Naruto © Masashi Kishimoto
Story by UchiHaruno Misaki
Warn : AU, OOC, Typo, Mainstream idea, etc.
[U. Sasuke x H. Sakura]
Warn: Lemon inside!
BAB 10
Ino terpaku di tempatnya berdiri ketika dua orang lelaki berparas tampan menghampirinya. Bukan. Ia bukan terpaku karena ketampanan mereka, namun iris aquamarine-nya menatap kosong tak percaya lelaki berambut klimis tanpa ekspresi yang kini tengah menatapnya datar.
"Apakah kau pegawai Motel International Tokyo utusan Hozuki Suigetsu?" tanya lelaki nanas dengan wajah malasnya.
Ino terkesiap, lalu gadis itu segera membungkuk sopan. "Ya, Tuan. Biar saya membantu anda membawa barang-barang anda." Ketika Ino hendak meraih tas hitam dari lelaki itu, tiba-tiba saja lelaki berwajah pucat di sampingnya segera menepis tangan Ino.
"Apa yang kaulakukan?" tanyanya sinis.
Ino terperanjat dan menatap lelaki itu bingung. "Saya …,"
"Apakah kami berkata kau boleh menyentuh barang-barang kami?" potong lelaki itu tajam. Ino menggigit bibir bawahnya kuat dan menatap lelaki itu gelisah. "Kaupikir kau siapa? Kau hanya perlu menjemput kami dan mengantar kami. Tidak lebih dari itu." Tukasnya dingin.
Ino menunduk ketika ucapan lelaki itu menusuk hatinya. Rasanya sakit sekali. Batinnya. "Maafkan saya, Tuan."
Lelaki nanas yang sedari tadi terdiam segera menguap dan berjalan pelan. "Sudahlah, Sai. Nona, bisakah kau mengantar kami sekarang?" ucapnya tanpa menghentikan langkahnya.
Ino menelan ludahnya dengan susah payah. "Tentu." Lirihnya.
Shimura Sai menatap Ino intens dengan dahi sedikit berkerut, lalu lelaki itu segera berjalan mengikuti Nara Shikamaru. Meninggalkan Ino yang menatap punggung Sai sendu.
"Sai-kun …," bisiknya parau. Lalu ia segera berjalan mengikuti kedua lelaki itu. "Apa yang terjadi denganmu?"
Falshback
"Aku menemukan surat ini, dan aku tahu aku harus menemukan kakakku. Jadi aku akan mencarinya, demi mendiang ibuku," ucap lelaki berambut hitam klimis itu pada gadis yang duduk termangu di sampingnya.
Ino membaca surat yang lelaki itu berikan padanya dengan nanar. "Kau akan pergi ke mana?" bisiknya.
Lelaki itu, Shimura Sai menoleh dan tersenyum teduh. "Aku akan mencarinya di Amsterdam, terakhir kakak Shin berada di sana. Setidaknya itu 'lah yang tertulis di surat mendiang ibuku,"
"Kau," Ino menatap Sai sedih, "kau akan meninggalkanku, begitu maksudmu?"
"Ya," Ino tertegun mendengarnya, "setidaknya untuk sementara. Aku akan kembali,"
"Sai,"
"Kau tahu ini satu-satunya kesempatanku," Sai mengalihkan atensinya ke depan. Ke halaman belakang sekolah yang ditumbuhi rumput yang indah terawat. "Setidaknya aku memiliki harapan jika masih ada anggota keluargaku yang tersisa,"
Ino menatap kekasihnya pedih. Ini adalah tahun keempat hubungannya dengan Sai terjalin dengan baik. Pertama ia bertemu dengan lelaki itu adalah pada hari Senin di stasiun kereta api empat tahun yang lalu.
Saat itu kasus pelecehan seksual di angkutan umum sedang marak-maraknya, dan sialnya Ino hampir saja menjadi korban pelecehan itu ketika ia berdiri di stasiun berdesakan dengan ratusan orang yang menunggu kereta jika saja Sai tidak menolongnya.
Rok sekolahnya telah tersingkap oleh sepasang tangan entah milik siapa, saat itu Ino rasanya ingin berteriak minta tolong, namun sepasang tangan lainnya membungkam mulutnya. Ia hanya bisa menangis. Beberapa detik sebelum tangan itu memasukan jarinya di liang segamanya, mendadak sepasang tangan ketiga menarik lengan Ino dan segera mendekap tubuh Ino yang gemetar hebat.
"Ssshh, semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang. Jangan menangis, kau terlihat jelek!" Bisik orang yang mendekapnya pada saat itu. Mendengar bisikan itu Ino tahu, ia telah selamat dari pelecehan. Dan di sanalah kisah mereka dimulai.
