pelakunya. OH SEHUN.

Sehun menyelimuti tubuh Kyungsoo dengan selimut. Menahannya agar Kyungsoo tidak bisa keluar. Ini masih pagi, bahkan terlalu pagi. Tapi tidak ada batas waktu bagi manusia bernama Oh Sehun untuk menjahili Kyungsoo.

"Ya! Oh Sehun! Lepaskan! Kau ingin membuatku mati?" omel Kyungsoo dari dalam selimut.

"Selama kau masih mengomel itu tandanya kau baik-baik saja," jawab Sehun santai.

"Ya! Nanti aku telat! Cepat lepaskan!" Kyungsoo berusaha berontak.

Sehun tidak menuruti perkataan Kyungsoo. Dia malah menggelitiki tubuh Kyungsoo, sehingga Kyungsoo menggeliat di dalam selimut karena geli.

"Eommaaaa!" Kyungsoo mulai mengeluarkan jurus paling ampuhnya.

Ibu Kyungsoo datang menghampiri sumber suara. Ibunya sudah tidak aneh mendengar kegaduhan di pagi hari seperti ini.

"Sehun-ah... hentikan. Lepaskan noonamu."

Kekuatan seorang ibu memang paling hebat. Satu kali perintah Sehun langsung melepaskan Kyungsoo. Kyungsoo menyingkap selimut yang mengurungnya tadi. Rambutnya sudah acak-acakan. Keringat terlihat di keningnya. Sudah seperti monster yang ingin menelan Sehun hidup-hidup. Bukan, bahkan jika Kyungsoo tidak harus menjadi monster Kyungsoo benar-benar ingin menelan Sehun.

Kyungsoo terburu-buru mengambil tasnya lalu mengambil beberapa potong roti yang berada di meja makan.

"Sarapanlah dulu," kata ibu Kyungsoo.

"Aku sudah telat, nanti siang aku akan makan di kantin. Aku pergi..." Kyungsoo berpamitan. Memberikan kecupan di pipi ibu dan ayahnya, dan jitakan di kepala Sehun.

"Nanti pulang ka-" belum sempat ibunya menyelesaikan kalimatnya, Kyungsoo menjawab.

"Tidak perlu eomma, biar aku pulang sendiri saja. Jika ada sesuatu aku akan hubungi, tidak perlu menyuruh anak menyebalkan ini menjemputku."

"Kau yakin?" tanya ibu Kyungsoo dengan sedikit berteriak karena Kyungsoo sudah berjalan ke luar rumah.

.

.

.

.

Kyungsoo datang dengan langkah yang santai. Karena ternyata dia tidak terlambat sama sekali. Malah Kyungsoo sempat membeli onigiri dan susu coklat di convenient store. Saat sampai kantornya, ia heran karena kantor begitu ramai. Di depan pintu masuk berjejer pria-pria bertubuh kekar memakai setelan jas berwarna hitam.

"Ada apa ini? Apa akan ada Presiden atau semacamnya datang?" gumamnya sambil menyeruput susu coklatnya.

Kyungsoo tidak mencari tahu, lagi pula nanti pun dia akan tahu. Soonil datang menghampiri Kyungsoo yang sedang menyimpan tasnya ke dalam loker.

"Kyungsooya..." sapa Soonil.

"Eonni, good morning..." sahut Kyungsoo.

"Kau sudah sarapan?"

Kyungsoo menjawab dengan menunjukkan kotak susu coklatnya dan sepotong onigiri dari dalam saku tasnya.

"Kau pasti terburu-buru karena takut terlambat."

"Eonni memang pintar. Eonni, ada apa? Apa akan ada orang penting yang berkunjung kesini?"

"Akan ada pasien baru hari ini."

"Begitu? Apa dia anak presiden atau orang penting?" tanya Kyungsoo penasaran.

"Tidak, hanya orang anak seorang pengusaha saja."

"Benarkah? Daebak! Hanya anak seorang pengusaha tapi seperti ini?"

"Hmmm. Dulu saat pertama dia datang kesini pun sama seperti ini."

"Dulu? Ini bukan yang pertama?"

"Eoh... sudahlah, dia tidak akan menjadi pasienku. Lalu kau ditugaskan untuk membantuku, jadi... kau dan aku tidak bertemu dengan dia."

"Aku membantu eonni?"

"Aku yang meminta agar kau menjadi asistenku."

"Eonni terima kasih. Setidaknya aku sedikit tenang karena aku bekerja dengan seseorang yang aku kenal."

.

.

.

.

Semangkuk sup udang, semangkuk nasi, segelas teh hijau dingin menemani makan siang Kyungsoo. Tidak sempat bagi Kyungsoo untuk menyiapkan bekal masakan ibunya hari ini. Sambil menyuapi dirinya dengan sendok berisi nasi, Kyungsoo terispu, menunjukkan senyuman malu-malunya. Soonil datang menghampiri Kyungsoo.

