Donghae melemparkan bantal miliknya ke pintu. Untuk kesekian kalinya ia berteriak penuh kemarahan pada para pelayannya yang terus memaksa Donghae untuk makan. Tak ia hiraukan suara perutnya yang terus minta untuk diisi sejak pagi tadi. Donghae memilih untuk berbaring tengkurap di ranjangnya, membenamkan kepalanya pada sebuah guling. Dan menangis. Ne, seorang Lee Donghae sedang menangis sekarang, menangis untuk nasibnya, menangis untuk hidupnya, menangis untuk takdirnya, menangis untuk cintanya.
Donghae bisa merasakan gulingnya basah, sebenarnya wajar saja kalau mengingat ia sudah membenamkan kepalanya di sana sambil menangis sejak semalam.
"Tuan Muda... Kajja, kita makan dulu," teriakan dari salah satu pelayannya terdengar─lagi. Donghae menggeram marah.
"KALIAN BERISIK! PERGI DARI KAMARKU SEKARANG JUGA!" serunya marah. Donghae bangkit dari posisinya, lalu menendang pintu kamarnya─yang terkunci dari dalam─sekuat mungkin. Menghasilkan bunyi benturan keras. Pelayan di luar menjerit kecil─terkejut─lalu cepat-cepat pergi dari depan kamar Tuan Muda mereka itu.
Perlahan Donghae mendudukkan dirinya di marmer keras berlapis karpet itu, ia menyandarkan punggungnya pada pintu kamarnya. Donghae menekuk kedua lututnya, lalu membenamkan kepalanya di sana. Lagi-lagi ia menangis, kali ini terisak lebih keras.
"Hyung..." sebuah bisikan kecil sebelum akhirnya tubuh Donghae melemas─tertidur karena lelah menangis.
.
.
You are Mine!
A Super Junior fiction
You are Mine! Cloud1124
Cast themselves
Warning: Typo(s), OOC, Crack Pairing, BoysLove
.
(Saran! Karena menurut Cloud chap ini cukup panjang, bacanya yang santai ya~! :D)
(Backsound! Walau maksa, It Has to be You - Yesung boleh juga... :P)
.
Don't Like? Don't Read!
RnR?
Donghae masuk ke kelasnya dengan langkah ragu. Kini ia tak lagi mengenakan seragam, karena ia telah resmi bukan lagi siswa Elf Arts Senior High School. Donghae mengenakan sebuah mantel abu-abu di atas kemeja putih dan celananya, sebuah kupluk hitam tetap setia menutupi surai cokelat Donghae.
Tatapan seluruh siswa jatuh padanya, berbagai raut tak terdefinisikan ada di wajah mereka.
"Hae-ya, kenapa kau tidak pakai seragam?" celetuk Shindong dari ujung kelas. Guru yang mengajar tersenyum pada Donghae, lalu merangkulnya mendekat.
"Nah, yeorobun. Hari ini kelas di tiadakan, waktu akan kita gunakan untuk mengucap salam perpisahan pada ketua kubu dance." Suara teriakan keras terdengar dari penjuru kelas itu, Eunhyuk langsung berlari ke depan kelas dan mencengkram bahu Donghae erat.
"Jelaskan. Pada. Kami!" titah Eunhyuk tajam. Donghae meringis kecil.
"Mianhae, aku akan pindah ke Amerika besok pagi. Jadi aku akan menyerahkan jabatanku padamu, Hyukie," ucap Donghae sambil memeluk tubuh Eunhyuk. Semua yang ada di sana─kecuali Donghae dan gurunya─memekik terkejut.
"Pindah? Kenapa mendadak sekali?" tanya Leeteuk sambil berjalan ke depan, ia membawa tubuh Donghae dalam pelukan hangatnya. Donghae tersenyum kecil.
"Ne, Eomma memintaku pergi lusa yang lalu. Dan aku menyetujuinya kemarin malam."
Eunhyuk dan Leeteuk tersenyum dan mengangguk, tapi Donghae bisa melihat rona kecewa pada wajah keduanya.
"Apa kau habis menangis, Hae? Matamu sembab..." komentar Eunhyuk pelan. Donghae tersenyum getir.
"Sejak semalam, hingga pagi tadi," jawabnya sama pelan. Eunhyuk memandangi sosok di depannya dengan iba. Ia tahu benar apa yang membuat Donghae, ketua mereka yang kuat itu menangis semalaman.
Donghae mengalihkan pandangannya dari Eunhyuk, ia lebih memilih untuk berbincang dengan temannya yang lain. Tapi Eunhyuk tahu, pikiran Donghae tak ada di sini. Pikiran Donghae ada di sana.
.
.
