Title: Closer
Rated: T
Genre: Romance, Angst, Drama
Cast: Sehun (EXO), Luhan (EXO), EXO
Author: Wind Saseum
Disclamer: the story is mine and the casts is God's
Chapter 10: That Day
"Kau baik sekali, Sehun-ah." Gumam Luhan. bibir plum-nya menyunggingka sebuah senyuman—hanya senyum tipis tetapi sukses membuat sesuatu dalam hati Sehun berdenyut. Apa-apaan ini?
"jadi, kau mau makan apa?" Tanya Sehun tanpa menatap Luhan, ia lebih memilih untuk memusaktkan pandangannya pada meja belajar namja Chinese itu. Sehun tak ingin denyutan aneh yang ia rasakan semakin menjadi-jadi jika ia terus menatap Luhan.
Sehun menyukai Luhan, dan namja itu akhirnya mengakuinya juga setelah sempat berbohong pada dirinya sendiri. Awalnya Sehun tidak pernah menyebutnya sebagai rasa suka, namja itu lebih suka menyebutnya sebagai rasa tertarik. Tetapi lama kelamaan Sehun lelah juga untuk membohongi dirinya sendiri dan mulai mengganti kata tertarik dengan kata suka walaupun sejujurnya hati Sehun belum siap untuk itu. Masih ada ketakutan di sana.
"Bubur. Karena hanya itulah yang bisa kumakan untuk saat ini."
"baiklah, aku akan meminta maid-mu membuatkannya."
Luhan kembali tersenyum, namun kali ini kegetiran terlihat jelas di senyum Luhan itu. Sakit yang tadinya sempat menghilang kembali menggerogoti hatinya ketika punggung Sehun mulai menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu kamarnya.
"apa yang harus aku lakukan Sehun-ah? Terus mencintaimu atau melepaskanmu sama seperti yang dilakukan Yixing?"
Kesunyian di kamar Luhan berubah ketika isakan mulai terdengar. Luhan kembali menangis.
Bagi Zitao, tinggal di rumah Sehun seperti tinggal di penjara dengan jeruji besi tak kasat mata. Bukan karena Mr. Oh dan Mrs. Oh tidak memperlakukan dia dengan baik—kedua orang tua itu bahkan memperlakukan Zitao seperti anak mereka sendiri, tetapi karena Zitao harus terperangkap dalam situasi dimana ia dipaksa secara tidak langsung untuk kembali mencintai Sehun dan itu bukanlah hal yang gampang bagi dirinya, karena sekuat apapun ia mencobanya tetap saja hatinya menolak. Hatinya sudah tak bisa diberikan pada Sehun lagi, sebab hatinya telah ia berikan pada orang lain.
Gemericik dari suara air mancur memecah keheningan malam di taman belakang kediaman keluarga Oh. Zitao merebahkan dirinya diatas rumput dengan kedua tangann menjadi tumpuan kepalanya. Langit gelap tanpa bintang menjadi objek pengelihatan namja bermata panda itu. Ia tersenyum kecil—sedikit tak percaya bahwa dirinya kini berada di Seoul setelah sekian lama berlari dari perasaan bersalah dan menyesal yang mengejar-ngejarnya. Perasaan bersalah pada Sehun, dan perasaan menyesal karena harus meninggalkan orang yang ia cintai tanpa mengakui perasaannya pada orang tersebut.
"Zitao-ssi, sebaiknya anda segera masuk ke dalam. Udara di luar sangat dingin." Suara itu sontak membuat Zitao menoleh dan mendapati seorang namja dengan tubuh tinggi dengan tuxedo hitam sudah berdiri di sampingnya.
"Sebentar lagi, Kris. Aku masih ingin berada di sini."
"aku tidak percaya dengan kata sebentar-mu itu."
Zitao terkekeh pelan kemudian mengubah posisinya menjadi duduk. "kau sama sekali tidak berubah, Kris."
"tentu saja. Aku tidak sepertimu." Balas Kris dengan nada dingin.
Tak usah dijelaskan pun Zitao sudah tahu arti dari perkataan Kris tersebut. Zitao menghela nafas panjang, raut wajahnya berubah sendu. Sekelebat memori masa lalu kembali berputar-pura di otaknya.
"sepertinya kau juga menyimpan dendam padaku."
