Anime Zetsuen No Tempest (THE CIVILIZATION BLASTER) ditulis oleh Kyo Shirodaira dan diilustrasikan oleh Arihide Sano dan Ren Saizaki.
Zetsuen No Tempest (BTS version)
By : Han STARMY
Genre : Drama, Fantasy
Warning : Shounen-ai, BoyXBoy, Typo(s).
Note :
- Cerita ini sesuai dengan anime aslinya, hanya sedikit penyesuaan latar dan tokoh.
- [Italic] Monolog tokoh.
Don't like don't read
.
.
Amunisi semakin banyak dihadiahkan untuk membuat celah pada perisai yang melindungi area sekitar pohon exodus. Puluhan helikopter dan tank masih berada pada posisi menyerang.
"Ada orang?" gumam seorang tentara didalam tank saat melihat siluet seseorang dalam jarak pandangnya.
Sosok siluet tersebut menggenggam erat tombak ditangannya. Menghunuskannya kedepan dan menciptakan perisai yang melindungi bagian depan tubuhnya.
"Aku, Jeon Namjoon. Datang untuk memberikan sambutan."
.
.
.
"Perjalanan waktu?" taehyung bertanya ragu.
"Jadi menurutmu Jungkook yang sedang berbicara dengan kita adalah Jungkook dua tahun yang lalu dan Jungkook yang sekarang adalah tulang-tulang itu?" Jimin ikut bertanya, memperjelas situasi saat ini.
"Itu benar." Dengan tenang Wonshik membenarkan penjelasan Jimin.
"Kalau begitu bagaimana benda ini bisa menghubungkanku dengannya?" sambil menunjukkan patung kayu ditangannya Jimin kembali bertanya.
"Patung kayu itu adalah jimat yang dibuat dengan menggunakan sihir Jeon yang menyambungkan dengan patung kayu yang satunya, mirip dengan alat komunikasi. Patung kayu yang digunakan oleh pangeran dua tahun yang lalu, telah hancur." Jawab Wonshik.
"Jadi, karena patung ini tidak bisa menemukan patung yang satunya di masa sekarang, patung itu mencari hingga ke masa lalu dan menyambungkan ke patung dua tahun yang lalu?"
"Tepat sekali." Wonshik kembali membenarkan penjelasan Jimin.
Itu benar. Selama kami mengobrol, kami memang tidak pernah menyebutkan tahun. Meski kita membahas tanggal, tanggal ini sama persis dengan dua tahun yang lalu sehingga kami tidak menyadarinya. Pikir Taehyung.
"Ini mustahil. Ini mustahil." Teriak Jungkook. "Wonshik. Kau adalah orang yang penuh dengan perhitungan. Kau tidak mungkin mengambil resiko ini. Tanpa ada aku disana apa yang akan kau lakukan jika kebangkitan kembali pohon exodus gagal?"
Jungkook berucap dengan marah dan frustasi yang kentara.
"Pangeran. Apapun yang terjadi aku akan tetap melawanmu meski aku harus menanggung semua resikonya. Bagimu, mungkin baru empat bulan kami mempersiapkan hal ini. Tapi bagi kami, kami sudah bekerja keras selama dua tahun. Sebagai bukti, Hoseok sudah memastikan jika tulang-tulang ini memang benar milikmu." Ucap Wonshik.
Bersama hujan yang semakin membasahi tubuhnya, Jungkook semakin terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Wonshik.
Itu benar. Rasanya memang aneh botol yang membawa patung itu bisa sampai di korea dalam waktu empat bulan. Membuat aku berpikir lokasi pulau ini sangat dekat dengan Korea dan bisa sampai dengan cepat. Kenapa aku bisa tidak menyadari jika sudah dua tahun sudah berlalu? Apa aku sudah menyianyiakan keberuntunganku? Pikir Jungkook.
"Kalau begini. Apa aku benar-benar sudah mati? Apa ini benar-benar dua tahun yang lalu?" gumam Jungkook putus asa.
"Berbicara denganmu saat ini pangeran, bagaikan sebuah ilusi bagi kami. Anda memang hidup, tapi anda juga sudah mati. Bagi pangeran, pulau itu adalah kurungan waktu. Pangeran, kau sudah kalah." Ucap Wonshik percaya diri.
.
.
.
Dengan perisai yang melindungi bagian depan tubuhnya. Namjoon berlari secepat mungkin kearah barisan tank dihadapannya yang masih saja dengan semangatnya menghujaninya dengan amunisi.
