Don't look back

.

.

.

.

by Galang

.

.

.

Main chara:

U.Sasuke

U.Naruto

H.Sakura

H.Hinata

.

.

.

Genre:Suspense,Horror.

.

.

Disc:M.Khisimoto

.

.

.

ooooooooooooooooooooooooooo

Chapter 10:True

Gelap...

Itulah keadaan yang saat ini melukiskan ruangan ini, berbekal dengan cahaya ponsel, Naruto sedikit berharap dapat melihat ruangan ini agar kakinya yang bergerak itu tak tersandung apapun.

Di arahkan cahaya ponsel tersebut pada Sakura yang bersender pada dinding dengan keadaan mata tertutup.

"Sakura? " sedikit ia sentuh kulit Sakura berharap dengan sentuhan itu dapat menyadarkan temannya ini.

Tapi itupun percuma, Naruto sedikit berharap agar Sakura sadar, banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya saat ini. Mengingat Sasuke yang entah dimana keberadaannya, yang dilakukan mereka saat itu hanya berlari, menghindari sosok yang sangat mengerikan, mengingatnya saja dapat membuat bulu kuduk Naruto berdiri seketika. Dan sekarang mereka berakhir diruangan gelap ini, sejenak menatap ponselnya, terlihat empat digit angka 04:16. Masih subuh pikirnya, dan sialnya daya batereinya tinggal 36%. Mau dimatikan takutnya nanti keadaan menjadi gelap lagi, terpaksa ponselnya harus ia nyalakan terus agar menerangi ruangan ini.

Berdiam diri seperti ini semakin membuatnya berpikir yang Macam-macam, takutnya disekitar sini bukan hanya ia dan Sakura, takutnya ada sosok lain, sebangsa makhluk yang mengejar-ngejarnya tadi. Cukup sudah rasanya membayangkan hal itu, bagaikan pergerakannya dibatasi hanya dengan membayangkan ada sesuatu disamping tengah memandangimu. Apalagi dengan keadaan gelap ini, siapa yang bisa menjamin kalau memang disini hanya ada mereka berdua? Sakura? Tidak, Sakura dari tadi belum sadar saat ia temukan tergeletak bebas ditanah.

Naruto bukan bodoh, hanya saja dia tak tahu harus kemana lagi, dia tahu tempat ini adalah pilihan yang salah, tapi salahkan tubuhnya yang sudah tak mampu berlari itu, dipaksakan untuk menguras tenaga, apalagi menggendong seorang gadis yang beratnya minta ampun.

"Akh... "

Naruto berjengit ketika merasakan sensasi tusukan pada kulit lengannya, segera ia alihkan segala cahaya kelengannya itu, tapi tak ada apa-apa, rasa perih yang ia rasakan tadi seperti halusinasi saja.

Kemudian Ia menyenter Sakura lagi, terlihat raut wajah gadis itu sangat pucat, tapi untungnya gadis itu tak demam lagi, membuat Naruto sedikit lega dibuatnya. Hanya saja kenapa Sakura sampai saat ini belum sadar, dia kelihatan seperti orang yang tertidur pulas saat ini. Dan bibirnya...

Lihat bibirnya tampak menggoda untuk dikecup, membuat darah Naruto berdesir dan pikiran liarnya mulai melayang-layang. Betapa nikmatnya jika ia sesekali mencoba memagut bibir ranum sahabatnya itu. Dan Cahaya ponsel Naruto turun lagi memfokuskan cahaya pada Dada Sakura, tambah ingin rasanya meraba-raba dada itu, ingin rasanya menghisap dua gunung kembar milik sakura, membelainya dan meremasnya pelan. Entah kenapa pikiran Naruto semakin liar.

Tapi saat ini Sakura belum sadar, bukannya itu bagus? Segera Naruto buang pikiran bejatnya itu, mana mungkin dia akan meraba-raba temannya yang sedang tak sadarkan diri itu, ini namanya mencari kesempatan dalam kesempitan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bentuk tubuh Sakura serasa Menggoda untuk dicicipi, dan celana jeans itu, bagaimana jika dia membukanya? Melihat warna pakaian dalam Sakura, dan melihat isinya.

Persetan semuanya, dia laki-laki normal, Naruto tak bisa menahannya, sedikit saja yah sedikit saja ia akan mencicipi bibir ranum Sakura, merasakan sensasi kenyal dan hangat itu. Dan mungkin meramas pelan dadanya.

Perlahan ia mendekati Sakura, dia geser badannya, kemudian tanpa menunggu lama lagi, ia coba dekatkan wajahnya itu, dan sedetik kemudian dengan mata terpejam, ie kecup pelan bibir itu, kemudian dia buka sedikit mulutnya menangkap bibir bawah Sakura, menyesapnya perlahan, sehingga menimbulkan bunyi. Terasa aneh, tapi menggoda. Naruto menggerakan kepalanya ke atas untuk menyesap bibir atasnya, dia tahan nafasnya agar tak menimbulkan udara hangat yang mungkin akan menyadarkan Sakura, tak lama dia coba menempelkan seluruh bibirnya pada bibir Sakura, membiarkan lidahnya membuat gerakan untuk membuka mulut yang tertutup itu. Hal pertama yang disentuh lidahnya adalah gigi Sakura, dia coba mencari celah terbuka dan mengangkatnya agar rahang Sakura sedikit bergerak terbuka dan...

Naruto sedikit terkejut ketika mulut itu terbuka, dan lidah lain menyambut lidahnya, apakah Sakura menyadarinya? Masih dengan mata terpejam, Naruto mencoba menggerakan lidahnya dan hal aneh terjadi, kenapa lidah Sakura makin panjang?.

Segera Naruto membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia mendapati sebuah mata merah menyala sangat dekat dengan penglihatannya. Naruto sontak menjauhkan badannya, dengan kakinya yang terus bergerak memundurkan badannya sampai...

