WHAT IS HEART FOR ?
.
By : Kimmy
.
Cho Kyuhyun (N), Lee Sungmin (Y), Lee Donghae (N), Cho Heechul (Y), Kim Kibum (N).
.
Genderswitch
.
Romance, Drama, Family
.
.
.
Note: Jangan lupa review untuk chapter ini^^
.
.
.
-0o0-
.
.
.
CHAPTER 9: SHIRT, SHIRT, KYU!
.
Sore hari.
Sepasang kakak beradik Cho sedang melempar komentar. Mereka berada di sebuah kamar Kyuhyun yang kecil dan dipenuhi dengan buku berserakan di mana-mana. Heechul sempat memperingati Kyuhyun dan menyuruh adik laki-lakinya itu untuk membereskan semua bukunya. Tapi alasan Kyuhyun yang konyol membuat Heechul diam seribu bahasa. 'Kamar orang pintar memang seperti ini' Itulah alasan si kurus bermata tajam.
Kini keduanya saling beradu mulut untuk pakaian yang akan dikenakan si adik malam ini. Kyuhyun yang belum pernah merasakan kencan diusia 17 tahun sangat membutuhkan saran dari Heechul, meski ia merasa Heechul sedikit berlebihan.
"Noona, apa ini tidak terlalu formal? Aku kan' bukan pergi ke pesta pernikahan." ujar Kyuhyun saat melihat penampilannya memakai kemeja putih serta tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu yang rapi.
Kyuhyun memutar tubuhnya. Sesaat ia berpikir perawakannya kali ini mirip dengan seorang ajusshi yang akan pergi ke sebuah acara pernikahan. "Aku tidak mau pakai ini." Tolaknya langsung membuka tuxedo hitam itu. Kyuhyun juga membuka dasi dan kancing kemejanya, bersiap untuk melepas pakaian atas yang ia rasa tidak cocok dipakai untuk berkencan.
"Kau ini bagaimana. Kalau kau mau berkencan, harus memakai pakaian yang rapi." ujar Heechul berkacak pinggang. Sudah empat baju yang Heechul pilihkan, namun satupun tidak ada yang cocok.
"Tapi aku bukan mengajaknya makan di restoran mewah. Aku mau pakaian yang sederhana dan tidak seformal ini." kata Kyuhyun sambil membuka kemejanya dan menaruh kemeja putih itu di atas ranjang.
Kini Kyuhyun tak memakai baju apapun. Ia hanya memakai celana hitam. Pemandangan itu sedikit mengganggu perhatian Heechul. Bagaimana pun juga, Heechul dan Kyuhyun adalah orang dewasa. Sudah sepantasnya mereka saling menutup diri. Namun Kyuhyun sama sekali tidak malu jika telanjang dada di depan orang tua dan noonanya, Kyuhyun bahkan seringkali mondar-mandir di dalam rumah hanya memakai boxernya tanpa pakaian apapun ketika keadaan rumah sedang sepi.
Heechul sedikit mundur saat melihat Kyuhyun sibuk merogoh lemarinya dan mencari pakaian lain dengan tak mengenakan baju apapun, tubuh kurus nyaris tak berdaging itu terlihat sangat jelas. Heechul memang tidak berpikir macam-macam, ia juga sering melihat Kyuhyun tidak berpakaian seperti ini, tapi ia merasa sedikit canggung jika sang adik telanjang dada di depannya, belum lagi mereka berada di kamar yang tertutup.
"Eoh, celana ini." Kyuhyun melebarkan senyumannya ketika melihat sebuah celana dark blue jeans yang sejak tiga tahun tidak ia pakai. Celana itu adalah celana yang diberikan oleh Yongwoon sebagai kado ulang tahun ke empat belas. Karena selalu kedodoran, Kyuhyun tidak pernah memakainya. Ia senang, akhirnya menemukan pakaian lamanya itu. Ia berharap celana itu sudah muat dipakainya sekarang.
"Ya! Ya! Cho Kyuhyun!" Heechul mulai meninggikan suaranya ketika melihat aksi si bocah kurus yang membuka kancing celana hitamnya kemudian perlahan menurunkan celana itu.
"Waeyo?" Kyuhyun menoleh Heechul.
Terang saja Heechul terkejut. Si setan kecil yang bodoh ini mau membuka celananya di hadapan Heechul? Belum lagi ia sedang telanjang dada sekarang. Heechul benar-benar kesal dan kali ini ia tidak bisa tinggal diam. Melihat adik laki-lakinya telanjang bulat di hadapannya dan di kamar yang tertutup adalah hal yang konyol. Heechul pun mengambil sebuah kaos yang tergeletak kemudian melecutkan baju itu pada Kyuhyun seperti cambuk.
"Ah~ noona, waeyo?!" Kyuhyun menghindari Heechul karena pukulan itu mengenai tepat pada punggungnya yang telanjang.
"Berani sekali kau telanjang dihadapanku. Cepat pakai lagi celanamu." Ucap Heechul.
"Ah, Ne, ne… Ya~! Sudah, sudah, noona. Sakit!" Kyuhyun memohon pada Heechul agar berhenti mencambuknya dengan kaos polos.
"Kau ini!" Heechul kini melipat tangan dengan kesal. "Badan kurus tidak berdaging seperti itu diperlihatkan padaku." Cibir Heechul.
"Kenapa kau malu? Kita kan' terbiasa mandi bersama dulu."
Heechul menatap Kyuhyun dengan wajah mencibir. Dahulu, kedua kakak beradik yang berbeda usia enam tahun ini suka mandi bersama. Yoonji yang terkadang sibuk bekerja mengurus toko roti itu meminta tolong Heechul untuk memandikan Kyuhyun, Pada saat itu si bocah setan masih berusia tiga tahun dan sangat manja, ia juga belum bisa mandi sendiri. Setiap kali memandikan Kyuhyun, Heechul ikut membuka bajunya dan mandi bersama sang adik. Terkadang, mereka juga terlalu asik untuk bermain air sehingga betah berjam-jam di dalam kamar mandi sampai kedua tangan mereka keriput dan kena marah Yoonji.
"Itu sudah beberapa tahun yang lalu, babo." Heechul langsung mengambil satu langkah ke belakang sambil memeluk tubuhnya, seakan menutupi diri yang dahulu pernah telanjang di depan Kyuhyun.
"Yasudah kalau begitu kau berbalik badan. Aku mau mengganti celana."
"Anio. Kenapa pake jeans?"
"Aku tidak mau pakai celana seperti ini," Kyuhyun menunjuk pada celana hitam yang dipakainya. Celana itu adalah setelan kemeja putih dan tuxedo yang tadi ia coba. "Pokoknya aku mau pakai jeans."
"Kau ini minta bantuanku tapi banyak menawar." Heechul mulai pasrah dengan pilihan Kyuhyun. Lalu untuk apa dirinya di sini jika Kyuhyun ingin memilih pakaiannya sendiri? Dasar bocah aneh.
"Cepat sana berbalik." Pinta Kyuhyun yang bersiap membuka celananya.
Heechul pun menurut. Ia membalikkan tubuhnya, ia menghadap pada pintu yang tertutup. Tepat di belakang pintu terdapat beberapa sabuk yang tergantung dengan berantakan serta kaos yang kotor namun belum Kyuhyun cuci. Aih~ bocah ini selalu saja malas mencuci baju kotornya. Tidak hanya di sudut kamar, baju kotor si setan kecil ini rupanya menumpuk juga di gantungan belakang pintu. Tiba-tiba Heechul melihat sebuah kemeja berwarna hijau kotak-kotak yang digantung menggunakan hanger. Berbeda dengan baju lain yang digantung asal, kemeja ini masih tampak rapi dan tidak kusut karena Kyuhyun tak pernah memakainya.
Sambil menunggu Kyuhyun berganti celana, Heechul mengambil kemeja yang tergantung dengan rapi itu di balik pintu kamar Kyuhyun. Ia pun menunjukkan kemeja itu pada sang adik.
"Kau pakai ini, ya." usul Heechul.
"Kemeja lagi?" Kyuhyun pun menaruh kedua tangannya di pinggang.
"Ayolah, ini tidak formal."
"Aku tidak mau pakai kemeja." Beribu kali Kyuhyun menolak jika ia harus memakai kemeja malam ini. Kyuhyun tidak suka dengan kemeja. Menurutnya kemeja itu membuat ia tidak bebas bergerak karena tidak elastis seperti bahan kaos. Ia bahkan sering membuka kemejanya di sekolah dan hanya memakai kaos putih dengan ditutupi almamater sekolahnya.
"Kau harus pakai kemeja. Penampilanmu akan rapi." Usul Heechul tak ingin kalah.
"Aku tidak mau. Tidak mau. Jangan kemeja."
"Pokoknya kemeja! Sekali kemeja tetap kemeja!"
Kyuhyun menekuk bibirnya. Ia terdiam. Ia kalah berdebat dengan Heechul. "Tapi–"
"Percaya saja padaku." Heechul pun melepaskan kemeja itu dari hangernya. "Pakai ini." Heechul memberikan kemeja hijau pada Kyuhyun.
Kyuhyun menghela nafas pasrah. Ia yang sejak pagi kebingungan memilih baju, ia juga yang membutuhkan bantuan Heechul untuk mengubah penampilannya menjadi lebih baik di mata Sungmin malam ini. Karena itu Kyuhyun harus pasrah dengan pilihan yang Heechul pilihkan untuknya.
Kyuhyun mengambil kemeja kotak-kotak hijau tua di tangan Heechul dan memakainya. Tak lupa, Heechul juga menyuruh Kyuhyun untuk memasukkan kemejanya ke dalam celana.
"Jangan dimasukkan. Nanti penampilanku jadi culun."
"Diam saja kau, banyak bicara."
Heechul yang terlampau kesal dengan sikap protes Kyuhyun akhirnya bergerak sendiri. Setelah kemeja itu terpasang di tubuh Kyuhyun, Heechul memasukkan kemeja ke dalam celana kemudian merapikan kemeja itu dengan baik. Kyuhyun lagi-lagi hanya bisa diam. Ia seperti anak SD yang tengah dibenahi oleh ibunya. Tak hanya itu, Heechul juga membuka kancing lengan kemeja yang panjang dan menggulungnya hingga ke bawah siku.
"Kau bilang tidak ingin terlalu formal, kan'?" Heechul merapikan gulungan kemeja Kyuhyun di kedua lengan laki-laki itu. "Nah, sudah."
Kyuhyun menghadap cermin dan memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Kini penampilan Kyuhyun tidak seformal yang ia bayangkan. Kemeja hijau kotak-kotakitu cocok dengan tubuhnya yang kurus, dipadukan dengan dark blue jeans dan sabuk hitam yang melingkar di pinggangnya. "Bagus juga." Kyuhyun akhirnya berkomentar positif setelah beberapa kali mengganti pakaiannya.
"Kau tidak punya sisir?" tanya Heechul melirik pada meja Kyuhyun yang penuh dengan buku dan alat tulis yang berserakan.
"Tidak." Ucap Kyuhyun berbohong. Ia punya sisir namun tidak pernah memakainya.
"Sisir rambutmu. Berantakan sekali."
"Tidak mau."
"Katanya kau mau tampil rapi di depan Sungmin." Heechul melipat tangan.
"Pokoknya aku tidak mau menyisir rambutku dengan sisir."