Ino tersadar dari renungannya ketika Sai menggenggam tangannya lembut. "Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja. Aku janji," Sai mengusap air mata Ino.
Ino bahkan tidak sadar dirinya menangis. Ia tahu seharusnya ia mengerti mengingat Sai telah sebatang kara sejak dua tahun yang lalu, Sai pasti sangat senang mengetahui jika ia masih memiliki saudara.
Tapi, hari ini adalah hari kelulusan sekolah menengah atas. Dan mengapa ia harus menerima kenyataan pahit ketika kekasihnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Tokyo? Tidak! Ino tidak ingin Sai pergi meninggalkannya.
Ia menggeleng keras dan menggenggam tangan Sai yang berada di kedua pipinya. "Kumohon, jangan! Jangan pergi, Sai-kun! Tidak cukup 'kah aku saja yang berada di sampingmu?" tangis Ino semakin pecah ketika Sai menggeleng. Menolak permohonannya.
"Maaf Ino, tapi ini sudah menjadi keputusanku,"
Ino menepis kedua tangan Sai dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis tersedu dan Sai hanya bisa memandangnya sendu.
"Ino?" Sakura segera berlari menghampiri Ino dan mendekapnya. Ia sudah mencari Sai dan Ino di seluruh penjuru sekolah ketika kedua sahabatnya itu menghilang, dan ia menemukan mereka sekarang. Tapi, mengapa Ino menangis? "Ada apa ini?" Sakura menatap Sai bingung, "kenapa Ino menangis? Apa yang terjadi?"
Sai menghela napas dan mulai menceritakan keputusannya. Semilir angin musim panas dan terik sinar mentari mengiringi kalimat demi kalimat yang Sai ucapkan.
"Dia akan meninggalkanku, Sakura!" Ino masih menangis tersedu dalam pelukan Sakura ketika Sai selesai berbicara. Sakura menepuk punggung Ino lembut, ia tak tahu harus melakukan apa, tapi ketika melihat pandangan sendu Sai pada Ino, Sakura mulai membujuk Ino.
"Ino, kenapa kau jadi cengeng seperti ini. Mm?" Sakura mengelus rambut panjang sahabatnya penuh kasih, "kau harusnya mengerti. Sai senang dengan keputusannya, sebagai kekasihnya kau juga harus senang 'kan? Apa yang kautakutkan sebenarnya?"
"Aku tidak ingin dia pergi, hanya itu," Ino menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sakura, "aku takut dia tidak kembali,"
Sakura terkekeh kecil, mau tak mau Sai yang sedari tadi diam memerhatikan ikut tersenyum kecil. "Tidak kembali? Kau ini bodoh atau apa? Tentu saja Sai akan kembali, benar 'kan, Sai?"
"Hm, tentu." Sai mengusap belakang kepala Ino lembut, "percayalah aku akan kembali," Ino menoleh dengan matanya yang basah. "Sebagai tanda kepastian aku akan kembali, aku akan memberikan sisa waktuku hari ini untuk bersamamu sebelum aku take-off besok,"
Ino menatap Sakura dan Sakura mengangguk seraya tersenyum menenangkan. "Pergilah!"
Ino mengelap sisa air matanya dan beranjak menatap Sai. Ia akan mencoba menerima keputusan Sai. "Baiklah, hari ini kau harus menuruti semua keinginanku! Ayo kita ke mall! Aku ingin baju baru!"
Sai tersenyum kecil dan segera meraih telapak tangan Ino. "Baiklah, jelek."
Ino melotot. "Hari ini kau harus memanggilku Cantik!"
"Baiklah, Cantik," Sai menoleh pada Sakura, "kami pergi dulu, Sakura. Sampai jumpa!"
"Dah, Jidat!" Seru Ino dan mereka pun pergi melenggang meninggalkan sekolah dengan motor sport putih milik Sai.
.
.
.
.
.
.
Hari ini berakhir dengan sebuah penyatuan pertama mereka di apartemen Sai.
Seluruh seragam sekolah mereka bertaburan di bawah ranjang. Di atas ranjang itu sendiri keduanya bergumul mesra dengan desahan Ino yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
Di sela aktivitasnya, Sai menyentuh wajah Ino yang basah oleh keringat. "Apa kau yakin tidak apa-apa, Sayang?" tanyanya khawatir. Walau bagaimana pun ini adalah pengalaman pertama untuk mereka, Sai sangat khawatir ketika melihat darah di selangkangan kekasihnya.