"tidak, aku sudah tahu pada akhirnya kau akan melakukan itu pada Sehun."
"aku tidak bermaksud melakukannya, Kris. Aku hanya…"—"mengkhianati Sehun dengan mencintai orang lain yang hingga kini belum menjadi milikmu."
Zitao bungkam seribu bahasa ketika Kris memotong perkataannya. Ada jarum yang sangat tajam yang kembali menusuk-nusuk hatinya.
"kau memilih untuk lari dan bahkan kau tidak tahu apa yang terjadi pada Sehun setelah kau meninggalkannya seperti itu. Bukan begitu, Huang Zitao?" Tanya Kris dengan nada tajam.
"Aku tahu Kris! Aku tahu!" Seru Zitao seraya bangun dari duduknya dan menatap Kris dengan mata yang mulai berkaca-kaca sementara Kris hanya tersenyum sinis.
"Apa yang kau tahu, hm? Bisa kau jelaskan padaku?"
Zitao kembali bungkam. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi ia sama sekali tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas perkataan Kris tersebut.
"yang kau tahu hanyalah Sehun telah membencimu, tetapi kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan pada hatinya. Kau sama sekali tidak tahu itu Zitao…" Kris terdiam selama beberapa saat sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "karena kau, Sehun takut untuk jatuh cinta lagi."
Suasana hening menguasai taman yang hanya disinari lampu-lampu temaram itu. Suara gemericik air mancur yang tadinya terdengar samar sudah tidak terdengar lagi. Zitao masih terdiam, namja itu berusaha menahan sakit di hatinya yang semakin menjadi-jadi sebelum memutuskan untuk bersuara.
"maafkan aku." Bisik Zitao dengan bibir yang bergetar. Cairan panas kini membasahi pipi tirusnya.
"minta maaflah pada Sehun, bukan padaku." Ucap Kris sebelum berlalu dari hadapan Zitao. Membiarkan namja pirang itu berderai air mata dalam kegelapan.
Asap putih mengepul di atas mangkuk berisi bubur yang dicampur dengan beberapa sayuran itu. Luhan melahap sendok demi sendok bubur dengan hati-hati, ia tak ingin bubur itu nantinya melukai lidah dan juga mulutnya. Buburnya terasa hambar karena pengaruh demam yang membuat Luhan harus terbaring selama dua hari di ranjang ber-spray birunya.
Sehun duduk di sofa kulit yang letaknya tak jauh dari ranjang milik Luhan. Dua iris velvetynya menatap langit malam dari balik jendela kaca besar di kamar Luhan. Langit malam itu lagi-lagi tidak dihiasi bintang. Sungguh membosankan untuk dipandang berlama-lama, tetapi Sehun tak punya pilihan lain. Namja itu masih tidak ingin menatap Luhan karena kan membuat detak jantungnya semakin tak terkontrol.
Dan sepertinya mau tak mau Sehun harus mengurungkan niatnya untuk tidak menatap Luhan ketika namja berambut nut brown itu mulai beranjak dari ranjangnya dengan tubuh yang sempoyongan.
"aku mau ke kamar mandi sebentar." Gumam Luhan yang berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang terasa sangat sulit untuk ditopang kedua kakinya tetapi naas bagi Luhan karena ternyata kakinya tidak bisa membuat dirinya berjalan lurus dan kalau saja Sehun tidak segera menangkapnya, Luhan pasti sudah membenturkan badanya di lantai.
Luhan membulatkan matanya ketika mendapati tubuhnya yang kini berada di atas tubuh Sehun dan dengan jarak antara wajahnya dan juga Sehun yang tidak mencapai 5 cm. tangan Sehun melingkar di pinggang Luhan sementara tangan Luhan berada diatas dada Sehun. sesaat keduanya sama-sama terdiam dalam posisi tersebut.
Sehun tak pernah menyangka bahwa ternyata Luhan memiliki mata yang sangat indah dan juga wajah yang manis. Sehun tidak menyadarinya karena Sehun tak pernah memperhatikan wajah namja Chinese itu sedekat ini.
"Lu," bisik Sehun pelan. Velvetynya beradu dengan dua iris hazel milik Luhan.
"n-ne Sehun-ah?" Tanya Luhan gugup. Ia berharap bahwa Sehun tidak mendengar degup jantungnya saat itu.
"bisakah kau menyingkir dari tubuhku?"
