"Tidak! Ini tidak enaaak..."Jaejoong terus berteriak merengek pada semua pembantunya di siang itu, ini bukan yang pertama kalinya sejak Nyonya muda itu hamil, hampir setiap hari, tiap menit bahkan tiap detik ia akan ngamuk-ngamuk pada semua orang yang ada disekelilingnya, satu-satunya orang yang bisa menenangkannya hanyalah Yunho, yang bahkan tidak bisa tiap detik, tiap menit, tiap hari menemaninya. Kesibukannya sebagai CEO perusahaan besar dunia, membuatnya tak punya banyak waktu untuk menemani istrinya, hanya saja Jaejoong juga tak pernah kehabisan cara untuk membuat Yunho terus berada di sampingnya. Sudah menjadi rahasia umum jika istri miliyarder ini punya penyakit ceroboh dan manja yang akut, dan kondisi kehamilannya yang tidak stabil membuat sifat manjanya semakin parah, tahu jika istrinya memang sangat merepotkan namun Yunho tetap berusaha sabar.

OoooO

"Boo..."Yunho bicara di ponsel, ini sudah hari ketiga ia berada di Jerman

"Hiks hiks,..."Jaejoong terisak, Yunho menarik nafas pelan

"Aku akan pulang kalau pekerjaanku selesai nee,"Yunho mencoba meyakinkan,

"Tapi kapan selesainya, Yunnie, jahat."Suara manja Jaejoong terdengar serak

"Iya maaf, aku akan segera pulang Boo, jangan menangis,"Bujuk Yunho sabar, Jaejoong semakin terisak

"Hueee, Jongie nggak mau sendirian terus, mereka nggak bisa masak enak, hueeee,"

"Iya, nanti kita makan enak, aku akan pulang secepatnya,"

"Iya harus secepatnya, Jongie nggak mau makan kalau Yunnie nggak pulang,"Ancam Jaejoong

"Aku akan pulang, kau harus makan yang banyak,"

"Tidak mau!"bentak Jaejoong

"Hah, baiklah aku tidak akan pulang,sebelum kau makan"Yunho balas mengancam, Jaejoong tampak terdiam disana

"Hmm, arrasou, Jongie makan nee, Yunnie harus pulang secepatnya nee,"

"Iya, iya," dan ponsel di tutup, Yunho menarik nafas berat, di pandanginya foto pernikahannya dengan Jaejoong yang terbingkai indah di meja kerjanya.

"Bogoshippoyo, boo,"Ucapnya lirih, sebelum suara ketukan di kantornya terdengar, dan Yunho kembali menggeluti pekerjaannya.

Sementara itu Jaejoong mulai kembali memanggil para maidnya dan memerintah mereka untuk menyiapkan kembali makan siangnya, bahkan demi kepulangan Yunho, Jaejoong mengirim foto dirinya sedang makan pada Yunho.

"Heh, dasar bodoh,..."Yunho terkekeh pelan begitu melihat hasil selca sang istri beserta makan siangnya.

OoooO

Hari ini pagi sekali Jaejoong terbangun merasa mual yang sangat hebat, ia bahkan bolak-balik ke kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya, bermandikan keringat dingin dan tubuhnya begitu lemas, ia mencoba menghubungi Yunho namun ia bahkan tak sanggup untuk bersuara, bahkan para maidnya sendiri tidak tahu apa yang dialami sang Nyonya didalam kamarnya.

"Jongie kangen Yunnie,"Lirih Jaejoong pelan begitu tubuhnya kembali ambruk di tempat tidur. Ia membiarkan air matanya mengalir

"Hiks, hiks, kapan Yunnie pulang, Jongie sakit,"Lirihnya lagi, hingga akhirnya matanya terpejam lagi.

OoooO

"Jung Jaejoong sepertinya tidak sehat, hah aku begitu mengkhawatirkan anak itu,"Ujar Kyuhyun saat bersama dua sohib kentalnya

"Yah mungkin pulang kuliyah kita bisa menemuinya, aku dengar Yunho sedang ada di Jerman,"Timpal Junsu sambil terus mencatat sesuatu di agendanya

"Jongie itu anak yang lemah, kehamilannya sekarang membuatnya semakin lemah, aku kasihan sekali dengannya,"Ryewook tampak sendu, sementara itu kedua temannya yang lainnya hanya mangut-mangut mengiyakan, mereka memang sangat mengkhawatirkan Jaejoong, mengingat betapa rapuhnya sebetulnya Jaejoong itu.

OoooO

Jaejoong membuka matanya perlahan, ia tertidur lagi setelah puas menumpahkan semua isi makanannya dini hari tadi, ia mencoba menggerakkan tubuhnya namun sesuatu yang hangat menyelimutinya, sekaligus mengunci pergerakannya, ia meraba pingganggnya dan merasakan lengan kekar itu, satu-satunnya lengan yang selalu ia rindukan, lengan milik Yunho suaminya, Jaejoong dengan cepat berbalik.

"Pagi,"Yunho tersenyum tipis, mengelus pelan pipi Jaejoong yang masih menatapnya shock.