Yesung menoleh ke arah area kubu dance saat ia melihat barisan orang-orang yang sedang mengerumuni sesuatu─ah, seseorang rupanya─hingga membuat kantin sedikit gaduh. Pandangan Yesung beralih pada Sungmin dan Henry yang berjalan ke arahnya sambil bergandengan tangan, dari arah datangnya mereka bisa dipastikan mereka baru saja keluar dari kerumunan itu.
"Ada apa di sana, Ming?" tanya Yesung saat Sungmin dan Henry sudah duduk di depannya.
"Ah, Hyung belum tahu? Lee Donghae akan pindah ke Amerika besok," jawab Henry sekenanya.
Deg!
Yesung hampir menyemburkan strawberry milkshake yang baru saja ia minum kalau saja Sungmin tak menggenggam tangannya secara tiba-tiba. Akhirnya Yesung berusaha menelan cairan yang kini seolah terasa pahit itu.
"P-pindah? Kenapa mendadak sekali?" tanya Yesung pelan. Sungmin menghembuskan napas pelan.
"Katanya ia akan mendalami hal-hal tentang dance di sana, sekaligus menemani Hyungnya," jawab Henry sambil melahap hamburgernya. Yesung merasa dadanya sesak untuk beberapa detik.
Yesung ingin sekali berlari ke sana sekarang, mendekap tubuh Donghae seerat mungkin. Tapi itu tak mungkin, ia terlalu hina untuk bisa bertatap muka dengan Donghae lagi.
"Min, apa aku boleh minta tolong padamu?"
"Mworago?"
Yesung menoleh sesaat, tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan mata Donghae yang─entah sengaja atau tidak─sedang melihat ke arahnya. Namun itu tak berlangsung lama, karena Donghae segera membuang muka ke arah lain.
"Jebal..."
.
.
Sebuah hari berlalu begitu saja. Donghae tersenyum manis menatap sosok Siwon dan ketiga dongsaengnya yang sedang berdiri di hadapannya.
"Jaga kesehatanmu, Siwonie," ujar Donghae sambil menepuk kepala namja yang lebih muda darinya itu. Siwon tersenyum tipis.
"Kau juga, Hyung. Di sana lebih dingin dari pada Korea, selalu pakai mantelmu..."
Donghae mengangguk, setelah itu ia memeluk tubuh Siwon erat. Memang seharusnya begini, hubungan di antara mereka tak lebih dari sekedar hubungan saudara dan sahabat. Mereka tak akan pernah saling mencinta.
Donghae memeluk ketiga dongsaeng Siwon secara bergiliran.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya pelan. Lee Sungmin. Donghae sedikit terkejut mendapati sosok sahabat Yesung itu mengantar keberangkatannya di bandara ini.
"Sungmin-ssi? Kau datang juga?" Donghae mencoba ramah. Sungmin tersenyum membalasnya.
"Ne, dan aku juga bertugas menyampaikan pesan," jawab Sungmin sambil membuka tas selempangnya. Donghae berjengit bingung.
Sungmin menyerahkan sebuah amplom berwarna putih bersih. "Igo..."
Donghae menerimanya dengan ragu, ia bisa melihat sebuah tulisan hangul berderet rapi di bagian depan amplop. 'Lee Donghae'. Donghae hapal benar tulisan siapa itu. Itu tulisan nya.
Donghae baru akan membuka amplop itu kalau saja tangan lembut Sungmin tak menahannya. "Jangan sekarang, jebal."
Dengan ragu Donghae mengangguk, ia segera memasukkan amplop itu ke dalam sakunya.
Panggilan sang Eomma menyadarkan Donghae bahwa ia akan segera berangkat, dengan cepat ia memeluk seluruh sahabatnya yang hadir, seperti Eunhyuk, Leeteuk, Shindong. Ia juga memeluk lagi Siwon juga Sungmin. Dengan cepat ia menarik kopernya, sambil melambai ia segera masuk ke tempat boarding pass.
.
.
Donghae duduk di tempat duduknya─tepat di samping sang Eomma. Beberapa saat ia menunggu, berbagai prosedur di jalankan, hingga akhirnya terdengar pengumuman bahwa pesawat akan segera take off.
Bahkan hingga pesawat telah meninggalkan bandara Incheon, Donghae belum juga buka suara. Merasa tak aneh, sang Eomma hanya membiarkannya dan memilih untuk tidur.
Setelah merasa bahwa Eommanya tak akan bangun untuk beberapa jam ke depan, Donghae mengambil amplop yang ia simpan di sakunya tadi, dengan tergesa Donghae membukanya. Ia menemukan tulisan hangul yang berderet rapi tertulis di kertas itu. Memberanikan diri, Donghae membaca kata per katanya.
