KILL THE HEART – Chapter 10
Anime/Manga: Naruto
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: KakaAnko. Kakashi x Anko.
Genre: Drama. Romance. Hurt/Comfort.
Rate: M (Mature/Dewasa)
Warning: OOC. Typos. Agak panjang.
A/N:
Akhirnya! Update juga! Mohon maaf sebesarnya atas ke(sangat)terlambatan ini. Huhuhu. T_T
#isak tangis berderai-derai
Ok, saya bersalah karena telah menelantarkan fic ini dengan begitu lama. Maaf banget yaaak!
Just read and review.
Jika ada kekurangan mohon dimaafkan.
.
.
.
.
.
Tidak seperti biasanya, pagi kali ini Anko merasa ada yang berbeda.
Gadis itu membuka matanya yang berat dengan perlahan, bersiap menyambut pemandangan apapun yang akan diterima. Baiklah, insting seorang ninjanya sudah memperingati sedari tadi: ia sedang berada ditempat asing, tidak dikamarnya sendiri.
Akan tetapi peringatan semacam itu tetap tidak bisa membatasinya dari perasaan terkejut saat gadis mendapati sesosok manusia lain berada tidak jauh dari tubuhnya sedang terbaring. Sosok lelaki dengan bentuk tubuh sempurna dan surai perak yang berantakan.
Itu –itu Kakashi!
Anko Mitarashi refleks bangkit dari posisi tidurnya. Bola matanya melebar, beradaptasi dengan perasaan tegang yang tiba-tiba saja muncul; sementara kedua telapak tangannya dengan cepat menutupi mulut, mencegahnya untuk memekik atau menjerit histeris.
Kenapa ia bersama Kakashi, bahkan di atas tempat tidur yang sama?
Oh! Terlebih lagi, ruangan di mana dirinya sedang berada saat ini adalah kamar di kediaman pria itu!
Catat, meskipun manusia yang bernama Kakashi Hatake adalah sosok pria penuh kesempurnaan baginya, shinobi elit yang ia idamkan bahkan sampai akhir hayatnya, namun Anko tetap saja menolak fakta bahwa ia bisa dengan mudahnya berada satu tempat tidur dengan pria itu pada suatu pagi.
Sebuah kekacauan pagi –mungkin itulah namanya.
Semuanya pun masih terus berlanjut bagaikan sudah memiliki alur tertentu yang terencana sebelumnya; Anko juga mendapati dirinya sama sekali tak berpakaian, tidak mengenakan busana barang sehelai benang pun. Dan itu buruk, buruk sekali.
Oh, Anko malu sekali rasanya –lebih dari sekedar malu, ia ingin mati sekarang- mengetahui dua orang manusia dewasa dalam keadaan polos sedang berada pada ranjang yang sama. Apa yang mereka lakukan semalam? Apa yang telah mereka lakukan semalam?
Apa ia dan Kakashi –oh, tolong jangan bilang jika ia dan Kakashi melakukan hal itu. Jangan!
Otak Anko pun berada dalam masa labil, ia bingung apakah harus menampilkan wajah merona atau memucat. Pada kenyataannya, aura pucat pasi-lah yang menang. Anko yang merasa sangat horror tampak sedang ber-flashback mengenai tindakan mereka malam tadi. Sebuah malam yang, ehem, bisa dikatakan cukup panas.
Anko ingat sekarang, sekitar sejak sepuluh jam yang lalu mereka berdua melakukan adegan dewasa tanpa sensor. Sama persis dengan tema dari novel mesum Icha Icha yang sempat ia lirik isinya beberapa saat yang lalu. Dengan kata lain, mereka bercinta.
Sial, siiaaaall!
Meskipun ini juga merupakan salah satu impian terindahnya, tapi Anko tidak berharap semuanya terjadi secepat ini!?
Mereka bahkan tidak mengeluarkan pernyataan cinta. Mereka saling mendekat dan kemudian terhanyut satu sama lain, memasrahkan segalanya pada gairah yang tiba-tiba saja mengumpul memaksa untuk segera dipuaskan.
Menyadari segalanya, kini dengan wajah memerah dan rasa gugup yang menjalar Anko merasakan seluruh tubuhnya tiba-tiba lemas. Gadis itu menunduk, memperhatikan sekaligus merasakan beberapa sensasi aneh akibat cumbuan Kakashi di tubuhnya. Payudaranya sedikit sakit, begitupun dengan bagian kewanitaannya. Jangan lupakan dengan perasaan lengket yang kemungkinan merupakan hasil klimaks penyatuan mereka semalam.
Anko lantas berkeinginan untuk menutupi tubuhnya sebelum terlambat. Karena jika diperhatikan Kakashi masih tampak tidur dengan pulas. Yah, dia tidak tahu kapan Kakashi akan bangun, meskipun sempat terlintas kecurigaan Anko bahwa shinobi itu bukanlah tipe morning person yang rajin bangun di pagi hari.
Makin lama pria itu tertidur justru makin bagus, kan? Aku bisa cepat-cepat pergi dari sini!
Tangan gadis itu menarik dengan pelan sebuah selimut yang tidak jauh dari tempatnya berada. Jemarinya meremas ujung selimut, membawanya mendekat ke arahnya sendiri.
Anko sesungguhnya tidak tahu jika separuh bagian dari kain tebal itu tertindih oleh Kakashi yang masih tidur. Ia mengerahkan tenaganya, berharap setelah mendapatkan sang selimut, bisa dipergunakan untuk menutupi tubuh telanjangnya yang memalukan ini. Setidaknya untuk berjaga-jaga selagi ia mencari pakaiannya yang tersebar di beberapa tempat.
Akibat perbuatan gadis itu Kakashi Hatake kemudian merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah tubuhnya, sementara sang gadis tidak menyadarinya.
"Hng?"
Pria itu menautkan alis dan terpaksa bangun setelah merasa terganggu oleh pergerakan asing aneh yang barusan ia rasakan. Kakashi beringsut dengan malas, dan tak lama kemudian bertemulah pandangan keduanya.
.
.
.
.
.
Bagaimana iniiiiii?!
Anko meremas tangannya sendiri dengan gelisah. Menggenggam dan mencengkeramnya dengan tidak berperasaan, merasakan beratnya siksaan akibat perang batin yang berkecamuk dalam pikirannya.
Sebenarnya Anko tahu yang ia inginkan sekarang. Ia ingin, ingin sekali berbicara pada Kakashi. Apapun, topik apapun itu –asalkan tidak terjebak dalam keheningan ini lebih lama lagi.
Namun seberapa hebat pun batinnya memerintah, gadis itu tetap tak bergeming. Alih-alih, ia hanya memberanikan diri untuk melirik sekilas dari balik bahunya ke arah Kakashi. Mengintip dengan hati-hati –menggunakan iris cokelatnya.