Saat jarak cukup dekat, Namjoon mulai membacakan mantra.
"Pohon diantara pohon. Pohon besar diantara pohon besar.. ah.." belum selesai mantra diucapkan. Penglihatannya menangkap keberadaan sebuah rudal yang mengarah padanya.
"Apa kena?" gumam seorang tentara didalam helikopter memperhatikan kepulan asap yang diciptakan rudal yang meledak tepat dimana Namjoon berada.
Tidak berapa lama, Namjoon melompat keluar dari kepulan asap dan mendarat tepat disalah satu tank. Berlutut dengan tangan kirinya menyentuh permukaan tank.
"Pohon yang telah ada sejak permulaan, pohon genesis. Dengarkan kata-kataku dan kabulkan permohonanku." Melanjutkan mantra yang sempat terhenti. Melenyapkan tank yang dipijaknya begitu mantranya selesai.
Rudal maupun peluru mulai diarahkan pada Namjoon. Menghujani pria dengan tombak ditangan kanannya itu, sedangkan sang target menggunakan perisai sebagai payungnya.
"Kami gagal mengatasi sasaran. Pasukan mendapat hambatan." Lapor salah satu prajurit yang diterima markas pusat.
Kami telah memprediksi tentang kemampuan mereka. Meskipun dia adalah manusia, kemampuan pergerakan dan pertahanannya yang luar biasa sangat sulit untuk dilawan oleh pasukan kita. Pikir Hakyeon.
.
.
.
"Anak muda, petualangan kalian berakhir sampai disini. Tidak ada lagi alasan bagi kita untuk saling melawan. Aku juga tidak punya urusan dengan kalian. Tetapi sebagai kepala klan Jeon, aku tidak dapat membiarkan kalian terus menggunakan sihir milik kami." Ucap Wonshik sambil menatap Jimin dan Taehyung.
"Jika kalian meninggalkan jimat-jimat itu dan pergi dari tempat ini aku akan menjamin keselamatan kalian." Lanjutnya.
Jimin menyeringai setelah Wonshik menyelesaikan ucapannya.
"Sayang sekali, Jungkook. Ya, tidak ada lagi yang bisa kulakukan karena kau sudah jadi tulang belulang. Jangan membenciku ya." Jimin berucap santai.
"Aku tidak mengharapkan belas kasihanmu. Lakukanlah sesukamu." Jawab Jungkook tanpa minat, putus asa akan hal yang baru diketahuinya.
"Ya, kau mati sajalah. Selamat tinggal Jungkook." Gumam Jimin kemudian membuang patung kayu yang sebelumnya menggantung dilehernya.
Baguslah. Inilah yang harusnya kau lakukan. Pikir Wonshik senang.
"Baiklah, Jeon Wonshik. Aku masih memiliki rencana." Pernyataan yang diutarakan Jimin seketika membuat baik Wonshik maupun Taehyung tersentak.
"Kalian sudah kalah. Jika kau menggunakan jimat itu untuk melepaskan segel pohon exodus, tidak ada satupun yang bisa menghentikannya. Dunia akan segera berakhir." Ucap Wonshik tegas.
"Memang sejak kapan aku peduli pada dunia ini? Jika terjadi sesuatu pada dunia ini kaulah yang akan menyesalinya." Wonshik menggeram marah dengan apa yang diucapkan Jimin.
"Ayo kita buat perjanjian Jeon Wonshik. Jika Jungkook tidak bisa mengabulkan keinginanku, aku ingin kau yang melakukannya. Dan jika kau juga tidak bisa, aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi pada dunia ini." Lanjut Jimin.
Tentu saja. Sejak awal Jimin pasti sudah memperkirakan ini. Apa yang akan dia lakukan jika dia sudah tidak bisa bergantung pada Jungkook. Tapi Jimin, apa kau benar-benar tidak apa meninggalkan Jungkook seperti itu? Pikir Taehyung.
"Karena aku yang membawa jimat kesini, akulah yang membuat perjanjian ini entah itu dengan Jungkook atau denganmu. Jika Jungkook gagal, aku tidak akan ragu untuk berganti pihak." Ucap Jimin.
