Chap 10
"Maafkan aku, Byakuya-sama… Aku sungguh-sungguh meminta maaf atas apa yang telah kulakukan ini… Kau boleh menghukumku.. Menyiksaku… Atau bahkan membunuhku sekalipun…."ucap Hisana terisak sambil terus menggenggam tangan Byakuya erat. Byakuya membelai kepalanya lalu menggeleng pelan.
"Tidak, aku tidak akan menghukummu atau membunuhmu…. Aku tidak merasa terganggu dengan itu semua asalkan kau jujur padaku…"ujar Byakuya tenang. Hisana terbangun dari tidurnya, ia segera memeluk Byakuya.
"Tapi, bagaimana jika mereka mengejarmu setelah ini??? Bagaimana kalau mereka membunuhmu???!!!!!"tanya Hisana cemas, Byakuya kembali menggeleng.
"Itu tidak akan terjadi. Semuanya ada disini, aku tidak berperang sendirian…"balas Byakuya, berusaha menenangkan Hisana. Hisana melepaskan pelukannya. Lalu menatap Byakuya.
"Berjanjilah, kau tidak akan apa-apa…"bisiknya. Byakuya mengangguk.
"Aku berjanji…"ucap Byakuya mantap. Hisana tersenyum lembut mendengarnya.
Kira dan yang lain telah tiba di perkemahan, kedatangan mereka yang membawa Kensei dan Kuma membuat yang lain terkejut. Sasakibe dengan sigap berjalan kearah mereka.
"Kenapa kau membawa kedua prajurit ini kembali?????"tanya Sasakibe sambil melipat tangan. Kira membungkukkan badannya.
"Maafkan saya karena telah lancang melakukan ini. Tetapi, saya harus bicara dengan Unohana-san sekarang…"balas Kira. Sasakibe mengangkat satu alisnya, tampaknya ia tidak setuju.
"Kira Izuru, saya tidak akan mengijinkan anda menemuinya sebelum anda menjelaskan alasan dari semua ini…"ucap Sasakibe lantang. Kira menghela napas.
"Begini, sebenarnya kami menerima pesan darurat yang dikirimkan oleh Kensei-san dan Kuma-san. Namun, saat kami menemui mereka disana, mereka ditemukan dalam keadaan terluka parah. Dan ternyata Kuma-san sedang hamil. Jadi, kami memutuskan untuk membawa mereka kemari…"jelas Kira. Sasakibe menatap Kuma, kemudian berjalan kearahnya. Kuma menunduk, tak berani melihatnya.
"Benarkah itu, Mashiro Kuma?????"tanya Sasakibe. Kuma mengangguk.
"Ya, itu benar. Akan tetapi, saya ingin sekali ikut berperang…. Kalau anda merasa keberatan atau terganggu, silahkan hukum saya…"ucap Kuma terbata-bata. Tiba-tiba Sasakibe menepuk pundaknya, Kuma mengangkat wajahnya.
"Tak apa, kau boleh saja ikut berperang. Tapi perhatikanlah kesehatanmu lain kali…"ujar Sasakibe. Kuma tersenyum mendengarnya, lalu mengangguk.
"Ba..baik!!!!!!"ucapnya. Setelah itu, mereka pergi menemui Unohana. Tiba-tiba, Kira bertemu dengan Hitsugaya, keduanya berpapasan.
"Hi..Hitsugaya-san!!!!! Bagaimana kau bisa kemari????"panggilnya tak percaya. Hitsugaya menghentikan langkahnya, begitu juga Kira.
"Kuchiki yang memintaku.. Kau sendiri, bagaimana kabarmu????"tanya Hitsugaya.
"Sa….saya baik-baik saja!!!"balas Kira. Hitsugaya terdiam sebentar, memikirkan sebuah pertanyaan. Kemudian ia membuka mulutnya untuk mengatakannya…
"Dimana Hinamori???"tanya Hitsugaya.
"Ia ada di sana, di seberang api unggun, sedang duduk bersama prajurit yang lain…"ujar Kira sambil mengarahkan ibu jarinya kearah Momo yang sedang berbicara disana.
"Terima kasih, Kira-kun…."ucap Hitsugaya sambil berjalan kearah api unggun.
'Sama-sama…" balas Kira.
Momo sedang berbicara sambil menikmati perbekalan buatan para Chef istana. Tiba-tiba, ia berhenti saat melihat seseorang berhenti didepannya. Ia mengangkat wajahnya. Lalu matanya melebar tak percaya.
"Hai, Hinamori…. Lama tak berjumpa…"sapa Hitsugaya, kemudian ia duduk disebelah Momo. Momo tersenyum padanya.
"Hai juga, sudah lama kita tidak bertemu…"ujar Momo. Hitsugaya terkejut, ia berpikir kalau Momo akan marah padanya, ternyata tidak.
"Hi…Hinamori???? Ka…kau… Kenapa kau tidak marah padaku????!!!"tanya Hitsugaya tiba-tiba. Momo berhenti sejenak. Kemudian menoleh kepada Hitsugaya sanbil menatapnya bingung.