Ino menggigit bibirnya dan menggeleng. "Tidak, aku … ahh- baik-baik saja, Sai-kun,"
Sai mengecup kening Ino sayang, kemudian ia mengontrol pergerakannya seirama dengan jarum jam. Ino mencengkeram bahu tegap Sai ketika merasakan ia akan sampai, begitu pula Sai yang mencengkeram pinggang langsing Ino ketika alat vitalnya terjepit nikmat oleh kedutan liang segama yang tengah digagahinya.
Peleburan itu datang beberapa menit setelahnya dengan beberapa kali tusukan terakhir yang Sai lakukan. Mereka menggeram, merintih dan tenggelam dalam nikmatnya euforia yang kali pertama mereka rasakan. Barangkali, mereka tak punya kesempatan untuk melakukannya lagi.
Sai mengecup bibir Ino sekilas dan menatap iris biru laut kekasihnya dalam. "Aku akan kembali, bunuh aku jika aku tidak kembali padamu."
"Tentu saja," Ino menatap Sai geli. "Aku akan membunuhmu, dan setelah itu aku akan membunuh diriku sendiri," Ino mendekap Sai, "aku mohon kembalilah dengan cepat. Aku mencintaimu, kau tahu?"
"Aku tahu," Sai mengecup bahu telanjang Ino. "Tunggulah aku, jelek."
Flashback off
Ino berjongkok di depan pintu loker ruangan pegawai. Ya, setelah sampai kembali ke hotel, Ino langsung melarikan diri ke ruangan ini. Maniknya memerah berkaca-kaca, sebelah tangannya mencengkeram dadanya erat. Ia menangis tersedu. Ia tak percaya setelah lima tahun lamanya Sai kembali, namun lelaki itu tidak benar-benar kembali padanya.
Jatuh terduduk, ia menyandar memeluk kedua lututnya. Bibir bawahnya ia gigit kuat-kuat, ingin berhenti menangis namun ia tidak bisa berhenti menangis. Mengapa? Hanya itu yang ada di otaknya.
Mengapa? Mengapa Sai bersikap biasa saja? Mengapa Sai menganggapnya seolah ia adalah orang asing? Mengapa Sai begitu kasar? Mengapa? Mengapa?! Mengapa …
"Apa yang terjadi padamu, Sai-kun?" Isaknya tersedu, "kenapa kau bersikap seolah tidak mengenalku?"
Sai masih Sai yang sama sejak lima tahun yang lalu. Hanya saja, Sai terlihat lebih dewasa dengan rahangnya yang tegas, rambutnya yang memanjang dan tubuhnya yang semakin tegap atletis. Namun, pandangannya pada Ino berubah. Asing dan kosong, iris hitam kekasihnya berubah. Demi Tuhan! Ino ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ia takut, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Sai selama lima tahun ini.
"Sai-kun, hikss …,"
.
oOo
.
Dua buah mobil mewah terparkir berbarengan di basement gedung pencakar langit Uchiha Group. Pintu kedua mobil itu terbuka dan keluarlah seorang lelaki berperawakan tinggi dengan rambut pirang spike-nya pada mobil pertama, diikuti dua lelaki dari mobil kedua.
Uzumaki Naruto berjalan santai menghampiri dua lelaki di depannya dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Naruto ya? Sudah lama tidak bertemu," ungkap pria nanas yang menyandar malas di kap mobilnya.
Naruto meninju bahu pria itu akrab setelah berdiri di depannya. "Shikamaru dengan segala sikap malasnya," cemooh Naruto sinis.
Shikamaru tersenyum kecil dan segera memeluk singkat sahabatnya itu. "Bagaimana kabarmu, Naruto?"
"Kabarku baik," Naruto melirik pria asing yang berdiri di samping Shikamaru, "dan apakah ini anggota ANBU yang baru masuk tiga tahun yang lalu, Shikamaru?"
Shikamaru menepuk bahu pria itu. "Ya. Naruto, kenalkan ini Shimura Sai, dan Sai, kenalkan ini Uzumaki Naruto,"
"Senang berkenalan denganmu, Senior," Sai mengulurkan tangannya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Ya, dari anggota ANBU yang lain, hanya Naruto saja yang belum berkenalan secara langsung dengan Sai mengingat pertemuan ANBU hanya dilakukan beberapa kali saja dalam setahun. Ditambah Naruto memiliki seseorang yang harus dijaga, jadi lelaki itu sering absen dalam pertemuan ANBU.
"Wah, wah, wah," Naruto berseru kagum seraya menjabat tangan Sai, "kau sama persis seperti yang Kakashi ceritakan. Tidak memiliki ekspresi dan … menyebalkan," Naruto menyeringai penuh arti.
