Pairing : KaiSoo & HanSoo
Cast : EXO Members
Genre : Romance & Drama
Warning : YAOI, Typo, AU, Fashion Story
.
By HopeIce
.
.
- Perfect Catwalk -
.
Jejak-jejak sinar matahari pagi perlahan menembus kaca besar pada salah satu kamar di Paris Marriott Hotel. Tepatnya di kamar Jongin, meski tirai berwarna abu-abu itu masih tertutup sedikit. Sinar itu membentuk garis lurus dan menyentuh wajah Kyungsoo yang tengah terbaring nyaman. Ia agak menggeliat sedikit begitu merasakan udara hangat yang menerpa alam tidurnya. Dalam gerakan lambat, Kyungsoo mencoba membuka kelopak matanya.
Kini kedua mata besar Kyungsoo telah terbuka dengan tubuh yang masih terbaring dan terbungkus selimut tebal. Keningnya berkerut ketika menyadari bahwa ini bukanlah kamar hotelnya. Ia pun menoleh ke samping dan melihat bahwa satu set sofa serta meja mewah berada di sana. Seharusnya, di sebelahnya itu adalah tempat tidur Chanyeol. Kyungsoo segera bangun dengan gerakan cepat sambil memperhatikan keadaan seluruh kamar.
Astaga, semua furniture yang ada di dalam kamar itu adalah barang mahal. Kyungsoo kembali berdiri dari tempat tidur dan matanya kembali menatap horor ketika melihat bayangannya di cermin. Di sana, Kyungsoo terlihat menggunakan atasan berupa piyama yang sangat Kyungsoo yakini bahwa itu bukanlah miliknya. Piyama itu agak kebesaran untuknya dan lagi pula terlihat mahal. Kyungsoo memejamkan matanya sambil memijat tengkuknya mencoba kembali mengingat kejadian yang terjadi kemarin.
"Jongin." Kyungsoo membuka matanya lebar. Ya, Kyungsoo mengingat kembali kejadian yang terjadi sebelumnya.
Kyungsoo kembali duduk di atas tempat tidur. Ia mendesah panjang sambil mengusak wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia ingat jika kemarin Luhan mengajaknya ke Menara Eiffel lalu berjalan tidak baik hingga akhirnya Ia berakhir dengan Jongin yang mengantarkannya ke kamar hotel Jongin. Wajah Kyungsoo tiba-tiba memerah dan panas saat sebuah pikiran gila muncul di kepalanya.
"Yakkk. Apa yang kau pikirkan Kyungsoo?" Kyungsoo kembali mengusak rambutnya kasar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Suara pintu yang terbuka membuat Kyungsoo melirik dan melihat Jongin masuk lalu berjalan mendekat kearahnya. Jongin terlihat berbeda pagi itu, biasanya Ia selalu terlihat sempurna dengan pakaian yang mahal dan elegan. Kini Jongin hanya memakai sebuah kaos putih berkerah dengan celana selutut dan sandal hotel yang melapisi kakinya. Kyungsoo kembali bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk.
"Kau sudah bangun rupanya. Kau bisa menggunakan kamar mandi itu dan mengganti pakaianmu dengan yang sudah kusiapkan di atas meja. Aku akan mengajakmu keluar sambil kita sarapan." Jongin tersenyum saat melihat wajah terkejut dari Kyungsoo. Kyungsoo melirik sekilas ke atas meja yang tidak jauh itu. Ia melihat Pollo t-shirt putih dan celana hitam panjang yang terlihat ukurannya pas dengannya.
Kyungsoo yakin sekali jika itu bukan pakaian Jongin. Ini gila, sungguh tidak mungkin jika Jongin sengaja mempersiapkan pakaian itu untuknya. Di pagi yang masih awal, tentunya belum ada toko pakaian yang buka. Kyungsoo benar-benar tidak mengerti jalan pikiran dari Jongin. Wajahnya kembali memerah ketika merasakan perlakuan Jongin yang membuatnya kembali merasa spesial.
"Hei, ada apa denganmu? Wajahmu terlihat memerah." Tanya Jongin dengan nada canda. Meski ruangan kamarnya agak remang karena tirai yang belum terbuka sepenuhnya dan lampu yang tidak dinyalakan tapi Jongin tahu jika wajah Kyungsoo berubah merah.
Kyungsoo semakin tersenyum kikuk. Ia benar-benar malu karena Jongin menyadari perubahan pada wajahnya. Akhirnya Kyungsoo menggeleng dan segera berlari menuju kamar mandi yang ditunjuk Jongin tadi. Namun, ketika Kyungsoo sudah berada di depan pintu. Ia kembali berbalik dan melihat Jongin yang melihatnya sambil tertawa kecil.
"Apa semalam kau yang mengganti kemejaku dengan piyamamu ini?" Kyungsoo bertanya dengan suara pelan dan wajahnya semakin bertambah memerah ketika Jongin membalasnya dengan menggangguk dan tersenyum lebar.
Kyungsoo tak ingin Jongin melihat wajahnya yang sudah seperti tomat matang dan akhirnya memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi dengan menutup pintunya kencang. Jongin yang melihat kelakuan Kyungsoo tertawa lebar. Ia kembali melihat kearah pintu kamar mandi itu lagi.