"Apa maksudmu, Shiro-chan????"tanya Momo santai. Hitsugaya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
"Aku ini, telah melanggar perintahmu untuk ikut berperang… Tapi, kenapa kau tidak marah kepadaku???!!!!"tanya Hitsugaya tegas. Momo menghela napas, kemudian ia meneguk teh hangatnya. Lalu membuka mulutnya untuk bicara.
"Aku sadar, aku tidak bisa memaksamu untuk terus absent dalam perang. Karena, kemampuanmu sangat dibutuhkan, begitu juga denganmu yang sangat senang dengan pertarungan. Tak mungkin aku melarangmu, kau sendiri akan bosan nantinya…."jelas Momo. Hitsugaya tetap saja mengelak, ia mengerutkan alisnya.
"Tapi, yang kau khawatirkan itu adalah penyakitku ini 'kan???? Apa kau akan tetap membiarkanku berperang????"tanya Hitsugaya. Momo mulai kesal pada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Hitsugaya.
"Shiro-chan, kau mau membuatku naik darah ya??? Sudah bagus aku membiarkanmu perang, tapi kau tetap keras kepala begini.. Dengarkan aku, aku baru akan melarangmu jika suatu saat ketika kau sedang berperang dan penyakitmu mulai kambuh. Nah, apa sudah cukup atau kau mau menanyakan hal-hal aneh lagi?????"tanya Momo. Penjelasannya barusan membuat Hitsugaya terdiam. Kemudian ia mengeleng.
"Tidak, maafkan aku karena telah membuatmu marah… Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin kepastian darimu.."ujar Hitsugaya pelan. Momo tersenyum padanya, kemudian merangkulnya seperti adik.
"Aduuuh, jangan murung begitu… Aku hanya kesal, aku tidak marah."ujarnya menghibur sambil tertawa. Hitsugaya tetap terdiam. Momo berhenti tertawa.
"Ada apa????"tanya Momo. Tiba-tiba Hitsugaya tertawa keras, Momo menatapnya heran, akan tetapi ia ikut tertawa pada akhirnya.
Grimmjaw dan Lilinette berjalan menyusuri hutan tanpa arah dan tujuan. Tapi perjalanan mereka berakhir dan mereka menemukan sebuah
Kastil berdinding putih seputih salju.
"Grimmjaw-nii… sepertinya tak ada siapa-siapa. Bagaimana kalau kita masuk????"tanya Lilinette, Grimmjaw berpikir sebentar, kemudian mengangguk setuju.
Tak ada yang menjaga gerbang, jadi mereka langsung masuk.
Tanpa sadar ada lubang besar didepan mereka, mereka terus melangkah sampai akhirnya jatuh terperosok kedalam lubang. Lubang itu ternyata pintu masuk menuju ruang bawah tanah kastil itu.
BRUK
Mereka berdua mendarat dengan kasar diatas lantai batu, kemudian mereka bangkit dan membersihkan pakaian masing-masing. Mereka melihat ada 5 orang didalam termasuk mereka. Mendengar kegaduhan yang disebabkan mereka, ke-3 orang itu menyadari keberadaan mereka. Kemudian ke-3 orang itu berjalan kearah Grimmjaw dan Lilinette.
"Kelihatannya ada penyusup…. Mayuri, Urahara…"ucap seorang wanita berambut Ungu sambil melipat tangannya. Grimmjaw dan Lilinette berjalan mundur.
"Ya, terlebih lagi sepertinya mereka bawahan Aizen…"balas Urahara. Mayuri dan Yoruichi mengangguk.
"Bagaimana kalau kita tahan mereka, dan kita gunakan untuk percobaanku?????"tanya Mayuri. Urahara terdiam.
"Jangan, sebaiknya kita tahan saja mereka. Siapa tahu mereka dikirim oleh Aizen untuk menculik Rukia."ujar Urahara. Kemudian ia memberi isyarat, tiba-tiba ada seorang wanita berambut pendek berwarna biru yang menahan tangan mereka berdua, lalu mengikatnya.
"Tahan mereka dipenjara, Soi Fong "suruh Yoruichi. Soi Fong mengangguk, kemudian berjalan sambil menarik mereka.
"Tu..tunggu dulu!!! Kami kemari karena kabur dari Kerajaan Selatan!!! Kami tidak bermaksud jahat!!!!!"seru Grimmjaw pada Urahara dan lainnya. Urahara menoleh kearahnya.
"Maaf sekali anak muda, Kerajaan Selatan sangatlah bercitra buruk dan tidak mudah untuk dipercayai. Jangan bohongi kami…"ucap Urahara. Grimmjaw mengepalkan tangannya, kemudian berusaha untuk melepaskannya dari ikatan.
"Percuma saja, tali itu terbuat dari kulit naga di pegunungan Utara. Tak akan ada yang bisa melepaskannya…"ujar Mayuri.
Lalu Grimmjaw dan Lilinette dikurung dalam penjara, mereka berdua dilempar dengan kasar oleh Soi Fong.
"Diam disini, jangan sampai kalian mencoba kabur. Kalau kalian kabur, ku bunuh kalian!!!"ancam Soi Fong tegas, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
DUAKK!!!!
Grimmjaw meninju dinding penjara kesal.
"Sial!!!!!!! Padahal, aku yakin sekali kalau Rukia ada disini…."gumam Grimmjaw. Lilinette merangkak menghampirinya, kemudian bersender pada pundaknya.