Donghae-ya...
Pertama-tama, aku ingin mengucapkan satu hal. Jeongmal mianhae. Aku merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa kita beberapa hari ini.
Aku tahu, sejak awal kita tak pernah bisa akur dan rukun. Apa kau ingat? Saat pertama kali kita dikenalkan satu sama lain di ruangan Gyojangnim dulu kita langsung berdebat? Haha... Aku ingin tertawa kalau mengingatnya...
Donghae tersenyum kecil. Lalu pandangannya turun ke paragraf berikutnya.
Apa kau ingat saat kau memukulku di depan semua kubumu dulu? Tahu tidak, waktu itu pukulanmu sakit sekali! Bahkan aku sulit bernyanyi saat aku dipanggil Seonsangnim untuk ke depan kelas. Tapi waktu itu, entah kenapa aku tak bisa membencimu. Tapi aku masih belum tahu, apa alasanku untuk tetap tak membencimu?
Donghae, kau tahu tidak? Beberapa bulan yang lalu, saat kita akan kencan untuk yang pertama kalinya. Aku takut sekali... Aku takut karena saat itu kau sedang marah padaku, kau sedang tidak mood 'kan?
Tapi aku senang, karena kau tak menolak ajakanku.. Dan aku senang karena kau adalah orang pertama yang menemaniku kencan.
Donghae masih terus tersenyum.
Belakangan ini aku sadar akan satu hal... Aku sudah jatuh cinta padamu.
Aku suka pada semua yang ada padamu. Matamu. Kulitmu. Rambutmu, ah.. terlalu banyak. Yang jelas aku menyukaimu! Bahkan mencintaimu... Saat aku berusaha memastikan perasaanku, aku semakin sadar, sosokmu sudah tak hanya sebagai namjachingu paksaku... Kau adalah seseorang yang bisa merebut tempat di hatiku ini, Hae. Kau adalah orang paling spesial untukku. Jauh dari peringkat Kyuhyun di hatiku.
Lee Donghae tersayang... Aku shock saat tahu kau akan pindah ke Amerika... Bahkan aku hampir menyemburkan minumanku... Saat itu aku ingin sekali mendatangimu dan memintamu untuk tetap bersamaku... Tapi aku tahu, sekarang kau tak akan pernah mendengarku lagi, karena kau membenciku 'kan? Karena aku sudah menyakitimu terlalu dalam...
Donghae mendesis pelan, "Pabbo! Siapa yang bisa membencimu!"
Wajahnya menunjukkan kesan serius, namun senyumnya tak kunjung pudar.
Aku sadar permintaan maafku ini percuma... Tapi aku tetap mengatakannya karena aku mencintaimu. Ya, sangat mencintaimu. Aku yakin aku tak akan bahagia tanpamu. Kau boleh bilang aku berlebihan, tapi inilah kenyataannya.
Sekarang kau sedang dimana? Kalau boleh kutebak, kau sedang dalam penerbangan... Benar 'kan?
Aku tahu, karena aku memang meminta Sungmin untuk menyuruhmu membacanya di dalam pesawat...
Ah, masalah ini juga... Mianhae, karena aku tak bisa datang dan mengantarmu, juga mengantar surat ini sendiri.. Aku terlalu takut, aku juga terlalu rendah untuk bertatap muka denganmu, Hae... Jadi aku hanya bisa menulis ini, menulis semua yang ingin ku ungkapkan padamu lewat sebuah surat tak berharga...
Dongie~ Walaupun kau pergi... Maukah kau menepati janji yang kau buat di danau dulu? Aku akan sangat bahagia kalau kau mau menepatinya... :D
Ah, kurasa suratku sudah terlalu panjang... Sebaiknya aku berhenti mengoceh.. Haha...
Jaga kesehatan... Makan teratur... Tidur cukup... Latihan yang banyak ya! Aku yakin kau bisa sukses, Hae..
Aku akan selalu mendoakanmu dari sini...
Saranghae...
Prince Yesung
Donghae berusaha menahan tawanya sekuat tenaga saat melihat nama terakhir yang tertulis di bagian bawah kertas itu. Setelah akhirnya ia berhasil, keningnya berkerut. Ia berusaha mengingat sesuatu.
Yesung bilang 'janji yang kau buat di danau'? Janji yang mana?
Perlahan tapi pasti, memori Donghae terbuka lagi.
Donghae dan Yesung berjalan-jalan di sekitar danau, malam itu. Keduanya sesekali bercanda dan tertawa.
Langkah Donghae terhenti kala matanya menangkap sinar rembulan yang jatuh di danau menciptakan sebuah kilauan indah. Yesung terdiam melihat wajah Donghae yang menunjukkan kekaguman.
