Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Genre : Romance, fluff
Selamat membaca!
Love Me One More Time
Chapter 10 : Masa Lalu Bag. 1
By : Fuyutsuki Hikari
Konoha International High School,
28 Juli 2002
Musim panas masih berlangsung di Konoha. Berita-berita di media cetak maupun telivisi dan radio memberitakan jika musim panas tahun ini merupakan musim panas yang paling ekstrim. Penduduk Kota yang mulai terbiasa dengan kondisi ini lebih suka menghabiskan waktu di beranda rumah, menikmati semangka manis di temani lagu-lagu yang tengah populer yang diputar di radio atau berdiam diri di dalam rumah dengan Ac yang terus menyala sepanjang hari.
Sementara itu, siang ini gedung olahraga Konoha International High School lebih ramai dari biasanya. Pekan ini merupakan pekan olahraga di sekolah menengah atas paling bergengsi di Kota Konoha. Sekolah itu terdiri dari tiga tingkatan kelas dengan tiga jurusan yang berbeda; kelas prestasi, kelas olah raga dan kelas seni. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya sejak sekolah ini didirikan hampir dua puluh tahun yang lalu, masing-masing kelas mengirim perwakilannya untuk bertanding di setiap cabang olahraga yang dipertandingkan.
Pekan olah raga merupakan pekan yang paling ditunggu oleh murid-murid dari kelas olah raga, namun sebaliknya, menjadi pekan yang paling dibenci oleh murid-murid dari kelas seni. Seolah sudah menjadi tradisi, kelas seni selalu menjadi pecundang di dalam kompetisi yang digelar satu tahun sekali ini.
Siang ini, Uchiha Sasuke duduk bersama tiga orang sahabatnya di kursi penonton. Mereka mengamati dengan serius jalannya pertandingan basket antara kelas olahraga melawan kelas seni, mengabaikan bisikan-bisikan centil para siswi yang duduk di sekitar mereka.
Pemenang pertandingan ini akan kembali bertanding besok melawan kelas prestasi, yang merupakan kelas dari Sasuke cs.
"Gila!" pekik Neji terdengar tak percaya, kedua tangannya diangkat di udara. "Sekarang aku semakin tidak yakin jika si Namikaze itu perempuan." Ekspresinya sangat serius saat mengatakannya.
"Apa yang salah dengannya?" sahut Sasuke datar. "Dia terlihat seperti gadis remaja pada umumnya."
Sai dan Neji saling melempar tatapan. Sasuke pasti sudah gila, pikir mereka. Namun keduanya memilih untuk mengatakannya di dalam hati. Penampilan Naruto saat ini tidak jauh berbeda dengan seorang pria; rambut dipotong super pendek, postur tubuh tinggi, dada rata, warna kulit kecoklatan karena sinar matahari, dia bahkan tidak pernah terlihat memakai jepit rambut. Oh, dan tolong jangan lupa jika Naruto berjalan dan bergaya bicara layaknya remaja pria.
Gemuruh tepuk tangan penonton membuyarkan kedua lamunan pemuda itu. Murid-murid yang berasal dari kelas seni berteriak semakin kencang saat Naruto berhasil melakukan slam dunk.
"Sialan. Apa kalian lihat lompatannya tadi?" ujar Neji setelah diam sejenak. Ia berdiri, mencondongkan tubuh ke depan untuk melihat lebih jelas. Neji mengatakannya dengan ekspresi kagum sekaligus tak percaya. Mungkin karena faktor tubuh Naruto yang ramping hingga memudahkannya untuk meloncat tinggi, pikir Neji.
"Naruto! Naruto! Naruto!"
Teriakan-teriakan dukungan penuh semangat itu bergaung keras di dalam gedung, membuat yang dielu-elukan tersenyum lebar di tengah lapangan dengan satu tangan diangkat ke udara. Sorakan keras kembali terdengar dari pinggir lapangan saat ia melakukannya, sementara murid-murid dari kelas olahraga hanya bisa melihat dengan mulut terbuka lebar. Akan sangat menyakitkan jika kelas mereka kalah dari kelas seni yang hanya diperkuat oleh seorang gadis? Yang, benar saja.
