Jauh sebelum matahari terbangun dari peradabannya dan menyapa semua makhluk bumi. Di kala waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi. Ketika orang-orang di sana masih sibuk berpetualang di alam mimpi, sepasang mata kelam masih terbuka di tengah kegelapan malam nan sunyi.

Tubuhnya meringkuk. Pemuda itu tengah memeluk lututnya dan menenggelamkan wajah eloknya di antara kedua tempurung lutut. Sang Tuan Muda Uchiha tersebut menatap kosong lantai semen yang didudukinya, namun tetes air mata belum juga berhenti seolah tak akan pernah mengering. Batinnya berguncang. Entah itu galau, sedih, marah, kecewa, dan cemas bercampur menjadi satu.

Sejujurnya, sebagai seorang ayah, Sasuke sangat menyesal karena menelantarkan Haruki. Seharusnya ia mengantar bocah itu sampai ke kelasnya, lalu menungguinya. Kalau saja ia melakukan itu tadi, hal ini pasti tidak akan pernah terjadi.

"Apapun …" ia berbisik ambigu di sela isak tanpa suaranya. "Apapun akan kulakukan … apapun akan kukorbankan … asal putriku sembuh … Kami-sama … tolong aku …"

Pemuda berambut biru pekat itu kemudian meremas rambutnya. Matanya yang redup mengerling tak tentu arah. Bibir pucatnya yang terkatup bergetar, seolah ingin meneriakkan sesuatu yang mengganjal hatinya.

'Apa yang harus kulakukan …? Apa yang harus kulakukan … apa …? Apa …? Ap …—'

"—a … Ayah …"

"!"

Sasuke tersentak ketika suara serak itu memanggilnya. Ia mendongak, kemudian menghampiri sumber suara yang berasal dari tempat tidurnya. Memang sulit membedakan suara si kembar, namun sebagai ayah, ia sudah hafal benar yang mana suara Haruki dan yang mana suara Haruka.

—dan yang memanggilnya tadi adalah Haruki. Ia yakin itu.

"—nande shite? Ha-Haru … ki …" ucap Sasuke terbata seraya mengangkat tubuh mungil putrinya ke dalam dekapannya. Dengan hati-hati ia memeluk sosok yang tengah meremas kaos yang dikenakannya tersebut. "—apa yang membuatmu terbangun …?"

Remasan itu semakin menguat. Sang Tuan Muda Uchiha dapat merasakan cairan basah yang menembus permukaan kaosnya. Singkat kata, malaikat kecilnya menangis. Dan itu membuatnya semakin sesak, semakin merasa bersalah. Ingin rasanya ia mengucapkan, "berhentilah menangis! Kau hanya akan membuat Ayah terus menderita!" —namun sepertinya kalimat itu terdengar egois.

"Gomenasai …" isak gadis itu di sela tangisan halusnya. Tak peduli akan rasa sakit luar biasa yang menyerang wajahnya, Haruki menenggelamkan kepalanya di dada bidang ayahnya.

Sang ayah muda itu menaikkan sebelah alisnya bingung. "… untuk apa?" tanyanya.

"Hiks … aku … aku selalu merepotkan Ayah …. Aku … aku masih ingat ketika —hiks! Ketika aku baru masuk sekolah, dan … dan aku mengusirmu, aku marah-marah padamu seraya berkata —hiks! Ayah sudah mempermalukanku di depan teman-temanku … hiks … ugh …" papar Haruki terbata. Bahunya berguncang hebat. Gigi-giginya beradu walaupun banyak yang sudah tanggal.

Sasuke terbelalak. Ia tertegun sejenak. Namun kemudian ia tersenyum seraya mengecup puncak kepala Haruki lembut.

"Tak apa … jangan mengingatnya lagi … aku selalu memaafkanmu," bisiknya dengan nada menghibur. Tubuh mungil Haruki masih tersengguk. Dan dengan naluri seorang ayah, ia mengelus punggung mungil memar itu pelan. "Maaf … mungkin sekarang Ayah telah mempermalukanmu, Haruki. Membuat wajahmu babak belur dan mata kananmu buta. Ayah janji akan menggantikannya. Janji,"

—dan kalimat pengantar tidur itu membuat Haruki membelalakan mata kirinya lebar.

'Mengganti … mataku …?'

"Inilah pengorbanan yang wajib kulaksanakan,"

'—na-nani shite?'

.

.

.

Sacrifice

Bab 9: Pengorbanan

Summary: \Bab 9: Pengorbanan/ "Apa yang akan kaukorbankan untuk Haruki, hah?" "Apapun. Bahkan aku rela mengorbankan nyawaku." —dan asal kautahu, ayahmu bukan pahlawan biasa. RnR again?

Warning: fail angsty, AU, OOC, OC, weirdo, typo, bad languages, etc.

Disclaimer: Somebody who loves me foreva *bows*

.

.

.