Dengan cepat Luhan langsung menyingkir dari tubuh Sehun dan mengambil posisi duduk di samping Sehun yang berusaha bangun. Wajah Luhan sudah semerah tomat kala itu. "ma-maafkan aku."
"tidak apa-apa." Balas Sehun sebelum membantu Luhan untuk berdiri. Namja itu melingkarkan tanga Luhan di bahunya dan tangannya kembali ia lingkarkan di pinggang Luhan. "kau mau ke toilet kan? Biar kubantu."
"uh? Ti-tidak usah Sehun-ah, aku bisa sendiri."
"baiklah kalau kau mau kepalamu terbentur lantai, silahkan pergi sendiri." Kata Sehun yang mulai melepaskan tangannya dari pinggan Luhan.
"ah ti-tidak." Luhan menggigit bibir bawahnya. "antarkan aku."
Sehun tersenyum tipis sebelum membantu Luhan untuk berjalan ke kamar mandi. Tubuh Luhan tidak seberat yang kukira.
Sehun hanya mengantarkan Luhan sampai di depan pintu kamar mandi karena Luhan yang memintanya demikian. "aku akan menunggu di sini." Ucap Sehun pada Luhan yang sudah berada di dalam kamar mandi.
"ya." Balas Luhan dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan kegiatan manusiawi-nya, Luhan tidak langsung keluar dari kamar mandi. Ia lebih memilih untuk menatap dirinya di cermin selama beberapa saat. Rona merah di wajah Luhan masih belum hilang—bukan rona merah karena demam tetapi karena kejadian tadi.
Jantung Luhan kembali berdegup kencang ketika mengingat bagaimana wajah dari Oh Sehun begitu dekat dengan wajahnya. Nafas dari namja berambut platinum blonde itu bahkan bisa dirasakan oleh Luhan, dan jangan melupakan bagaimana tampannya wajah Oh Sehun bila dilihat dari jarak yang begitu dekat—sepasang velvety, kulit porselen, bibir plum—ah semuanya itu membuat Luhan tidak tenang.
Luhan mencintai Sehun—ya tentu saja. Tetapi ketika namja Chinese itu mengingat kembali apa yang telah ia lakukan pada Sehun membuatnya bertanya-tanya. Apakah dia masih pantas untuk mencintai Sehun? Pertanyaan itu sudah beribu-ribu kali ia tanyakan pada dirinya sendiri, tetapi sampai saat ini ia tak bisa menemukan jawabannya.
Di satu sisi, Luhan berani bersumpah bahwa ia memang sangat mencintai Sehun—lebih dari rasa cintanya pada Yixing dulu. Di sisi lain Luhan disergap rasa bersalah yang selalu memaksanya untuk segera melupakan Sehun—membuang rasa cintanya pada Sehun.
Luhan bagai berada di persimpangan jalan yang membingungkan. Jalan yang tepat akan membawanya kepada kebahagiaan sedangkan jalan yang salah akan membawanya pada penderitaan. Lalu, jalan mana yang seharusnya Luhan pilih?
"aish, eottokae?! Aku semakin bingung!" bisik Luhan frustasi.
Ketukan pelan dari luar membuat Luhan terperanjat. Sehun masih disana. "Luhan, kau baik-baik saja?"
"n-ne aku baik-baik saja." Luhan menarik nafas berat sebelum beranjak dari kamar mandi dan menemukan Sehun yang berdiri tepat di samping pintu.
"waktunya minum obat." Gumam Sehun kemudian kembali membantu Luhan untuk berjalan menuju ranjangnya.
"ya, aku akan meminumnya." Balas Luhan yang kini sudah duduk bersandar pada sandaran ranjangnya dengan beberapa butir obat yang baru saja diambilnya dari meja kecil samping ranjang lalu meneguknya dengan air putih.
Sehun hanya tersenyum kecil. Bisa bertemu Luhan selama kurang lebih dua jam membuat Sehun gembira. Itu sudah cukup mengobati kerinduan Sehun pada namja Chinese tersebut, dan pertemuannya dengan Luhan hari itu membuat Sehun sejenak melupakan Zitao—calon tunangannya yang dengan sekejap membuat hari-hari Sehun menjadi kelam.
"Lu," panggil Sehun dengan setengah suara.