Terserah kau bocah setan! Heechul sudah malas berdebat dengan Kyuhyun tentang hal sepele. Ia kembali menghampiri lemari Kyuhyun yang terdapat tumpukan sweater dan jaket. Heechul mengambil mantel panjang milik Kyuhyun yang berwarna hitam. Ia memberikannya pada Kyuhyun. "Pakai ini. Di luar dingin." Perintah Heechul lembut.
Kyuhyun memakainya, lalu kembali bercermin. Ia melihat dirinya yang sudah terbungkus sempurna dengan pakaian sederhana namun rapi berkat baju pilihan sang noona. Kyuhyun pun merapikan rambut dengan jari-jarinya yang panjang. Cukup dengan sentuhan jarinya untuk merapikan rambut, Kyuhyun merasa dirinya sudah rapi dan siap untuk menemui pujaan hatinya.
Kyuhyun tersenyum lalu melirik Heechul. "Gomawo." Kyuhyun akhirnya menerima pakaian yang disarankan Heechul untuk yang kelima kali.
Heechul mengangguk dengan senyuman. Dalam hatinya ia sedang bergumam dengan keras. 'Untuk penampilan yang sangat biasa seperti ini saja harus mengganggu aku! Aku rasa dia bisa memilih baju sendiri. Dasar bocah aneh.'
Bagaimana tidak, Heechul sempat kesal karena Kyuhyun masuk ke kamarnya ketika ia sedang asik menikmati film Jepang Taiyou no Uta. Heechul bahkan terbawa perasaan dan merasa rindu dengan Hangeng karena menonton film itu. Dan seketika Kyuhyun masuk ke kamarnya lalu melompat-lompat di atas ranjang hingga Heechul bersedia membantu Kyuhyun memilih baju untuk kencan dengan Sungmin malam ini.
Kakak perempuannya itu tak sepenuhnya marah pada Kyuhyun. Ia hanya kesal. Wajar saja, Kyuhyun tidak pernah sepanik ini saat ia akan berkencan dengan Yuri dahulu. Kyuhyun bahkan tidak mempedulikan penampilannya di depan Yuri. Heechul menatapi Kyuhyun sambil bergumam mengenai Kyuhyun yang semakin hari semakin aneh tingkahnya. Laki-laki berambut ikal itu kini masih bercermin dan merapikan rambutnya. Sesekali Kyuhyun juga mengelus dagunya sambil tersenyum, ia mempraktekkan senyuman seperti apa yang harus ia berikan pada Sungmin malam ini.
"Memangnnya kau mau mengajak Sungmin makan malam di mana?" tanya Heechul sambil merapikan kerah mantel hitam Kyuhyun dari samping.
"Di tempat rahasia." Kyuhyun masih bercermin.
"Kau tidak akan mengajak Sungmin untuk makan di restoran mahal lalu memintanya untuk membayar semua, kan'?"
"Aish! Aku tidak pernah melakukan hal bodoh itu pada perempuan." Kyuhyun membela diri. Kini ia menoleh pada Heechul. Teganya Heechul menuduh Kyuhyun akan memanfaatkan Sungmin di hari kencan istimewa ini.
Heechul melipat tangan lalu melirik Kyuhyun dengan sinis. "Karena kau pernah melakukan hal itu padaku."
Heechul ingat bagaimana tingkah menyebalkan si setan kecil ini padanya dahulu. Saat itu Heechul baru saja mendapat upah pertamanya dari bekerja paruh waktu di sebuah butik. Kyuhyun mengajak Heechul untuk makan malam di luar. Saat itu pula kedua orang tua mereka tidak ada karena sedang menengok keluarga yang sakit di rumah sakit. Kyuhyun membawa Heechul ke sebuah restoran dan dengan lahapnya Kyuhyun memakan hampir semua menu favorit yang tersedia di sana. Parahnya lagi, tanpa rasa malu, Kyuhyun meminta Heechul yang membayar semua makanan yang sudah mereka makan. Sejak malam itu hingga tiga hari kedepan Heechul enggan berbicara dengan Kyuhyun. Heechul bahkan tidak ingin melirik atau sekedar menyapa Kyuhyun yang berada satu rumah dengannya. Dasar setan kecil! Otak licik! Anak itu sangat keterlaluan karena menghabiskan hampir seluruh upah pertamanya.
"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku sudah berjanji padamu." Ucap Kyuhyun penuh rasa bersalah karena tingkahnya tiga tahun lalu itu.
Heechul hanya menghela nafas. Itu sudah terjadi. Dan Kyuhyun sudah mengakui kesalahannya. Masalah itu sudah selesai di waktu lama dan kini Heechul hanya memperingati Kyuhyun untuk tidak lagi berbuat seperti itu.
"Jadi, kemana kau akan membawa Sungmin malam ini?" Heechul masih menaruh rasa penasaran.
Kyuhyun merangkul bahu Heechul. "Ke tempat yang sangat romantis. Aku yakin kau tidak akan percaya dengan apa yang aku lakukan malam ini." Ucapnya penuh percaya diri.
Heechul menyipitkan matanya. Kyuhyun tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Tempat romantis, katanya? Heechul sangat mengenal Kyuhyun, ia bukan tipe laki-laki romantis yang selalu memberikan kejutan romantis para perempuan. "Aku curiga padamu." Ungkap Heechul seraya berpikir.
"Aish, kau tidak boleh berprasangka buruk. Aku yakin malam ini Sungmin akan senang dengan rencana kencan yang kubuat." Kyuhyun tersenyum miring.
"Terserah kau saja, setan kecil." Ucap Heechul sedikit berbisik. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00. "Sepertinya kau harus pergi sekarang, Kyu." Kata Heechul. Kyuhyun melirik jam tangan coklat berbahan kulit yang melilit di pergelangan tangannya kemudian mengangguk.
"Tunggu dulu," Kyuhyun berpikir sejenak. "Apa yang harus aku katakan saat pertama bertemu dengannya?" Kyuhyun kebingungan.
"Kau bilang ingin membuat kencan romantis, tapi untuk berbicara dengan Sungmin saja kau kebingungan," Heechul menggeleng pelan. "Apa yang biasa kau lakukan saat bertemu dengan Sungmin?" Tanya balik Heechul.
Kyuhyun berpikir. "Membentaknya." Jawab Kyuhyun datar. Heechul sedikit terkejut dengan jawaban Kyuhyun. Dasar laki-laki yang tidak berperasaan. Pikir Heechul mengejek adiknya sendiri.
"Kau tidak boleh membentaknya! Kau mau acara kencanmu hancur, hah?" Omel Heechul.
Kyuhyun hanya menghela nafas sambil menunduk. "Lalu harus bagaimana?"
Heechul pun tersenyum. Ia menarik bahu Kyuhyun dan laki-laki itu pun sedikit membungkuk. Heechul membisikkan sesuatu pada Kyuhyun, membuat ekspresi wajah Kyuhyun sedikit terbelalak. Heechul memberitahu apa saja yang harus dilakukan agar kencan mereka sangat berkesan. Dengan penuh kesabaran dan rasa percaya diri akhirnya Kyuhyun pun mengangguk bertanda setuju dengan ide Heechul.
.
.
.
-0o0-
.
.
.
Pukul 07.05.
Seorang perempuan cantik berambut kemerahan kini memilih untuk menggulung rambutnya yang panjang. Terdapat pula sebuah jepit rambut yang terpasang di sisi kanan kepalanya. Ia sudah tiba di taman, tempat yang sudah dijanjikan Kyuhyun sebelumnya. Matanya yang bulat melirik ke segala arah, ia mencari sosok laki-laki yang berjanji akan menemuinya pukul 7 malam ini. Setiap kali angin berhembus, Sungmin mengeratkan pakaian yang dikenakannya.
Malam ini ia terlihat sangat cantik dengan polesan make up tipis dengan short tight dress berwarna hitam berlengan panjang yang tertutupi oleh mantel berbulu berwarna coklat. Kaki jenjangnya dibalut stocking hitam untuk menghindari dinginnya angin malam. Di kakinya terpasang boots heels dengan tinggi tiga senti.
Sambil terus memasang pandangannya di tempat sepi itu, Sungmin melangkah pelan di jalan setapak. Langkah dari sepatu boots hitamnya diterangi oleh cahaya lampu taman yang tinggi dan berjajar hingga ujung jalan. Sungmin sesekali melirik jam tangannya. Ia teringat dahulu pernah berjanji dengan Kyuhyun di tempat ini dan Kyuhyun marah besar karena dirinya terlambat dua menit. Saat itu keadaan hati keduanya sedang tidak baik sehingga sedikit saja terjadi kesalahan, maka akan dibesar-besarkan.
Tapi tidak untuk hari ini. Keduanya berjanji di taman yang sama dengan suasana hati yang berbeda. Untuk pertama kalinya setelah hampir tiga tahun silam ia tidak lagi berkencan dengan laki-laki. Sungmin sesekali merapikan poni tengahnya sambil mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu Kyuhyun. Siang itu Kyuhyun datang ke rumahnya dengan beberapa kotak roti di pesta perayaan ulang tahunnya. Sungmin sempat putus asa karena ternyata Kyuhyun sangat berbeda dengan laki-laki lain. Pemarah, angkuh, egois, gengsian, tidak sopan. Tapi hatinya yang sudah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu itu membuang semua rasa putus asa Sungmin akan semua sikap buruk Kyuhyun.
SREK!
Sungmin dikagetkan dengan suara aneh yang datang dari atas pohon. Sungmin menghentikan langkahnya dengan perasaan ketakutan. 'Suara apa itu?' ia bergumam dan berharap suara itu bukan suara pencuri, ataupun suara hantu yang mengganggu.
SREK!
Lagi-lagi suara itu terdengar dari atas pohon. Sungmin melihat sebuah pohon yang dahannya tergoyang begitu saja, padahal tidak ada angin kencang yang menerpanya. Apa itu? Hantu? Bulu kuduk Sungmin seketika berdiri karena takut dengan apa yang ia lihat. Namun tiba-tiba…
"Aaaa!"
BRUK!
"Argh!" terdengar seseorang berteriak jatuh kemudian meringis.
Sungmin mengerutkan dahi. Suara teriakan dan ringisan itu cukup familiar untuknya. Sungmin segera menghampiri pohon besar itu dan melihat seseorang berpakaian kemeja hijau kotak-kotak yang terduduk di tanah di balik pohon. "Kyuhyun?"
Laki-laki itu adalah Kyuhyun. Sial! Sungmin menemukan Kyuhyun yang baru saja terjatuh dengan tidak indah dari atas pohon. Benar-benar kesan pertama yang memalukan di kencan pertama. Padahal Kyuhyun sudah menyusun rencana sebaik mungkin dan seromantis mungkin untuk pertemuan mereka malam ini, tapi ternyata rencana itu gagal total.
"Kau baik-baik saja?" Sungmin langsung berlutut menghampiri Kyuhyun.
"A-aku tidak apa-apa." Sesegera mungkin Kyuhyun bangkit berdiri, dibantu Sungmin yang memegangi lengannya. Kyuhyun tak ingin melihat wajah Sungmin detik ini karena ia benar-benar malu akibat kejadian jatuh dari pohon tadi.
Sial! Sial! Kenapa bisa seperti ini?! Argh! Mau ditaruh di mana wajahku ini. Ia melihat kebodohanku malam ini. Dasar sialan. Pohon sialan! Terus saja Kyuhyun mengumpat seperti itu dalam hati sambil berusaha mengalihkan wajahnya dari Sungmin.
Sungmin mengelus punggung Kyuhyun dengan lembut untuk membersihkan kotoran dari kemeja hijau yang dipakai Kyuhyun. Perempuan itu kemudian tertawa kecil, "Kenapa kau bisa terjatuh dari pohon, Kyu?" tanyanya.