"Tenanglah, Grimmjaw-nii… Semoga saja, Rukia-san mengetahui keberadaan kita dan menyelamatkan kita…"ucapnya berharap. Grimmjaw mengelus kepala Lilinette sambil tersenyum hangat.
"Ya, semoga saja…"
Nemu yang sedang berbicara dengan Rukia tiba-tiba saja terdiam, membuat Rukia bingung.
"Ada apa????"tanya Rukia. Nemu memalingkan wajahnya dari arah Rukia, mendengar apa yang sedang terjadi diluar sana. Lalu melirik Rukia.
"Kelihatannya, ada penyusup yang telah berhasil ditangkap…"ucapnya santai.
"Penyusup????"tanya Rukia. Nemu mengangguk. Rukia memikirkan siapa yang ditangkap tersebut, apakah anak-anak Aizen yang mengejarnya atau kah Grimmjaw yang telah memenangkan pertarungan.
"Apa kau tahu, siapa mereka???"tanya Rukia. Nemu mengangkat bahu.
"Aku tidak tahu, aku tidak bisa membaca pikiran orang-orang yang ada disini. Aku hanya bisa membaca sifat. Bagaimana denganmu?? Apa kau bisa melakukannya?? Kalau kau bisa, lakukanlah sendiri…"usul Nemu. Rukia menyetujui usulnya, kemudian ia memejamkan matanya, mencoba mencari tahu siapa yang akan ia rasuki pikirannya. Lalu terpilihlah Soi Fong.
'Pria berambut biru, berbadan besar, berkulit pucat. Ia datang kemari bersama seorang gadis kecil berambut hijau tua. Anak buah Aizen, dan mereka datang kemari untuk menculik Kuchiki Rukia.'Rukia mengulang semua yang dibacanya dalam pikiran Soi Fong di dalam benaknya. Nemu mengamatinya, ia tahu Rukia sedang berkonsentrasi. Setelah itu, Rukia membuka matanya.
"Bagaimana???? Kau dapat sesuatu???"tanya Nemu.
"Ya, aku kenal orang-orang yang mereka tangkap!!! Mereka bukanlah orang jahat!!! Mereka justru melarikan diri dari Kerajaan Selatan karena jalan pikiran mereka tidak sama dengan Aizen!!!!!"ucap Rukia lantang. Nemu melebarkan matanya.
"Berarti, Kisuke-sama salah menangkap orang."bisiknya. Rukia mengerutkan alisnya.
"Lalu bagaimana mereka bisa ditangkap kalau tidak masuk kedalam sini????"tanya Nemu pada Rukia.
"Bisa saja mereka salah mengira tempat persembunyian, atau mereka masuk jebakan atau yang lain…"jawab Rukia. Nemu menopang dagunya, ia memikirkan sesuatu, lalu bergumam kecil.
"Mungkin kau benar…. Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan mereka???"tanya Nemu. Rukia menjentikkan jarinya.
"Aku tahu!!!! Bagaimana kalau kita meminta Urahara-san untuk membebaskan mereka!!!!"usul Rukia. Nemu terdiam sebentar, lalu menggeleng.
"Ah… Kupikir itu bukan ide yang bagus, karena tak mudah untuk membujuk Kisuke-sama…."ujar Nemu agak tidak menyetujui. Rukia mengangkat alisnya.
"Siapa bilang, kalau kita punya alasan yang mencukupi, itu cukup. Lagipula, aku kenal baik dengan Urahara-san!!!"ujar Rukia.
"Demi setan, kemanakah para serangga-serangga Kerajaan Timur itu????!!! Lama sekali mereka!!!!"protes Abirama sambil bertolak pinggang. Barragan diam tak menjawab, kemudian ia menghela napas.
"Haah… Mereka telah pergi meninggalkan tempat ini ternyata…."gumam Barragan. Abirama mencibir kesal.
"Sial!!!!! Dasar pengecut!!!!!!"umpatnya. Kemudian ia kembali duduk didepan gerbang sambil melipat kakinya.
Para pasukan penyusup sudah berhasil masuk istana tanpa ketahuan, dan mereka sudah berkumpul di ruang tengah istana. Bersembunyi dibalik tirai-tirai panjang dan berat yang menggantung pada jendela istana.
"Kemana Kuma dan Kensei?????"tanya Rose. Yang lain menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu, mereka tidak memberikan kabar sama sekali…."ujar Lisa. Hachigen menghela napas.
"Bagaimana bisa kita melepaskan merpati-merpati ini jika mereka tidak ada????'tanyanya. Yang lain diam tidak menjawab, tiba-tiba Shinji mengacungkan jarinya.
'Lepaskan saja!!!! Kalau kita menunda-nunda waktu, musuh akan segera menyadari keberadaan kita!!!!!"ujarnya. Love menatapnya tak setuju.
"Hei, apa kau tidak punya rasa solidaritas??? Itu sama saja dengan mengabaikan mereka atau menganggap mereka tidak ada sama sekali!!!!"protes Love. Yang lain mengangguk mengiyakan. Shinji mengerutkan alisnya.