"Bagaimana bisa kelas olahraga dibuat babak belur oleh seorang Naruto?" Shikamaru memasang ekspresi serius, sementara kedua matanya terarah lurus pada gerakan lincah Naruto yang berhasil mengecoh dua orang pemain dari kelas olahraga untuk merangsak masuk ke wilayah musuh.
"Brengsek!" lagi-lagi Neji mengumpat kasar saat Naruto berhasil memasukkan bola bernilai dua angka dari samping kanan lapangan. "Apa?" tanya Neji pada Sai yang menatapnya dengan satu alis terangkat.
"Jangan bilang kau takut pada Naruto," kata Sai tenang. "Dari tadi kau terus mengumpat."
"Aku, takut?" balas Neji dengan dengusan sombong, sementara Sai mengangguk pelan. "Naruto hanya beruntung. Itu saja." Tambahnya sembari menjentikkan jarinya beberapa kali, tepat di depan wajah Sai.
"Itu tidak bisa dikatakan beruntung." Sasuke menimpali dengan tenang, membuat Neji menoleh terkejut. "Aku tidak akan heran jika kelas seni bisa menang melawan kelas olahraga hari ini." Sasuke tersenyum miring. "Sepertinya kau harus menyiapkan diri untuk melawannya besok, Neji."
"Aku tidak takut," kata Neji cepat, sangat percaya diri. "Kekuatan tim kita jauh di atas tim kelas seni. Mereka bahkan memasukkan seorang wanita ke dalam timnya karena kekurangan personil."
"Seorang wanita yang sangat piawai," timpal Shikamaru masih dengan ekspresi serius. "Apa kau sadar jika Naruto jadi kuda hitam di pertandingan basket tahun ini?" tambah Shikamaru. "Siapa yang menyangka jika dia memiliki stamina seperti seorang pria."
Sai mengangguk dan berkata. "Hanya Tuhan yang tahu kenapa Naruto baru memperkuat kelas seni tahun ini. Seharusnya mereka melakukannya sejak tahun lalu."
"Karena seharusnya wanita tidak boleh bermain di kelompok pria." Neji menjawabnya sembari memutar kedua bola matanya.
Keempatnya sejenak terdiam. Di lapangan, pertandingan berjalan semakin panas saat kelas seni mulai memperkecil selisih skor.
"Hei, itu curang!" teriak Neji dan Sai bersamaan sembari berdiri saat Naruto di dorong oleh salah satu pemain dari kelas olahraga hingga menabrak kursi pemain di pinggir lapangan. "Apa mereka harus melakukan itu?" ujar Neji sebal atas kelicikan yang dilakukan oleh kelas olahraga. "Apa dia bisa bermain lagi?" tanyanya terdengar khawatir saat tim medis yang bertugas mengecek kondisi Naruto.
Sasuke melepas napas panjang. "Kita kembali ke kelas saja," katanya dengan ekspresi datar.
Sai menoleh. Jelas terlihat terkejut. "Bukankah kau yang mengajak kami menonton jalannya pertandingan ini?" protesnya sebal. Ayolah, pertandingan tinggal sepuluh menit lagi.
Sementara itu, di pinggir lapangan, Naruto didudukkan di salah satu kursi pemain yang kosong, sementara seorang petugas medis memeriksa pergelangan tangan kirinya. Sasuke melihat gadis remaja itu tersenyum lebar, sembari memperlihatkan pergelangan tangan kirinya yang sudah selesai diperban pada wali kelasnya. Ia mendengus di dalam hati. Bagaimana bisa Naruto tersenyum, seakan apa yang terjadi pada dirinya bukan satu masalah besar.
Shikamaru mengikuti gerakan Sasuke. Ia berdiri lalu menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu banyak duduk. "Hasil akhirnya sudah bisa ditebak," katanya sembari menguap lebar. Dengan ekspresi mengantuk dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Tanpa Naruto, di pertandingan ini kelas seni hanya akan jadi pecundang." Jelasnya santai sebelum berjalan pergi menyusul Sasuke yang telah berjalan terlebih dahulu.
.
.
.
Seperti hari-hari normal lainnya, kantin sekolah selalu mendadak ramai saat Sasuke masuk ke dalamnya. Tenten yang duduk di sebrang mejanya menoleh lewat bahunya. "Lihat siapa yang datang!" ujarnya terdengar keki.
"Memangnya kenapa kalau mereka datang?" Naruto balik bertanya, matanya menunduk menatap menu makan siangnya yang tiba-tina terasa hambar di lidahnya. Oh, cinta memang mampu mengubah segalanya.