"Akh!! "

Rasa perih menjalari telapak tangan kanannya ketika sesuatu yang dingin tertancap. Tapi ia kesampingkan dulu karena sosok yang tiba-tiba muncul didekat Sakura, tapi perlahan-lahan sosok itu menghilang.

Naruto menenangkan dirinya, berusaha agar dia bisa mengendalikan dirinya, pasalnya ini sudah terjadi dua kali ia mencumbu makhluk aneh,tak pernah terpikirkan kalau dia akan mengalami hal menjijikan ini, terasa lambungnya seperti di garuk-garus saat menyadari ia sedang mencumbu makhluk lain lagi.

Tangannya mulai terasa perih, dan dia mengambil ponselnya untuk melihat telapak tangannya tersebut.

"Uh sakit sekali" ucapnya saat melihat telapak tangannya tertancap pecahan kaca yang ada disekitar ruangan itu. Pecahan kaca itu cukup besar, sehingga menggelitik dirinya untuk mencabutnya dari permukaan kulitnya itu. Saat dicabut pecahan kaca itu, darah mengalir dari luka bekas tusukan tersebut, Naruto kemudian mengambil Kain didalam ranselnya, dan mengikat telapak tangannya berharap pendarahan itu berhenti.

"Uh... ".

Naruto mendengar Suara Sakura, dan segera saja ia langsung menyenternya, hal itu membuat Sakura menaruh lengannya tepat diwajah karena belum terbiasa dengan cahaya terang.

"Sakura? Syukurlah kau sudah sadar"

Naruto langsung mendekati Sakura, ia pegang kedua bahu Sakura agar berhadapan dengannya.

"Naruto?... Ini dimana? Dan... Uh! Kepalaku" Sakura memegang kepalanya yang terasa sakit, mengeluh karena tiba-tiba rasa pusing menghampirinya.

"Kita berada disebuah ruangan Sakura, aku tadi menemukanmu, kau pingsan tadi! " jelas Naruto sambil memijat kepala Sakura, berharap itu akan meredakan rasa pening yang sedang melanda sahabat pinknya itu.

"Dimana Sasuke? " tanya Sakura lemah, dia menutup matanya, menyerapi pijatan-pijatan Naruto pada kepalanya.

"Aku tak tahu, kami terpisah saat mencarimu tadi" tangan Naruto kini beralih ke pelipis Sakura.

"Hm? " Sakura menggumam menanggapi Naruto.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tiba-tiba menghilang dari rumah? " tanya Naruto yang penasaran dengan alasan Sakura yang meninggalkan rumah Hinata.

"Entahlah... Naruto... " Sakura membuka matanya dan menatap iris Safir itu, memang pencahayaan saat ini minim sekali, akibat gelapnya ruangan, tapi manik emeraldnya masih bisa melihat kilauan dari Safir itu.

"Kenapa Sakura? Apa ada yang sakit? " tanya Naruto berpikir bagian tubuh Sakura ada yang sakit.

Sakura menggelengkan kepalanya sejenak, kemudian kembali menatap dalam Naruto.

"Aku seperti melihat kenangan di Desa ini" ucap sakura mantap.

"Kenangan? Kenangan apa maksudmu? " Naruto semakin bingung akan pernyataan Sakura.

"Apa kau mempercayaiku? " tanya Sakura lagi, karena sepertinya yang akan ia jelaskan ini terdengar seperti mengada-ngada.

"Yah aku percaya padamu, karena kau Sahabatku" ucap Naruto meyakinkan Sakura untuk menjelaskan padanya.

"Aku tahu satu hal yang terjadi di Desa ini, penduduk disini melakukan semacam Ritual, entah itu apa namanya, aku seperti diberi gambaran kilas balik saat itu, sehingga aku dapat melihat apa yang terjadi di Desa ini" jelas Sakura menghentikan pembicaraannya.

"Apa yang terjadi?" tanya Naruto karena penasaran.

"Aku melihat seseorang dibakar Hidup-hidup pada Kobaran api, dan yang lebih mengerikannya... " Sakura menjeda kalimatnya, dia bergetar saat menggali ingatan yang tercetak jelas didalam kepalanya, ingatan tentang orang yang saling bunuh sehingga menghilangkan semua nyawa penduduk Desa ini.

Naruto diam, dia mengenggam tangan Sakura, supaya Sakura yakin melanjutkan ceritanya.

"Semua orang saling membunuh!" tak kuasa lagi menahannya, Sakura menumpahkan air matanya, sakit rasanya mengingat kejadian itu. Walaupun dia bukan siapa-siapa di desa ini, mengingat teriakan memilukan itu, jeritan, darah, dan organ-organ tubuh, membuat dirinya tak mampu menyimpan memori itu sendiri, dia ingin membagikannya.

Naruto langsung merengkuh tubuh yang bergetar itu, memberi sandaran padanya, dan menyadarkannya jika ia tak sendiri.

"Tenanglah, aku percaya ceritamu itu, dan kita akan keluar dari sini" ucap Naruto seraya mengusap kepala merah muda itu.

"Nagato... Nagato namanya" kata Sakura didalam pelukan Naruto.

Naruto tak percaya, pasalnya nama itu juga yang disebutkan oleh Hinata, berarti yang diceritakan Hinata benar adanya.

"Sakura, aku sudah tahu, kami mendengarnya dari Hinata" ucap Naruto.

Seketika Sakura langsung melepaskan pelukan Naruto, yah Sakura sadar akan sesuatu, dia menatap Naruto.

"Naruto... "

Naruto heran dibuatnya, karena tiba-tiba saja Sakura bereaksi begitu.

"Kita harus kembali ke rumah Hinata! " ujar Sakura, dia merasa ada sesuatu didalam rumah itu dan ia ingin memeriksanya.

"Apa maksudmu sakura? " Naruto mencoba mencari keanehan dalam Emerald itu, bingung dengan maksud temannya, apa maksudnya ingin kembali ke rumah Hinata.

"Ada yang ingin kupastikan! " Sakura berkata kemudian langsung bangkit dari duduknya.

