Warning : T semi M rate, some OC, maybe OOC, typos, ada chara minor.

If you wanna fully understand the story you can read Neverland and Side Story.

Genres : Adventure/Fantasy/Friendship/Humor/Romance.

Pair : Akan diketahui seiring berjalannya alur (berniat SasuSaku). Other hints.

Disclaimer : I do not own Naruto, they're belong to Masashi Kishimoto (except the OC).

This story belong to Riyuki18, dedicate to all reader and please do not copy paste this story without our permission.

Please enjoy it!

.

NEVERLAND 2 : SAVE THE WORLD

Chapter 9

(Warning From Sunagakure)

.

.

Pada chapter sebelumnya Ash dibuat bingung dengan worm yang bermunculan dan menyebar dengan cepat. Terjadi kegemparan di tempat mayat naga itu ditemukan! Naga itu menghilang! Haku adalah pelaku yang membawa mayat naga itu. Sakura, Naruto dan Sasuke dihantui oleh kenangan masa lalu mereka masing-masing. Apalagi yang akan terjadi setelah itu?

Berita menghilangnya mayat naga itu membuat warga Konoha heboh! Apalagi sempat terjadi hal aneh sebelum mayat naga itu lenyap. Pagi ini, berita tersebut sudah menyebar luas kemana-mana dan menjadi perbincangan semua warga.

"Woi, lo pada udah tau berita tentang mayat naga yang ditemukan itu lenyap setelah munculnya kabut asap?" tanya Kiba begitu masuk kelas langsung ngerumpi di belakang bareng Naruto, Shikamaru, Chouji dan Lee.

"Iya, kita semua udah pada tau! Anak-anak lain juga udah pada cerita, sekarang lagi pada heboh tuh!" balas Shikamaru dengan gaya malasnya yang khas.

"Kenapa tidak tanyakan langsung pada Shiryu dan Asakura? Bukankah mereka berdua kemarin pergi kesana? Tuh ada anaknya!" sambar Chouji langsung mengarah pandangan pada Shiryu dan Asakura yang baru masuk.

"Jadi, berita itu benar Asakura? Shiryu?" tanya Naruto yang penasaran banget pengen tau kejadian yang sebenarnya dan langsung menghampiri kedua temannya itu.

"Berita mengenai mayat naga yang menghilang itu?" balas Asakura untuk memastikan apa yang sebenarnya ditanya oleh Naruto.

"Iya! Apa naga itu benar-benar lenyap begitu saja tanpa ada yang tau?" tanya Naruto lagi sambil memandang Shiryu dan Asakura dengan sangat serius, dan hal itu membuat Shiryu dan Asakura jadi sakit perut dibuatnya karena muka Naruto sama sekali tidak cocok dengan pose serius.

"Gak usah pasang muka sok serius begitu napa! Gak pantes tau!" balas Asakura sambil dorong Naruto jauh-jauh darinya. Kemudian kedua pemuda itu langsung duduk di tempat duduknya. Naruto dan yang lain langsung mengerumuni Shiryu dan Asakura.

"Ceritakan pada kami kejadian itu!" kata Lee dengan mata berapi-api yang langsung mengambil bangku dan duduk di depan meja Shiryu dan Asakura yang kebetulan keduanya duduk di posisi paling depan, di ujung pojok kanan.


Sementara di kelas lain…

.

.

Sakura saat ini masih memikirkan apa yang dikatakan Marie padanya. Dunia saat ini benar-benar sedang terancam bahaya tapi tak ada satupun orang yang mengetahuinya kecuali dia, Sasuke dan Naruto! Sekarang Sakura sedang bingung bagaimana caranya membuat teman-temannya itu percaya dan sadar sebelum terlambat. Selain itu, dia juga mengingat sosok Sasori yang ditemuinya kemari… Segurat rasa sedih masuk ke dalam relung hatinya, membawa getaran dingin yang menusuk tulang.

"Kau kenapa Sakura?" tanya Tsunade yang otomatis membuat Sakura yang sedang melamun tersentak kaget. Tsunade dapat membaca raut kekhawatiran pada wajah gadis itu. Dia mengernyit sedikit sambil berpikir kira-kira apa yang membuat Sakura tampak begitu cemas.

"Tidak kenapa-kenapa, sensei!" balas Sakura sambil memasang sebuah cengiran yang sedikit dipaksakan. Tsunade hanya mendesah pelan sambil geleng-geleng.