"Hyung, lihat itu... Indah sekali!"
"Sangat... Tapi lebih indah wajahmu, Hae..." goda Yesung sambil menyentil ujung hidung Donghae. Membuat sang empunya hidung merona dengan bibir mengerucut.
"Jangan gombal, Hyung! Itu menjijikkan!" Yesung terpingkal melihat wajah Donghae yang bertolak belakang dengan kata-katanya.
Sejenak keduanya terdiam. Sampai akhirnya mereka berdua memutuskan untuk duduk di hamparan rumput dekat danau itu.
"Hae... mau kah kau berjanji sesuatu?"
"Apa itu?"
"Dua tahun lagi akan ada pertandingan antar kedua kubu 'kan?"
"Hyung, itu kan masih dua tahun lagi..."
"Dengarkan dulu!" omel Yesung sambil menjitak kepala Donghae pelan. Yang dijitak hanya mengangguk kecil.
"Maukah kau tetap berada di dekatku untuk mendukungku?"
"Hah.. Untuk mendukungmu sih, tidak mau! Aku akan mengutamakan kubuku sendiri... Tapi untuk tetap di dekatmu, tentu saja! Aku akan selalu bersamamu, entah itu sebagai teman atau sainganmu!" seru Donghae semangat. Yesung terkekeh pelan.
"Yakkssok?" Yesung mengacungkan jari kelingkingnya yang─kelewat─mungil.
Dengan antusias Donghae mengaitkan jemari kelingkingnya─yang lebih besar─ke kelingking Yesung. "Yakkssok, Hyung."
Donghae terdiam. Janji yang itu... apakah mungkin ia tepati?
Perlahan setetes air mata mengalir─lagi─dari iris kelam Donghae, dan jatuh di kertas itu─menciptakan noda-noda basah di sana. Dengan sekuat tenaga Donghae menahan isakannya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat─mengabaikan fakta bahwa itu justru membuat bibirnya berdarah.
Jemari Donghae meraba kertas berisi tulisan Yesung itu─tepatnya meraba tulisan terakhir yang tepat berada satu baris di atas nama konyol yang Yesung sertakan. Tulisan yang terbaca sebagai ucapan cinta Yesung untuknya.
Donghae mendekap kertas yang mulai kusut itu ke dalam pelukannya. Air matanya masih mengalir pelan─tak sederas tadi.
"Na do saranghae, Hyung." Bibir Donghae membentuk sebuah senyum.
.
.
Two years later...
Yesung terlihat sibuk di bagian belakang panggung. Ia tak bisa berhenti berteriak pada para hoobaenya yang entah kenapa selalu membuat masalah saat ini.
"YA! Singkirkan meja itu ke sebelah utara... Itu menghalangi jalan!" serunya pada dua orang hoobae yang sedang mengobrol. Dua namja itu mengangguk kikuk dan menuruti perintah ketua mereka yang─kelewat─sensitive hari ini.
Sebuah tepukan kecil dari seseorang membuat Yesung berbalik dengan cepat.
"Jangan marah-marah, Hyung..." ujar namja itu pada sosok Yesung yang sedang terdiam di depannya.
"Siwonie... sudah ku bilang 'kan? Jangan masuk area kubu-ku! Kita sedang bertanding!" Yesung menepuk lengan kiri Siwon pelan. Siwon tersenyum simpul.
"Ne, Hyung. Aku hanya ingin menculik Baby Kyu sebentar..."
"Andwae! Dia harus siap-siap untuk penampilan duet kami!" kata Yesung sambil merentangkan kedua tangannya, menghalangi jalan Siwon untuk masuk lebih jauh. Siwon menghela napas pelan.
"Hyung, nanti saja ya... Aku dan Sungie-hyung mau siap-siap..." ujar Kyuhyun yang baru saja datang dan berdiri di belakang Yesung. Siwon melenguh pelan, sebelum akhirnya mengangguk. Ia mencium pipi Kyuhyun sekilas, lalu mencubit pipi Yesung sebelum berbalik pergi.
"Huh! Namjachingumu itu selalu begitu, Kyunie..." Yesung menepuk puncak kepala Kyuhyun perlahan, lalu melenggang pergi. Sementara itu Kyuhyun segera meluncur masuk lagi untuk mengurus hal-hal yang di butuhkannya.
.
Yesung mendudukkan dirinya di gazebo taman belakang sekolah. Di tangannya sekaleng soda tergenggam. Beberapa orang yang melihatnya mencibir pelan, menyangsikan bahwa orang seperti Yesung akan menang kalau sebelum lomba saja sudah santai-santai seperti ini. Yesung─yang mendengarnya─tampak tak peduli dan melanjutkan acara santainya sambil meminum soda dingin yang tinggal separuh kaleng itu.
