"Sasori-danna.."

Sebuah tangan menggenggam erat tangan putih Deidara. "Dei.." wajah itu mendekati wajahnya, membuat rona merah mendadak menghiasi wajah Deidara. "―aku ingin mengajari mu sesuatu." Bisiknya ditelinga Dei.

Pemuda pirang bersurai panjang itu terhenyak, ia merasa nafasnya terasa sesak saat Sasori membisikan kata itu ditelinganya. Nafas hangatnya menerpa telinga dan leher Deidara.

"Kenapa harus aku yang kau ajarkan, un?"

Sasori menjauh dari Dei, wajahnya memandang sendu pemuda yang jauh lebih mudah darinya itu. "Kau yang selalu ada disamping ku selama ini." Ia kembali mendekati wajah Deidara, "Dan kau orang yang ku percayai, Dei.." mata mereka bertatapan. "―aku tidak tau selama apa aku bisa bersama mu. Sebelum aku atau kau yang pergi, ku ingin mengajarkan sebuah teknik pada mu,"

"Sasori-danna.. A―Aku pikir aku tak bisa, aku nanti hanya akan menyulitkan mu, un.." Deidara menunduk, ia mencoba menutupi wajah merahnya dari tatapan Sasori. Belum lagi ia takut degup jantungnya terdengar oleh orang yang memiliki wajah babyface itu.

Tangan Dei ditarik Sasori untuk menyentuh wajahnya yang dingin. Wajah boneka yang ia buat. "Aku yakin kau bisa."

"Sasori-danna.."

"Ini permintaan terakhir ku, Dei.." sebelah tangan Sasori membelai pipi Dei. "―sebentar lagi kita akan menculik Kazekage Suna, dan aku sudah memprediksi resiko ku setelah kita berhasil menculiknya.."

"Danna.."

Sasori memeluk Deidara, membuat Dei membeku seketika. "Jika kau mencintai ku, Dei. Kau harus mempelajari teknik ini. Kau bisa menyelamatkan ku saat aku sekarat nanti.."

"Sasori-danna.."

"..aku hanya takut mati, Dei."

Mendengar lirihan Sasori―Deidara tak bisa menahan tangannya untuk tidak memeluk tubuh yang lebih besar darinya itu. Ia memeluk Sasori erat, sedikit menyampaikan rasa cintanya pada pria dipelukannya.

"Aku akan melakukannya, un.. Cuma untuk menyelamatkan, danna.."

.


Pheromones? PHEROMONES!

© Ryuuki Ukara

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Yaoi/BL, Canon, Lemon, Mpreg, Rame Typo(s), OOC, Bahasa sesuka hati Author dan lainnya..


.

Deidara bisa merasakan tangannya digenggam oleh sepasang tangan yang cukup dingin. Ia yang baru saja bangun dari tidurnya hanya bisa mencoba merasakan dinginnya tangan itu. Ia sedikit meringis didalam hati, saat ia tau tangan itu bukan tangan yang dulu yang selalu menggenggamnya ketika mereka bersama tanpa orang lain disekitarnya. Itu bukan tangan Sasori. Bukan..

Itu tangan Itachi..

Tangan seseorang yang kini ia sayangi..

Ceklek..

Suara derit pintu pintu yang terbuka terdengar oleh Deidara. Ia mencoba menoleh ke arah suara tersebut.

"Kau sudah bangun, Deidara?"

Suara lembut wanita yang dikenal Deidara membuat sudut bibir pemuda pirang itu naik. "Hu-um.. ohayou, Shizune-san.."

Shizune tertawa pelan, "Sebenarnya ini sudah siang, Deidara," senyum itu tiba-tiba luntur, membuat Shizune yang tertawa segera bersikap biasanya. "Maaf.." ucapnya.

"Tak apa," balas Dei, walau sebenarnya tadi ia sedikit tersinggung. Deidara menoleh pada Itachi yang masih memegang tangannya, Dei tersenyum membuat senyum tipis mengembang diwajah Itachi. "Sudah berapa lama kau disini?"

"Sejak semalam,"

Tiba-tiba Deidara menghentakan tangannya, melepaskan genggaman Itachi yang sukses membuat Itachi dan Shizune tercengang akan sikapnya. "Sudah ku bilang kau pulang saja kalau malam, 'chi! Aku bukan anak kecil yang dijaga!"

"Aku tau," Itachi tertawa kecil lalu mengelus kening Dei.

Hening sejenak. Shizune yang tersadar apa tugasnya kesini langsung mengambil peralatannya diatas meja lalu mendorongnya mendekat keranjang Deidara.

Deidara yang teringat sesuatu langsung menaikan alisnya. "Apa ini sudah saatnya?"

"Ya," jawab Itachi. "Semoga operasi itu berhasil," tangan Itachi mengelus pipi Dei. Menimbulkan rona merah dipipi pemuda pirang itu.

"Baiklah! Apa kau sudah siap, Dei?"

Deidara mengangguk. "Aku sudah siap!"

"Kalo begitu kau bisa duduk?" Deidara mengangguk lagi, ia mendudukan dirinya. "Okay.." Shizune mengambil sebuah gunting, lalu memotong perban yang mengelilingi area mata Dei sampai kebelakang. Setelah perban itu terlepas, Shizune menaruhnya keatas nampan lalu mengambil kapas yang ada dimata Deidara.

Saat Shizune melakukan itu, sejenak Deidara menahan nafasnya. Jantungnya berdetak cepat, menciptakan bulir keringat yang mulai turun dari keningnya.

"Baiklah, sudah selesai. Kau bisa membuka mata mu perlahan,"

Deidara mengangguk, ia menarik nafas lalu dengan perlahan ia membuka matanya perlahan. Hal yang pertama dilihat Deidara setelah sekian lama tak melihat―adalah sinar matahari yang berinar terik, membuatnya silau. Ia pun berkedip, lalu sekali lagi mencoba memejamkan matanya untuk kembali ia buka perlahan. Sangat perlahan.

Shizune melambaikan tangannya didepan wajah Dei, membuat pemuda mantan anggota Akatsuki itu berkedip beberapa kali. "Apa.. kau bisa melihat ku?"

Sebuah seringai mengembang diwajah Dei, "Tentu saja.." lalu ia menoleh kesamping, menatap Itachi yang menatapnya lekat. "―senang bisa melihat mu lagi, 'chi.."

Itachi menghela nafasnya, ia tersenyum pada Dei. "Sepertinya kau senang sekali,"

"Tentu saja~" Dei mengangkat kedua tangannya, mencoba merenggangkan tangannya yang terasa pegal karena berada di rumah sakit ini selama hampir dua bulan. Operasi donor mata itu harus membuat Dei melakukan operasi besar tiga kali dan operasi kecil beberapa kali untuk benar-benar membuat mata yang ada padanya berfungsi normal.

"Apa kau siap latihan melakukan teknik yang kau katakan itu, Dei?" Shizune menatapnya harap. Dei menaikan alis, sedikit ragu apakah ia harus melakukan teknik yang diajarkan Sasori padanya.

"Aku hanya ingin melakukan teknik ini untuk Sasori-danna.." batin Dei, ia tertunduk lesu membuat harapan Shizune seketika luntur. "Tapi.. saat itu.." Dei menutup wajahnya dengan sebelah tangan, ia menggeram. Betapa kesalnya saat Sasori mengharapkan dirinya untuk melakukan teknik itu padanya―ia malah juga sekarat saat melawan Kakashi.

"Dei?" Shizune memanggilnya dengan penuh harapan. Dei yang mendengarnya menghela nafas, ia harus melakukannya kali ini. Itachi yang memintanya.. dan ia tak ingin mengecewakan orang yang menyayanginya lagi.

"Aku akan melakukannya.." ujar Deidara, Shizune langsung tersenyum merekah. Lega dengan apa yang ia dengar, sedangkan Itachi Cuma tersenyum tipis pada kekasihnya itu. "―tapi.." kata 'tapi' membuat senyum itu kembali luntur. "Ambilkan aku cermin.."

Dengan sigap, Shizune mengambilnya lalu memberikannya pada Deidara.

Deidara menatap cermin didepannya, ia tatap kedua mata aquarimenya yang seperti dulu. Lalu matanya memandang sebelah tangannya, tangan yang memiliki mulut itu menyeringai pada Deidara. Membuat Deidara mau tak mau ikut menyeringai. Mendapatkan ide begitu brilian!

"Itachi.."

"Hn?"

"Apa tanah liat ku masih ada?"

"Hn. Tanah liat mu ada di penginapan,"

"Bagus.." ia menyeringai lebar pada cermin itu. "Aku mau membuat sebuah seni untuk hadiah selamatku pada Sasuke,"

Itachi yang mendengarnya menaikan alis, ia tau maksud Deidara apa. Tapi.. ia bingung, haruskah ia mencegat Dei untuk tidak melakukannya?

"Kau mau memberikan Sasuke hadiah?" Tanya Shizune.

Deidara menaruh cermin itu dipahanya, dipandangnya Shizune dengan seringai lebarnya. "Ya. Hadiah.. hadiah yang begitu besar untuk.. Uchiha Sasuke.."

Ah, Itachi pikir sepertinya ia tak perlu repot-repot mencegat Dei untuk memberikan hadiahnya pada Sasuke. Ia hanya perlu mengawasi Naruto tak ada di dekat Sasuke saat Deidara memberikan hadiahnya pada Sasuke nanti..

Itachi tersenyum miring, "Yang besar?"

"Ya, hadiah yang be~gitu besar~"

Mendadak Shizune merinding melihat dua orang didepannya tersenyum mengerikan begitu.

.