"Aku tak menyangka bahwa pria yang kemarin menciumku di depan umum akan bertingkah seperti itu karena aku mengganti pakaiannya. Kyungsoo, kau memang sangat menarik." Kelakar Jongin dengan tertawa. Ia akhirnya berjalan keluar dan duduk di ruang televisi sambil menunggu Kyungsoo.
=== The other side ===
Luhan dan Yixing saat itu sedang duduk sambil menikmati sarapan pagi di restoran Paris Marriott Hotel. Belum banyak penghuni hotel saat itu sehingga suasana tidak terlalu ramai. Suasana itu, semakin membuat Yixing merasa tidak nyaman. Apalagi Luhan yang duduk di depannya itu tidak bicara dan juga terlihat letih. Luhan bukan tipikal orang yang diam. Ia selalu mempunyai bahan untuk diperbincangkan. Seandainya tidak ada bahan penting untuk dibahas, Luhan akan mengeluarkan beberapa lelucon ataupun berita-berita yang sedang terjadi. Suasana tidak akan pernah mati bagi Luhan.
Pagi itu, Luhan sangat berbeda. Ia mengunyah roti dengan kunyahan lambat. Biasanya, Luhan akan menghabiskan dua porsi sarapan paginya hanya dalam waktu lima belas menit. Namun, waktu sudah berjalan dua puluh menit dan sarapannya baru dihabiskan seperempat bagian. Sepanjang dua puluh menit itupun, tidak ada satupun kata-kata yang keluar darinya. Yixing memijat pelipisnya dan menarik nafas panjang.
"Anda baik-baik saja, tuan muda Xi?" Nada suara Yixing terdengar khawatir. Luhan mengangkat wajahnya dan menatap sekretarisnya itu.
"Aku tidak suka berbohong. Aku tidak sedang dalam keadaan baik." Luhan menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil menaruh kedua telapak tangannya di belakang kepala. Luhan memejamkan matanya kemudian menarik nafas panjang.
"Anda mau saya membatalkan semua acara hari ini?" Tanya Yixing dan segera mengambil tablet pcnya. Luhan yang mendengar itu segera membuka matanya dan menatap Yixing.
"Tidak perlu. Aku masih bisa mengatasi ini. Lagipula, Mom akan marah jika ia tahu kita membatalkan acara yang harus kita datangi." Balas Luhan sambil tersenyum meski Yixing tahu bahwa senyum itu terlihat hambar. Yixing tidak berargumen lagi dan langsung mengangguk.
Mereka kembali melanjutkan sarapannya dan Yixing bertambah lega ketika melihat dari kejauhan Baekhyun serta Chanyeol mendatanginya. Setidaknya suasana akan sedikit lebih hidup dengan kedatangan kedua rekannya itu. Mereka sudah berpakaian lengkap dan langsung membungkuk hormat kepada Luhan. Luhan membalas dengan tersenyum singkat dan memberikan gesture agar Baekhyun dan Chanyeol bergabung.
Seorang pelayan datang dan menyiapkan dua cangkir coffe untuk Baekhyun serta Chanyeol. Mereka mendekatkan cangkirnya dan menyeruputnya perlahan. Luhan yang menyadari bahwa ada yang sedikit janggal segera menghentikan kembali sarapannya. Ia menatap Baekhyun.
"Kemana Kyungsoo?" Tanya Luhan singkat. Namun, sanggup membuat Baekhyun, Chanyeol, dan juga Yixing terkejut. Mereka bertiga saling melirik seakan takut untuk menjawab pertanyaan Luhan.
Luhan mengeram kesal ketika belum ada jawaban yang di dengarnya. Parahnya lagi, kini ketiga orang di depannya itu tidak berani menatapnya.
"Aku tanya sekali lagi. Kemana Kyungsoo?" Suara Luhan kali ini terdengar tidak biasa. Nadanya penuh penekanan. Baekhyun memejamkan matanya sebentar dan menarik nafas sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Luhan.
"Ia bersama tuan muda Kim." Jawab Baekhyun dengan cepat.
Jawaban Baekhyun membuat Luhan merasakan kembali rasa kecewa hadir di dalam dirinya. Ia mengepalkan erat tangannya. Jika Luhan saat itu tengah menggenggam gelas bening, mungkin gelas itu akan pecah karena emosi yang meluap menguasai jiwanya.
"Jelaskan apa yang terjadi!" Perintah Luhan sambil menatap Yixing dengan siratan bahwa ini adalah mutlak. Ia yakin bahwa Yixing tahu semuanya. Yixing pun menyadari tatapan Luhan itu dan disaat inilah Ia benar-benar berharap bahwa hal buruk tidak akan terjadi.
"Kemarin saat anda mengajak Kyungsoo, tuan muda Kim juga pergi kesana. Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga semalam tuan muda Kim mengatakan kepada saya untuk memberitahu tuan Byun bahwa Kyungsoo menginap di kamarnya. Lalu, hari ini tuan muda Kim tidak akan mengikuti acara karena akan pergi bersama Kyungsoo." Yixing sejujurnya takut untuk menjelaskan kepada Luhan. Bukan karena Luhan akan bertindak diluar kontrol. Bagaimanapun juga, Luhan adalah tipikal orang yang lebih tenang dibanding Jongin. Hanya saja, justru diam dan raut wajah kecewa Luhan membuat efek yang jauh lebih mengerikan.