"Bukan maksudku aku tidak punya rasa solidaritas, tapi ini sudah keadaan darurat. Cepat atau lambat mereka akan segera menemukan kita, maka dari itu kita harus segera memanggil bantuan. Kuminta pada kalian semua, janganlah kalian pesimis seperti itu. Bisa saja kalau Kensei dan Kuma ternyata kembali ke perkemahan."jelas Shinji.
"Kembali??? Untuk apa???"tanya Hiyori.
"Aku tidak tahu, bisa bermacam-macam alasannya…"balasnya. Kemudian yang lain terdiam memikirkan kata-kata Shinji. Lalu satu persatu dari mereka mulai mengangguk setuju.
"Baiklah, usulmu kuterima. Kita memang harus segera mencari bantuan…."ujar Lisa. Lalu ia mengeluarkan merpatinya, yang lain pun melakukan hal yang sama. Lalu mereka melepaskannya secara bersamaan melewati jendela yang mereka buka. Para merpati itu pun melesat terbang ke angkasa.
Diluar istana, Ggio Vega dan Findol yang sedang berburu di hutan melihat burung-burung itu terbang keluar dari dalam Istana. Mereka sadar kalau yang mengirimkan itu bukanlah saudara mereka.
"Siapa yang melakukannya?????"tanya Ggio. Findol mendesis pelan.
"Mereka rupanya…."gumam Findol. Ggio mengangkat wajahnya untuk melihat Findol yang jauh lebih tinggi darinya.
"Siapa??"tanya Ggio. Findol tersenyum setengah, ia memberikan tatapan remeh.
"Para prajurit Kerajaan Timur…"balasnya. Ggio pun menyeringai lebar.
"Mereka ya… Hei, Findol!!! Apa kau tahu harus apa?'tanya Ggio. Findol mengangguk.
"Ya, ayo kita beritahu yang lain!!!!"jawab Findol sambil berlari menuju Istana. Diikuti Ggio dari belakang.
Setelah berhasil kabur dari Mila Rose, Nnoitra dan Yylfordt juga berjalan menyusuri hutan tanpa arah dan tujuan. Tiba-tiba, mereka bertemu sekelompok orang yang tengah beristirahat. Mereka berusaha untuk sembunyi, namun mereka telanjur menyadari kehadiran Nnoitra dan Yylfordt.
"Keluar kalian!!!!'suruh seseorang diantara mereka. Nnoitra dan Yylfordt pun muncul dari tempat persembunyian mereka. Mereka terkejut ketika megetahui bahwa sekelompok orang itu adalah orang yang mereka kenal.
"Ka..kalian!!!! Kenapa bisa disini????!!!"tanya seorang pria berambut model bob dengan bulu Merak pada salah satu bulu matanya. Disebelahnya ada seorang anak kecil berambut pink dan seorang pria bertubuh raksasa dengan rambut hitam yang berdiri.
"Yu…Yumichika??? Yachiru-chan??? Kenpachi-san??? Kalian sendiri sedang apa????"tanya Yylfordt.
"Kami sedang menunggu Komamura-san dan Tosen-san kembali dari sungai mengambil air…"jawab Yachiru santai.
"Ya, kami cukup lelah setelah bersenang-senang dengan naga di Pegunungan sana…."ujar Kenpachi sambil menunjuk kearah puncak sebuah gunung yang berwarna agak kemerahan. Terdengan raungan buas Naga dari sana.
"Oh, kalian pasti lelah sekali tentunya…."ujar Nnoitra. Mereka mengangguk, kemudian Yachiru tersentak dan duduk tegak.
"Maaf lupa menawarkan!!! Kalian mau bergabung dengan kami????"tanya Yachiru. Yylfordt dan Noitra mengangguk, kemudian mereka berjalan kearah Yachiru dan yang lain, setelah itu duduk sila membentuk lingkaran. Tak lama kemudian datanglah seorang pria berkulit hitam berambut gimbal ungu gelap dan seorang raksasa yang jauh lebih besar dari Kenpachi. Kepalanya ditutupi topeng.
"Hai, Yylford, Nnoitra..."sapa orang berambut gimbal itu.
"To..Tosen-san… Halo juga…"balas Nnoitra.
"Ada perlu apa kalian kemari???"tanya Tosen. Yylfordt dan Nnoitra saling bertatapan, mereka yakin kalau Tosen dan yang lain tidak tahu apa-apa soal peperangan ini.
"Begini, Tosen-san… Kami melarikan diri dari Kerajaan Selatan…"ujar Yylfordt. Tosen mengerutkan alisnya.
"Melarikan diri??? Kenapa?"tanya Tosen.
"Begini, sebenarnya sekarang ini sedang ada peperangan antara Kerajaan Timur dan Kerajaan Selatan…"jawab Yylfordt. Mendengar kata 'Peperangan', Kenpachi, Yachiru, dan Yumichika langsung bangkit dan semangat.
"Apa tadi kau bilang????!!! Peperangan!!!???"tanya Yumichika histeris. Yylfordt dan Nnoitra langsung terdiam kaget mendengarnya. Tiba-tiba Yachiru menghampiri Nnoitra dan mengguncang-guncang tubuh Nnoitra.
"Kenapa Nnoitra-chan tidak memberitahu kami???!!! Kami ini 'kan sudah lama sekali ingin ikut berperang, namun apadaya karena Kerajaan kami damai!!!!"keluh Yachiru pada Nnoitra. Yylfordt dan Nnoitra bingung melihat reaksi mereka.