Kyuhyun hanya diam dengan wajah yang memanas. Betapa malu dirinya saat Sungmin bertanya seperti itu. Argh! Kyuhyun lagi-lagi hanya bisa mengumpat dalam hati karena dirinya terlalu ceroboh. Ia juga menyalahkan Heechul akibat kejadian tadi karena ini semua ide konyol Heechul.
"Ti-tidak apa-apa." Kyuhyun masih belum mau mengaku.
Sungmin kemudian berpindah dan berdiri di depan Kyuhyun. Ia menahan tubuh Kyuhyun yang hendak pergi menghindari Sungmin. "Kyuhyun?" Sungmin sedikit memaksa laki-laki itu untuk jujur.
Kyuhyun pun menghela nafas pasrah. Perlahan kepalanya pun menoleh Sungmin dengan terpaksa. Perempuan itu menuntut kejelasan dari tingkah Kyuhyun yang kaku. Mau tidak mau, Kyuhyun harus mengakui dan jujur tentang rencana pertemuan romantis –yang gagal– itu.
.
Aku bermaksud membuat kejutan untuk Sungmin. Ini kencan pertama kami dan aku ingin setiap detik dari kencan ini sangat berkesan untuknya dan juga untukku. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu aku berada di taman ini menunggu Sungmin. Aku sengaja datang lebih awal karena ada yang harus kulakukan lebih dulu.
Kau tau mengapa aku membawa mantel hitamku ini? Bukan hanya untuk melindungi tubuhku dari hawa dingin malam hari, tetapi juga untuk mengerjai Sungmin. Dengan semua rencana romantis yang sudah kupikirkan, aku pun naik ke atas pohon dengan mantel hitam yang masih menempel di tubuhku. Jangan berpikir aku seperti monyet! Aku ini laki-laki. Tidak ada yang tidak bisa kulakukan. Memanjat pohon itu salah satu kelebihanku yang pernah aku ajarkan juga pada Kibum saat kami membolos dari tempat les kelas tiga SMP.
Begitu sampai di salah satu dahan besar di atas pohon, aku membuka mantel ini. Lalu kugantungkan mantel ini di atas pohon seperti sesosok hantu yang melayang dengan tali yang kuikat dari bawah pohon. Hahaha… belum terjadi saja aku sudah tertawa. Sungmin pasti akan takut dengan kejahilanku ini.
Kejahilan ini adalah murni ideku sendiri. Awalnya, sebelum pergi ke taman, Heechul menyuruhku untuk bersembunyi lalu mengagetkannya dari belakang. Tapi kupikir itu terlalu romantis. Itu benar-benar bukan diriku. Karena itu aku mengubahnya dengan menakut-nakuti Sungmin sementara aku bersembunyi.
Begitu Sungmin lewat, ia pasti akan melihat mantel hitamku yang menggelantung tanpa kaki. Aku yakin siapapun pasti terkejut mendapati sosok hantu mantel hitam. Lebih lucunya lagi jika berteriak dan membeku di tempat. Pasti ia akan seperti itu. Siapapun pasti akan kaku melihat hantu di hadapannya secara langsung.
Kemudian yang Sungmin lakukan selanjutnya adalah membalikkan badan dan hendak berlari. Ya~ Disaat itulah aku muncul. Tepat ketika Sungmin berbalik badan. Aku tidak akan menakut-nakutinya lagi. Tapi aku akan menangkap tubuhnya yang merinding ketakutan dan akan kudekap tubuhnya hingga ia merasa tenang. Good idea, bukan?! Dengan pelukan hangat ini, aku sudah siapkan senyuman maut yang sudah kupraktekkan di rumah. Aku akan tersenyum padanya dan menyambut malam kencan pertama kami dengan berucap, "Selamat malam, Lee Sungmin noona."
.
"…Tapi aku terpeleset karena dahan pohon itu licin." Ungkap Kyuhyun yang menceritakan kegagalannya. Padahal ia sudah membayangkan betapa romantisnya ia memeluk Sungmin dan menenangkan perempuan itu dari ketakutan.
Sungmin dengan seksama mendengarkan rencana Kyuhyun mengerjainya. Sungmin tersenyum malu saat Kyuhyun mengungkapkan bahwa dirinya ingin memeluk Sungmin di detik-detik pertemuan kencan pertama mereka. Namun senyuman itu berubah menjadi tawa. Sungguh konyol! Mengapa ia tidak mengikuti rencana Heechul saja? Inilah akibatnya jika Kyuhyun berani-berani untuk menjahili Sungmin. Ah, Kyu. Tidak pada noona, tidak pada teman-teman, bahkan pada orang yang disukainya. Kejahilan itu tetaplah melekat kuat pada diri si ikal menyebalkan ini. Padahal Heechul ingin Kyuhyun bersikap lebih romantis dan lebih sering tertawa dengan Sungmin daripada bertengkar. Tapi sayangnya, Kyuhyun tidak berhasil melakukan sambutan romantis untuk kencan pertamanya itu.
Kyuhyun dan Sungmin berjalan dan duduk di sebuah kursi besi yang tak jauh dari pohon tempat Kyuhyun terjatuh tadi. Sambil memegangi mantel hitam miliknya, Kyuhyun pun berjalan menahan kakinya yang kesakitan karena terlalu keras menginjak bumi ketika terjatuh tadi.
"Sudah, jangan tertawa." Kyuhyun melirik Sungmin dengan tatapan kesal. Ia pun mengelus-elus punggung bawahnya. "Sekarang pinggangku sakit semua." Keluh laki-laki itu.
Sungmin yang duduk di sebelah Kyuhyun pun meredakan tawanya. Meski ia belum puas, tetapi ia harus berhenti menertawakan Kyuhyun. "Apa benar-benar sakit?"
"Kau pikir jatuh dari pohon adalah bagian dari skenarioku?"
Sungmin lagi-lagi mendapati Kyuhyun yang mengomel. Kyuhyun seketika lupa bahwa malam ini adalah malam kencannya dengan Sungmin. Kyuhyun juga melupakan janjinya pada Heechul yang mengatakan bahwa ia tidak akan mengomel atau marah-marah pada Sungmin malam ini.
"Kalau sakit, sebaiknya kita pulang saja, Kyu."
Pulang katanya?! Yang benar saja! Kyuhyun sudah tiga jam bersusah payah mencari setelan baju yang pas untuk dipakai berkencan malam ini. Ia bahkan sempat berdebat dengan Heechul karena awalnya ia tidak ingin memakai kemeja. "Tidak mau." Tolak Kyuhyun. "Lalu makan malam kita, bagaimana?"
Sungmin terdiam sejenak. ia memandangi wajah Kyuhyun yang polos mengakui bahwa malam ini Kyuhyun benar-benar ingin berkencan dengannya. Perempuan itu pun tersenyum tipis. "Kalau begitu, sekarang kita makan malam. Kemana kita akan pergi, sekarang?" tanya Sungmin.
"Tidak kemana-mana. Di sini saja." Jawab Kyuhyun.
"Di… tempat ini?"
Kyuhyun mengangguk. Ia pun membungkuk, Kyuhyun menarik sesuatu yang ada di bawah kursi besi yang mereka duduki. Sungmin menoleh ke bawahnya. Ia mendapati sebuah keranjang makanan besar yang ternyata sudah disembunyikan Kyuhyun sejak awal di bawah sana. Kyuhyun mengangkat keranjang makanan itu dan menaruhnya di antara mereka berdua.
Apa yang dibawa anak laki-laki ini? Sungmin benar-benar kehabisan akal untuk menebak apa yang sedang direncanakannya. Kyuhyun mulai membuka keranjang makanan itu dan mengeluarkan isinya. Sungmin mengangkat alisnya ketika melihat Kyuhyun mengeluarkan dua kotak makan, dua kaleng ginseng dan satu plastik buah berisi anggur, blueberry dan strawberry yang segar.
Sungmin hanya terkekeh begitu melihat semua makanan itu. Ini yang disebut makan malam menurut Kyuhyun. Tak harus tempat mewah, tak harus makanan mahal dari restoran berbintang, tak harus berpakaian formal layaknya seorang pejabat. Cukup dengan kehadiran dua orang yang berkencan, satu keranjang besar berisi makanan sehat untuk makan malam, serta tempat yang bisa membuat suasana makan malam mereka tidak terganggu.
"Aku tidak punya uang untuk mengajakmu makan ke restoran mahal. Aku juga tidak mau minta uang pada appa. Lebih baik seperti ini, kan'? Ini juga disebut makan malam bersama." Kyuhyun tersenyum tipis. Tangannya masih bekerja mengeluarkan satu persatu kotak makan yang dibawanya dari rumah.
Ucapan Kyuhyun itu menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak Sungmin yang sejak tadi ia pikirkan. Sungmin pun tersenyum dan mengangguk. "Kau pintar juga."
"Tentu saja. Aku kan' siswa berprestasi di sekolah." ucap Kyuhyun membanggakan dirinya.
Sungmin tertawa miring. Meski laki-laki ini sudah berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik, namun Kyuhyun tetaplah Kyuhyun yang angkuh dan percaya diri. Ia sangat membanggakan dirinya yang berprestasi di sekolah. Padahal ia tidak tau bahwa dibalik prestasinya itu para guru berharap Kyuhyun segera lulus dan keluar dari sekolah karena seringkali berbuat ulah. Sungmin menatapi Kyuhyun dalam diam. Sudah lama Sungmin menginginkan suasana seperti ini. Tidak ada amarah, tidak ada saling benci, yang ada hanya bunyi perut Kyuhyun dan dirinya yang mulai kelaparan.
"Jadi, siswa yang berprestasi, makanan apa yang kau bawa?" tanya Sungmin bercanda.
Kyuhyun ikut tersenyum dengan sebutan yang diberikan Sungmin padanya. "Ini makan malammu. Dan ini milikku." Kyuhyun memberikan satu kotak makan dan sepasang sumpit pada Sungmin. Sementara dipangkuannya juga terdapat kotak makan dan sumpit lainnya.
Mereka membuka kotak makan itu bersama-sama. Makanan yang ada dihadapan mereka saat ini adalah hidangan makan malam yang dicuri Kyuhyun dari meja makan sebelum berangkat menemui Sungmin. Kyuhyun melirik Sungmin sejenak, ia ingin tau bagaimana ekspresi wajah perempuan itu ketika melihat isi kotak makannya. Ayolah, jangan menampakkan wajah kecewamu padaku malam ini. Kyuhyun mulai harap-harap cemas.
Sungmin tersenyum begitu melihat isi kotak makannya. Senyuman itu, ah~ tepat dengan apa yang Kyuhyun inginkan. "Aku kenal makanan ini." Ucap Sungmin melirik Kyuhyun dengan senyumannya yang manis. Meski Sungmin sangat jarang makan malam bersama keluarga Cho, tetapi ia rindu dengan sajian makanan khas Korea yang selalu Yoonji siapkan untuk makan malam.
"Kau suka?" Tanya Kyuhyun sedikit ragu.
Sungmin langsung mengangguk. "Aku merindukan masakan eomoni."
Mendengar jawaban Sungmin, Kyuhyun ikut tersenyum. Syukurlah, makanan yang dibawa Kyuhyun ternyata sangat mendukung kencan pertamanya bersama Sungmin malam ini.
