Disclaimer: Seventeen belongs to Pledis Ent.
Warnings: Boys Love, Shonen-ai, Yaoi, Vamp!Fict, Romance!Fail, AU, Typos, OOC, OC, etc.
Pairings: Soonhoon, Meanie, Verkwan, Jeongcheol …dkk.
.
.
.
Dunia harus tau betapa menyedihkannya aura di dalam mobil kedua. Memasuki menit ke 120 dua orang manusia di bangku paling belakang sudah terlelap bosan kehabisan cara untuk tetap terjaga. Jihoon tertidur dengan bahu Wonwoo sebagai bantalnya dan Wonwoo menggunakan kepala Jihoon sebagai gantinya.
Lelap sekali hingga tak sadar mobil yang membawa mereka berhenti sesaat di sebuah rest area. Mereka para vampire mungkin tidak mengerti apa itu lelah, tapi tetap saja mereka membawa 4 manusia yang jelas lelah karena duduk saja selama 2 jam penuh.
"Jihoonie dan Wonwoo?" Jeonghan menghampiri mobil kedua saat pintunya terbuka tapi tanda-tanda dari kedua adiknya belum ada juga.
"mereka tertidur." Mingyu yang masih bertahan di bangku baris tengah menyahuti. Jeonghan melihat ke dalam mobil memastikan.
"bangunkan mereka, tanyakan apa mereka ingin makan sesuatu atau pergi ke toilet." Jeonghan berkata pada Mingyu dan berlalu bersama Seungkwan setelahnya. Diikuti Seungcheol yang sebenarnya tak diharapkan keberadaannya.
Mingyu langsung melaksanakan amanat Jeonghan sesaat setelah Jeonghan berbalik pergi. Tangannya terulur pada Wonwoo dan menepuk pelan bahunya. "Wonwoo," panggilnya. Tak diindahkan. Kini tangannya beralih menyentuh leher Wonwoo dan menjalar naik ke pipinya. "Wonwoo-ya." Lumayan. Ratapnya.
Wonwoo bergumam sebagai jawaban. "apa?" masih dengan mata terpejam suara serak Wonwoo bertanya.
"Jeonghan hyung bertanya apa kau ingin makan sesuatu atau pergi ke toilet? Kita sedang berada di rest area sekarang." katanya.
Mata Wonwoo perlahan terbuka. "aku mau ke toilet," pelan-pelan menggeser kepala Jihoon dari bahunya dan ganti menyenderkannya ke sandaran mobil. Mingyu melipatkan bangku kosong di sebelahnya guna memberi Wonwoo jalan kemudian.
Sepeninggal Wonwoo, kini tinggal Jihoon yang harus dia bangunkannya. Setelah melirik ke depan pada Soonyoung yang terlihat tidak minat membangunkan Jihoon, Mingyu akhirnya turun tangan.
"Jihoon," dengan guncangan pada bahu, Mingyu mengguncang tak berhati Jihoon yang terlelap. Beda kasus dengan Wonwoo yang dia bangunkan menggunakan hati. Kalau bisa dia ingin membangunkan Jihoon dengan kekerasan.
"Jihoon, bangun." Panggilnya lagi.
Jihoon bergerak. "diaaaammm!" keluhnya panjang. Rambut Mingyu dijambaknya dan didorong mejauh. Jihoon merubah posisi tidurnya dari duduk jadi berbaring meringkuk di bangku belakang.
Mingyu melirik dengki manusia di bangku belakang itu sebelum membenarkan posisi duduknya menghadap depan. "apa bagusnya manusia seperti dia hyung?" Mingyu merapikan rambutnya sambil memandang Soonyoung yang sedari tadi duduk bersender di bangku depan.
Soonyoung terkekeh. Semua hal menyangkut Jihoon bagus menurutnya. Jihoon luar biasa. Dia bahkan mampu membuatnya Soonyoung menjadi seorang maso sekarang. Hebat bukan? "aku tak tau." Soonyoung menghela nafasnya. Lelah? Belum. "tapi yang pasti aku tak ingin melepaskannya. Itu saja."
Simple saja alasan Soonyoung bertahan selama ini. Semua sikap Jihoon dianggapnya sebagai hukuman masa lalu barang kali. Dia pantas mendapatkannya. Semacam ujian sekuat apa, dan seniat apa Soonyoung menginginkan Jihoon kembali.
Wonwoo selesai dari toilet. Wajahnya cerah, tak lagi menyisakan kantuk di sana. Sekembalinya dia, Wonwoo memutuskan untuk duduk di barisan tengah mobil samping Mingyu saat dilihatnya bangku belakang sudah dikuasai Jihoon sepenuhnya.
"aku sudah mencoba membangunkannya." Mingyu melapor. Wonwoo melirik sekilas pada Jihoon dan menepuk bahu Mingyu kemudian.
"terima kasih sudah mencoba." Wonwoo tertawa. Jihoon sedang pada mood-nya untuk tidur. Akan sial bagi siapa pun yang mencoba membangunkannya. "apa yang kau dapat?" dengan senyum lebarnya Wonwoo bertanya. Mingyu paham apa itu maksudnya.
"dia menjambak dan mendorong kepalaku." Balas Mingyu. Wonwoo tertawa lagi.
"kau masuk yang beruntung kalau begitu. Jeonghan hyung mengaku pernah mendapatkan tendangan dari Jihoon ketika mencoba membangukannya. Seungkwan juga." Wonwoo bercerita. Tidak melihat langsung namun tersenyum geli ketika membayangkan.
"kau sendiri?" Mingyu bertanya.
"aku tak pernah mencoba. Bagus bagiku aku paham kebiasaannya." Bangga. Wonwoo bangga belum kenapa-kenapa.