Tenten memutar kedua bola matanya. "Siapa lagi kalau bukan mereka." Katanya sembari menunjuk dengan dagunya. "Kenapa mereka harus makan siang di sini?" gerutunya terdengar tidak suka.
"Kantin ini bukan milik kita, Tenten. Tentu saja mereka boleh datang saat jam makan siang." Jawab Naruto sembari mendorong piring makannya ke depan. "Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Neji?"
Tenten menyempitkan mata. "Kenapa kau memanggilnya dengan akrab?" desisnya, merasa terganggu. "Lagipula aku tidak punya hubungan apapun dengannya. Demi, Tuhan. Dia bahkan tidak memiliki pupil."
"Tenten!"
"Itu benar." Tenten mengangkat dagunya. "Aku tidak habis mengerti. Kenapa dia begitu marah setelah aku berhasil mengalahkannya dalam pertandingan karate bulan lalu?"
"Karena egonya terluka," jawab Naruto santai. "Selama ini dia tidak pernah kalah. Bahkan dari murid-murid kelas olahraga sekali pun."
"Tapi bukan salahku jika aku bisa mengalahkannya. Dianya saja yang tidak punya kemampuan bela diri."
"Bukan tidak punya," Naruto mencoba meluruskan. "Hanya saja kemampuannya masih dibawahmu."
"Kenapa kau membelanya?" gerutu Tenten dengan ekspresi cemberut. "Sejak kau menyukai-"
"Diam, Tenten!" Naruto bergerak cepat. Ia menutup mulut sahabatnya itu dengan telapak tangan kanannya. "Kau mau seisi kantin ini tahu, huh?"
Tenten menggelengkan kepala.
"Bagus. Sekarang tutup mulutmu rapat!"
Tenten mengangguk pelan, namun Naruto masih terlihat enggan melepasnya. Tenten kembali mengangguk keras untuk meyakinkan Naruto. Tapi Naruto tidak bisa mengambil resiko. Dia memaksa Tenten untuk berdiri, lalu menyeretnya dengan susah payah keluar dari kantin.
"Mesranya," cibir Neji pelan.
Sai menoleh. "Siapa?"
"Mereka," jawab Neji tidak jelas.
Sai menautkan kedua alisnya. Dia mencari subjek yang dimaksud oleh Neji. Tapi nihil. Yang dilihatnya hanya Tenten yang ditarik paksa keluar kantin oleh Naruto. "Apa ada pasangan baru yah?" gumamnya pelan, masih penasaran akan pasangan yang dimaksud oleh Neji.
.
.
.
Hari ini akan berlangsung pertandingan final bola basket antara kelas olah raga melawan kelas prestasi. Naruto dan Tenten sangat yakin jika gedung olah raga tempat diselenggarakannya pertandingan akan penuh sesak melebihi hari-hari kemarin. Oleh karena itu keduanya segera meluncur ke sana saat jam makan siang berbunyi. Pertandingan akan berlangsung satu jam lagi, dan keduanya pun memilih menikmati bekal makan siang mereka disana siang ini.
Selama menunggu, Naruto dan Tenten terus bergosip dengan santainya. Beberapa saat kemudian murid-murid pun mulai berdatangan dalam jumlah besar. Mereka mulai ribut mencari tempat duduk dengan posisi terbaik.
Ah, senangnya sudah mendapatkan bangku penonton dengan posisi strategis, pikir Naruto senang.
.
.
.
Naruto tidak tahu kapan tepatnya dia sering mencuri pandang ke arah Sasuke. Ia juga tidak tahu sejak kapan jantungnya berdebar semakin cepat jika tak sengaja bertemu dengan pemuda yang juga seniornya itu. Ia tahu, ia jatuh cinta. Namun Naruto tidak tahu sejak kapan ia mulai jatuh pada pesona seorang Uchiha Sasuke.
Sebuah helaan napas panjang terdengar keras, bibirnya tersenyum tipis saat ia melihat pujaan hatinya berhasil memasukkan bola tiga angka ke dalam keranjang. Saat ini tengah berlangsung pertandingan bola basket antara kelas prestasi melawan kelas olahraga. Setelah kekalahan telak yang dialami oleh kelas seni kemarin, murid-murid dari kelas seni itu memutuskan untuk datang menonton dan memberikan dukungan penuh untuk kelas prestasi, berharap jika kekalahan menyakitkan mereka terbalaskan oleh kelas prestasi.