Kyuhyun dan Sungmin mulai memakan makanan mereka masing-masing. Kyuhyun melirik Sungmin yang mulai mencicipi makanannya dengan sendok. Kebiasaan yang tak pernah berubah dari Sungmin adalah ia kaku untuk makan dengan sumpit. Sejak dulu Sungmin selalu diajarkan makan menggunakan sendok, garpu dan pisau. Dan kebiasaan itu terbawa hingga kini. Meski sudah bertahun-tahun tinggal di Korea, Ia tidak terbiasa makan menggunakan sumpit di rumah ataupun di luar rumah.
Keduanya mulai menikmati makan malam sederhana yang disiapkan Kyuhyun. Sungmin melirik kotak makan Kyuhyun dan ia pun protes karena ternyata jatah makanan dalam kotak milik Kyuhyun lebih banyak. Rupanya laki-laki itu sengaja menaruh porsi lebih di kotak makannya. Sungmin yang tidak terima akhirnya mengambil beberapa daging yang telah dipotong kecil dari kotak makan Kyuhyun. Tentu saja hal itu membuat Kyuhyun geram dan marah. Ia pun membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Sungmin. Dengan sedikit sembunyi-sembunyi Kyuhyun mulai kembali memakan makanannya.
Sungmin tertawa kecil melihat tingkah kekanak-kanakan Kyuhyun. Laki-laki itu seakan sedang menyembunyikan harta karun di dalam dekapannya sehingga Sungmin sulit merampasnya. Merasa gemas dengan tingkah Kyuhyun, Sungmin pun mulai menjahili Kyuhyun yang sedang asik menikmati makanannya. Ia mencubit pipi Kyuhyun yang penuh dengan makanan, hal itu membuat Kyuhyun hampir saja memuntahkan makanannya karena mulutnya sedikit terbuka. Kyuhyun langsung melepas kotak makannya dan menyingkirkan tangan Sungmin dengan dahi yang mengerut kesal. Tingkah Kyuhyun lagi-lagi membuat Sungmin tertawa. Menjahili Kyuhyun saat sedang makan memang waktu yang tepat. Karena Kyuhyun akan terfokus pada makanannya tanpa memikirkan sekitar, hingga dengan mudah Sungmin bisa menjahili si laki-laki pemarah itu.
Ada satu hal yang tidak diketahui Sungmin. Makanan yang ia makan bersama Kyuhyun ini adalah hidangan yang disiapkan oleh Yoonji untuk makan malam keluarga Cho. Yoonji selalu membuat makan malam di sore hari dan menaruhnya di dapur begitu saja, lalu kembali ke toko untuk berjaga. Biasanya, makan malam yang telah dibuat Yoonji akan dipanaskan saat semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Saat tidak ada orang yang melihat, si bungsu yang jahil ini sesegera mungkin memasukkan semua makanan ke dalam dua kotak makan untuk makan malam dirinya dan Sungmin. Kyuhyun juga mencuri beberapa stok buah favorit Heechul.
Kyuhyun tidak tau saja jika saat ini Yoonji sedang panik dan sibuk memasak untuk makan malam mereka karena semua makanan yang telah ia buat menghilang tanpa sisa. Heechul pun menjadi tumbal Yoonji untuk membantu memasak sebelum Yongwoon kembali dari toko. Heechul kini tengah menggerutu kesal. Bocah setan sialan! Kuhajar kau jika sudah pulang nanti. Bisa-bisanya kau merampas semua masakan untuk makan malam kami. Arrrgh!
.
.
.
Tak lama kemudian. Makan malam pun selesai. Sungmin dan Kyuhyun menghabiskan makanan mereka dengan sedikit berdebatan karena Sungmin dan Kyuhyun saling menjahili satu sama lain. Suasana makan malam Kyuhyun dan Sungmin penuh dengan canda tawa, tidak seperti biasanya yang penuh dengan dendam dan amarah.
Setelah makan malam, Kyuhyun dan Sungmin membereskan semua alat makan mereka ke dalam keranjang besar. Kyuhyun mengeluarkan minuman kaleng kesukaannya sementara Sungmin meminum ginsengnya yang belum habis. Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman.
Sambil berjalan santai di jalan setapak, Kyuhyun dan Sungmin berbincang-bincang dengan bercanda tawa. Sungmin merasa sangat senang, ia tidak menyangka malam ini bisa selalu tertawa setiap sepuluh detik sekali karena mendengar cerita keseharian laki-laki itu dan semua kejadian lucu yang ia alami di sekolah. Termasuk kejadian dimana ia mengurung pelatih basketnya dengan lima ekor katak. Kyuhyun juga menceritakan kejadian saat ia menyuruh para juniornya untuk membeli banyak makanan dan minuman ke supermarket, padahal saat itu waktu latihan basket sedang berlangsung. Terang saja Sungmin tertawa. Kyuhyun benar-benar melakukan hal konyol setiap kali menjahili orang lain.
Cerita mengenai kejahilan terus berlanjut, hingga akhirnya keduanya memilih untuk menaiki jembatan yang ada di taman itu. Kyuhyun dan Sungmin saling bertatapan penuh arti ketika melihat jembatan yang mereka pijak saat ini. Tepat di bawah jembatan ini adalah tempat persembunyian Kyuhyun dan Sungmin saat mereka dikejar wartawan beberapa waktu lalu. Di saat sedang bertengkar hebat, para wartawan pun datang dan mengharuskan Kyuhyun dan Sungmin bekerjasama untuk bersembunyi. Mereka seharusnya berterima kasih pada para wartawan karena setelah bersembunyi di bawah jembatan, amarah keduanya mulai mereda dan mereka tidak lagi beradu mulut.
"Kau bodoh."
"Tidak. Kau yang bodoh. Kubilang kita harus lari."
Keduanya kemudian tertawa bersama. Mereka mengenang kejadian saat keduanya tengah berdebat di taman. Ucapan itu pernah mereka ucapkan dahulu, tepatnya sebelum mereka bersembunyi di bawah jembatan yang sekarang mereka pijak.
"Itulah kenapa aku tidak ingin bercita-cita menjadi artis. Setiap detik kehidupanku selalu menjadi sorotan orang lain. Aku tidak suka." Ungkap Kyuhyun.
Sungmin hanya tersenyum. "Aku juga tidak suka jika kehidupanku diketahui orang lain." Kata Sungmin menatapi kolam dangkal di bawah jembatan. "Aku ingin hidup seperti orang biasa. Tapi sepertinya tidak bisa." Sulit baginya untuk lepas dari dunia entertain. Dirinya selalu mengekor pada sang kakak. Hal itu membuatnya terseret ke dalam dunia kerja sang kakak yang penuh dengan kamera, popularitas, serta penggemar.
"Uhuk! Uhuk!"
Ketika keduanya saling terdiam, tiba-tiba Sungmin menunduk dan terbatuk. Kyuhyun yang tengah memandangi air tenang yang mengalir di bawah jembatan pun menoleh Sungmin. "Kau tidak apa-apa?"
Sungmin tersenyum. "Memangnya aku kenapa?"
"Kau sakit?" Kyuhyun memegang bahu Sungmin, namun secepatnya perempuan itu menurunkan tangan Kyuhyun dari bahunya.
"Aku tidak apa-apa. Kau ini berlebihan."
Kyuhyun terdiam sejenak sambil menatapi Sungmin. Apa perempuan ini sakit lagi? Kyuhyun merasa bersalah karena ternyata tempat berkencannya tidak cocok untuk orang seperti Sungmin yang mudah jatuh sakit. "Bagaimana kalau kita pulang saja?"
"Tidak mau." Sungmin menggeleng. ia melihat wajah Kyuhyun yang mulai panik. Padahal Sungmin hanya batuk biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Aku tidak apa-apa. Wajahmu panik sekali." Karena gemas, Sungmin pun tertawa kecil sambil mengelus pipi Kyuhyun.
DEG!
Ya~ Sungmin. Kau tidak sadar kalau sentuhan tanganmu di pipi Kyuhyun membuat laki-laki berambut ikal ini terpaku sejenak. Kyuhyun tidak bisa melepaskan tatapannya dari Sungmin. Sentuhan tangan Sungmin di pipinya yang berjerawat itu seakan menjadi tombol pause karena Kyuhyun tidak tau harus berbuat apa sekarang.
"Kyuhyun ah?"
"Eoh? Ne?" Kyuhyun hampir saja diam mematung semalaman jika Sungmin tidak menyadarkannya. Kyuhyun bergerak kaku. Ia sedang gugup dan bingung dengan perasaannya sendiri. "Ah, iya, kita masih punya ini." Kyuhyun menunjukkan sesuatu di tangannya. Sungmin tidak menyadari sejak tadi Kyuhyun membawa satu plastik kecil berisi buah-buahan yang ia curi dari kulkas. "Kau mau anggur, strawberry, atau blueberry?"
"Semuanya."
"Aih, kau rakus juga." Kyuhyun berucap pelan.
"Aku mau semuanya."
"Araseo, araseo." Kyuhyun terdiam sejenak sambil berpikir. Dalam satu plastik itu hanya terdapat lima buah blueberry, lima buah strawberry, dan lima buah anggur kecil. Sama seperti Sungmin, Kyuhyun juga menyukai tiga buah itu dan jika Sungmin menginginkan semuanya, maka ia tidak mendapat satu buah pun. Kyuhyun pun melirik Sungmin dengan sebuah ide di kepalanya. "Aku punya permainan."
"Apa?"
Kyuhyun tidak menjawab. Ia memilih untuk berjalan menuruni jembatan untuk pergi ke tempat lain yang dirasanya cukup nyaman untuk melakukan permainan yang ia pikirkan itu. Sungmin masih diam dengan tanda tanya, Ia hanya bisa mengikuti Kyuhyun dari belakang.
Kini Kyuhyun melangkah di atas rumput hijau. Ia mengajak Sungmin mengikutinya. Kyuhyun pun duduk bersila di bawah sana sementara Sungmin masih berdiri, ia diam di hadapan Kyuhyun.
"Di sini tidak kotor. Ayo duduk." Kyuhyun sedikit menenggak.
Sungmin terdiam lalu duduk perlahan di rumput itu. Ia menyilangkan dua kakinya seperti Kyuhyun. Kini kedua orang itu tengah berhadapan dengan jarak lutut yang sangat dekat. Sungmin masih bingung dengan ajakan Kyuhyun.
"Begini permainannya. Kau harus menebak hal yang aku suka dan tidak suka. Begitupula aku. Dan jika tebakanmu benar, kau boleh memakan satu buah. Tapi jika jawabanmu salah, kau tidak boleh memakan buah ini." Kyuhyun menjelaskan permainan like dislike yang pernah ia lakukan dengan teman-teman satu kelasnya ketika perpisahan SMP dahulu. "Araseo?"
"Ne." Sungmin mengangguk mantap.
"Sa-satu lagi."
"Apa?"
"Kau… Ng, kau harus menyuapi orang yang menjawab pertanyaanmu." Kyuhyun berbohong. Tidak seperti itu permainannya. Tapi ia ingin sekali dirinya dan Sungmin melakukan itu.
Sungmin pun tersenyum lalu mengangguk. Entahlah, Sungmin seakan tidak peduli apakah itu hanya akal-akalan Kyuhyun atau bukan, tapi ia setuju dengan ucapan itu.
"Baiklah. Ladies first."
"Okay." Sungmin menarik nafas dan menghela nafasnya terlebih dahulu. "Kau tidak suka menjadi artis?" tanya Sungmin.
"Aish…" Kyuhyun mengeluh pelan. Itu terlalu mudah. Baru beberapa menit yang lalu mereka membicarakan hal itu. Kyuhyun mengangguk. "Ne."