"Baiklah, anak-anak. Sekarang buka soal latihan pada halaman 34!" Tsunade segera berbalik dan melanjutkan pelajaran yang sedang dia sampaikan.

Drrrrt… Drrrrrtt… !

Saat sedang asik menyampaikan materi, ponsel Tsunade yang dia simpan di dalam saku kemeja hijaunya bergetar. Tsunade bergegas keluar ruangan sebentar dan menerima panggilan tersebut.

Sementara Tsunade sedang di luar, murid-murid malah berisik dan sibuk sendiri-sendiri, bukannya mengerjakan soal latihan yang diberikan Tsunade barusan. Tapi saat mereka sedang bercanda dan ngobrol sana-sini, para murid dikejutkan dengan suara Tsunade yang tampaknya sangat terkejut.

"Apa? Pertemuan kepala Negara sekarang? Di Sunagakure?" itulah suara yang terdengar dari luar. Sepertinya ada sesuatu hal yang sangat penting, sampai-sampai mau diadakan pertemuan semua kepala Negara. "Kenapa tidak memberitahukan rencana ini sebelumnya dari jauh-jauh hari? Baiklah, aku akan segera kesana sekarang juga!" sambung Tsunade yang terdengar begitu kesal karena dia diberitahu secara dadakan.

Tsunade masuk kembali ke dalam ruangan kelas dengan raut wajah kesal. Dia menghampiri meja guru dan mengambil buku-bukunya kembali.

"Anak-anak, kita sudahi dulu pelajaran hari ini. Saya ada urusan, mungkin untuk pelajaran saya beberapa hari ke depan akan digantikan saja dengan tugas. Saya pergi dulu!" setelah menyampaikan pesan pada anak muridnya, Tsunade bergegas pergi keluar.

Setelah Tsunade pergi, anak-anak di dalam kelas langsung pada berbisik-bisik bingung.

"Kira-kira Tsunade-sensei kenapa ya?" tanya Tenten yang gak biasanya melihat Tsunade begitu gelisah.

"Se-semoga tidak terjadi hal yang bu-buruk… " balas Hinata yang juga ikutan cemas. Semua murid mendengar dengan jelas kalau ada pertemuan semua kepala Negara dan kelihatannya pertemuan itu sangat darurat.

"Semoga saja kau benar… " timpal Tenten yang mencoba untuk tidak memikirkan hal yang bukan-bukan.


Neverland office…

.

.

Sementara itu di pusat server Neverland, Ash masih berusaha untuk menghilangkan worm-worm itu bersama yang lainnya sejak dari kemarin.

"Kenapa tidak bisa dinetralisir? Ini benar-benar aneh!" Ash terlihat sangat bingung dan beberapa kali dia menggebrak meja dengan kesal karena usahanya tidak ada yang berhasil.

'Eh… Ke-kenapa ini?' Ash benar-benar bingung melihat munculnya titik-titik cahaya yang semakin lama semakin banyak. 'Tidak mungkin kalau backdoor-nya terealisasikan!' Ash membelalakkan matanya dengan lebar saat menyadari kalau cahaya-cahaya itu berasal dari titik-titik backdoor. 'Hah? I-itu virus? Virusnya menjadi nyata? Ini gila!' keterkejutan Ash tidak sampai disitu saja, karena dari backdoor-backdoor itu keluar seperti semacam virus yang menyeruak. Virus-virus itu benar-benar keluar dalam bentuk yang nyata dan mulai menjalar ke tangan Ash. Bukan hanya itu saja, virus-virus tersebut mulai masuk ke dalam kulit Ash.

"Arggh… !" Ash yang terkejut langsung berteriak dan tiba-tiba saja pemuda itu terjatuh.

"Ash!" para staff yang ada disana tentu saja jadi terkejut saat melihat Ash yang tiba-tiba terjatuh itu. Mereka segera menghampiri Ash dan berusaha membangunkan pemuda itu. Namun sayang, tampaknya pemuda itu tak sadarkan diri, sehingga salah satu dari mereka langsung menelpon ambulan.

"Aku akang menghubungi kerabatnya!" kata Iruka yang memang juga ada disana. Kebetulan Iruka mengenal Shouta yang menjadi anak muridnya dan memiliki nomor Shouta. Tanpa pikir panjang Iruka segera menelpon anak itu dan memberitahukan kejadian yang menimpa Ash.

.

.