Dari jauh mereka sudah bisa melihat Jeonghan dan yang lainnya kembali. Mendekat ke mobil dengan beberapa kantong plastic kebanyakan di tangan Seungcheol. Dia jadi tukang angkut Jeonghan sekarang. Menjadi semacam budak cintanya? Bisa dibilang begitu.
Seungkwan yang bersama mereka akhirnya bisa tersenyum kembali setelah 1 jam yang lalu merengut kebosanan dan cerewet tak tertahankan di dalam mobil. Mengeluh segala-segala hal mulai dari lapar sampai pegal karena duduk. Dan kini dia tenang. 1 bucket ayam sudah di tangan.
"mereka punya yang terenak di sini hyung, kau harus coba." Seungkwan mengulurkan bucket ayamnya.
Wonwoo menggeleng. "mungkin kau mau coba menawari Jihoonie." Tunjuknya pada Jihoon di bangku belakang. Seungkwan mengintip dari luar kaca jendela dan menggeleng kemudian. Trauma.
Jeonghan memberikan dua kantong plastik pada Wonwoo. Seplastik minuman berasa dan satu plastic lagi dua kotak styrofoam jajangmyeon. Jihoon suka mie satu ini. Mereka memutuskan untuk makan di mobil karena jika ingin makan di dalam resto yang ada jelas mereka akan pangku-pangkuan di dalam sana.
Wonwoo memakan mie-nya dengan Mingyu yang menontonnya makan entah kenapa. Setelah sadar sedang di tatapi, kini ganti Wonwoo yang memandangi Mingyu. "kau mau?" Wonwoo menoleh, serius menawari. Biar kata tak ada efek, tetap saja mereka bisa makan untuk bersenang-senang.
Mingyu menggeleng. Tangannya terulur pada Wonwoo dan mengusap dagu dan sudut bibir Wonwoo dengan ibu jarinya. Ada saus yang tertinggal di sana dan semacam reflek untuk menjilat ibu jarinya sendiri membersihkan karena tak menemukan tissue di sekitarnya.
Mingyu tersadar. "ada sedikit—" Dia salah tingkah.
Wonwoo tersenyum. "terima kasih," Dan melanjutkan makannya kembali.
Soonyoung langsung turun dari mobil saat itu juga. Perasaan iri selalu ada saat dirinya melihat orang lain bisa sementara dirinya tak mampu. Kekanakkan memang. Tapi siapa yang peduli. Suka tetap suka dan pastinya ingin memiliki.
Berjalan-jalan berkeliling sebentar setidaknya sampai mereka selesai makan dan mulai melanjutkan perjalanan kembali. Jihoon ikut. Soonyoung bahkan tak yakin kalau ini akan berjalan baik seperti yang dia ingini.
Soonyoung dapat dikatakan berkeliling di sekitaran rest area sampai Seungcheol datang menjemputnya. Mengatakan mereka akan kembali segera melanjutkan perjalanan. Mobil pertama sudah terlebih dulu berangkat saat mobil kedua baru menyalakan mesinnya.
Sekitar 30 menit perjalanan dari rest area berlalu. Mobil yang mereka kendarai akhirnya memasuki jalan yang kurang kendaraannya. Pertama-tama berkurang sampai tidak ada sama sekali. Ditambah lagi mobil mereka kini berbelok di mana jalannya bukan lagi jalan raya.
"apa benar ini jalannya?" Seungkwan tidak dapat menutupi kegelisahannya ketika mobil mulai memasuki jalan minim kendaraan. Terlebih berbelok rumit ke jalan beraspal satu jalur.
"tenang saja, Jisoo hyung hapal di luar kepala jalannya. Memang sedikit rumit." Hansol menjawab. Tak menangkap kegelisahan yang dimaksud Seungkwan.
Seungkwan gelisah terlebih kepada kalau liburan ini hanya kedok belaka karena mereka semua ingin memeras darahnya. Berpura-pura baik agar tak ada yang curiga dan setelah selesai dengan aksinya akan bilang kepada polisi dan masyarakat bahwa mereka hilang di hutan.
Scenario pembunuhan yang boleh juga.
Jeonghan menoleh pada Seungkwan yang dia ketahui sedang berpikir apa. Raut wajahnya, itu bukan kali pertama Jeonghan melihatnya. "kita serius pergi berlibur. Jangan khawatir." Jeonghan menenangkannya.
Jeonghan sudah berkata. Tak ada alasan bagi Seungkwan untuk tidak mempercayainya. Sambil menyenderkan kepalanya Seungkwan menatap keluar jendela. Mereka berada di sebuah hutan. Tidak diketahuinya di mana karena tak pernah memperhatikan jalan sebelum ini.
Perlahan tapi pasti mata Seungkwan mulai berat menutup. Keheningan dan cuacanya kini sangat mendukung. Seungkwan mulai tertidur. Fakta bahwa dirinya sehabis makan melengkapi semuanya. Dia cukup memejamkan matanya semenit dan alam bawah sadarnya pun datang menjemput.
Seungkwan tertidur dengan posisi duduk sementara kepalanya bersandar pada kaca mobil. Tak jarang terdengar suara aduan antara kepala Seungkwan dan kaca saat mobil melalui jalan berlubang atau bergelombang.
Hansol menoleh pada Seungkwan yang tak terganggu dengan hantaman ringan di kepalanya. Beberapa memang ringan namun ada juga benturan yang lumayan dan Seungkwan masih bertahan lelap di sebelahnya.
Hansol berinisiatif untuk merapat pada Seungkwan dan menarik kepala Seungkwan agar bersandar di bahunya. Tak tega mendengar suara kepala Seungkwan yang beradu dengan jendela secara intens karena banyaknya jalan bergelombang yang mereka lalui.