Tapi saat ia bangkit, matanya langsung bersiborok dengan mata lain, mata dibalik jeruji besi itu, dan seketika ruangan disitu mendadak terang dan Mata Sakura mulai terbelalak melihat seseorang dibalik jeruji tengah menghadap dengannya.

"Aku tak membunuhnya".

Orang itu berkata sambil menatap datar ke arah Sakura, dan tiba-tiba tubuh Sakura langsung menegang saat merasakan sensasi kesemutan menjalar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya ditembus dari belakang, dan ia dapat melihat punggung sosok yang menembusnya tadi.

"Memang kau tak membunuhnya".

Ucap orang itu, dan Sakura langsung tahu saat melihat orang itu dari depan, yah orang berambut jabrik ini berwarna jingga layaknya matahari, orang ini yang ada dipenglihatannya waktu mendorong Nagato, orang ini yang mendorong Nagato.

"Sebenarnya, aku pelakunya"

Sakura mendengar pria itu, dan tak mengerti dengan ucapan pria tersebut, sesaat kepala Sakura mulai pusing, punggungnya seakan mau patah.

"Jadi kau yang sudah membunuh Konan? ".

Terdengar suara dari balik jeruji besi itu, Sakura tahu orang itu, orang yang bersurai merah yang tak lain adalah Nagato, Sakura mengerti kenangan ini, kenangan ini sebelum dilakukan ritual tersebut.

"Benar, dan aku tahu apa yang kalian lakukan selama ini, sejak kedatanganmu disini, kau dan Konan melakukan hal yang aneh dirumahmu itu kan? Kau pikir aku bodoh? Kau menghasut Konan untuk mengikuti ajaran sesatmu itu".

Mencoba mendengarkan setiap apa yang dikatakan orang itu pada Nagato, tapi Sakura mulai merasa mual lagi,entah kenapa prasaan ini selalu muncul ketika ia melihat kenangan.

"Jadi kau sudah tahu? ".

Nagato terdengar bertanya pada orang itu dengan nada yang datar, Kepala Sakura menjadi tambah pusing, di saat ia fokus mendengar percakapan mereka, rasa sakit, pusing, dan mual mulai menderanya.

"Aku tahu semua, semuanya, tak ku sangka kau ternyata busuk juga".

Seperti menebar kebencian, saling maki, di saat semua merasa dikalahkan dengan cara licik, tapi tanpa sadar keduanya juga memakai cara yang sangat licik untuk mendapatkan yang ia mau, Sakura membuat spekulasi sendiri akan perbincangan tersebut.

"Tapi aku mencintainya, dan aku juga tahu kebusukanmu Yahiko, kau selama ini bekerja sama dengan dia kan? Tapi sayang kekuatannya tak bisa menyamai apa yang ada di dalam Cermin Tua ku, dan akhirnya kau sendiri yang turun tangan untuk mengakhiri ini, kau kalah sebenarnya, tapi kau tak mau mengakui itu. "

Terdengar kata-kata itu dari mulut Nagato, apa maksudnya? Apa yang mereka bicarakan saat ini? Sungguh Sakura kembali dibuat bingung.

"Kau salah, aku sudah memikirkannya matang-matang, bagaimanapun caranya, aku akan berhasil mencapai apa yang kumau, dan kau! Kau akan habis dalam Ritual pembersihan dosa! ".

Sakura paham jika ini kenangan sebelum dilakukannya Ritual tersebut, tapi maksud kata-kata mereka sungguh ia tak paham sama sekali, satu hal yang ia tahu, bahwa pembunuh Konan bukanlah Nagato, melainkan seorang pria yang bernama Yahiko.

"Sakura?... Sakura?... Sadar Sakura".

Tiba-tiba pandangannya menjadi gelap lagi, dan ia merasakan guncangan pada bahunya, matanya ia pejamkan guna menghilangkan efek blur dari penglihatannya. Saat ia membukanya, ruangan itu sudah gelap, dan cahaya berasal dari ponsel Naruto.

"Sakura apa yang terjadi denganmu? " tanya Naruto dengan nada yang cemas.

"Aku tak apa... ".

"Kau kenapa?" tanya Naruto pelan.

"Naruto, ayo kita pergi dari sini, kita kembali ke rumah Hinata" jelas Sakura tak menjawab pertanyaan Naruto.

"Baiklah kita kesana" Naruto mengurungkan niatnya bertanya pada Sakura, entah apa yang terjadi pada gadis itu.

Saat Sakura ingin melangkah, tiba-tiba saja keseimbangannya goyah, dan untungnya Naruto reflek menangkap ketika melihat Sakura terhuyung.

"Kau demam lagi Sakura, apa sebaiknya kita istrahat dulu? " tanya Naruto khawatir dengan keadaan Sakura.

"Tak perlu... Ayo Naruto, kita pergi" ajak Sakura berusaha menahan keseimbangan tubuhnya, berjalan membuka pintu.

Dan Saat mereka membuka pintu, baru setengahnya, mereka sudah disuguhkan pemandangan yang sangat menyeramkan, ternyata dibalik pintu ada sosok yang berdiri mematung, sosok itu menatap tajam mereka.

Langsung Naruto menutup kembali pintu itu dengan Kuat.

"Sialan! Bagaimana ini? " ucap Naruto, dia pun sempat kaget melihat sosok itu tiba-tiba sudah berdiri dibalik pintu.

"Tak apa Naruto, buka lagi pintunya... " suruh Sakura agar Naruto membuka pintu itu lagi.

"Tapi... " Naruto sedikit ragu membuka pintu itu, namun dia tetap saja membukanya.

Tak ada apa-apa setelah membuka Pintu itu, yang ada hanya angin yang dingin menerpa kulit mereka.

Keduanya keluar dari ruangan tersebut, melangkah pelan menuju rumah Hinata, tak sedikitpun dari keduanya membuka suara. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing, sedangkan Naruto berusaha menerangi jalan dengan cahaya ponselnya, Sakura memegang lengan Naruto, jaga-jaga agar ia tak jatuh lagi.