Dan ketika mentari menyapa melalui celah jendela, yang hanya dapat dipantulkan oleh retina Haruki adalah sosok ibunya yang tengah menyapu lantai rumah. Tak ada Haruka di sebelahnya, tak ada Sasuke yang mendekapnya. Ia berbaring telentang di atas dipan kayu itu, dengan selimut tipis kumal yang menutupi tubuh mungilnya sampai sebatas dada.

Dengan susah payah, gadis kecil itu bangkit dari posisi tidurnya —dengan gerakan patah-patah. Ia meringis kecil, membuat Sakura tersentak pelan dan menghampirinya.

"Haruki!" seru wanita berambut merah jambu itu tertahan. Ia menopang punggung putrinya, lalu menatap nanar wajah datar yang kini menampakkan ekspresi kesedihan. Wajah ayu nan manis itu berubah menjadi buruk rupa dan menyeramkan. Kedua belah pipinya membengkak besar dan berwarna keunguan. Bibirnya lebam, dan wajah bagian kanan yang tertutup perban. Membuatnya tak tega melihat derita yang harus dipikul sang anak.

Haruki menatap datar ibunya. Bibirnya yang membesar itu bertegar seolah ingin mengucapkan sesuatu.

"M-ma-mana … d-di … di-di mana …" ia berujar terbata, diiringi dengan ringisan dan lenguhan kecil. Sakura hanya terdiam, tak mengerti harus berbuat apa. Hatinya terlanjur ngilu. Saat Haruki melanjutkan perkataannya yang terpotong.

"A … A-Ayah …?"

Sakura meneguk ludahnya seraya menundukkan kepalanya, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. Tatapan tajam Haruki seolah meneror, meneror, dan menerornya.

"J-jangan bilang … Bunda me-mengusirnya lagi —uhuk!"

"Tidak … bukan begitu …"

Wanita itu menggeleng pelan seraya tersenyum miris. Ia tak tahu harus memulai ceritanya dari mana. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bayang-bayang sosok suaminya, dan pertengkarannya dengan dia.

"Bangun, Tolol!"

"Hn—"

"Bukan saatnya kau bersantai seperti itu! Harusnya kau bertanggung jawab atas semuany—"

"Ya, ya, ya. Apapun katamu. Aku per—"

"—jangan memotong omonganku, Brengsek! Apa kau lupa hari ini anakmu yang satunya sekolah, eh?"

"Hn."

"BICARALAH DENGAN JELAS, TUAN UCHIHA!"

"Ya, Nyonya. Serahkan semuanya padaku."

.

Lagi, Sakura tersentak saat putrinya bangkit dan mencengkeram bahunya erat. Matanya menatap tajam, menyiratkan seribu satu ekspresi yang tersembunyi di baliknya. Cucuran air membasahi lantai semen yang kini mengering.

"Ha-Haruki …"

"Dengarkan aku, Bunda …!" serak gadis itu. "… kau terlalu lemah dalam mengendalikan emosi! Kau tidak pernah sabar dalam menghadapi sesuatu dan … dan … —dan kau selalu melampiaskannya pada Ayah! —uhuk!" ia berbatuk-batuk namun tetap melanjutkan paparannya. "—k-kasihan … Ayah! Ayah sering ti-tidak makan demi kita, Bunda! Da-dan kau ha-hanya menambah penderitaannya. Ba-bagaimana kalau suatu saat nanti —hiks —Ayah meninggalkan kita?"

Kembali mata sang Bunda terbelalak mendengar tutur kata putri sulungnya. Ia terdiam, namun tangannya bergerak menahan kucuran darah yang keluar melalui mulut anaknya. Ia menangis, tanpa isak, namun sang anak dapat melihatnya.

"M-maaf Bunda … ma-maafkan aku …! A-aku tidak bermaksud menyakitimu! —ugh!"

Gadis kecil berambut legam itu mengusap pelupuk mata ibunya dengan ibu jarinya. Sakura dapat merasakan tangannya yang bergetar. Ia meraih tangan itu, kemudian mengecupnya. Setelahnya mendekap anaknya dengan hati-hati.

'Bunda yang selama ini salah, Sayang …. Maaf. Maaf. MAAF! Maaf, Sa … Sasuke …'

(Sasuke … Sasuke … Sasuke … SASUKE! Kacaukacaukacau KACAU!)

#

'BRUGH!'

Kedua tubuh yang berbeda postur itu tak sengaja bertubrukan. Membuat sang pemuda bertubuh lebih kecil —yang nyaris limbung ke atas permukaan tanah itu meringis pelan seraya memijit pelipisnya. Ia mendongak, dan mendapati sesosok pria berambut pirang yang tengah menatapnya nyalang. (What a familiar face, isn't it?)

"Hei! Kautaruh di mana matamu itu, hah?" maki pria itu.

Masih dengan wajah datarnya, Sasuke mendecih kesal. Ia memutar pola mata black pearl-nya sehingga si pemuda bermata safir itu menarik kerahnya. Si pirang menatapnya geram. "Kutanya kau, kenapa kau sama sekali tak menjawab, Uchiha?" makinya lagi. Sasuke tersenyum kecil seraya mengangkat kedua tangannya. (Actually he knows who's that 'crazy' man.)