Seungkwan menggeliat lemah saat kemudian bangun tapi masih terpejam untuk memposisikan diri senyaman mungkin di bahu Hansol, sebelum melanjutkan kembali petualangannya. Dan Hansol membantunya dengan mengusap punggung Seungkwan hingga semakin terlelap ke alam mimpi.
"sejak kapan kalian sedekat ini?" Jeonghan menopang dagu dan menghadap ke belakang.
Hansol yang semula menatap Seungkwan kini beralih pada Jeonghan. "kami teman sekelas. Di kelas hanya dia yang berani padaku." Berani memberiku makan juga bertahan dekat bersamaku. Setidaknya memang semenjak kejadian itu dirinya dan Seungkwan menjadi akrab.
Jeonghan mengangguk paham dan kembali menghadap depan. Bukannya tidak tau bagaimana ciri-cirinya orang yang sedang jatuh cinta. Perjanjiannya dulu memang hanya teruntuk kedua adiknya. Tapi kalau mau menambah satu lagi terlebih atas kemauan sendiri, Jeonghan bisa apa?
.
.
.
Sementara itu di mobil kedua hanya terdengar suara Mingyu dan Wonwoo yang berbicara. Dua orang patah hati di bangku depan dibuat tambah merana dengan akrabnya mereka berdua. Dunia tak adil itu sudah biasa. Tapi tak menyangka kalau kejamnya sungguh tak terkira.
Soonyoung sesekali melirik melewati spion depan dan menghela nafasnya. Mungkin nanti dia akan tanya tipsnya untuk bisa dia praktekan ke Jihoon. Ingin berbicara akrab dan ringan saja, itu sudah cukup untuknya. Ingin sekali. Jikalau bisa.
"jadi, apa Jihoon tau mengenai seseorang yang kau suka?" Mingyu bertanya. Tujuan spesifiknya pada Wonwoo. Tapi yang terkejut luar biasa adalah dua orang di bangku depan yang mencuri dengar.
Kuping terpasang baik dengan tingkat kepekaan level maksimal. Mata mereka baru saja melihat kedekatan akrab yang bisa dibilang tidak biasa. Lalu kemudian telinga mereka dipaksa dengar tentang lawan bicara yang nyatanya menyukai orang lain. Bagaimana bisa?
"Jihoon tidak tau," sahutnya santai. Fakta kalau Mingyu pernah menyatakan cinta padanya terlupakan sudah. Wonwoo menganggap masalah satu itu clear.
Sementara Soonyoung dan Seungcheol saling lirik tak mengerti. Ada apa sebenarnya? Sejak kapan Mingyu menanggapi enteng kasus berat macam itu? Macam mencintai seseorang yang mencintai orang lain. Ada yang aneh di sini. Andai benar vampire bisa membaca pikiran seperti yang dikatakan novel-novel buatan manusia. Seungcheol dan Soonyoung pasti sudah membacanya sedari tadi.
"Jeonghan hyung? Seungkwan?" Mingyu bertanya lagi.
Wonwoo menaikan sebelah alisnya tak mengerti. "apa yang akan kau lakukan?" tanyanya curiga. Mingyu terlihat mencari sekali seseorang yang disukainya.
"hanya ingin tau. Seperti apa dia, bagaimana rupanya, apa keistimewaannya, apa yang bagus darinya—"
"kenapa penting bagimu untuk tau siapa?" potong Wonwoo. Haknya untuk merahasiakan. Dan Mingyu terlihat benar ingin membongkar.
"karena aku menyukaimu—"
"Mingyu, aku sudah bilang—"
"hanya ingin tau," potongnya. Saat dia tau orangnya, Mingyu berjanji pada dirinya sendiri untuk menghapus ingatan orang beruntung versinya itu mengenai Wonwoo dan membuat Wonwoo kembali mencintainya.
"baik, tapi aku tetap tidak mau bilang." Balas Wonwoo. Tutup. Wonwoo berniat menutup pembicaraan mereka.
"gadis yang beruntung." Mingyu berusaha tegar mengucapkannya. Dia masih tidak terima. Tidak akan pernah menerima.
"sial bagiku." Selesai.
Mingyu dapat merasakan kepahitan yang sama seperti dirinya dari perkataan Wonwoo barusan. Mencintai seseorang yang tak mencintainya. Bisa jadi diketahui mencintai orang lain. Menyakitkan.
Hening kembali melanda. Beberapa dari mereka spesifiknya mereka yang di bangku depan mengakui kalau lebih baik sepi begini ketimbang ada yang bersuara. Selain atau kemauan peribadi. Hal ini juga baik untuk kepentingan berasama. Menghindari perbincangan yang nantinya bisa menjurus kemana-mana dan menciptakan suasana awkward maximum seperti sekarang.
Untuk kali pertama. Hening menjadi opsi yang terbaik dalam kotak besi berjalan mereka.
.
.
.
Mereka tiba. Sore hari tepat seperti yang sudah diperkirakan. Mobil pertama yang dibawa Jisoo sampai duluan ketika mobil yang dibawa Seungcheol masih ketinggalan beberapa menit di belakang.
Hansol menepuk pelan pipi Seungkwan membangunkan. Setelah sadar bahwa mereka sudah sampai, Seungkwan segera turun setelahnya. Langsung sehat. Dengan excited menatap berkeliling keberadaannya saat ini. Di tengah-tengah hutan dengan sebuah rumah tingkat dua di hadapannya.
"aku tak tau ada penginapan di tengah hutan begini?" tanyanya ketika Hansol ikut berdiri dan memandang apa yang Seungkwan pandang. "berapa yang kalian bayar untuk rental tempat seperti ini?"