Dan benar, ucapan Yixing membuat Luhan terdiam. Luhan tak menyangka bahwa hubungan Jongin dan Kyungsoo lebih dalam dari apa yang ia duga. Berjuta pikiran buruk berdatangan di otaknya membuat emosi di dalam dirinya semakin mendidih. Namun, Luhan mencoba menahanya. Luhan tahu ketiga orang di depannya itu mengetahui bahwa dirinya terlihat marah dan Luhan tak akan membuat itu semakin jelas. Jadi, Luhan segera berdiri dari kursinya dan kembali tersenyum seperti biasa. Ya, seakan bahwa tidak ada yang terjadi.
"Kita harus segera bersiap menuju pagelaran busana selanjutnya." Ucap Luhan dengan nada yang kembali normal dan segera berjalan meninggalkan restoran. Yixing yang melihat itu segera ikut berdiri dan mengikuti Luhan.
Baekhyun dan Chanyeol pun saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju parkiran mobil mengikuti Luhan serta Yixing.
"Aku tak pernah menyangka bahwa ini akan semakin rumit. Dua orang pemilik Ice Mode menyukai orang yang sama." Lirih Baekhyun dengan nada frustasi. Suaranya sangat pelan hingga dipastikan bahwa hanya Chanyeol yang mendengarnya.
"Mereka adalah pria dewasa yang tahu apa yang akan mereka lakukan. Jadi tenanglah." Nada Chanyeol dengan suara tenangnya dan Baekhyun membalas dengan mendengus kepada sang asisten.
"Sayangnya, tidak banyak yang bisa menggunakan logika ketika berhadapan dengan persoalan sialan bernama cinta. Aku yakin bahwa Luhan tak akan membiarkan ini terjadi begitu saja." Baekhyun mengakhiri dengan tersenyum mengejek sambil melihat Luhan dan Yixing yang sudah berada di dalam mobil. Keduanya pun juga ikut masuk ke dalam mobil satunya.
"Kita lihat saja. Siapa yang akan kecewa nantinya? Jongin, Luhan, atau jangan-jangan justru Kyungsoo." Ucap Baekhyun lagi ketika mobil sudah berjalan menuju jalanan utama. Chanyeol yang mendengar itu membalasnya dengan tertawa kecil.
88888888888
Kyungsoo tak menyangka jika Jongin akan mengajaknya menggunakan salah satu alat transportasi umum yang biasa digunakan penduduk Prancis. Metro namanya, sebuah kereta yang dijadikan moda favorit karena murah dan juga cepat. Tentu saja, kereta seperti itu juga ada di Korea. Hanya saja, kali ini Kyungsoo bersama Jongin dan tentunya berada di kota Paris. Jadi hal ini berbeda dan juga menyenangkan.
Kyungsoo kembali melihat sisi lain dari seorang Jongin. Sosok yang lebih hangat dan juga sederhana. Jongin seakan melepas semua topengnya dan melupakan image sempurna yang tak akan berani di dekati oleh siapapun. Kyungsoo tersenyum lepas dan menyadari jika Jongin yang berada disebelahnya itu tengah mengenggam tangannya erat sementara tangan satunya sedang berpegangan pada railing besi yang terpasang di dalam Metro.
Keduanya tidak berbicara karena suasana Metro saat itu cukup ramai karena berada di jam penduduk Prancis beraktifitas. Meski begitu keduanya tak bisa menyembunyikan senyuman lepas. Mereka saling menghadap ke depan, tepatnya kearah kaca gelap yang berada di dalam Metro. Kaca itu memantulkan wajah keduanya. Jadi, meski baik Jongin dan Kyungsoo tidak saling bicara tapi keduanya saling memandangi refleksi wajah mereka yang terdapat di kaca itu.
Wajah Kyungsoo kembali memanas ketika Jongin memandangi bayangan wajahnya itu dengan intens. Udara seakan sulit dihirup dengan normal. Tatapan Jongin itu memang mematikan, seakan sanggup menghentikan sebentar seluruh sistem syaraf. Kyungsoo memutus kontak dan menundukkan kepalanya, berpura-pura untuk memperhatikan sepatu kulitnya. Sejujurnya ini dilakukan agar Kyungsoo bisa kembali menormalkan degupan jantungnya yang terus memompa dengan cepat dan sekaligus memulihkan warna wajahnya yang kini sudah memerah bahkan sampai ke telinga.
Jongin tertawa kecil memperhatikan tingkah Kyungsoo yang terlihat dari pantulan kaca itu. Kemudian, Jongin menoleh dan mendekatkan bibirnya ke telinga Kyungsoo.
"Hei, tingkahmu seperti gadis remaja." Ledek Jongin dengan berbisik. Ia kembali menjauhkan wajahnya dan melihat jika kini Kyungsoo menatapnya dengan jengkel. Kyungsoo membalas dengan tertawa mengejek seraya mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Lalu kau sendiri bertingkah seperti pria patah hati yang tak punya harapan hidup." Balas Kyungsoo dengan nada puas. Jongin kembali tertawa dan kali ini lebih lebar, membuat beberapa orang yang berada disekitarnya sedikit terganggu. Jongin tidak memperdulikan dan kembali menatap Kyungsoo.