"Apa? Kakakku pingsan dan masuk rumah sakit? Baiklah, aku akan kesana! Terima kasih, Iruka-sensei!" Shouta yang mendapat kabar mengenai Ash langsung panik. Dia memutuskan untuk meminta ijin pada sang guru untuk pergi melihat keadaan Ash yang dibawa ke rumah sakit.

"Ada apa, Shouta?" tanya Shiho yang memang mendengar percakapan Shouta barusan.

"Shiho-sensei, aku mau ijin pulang… Aku mau menjenguk kakakku. Dia mendapat kecelakaan di tempat kerjanya!" jawab Shouta yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasan di hatinya.

"Kau boleh pulang Shouta," jawab Shiho mengangguk mengerti dan mengijinkan anak itu untuk pulang lebih awal.

"Terima kasih, sensei!" balas Shouta dengan senang. Anak itu bergegas merapihkan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas.

"Shouta, kami titip salam untuk kakakmu! Semoga dia baik-baik saja, ya." Konohamaru ikut memikirkan keadaan Ash dan menitipkan salam untuknya pada Shouta.

"Terima kasih! Aku pulang dulu teman-teman!" anak itu langsung merangkul tas ranselnya yang berwarna hitam kemerahan dan langsung berjalan keluar dari tempat duduknya. "Permisi, sensei!" tak lupa Shouta membungkuk hormat berpamitan pada Shiho. Setelah itu dia berjalan keluar meninggalkan kelas sambil setengah berlari.


Somewhere else…

.

.

Sementara itu Aki dan Kaze masih saja berkeliling tidak jelas di tengah-tengah kota. Tampaknya kedua orang itu tersasar.

"Bagaimana ini? Sudah berhari-hari kita berputar-putar, tapi kita tidak menemukan anak-anak itu!" kata Kaze yang kelihatannya sudah bosan berputar-putar disana.

"Seandainya saja disaat seperti ini ada Arkhan, Kuro ataupun Roberto… Nasibku benar-benar buruk harus terjebak bersamamu disini!" keluh Aki yang malah meratapi nasibnya karena harus tersasar berdua dengan Kaze.

"Hey, apa maksudnya itu? Kenapa bicaramu seolah-olah kau tak ingin bersamaku?" tanya Kaze yang merasa sedikit tersindir oleh perkataan Aki barusan.

"Yang kumaksud mereka itu jauh lebih pintar darimu Kaze! Minimal mereka pasti tau cara untuk mencari Sakura dan teman-temannya di tengah kota yang luas begini!" jawab Aki dengan sangat jujur, sejujur-jujurnya. Kaze yang mendengarkan pernyataan dari Aki tersebut langsung diam di pojokan dan mengeluarkan aura-aura suram.

'Ku-kurasa aku salah bicara… ' kata Aki dalam hati sambil sweatdrop.

"Papa! Lihat itu ada Aoki dari Neverland!" dari kejauhan terdengar suara seorang anak kecil seperti menyebut-nyebut nama Aoki. Merasa tertarik, Aki langsung mendekati asal suara tersebut dan berjalan ke arah kerumunan orang.

.

.

"A-Aoki! Aoki!" Aki yang menghampiri kerumunan tersebut sangat terkejut melihat sosok Aoki sedang berdiri disana dengan wajah bingung. NPC berambut hitam itu segera berteriak memanggil Aoki sambil melambaikan tangannya.

"Aki!" Aoki yang mencari-cari asal teriakan suara yang memanggil namanya langsung membalas melambaikan tangan pada sosok Aki yang berdiri di belakang kerumunan orang.

Aoki tanpa pikir panjang langsung saja menghampiri Aki di belakang sana.

"Apa yang kau lakukan disana?" tanya Aki kepada Aoki setelah sosoknya berdiri di hadapan Aki.

"Ceritanya panjang, lebih baik kita segera pergi dari sini! Ayo cepat!" Aoki tak menjawab pertanyaan Aki. NPC berambut biru steel yang memiliki julukan The Moon itu langsung menarik Aki menjauhi keramaian di tempat tersebut. Terdengar decakan kecewa dari orang-orang yang sedang memotret Aoki karena objek foto mereka pergi begitu saja.

.

.

"Tunggu dulu Aoki! Rasanya ada sesuatu yang tertinggal!" kata Aki yang langsung berhenti di sebuah lorong jalan sambil celingukan mencari-cari sesuatu. NPC terlihat seperti kehilangan sesuatu.