"ini sama sekali bukan sewaan. Milik pribadi. Properti keluarga." Hansol berlalu untuk membantu Jisoo menurunkan barang-barang. Meninggalkan Seungkwan yang membulatkan mulutnya kelewat paham.
Damn! Vampire-ssi. Hidup kalian kenapa boros sekali. Sudah lebih lama, berwajah lebih tampan, bermateri kelebihan pula.
Seungkwan baru saja akan melangkah menjelajah saat pintu rumah di depannya terbuka lebar dari dalam. Memunculkan beberapa orang asing dari sana. Hanya dua orang. Hanya saja benar-benar asing.
"Jeonghan hyung!" salah satu orang asing itu melompati 3 anak tangga langsung dan berlari menuju Jeonghan dan memeluknya erat.
"Minghao-ya?" Jeonghan membalasnya. Orang itu mengurai sejenak pelukan mereka untuk saling tatap kemudian memeluknya erat kembali. Melepas rindu yang sepertinya teramat sangat.
Mobil kedua yang dibawa Seungcheol tiba. Terparkir rapi di sebelah mobil pertama dan langsung mengeluarkan sang supir dari bangku pengemudinya. Seungcheol bergegas mendekat ke arah Jeonghan karena dilihatnya kekasihnya dalam bahaya. Bahaya versi pribadinya.
"cukup sampai di situ." Seungcheol menarik Minghao lepas dari Jeonghan. Dia tak terima. Enak saja!
"hyung? Aku hanya memeluknya. Aku tak kan merebut Jeonghan hyung darimu. Tidak tanpa persetujuan Jeonghan hyung sendiri~" balasnya kode. Entah bercanda atau serius hanya Tuhan yang tau. Kini Minghao diseretnya menjauh dari Jeonghan.
"kau siapa?"
Seungkwan yang sedang asik memperhatikan orang asing pertama bernama Minghao, tanpa tau sudah didekati orang asing kedua tepat di sebelahnya.
"dia bersamaku, namanya Seungkwan." Hansol di belakangnya yang menjawab. Masih sambil menurunkan koper-koper yang ada. Tinggal koper Seungkwan.
Orang asing itu tersenyum lebar. "kalau begitu calon keluarga juga." Kata orang asing kedua yang belum diketahui namanya ini. "Junhui." Dan sekarang Seungkwan tau. Orang itu mengulurkan tangannya pada Seungkwan.
Seungkwan menjabatnya ragu-ragu. "Seungkwan." balasnya kaku. Mungkin efek masih baru.
"ayo masuk." Ajak Junhui sambil merangkul Seungkwan dan membawanya menuju rumah. Sebelum pergi Seungkwan sempat menoleh dulu pada Hansol. Yang dibalasi anggukan kemudian. "akan kuajak berkeliling nanti jika kau mau."
Soonyoung sudah turun dari mobil sedari tadi saat Seungcheol juga turun. Disusul Mingyu dan Wonwoo yang kemudian meninggalkan Jihoon yang sama sekali tak menunjukan tanda-tanda akan bangun.
"Jihoonie bagaimana?" Wonwoo menunjuk mobil yang masih ada Jihoon di dalamnya.
"biar aku saja." Soonyoung kembali ke dalam mobil. Melipat terlebih dulu bangku di depan Jihoon sebelum masuk dan menjemput Jihoon. Menarik Jihoon sedikit keluar ke arah pintu sebelum memeluk pinggangnya dan mengangkat Jihoon bak mengangkut karung beras.
Wonwoo segera bergabung membantu yang lain membawa koper. Meringankan pekerjaan mereka dengan membawa kopernya sendiri sementara yang lainnya sudah dibawakan oleh Mingyu dan Hansol.
"kau pasti Wonwoo hyung?" Wonwoo dihadang seseorang yang dipanggil Minghao oleh Jeonghan tadi. Terlalu kagok untuk menanggapi lewat suara hingga hanya dapat tersenyum dan mengangguk saja.
"aku menyukainya~" setelah menatap Wonwoo lekat-lekat Minghao akhirnya pergi dan berlari masuk ke dalam rumah. "Mingyu hyung memang pandai memilih~" teriaknya yang Wonwoo dengar jelas-jelas sekali.
"dia memang begitu. Tubuh dan umurnya, kau taulah." Seungcheol melewatinya menjelaskan. Wonwoo mengangguk paham. Mengerti sekali. Semacam bertubuh dewasa sebelum saatnya.
Wonwoo melangkahkan kakinya memasuki rumah kemudian. Cukup luas untuk ukuran ruang tamu saja. Perabotan yang ada semua terbuat dari kayu dan terkesan antik. Unik. Sangat disayangkan tidak terdapat tivi sepanjang mata memandang. Lalu apa yang akan menjadi hiburan mereka nanti?
"Wonwoo?" seseorang memanggil namanya. Wonwoo tak mengenali siapa yang memanggilnya tapi wajah itu terlihat senang karena melihatnya saja. "akhirnya kita bisa bertemu." Junhui, setelah selesai menyambut Seungkwan langsung memeluk Wonwoo ketika dekat.
Wonwoo membalas pelukannya kebingungan. Tangannya menepuk balas punggung Junhui. "baumu enak." Kata Junhui tak terduga. Pelukan mereka lepas dan jujur Wonwoo mensukurinya.
"terima kasih," awkward Wonwoo tertawa. Mereka memang vampire. Pembicaraan seperti ini mungkin biasa. Hanya saja Wonwoo manusia. Jadi … begitulah.