"Kau berani sekali berkata seperti itu kepada bosmu, Do Kyungsoo." Jongin tersenyum ketika Kyungsoo meresponnya dengan mendengus dan memainkan wajahnya dengan ekspresi malas.
"Baiklah, tuan muda Kim yang terhormat. Aku minta maaf." Ucap Kyungsoo dengan nada yang dibuat-buat. Keduanya kembali saling tertawa dengan tangan yang masih saling mengenggam satu sama lain.
Jongin segera kembali menarik tangan Kyungsoo ketika sudah berada di stasiun yang di tujunya. Keduanya berjalan bersebelahan menuju pintu keluar. Jongin membawa Kyungsoo menelusuri salah satu jalanan di Paris, Rue Mouffetard. Setiap jalanan di kota Paris selalu memiliki café, hanya saja Rue Mouffetard memiliki kesan tersendiri karena suasananya, para musisi jalanannya, dan conture dari jalanannya itu sendiri. Jarak café yang bersebelahan dengan para pejalan kaki yang berlalu lalang di jalan yang tidak terlalu lebar itu.
Jongin mengajak Kyungsoo menuju salah satu café dan memilih untuk duduk di bangku yang berada di bagian luar café. Mereka kini sedang menyantap sarapan paginya. Dari jauh terdengar lagu yang dinyanyikan oleh seorang musisi jalanan membuat suasana semakin bertambah nyaman.
"Kau yakin, Nyonya Xi tidak akan marah karena kita justru berjalan-jalan dan bukannya menghadiri pagelaran busana Christian Dior?" Tanya Kyungsoo di sel-sela mengunyah sandwichnya dan Kyungsoo menyadari perubahan ekspresi di wajah Jongin ketika Ia menyebutnya nama dari ibu tirinya itu.
"Kau tenang saja. Dia tidak akan berani mengaturku dan itu berarti kau juga aman." Jongin menjawab dengan nada dingin dan kembali meminum segelas coffenya.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Kyungsoo menghentikan sarapannya dan kembali menatap Jongin dengan serius. Jongin mengangguk singkat.
"Kau membenci Nyonya Xi?" Tanya Kyungsoo lagi dan Jongin terdiam. Sejujurnya, Jongin bisa menebak bahwa Kyungsoo akan bertanya tentang hal itu.
Jika saja yang bertanya itu bukan Kyungsoo maka Jongin tentu saja akan mengacuhkannya tapi kenyataan berbeda. Jongin memejamkan matanya sebentar dan kemudian membukanya sambil menatap Kyungsoo. Jongin kembali mengangguk tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
Kyungsoo tersenyum singkat dan Ia tahu bahwa Jongin tak ingin di desak lebih dalam. Kyungsoo lalu membalas dengan mengarahkan tangannya untuk mengelus tangan Jongin yang saat itu tengah mengepal erat. Ia menggerakan tangannya lembut dan membuat Jongin kembali membalasnya dengan tersenyum singkat. Ada jeda diam cukup lama diantara mereka hingga akhirnya Jongin mengeluarkan dehaman kecil dan membuat Kyungsoo menatapnya lagi.
"Aku melihat bekas luka pada punggungmu. Aku minta maaf." Nada Jongin terdengar menyesal dan Ia pikir Kyungsoo akan meresponnya dengan marah. Namun, yang terjadi justru Kyungsoo tersenyum.
"Tidak apa. Justru aku yang meminta maaf karena telah membuatmu kesulitan kemarin malam. Kau seharusnya tidak berada disana, saat trauma itu kembali menghantuiku."
"Apa traumumu itu selalu menghantuimu?" Jongin bertanya dengan nada khawatir dan kini tangannya sudah berada di tangan Kyungsoo, memainkan jemari halus Kyungsoo. Sebuah aliran hangat menyatukan keduanya lewat gerakan sederhana itu. Kyungsoo tersenyum lembut sambil menggeleng, merespon pertanyaan Jongin.
"Tidak juga, hanya disaat aku sedang merasa sangat frustasi dan tertekan. Kenangan kelam itu biasanya datang tapi aku baik-baik saja. Jadi jangan khawatir." Kyungsoo menjelaskan dengan raut wajah yang biasa seakan tak menyiratkan satupun kebencian pada traumanya itu.
"Kau membenci pria itu?" Pertanyaan balik Jongin membuat Kyungsoo yang sekarang terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Jongin akan memberikan pertanyaan yang sama. Kyungsoo terdiam sebentar dan kembali menatap Jongin.
"Tidak lagi." Jawab Kyungsoo singkat dan sanggup membuat Jongin menatapnya heran.
"Maksudmu? Kau tidak membenci tuan Do? Bagaimana mungkin kau tidak membenci orang yang telah melukai kau dan juga nyonya Do? Bahkan orang itu berniat membunuhmu. Lalu, sekarang orang itu justru meninggalkan trauma seumur hidup padamu. Bagaimana bisa Kyungsoo? Bagaimana bisa kau tidak membencinya?" Jongin mencoba menahan frustasinya ketika kini Kyungsoo meresponnya dengan tertawa kecil. Jongin ingat sekali, bagaimana Kyungsoo kemarin malam terlihat sangat ketakutan saat traumanya itu kembali muncul dan kini Kyungsoo mengatakan tidak membenci pria itu.