"Yunnie,"Jaejoong memeluk Yunho seerat mungkin, menumpahkan semua kerinduannya pada suaminya itu.

"Apa kabar?"Tanya Yunho, Jaejoong cemberut

"Aegya tidak mau makan, Jongie sudah makan, tapi habis itu muntah lagi,"Jawab Jaejoong manja

"Lalu kau ingin makan apa sekarang?"Tanya Yunho perhatian

"Jongie gak nafsu makan,"Jawab Jaejoong pelan, Yunho menarik nafas berat, kemudian segera bangkit dari tempat tidur

"Yunnie mau kemana?"tanya Jaejoong heran

"Ayo mandi, siap-siap, kita makan diluar, kau harus makan sesuatu,"Tegas Yunho, mata Jaejoong langsung berbinar

"Apa Jongie bisa makan apa saja yang Jongie mau?"tanyanya semangat

"Selagi tidak membahayakan aegya, aku akan memberikan apapun,"Jawab Yunho yakin, dan sambil berjingkrak-jingkrak girang Jaejoong segera menuju kamar mandi.

OoooO

Yunho memanjakan Jaejoong sangat berlebihan, dan permintaan Jaejoong juga sungguh keterlaluan, seharian mereka mengelilingi New York mencari segala sesuatu yang diinginkan Jaejoong, mulai dari yang penting sampai yang tidak penting sama sekali, dan alhasil mobil mereka kini penuh dengan perlengkapan tidak jelas akibat nafsu sang istri. Meski sudah dikabulkan semua permintaanya namun tetap saja wajah Jaejoong tidak seceria biasanya.

"Apa masih ada yang kurang?"tanya Yunho dingin

"Jongie kan bilang boneka Connie, dan Brown spesial edition kenapa Yunnie membelikan Jongie boneka beruang jelek itu, Jongie nggak mau,"Jaejoong mempoutkan bibirnya sebal

"Boo, boneka itu akan keluar sebulan lagi, mereka tidak akan menjualnya semahal apapun sebelum tanggal peluncuran, dan lagi kantor pusatnya ada di Jepang" Yunho menjelaskan

"Tapi Jongie mau Connie dan Brown secepatnya,"Marah Jaejoong tidak mau tahu

"Astaga Boo, mengertilah," Yunho frustasi di buatnya

"Hiks, hiks, hiks, Yunnie, jahat, bukan Jongie yang mau, tapi aegya yang mau, Jongie juga nggak mau ngerepotin Yunnie, hiks hiks,"Jaejoong terisak pilu, Yunho di buat serasa hancur lebur dibuatnya, seumur hidupnya ia paling tak tahan mendengar Jaejoong menangis, apatah lagi sekarang sedang hamil.

"Hah, jangan menangis, baiklah-baiklah akan kuusahakan,"Yunho berusaha menenangkan

"Benarkah? Yunnie saranghae,"Jaejoong begitu semangat,

"Ah, besok Jongie pingin makan Sup Kimchi, tapi harus dari Korea asli, yang membuatnya juga harus orang Korea asli, Jongie mau Kimchinya enak, takaran bumbunya pas, hangatnya pas, dan semuanya pas, otte"

"Akan segera kuberikan,"Jawab Yunho singkat, permintaan terakhir tidak terlalu berat mengingat akses Yunho yang cukup luas

OoooO

Yunho mengadakan rapat di aula rapatnya, ia terlihat begitu kelelahan, mereka sibuk membahas rencana kerjasama dengan perusahaan Jerman yang beberapa hari lalu sempat menyita waktu Yunho untuk bersama istrinya.

"Ini kerjasama yang sangat menguntungkan, saya tidak mengatakannya dua kali, tapi jika ada diantara kalian yang merasa keberatan silahkan bicara, kita akan sangat sibuk nantinya, dan saya tidak mau ada masalah apapun," Nada bicaranya begitu dingin, beberapa karyawannya tampak meneguk ludah saking ngerinya, merasa tidak ada tanggapan dari siapapun Yunho akhirnya mengakhiri rapatnya.

"Baiklah, kita akhiri di sini, terima kasih,"Dan Yunho dengan diikuti sekretarisnya segera keluar ruangan.

"Schedulu ku hari ini?"Sambil melangkah elegan, Yunho bicara pada sekretarisnya

"Emm, Tuan Jung, jam 9 pagi nanti, Tuan ada janji dengan Tuan Cho, jan 12 nanti ada rapat penting dengan para pemegang saham di hotel Hilton, jam 3 sore nanti tuan akan menyambut kedatangan Tuan Takada, dan pukul tujuh malam, makan malam dengan Nona Kwon Boa, perwakilan SM Town, dan..."