Pandangan Yesung menelusur ke sekililing taman, dilihatnya kumpulan beberapa petinggi kubu show seperti Siwon, Kibum, Yunho, dan Heechul yang sedang mengobrol dengan serius. Pandangan Yesung tertumbuk pada sosok Siwon yang berdiri paling ujung, nampak serius membaca mapnya. Namun tiba-tiba Siwon mendongak, dan menatap langsung ke arah Yesung. Siwon tersenyum padanya dan hanya dibalas Yesung dengan senyum yang sama.
Yesung tersenyum kecil saat mengingat sifat Siwon yang jauh lebih baik padanya semenjak ia memutuskan untuk membatalkan pertunangannya dengan Kyuhyun dan menyerahkan Kyuhyun pada Siwon. Walau ada sedikit rasa bersalah yang merayap di dada Yesung kala melihat raut wajah Lee Sooman saat itu. Raut kecewa dan sakit hati.
Yesung ingat benar bagaimana respon Lee Sooman saat itu...
"Gyojangnim, aku mundur dari pertunangan ini..." kata Yesung sambil berlutut di hadapan Sooman. Sooman menatapnya pilu.
"Apakah ini balasanmu, Jongwoon-ah? Aku sudah membantumu sebegini banyak sejak kau masih SMP, melindungimu dari orangtuamu yang kejam, menyekolahkanmu, membelikan barang-barang yang kau butuhkan... Tapi inikah balasanmu?" ujar Sooman lirih. Yesung menahan napasnya.
"Mianhae, Ahjussi. Aku melakukan ini justru karena aku ingin membalas jasamu, Kyuhyun terlalu berharga untuk hidup bersamaku." Yesung berdiri dari posisinya, memeluk tubuh tua yang sejak kecil selalu menjaganya, membantunya. Yesung menangis di bahu Sooman. Sementara Sooman mengusap punggung Yesung perlahan.
"Kyuhyun mencintai Siwon, Ahjussi. Biarkan ia bahagia," lanjut Yesung parau. Sooman tersenyum tipis.
"Dia mencintaimu..."
"Anni. Kyuhyun sudah jatuh pada Siwon, dia hanya belum menyadarinya... Aku yakin itu..."
"Haha... Baiklah, walau aku tak mendapatkan menantu impianku, rasanya bocah Choi itu baik juga..."
Yesung melepas pelukannya, lalu tersenyum lebar.
Yesung tersenyum tipis kala mengingatnya, kira-kira kejadian itu ia bicarakan tiga hari setelah Donghae berangkat ke Amerika.
Deg!
Donghae... namja itu lagi. Yesung terdiam, tak mengacuhkan minuman soda di tangannya yang seolah berteriak minta dihabiskan. Apa Donghae masih mengingatnya? Apa Donghae masih mengingat janjinya? Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran Yesung. Perlahan-lahan air mata Yesung merangkak turun, membuat pipi putihnya berkilau oleh air mata.
"Hyung," panggil seorang namja pada Yesung pelan. Ia tahu Yesung sedang menangis, kalau melihat bahunya yang bergetar kecil. Yesung yang merasa terpanggil cepat-cepat mengusap air matanya, lalu membalikkan badannya.
"Ah, waeyo, Kyunie?" tanya Yesung pada figur Kyuhyun yang menatapnya khawatir.
"Gwaenchanayo, Hyung?"
Yesung tersenyum dan berdiri, ia melemparkan kaleng sodanya─yang masih separuh terisi─pada tempat sampah terdekat. Ia mendekati Kyuhyun dan merangkul bahunya perlahan.
"Apa kita sudah akan tampil? Kajja, Hoobae! Hwaiting!" Yesung menyunggingkan sebuah senyum─yang Kyuhyun tahu itu palsu. Dengan enggan Kyuhyun mengimbangi langkah Yesung yang terus mengarah pada backstage yang letaknya di aula sekolah mereka.
.
.
Seorang namja membetulkan letak kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Di tangannya sebuah topi hitam tergenggam. Dengan segera namja itu memakai topi tadi untuk menutupi separuh surai cokelat caramel miliknya. Dengan langkah pasti ia melangkah masuk ke dalam gerbang megah yang tampak dihias untuk event khusus ini.
Namja itu berbisik pelan, sambil melangkah masuk, "Aku pulang..."
.
.
Yesung mengambil microphonenya, lalu naik ke panggung kala sang MC menmanggil namanya. Namun seketika langkahnya terhenti, ia menoleh ke belakang.