"Karena dia sudah tidak ada, Jongin. Untuk apa aku membenci orang yang sudah tidak ada? Lagipula, ketika Ia sudah tidak ada. Aku merasa bahwa Tuhan memberikan banyak keberuntungan untukku dan Mom. Dad dipenjara setelah itu, lalu berakhir dengan bunuh diri. Setahun setelahnya, Mom bertemu dengan pria lain yang jauh seribu kali lebih baik dari Dad. Bahkan Ia hidup tenang di Jepang. Itu sudah membuatku cukup." Jelas Kyungsoo dengan penuh keseriusan dan Jongin bisa melihat itu. Bahwa tak ada kebohongan di wajah Kyungsoo.
"Tapi ia membuatmu hilang ingatan dan meninggalkan trauma yang terus membekas dihidupmu?" Jongin sungguh heran dengan jalan pikiran Kyungsoo. Ia memandangi Kyungsoo dengan ekspresi penuh tanya.
"Ya, aku benci disatu sisi itu. Disaat Ia membuatku hilang ingatan dan menciptakan trauma tapi disisi lain aku sadar bahwa Ia sudah tidak ada dan kini justru menciptakan keberuntungan. Meski trauma itu terus membayangiku. Aku masih punya orang-orang yang bersedia menemaniku untuk melewatinya. Jadi rasa benci itu semakin lama semakin tidak lagi aku rasakan. Aku lelah untuk membencinya, Jongin." Kyungsoo menghela nafas panjang dan kemudian mengajak Jongin untuk berdiri.
Jongin menuruti Kyungsoo. Ia membiarkan Kyungsoo untuk menarik tangannya dan berjalan menyusuri jalanan Rue Mouffetard. Mereka kembali terdiam hingga pada akhirnya berhenti di sebuah taman yang berada di sekitaran jalan itu. Taman yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman. Ada sebuah kolam air pancur yang berada di tengah taman. Lalu bangku-bangku yang sengaja di letakkan untuk para pengunjung.
Jongin tiba-tiba menghentikan langkah Kyungsoo dan membuat Kyungsoo berhadapan dengannya. Lalu, Jongin menggerakan ibu jarinya untuk mengusap pipi Kyungsoo secara lembut. Begitu perlahan dan dalam tempo teratur membuat Kyungsoo merasa nyaman dan memejamkan matanya. Jongin kembali menjauhkan ibu jarinya dan kini beralih dengan menempelkan keningnya pada kening Kyungsoo. Tangannya pun melingkar erat pada pinggang Kyungsoo. Hembusan nafas hangat keduanya saling beradu dengan tarikan seirama. Kedua iris mata itupun kembali menatap satu sama lain.
"Kyungsoo." Ucap Jongin pelan.
"Ya." Balas Kyungsoo dan kini Ia juga ikut melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jongin.
"Aku benci Mom karena dia meninggalkanku. Aku benci Dad karena aku pikir Ia mencintai Mom selamanya. Aku benci Liyin karena aku tak ingin Mom digantikan. Aku benci Luhan karena dia adalah anak Liyin. Aku benci kau karena janjimu." Suara Jongin terdengar lemah. Ia kembali terdiam seakan tak sanggup untuk meneruskannya.
"Tapi jauh di dalam hatimu. Kau tidak membenci mereka." Balas Kyungsoo dengan lembut.
Jongin tersentak mendengar ucapan Kyungsoo. Ia menjauhkan wajahnya dan menatap Kyungsoo yang tersenyum padanya. Kyungsoo menaruh wajahnya bersandar pada dada Jongin sambil mendekapnya.
"Kau menyayangi mereka, hanya saja kau terlalu takut. Asal kau tahu bahwa mereka pun menyayangimu, Jongin." Ucap Kyungsoo lagi dan membuat Jongin memeluknya lebih erat.
"Kenapa kau selalu membuatku merasa memiliki harapan, Kyungsoo?" Bisik Jongin dengan suaranya yang parau. Jongin memejamkan matanya seraya menghirup aroma alami tubuh Kyungsoo yang menenangkan. Mungkin ini terjadi karena Jongin benar-benar sangat merasa nyaman berada di dekat Kyungsoo.
"Itu bukan karenaku, Jongin. Harapan itu selalu ada hanya saja kau tidak berani mengakuinya dan takut untuk memiliki itu." Suara Kyungsoo membalas dengan tenang. Suasana taman yang sepi serta udara yang masih bertiup lembut dan kicauan samar dari burung-burung menambah keintiman dari keduanya.
Mereka masih berpelukan dengan wajah Kyungsoo yang bersandar pada dada Jongin dan Jongin yang menaruh dagunya di atas kepala Kyungsoo sambil memejamkan mata. Kedua tangan mereka tetap saling melingkar erat. Kyungsoo kini menjauhkan wajahnya dari dada Jongin dan membuat mereka kembali saling menatap.
"Jika ternyata aku bukan pria masa kecilmu itu. Apa kau tetap akan seperti ini Jongin?" Meski Kyungsoo tersenyum, Ia tak bisa menutupi keraguannya itu. Jongin membalas tersenyum lembut sambil kembali menyapukan kedua tangannya di wajah Kyungsoo.
