Torayou hanya bisa diam mendengar perkataan mereka. Carinza pasti akan marah kalau tahu rahasianya telah bocor. Lamunannya terhenti saat menyadari bahwa kelopak mata gadis itu bergerak-gerak. Dan secara perlahan gadis itu membuka matanya. Secara perlahan, gadis itu telah tersadar, dan melihat seluruh anggota guild yang memperhatikannya.
"Wah, dia sudah sadar!"
"Kau tidak apa-apa, Platina?"
"Cara..."
"Minna... Ukh.. Ittai..." rintih gadis itu pelan. Sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, gadis itu menyadari bahwa rahasianya pun terbongkar. Sambil menatap Erza yang menatapnya sendu, Carinza menyunggingkan senyum penuh kerinduan.
"Aneki..."
Titania & Platina
FairyTail by Mashima Hiro
This story is Mine.
DLDR, If you don't like, please get out!
.
.
.
.
Chapter 10 : Revenge!
"Aneki... Maafkan aku kalau aku... Ukh!"
"Jangan bicara dulu, lukamu masih belum pulih!" cegah Wendy. Wendy lalu kembali menggunakan kekuatan sihirnya untuk menyembuhkan luka yang diderita Carinza.
"Iya, lebih baik kamu beristirahat dahulu, sampai lukamu benar-benar pulih..." kata Erza, sambil menatap adiknya cemas. Bagaimana tidak cemas, luka-luka di tubuh Carinza sangat parah, sampai ada bagian tubuhnya yang patah. Bahkan di lengan, paha, dan pinggangnya, ada luka sobek. Sambil menahan sakit Carinza menutup matanya.
"Luka Platina-san sangat parah, sampai mantra ini hanya berpengaruh sedikit saja pada luka-lukanya..." pekik Sky Dragon Slayer itu pelan. Carinza kembali membuka matanya.
"P..panggil aku...Carinza saja.." ujarnya sambil menahan sakit. Erza menoleh ke arah Gildarts yang sedang berbicara dengan Makarov.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Erza cemas. "Lukanya sangat parah, sampai-sampai mantra Wendy tidak menyembuhkannya dengan cepat."
"Aku tidak tahu, saat aku pulang dari misiku, aku hanya melihat gadis ini terbang dengan sayap, lalu jatuh tepat di depanku. Kukira dia malaikat sampai aku melihat tanda di pergelangan tangannya." Jawab Gildarts.
"Mungkin dia kecapekan karena dia mengambil dua misi sekaligus, Erza." Ucap Mirajane cemas. Erza langsung menariknya keluar dari ruang perawatan guild, sedangkan yang lainnya menatap keduanya dengan tatapan heran. Setelah sampai di luar ruang perawatan, Erza menutup pintu tersebut rapat-rapat.
"Dua misi sekaligus? Mengapa aku tidak memberitahuku?" tanyanya dengan suara keras, membuat Mirajane terkejut.
"Kalau aku memberitahumu, kau pasti akan menyusulnya, sedangkan waktu itu kau masih sakit," ucapnya membela diri. "Lagipula kemampuan sihirnya sangat hebat, sampai bisa melukaimu seperti itu. Aku tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini." Mirajane menutup bibirnya dengan sebelah tangannya.
"Cih!" umpatnya. "Pekerjaan apa yang dia ambil?" tanyanya, masih dengan ekspresi kemarahan yang membuat siapa saja, termasuk Mirajane, bergidik.
"Misi pertama dan kedua, lokasinya sama, di Oak. Misi pertama adalah mengembalikan artifak ke dalam kuil di hutan Oak. Misi kedua..."
Mirajane terdiam. Dia menelan ludahnya saat membaca misi kedua yang dikerjakan Carinza.
"Misi kedua?"
"Misi kedua adalah..." Mirajane kembali menelan ludahnya. Lalu menatap Erza dengan tatapan horror. "Mengalahkan dark guild yang membantai seluruh keluarga Youngstar setahun yang lalu."
"Mengalahkan dark guild? Apa kau tidak salah? Misi itu setara dengan misi S-Class kan?"
"Entahlah. Kupikir Team Natsu yang akan mengerjakannya. Jadi aku biarkan saja. Lagipula, misi itu tidak bisa dikerjakan sendirian, harus secara tim. Dan aku sudah menuliskan hal itu di kertas misinya."
"Pasti Carinza hendak membalaskan dendam keluarga Torayou, makanya dia nekat mengambil misi itu." Ujar Gray yang baru saja keluar dari ruang perawatan guild, lalu mendekati Mirajane dan Erza.
"Gray?"
"Tapi lebih baik kita menunggu Carinza pulih dulu, baru bisa kita tanya."
Saat mereka akan kembali ke ruang perawatan, Erza berhenti, lalu menoleh ke arah Juvia yang duduk termenung di bar. Bibir mungilnya menggumamkan kata-kata yang tidak Erza mengerti.
"Teman senasib Juvia... Teman senasib Juvia..."
"Juvia. Kau tahu soal dark guild di Oak?" tanya Erza, mengagetkan Juvia. Juvia berpikir sejenak, lalu mengangguk.
"Ada dua dark guild di sana. Salah satunya adalah Phantom Lord."
"Phantom Lord sudah hancur. Berarti tinggal guild yang satu lagi. Apa nama guild itu?"
"Ghost Wings. Letaknya berada di pedalaman hutan Oak." Juvia menunduk. "Juvia pernah ke sana sebelum Phantom Lord dihancurkan."
"Kau bisa tunjukkan lokasinya pada kami?"
Juvia mengangguk lagi. Erza tersenyum puas.