"Kyu, kau tidak ikut?"
"Mianhae, Hyung. Kau bernyanyi solo saja, ne?" Kyuhyun mendorong punggung Yesung pelan. Dengan kaku Yesung mengangguk lalu naik ke atas panggung. Ia tersenyum. Beberapa detik kemudian, suara alunan piano terdengar. Yesung mengangkat microphonenya.
.
.
"Hyung, kau yakin dia akan datang?" tanya Kyuhyun pada Siwon dengan nada mendesak, dengan kasar Kyuhyun meremas lengan kemeja Siwon. Siwon tersenyum kecil, dengan lembut ia mengusap puncak kepala Kyuhyun yang tertutup surai sewarna cokelat madu.
"Ne, tadi Heechul bilang padaku, penampilan kubu kami dimundurkan untuk penampilannya."
Kyuhyun menghela napas sebentar. "Dia akan tampil? Memang itu boleh?"
"Padahal kau anak Gyojangnim, tapi kau justru tidak tahu? Katanya dia akan mewakili kubu dance tahun ini..."
Kening Kyuhyun berkerut. "Tapi dia bukan siswa lagi, Hyung."
"Tanyakan itu pada Appa, Baby..." jawab Siwon sambil tersenyum manis. Kyuhyun juga tersenyum, lalu melirik pada Yesung yang sedang bernyanyi sekarang.
...neol bogo sipdago tto ango sipdago,
Jeo haneulbomyeo jidohaneun nal...
(...I'm losing my way again I'm praying to the sky,
I want to see you and hold you more, that I want to see you and hold you more...)
Yesung bernyanyi dengan sepenuh hatinya, menumpahkan segala perasaannya pada setiap kata yang meluncur keluar dari mulutnya. Semua yang menonton tampak terhanyut dalam lantunan suara Yesung. Merasakan setiap sakit yang tersalur dari untaian kalimat bernada itu.
Niga animyeon andwae, Neo eobsin nan andwae...
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul.
(It can't be if it's not you, I can't be without you...
It's Ok if I'm hurt for a day and a year.)
Mata Yesung terpejam erat, tangannya yang kosong ia arahkan untuk menyentuh dadanya sendiri.
Na apado joha, Nae mam dachyeodo joha─nan...
Geurae nan neo hanaman, Saranghanikka...
(Like this, It's fine even if my heart is hurt─yes...
Because I'm just in love with you…)
Yesung membuka matanya, menatap ke arah penonton dan anggota kubunya yang tersenyum memberi semangat. Pandangannya jatuh pada Kyuhyun dan Siwon yang menatapnya dari kursi paling belakang bagian penonton. Mereka tersenyum lembut padanya.
Nae meongdeun gaseumi, Neol chajaorago... Sorichyeo bureunda.
Neon eodinneungeoni? Naui moksori deulliji anni?
Naegeneun~
(My bruised heart, Is screaming to me... to find you.
Where are you? Can't you hear my voice?
To me~)
.
.
Eunhyuk tampak tak berniat melepaskan pelukannya, ia tak peduli tentang fakta bahwa namja yang kini sedang ia peluk meronta sedemikian rupa.
"HYUKIE! Lepaskan… sesak!" ujar namja itu sambil berusaha melepaskan tautan tangan Eunhyuk di lehernya. Namun Eunhyuk tak menunjukkan tanda-tanda akan menggubris kata-kata namja itu.
"Jeongmal bogoshippo…" bisik Eunhyuk lirih. Kali ini Sang namja menghentikan gerakannya, ia tersenyum tulus, lalu membalas pelukan Eunhyuk perlahan.
"Na do…"
.
.
...naega jikyeojul saram,
Naega saranghal saram─nan...
Geurae nan neo hanamyeon chungbunhanikka~
(You're the one i will keep,
You're the one i will love─I'm...
Yes because I'm happy enough if i could be with you~)
Yesung tersenyum dalam nyanyian, mendadak figur Lee Donghae berkelebat dalam pikirannya. Yesung langsung menutup matanya, tak ingin bayangan itu mengganggu konsentrasinya, ia menggenggam microphonenya makin erat.
Neo hanam,
Saranghanikka...
(I'm Just,
In love with you...)
Yesung menurunkan microphonenya, lalu menunduk singkat sebagai tanda terima kasih atas banyaknya sorakan dan tepuk tangan dari penonton dan juri.
Sang MC mempersilahkan Yesung turun. "Penampilan menakjubkan dari ketua kubu music! Sekarang, saatnya penampilan dari ketua kubu dance, Lee Donghae!"