Apa-apaan bocah ini. Dia meninggalkan pangeran tanpa keraguan seedikitpun. Dia bersedia mengorbankan dunia ini demi kepentingan pribadinya? Dia tidak menggertak. Jika aku mencoba mengambil jimat itu, dia pasti akan menekan pelatuknya. Kalau begini, dia akan melakukannya tanpa pikir panjang. Apa pohon genesis juga terlibat? Tidak, bocah itu sudah membuang pangeran. Tidak mungkin pangeran bisa menang. Aku harus tenang dan mencegah hal buruk terjadi. Pikir Wonshik.
"Apa keinginanmu? Aku harus tau sebelum memutuskannya." Tanya Wonshik akhirnya.
"Satu tahun yang lalu seseorang telah membunuh adikku. Aku sedang mencari orang yang melakukannya, agar aku bisa membunuhnya. Tidak perlu repot-repot ketempat kejadian karena menurut Jungkook, pembunuhnya adalah orang yang berasal dari klan Jeon. Kau seharusnya bisa menemukannya dengan cepat."
Wonshik terdiam sebentar sebelum membalas ucapan Jimin.
"Apa kau yakin orang itu dari klan kami?"
"Itulah yang dikatakan Jungkook. Untuk apa Jungkook berbohong?" jawab Jimin.
"Baiklah. Memang tidak ada gunanya dia berbohong padamu."
"Kalau begitu cepat dan temukan pembubuh adikku, Yoongi. Dan bawa dia padaku hidup-hidup. Itulah keinginanku." Ucap Jimin lantang.
Jika seseorang menggunakan sihir untuk melakukan pembunuhan itu, maka dia tidak bisa diampuni. Meski pelakunya berasal dari klan, menyerahkan pembunuh itu padanya sebagai alat tukar jimat itu adalah harga yang pantas. Pikir Wonshik.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu." Mendengar ucapan Wonshik membuat Jimin menyeringai.
"Kapan adikmu terbunuh?" Wonshik bertanya sambil mengeluarkan sepotong kayu dari sakunya.
"Tahun lalu, 23 november."
"Jaehwan, maaf jika mengganggu pekerjaanmu. Aku ingin kau menemukan sesuatu segera. Ini adalah prioritas utama kita." Ucap Wonshik pada sepotong kayu ditangannya.
Sebentar lagi, sebentar lagi, sebentar lagi dan dunia ini akan menjadi masuk akal lagi bagiku. Pikir Jimin.
Ya, kau memang luar biasa Jimin. Benar-benar luar biasa. Banyak orang yang sudah mati, dunia sudah kaacau karena pohon dan sihir, bahkan waktu juga mengalami kekacauan. Tapi kau tetap tidak peduli hal itu, demi keinginanmu sendiri. Tapi, Jimin, ini adalah sebuah tragedi. Aku memang tidak punya kekuatan atau hak untuk menghentikannya, tapi...
Sambil berpikir, Taehyung berjalan kearah patung kayu yang menjadi alat komunikasi antara mereka dan Jungkook yang tadi dibuang Jimin.
"Jungkook, ini Taehyung." Ucap Taehyung begitu patung kayu telah berada dalam genggamannya. "Perjanjian antara Jimin dan Wonshik sudah terjadi." Lapor Taehyung.
"Begitu ya. Itu artinya akulah yang sudah tidak memiliki harapan apapun." Respon Jungkook tanpa semangat.
"Apa kau ingin menyerah semudah ini? Jika kau benar, pohon exodus adalah yang akan menghancurkan dunia kan?"
"Aku tidak bisa mengatasinya lagi. Dimasamu aku sudah mati. Meski aku bisa menghentikannya untuk sementara, tapi tidak ada yang bisa menghentikan Wonshik. Sudah jelas jika aku memang tidak bisa kembali, semua kemungkinannya sudah sirna. Aku tidak bisa menghalangi Jimin untuk tidak meninggalkanku." Jelas sekali keputusasaan dalam ucapan Jungkook, dan Taehyung sangat menyadari itu.
"Jika boleh mengutip kata-kata dari Hamlet, cara menghadapi Jimin sekarang ini, aku harus menjadi dingin. Sayangnya aku tidak bisa." Taehyung tersenyum tipis mendengarkan Jungkook.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk mengutip kata-kata orang lain. Yoongi juga selalu..." Teringat akan sesuatu, Taehyung tidak melanjutkan ucapannya.
-Flashback-
Langit biru yang cerah. Semilir angin yang lembut. Suara ombak yang menyapu karang, begitu nyaman untuk dinikmati dari atas tebing beralaskan bermadani hijau alami, dan Yoongi menikmati itu semua bersama Taehyung dibelakangnya.