"Sakura... " panggil Naruto, karena keadaan hening ini membuatnya tak enak.

"Apa yang terjadi didalam? Apa kau melihat sesuatu? " tanya Naruto kemudian, sambil terus menyenter jalan mereka.

"Itu tempat Nagato dikurung sebelum Ritual itu dilakukan" ujar Sakura terus menatap cahaya ponsel yang ada didepan.

"Apa kau melihat kenangan disitu" Naruto sudah percaya jika Sakura bisa melihat kenangan di Desa itu, karena ceritanya tadi sama persis dengan Hinata, padahal Sakura sama sekali tak ada, waktu Hinata menceritakan tentang Desa ini, karena itu Naruto percaya bahwa Sakura bisa melihat Kenangan.

"Hm, iya" ucap Sakura masih terus berjalan.

"Apa yang kau lihat disitu? Apa kau melihat Nagato? " terasa Naruto sudah kenal dengan sosok bernama Nagato, sebab dia mendengar ceritanya dari Hinata.

"Iya aku melihatnya berbincang dengan seseorang bernama Yahiko" jelasnya kemudian.

Naruto sedikit mengingat-ingat Nama itu, rasanya ia pernah mendengar nama itu disebutkan Hinata, yah Naruto mengingatnya, Yahiko adalah orang yang dijodohkan dengan Konan.

"Ah aku ingat siapa Yahiko itu, kata Hinata dia adalah orang yang di jodohkan dengan Konan" ungkap Naruto ketika mengingat salah satu cerita Hinata.

"Jadi Yahiko tunangannya Konan? Tapi kenapa dia malah membunuhnya? " tanya Sakura bingung.

"Apa? Jadi yang membunuh Konan adalah Yahiko? " Naruto malah balik bertanya pada Sakura.

"Dari yang kudengar seperti itu, Yahiko sendiri yang mengakuinya saat berbincang dengan Nagato" Sakura menjawabnya tenang, tapi ia rasa Naruto tahu sesuatu.

"Hinata bercerita, Konan ditemukan tewas di halaman rumah Nagato, dan para warga sini menuduh Nagato sebagai pelaku tewasnya Konan".

Sakura tampak diam, ternyata Naruto mengetahui setengahnya dari cerita Hinata, berarti selama ini semua warga tak tahu pembunuh sebenarnya adalah Yahiko.

"Ayo Naruto, kita bergegas" ajak Sakura agar langkah mereka dipercepat untuk sampai ke rumah Hinata.

o0o

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di tempat lain...

Sasuke pov...

Disini sangat gelap, aku sama sekali tak bisa melihat apa-apa, meskipun sudah ku ganti pandanganku, tapi semuanya sama saja, sial! Kami terjebak didalam rumah ini, seakan dikepung oleh makhluk-makhluk itu.

Hanya suara deru nafasku yang terdengar, dimana Hinata? Apa dia menahan nafasnya? Aku sama sekali tak mendengar deru nafasnya.

"Hinata? "

Ku coba panggil gadis itu, agar dia mau menyahutiku, setidaknya aku tak sendiri disini, karena kegelapannya membuatku berpikiran yang macam-macam, jangan sampai sesuatu yang lain tengah bersamaku.

"Hinata jawablah...".

Panggilku kembali, tapi hening, tak ada yang menjawab, berpikir Hinata ada dimana sama sekali membuatku pusing, karena aku tahu kami masuk sama-sama kedalam rumah ini.

Mencoba merogoh kantungku, mencari ponsel, tapi nihil, aku tak menemukannya sama sekali, sial, ini sangat gelap, sama sekali tak ada cahaya memasuki rumah ini.

Tiba-tiba saja ku lihat cahaya dari balik dinding sana, cahaya itu mendekat dan semakin dekat, ku rapatkan tubuhku pada pintu, takut sesuatu akan muncul saat cahaya itu mendekat. Jantungku berdegup kencang, lidahku ku gigit saat melihat cahaya itu mulai agak terang, mataku membulat, tak lama lagi dia akan menampakan dirinya, dan...

"Sasuke... "

Hampir saja aku berteriak saat ia muncul, ku kira itu adalah Hantu! Dan ternyata tak lain adalah Hinata yang memegang sebuah pelita, tapi... Dari mana ia mendapatkannya? Ruangan ini terlalu gelap, pasti ia akan menimbulkan bunyi saat mencari pelita itu.

"Kau dari mana saja? " tanyaku padanya.

"Aku mencari pelita disekitar sini" ucapnya padaku, ku lihat wajahnya disinari oleh cahaya pelita itu, ku tatap lekat-lekat wajahnya, sampai aku mendekatinya.

"Seharusnya kau bilang dulu padaku, aku jadi khawatir".

Setelah mengatakan itu, aku pun berpikir, mungkin dia mengenali tempat ini, karena pasti saat mencari pelita tersebut dia akan menimbulkan suara.

"Maaf, aku kenal dengan rumah ini, ini rumah Kepala desa" dia melihat keadaan sekitar, mungkin memastikan sesuatu.

"Begitu, apa kau menemukan sesuatu? " tanyaku kemudian.

Dia cukup lama diam, masih sibuk menelaah keadaan sekitar, kupikir dia tak akan menjawab pertanyaanku.

"tak ada, aku hanya mencari pelita saja" jawabnya santai tanpa memandangiku, dia seakan menyembunyikan wajahnya dari pandanganku.

Kami terdiam, tak ada yang memulai pembicaraan, ku lihat gerak geriknya, ku perhatikan apa yang sedang ia buat, dia bergerak tak jelas, kadang kepalanya bergerak melihat ujung lorong gelap itu, dan kadang ia melangkah sedikit untuk memastikannya, lalu kembali lagi ditempat ia berdiri sebelumnya, dia gelisah, entah apa yang membuatnya gelisah.

"Kau kenapa? " sampai aku membuka suara untuk menanyakan gelagat anehnya.