Luhan melirik Sehun yang sudah mengambil tempat di sampingnya. Raut wajah Sehun kali itu sungguh berbeda, Luhan tak pernah melihat Sehun dengan raut wajah seperti itu sebelumnya.
"apa aku boleh bertanya padamu?"
"tentu saja, Sehun-ah."
"apa yang akan kau lakukan jika kau dipaksa untuk kembali mencintai orang yang pernah menyakitimu?" tatapan Sehun berubah sendu.
"entahlah Sehun-ah, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika itu benar-benar terjadi padaku."
Sehun memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum kembali bertanya. "lalu bagaimana jika kau telah menaruh perasaan pada orang lain, tetapi kau masih takut…takut jika orang itu menyakitimu?"
Pertanyaa dari Sehun itu terdengar menyakitkan di telinga Luhan dan membuat hatinya berkedut nyeri. "mu-mungkin kau hanya butuh percaya pada orang itu Sehun-ah. Pernah disakiti bukan berarti kau harus menutup hatimu, bukan begitu?"
Sehun mengulum senyum tipis. "ya, kau benar."
Luhan ikut menyunggingkan senyuman—senyuman piluh.
Tak ada percakapan yang terjadi setelah itu. Sehun memilih untuk diam dan sibuk dengan pikirannya sementara Luhan berusaha menahan sesak di dadanya yang tiba-tiba saja datang menyiksanya. Pertanyaan Sehun masih terngiang-ngiang di kepalanya—sukar untuk pergi.
Takut jika orang itu menyakitimu?
Entah hanya firasat Luhan saja atau memang benar pertanyaan itu secara tidak langsung memang ditujukan pada dirinya?
"apa aku boleh bertanya beberapa hal lagi padamu?" dua iris velvety milik Sehun kini menatap lurus sepasang hazel di depannya. Tatapan ragu bertemu tatapan piluh.
"ya tentu." Gumam Luhan pelan.
"bagaimana jika kau telah menyadari perasaanmu sendiri, tetapi semuanya sudah terlambat? Kau sudah diharuskan untuk mencintai oran lain." Suara Sehun sedikit bergetar di akhir kalimatnya.
Luhan mengerutkan dahinya seraya memikirkan jawaban untuk pertanyaan Sehun tersebut. "aku hanya perlu bejuang—berusaha mengejar cintaku itu." Jawab Luhan.
Berjuang?
Luhan membulatkan matanya ketika jawaban itu terlontar dari bibir plum-nya. Aku hanya perlu berjuang—berusaha mengejar cintaku itu.
Benar juga, berjuang. Kenapa Luhan bisa sampai lupa? Jika Luhan memang benar-benar mencintai Sehun, bukankah ia harus bejuang? Berjuang mengalahkan rasa khawatirnya, berjuang mengalahkan rasa bersalahnya, bukankah memang itu yang seharusnya Luhan lakukan sejak dulu? Bukannya membiarkan rasa khawatir dan rasa bersalah melumpuhkannya seperti ini. Yang harus Luhan lakukan sekarang hanyalah berjuang—berjuang untuk cintanya, berjuang untuk menebus kesalahannya pada Sehun.
Bukankah Kris pernah berkata padanya untuk membahagiakan Sehun? Ya, itulah yang akan Luhan lakukan sekarang. Menebus kesalahannya pada Sehun dengan cara membahagiakannya. Tetapi sepertinya Luhan melupakan satu hal yang penting. Pertunangan Sehun.
"Kris juga pernah mengatakan hal itu padaku." Ucap Sehun sembari mengingat perkataan Kris beberapa waktu lalu. Apakah kau mau berjuang sekali lagi?
"benarkah? Sepertinya aku dan Kris memiliki pemikiran yang sama." Luhan terkekeh.
Sehun kembali terdiam—mencoba menelaah semua jawaban yang Luhan berikan padanya dan sepertinya semua jawaban Luhan memang benar. Ia seharusnya tidak perlu takut untuk kembali mencintai, hanya butuh rasa percaya. Ia seharusnya berjuang—kembali berjuang demi cintanya. Tetapi ada satu lagi pertanyaan yang mengusik ketenangan hatinya, yang tidak ia tanyakan pada Luhan.
Apakah ia sanggup? Sanggup untuk kembali mencintai, sanggup untuk kembali berjuang?