"Makan malam dengan nona Kwon, astaga itu bisa jadi mimpi buruk,"Gumam Yunho memotong kata-kata sekretarisnya Tiffany, Tiffany mengerutkan dahi bingung

"Apa ada yang bisa menggantikanku untuk makan malam dengan nona Kwon?"Tanya Yunho kemudian

"Maaf Tuan Jung, sepertinya tidak ada,"Jawab Tiffany pelan,

"Makan malam berdua dengan Nona Kwon, hah, Jaejoong tidak akan mengijinkan ini, hubungi Nyonya katakan aku ingin mengajaknya makan malam jam 7 malam nanti,"Akhirnya keputusan terakhir yang bisa dilakukannya hanyalah ikut mengajak Jaejoong bersama, dan Tiffany mengangguk-angguk mengerti. Tiffany kembali meneruskan penjabaran schedule Yunho.

"Tiff, apa kau bisa menghubungi pimpinan perusahaan Line Network yang ada di Jepang?"Tanya Yunho tiba-tiba kini ia duduk di kursi kerjanya, Tiffany lagi-lagi dibuat keheranan,

"Emm itu...akan saya usahakan, tapi..."

"Istriku, dia memaksa ingin merchandise Line, boneka beruang kurasa, dan ia ingin versi spesial edition yang akan keluar sebulan lagi, dan dia menginginkannya sekarang,"Yunho menjawab sambil mengurut pelan pelipisnya.

"Kalau begitu, akan sangat sulit Tuan,"jawab Tiffany gugup, Yunho menarik nafas berat

"Aku juga berfikir begitu,"dan tatapan Yunho kembali menerawang,

"Ada lagi, siapa yang punya kenalan koki Korea yang bisa memasak Sup Kimchi dengan sempurna?"tanya Yunho kemudian, dan Tiffany akhirnya sekarang bisa menebak kali ini pesanan aneh itu atas perintah siapa

"Nyonya Park, dia kepala koki di salah satu restoran utama kita, mungkin dia bisa membantu,"Tiffany memberi usul,

"Kalau begitu hubungi dia, dan kabari aku secepatnya, dan juga Line,"Yunho memberi perintah itu kepada sekretarisnya sebelum ia kembali menekuri dokumen penting di depannya, dan Tiffany kembali ke tempatnya.

"Kasihan Tuan Jung, dia pasti kerepotan,"Gumam Tiffany sambil menatap pintu ruangan Yunho

OoooO

Sementara itu sahabat Jaejoong, Junsu, Kyuhyun dan Ryewook sedang menemani Jaejoong di kamarnya, karena kondisi Jaejoong yang semakin lemah, Jaejoong di paksa Yunho untuk istirahat di rumah, awalnya Jaeoong memang membantah, tapi ia sendiri juga bisa merasakan betapa sekarang ia tak punya banyak tenaga untuk bersenang-senang lagi, ia sering mual muntah, dan asupan makananya begitu sedikit, sehingga membuat Jaejoong mau tak mau harus mangalah.

"Jaejoongie bagaimana rasanya, apa ada yang sakit?"Ryewook yang paling sensitif begitu terpukul melihat kondisi Jaejoong yang sebetulnya tidak terlalu buruk itu, Junsu dan Kyuhyun hanya memutar bola matanya malas.

"Jongie tidak apa-apa,"Jawab Jaejoong polos,

"Hmm, Jaejoongie kuat ya,"Goda Junsu sambil memeluk Jaejoong, Kyuhyun mendekat dan menimpali

"Dewasalah Jung, aku tahu kau pasti sangat merepotkan Yunho,"Sindir Kyuhyun, Jaejoong mempoutkan bibirnya sebal

"Bukan Jongie yang merepotkan tapi aegya yang mau,"Bela Jaejoong sambil mengelus pelan perutnya yang masih datar itu

"Yah terserah kau saja,"Jawab Kyuhyun tak kalah datar

"Hmm, Yunho dikantor?"Tanya Junsu kemudian,

"Hmm, tapi tadi Tiffany nelpon katanya jam tujuh malam nanti Yunnie ngajak Jongie makan malam,"Jawab Jaejoong ceria

"Yah, baguslah, makan yang banyak ya, kami tidak bisa lama-lama disini, kami harus segera pulang,"Ujar Junsu sambil tersenyum, Jaejoong balas tersenyum

"hah, sudah berapa lama ya, Jongie tidak kekampus,"ucap Jaejoong sambil menerawang...

OoooO

"Ini Sup Kimchi kan?"Boa tersentak lumayan kaget, ini sudah yang kesekian kalinya ia merasa makan malam yang menurutnya seharusnya membahagiakan itu berubah menjadi neraka, mulai dari kehadiran sang Nyonya Jung yang mendampingi Jung Yunho, pengalihan tempat pertemuan ke salah satu restoran milik keluarga Jung, informasi mengejutkan tentang kehamilan Jaejoong, dan terakhir menu Sup Kimchi yang terhidang di atas meja. Demi apa, ini adalah restoran western dan ia harus berakhir dengan menu Korea.

"Maaf, Jaejoong sedang ngidam sup Kimchi,"Penjelasan Yunho jelas tak menjawab semuanya.

"Pelayan,"Dan Yunho kemudian memanggil pelayan

"Ada apa Tuan?"