Ya, sejak beberapa menit yang lalu, setelah pandangan mereka bertemu, Kakashi dan Anko memutuskan untuk saling memunggungi pada bagian tepi kasur yang berbeda. Mereka sama-sama bergerak cepat, saling menjauh secara refleks, saling membelakangi dan duduk dalam kekakuan juga kebisuan. Mereka tak ubahnya dua benda mati pajangan yang terdiam dalam pose duduk serta raut serius penuh pemikiran.
Lirikan mata Anko kemudian bersambut pada punggung telanjang pria itu, tertancap disana sementara waktu. Dari yang Anko perhatikan, bahu dan punggung Kakashi tampak begitu lebar, diikuti pula dengan pahatan otot khas lelaki yang tampak kokoh. Kepalanya sedikit tertunduk, mungkin refleksi dari otaknya yang sedang berfikir keras.
Anko jadi bertanya-tanya apakah Kakashi sama gelisahnya dengan dirinya?
Di sisi lain, rambut perak Kakashi terlihat tidak rapi dalam tatanan tidak tentu arah –tidak seperti biasanya yang mencuat hanya ke salah satu sisi. Melihat itu Anko pun semakin takut akan satu hal: mungkinkah semalam ia yang mengacaukan surai perak itu? Seberapa jauh ia meremasnya, atau bahkan menyentuh bagian tubuh Kakashi yang lain?
Baiklah, mungkin segalanya tercatat dengan lengkap dan detil dalam laci-laci berkas memori otak Anko, hanya saja ia terlalu malu untuk me-reka ulang segalanya. Membayangkan kembali adegan percintaannya dengan Kakashi saat ini Cuma akan memperburuk situasi. Anko yang canggung pun terpaksa memejamkan mata, dan berusaha semakin keras menetralkan perasaan salah tingkahnya.
Setelah Anko kembali berpaling, lalu giliran Kakashi yang berusaha mengintip. Pria itu memasang mata hitamnya, menoleh dengan perlahan dan penasaran, mengamati objek (yang menurutnya) asing yang baru kali ini ada di dalam kamarnya; seorang gadis bertubuh menarik dengan rambut ungu gelap tergerai.
Anko, gadis itu sedang sama polosnya dengan dirinya. Anko duduk disana, terdiam dan hanya menampilkan bagian punggung yang terdiri dari hamparan kulit putih yang tampak halus.
Tampak halus? Oh, seharusnya Kakashi ingat betapa lembutnya tubuh gadis itu, SELURUH tubuh gadis itu.
Kakashi langsung menyadari bahwa semalam ia sudah menjamah Anko terlalu jauh, ia merasai tubuh gadis itu, menciumnya, menyentuhnya, dan mengajaknya bercinta –dengan lancangnya.
Eh, akan tetapi Anko tidak menolak, bukan?
Tidak mau memikirkan kebingungannya, Kakashi hanya terus mengamati Anko yang diam, gadis yang terlihat sama canggung dengan dirinya, dan terduduk kaku disana entah dengan pikiran apa.
Namun semakin lama tatapannya tertuju kesana, maka makin terulang pula memori percintaan mereka semalam. Kakashi merasakan wajahnya mulai memanas, akibat dari rasa malu yang mulai mengucur. Ia ingat, ia ingat sekarang.
Siapa yang bisa lupa jika wanita yang sudah membuatnya tak bisa menahan diri itu sedang ada disini?
Kakashi bahkan masih ingat dengan jelas suara desahan Anko tepat di dalam telinganya, berputar dan terputar ulang bagaikan di-rewind dengan otomatis. Erangan perempuan yang sangat menggoda, yang membuatnya ingin mendengarnya lagi, bahkan saat ini, pagi ini dimana suasana canggung masih menyelimuti.
Oh, baiklah... sebaiknya aku berhenti membayangkan peristiwa semalam, ucap Kakashi menyadari kesalahannya.
Anko kemudian tampak membungkuk, menampilkan bagian pinggang serta pinggulnya yang polos. Sepertinya Anko mengambil sesuatu dari lantai –mungkin beberapa helai pakaian miliknya. Dan Kakashi yang masih tak bisa bicara sekali lagi berusaha terus mengamatinya dalam beberapa lirikan, bahkan sampai Anko mengenakan pakaian shinobinya satu persatu.
.
.
.
.
.
Baik Kakashi Hatake dan Anko Mitarashi sama-sama membuka mulut mereka. Nyaris berucap, namun tak satupun kata meluncur dari sana.
Keduanya kembali sama-sama menunduk, menatap lantai tidak jauh dari kaki-kaki mereka. Berharap, dan berusaha bisa terbebas dari mulut yang terlalu kaku untuk berbicara. Apa yang salah? Batin keduanya sama-sama memaki diri sendiri.
Jika sebelumnya mereka saling menjauh, kini masing-masing sudah berhadap-hadapan, berdiri dan berpenampilan cukup pantas dalam balutan pakaian.
Anko sudah mengenakan rok dan kaos fishnetnya, sehingga dirasa hanya perlu mengambil mantel panjangnya sebagai sentuhan akhir. Sementara Kakashi telah mengenakan celana panjang dan kaosnya yang berwarna gelap.
Namun ternyata semua itu tidak dengan mudah membuat mereka berdua bisa memulai sebuah percakapan.
Pembicaraan hanyalah angan-angan. Rasa canggung, kikuk, ragu, atau apalah –membuat mereka kembali menghadirkan situasi senyap yang tidak mengenakkan.
Tunggu apa lagi? Cepat, bicaralah!
Begitulah inner mereka lagi-lagi berkata, memerintah dengan seenaknya dalam nada tinggi.
Dan lucunya, keduanya tidak mau mendengar namun malah bergerak refleks KEMBALI duduk pada tepi ranjang yang berlawanan. Baiklah, sepertinya ini akan sulit.
Kakashi dan Anko lalu sama-sama kembali mencoba, hingga akhirnya mulut keduanya yang sulit digerakkan itu berhasil mengucapkan sepatah kata "Kakashi" dan "Anko" secara bersamaan, yang berbuntut kembali pada kesunyian yang seolah tak berujung.
Oh, bodoh. Kenapa situasi menjadi canggung seperti ini?
Aduuh, aku ingin segera pergi dari sini!
Anko lalu melayangkan pandangan matanya pada meja tak jauh dari posisi duduknya, berharap dengan mengamati tumpukan benda-benda yang ada disana bisa membuat hatinya lebih tenang.
Sementara Kakashi, berbeda dengannya, hanya bisa disuguhi oleh pemandangan dinding kamar yang kosong. Dengan warna pucat yang samasekali tidak memberi inspirasi. Oh, bagus sekali. Kakashi samasekali tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini. Otaknya kosong, tidak memiliki ide-ide cemerlang yang biasanya dengan mudah muncul dalam kepala pria itu. Ia hanya bisa berdiam diri dan berharap bisa menyapa Anko sekali lagi.
Panggil dia sekali lagi, tanyakan bagaimana keadaan atau perasaannya –apakah begitu sulit, Hatake?
Sapalah dia lebih dulu, Mitarashi. Dia pasti akan membalas sapaanmu dan semuanya akan baik-baik saja setelah itu.