Sehun tak ingin membohongi dirinya lagi. Masih ada ketakutan dalam hati Sehun dan ketakutan itu seolah tak ingin pergi dari sana.
"Sehun-ah, kenapa kau bertanya pertanyaan-pertanaan seperti itu?" Luhan tak sanggup lagi menahan hasratnya untuk bertanya.
Sehun mendesah pelan kemudian mengeluarkan senyum tulusnya—senyum favorit Luhan. "tidak apa-apa."
"oh, ne." Luhan mengangguk meskipun ia tak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Sehun. Sehun bukanlah orang yang banyak bertanya dan sungguh mengherankan jika Sehun bertanya sebanyak itu tanpa ada sebab yang jelas.
Suara dering dari ponsel milik Sehun memenuhi kamar Luhan. Sehun segera mengambil ponselnya yang ia letakan di saku celananya dan mendapati nama Kris terpampang di layar touch screennya. Jam di ponsel Sehun menunjukan pukul 9.30 malam. Sudah selarut itu ternyata pantas saja Kris menelepon.
"yoboseyo… ah maafkan aku, aku akan segera turun." Ujar Sehun pada Kris lalu memutuskan sambungan telepon dengan namja tinggi itu.
"Kau mau pulang?"
"ya, Kris sudah menunggu di bawah." Sehun meraih tas ranselnya kemudian berjalan menuju pintu kamar Luhan yang penuh dengan berbagai macam stiker sebelum membalikan badan dan menatap Luhan. "cepat sembuh. Kai, Kyungsoo, Chanyeol dan juga Baekhyun akan menjengukmu besok. Selamat malam"
"ah, Sehun-ah. Terima kasih sudah menemaniku, kau memang benar-benar baik." Seru Luhan pada Sehun yang baru saja akan menutup pintu.
Sehun tersenyum kecil sebelum menutup pintu, meninggalkan Luhan yang tersenyum bahagia. Sepertinya malam itu Luhan akan tidur nyenyak.
Sehun menghempaskan tubuhnya diatas ranjangnya tanpa melepas sepatu dan juga seragam sekolahnya yang masih melekat rapih di tubuh rampingnya. Sehun benar-benar lelah, kepalanya berdenyut nyeri dan seluruh tulang-tulangnya seperti mau patah. Hari itu Sehun tidak dibiarkan istirahat sejak pagi. Terlalu banyak kegiatan yang ia lakukan hari ini tanpa henti, mulai dari latihan, rehearsal, perform sampai yang terakhir adalah menemani Luhan yang sedang demam. Yah, mungkin kegiatan yang terakhir adalah kegiatan yang cukup menyenangkan untuk Sehun.
Senyum Sehun mengembang ketika bayangan Luhan terlintas di otaknya dan pipi Sehun menghangat ketika mengingat insiden Luhan yang terjatuh dan menimpa tubuhnya. Kedua iris hazel yang menatapnya kaget serta wajah Luhan yang begitu dekat dapat dengan sukses membuat Sehun gelisah sendiri jika mengingatnya.
"ini cinta?" Batin Sehun.
Namja pemilik platinum blonde hair itu memejamkan mata—membiarkan kegelapa memenuhi pengelihatannya. Pikirannya kini dipenuhi dengan satu kata itu—Cinta. Sehun tak mau munafik, dia memang telah jatuh cinta. Tetapi lagi-lagi ketakutan menguasai dirinya—seolah tak mengijinkan Sehun untuk kembali mencintai. Ketakutan itu membayang-bayangi Sehun dengan masa lalunya.
Tidak perlu takut untuk jatuh cinta, hanya perlu percaya. Kalimat itu Sehun gumamkan dalam hati. Hanya perlu percaya—percaya pada Luhan—percaya bahwa Luhan tidak akan menyakitinya seperti yang dilakukan Zitao.
Sehun menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Baiklah, tidak ada salahnya mencoba lagi bukan? Tidak ada salahnya kembali mencintai bukan?
Malam itu Sehun mengalahkan ketakutannya dan mencoba keluar dari zona teduh yang selama ini dipilihnya dan melangkah menuju zona hangat yang sudah ia tinggalkan selama bertahun-tahun.
"Selamat datang kembali, cinta."