"Memangnya apa yang tertinggal?" tanya Aoki yang reflek ikut mencari-cari juga meskipun dia tidak tau si Aki itu kehilangan apa.

"Oh, iya! Aku melupakan Kaze yang kutinggalkan disana!" balas Aki sambil menepuk keningnya sendiri. Dia benar-benar lupa soal Kaze.

Sementara itu Kaze yang tertinggal disana tampak sedang kebingungan mencari-cari Aki yang hilang.

"Lho? Kenapa Aku sendirian? Dimana Aki?" Kaze akhirnya berjalan sendirian sambil celingukan mencari Aki sambil garuk-garuk kepala.

"He, disana ada yang memakai kostum ninja! Ayo kita foto dia!" salah satu dari fotografer itu langsung menunjuk Kaze yang sedang berjalan sendirian.

"Benar! Kita foto dia saja! Ayo semuanya kesana!" timpal fotografer lainnya langsung bersemangat kembali. Mereka akhirnya berbondong-bondong berlari menghampiri Kaze.

Click… Click… Click… !

Para fotografer itu langsung saja mengambil gambar Kaze membuat NPC itu bingung dengan orang-orang yang tiba-tiba saja mengerumuninya.

"A-apa-apaan ini? He-hentikan! AKI DIMANA KAAAAAAUU!" Kaze yang tidak tahu-menahu kalau dirinya telah dijadikan objek pemotretan akhirnya hanya bisa pasrah.


Konoha Hospital…

.

.

Di rumah sakit Konoha, Ash tengah terbaring dan masih tak sadarkan diri. Pemuda itu terlihat sangat pucat dan lemah. Sementara Shouta sedang berdiri di sisinya dengan cemas. Tak lama pintu ruangan tersebut terbuka dan tampak seorang gadis berambut orange panjang masuk ke dalamnya. Gadis yang memakai dress selutut dengan warna senada dengan rambutnya itu juga terlihat tak kalah cemasnya dari Shouta.

"Shouta!" begitu masuk gadis itu langsung menghampiri Shouta.

"Sasame-san… " Shouta hanya menoleh sesaat dan membalasnya dengan suara pelan. Setelah itu dia kembali menatap Ash.

"Jadi… Ash masih belum sadar? Apa yang terjadinya padanya?" tanya Sasame berusaha untuk mencarikan keheningan di ruangan itu.

"Iya… Dia belum sadar… Aku juga tidak tau dia kenapa… Kata orang yang ikut bekerja dengannya mengatakan kalau Ash tiba-tiba saja terjatuh pingsan. Dokter yang memeriksanya juga belum dapat menyimpulkan apa yang menyebabkan Ash seperti ini… " jawab Shouta menjelaskan semua yang dia tau sambil menahan tangisnya.

"Shouta… Kalau kau ingin menangis… Menangis saja… Aku ada disini menemanimu." Sasame yang merasa kasian melihat Shouta langsung mendekatinya dan memeluk anak kecil itu.

"Aku takut… Aku tak ingin kehilangan kakakku lagi… " akhirnya Shouta menangis dalam pelukan Sasame sambil mengutarakan rasa takutnya. Dia tak ingin kembali ditinggal oleh orang-orang terdekatnya.

"Ash akan baik-baik saja, percayalah padanya Shouta… " Sasame mengelus kepala coklat Shouta dengan lembut dan mencoba untuk menenangkan anak itu.

o0o

Sementara itu Arkhan yang memang sedang mencari Sakura dan teman-temannya dari atas bertemu dengan Kuro yang juga melakukan hal yang sama.

"Apa kau dapat melihatnya dari atas sini?" tanya Arkhan pada Kuro tanpa berbasa-basi. NPC bersayap hitam itu hanya menggeleng.

"Lebih baik kita turun ke bawah," balas Kuro memberikan usul untuk berhenti mencari dari atas dan turun ke bawah.

Kedua NPC itu akhirnya turun ke bawah secara perlahan. Saat keduanya sampai di bawah, mereka kepergok oleh tiga remaja yang melihat mereka dan sedang menatap kaget bercampur takjub secara bersamaan.

"Ka-kalian… Kalian Arkhan dan Kuro, kan?" seorang gadis berambut dirty blonde yang memiliki wajah yang agak mirip dengan Ino dapat mengenali kedua NPC bersayap itu.