"Nona ini, maaf kurasa ia ingin mengganti menu,"Yunho menatap Boa

"Emh, ti tidak, aku suka sup kimchi, aku rasa ini enak,"Kenyataannya Boa memang bukan tak suka sup kimchi, ia hanya sangat kaget sebelumnya, dan Yunho mengangguk-angguk mengerti, melupakan istrinya yang tenggelam lahap dengan sup kimchinya.

"Tidak enak!,"Jaejoong tiba-tiba menghempaskan sendoknya, Yunho meliriknya kesal

"Boo,"

"Rasanya tidak enak, Jongie tidak mau makan, Jongie mau pesan yang lain,"Jaejoong memanggil pelayan, dan mulai memesan menu lain, Yunho membiarkannya, mencari nafsu makan Jaejoong sejak hamil adalah yang tersulit.

"Kenapa semua rasanya tidak enak,"Jaejoong mengeluh lagi, ini sudah yang kesekian kalinya ia mengeluhkan masakan koki ternama, sementara Boa dan Yunho sudah menghabiskan makanan mereka sejak tadi, dan sudah hampir selesai membahas kerja sama yang akan mereka bina lagi.

"Boo, ayolah,"Yunho sangat putus asa dibuatnya

"Makan sesuatu, kau akan sakit kalau begini terus,"Nasehat Yunho sabar

"Tapi makanannya tidak enak, Jongie tidak suka,"Jaejoong melipat kedua tangannya di dada

"Ayo makan sedikit saja,"Yunho menyendok salah satu makanan yang dipesan Jaejoong dan mencoba menyuapinya

"Emmm,"Jaejoong menutup muluntnya rapat, dan menghindar

"Sesuap saja, kalau tidak, tidak akan ada Connie dan Brown,"Ancam Yunho masih mengacungkan sesendok kimchi itu, Jaejoong dengan ragu membuka mulutnya perlahan, dan memasukkan makanan itu ke mulutnya dan menelannya, benar-benar seperti merawat balita.

"Makan sedikit nee,"dan Yunho kembali menyuapinya, mengacuhkan Boa yang menatap mereka penuh cemburu, serasa ditampar seribu tangan, wajah Boa kontan memerah, rasanya hati dan otaknya semakin panas

"Menyebalkan!,"batin Boa, ia menatap tajam Jaejoong seakan ingin menelannya hidup-hidup, Jaejoong tampak acuh, meski ia sebetulnya sadar.

OoooO

"Yun, yunnie,"Tubuh Yunho terasa di goyang-goyang terganggu dengan situasi menyebalkan itu, Yunho terbangun, matanya masih kabur dan berat, ia tersadar saat mendapati istrinya Jaejoong sedang menatapnya dengan puppy eyes yang sangat imut.

"Ada apa Boo?"tanyanya pelan

"Jongie pingin makan Yak Gwa,"Jawab Jaejoong pelan, Yunho menarik nafas berat, dan mengambil jam weker di sampingnya, menatapnya dengan tatapan memelas

"Ini sudah jam 1 dini hari Boo,"Ujar Yunho frustasi

"Tapi Jongie pingin makan Yak Gwa sekarang, Jongie tidak bisa tidur,"

"Lalu dimana aku harus mencari Yak Gwa? Ini New York bukan Korea,"

"Terus Jongie makan apa?"

"Kita cari makanan yang lain saja nee,"

"Tidak mau! Jongie tidak mau,"Jaejoong begitu tidak mau tahu,

"Hah baiklah,"Yunho berganjak dari tempat tidur, ia mencuci muka sebentar, kemudian, mengambil jaket dan kunci mobilnya, dan hendak berangkat, namun ia kembali berbalik merasa ada yang menahannya

"Ada apa lagi Boo?"Tanyanya

"Jongie ikut nee,"Jaejoong memohon

"Jangan, diluar sangat dingin,"Jawab Yunho tak kalah dingin

"Tapi Jongie mau ikut, pokoknya mau ikut,"Kesal Jaejoong, Yunho kembali menarik nafas berat

"Hah, baiklah, baiklah, pakai jaket tebal, syal, topi dan penutup telinga, jangan sampai kau masuk angin, mengerti,"Titah Yunho, Jaejoong tersenyum dan mengangguk semangat

OoooO

Yunho hampir bisa dikatakan menjadi sangat tak berguna, mencari tempat yang menjual perlengkapan Korea di negara barat bukanlah hal mudah, apalagi jika itu sudah larut malam, apalagi dengan cuaca sedingin ini. Ia ingin menghubungi seseorang yang bisa dibantunya tapi tidak selarut ini. Yunho melirik salah satu toko obat dengan huruf Korea di depannya, secepat kilat ia segera memarkirkan mobilnya ke tempat itu.

"Kita mau makan Yak Gwa, kenapa berhenti di toko obat?"tanya Jaejoong heran

"Berdoalah pemiliknya orang Korea dan mempunyai persediaan Yak Gwa dirumah,"Jelas Yunho sambil keluar mobil, dengan diikuti Jaejoong mereka masuk ke tempat itu. Tempatnya tidaklah besar, dan sebagian besarnya menjual ginseng dan obat-obatan tradisional Korea, Yunho menghampiri sang pemilik, ia sungguh lega melihat sang pemilik yang berwajah Asia.

