I Want U (Back)
.
.
.
Chapter 9
.
.
.
Author : chochopanda99
Disclaimer : Saya hanya meminjam cerita murni 100% milik Saya.
Cast :
Nakamoto Yuta
Lee Taeyong
Jung Jaehyun
Kid!Winwin
And Other
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family.
Length : Multichap
Rated : M
Warning : AU, Yaoi, Mpreg, Typo(s), Cerita Pasaran.
Summary : "Lee Taeyong yang menyesal sudah melepas Nakamoto Yuta, namun saat ia memintanya kembali ternyata Yuta sudah melupakannya dan ia merupakan tunangan sekaligus 'calon istri' adik sepupunya sendiri, Jung Jaehyun. Apa yang akan dilakukan Taeyong selanjutnya?" Seme!Jaehyun. Uke!Yuta. Seme!Taeyong. JaeYu. TaeYu. Mpreg. DLDR.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
"J-Jae." Yuta mencicit memanggil Jaehyun yang berjalan menghampirinya. Jaehyun terlihat bingung melihat Yuta yang menatapnya dengan mata yang berair.
"Ada apa hyung? Kenapa kau menangis?" Jaehyun terlihat panik melihat Yuta yang seperti ini. Jaehyun berniat untuk memeluk Yuta, tapi Yuta malah memundurkan tubuhnya untuk menjauhi Jaehyun.
"Hyung." Jaehyun semakin bingung saat Yuta malah menundukkan wajahnya seraya mengulurkan sesuatu yang dia pegang. Jaehyun mengambil foto yang Yuta ulurkan. Matanya membulat saat melihat foto yang ada dalam tangannya.
"H-hyung, aku bisa jelaskan."
"Tidak perlu Jae. Aku tahu mungkin kau sudah bosan denganku. Aku bisa terima semuanya dengan lapang dada jika kau menceritakan semuanya pada ku. Tapi, tidak seperti ini juga Jae." Yuta menatap Jaehyun dengan matanya yang memerah. Jaehyun berusaha untuk menggenggam tangan Yuta namun langsung Yuta tepis.
"Ini semua tidak seperti yang kau fikirkan hyung." Jaehyun menghela nafasnya berat seraya membuang foto yang ada ditangannya.
"Aku akui, foto ini memang fotoku. Tapi, aku tak sengaja melakukannya. Waktu itu aku mabuk hyung." Jaehyun akhirnya memegang bahu Yuta. Yuta mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia tak kuat jika menatap wajah Jaehyun.
"Hyung percaya padaku kan? Aku mencintaimu hyung. Aku tak akan melakukannya dengan sengaja. Jika aku tau semua ini akan terjadi, aku tak akan minum waktu itu." Jaehyun menyentuh dagu Yuta dan memaksa lelaki cantik itu untuk menatapnya.
"Kapan? Kapan kau melakukannya Jae?" Yuta bertanya dengan suara serak yang begitu kentara. Matanya tak berhenti untuk mengeluarkan air matanya. Entahlah, ia merasa kenapa hidupnya begitu berat akhir-akhir ini. Apa ini efek kedatangan Taeyong yang kembali dalam kehidupannya? Apa efek pernikahan yang akan dijalaninya tak mendapat restu orangtua Jaehyun? Memikirkan itu, kepala Yuta kembali merasakan sakit yang luar biasa.
Grepp
"Hyung!" Tubuh Yuta tertangkap sempurna oleh Jaehyun. Jaehyun memeluk erat tubuh Yuta sebelum membaringkan tubuh lelaki yang dicintainya itu kembali ke ranjang.
Yuta sendiri, lebih memilih untuk memejamkan matanya. Kepalanya terasa begitu sakit jika ia membuka matanya atau bahkan menggerakkan kepalanya.
"Apa hyung sudah minum obat?" Jaehyun bertanya dengan nada cemas yang begitu kentara. Matanya melirik nakas disamping ranjang dan tak menemukan obat Yuta disana. Tangannya membuka laci meja kecil itu dan meraih obat Yuta.
"Tunggu sebentar hyung. Aku akan mengambilkan minum dulu." Jaehyun dengan tergesa keluar kamar Yuta untuk mengambil air minum. Yuta membuka matanya dan air matanya mengalir begitu saja karena merasakan sakit di kepala juga hatinya.