"Do Kyungsoo! Apa yang sedang kau pikirkan? Kau memikirkan yadong? Benar, kan?" tanya Soonil jahil.

"Eonni. Apa maksudmu, untuk apa aku memikirkan itu?"

"Siang hari seperti ini kau tersenyum aneh seperti tadi. Apa lagi yang kau pikirkan selain itu."

"Astaga, kau sepertinya harus melakukan perawatan disini, eonni."

"Cepat selesaikan makanmu. Sebentar lagi waktu istirahat selesai."

"Hmmm. Sebentar lagi."

Kyungsoo sedang berada di apotek, apotek milik yayasan. Mengambil obat untuk pasien dari resep yang Soonil berikan. Setelah selesai Kyungsoo kembali ke ruangan dimana Soonil berada. Untuk menuju ke ruangan itu, Kyungsoo melewati ruang dimana anak pengusaha yang pagi tadi baru saja datang di rawat. Saat dia lewat, pintu kamarnya terbuka. Kyungsoo mencoba mengintip. Ingin tahu bagaimana rupa anak sang pengusaha itu, sampai harus mendapat pengawalan untuk datang kesini.

"Itu, anak pengusaha itu? Dia tidak terlihat seperti yang terganggu," gumamnya.

Sebenarnya Kyungsoo tidak bisa melihat wajah orang tersebut. Hanya melihat bagian belakang, bagian punggungnya saja. Karena dia terus menghadap ke arah jendela.

DRRTTT... DRRTTT...

Handphone Kyungsoo bergetar, ada panggilan masuk, dan itu dari Soonil. Tanpa menjawab lebih dulu panggilan itu, Kyungsoo setengah berlari menuju ke tujuan awalnya. Mengantarkan obat ke ruangan Soonil.

Soonil menghela napas saat melihat Kyungsoo datang ke ruangannya.

"Kau ini. Dari mana saja? Aku pikir sesuatu terjadi padamu," khawatir Soonil.

"Maafkan aku, eonni."

"Kau sudah ambil semua obat dalam resepku?"

"Eoh, sudah. Ini," Kyungsoo memberikan wadah terbuat dari stainless steel berisi bungkusan obat pada Soonil.

"Kau dari mana? Kenapa lama sekali?"

"Ah, tadi saat aku menuju kesini aku melewati ruangan anak pengusaha yang pagi tadi datang."

"Begitukah? Dia tampan, kan?" ucap Soonil tiba-tiba antusias.

"Aku tidak tahu. Aku tidak melihat wajahnya. Hanya punggungnya saja."

"Ah, sayang sekali," Soonil terdengar kecewa.

"Kau masih tetap melirik pria lain? Bahkan itu adalah pasienmu."

"Kau akan tahu kenapa aku seperti ini, karena dia memang manis."

.

.

.

.

Akhirnya waktunya Kyungsoo untuk pulang. Kyungsoo membereskan isi tasnya, berdiri di depan lokernya. Dia gendong di bahunya tas gendong dari kulit berwarna coklat. Kyungsoo kembali melewati ruangan pasien yang Soonil bilang tampan. Kyungsoo menghentikan langkahnya tepat di depan kamar itu. Matanya mencoba menemukan objek yang membuat Soonil begitu kecewa karena Kyungsoo tidak melihat wajah pria ini. Kyungsoo perlahan mendekat. Tidak ada maksud lain. Hanya ingin melihat bagaimana rupa pria ini.

Tapi, tiba-tiba...

Ada seseorang yang berdiri menundukkan kepala tepat di depan Kyungsoo.

"Aakk!" teriak Kyungsoo yang terkejut.

Kyungsoo mengurungkan niatnya untuk melihat wajah pria itu. Dia berlari sekencang mungkin untuk menjauh dan tidak melihat apa yang tadi tiba-tiba muncul di hadapannya. Mencoba mengatur napasnya, Kyungsoo membungkuk dengan kedua tangan yang memegang lututnya yang masih sedikit gemetar karena masih terkejut.

"Aish... apa itu tadi? Hantu? Atau bukan?" Kyungsoo mencoba mencari jawaban sendiri.

"Ah... aku tidak ingin tahu apa itu tadi yang tiba-tiba muncul. Lebih baik aku pulang."

Kyungsoo berjalan menuju halte bus. Sesuai permintaannya, hari ini adik paling menyebalkannya tidak datang untuk menjemput. Kyungsoo tidak mau rasa lelahnya setelah bekerja bertambah dengan kejahilan Sehun yang sudah di atas batas normal. Earphone berwarna ungu terlihat terpasang di telinga Kyungsoo. Bus yang harus ia naiki belum datang. Pikiran Kyungsoo menerawang. Memikirkan bagaimana ia sekarang. Bisa pergi kemana pun sendiri, tanpa perlu di temani seseorang untuk menunjukkan jalan. Kyungsoo melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Belum terlalu sore. Kyungsoo ingin pergi ke suatu tempat sebelum pulang ke rumahnya.