Sungmin tersenyum.
Kyuhyun pun mengambil satu buah strawberry dan menyuapi buah itu ke mulut Sungmin. Tangannya sedikit kaku, namun Sungmin tidak menyadari kalau Kyuhyun sedang gugup sekaligus girang karena menyuapi Sungmin.
"Giliranmu." Ucap Sungmin sambil menutup mulutnya karena masih mengunyah strawberry.
"Kau suka make up?"
"Geurae." Sungmin mengangguk. Tentu saja, ia bahkan menaruh kotak make up di mobilnya untuk berjaga-jaga jika ia tidak sempat merias diri di rumah. Sungmin mengambil satu buah strawberry lalu menyuapi Kyuhyun.
Aya! Kyuhyun lagi-lagi girang dalam hati. Idenya bermain dengan Sungmin rupanya membuat Kyuhyun kesenangan karena inilah kesempatan Sungmin untuk menyuapi Kyuhyun. Kapan lagi? Kyuhyun tersenyum penuh arti.
"Sekarang aku," Sungmin mulai berpikir. "Kau suka bermain game?"
"Kau pasti menebak itu karena melihatku selalu menang bermain game dengan Heechul, kan'?"
"Anio. Aku pernah membereskan semua DVD game di kamarmu, kau ingat?" tanya Sungmin. "Kau juga pernah mengabaikan aku dan asik bermain game." Sungmin mengingat saat ia datang ke toko roti keluarga Cho untuk membawakan beberapa parfum dari Perancis pada Yoonji dan Heechul. Saat itu Kyuhyun tidak menghiraukan Sungmin hingga membuat Sungmin kecewa.
"Ah, geurae. Mi-mianhaeyo." Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyuman penuh kedamaian. Lagi-lagi buah strawberry yang diambil Kyuhyun, ia pun menyuapi buah itu pada Sungmin. "Giliranku. Kau suka macarons?"
"Bagaimana kau tau?" tanya Sungmin tidak menyangka akan tebakan Kyuhyun.
"Tentu saja. Kau dan Heechul sering membuat macarons di rumahku." Memang benar. Setiap kali Sungmin bermain ke rumah Heechul, kedua perempuan itu selalu saja mengambil gula pasir dan beberapa adonan lain di lemari stok untuk membuat macarons. Selain itu, Heechul juga pernah bercerita pada Kyuhyun bahwa dirinya dan Sungmin sama-sama menyukai makanan khas Perancis itu.
Sungmin mengambil satu buah anggur lalu menyuapi buah itu pada Kyuhyun. Anggur tidak memiliki tangkai kecil seperti strawberry, ketika buah itu dicuci Heechul, ia langsung memisahkan batang kecil pada anggur. Sebab itu jemari lentik Sungmin menyentuh bibir Kyuhyun dengan tidak sengaja. Kyuhyun menahan rasa canggungnya ketika Sungmin menyuapi Kyuhyun. Si bocah nakal dan pemberani itu kini menjadi malu. Polosnya, Sungmin tidak menyadari hal itu, ia bahkan tidak sadar bahwa jemarinya yang menyentuh bibir tebal Kyuhyun itu telah membuat si singa galak dan menyebalkan menjadi seekor kucing yang pemalu.
Selanjutnya adalah giliran Sungmin. "Kau… tidak suka aku dekat dengan Kibum?"
Kyuhyun terdiam sejenak. Tebakan itu seratus persen benar. Tentu saja Kyuhyun tidak suka. Ia bahkan menganggapi Kibum adalah musuh terbesarnya untuk mendapatkan hati Sungmin. Tapi itu dulu, ketika Kibum belum mengaku bahwa sebenarnya Sungmin dan Kibum tidak pernah saling suka. Kedekatan mereka hanya karena hobi yang sama yaitu membaca buku.
"Geurae?" tanya Sungmin.
"Aku tidak benar-benar membencimu dan Kibum. A-aku… hanya… tidak suka."
"Kenapa? Kami kan' hanya berteman."
"Karena kedekatan kalian selalu membuatku cemburu." Kyuhyun dengan sedikit lantang berucap seperti itu. Namun sedetik kemudian ia mencerna ucapannya. Cemburu? Kyuhyun terlalu bodoh karena sudah bicara terus terang.
Sungmin seketika terdiam. Sungmin menatap Kyuhyun sambil berpikir apa maksud ucapan laki-laki ikal itu. Tiba-tiba Kyuhyun menyodorkan buah kecil blueberry pada Sungmin.
"Kau benar. Cepat makan ini." Kyuhyun berusaha mengalihkan tatapan Sungmin yang masih berpikir.
Melihat sikap Kyuhyun yang mulai gugup dan salah tingkah itu, akhirnya Sungmin membuka mulutnya dan memakan buah itu.
Sama seperti anggur, buah blueberry pun tidak memiliki batang, buah blueberry bahkan lebih kecil dari anggur hingga dengan mudahnya jemari Kyuhyun merasakan bibir Sungmin. Bibir itu lembut dan hangat. 'Omo! Aku menyentuh bibirnya!' Kyuhyun sendiri tidak mengerti mengapa ia bergumam seperti itu. Padahal Kyuhyun pernah memegang bibir selain Sungmin.
Contohnya bibir Heechul, saat Kyuhyun mencubit mulut Heechul karena membongkar rahasia Kyuhyun yang suka telanjang dada dan berkeliaran di dalam rumah jika tidak ada orang pada teman-teman Heechul. Terang saja laki-laki itu malu ditertawai beberapa teman Heechul. Bibir Yoonji pun pernah Kyuhyun pegang. Kyuhyun yang manja saat masih berusia satu tahun selalu saja memainkan bibir ibunya sambil naik ke atas tubuh Yoonji yang tertidur di ranjang. Terkadang Kyuhyun lebih senang tidur tengkurep di atas tubuh ibunya dengan kaki yang ditekuk, hingga membuat bokong berbalut popok bayi itu sedikit menungging. Tak hanya itu, Kyuhyun juga seringkali menepuk bibir Kibum saat sahabat laki-laki itu menggodanya agar cepat mendapat kekasih.
"Kyuhyun ah," Sungmin menyadarkan Kyuhyun karena tingkahnya yang aneh.
"Eoh?" Kyuhyun tersadar dari lamunannya. Apa yang aneh? Laki-laki kurus itu rupanya masih saja menaruh jemarinya di dekat mulut Sungmin, padahal buah blueberry yang disuapinya sudah diremas habis oleh Sungmin.
"Giliranmu."
"Ah, ne." Kyuhyun langsung menurunkan tangannya. Tangan satunya menggaruk kepalanya bertanda ia sedang kaku. "Gi-giliranku, ya." Kyuhyun pun mulai berpikir tentang hal apa yang disukai dan tidak disukai Sungmin. "Kau suka… aku?" tanya Kyuhyun.
Eh?
'Aish! Tidak, Kyuhyun ah. Kenapa ucapan itu yang keluar dari mulutku!' Kyuhyun mengumpat dalam hati. Kyuhyun benar-benar tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. Pertanyaan itu membuat Sungmin terdiam dan sedikit terbelalak. Tentu saja Sungmin tak pernah menyangka Kyuhyun akan bertanya hal seperti itu.
"A-anio, anio." Kyuhyun mengangkat tangannya dan menggelengkan kepala. Ia ingin mengklarifikasi ucapannya itu. "Maksudku… Ng…" Kyuhyun menunduk sedikit dan melihat kemeja hijau yang ia pakai. Ia pun kemudian kembali menatap Sungmin. "Maksudku ini," Kyuhyun mengangkat sedikit pakaiannya di kedua bahunya. Ia memperlihatkan kemeja yang ia pakai. "Kau… Ng, suka aku memakai kemeja?" tanya Kyuhyun.
Sungmin menyerongkan kepalanya. Pertanyaan apa itu? Kau pikir aku bodoh, Kyu. Sungmin malah tertawa dalam hati. Kyuhyun tidak tau saja kalau Sungmin lebih pandai dalam hal perasaan. Sungmin dengan mudahnya menebak kalau saat ini laki-laki di hadapannya itu tengah gugup karena menyukainya. Sungmin pun tertawa kecil. "Pertanyaan macam apa itu?" Sungmin memilih untuk mencairkan suasana.
"Karena aku ingin tau pendapat orang lain tentangku yang memakai kemeja." Alasan bagus Cho Kyuhyun. Kyuhyun berpikir demikian.
Alasan yang bodoh Cho Kyuhyun. Sebaliknya, Sungmin malah berpikir alasan itu tidak masuk akal. "Aku suka." Sungmin tersenyum. "Kau terlihat lebih rapi dengan kemeja." Ucap Sungmin.
Tanpa disadari, Sungmin memang tidak pernah melihat Kyuhyun menggunakan kemeja. Selalu pakaian berbahan kaos yang laki-laki kurus itu pakai. Pernah sekali Sungmin melihat Kyuhyun memakai kemeja, itu pun kemeja sekolah. Kyuhyun terlihat kusut dengan kemeja itu karena ia memang tidak pernah mendandani dirinya dengan rapi setiap pergi ke sekolah.
Kyuhyun tersenyum lega mendengar ucapan Sungmin. Tidak sia-sia rupanya Kyuhyun meminta saran Heechul karena kemeja yang ia pakai disukai Sungmin. "Ya~ kalau begitu aku akan sering memakai kemeja."
Ini yang membuat Sungmin seringkali tertawa. Bukan bermaksud mengejek, tapi karena ia senang melihat Kyuhyun yang berbeda dari hari-hari biasa. Ia benar-benar menemukan sosok Kyuhyun yang baru. Kyuhyun yang bertingkah aneh, Kyuhyun yang mencoba untuk romantis, Kyuhyun yang selalu gugup, Kyuhyun yang sangat bersahabat. Dan Sungmin benar-benar tidak sadar kalau ia yang membuat Kyuhyun seperti ini.
.
.
.
Permainan tebak-tebakan itu terus saja berlanjut hingga buah di dalam plastik dilahap habis oleh mereka.
Tidak ada yang mengetahui niat Kyuhyun dibalik semua ini. Ya, karena ia ingin tau segala hal tentang Sungmin. Ia sengaja memainkan permainan ini agar ia dan Sungmin bisa mengenal satu sama lain lebih jauh. Dari mulai kesukaan Sungmin pada make up, macarons, dan juga mengoleksi parfum. Serta ketidaksukaan Sungmin pada binatang berbulu seperti kucing atau anjing, dan juga ketidaksukaan Sungmin pada film horror.
Begitu semua buah habis termakan, Kyuhyun pun merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau tepat di sebelah Sungmin. Sungmin melihat Kyuhyun yang mulai menikmati suasana taman yang sepi dan udara yang tidak dingin memeluk mereka di alam terbuka. Sungmin pun mengikuti Kyuhyun dengan merebahkan tubuhnya tepat di sebelah Kyuhyun. Rambut panjang Sungmin yang diikat pun terhempas. Kyuhyun menoleh pada Sungmin, begitu juga dengan perempuan itu. Mereka saling berpandangan sejenak.
Kyuhyun tersenyum pada Sungmin, dan itu membuat Sungmin sedikit terbelalak. Laki-laki yang sejak tadi bertingkah aneh itu memberikan senyumannya. Kyuhyun benar-benar berbeda jika sedang tersenyum. Sungmin terpaku menatap senyuman laki-laki berbibir tebal itu.