"Setelah Carinza pulih, kita akan pergi kesana." Erza menepuk tangannya pelan. "Sebaiknya kau bersiap-siap, Juvia." Ujarnya lalu masuk ke ruang perawatan guild. Sedangkan Juvia hanya merenung sementara Gray memperhatikannya. Belum pernah dia melihat Juvia sesedih ini sejak kedatangannya di guild. Seharusnya Juvia menguntitnya seperti biasa, kan?
Bukannya Gray berharap akan dikuntit, tapi Juvia yang terlihat murung dan sedih terlihat aneh dan menyeramkan. Gray berpikir Juvia pasti salah makan obat. Gray lalu mendekati Juvia dan menegurnya perlahan.
"Juvia?"
.
.
Malam hari, kamar Torayou...
"Nee, Tora!"
"Ano, Tora!"
"Tora!"
Suara Carinza terus membayangi Torayou. Membuat pemuda itu tidak bisa tidur karena memikirkan gadis crystal mage sekaligus pengguna requip magic itu. Bagaimana bisa tidur, kalau dia khawatir akan keadaan gadis yang selalu ada di dekatnya itu? Lebih dari khawatir. Dia takut kalau terjadi apa-apa pada Carinza.
Torayou lalu bangun dari tempat tidurnya lalu berjalan pelan ke arah jendelanya yang terbuka. Lalu menatap Fairytail guild yang ada di kejauhan. Dia berdoa agar Carinza akan baik-baik saja. Torayou menatap bintang yang berkelap-kelip, berharap doanya akan dikabulkan.
.
.
Keesokan paginya, di Guild...
"Tora!" gumam Carinza pelan, saat Torayou menjenguknya. "Jangan banyak bergerak, tubuhmu belum pulih." Cegah Torayou saat Carinza hendak bangun. Carinza pun menyandarkan tubuh sambil menahan sakit.
"Tuh, aku kan sudah bilang…" Torayou menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Carinza yang memaksakan senyumnya. "Sudah makan?"
"Belum…"
Torayou lalu keluar dari ruangan guild. Tak lama kemudian, dia kembali membawa nampan berisi semangkuk sup dan segelas susu coklat. Dia lalu meletakkan nampan itu di atas meja lalu duduk di samping Carinza sambil memegang mangkuk tadi. Dia menghela nafas sambil menyuapkan sesendok sup sambil menggerutu.
"Lain kali, jangan terlalu memaksakan diri… Kalo kau sakit, siapa yang susah?"
Carinza menelan makanannya sambil menahan tawanya. "Sepertinya aku pernah mendengar kalimat itu."
"Hahahaha…"
Lalu Torayou terus menyuapi Carinza sampai makanan itu habis. Lalu Carinza meminum susunya perlahan. "Enak." Gumam Carinza.
"Tentu saja. Masakan Mirajane memang enak."
"Hahaha. Tidak mungkin kau yang memasak makanan seenak ini. Kau kan tidak berbakat memasak, Tora!" ejek Carinza.
"Biarpun kau sakit, kau masih bisa bercanda ya…" balas Torayou sambil mencubit pipi Carinza perlahan.
"Istirahat saja. Nanti Wendy akan mengobatimu lagi." kata Torayou. Lalu dia keluar sambil membawa nampan berisi mangkuk dan gelas yang sudah kosong. Meninggalkan Carinza sendirian.
"Tora… Ternyata dia peduli…" gumamnya sambil bersemu merah.
Tak lama pintu terbuka dan Wendy masuk sambil memasang wajah khawatir.
"Platina-san?"
"Panggil Carinza saja. Toh, identitasku sudah terbongkar." Carinza tersenyum. Wendy lalu duduk di tempat yang tadi diduduki Torayou. Lalu menutup matanya perlahan.
"Mungkin ini akan sedikit sakit, Carinza-san…" kata Wendy lalu mengobati Carinza dengan kekuatan sihirnya.
.
.
Seminggu kemudian…
Carinza masih belum pulih dari cederanya, walaupun dibantu oleh pengobatan Wendy dan Porlusyca. Walaupun tulangnya yang patah dan luka sobeknya sudah membaik, namun Carinza belum boleh untuk menjalankan misi untuk seminggu ke depan. Hal ini membuat Torayou menjadi heran dan akhirnya bertanya pada Erza.
"Ada apa dengannya, kenapa lukanya parah sekali?" Tanya Torayou. Erza yang sedang menyantap Strawberry Chesecake-nya menoleh ke arah Torayou.
"Sepertinya aku belum memberitahumu, Torayou…" Erza menatap Torayou serius. "Karena Carinza belum pulih dari lukanya, besok aku, Natsu, Lucy, Happy, Gray dan Juvia akan ke Oak, untuk menyelesaikan misi yang belum diselesaikannya."
"Misi? Misi apa?"
Erza berpikir sejenak. Apakah dia akan menyembunyikannya dari Torayou?
"Misi untuk menghancurkan dark guild yang telah membantai keluargamu!"
"A..apa?!" Tanya Torayou tidak percaya. "Dark guild? Jadi mereka yang membuat gadisku menjadi seperti ini?" serunya marah sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Izinkan aku untuk ikut, Erza! Aku ingin membalaskan dendam Cara!"
"Dan juga dendam keluargaku!"
TBC
Haduh, Maaf, Amel belum bisa nyelesaikan ceritanya, dan maaf kalo lama ya… Windows di laptop Amel agak bermasalah, dan butuh diinstal ulang, eh, pas diinstal ulang, aplikasi pengolah katanya malah bermasalah juga… T,T Tapi sekarang udah bisa diatasi kok.
Kok malah curhat ya?
Maafkan Amel gak bisa nepatin janji, kaya'nya pernikahannya ditunda deh… #dibekuin Carinza
Yosh! Mind to review?