Kyungsoo memutuskan untuk tak langsung pulang. Ia mengubah arah pulangnya. Menaiki bus yang bukan menuju arah rumahnya. Setapak demi setapak. Selangkah demi selangkah. Kyungsoo berjalan. Lampu-lampu jalan mulai menunjukkan cahaya redupnya. Membantu orang-orang melihat jalan lebih baik.

Sampai. Akhirnya Kyungsoo sampai ke tempat ia ingin datangi sebelum pulang. Taman yang dulu pernah dia dan pria terhebatnya, Jongin, datangi. Mata Kyungsoo melihat sekeliling. Sepi. Seperti biasa. Sudah berkali-kali. Bahkan puluhan kali dia datang ke tempat ini. Dulu saat pertama Kyungsoo datang ia perlu mencari bangku yang dulu Jongin ajak Kyungsoo duduk dan menceritakan apa yang ia lihat. Kyungsoo hanya menebak-nebak, mengingat setiap langkahnya dulu menuju tempat ini. Kaki Kyungsoo membawa Kyungsoo pada satu bangku. Kyungsoo duduk di bangku itu. Menatap pemandangan yang ada di depannya. Awalnya Kyungsoo tidak tahu tempat ini. Itu tentu saja, karena dulu saat Jongin mengajaknya kesini Kyungsoo belum bisa melihat. Lalu Kyungsoo bertanya pada Sehun tentang tempat ini, dan beruntung adik menyebalkannya itu tahu tempat ini. Kyungsoo tidak meminta Sehun untuk mengantarnya, hanya memintanya untuk memberitahu dimana lokasi pastinya.

Indah. Titik-titik lampu dari bangunan-bangunan mulai bermunculan. Pemandangan yang indah.

"Kau benar Jongin-ah, ini indah, tapi kapan kau akan datang kesini? Aku selaku sendiri melihat ini," ucap Kyungsoo lirih.

Mata Kyungsoo mulai berair. Air matanya selalu tiba-tiba menggenang di ujung mata Kyungsoo jika mengingat semua tentang Jongin. Tempat ini, walau singkat, tapi begitu memberikan kenangan bagi Kyungsoo. Bagaimana suara Jongin, lembutnya Jongin jika menggenggam tangannya. Kyungsoo selalu ingat itu. Akhirnya Kyungsoo tidak bisa menahan lagi. Air matanya jatuh, membasahi pipinya.

"Seharusnya aku tidak datang sendiri kesini, Jongin-ah. Kau sudah janji akan mengajakku kesini saat aku bisa melihat. Aku rindu padamu, sangat..." ucap Kyungsoo dengan suara serak karena menangis.

Kyungsoo pulang dengan mata yang masih merah karena air mata. Ibunya sudah tak tenang menunggu Kyungsoo yang juga tak kunjung pulang.

"Kau dari mana saja?" tanya ibunya begitu Kyungsoo membuka pintu.

"Mencari sesuatu," jawab Kyungsoo asal.

"Mencari apa? Kenapa tidak memberi kabar?"

"Maafkan aku eomma. Aku akan langsung ke kamarku, aku lelah."

"Kau baik-baik saja?" Ibunya menahan Kyungsoo yang akan menuju kamarnya.

"Aku baik-baik saja."

.

.

.

.

Kyungsoo sedang berada di rumah kaca. Dengan mata yang masih basah, ia membentuk gundukan tanah liat di depannya. Jika hatinya sedang tak karuan, Kyungsoo pasti menyibukan diri dengan membuat tembikar. Ya, sekarang Kyungsoo sedang terus mengingat Jongin. Sehun tiba-tiba datang menghampiri Kyungsoo.

"Kau menangis?" tanya Sehun.

Sehun duduk di sebuah potongan batang pohon berukuran besar, yang dijadikan kursi.

"Pergilah. Aku sedang tidak ingin kau ganggu."

"Aku tidak akan mengganggu."

"Kalau begitu, pergilah."

"Kau mau aku bantu?" tanya Sehun tiba-tiba.

"Bantu apa?"

"Aku tahu alasanmu membuat wajah-wajah ini. Kau ingin bertemu dengan pria ini, tapi kau tidak tahu dia berada dimana dan bagaimana wajahnya. Iya, kan?"

Kyungsoo mematung. Membenarkan tentang apa yang Sehun ucapkan dalam hati. Sehun kembali melanjutkan perkataannya.

"Kau sudah cari ke tempat tinggalnya?"