"Ada banyak sekali hal yang ada di surga dan dunia yang tidak bisa kita bayangkan." Ucap Yoongi sambil berbalik menatap si surai coklat yang menatapnya.
"Kata-kata Hamlet lagi ya?" ucap Taehyung.
"Benar."
"Sudah hentikan."
"Kenapa? Ini kan kisah klasik."
"Kisah itu menceritakan tragedi yang melibatkan ibu Hamlet juga kekasihnya dan kekasihnya juga dicintai oleh kakak laki-lakinya yang mati karena terobsesi untuk balas dendam. Dan Hamlet sendiri mati dalam pertarungan itu. Sangat tidak beruntung." Yoongi diam mendengarkan apa yang diceritakan Taehyung.
"Kalau begitu jika kita menghubungkannya dengan kehidupan kita, ini akan jadi pertarungan antara kau dan Jimin untuk memperebutkanku." Ucap Yoongi sambil berjalan kearah Taehyung.
Taehyung menunduk sebelum membalas ucapan Yoongi dengan enggan. "Dan menurutku hal itu bisa saja terjadi."
"Jika kau tidak suka kata-kata Hamlet, bagaimana kalau mengutip dari yang lain, cerita tentang pembalasan dendam tapi berakhir dengan bahagia?" setelah menyelesaikan ucapannya dan melihat Taehyung yang menatapnya bertanya, Yoongi membalik tubuhnya berjalan menuju pinggir tebing dan menatap birunya lautan yang membentang dihadapannya.
"Ini adalah salah satu kisah dari Shakespeare, dan ini bercerita tentang penyihir disebuah pulau."
"Penyihir di sebuah pulau?" ulang Taehyung. "Cerita tentang pembalasan dendam tetapi berakhir bahagia? Apa nama cerita itu?" lanjutnya sambil menatap Yoongi.
"Nama ceritanya adalah... Tempest."
-Flashback End-
Apa yang terjadi? Kenapa aku baru ingat sekarang? Balas dendam, pulau, penyihir, apa ini semua kebetulan?
Mungkin saja Yoongi ingin agar kisah ini tidak berakhir tragis? Apa ini alasanku ada disini? Adakah jalan untukku agar bisa menyelamatkan Jungkook dari pulau itu? Pikir Taehyung.
Aku akan mencobanya Yoongi. Aku tidak tau apakah kisah yang kau ceritakan itu bercerita tentang hantu atau monster, tapi ini adalah peran yang harus aku ambil.
Sambil menggenggam erat patung kayu ditangannya dan mengalungkannya di lehernya sendiri, Taehyung bertekad dalam hatinya.
Taehyung mengambil beberapa langkah mendekati Jimin. Menyadari pergerakan disampingnya, Jimin memalingkan wajahnya yang semula menatap Wonshik ganti menatap Taehyung.
Taehyung bergumam sambil menutup matanya dengan tangan kanannya- "Maaf Jimin." Dan melempar flashbang ditangan kirinya.
Terkejut dengan cahaya yang tiba-tiba memenuhi pandangannya, refleks Jimin menutup kedua matanya erat.
Melihat Jimin yang lengah, dengan cepat Taehyung berlari kearah Jimin dan menyerangnya. Sayangnya pukulan yang dilayangkan Taehyung berhasil dihentikan Jimin dengan perisai yang masih sempat ia buat.
"Apa yang kau lakukan?" Jimin bertanya penuh penekanan. Marah dan tidak mengerti dengan tindakan temannya itu.
"Aku ingin meminjam jimat itu sebentar." Jawab Taehyung kemudian mundur dan melempar satu lagi flashbang kearah Jimin.
Dengan menggunakan sihir, Taehyung berpindah kebelakang Jimin. Memanfaatkan Jimin yang lengah. Menyadari Taehyung dibelakangnya, Jimin dengan cepat menghindar sebelum pukulan Taehyung berhasil mengenainya. Jimin menyeringai setelah membuat jarak yang cukup aman baginya dari Taehyung.
"Darimana kau mendapatkan benda-benda itu?" Jimin bertanya sambil menatap remeh Taehyung.
"Apakah kau percaya jika aku mengatakan mendapatkannya karena memesan lewat telpon?" Taehyung balik bertanya sebelum kembali menyerang Jimin.