"Emm, Jeogiyo,"Yunho mencoba berbasa-basi dengan bahasa Korea

"Nee,"Jawab sang pemilik, membalasnya kembali dengan bahasa Korea

"Hah syukurlah, maaf kami tidak kesini untuk mencari obat,"Ujar Yunho langsung ke pokok permasalahan, sang pemilik mengerutkan dahi bingung, menurunkan kaca matanya sedikit

"Lalu?"Tanyanya heran

"Istri saya, sedang hamil, ia begitu menginginkan Yak Gwa, apa Tuan mempunyainya?"Tanya Yunho, sang pemilik kemudian beralih menatap Jaejoong yang kini tersenyum manis

"Istrimu cantik sekali, tapi maaf, aku tidak mempunyai Yak Gwa,"Jawab sang pemilik, Jaejoong tampak sedih dan Yunho tak kalah kecewa

"Kau terlihat familiar nak,"Ujar sang pemilik sambil menatap Yunho

"Emh, terima kasih, kami permisi dulu, maaf mengganggu,"Yunho membungkuk sebentar, kemudian menarik Jaejoong segera keluar dari tempat itu, sebelum sang pemilik mengenalinya.

"Eh, eh iya,"Sang pemilik masih berpikir keras sambil menatap kepergian Yunho

"Aku rasa dia sangat terkenal,"Ujarnya lagi, sebelum matanya kini tertumpu pada salah satu koran yang tergeletak di depannya

"Jung Yunho?... Astaga orang itu Jung Yunho dan istrinya Jung Jaejoong...!,"

OoooO

"Boo, aku rasa kita tidak bisa menemukannya malam ini, besok saja nee, aku janji besok aku akan membelikan yang banyak,"Rayu Yunho, Jaejoong menatap Yunho sebal.

"Besok harus ada nee, Jongie mau Yak Gwa , Connie dan Brown juga, Jongie nggak mau makan sebelum ada meraka,"Ancam Jaejoong

"Iya, iya, malam ini makan yang lain saja,"Yunho mencoba membujuk

"Tidak! Jongie sudah tidak lapar,"Jawab Jaejoong tegas,

OoooO

Yunho terburu-buru mencapai kantornya, pertama kali seumur hidupnya ia telat ke kantor, matanya tampak sembab dan ada lingkaran panda di bawah matanya, wajahnya tampak begitu lelah dan tak bersemangat. Jaejoong benar-benar seperti anak kecil yang harus dijaga 24 jam, pulang dari mencari Yak Gwa semalam, Jaejoong tak langsung tidur, ia menghabiskan waktunya menonton TV dan memaksa Yunho untuk menemaninya sampai pukul 4 pagi, pagi-pagi sekali Yunho terbangun dan menyadari kalau mereka tertidur di ruang TV, sambil terseok-seok Yunho membopong Jaejoong ke kamar dan menyelimutiya sebelum ia berangkat ke kantor, dan beginilah Yunho sekarang, jika Jaejoong tidak berhenti menyiksanya, bisa saja beberapa hari kemudian dia sendiri yang akan terbaring di rumah sakit.

Begitu tiba di ruangannya, Yunho langsung memerintahkan Tiffany untuk memanggil beberapa orang dalam listnya yang menurutnya bisa membantunya pagi ini, dan semuanya berkewarganegaraan Korea.

"Aku benar-benar membutuhkan bantuan kalian,"Yunho memulai pembicaraannya di depan belasan karyawan yang berdiri di depannya

"Yak Gwa aku membutuhkannya sebanyak yang kalian bisa temukan, dan aku menginginkannya sebelum pukul 10 pagi, apa kalian bisa melakukannya?"Tanya Yunho menatap karyawan itu satu persatu, para karyawan saling pandang

"Emmm,aku akan memberikan uang lembur untuk itu,"Yunho menambahkan, tampak sumringah para karyawan itu segera menyetujui

"Kami akan mencari sebisa kami Tuan Jung," Yunho tersenyum senang, dan kini beralih pada beberapa orang berpakaian lebih rapi dari karyawan tadi, yang kini juga menatapnya tak kalah cemas

"Dan aku juga membutuhkan bantuan kalian, sekretarisku sudah berusaha untuk menghubungi pihak Line network, dan sepertinya tidak berhasil, kalian akan berangkat ke Jepang hari ini, sebagai perwakilanku untuk memohon pada pihak LineNetwork untuk menjual merchandise spesial mereka yang belum diluncurkan, paling tidak sepasang saja untuk Nyonya, dan jika kalian berhasil atau gagal segera kabari aku,"Titah Yunho selanjutnya, dan mereka mengangguk mantap

"Aku juga akan memberikan uang lembur untuk itu,"Yunho menambahkan diakhirnya.