"Sudah."

"Sudah hubungi teman atau siapapun yang mengenalnya?"

"Aku tidak tahu siapa temannya."

"Tempat dia bekerja?"

Kyungsoo kembali diam. Memikirkan pertanyaan Sehun. Tempat kerja. Benar. Tempat kerja Jongin. Kyungsoo bisa tahu dari penerbit yang menerbitkan buku Jongin. Kyungsoo berdiri, melepas appron dari plastik yang ia gunakan untuk melindungi pakaiannya dari tanah liat.

"Terima kasih, Sehun-ah, " Kyungsoo lalu berlari keluar dari rumah kaca meninggalkan Sehun sendiri.

Kyungsoo langsung mencari buku tulisan Jongin. Mencari alamat penerbit di halaman belakang buku itu. Dapat! Kyungsoo lalu menulis nomor telepon kantor penerbit itu dan langsung menghubunginya. Rasa cemas semakin dia rasa saat tak ada yang menjawab panggilan teleponnya. Kyungsoo lalu melirik jam dinding di kamarnya. Dengan segera ia akhiri penggilan telepon itu. Jarum jam menunjuk ke angka 10. Sudah terlalu larut untuk menelepon ke sebuah kantor. Kyungsoo menulis alamat penerbit itu di sebuah kertas kecil berwarna pink. Besok dia berencana untuk pergi ke alamat itu dan menanyakan tentang Jongin.

Benar-benar tidak terpikir sama sekali oleh Kyungsoo. Untuk mencari Jongin dengan bertanya ke penerbit yang menerbitkan buku Jongin.

"Bodoh! Bodoh! Kenapa tidak sejak dulu terpikir tentang itu?" Kyungsoo menepuk jidatnya sendiri berkali-kali.

.

.

.

.

Hari ini Kyungsoo mendapat tugas lebih di tempat kerjanya. Soonil menyuruh Kyungsoo untuk merekap hasil konsultasi minggu ini. Tidak sulit memang, hanya memasukan data saja. Selain itu hanya pasien yang di tangani Soonil saja.

"Kyungsooya," panggil Soonil.

"Kau sudah mau pulang?" tanya Kyungsoo.

"Eoh... kau tidak pulang?"

"Setelah ini selesai aku akan pulang, eonni."

"Kerjakan itu di rumah saja," Soonil memberi saran.

"Tidak... tidak... aku tidak mau membawa pekerjaan ke rumah. Lagi pula ini tidak akan lama, dan disini tidak akan sepi."

"Baiklah. Aku pulang lebih dulu."

"Eoh, eonni. Hati-hati."

Kyungsoo melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak ingin membawa pekerjaan ke rumah. Kyungsoo ingin jika sampai rumah dia hanya istirahat. Niatnya hari ini untuk pergi ke kantor penerbit gagal, besok, saat libur ia akan pergi kesana. Earphone dan lagu di playlist handphone menjadi teman satu-satunya Kyungsoo. Kyungsoo menggerakan kepalanya mengikuti irama lagu yang ia dengar. Jarinya sibuk menari di atas keyboard komputer. Jam sudah menunjukkan pukul 7. Berkali-kali ibunya menghubungi. Bertanya Kyungsoo ada dimana. Perkerjaannya belum selesai, jadi Kyungsoo tidak ingin pulang dengan pekerjaan yang masih belum ia selesaikan.

KRING... KRING...

Handphone Kyungsoo kembali bergetar. Tanda panggilan masuk, dan Kyungsoo tahu siapa yang menghubunginya.

"Iya, eomma," jawab Kyungsoo bernada pelan.

"..."

"Sebentar lagi aku selesai."

"..."

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri lagi pula ini belum terlalu malam."

"..."

"Iya, eomma."

Kyungsoo mengakhiri pembicaraan dengan ibunya di telepon. Kembali sibuk mengetik huruf demi huruf. Kyungsoo sudah ingin pulang. Tinggal beberapa lagi dan pekerjaannya selesai. Detakan jarum jam yang bergerak terdengar begitu nyaring. Seperti terus mengisyaratkan Kyungsoo untuk segera pulang. Earphone sudah tak lagi terpasang di telinga Kyungsoo, jadi suara detakan jam terdengar jelas.

Selesai. Pekerjaan Kyungsoo akhirnya selesai. Ia rapikan tasnya, meja yang sedikit tak rapi karena gelas-gelas kopi berserakan. Kyungsoo melangkah keluar ruangan. Saat ia keluar ia melihat perawat baru saja keluar dari kamar anak pengusaha itu. Bukan Kyungsoo jika ia tidak ingin tahu. Kyungsoo sedikit berlari menghampiri perawat itu.

"Maaf, apa ada masalah dengan pasien di dalam?" tanya Kyungsoo sambil memberi isyarat menunjuk kamar yang ia maksud dengan melirikkan matanya.