Wonshik yang sedari tadi mengamati Taehyung dan Jimin, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Berusaha mencari kesempatan untuk dirinya sendiri.
"Pohon diantara pohon, pohon besar diantara pohon besar, dengarkan kata-kataku dan kabulkanlah keinginanku." Sarung pedang menghilang, digantikan dengan terlihatnya pedang tajam yang selalu dibawa Wonshik.
Aku tidak akan membiarkan ini semakin tidak jelas. Pikir Wonshik kemudian melesat menuju Taehyung, menyerangnya.
Dengan cepat Taehyung membuat perisai melindungi tubuhnya dari tajamnya pedang Wonshik. Serangan berikutnya Wonshik persiapkan, belum sempat ia menerjang Taehyung, dirinya sudah lebih dulu diterjang Jimin. Membuat Wonshik menjauh dari Taehyung.
"Berani-beraninya kau menyerang Taehyung." Marah Jimin.
"Jangan bodoh. Jika dia berhasil mencuri jimat itu, itu tidak akan baik." Wonshik balas menjawab dengan marah.
"Diam. Jangan ikut campur."
Saat sibuk berdebat, sebuah flashbang mendarat diantara kaki Jimin dan Wonshik. Terkejut dengan cahaya tiba-tiba itu, Jimin dan Wonshik refleks mundur, saling menjaga jarak.
Taehyung sendiri sebagai tersangka pelempar flashbang memanfaatkan situasi dan berpindah ketempat Wonshik sebelumnya berada, berdiri disamping tong berisi kerangka tubuh Jungkook.
Melihat itu Wonshik menggeram kesal.
Bisa-bisanya aku terlibat dalam pertengkaran anak-anak kecil ini.
.
.
.
Sambil berlari menghindari peluru yang mengincarnya, Namjoon sesekali mendarat diatas tank. Berusaha melenyapkan kendaraan berat tersebut.
"Sekarang 20."
Belum sempat melenyapkan tank yang dipijaknya, Namjoon harus dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba menyerangnya dengan tombak. Beruntung, Namjoon masih sempat melindungi dirinya dan mengambil langkah mundur. Membiarkan topi yang menutupi surai blondenya terlempar, Namjoon memfokuskan pandangannya pada orang yang menyerangnya tadi.
"Seperti dugaanku jika dua perisai sihir saling berhadapan, setidaknya aku masih bisa menghadapimu." Ucap orang itu yang kini menggantikan Namjoon berpijak diatas tank.
"Siapa kau?" geram Namjoon.
"Nama keluarga Kim. Nama depan Seokjin. Tapi kau bisa memanggilku Jin. 28 tahun dan pengangguran." Sambil menatap Namjoon dari atas tank, Jin tersenyum. "Aku datang memberikan sambutan."
.
.
.
"Kenapa kita kemari? Alasan kenapa kita harus datang adalah untuk nyawa seorang pemuda yang mengalami tragedi. Tapi apa boleh kita juga meninggalkan pemuda lainnya yang berada diposisi yang sama? Apa kau benar-benar ingin membiarkannya mati? Demi balas dendammu, apa kau benar ingin itu terjadi? Ditempat dimana buah itu muncul, kau menyelamatkan seorang pria yang sebenarnya tidak perlu kau selamatkan. Bukankah itu karena kau tidak bisa membiarkannya begitu saja?" Tanya Taehyung sambil menatap Jimin serius.
"Aku tidak punya pilihan. Jungkook di pulau itu adalah Jungkook dimasa lalu. Jungkook yang sekrang adalah tulang-tulang disampingmu. Apapun yang kita lakukan, dia sudah mati. Tapi alasanku masih tetap sama, yaitu menemukan pembunuh itu." Jawab Jimin.
Dengan patung kayu yang berada dileher Taehyung, Jungkook dapat mendengar semua yang dibicarakan Taehyung dan Jimin, meski dirinya tidak merespon apapun. Merasa tidak ada yang perlu ia katakan, putus asa karena tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
"Kalau begitu, jika ada jalan untuk balas dendam dan menyelamatkan Jungkook, maukah kau kembali berpihak pada Jungkook?" bukan hanya Jimin, Wonshik pun yang ikut mendengarkan terkejut dengan pertanyaan Taehyung.
"Tidak mungkin kita bisa menyelamatkan orang yang sudah menjadi tulang belulang. Meski dengan sihir kita tidka bisa membangkitkan orang yang sudah mati."ucap Jimin, kesal dengan hal bodoh yang Taehyung katakan.