Ah, bolehkah Naruto berharap agar waktu berhenti saat ini juga? Bagaimana bisa seorang pria terlihat begitu seksi saat berkeringat? Wajah datarnya saja tetap terlihat menarik. Naruto tertegun, otaknya mulai membayangkan ekspresi saat Sasuke tersenyum. Ya, Tuhan... Pemuda itu pasti terlihat berlipat-lipat lebih tampan jika tersenyum, batinnya mulai melantur.
"Hapus air liurmu!" Tenten berkata ketus, membuyarkan lamunan indah Naruto mengenai pujaan hatinya. "Lihat ekspresimu itu. Kau seperti anak kecil yang menginginkan permen!" tambahnya dengan mimik sebal. Nada suara gadis remaja itu sedikit keras untuk mengimbangi suara keras pendukung setia Sasuke yang didominasi oleh murid-murid wanita yang tengah puber.
Naruto tertawa lebar menjawab ejekan Tenten.
Tenten mendesah. Ia melirik ke arah sahabatnya yang ikut berteriak mendukung kelas prestasi. "Naruto, apa kau akan benar-benar melaksanakan niatmu?" tanyanya keras di telinga kanan Naruto.
Naruto menoleh, mengangguk singkat lalu kembali mengarahkan pandangannya ke lapangan pertandingan.
"Apa kau sudah mantap untuk melakukannya?" tanya Tenten lagi masih dengan nada cukup keras. Suara tepuk tangan kembali bergemuruh saat Neji memaskkan bola bernilai tiga angka ke dalam keranjang.
Tenten sebenarnya cukup cemas saat mendengar rencana Naruto yang berniat untuk mengutarakan perasaannya pada Sasuke. Di sekolah ini, sudah menjadi pemandangan biasa saat seorang murid wanita menyatakan cinta pada Sasuke. Di sekolah ini juga sudah menjadi pemandangan lumrah saat siswi yang menyatakan cinta berakhir dengan tangisan yang meraung-raung. Karena selama ini Sasuke selalu menolak murid-murid wanita yang mengutarakan perasaan cinta padanya. Dia menolak mereka dengan tegas dan dingin. Tenten takut jika Naruto mengalami hal yang sama. Tenten bahkan berpikir Sasuke menolak siswi-siswi tersebut karena memiliki orientasi seksual yang menyimpang.
Naruto mengangguk ragu, namun dengan cepat ia menggelengkan kepala dan menjawab. "Aku sangat yakin," jawabnua dengan rona merah yang menjalar hingga daun telinganya. Dia harus mengutarakan perasaannya. Naruto sudah tidak memiliki banyak waktu. Awal musim gugur tahun ini ayahnya akan dipindah tugaskan, itu berarti dia pun harus ikut pindah sekolah mengingat ayahnya dipindah tugaskan ke luar negeri.
Naruto menghela napas. Tatapannya terlihat menyesal. Andai saja ayahnya tidak dipindah tugaskan, mungkin ia akan tetap menyimpan perasaan ini. Dan mengenangnya saat dia sudah dewasa nanti, atau membahasnya sebagai lelucon saat reuni.
Jika harus dipaksa untuk jujur, sebenarnya dia sendiri merasa tidak yakin dan belum siap. Tapi masa remaja tidak akan datang dua kali. Terlebih waktu yang dimilikinya sudah semakin sempit. Ia harus melakukannya, atau tidak sama sekali.
Naruto menghabiskan sisa waktu sepanjang pertandingan untuk memikirkan bagaimana cara yang paling tepat untuk menyatakan cintanya pada Sasuke.
Spontan saja, Naruto. Spontan. Ujarnya di dalam hati. Gadis remaja itu duduk bertopang dagu, tatapannya tampak kosong, sementara jantungnya berdebar semakin tak karuan.
Gedung olahraga yang gegap gempita itu mendadak terasa sunyi baginya. Yang ada di matanya saat ini hanya sosok Sasuke yang terus bergerak gesit di dalam lapangan. Semangat, Naruto! Katanya kemudian di dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri. Hari ini, atau tidak sama sekali. Namun hatinya kembali mencelos saat ia tersadar dari lamunannya. Diliriknya siswi-siswi cantik yang terus meneriakkan nama Sasuke di sisi timur.