"Tidak, aku hanya baru memasang infus. Dia tidak mau makan sama sekali dan satu-satunya cara untuk menambah energinya, ya seperti ini."

"Kenapa baru memasang infus malam hari?"

"Jika dia belum tertidur sulit untuk melakukan itu, karena dia akan berontak."

"Heh? Benarkah?"

"Iya. Kenapa kau belum pulang? Ini sudah lewat dari jam kerjamu, kan?"

"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalau begitu aku pamit pulang lebih dulu."

.

.

.

.

Kyungsoo masih bermimpi. Matanya masih enggan untuk terbuka. Tubuhnya masih ingin menempel di atas kasurnya. Sehun datang, masuk ke dalam kamar Kyungsoo diam-diam. Dengan mengendap-ngendap ia mendekati Kyungsoo yang masih terlelap. Senyum jahil Sehun muncul. Lalu, Sehun menaburi sesuatu ke dalam mulut Kyungsoo. Sehun terkekeh melihat kakaknya yang masih tertidur. Masih belum ada reaksi. Sehun mengulangi apa yang ia lakukan sebelumnya. Ia kembali menaburi sesuatu ke dalam mulut Kyungsoo. Kemudian...

"Aakk... apa ini? Kenapa terasa asin?" omel Kyungsoo yang masih setengah sadar.

Sehun yang berdiri di samping ranjang Kyungsoo, tertawa terbahak-bahak melihat kakaknya.

"Ya!" teriak Kyungsoo.

"Eomma menyuruhku membangunkanmu," kata Sehun menahan tawa.

"Bangunkan aku dengan cara yang manusiawi! Tidak dengan menaburi mulutku dengan garam!"

"Apa begitu asinnya?" tanya Sehun polos.

"Menurutmu? Sejak kapan garam itu terasa seperti permen mint?" sahut Kyungsoo kesal.

Kyungsoo memberikan beberapa pukulan kecil pada Sehun. Kyungsoo benar-benar tidak mengerti, kenapa Sehun selalu punya cara untuk membuat Kyungsoo berteriak padanya. Setelah puas melihat kakaknya yang marah di pagi hari, Sehun keluar dari kamar Kyungsoo. Kyungsoo menuju ruang makan, semua orang sudah berada di kursinya masing-masing. Seperti biasa Kyungsoo duduk di samping ibunya dan tepat di depannya adalah Sehun.

"Makanlah yang banyak," ucap ibunya seraya memberikan mangkuk berisi sup pada Kyungsoo.

"Terima kasih eomma."

Kyungsoo langsung melahap sarapannya. Bagi Kyungsoo jika ada Sehun di sekitarnya, hanya meja makan yang menjadi tempat paling aman. Sehun tidak akan berani mengganggunya karena ada ayah mereka.

"Hari ini bagaimana jika kita pergi Kyungsooya," ajak ibu Kyungsoo.

"Maafkan aku, eomma. Aku harus pergi ke suatu tempat. Lain kali aku temani eomma pergi."

"Kau mau pergi? Kemana?"

"Iya, eomma."

"Kalau begitu biar Sehun-"

Belum sempat ibunya menyelesaikan kalimatnya, Kyungsoo sudah menjawab.

"Tidak, eomma. Biar aku pergi sendiri."

"Kau yakin?"

Kyungsoo mengangguk, "iya, jika ada sesuatu aku akan langsung menghubungimu."

.

.

.

.

Kyungsoo menunggu bus di halte. Sesekali ia benarkan kacamata yang ia pakai karena tidak pada posisinya. Ya, Kyungsoo harus memakai kacamata ini untuk melindungi matanya agar tak langsung terkena udara luar. Hari ini Kyungsoo akan pergi ke kantor penerbit yang menerbitkan buku Jongin. Kyungsoo berharap dia bisa mendapatkan informasi lebih disana. Tak perlu waktu lama, 15 menit perjalanan Kyungsoo sampai ke tempat yang ia tuju.

Gedung bertingkat 2 yang diapit dengan gedung yang lebih tinggi berdiri kokoh. Kyungsoo melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dengan hati yang terus berdegup. Ia terus berdoa semoga ada informasi yang bisa Kyungsoo dapat dengan datang ke tempat ini.

"Permisi," sapa Kyungsoo pada seorang wanita berambut pendek yang duduk di balik meja dengan papan tanda bertuliskan 'FRONT OFFICE'.

"Iya. Ada yang bisa saya bantu?"

"Iya, begini..."