"Aku tau." Gumam Taehyung. "Orang yang mati tidak akan hidup kembali. Yoongi juga tidak akan hidup kembali. Tapi aku sudah siap untuk membuktikan jika ada jalan untuk mendapatkan Jungkook kembali, dari dimensinya dua tahun yang lalu."
Pernyataan Taehyung kembali memberi kejutan bagi Jimin dan Wonshik.
"Meski itu benar dan aku bisa menemukan pembunuh Yoongi, kenapa aku harus kembali berpihak pada Jungkook? Apapun caranya tidak ada untungnya untukku." Diam-diam Wonshik tersenyum, lega Jimin tidak akan berpihak pada Jungkook lagi.
"Tapi ada satu hal, jika kau mau kembali, aku akan memberitaukan padamu identitas kekasih Yoongi." Sekali lagi pernyataan yang mengejutkan dari Taehyung.
Jimin terdiam dengan apa yang didengarnya kali ini. Dengan kepala yang tertunduk dan tangannya yang sedikit bergetar memegang senjata (jimat spesial yang disebut Jungkook) Jimin menggumamkan sesuatu.
"Sebaiknya kau tidak membuat ini menjadi runyam."
"Untuk apa melakukan itu." Taehyung berujar yakin.
"Apa kau benar-benar tau siapa orangnya?" Jimin kembali menggumamkan pertanyaan.
Ya. Karena orangnya adalah aku. Jawab Taehyung dalam hatinya.
"Ya, aku tau." Adalah jawaban yang Jimin dengar.
"Tapi Jimin, jika kau tidak mau, aku tidak akan memberitaukanmu siapa orangnya. Kau tidak akan pernah mengetahuinya selamanya." Jimin terlihat memikirkan apa yang Taehyung katakan.
Tunggu, siapa yng peduli soal itu? Kenapa jadi seperti ini? Ini tidak mungkin. Pikir Wonshik, cukup panik dengan apa yang akan dipilih Jimin.
"Aku tidak akan setuju semudah itu. Tidak mungkin bisa membangkitkan kembali Jungkook dari tulang-tulang itu." Ucap Jimin masih ragu dengan Taehyung.
"Aku akan membuktikan padamu jika itu mungkin. Jika aku berhasil, maukah kau kembali kepihak Jungkook?"
"Dan jika aku mau, kau akan memberitauku kekasih Yoongi kan?"
"Jika kita berhasil, aku akan memberitaumu." Janji Taehyung.
Jimin menatap lekat netra Taehyung, mencari keraguan akan apa yang diucapkan pemuda berambut cokelat itu. Setelah mengamati beberapa saat Jimin tersenyum remeh.
"Baiklah. Buatlah yang tidak mungkin menjadi mungkin." Ucap Jimin.
"Oi apa yang kalian lakukan? Apa yang kau katakana?" Wonshik bertanya panik.
"Menurutmu Jungkook sudah mati kan? Kenapa kau panik?" Wonshik tertegun dengan pertanyaan Jimin padanya. "Kau butuh waktu untuk mencari pembunuh Yoongi kan? Ini kesempatan yang bagus." Lanjut Jimin.
Wonshik menghela nafas sebelum menancapkan pedangnya ketanah.
"Baiklah aku setuju." Jimin tersenyum senang dengan respon Wonshik.
"Taehyung, aku akan mendengarmu. Tetapi..." Jimin menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon sebelum melanjutkan ucapannya. "Hanya sampai pembunuh Yoongi ditemukan. Jika sebelum itu kau tidak berhasil, perjanjian kita batal." Lanjutnya sambil mengarahkan pistol ditangannya pada Taehyung.
"Baiklah." Taehyung menyanggupi.
Hujan yang sebelumnya begitu semangat membasahinya, kini tersisa rintikan dengan intensitas yang semakin berkurang sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Langit cerah perlahan menggantikan awan mendung yang menyelimuti langit.
Aku tidak percaya ini, situasinya berbalik secara drastis hanya karena kekasih. Apa yang terjadi dengan dunia ini? Semua kejadian didunia ini, semua makhluk hidup, laut, langit, awan, angin, dan matahari...Semuanya sekarang pergantung pada seseorang...Seseorang bernama Yoongi. Pikir Jungkook tidak percaya.
"Baiklah. Ini adalah teoriku." Ucap Taehyung.
-NEXT?-