OoooO

Yunho dibuat tak konsentrasi seharian itu, atas kerjasama karyawannya Yak Gwa sekarang sudah berada di tangan Jaejoong, masalah berat lainnya adalah Jaejoong masih menagih Connie dan Brown yang Yunho sendiri harus mendatangi kantor pusatnya di Jepang untuk memohon boneka edisi terbatas itu demi istrinya. memang tak instan tapi ia akan berusaha semampunya memberikan apapun yang diinginkan Jaejoong.

"Maddy, apa yang dilakukan Nyonya sekarang?"Yunho menelpon salah satu maidnya untuk menanyakan keadaan Jaejoong sekarang

"Nyonya sedang makan Yak Gwa Tuan, sepertinya kali ini ia makan lumayan banyak,"Jawab Maddy nada suaranya terdengar senang, Yunho menghela nafas lega

"Syukurlah, aku ada rapat, katakan aku agak lembur malam ini,"Ujar Yunho kemudian

"Baik Tuan,"Jawab Maddy, dan Yunho hendak menutup telponnya kemudian teringat sesuatu

"Maddy bagaimana kondisi Nyonya?"Tanya Yunho lagi, Maddy mengerutkan dahi bingung

"Ba..ik,"Jawab Maddy ragu

"Apa dia terlihat bersemangat?"Tanya Yunho

"Iya, Nyonya sangat bersemangat, sepertiya sudah kembali seperti biasa,"Jawab Maddy ceria, di seberang sana Yunho tampak menarik nafas

"Kalau begitu jaga dia, aku punya firasat buruk, jika staminanya sudah kembali,"Ujar Yunho kemudian, Maddy mengerutkan dahi bingung, namun setelah berpikir keras ia akhirnya mengerti

"Oh ya, saya mengerti tuan,"Ujar Maddy semangat, dan Yunho akhirnya menutup teleponnya.

OoooO

Jaejoong mengelus-elus perutnya yang datar, matanya terpejam dan di telinganya terpasang sebuah heaphone yang melantunkan nada klasik yang lembut, ia duduk bersandar dengan tenang, wajahnya ceria dan tersenyum manis. Ia mengikuti lantunan lagu dan ikut berdendang, rambutnya yang lembut bertebaran tertiup angin menyapu wajahnya yang tampak sayu.

"Nee aegya, kita jalan-jalan nee, umma bosan di rumah,"Ucapnya berbisik pada perutnya

"Nona anda mau kemana?"Tanya sang supir taksi agak keras

"Oh, emh, panggung Gisangel,"Jawab Jaejoong yakin

Sementara itu di kantor Yunho

"Apa?!"Yunho hampir berteriak saking kagetnya, membuat beberapa karyawannya kaget.

"Ini sudah yang kedua kalinya, bagaimana kalian bisa kehilangannya?"Tanya Yunho panik

"Kami mengantar Nyonya ke kantor Tuan, tapi kami tidak menyangka Nyonya akan menyelinap lewat pintu belakang dan melarikan diri dengan taksi,"Jawab sang bodyguard di seberang sana

"Cepat cari Nyonya sekarang!"Titah Yunho geram,

"Baik Tuan,"Jawab sang boyguard patuh, telepon mati dan sepertinya tanpa menunggu banyak waktu mereka segera memacu mobil mengitari seluruh kota untuk mencari sang majikan.

"Hah, sudah kuduga,"Ujar Yunho frustasi, ia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, beberapa karyawan yang berdiri di depannya takut untuk menyela meski mereka sedang memiliki urusan mendesak dengan Bos mereka itu.

"Aku akan pergi, serahkan saja pada Tiffany,"Ujarnya memberi perintah pada karyawan itu, mereka mengangguk patuh, dan membungkuk pada Yunho yang kini hampir berlari keluar ruangan.

Jaejoong masih di dalam taksi, entah kemana taksi itu membawanya yang jelas jalanan ini semakin tampak tak biasa menurutnya

"Kita dimana pak?"Tanya Jaejoong heran

"Restoran Gisangel,"Jawab sang supir

"Astaga pak, saya tidak sedang ingin ke restoran, saya ingin ke panggung, panggung akrobatik Gisangel,"Jawab Jaejoong panik

"Memangnya ada tempat seperti itu?"Supir itu malah balik tanya

"Ada, dan saya ingin ke tempat itu,"

"Itu restoran Gisangel nak, apa kau tidak ingin mencobanya, kau akan suka makan di tempat itu,"Ujar sang supir sambil menunjukkan sebuah rumah makan sederhana, yang menarik dari tempat itu adalah, sepertinya menu ASIA. Jaejoong menimbang-nimbang sejenak.

"Em, baiklah, saya akan coba, saya turun disini saja,"Jaejoong akhirnya memutuskan untuk mencoba menu di restoran bertema ASIA itu, Jaejoong mengeluarkan uang di dompetnya dan mengambil beberapa lembar dollar kemudian menyerahkan uang itu pada sang supir, namun dompetnya tanpa sengaja terjatuh di bawah jok mobil dan Jaejoong maupun sang supir tak menyadarinya sama sekali. Jaejoong keluar dengan santai tanpa menyadari bencana lain yang sedang mengincarnya.