Kyungsoo menjelaskan maksudnya datang kesini. Setelah selesai, wanita tadi menyuruh Kyungsoo menunggu di sebuah ruangan berukuran sedang, seperti ruangan untuk meeting dan semacamnya. Kyungsoo duduk di salah satu kursi. Kyungsoo tidak tahu apa yang sedang ia tunggu. Setelah tadi Kyungsoo selesai menjelaskan maksudnya, wanita tadi menelepon seseorang tanpa Kyungsoo tahu apa yang ia bicarakan. Setelah itu, dia langsung meminta Kyungsoo menunggu di ruangan ini.

Cukup lama Kyungsoo menunggu. Sudah hampir 10 menit ia duduk tapi tak juga ada seseorang yang datang menghampirinya. Seorang pria bertubuh jangkung dan berkacamata datang menghampiri Kyungsoo.

"Hallo..." sapanya menyodorkan tangannya mengajak Kyungsoo berjabat tangan.

Kyungsoo membalas sapaan pria itu dengan senyuman dan menganggukan kepalanya memberi hormat.

"Aku Taemin kepala redaktur disini."

"Aku Do Kyungsoo."

"Aku dengar kau mencari seseorang?"

"Ah, iya. Kai. Aku mencari penulis buku bernama Kai."

"Kai..." pria bernama Taemin itu terlihat menerawang.

"Ah! Kai! Ya... ya... aku ingat. Ada keperluan apa kau mencarinya?"

"Apa dia ada disini?"

"Itu yang sangat disayangkan. Dia tiba-tiba menghilang kira-kira 2 tahun yang lalu, bahkan bukunya yang siap terbit pun batal kita terbitkan karena dia yang tiba-tiba menghilang. Dan sampai sekarang kami semua tidak tahu bagaimana kabarnya."

Raut wajah kecewa seketika muncul saat Kyungsoo mendengar jawaban dari pria jangkung yang ada di depannya.

"Begitu? Tapi, apa aku bisa meminta alamat tempat tinggalnya?"

"Tempat tinggal? Bisa saja, tapi apa aku boleh tahu siapa kau? Karena aku tidak ingin timbul masalah karena memberikan alamat seseorang."

"Tidak perlu khawatir. Aku kerabatnya, aku juga sedang mencarinya."

"Begitu? Baiklah jika seperti itu. Tunggu sebentar, biar aku tulis alamatnya."

Pria jangkung yang memperkenalkan dirinya bernama Taemin lalu keluar dari ruangan tempat Kyungsoo berada. Tak lama ia kembali membawa secarik kertas.

"Ini. Ini alamat yang dia berikan dulu."

Kyungsoo lihat alamat yang ia terima. Kembali raut kecewa muncul di wajah Kyungsoo.

"Ini alamat tempat tinggalnya yang dulu, aku sudah mencarinya kesana."

"Begitukah? Dia hanya memberi alamat itu saja. Tak ada yang lain."

"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuannya."

.

.

.

.

Kyungsoo meneguk cola dingin yang ada di tangannya. Matahari sepertinberada tepat di atas kepalanya. Kyungsoo duduk di bangku taman. Menatap pemandangan kota di depannya. Ya, Kyungsoo sedang berada di taman tempat Jongin membawanya.

"Jongin-ah... beritahu aku dimana kau!" seru Kyungsoo dengan kedua telunjuk berada di sudut keningnya seperti sedang melakukan telepati.

Dia tarik nafas panjang lalu membuangnya. Berulang kali Kyungsoo lakukan itu. Menyerah karena tidak mendapatkan jawaban Kyungsoo berhenti melakukan itu. Ia sandarkan tubuhnya di bangku. Ia dongakan kepalanya menatap langit dengan awan yang bergerak.

"Apa aku tidak bisa bertemu lagi denganmu?"

"Apa kau tidak rindu padaku?"

"Kau tidak ingin bertemu denganku, Jongin-ah?"

Kyungsoo bicara pada dirinya sendiri. Bertanya tanpa ada yang menjawab. Tiba-tiba ada seseorang yang menjentikan jarinya di kening Kyungsoo.

"Aak!" keluh Kyungsoo mengusap bagian keningnya yang terasa sakit.

Dia rubah posisi duduknya dan melihat siapa yang melakukannya.

"Kau? Sedang apa kau disini? Bagaimana kau tahu aku disini?"

Sehun memaksa Kyungsoo bergeser dan membiarkannya duduk di samping Kyungsoo.

"Ya! Apa yang kau lakukan disini? Tahu dari mana aku ada disini? Kau mengikutiku?"

Sehun masih diam. Dia malah mengambil kaleng cola yang ada di samping Kyungsoo dan meneguk habis cola itu tanpa tersisa.

"Kau mengikutiku? Aku tidak menyangka memiliki adik seorang stalker," ucap Kyungsoo.

Sehun kembali menjentikan jarinya di kening Kyungsoo. Kyungsoo melakukan refleks yang sama. Menggosok keningnya yang terasa sakit.