"Kau punya mata besar yang sama. Kau punya bibir tebal yang sama dan membentuk hati saat tersenyum. Kau punya suara yang sama. Kau punya keantusiasan yang sama untuk menjadi designer dan yang terpenting. Hatiku yakin jika dia adalah dirimu Kyungsoo." Keyakinan Jongin begitu kuat tanpa perlu ia mencari kebenaran yang lebih pasti. Terkadang kekuatan hati yang kuat bisa lebih mengalahkan semua hal bernama logika. Jongin yakin saat itu itu terjadi padanya.
"Lalu apa yang kau rasakan sekarang?" Kyungsoo tahu ini terlalu cepat. Namun, ia tidak bisa lagi mengontrol gejolak di dalam dirinya. Ia ingin memastikan semuanya di awal agar Ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia menatap Jongin dengan dalam berusaha mencari sesuatu yang ia inginkan selama ini.
Jongin kembali menundukkan wajahnya dan mencium kening Kyungsoo. Ia memejamkan kembali matanya dan membiarkan bibirnya menempel pada kulit halus itu. Merekamnya ke dalam otaknya dan mencetak jelas bagaimana kenyamanan itu hadir. Sisi di dalam dirinya yang rapuh seakan memiliki sandaran yang selama ini dicarinya. Kelegaan yang membuatnya sanggup untuk menopang hidupnya yang sebelumnya dingin.
Kyungsoo sendiri pun juga menikmatinya. Ia memejamkan matanya dan merasakan seluruh tubuhnya yang seakan menemukan titik akhir jiwanya. Dimana jiwanya tenang seperti ada kekuatan nyata yang akan selalu melindunginya. Ia kembali merasakan bahwa kerinduan itu selalu muncul saat Ia melihat Jongin. Adanya keterikatan di antara mereka sebelumnya. Mungkin ini konyol, tapi ini memang terjadi padanya. Ia sendiri bahkan tidak ingat pada Jongin tapi hatinya tidak sesuai. Hatinya merasa begitu dekat dengannya. Ia sadar bahwa Ia sudah masuk sangat dalam terhadap Jongin. Jongin menyentuh hatinya dan Kyungsoo merasakan itu mengikatnya kuat.
"Aku ingin kau selalu ada bersama denganku, Kyungsoo." Suara Jongin terdengar pelan namun cukup terekam jelas oleh telinga Kyungsoo. Jongin kembali melepas ciumannya di kening Kyungsoo.
"Apa kau menginginkan hal itu juga, Kyungsoo?" Tanya Jongin lagi dengan berbisik di telinga Kyungsoo.
Kyungsoo mengangkat wajahnya untuk menatap Jongin. Kini, ia pun merasa bahwa tidak hanya janji masa kecil itu yang membuat mereka saling terikat. Hal lain yang terjadi adalah karena mereka merasa membutuhkan satu sama lain untuk menopang titik terendah dalam hidup mereka.
"Ya. Aku ingin…" Ucapan Kyungsoo terputus ketika kini Jongin langsung menciumnya. Kyungsoo bisa merasakan jika kali ini Jongin semakin memperdalam ciumannya. Jongin membawa Kyungsoo ke dalam buaiannya. Dimana Jongin memeluknya erat dan gerakan bibir Jongin menekannya kuat. Jongin membuka bibirnya untuk menguasai bibir Kyungsoo. Menyentuh dengan sensual dan memagutnya seakan ini adalah puncak dari seluruh emosinya.
Kyungsoo sedikit bergetar merasakan sensasi yang ia rasakan kini. Ciuman Jongin begitu dalam membuatnya semakin menikmatinya. Kyungsoo bahkan mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher Jongin dan sambil memberikan pijatan pada bagian belakang kepala Jongin. Kyungsoo menyukainya dan Ia bahkan mulai ikut membalas ciuman Jongin. Kyungsoo tak segan untuk menghisap bibir Jongin secara bergantian.
Keduanya saling berciuman dalam dan perlahan intensitasnya mulai tidak seliar sebelumnya. Kini bahkan keduanya saling tersenyum dibalik kecupan-kecupan lembut karena baik Jongin dan Kyungsoo tidak saling berhenti untuk membalas.
"Aku tidak menyangka bahwa kita akan kembali berciuman di depan umum." Goda Jongin sambil diselingi kembali menghisap bibir bawah Kyungsoo.
"Kau kali ini yang liar, tuan muda Kim." Kyungsoo masih mengalungkan tangannya pada leher Jongin lalu tertawa kecil. Ia menjauhkan wajahnya dan melihat jika Jongin sedikit tidak rela.
"Aku tidak mau melawan perintah Nyonya Xi dan hanya berakhir berjalan-jalan di taman. Kau harus menemaniku berkeliling. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu di Paris tanpa membawa pulang ide brilian yang nantinya bisa ku gunakan demi fashion show impianku." Kyungsoo terdengar sangat antusias dan membuat Jongin kembali tertawa lebar.
Jongin membawa Kyungsoo kembali ke dalam ciumannya lagi. Kali ini tidak seagresif sebelumnya, ini terlihat lebih lembut dengan Jongin yang hanya menempelkan dan mengecup bibir Kyungsoo yang semakin memerah seksi.
