AE_10
"Yak, satu, dua, tiga, action!"
Kemarin malam terasa berjalan begitu cepat, tahu-tahu sekarang sudah hari Minggu, hari dimana Cloud dan Tifa akan memulai shooting video klip bersama di Gold Saucer. Sesuai dengan yang dikatakan Sephiroth beberapa hari sebelumnya, Gold Saucer memang disewa penuh untuk hari ini sehingga benar-benar bersih dari pengunjung yang biasanya bergerumul bagaikan semut, hal itu juga dapat diketahui dari papan yang bertuliskan 'CLOSED' yang terpasang dengan sangat jelas di depan loket.
Saat datang tadi, Cloud tidak menyangka kalau ayahnya benar-benar menyewa tempat seluas dan sebesar ini, entah berapa biaya sewanya, Cloud tidak bisa menebak, tapi gosipnya sih, Sephiroth sampai menghabiskan uang ratusan juta gil! Jumlah yang sempat membuat Cloud kaget pada awalnya. Tapi yah ... Cloud pikir biarkan saja deh, lagipula Sephiroth sendiri juga yang mau menerima tawaran pekerjaan ini, jadinya Cloud tidak perlu terlalu khawatir (apalagi Sephiroth termasuk sutradara sukses yang kaya). Dan lagi, dalam karirnya selama tiga tahun menjadi seorang sutradara, mungkin sudah (hampir) sepuluh kali Sephiroth menerima tawaran pekerjaan dengan modal besar, sebagian besar terdiri dari film.
Cloud datang bersama dengan Tifa pagi ini, kebetulan mereka berdua juga janji untuk bertemu di stasiun untuk berangkat bersama-sama. Sesampainya di Gold Saucer, Tifa sungguh kaget ketika mengetahui kalau sutradaranya adalah Sephiroth, dan langsung saja ia berlari ke arah Sephiroth yang sedang mengatur para kru dan meminta foto bersama lengkap dengan tanda tangan, Cloud baru tahu kalau Tifa ternyata penggemar Sephiroth, tetapi sepertinya dia tidak tahu kalau pria berjabrik kuning itu adalah anaknya, kalau saja Tifa tahu, mungkin suasana akan lebih heboh.
Beberapa saat yang lalu.
"Adam and Eve?" tanya Cloud kepada Sephiroth.
"Ya, itu tema shootingnya," jawab Sephiroth.
"Maksud tou-san, kami berdua harus telanjang bulat dan berlari-lari disini layaknya Adam dan Hawa yang sebenarnya?" tanya Cloud dengan wajah ... heran.
"Ha ha ha ha! Tentu saja tidak, Cloud! Meski aku mendapatkan inspirasi dari kisah lama itu, tapi tentu saja aku tidak meniru sampai ke arah sana."
Cloud menatap ayahnya sinis, "jadi? Maksudnya apa?"
"Intinya, mereka berdua adalah sepasang kekasih yang memang ditakdirkan untuk selalu bersama sejak awal bertemu, dan juga, tak bisa terpisahkan."
"Klise sekali," bisik Cloud.
"Meski klise, tetapi entah kenapa aku merasa kalau tema ini sangat cocok denganmu dan wanita itu," kata Sephiroth sambil melihat Tifa yang sedang dirias.
"Ya, ya."
"Jadi, yang harus kamu lakukan adalah bermesraan dengannya, layaknya seperti sepasang kekasih, kau yang seorang aktor terkenal tentu bisa kan?"
"Ya ya."
Akhir dari kilas balik.
Begitulah yang dikatakan Sephiroth tadi, hingga akhirnya, sekarang Cloud dan Tifa sedang melakukan shooting sesuai dengan instruksi Sephiroth. Untuk soal kostum, Cloud mengenakan kemeja berwarna putih dengan bahan yang tipis, celana jeans longgar berwarna hitam, dan sepatu olah raga berwarna putih dengan warna hitam di bagian alasnya. Untuk Tifa, dia mengenakan gaun panjang berlengan pendek dan berwarna putih, dan sepatu berhak rendah bernada senada untuk alas kakinya, entah kenapa Tifa selalu dilekatkan dengan warna putih. Awalnya Cloud dan Tifa pikir akan mudah untuk melakukan semua ini, tetapi ternyata mereka berdua salah, berkali-kali mereka berdua harus melakukan take karena terkadang mereka berdua malah bengong atau tertawa sendiri.
