I Want To Dream With You Forever, Ch 10: Derparture
Sakura memasukkan beberapa barang penting ke dalam tasnya. Handphone, parfum, lotion, headset, tiket pesawat, paspor dan novel. Tas yang di bawanya tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Di letakkannya tas itu berwarna biru peach itu di atas kasurnya. Sakura kembali mematut dirinya di cermin, melihat bayangan seorang gadis manis terpantul dari refleksi kaca itu. Ikat rambutnya sedikit berantakan.
"Sakura! Kau sudah selesai kan? Cepat turun, nak! Nanti kau terlambat!"Mebuki berseru dari lantai bawah. Menyuruh Sakura untuk segera selesai beberes di kamarnya.
"Sebentar lagi, bu!"Sakura segera merapihkan meja belajarnya dan meraih tasnya di ranjang. Sejenak di pandanginya taman belakang rumahnya lewat jendela beranda. Menikmati kekosongan tempat pesta berlangsung tadi malam.
Ia tersenyum simpul. Sakura benar-benar akan merindukan suasana menyenangkan di rumah ini selama beberapa tahun kedepan. Terlebih lagi, ia juga akan merindukan si pirang itu. Namikaze Naruto.
Pintu kamarnya menjeblak dengan keras. Sakura tersentak mendengar bunyi bedebam di belakangnya.
Di lihatnya, adiknya yang bernama Rin Haruno—baru baru ini sedang bersekolah di Sapporo, menatapnya kesal.
"Kenapa kau tidak memberi tahu kalau mau sekolah di Paris?!"Rin berjalan dengan gestur yang menyeramkan. Mencengkram bahu Sakura saat mereka sudah berdiri berhadapan.
"Ri, Rin! Kapan kau kemari?"
Rin menunduk. Sakura cengok.
"Jangan pergi, Sakura-nee! Huhuhu..."Rin menangis tersedu-sedu di hadapan Sakura.
Sakura sweetdrop.
I Want To Dream With You Forever Chapter 10: Derparture
Naruto bukan punyaku. Penciptanya cari sendiri di mbah gugel.
Sakura H. & Naruto U.
Friendship/Romance
Teen
Ttypo, OOC, OC, abal, gak jelas dan warning lainya.
Oke, Saachan kembali dengan I Want To Dream With You Forever Chapter 10: Derparture. Dengerinnya pake lagu nya Hey! Say1 JUMP!-weekender atau SNSD_I Want To Dream With You Forever. ya udah, nanti readers pada bosen lagi, so, let's go to the Read!
Happy Reading!
Aku tidak ingin flame darimu. Jadi, jika kau membenci fanfic ini, silahkan kembali ke page sebelumnya. Karena aku tidak mau memberikan flame yang lebih pedas lagi dari flamemu. CAMKAN ITU! #dia emosi
Tapi, jika kau masih bersikeras membaca fanficku dan memflame apa boleh buat aku terpaska memberikan Flame yang sangat pedas padamu, terutama yang suka menghina fanfic-fanfic buatan Author penggemar NaruSaku.
Don't Like? Don't Read!
Simple and practical!
Enjoy it!
PLAY!
Konoha Airport...
Sakura turun dari mobil Kizashi. Menghirup udara sebentar dan beralih ke bagasi belakangan. Membuka dan mengambil kopornya.
Kizashi keluar dari mobilnya, memperhatikan Sakura yang menarik kopornya.
"Sakura..."orang tua itu memanggil anak sulungnya. Sakura menoleh dan melihat Kizashi menghampirinya.
"Ya, ayah?"
Kizashi mengelus puncak kepala anaknya. Tersenyum tipis.
"Ayah tak pernah menyangka bahwa kau akan tumbuh menjadi gadis yang pintar dan manis. Tak terpikirkan juga oleh ayah bahwa kau akan melanjutkan studimu di negeri orang. Dulu, kau bukanlah anak yang dewasa, selalu membantah ucapan ibumu, petakilan dan tomboy. Tapi, kini ayah harus memberbaiki sudut pandang ayah terhadapmu, nak,"
Sakura menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan ayahnya beralih ke wajah Sakura. Sakura memegang tangan ayahnya dan memejamkan mata.
"Kau sudah tumbuh dengan pribadi yang berbeda. Selalu tersenyum pada orang lain, dan sering menolong mereka. Ayah sendiri selalu berpikir kau akan tumbuh menjadi gadis yang manja. Tapi, di dalam lubuk hati ayah, ayah selalu yakin kau akan tumbuh menjadi gadis yang baik dan pintar. Ayah bangga padamu, nak."