"tak ada maksud apa-apa, sungguh." Junhui mengangkat tangannya bak tersangka kemudian. Sadar ada perubahan ekspresi pada wajah yang menatapnya. "tapi serius, baumu memang enak."
Setelah memberi Wonwoo kedipan mata Junhui berlalu. Wonwoo merinding horror menatapi kepergian orang yang baru dikenalnya itu. Perasaannya saja atau memang Junhui agak berbeda? Minghao juga. Dari wajah juga cara bicaranya. Nama mereka juga.
"mereka berdua dari Cina," Jeonghan menepuk bahu Wonwoo dan lewat menuju sofa. Duduk tepat di sebelah Jihoon yang ditaruh Soonyoung di sana dan merenggangkan tubuhnya. Fakta duduk selama hampir 3 jam memang tak terhindarkan pegalnya.
"dari Cina?" ulang Wonwoo hampir berbisik. Dirinya kini menyusul Jeonghan dan duduk di sofa single terdekat.
Jeonghan mengangguk. "dari Cina." Walaupun fasih berbahasa korea.
Wonwoo kini menemukan titik terang dari pencariannya selama ini. Tentang eksistensi vampire yang dikiranya hanya di Korea saja. "di Cina juga ada vampire?" tanyanya lagi. Wonwoo nampaknya masih tidak percaya.
"tentu saja ada. Kami sama seperti manusia. Berkembang biak dan menyebar di seluruh dunia." Junhui menopang dagu tepat di belakang sandaran sofa Wonwoo dan menjawabnya.
"seluruh dunia?" Wonwoo bertanya lagi. Sambil menoleh pada narasumbernya.
Junhui mengangguk. "aku dan Minghao dari Cina, Jisoo dan Hansol dari Amerika." Jelas Junhui plus bukti kalau vampire juga berasal dari berbagai penjuru dunia. Walaupun yang dicontohkannya baru dua. "Soonyoung ada keturunan Jepang." Tambahnya. Jadi tiga?
Wonwoo membulatkan mulutnya dan mengangguk bisu. Iya-iya dia paham. Jadi keberadaan mereka ada di negara mana saja. Andai saja dia bawa novel favorite-nya. Ada note tambahan yang mesti dia tulis di sana.
"berbaur dengan manusia? Mempercayai beberapa dan membeberkan kalau kalian vampire kemudian. Apa begitu sistemnya?" Sudah kebiasaan. Tidak ada yang bisa menahan rasa ingin tau. Wonwoo mengeluarkan pertanyaan yang muncul spontan di kepalanya.
"kami berbaur karena seperti yang kau lihat fisik kami manusia. Tak ada bedanya." Junhui mengubah posisinya jadi duduk di pinggiran sofa di samping Wonwoo dan merangkulnya. "karena kami berbaur, kami jadi tau manusia mana yang bisa dipercaya. Kami juga butuh teman manusia yang bisa menerima kami apa adanya. Kita bisa mengambil Jeonghan sebagai salah satu contohnya." Junhui berbisik. Terkhusus hanya untuk Wonwoo yang mendengar.
"aku terkadang heran kenapa kalian senang sekali menganggu hak milik orang lain." Seungcheol muncul dan menjauhkan kepala Junhui dari Wonwoo. Selesai mengangkat koper kekasihnya ke kamar di lantai atas. Dia turun dan disuguhkan pemandangan Junhui yang tengah modus pada Wonwoo.
"aku tidak sedang mengganggu siapa-siapa. Dia bertanya, aku hanya menjawab." Belanya.
"terserah kau saja. Jangan kira aku tak dengar ketika menggodanya di depan rumah tadi." Balas Seungcheol. Kali ini menarik Junhui dari sisi Wonwoo dan mendudukannya di sofa yang ada. Setidaknya memberinya jarak menjauh dari Wonwoo.
"aku bukan menggoda. Hanya mengungkap fakta." Bantahnya. Pembelaan.
Jihoon menggeliat pelan karena suara ribut yang mengusiknya. Tubuhnya melakukan perenggangan sebentar sebelum akhirnya membuka mata."hyung," panggilnya pada Jeonghan di sebelahnya.
"Jihoonie? Ada apa?" tangannya mengusap wajah Jihoon dan membenarkan rambutnya yang berantakan.
Jihoon mendudukkan dirinya tegak terlebih dulu. "aku lapar."
Seusainya dia berkata Soonyoung mendadak muncul dengan sebungkus plastic di tangannya. Jajangmyun sewaktu di rest area. Benar juga. Jihoon belum ada memakannya.
"kau tertidur dan tak bisa dibangunkan selama kita di rest area." Soonyoung menjelaskan asal usul jajangmyun di tangannya. Sementara Jihoon menatap curiga kalau-kalau saja sudah terdapat apa-apa di dalam makanan yang diberikan untuknya.
Soonyoung meletakannya di hadapan Jihoon dan duduk di sofa seberang tepat di sebelah Junhui. "makan. Kau bilang kau lapar." Jihoon meliriknya. "atau mau kusuapi?" tanyanya. Jihoon mendengus.
Jihoon membuka bungkus styrofoam jajangmyeon-nya. Memakannya dalam diam tanpa menawari siapa-siapa. Logikanya saja kalau ini makanan dari rest area, semua manusia yang ada di sini pastinya sudah makan sebelum dirinya. Mereka yang vampire tidak masuk hitungan.
"jadi ini dia Lee Jihoon. Kupikir Soonyoung menyukai tipe yang dewasa. Tak kusangka kau tipe pedofilia." Perkataan itu lewat begitu saja dari tenggorokan Junhui. Jihoon yang sedang mengunyah berhenti sejenak.
Dewasa?
Pedofilia?
Maksudnya dia belum dewasa begitu? Soonyoung pedofilia, dirinya anak kecil begitu?