"Jaga bicaramu. Aku tidak sejahat itu padamu. Eomma menyuruku mengikutimu."

"Heh? Eomma?"

"Eoh, dia khawatir kau pergi ke tempat macam-macam."

"Eyy, eomma. Memangnya aku ini anak berumur 6 tahun."

"Bagaimana?" tanya Sehun.

"Apa yang bagaimana?"

"Orang yang kau cari."

"Nihil. Aku tidak mendapatkan info apapun. Bahkan mereka pun tidak tahu kemana Jongin pergi."

"Ah... ternyata nama pria itu Jongin?"

Mata bulat Kyungsoo melebar. Ia terkejut karena begitu saja menyebut nama Jongin di depan Sehun.

"Aish... mulutku ini memang tidak bisa aku ajak berkompromi."

"Tenang saja aku tidak akan meledekmu."

"Begitu? Aku sangat percaya padamu Oh Sehun..." sahut Kyungsoo dengan nada meledek.

"Jadi bagaimana?" Sehun kembali bertanya.

"Aku tidak tahu. Jongin memberikan alamat tempat tinggalnya sendiri, bukan alamat yang lain."

"Kau menyerah?"

"Aku tidak tahu. Aku sudah mencari ke tempat yang mungkin ia datangi. Bahkan taman ini, berkali-kali aku datang kesini, siang dan malam aku tidak pernah melihat orang lain datang dan duduk di bangku ini. Aku harus kemana lagi mencarinya, bahkan bagaimana rupa wajahnya pun aku tidak tahu."

Kyungsoo menundukkan kepalanya. Sehun menatap Kyungsoo. Dia tahu kakaknya sekarang ini sedang dalam perasaan yang tak karuan. Sehun juga tahu lama-lama Kyungsoo akan meneteskan air mata. Dia benar-benar benci melihat seseorang menangis.

"Semangatlah, Do Kyungsoo. Mungkin sekarang dia sedang menunggumu. Menunggu waktu yang tepat sampai bisa bertemu denganmu," Sehun menyemangati.

"Kau ini. Kau tahu, kau lebih menyeramkan jika bersikap manis padaku seperti ini dibandingkan kau yang terus menggangguku."

"Kau harus bersyukur memiliki adik tampan sepertiku."

"Terima kasih, Sehun-ah."

"Terima kasih karena mau menjadi adik menyebalkan untukku. 2 tahun yang lalu saat aku mulai tinggal denganmu. Aku pikir kau akan benci memiliki kakak sepertiku. Aku yang tidak bisa melihat, aku yang tidak bisa melakukan apapun."

"Jangan bicara seperti itu."

"Aku tidak tahu, aku harus bagaimana. Bersyukur atau sedih dengan kejadian 2 tahun yang lalu."

"Jangan bicarakan lagi tentang itu. Aku tidak mau menghapus air matamu."

"Eyy... kau benar-benar adik yang jahat."

Kyungsoo melanjutkan kata-katanya.

"Aku benar-benar tidak tahu. Apa aku harus bersyukur karena kejadia 2 tahun yang lalu, sekarang aku bisa bertemu denganmu, aku bisa tinggal dengan ibuku, dan aku memiliki seorang ayah. Atau aku harus sedih benci pada diriku sendiri karena aku kehilangan orang yang merubah hidupku, orang yang aku sayang tanpa tahu apapun."

.

.

.

.

Flash back, 2 tahun yang lalu...

"Lepaskan aku... lepaskan aku..." ucap Kyungsoo yang terus menangis karena ketakutan.

Dua orang disampingnya terus memegang lengan Kyungsoo. Mencegah Kyungsoo agar tidak berontak. Air mata terus mengalir membasahi pipi Kyungsoo. Nama Jongin terus Kyungsoo panggil meski orang yang ia panggil namanya tak juga datang.

Mobil yang Kyungsoo naiki berhenti. Dua orang yang sejak tadi berada di samping Kyungsoo menuntun Kyungsoo dengan sangat tidak halus. Mereka menyuruh Kyungsoo duduk. Kyungsoo yang tidak bisa melihat apa yang ada di sekelilingnya, dimana ia berada hanya bisa menangis. Telapak tangannya berkeringat dingin sejak tadi. Hatinya beedebar karena takut. Ia terus berdoa agar Jongin atau siapapun datang menolongnya.

Kyungsoo yang sendiri mendengar suara degupan langkah mendekat ke arahnya. Tangan Kyungsoo mengepal kuat, meremas rok yang ia pakai.

"Kau tidak perlu takut," ucap seseorang yang sekarang sudah duduk di hadapan Kyungsoo.

Kyungsoo diam. Kyungsoo tahu suara siapa itu. Tapi Kyungsoo berusaha meyakinkan dirinya jika dia mendengar suara yang salah.