Atau, mungkin kau bisa menahan dia. Karena sepertinya gadis itu gelisah dan ingin segera pergi. Lekaslah, Hatake!
Oh, andai aku boleh berharap. Aku ingin dia juga berbicara sesuatu padaku atau bahkan menahanku disini. Karena sedikitnya aku ingin kabur, ingin menghilang, sungguh!
Tapi, bagaimana jika dia mendiamkanmu, atau bahkan menepis tanganmu? Pasti ada kemungkinan akan adanya penolakan karena kau sudah berlaku kurang ajar padanya semalam, kan?
Dan perdebatan dalam benak masing-masing terus berlanjut. Meracau menghancurkan kepercayaan diri yang sedikitnya baru terbangun. Benteng kekhawatiran kemudian menjulang. Segalanya terasa mengerikan karena rasa takut terlanjur menguasai.
Oh, baiklah jujur saja... Memangnya apa yang diharapkan Kakashi dari aku, seorang wanita jalang –wanita yang ternyata sudah tidak perawan lagi?
Sial, seharusnya aku tahu.. wanita mana yang akan menaruh hormat pada seorang pria yang sudah berbuat mesum dengan tidak bisa menahan nafsunya? Anko pasti marah padaku, kan?
Pria mana yang ingin terus bersama dengan seorang gadis yang pernah ditiduri oleh laki-laki lain?
Wanita itu pasti merasa tidak nyaman jika harus terus berada didekatku. Aku bertaruh akan hal itu.
Aku wanita murahan. Ya, harusnya aku tahu...
Aku benar-benar sadar jika ternyata diriku tidak lebih dari seorang pria bejat...
Aku terlalu mudah dirayu dan dibawa seorang pria ke atas tempat tidur.
Aku mesum, dan juga samasekali tidak dewasa.
Benak mereka masing-masing terus meracau, mengutuki kebodohan diri sendiri. Hingga akhirnya mereka menyadari waktu tidak akan menunggu selamanya bagi mereka untuk tenggelam dalam kecanggungan ini.
Oh, baiklah. Ini harus segera diakhiri, Kakashi!
Dengar, Anko. Berbicara sekarang, atau tidak samasekali!
Ya, berbalik ke Anko, sekarang. Pikir Kakashi.
Berbalik ke Kakashi, sebut namanya, panggil dia. Pikir Anko.
Sementara itu selagi dua orang tersebut masih mencoba peruntungan dalam mempertaruhkan keberanian masing-masing, cahaya matahari pagi sudah terlihat masuk ke dalam kamar.
Ruangan tidur milik Kakashi tersebut sudah dipenuhi separuhnya oleh pendar terang kekuningan yang makin lama makin menghangat. Dan ketika udara perlahan mulai berubah menjadi panas, mereka lagi-lagi berbicara secara bersamaan.
"Kakashi?"
"Anko?"
Dua pasang mata telah bertemu. Manik hitam kelam dan cokelat pekat, beradu dengan sempurna.
Dua pasang mata yang sama-sama tertegun karena ucapannya dibarengi oleh ucapan yang lain.
"Apa?"
Anko berhasil bertanya untuk pertama kali, sembari berharap lelaki di dekatnya akan menjawabnya.
Sunyi. Kemudian Kakashi menyahut dalam nada sedikit gugup, "Aku... aku lupa apa yang akan kukatakan."
Tidak kalah kikuknya, Anko juga menimpali beberapa detik setelahnya dengan ungkapan sama, "Aku juga."
Mereka pun masih bertatapan, seolah masing-masing merasa tercekik hanya karena pandangan mata lawan bicara mereka itu. Ada rasa takut berkepanjangan disana. Khawatir, resah jika partnernya merasakan hal seperti yang mereka bayangkan.
Tak lama kemudian Anko mengambil inisiatif untuk berkata-kata lagi.
"A-aku rasa aku harus pulang, Kakashi..."
Dan jika Kakashi memang menyesal atas semuanya, ia siap angkat kaki dari sini –dengan senang hati.
Kakashi hanya terpaku mendengarnya. Mulutnya sedikit terbuka sambil terus menatap Anko. Sebuah perasaan bergejolak dalam hatinya, nyaris meminta untuk dimuntahkan: perasaan tidak rela karena akhirnya ketakutannya sedikit menjadi kenyataan –Anko benar-benar berniat untuk pergi.
Namun lagi-lagi seberapa hebat pun batinnya meronta, menolak permintaan gadis itu, fisik Kakashi tetap tak bergerak. Laki-laki itu kemudian hanya bisa melihat tubuh Anko terangkat dari tempat tidur. Gadis itu berdiri dan bergegas memakai mantel panjangnya.
Tu-tunggu, jangan pergi secepat itu!
Namun pada saat Anko berjalan menuju arah pintu, ternyata langkahnya cukup perlahan untuk memberi Kakashi kesempatan jika pria itu memang ingin menahannya. Setidaknya masih ada harapan untuk Kakashi, kan?
Shinobi itu bangkit secepat kilat, menyeimbangkan kegugupan dan keberaniannya, berharap bisa melancarkan rencananya.
"Apa kau yakin? Tidakkah lebih baik jika aku mengantarmu?"
Oh, sial. Bukan itu yang ingin aku katakan, Anko!
"Ya. Aku harus pulang sekarang"
Siaaal, jangan pergi, Anko. Kumohon!
"Tapi..."
"Dan tidak perlu mengantarku, Kakashi. Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih atas tawarannya."
Ah, baiklah. Sudah terlambat...
"Kau yakin?"
Sebuah anggukan kepala dari Anko menjawabnya."Sampai nanti."
Anko menampilkan sebuah senyum tipis sebagai salam perpisahan, saat keduanya sudah berada di dekat pintu depan.
Tinggal melangkah melewati daun pintu yang setengah terbuka itu, maka Anko sudah keluar dari wilayah kekuasaan Kakashi. Pergi dari sana, meninggalkan Kakashi seorang diri. Dan Anko bisa terlepas dari beban kekhawatiran yang sedari tadi menyiksa, terbebas dari rasa gugup yang nyaris membunuhnya.
Kebebasan, aku datang!
Tetapi satu langkah baru diambil gadis itu, Kakashi tiba-tiba memegang erat sebelah tangannya, menghentikannya.
"Eh?"
Sebuah slow motion seolah-olah sedang terjadi. Anko yang heran tiba-tiba melihat wajah tanpa topeng Kakashi mendekat pada wajahnya. Dan tindakan itu samasekali tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk melontarkan pertanyaan 'apa', atau 'ada apa', karena setelahnya yang terjadi adalah –Kakashi menciumnya.
Ciuman lembut yang pelan, hangat dan begitu membekas di dalam hati.
"Sampai ketemu di akademi..." bisik Kakashi setelah ciuman singkat antar bibir mereka usai. Seulas senyum menghiasi wajah lelaki itu, menambah ketampanannya, membuat Anko yang telah membuka mata seketika merasakan rona merah muda hangat merayap pelan tetapi pasti pada wajahnya sendiri.