Ketukan pelan di pintu kamar Sehun membuyarkan pikirannya, dan suasana hati Sehun yang tadinya begitu cerah berubah seketika menjadi kelam ketika dua iris velvetynya menangkap sosok yang kini telah berada di dalam kamar Sehun—sosok yang sangat tidak ingin dilihatnya untuk saat ini dan seterusnya.
"Pergi." Kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Sehun.
"maaf Sehun-ah, aku… aku hanya…" Zitao tersendat saat melihat Sehun yang sudah menatapnya dengan tatapan dingin tetapi begitu menusuk.
"kau tuli? Aku menyuruhmu pergi!" bentak Sehun, tetapi sepertinya itu tidak membuat Zitao menuruti perkataan Sehun. Namja itu malah berjalan mendekat dan duduk di ujung ranjang berspray putih milik Sehun.
Sehun memutar bola matanya kesal. Ia langsung beranjak dari ranjangnya. Jika Zitao tak ingin pergi, dialah yang akan pergi. Tapi niat Sehun itu terhenti ketika dua tangan berbalut sweater beige memeluknya dari belakang—tak ingin membiarkan Sehun pergi. Sehun ingin melepaskan pelukan itu tetapi rasa lelah telah menguras habis kekuatannya.
"Lepaskan aku, Huang Zitao." Gumam Sehun dengan nada dingin. Hatinya berdenyut nyeri—sakit sekali.
"Se-Sehun-ah, maafkan aku. Maafkan aku. Aku tahu aku telah menyakitimu, maafkan aku Sehun-ah." Zitao terisak. Air matanya membanjiri pipinya untuk yang kedua kali, membasahi seragam Sehun yang kusut.
"kau pikir maaf saja cukup untuk apa yang kau lakukan padaku, huh?" Sehun kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan Zitao dan kali ini dia berhasil. Sehun membalikan badannya dan menatap Zitao yang menangis terseduh-seduh di depannya.
Dulu, air mata Zitao adalah salah satu kelemahan Sehun, tetapi sekarang semuanya sudah berbeda—sangat berbeda. Air mata Zitao sudah tidak berarti apa-apa untuk Sehun. Sakit yang dirasakan oleh hati Sehun saat itupun bukan karena tangisan Zitao, tetapi karena ingatan masa lalunya—masa lalu ketika Zitao menghancurkan hatinya dan meninggalkannya begitu saja tanpa menyatukan lagi kepingan hati Sehun.
"aku…aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan agar kau dapat memaafkanku, Sehun-ah." Ucap Zitao lirih.
"pergilah dari hidupku dan jangan pernah kembali." Balas Sehun. Emosinya kini sudah berada di ubun-ubun kepalanya.
Zitao mengigit bibirnya. Kalau saja ia bisa melakukan hal yang dikatakan Sehun, pasti sudah lama dilakukannya. Satu kenyataan yang sangat pahitlah yang menahannya untuk tidak melakukan hal tersebut. "tapi aku dan kau akan bertunangan, Sehun-ah.."
Perkataan Zitao itu seperti tombak tajam yang menusuk Sehun. Sehun lupa—lupa bahwa Zitao dan dirinya tak lama lagi akan memiliki ikatan yang akan sangat sulit untuk dilepaskan begitu saja—lupa bahwa hal itu adalah salah satu alasan mengapa ia takut untuk mengakui perasaannya untuk Luhan.
Ya, Bagaimana dengan Luhan?
Bagaimana dengan perasaannya?
Sehun memaki dirinya sendiri. Rasa penyesalan menggerogotinya saat itu. Kenapa Sehun tak menolak pertunangan ini? Kenapa ia harus menuruti keinginan orang tuanya? Kenapa harus dengan Zitao? Kenapa dia begitu bodoh? Kenapa dia baru menyadari perasaannya pada Luhan ketika semuanya sudah seperti ini?
Sehun tak peduli dengan Zitao—tidak akan pernah, Sehun tak peduli dengan bisnis orang tuanya, tetapi yang dipikirkannya sekarang adalah Luhan, Luhan, dan Luhan.
Sakit di hatinya semakin menjadi-jadi—membuat dada Sehun sesak. Pandangannya mengabur oleh air yang tanpa aba-aba sudah menetes dari ujung matanya. Setelah sekian lama akhirnya Sehun kembali menangis—bukan karena menangisi Zitao, tetapi menangisi orang lain—orang yang baru saja ia cintai—Luhan.