Serentak semuanya terdiam, termasuk Yesung yang baru saja menuruni panggung. Ia menoleh, menemukan seorang namja tampan yang mengenakan kaus lengan pendek bewarna putih, rompi tanpa lengan bewarna biru dan celana jeans hitam. Di lehernya melingkar earphone biru─yang Yesung hapal benar bagaimana bentuknya.
Donghae melepaskan kacamata hitamnya, lalu menggantungkannya di kerah kausnya. Seberkas senyum ia lempar pada penonton. Tiba-tiba netranya menangkap sosok seorang Kim Jongwoon yang berdiri terpaku di pinggir stage. Dirinya sendiri juga terdiam, namun tak lama, karena detik berikutnya ia sudah mendengar dentum musik yang mengisyaratkannya untuk mulai bergerak.
.
Kyuhyun berulang kali menatap cemas pada Yesung dan Donghae secara bergantian, tk henti-hentinya ia meremas ujung kemejanya sendiri─hingga tampak kusut. Kyuhyun tak menggubris kata-kata penenang dari Siwon, membuat Siwon hampir emosi kalau tak mengingat dengan siapa ia bicara.
Beberapa menit pandangan Kyuhyun terpaku pada Donghae, lalu menit berikutnya jatuh pada Yesung yang masih tampak shock. Tak lama Kyuhyun bisa melihat tubuh Yesung hampir oleng kalau saja Sungmin dan Henry─yang ada di dekatnya─segera menangkapnya dan mendudukkan Yesung di kursi terdekat.
Saat penampilan Donghae berakhir, ia hanya sempat menunduk dan melempar senyum seadanya sebelum akhirnya berlari menghampiri Yesung dengan wajah khawatir.
"Hyung, gwaenchanayo?" Donghae meraih bahu Yesung yang terkulai lemas. Ia menatap wajah Yesung yang kini telah bersimbah airmata.
"Apa itu kau, Hae?"
Donghae tertawa lembut. "Ne. It's me, Hyung..."
"Kau pulang?" lagi-lagi Yesung bertanya di antara isakannya. Ibu jari Donghae mengusap aliran airmata yang jatuh di pipi Yesung─walau sedikit tak rela, karena airmata itu membuat wajah Yesung sedikit terlihat seperti ehemukeehem.
"Ssshh... uljima, Hyung. Aku pulang, aku di sini..."
"Apa ini berarti kau memaafkanku?" Yesung menatap Donghae dengan iris kelamnya yang masih berkaca-kaca. Dengan mantap Donghae mengangguk.
Isakan Yesung mengeras, membuat beberapa orang yang ada di sana tersenyum geli─bahkan beberapa tertawa secara terang-terangan.
Donghae menarik Yesung berdiri, lalu merangkulnya. Ia membawa sosok Yesung─yang masih menangis─pergi ke arah gazebo di taman belakang sekolah. Tak menghiraukan sorakan dan siulan keras dari teman-teman mereka.
Sementara itu di belakang mereka, Siwon dan rombongan beberapa anggota kubu show naik ke panggung untuk pementasan drama mereka.
.
"Uljima, Hyung... Kenapa kau jadi cengeng sekali?" tanya Donghae sambil membawa tubuh Yesung dalam pelukannya begitu sampai di gazebo. Tangis Yesung mereda seiring mengeratnya pelukan Donghae.
"Gamsahamnida, Hae-ya..." kata Yesung setelah melepaskan pelukannya.
"Untuk apa, Hyung?"
"Karena kau telah menepati janjimu... karena kau pulang..." jawab Yesung dengan senyumannya. Donghae mengangguk.
"Ah, Hae... aku ingin tanya..."
"Hn?" Donghae mengambil tangan kanan Yesung dan menciuminya pelan.
"Err─apa kau sudah punya namjachingu atau yeojyachingu?" tanya Yesung ragu. Donghae tersenyum sumringah.
"Aku sudah punya namjachingu, Hyung."
Deg!
Mendadak dada Yesung terasa sesak, lagi-lagi ia merasakan matanya memanas, hendak mengeluarkan butiran kristal cair.
"Nugu?" tanya Yesung dengan suara serak. Donghae menyeringai jahil.
"Neorago..."
"Eh?" Yesung membelalakkan matanya.
Kali ini Donghae tersenyum lembut. "Bukankah kita tidak pernah putus, Hyung? Kita masih berhubungan dalam dua tahun ini, Pabbo..."
Sejenak Yesung terpaku, sampai kemudian ia tersenyum. Dengan cepat ia mencium bibir Donghae dalam. Melepaskan semua rasa rindunya.
Donghae sempat terkejut, namun akhirnya tetap membalas ciuman Yesung yang mulai mengganas. Yesung melepaskan lumatannya beberapa menit kemudian, itupun karena aksi protes Donghae yang sudah kehabisan napas.