"Kau benar. Jadi sekarang kita lanjutkan tur kita." Jongin kembali mengenggam erat tangan Kyungsoo dan Kyungsoo membalasnya dengan tersenyum lebar. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat lainnya.
Pernyataan dan ciuman tadi menjelaskan banyak hal untuk Kyungsoo serta Jongin. Mereka akhirnya tahu apa yang mereka rasakan dan mengikatnya dengan pasti. Tidak perlu banyak kata untuk mengungkapkannya karena baik Jongin dan Kyungsoo cukup menyimpulkannya. Kini keduanya berjalan dengan ekspresi bahagia yang terlihat sangat jelas.
Jongin sesekali kembali mencium pipi Kyungsoo dan membisikkan sesuatu yang sanggup membuat wajah Kyungsoo memerah. Kyungsoo lalu membalasnya dengan mendengus jengkel dan tertawa ringan.
8888888888
Malam itu, Luhan terlihat sibuk merapihkan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper miliknya. Hal itu dikarenakan besok siang seluruh tim Ice Mode akan kembali ke Korea. Ia menaruh koper-kopernya di ruangan televisi dan memberi tahu Yixing bahwa Ia sudah selesai. Yixing mengangguk dan menyuruh pegawai hotel untuk membawanya.
Setelah kepergian Yixing dan pegawai hotel tadi. Luhan mengambil ponselnya dan mencari salah satu kontak telepon yang ada di sana. Ada jeda yang cukup lama hingga akhirnya terdengar sapaan dari ujung sana.
"Aku ingin bertemu denganmu malam ini. Tidak akan lama, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Aku tunggu kau di Le Fumoir cafe." Luhan mengakhiri pembicaraannya dan segera menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia telpon.
Luhan segera mengambil mantelnya dan memakainya. Tak lupa, Ia membawa sebuah paper bag kecil berwarna biru tua. Ia berjalan keluar hotel dan segera masuk ke dalam salah satu taksi yang berada di sana.
Perjalanan tak begitu lama dan taksi yang ditumpangi Luhan sudah berada di depan café yang Ia tuju. Luhan segera memberi uang kepada sang supir lalu keluar dari dalam taksi. Luhan memilih untuk duduk di bagian luar café yang terlihat cukup ramai saat itu. Ia segera memesan secangkir english tea dan sepotong croissant.
Tak lama menunggu, hingga akhirnya sang pelayan membawakan pesanan Luhan. Luhan segera meminum tehnya dengan perlahan dan pandangannya menangkap sosok yang Ia telpon tadi datang dengan berjalan cepat sambil memasukkan kedua tangannya di dalam mantel.
"Selamat malam, Kyungsoo." Sapa Luhan dengan nada ramah dan memberikan gesture agar Kyungsoo duduk di depannya. Kyungsoo membungkuk singkat dan membalas sapaan Luhan dengan canggung. Luhan kembali memanggil sang pelayan. Kyungsoo pun akhirnya hanya memesan secangkir café crème.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Luhan dengan suaranya yang ramah seperti biasa dan kali ini semakin membuat Kyungsoo kikuk.
"Baik." Kyungsoo membalas dengan singkat dan segera meminum segelas coffenya begitu sang pelayan mengantarkan pesanannya. Kyungsoo lupa bahwa yang Ia pesan adalah secangkir coffe panas dan dengan konyolnya ia meminumnya langsung. Lidahnya merasa seperti terbakar dan Luhan tertawa kecil melihatnya.
"Santai saja, Kyungsoo." Luhan berseringai di balik ekspresi ramahnya itu. Kyungsoo membalas dengan tersenyum singkat.
"Ada hal apa yang ingin kau bicarakan tuan muda Xi?" Kyungsoo berdeham dan kembali memandang Luhan. Bukannya menjawab pertanyaan Kyungsoo, Luhan justru tertawa sinis. Ia menaruh paper bag kecil yang sebelumnya ia bawa kehadapan Kyungsoo. Kyungsoo mengerutkan keningnya dan memandang Luhan dengan heran.
"Aku tak menyangka kau akan memanggilku dengan sebutan tuan muda lagi. Baiklah, untuk mempersingkat waktu karena sepertinya kau terlihat tidak nyaman denganku. Aku hanya ingin memberikan ini padamu." Ucap Luhan santai dan tanpa menunggu respon dari Kyungsoo. Luhan segera mengeluarkan uangnya dan menaruh di atas meja. Ia segera berdiri dan berjalan meninggalkan caffe.
Kyungsoo terkejut melihat Luhan yang segera meninggalkannya. Akhirnya Kyungsoo mengejar Luhan dan segera menahannya. Kini Luhan dan Kyungsoo berdiri dengan berhadapan.
"Apa ini?" Cerca Kyungsoo sambil mengarahkan paper bag kecil yang diberikan Luhan tadi.
"Hadiah." Balas Luhan singkat dan segera kembali membalikkan tubuhnya. Namun, Kyungsoo kembali menarik lengannya.
"Aku tidak bisa menerimanya." Kyungsoo hampir sedikit berteriak dan Luhan kembali tertawa sinis.