"Cukup, hentikan… Yumichika, Yachiru!"suruh Komamura. Yachiru pun berhenti, begitu juga Yumichika. Nnoitra sudah merasa pusing dan mual, Yylfordt berusaha memulihkannya.
"Kau baik-baik saja??????"tanya Yylfordt. Nnoitra mengangguk lemah.
"Ya, aku tidak apa-apa…"jawab Nnoitra.
"Yylfordt, Nnoitra.. Apa yang telah menyebabkan peperangan ini???"tanya Komamura serius.
"Begini, sebenarnya rahasia tentang keberadaan Vampir di Kerajaan Timur telah bocor dan ayah mengetahuinya. Maka dari itu ia menculik Kuchiki Rukia dan Kuchiki Hisana untuk memancing Kerajaan Timur agar mau menyerahkan Vampir itu…"jelas Yylfordt. Kenpachi mencibir.
"Cih, orang jahat yang gila kekuasaan itu masih saja kau sebut 'ayah'"komentarnya. Yylfordt merasa tersinggung dan mengepalkan tangannya erat. Tapi Nnoitra mencegahnya.
"Jangan…"bisik Nnoitra. Kemudian Yylfordt kembali tenang.
Tosen terdiam sebentar sambil berpikir, kemudian ia terkekeh pelan.
"Aduh, Aizen.. Ambisi gilanya sejak dulu memang tak pernah berubah.. Selalu saja berhubungan dengan kekuatan dan kekuasaan…"gumam Tosen.
"Hei, bagaimana kalau kami, Kerajaan Utara ikut kalian? Kami akan ada di pihak Kerajaan Timur. Kalian sendiri bagaimana?? Ada di pihak siapa???"tanya Komamura. Nnoitra dan Yylfordt mengangguk secara bersamaan.
"Kami ada di pihak Kerajaan Timur."jawab mereka berdua mantap. Kenpachi mengangguk setuju sambil menyeringai.
"Apa kalian tahu tentang kabar Kerajaan Barat????"tanya Nnoitra. Mereka semua menggeleng.
"Tidak, tak ada informasi mengenai mereka akhir-akhir ini… Aku tidak tahu ada apa dengan mereka…"jawab Tosen.
Urahara dan Rukia sedang berbicara sambil berjalan menuju penjara tempat Grimmjaw berada.
"Kumohon Urahara-san… Mereka ini orang baik, aku sudah cukup lama mengenal mereka!!! Dan aku tahu siapa mereka!!! Mereka benar-benar tidak sama dengan anak buah Aizen yang lainnya!!!"jelas Rukia sambil terus memohon pada Urahara. Urahara menggeleng.
"Tidak, tidak akan.. Kalau kau sampai terluka, kakakmu pasti akan cemas."balas Urahara. Rukia menggertakkan giginya.
"Baiklah, kalau Urahara-san tidak percaya padaku… Silahkan Urahara-san katakan pada Nii-sama kalau Urahara-san tidak percaya mereka itu orang baik!!!!"ujar Rukia kesal. Urahara mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu??"tanya Urahara kesal. Akhirnya mereka sampai di depan sel Grimmjaw dan Lilinette. Grimmjaw dan Lilinette sedang tertidur.
"Begini, pada awalnya Nii-sama memang tidak percaya kalau Grimmjaw itu orang yang baik. Tapi sekarang ia telah sadar kalau ia salah sangka!!!!"bisik Rukia, ia tidak mau membangunkan Grimmjaw yang sedang terlelap. Urahara diam dan memperhitungkan kata-kata Rukia. Akhirnya ia menyerah karena desakan Rukia.
"Bagaimana????"tanya Rukia. Urahara menghela napas dan mengangguk. Rukia tersenyum berseri-seri. Ia memeluk Urahara erat.
"Terima kasih, Urahara-saaan!!!!!!"serunya semangat. Suaranya yang lantang membangunkan Grimmjaw.
"Ru…kia????"panggil Grimmjaw yang berada diantara alam bawah sadar dan sadar. Rukia berlari ke arah sel dan membukakan pintunya, lalu menarik Grimmjaw untuk berdiri.
"Grimmjaw!!!! Kau telah bebas!!!!"ucap Rukia senang. Kata-kata itu membuat Grimmjaw telah sadar sepenuhnya dari ilusi matanya.
"Ya…yang benar????"tanya Grimmjaw seraya tak percaya. Rukia mengangguk senang. Grimmjaw melirik Urahara, Urahara tersneyum dan mengangguk padanya. Grimmjaw membalas senyumannya. Kemudian Grimmjaw membangunkan Lilinette pelan.
"Ehm, Grimmjaw-nii??? Ada apa????"tanyanya setengah mengantuk.
"Bangunlah Lilinette, kita telah bebas…."ucap Grimmjaw. Sama dengan respon Grimmjaw tadi, Lilinette pun juga senang sekali.
"Benarkah??? Syukurlah!!!!"ujarnya.
Para pasukan penyusup masih saja menetap dibalik tirai sambil menyamarkan diri masing-masing. Mereka tak sadar kalau para anak buah Aizen sudah mengepung mereka, begitu juga Aizen.