"Sepertinya aku melihat sesuatu disana" tunjuknya pada ruangan yang sangat gelap itu.

"Berikan pelita itu" kuulurkan tanganku berharap ia akan memberikan botol pelita tersebut.

Dia memberikannya padaku, kemudian aku melangkah maju menyusuri rumah ini, sedikit-sedikit kudengar suara cicit tikus, debu-debu bertempelan pada dinding, aku yakin jika aku menyentuh dinding itu,pasti banyak debu yang akan menempel pada telapak tanganku.

Hinata mengekor dibelakangku, hati-hati ku coba melirik kebawah, mungkin ada sesuatu yang akan menyandungku, tapi saat mataku menatap kedepan, ku lihat punggung yang dibaluti kimono sedang membelakangi kami, Kimono putih dengan ikatan kain merah dipinggangnya.

"Hinata" bisikku pelan, mataku terus menatap sosok itu yang seakan menunduk, dapat kulihat punggungnya bergetar, seperti menahan tangis.

"Kau melihatnya?" aku memastikan kalau bukan diriku saja yang melihat sosok itu, dan kudengar gumaman Hinata pelan, aku yakin ia juga melihatnya.

Tak lama kemudian, sosok itu bergerak, membalikan badannya kesamping kiri dan terus berjalan, sekilas aku melihatnya sampai dia menghilang dibalik dinding itu.

"Itu Konan".

Sedikit terkejut saat Hinata mengatakan siapa sosok itu, sebab aku juga pernah melihatnya, saat itu aku tengah berlari bersama Naruto.

Naruto? Yah Naruto, aku tak tahu dimana sahabatku itu sekarang, memikirkannya saja membuatku pusing, karena kedua sahabatku kini menghilang dan tak tahu dimana sekarang keberadaannya.

Ku coba mengikuti sosok barusan, takut? Jelas saja aku takut, tapi seperti ada yang mendorongku mengikuti kemana perginya, seperti sesuatu mengatakan, aku harus terus mengikuti sosok itu, sepertinya ia ingin menunjukan sesuatu.

Kini kami berdiri di sebuah pintu yang tampak usang, karena tadi kulihat sosok itu menembus pintu ini, apa kira-kira yang ada di dalam? Apakah ini hanya jebakan? Apakah setelah kubuka pintu ini, akan ada penampakan yang lebih menyeramkan.

Tapi tetap saja tanganku seperti tergerak sendiri dan meraih kenop Pintu lalu membukanya, aku membawa pelita itu masuk sedikit kedalam ruangan yang terlihat seperti sebuah kamar.

"Ini kamar Konan" ucap Hinata, dan memang benar kulihat dekorasi kamar ini milik perempuan, tapi sudah usang, cat putih itu sudah mengelupas dari dinding. Dindingnya pun ada yang berlobang, beberapa lembar buku berserakan dilantainya saat kami berjalan memasuki kamar ini.

Dan seketika muncul sosok berkimono tadi yang kami yakini adalah Konan, ia berdiri tak jauh dari kami, rona wajah yang sangat pucat, expresi datar, sehingga jika dipandang terkesan menyeramkan.

Angin menghembus sehingga menerbangkan beberapa lembar kertas dilantai, tanganku yang memegang pelita semakin erat, seakan aku ingin memecahkan botol itu. Aku siap, jika memang dia terlihat akan menyerang, pikiranku fokus pada pelita yang kupegang.

Selang beberapa detik sosok itu menghilang dengan disusulnya angin yang berlalu. Hilang begitu saja tanpa jejak, kubiarkan diriku diam seakan menunggu sosoknya yang mungkin akan menampakan dirinya lagi. Hanya saja getaran pada tubuhku tak mau berhenti, yah jujur saja aku takut sekali. Mungkin Hinata juga tengah menahan takutnya, tapi sama sekali ia tak mengeluarkan suara, aku merasa tak ada seseorang dibelakangku, hawa kehadirannya sangatlah kecil.

"Hinata? " kupanggil namanya untuk memastikan jika dia memang masih bersamaku, sehingga membuat perasaan cemas ini sedikit lega.

"Iya... ".

Tak perlu aku berbalik, tak perlu melihatnya, cukup mendengar suaranya saja,sehingga aku yakin dia masih bersamaku.

Pelan kulangkahkan kaki ini menuju tempat berdirinya sosok tadi, naluriku berkata, arwah, atau apalah itu... Ingin menunjukan sesuatu.

Ku lihat sebuah meja didepanku saat aku berpijak ditempat makhluk itu berdiri tadi, meja yang lumayan besar. Saat kuletakan pelita diatas meja itu, aku menemukan sebuah buku usang bersampul biru tua.

"Buku apa ini? " aku mengambil buku itu, nampak bagian bawah sampulnya sudah sobek, sehingga terlihat bagian dalamnya.

Aku membuka buku itu dan membacanya dalam hati...

Juni,06,1992.

Hari ini seorang kerabat dekat datang ke rumah, bersama anaknya yang bernama Yahiko, mereka berkumpul diruang tamu, aku yang saat itu...

kaget karena mereka berencana menjodohkanku dengan Yahiko. Tapi kupikir, tak ada salahnya...

Banyak halaman yang sudah tak dapat kubaca, saat kubalik sampulnya,aku menemukan nama Konan tertera dibagian depannya. Dan ku tebak buku ini adalah milik Konan, ini adalah catatan hariannya.

Aku membalikan halaman tiap halaman, dan berhenti pada halaman tengah.

Saat mendengarnya,aku penasaran, siapa pendatang baru itu?.

Tapi pada hari itu ada seseorang datang ke rumahku, dan ia sedang mencari pekerjaan, ku tahu orang itu yang dibicarakan para warga, yah dia si pendatang baru itu.

Ayah memperkerjakannya sebagai tukang kebun dirumah, dan juga mengizinkannya tinggal di rumah nenek Chiyo yang sudah kosong.saat itu aku semakin akrab dengannya sehingga tanoa sadar aku...