Sungmin pun ikut tersenyum. Kali ini Kyuhyun yang terpaku melihat bibir berbentuk M yang menurutnya sangat indah. Dia sangat cantik, sangat-sangat cantik. Gumam Kyuhyun yang terhipnotis. Rupanya seluruh bagian wajah Sungmin bisa menghipnotis Kyuhyun. Dari mulai mata hingga bibir dan dagu.
Kyuhyun tidak mau terus terlarut, bisa-bisa ia tidak bisa tidur karena wajah Sungmin terus ada di dalam bayangannya. Ia pun mengalihkan tatapan. Diliriknya langit hitam yang cukup banyak bintang. Kyuhyun menghela nafas Ah! Lagi-lagi jantungku tidak berkompromi. Kenapa ia terus menerus bergedup kencang! Kyuhyun mengumpat dalam hati. Ia menatapi langit sambil berpikir untuk memulai topik pembicaraan dengan Sungmin. Sementara Sungmin kini ikut menatap langit, melihat banyak taburan bintang menghiasi malamnya dengan Kyuhyun.
"Aku pernah tidur di alam terbuka seperti ini dulu." Ucap Kyuhyun.
"Kapan?" Sungmin menoleh.
Kyuhyun menatapi bintang-bintang di atas langit sambil mengingatnya. "Saat aku masih SMP. Kami sekeluarga sedang berlibur ke pantai. Aku dan Heechul noona serta Hangeng hyung memilih untuk menghabiskan malam di luar." Kenang Kyuhyun.
Sungmin tersenyum. "Sepertinya Hangeng orang yang sangat dekat dengan keluargamu."
Kyuhyun mengangguk. "Ia sudah jadi bagian keluarga kami, meski si cerewet itu belum menikah dengannya." Ucap Kyuhyun dengan sedikit candaan.
Tak heran, Heechul mendapatkan lampu hijau untuk berpacaran dengan Hangeng sejak dulu. Laki-laki dari China itu sangat ramah dan sangat hormat pada Yongwoon dan Yoonji. Kedua orang tua Heechul juga sudah menganggap Hangeng seperti anak mereka. Karena itu saat waktu libur tiba, keluarga Cho mengundang Hangeng untuk berlibur bersama. Yongwoon yakin Hangeng orang bertanggung jawab yang tidak pernah berani menyentuh anak perempuannya sebelum mereka resmi menikah nanti.
Sungmin hanya menanggapinya dengan tersenyum. Ia berharap apa yang terjadi pada Hangeng juga terjadi padanya. Menjadi bagian dari keluarga Cho, dengan segala kasih sayang yang besar dari Yongwoon dan Yoonji, lalu perhatian dari Heechul, serta kejahilan Kyuhyun di dalamnya. Pasti sangat menyenangkan. Sungmin mulai berkhayal.
"Kau suka bintang?" Tanya Kyuhyun menyadarkan lamunan Sungmin.
Sungmin terdiam sejenak, ia pun mengangguk. "Aku suka bintang. Tapi aku tidak bisa mendapatkannya." Kata Sungmin.
"Kenapa semua orang yang kutanya, selalu menjawab suka bintang?"
"Memangnya kau tidak suka?" Sungmin menoleh pada Kyuhyun saat mendengar pertanyaan aneh dari laki-laki itu.
Kyuhyun menggeleng pelan. Matanya memperhatikan bintang-bintang yang ada di langit. "Apa yang menarik dari sebuah bintang? Menurutku tidak ada." Kata Kyuhyun mengungkapkan isi hatinya.
Sungmin hanya diam. Ia kembali melihat langit. "Tapi bintang bisa menghiasi malam yang gelap." Kata Sungmin.
Kali ini Kyuhyun yang diam. Memang benar, langit tampak sangat cantik malam ini berkat taburan bintang di atas mereka. Kyuhyun sedikit menoleh pada Sungmin yang sedang menatap langit. Dalam hatinya, ia membandingkan cantiknya bintang yang kalah dari kecantikan perempuan di sebelahnya ini. 'Kau yang lebih cantik, kau yang lebih indah. Sungmin noona.' Sayangnya Kyuhyun tidak pernah berani untuk mengatakan hal itu secara langsung.
"Kau percaya kalau bintang jatuh bisa membuat permohonan?" Tanya Sungmin.
"Tentu saja tidak. Itu hanya mitos." Jawab Kyuhyun.
"Kalau begitu ceritakan apa yang kau percaya."
Laki-laki itu terdiam sejenak, ia melirik langit dan berpikir sejenak. Sementara Sungmin berbalik melihat Kyuhyun. "Aku percaya pada Tuhan, aku percaya pada orang tuaku, dan aku percaya pada semua hal yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh." kata Kyuhyun. "Karena aku merasakannya. Semua hal yang kulakukan dengan sungguh-sungguh akan berhasil." Kemudian Kyuhyun melirik Sungmin dengan senyuman percaya diri. "Buktinya aku bisa jadi orang yang pintar."
Sungmin hanya tertawa kecil. Lagi-lagi ia sangat percaya diri. Pikir Sungmin.
Seketika angin berhembus menyapa keduanya. Sungmin menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Kyuhyun lalu merangkul lengan kurus Kyuhyun. Ia mendekap lengan panjang itu cukup erat.
DEG!
Si ikal ini dibuat gugup. Kyuhyun terkejut dengan perlakuan Sungmin, ia menolehkan wajahnya pada Sungmin yang mulai mendekat ke arahnya. Jarak mereka sangat dekat. Kyuhyun bahkan bisa mendengar suara nafas Sungmin di suasana yang sepi ini. Kyuhyun tak bisa melepaskan tatapan matanya dari Sungmin sementara perempuan itu memilih untuk menenggak menatapi bintang. Ia senang memandangi bintang di langit luas. Ini pertama kalinya ia menikmati bintang di alam terbuka.
"Lalu… kau percaya cinta?" Tanya Sungmin yang kini menolehkan wajahnya pada Kyuhyun.
Kedua mata mereka bertemu dan seketika keduanya terdiam. Sungmin tak menyadari bahwa sejak tadi Kyuhyun tak henti menatapi setiap inci wajahnya yang sangat dekat dengan mata tajam. Laki-laki itu tidak bersuara. Mata yang sangat indah ini menghipnotis Kyuhyun seketika, hingga ia enggan berucap dan hanya ingin menatap mata Sungmin lebih lama. Perasaan apa ini? Tiba-tiba Kyuhyun merasakan hawa panas dalam dadanya ketika mata indah Sungmin berbalik menatapnya. Lagi-lagi Kyuhyun dibuat gugup oleh Sungmin. Kyuhyun pun langsung memalingkan tatapannya ke atas langit.
"Tidak. Aku juga tidak ingin percaya." Jawaban Kyuhyun bertolak belakang dengan perasaannya saat ini.
Sungmin sedikit kaget mendengar ucapan Kyuhyun. Padahal Sungmin sudah mengaku pada dirinya sendiri bahwa ia mencintai Kyuhyun dengan tulus, tapi tanpa sadar Kyuhyun sudah mencoret kata 'cinta' yang selama ini Sungmin percaya.
"Bagaimana mungkin kau mempercayai suatu hal tanpa cinta? Sedangkan kepercayaan itu diawali dari hati."
"Jadi cinta datang dari hati?"
Sungmin terdiam sejenak. Apa maksudnya bertanya seperti itu? Apa ia benar-benar buta tentang hatinya sendiri? Pikir Sungmin. Ia masih menatap Kyuhyun dengan tatapan bingung. Perbincangannya dengan Kyuhyun cukup serius kali ini, tidak seperti beberapa menit yang lalu, di saat keduanya bermain sambil saling menyuapi buah.
"Kalau begitu beritahu aku, apa yang membuatmu percaya cinta?" tanya Kyuhyun.
"Karena aku merasakannya." Ucap Sungmin. "Kau pun merasakannya. Dengan orang tuamu, dengan Heechul eonni, bahkan Kibum."
Kyuhyun kemudian tertawa kecil. "Kau sebut itu cinta? Kupikir kau akan menyebutku orang yang posesif terhadap mereka." Ia akhirnya mengakui sifat buruknya itu. Kyuhyun kemudian memandangi wajah Sungmin lebih lama sebelum akhirnya ia bertanya, "Kalau begitu beritahu aku, bagaimana mencintai seseorang, tapi tidak berlebihan."
Sungmin diam seribu bahasa ketika Kyuhyun mengatakan hal itu. 'Tapi tidak berlebihan' adalah kata-kata yang sulit dicerna olehnya. Tanpa Sungmin sadari, Kyuhyun masih belum bisa mengontrol emosinya untuk mencintai seseorang. Pernah ia mencintai seorang gadis bernama Yuri. Kyuhyun memberikan seluruh cintanya pada Yuri. Namun apa yang terjadi? Cintanya itu bertepuk sebelah tangan dan segenap kepercayaan cintanya luntur seketika.
Trauma masa lalu. Hampir semua orang menyebut Kyuhyun memiliki trauma masa lalu untuk urusan cinta. Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun. Ia tidak trauma akan jatuh cinta, ia hanya tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk mencintai orang. Sekali Kyuhyun mencintai satu orang, ia akan terus mengejar dan menjadikan orang tersebut sebagai sumber kebahagiaannya. Bahkan ia tidak peduli jika saja orang itu akan mengkhianatinya nanti. Itu yang membuat dirinya sangat posesif pada Heechul, bahkan pada Kibum. Merekalah sumber kebahagiaan Kyuhyun. Tanpa mereka, Kyuhyun hanya akan menjadi manusia tanpa rasa.
Sungmin perlahan menggeleng lalu tersenyum tipis. "Aku tidak tau." Jawab Sungmin akhirnya. "Semua orang punya caranya sendiri untuk mencintai orang lain."
"Caraku mencintai orang lain terlalu bodoh." Kyuhyun mengakui kelemahannya.
"Aku pun begitu." Sungmin tertawa kecil menertawakan dirinya.
"Aku selalu merasa nyaman dengan orang itu. Aku juga akan melakukan apapun untuk membuat orang yang kucintai tetap berada di sampingku. Meski aku tau tidak semua orang nyaman berada di dekatku." Ucap Kyuhyun. "Karena aku ini keras kepala. Aku juga menyebalkan. Seperti katamu."
Sungmin terdiam. Ia lagi-lagi tertawa kecil. Kali ini ia menertawakan Kyuhyun. Akhirnya laki-laki ini menyadari bahwa ia orang menyebalkan dan terkadang membuat orang tidak nyaman karena selalu naik darah setiap kali dekat dengannya.
Kyuhyun masih betah melihat wajah Sungmin di dekat lengannya. Tanpa disadari, dalam hatinya ia merasa nyaman dan tenang berada di samping Sungmin. Apalagi mendapat perlakuan seperti ini dari Sungmin. Melihat Sungmin tersenyum padanya, merasakan sentuhan tangan Sungmin yang melingkar di lengannya, dan mendengar nafas Sungmin di bahunya.
"Aku nyaman berada di dekatmu." Ucap Kyuhyun tiba-tiba. Ia masih memasang mata memandangi Sungmin. "Kau, bagaimana?"
DEG! Kali ini Sungmin yang mulai berdegup. Pertanyaan itu tentu saja membuatnya kembali diam seribu bahasa. Ia tidak tau bagaimana menjawab pertanyaan singkat Kyuhyun.
Kepala Sungmin menenggak dari sisi lengan Kyuhyun saat Kyuhyun bertanya seperti itu. Sungmin dan Kyuhyun saling melemparkan pandangan satu sama lain. Tak ada lagi yang bisa ditutupi. Dari tatapan mata keduanya, mereka memendam perasaan yang sama. Sungmin ingin sekali jujur pada Kyuhyun mengenai perasaannya saat ini. Ia begitu nyaman dengan Kyuhyun. Sangat amat nyaman. Hingga ia tak ingin melepaskan rangkulan tangannya di lengan Kyuhyun yang kurus.