"Nee aegya umma rasa makanan itu enak, ayo kita coba,"ia kembali bicara pada perutnya yang datar, dan Jaejoong terlihat memasuki tempat makan itu.

Sekelilingnya benar saja tertata rapi, tidak terlalu ramai, dan kebanyakan pengunjung berwajah ASIA, ini adalah restoran Vietnam, sangat unik dan klasik, Jaejoong menyukai tempat ini. Ia memilih salah satu tempat duduk disekitarnya, dan mulai memesan banyak menu yang tersedia

Sementara itu di panggung Gisangel, Yunho dan Bodyguard Jaejoong tiba di tempat itu hampir bersamaan, dan mereka sama pusingnya saat tak menemukan Jaejoong di tempat itu.

"Kau kehilangannya lagi?"Hyun Joong tersenyum geli melihat raut cemas Yunho

"Bahkan dengan semua bodyguard yang kau berikan pun tak mampu menjaganya? Astaga pasti saat sekolah ia seorang brandalan,"Ujar Hyun Joong terkekeh pelan

"Ia memang brandalan,"Jawab Yunho sebal, Hyun Joong menghentikan ketawanya

"Jangan khawatir dia akan baik-baik saja,"Hyun Joong mencoba menenangkan

"Dia sedang hamil, dan kondisinya sangat lemah beberapa hari ini,"Ujar Yunho tidak bisa tenang

"Ya sudah aku akan membantumu mencarinya,"Hyun Joong menawarkan bantuan, Yunho hendak menjawab lagi, namun ponselnya bergetar, ia segera mengangkatnya, dan mulai bicara.

"Apa? Restoran Gisangel? Memang ada tempat seperti itu?"Yunho tampak bingung

"Baik aku kesana,"Yunho mematikan ponselnya

"Orangku sudah menemukannya, aku akan menjemputnya,"Ujar Yunho kemudian, Hyun Joong mengangkat bahu acuh

"Terima kasih,"Ucap Yunho tulus, Hyun Joong tersenyum, dan Yunho berbalik dan segera pergi memacu mobilnya menuju restoran Gisangel

"Kau pasti sangat bahagia, Jung Jaejoong,"Gumam Hyun Joong pelan, tersenyum begitu tulus, sebelum kembali memulai aktifitasnya.

Jaejoong terlihat panik, wajahnya begitu pucat, pihak restoran mendesaknya untuk membayar pesanannya, sementara Jaejoong baru sadar jika ia kehilangan dompetnya.

"Maaf dompet saya hilang, sumpah saya tidak bermaksud sengaja,"Jaejoong sangat ketakutan, ketika sang pemilik memasang wajah sangar, mendesaknya untuk segera membayar

"Lalu sekarang kau ingin pergi begitu saja? Siapa yang akan menanggung semua makanan ini?"Sang pemilik begitu berang, Jaejoong tertunduk ketakutan, dan kini semua mata tertuju pada mereka

"Suami saya, saya akan menghubungi suami saya, dia akan membayarnya,"Jaejoong segera merogoh tasnya dan mencari ponselnya dan sial lagi ia tak menemukannya

"Astaga aku meninggalkan ponsel di atas tempat tidur,"batin Jaejoong putus asa, begitu sadar ponselnya tertinggal

"Mana? Kau juga kehilangan ponsel?"Sang pemilik memincingkan matanya lebih tajam

"Hah, sudah, kalau kau tidak mampu membayarnya, kau harus mencuci semua piring di restoran ini, sampai kami tutup,"Titah sang pemilik sadis, tak sadar jika orang yang di perintahnya itu sedang hamil, mata Jaejoong berkaca-kaca, ia tampak sedih. Tak sabar lagi sang pemilik segera menarik tangan Jaejoong hendak menyeretnya ke belakang, Jaejoong hampir pasrah, namun tiba-tiba

"Maaf,"Yunho datang menarik tangan Jaejoong yang satu lagi, sang pemilik menatap Jung Yunho begitu intens hampir ingin memaki, namun suaranya tercekat saat melihat sosok tak biasa di depannya itu

"Anda? Jung... astaga anda Jung Yunho kan?"Sang pemilik melepas tangannya dari Jaejoong dan begitu sumringah melihat kehadiran Yunho, dan semua mata pengunjung semakin tertarik menonton mereka

"Dia istriku,"Yunho menarik Jaejoong dan mendekapnya, sang pemilik shock bahkan membuka mulutnya sangat lebar

"I...istri Tuan Jung?"Sang pemilik melirik Jaejoong yang tertunduk

"Ah, Nyonya Jung ma...maafkan saya, saya tidak tahu anda..." Sangat gugup sang pemilik meraih tangan Jaejoong menunjukkan penyesalannya, Jaejoong langsung dibuat tak enak, ia membalasnya canggung

"I...itu sebenarnya saya yang salah,"Ujar Jaejoong merendah diri

"Maafkan istri saya, saya akan membayar semua yang dihabiskannya,"Yunho merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa dollar dari dompetnya

"Maaf untuk kekacauan ini,," Yunho menyerahkan lembaran dollar itu yang jumlahnya bahkan hampir 3 kali lipat dari harga asli makanan Jaejoong, dan tanpa basa-basi langsung menarik Jaejoong keluar dari tempat itu, meninggalkan sang pemilik restoran masih dengan keterkejutan yang luar biasa, bahkan tak sadar jika ia sedang menggenggam lembaran dolar ditangannya dan meninggalkan pengunjung lain yang masih terpesona dengan kharisma Jung Yunho.