~サスナル~

.

"Hmmnn.. Ah.. Te―Teme.."

Desahan yang terdengar disebuah gang sempit nan gelap diantara toko daging dan toko buah itu―terdapat dua pasang kekasih yang sedang menikmati ciuman mereka. Pemuda raven yang tangannya sedari tadi tidak bisa diam membelai tubuh pemuda pirang didepannya mulai tak sabaran melakukan hal lebih dari ciuman. Namun, dengan segera si pemuda pirang itu menghentikannya dengan cara menggigit lidah milik kekasihnya.

"Aw!" Sasuke menjauh dari Naruto. "Kenapa kau menggigit ku, Dobe!" pemuda pirang yang dipanggil Dobe itu hanya bisa mengelap bibirnya sambil memandang tajam kekasihnya.

"Dasar Teme! Aku 'kan tadi Cuma minta ciuman! Bukannya ya―yang seperti tadi! Apa kau mau melakukannya di tempat kotor seperti ini, hah!? Bagaimana nanti waktu kau memasukan milikmu kedalam tubuh ku, ada kuman yang nempel disana karna tempat ini? Lalu nanti kuman itu masuk kedalam tubuh ku dan membuat bayi didalam tubuh ku gatal-gatal. Apa kau mau, hah!?" Naruto yang mengoceh panjang lebar dan tidak jelas itu hanya mendapat pandangan datar dari Sasuke. "Apa kau mendengarkan ku Te―

CUUP~!

"Kau cerewet, Dobe.." bisik Sasuke seduktif ditelinga Naruto. Tangannya menarik tali hitam haite-atte(?) milik Naruto lalu menurunkannya dan mengecup kening tan tersebut. "..kau jadi seperti perempuan, Dobe."

Twitch!

"Apa kau bilang?" suara tajam dan cengkraman di perut Sasuke menjadi ancaman. Membuat Sasuke menghela nafasnya. Masih sensitive seperti biasa.

"Lupakan saja, Dobe.." Sasuke menjauh dari Naruto. "Sekarang apa? Kau menyeret ku ke pasar bukan hanya untuk meminta ciuman 'kan?" tanyanya, yang langsung berefek pada Naruto yang langsung mengingat apa tujuannya kesini.

"Ah! Aku mau mencoba memasak!" Naruto menepuk tangannya. Lalu saat ia merasa haite-attenya lepas―Naruto pun mengikatnya ulang. "Tadi malam, Kurama menemui ku. Dia bilang, 'Kau harus belajar memasak, Gaki! Kau tau? Nanti kau itu bakal jadi seorang ibu dari anak ku! Jadi kau harus memberi mereka makanan yang sehat. Jangan ramen cup, atau ramen ichiraku saja!' begitu katanya," Naruto membalikkan badannya, mengabaikan Sasuke yang menaikan alis. "Jadi, rencananya hari ini aku mau masak, Sas'key~"

Si pirang itu pun berjalan sambil menyilangkan tangannya dibekalang kepala. Yang lalu disusul oleh Sasuke.

Baru saja mereka keluar dari gang gelap itu, tiba-tiba saja wanita berambut merah panjang berlari kearah mereka dan langsung memeluk Naruto.

"Naruto-chan~! Bagaimana kabar mu? Apa Sasuke memuaskan? Apa kau merasa aneh selama kehamilan mu?"gadis merah itu bertanya bertubi-tubi sambil memeriksa tubuh Naruto.

Dibekalang si gadis merah yang bernama Karin tersebut―Sasuke melihat teman tim Taka-nya sedang berjalan menuju tempat mereka.

"Ohisashiburi na~ Sasuke~!" Suigetsu datang dan langsung merangkul Sasuke. "Kau sepertinya senang sekali dengan si pirang itu! Sampai lupa menjenguk kami yang disandera para ANBU!" pemuda berambut perak keunguan itu menyeringai, menampakan gigi tajamnya yang sedikit membuat Sasuke jengah.

Dengan menepis rangkulan Suigetsu―Sasuke pun melangkah mendekati Naruto yang terdiam mendongak memandang Juugo. Sebuah tanda tanya terlintas diotaknya saat si Dobe itu menatap penuh binar pada Juugo.

Karin yang tadi terdiam karna Naruto tiba-tiba mendorongnya menjauh dan mendekati Juugo―langsung menyeringai. "Ara~ ara~" Karin menyenggol lengan Sasuke, "Sepertinya bakal ada cinta segitiga~" dan gadis merah itu pun tertawa terbahak-bahak.

Sebuah kedutan kecil pun muncul dikepala Sasuke. Jika saingannya Juugo, itu berarti saingannya cukup berat.

"Kau tampan.." ujar Naruto.

Juugo yang mendengarnya segera menunduk, menatap si pirang. "Terima kasih,"

"Juga tinggi.."

"..."

Naruto maju selangkah mendekati Juugo, "Badan mu juga besar, berotot, kulit mu cukup tan.." Naruto memiringkan kepalanya, ia tersenyum lebar sambil matanya menyipit. "Aku juga yakin milik mu juga lebih besar daripada Sasuke!"

CTAK!

"Pfftt!"

"HAHAHA! Lebih besar! HAHA!"

Dua orang yang berada disamping Sasuke sontak tertawa mendengarnya, sedangkan si bungsu Uchiha hanya bisa menahan dirinya untuk tidak menjitak kepala Naruto.

"Aku.. HAHA!" Suigetsu memegang perutnya, "Aku tau itu! Aku tau!" ujarnya sambil tertawa dan menepuk-nepuk pahanya.

Sedangkan Karin berjongkok sambil memegang perutnya, tak bisa menahan fantasinya yang melayang dimana Juugo dan Naruto, lalu Sasuke... "Aku...Pfft.. Maaf Sasuke! Aku kira yang dikatakan Naruto memang benar!" gadis itu pun menyeka air matanya.

Oke! Sudah cukup!

Sasuke melangkah mendekati Naruto yang masih tersenyum manis pada Juugo, dan pemuda oren besar didepannya hanya bisa tersenyum kecut melihat Sasuke yang berwajah datar namun auranya gelap.

Sebuah tangan putih menarik lengan yang terbalut jaket hitam-oren tersebut. "Ayo pergi."

"Eh! Tapi aku mau bicara dengan Juugo, Teme!" Naruto menarik tangannya dan kembali mendekati Juugo.

Kesal, Sasuke kembali menarik lengannya kali ini sedikit tenaga lebih dan ia pun menyeret pemuda hamil itu menjauh dari Juugo yang akhirnya bisa bernafas lega.

"JUUGO! KALAU TEME INI MASIH SELINGKUH, AKU AKAN SELINGKUH DENGAN MU SAJA, YA!" teriak Naruto.

Karin yang masih tertawa mendadak diam dan menatap kearah Sasuke dan Naruto. "Masih selingkuh?" tanyanya pada diri sendiri, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Sasuke-kun selingkuh dengan siapa?" bisiknya geram, "Tidak akan ku maafkan wanita yang berani merusak hubungan, Sasuke-kun dan Naruto!" ujarnya sungguh-sungguh, tak menghiraukan Suigetsu yang kini terduduk didekatnya masih sambil tertawa.

Sementara Juugo, ia sepertinya harus benar-benar menjaga jarak dengan Naruto. Sudah cukup terkurung didalam penjara Orochimaru. Juugo tak mau terkurung di dimensi lain karna terkena tsukuyomi dari Sasuke.

Apalagi kalau nanti masalahnya sepele..

Cemburu..

Tidak, terima kasih!

.

~サスナル~

.

Suara mesin yang berasal dari mesin pendetak jantung itu terus berbunyi. Menandakan bahwa detak jantung dari laki-laki bersurai coklat jabrik yang tengah terbaring diatas ranjang rumah sakit―masih hidup. Juga peralatan rumah sakit yang begitu canggih itu terhubung pada sang pasien. Tsunade yang baru saja selesai mengecek pemuda yang terluka parah dan nyaris tewas karna diserang oleh musuh yang berasal dari musuh bebuyutan keluarganya itu―menghela nafas.

"A―Apa ada sesuatu yang mengkhawatirkan, Hokage-sama?"

Tsunade yang menggunakan jubah putih itu melepasnya lalu menyampirkannya ke kursi sebelum ia duduk di kursi tersebut. Matanya menatap Hinata, Sakura dan Ino. "Ryugazaki Momoka.." ujarnya, menyebutkan nama pasien yang telah berada di ruang ICU rumah sakit Konoha selama 5 bulan itu. "―tidak ada harapan untuk sadar kembali." Ketiga Kunoichi yang berada didepannya terhenyak, "Dia hanya bisa hidup jika mesin-mesin itu menyala dan terhubung padanya. Satu saja kita matikan.." mata itu menatap mereka. "..dia akan meninggal."

"Apa kita tidak bisa menolongnya, Hokage-sama?" Sakura bertanya, "Kita bisa melakukan pengecekan kembali dan operasi untuk menyelamatkannya. Lagi pula, wadah Kyuubi harus―

"Percuma." Tsunade memijit keningnya. "Kita tidak akan bisa." Tsunade menunduk dalam. "..tidak akan bisa."

"Hokage-sama.." ketiga kunoichi itu begitu khawatir.

"Jika laki-laki ini tetap kita gunakan saat Naruto melahirkan untuk wadah Kyuubi―itu hanya sementara." Tsunade menggeram, "Kyuubi bisa kembali keluar karna tidak ada chakra yang mengalir untuk menekannya," jeda sejenak. "Ini percuma.."

"Ja―Jadi, Hokage-sama.. Apa yang harus kita lakukan?"