"Kau tidak mengenalku?" orang di hadapan Kyungsoo kembali bersuara.

Dengan ragu Kyungsoo bertanya, memastikan apa orang di hadapannya adalah orang yang Kyungsoo kenal.

"Ajushi?"

"Kau memang pandai. Hanya mendengar suaraku saja kau tahu siapa aku."

Kyungsoo tidak percaya jika orang yang ada di hadapannya adalah ayah Jongin.

"Maafkan aku karena membuatmu takut. Aku sudah menyuruh mereka untuk tidak kasar padamu dan tidak membuatmu takut. Tapi mereka tetap melakukan ini padamu."

Kyungsoo hanya diam. Berusaha membuat dirinya sendiri percaya. Bahwa ayah Jongin yang melakukan ini padanya. Tapi kenapa? Kenapa ayah Jongin melakukan ini pada Kyungsoo.

"Kau ingin minum atau apapun?" tanya ayah Jongin.

"Ajushi, kenapa kau melakukan ini padaku?"

"Aku hany ingin bicara padamu."

"Tapi-"

Ayah Jongin memotong perkataan Kyungsoo.

"Menjauhlah dari Jongin."

"Iya? Maksud ajushi?" tanya Kyungsoo bingung.

"Jangan lagi kau mendekati Jongin."

"Tapi kenapa?"

"Biarkan Jongin menjalani hidupnya. Tanpa kau. Dia tidak ingin kembali tinggal denganku karena kau! Dia terlalu memikirkanmu!" bentak ayah Jongin.

Ayah Jongin melanjutkan kata-katanya.

"Aku sudah merayu, membujuk dia dengan segala cara untuk mau kembali tinggal dengan aku dan ibunya. Tapi dia tetap memilihmu! Dia tetap ingin berada di sampingmu! Jadi, ini satu-satunya cara untuk membuat Jongin mau menurutiku."

"Tapi ajushi..."

"Aku akan membuatmu kembali bisa melihat. Kau ingin bisa melihat kan?"

"Heh? Maksud ajushi?"

"Ya, aku akan membantumu untuk bisa melihat lagi. Akan aku tanggung dan urus semuanya. Tapi satu syarat, kau harus meninggalkan Jongin."

"Ajushi, sebentar... aku tidak mengerti apa maksudnya ini semua."

"Aku akan membuatmu kembali bisa melihat, tapi aku ingin kau pergi meninggalkan Jongin agar dia mau kembali tinggal denganku. Setelah dia kembali dan kau bisa melihat lagi kau boleh kembali bertemu dengannya."

Kyungsoo menerima tawaran ayah Jongin. Kyungsoo tidak tahu apa keputusannya menerima tawaran ayah Jongin benar atau tidak. Dia hanya berpikir yang terbaik untuk ayah Jongin dan dirinya. Lagi pula, ayah Jongin berjanji akan membiarkan Jongin untuk bertemu lagi dengannya setelah semuanya baik-baik saja.

Sejak saat itu Kyungsoo memilih tinggal bersama ibunya dengan keluarga barunya. Ayah Jongin menepati janjinya, beberapa bulan kemudian Kyungsoo melakukan operasi mata dan Kyungsoo bisa kembali melihat.

.

.

.

.

Back to story...

"Sudah 2 tahun Sehun-ah... Dan ternyata aku tidak bisa bertemu dengan Jongin sampai sekarang. Aku tidak tahu harus mencari kemana. Dan ini semakin sulit karena aku sama sekali tidak tahu bagaimana wajahnya."

Kyungsoo menutup wajahnya dengan hedua tangannya. Mencoba menyembunyikan wajahnya yang berusaha menahan tangis walau akhirnya ia gagal. Kemudian air mata akhirnya membasahi telapak tangan yang menutupi wajahnya.

"Sudahlah, aku katakan padamu untuk tidak membicarakan ini. Aku juga sudah katakan jika aku tidak suka melihat seseorang menangis."

Sehun berusaha menenangkan kakaknya yang mulai tersedu karena menangis. Kyungsoo berhenti menutup wajahnya dengan tangannya sendiri.

"Aku tidak memintamu untuk menghapua air mataku," kata Kyungsoo yang tersedu.

"Kau ini memang kakak ajaib, saat seperti ini masih bisa kau bercanda denganku."

"Jangan katakan tentang ini pada siapa pun. Hanya kau yang tahu dan aku hanya cerita tentang ini padamu."

"Iya, noonaku... aku tidak akan cerita pada siapa pun."

.

.

TBC

.

.

.

안녕... 안녕...

Holla... holla... ^^,

UPDATE!

Author ga akan banyak pesan-pesan mutiara...

Just wait for next chapt yereobun... \(^^,)/

I always waiting your review...

CHU...

CHU...

CHU...

사랑해...

*kisshug*

*XOXO*