"Ya. Sampai ketemu..."
Dan itu adalah perpisahan terindah yang pernah mereka rasakan. Perpisahan yang menciptakan harapan-harapan akan adanya pertemuan lain lagi yang bisa membawa cerita manis dalam hubungan mereka berdua. Anko dan Kakashi pun –mulai meyakini adanya kebenaran dari indahnya rasa jatuh cinta.
.
.
.
.
.
"Hey, kamu!"
Anko nyaris terlonjak dan memuntahkan dangonya saat mendapati sebuah tepukan keras pada salah satu bahu. Secepat kilat gadis itu menoleh dan mendapati wanita bermata merah sedang menatapnya –memakannya hidup-hidup lewat manik vermillion cantik tersebut.
"Kurenai?!" pekiknya nyaring. Tidak kalah histeris dari pekikan marah seorang ibu yang mendapati anaknya ketahuan nakal dan membuat ulah.
"Bisa tidak, jangan mengagetkan seperti itu?!"
Kurenai mengangkat alis mendapati Anko berbicara dalam nada marah seperti tadi. Namun diam-diam, ia juga sedikit geli.
Ya, Kurenai paham bahwa sahabatnya marah karena telah dikagetkan dan juga diganggu pada sebuah momen yang sakral –saat-saat berharga dimana ia tengah menikmati anugerah Kami-sama dengan memakan beberapa tusuk cemilan terlezat di dunia: dango.
Namun alih-alih mempedulikan Anko dalam kekhusyukannya makan, ia malah mengajak Anko pergi. "Ayo, ke kedai ramen" tukasnya.s
"Eeeh? Kau –kau tidak lihat aku sedang bersama malaikat-malaikat kecil ini?" sahut Anko sambil mengacungkan setusuk dango ditangannya.
Kurenai merespon dengan sebuah ekspresi meremehkan. Anko memang selalu berlebihan jika menyangkut dango. Pada masa yang lain, Anko bahkan pernah berkata ia sedang kencan dan tak ingin diganggu. Kurenai pikir gadis itu sedang bersama Yamato atau siapa, tapi ternyata malah sedang berduaan dengan sepiring dango!
"Lupakan dango. Aku lapar dan sedang ingin makanan yang lebih berbobot. Ayo pergi, aku yang traktir!"
Kurenai menarik tangan Anko, memaksanya meninggalkan kedai dango langganan kunoichi satu itu.
"Tu-tunggu sebentar! Memangnya kita mau kemana?!" pekik Anko histeris. Anko tidak terima, meskipun ia senang dengan sogokan 'makanan gratis dari Kurenai', ia tetap tak bisa mengerti –sampai kapanpun- mengapa sahabatnya itu dikategorikan sebagai wanita yang suka memaksa.
Ah, mungkinkah selama ini Asuma sama menderitanya dengan dirinya?
Disela kebingungannya Anko masih dengan sigap mengambil satu tusuk dango yang tersisa dan melahapnya sepelan mungkin. Selebihnya, ia terpaksa membiarkan dirinya setengah terseret oleh sang Yuuhi.
"Ke kedai ramen, Anko. Kita akan makan ramen..."
Pemilik kedai dango hanya melongo melihat mereka, membiarkan Anko pergi dari sana dalam keadaan terseret-seret. Diluar dugaan, gadis itu balas menyengir lebar dan berdadah-dadah ria pada ibu paruh baya tersebut, yang mana hanya disambut sebuah senyuman canggung. Kurenai menggelengkan kepala melihatnya, seolah lupa bahwa ia sama konyolnya sedang menarik paksa tubuh Kunoichi penggila dango yang masih tampak kelaparan.
Setelah memakan waktu beberapa menit, Anko dan Kurenai telah sampai di kedai ramen. Keramaian suara manusia dan juga kepulan asap-asap tipis beraroma nikmat menyambut hidung keduanya. Mereka lalu memilih sebuah meja yang terdiri dari dua bangku panjang pada sisi yang berhadapan dan duduk disana.
Anko memperhatikan sahabatnya dihadapannya yang tampak santai.
"Aku sambil menunggu Asuma, tidak apa-apa kan?"
"Ya, terserah kau saja".
Anko berusaha cuek dan menghabiskan dango terakhirnya lambat-lambat. Mau mengajak Asuma atau siapapun, ia tidak peduli. Oh, terkecuali jika mengajak Kakashi. Itu cukup mengganggu, karena Anko sedang tidak punya pertahanan diri yang baik jika saat ini bertemu shinobi itu. Dia terlalu gugup.
Lima detik kemudian mereka telah resmi menjadi pelanggan kedai Ichiraku dengan memesan dua mangkuk ramen panas masing-masing dalam porsi sedang. Keduanya pun menunggu dengan sabar.
"Oh, ngomong-ngomong Anko, semalam kau kemana?" ucap Kurenai sambil menopang dagunya lewat sebuah telapak tangan. Tatapan mata merah itu mengarah lurus pada manik cokelat Anko, membuat gadis itu seketika tidak berkutik.
Sebuah aksi tersedak dengan cepat menghiasi kebersamaan mereka, Anko langsung merasa tenggorokannya sangat tidak sehat. Kurenai yang melihat itu bergegas memberinya segelas air putih yang sedari tadi sudah ada diatas meja, menyuruh gadis Mitarashi itu untuk meminum sampai habis.
Anko bernafas lega, setelah itu ia meletakkan sisa dangonya dan lantas menatap Kurenai dengan gugup. Keresahan Anko bersambut dengan pandangan curiga. Kristal merah terang Kurenai lagi-lagi tampak kejam saat ini. Terlalu menusuk dan menggoyahkan pertahanan diri Anko.
Bola mata cokelatnya pun tidak mampu berkilat tajam selama beberapa saat, kalah telak saat uji tanding 'kontes menatap' dengan sahabatnya sendiri.
"Nee... aku tidak kemana-mana kok!" tukas Anko sedatar mungkin. Gadis itu harap, alibi yang dibuatnya bisa berguna.
"Jangan bohong!"
"Ti-tidak bohong, kok!?"
"Aku ke rumahmu, tahu!"
Kegugupan Anko pun bertambah. Gadis itu menelan ludah. Ah, sial. Kurenai ini benar-benar menyebalkan!
"Kau sedang tidak ada. Di akademi juga tidak. Dan setahuku... kau tidak sedang ada misi, kan?"
Anko pun semakin yakin bahwa Kurenai terasa sama menyeramkannya dengan Ibiki ketika sedang menginterogasi. Kalau memang begitu, mungkin ia bisa mendapat partner wanita dalam sistem penginterogasian? Kau tahu, menjadi satu-satunya wanita bawahan Ibiki harus bisa mengimbangi pace kegalakan shinobi plontos berwajah sangar itu, dan hal itu sungguh tidak gampang!
Anko pun memutar otak, menyelipkan satu lagi kebohongan. "Ah! A-aku baru ingat, semalam aku ada perlu dengan Shizune!"