Sebuah pandangan serius tertuju lurus pada ketiga Kunoichi tersebut.

"Membiarkan Kyuubi keluar selama Naruto melahirkan,"

Ketiga kunoichi itu saling pandang sambil berkeringat dingin.

"Tidak mungkin.."

.

~サスナル~

.

"Um.." Naruto menatap bingung pada sayuran didepannya. "Apa aku juga harus mencoba masak sayur?"

"Tentu saja, Dobe." Sasuke menghela nafas, "Kau tidak mungkin memasak daging, ikan, daging, ramen dan ramen untuk ku 'kan?" mata Sasuke melirik kantong plastik yang dibawa Naruto.

Tatapan tajam tertuju lurus pada Sasuke. "Pede sekali kau, Teme! Siapa yang memasak untuk mu, hah!?"

"Tch, kau itu sebentar lagi akan jadi Nyonya Uchiha, Dobe. Jadi, pasti kau akan memasak ku."

"Pede amat," Naruto menatap penjual yang melihat mereka dengan tatapan bingung. "Obaa-san! aku mau tomat, lalu wortel dan.." Naruto memandang buah tomat segar dihadapannya. "―tomat."

Mendengar apa yang dipinta oleh Naruto―bibi penjual itu langsung mengambil dan memasukannya dalam kantong plastik.

Sasuke, yang menggunakan kaos polos biru yang cukup ketat milik Naruto―memandang si pirang dengan senyuman tipis. Sepertinya hari ini dia akan makan buah kesukaannya kembali..

"Ah! Sasuke-kun ka?" seorang perempuan cantik berkuncir menghampiri Sasuke. "Apa kau ingat aku? Ah, mungkin tidak!" perempuan itu tertawa kecil. "Tapi aku masih kenal Sasuke-kun! Aku teman sekelas mu selama akademi dulu! Tak aku sangka kau kembali ke Konoha, Sasuke-kun!"

Sasuke yang tak mengenal perempuan itu pun hanya menaikan alisnya sambil ber'Hn' ria. Tak menghiraukan Naruto yang sudah berbalik badan dan pergi yang sebelumnya mengatakan bahwa belanjaannya dibayarkan Sasuke pada nenek itu―ketika matanya melihat seorang pemuda yang ia kenal.

"Utakata!"

Pemuda bersurai coklat gelap dan bermata emas kemerahan itu―menoleh kearah Naruto. Senyum langsung mengembang diwajahnya.

"Ada apa, Naruto?"

Naruto yang telah berada dihadapan Utakata langsung tersenyum malu, ia memandang grogi Utakata. "Etto.. Maaf aku tidak memilih mu.." Naruto menggaruk belakang kepalanya, "Abis aku shock karna tiba-tiba saja dikejar oleh mu, dan Gaara, juga semua laki-laki didesa ini. A―Apalagi saat ada Sasuke, aku―

"Aku mengerti," pemuda yang menggunakan yukata itu menghela nafas. Menyesali kekalahannya dalam menggaet si jinchuriki juga bijuunya. "Jadi... Ada apa?" tanyanya lagi.

Naruto melirik kebelakang, menatap Sasuke yang kini terjebak dikerumunan wanita-wanita yang mengaku teman sekelas mereka saat di akademi.

"Aku ingin mencium mu," ujar Naruto mantap.

"Maaf?"

"Mencium mu, Utakata~" ujar Naruto malas.

Utakata mendengus, ia menepuk kepala Naruto. "Maaf saja kalau kau lakukan itu hanya untuk membuat Uchiha itu cemburu―kau tidak bisa, Naruto."

"Aku tidak ingin membuat Sasuke cemburu,"

"Jadi?"

"Aku Cuma menginginkannya.. err.. sejak kemarin.. mungkin?"

Utakata terdiam, dipandanginya Naruto lalu Sasuke disana. Dia ingin mengabulkan permintaan Naruto, namun ia juga ngeri nanti Sasuke tiba-tiba melemparnya dengan shuriken atau menusuknya dengan chidori eiso.

"Utakata.."

"A―Aku rasa tidak bisa, Naruto.." Utakata menggaruk belakang kepalanya, "Aku takut Sasuke nanti salah paham,"

Naruto yang tak mau mendengarnya mengorek telinga sambil memandang Sasuke yang makin dikerubungi oleh perempuan. Dan itu membuat si pirang langsung merengut.

"Ku rasa dia tidak akan marah kalau aku mencium mu," pandangan lurus langsung ditujukan pada Utakata yang membeku seketika.

"Ku rasa jawabannya tetap sama, Naruto.." helaan nafas terdengar oleh si pirang yang membuat Naruto menggosok hidungnya.

"Satu kali, saja.."

"Tidak bisa, Naruto.."

"French kiss?"

JREENGG!

Utakata yang tadinya sudah menyerah berdebat dengan Naruto dan akan pergi―mendadak semangat tinggi. Ia melihat Sasuke yang masih dikerumuni perempuan-perempuan lalu menatap Naruto.

Ragu?

Yep~

Tapi!

"Rezeki gak boleh ditolak!" suara Saiken memprovokasi Utakata yang langsung menganggukkan kepalanya.

"French kiss?"

"Hu-um.." anggukan dari Naruto langsung disambut oleh tarikan dijaketnya oleh Utakata. Dan Naruto pun berada dipelukan pemuda beryukata tersebut.

Seringai lebar diperlihat Utakata, yang membuat rona merah di wajah Naruto mendadak muncul. Elusan dibelakang leher Naruto, membuat si pirang merinding dan mendonggakan kepalanya. Menjadikan jarak mereka semakin dekat.

"Jangan menyesal,"

"Tidak akan,"

Utakata mendekati wajah Naruto, dan si pirang mulai memejamkan matanya seraya wajah Utakata mendekati dirinya. Wajah mereka begitu dekat. Hembusan nafas pun diantaranya juga bisa mereka rasakan. Membuat keintiman mereka mendadak jadi bahan tontonan di pasar, yang salah satunya adalah Sasuke yang langsung menatap tajam si Utakata.

"Naruto.."

Bibir itu akan menyentuh bibir Naruto. Tapi, tiba-tiba..

"Sssshh~"

Desisan yang terdengar oleh mereka yang disertai Naruto yang mendadak menjauh, membuat Utakata yang tadinya akan menikmati bibir itu langsung merasa tak bisa bergerak. Dan saat mata itu terbuka yang pertama kali ia lihat adalah Sasuke yang memeluk Naruto dari belakang dan bunshinnya yang berada tepat dibelakangnya. Lalu saat ia menunduk, Utakata pun melihat ular-ular melilit tubuhnya.

"Secepat itukah?" batinnya kaget, yang ia lakukan itu tak sampai hitungan detik, dan Sasuke sudah memisahkan mereka.

"Terkejut, huh?"

Suara dingin itu tepat ia dengar ditelinganya, Utakata mendadak kehilangan keberanian. Apalagi saat matanya bertatapan lurus dengan sharingan yang aktif. Tubuhnya bergetar dan ia merasa tenggorakannya kering. Utakata menyesali mengikuti saran 'rezeki gak boleh ditolak'nya Saiken.

Naruto yang berada direngkungan tangan Sasuke, segera melepaskan diri dan membalikkan badannya menghadap Sasuke. "Kau menghilangkan mood ku, Teme!"

PLAK!

Suara keras tamparan yang didapatkan Sasuke membuat seluruh orang disana―termasuk bunshin Sasuke―terkaget dan menganga akannya.

Bekas merah lima jari pun tercetak jelas dipipi Sasuke yang putih.

"Dasar Teme!" teriak Naruto sambil berjalan pergi meninggalkan Sasuke.

Mendadak Utakata merasa kalau skornya 1-1 dengan Sasuke.

"Sakit, huh?"

Sharingan yang telah nonaktif itu menatap tajam Utakata yang menyeringai. "Tsk,"

.

~サスナル~

.

Langkah Naruto mendadak berhenti disebuah pinggir sungai. Matanya menatap air yang memantulkan sinar matahari yang tak begitu kentara. Jembatan yang ada didepannya, menjadi pusat perhatian si pirang.

Tampak ada seorang bocah laki-laki tengah duduk diatas pembatas jembatan sambil matanya menatap lesu kepermukaan air. Sedangkan teman-temannya, bermain tak jauh darinya. Menghiraukan ia yang berada disana.

Naruto merasa melihat dirinya sendiri...

"Aku tak ingin kau sama seperti ku," ia menunduk, menatap perutnya yang membuncit walau terlapis oleh jaket hitam-orangenya. Ia mengelus pelan, menyampaikan rasa sayangnya yang makin hari makin bertambah. Rasa ingin melihatnya juga makin membuat Naruto menjaga baik-baik titipan Kyuubi ini.

BYUUR!

Suara riak air yang dijatuhi oleh benda besar membuat pandangan Naruto langsung ke bocah yang kini tak duduk lagi diatas pembatas jembatan. Mata biru Naruto mencari bocah tersebut dan menemukan si bocah menyembul dari air bersama seorang gadis kecil.

"Nii-chan!" teriak girang bocah perempuan itu membuat bocah laki-laki yang tadinya akan marah langsung melembut tiba-tiba.

Lalu, mata Naruto menatap pasangan yang berdiri diatas jembatan yang memandang kesungai. Seorang perempuan nampak sedang kesal.

"Ricchan! Jangan melompat ke nii-chan mu tiba-tiba!" perempuan itu kesal, namun tepukan dari suaminya membuat si perempuan menghela nafas.

"Sudahlah," ucap pria dewasa itu.