Tiba-tiba Sungmin menggariskan senyuman tipis dan menaruh telapak tangannya di dada Kyuhyun. "Mwoya?" Kyuhyun sedikit protes dengan tangan Sungmin yang ada di dadanya. Hal ini membuatnya semakin gugup.
Sungmin mencairkan suasana mereka yang terlalu serius. Tidak hari ini, Kyu. Sungmin membatin. Hari ini ia tidak ingin Kyuhyun mengatakan cinta padanya. Ini bukan waktu yang tepat. Pikir Sungmin. Sungmin tertawa kecil. "Kau bilang nyaman berada di dekatku. Tapi jantungmu berdegup kencang sekali, Kyu." canda Sungmin
Ah~ perempuan ini! Berani sekali ia bercanda seperti ini pada Kyuhyun yang sedang dimabuk cinta karenanya. Kyuhyun tidak bisa menjawab. Cukup dari degup jantungnya saja ia sudah memberi jawaban pada Sungmin.
Tangan Kyuhyun langsung menggenggam tangan Sungmin yang ada di dadanya. Sungmin yang awalnya tertawa kini terbelalak. Kyuhyun benar-benar sudah terhipnotis. Ia seakan terdorong oleh nafsunya saat melihat wajah Sungmin yang sedang tertawa. Padahal Sungmin sedang menertawakannya, tapi Kyuhyun tidak berniat untuk marah kali ini.
Kyuhyun membangkitkan tubuhnya dengan cepat, membuat rangkulan Sungmin terlepas dari lengan Kyuhyun. Kini Kyuhyun berbalik dan menaruh kedua tangannya di kedua sisi kepala Sungmin yang masih dalam posisi tidur menghadap langit. Kyuhyun menahan tubuhnya yang berada di atas Sungmin dengan kedua tangan kurusnya. Kini Kyuhyun menatap Sungmin dari atas, dan Kyuhyun semakin terhipnotis. Perempuan ini benar-benar seperti secangkir kopi yang bisa membuat jantung Kyuhyun berdegup kencang dan tak bisa tidur semalaman.
Sementara Sungmin terbelalak melihat tingkah Kyuhyun yang aneh. Ia juga semakin terkejut saat Kyuhyun berpindah posisi menjadi di atasnya. Sungmin mengalihkan wajahnya dari Kyuhyun, ia sangat gugup dengan Kyuhyun yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti.
"Mm... Noona, jepitmu hilang." Ucap Kyuhyun tiba-tiba. Sungmin mengangkat alisnya, bingung. Sementara Kyuhyun mengarahkan tangan Sungmin untuk meraba rambut sebelah kanan.
Sungmin pun tertawa kecil. "Pasti terjatuh saat kita berjalan-jalan tadi." Kata Sungmin tersenyum. Tangan kiri Kyuhyun yang sejak tadi masih memegang rambut Sungmin perlahan mulai mengelusnya. Kyuhyun merasakan permukaan rambut Sungmin yang lembut dan wangi.
Mereka kembali diam dan tidak berbicara apa-apa. Sungmin menggigit bibir bawahnya. Tatapan laki-laki ini membuatnya tak bisa berkutik. Sesuatu yang asing merasuki pikiran Kyuhyun hingga ia berani mendekati wajahnya pada Sungmin. Sungmin yakin, kali ini Kyuhyun bukan akan meniup bulu matanya seperti yang pernah ia lakukan dulu. Kini Kyuhyun akan menciumnya. Sungmin semakin gugup, padahal sebelumnya ia pernah berciuman dengan mantan kekasihnya.
Sungmin langsung memejamkan kedua matanya. Ia pun merasakan hembusan nafas Kyuhyun yang deras di dekat hidungnya, itu berarti wajah Kyuhyun sudah benar-benar dekat. Kyuhyun pun merasa gugup sebab ini pertama kalinya ia mencium bibir seorang perempuan. Berbeda dengan pengalamannya berpacaran dengan Yuri dahulu. Ia masih terlalu kecil saat itu, hingga ia tidak berani mencium Yuri. Namun sekarang, hatinya berani untuk melakukan hal ini.
Sedetik kemudian, Kyuhyun berhasil menempelkan bibirnya pada bibir Sungmin. Kyuhyun sedikit kaku untuk mencium Sungmin, sementara Sungmin sendiri tidak merespon ciuman yang diberikan Kyuhyun. Sungmin hanya merasakan bibir Kyuhyun yang tebal itu menyentuh bibirnya.
Tak lama kemudian, Kyuhyun melepas ciuman polos itu. Ia menjauhkan wajahnya dari Sungmin. Kyuhyun dan Sungmin membuka mata mereka bersama-sama. Keduanya langsung menangkap mata satu sama lain. Kyuhyun tersenyum saat melihat mata Sungmin yang lagi-lagi menghipnotisnya. Tiba-tiba saja pipi Sungmin memerah karena senyuman Kyuhyun.
"Apa cinta itu rasanya seperti ini? Aku merasa seperti ada yang melompat-lompat di dadaku." Kata Kyuhyun.
Sungmin mengangkat kedua alisnya, ia pun terkekeh. Anak ini benar-benar polos. Gumam Sungmin. Ditatapnya sepasang mata angkuh milik Kyuhyun. Sungmin tersenyum manis. Ia sedikit menyerongkan kepalanya lalu mengalungkan kedua tangannya pada Kyuhyun yang masih betah berada di atasnya. Sungmin mengelus rambut belakang Kyuhyun. Tangannya merasa mengelus sesuatu yang kasar dan sedikit kusut. Sungmin bisa merasakan rambut ikal Kyuhyun melalui telapak tangannya.
"Kau tidak menyisir rambutmu hari ini?"
"Kenapa?"
"Rambutmu kusut."
"Aku pikir kita tidak sedang membicarakan rambutku." Kyuhyun tidak ingin pembicaraan mereka teralihkan hanya karena rambut ikal yang selalu disisir dengan jari itu.
"Kau harus menyisir rambutmu dengan rapi, Kyu." Sementara Sungmin masih mengalihkan perbincangan itu dan berharap Kyuhyun tak menyatakan cintanya detik ini.
"Apa itu penting?"
"Tentu saja." Sungmin kemudian melirik kemeja yang dikenakan Kyuhyun. "Pakaianmu sudah rapi. Kau juga harus merapikan rambutmu dengan sisir."
"Aku tidak punya sisir."
"Kau bohong." Sungmin tersenyum. "Kau sembunyikan sisir di dalam lemari pakaianmu." Sungmin yang pernah masuk dan membereskan kamar Kyuhyun itu pernah melihat lemari pakaian Kyuhyun yang terbuka. Beberapa pakaian yang tertumpuk asal di sana dirapikan oleh Sungmin. Saat itulah ia melihat sebuah sisir yang ditaruh di tumpukkan belakang baju Kyuhyun.
Ucapan itu membuat Kyuhyun terdiam sejenak. Kyuhyun memang tidak pernah menyisir rambutnya dengan sisir. Ia hanya merapikan rambutnya dengan jari tangan. Kyuhyun mengingat baik-baik ucapan Sungmin itu lalu menghela nafas karena menyerah. Ia pun mengangguk. "Aku akan menyuruhmu mengelus rambutku lagi jika aku sudah merapikannya dengan sisir." Kata Kyuhyun diselingi candaannya.
Sungmin pun tertawa kecil. Kyuhyun melebarkan senyumannya ketika melihat sederet gigi kelinci yang tampak di dalam mulut Sungmin. 'Tuhan… Perempuan ini semakin cantik saat sedang tertawa.' Gumam Kyuhyun. Tangannya yang sejak tadi menopang tubuh Kyuhyun itu seakan tidak akan pernah merasa pegal karena di hadapan matanya ada Sungmin. Ia penawar segala rasa tidak nyaman.
"Kau pasti malas mencuci muka."
"Kau ini senang sekali mengomentari aku."
Sungmin tersenyum. "Ada banyak jerawat di pipimu."
"Aku bukan laki-laki feminim."
"Tapi menjaga kesehatan wajahmu itu penting. Kau pasti terlihat lebih menarik jika tidak ada jerawat di wajahmu." Sungmin membiarkan tangan kirinya masih menggantung ke belakang leher Kyuhyun, sementara tangan kanannya turun dan mulai meraba wajah Kyuhyun.
DEG!
Setiap sentuhan jemari Sungmin di wajah Kyuhyun membuat laki-laki itu seakan membeku. Ia seringkali dibelai lembut oleh sang eomma, tapi belaian kali ini berbeda. Pipi Kyuhyun juga sering dicubit dan ditampar oleh jemari tangan Heechul, tapi kali ini sentuhan Sungmin melebihi sentuhan apapun. Kyuhyun lagi-lagi terdorong oleh nafsunya. Ia menatap bibir Sungmin seakan sedang menitikkan mangsa untuk disantap.
Tapi tiba-tiba Kyuhyun tersadar. Tidak. Aku hanya boleh menciumnya satu kali. Dan kesempatan itu sudah ia gunakan tadi. Kyuhyun bisa benar-benar terjaga semalaman jika kembali menikmati sensasi mencium bibir Sungmin.
Jemari Sungmin yang masih memegang pipi Kyuhyun itu kemudian terlepas saat Kyuhyun mulai bangkit dari posisinya. "Aku… akan mencari jepitmu yang hilang." Ucap Kyuhyun sambil mengalihkan tatapannya dari Sungmin.
Tanpa berbicara apa-apa lagi, Kyuhyun segera berdiri dan berjalan pergi. Ia ingin pergi ke suatu tempat untuk menghindari Sungmin kemudian menampar dirinya sendiri karena sudah dimabuk cinta. Kyuhyun pun menyadari, dirinya saat ini bukanlah seorang Cho Kyuhyun yang angkuh dan sombong seperti biasanya. Ia berubah menjadi seseorang penuh rasa cinta dan selalu ingin menunjukkan cintanya dengan cara mencium Sungmin.
Aih~ Sadar, Cho Kyuhyun. Kau bukan siapa-siapa untuk Sungmin. Sambil berjalan sedikit menjauh, ia bergumam. Kenapa aku bisa jatuh cinta seperti ini padanya. Kyuhyun yang juga pintar fisika, kimia dan biologi ini tidak mengerti mengapa ada reaksi tak terduga di dalam dirinya. Seperti terdapat sebuah zat yang terus bergejolak di hatinya dan terus memaksa seluruh tubuhnya untuk berani mengungkapkan cinta.
'Apa ini saatnya? Apa ini waktu yang tepat untuk berkata jujur pada Sungmin tentang perasaanku?' Wajah laki-laki itu mulai resah. Sambil berpura-pura mencari jepit Sungmin yang hilang, ia masih berpikir. Apa Kyuhyun pantas mencintainya? Masih ada keraguan di dalam diri Kyuhyun. Ia menyadari berjuta sifat buruknya yang tidak disukai orang lain. Semua perempuan di sekolah saja tidak ada yang suka dengan Kyuhyun, apalagi Sungmin? Seleranya pasti seperti Donghae, pria baik hati, penyayang, tegas namun lembut pada setiap wanita. Sementara Kyuhyun? Dengan Heechul saja selalu bercekcok yang tidak jelas.