"Bagaimana??? Aapakah sudah saatnya kita keluar????"tanya Hiyori tak sabaran. Shinji mengangguk.
"Ya, kita telah mengirimkan merpati itu, sekarang waktunya untuk keluar dan me…"kata-kata Shinji terhenti saat ia melihat Aaizen dan anak buahnya telah mengepung mereka.
"Anak-anak… Lihatlah apa yang telah kita temukan disini.. 6 orang prajurit Kerajaan Timru. Kira-kira, apa yang mereka laukan disini??? Menyusup??? Untuk apa???"ucap Aizen. Shinji dan yang lain tidak bisa bergerak.
"Daripada menyusahkan kita lebih jauh, lebih baik…"Aizen tersenyum licik, anak buahnya pun begitu.
"Kita bunuh saja mereka…."ucap Aaizen terdengar sorak-sorak dari anak buah Aizen. Tanpa diberi aba-aba, mereka langsung mturun dan menyerang pasukan penyusup. Tapi, pasukan penyusup tak mudah untuk dikalahkan. Mereka langsung menangkis serangan pedang anak buah Aizen dengan cepat. Namun karena jumlah musuh yang lebih banyak, mereka pun kewalahan menghadapinya. Sampai akhirnya mereka mulai jatuh satu persatu, hanya Shinji yang bertahan. Ulquiorra yang baru saja tiba dari pemantauan langsung diminta untuk memenggal kepalanya.
"Kau sudah berakhir…. Semuanya hanya sampai disini…"ucap Ulquiorra sambil mengeluarkan pedangnya, kemudian ia berlutut dan tangannya bdiletakkan diatas lantai batu sebagai tumpuan. Ia mengarahkan ujung pedang pada leher Shinji, lalu ia mengubah posisinya menjadi seperti seseorang yang mau memotong hewan buruannya. Lalu ia mulai mendekatkan pedangnya, saat tinggal beberapa senti lagi…
DAKKK!!!!
Seseorang tiba-tiba saja datang dan mendorongnya hingga membentur tembok. Tak lama kemudian datang banyak orang dari arah pintu masuk istana sebelah barat. Yang terakhir masuk adalah Ginrei yang didampingi oleh Wakil Jenderal Sasakibe dan Jenderal Yamamoto.
"Ti..tidak mungkin????!!!!! Dimana Barragan dan Abirama???!!!"tanya Aapache tak percaya, ia melihat keluar. Ikkaku dan Hisagi menyeret Barragan dan Abirama yang sudah babak belur.
Aizen dan Ginrei saling bertatapan untuk sesaat, lalu mereka langsung memulai pertarungan.
Byakuya sedang menjaga Hisana, ia ingin ikut berperang. Akan tetapi, Ginrei melarangnya. Byakuya terus mengawasi Hisana yang sedang terlelap, mata Hisana membengkak karena terlalu banyak menangis.
"Byakuya….."panggil sebuah suara. Byakuya membalasnya dengan gumaman.
"Apakah kau membutuhkan kekuatan….???"ternyata itu adalah sang Vampire. Byakuya menggeleng.
"Bukankah aku sudah pernah menhunjukkanmu kekuatanku yang sebenarnya?????"tanya Byakuya. Sang Vampire terkekeh.
"Fuh, bagiku itu masih lemah…"hina sang Vampir. Byakuya menghela napas.
"Ada perlu apa sampai kau menawarkanku kekuatan?"tanya Byakuya.
"Aku merasakan akan ada sesuatu yang buruk terjadi…"ujar sang Vampire. Byakuya diam tidak mendengarkan.
"Terserah kau mau berbuat apa, tapi.. Aku yakin kau akan memberikan darahmu kepadaku suatu saat nanti…"kata-kata itu membuat Byakuya terkejut. Ia bisa mendengarkan sang Vampire tertawa didalam dirinya.
"Aku tahu itu, dan itu akan terjadi dalam waktu yang dekat…."Byakuya melebarkan matanya.
"Sangat dekat…"
Grimmjaw dan Lilinette telah bebas sekarang, dan mereka meminta pada Urahara untuk ikut membantu menyerang Kerajaan Selatan dalam waktu dekat ini.
"Aku hanya akan membantumu dalam beberapa pertarungan, kalau itu pertarunganmu… urus saja sendiri, aku tak punya hak apapun untuk melakukannya…"ujar Urahara. Grimmjaw mengangguk. Tiba-tiba Nemu dan Soi Fong berlari terengah-engah kearah mereka. Urahara membalikkan badannya menghadap mereka berdua.
"Ada apa???"tanya Urahara. Nemu dan Soi Fong mengambil napas sebentar, lalu Soi Fong membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
"Ada tamu yang mencari anda, Urahara-san…"ucapnya, keudian ia pergi mendampingi Urahara menemui tamunya…
Tosen beserta Komamura juga Kenpachi, Yachiru, Yumichika, Nnoitra dan Yylfordt sudah menunggu diluar Istana. Tak lama kemudian, Urahara datang…
"Oh, Tosen!!! Kawan lamaku!!!"seru Urahara, ia menjabat tangan Tosen. Lalu ia melihat kebelakang.
"Yah ampun, kau bawa pasukan banyak sekali…"komentar Urahara. Tosen hanya diam saja.