Yunho menuntun Jaejoong ke dalam mobilnya, wajahnya sangat masam

"Jangan lakukan ini lagi Boo, berapa kali sudah kukatakan,"marah Yunho, Jaejoong terdiam

"Kau sedang hamil,"Yunho berusaha menahan emosinya,

"Maaf, Jongie tidak mau ditemani bodyguard lagipula Jongie yakin Yunnie bisa menemukan Jongie, Jongie Cuma mau ke panggung Gisangel, tapi supir taksi itu salah dan malah membawa Jongie ke Restoran Gisangel,"bela Jaejoong

"Makanya jangan pergi tanpa ada satu orang pun yang menjagamu,"kesal Yunho kini nada suaranya meninggi

"Tapi..."

"Jangan membantah,"bentak Yunho, Jaejoong tertunduk takut

"Astaga, kau merepotkan sekali,"Gumam Yunho masih begitu emosi, Jaejoong terdiam ia takut sekali jika Yunho sudah emosi begini.

Mereka tiba di rumah dengan selamat, namun emosi Yunho belum juga reda, ia membanting pintu mobilnya begitu kuat, menyerat jasnya kasar, menekuk muka, berjalan sangan cepat dan meninggalkan Jaejoong di belakang, melonggarkan dasi dan kerah bajunya sepanjang koridor rumahnya dengan sangat kasar, dan berakhir dengan membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras. Jaejoong kalau sudah begini pasti akan diam, dia ketakutan, dan memilih untuk tidak melakukan atau mengatakan apapun, apalagi yang bisa memacu kemarahan Yunho.

"Hiks Hiks, Yunnie marah beneran,"Ucap Jaejoong sambil terisak pilu di atas tempat tidurnya.

OoooO

Yunho terbangun malam harinya, dengan kepala yang terasa begitu berat, ia mendengar suara berisik di dalam kamar mandi. Ia meraba sampingnya dan tak menemukan Jaejoong. Berusaha kembali mengumpulkan kesadarannya Yunho kemudian bangkit, dan berusaha mencari sumber keributan itu. Mereka memang masih dalam kondisi tak bertegur sapa, tapi bukan berarti Yunho sudah tak peduli lagi pada istrinya, justru ia sangat khawatir sekarang.

"Boo..."Gumam Yunho pelan, lampu kamar mandi nyala, memancarkan cahaya terang di kamar mereka yang redup, Yunho berganjak dari tempat tidurnya, bejalan perlahan menghampiri kamar mandi.

"Boo!,"Yunho melihat Jaejoong sedang tertunduk di wastafel, nafasnya tak teratur dan Jaejoong terus menerus memuntahkan isi perutnya. Yunho khawatir sekali, ia menghampiri Jaejoong dan mengelus lembut punggung Jaejoong.

"Boo, kau tidak apa-apa?"tanyanya cemas, Jaejoong berhenti, lemas, ia hampir terjatuh jika saja Yunho tak segera menahannya

"Boo,"Yunho panik dan segera membopong Jaejoong ke kasur mereka.

"Hiks, hiks, perut Jongie sakit,"Jaejoong tampak sangat pucat, tubuhnya begitu lemah, Yunho mengelus lembut rambut Jaejoong, menatapnya sangat cemas

"Aku akan menelpon Dr. Wilson, bertahanlah," Yunho menyambar ponselnya segera menghubungi orang yang dimaksud. Begitu terhubung Yunho segera memberitahu kondisi istrinya, dan diseberan sana sang dokter segera berangkat ke kediaman keluarga Jung.

Jaejoong merengek-rengek seperti anak kecil sambil memegangi perutnya, saat dokter sedang memeriksanya. Jaejoong bahkan belum berhenti muntah, bahkan ketika sudah tidak ada apapun lagi yang bisa ia muntahkan Jaejoong semakin terlihat lemah, Yunho dibuat begitu khawatir olehnya.

"Kondisi ini memang biasa untuk ibu hamil muda, tapi jika sudah berlebihan begini bisa membuat asupan gizi berkurang, dan kondisi Nyonya akan memburuk, Nyonya harus dirawat di rumah sakit" ucap sang Dokter serius, Yunho menarik nafas berat, tubuhnya tertopang pada dinding di belakangnya, ia mengacak pelan rambutnya, sambil menatap pasrah ia berkata

"Kali ini apalagi..."

TBC

Mianhe, kali ini updatenya beneran lama, bingung harus memulai dari mana, dan mengakhirinya sampai kemana, oh ya sepertinya saya sudah mulai memikirkan ending cerita ini,selamat membaca, dan terima kasih