"Gomen ne Naruto-sama … aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini,"

Mereka terdiam sejenak. Sasuke hafal benar siapa sosok pemuda bernamakan Uzumaki Naruto itu. Ada sebuah seringai dingin dan angkuh yang terpatri di wajah kecokelatannya. Ia berjalan condong ke depan, lalu mendorong tubuh kecil sang bungsu Uchiha ―sehingga punggungnya bersentuhan langsung dengan tembok. Sebelah tangannya ia gunakan untuk bertumpu. Ia menatap tajam Sasuke yang memasang wajah datar dan tenangnya.

"Kudengar anakmu dapat musibah ya? Hmm … siapa itu namanya? Haru … Haruki? Ya, dia," bisik Naruto seraya menyeringai sinis.

Sasuke mengangguk pelan. Senyuman tipis yang tenang tertampang di wajah eloknya. Sang Uzumaki tunggal menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kenapa kau tersenyum? Kau senang anakmu buta? Dasar gila," decaknya kesal.

"Benar, tapi maaf. Semuanya bukan urusanmu,"

Mata hitam obsidian itu menyorotkan sorot keseriusan. Tajam, namun tenang. Baru kali ini Naruto melihat emosi yang terpancar dari sosok tak berekspresi di hadapannya. Mata safir Naruto mengikuti langkah santai Sasuke, namun pemuda itu mencegatnya. "Tunggu!" serunya dengan suara berat. Pemuda berambut raven tersebut menautkan alisnya.

"Aku bisa membantumu, dan membuat mata Haruki kembali pulih," ujar sang Uzumaki dengan seringai rubah (licik)nya. Ia menggaruk dagunya yang tak gatal, menunggu respon yang diberikan oleh tuan muda Uchiha. Dan emosinya nyaris memuncak ketika Sasuke menggelengkan kepalanya, menolaknya.

"Kenapa kau menolaknya? Sombong sekali!"

"Bukan begitu. Haruki-chan itu anakku, bukan anakmu. Kau sama sekali tak ada hak untuk mengurusinya," sengit Sasuke ―bersikeras menolaknya. Naruto terbelalak mendengarnya dan kembali menarik kerah baju pemuda itu.

"Tidak ada tolak menolak, Sasuke! Kau harus menurutiku!"

Dahi pemuda Uchiha itu mengernyit. Giginya beradu tak suka. "Untuk kali ini, aku tidak mau merendahkan diriku di hadapan orang sepertimu, Tuan. Aku akan berjuang dengan keringatku sendiri," ―satu helaan napas. "Terimakasih sudah mau membantu. Tapi maaf, aku menolaknya," ―dua helaan napas, diiringi tatapan tajam setajam mata elang dan tepisan kasar supaya tangan berkulit tan itu menyingkir dari kerah bajunya.

Naruto kembali menampangkan seringai sinis dan tatapan merendahkannya. "Apa yang akan kaukorbankan untuk Haruki, hah?" tanya duda beranak dua itu serius. Ia kembali memojokkan tubuh kecil Sasuke, menghimpitnya di antara tembok dan tubuh kekarnya.

Sasuke mendengus. Tangan putihnya bersikeras mendorong dada Naruto untuk segera menjauh darinya. "Apapun. Bahkan aku rela mengorbankan nyawaku." Jawab ayah muda itu mantap. Kakinya kemudian melangkah, memunggungi si tunggal Namikaze dan berniat untuk bergegas pulang ke rumahnya.

―namun sekali lagi, pria pirang itu kembali mencegahnya.

"Apa lagi, Naruto-sama?"

.

.

.

"Korbankan dirimu. Relakan istri dan anak-anakmu tinggal bahagia bersamaku. Kau hanya akan merepotkan mereka."

.

"Lalu, kauberikan sebelah matamu pada putrimu."

.

"Setelah itu, jangan pernah kau datang lagi ke kehidupan kami. Kau hanya akan mempermalukan mereka."

.

―dan onyx itu terbelalak lebar seketika. Tubuhnya bergetar, matanya berkilat marah.

"Kau sendiri yang mengatakan kalau kaurela mengorbankan apapun …'kan?"

.

'Shimatta!'

.

.

.

Tsudzuku


Karena ini fanfic, jadi gak boleh ada yang protes soal jalan cerita, ide, dst selain kesalahan menulis :p *digampar*

Gomen ya, Naruto di sini antagonis buat kelancaran alur XD *plak*
Gimana, ada yang udah penasaran sama ending? Atau penasaran sama chap selanjutnya? :D pantengin aja terus ya, nanti jangan lupa review. Chill lebih seneng sama orang yang keep reviewing (?) soalnya biar tau perkembangan penulisan Chill.

Yosh! Pamit dulu ya. Kita bertemu lagi di chap selanjutnya~ :D

.

Chillianne Erythroxylon™
23/06/2012