Hmm mungkin pendatang baru itu adalah Nagato, yah seperti yang diceritakan oleh Hinata pada waktu itu, ku baca lagi halaman selanjutnya.

Tiap hari aku datang ke rumahnya, dan satu hal yang aneh, Cermin tua yang tergantung didinding rumahnya,entah kenapa saat menatap Cermin tersebut, aku seakan dihipnotis untuk terus memandangi pantulanku pada cermin, sampai Nagato mengatakan padaku, untuk tidak melihat pada Cermin itu.

Saat ku bertanya alasannya, dia tak mengatakan apapun...

Dan pada suatu malam, aku berencana ke rumahnya untuk membawakannya makanan. Saat sampai di rumah Nagato, aku tak sengaja mendengar suara aneh, Nagato seperti berbicara pada seseorang. Ku intip melalui celah pintu, dan aku hanya melihat Nagato tengah memandangi Cermin tua tersebut. Aku bingung, apa yang sedang ia lakukan, saat itu aku juga takut...

Aku semakin penasaran membaca lanjutannya, tapi kuhentikan saat pundakku disentuh dari belakang, dan kutahu itu Hinata, ia berkata...

"Ayo kita pergi dari sini".

"Hn" aku memasukan buku itu didalam ranselku, mungkin aku akan membacanya lagi Nanti.

Tapi ada sesuatu yang janggal saat ku ingat halaman-halaman buku harian tersebut, seperti halnya ada yang menyadarkanku bahwa ada yang aneh dari buku itu, tapi aku mengacuhkannya, membuang jauh-jauh pikiranku itu.

"Kita keluar dari sini..."

Ucap Hinata membuyarkan lamunanku, tapi saat melihat Hinata, wajahnya, mata rembulan itu, aku merasakan sesuatu...

End Sasuke pov...

o0o

.

.

.

.

.

.

.

"Sakura sebenarnya ada apa di rumah Hinata? Sehingga kau ingin kembali? " tanya Naruto

"Ada yang ingin kupastikan! " serunya sambil terus melangkahkan kakinya.

"Tapi sepertinya aku lupa jalan kesana" ucap Naruto, karena sebelumnya sedari tadi berlari tanpa arah membuatnya lupa kemana arah rumah itu.

Keduanya tetap berjalan, rasa sunyi menemani mereka. Tapi itu membuat. kewaspadaan mereka tak turun, walaupun keadaan sekarang sedikit aman, tapi siapa yang bisa menjamin kalau ini akan bertahan terus?. Sementara keduanya sudah mengalami bagaimana rasanya di kejar sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan. Di saat kau sudah lelah, tapi disitu kau harus terus memaksa dirimu untuk terus berlari, meskipun kau tak punya tenaga lagi, dan itu sebuah keharusan. Tak ingin tertangkap oleh sosok yang sangat mengerikan, dan tak tahu bagaimana nasib selanjutnya jika tertangkap.

Setidaknya keduanya mencoba menenangkan diri saat ini, menghilangkan rasa trauma itu sejenak, merilekskan otot-otot yang sudah menegang. Masing-masing bisa merasakan bagaimana harapan satu-satunya telah musnah saat ini, yah Sasuke entah dimana ia berada saat ini. Itulah harapan keduanya untuk dapat keluar dari sini. Tapi mereka tak akan menyerah layaknya orang yang pasrah akan kehidupan. Mereka harus terus berjuang agar semuanya bisa selamat.

Naruto melihat tangan kanannya yang terbalut oleh kain, sebelum terluka ia memang sudah merasakan sesuatu yang sakit menusuk tangannya, dan tanpa ia sadari, tangannya tertancap oleh pecahan kaca karena ulahnya sendiri.

Coba menatap kedepan, dan masih menyenterkan jalan dengan ponsel, harap-harap cemas ia tak menemukan sesuatu, ini jalan yang sudah pernah ia lewati bersama Sasuke sebelumnya, tentu saja ia ingat bagaimana kejadian mengerikan waktu itu. Mengingatnya kembali membuat Naruto mengigil ketakutan.

"Naruto! "

Terdengar suara teriakan dari arah belakang, segera keduanya membalikan badan, karena mereka mengenal suara itu. Dibelakang terlihat dua orang berlari menuju ke arah mereka, tak salah lagi, itu Sasuke dan Hinata.

"Sasuke? " ucap Sakura pelan.

"Sasuke kau dari mana saja baka! " cerca Naruto saat keduanya berada didepan mereka.

"Kita pergi dari sini sekarang, ayo! " tak menjawab pertanyaan Naruto, Sasuke malah langsung mengusulkan untuk meninggalkan tempat ini secepatnya.

"Tunggu dulu... " tahan Sakura.

"Kita harus pergi sekarang, ayo jangan menunda-nunda waktu" ucap Sasuke menarik lengan Sakura.

"Hinata kalian dari mana saja? " tak dijawab Sasuke, Naruto kini ganti tanya Hinata.

Tapi Hinata juga tak menjawabnya, gadis bersurai Indigo itu hanya diam, tak sedikitpun Juga ia melirik Naruto.

"Yah sudah, ayo kita pergi" ujar Naruto kemudian.

Keempat remaja itu terus berjalan dikegelapan Desa ini, Naruto mencoba menyejajarkan langkahnya dengan Sasuke yang ada didepan sedang memegang lengan Sakura, sementara Naruto berjalan beriringan dengan Hinata. Tak ada yang mau berbicara, ini membuat Naruto sedikit merutuki teman-temannya yang diam saja, mau mulai pembicaraan pun entah apa yang mau dibilang. Dia diam seribu bahasa, mengikuti mereka terus berjalan membawa jalan.

Hawa disekitar mulai tak bersahabat,kabut-kabut mulai bermunculan, sepertinya pagi akan datang, suasana sekitar mulai terasa dingin. Tak terasa pelan langkah mereka membuat Naruto semakin kalut saat itu. Walaupun sekarang mereka sudah bersama, hanya saja ada sesuatu yang menganggu dalam dirinya, dia gelisah,cemas,dan takut.