"Sebenarnya, kami datang kemari… Ingin mengajakmu bekerja sama…"ujar Tosen. Urahara melebarkan matanya.
"Kerja sama??? Kerja sama dalam hal apa????"tanya Urahara sambil mengusap tengkuknya.
"Kerja sama, untuk membantu Kerajaan Timur melawan Kerajaan Selatan…"jawab Tosen. Urahara diam, memikirkan sesuatu.
"Kebetulan sekali!!! Aku pun berniat melakukannya!!!"ujar Urahara. Lalu Grimmjaw muncul dari belakangnya. Ia terkejut melihat Nnoitra dan Yylfordt yang ada bersama Tosen.
"Kak Nnoitra!!!! Yylfordt!!! Tosen-san!!!"serunya. Yylfordt melambai padanya, sedangkan Nnoitra tersenyum.
"Kalian mengenalnya????"tanya Tosen. Yylfordt dan Nnoitra mengangguk.
"Tentu saja, Tosen-san!!! Itu Grimmjaw!!!!"jawab Yylfordt semangat. Tosen terkejut, lalu menggelengkan kepalanya.
"Grimmjaw??? Astaga, kau sudah besar sekali.. Aku sampai tidak tahu itu kau!!!!"ujar Tosen. Grimmjaw tersenyum padanya.
Kenpachi maju kedepan sambil membawa pedangnya.
"Ehem!"ia mencoba mengheningkan suasana. Tepat sekali, semuanya terdiam.
"Cukup sudah bernostalgianya, lebih baik kita membuat rencana penyerangan."ujar Kenpachi. Yang lain mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, ayo semuanya.. Silahkan masuk, mari kita bicarakan didalam…"ajak Urahara. Lalu mereka semua pun masuk.
Aizen dan Ginrei terus berduel mengadu pedang dan kemampuan tanpa berbicara sedikitpun. Mereka terus mencoba menghindar dari serangan satu sama lain. Tak jauh dari sana, seseorang berambut putih sedang mengarahkan panahnya pada Ginrei. Ia terus mencari saat yang tepat untuk melepaskan anak panahnya.
Saat Aizen dan Ginrei sedang beristirahat sebentar untuk memulihkan kekuatan, Aizen tersenyum pada orang itu.
"Kau tersenyum pada siapa???"tanya Ginrei. Aizen melirik Ginrei, lalu tertawa pelan.
"Tidak.. tidak pada siapa-siapa… Aku hanya tersenyum.."
Orang itu melepaskan anak panahnya.
JLEB
"Pada kematian yang sudah menunggumu…"sambung Aizen. Kemudian Aizen mengangkat tangannya, spontan semua bawahannya berhenti berduel. Lalu ia menurunkannya, dalam sekejap semua anak buahnya beserta ia sendiri telah hilang.
Semua prajurit pasukan Kerajaan Timur terkejut begitu melihat Raja mereka tertusuk panah, mereka segera meminta Gin untuk mengobati. Dengan cekatan Gin mencabut anak panah tersebut dan meringankan lukannya, akan tetapi ia tak mampu menyembuhkannya.
"Maafkan aku, tapi kita harus membawanya kembali ke perkemahan!!! Panah ini beracun, kalau tidak cepat mengambil tindakan, Ginrei-sama bisa meninggal!!!"ujarnya. Lalu semuanya membawanya pulang ke perkemahan, mereka semua terpaksa mengurungkan niat bertarung karena mencemaskan keadaan pemimpin negeri mereka.
Beberapa orang yang menjaga perkemahan pun terkejut saat melihat para pasukan kembali dalam keadaan buru-buru, semuanya terasa seperti berlalu begitu cepat. Sasakibe menghampiri Kira yang baru keluar dari tenda medis.
"Tolong panggilkan Unohana, dan seluruh tim medis!!! Ini pertolongan darurat!!!'perintahnya. Kira mengangguk.
"Ya!!! Segera saya lakukan!!!"balas Kira.
Semua anggota pasukan medis dikerahkan untuk menyembuhkan Ginrei. Setelah 3 jam berlalu, luka telah tertutup. Akan tetapi itu masih dalam proses penyembuhan dan Ginrei pun masih dalam keadaan tidak sadarkan diri…
"Kau lihat itu????"tanya sang Vampire. Byakuya mengangguk. Tiba-tiba, Hitsugaya masuk kedalam tenda dan duduk didepan Byakuya.
"Kuchiki, setelah kejadian ini, memprediksikan kalau ada kemungkinan mereka akan mengejarmu. Maka dari itu, kami meminta agar kau dan Hisana kembali ke Istana, bersembunyilah disana… Jangan keluar sampai salah seorang dari kami kemari dan memberi laporan padamu.."jelas Hitsugaya. Byakuya mengangguk.
"Bagus, aku mohon maaf kalau aku memintamu dengan cara yang kasar. Tapi…. Kuminta kau pergi dari sini sekarang juga, dan selamatkanlah dirimu!!!!!"ucapnya dengan nada tegas seperti ingin marah. Byakuya dengan segera menggendong Hisana dan keluar tenda, lalu pulang ke Istana.