"berapa umurmu bocah?"
'Takk!' sumpit kayu di tangan Jihoon terpatah dua kemudian.
Entah vampire masih punya perasaan atau tidak, tapi harusnya mereka mengerti kalau manusia jelas punya. Jihoon masih punya hati untuk merasa tersinggung. Dia tak peduli orang yang tidak dikenalnya ini sengaja atau tidak, yang pasti itu terlalu kurang ajar untuk diucapkan pada orang yang baru dilihatnya.
Jihoon selesai dengan makannya saat itu juga. Baru tiga suap sebenarnya, tapi Jihoon sudah merasa kenyang dengan mendengar saja. "kamar kita di mana hyung? Aku ngantuk." Jihoon berdiri dari duduknya. Alibi. Dia baru saja bangun. Mana mungkin mengantuk lagi.
Jeonghan memegangi tangannya. Mengusap menyabarkan. Sayang tak berguna. "di lantai atas." Tangan Jeonghan diurainya sebelum Jihoon berlalu menuju tangga. Tak perlu tau kamar yang mana. Dia akan tidur di mana kopernya berada. Itu aturannya.
Soonyoung menyusul Jihoon setelah sebelumnya melotot pada Junhui. Junhui sama sekali tak tau apa masalahnya. Tapi jelas dia berbicara demikian bukan tanpa alasan tentu saja. Incaran Soonyoung memang anak kecil dari segi tubuh. Dan tambah ke-anak kecil-an dengan tingkah lakunya.
"dia 18," Jeonghan buka suara. Sepeninggal Soonyoung dan Jihoon. Junhui menatapnya tak mengerti apa. "Jihoon. Dia berumur delapan belas tahun." Kata Jeonghan lagi.
Kening Junhui berkerut dibuatnya. "yang benar?" dia tertawa. Jeonghan sedang bercanda menurutnya.
"Jihoonie serius 18. Dia seumuran denganku. Kami sekelas di sekolah. Sekelas dengan Soonyoung dan Mingyu juga." Wonwoo angkat bicara.
"tidak mungkin." Bantahnya masih tak percaya. Junhui memandangi orang-orang disekitarnya yang tak tampak bercanda sama sekali. Seangkatan Soonyoung benar? Berarti lebih tua dari Minghao? Tapi kok… "artinya aku harus minta maaf padanya?" tanyanya. Jeonghan tersenyum datar mengiyakan.
"seperti dia mau memaafkanmu saja." Seungcheol menyahuti. "itu tadi keterlaluan. Aku yakin dia membencimu teramat sangat sekarang." tambahnya. Tak membantu siapa-siapa sama sekali.
Sementara itu Soonyoung sedang berusaha bicara dengan Jihoon. Di belakang Jihoon, Soonyoung membuntutinya. "Jihoonie, aku minta maaf."
"untuk apa? Untuk saudaramu yang mengataiku kecil? Bocah? Tenang saja aku sudah memaafkannya." Jihoon terus saja melangkah tanpa rasa memaafkan sama sekali tentu saja. Penghinaan ini akan dia ingat bahkan sampai dia mati.
"dia benar-benar tidak tau apa yang dia katakan. Dia hanya bercanda." Soonyoung berkata lagi. Berhasil membuat Jihoon menghentikan langkahnya dan menoleh.
Bercanda? Luar biasa.
"aku paham benar selera humornya. Sangat lucu."
Soonyoung sadar dia salah bicara. "dia tak bermaksud. Maksudku, dia sama sekali tak bermaksud. Dia tak tau."
Jihoon kembali melanjutkan langkahnya. Membuka satu-satu pintu kamar di lantai atas guna menemukan kopernya. "Jihoon—"
"aku sudah memaafkannya. Sekarang apa masalahmu?" Jihoon berbalik menghadap Soonyoung. Dia sudah menemukan kamar di mana kopernya berada, tepat di belakangnya. Jihoon menunggu perkataan Soonyoung selanjutnya. Hening sejenak tak ada balasan lagi dari Soonyoung. "kalau begitu, aku permisi ingin tidur." Jihoon mundur beberapa langkah memasuki kamar dan 'Bang!' pintu kamar menutup tepat di depan wajah Soonyoung.
Lagi.
Soonyoung pernah merasakan ini sebelumnya. Dan sama seperti yang sebelumnya kini pun dia tak tau harus berbuat apa. Mendobrak bukan perkara susah. Hanya saja … Argh!
.
.
.
Makan malam mereka disiapkan oleh Mingyu. Biar kata dirinya tak merasakan apa-apa ketika memakan makanan manusia, tapi dia punya bakat di sana. Wonwoo yang berniat membantu berakhir menonton Mingyu yang sibuk sendiri.
"ada yang bisa kubantu?" bosan juga kalau disuruh menonton saja. Wonwoo mendekat dan berdiri tepat di sebelah Mingyu.
"kau ingin membantu?" Mingyu menggeser papan telanan di hadapannya pada Wonwoo. "tolong potongkan kalau begitu." Bisiknya pada Wonwoo. Ini sudah jadi kebiasaan semua orang pada Wonwoo sepertinya.
Wonwoo memotong cabai hijau yang disodorkan Mingyu padanya. Memotong beberapa buah sebelum mengambil satu yang utuh dan menggigitnya. Iseng. Tak ada kerjaan. Semua campur jadi satu.
"apa yang kau lakukan?" Mingyu yang baru selesai mengisi air ke dalam panci menoleh pada Wonwoo yang mengunyah sesuatu. Tidak ada apa-apa di sana selain cabai. Dengan kata lain Wonwoo mengunyah cabai hijau yang dipotongnya.