Rasa takut akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tapi sedikit demi sedikit dia mengerti, bagaimana caranya membuat tubuhnya ini yakin sepenuhnya agar terus ikut, ikut dalam langkah mereka. Tubuhnya yang dari tadi menahan getaran mencoba untuk menyesuaikan keadaan, dia tahan rasa takutnya, melupakan hal-hal yang selalu mengitari segala pemikiran yang diluar nalar. Tapi bukankah sesuatu yang ganjil selalu terjadi? Dan secara terang-terangan teror terus hadir menemani mereka.

Mengulang kejadian, seperti misalnya tak mengikuti Sasuke ke desa ini. Mungkin saat ini ia tengah asik menikmati liburnya, tapi dia tak bisa begitu, dia tak bisa tak ikut saat tahu temannya akan pergi sendiri di suatu tempat. Maka dari itu dengan penyesalannya, ia pasrah dengan keadaan.

Sebenarnya dari awal Naruto memang berfirasat tak baik sewaktu mengunjungi tempat ini. Tempat ini begitu kuno, saat matanya menyaksikan langsung bangunan rumah-rumh di sekitar Desa ini. Perbandingan dengan tempat tinggalnya sangatlah jauh. Tempat ini menyimpan cerita kelam, pembunuhan, dan penyiksaan.

Kalau saja tahu akan hal ini, pasti si Sasuke sahabatnya itu membatalkan niatnya untuk datang ke tempat ini. Tapi mau berkata apapun tak ada gunanya, ini sudah takdir, di atur dalam kehidupannya, saat ia lahir di dunia ini, garis takdirnya sudah di tentukan, dan suatu saat ia pasti akan ada di tempat ini, dan dia tak bisa mengubah itu. Tapi seandainya saja ada mesin waktu, pasti ia akan kembali pada saat Sasuke merencanakan hal ini, dan berusaha memaksa temannya untuk tak datang ke tempat ini, meyakinkannya bahwa tempat ini sangatlah berbahaya. Hanya saja, itu sebatas angan-angan yang tak akan terwujud.

Menghela nafas berat, sesuai keadaan hatinya saat ini, matanya mulai lelah karena waktu istrahat sedikit terganggu, yah dia hanyalah manusia biasa, bisa lelah dan bisa juga bosan. Apalagi saat ini mereka semua hanya diam, hanya melangkahkan kaki, yah ini keputusan yang tepat. Mereka akan meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat.

Sedikit dia lirik ponselnya dan melihat empat digit angka yang Tertera di layarnya, 06.01. Sudah pagi, tapi masih saja gelap disini, seharusnya sudah sedikit terang, mungkin seperti keadaan yang kemarin, kabut-kabut menyelimuti desa ini kembali. Tapi sekarang masih gelap, tak ada cahaya matahari yang muncul sedikitpun.

"Disini masih gelap, padahal sudah jam enam pagi" ujar Naruto berharap temannya menyadari keganjalan ini.

Hening...

Tak ada yang menimpali kata-katanya, ia diabaikan layaknya tak ada ditempat itu.

"Sakura" dia coba memanggil teman Pinknya itu, berharap Sakura tak mengabaikannya.

"Iya Naruto? " Sakura menjawab panggilan Naruto, tapi sama sekali tak menengok ke arah Naruto.

"Hah lupakan... " ucapnya kemudian, dengan lesuh, ia kehilangan seluruh semangatnya, sedangkan tubuhnya sudah terasa lelah dan, rasa perih...

Yah rasa perih yang ada ditangan kanannya mulai terasa lagi, rupanya dia tak menyadari bahwa saat ini ia sedang terluka. Untung saja pendarahannya sudah terhenti, dan bodohnya ia hanya mengabaikan tangannya yang terluka itu.

Sedikit ia melirik orang yang ada disampingnya, yah Hinata, gadis itu memandang lurus kedepan, seperti tak khawatir, dia terlihat santai saja. Bukannya Naruto mempermasalahkan sikap santai Hinata ini, tapi seharusnya Hinata yang memimpin jalan, bukannya Sasuke, memangnya Sasuke tahu apa? Bisa-bisa mereka malah tersesat disini lagi. Seharusnya Hinata saja yang membawa jalan.

Dan juga sepertinya mereka cukup jauh sudah berjalan, tapi sama sekali tak menemukan gerbang untuk jeluar dari desa ini, Apakah Sasuke tahu jalan pulang? Karena sebelumnya mereka sempat berlarian tanpa arah tujuan, memeriksa tempat dengan acak, tak memperhitungkan bahwa mereka bisa saja tak tahu jalan kembali lagi.

"Sasuke bukankah kita sudah cukup lama berjalan? Apakah kau tahu jalan? " tanya Naruto.

Tapi diabaikan lagi, orang itu seperti tak mendengarkan pertanyaan Naruto, malah terus berjalan tanpa memalingkan kepalanya kearahnya atau sedikit gerak gerik bahwa ia mendengar perkataan Naruto. Sasuke terus saja berjalan lurus.

"Hinata, jalan ini sudah benar? " gantian kini ia bertanya pada Hinata, tapi sama saja hasilnya, gadis itu juga diam, tanpa mempedulikan apa yang ia katakan.

"Sakura?" Naruto berpaling kedepan menatap punggung Sakura.

"Aku juga tak tahu Naruto" ucap Sakura langsung mengerti kenapa Naruto memanggilnya.

Naruto kembali diam, berusaha sabar akan prilaku teman-temannya, Sasuke ditanya hanya diam, Hinatapun juga begitu, setidaknya Sakura menggubris perkataannya.

"Sasuke kita mau kemana? Kau jangan sok tahu disini! " teriaknya supaya Sasuke mau menggubrisnya.

Tapi sama sekali tak ada jawaban dari Sasuke, seakan temannya itu tuli tak mendengarkan apapun yang terucap dari mulutnya.