Kizashi mencium kening putrinya. Sakura meneteskan air matanya. Tak bisa menahan kesedihannya.
"Aku juga bangga punya orang tua seperti ayah. Aku berjanji tidak akan bermain-main di sana dan belajar dengan giat. Doakan aku selalu, ya, ayah."kata Sakura, kemudian ia memeluk ayahnya.
"Doa ibu dan ayah selalu menyertaimu, nak."
Hening selama beberapa saat. Naruto memandangi keduanya dengan senyum. Air matanya sedikit menetes. Menyaksikan perpisahan ayah dan anak itu.
Kemudian, Sakura melepas pelukannya.
"Salam untuk Rin dan ibu, ya."
Kizashi mengangguk dan melepaskan pegangan tangan Sakura.
"Jaga dirimu baik-baik, nak."
Sakura mengangguk dan menarik kopornya meninggalkan ayahnya menuju terminal keberangkatan internasional. Ketika ia menoleh untuk melihat ayahnya, sosok sang oranng tua sudah menghilang di tengah padatnya bandara Konoha. Sakura tersenyum.
Ia kembali menarik kopornya. Namun, suara seseorang menusuk indra pendengarnya.
"Sakura..."
Emeraldnya melirik kesamping dan menampakkan seorang pemuda berambut jabrik pirang tengah menatapnya sendu.
Mereka berdiri berjauhan, tiga meter.
"Jadi... kau akan ... pergi?"Kata-kata itu seakan-akan menusuk Sakura.
Ia memaksakan senyuman. "Ya. Ku rasa begitu."sahut Sakura.
Kepadatan bandara pagi itu membuat keduanya seakan-akan tak merasakan keramaian.
Suara pemberitahuan melalui speaker terdengar beberapa kali, menunjukkan tujuan ke Paris. Mereka masih diam dengan posisi tiga meter itu.
"Tidak bisakah.. kau tidak... pergi?"Suara Naruto terdengar parau.
Sakura mencekal tiket pesawatnya. Bukti pasti bahwa ia sudah harus pergi.
"Maaf.. Naruto."
Sakura menunduk, meneteskan air matanya kembali.
Ia merasakan tarikan cepat ke dalam sebuah pelukan yang membuatnya tenang.
"Aku tahu pilihan ini yang terbaik bagimu."
"Tapi, tidak bagi kau."
"Tidak, tidak. Sudah seharusnya kau memilih pilihan ini bukan?"suara Naruto terdengar parau.
Sakura membenamkan wajahnya ke dada Naruto. Menangis dengan pelan.
Antrean imigran sudah mulai padat. Naruto masih memeluknya.
Sampai pengumuman keberangkatan ke Paris kembali terdengar, Naruto melepaskan palukannya dan menatap wajah Sakura.
Ia mengangguk dan tersenyum menenangkan. Di kecupnya kening Sakura demi menyalurkan bahwa ia sangat menyayangi gadis itu.
"I'll be waiting you."
"... And when i come back, i want to dream with you forever."
**NaruSaku***
Naruto memandangi punggung Sakura yang perlahan menghilang di tengah kerumunan. Masuk ke terminal keberangkatan.
Ia menghela napas. Apa yang di lakukannya sudah bagus, demi kebaikan dan kebahagian Sakura. Ya. Dia sudah lakukan yang terbaik. Apapun itu konsekuensinya.
Ponselnya berdering. Naruto terlonjak merasakan getaran di saku jaketnya.
Ibunya menelpon.
Wajah Naruto pias dan pucat. Ia menggeser touchscreennya dan mendekatkan ke telinganya.
"KAU KEMANA PAGI-PAGI, HAH? RUMPUT TAMAN BELAKANG BELUM KAU POTONG, NARUTOOOOO! CEPAT PULAAAANG!"
Naruto menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia tersenyum kikuk.
"Iya. Iya. Aku pulang."
"CEPAAAAT! KAKEK DAN NENEKMU AKAN DATANG SIANG INI, KAU INI ANAK YANG MALAS SEKALI!"
"IYA, IYA. AKU SEGERA PULANG! IBU CEREWET SEKALI!"
"KAU MENGATAI IBUMU CEREWET HAH?"
"TIDAK!"
Akhirnya, Fanfic ini di akhiri dengan berdebatan antara Naruto dan Kushina.
OWARI...
Uso! Nanti di lanjutkan ke fanfic yang baru lagi kok.
Maaf ya kalau fanfic ini terkesan klise. Lagi gak ada feel.
Huhuhuhuhuhu...
Hope you like it ya.