"mencoba?" kunyah lagi. "kupikir tidak pedas karena berwarna hijau." Wonwoo meletakan pisaunya dan segera mencari air kemudian. Diiringi suara tawa Mingyu, Wonwoo meneguk air biasa yang menurutnya kurang hingga lalu membuka kulkas.
"tunggu dulu—"
Wonwoo terlanjur membuka kulkas dan mematung di sana. Ada berkantung-kantung darah di dalam kulkas. Suplai mereka para vampire barang kali. Berbagi dingin dengan suplai makanan yang mereka bawa. Bukan masalah berbaginya. Bukan sama sekali. Hanya saja, ini kali pertama dia melihat kantong darah sebanyak ini. Bukan untuk didonorkan tapi untuk diminum.
Wonwoo masih saja mematung kalau bukan Mingyu yang mengambilkan sebotol air untuknya dari dalam kulkas dan menutup pintu kulkas kemudian. "rumah ini hanya punya satu kulkas. Maaf kau harus melihatnya."
Mingyu menyodorkan botol air tadi pada Wonwoo. Berlalu dan kembali mengurusi apa yang dia lakukan sebelumnya. Wonwoo membuka dan meminum airnya dalam diam. Perasaannya saja atau memang benar Wonwoo selalu tau bagaimana perasaan Mingyu tanpa perlu Mingyu ucapkan apa itu.
Mingyu mengambil alih tugas Wonwoo ketika Wonwoo datang dan mengambil alih tugasnya kembali. "aku hanya kaget. Belum pernah melihat kantung darah sebanyak itu." Katanya biasa. Memang biasa. Dia sudah mengenal Mingyu dan saudaranya. Mereka mempercayakan rahasia mereka padanya dan Wonwoo menghormatinya.
Wonwoo menoleh pada Mingyu dan memberikan senyum terbaiknya. Dia serius menerima keberadaan Mingyu apa adanya. Dan dia ingin Mingyu tau kalau itu bukan pura-pura. Dan mungkin hanya perasaan Mingyu saja yang tak dapat Wonwoo terima sampai saat ini. Tapi selebihnya semua baik baik saja.
Mingyu membalas senyum Wonwoo tentu saja. Siapa yang dapat menolak senyum seseorang yang dicintainya begitu saja. Rugi. "senang mendengarnya." Benar-benar senang karena sebuah senyuman.
Ramyun yang dimasak Mingyu jadi, Wonwoo merupakan orang pertama yang mendapatkan kehormatan untuk mencicipinya dan sang koki sendiri yang menyuapinya. "kau harus jadi koki. Masakanmu enak." Dengan mulut penuh Wonwoo memuji. Tulus dan serius. Mingyu punya bakat dalam memasak.
Seungkwan yang memiliki penciuman paling tajam menyangkut makanan dalam sekejab muncul di dapur setelah sebelumnya diketahui sedang bermain bersama Minghao di halaman belakang.
Seungkwan kemungkinan satu-satunya manusia dengan baterai cadangan di dalam tubuhnya. Sementara yang lain beristirahat karena kelelahan, setidaknya melakukan pekerjaan ringan apa pun itu. Seungkwan ternyata masih punya cukup tenaga bahkan untuk bermain sepeda. Bersama Minghao. Harus diakui kalau keduanya cocok. Memiliki kesamaan pada tingkat keaktif-an yang relative tinggi. Punya tenaga yang bisa jadi tak ada habisnya.
"baunya enak~" Seungkwan mendekat dan berdiri di antara Wonwoo dan Mingyu. Mencium lebih dekat lagi.
"rasanya juga," Wonwoo mengacungkan jempolnya.
"mau coba?" Mingyu menyodorkan sesuap kepada Seungkwan. Yang tidak mungkin ditolak dan ditanggapi dengan senang hati olehnya.
Seungkwan mengunyah. Ekspresi awalnya yang datar kemudian mulai membentuk senyum di bibir dengan mata yang berbinar. Lidah tidak bisa bohong. Kalau enak ya enak.
"kau hebat hyung. Ini benar-benar enak." Seungkwan memujinya. Pujian dari seseorang yang pro dalam urusan makan.
Mingyu tersenyum bangga tentu saja. Suatu kehormatan tersendiri masakannya mendapat respon positif dari manusia yang memakannya. Terlebih satu manusia yang dicintainya.
Acara cicip kini berlanjut ke acara perbincangan seputar kuliner. Wajah Seungkwan benar-benar lain jika membicarakan makanan. Senyumnya kelewat lebar dengan pipinya yang bersemu saat mengunyah. Ekspresi istimewa yang mampu membuat seseorang berjanji akan berguru pada Mingyu masalah makanan dan membuat Seungkwan tersenyum lebih dari ini. Terlebih hanya untuknya.
Dia berjanji. Hansol berjanji.
.
.
.
Jihoon mana tidur. Dia tidak bisa. Dia juga berbohong. Mana mungkin kenyang dengan makan tiga suap saja. Untung bagi Jihoon dia bawa snack sendiri dari rumah. Sudah memperkirakan kalau akan ada kejadiannya dia harus mengurung diri sendiri di dalam kamar.
Koper sudah dibongkar. Macam-macam biskuit dan roti dibawanya. Jihoon niat ingin survive dengan berada di kamar saja. Bisa dilihat setengah dari kopernya roti melon semua. Tak ada yang lain selain makanan dan pakaian. Saat yang lain membawa hal-hal terkait liburan. Jihoon lebih tepatnya dikatakan sedang mengungsi.
"yang benar saja," Jihoon mengambil peralatan mandinya dan sadar kemudian kalau kamar di mana dia berada sekarang sama sekali tak memiliki pintu lain selain pintu yang dilewatinya barusan. Dengan kata lain, kamar mandi luar. "kamar seluas ini?" omelnya tak terima.