Mendengar itu, kening Kurenai yang mulus berkerut.
"Dengan Shizune? Dimana? Dirumah sakit, maksudmu?"
"Iya. Dirumah sakit. Tepat."
Kurenai memindahkan tangannya yang sedari tadi diatas meja. Kini keduanya memegang permukaan bangku di sisi kanan posisi duduknya.
"Bukannya hubunganmu dengan Shizune kurang baik, Anko? Kau pernah dekat dengan Genma, masih ingat?"
Anko menelan ludah sekali lagi. Kali ini terasa lebih berat dan mencekat, bagaikan menyangkut di tengah-tengah tenggoroknya.
Yah, Kurenai ini...
Tak perlu diingatkan lagi, dia memang masih ingat tatkala Shizune bersikap super menyebalkan terhadap dirinya, ketika ia dirasa terlalu akrab dengan jounin bersenbon itu. Hubungannya dengan Shizune memang tidak bisa dibilang baik, meskipun ninja medis itu terkenal dengan imej lemah lembutnya.
Ketika dihadapan Anko Shizune pernah berkata-kata kasar, selalu melontarkan celetukan sinis, dan juga death glare berlebihan yang membuat Anko gerah; Anko jadi sadar semua itu karena dia pernah mendekati Genma Shiranui. Dan untuk pertama kalinya, saat ini ia menyesal sudah pernah melakukan hal itu –terutama karena itu akan memberatkan kecurigaan Kurenai padanya.
"Uhm. Iya... terus kenapa?"
Kurenai masih merasa tak puas dengan jawaban Anko. Dia perlu penjelasan. Dia hanya merasa –tengah dibohongi. Katakanlah instingnya memang cukup kuat soal ini.
"Tapi ada apa kau menemui Shizune?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya sedikit urusan"
"Urusan? Yakin kalian tidak saling mencakar ketika sedang bertemu?"
"Ya ampun, Kurenai! Kau pikir kami binatang, kucing, begitu?"
"Baiklah. Kalau begitu ceritakan padaku, urusan apa dengan Shizune?"
"Eh? Kenapa kau selalu ingin tahu?!"
"Apa itu salah?"
"Ya, kau selalu ingin tahu tentang diriku! Oh, Kurenai, mungkin sebaiknya kau mengaku saja jika mau mencalonkan diri sebagai penggemar sejatiku! Oke?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Anko. Aku sahabatmu, bukan penggemarmu. Pahami itu"
Anko memutar bola matanya, sedikit jengkel.
"Aku menemui Shizune untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, kau puas?"
"Pemeriksaan kesehatan?"
"Uh-huh..."
"Kau bohong"
Kurenai mengatakannya dalam nada dingin, terkesan sinis malah. Dan Anko terperanjat mengetahui bahwa sahabatnya tidak lebih dari seorang wanita paparazzi berkepala batu yang cantik namun juga cerewet. Dia juga mempunyai tebakan yang hampir selalu tepat.
Namun itu bukan kelebihan yang bisa membuat Anko dengan mudah memuja Kurenai, kan?
Obrolan para wanita ini harus segera diakhiri!
Anko mendiamkan Kurenai dengan penuh tekad di benaknya. Keduanya kembali melakukan kontes menatap, saling mengadu death stare terbaik yang dimiliki dan ternyata Anko kalah lagi dengan mengenaskan. Gadis itu membuang wajahnya menjauhkan pandangannya dari ekspresi menyelidik wanita didepannya.
"Iya, iya... aku bohong", ucap Anko dalam pengakuannya.
Kurenai tiba-tiba tersenyum senang. Ide jahil untuk menggoda Anko makin lama muncul makin kuat dalam benaknya untuk merayakan kemenangannya ini.
"Sudah kuduga. Lalu? Semalam kau ada dimana, Anko?"
Anko melirik dengan jengah, menyaksikan Kurenai yang memojokkannya dalam ekspresi kemenangan yang licik itu. Kurenai menahan senyumnya agar tidak terlalu lebar, menanti jawaban sahabatnya dengan sedikit berdebar.
"Dirumah seseorang?" jawab Anko akhirnya. "Tapi walau kau paksa sekalipun aku tidak akan memberitahukanmu siapa orang itu!"
Kurenai membuka mulutnya dengan tidak percaya.
Anko dirumah seseorang! Seorang pria, tentu saja! Hell, apakah sahabatnya tidur dengan pria itu?!
Hormon penggosip Kurenai Yuuhi membuncah memenuhi diri kunoichi kalem itu. Sambil merasakan rasa penasaran yang membuatnya bahagia, ia memperhatikan Anko yang melipat tangan di dada sambil berkata "Tidak perlu kau beritahukanpun aku sudah bisa menebak siapa orang itu, Mitarashi!".
Kurenai mengatakannya dengan gembira, membuat Anko memelototkan mata setelah mendengarnya. Rona merah lalu secara instan memenuhi wajah gadis itu.
"Me-memangnya siapa, menurutmu?!"
Tagih Anko lagi-lagi –nyaris histeris.
Kurenai hanya menyengir. Mengabaikan hilangnya ekspresi tenang yang biasanya selalu menjaga aura kecantikannya tetap utuh –perempuan itu tersenyum dengan kelewat lebar.
Yuuhi tersebut semakin senang karena sahabat wanitanya mulai gusar dan merasa malu. Ia akan menghabisi Anko sekarang, memaksanya untuk mengaku.
Yah, siapa yang tidak tahu? Dia, Kurenai Yuuhi yang pernah mendengar cerita isi hati Anko pasti sudah bisa menebak bahwa orang yang mereka bicarakan adalah Kakashi.
Bukankah Anko sendiri yang pernah bilang bahwa sudah sangat lama ia memendam rasa pada shinobi itu? Bukankah Kurenai lebih dari paham bahwa Anko sempat sakit hati pada Kakashi dalam waktu yang lama? Dan juga bukankah terakhir kali yang Kurenai dengar, hubungan keduanya sudah membaik dan bahkan mereka sempat berciuman?
Jika ada seorang pria yang Anko rela tidur dengannya, orang itu tidak mungkin selain daripada sosok Kakashi Hatake.
Dan wajah memerah Anko yang lucu itu hanya bisa membuatnya makin merasa geli. Kurenai bagaikan seorang penembak jitu, berhasil dengan cepat mengenai sasarannya.
Wanita milik Asuma itu pun berniat semakin gencar menggoda Anko beberapa menit ke depan, namun bahkan belum sempat menyebut nama 'Kakashi', pria yang ia tunggu telah datang kepadanya.
"Maaf sudah menunggu" ucap suara bariton Asuma memecah keasyikannya.
Dua wanita disana kemudian menoleh secara refleks pada Asuma Sarutobi yang datang secara mengejutkan.
Asuma langsung duduk disebelah Kurenai dan memperhatikan Anko yang wajahnya masih merah padam.