Tak sengaja mata Naruto bertemu pandang dengan pria tersebut. Dan yang langsung di balas senyuman dari orang itu. Mau tak mau Naruto pun ikut tersenyum dan mengangguk.

Membalikkan badan, Naruto kembali berjalan. Pergi entah kemana. Dia hanya belum memikirkannya saja..

"Semoga besok aku bisa seperti mereka," ia menutup mata. Sedangkan tangannya kembali mengelus perut itu. "Memiliki keluarga."

Tanpa ia tahu, sepasang mata onyx menatap datar punggungnya.

.

~サスナル~

.

"Apa yang ingin, baa-chan katakan?" pertanyaan dingin itu keluar dari mulut Naruto yang berada di mood terburuknya karna tak bisa mencium Utakata. Padahal itu adalah hal yang ia inginkan sejak lama. Ditambah lagi, saat ia ingin mandi dipemandian air panas umum―Sasuke datang dan menariknya kesini secara paksa.

Jadinya, ia pun bertambah tidak mood.

"Gaki, apa kau tak punya sopan santun, hah?" Tsunade menatap tajam Naruto, yang mengakibatkan si pirang merinding seketika. "Aku tak tau apa yang terjadi dengan mu dan Uchiha itu," Tsunade menunjuk Sasuke yang berada di samping Kakashi. Beberapa meter dari tempat Naruto berdiri. "Tapi, aku pinta pada mu untuk melupakan hal itu lebih dulu,"

Tsunade menatap satu persatu orang-orang yang ada diruangannya.

"Kalian harus dengar ini!" ujar tegas sang Hokage.

Sasuke, Kakashi, Sakura, Ino, Hinata, Iruka, Naruto, Deidara dan Itachi―segera menatap lurus kepada sang Hokage.

"Ada rencana yang ingin ku katakan pada kalian!"

Shizune, yang berada disamping Tsunade segera mengambil sebuah tumpukan kertas lalu menaruhnya kehadapan Tsunade.

"Yang ingin ku katakan adalah―

"EEEH!? Dei-nii! Kau sudah bisa melihat ya!?"

Teriakan yang SUDAH PASTI berasal dari Naruto membuat sang Hokage terpaksa mengurungkan niatnya untuk bicara dan memberikan kesempatan bagi si berisik itu sementara.

"Ya begitulah," Deidara tersenyum, membuat senyuman diwajah Naruto mengembang.

"Jadi berhasil?"

"Hu-um," Deidara mengangguk,

"Kalau begitu.." Naruto menggaruk tengkuknya, "Apa pendapat mu tentang aku sekarang?"

Seluruh mata memandang Naruto, sedangkan Deidara Cuma bisa menaikan alisnya heran. Mencoba mencari 'hal' apa dari Naruto.

Mata aquarime itu sedikit menyipit, "Tubuh mu... lebih berisi?" ujarnya ragu, Naruto berkedip. "Benarkan?"

Seluruh orang disana mengangguk serempak―kecuali Tsunade yang mencoba sabar―menyetujui apa yang dikatakan Deidara.

"Ya, Naruto-kun sedikit berisi karna kehamilan mu.." pendapat Hinata.

"Tapi bagi ku, kau tetap menarik kok, Naruto!" sambung Ino, ia berkedip pada Sasuke yang berwajah datar.

"Apalagi kalo pakai apron!"Sasuke tiba-tiba mengangguk menyetujui pendapat Sakura.

"Apron?" Kakashi menatap Iruka, "Kalau tidak salah, aku pernah melihat mu memakai apron, Iruka.."

"A―Apa!?"

"Eh, Itachi.." Dei menatap Itachi, "Kalau aku yang pakai apron?" tanyanya, mendadak Itachi begitu sulit untuk menilai.

Dan dalam detik selanjutnya, seluruh orang disana―kecuali Tsunade yang mulai naik darah dan Shizune yang mencoba menenangkannya―berceloteh ria tentang apron lalu hal lainnya yang bahkan tidak masuk akal sama sekali.

"Tsu―Tsunade-sama! Tenanglah!"

Tsunade meremat kertas dihadapannya. Ini sudah tak bisa dibiarkan.

"BISAKAH KALIAN SEMUA DIAM!"

Dan teriakan kencang pun berhasil mengembalikan keadan menjadi tenang. Dan Shizune yang sempat akan mengevakuasi orang-orang yang ada didalam sana―segera menghela nafas. Kekhawatirannya tentang meja yang melayang lagi, kali ini salah.

"Baiklah!" Tsunade benar-benar menghela nafas.

"Aku telah meneliti dan mencatat data-data penting selama ini. Dan sebuah kesimpulan ingin ku katakan pada kalian," Tsunade menautkan jari-jemarinya seperti jembatan didepan hidung yang kedua sikunya bertumpu pada meja. "Pertama, Naruto.." mata itu tertuju lurus pada pemilik nama. "..selama beberapa bulan kedepan yang akan segera dimulai besok―kau harus ikut dengan ku untuk menyetabilkan tubuh mu sampai hari saat kau melahirkan tiba. Ada beberapa percobaan yang akan ku lakukan dan teliti dari mu." Lalu mata Tsunade menatap Sasuke, "Dan kau bocah, kau harus bersama Itachi dan berlatih sesuatu darinya untuk meningkatkan kemampuan sharingan mu. Aku harap kalian bisa berkerja sama." Jeda sejenak, "Lagi pula ini untuk melindungi Naruto hari H nanti. Kita tidak tau apa yang akan terjadi. Berita jinchuriki yang hamil ini telah tersebar kesuluruh desa dan mungkin bahkan keluar desa. Karna dari itu, kau dan Itachi, ku harap bisa melakukan hal yang bisa mengamankan tempat yang akan menjadi tempat Naruto melahirkan."

"Lalu, Kakashi dan Iruka. Aku ingin kalian mencari tempat untuk Naruto melahirkan. Pastikan tempat itu aman dan tak terlalu jauh dari desa. Kalian yang mengalami peristiwa penyerangan Kyuubi pasti akan mengerti." Iruka dan Kakashi yang mendengarnya mengangguk mengerti. "Dan sisanya, Deidara, Ino, Hinata, Sakura―lakukan tugas yang ku berikan pada kalian." Tsunade menarik nafas. "Aku harap ini berhasil.." ia menggumam, walau gumamannya terdengar oleh semua orang disana.

Kakashi berdehem, mencoba menarik perhatian sang Hokage. "Hokage-sama.. tentang wadah Kyuubi, pemuda bernama Ryugazaki Momoka itu bagaimana?"

Tsunade yang mendengarnya mendengus lelah, "Kita batalkan.. kondisinya tidak bisa digunakan."

Keheningan pun melanda mereka setelah mendengar penjelasan terakhir Tsunade. Tak mengetahui jika Kyuubi mendengarnya didalam sana.

Hal yang seharusnya tak didengar oleh sang rubah.

Suara geraman yang berasal dari balik gerbang itu menjadi suara satu-satunya ditempat gelap tersebut. "Ryugazaki Momoka.." Kyuubi menggeram, sedikit membuat perasaan Naruto tak enak ketika Kyuubi menyebutkan nama itu.

"Baiklah.." Tsunade menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kalian bisa bubar sekarang,"

Tak berapa lama, satu-persatu keluar dari ruangan Hokage. Yang terakhir adalah Naruto, ia sedikit penasaran dengan pemuda bernama Ryugazaki Momoka tersebut. Namun, saat matanya melirik Sasuke yang sudah di ambang pintu―Naruto pun akhirnya keluar.

"Kau memikirkan apa?"

Naruto menunduk, "Tidak ada,"

Walau begitu, Sasuke tak semudah itu percaya pada Naruto. Raut wajah si pirang itu mudah di baca.

Baru lah mereka keluar dari gedung Hokage, Naruto harus kembali berhenti jalan saat matanya memandang Shion yang berdiri tak jauh dari mereka bersama dengan orang-orang yang Naruto tebak berasal dari desa Shion.

Gadis itu seperti berbicara dengan orang-orang tersebut lalu berjalan kearahnya.

"Naruto-kun.."

Naruto memiringkan kepalanya sedikit. "Ya?"

"Aku.. Ingin berpamitan dengan mu," ujarnya, wanita blonde itu agak sedikit ragu tentang sesuatu.

"Oh.. kau sudah ingin pulang?"

"Hu-um.." Shion menunduk.

"Kau ingin bicarakan padaku?" tanya Naruto, Shion cepat mengangguk.

Naruto melirik Sasuke, dan si raven itu mendengus―mengerti apa yang diminta kekasihnya lewat pandangan. Ia segera menjauh dari Shion dan Naruto. Memberikan privasi untuk mereka, walau matanya akan selalu mengawasi gadis itu.

"Soal ramalan yang ku katakan kemarin―

"Sudahlah.. jangan bicarakan itu," Naruto memotongnya, si pirang agak kesal kalau mengingat ramalan yang dikatakan Shion tersebut.

"Gomen.." Shion menunduk dalam, "Tapi.. Naruto-kun.."

"Hm?"

"Aku Cuma ingin bilang, yang ku katakan kemarin―mungkin belum tentu benar." Matanya menatap Naruto, "Memang aku seperti melihatnya dengan nyata, namun.." jeda sejenak, "―lama-kelamaan yang ku lihat seperti nyata itu perlahan mengabur, dan aku tidak bisa melihat masa depan mu." Ujarnya, suara Shion mendadak serak.

Merasa aneh dengan kata-kata Shion, Naruto menatapnya penasaran. "Maksud mu?"