Kyuhyun menaruh tangan kanannya di dada. Ia masih merasakan jantungnya berdegup kencang. Bicara, tidak, bicara, tidak? Bicara. Ya, Kyuhyun adalah laki-laki, ia juga pemberani dan percaya diri. Hanya karena malu, Kyuhyun tidak berani jujur tentang perasaannya? Payah sekali. Kyuhyun menggeleng pelan sambil berpikir. Baiklah, bicara. Ia harus bicara pada Sungmin. Entah Sungmin berbalik menyukainya atau tidak, tapi Kyuhyun harus bicara sekarang.
Laki-laki yang sudah yakin itu kemudian memutar tubuhnya. Eoh? Tepat pada saat Kyuhyun akan memanggil Sungmin, perempuan itu sudah beranjak dari duduknya dan berlari kecil menghampiri Kyuhyun.
"Kyuhyun ah." Panggil Sungmin mendekati Kyuhyun.
Apa ia tau bahwa Kyuhyun akan memanggilnya? Kenapa secara kebetulan Sungmin menghampiri Kyuhyun?
"Sungmin noona, A-aku–"
"Sst!" Sungmin menutup mulut Kyuhyun dengan jarinya.
Kyuhyun belum menyelesaikan ucapannya, tapi perempuan itu sudah berdiri tepat di hadapannya dan menyuruh Kyuhyun untuk diam. Sungmin langsung mengalungkan kedua tangannya pada Kyuhyun, menarik laki-laki itu untuk membungkuk agar wajahnya sejajar dengan Sungmin. Dan tanpa memedulikan ucapan Kyuhyun, Sungmin langsung menyerongkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir Kyuhyun.
'Mwoya ige?!' Laki-laki itu berteriak dalam hati.
Tidak romantis sekali, bukan? Kyuhyun yang awalnya ingin memulai aksi pengakuan cintanya lebih dulu itu tiba-tiba didahului oleh Sungmin. Perempuan itu bangkit dari tempatnya dan langsung mencium Kyuhyun secara tiba-tiba. 'Kenapa jadi begini? Kenapa aku yang dibuat gugup!' Disaat seperti ini Kyuhyun masih menyalahkan diri tentang sikap romantisnya yang keduluan. Kyuhyun merasa gagal karena yang harusnya mencium terlebih dahulu adalah dirinya, bukan Sungmin.
Tapi ciuman itu lambat laun membuat Kyuhyun terbawa suasana. Kyuhyun yang tadinya membuka mata lebar-lebar semakin lama semakin menutup matanya. Dengan memejamkan mata, ia bisa merasakan ciuman itu lebih hangat. Otaknya berpikir untuk tidak ingin melepas ciuman ini. Ia ingin ciuman kali ini lebih lama dari sebelumnya. Tangan Kyuhyun pun perlahan bergerak dan mulai melingkar di pinggang ramping Sungmin.
Kyuhyun tidak pernah punya pengalaman untuk berciuman. Lagi-lagi ciuman mereka hanya sebatas menempelkan bibir. Hingga akhirnya Sungmin yang memulainya. Perempuan itu perlahan membuka mulutnya yang menempel di bibir Kyuhyun. Ia mencoba mengajari Kyuhyun untuk bisa berciuman lebih lama. Laki-laki itu kembali dilanda rasa gugup saat merasakan bibir Sungmin yang terbuka. Kyuhyun pun membuka bibirnya sedikit. Ia mulai merasakan bibir Sungmin yang masuk ke dalam mulutnya. Sungmin memperdalam ciuman mereka hingga Kyuhyun pun melakukan hal yang sama pada bibirnya.
Sepasang yang tengah dilanda rasa cinta yang hebat itu mulai menikmati ciuman mereka yang hangat. Bibir Sungmin semakin terasa hangat ketika Kyuhyun mulai mengulumnya. Seperti ini rasanya berciuman yang romantis? Kyuhyun sangat senang sekaligus gugup. Ia tidak peduli seberapa basah bibirnya dan bibir Sungmin saat ini. Yang pasti ia belum mau melepasnya dan terus mengulum bibir Sungmin dengan lembut.
Sungmin yang mulai mencium Kyuhyun, Sungmin pula yang mengakhiri ciuman mereka. Perempuan itu mulai melepaskan bibirnya ketika Kyuhyun sedang menggigit bibir bawahnya dengan lembut. Saat kedua bibir mereka mulai menjauh, Kyuhyun pun membuka matanya. Ia melihat Sungmin yang sudah membuka matanya terlebih dahulu kemudian menunduk.
Kyuhyun terdiam sambil memperhatikan Sungmin yang menunduk. Apa Sungmin kehabisan nafas karena terlalu dalam saat berciuman tadi? Kyuhyun sempat berpikir demikian, tapi kemudian Sungmin mengangkat wajahnya perlahan dan memberikan senyuman tipis di bibirnya yang basah karena ulah Kyuhyun tadi.
"Lihat," Sungmin berucap. Ia pun menaruh tangan kanannya di wajah Kyuhyun. Ibu jarinya mengelap bibir Kyuhyun yang basah karenanya. "Bibirmu basah." Ucap Sungmin tertawa kecil.
Tawanya terdengar manis di telinga Kyuhyun. Laki-laki itu pun tersenyum saat jemari tangan Sungmin terus menerus mengelus permukaan bibirnya. "Sungmin noona, aku–"
"Kyuhyun ah," Sungmin memotong ucapan Kyuhyun. Ia kemudian sedikit berjinjit dan menempelkan dahinya pada Kyuhyun. "Aku…ingin pulang."
Kyuhyun mengerutkan dahi bingung. Kedua tangannya yang masih melingkar di pinggang Sungmin itu akhirnya ia lepas, berganti posisi menjadi memegang bahu Sungmin sambil memberi jarak agar Sungmin tidak menempel di dahinya. Ia ingin melihat wajah Sungmin. Kenapa ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya? "Kau kenapa?" tanya Kyuhyun.
Sungmin menggeleng, masih dengan senyuman tipisnya. "Aku hanya ingin pulang." Ucap Sungmin.
Kyuhyun kebingungan. Ia tidak tau harus menjawab apa. Tiba-tiba saja Sungmin meminta izin untuk pulang. Yang benar saja, di saat mereka sedang bermesraan seperti ini? Kyuhyun tidak habis pikir. Ia mengira Sungmin datang padanya dan menciumnya lalu menyatakan cinta. Tapi ternyata dugaannya salah. Sungmin bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan mengatakan perasaannya.
"Aku ingin pulang, Kyu." Sungmin sambil menarik nafas dan menghelanya perlahan.
"Kau… baik-baik saja, kan'?" tanya Kyuhyun.
Sungmin mengangguk lalu menatap mata Kyuhyun. "Aku tidak apa-apa. Lihat?"
Laki-laki itu menemukan sesuatu yang aneh pada diri Sungmin. Kenapa perempuan ini tiba-tiba meminta pulang? Tatapan matanya pun sedikit aneh dan mencurigakan bagi Kyuhyun. Kedua mata Sungmin yang sejak tadi menyiratkan kebahagiaan dan cinta itu berubah menjadi tatapan polos. Bahkan kesenangan yang sejak tadi Sungmin rasakan tidak lagi terpancar dari matanya. Perempuan ini kenapa?
Sungmin kemudian tersenyum. "Boleh aku pulang sekarang?"
"Te-tentu saja." Akhirnya jawaban itu yang bisa Kyuhyun berikan. Di balik perasaan anehnya, ia tidak bisa menahan Sungmin lebih lama. Perempuan ini pasti punya alasan mengapa ia meminta pulang. Dan ciuman tadi, Kyuhyun hanya bisa berharap itu bukanlah ciuman terakhir yang Sungmin berikan.
Perempuan itu melangkah mundur. "Terima kasih atas makan malamnya."
"Sama-sama." Kyuhyun menjawab. "Jika aku mengajakmu untuk berdua seperti ini lagi, apa kau akan menolak?"
Sungmin menggeleng dengan pasti. "Aku ingin melakukan hal seperti ini lagi denganmu. Lebih sering. Setiap hari." Canda Sungmin tertawa kecil.
Kyuhyun ikut tertawa sejenak karena ucapan Sungmin. Lebih sering? Setiap hari? Itu tandanya Sungmin sangat menikmati kencan pertama mereka. "Kalau begitu aku akan sering mencuri makanan eomma untuk makan malam kita."
Sungmin dan Kyuhyun pun tertawa bersama.
Kyuhyun memegang tangan Sungmin. Ia menggenggamnya erat, lalu berjalan bersama Sungmin untuk mengantarkan perempuan itu ke parkiran mobil. Di sana sudah ada mobil hitam serta supir pribadi yang setia menemani Sungmin. Perempuan itu tak pernah keluar dengan sendirinya, Donghae akan sangat melarang Sungmin melakukan itu. Karenanya, sebuah mobil dan satu supir pribadi selalu siap siaga menemani Sungmin ke manapun dan sampai jam berapapun Sungmin di luar rumah.
Kyuhyun menyadari sesuatu, ini bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Tidak saat ini. Sambil mengantar Sungmin, ia kembali memikirkan cara untuk menyatakan perasaannya. Mungkin dengan cara yang lebih romantis atau lebih menyenangkan dari ini. Yang pasti, ciuman tadi membuktikan bahwa Kyuhyun dan Sungmin memiliki perasaan yang sama, meski keduanya belum mengatakannya secara langsung.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
Next Chapter:
.
"Dasar gila…" ucap Kibum menatap Kyuhyun sedikit kesal.
.
Kyuhyun menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum miring. "Romantis, kan'?"
.
"…Pokoknya kalau para artis sombong itu mendekatimu, aku akan datang dan menghancurkan gedung SM."
.
"Kau berubah untuk Sungmin, eoh?" Lagi-lagi Heechul menggoda Kyuhyun.
.
.
.
.
.
.
Note:
Omo! Kyu serem amat, sampe mau ngehancurin gedung SM segala. Aduh nanti Donghae sama Minho kerja di mana dong? Haha… Ini lagi, Heechul seneng bgt ngegodain Kyu. Udah tau adiknya gengsian, pake digodain segala. Btw, Kibum jahat juga bilang sobat sendiri gila, tingkah apa lagi yang Kyu lakuin buat nyatain perasaannya?
.
Yuhu~ Akhirnya update lagi. Chapter ini di sponsori oleh lagu Kyuhyun – A Million Pieces, Begitu saya liat liriknya mirip sama isi chapter ini hihi. Semoga highlight utk chapter depan bikin chingudeul penasaran, biar terus nungguin ff ini hahaha *evil laugh*
.
Btw, saya mau ngaku, sebenarnya part ini masih ada lanjutannya, tapi kalau disatuin sama lanjutannya itu jadi super duper panjang. Selain itu lanjutannya punya tema yang beda dari judul chapter ini. Karna itu saya bagi dua.
.
Sooo… Gimana kesan chingudeul sama kencan Kyu-Min? (please jangan bilang garing haha) Akhirnya ngegantung ya? Yup, karna saya masih simpen rahasia yang belom saya share. Chingudeul akan temuin itu di another chapter (entah yg mana, tungguin aja) hoho…
FYI, kalau chingudeul jeli, sebenarnya saya ganti cover image ff ini sama ff 'Hey I'm not a Little Boy Anymore!' Why? Karna saya ngebuat ulang cover utk wattpad. Jadi cover di ffnet dan wattpad bakal saya samain.
.
Okay, author (selalu) meminta kesediaan chingudeul untuk mereview chapter ini.
Gamsahamnida, chingudeul *bow*
.
Don't be silent reader LOL^^