Dia menolak siswi-siswi cantik itu, batinnya mulai berperang. Aku sudah pasti ditolaknya juga. Tapi waktumu di sekolah ini sudah sempit. Kau tidak punya kesempatan lagi. Sisi lainnya mengingatkan. Kau akan menyesal jika tidak mengutarakan perasaanmu sebelum pergi.
Sekilas ia melirik ke papan skor. Skor kelas prestasi sudah jauh tertinggal. Naruto tersenyum tipis. Baiklah, aku akan menyatakan perasaanku hari ini juga, jika kelas prestasi berhasil menang dari ke kelas olahraga, janjinya di dalam hati dengan senyum yang semakin terkembang lebar.
Lima belas menit kemudian pertandingan basket pun berakhir dengan kemenangan untuk tim dari kelas prestasi. Mereka menang tipis atas tim kelas olahraga. Murid-murid dari kelas prestasi dan kelas olahraga menyambut kemenangan itu dengan suka cita. Para siswi menjerit, meneriakkan serta mengelu-elukan pujaan hati mereka. Namun disisi lain, hanya Naruto yang terlihat amat sangat gugup dan tidak terlalu antusias dengan kemenangan Sasuke.
Ya, Tuhan... Kenapa kelas prestasi harus menang? Ratapnya di dalam hati. Dia bahkan tidak bisa menangkap gerutuan Tenten yang menyambut sinis kemenangan Sasuke cs. "Si Hyuuga itu akan semakin keras kepala," dengus Tenten tidak suka. Dengan anggun dia menyelipkan rambut ke belakang telinganya. "Well, bukan berarti aku tidak senang karena mereka berhasil mengalahkan kelas olahraga." Tenten mengangkat sebelah bahunya ringan. "Aku hanya tidak suka karena Hyuuga ikut andil dalam kemenangan ini. Itu saja." Gerutunya semakin panjang, tanpa menyadari jika Naruto semakin merosot di tempat duduknya.
.
.
.
Di tempatnya berdiri, Naruto bisa melihat rombongan tim Sasuke berjalan semakim dekat ke arahnya. Di dalam hati dia menggerutu karena penggemar Sasuke tidak juga membubarkan diri. "Kenapa mereka terus menempel sih?" gumamnya pelan sembari menendang pelan tembok di sampingnya.
Empat meter.
Tiga meter.
Dua meter.
Satu meter.
Jarak itu semakin menipis saat ia berani mengambil sebuah langkah untuk menghentikan langkah Sasuke. Keringat dingin mulai meluncur mulus di punggungnya, berhadapan secara langsung dengan Sasuke ternyata lebih menengangkan dari apa yang dipikirkannya selama ini.
Bisik-bisik menjalar cepat dari satu mulut ke mulut lainnya. Naruto menelan air liurnya yang kering dengan susah payah. Sial! Makinya di dalam hati. Kenapa kerumunan murid-murid itu semakin bertambah banyak?
Naruto menoleh ke arah Sasuke yang entah kenapa terlihat lebih menakutkan saat ini. Rahang pemuda itu mengeras, matanya menatap tajam ke arah Naruto yang berdiri beberapa centi lebih pendek darinya.
"Jangan bilang dia mau menyatakan cinta pada Sasuke." Sai berbisik pelan di telingan Neji.
Mendengar hal itu Neji langsung menoleh. Keningnya ditekuk dalam saat dia menjawab. "Bukannya dia pacarnya Tenten?" tanyanya dengan polosnya pada Sai dan Shikamaru.
Shikamaru membuka mulutnya lebar. Tangannya sangat gatal ingin memukul kepala Neji dengan keras. Bagaimana bisa Neji berpikiran hingga sejauh itu? Pikirnya tidak mengerti. Merasa jika apa yang akan dikatakannya hanya akan menimbulkan pertengkaran lain, Shikamaru memutuskan untuk menelan ucapannya yang sudah berada di tenggorokan. Dalam hati dia berdoa, semoga Sasuke tidak menolak Naruto dengan keras.