"Arkhan dan Kuro?" tanya dua temannya yang lain sambil menatap gadis yang ternyata adalah adiknya Ino itu dengan rasa keingintahuan yang besar.

"Mereka berdua adalah NPC dari Neverland!" jawab Shion dengan setengah menjerit.

"Kau kenal kami? Apa kau kenal Sakura? Atau Sasuke?" tanya Arkhan pada gadis itu dan merasa yakin kalau Shion mengenal Sakura.

"Dia teman kakakku tentu saja aku mengenalnya!" jawab Shion langsung tanpa keraguan.

"Bisa antar kami menemuinya?" balas Arkhan dengan penuh harap kalau Shion mau membantunya.

"Tentu saja! Moa, Ryouta, kalian mau ikut?" Shion mengangguk cepat dan langsung mendekati Arkhan dan Kuro yang berdiri di depannya. Shion berbalik dan mengajak kedua temannya untuk ikut.

"Tentu kami mau ikut!" jawab Moa dan Ryouta secara serempak dan langsung mengikuti Shion, Arkhan dan Kuro.

"Ta-tapi sebelum itu… Bisa kalian berdua menghilangkan sayap kalian itu? Kalian terlalu mencolok… " kata Shion sambil menunjuk sayap yang ada di belakang punggung dari kedua NPC itu. Tanpa banyak bicara Arkhan dan Kuro segera menghilangkan kedua sayapnya.

.

.

"Nah, kita sudah sampai! Kita tunggu saja disini. Kurasa sebentar lagi juga mereka akan keluar!" kata Shion begitu sampai di depan pintu gerbang sekolah Konoha dan menyuruh Arkhan dan Kuro untuk menunggu murid-murid keluar gedung.

Sementara itu Tenten yang kebetulan sedang membuka jendela sekolah langsung terkejut melihat Shion yang sedang berdiri di depan gedung bersama dengan beberapa orang. Dua diantaranya tampak berdiri mendampingi Shion.

"Ino, coba liat kemari! Shion adikmu hebat sekali! Dia datang dengan ditemani dua orang cowok keren!" celetuk Tenten dan langsung memanggil Ino untuk ikut melihatnya juga.

"Apaan sih?" balas Ino cuek dan berusaha untuk tidak terpancing dengan kata-kata Tenten.

"Tenten be-benar… A-apa mereka berdua pacar Shion? Be-beruntung sekali Shion pu-punya dua pacar yang a-akur begitu!" timpal Hinata yang juga ikutan melongok keluar jendela.

"Ino payah nih! Masa kalah dari adiknya? Ino aja dapetin satu orang aja susah banget! Ini Shion dapet dua, cakep-cakep lagi!" ujung-ujungnya Tenten jadi menyindir Ino yang memang saat ini sedang berusaha mengejar Shikamaru tapi sampai sekarang dia belum berhasil.

"Bikin penasaran aja! Kayak apa sih cowoknya?" akhirnya Ino terpancing juga. Dia juga ikut melongok keluar jendela. Mumpung guru lagi fokus nulis di papan tulis jadi tidak terlalu memperhatikan murid-murid yang di belakang.

"Ih, Shion bisa kenal mereka darimana?" Ino langsung manyun begitu melihat keluar. "Eh, tapi kalau diperhatiin… Kedua cowok itu kayaknya pernah liat deh, tapi dimana ya… " kata Ino sambil mencoba mengingat-ingat kedua pemuda yang sedang berdiri dengan santai di depan gerbang sekolah itu.

"Sakura, coba kau liat! Apa kau pernah bertemu dengan mereka? Masalahnya aku merasa pernah melihat mereka! Apa kau mengenal mereka berdua?" Ino menarik lengan Sakura dan menyuruh gadis itu untuk melihat. Siapa tau gadis itu dapat mengenali kedua pemuda itu, soalnya Ino merasa familiar dengan kedua wajah itu tapi dia tidak ingat pernah bertemu dimana.

Sakura akhirnya mau tak mau terpaksa melihat juga karena dia tidak mau Ino merengek kepadanya.

"Arkhan… Kuro? Mereka ada disini?" gumam Sakura dengan pelan begitu melihat kedua pemuda yang dia kenali sosoknya itu sebagai Arkhan dan Kuro, NPC dari Neverland.