"Begitu 'kah?" Sai menyipitkan matanya dan tersenyum manis.
Naruto mencibir sebal. "Shimura Sai dengan segala senyum palsunya." Yah, jika sudah begini sepertinya Naruto mulai menyukai Sai. Seperti biasa lelaki itu memang mudah akrab dengan siapa pun yang baru dikenalnya.
"Terima kasih atas pujiannya, Senior." Imbuh Sai polos.
"Sudahlah," Shikamaru menguap malas dan beranjak dari kap mobil. "Lebih baik kita masuk sekarang, aku tidak ingin melihat wajah iblis Sasuke karena terlalu lama menunggu kita. Itu merepotkan,"
Sai dan Naruto segera berjalan mengikuti Shikamaru menuju gedung perusahaan Sasuke. Bukannya apa, mereka tahu persis jika Uchiha Sasuke benci menunggu. Dalam hal apa pun ia benci menunggu karena dalam pikirannya waktu adalah uang. Dan waktu adalah segalanya, bahkan ia berani mempertaruhkan nyawanya jika saja ia bisa memutar kembali waktu pada saat orang itu pergi. Pergi dari hidupnya.
.
Sasuke melirik arlojinya dan mendengus semar. "Kenapa mereka lama sekali, Kakashi?"
Kakashi yang tengah mengobrol ringan dengan seorang pria berambut pirang panjang itu segera menoleh pada Sasuke yang duduk bosan di kursi kebesarannya.
"Maksud Anda, tuan muda Naruto?"
"Hn,"
"Mungkin mereka masih di jalan," terang Kakashi.
"Aku benci menunggu," keluh Sasuke pelan.
Hyuuga Neji yang sedari tadi diam memperhatikan itu tersenyum tipis. "Kau tidak pernah berubah, Sasuke,"
"Hn," Sasuke mengedikkan bahunya tak acuh.
"Hey, Sasuke!" pria bertaring dengan garis merah di kedua pipinya itu menepuk bahu Sasuke keras. "Sepertinya kau sedikit muram hari ini,"
Sasuke menepis tangan pria itu. "Ck, berisik!"
"Aha! Apa tuan muda Sasuke ini baru saja kehilangan salah satu pelacurnya?" Pria itu menyeringai jahil, "kau terlihat buruk."
Sasuke menatap pria itu tajam. "Kurasa kau harus tahu di mana batasanmu, Inuzuka Kiba." Desisnya.
"Hey," Neji menepuk bahu Kiba, "sudahlah, jangan ganggu Sasuke."
Kiba mendengus kesal. Menggoda Uchiha Sasuke adalah kesenangan tersendiri untuknya mengingat pria stoic yang selalu serius dan datar itu sedikit mengeluarkan emosi wajahnya.
"Haah, baiklah-baiklah!" dan akhirnya ia memilih untuk kembali bermain dengan anjing kecil yang sering dibawanya kemana pun. Akamaru, begitulah nama anjing kesayangannya.
BRAK!
"Wuahhh! Kalian semua sudah datang rupanya! Maaf ya kami terlambat," seru Naruto heboh dengan wajah tanpa dosanya.
Sasuke menatapnya tajam. "Sudahlah, Dobe! Cepat duduk dan kita mulai rapatnya."
Naruto nyengir dan segera duduk di samping Kiba setelah mereka adu kepalan tangan. Neji hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir, begitu pula dengan Kakashi.
Shikamaru melenggang masuk seraya menguap diikuti Sai. "Maaf kami terlambat, Sasuke." Ucap Shikamaru.
"Hn," Sasuke menegakkan punggungnya dan menumpu kedua siku di atas meja. "Jadi, kalian pasti sudah mendengar berita itu bukan?"
Semua orang di ruangan itu mulai menampakkan raut wajah serius, termasuk Naruto.
"Ivo Parker?" Pria berambut pirang panjang angkat suara, "ya, dan pihak Hyuuga menyangka kita yang telah membunuhnya,"
"Kau benar, Tuan Hanzou," Sasuke mendesah berat, "tapi seperti yang kita tahu, itu bukan peluru dari salah satu di antara kita."
Naruto mengangguk setuju. "Hiashi keliru, dia pikir hanya kita musuh bisnisnya? Dia tidak menyadari begitu banyak orang yang membencinya, bukan begitu, Hyuuga Neji?" tanya Naruto sinis.
"Mungkin," Neji melirik Naruto dari ekor matanya.
Sasuke menangkap tatapan benci yang Naruto berikan pada Neji. "Naruto, apa kauingin membahas Hyuuga yang lain di sini?"