Bagi Cloud, melakukan shooting video klip dengan Tifa adalah pertama kali untuknya. Meski adegan mesra yang dia lakukan dengannya hanya berupa akting, tetapi entah kenapa Cloud merasakan rasa canggung yang aneh, selain itu dia juga merasakan rasa malu-malu yang sebelumnya ia tak pernah rasakan dengan artis-artis sebelumnya, baik saat adegan bergandengan tangan, maupun saat adegan berpelukan. Dan bicara soal berpelukan, entah kenapa Cloud sering gagal dalam melakukan adegan ini karena tanpa sadar, dia sering memeluk Tifa lebih lama dari yang seharusnya ditentukan, ketika Sephiroth berteriak 'cut', barulah dia sadar dan melepaskan pelukannya. Cloud segera minta maaf kepada Sephiroth dan semua kru termasuk Tifa, dan setelah itu adegan pun diulangi kembali, setelah melakukan take sebanyak 2 kali, barulah adegan tersebut bisa dilakukan dengan sukses. Cloud benar-benar merasa aneh, kenapa dia selalu merasa seperti ini jika dia sedang bersama Tifa?
Sementara Tifa, entah kenapa dia selalu berdebar-debar selama shooting ini berlangsung, dan bahkan sebelum shooting dimulaipun, jantungnya juga selalu berdetak kencang. Matanya selalu terarah pada wajah Cloud yang membuatnya terpesona, meskipun dia sudah pernah melihat wajah itu sebelumnya, tetapi pesonanya seakan tidak pernah menghilang atau berkurang sedikitpun, apalagi ketampanannya, jika Tifa bisa memberinya skor, maka skor yang akan diberikan Tifa adalah 100. Tak hanya itu, kemeja yang tipis itu membuatnya bisa melihat tubuh Cloud lebih jelas, tubuhnya yang bagus, berotot (meski tidak sampai seperti binaraga), wajah Tifa sering dibuat merah karenanya, malah hampir mimisan. Tetapi kalau dalam hal perasaan pribadi, bisa dibilang kalau Tifa itu lebih profesional daripada Cloud, sehingga kesalahan yang dia buat tidak sebanyak kesalahan Cloud (meski ini cukup menganggunya).
...
"Baiklah! Cukup untuk hari ini! kita lanjutkan besok pagi!" teriak Sephiroth.
Akhirnya shooting hari ini selesai juga, dan sama sekali tak terasa kalau waktu sudah hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Shooting hari ini bisa dibilang cukup sukses meskipun Cloud dan Tifa agak sering melakukan kesalahan, mungkin sudah ada sekitar puluhan adegan yang diambil di 5 wahana berbeda, tetapi jujur saja, itu cukup membuat Cloud dan Tifa kelelahan.
"Sudah mau pulang sekarang, Cloud?" tanya Sephiroth.
"Iya, duluan ya, tou-san," jawab Cloud sambil memakai hoodie dan kacamatanya.
"Lebih baik kau ajak juga dia."
"Dia?"
"Tifa Lockhart."
"Kenapa?"
"Sudah malam sekarang, tak baik bagi perempuan untuk berjalan sendirian jam segini."
Cloud menghela nafas.
"Jangan berpura-pura Cloud, aku tahu kau tertarik padanya."
Cloud memalingkan wajahnya ke Sephiroth, "Apa maksud tou-san?"
"Ya sudahlah, hati-hati di jalan, aku masih mau melakukan edit untuk adegan-adegan kalian tadi," kata Sephiroth, "hati-hati Cloud."
Sephiroth berjalan ke arah kru-kru yang terlihat sedang berdiskusi dan meninggalkan Cloud, Cloud tetap tidak memalingkan wajah dari ayahnya sampai ada seseorang yang menghampiri dan menyapa namanya pelan. Saat Cloud menoleh, ternyata itu adalah Tifa, wajahnya tetap terlihat cantik meskipun make up sudah terhapus dari wajahnya, kesan Cloud terhadapnya ternyata memang terbukti, yaitu wajahnya yang memang cantik natural.
"Cloud, bisakah kita pulang bersama-sama?"
"Em ... yah."
"Kumohon? Soalnya sudah malam, aku takut pulang sendirian ."
"Aku ... yah aku tak keberatan."
Tifa tersenyum, "terima kasih Cloud."