Zitao mengerjap ketika melihat air mata Sehun mulai mengalir. Ini adalah kali pertamanya Sehun menangis di depan Zitao, dan dengan sekejap Zitao pun tahu bahwa luka yang dialami Sehun adalah luka yang sangat dalam dan menyakitkan. Perasaan bersalah semakin menghantui Zitao. Apa yang seharusnya ia lakukan sekarang?
"pergilah, aku tak ingin melihatmu!" ucap Sehun dengan suara bergetar.
Zitao ingin sekali memeluk Sehun, tetapi ia tahu itu bukanlah hal yang tepat. Sehun belum memaafkannya dan mungkin tak akan pernah memaafkannya.
"aku tahu kau mungkin tak akan pernah memaafkanku Sehun-ah, tapi kau harus tahu bahwa aku sangat menyesal dengan apa yang telah kulakukan padamu Sehun-ah. Sekali lagi maafkan aku." Gumam Zitao sembari memaksakan seulas senyuman sebelum berlalu dari hadapan Sehun.
Sehun tersungkur di lantai kamarnya, kekuatannya sudah sepenuhnya menghilang. Air mata masih enggan untuk berhenti dan sakit yang Sehun rasakan terasa semakin menyiksa.
Malam itu Sehun terisak tanpa henti dan satu nama terus terucap dari bibirnya sebelum kantuk membawanya kedalam dunia mimpi.
Luhan
Lamborghini merah itu berhenti tepat di depan gerbang SM high school. Kris menatap Sehun yang masih duduk di sampingnya—enggan untuk beranjak dari sana. Sejak tadi Sehun tidak berkata apapun pada Kris. Namja tinggi itu tahu bahwa terjadi sesuatu pada pemilik platinum blonde hair tersebut.
"kau tidak bercerita apa-apa padaku, Sehun-ah."
Sehun melirik Kris sejenak. Mata Sehun terlihat bengkak akibat menjadi anak cengeng semalaman dan wajahnya terlihat pucat mungkin karena kelelahan. Lelah fisik. Lelah hati.
"aku lupa aku akan segera bertunangan." Balas Sehun dengan suara parau. Dadanya kembali sesak ketika kata terakhir diucapkannya.
Kris dapat menangkap arti dari ucapan Sehun barusan tanpa Sehun menjelaskannya secara detil. Ia memang tidak tahu benar bagaimana rasa sakit yang Sehun rasakan, yang Kris tahu hanyalah rasa sakit itu sangat menyiksa Sehun.
Tangan Kris menepuk pundak Sehun pelan kemudian mengulum senyum kecil. "kau juga lupa untuk berusaha, Sehun-ah."
Sehun terdiam selama beberapa saat. Berusaha. Ya, Sehun juga melupakan hal itu. Apakah itu yang seharusnya Sehun lakukan sekarang?
"menurutmu aku harus melakukannya?"
"tentu saja. Kau tak akan pernah bahagia jika tak pernah berusaha untuk menggapai kebahagian itu." Ucap Kris kemudian kembali menepuk bahu Sehun.
Lagi-lagi Kris benar. Sungguh Sehun sangat bersyukur memiliki seorang sahabat seperti Kris.
Sehun hanya perlu berusaha—berusaha menggapai kebahagiaannya, sama halnya dengan 'sehun hanya perlu percaya.'
Hari itu, Sehun akhirnya memutuskan untuk kembali berusaha meskipun ada rasa tidak yakin dalam dirinya.
"ya, aku akan mencobanya."
-TBC-
Note:
halo halo saseum datang dengan chapter 10 yang semakin gaje dan kurang panjang .-.
gimana readers-nim, chapter ini memuaskan ga? ga ya. iya tau kok /iniapa/ wks
banyak yang nanya sebenarnya siapa sih yg bkin taozi ninggalin sehun trs kapan hunhannya jadian? kkk sabar ya, baca trs next chapternya /apa/
tbh saseum jg gregetan sndri knp hunhan ga jadian2 juga -_- wkwkwk
oiya, maaf ya kl saseum ga smpt bales review X( makasih banget yg udh nyempet2in review ff saseum yg gaje ini.. kalian luar biasa kkk
last, selamat menunggu chapter 11. saseum bkalan usahain update scepatnya ^^
annnyyeeeoooonggggg~