Naruto berdecih kesal. Sasuke kembali fokus pada rapatnya. "Lanjutkan,"
"Tapi," Yagura yang sedari tadi diam mulai angkat bicara, "saat kejadian itu terjadi pas sekali ketika kau berada di Inggris, Sasuke. Itu 'lah yang menjadi alasan kuat Hiashi mencurigai kita,"
Sasuke kembali mendesah berat. "Hn, masalahnya bukan itu. Tapi,"
"Joy Mayer?" Sela Neji, "itu masalah utamanya, bukan?"
"Benar juga!" seru Naruto, sepertinya moodnya kembali membaik. "Hiashi pasti berencana membunuh Joy Mayer! Sasuke …,"
"Tepat, tua bangka itu pasti sudah merencanakan hal ini," ucap Kiba, "dan aku yakin di sini masih ada pihak yang beraksi di balik layar."
Semua mata tertuju pada Kiba sekarang. "Apa maksudmu?" tanya pria berambut coklat sebahu. Kyusuke.
"Maksud Kiba adalah, di sini pihak yang membunuh Ivo Parker sesungguhnya 'lah yang harus kita waspadai," terang Shikamaru, "dia telah mengadu domba kita dengan pihak Hyuuga, mengingat pimpinan Hyuuga memiliki dendam atas apa yang Sasuke lakukan padanya beberapa minggu yang lalu, membuat celah bagi mereka untuk menghancurkan kita."
Semua orang di ruangan itu tertegun, kecuali Sasuke yang justru tersenyum sinis. "Menghancurkan kita? Yang benar saja. Dalam mimpi mereka sekali pun, mereka tidak akan mampu menghancurkan kita,"
"Tapi, tuan Sasuke," Sai mulai angkat bicara, "kita harus tetap waspada."
"Sai benar," Kakashi menyetujui. Walau bagaimana pun, ia tahu benar anak didik dari Shimura Danzou itu adalah pengamat yang hebat. Ia memiliki tingkat pengamatan tak jauh dari tingkat prediksi Shikamaru yang selalu tepat sasaran di bidang politik bisnis.
"Baiklah," Sasuke memutuskan, "jadi, apa rencanamu, Shikamaru?"
"Kita perketat penjagaan Joy Mayer dan sadap semua jaringan telepon beliau, kita harus tahu siapa saja yang menghubunginya," ungkap Shikamaru, "dan lebih baik kita kirimkan beberapa anggota divisi keamanan ANBU untuknya,"
"Hn, aku sudah melakukannya." Ucapan Sasuke sukses membuat semua orang di sana tercengang, kecuali Kakashi. Tentu saja.
"Apa maksudmu, Sasuke?" Naruto mendesis kesal. Ia paling benci jika Sasuke merencanakan sesuatu yang tidak diketahuinya.
"Sabaku no Temari dan beberapa bawahannya," ucapan Kakashi sukses membuat rasa kantuk yang Shikamaru tahan sedari tadi kini menguap entah kemana.
"Apa?"
"Temari, dia 'lah yang kami kirim untuk memastikan Joy Mayer tetap aman." Jelas Kakashi.
Kiba mengerling nakal pada Shikamaru yang termangu. Ah, sudah jadi rahasia umum di divisi ANBU jika Shikamaru dan Temari adalah sepasang kekasih.
"Apa ada masalah jika aku mengirim kekasihmu ke sana, Shikamaru? Aku tahu kau selalu bersikap profesional dalam menjalakan tugas," suara dingin Sasuke membuat Shikamaru menghela napas. Jika sudah begini, ia tak bisa berbuat apa pun sekali pun ia ingin.
"Aku mengerti," gerutu Shikamaru, "merepotkan."
Kiba dan Naruro cekikikan melihat wajah masam Shikamaru. Sedangkan Neji dan yang lainnya hanya diam mengamati.
"Baiklah, masalah Joy Mayer kita akhiri cukup sampai di sini." Sasuke menatap mereka satu persatu, "sekarang, aku ingin laporan perkembangan bisnis Uchiha yang kalian kelola." Mereka semua mengangguk paham.
.
oOo
.
Sasori berjalan santai di trotoar jalan dengan ransel yang tersampir di sebelah bahunya. Ya, ia baru saja pulang dari sekolahnya. Sekolah yang beberapa minggu ini tak ia kunjungi karena ia masih dalam pemulihan pasca operasinya.
Perasaannya pun kini tenang, beban kerinduannya pada kakaknya telah menguap entah kemana semenjak kakaknya menghubunginya seminggu yang lalu, ah- bahkan setiap malam kakaknya selalu menghubunginya. Dan ia senang akan hal itu. Kemarin pun ia dikejutkan dengan pengiriman uang yang Sakura berikan. Gaji pertama kakaknya.