"Kau menghalangi jalanku!" kata Sasuke ketus. Sasuke menekan amarahnya dengan sekuat tenaga. Jika tebakannya benar, maka hal itu hanya akan memperburuk emosinya saat ini. Naruto tidak mungkin menyatakan cinta kepadanya, kan? Gadis tomboy di depannya ini berbeda dari siswi-siswi lainnya yang dengan tidak tahu malunya merayu dan menyatakan cinta dengan dramatis. Air mata para siswi yang ditolaknya selalu tumpah disusul jeritan yang memekakan telinga. Beberapa diantara mereka bahkan mengancam bunuh diri jika Sasuke menolaknya. Muak. Sasuke muak.
Sasuke tidak pernah salah menilai seseorang. Naruto tidak mungkin menyukainya. Mungkinkah selama ini Naruto bersikap cuek dan berbeda hanya untuk menarik perhatiannya? Jengkel. Sasuke sangat jengkel karena merasa dirinya masuk ke dalam perangkap Naruto.
Naruto menundukkan kepalanya, sejenak mendongak untuk menatap Sasuke. Kepalanya kembali menunduk melihat kilatan marah di kedua bola Sasuke. Gadis remaja itu menggigit bagian dalam mulutnya, jantungnya berdebar semakin cepat, napasnya memburu. Entah kenapa ia mendapatkan firasat yang tidak menyenangkan saat ini.
"Aku menyukaimu," katanya cepat tanpa berkedip. Suasana di lorong sekolah itu mendadak hening. Murid-murid yang berkumpul dan menyaksikan pernyataan cinta Naruto hanya bisa membelalakkan mata. Naruto sudah gila, pikir mereka kompak. Naruto terdiam sejenak, lalu kembali bicara. "Maukah kau menjadi pacarku?"
"Jelek." Ucap Sasuke tanpa ekspresi. Pemuda itu bahkan tidak memberikan jeda setelah Naruto bicara. Sebuah kata singkat yang langsung menusuk perasaan Naruto dengan hebatnya. Kedua tangan gadis remaja itu bergetar, kedua kakinya terasa semakin lemas karenanya.
Suara gemertuk gigi Sasuke terdengar keras. Mulutnya kembali terbuka, melontarkan kalimat-kalimat yang semakin menyakitkan hati Naruto. "Bagaimana bisa kau memintaku menjadi kekasihmu, sementara lusinan wanita cantik pun aku tolak." Katanya dingin menusuk tulang. "Kupikir sikap polosmu selama ini mencerminkan dirimu yang sebenarnya," tambahnya dengan gigi gemertuk. "Ternyata semua itu hanya trik untuk menarik perhatianku. Benar begitu?"
Kedua alis Naruto bertemu. Maksudnya apa? Batinnya tidak mengerti. Sasuke tidak perlu mengatakan hal itu hanya untuk menolakknya, kan? "Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan." Balasnya dengan nada senormal mungkin. Ia menahan semampunya saat air matanya mulai memberontak untuk turun dari kedua sudut matanya. Dia harus kuat. Tegasnya di dalam hati.
Dengan kekuatan terakhirnya Naruto mengulas sebuah senyum. Dengan lembut dia berkata, "maaf, karena aku sudah lancang mengganggu waktumu."
Gadis remaja itu membungkuk dalam. Bola mata berwarna safir yang biasanya terlihat cerah itu kini terlihat mendung. Bibirnya sedikit gemetar saat sebuah senyum tulus kembali ia layangkan untuk Sasuke, sebelum akhirnya ia berbalik pergi membawa hatinya yang hancur luluh lantak. Meninggalkan Sasuke yang menatap punggungnya dengan kilat penyesalan? Meninggalkan suara bisikan murid-murid yang memerahkan telinga.
Sungguh, ia tidak pernah menyangka jika menyatakan cinta bisa semenyakitkan ini. Namun apa yang harus disesalinya? Apa yang ingin dikatakannya sudah terucap. Apapun yang terjadi besok merupakan buah dari benih yang ia tanam. Ia hanya berharap untuk memiliki keberanian dan kesabaran lebih besar jika ternyata duri-lah yang harus dipanennya setelah ini.
.
.
.
TBC
Flasback waktu mereka SMA, saya bagi jadi 2 chapter yah. Semoga bagian dichapter ini tidak mengecewakan.
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^-^
#WeDoCareAboutSFN
#FuyuTebarCinta
#Merayakan3TahunMenulisDiFFN