"Kau benar Sakura! Mereka berdua mirip Akrhan sama Kuro! Terlalu mirip malah! Hahahaha, pantas saja kayaknya pernah liat dimana gitu!" celetuk Ino sambil menjerit senang begitu mendengar kata-kata Sakura yang menyebut-nyebut nama Akrhan dan Kuro. Gadis itu terlalu senang menjerit sampai tidak menyadari kalau Utakata mendengar percakapan mereka.

"Kalian yang di belakang sana jangan berisik!" Asuma akhirnya menegur Ino dan yang lainnya untuk tidak berisik. Dengan cepat gadis-gadis itu langsung duduk dengan rapih kembali.

"Asuma-sensei! Saya sudah selesai mencatat, boleh ijin pulang duluan?" Utakata meminta ijin pada Asmua untuk keluar kelas duluan. Sepertinya pemuda itu merencanakan sesuatu.

"Ya, silahkan kamu boleh pulang duluan, Utakata," balas Asuma mengijinkan pemuda itu untuk pulang duluan, karena setelah menulis catatan di papan tulis memang sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan Asuma dalam pelajarannya, jadi tak masalah kalau setelah mencatat dia memperbolehkan murid-muridnya untuk pulang lebih awal.

"Terima kasih, sensei!" Utakata dengan cepat langsung mengambil tas dan beberapa bukunya. Dengan bergegas pemuda itu keluar ruangan kelas.

"Sensei curang! Masa Utakata boleh pulang duluan!" protes Ino yang tidak setuju kalau Utaka diperbolehkan pulang duluan dari yang lain.

"Kalian juga boleh pulang duluan kalau sudah selesai mencatat! Makanya jangan ngobrol terus!" dengus Asuma pada Ino yang hoby nyeletuk sana-sini.

"Asiik! Bilang dari tadi dong, sensei!" setelah mendengar perkataan Asuma murid-murid lain langsung jadi lebih bersemangat mencatatnya.

'Aku harus menyingkirkan Arkhan dan Kuro dari sini,' kata Utakata dalam hati yang sedang berdiri di depan kelas. Pemuda itu mengeluarkan sebuah topeng dari tangannya dan langsung memakaikan topeng itu ke wajahnya.

"Cepat Magica!" saat itu terdengar suara Cho yang sedang memanggil Magica. Gadis itu berlari naik ke atas tangga dan tanpa terduga dia kembali melihat sosok yang saat itu dia lihat di tempat mayat naga ditemukan.

'Sosok itu lagi? Dia keluar dari kelas Sakura?' Cho melihat sosok itu segera melompat dari tembok dan entah pergi kemana. Cho hanya terdiam karena dia masih kaget sekaligus penasaran.

"Cho, kau kenapa malah diam disini? Ayo ke kelas!" Magica langsung menarik tangan Cho yang sedang diam itu untuk segera ke kelas.

"Kau ke kelas saja duluan! Ada yang mau aku cek!" kata Cho secara tiba-tiba langsung meninggalkan Magica dan bergegas berlari ke kelas Sakura.

"Cho itu kenapa sih? Kenapa dia jadi aneh begitu?" gumam Magica bertanya pada dirinya sendiri karena heran melihat sikap Cho yang tidak biasanya itu.

Apa yang mau dilakukan Utakata pada Arkhan dan Kuro? Apa akan terjadi pertempuran? Apa yang mau diperiksa Cho? Bagaimana dengan nasib Kaze yang tersasar? Lalu bagaimana nasib Ash yang ada di rumah sakit? Apakah pemuda itu bisa sadar kembali dan sembuh?

TBC…


A/N : Yap, makasih untuk semua masukannya saia tetap memberikan porsi tokoh utama pada Sasuke dan Naruto (gomen Sakura!). Untuk yang ada masukan soal Hinata dan Naruto silahkan disharing, soalnya saia masih bingung mau membuat adegan romance mereka berdua. Kemungkinan besar akan terjadi peralihan pada Sakura.

Disini virus komputernya berubah menjadi virus yang nyata dan menyerang Ash. Virus atau worm biasanya tersembunyi pada suatu file, selain itu biasanya pada backdoor juga terdapat worm yang disisipkan yang tugasnya untuk menyerang lewat backdoor tersebut dan melemahkan sistem komputer target sehingga mudah untuk dimasuki kembali.

Semoga alurnya disini gak kecepetan. Soal Akatsuki mungkin ada sebagian yang bad guys, dan ada yang sebagian netral alias cuek-cuek bebek hehehehe. Baiklah, selamat menikmati dan semoga terhibur.

.

.

"Thanks for reading!".