Mau tak mau harus keluar kamar. Jihoon membuka pintu kamarnya setelah sebelumnya menguping ada tidaknya orang di luar sana. Setelah diyakininya kosong, Jihoon keluar dan nyatanya menemukan Soonyoung duduk bersender di dinding depan kamarnya.
"Jihoonie," Soonyoung berdiri. Jihoon masuk lagi.
"ada apa?"
"aku mengkhawatirkanmu."
"aku baik-baik saja."
"tidak, kau tidak baik-baik saja." Kau mulai menjauh lagi.
Soonyoung memaksa masuk saat Jihoon mencoba mendorong pintu. Soonyoung berhasil masuk dan kini ditutupnya pintu. Sudah sampai ketahap ini. Hari ini. Dan dia masih tidak mengerti kenapa Jihoon sama sekali tak membuka celah sedikit saja untuknya lagi.
"apa yang kau lakukan?" Soonyoung mendekat dan Jihoon terus mundur.
Jihoon berakhir terjatuh di atas tempat tidur kemudian, saat sudah ada Soonyoung di atasnya ketika dia ingin bangkit. Soonyoung hanya mengurung Jihoon dengan rentangan tangannya. Belum menyentuhnya, belum ada niatan ke sana. Tapi Jihoon sudah memejamkan erat matanya dan berpaling.
"jelas masih ada krisis kepercayaan di antara kita." Jihoon membuka sebelahnya dan melihat tangan Soonyoung masih mengurungnya. Belum berakhir ternyata. "Jihoon, aku menyukaimu. Andai saja kau paham itu sudah menjadi tujuanku dari awal sejak kita bertemu."
Jihoon melirik lagi. Dia merasakannya tentu saja. Soonyoung berhasil membuatnya merasa istimewa. Jangan salahkan Jihoon kalau merasa Soonyoung memiliki rasa padanya dan nyatanya benar. Tapi sayangnya dia yang tak ada. Atau entahlah. Ini terlalu aneh untuk jadi nyata. Kedatangan mereka yang bukan manusia dengan semua cerita yang menyertai mereka.
"tapi aku tak menyukaimu." Jantungnya berdetak aneh saat mengatakannya. Soonyoung bahkan Jihoon sendiri tau ada yang salah dengan perkataannya barusan. Berbohongkah? Jihoon membohongi dirinya sendiri?
"kalaupun tidak, setidaknya jangan menjauhiku." Tangan Soonyoung menyentuh pipi Jihoon pada akhirnya. Berhasil. Jihoon tak menolaknya. Atau belum tepatnya. "kalau kau tak menyukaiku setidaknya jangan jadikan aku musuhmu."
Jihoon menghadapkan dirinya pada Soonyoung. Wajahnya seperti biasa keras di awal dan luluh saat menatap balik Soonyoung yang mengiba. Sebegitu sakitkah dijauhi? Separah itukah yang dilakukannya?
Tangan Soonyoung berhenti mengelus. Tak hanya itu, tubuhnya pun mulai merosot. Menindih Jihoon dan menenggelamkan wajahnya di leher Jihoon.
"kau sedang apa?" ketakutan. Mungkin sedikit. Jihoon memegang kepala Soonyoung dan meremas rambutnya berjaga-jaga.
Soonyoung tersenyum. Jihoon merasakannya. Terasa jelas di lehernya. "aku akan menggigitmu." Katanya dan Jihoon tidak percaya. Soonyoung tidak akan menggigitnya. Bagaimana dia tau? Dia hanya tau. Dia percaya?
"Soonyoung?" panggilnya dan Soonyoung hanya bergumam.
Lama tidak ada jawaban lebih lanjut hingga sekian-sekian menit berlalu. Jihoon akhirnya tau kalau Soonyoung tertidur. Nafasnya tenang, dengan detak jantung berjeda lama teratur.
Hening memaksanya memikirkan semua yang dilakukan pada Soonyoung kemudian. Jihoon bukan tak tau apa yang dilakukannya kelewatan. Mengabaikan seseorang yang mengharapkan pengakuan atas eksistensi. Jihoon mengharapkan Soonyoung yang menyerah pada dirinya. Selesai begitu Jihoon mengabaikannya. Dan sebaliknya Jihoon mendapati dirinya sendiri yang menyerah atas dirinya.
Genggaman Jihoon pada rambut Soonyoung melemas. Dengan sadar tangan Jihoon mengusap kepala Soonyoung yang sedang tertidur di atasnya. Soonyoung sungguh-sungguh sedang tertidur, tapi dia jelas masih bisa merasakan kalau Jihoon menyentuhnya.
Kali ini Jihoon sendiri yang menyentuhnya. Tanpa paksaan namun dengan perasaan yang mungkin Jihoon sendiri tidak tau ada sedikit terselip di dalamnya. Tersalurkan jelas pada Soonyoung bahkan sampai ke alam mimpinya.
Menjelang senja malam itu Soonyoung mendapatkan tidur paling nyenyak dalam hidupnya. Bersama orang yang dicintainya dan dia percaya suatu saat nanti akan balik mencintainya.
.
.
.
[Chapter Ten] Done!
.
.
.
A/N:
Whats on ur mind? Tell me
Keboringan mulai terasa? Tell me
Feel-nya udah nyamain lagu exid up & down? Tell me
Entar saya nyanyiin tell me-nya wondergirls OTL =')))
17 hal. Bisa jadi chapter terpanjang, tapi kosong X'))) Tell me /?
UHHUhuweeee X'))
Sekian. Lol=))
Thankyouu. Love ya:*