Sesampainya, Byakuya segera menempatkan Hisana di kamarnya, sedangkan Byakuya sendiri naik ke menara tengah. Ia hendak membuka pintu itu setelah meminta semua kuncinya pada Kaien, namun ia masih agak ragu karena memikirkan resiko yang akan datang jika ia melakukan ini.
"Ayolah, tak usah ragu-ragu!!! Buka saja pintunya!!!!"ucap sang Vampire tak sabaran. Byakuya masih mempertimbangkan keputusan yang tepat. Ia mengingat kembali, apa yang ia bicarakan dengan sang Vampire di hutan.
Flashback:
"Kau dengar itu???? Bahkan seseorang yang terkuat di Kerajaan ini pun kalah dari Aizen, apalagi kau nanti…"sindir sang Vampire.
"Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya ia lakukan sampai Jii-sama bisa kalah…"gumam Byakuya. Sang Vampire terkekeh pelan.
"Itu bukan hanya masalah kekuatan, tapi itu juga masalah bantuan…."ujar Sang Vampire. Byakuya mengerutkan alisnya.
"Bantuan???"tanya Byakuya.
"Ya, bantuan… Seperti yang tadi aku tawarkan padamu…."jawab Sang Vampire. Byakuya benar-benar bimbang, ia merasa tidak kuat, namun juga tidak lemah. Peristiwa itu benar-benar mengacaukan pikirannya.
"Jadi, apa kau bersedia??? Cukup berikan darahmu saja…"pinta sang Vampire.
"Kalau aku memberikan darahku padamu, kau berjanji tidak akan melukai siapapun termasuk Hisana?"tanya Byakuya memastikan.
"Ya, aku tidak akan… Aku berjanji akan membantumu membunuh Aizen.."ujar Sang Vampire berjanji.
End of Flashback
Sang vampire kembali menguasai tubuh Byakuya, tanpa mengulur waktu ia langsung membuka pintu kamar rahasia itu. Setelah itu ia menutup pintunya dan meletakkan kuncinya diatas sebuah meja disebelah peti. Byakuya membuka peti itu pelan-pelan, ada seorang pria tampan berambut merah panjang tertidur didalamnya.
"Apa yang harus kulakukan???"tanya Byakuya. Sebelum mendengar jawabannya, Byakuya mendengar vampire itu tertawa pelan.
"Kau hanya perlu meneteskan setitik darahmu diatas bibirku…. Dengan demikian, aku akan bangkit….."jawab Sang Vampir. Mata Byakuya melebar, sebenarnya ia tidak mau melakukannya. Tapi ia sudah tidak memiliki harapan. Dalam pikirannya, terbayang wajah-wajah orang yang ia sayangi dan cintai. Terasa pedih saat harus menyelamatkan mereka semua saat harus membuang mereka semua. Byakuya mengambil pedangnya, lalu ia menggoreskan jari telunjuknya pada ujung pedang. Darah mengakir walau tak deras. Lalu ia membalikkan jarinya, tetesan darahnya terjatuh dan menyentuh bibir pucat sang Vampir.
Beberapa menit kemudian, vampire itu membuka matanya yang berwarna merah semerah darah. Ia langsung bangkit dari petinya dan berjalan kearah Byakuya.
"Terima kasih karena sudah memberikan darahmu padaku… Sudah lama aku bersamamu, tapi aku belum memberitahumu… Aku, Abarai Renji… Sekali lagi, salam kenal Kuchiki Byakuya."Renji mengulurkan tangannya pada Byakuya, Byakuya agak ragu-ragu untuk menerima uluran itu. Dengan gesit Renji, menarik tangan Byakuya dan mendorongnya ke pintu.
"A…apa yang akan kau lakukan????!!!!"tanya Byakuya. Ia tidak bisa bernafas karena tekanan aura Renji yang begitu menyesakkan beserta wangi yang aneh yang keluar dari tubuhnya.
"Sebelum seluruh kekuatanku pulih… Aku harus 'minum' terlebih dahulu…."jawab Renji sambil mengendus pergelangan tangan Byakuya, kemudian ia terus naik sambil mengendus dan berhenti di leher Byakuya.
"Aku mengerti, tapi.. Bisakah kau menggigit ditempat lain seperti urat nadiku atau yang lain????"tanya Byakuya, jantungnya berdetak kencang saat tubuh dingin itu menyentuhnya. Renji menggeleng.
"Tidak bisa…. Itu sudah menjadi bagian dari persetujuan…. Kalau kau sudah menyetujuina, aku bisa menggigitmu dimanapun aku mau… Lagipula bau yang tercium lebih kuat datangnya dari sini…"ujar Renji.
CHAP 10
-END-
Kelar sudah chap 10… Jauh amat yah….. XDDD
Akhirnya, sang Vampir telah menunjukkan identitas aslinya yaitu.. ABARAI-KUN~~~!!! YAY!!! –Renji fan girl-
Ada Kerajaan lagi nih… XDDDD
As usual, I just wanna say: Thanks for readers and reviewers!!!! I NGELAP YOU!!! (baca: I Love you)
Phillip: Saya nemu Xing Li di Wikipedia kalau tidak salah…
Buat IchiRuki, IshiOri, and the other Bleach pairing is coming soon!!!! Lagi bagiannya si Vampir buat eksis nih!!! XDDD
Review!!!!