"Kau kenapa, Anko?" tukasnya bingung. Pria itu lantas memasang kembali rokoknya yang tadi berada pada dua jarinya –meletakkan kembali pada mulutnya.
Tentu saja, pertanyaan semacam itu tidak langsung dijawab oleh Anko yang sedang gundah, melainkan diserobot oleh Kurenai yang menurutnya sok tahu. "Tidak, tidak kenapa-napa. Dia hanya malu, Asuma!"
"Malu?"
Sebuah suara tidak asing menyahut kata-kata Kurenai. Tiga pasang mata disana kemudian tertuju pada sang pemilik suara lain, yang tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.
"Boleh bergabung?" tanya Kakashi santai. Sebelah matanya yang terlihat itu melengkung, menyiratkan sebuah senyuman dari wajahnya yang tersembunyi.
Wajah Anko semakin horror bercampur dengan warna merah yang semakin terang. Kurenai yang sangat senang pun sampai khawatir jika sahabatnya jatuh pingsan sebentar lagi. Apalagi karena Kakashi telah mengambil tempat di bangku yang sama dengan Anko, menyebabkan mereka duduk bersebelahan.
Ah, kencan ganda, batin Kurenai.
"Dia malu kenapa?" Kakashi bertanya lagi, kali ini dengan polos, menunjuk Anko dengan ibu jarinya. Jounin itu menatap Kurenai dan Asuma bergantian, menuntut jawaban.
Jika Kakashi bertanya seperti itu, maka Asuma hanya merasa berkewajiban untuk menjawab dengan ekspresi wajah 'mana aku tahu'; sementara Kurenai merasa dirinya harus tidak membuat keadaan lebih canggung lagi bagi Anko. Gadis itu hanya diam sambil tersenyum, menyaksikan sahabatnya salah tingkah disebelah seorang lelaki yang tengah kebingungan.
Di saat-saat titik kesadaran Anko semakin menipis, Kurenai malah meledakkan tawa disana. Ia tiba-tiba merasa tidak tahan. Anko pun menatapnya dengan sangat kesal tanpa berani mengarahkan matanya pada Kakashi disampingnya barang sedetikpun. Hal itu membuat para pria semakin tidak mengerti.
"Sudahlah. Kita pesan ramen saja, Kakashi. Abaikan saja keanehan para wanita ini!" saran Asuma bijak. Kakashi pun menuruti ide bagus itu.
Saat suasana sudah mulai tenang, ramen pesanan para gadis pun datang. Sementara milik Kakashi dan Asuma menyusul tidak lama lagi. Kakashi menyempatkan diri melirik Anko, pada saat dua rekan dihadapannya sedang asyik membicarakan obrolan mereka sendiri. Anko tampak memakan ramennya dalam gaya terkaku yang pernah siapapun lihat, dan itu membuat Kakashi tertawa di dalam hatinya.
Rupanya ia telah membuat gadis itu sedemikian gugup.
"Santai saja, Mitarashi..." bisiknya sambil tersenyum. Anko yang mendengarnya langsung merona. Jantungnya yang semula tidak tenang semakin tidak bisa dikendalikan. Oh, andai saja Kakashi tahu betapa tidak bergunanya perintahnya barusan itu. Karena Anko samasekali tidak bisa membuat dirinya bersikap normal saat di dekat shinobi berambut perak tersebut. Mungkin semua ini efek dari percintaan mereka beberapa saat yang lalu. Masih ingat bukan, bahkan pada pagi harinya Kakashi Anko bagaikan dua orang asing yang berbeda bahasa hingga tidak bisa saling bicara?
Anko pun merilekskan dirinya sebisa mungkin. Perasaan hangat tiba-tiba muncul mengingat Kakashi yang perhatian padanya saat ini. Kakashi peduli. Dan Anko tidak bisa lebih bahagia dari mendapati hal semacam itu.
Setelah Anko mampu mengendalikan dirinya, gadis itu mendapati dirinya penasaran pada lelaki yang tengah duduk disampingnya. Kakashi yang ramennya telah datang, tampak menikmati makanan gurih tersebut dengan tenang.
Anko pun memasang kedua matanya, mempersiapkan lirikan maut untuk mencuri pandang pada Kakashi yang berada disampingnya. Berkali-kali Anko berusaha melirik pada saat Kakashi menyuapkan sumpit, namun berkali-kali juga gadis itu melihat sesuatu yang sama di sana: Kakashi makan dengan terus menerus membuka-tutup topengnya dalam gerakan kilat –yang membuat Anko sweatdrop.
Oh, kenapa aku sepenasaran ini? Padahal aku sudah melihat wajah dan tubuhnya tanpa topeng!
Anko pun menyadari bahwa dirinya tidak lebih seperti seorang gadis kecil berlevel genin yang penasaran pada bagaimana cara Tuan Hatake menjaga wajahnya "tetap steril" alias tidak terlihat dari mata siapapun ketika sedang makan. Kakashi benar-benar tidak memberi kesempatan pada siapapun untuk melihat wajah aslinya ya? Padahal sedang makan seperti ini!
Lagipula gerakannya cepat sekali... Anko membatin sambil terus mengeluarkan sweatdrop.
Dan setelah acara makan selesai, Kakashi Anko berjalan lebih dulu keluar dari kedai. Keduanya baru saja mendapat keberuntungan karena biaya makan mereka ditanggung oleh Kurenai Yuuhi. Kurenai yang awalnya hanya berniat mentraktir Anko tiba-tiba saja berubah pikiran dengan menambahkan kebaikan hatinya; ramen Kakashi pun dibayar olehnya.
Sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana, Kakashi memulai pembicaraan ringan dengan Anko.
"Bagaimana kabarmu?" ujarnya pelan.
"Baik. Kau sendiri?"
"Tidak ada yang lebih baik ketimbang saat berada di dekatmu"
Anko sontak menahan tawa mendengarnya. Dan Kakashi tersenyum melihatnya.
"Kau menggombal. Usaha yang bagus, Hatake" katanya sambil menyengir. Anko tidak peduli jika sekarang ini wajahnya memerah lagi. Oh baiklah ia hanya lelah –wajahnya tidak bisa kompromi.
"Ngomong-ngomong, bagaimana mungkin kau selalu makan dengan gaya seperti itu?" Anko seketika teringat rasa penasarannya ketika di dalam kedai tadi.
"Apa maksudmu?"
"Itu –cara makanmu... Apa tidak merepotkan, Kakashi? Harus membuka-tutup topengmu secepat itu setiap kali kau makan? Kenapa tidak sekalian kau lepas saja?" Oke, pernyataan terakhir Anko tidak serius, kok.
Kakashi tertawa kecil sebelum menjawab. "Aku tidak akan semudah itu memperlihatkannya..."
"Tapi aku sudah melihat wajahmu?"
"Oh. Kau salah satu dari sedikit orang yang mendapat keistimewaan itu. Tidak banyak yang pernah melihat diriku yang asli"
Keistimewaan?
"Memangnya, selain diriku, siapa saja?"