Jaehyun kembali ke kamar Yuta dengan terburu-buru. Jaehyun pun mendudukkan dirinya di dekat tubuh Yuta dan membantu Yuta untuk duduk. Ia mengambil obat Yuta dan membantu meminumkannya, Jaehyun kemudian menidurkan kembali tubuh Yuta.
"Aku mohon hyung, istirahatlah dulu. Jangan fikirkan apa pun hyung." Jaehyun mengusap pipi Yuta yang basah.
Yuta memiringkan tubuhnya guna menghindari sentuhan Jaehyun juga tatapan sendu Jaehyun. Yuta meremas selimut yang ia gunakan dengan kencang, mencoba menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan.
"Percaya pada ku hyung, ini semua tidak seperti yang kau fikirkan. Aku tak sengaja melakukannya, bahkan aku tak ingat apakah aku benar-benar melalukannya atau tidak. Aku tahu, kau mungkin kecewa padaku, aku sudah merahasiakan tentang Taeyong hyung padamu. Dan dengan adanya foto-foto ini, pasti rasa kecewamu bertambah besar padaku." Jaehyun menghela nafasnya sebentar sebelum melanjutkan.
"Aku benar-benar mencintaimu hyung. Aku tak mungkin melakukan hal ini dengan sengaja. Aku sadar, mungkin kau belum bisa sepenuhnya melupakan Taeyong hyung dan juga rasa bersalah karena sudah melupakannya datang padamu hyung. Tapi harusnya kau tahu hyung, aku lah yang merasa sangat bersalah disini. Aku sudah membuatmu melupakan Taeyong hyung, menjauhkan Winwin dari ayah kandungnya, juga aku sudah mengkhianati Taeyong hyung. Aku merasa sangat bersalah hyung." Jaehyun meneteskan air matanya yang entah sejak kapan menggenang di kedua matanya.
Yuta yang belum tidur pun ikut menangis dalam diam. Ia meremas selimutnya lebih kuat guna menekan perasaan dalam hatinya yang begitu terasa sakit ditambah suara tangisan Jaehyun yang begitu menyesakkan hatinya.
.
.
Doyoung menatap lelaki dihadapannya dengan pandangan datar. Doyoung tak habis fikir, bagaimana lelaki di hadapannya itu bisa tiba-tiba berada dalam apartemennya dan dengan santainya duduk di meja makannya sambil meminum sebotol minuman kaleng -yang bisa Doyoung pastikan- miliknya.
"Aku Taeyong." Suara lelaki dengan wajah seperti anime itu terdengar. Membuat Doyoung tanpa sadar menghela nafasnya lega. Doyoung takut saja, jika lelaki dihadapannya itu tak bisa bicara.
Doyoung menarik kursi lain yang berada tepat di seberang lelaki bernama Taeyong itu sebelum mendudukkan dirinya.
"Aku Doyoung. Kim Doyoung." Doyoung membalas dengan tatapan curiga yang begitu kentara. Lelaki bernama Taeyong itu membalasnya dengan kekehan pelan sebelum balas menatap dengan tatapan tajam andalannya.
Doyoung menelan ludahnya gugup ketika mendapat tatapan tajam mematikan dari Taeyong. Doyoung tak ingat ia punya salah atau masalah apa pun dengan orang yang -bahkan- baru ia temui itu.
"Aku rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya." Doyoung memainkan jari-jarinya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Taeyong tersenyum tipis seraya menenggak minumannya.
"Kau benar. Tapi, pasti kau sering bertemu dengan Jung Yunho." Taeyong menyeringai ketika mendapati wajah Doyoung yang menatapnya terkejut.
"Kau tak perlu terkejut begitu, Doyoung-ssi. Aku tahu semua tentang rencanamu dan Jung Yunho itu." Taeyong berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Doyoung.
"Aku sudah meminta pada orangtua itu untuk menghentikan semuanya." Bisiknya pada Doyoung yang reflek membuat Doyoung menoleh padanya.
"K-kau bercanda!? A-aku sudah bekerja keras hingga sebegininya dan kau bilang rencana itu dihentikan!?" Doyoung berdiri dari duduknya dan menatap sengit Taeyong.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi, aku lebih peduli pada Yuta. Dia sudah bahagia bersama Jaehyun, jadi untuk apa kita mengganggunya lagi." Taeyong berujar santai, membuat emosi Doyoung entah kenapa semakin membesar.