"Aku juga tidak tau. Aku bisa melihat masa depan orang dengan jelas dan bisa memastikan bahwa yang ku lihat akan terjadi, tapi.. saat melihat mu atau Sasuke, yang ku lihat jelas itu makin lama makin mengabur. Jadi ku rasa―

"Shion~!" Naruto meraung, ia mengacak rambutnya. "Katakan dengan singkat dan jelas! Aku tidak mengerti!"

Melihat tingkah Naruto, Shion pun tertawa, "Gomen.. maksud ku.. Mungkin yang ku lihat memang benar, tapi itu semua tergantung Naruto-kun. Karna ku rasa, yang ku lihat adalah takdir dari Kami-sama.. tapi yang menentukan jalan takdir itu sepertinya cuma Naruto-kun sendiri.." Shion tersenyum manis pada Naruto. "Singkatnya.." Shion tersenyum, "Buatlah jalan cerita takdir Naruto-kun bersama Sasuke." Tangan putih terangkat, mengelus pipi Naruto. "Aku hanya sebagai penglihat, dan memberitahukannya pada Naruto-kun. Jadi, semoga yang ku katakan kemarin bisa menjadi hal yang dihindari. Bagaimana caranya, itu tergantung Naruto-kun sendiri.." mata itu menatap teduh Naruto. "Wakatta?"

Naruto terkesimak oleh Shion, dimatanya gadis itu begitu terang. "Wa―Wakatteru.."

Setelah pembicaraan yang sebenarnya belum benar-benar dipahami oleh Naruto―Shion pun berpamitan padanya dan Sasuke. Naruto yang berterima kasih pada Shion karna mengkhawatirkannya, mengantar gadis peramal itu ke gerbang bersama Sasuke.

"Sayonara, Naruto-kun! Sasuke!"

Naruto melambaikan tangannya, "Sayonara!" melirik ke kirinya, ia menatap tajam Sasuke yang berdiam diri saja. Ia pun mengangkat tangan kanan Sasuke dan menggoyangkannya agar melambai pada Shion. "Teme!"

"Hn.. Sayonara.." ujarnya biasa, jauh disana Shion yang berada dalam kereta Cuma bisa tertawa kecil.

Walau ia masih merasa sakit karna tak bisa memiliki Naruto, Shion merelakannya bersama Sasuke. Asal si raven itu benar-benar menjaganya, jika saja ia mendengar sesuatu 'yang menyakitkan Naruto' atau hal yang seperti di ramalannya kemarin terjadi―Shion akan nekad merebut Naruto.

Terserah Naruto mau atau tidak.

"Heh.."

.

.

"Um.." mata biru itu menyipit menatap keluar gerbang. "Kau tau Sasuke?"

"Hn?"

"Aku lupa menanyakan alasannya kenapa pulang,"

Mendadak Sasuke menepuk jidatnya. Kebodohan Naruto ternyata masih permanen.

"Tidak usah dipikirkan, Dobe." Sasuke membalikkan badannya, ia mengacak rambut Naruto. "Nanti otak mu meledak."

"TEME!"

.

~サスナル~

.

Tengah malam..

Di rumah sakit Konoha, para ninja medis berada di ruangannya masing-masing. Sedangkan para perawat hanya sesekali melewati sebuah karidor cukup gelap tersebut. Karna keadaannya yang sepi dan agak gelap, membuat para wanita alias para perawat tak cukup berani melewati koridor tersebut.

Karna itulah, seseorang yang tengah berjalan dikoridor itu menyeringai lebar. Rencananya yang telah ia susun rapi sepertinya berhasil. Selain tak ada orang diarea disana, koridor yang cukup gelap itu membuat ia yang memakai jubah berwarna hitam membuatnya tak terlalu terlihat jika ia berada disana tengah berjalan menuju sebuah ruangan satu-satunya yang ada diarea koridor itu.

Setelah sampai di ruangan rawat bertag 'Ryugazaki Momoka', orang misterius itu mendorong sedikit pelan pintu itu dan masuk.

Sesampai didalam ruangan rawat tersebut―mata merahnya yang menyalang menatap seluruh peralatan canggih medis yang terhubung pada tubuh kurus yang kini terbaring diatas ranjang. Ia mendekatinya, memandang wajah pucat yang terpasang oksigen. Embun yang tercipta di katup itulah yang hanya bisa menjadi penanda bahwa tubuh yang tak sadar-sadar selama 5 bulan itu masih hidup―selain mesin yang terus berbunyi sebagai tanda kalau jantungnya masih berdetak.

Orang itu mengulurkan tangannya, mengelus rambut coklat itu lalu turun ke pipi yang agak mencekung tersebut. Ia memandang datar Momoka sejenak, lalu kembali menyeringai lebar.

"Sempurna.." ujarnya, suara serak itu terdengar seperti menggeram. "Wadah yang sempurna.." ia mengangkat tangannya, menyikap tudung jubah yang sedari tadi menutupi wajah misteriusnya namun masih tak terlihat jelas karna ia menunduk.

"Aku tidak terlalu mengerti dengan rencana nenek tua yang mengatakan kau wadah ku," ujarnya, mata merah itu menatap tajam Momoka. "Tapi jika rencana itu membuat ku bisa keluar dari tubuh ini dan menggunakan tubuhmu sebagai wadah permanen ku.. Aku sepertinya setuju dengan rencana nenek tua itu," wajah misterius itu kini mendongak membuat sinar bulan yang menembus jendela diruangan itu―menampakan wajah tan yang berhias tiga garis halus dikedua pipinya cukup jelas.

"Nah.." pemuda bermata merah itu menunduk, tersenyum lebar pada Momoka yang terbaring lemah tak sadar. "―bagaimana kalau kita membuat kesepakatan, Ryugazaki Momoka?" tawarnya, tangan tan itu terjulur untuk menarik katup oksigen di wajah Momoka turun.

"Aku yakin ini sangat menguntungkan mu.." ia menunduk didekat telinga Momoka. "―dan aku."

Detik kemudian, akibat katup oksigen itu tak berada dihidungnya―tubuh Momoka mendadak mengejang. Mesin yang berguna untuk mengetahui detak jantungnya juga langsung berbunyi cepat dan nyaring. Pemuda berjubah itu pun bukannya segera menolong Momoka―ia malah melangkah mundur sambil tertawa.

Dan, saat ia dengar derap langkah berlari menuju ruangan ini―perlahan-lahan tubuhnya mengabur dan menghilang. Namun, sebelum semua tubuhnya menghilang―pemuda itu seperti mengatakan sesuatu.

Kemudian, setelah orang itu menghilang―para medis pun tiba.

"Nai! Panggil Hokage-sama!"

"Ha'i!"

.

~サスナル~

.

Pagi hari..

Disaat semua orang baru bangun dan segera beraktivitas seperti biasanya, disebuah apartemen kecil yang dipintunya terdapat lambang seperti pusaran―terdengar suara teriakan yang memikikkaan telinga para tetangganya.

Ya, siapa lagi kalau bukan sang penghuni apartemen itu a.k.a Uzumaki Naruto.

Namun, masalah ia berteriak itu bukan karna ramen cupnya habis―atau ia lupa akan sesuatu―tetapi dikarenakan pemuda berambut raven bergaya pantat ayam sedang berada diselangkangannya.

Awal mula hal ini terjadi berawal dari Naruto yang tak seperti biasanya bangun pagi. Melihat Sasuke yang tidur lelap nan damai―membuat ia mempunyai ide iseng.

Dan, dengan santainya si pirang pun mendekati Sasuke. Memeluk tubuh itu dari samping dan ia pun mendekati telinga si raven.

"Ngghh.. Sasuke.." erangnya menggoda.

Sasuke yang mudah sekali terbangun dengan suara sekecil apapun―segera menoleh pada Naruto yang tersenyum lebar.

"Apa-apaan kau?" sinis Sasuke. Naruto yang mendapat sikap seperti itu pun langsung merengut.

"Kau yang apa-apaan!? Apa-apaan dengan sikap sinis seperti itu, hah!? Kau kira kau bagus!? Teme! Asal kau tau aku pagi ini sedang bersikap baik pada mu jadi jangan―HUWAAA! TEME! APA YANG KAU LAKUKAN!?"

Teriakan kencang itu pun terdengar saat tiba-tiba Sasuke masuk kedalam selimut dan menarik seluruh kain yang berada dibagian bawah Naruto. Dan si pirang pun tak tinggal diam, ia segera memberontak untuk menjauhkan Sasuke dari selangkangannya.

Melihat kalau si pirang tak mau diam, Sasuke meremas benda pribadi Naruto dibawah sana. Membuat Naruto langsung mengerang dan terdiam.

Kesal, Naruto menyikap selimut yang menutupi Sasuke. Menampakkan kalau kekasihnya itu kini berada didepan benda pribadinya dengan seringai kecil.

"Mau apa kau!?" Naruto bangkit, namun Sasuke segera menarik kakinya dan membuat Naruto kembali terbaring. "TEMEE!"

"Diamlah, Dobe!" bentak Sasuke, ia pun segera menaiki tubuh Naruto. Sedikit menggesek miliknya yang terbungkus boxer dengan penis Naruto yang telah telanjang. "Yang menggoda ku, siapa?" tanyanya, Naruto langsung merah padam.

"Ta―Tapi 'kan aku Cuma menggoda mu supaya bangun! Bukannya menggoda mu mengajak melakukan hal seperti ini!"

"Dobe.." kedua tangan Sasuke melebarkan selangkangan Naruto. Membuat sang empu makin merah padam.

"TEEMEE!"