"Dan kau Hinata, harusnya kau yang membawa jalan! " kini Naruto berteriak pada Hinata, biar saja kalau mau tersinggung, dari pada mereka hanya diam tanpa bersuara, tanpa tahu kemana arah jalan mereka.

"Sakura apa kau mendengarku? " tanya Naruto lemas, dia sudah malas berteriak tak jelas dan selalu diabaikan.

"Hm iya Naruto, mungkin Sasuke tahu jalan, iya kan Sasuke? " ucap Sakura pada Naruto, dan kemudian bertanya pada Sasuke.

Sasuke sama sekali tak menjawab atau bergumam ambigu seperti biasanya, Sakura melirik wajah Sasuke yang terkesan sangat datar itu. Tapi sedikit ada yang beda ia rasa.

Sedangkan Naruto mulai merasa ada yang tak beres disini, Sasuke dan Hinata hanya diam saja tak pernah bersuara, apa maksudnya itu? Seakan mereka mengabaikan keberadaannya.

"Sasuke! " Naruto coba menyerukan Nama Sasuke, mencoba sekali lagi untuk meyakinkan firasatnya bahwa ada yang tak beres, memang benar Sasuke pendiam, dia lebih tau itu dibandingkan siapapun. Tapi diamnya Sasuke sekarang sudah tak wajar.

Diam, hening, tak ada suara, Sasuke tak bergeming sama sekali, hanya terus melangkah tanpa henti, layaknya robot yang sudah di setting untuk diam.

Jantung Naruto berdetak cepat, otaknya memberi sinyal waspada, ada yang tak beres. Kemudian ia alihkan pandangannya pada gadis yang ada disampingnya.

"Hinata?" panggilnya pelan, karena ia yakin gadis itu pasti mendengarnya walaupun sepelan apa suaranya, pasti tetap didengar, karena suasana sepi ini sangat mendukung suaranya yang utama terdengar. Dan hasilnya nihil, tak ada yang menggubris panggilannya itu.

Dengan panik Naruto melangkahkan cepat kakinya kedepan, dan langsung menarik Sakura, dan saat itu semuanya berhenti berjalan.

"Lepaskan Sakura... " Naruto berucap garang dengan pandangan yang menusuk punggung Sasuke, sedangkan Sakura bingung dibuat Naruto.

Sasuke perlahan berbalik, bertemu tatap dengan Naruto, mata Naruto seakan memancarkan kilat amarah.

Naruto langsung menepis tangan Sasuke yang memegang pergelangan Sakura, saat terlepas, Naruto langsung menarik Sakura untuk mendekatinya.

"Apa yang kau lakukan Naruto? " tanya Sakura bingung dengan tingkah Naruto barusan.

"Sakura, kau tahu... " Naruto menjeda kalimatnya.

Sementara Sasuke terus menatap mereka datar.

"Jika ku tampar si Teme ini, apa yang akan dia lakukan?" kata Naruto, dan pertanyaannya tadi ia tujukan untuk Sakura.

"Sudah pasti ia membalasnya, memangnya kau kenapa Naruto? " Sakura mulai bingung dengan sahabat satunya ini.

PLAKK!!

Naruto langsung menampar Sasuke, dengan sekuat tenaganya, dia yakin, pasti Sasuke merasa kesakitan jika memang itu... Adalah Sasuke, dan pasti ia akan membalas perbuatan Naruto.

Selang beberapa detik, Sasuke masih diam, wajahnya menghadap kesamping akibat tamparan Naruto.

"Sakura lari!!" teriak Naruto segera, dan dia yakin bahwa itu bukan Sasuke.

Sakura juga mengerti maksud Naruto menampar Sasuke, Naruto mau memastikan, jika memang yang ditampar Sasuke, pasti Sasuke langsung membalasnya, tapi ini tidak.

Sayang sekali, saat Sakura mau lari, tangan sebelahnya langsung disergap Hinata.

Tbc.

A/N: woeh lama gak update yah men, gini man, beberapa hari ini gua sakit man, karena sewaktu pulang ama teman-teman dari cuci motor disungai, entah kenapa kita-kita jadi sok disitu, pas hujan, semuanya pulang gak pake baju man, tapi. masih pake celana kok . Dan akhirnya pas malam jadi bersin-bersin bro, kepala puyeng muahahaajhahahaasori man, author curhat.

yup disini gua mulai mengada-ngada, serius gua dah pikir ini sebelumnya, pasti nemu titik susahnya, dan sekarang dimulai dari chap ini. Konfliknya harus gua pikirn matang-matang man, soalnya ini buat perkembangan cerita, tapi man! sebenarnya fic ini udah ada sih dari dulu, ceritanya juga hampir sama dengan ini, tapi setelah gua bandingin dengan cerita sebelumnya, ini termasuk kemajuan man, soalnya cerita sebelumnya itu terkesan buru-buru.

witsss gua gak plagiat kok, karena cerita sebelumnya gua juga yang bikin. cuma kalo dipublish pasti ngundang tHe Flamer fucking oh yeah(bahasanya).ceritanya menyedihkan, menjijikan amat man. (oy elu curhat lagi man).

sip man, ok man, ok?...

ok dong.

sampe ketemu lagi dichap depan.ya udah deh makasih sama reviewnya. buat silent rider, makasih juga. gua sebenarnya silent reader udah lama banget sejak smp. (curhat lagi kan).

man entah kenapa gua gak mau berhenti nulis di author note ini heheheheh, yang ada malah chap depan isinya author Note semua nanti, ya wess lah.btw man, klo mau kenal author, author sering main di fb.nama fb author (Camus sukio) akun klonengan, tapi klo mau tau fb real gua, pm aja di akun itu(kayak ada yg mau juga)

sebenarnya itu gak terlalu aktif man.

eh banyak bacot gua.

Kadang elu harus tahu sampe mana kejenuhanmu dengan mengikut sertakan dirimu ke dalam masalah.

by

Sitora gosong

(Member Ctdm)