Cloud membalas senyuman Tifa, dan setelah itu mereka berdua berjalan keluar dari Gold Saucer untuk menuju ke stasiun. Selama perjalanan ke sana, Cloud dan Tifa disuguhi oleh pemandangan malam kota Midgar yang tak disangka sangat indah daripada saat siang, bintang-bintang di langit serta lampu di gedung-gedung yang bersinar warna-warni, rasanya baru kali ini Cloud dan Tifa melihatnya.
"Indah sekali," kata Tifa.
"Ya, aku juga baru pertama kali melihatnya," kata Cloud.
"Baru kali ini aku melihat pemandangan seperti ini di Midgar, kukira aku takkan bisa melihat apapun selain mobil dan truk yang lewat."
Cloud tertawa kecil, "kurasa pendapatku juga sama denganmu."
Mereka berdua terus berjalan melewati kios-kios makanan yang mulai ramai oleh pengunjung, ketika mereka baru mau melintasi kios takoyaki, perut Tifa pun berbunyi cukup keras sampai Cloud bisa mendengarnya.
Tifa memegangi perutnya.
"Kau lapar?"
"Sepertinya, sebenarnya sih aku belum makan siang tadi."
"Kalau begitu kau mau takoyaki? Lumayan untuk mengganjal perut."
"Aku tak mau takoyaki."
"Hoo, kau pemilih juga ya ternyata?"
"Sedang tidak mood saja kok."
"Lalu kau mau makan apa? Biar kutraktir."
"That's really nice of you," kata Tifa sambil tersenyum.
"No problem miss", jawab Cloud, "so, what do you want?"
"Okonomiyaki, please."
Niat mereka untuk pulang pun berubah, dan kini tujuan mereka adalah kios okonomiyaki yang berada di dekat mereka. Di sana, Cloud memesan tiga potong okonomiyaki dan sekaleng teh hijau yang kebetulan juga dijual di kios itu, sementara Tifa, dia memesan lima potong okonomiyaki tanpa membeli minuman sama sekali (karena sudah saking laparnya). Setelah membeli, Cloud dan Tifa mencari tempat yang bagus dan sepi untuk makan, karena sekarang suasana bertambah ramai, jadi makan sambil jalan bukanlah pilihan yang tepat, apalagi mereka berdua kan artis, bisa gawat kalau nanti mereka ketahuan sedang berada di sini.
"Cloud, mau makan di sana?" tanya Tifa sambil menunjuk kursi di depan air terjun, yang kebetulan kosong.
"Boleh," jawab Cloud.
Kursi yang ditunjuk oleh Tifa tidak jauh, makanya itu mereka bisa langsung merebut kursi itu sebelum sempat diambil oleh pasangan lain, yang sepertinya juga berniat mengambil tempat itu sebagai tempat bermesraan. Tifa tersenyum puas, dan setelah duduk, dia pun langsung menggigit okonomiyaki itu tanpa basa basi lagi untuk memenuhi keinginan mulutnya yang rasanya ingin sekali mengunyah sesuatu (baca : makanan). Cloud terkejut dan hanya bisa tertawa ketika melihat Tifa makan dengan begitu lahapnya, sambil tak menyangka kalau dirinya dan Tifa ternyata memiliki kebiasaan makan yang sama buruknya jika sedang lapar berat.
"Pelan-pelan saja," kata Cloud.
"Masa bodoh ah, aku benar-benar lapar," jawab Tifa setelah menghabiskan satu potong.
Acara makan dilanjutkan, dan sekitar 20 menit kemudian, barulah mereka berdua berhasil menghabiskan porsi makanan mereka masing-masing. Tifa buru-buru mengambil sebungkus tisu dari tas untuk mengelap mulutnya yang terlihat belepotan dengan saus, sementara Cloud menghabiskan teh hijaunya yang isinya tinggal setengah kaleng, berhubung Cloud makan dengan rapi, jadinya nyaris tidak ada sisa-sisa makanan yang terlihat di mulutnya. Tifa sudah merasa lebih kenyang, meskipun masih belum puas tetapi setidaknya perutnya sudah terisi, terima kasih untuk Cloud yang telah mengtraktirnya.
"Terima kasih ya, Cloud."
"Sama-sama."
"Aku jadi tak enak denganmu, bagaimana caraku membalasnya?"
Cloud menatap Tifa sambil tersenyum, "tak usah dipikirkan."
"Jangan begitu, sudah dua kali loh kau menolongku."