Jengah dengan Naruto yang terus-menerus berteriak, Sasuke segera membungkamnya dengan ciuman. Bibir yang menempel itu pun saling mengecup satu sama lain yang lalu disambung oleh Naruto yang membuka mulutnya. Mempersilahkan Sasuke untuk memasuki rongga mulutnya yang hangat. Tangan Naruto yang tadi mendorong dada Sasuke, kini telah melingkar dileher si raven.

Ya, asal kalian tau saja, Uzumaki Naruto mulai terbiasa dengan hal seperti ini sejak err.. dua atau tiga bulan yang lalu... mungkin?

Dan, saat Sasuke melepaskan ciuman mereka―Naruto malah menariknya kembali dan mencium si raven. Mendapat kejutan seperti ini membuat Sasuke ingin segera menusuk Naruto.

Melilitkan lidah mereka, Sasuke dan Naruto saling menatap dengan mata sayu mereka. Dapat dilihat kalau mata Naruto mulai dikabuti nafsu dan Sasuke pun menyeringai ditengah ciumannya.

Menarik diri dari Sasuke, lidah Naruto yang baru saja lepas oleh lilitan Sasuke terjulur bebas. Membuat saliva akibat ciuman mereka mengalir dari sudut bibir Naruto. Merasa tergoda, Sasuke menjulurkan lidahnya untuk kembali menarik lidah Naruto dan menghisap kedalam mulutnya. Didalam sana, Sasuke begitu beringas menghisap dan melilit lidah Naruto.

Dan sekiranya cukup, Sasuke menjauh Naruto. Tapi Naruto masih ingin lagi. Melihat kekasihnya yang masih ingin berciuman, Sasuke pun menjulurkan ketiga jarinya yang langsung dikulum oleh Naruto. Menggantikan bibir dan lidahnya untuk memuaskan mulut itu.

Setelah Naruto bermain dengan ketiga jarinya, Sasuke turun keleher Naruto menjilat kulit tan itu lalu menghisapnya. Membuat bekas titik merah yang akan lama hilang. Saat ia merasa hisapan di jarinya menguat, Sasuke yang akan membuat kissmark satu lagi langsung mengurungkan niatnya.

"Sepertinya kau kelaparan," Naruto hanya merespon kata-kata Sasuke dengan mata sayunya. Menyeringai, Sasuke menarik ketiga jarinya lalu membanting badannya tepat disebelah Naruto.

Seakan mengerti maksud Sasuke, Naruto segera bangkit lalu menaiki tubuh Sasuke. Mendekatkan wajahnya pada celana boxer yang menggembung tersebut. Dan membiarkan Sasuke menikmati bokongnya yang entah mengapa ia menilai.. cukup sexy.

Tangan Naruto segera menuruni boxer Sasuke lalu mengeluarkan batang besar itu dari celana dalamnya. Naruto segera memijit benda itu yang lalu ia lanjutkan dengan jilatan dari bawah keatas. Membuat Sasuke yang menikmati bokong sexy Naruto merinding nikmat.

Tak Cuma menjilat, Naruto menciumi tiap inci batang itu dengan sensual. Memberikan kenikmatan bagi si raven yang kini sedang mengelus pantat Naruto. Tak puas, Naruto mengangkat kepalanya hingga mulut itu kini berada di ujung kepala kejantanan Sasuke yang menegang dan memerah. Ia mengecup, lalu menjilat kepala itu hingga kebawah dan kembali naik keatas. Setelahnya, Naruto membuka mulutnya lebar mencoba memasukkan kepala kenjantan Sasuke kedalam mulutnya. Walau terasa sakit karna harus membuka mulutnya lebar―Naruto tetap berusaha membuka mulutnya agar benda itu masuk. Dan setelah masuk, Naruto menghisapnya lebih dahulu yang lalu dilanjutkan dengan mengulumnya dan menggerakan kepalanya kebawah-keatas untuk memberikan rangsangan lebih untuk Sasuke.

Sasuke menikmatinya, ia sangat jarang bahkan mungkin tak pernah mendapat service seperti ini dari Naruto maupun Kyuubi. Saking menikmati mulut hangat Naruto di penisnya, Sasuke sampai ikut menggoyangkan pinggulnya hingga benda besar itu hampir masuk kerongkongan Naruto. Tersadar dengan apa yang ia lakukan―Sasuke pun segera menghentikannya. Jika saja ia melanjutkan yang ia lakukan tadi, bisa-bisa Naruto tersedak miliknya dan―hentikan! Ia mulai berpikir kejauhan.

"Naruto.." Sasuke memegang pinggang Naruto, ia ingin menyudahi ini dan segera ke acara utama. Melihat lubang surga miliknya berkedip minta di masukkan―membuat Sasuke tergoda untuk cepat menyelesaikannya.

Tapi sepertinya Naruto terlalu menikmati kegiatan yang tengah ia lakukan sampai-sampai ia menghiraukan panggilan Sasuke.

"Naruto..."

"Ngghh!" erang Naruto kesal, ia menggoyangkan pantatnya menyuruh Sasuke menyentuh miliknya yang juga sudah menegang atau melakukan penetrasi pada lubangnya. Ia tidak mau menghentikan kegiatannya itu.

Kesal, Naruto melepaskan kulumannya dan menoleh kebelakang. Ia menatap tajam Sasuke. "Apa kau bisa melakukan hal yang sama, Teme?" ia memincing tajam, "Jangan bilang kau Cuma mau aku yang melakukannya saja!"

"Kesempatan ku masih lama, Dobe."

Naruto bangkit, menduduki dada Sasuke. Ia pun kembali menoleh ke Sasuke. "Aa~ kau jadi Cuma mau kesempatan memasuki saja, hah!?" si pirang mulai tersulut emosi. "Oke, kalau begitu tidak usah dilanjutkan!" teriak Naruto kesal, Sasuke hanya menatapnya datar.

Saat Naruto akan beranjak dari atasnya, Sasuke segera menahan kaki Naruto dan mendorong si pirang kedepan. Naruto yang menahan beban tubuhnya dengan kedua siku agak mengangkat tubuhnya saat Sasuke tiba-tiba menarik kedua kakinya dari bawah tubuh Naruto. Ia agak takut kalau kaki Sasuke nanti tak sengaja menendang perutnya.

Menoleh kebelakang lagi, Naruto yang menungging makin memincing tajam pada Sasuke yang kini sudah setengah berdiri diatas ranjangnya―menatap intens ke bokongnya. Bisa ia lihat kalau mulai Sasuke mendekat lalu memeluknya dari belakang, membuat penis Sasuke yang menegang itu bergesekan dengan belahan pantatnya.

"Cih, mau enaknya saja!" gerutu Naruto, si Teme itu menggodanya dengan menggesekkan kejantannya ke belahan pantat Naruto.

Mendekati telinga Naruto, Sasuke berbisik, "Tapi bukan kah kau juga menikmatinya, Dobe?" tangannya yang memeluk Naruto kini berada di penis Naruto yang menegang. Sasuke menyentuhnya, mengelus benda itu hingga membuat Naruto mengerang dan bertambah kesal.

"Teme!"

"Kau cerewet, Dobe.." bisik Sasuke, ia menolehkan wajah Naruto kebelakang hingga Sasuke bisa meraih bibir Naruto dan menciumnya.

Mereka berciuman, saling melilitkan lidah dan berbagi saliva mereka. Dibawah sana, milik Sasuke terus bergesekan dengan belahan pantat Naruto. Membuat si pirang makin high.

Selagi mengecap rongga mulut si pirang―tangan kanan Sasuke yang tadinya menumpu berat badannya agar tak menimpa Naruto kini beralih pada puting Naruto yang menegang. Ia memilin, memutar dan mencubit puting itu hingga Naruto mengerang keras diantara ciuman mereka.

Naruto melepaskan ciumannya, tubuhnya mulai lemas dan ia perlahan tengkurap diatas ranjangnya. Sasuke yang melihat Naruto segera membalik tubuh itu menghadapnya. Ia menunduk, menjilat pipi Naruto lalu kembali mencium si pirang. Sedangkan tangannya yang tadi memilin puting Naruto pun kini beralih pada bagian paha dalam Naruto. Sasuke mengelusnya berkali-kali, membuat Naruto merasakan sensasi-sensasi yang makin membuatnya pusing.

"Te―Teme.." Naruto meneguk ludahnya, ia ingin meminta Sasuke segera memasukinya. Namun, ia merasa gengsi.

Sasuke yang tak memperhatikan Naruto yang menahan hasratnya―kini sedang mengangkat kaki kiri Naruto lalu menjilat paha dalam tan milik si pirang. Lalu ia mengecup dan menhisapnya, meninggalkan tanda merah yang sama seperti di area leher Naruto.

Setelah puas dengan tanda merah itu, Sasuke kembali mendekati wajah Naruto. Ia mencium Naruto kembali sambil kedua tangannya memilin puting Naruto, sedangkan miliknya kini bergesekan kembali dengan milik Naruto.

Naruto yang sudah tidak tahan mendorong dada Sasuke. Matanya menatap sayu Sasuke dengan wajahnya yang memerah. Menelan ludahnya sekali lagi, Naruto pun akhirnya membuang harga dirinya sementara.

Dengan tangan yang terkepal didada Sasuke, dan kaki yang mengangkang lebar dihadapan Sasuke―Naruto mengangkat panggulnya dan sengaja menyentuhkan lubangnya ke ujung kepala kejantanan Sasuke.

"Dobe.." Sasuke sedikit takjub dengan kelakuan kekasihnya.

Naruto menatap Sasuke dengan tatapan sayu, wajahnya memerah. "Sasuke.. A―Aku mohon.." pintanya.

GLUP!