"Saranghae… jeongmal saranghae, Chagi," kata Yesung sambil mendekap Donghae erat. Donghae tersenyum dan membalas pelukan Yesung sama eratnya.
"Na do… na do saranghae…"
Sesaat keduanya diam dan hanya saling menatap. Yesung tampak luar biasa gugup, sementara Donghae tak ingin memindahkan pandangannya dari wajah sang seme.
"Eh, Hyung. Menurutku, sudah saatnya kita tukar gelar…" bisik Donghae.
"Mwo?"
"Kalau dipikir-pikir, seharusnya kau yang jadi uke. Kau cengeng sekali…"
"Kalau kau berani, jangan harap aku akan menemuimu lagi…" ancam Yesung tajam, Donghae menelan salivanya takut-takut.
"Ne, Hyung. Anggap saja aku tak pernah mengatakan apapun."
Yesung tersenyum kecil sambil mempererat pelukannya. Ia bahagia. Karena bagaimanapun juga, ia telah mendapatkan cintanya.
"Saranghae…"
.
.
Malam harinya, di kediaman keluarga Choi…
"Hhh… akhirnya mereka bersatu juga…" kata Kyuhyun yang baru saja menutup teleponnya.
"Kau telepon siapa? Yesung-hyung atau Hae-hyung?" tanya Siwon sambil terus menyisir helai rambut Sulli yang sedang tidur di pangkuannya.
"Sama saja, mereka mengatakannya berebutan, sepertinya mereka sedang berciuman… suaranya tidak terlalu jelas…" jawab Kyuhyun sambil meminum airnya.
"Kau mau menginap, Baby?" tanya Siwon pelan. Kyuhyun tersenyum.
"Ne, aku mau menemanimu malam ini… Hitung-hitung ucapan selamat atas kemenangan kubu show tadi…" Kyuhyun mengangkat bahunya pelan.
"Tapi seperti biasa, malam ini aku tidur di kamar Minho, selagi Minho sedang ada uji coba tim sepak bola di Busan…" Seringai jahil terpeta di namja tinggi berjuluk evil itu.
Siwon tertawa kecil. "Ne… My Princess…"
"Ya! Aku ini namja, Hyung." Kyuhyun melemparkan serbetnya ke wajah Siwon.
"Terserah saja, Kyu…" Siwon mengelak dari serbet yang dilempar oleh tangan panjang Kyuhyun. Bibirnya mengerucut tak suka.
Kyuhyun terkekeh pelan, lalu berdiri.
"Wah… ngambeknya kambuh lagi… Aku mau ke rumah Yesung-hyung saja, ahh. Lumayan, lihat orang pacaran…" Kyuhyun hendak berbalik.
"Chakkaman!" langkah Kyuhyun berhenti. Ia melihat Siwon yang kini merebahkan kepala Sulli di bantal sofa dengan hati-hati lalu segera berjalan ke arahnya.
Siwon segera menghimpit tubuh kurus Kyuhyun ke dinding, membuat punggung Kyuhyun membentur dinding bercat putih itu. Siwon segera menangkap bibir Kyuhyun dalam sebuah lumatan ganas, yang langsung di balas Kyuhyun sama ganasnya.
"Kau tak boleh pergi kemanapun, Kyu…" Siwon melepaskan tautan bibir mereka. Lalu tersenyum manis pada Kyuhyun yang kini menyeringai kecil.
"Wae, Hyung?"
"Because. You. Are. Mine!" katanya dengan penuh penekanan. Siwon merapatkan pelukannya. Sementara Kyuhyun tersenyum manis.
"…I'm yours, Chagi…" bisik Kyuhyun sebelum keduanya kembali saling melumat penuh cinta.
.
.
FIN
a/n:
Huweeeee~~~ Endingnya enggak banget! DX Berkesan rate-nya naik dikit… .
Yesungdahlah… yang penting udah tamat! #plak Cloud tahu ini mengecewakan.. ._. Endingnya gak sesuai banget… Alur kecepetan! OOC! #menghujatdirisendiri
Mianhae readersdeul… Jeongmal mianhae… T.T #deepbow
Nah, seperti biasa… Cloud ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya buat readers yang udah mau baca, review, ngefave, nge-alert, baik story maupun author… Gomawo… :D #pelukreaderdeul
Cloud gak bakal bisa namatin fict ini kalau bukan karena dukungan dari kalian… Cloud sayang kalian… :')
Saranghae yeorobun… :*
Sampai jumpa di fanfict Cloud selanjutnya… :D
Mind to Review for the last chapter?
Jeongmal Gomawo… :D
Cloud1124