"Kenapa? Karena Jongin?" Kali ini suara Luhan terdengar sinis dan tatapannya berubah tajam. Kyungsoo menyadari itu dan menghela nafas panjang.
Tiba-tiba saja, Luhan berganti menarik Kyungsoo dan menyudutkan tubuhnya pada dinding sebuah bangunan. Tanpa Kyungsoo sempat merespon, Luhan sudah terlebih dulu mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Kyungsoo. Kyungsoo terkejut dan segera mendorong tubuh Luhan agar menjauh darinya.
"Apa yang kau lakukan?" Kali ini Kyungsoo terlihat sangat marah dan refleks segera mendaratkan pukulan yang mengenai wajah Luhan. Luhan jatuh tersungkur di atas trotoar. Beberapa orang yang berada disana hanya sekedar lewat dan tak ingin terlibat dengan keduanya.
Luhan tertawa sinis sambil mengusapkan ibu jarinya pada darah yang keluar dari sudut bibirnya. Sepertinya, pukulan Kyungsoo membuat bibirnya sedikit sobek. Kyungsoo sendiripun panik dan segera berjongkok di hadapan Luhan.
"Maafkan, aku tuan muda Xi. Anda tiba-tiba saja menciumku dan aku refleks." Suara Kyungsoo terdengar takut dan ketika Ia mendekatkan tangannya untuk menyentuh bibir Luhan yang berdarah, Luhan segera menepisnya.
"Aku menyukaimu, Kyungsoo." Desis Luhan dengan suara yang dingin dan segera kembali berdiri.
"Maafkan aku tuan muda Xi. Aku tidak bisa membalasnya." Kyungsoo membalas dengan suaranya yang terdengar frustasi dan Luhan hanya merespon dengan tertawa. Tanpa berkata lagi, Luhan segera berjalan menuju salah satu taksi yang berada tidak jauh dari tempatnya tadi.
Kyungsoo pun akhirnya memutuskan untuk memperhatikan Luhan dan tidak lagi menahannya. Luhan kini sudah menghilang bersama dengan taksi yang ia tumpangi tadi. Kyungsoo mengusak wajahnya frustasi dan pandangannya tertuju pada paper bag kecil yang diberikan Luhan tadi. Paper bag berwarna biru itu terjatuh di atas trotoar karena tiba-tiba saja tadi Luhan mendorong Kyungsoo. Kyungsoo mengambil paper bag itu dan duduk pada sebuah bangku besi yang sengaja di taruh di depan bangunan.
Kyungsoo membuka paperbag itu dan melihat sebuah kotak yang berwarna senada dengan design yang sangat elegan. Degupan jantung Kyungsoo semakin kencang ketika sebuah kalung berwarna silver berada di dalamnya. Kalung dengan rantai perak tipis dengan bandul berupa gambar seorang malaikat bersayap.
Kyungsoo menutup kotak itu dan kembali memasukkannya ke dalam paperbag. Ia melihat sebuah note kecil ada di dalamnya dan segera membacanya.
Aku menyukaimu
Kurasa kau sudah mengetahuinya
Aku berkhayal, saat aku mengatakan ini kau juga akan membalas dengan ucapan yang sama
Tapi, nyatanya ini diluar perkiraanku
Sejujurnya, aku membenci diriku sendiri Kyungsoo, karena aku tidak menyadari apa yang terjadi antara kau dan Jongin.
Sekarang aku tidak akan peduli dan
Aku akan egois kali ini, Kyungsoo.
- Luhan -
Kyungsoo menarik nafas panjang dan menaruh note itu ke dalam paper bagnya. Suara ponsel kali ini kembali terdengar dan Kyungsoo segera menggeser layarnya begitu melihat id caller yang tertera.
"Malam, Jongin."
"Aku baik-baik saja. Aku akan segera kembali ke hotel dan beristirahat. Selamat malam Jongin." Kyungsoo menutup ponselnya dan menaruhnya kembali ke dalam mantel.
Ya, Kyungsoo sengaja untuk tidak menceritakan perihal kalung yang diberikan Luhan tadi kepada Jongin. Ia tidak mau suasana semakin bertambah buruk apalagi besok mereka sudah harus kembali ke Korea. Meskipun begitu, setibanya di Korea nanti Kyungsoo akan mengembalikannya kepada Luhan. Pasti.
- TBC -
.
.
.
Note :
** Yeay, episode Paris sudah selesai. Chapter depan mereka udah balik lagi ke Korea dan persoalan akan semakin rumit. Meski, Jongin-Kyungsoo sudah ada titik terang tapi bukan berarti semua akan lancar huaa…..ha…..
** Oh, iya nih. Hope cuma pingin tanya, kalau seandainya ada couple selanjutnya. Kalian itu pingin ada couple siapa?
** Ide awal Hope sih sejujurnya crack pairing. Hayo ada yang bisa nebak ngga? Ada kode-kodenya meski ngga keliatan jelas -XXDDD ROFL-
** Terima kasih buat kalian yang selalu setia nungguin Perfect Catwalk dan bikin Hope semangat meskipun kita ngga saling kenal. Sampai jumpa di chapter selanjutnya dengan konflik terbaru dan tentunya kegilaan tim-tim Ice Mode.
Enjoy
_HopeIce_