Melihat Naruto seperti itu membuat Sasuke meneguk paksa ludahnya. Ia menunduk mencium Naruto dengan beringasnya yang lalu dilanjutkan memutar balik tubuh Naruto hingga dada Sasuke menyentuh punggung Naruto.

Naruto yang memang sudah menyingkarkan harga dirinya untuk sekarang, mendesah. Ia sungguh meminta Sasuke untuk cepat memasukkan miliknya.

Sasuke mengerti, dengan itu pun ia menegakkan dirinya. Dengan lutut yang menumpu berat badannya, Sasuke menggenggam miliknya lalu menuntun kejantanannya ke lubang Naruto yang berkedip-kedip. Perlahan, kepala kejantanan yang menyentuh lubang itu mulai terhisap oleh lubang Naruto.

"Ah.." Naruto mengepalkan tangannya, ia bisa merasakan kalau ia menghisap kepala kejantanan Sasuke sekarang.

"Naruto.. Kau―

"Diamlah!" Naruto mengerang kesal, wajahnya merah padam. "Ini semua gara-gara kau, Teme!" rutuknya pada Sasuke yang sejak awal mempermainkannya sampai ia harus membuang harga dirinya sebagai seorang Naruto Cuma untuk meminta Sasuke memasukinya.

Meneguk ludahnya kembali, Sasuke mati-matian untuk tidak langsung memasukkan miliknya keseluruhan ke dalam Naruto. Tanpa penetrasi, itu pasti akan menyakitkan jika ia melakukannya.

Menggenggam pinggang Naruto, Sasuke perlahan mendorong miliknya masuk kedalam diri Naruto yang dengan suka citanya lubang hangat itu menerima kehadiran penis Sasuke dengan merenggang perlahan. Setelah kepala kejantanan Sasuke masuk, Sasuke yang ternyata sudah diujung kesabaran pun langsung menghentakkan miliknya masuk.

"AH!"

Yang untungnya, langsung mengenai spot Naruto.

Menyeringai karna hentakannya berhasil mengenai titik tersebut, Sasuke pun kembali menarik miliknya hingga kepala lalu menghentakkannya kembali dan mengenai titik itu lagi.

Naruto menungging, tangannya tak kuat menahan beban tubuhnya sedangkan pinggangnya sekarang dipeluk oleh Sasuke selagi si raven itu terus-terus menggenjotnya. Wajah tan yang berhias tiga garis halus dikedua pipinya itu―memerah, mulutnya yang kini menganga mendesah-desah karna spotnya terus ditubruk oleh Sasuke hingga akhirnya ia menegang dan klimaks.

Tangan Sasuke yang tadi memeluk pinggang ramping Naruto kini membelai naik ke dada Naruto. Tangan itu mengelus, memilin dan mencubit kedua puting Naruto hingga akhirnya Naruto kembali menegang yang menyebabkan penis Sasuke terasa terjepit karna rektum yang membungkusnya―mengetat.

"Sa―Sasuke.." desah Naruto. Sasuke kembali menggerakan miliknya.

Jilatan di leher belakang Naruto bisa si pirang rasakan, pilinan, hentakan, semua yang ia rasakan membuat kepala Naruto terasa berputar. Ini sungguh menakjubkan!

"Naruto.." Sasuke mendesah ditelinga Naruto, yang direspon desahan dari si pirang. "Aku.."

"Nnnnhh.. Sasu―ke.. le―lebih!" pinta Naruto cukup keras. Sasuke pun segera menurutinya.

Kembali menegakkan tubuhnya, tangannya menggenggam pinggang Naruto dan ia pun memulai aksinya. Dengan hentak-hentakan kuat, Sasuke menusukkan miliknya hingga terdalam dilubang tersebut. Membuat Naruto mendesah lebih keras.

Merasa kalau wajah Naruto yang kini tenggelam diselimut pasti sangat imut, membuat Sasuke penasaran dan mendekati Naruto. Tangannya menarik wajah Naruto untuk menghadapnya. Dan saat Naruto menatapnya, Sasuke segera mendekati wajah yang begitu manisnya. Bibir itu pun mulai mendekat dan sebentar lagi pun bibir itu akan menya―

Ting.. Tong..

―tu. Tidak jadi.

Sasuke dan Naruto terdiam, mata mereka mengarah kearah pintu kamar.

"Teme.."

"Diam saja, Dobe.."

Mengabaikan suara bel yang berbunyi tersebut, Sasuke dan Naruto pun melanjutkan kegiatan mereka. Dan yang tadinya mereka tak jadi beciuman akhirnya mereka menyatukan kedua bibir mereka kembali.

Suara bel dari luar pun terus berbunyi, Sasuke dan Naruto menghiraukannya. Membuat seseorang yang menekan bel itu pun mulai menggeram kesal.

"Sialan! Dimana Naruto bodoh itu!" rutuknya, ia yang berencana akan santai hari ini malah mendapat perintah dari Hokage langsung untuk memanggil Naruto.

Dan, sebagai warga Konoha yang baik, Hyuuga Neji pun menuruti perintah Hokage dan memanggil Naruto. Namun sayang, panggilannya harus tertunda karna kedua pemuda itu sedang bercinta didalam.

Neji memandang pintu didepannya, jika bel tak didengar oleh Naruto, berarti si pirang itu sedang tidur. Tapi, bukannya Naruto tinggal bersama Sasuke? Pasti kalau Naruto tidak bisa membuka pintu ini, paling tidak Sasuke yang membukanya.

"Oi, Naruto!" panggil Neji, Sasuke dan Naruto didalam sana malah menghiraukannya dan melanjutkan kegiatan pagi mereka.

Sasuke memegang kedua sisi pinggang Naruto sambil ia mengeluar-masukkan miliknya kedalam tubuh si pirang. Mata onyxnya menyipit, bisa ia rasakan kalau hasratnya sebentar lagi akan sampai.

"Naruto!"

Naruto menggenggam selimut dibawahnya ia melirik kebelakang, memandang Sasuke meminta si raven untuk berhenti. Namun, Sasuke tak mau dan terus menggenjot tubuhnya.

"Naruto! Oi!"

Diluar sana Neji mulai geram, tangannya terjulur untuk memutar gagang pintu apartemen Naruto. Namun, sebelum tangannya sampai ke gagang pintu itu―Neji mendapat ide.

"Cih, aku tidak perduli dia sedang apa," gumamnya, urat kekesalan di kepala Neji sudah terlihat jelas.

Dengan geramnya, Neji pun mengaktifkan byakugan dan memandang isi dalam apartemen Naruto dan menemukan kalau si pirang dan si raven itu sedang...

"Sialan.." gumamnya kesal, Neji segera menutup hidung dan mulutnya saat ia bisa rasakan panas diwajahnya. Tidak bertemu dengan Kazekage Suna itu membuatnya rindu ingin melakukan hal yang sama dengan Sasuke dan Naruto didalam sana. Dan gara-gara melihat pemandangan itu, pikiran Neji pun mulai kemana-mana.

Tapi, sebelum pikirannya beneran pergi kemana-mana―Neji harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kegiatan dua orang aneh itu didalam. Mengabaikan seorang Neji? Heh, rasakan kalian.

Rasakan bagaimana rasanya klimaks tertunda. Neji menyeringai.

"Aku tidak peduli kalian sedang apa didalam." Suara Neji yang besar bisa didengar jelas oleh Naruto yang kini sedang berciuman dengan Sasuke. "Tapi, bisa kah kalian hentikan kegiatan kalian? Mengabaikan ku disini adalah pilihan yang salah, Naruto, Sasuke." Ucapnya.

Naruto yang kini berhadapan dengan Sasuke segera mendorong dada si raven. Dapat dilihat wajahnya memerah padam karna malu.

"Temeee! Sudah ku bilang berhenti! Neji pasti menggunakan bya―

Kata-kata Naruto berhenti seketika saat mata birunya memandang Sasuke yang menoleh kepintu dengan sharingan yang aktif. Dua mata spesial itu pun saling bertatapan dari jarak yang berbeda.

"Hyuuga, nonaktifkan byakugan mu. Atau kau mau merasakan tsukuyomi dari ku." Suara dingin nan tajam itu membuat Naruto terpana dan Neji tersentak diluar sana.

Tak ingin dirinya diberika tsukuyomi oleh Sasuke, Neji pun menonaktifkan byakugannya dan menghela nafas.

"Terserah kalian." Ujar si Hyuuga mulai malas. "Aku hanya mau menyampaikan kalau kau Naruto, ditunggu oleh Hokage-sama." Ucapnya, setelah itu tanpa berpamitan Neji pun pergi.

Didalam, Sasuke dan Naruto masih memandang pintu kamar mereka sebelum akhirnya Sasuke menonaktifkan sharingannya yang membuat Naruto mengambil kesimpulan kalau si Hyuuga sudah pergi.

Saling menatap satu sama lain, mereka pun melanjutkan kegiatan mereka.

"Ahnn.." Naruto yang memeluk leher Sasuke mendesah nikmat saat titik terdalamnya berkali-kali ditubruk oleh penis Sasuke. Tangannya pun mulai menjambak surai raven itu ketika ia rasakan ada rasa yang berputar dibawah sana dan menuju satu tempat. "Sasuke.. Umnn~"

Sasuke melepaskan pelukan Naruto, ia membaringkan si pirang ke ranjang yang lalu ia lanjutkan dengan menaikan salah satu kaki Naruto ke atas bahunya dan mengeluar-masukkan miliknya lebih kuat. Diringi desahan Naruto yang seperti musik penyemangat, Sasuke yang sebentar lagi akan sampai pun makin menambah kekuatannya untuk menggenjot Naruto sampai―

"Sasuke.."