Hari ini adalah hari pertama ia masuk kembali ke sekolah dan segalanya menyenangkan. Banyak teman-temannya yang mengkhawatirkannya, ditambah lagi ternyata Shion sekelas juga dengannya.
Shion?
Sasori melirik Shion yang hanya diam di sampingnya. Ya, mereka tentu saja pulang bersama mengingat mereka satu atap. Lagi pula Rin ada urusan dengan keluarganya jadi ia tak bisa pulang bersama kekasihnya itu.
Kembali pada Shion, tak biasanya Shion jadi pendiam seperti ini, dan itu sedikit membuat Sasori khawatir. "Apa sekolah barumu tidak menyenangkan?"
Shion menoleh sebentar kemudian menggeleng pelan. "Tidak. Sekolah menyenangkan kok, mereka semua baik padaku, kaulihat tadi 'kan?"
Sasori mengangguk. "Mm, aku melihatnya. Lalu, kenapa kau sedikit berbeda sekarang? Kau lebih banyak diam,"
Shion tersenyum kecil. "Memangnya kalau aku banyak diam kenapa? Kau merindukan sikap cerewetku ya?" goda Shion, ah- lebih tepatnya mencoba mengalihkan pertanyaan Sasori.
"Ya," Shion menghentikan langkahnya dan menatap Sasori tertegun. Sasori menoleh dan menyeringai sensual, "aku merindukan suara seksimu ketika kau banyak bicara."
"Kau menyebalkan!" Shion memukul bahu Sasori dengan wajah memerah sempurna. "Kenapa kau suka sekali menggodaku?" suara Shion sedikit bergetar, matanya pun terasa panas.
Ya, Sasori sering menggodanya tanpa tahu jika pemuda itu telah menimbulkan harapan di hati Shion. Yang paling menyesakkan adalah Shion tahu jika harapan itu tak mungkin ia dapatkan.
Sasori mengedikkan bahunya. "Karena kau menarik, apa tidak cukup? Percayalah, Shion, tidak ada satu pun wanita yang kulewatkan. Bahkan Sakura-nee sering kugoda."
DEG!
Baiklah, sudah cukup!
Shion segera melangkah meninggalkan Sasori dengan setetes air mata yang jatuh dari ekor matanya. Sikap diamnya hari ini juga karena Sasori. Tadi pagi di sekolah ia harus menyaksikan kemesraan Sasori di atap sekolah dengan Rin.
Apakah ada yang lebih lagi dari ini, Kami-sama? Batin Shion sendu.
"Tunggu!" Sasori segera berlari dan mencengkeram bahu Shion. "Ada apa sebenarnya?"
Shion segera menghapus air matanya dan menoleh. "Aku tidak apa-apa." Gadis itu menggenggam tangan Sasori, "kita harus cepat ke rumah sakit, dokter Tsunade pasti sudah menunggu!"
Sasori menghela napas. Ia tak ingin memaksa jika Shion memang tak ingin menceritakan masalahnya. Jujur saja, sebulan lebih ia tinggal bersama Shion telah membuat Sasori menyayanginya. Sebagai adik, tentu saja. Jadi, ia sedikit khawatir melihat sikap Shion yang terkadang sering berubah-ubah.
Ah, ya. Hampir saja Sasori lupa jika hari ini adalah hari terakhirnya untuk check-up.
"Baiklah." Sasori melepaskan genggaman Shion dan tentu saja membuat Shion tersenyum masam. "Ayo kita ke rumah sakit!" jantung Shion seakan meledak ketika dengan mendadak Sasori menggenggam tangannya erat.
Jadi, Sasori melepaskan tangannya hanya untuk menggantikan genggaman tangan Shion dengan tangan besarnya?
Shion menatap punggung Sasori putus asa.
Kumohon, jangan membuatku berharap lagi, Sasori-kun …
.
Tsunade menarik benang jahitan yang terakhir di dada Sasori, setelah itu ia meletakkan alat medisnya dan menatap dada Sasori puas. "Nah, anak muda, sekarang kau sudah sembuh total!"
Sasori menerima kaca yang Tsunade sodorkan padanya, lalu ia menatap dadanya dari balik cermin dengan takjub. "Aku benar-benar sudah sembuh? Benarkah?"