Cloud berpikir sejenak, "baiklah, cukup traktir aku makan."
"Hanya itu?"
"Ya, hanya itu, sebenarnya tak enak juga sih ditraktir seorang perempuan."
"Kau tak usah gengsi."
Ketika Cloud baru mau menjawab perkataan Tifa, tiba-tiba ia merasakan getaran dari kantongnya, "tunggu sebentar," kata Cloud sambil merogoh kantongnya.
Cloud mengambil handphone miliknya, saat mata Cloud melihat ke layar, ternyata ada SMS masuk dari Sephiroth.
From : Sephiroth
Text :
Cloud, shooting besok dimulai jam 9 pagi, agak mundur dari rencana semula, beritahu juga Tifa.
Tanpa membalasnya, Cloud langsung memasukkan kembali handphone miliknya ke saku, membuat Tifa merasa heran.
"Tifa, Sephiroth bilang shooting besok diundur jadi jam 9 pagi," kata Cloud datar.
"Ooo-ke, ngomong-ngomong Cloud, boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kelihatannya kau dengan sutradara Sephiroth akrab sekali."
"Oh ya?" tanya Cloud sambil melempar kaleng minumannya ke tempat sampah.
"Iya, waktu sebelum shooting tadi, kelihatannya dia bisa berbicara dengan akrabnya denganmu, dan juga, sepertinya akrabnya itu agak beda," kata Tifa dengan wajah yang heran, "kau ada hubungan apa dengannya?"
Cloud menghela nafas, "Sephiroth itu ayahku."
Mata Tifa langsung melotot, "kau serius ? Tapi kenapa kalian tidak mirip?"
"Ayah tiri," lanjut Cloud santai, "wajar kalau tidak mirip."
"Tiri? Ayah kandungmu?"
"Sudah meninggal waktu aku berumur tiga tahun, kata ibuku dia tewas karena kecelakaan."
Tifa langsung menundukkan kepala ketika mendengarnya, sambil merasa bersalah, "maaf."
Cloud kembali menghela nafas, "tak apa, lagipula sudah lama aku tidak memikirkannya, Sephiroth juga sangat baik padaku."
"Ibumu bagaimana?"
"Sudah meninggal juga, waktu aku berumur 12 tahun karena sakit kanker."
Tifa kembali merasa bersalah, tanpa sengaja dia malah mengingatkan Cloud kembali akan kenangan buruknya, "maaf (lagi)."
"Sudahlah, tak apa kok, kenapa kau menanyakan ini?"
"Hanya ingin tahu saja, kau kan termasuk artis yang paling susah diliput wartawan."
"Begitukah?"
Tifa menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kau perlu tahu, hidupku sama sekali tak ada yang spesial."
Mereka berdua terus mengobrol hingga akhirnya lupa waktu, sadar-sadar, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, waktu yang bisa dibilang mustahil untuk mendapatkan kereta maupun bus. Dengan terpaksa, akhirnya Cloud dan Tifa memilih untuk naik taksi saja, berhubung hanya itu satu-satunya transportasi yang bisa diandalkan, dan lagi-lagi, Cloud lah yang bersedia untuk membayarnya. Tifa semakin merasa tidak enak, dia seperti seseorang yang tidak punya uang sama sekali, padahal di dompetnya kan ada banyak sekali lembaran uang, tetapi meski sudah berkali-kali Tifa mengatakan 'tidak usah', akhir-akhirnya Cloud tetap bersikeras untuk membayarnya.
Tifa lah yang pertama kali diantar, dan ketika ditanya kemana, ternyata Tifa lebih memilih untuk pulang ke rumahnya daripada ke rumah Aerith lagi, karena dia merasa kalau dia sudah terlalu merepotkan Aerith selama beberapa hari ini. Rumah Tifa tidak terlalu jauh dari sini jika ditempuh dengan menggunakan taksi, mungkin tidak sampai 20 menit jika jalanan tidak macet, dan kalau macet paling 30 menit. Cloud dan Tifa kembali saling mengobrol di dalam taksi, sambil merasa heran dan berpikir 'kenapa aku bisa lebih terbuka jika di depannya?'
Selesai juga! Apakah bagus? Mohon read n review ya, thanks. Untuk eleamaya, saya sudah mengurangi penggunaan elipsis tuh, semoga aja bisa mengurangi kekecewaanmu ya. Untuk kimchi, apakah ini sudah ada perbaikan?