Rasa penasaran menelisik sisi-sisi otak Anko. Tentu saja dia penasaran! Mungkinkah tidak ada gadis lain yang pernah melihat rupa Kakashi di balik topengnya? Setahu Anko –dari pengamatan diam-diamnya selama ini-, Kakashi tidak pernah punya kekasih. Meski Anko terlihat cuek, gadis itu tahu banyak hal soal jounin tersebut.
Kakashi menatap Anko sesaat. Sebuah tatapan yang Anko rasa bagaikan usapan lembut yang mampu menggetarkan hatinya. "Hanya tiga orang, Anko. Ayahku –"
"Tiga?" Anko tidak sadar ia memotong ucapan Kakashi.
"Ayahku, kau, dan seorang lagi..."
Well, kata 'seorang lagi' sebenarnya merupakan ungkapan yang tidak ingin Anko dengar! Oh, apa ada gadis lain? Siapa? Siapa?!
"Seorang lagi? Siapa maksudmu?"
Pertanyaan Anko tidak langsung terjawab. Kakashi tampak sedang mengamati beberapa shinobi dari kejauhan dengan raut serius.
"Kakashi? Hey, kau belum menjawab pertanyaanku"
"Oh... maaf.. Satu orang lagi –dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri, Anko..."
Adik? Siapa?
Tenggorok Anko tiba-tiba sedikit tercekat. Rasanya ingin mati tenggelam dalam rasa penasaran.
"Uhm... apa dia laki-laki?" Anko bertanya lagi, kali ini dengan hati-hati.
"Tidak. Dia perempuan –"
"Anko, Kakashi! Ayo cepat!"
Suara Asuma memotong obrolan mereka. Anko terpaksa menelan kekecewaannya, apalagi Kakashi juga terlihat tidak berniat melanjutkan penjelasannya. Keduanya lalu menyusul Kurenai dan Asuma yang sudah berjalan lebih dulu menjauh dari kedai. Beruntung bagi Anko, diperjalanan mereka yang awalnya terasa sepi, Kakashi mulai bertanya sesuatu lagi padanya.
"Anko, apa kau sibuk hari ini?"
Seketika itu juga debaran jantung Anko terasa nyaring. Gadis itu bahkan khawatir jika Kakashi bisa mendengar degupan kegugupannya. Anko yang semula memikirkan perihal 'adik perempuan' Kakashi tiba-tiba teralihkan perhatiannya.
Mungkinkah Kakashi mengajak untuk bertemu –lagi?
Maksud Anko, bertemu berdua, tanpa ada manusia lainnya yang mengganggu pertemuan mereka?
"Uhm.. yaah, begitulah. Hehe"
Kakashi tersenyum tipis dari balik topengnya. "Begitupun aku. Tapi jika ada waktu, kita akan bertemu lagi. Bagaimana?"
Bertemu lagi? Untuk bercinta, kencan, atau –
"Anggap saja kencan" potong Kakashi seolah tahu apa yang dipikirkan gadis di dekatnya. Anko lagi-lagi berusaha cuek pada rona wajahnya dan juga pikirannya yang sempat melantur.
Kencan? Oh, kencan?!
Yah, diajak bercinta lagi pun juga dia akan menerimanya dengan sangat mau. Apalagi jika hanya sekedar kencan! Tidak ada penolakan untuk seorang Kakashi Hatake, benar begitu kan?
"Aku rasa kita harus membiasakan diri untuk terus berada dekat satu sama lain..."
"Eh? Maksudmu?"
"Kita harus sering bertemu. Berbicara, dan juga melakukan hal lainnya bersama-sama"
"I-iya ya?"
"Aku hanya tidak ingin kecanggungan pagi itu terulang lagi. Konyol sekali rasanya. Hehe" Kakashi melanjutkan ucapannya sambil tertawa kecil. Anko tidak bisa menahan senyum mendengar penuturan pria itu.
Pagi itu. Ya, pagi itu.
Pagi dimana mereka berdua terbangun di kamar Kakashi, dan kemudian mengalami kekakuan luar biasa sehingga keduanya tidak saling berbicara apa-apa. Padahal sebelumnya mereka sangat dekat dan saling menyentuh dengan intensnya, namun itu ternyata bukan jaminan pembicaraan antara mereka berdua akan mengalir lancar setelahnya.
Anko masih ingat betapa tidak nyamannya pagi itu, betapa ia ingin kabur dari sisi Kakashi pada waktu itu. Meski pada saat yang bersamaan ia juga bagaikan gadis remaja yang baru saja mendapat ciuman pertama.
Dan...beruntungnya, pada perpisahan mereka hari itu, Anko benar-benar merasa lega. Akhirnya hubungannya dengan jounin bermarga Hatake ini menemui sedikit pencerahan.
Well, jika ada hal yang sangat diinginkan gadis itu dalam memajukan progress kedekatannya dengan Kakashi, hal itu adalah pertemuan intens atau kencan dengannya...
Ah, Anko tidak bisa lebih bahagia lagi dari hari ini.
Anko yang tersenyam-senyum seorang diri harus menghentikan tingkahnya saat Kurenai serta Asuma datang. Dan selama perjalanan mereka kembali ke akademi, hatinya tak henti dipenuhi oleh padang bunga yang bermekaran dengan indah. Kakashi Hatake berjalan disampingnya, tersenyum dan berbicara padanya...
Anko berharap, pertemuan selanjutnya mereka akan selalu terasa manis, dan lebih dari sekedar kedekatan biasa.
.
.
.
.
.
Tujuhpuluh dua jam setelahnya, Anko harus menelan pil pahit. Tiga hari terasa bagaikan tiga abad lamanya –dalam penantian gadis Mitarashi tersebut.
Pada kenyataannya, beberapa hari setelah waktu yang dijanjikan oleh Kakashi, kencan mereka belum juga terwujud. Kakashi masih sangat sibuk, mengurus dan memiliki banyak tugas yang diembannya. Anko pun harus bisa lebih bersabar, apalagi selagi berpapasan dijalan, lelaki itu memberitahukan bahwa ia sedang tidak punya waktu banyak dan meminta maaf untuk tidak bisa menemui Anko dalam rangka menambah kedekatan mereka berdua.
Sebenarnya Anko kecewa, akan tetapi demi Kakashi ia akan rela melakukan apapun. Hanya diminta bersabar beberapa hari, toh itu bukan masalah besar baginya. Tapi tetap saja, dia tidak bisa berhenti melamun dan bertanya-tanya, mungkinkah Kakashi juga merasakan hal yang sama dengan dirinya?
Adakah rindu dalam hati pria itu?
Karena kegundahan kecil itu, maka Anko lagi-lagi mengunyah makanannya dengan lambat dan kaku, mirip pada saat makan ramen bersama Kurenai dan Kakashi beberapa waktu yang lalu.
Anko yang sedang makan malam sendirian di rumahnya tidak bisa menghindar dari pikiran yang terus melayang-layang. Membayangkan Kakashi dan sosoknya. Membayangkan wajah pria itu tanpa penutup wajahnya. Membayangkan ciuman dari bibirnya, tubuh maskulinnya, dan juga... –ah, hentikan.