Tsunade tersenyum kecil dan mengacak surai merah milik Sasori. Sebulan menjadi penanggung jawab kondisi Sasori telah membuat Tsunade menyukai anak ini. "Tentu saja, dan semua ini berkat kakakmu. Dia membayar operasimu dengan bayaran fantastis, dia menginginkan yang terbaik untukmu waktu itu," mata Tsunade terlihat menerawang membayangkan seorang gadis yang memohon padanya sebulan yang lalu. "Dia gadis yang sangat mulia, aku bisa melihat dari matanya saat itu,"
"Tentu saja. Sakura-nee adalah gadis paling hebat," Sasori memakai kembali seragam sekolahnya. "Dia rela membanting tulang untuk menghidupiku, padahal aku tahu bekerja tidak 'lah mudah," Sasori menundukkan kepalanya sedih. "Bahkan sekarang pun ia harus bekerja keras di luat kota untuk mengembalikan uang yang dia pinjam dari majikannya untuk operasiku,"
"Sudahlah, dia melakukan itu semua karena dia menyayangimu," Tsunade melepaskan kaca mata tipisnya dan menatap pemuda di hadapannya prihatin. "Sebagai adik yang baik, kau hanya perlu menjaga dirimu dengan baik. Jangan sampai pengorbanan kakakmu sia-sia, mengerti?"
"Kau benar, Dokter Tsunade," Sasori tersenyum lemah. "Mm, apa Dokter akan langsung pulang?"
"Ya, sekarang shift-ku hanya sampai jam setengah lima sore," Tsunade melihat arlojinya. "Kau tahu sendiri rumahku jauh dari sini. Ya sudah, sekarang pulanglah, pacarmu sudah menunggu terlalu lama."
"Dia bukan pacarku, Dok!" Sasori beranjak dan meraih tas ranselnya. Tsunade hanya mendengus semar dan beranjak keluar dari ruangan itu diikuti Sasori di belakangnya.
Shion segera berdiri dan membungkuk pada Tsunade. Tsunade mengangguk semar dan pergi meninggalkan Sasori dan Shion di ruang tunggu pasien.
"Bagaimana?" tanya Shion tak sabaran.
Sasori tersenyum kecil. "Beres! Aku sudah sembuh total!"
"Wah! benarkah?"Senyum Shion mengambang cerah.
"Kau tidak percaya?" Sasori mulai membuka kancing seragamnya dan tentu saja membuat Shion panik.
"H-hey! Apa yang mau kaulakukan?! Kancing kembali seragamu, Sasori no baka!" teriaknya nyaring dan tentu saja Shion langsung dimarahi oleh dokter penjaga. Sepertinya larangan jangan berisik di rumah sakit telah Shion abaikan.
Sasori hanya mampu tertawa kecil melihat Shion yang membungkuk berulang-ulang dengan kata maaf yang digumamkannya pada sang dokter.
"Aku sudah sembuh sekarang, Nee-san." Gumam Sasori berharap Sakura bisa mendengarnya.
.
.
.
.
.
.
Sakura duduk tercenung di bawah pohon mapel di halaman belakang rumah. Waktu telah menjelang sore dengan cahaya matahari yang mulai menguning kemerah-merahan, namun itu semua tidak membuat Sakura terganggu.
Gadis itu membenarkan topi jeraminya, kemudian ia kembali memakan buah apel yang Chiyo kupaskan tadi di dapur dengan lahap. Entah mengapa akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat.
Ia yang biasanya makan tiga kali sehari pun bertambah menjadi lima kali sehari. Porsi makannya pun bertambah, ia juga merasa tubuhnya mengembang.
Sakura kembali melahap irisan apelnya dengan dahi mengerenyit. "Kenapa apel ini rasanya enak sekali? Aku bahkan tidak bisa berhenti memakannya." Gerutunya. "Ugh! Ada apa denganku?" bisiknya bingung.
"Nona?"
Sakura menoleh, "Eh? Nenek Chiyo?"
Chiyo tersenyum dan meletakkan sepiring buah apel lagi untuk Sakura. "Makanlah, saya lihat Nona sering banyak makan belakangan ini," Chiyo memerhatikan seluruh tubuh Sakura. "Nona juga sedikit berisi sekarang,"
"Eh? Berisi?" Sakura yang tengah melahap apel penuh napsu itu segera menghentikannya, "benarkah?"
"Ya, Nona."
Sakura berdiri dan mengamati dirinya sendiri, "Nenek benar," gumamnya seraya melahap potongan apelnya kembali. "Biarlah, selama ini aku memang susah sekali untuk mengolah tubuh kurusku. Tubuhku sekarang, bukankah lebih baik?"
Chiyo tersenyum kecil. "Nona benar, sekarang lebih baik!"
Sakura tersenyum senang. "Bagus! Aku akan mempertahankan tubuhku seperti sekarang!" teringat sesuatu, Sakura kembali berbicara, "oh ya, apa paman Kakashi dan Sasuke belum pulang?"