Panggilan Naruto yang tanpa diiringi desahan oleh si pirang membuat Sasuke tadinya akan mengeluarkan benihnya―menatap Naruto.

"Hn?"

"Aku mau.."

Sasuke menunggu.

"―yakiniku."

JEGEERR!

Seperti disambar petir, Sasuke tak bisa berbuat apa-apa dan hasratnya yang tadi akan sampai pun mendadak hilang entah kemana. Melihat wajah yang menatapnya memohon dan innocent itu membuat si raven kehilangan hasratnya.

"Naruto.."

Panggilan Sasuke dengan suara menggeram itu membuat si pirang menatapnya penuh harapan. "Ya?"

"..."

"Sasuke?"

Sasuke menunduk dalam, ia mencengkam seprai di bawahnya. Kehilangan hasrat disaat miliknya menegang sempurna itu membuat Sasuke frustasi. Salahkan Naruto, wajah bodohnya tadi itu sangat membuat Sasuke merasa seperti.. ARGH! Entahlah! Sasuke sekarang sedang pusing memikirkan cara untuk keluar!

"Teme?" Naruto bangkit, ia mengintip wajah Sasuke yang tertunduk dalam tersebut. "Kau kenapa?"

Sasuke tak menjawab, ia hanya menepuk kepala pirang Naruto yang lalu kemudian menarik keluar miliknya dan beranjak dari kasur. Naruto menatap heran Sasuke.

"Teme, mau kemana?" tanya si pirang, tatapannya begitu membuat Sasuke silau mendadak.

"Kekamar mandi."

"Ngapain?"

"..."

Sasuke pun pergi, membuat Naruto merasa prihatin. "Sasuke! Tapi kau belum―

"Aku tau, Dobe." Sasuke meliriknya diambang pintu. "Aku akan menyelesaikannya sendiri."

Naruto pun berkedip heran, "Sasuke?"

Dan akhirnya pun Naruto harus melihat Sasuke berjalan dengan aneh menuju kamar mandi.

"Ada apa dengan dia?" gumamnya. Naruto menatap kebawah, memandang miliknya yang lemas dan dibasahi oleh cairan milinya sendiri. "Untung aku sudah tiga kali," ucapnya bangga, tak memikirkan Sasuke yang kini di kamar mandi mengantukkan kepalanya ke dinding.

.

.

"Aku berangkat dulu, Teme!" teriak Naruto didepan sana.

Sasuke hanya ber'Hn' ria sambil menyelimuti tubuhnya. Klimaks karna terpaksa itu rasanya begitu menyebalkan. Saking menyebalkannya, Sasuke ingin merape Naruto nanti. Tapi pikiran itu segera ia buang jauh-jauh. Kalau ia melakukannya, pasti akan berefek pada bayi didalam perut Naruto.

"..kuso." dan ia pun hanya bisa memaki entah pada siapa.

Ting.. Tong..

Baru saja Sasuke ingin menutup matanya dan berharap memimpikan melakukan lagi dengan Naruto―suara bel yang berbunyi membuat kaki Sasuke reflek turun dan ia pun beranjak dari kasur. Menjadi penghuni kedua di apartemen ini sudah membuat Sasuke terbiasa dengan tamu-tamu Naruto maupun tamunya(baca: fansnya).

Tangan Sasuke terjulur menarik pintu itu. Saat pintu itu terbuka, Sasuke langsung memandang seseorang yang kini berdiri dihadapannya.

Seorang laki-laki berpakaian klan Uchiha, bersurai raven panjang dan mempunyai keriput di kedua sisi wajahnya.

"Itachi.."

Itachi menatap datar Sasuke, "Jangan bilang kau lupa kalau hari ini mulai latihan," ujarnya, entah mengapa Sasuke merasa déjà vu.

"Hn, aku tau." Jawabnya bohong, Sasuke sebenarnya lupa dan malas kalau hari ini latihan.

Mereka diam beberapa saat, Sasuke menatap Itachi datar dan begitu juga dengan Itachi. Bosan karna keheningan mereka, Itachi pun membuka mulut ingin mengatakan sesuatu tapi Sasuke lebih dulu.

"Apa aku bisa memanggil mu, 'aniki' lagi?"

Itachi tersentak, dipandangnya Sasuke yang menatapnya datar. Mata itu tidak berbohong dan Itachi tau itu.

"Kalau kau ingin silahkan.." Ucapnya, kedua mata onyx itu saling tatap. "―otouto."

Senyum tipis pun terpampang diwajah Itachi yang membuat Sasuke mau tak mau juga ikut tersenyum tipis. "Aniki.."

Dan akhirnya mereka pun mencoba memperbaiki hubungan kakak-adik mereka kembali.

Ah.. rasanya Sasuke kembali menjadi anak-anak lagi.

Tap..

"Oi, Itachi. Kau tidak melupakan aku 'kan?"

Sasuke menoleh ke pemuda pirang yang memakai kaos berlambang Uchiha juga. Mata Sasuke mendadak menyipit saat si pirang itu menyeringai ke arahnya.

"Dei.." ucap Itachi. Si raven menatap heran Deidara yang menyeringai lebar pada adiknya. "Jangan bilang―

"Sa-su-ke.." Dei mendekati Sasuke, yang tanpa sempat Itachi untuk menarik kerah tinggi kaos miliknya yang dipakai Dei agar tak mendekati adiknya. Dei tersenyum lebar, dan saking lebarnya matanya pun menyipit yang langsung membuat Sasuke siaga. "Kau juga tidak melupakan aku 'kan?"

Mata Sasuke menyipit tak suka, ia bisa menebak sesuatu dari si pirang tersebut.

Tanpa di ketahui Sasuke dan Itachi, dibelakang punggung Sasuke terdapat laba-laba tanah liat milik Deidara yang menempel pada kaos hitam milik Naruto.

"Bagaimana kalau kita kembali bertarung?"

Mendadak aura persaingain menguar dari tubuh Sasuke dan Deidara. Mengabaikan kalau ada Itachi disana.

.


ーつづくー


-To Be Continue-


.

Ohisashiburi(lagi) na~ :3

Ryuu balik lagi apdet setelah.. um.. ==;a sebulan lebih? O.o

Gomenasaii! Kencan Ryuu dengan WB itu sulit untuk di break QAQ di minta putus apalagi! Jadinya Ryuu ngelanjutin SELURUH FIC Ryuu dengan bayang-bayang WB TT-TT itu sangat mengesalkan! Dx

Ketika ide lancar, entah kenapa setiap Ryuu ngetik susah banget menggambarkan apa yang ada di otak! Padahal kalau dikhayalin lancar banget! DDx bahkan bisa sampe kebawa mimpi! Tapi! Tapi! Kenapa diketik susah banget sih!? DDX

WHY!? NAZE!? DOUSHITE!? NANDE!? KENAPA!? DDx

Hiks.. baiklah lupakan hal diatas #nyekaairmata

Um.. ngapain ya hari ini? =A=;a

Jawab pertanyaan dengan chara lagi? O.o

Err.. gak usah deh TAT bokek Ryuu bayar uang tambahan buat gituan ke chara = 3= *lirik chara yang pada kaya* #sigh# mungkin kali ini Ryuu bakal langsung jawab pertanyaan minna sendiri deh :3

Siap?

Yosh!

Yang pertama!

Lol-san *ryuu kena tomat* hiks Q^Q gomen kalo gak suka SasuKyuunya QAQ makasih udah review.. #Pundung

UruRubaek-san, um.. mengendalikan Momoka? O.o *lirik keatas* saa~? ShikaKiba? O.o entar Ryuu adain :3

sei yagami-san, Yep~ Kyuu cemburu.. gomen! Ryuu bakal usahain apdet cepat QAQ dan NejiGaaranya nanti Ryuu adain :3

JinK 1314-san, Scene Naru dengan seme lain *lirik keatas* ada kan? O.o sekali request, Ryuu kabulin xD HAHA! ITACHI AKAN KU KORBAN KAN UNTUK BIKINI BOTTOM*plak!* etto.. maksudnya cadangan? O.o

L-san, udah lanjut kok :3 makasih udah review :3

Jesslyn Rikaharu-san, sebenarnya Sasu itu gak mesum sih :3 *lirik anime/manga* tapi mukanya emang rada nunjukin dikit xD dan Ryuu suka SasuTeme mesum *lope-lope*

Ryu-kun, masih lanjut kok! Makasih udah baca :3

Wookie, typos? O.o ==; itu memang selalu ada di setiap fic Ryuu =A= tambahin penderitaan Sasu? O.o gampang :3 ItaKyuu? Bakalan ada x3 wah! Wookie kelas 3 smp? O.o UN dong? *ingat Un* #pundung um~ kayaknya lagi heboh ceasar ya? xD #ikutan joget# BUKA DIKIT JOSS! XDD #mikir yg iyaiya# *plak!*

Qnantazefanya-san, makasih udah review dan baca ya~ :3 mampir lagi xD

Yosh! Selesai :3 yang review pake akun Ryuu bales lewat PM, yang gak ada *lirik keatas* udah Ryuu bales kan? X3

Nah akhirnya selesai~ *renggangin badan* #lirikjam

Hahh.. baiklah~ bagi silent reader sekali lagi terima kasih udah baca, yang review apalagi, yang fav, follow arigatou gozaimasu! Ryuu gak bakal bisa sampe sejauh ini tanpa kalian! #nyekaairmata

Udah deh~ ini chap Ryuu kerjain sebagian sebelum apdet :3 jadi kalo ketemu typos maklum ya! Ryuu malas nyarinya lagi #plak!

Ryuu akhiri~

Sampai jumpa kapan-kapan xD/

Mind to review? :3