"Dengar Lee Taeyong yang terhormat. Kita memang tak pernah bertemu sebelumnya. Tapi, aku cukup sering mendengar Cerita tentangmu. Dan kau bilang apa tadi? 'Yuta sudah bahagia bersama Jaehyun, jadi untuk apa kita mengganggunya lagi' dimana otakmu saat kau memutuskan untuk meninggalkan New York dan kembali kesini hanya untuk membatalkan pernikahan mereka berdua. Kemana fikiranmu itu hah!?" Doyoung mengatur nafasnya agar tak terpancing untuk memukul lelaki dihadapannya.
"Dengar Lee Taeyong, jika kau berfikiran seperti ini sejak awal, mungkin Tuan Jung tidak akan menyuruh ku juga kakakku untuk melakukan hal yang tidak perlu. Ditambah, aku sudah merendahkan harga diriku sendiri, kau tak berfikir tentang perasaan orang lain kah? Aku akui, keluarga ku memang sangat tergantung dengan Tuan Jung, dan kalau bukan karena keluarga ku aku tak akan melakukan hal seperti ini. Jadi, Taeyong-ssi aku mohon, hargailah kerja keras kami. Perjuangkan Yuta-ssi juga anakmu. Aku tak peduli dengan yang lain, yang pasti, aku hanya menjalankan perintah dari Tuan Jung."
Taeyong mengepalkan tangannya mendengar kata-kata Doyoung. Doyoung sendiri, kini ia menatap Taeyong dengan kedua matanya yang sudah berair.
"Setidaknya, bicaralah dulu dengan Yuta-ssi. Aku rasa, dia akan mengerti jika kau menjelaskan semuanya, Taeyong-ssi." Doyoung menepuk pelan pundak Taeyong yang membuat sang empunya menoleh dan menatap kearahnya.
"Aku sudah memberikan foto itu pada Yuta-ssi. Jadi kemungkinan, mereka berdua sedang dalam masa renggang sekarang. Kau bisa memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin Taeyong-ssi, buatlah Yuta-ssi kembali padamu dan berjanjilah untuk membahagiakan dia dan anak kalian. Itulah yang Tuan Jung inginkan dari rencana ini, ia ingin jika anaknya bisa hidup bahagia bersama keluarga kecilnya."
Doyoung tersenyum tipis seraya mengusap pipinya yang basah karena air matanya.
"Dan ubahlah sifatmu Taeyong-ssi. Kau tak perlu menjadi arogan untuk mendapatkan sesuatu. Kembalilah menjadi Lee Taeyong yang Yuta kenal. Aku yakin jika dalam hati Yuta-ssi pasti masih ada perasaan cintanya untukmu. Jadi, bukan tak mungkin jika kau berhasil meyakinkannya, ia pasti akan kembali padamu." Doyoung kembali menepuk pundak Taeyong sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Taeyong menuju kamarnya.
Taeyong terdiam, matanya menatap kosong ke lantai yang dipijaknya. Otaknya terus memikirkan, haruskah dia bertahan? Atau menyerah saja?
.
.
Yuta mengerjapkan matanya beberapa kali ketika sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamarnya mengenai matanya. Yuta ingin bangun namun sebuah tangan menghalangi tubuhnya. Yuta sangat tahu jika lengan itu adalah milik Jaehyun. Yuta tahu, jika semalaman, Jaehyun tidur sambil memeluknya begitu erat seolah enggan untuk melepaskannya barang satu detik.
Yuta dengan sangat pelan, memindahkan tangan Jaehyun. Setelah berhasil, Yuta bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi dengan langkah yang sedikit sempoyongan. Yuta memasuki kamar mandinya dan menuju wastafel. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajah yang pucat, mata yang sembab, bibir yang tak kalah pucat, juga pipi yang sedikit menirus. Padahal, dia baru sakit beberapa hari, tapi kenapa wajahnya sebegitu menyedihkan begini? Yuta menghela nafasnya sebelum mencuci wajahnya.
Brakk
Yuta berjengit ketika pintu kamar mandi terbuka dengan kasar dan menemukan Jaehyun yang berdiri didepan pintu dengan penampilan yang acak-acakan.