Anko tersadar bahwa ribuan angan-angan tidak pernah lebih baik dari secuil kenyataan. Apa artinya semua keindahan jika hal itu tidak pernah nyata?
Merasa kesal pada diri sendiri Anko lantas menyelesaikan suapannya dengan tidak nyaman. Dengan kata lain –ia cukup memaksakan diri memakannya. Gadis itu pun selesai makan untuk kemudian mencuci peralatan makan yang ia gunakan di dapur.
Setelah piring terakhir sudah dikeringkan dengan lap, Anko melepaskan celemeknya. Menggantungnya pada sebuah tempat khusus di dinding, dan melangkah menuju ke kamar tidur.
Pakaian tidur gadis itu sudah menanti dan tanpa pikir panjang Anko Mitarashi mengenakannya. Gaun tidur cantik berupa dress selutut tanpa lengan dengan warna ungu, warna kesukaannya. Gaun itu memiliki tali tipis mirip spaghetti pada bagian bahu, dan juga berjenis kain tipis menerawang berukuran cukup sempit yang memperlihatkan lekuk tubuh sempurnanya.
Gadis itu kemudian melepaskan bra-nya, dengan cuek membiarkan dirinya terlihat sangat mengundang sekaligus seksi dalam satu waktu. Puncak payudaranya mengintip dari balik gaunnya yang tidak tebal itu, dan Anko tidak mempermasalahkannya karena sudah terbiasa mengenakan dan merasa seksi tiapkali ia menggunakan sebuah pakaian.
Sambil mengamati diri dalam cermin, kunoichi itu menyisir rambutnya yang tergerai.
Tubuhnya masih seramping dulu, begitupun juga pinggul dan dadanya yang masih proporsional, meskipun ia khawatir berat badannya bisa naik jika ia terus menerima traktiran Kurenai yang terkadang tidak kenal waktu itu.
Mungkin menghindari Kurenai selama beberapa hari ke depan adalah jawaban yang terbaik? Lagipula Kurenai belakangan ini semakin menyebalkan, selalu dan selalu menggodanya perihal Kakashi.
Anko masih sibuk merapikan rambutnya ketika samar-samar ada sebuah bayangan menghampiri jendela kamar dari arah luar. Kunoichi itu tidak sadar, mungkin karena siluet hitam tersebut bergerak dengan perlahan sehingga tidak menimbulkan gerakan aneh yang bisa mencurigakan.
BRAK!
Dan tiba-tiba daun jendela Anko terbuka. Gadis itu terlonjak kaget dan sangat bingung mengapa jendelanya bergerak sendiri seperti itu. Anko Mitarashi membelalakkan mata cokelatnya, menenangkan sedikit rasa panik yang sempat mencuat.
Dari tangannya, sebuah sisir terjatuh ke lantai, gadis itu pun langsung mengambil sebuah kunai dengan sigap, memasang pose pertahanan diri.
Mata Anko melihat sekeliling dengan tegang. Sambil melangkah ke arah jendela dengan hati-hati, gadis itu mengeratkan genggaman kunainya. Dengan penuh kewaspadaan ia memeriksa keluar jendela, berharap menemui seseorang yang telah mengagetkannya.
Aneh, tidak ada siapa-siapa disana. Yang ada hanyalah desiran angin malam yang terasa dingin.
Mungkinkah ini ulah Kurenai yang iseng ingin mengagetkannya? Genjutsu Mistress itu pasti tidak jauh-jauh dari pikiran mengusili Anko dengan tingkah semacam ini!
Lupa sejenak mengenai Kurenai, Anko kembali menoleh ke sekeliling, memantau ke dalam isi kamar.
Kosong, tiada siapapun di sana selain dirinya. Dan juga, tidak ada terasa pergerakan chakra. Ini benar-benar tidak mungkin, tadi daun jendela terbuka dengan keras, bukan?
Ah, mungkinkah ia hanya berkhayal karena terlalu tegang? Akan tetapi, apa iya hembusan angin bisa membuka jendela kamar dengan sekasar tadi?
Pasti ada yang salah disini.
Anko pun menutup jendela perlahan, penuh rasa hati-hati.
Keseriusan menyelimuti benaknya. Sekilas, ia ketakutan jika semua ini dilakukan oleh seseorang yang berniat jahat. Mungkin saja itu gadis lain yang mendendam padanya, menyusup kesini, dan berniat melukainya saat ia sedang lengah.
Atau bisa juga itu ulah Yamato, mantan kekasihnya yang menyebalkan, yang sangat berpeluang untuk menjadi seorang stalker gila. Oh, bahkan bisa pula ada pria lain tak dikenal yang membuntutinya dan tengah bersembunyi saat ini dengan menyamarkan chakranya.
Siapapun itu –orang gila itu, Anko akan menjawab tantangannya dengan sepenuh hati. Keluar kau, sialan! Mitarashi tidak akan ragu untuk mengkonfrontasinya sebentar lagi dengan meneriakkan sebuah kalimat pancingan 'Aku tahu ada seseorang disini, keluarlah!'.
Namun sebelum itu, yang harus Anko lakukan adalah menutup jendela. Ya, menutupnya.
Bunyi pelan daun jendela yang tertutup pun terdengar, menghentikan arus angin malam yang dingin untuk terus menerpa kulit Anko.
Gadis Mitarashi itu menelan ludah bersamaan dengan hatinya yang sedikit takut dalam kesendiriannya kali ini. Dan pada saat Anko berniat membalikkan badannya, tiba-tiba sesuatu yang dingin serta asing meraba perutnya –mendekapnya.
Gadis itu pun tak punya pilihan lain selain menjerit dengan nyaring.
"KYAAAAAAAA!"
.
.
.
.
.
Te Be Ce
To Be Continued...
.
A/N:
Hahaha.
Gomen yaaak. Baru nongol ini.
Kill The Heart sudah punya plot dan ending yang jelas, jadi kemungkinan bisa terus lanjut kok. Saya akan menamatkannya, tenang saja. Saya akan berusaha!
Maaf jika progressnya lamban, kemajuan diksinya juga nggak ada. (jadi malu banget sama seorang pereview lama yang bilang kalo penulisan saya kurang menarik. LOL. Gomen..)
Oya, saya harap yang membaca sudah cukup umur semua, karena ini fiksi dewasa dengan rate M. Yah, meskipun mungkin menurut para senpai adegan smut lime lemonnya kurang nendang. Haha.
Oke terimaaaa kasih banyak karena sudah mau membaca. Jangan lupa klik Box REVIEW dan tuliskan sesuatu disana!
See ya and wait up, okay? (Next chap akan diupdate secepat mungkin!)
Salam kangen,
Alize.
PS. Sebenernya saya pengin banget memperbaiki penulisan dari chap-chap yang lalu, tapi masih belum ada waktu. Mungkin suatu saat akan terlaksana...