"Astaga Jaehyun! Kau ini apa-apaan!?" Yuta menggeleng pelan seraya berjalan mendekati Jaehyun.
Jaehyun dengan cepat meraih Yuta ke dalam rengkuhannya dan memeluknya begitu erat.
"Aku takut hyung. Aku takut kau meninggalkanku. Aku tak mau jika kau meninggalkanku hyung. Aku tak apa jika kau membenciku, tapi yang aku minta hyung, jangan pernah meninggalkanku. Aku terlalu mencintaimu hyung. Aku ingin kau disampingku sampai ajal menjemputku hyung." Jaehyun berucap dengan nada lirih yang membuat Yuta terdiam dalam pelukannya. Yuta balas memeluk pria yang memeluknya itu seraya mengusap punggung Jaehyun mencoba menenangkan Jaehyun.
"Aku disini, Jaehyun." Yuta berbisik yang membuat Jaehyun semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau pernah berjanji untuk tidak meninggalkan ku hyung, tepatilah janji itu." Jaehyun merenggangkan pelukan mereka dan menangkup wajah Yuta.
"Dengar hyung, aku terlalu mencintaimu, jadi aku tak mungkin mengkhianatimu hyung." Jaehyun mengusap pipi Yuta dengan ibu jarinya.
"Ta-tapi Doyoung," Yuta meremat kemeja depan yang dipakai Jaehyun seraya mengalihkan pandangannya dari mata Jaehyun.
"Kau mengenal Doyoung?" Jaehyun mengernyit heran mendapati Yuta yang ternyata juga mengenal Doyoung.
"Kemarin dia datang kemari. Dia bilang, dia teman sekolahmu dulu, dan dia juga yang memberikan map yang berisi foto kalian berdua." Yuta menggigit bibir bawahnya seraya menundukkan kepalanya.
Jaehyun terdiam, dalam diamnya ia menghela nafas pelan seraya mengepalkan tangannya emosi.
"Jadi, dia memang suruhan seseorang? Aku harus bicara padanya. Harus." Ujar Jaehyun dalam hati sebelum kembali menatap Yuta.
Jaehyun menaikan dagu Yuta dan membuat mata keduanya bertemu. Jaehyun mengecup bibir pucat Yuta. Hanya kecupan singkat yang berhasil membuat pipi Yuta memerah samar.
"Terima kasih sudah percaya padaku. Tapi, aku harus menemui Doyoung secepatnya hyung."
"Untuk apa Jaehyun-ah?"
"Aku harus mencari tahu hyung, dia itu suruhan siapa. Appa atau Taeyong hyung."
"Tapi,"
"Kau tak perlu khawatir hyung. Aku tak akan melakukan apapun pada Doyoung. Aku hanya akan bertanya padanya."
"Baiklah."
"Ya hyung. Hmm oh iya, kau mau mandi kan?"
"Iya, kenapa?"
"Mau mandi bersama?"
"Dalam mimpimu!"
.
.
Yuta keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe. Yuta mendudukkan dirinya didepan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Yuta sedikit tersentak saat ponsel pintarnya bergetar diatas meja yang tak jauh darinya. Yuta pun meraih ponsel pintarnya dan terkejut mendapati nama yang memanggilnya.
'Lee Taeyong'
"Siapa hyung?" Jaehyun yang baru keluar dari kamar mandi pun menatap bingung pada Yuta yang terlihat bimbang sambil menatap ponselnya.
"Taeyong menelfonku." Yuta bercicit seraya melirik Jaehyun yang sibuk memilih pakaiannya.
"Angkat saja hyung."
"Ta-tapi,"
"Siapa tau dia ingin bicara yang penting hyung, mungkin juga dia ingin minta maaf. Jadi, angkat saja."
Yuta menghela nafasnya pelan sebelum benar-benar memberanikan dirinya untuk mengangkat telfon dari Taeyong.
"Ha-halo."
.
.
.
TBC
.
.
.
Note :
Chap depan END horeee XD
Big Thanks To :
2113, Kim991, Park RinHyun-Uchiha, guest, BlueBerry Jung, Nadifarhhs, kiyo, lix, Min Milly, Pikapooh, and tik. tokk. 7.
See you next chap? *wink