Sudah seminggu lebih Sasuke dan Kakashi sering pulang dini hari dan pergi pagi-pagi sekali sehingga mereka tak pernah bertatap muka lagi.
"Belum, Nona."
"Mm, begitu?" Sakura menatap lembayang senja di atas sana dengan tatapan aneh. Kenapa ia merasa kecewa mendengar jawaban Chiyo? Aneh.
.
oOo
.
Pintu itu terbuka otomatis. Ia menatap seseorang yang tengah tidur di atas ranjang dengan tatapan entah apa artinya. Perlahan ia berjalan mendekati ranjang, meninggalkan kegelapan di belakangnya. Cahaya temaram ruangan itu kini menyinari wajah lelaki itu.
Lelaki berambut raven mencuat dengan iris hitam sekelam malam itu berjongkok dan menatap gadis musim semi di depannya datar tanpa emosi.
"Sakura …," bisiknya. Ia meraih helaian merah muda Sakura yang menutupi wajahnya, lalu menyampirkannya dengan lembut pada bagian sisi wajah Sakura.
Cahaya rembulan yang menembus gorden menerpa wajah Sakura dan itu membuat wajahnya terlihat sangat menganggumkan di kedua iris obsidian yang tengah menatapnya intens.
Adalah Uchiha Sasuke. Lelaki itu mengeraskan rahangnya ketika mengingat kejadian seminggu lalu ketika Toneri Otsutsuki mendekati gadisnya.
Gadisnya? Ya! Seperti yang Sasuke ucapkan, Sakura Haruno adalah miliknya. Kepunyaannya. Selama itu pula maka tidak ada yang boleh mendekatinya, tidak satu pun!
Sasuke mengelus kedua alis merah jambu Sakura lembut dan mulai mendekatkan wajahnya, ia menyentuh pipi Sakura dan mendekatkan wajahnya, detik berikutnya ia telah sukses melumat bibir Sakura tanpa membangunkan wanita muda itu.
"Kau milikku, Sakura." Ia menarik kembali wajahnya dan menyentuh bibir Sakura yang basah.
Sakura melenguh dalam tidurnya, namun ia tak terbangun. Sasuke tersenyum tipis, lalu beranjak. Ia meraih tali kelambu di pilar ranjang, detik berikutnya helaian kelambu telah menutupi Sakura dengan perlahan.
Setelah memastikan kelambu terpasang dengan benar, Sasuke beranjak pergi keluar dan menghilang di balik pintu yang tertutup otomatis.
.
.
.
.
.
.
"Apa? Jadi kedua orangtua saya bukan mengalami kecelakaan beruntun?" Sakura berumur 13 tahun menatap inspektur polisi di depannya bingung.
Inspektur polisi itu menghela napas berat. "Ya, Nona kecil. Setelah kami selidiki ternyata mobil orangtua anda yang sedang berhenti pada saat lampu merah tiba-tiba saja ditabrak oleh mobil misterius," menghisap batang rokoknya sejenak, inspektur polisi itu kembali melanjutkan, "sayangnya orang yang menabrak mobil orangtua anda tidak bisa kami temukan, mungkin dia melarikan diri."
Sakura menundukkan kepalanya shock. Ia tak menyangka ternyata kedua orangtuanya mati tertabrak, bukan karena kecelakaan beruntun. Tapi siapa? Siapa orang yang tega melakukan hal itu? Apa dia manusia yang tak punya akal sehat? Atau dia memang manusia yang tak memiliki hati nurani?
Sakura mengepalkan tangannya. "Apa Inspektur bisa mencari orang itu sekali lagi?" Tanya Sakura. Memohon.
Sayangnya inspektur polisi itu menggeleng lemah. "Maaf Nona kecil, kami sudah berusaha semampu kami, tapi hasilnya tetap nihil."
"Apakah, apakah orangtua saya sengaja dibunuh?" suara Sakura tercekat di kerongkongannya.
Inspektur polisi itu menggeleng semar. "Kami juga tidak tahu, Nona. Tapi, itu mungkin saja benar. Orangtua anda dibunuh…"
Orangtua anda di bunuh. Orangtua … anda … Dibunuh …,
Dibunuh …,
Dibunuh …,
Dibunuh!
.
Ruangan remang akan cahaya itu terasa begitu dingin. Di tengah ruangan terdapat ranjang besar dengan kelambu putih yang menutupi seseorang yang terbaring gelisah dalam tidurnya di atas ranjang.
Keringat dingin membasahi keningnya yang sedikit lebih lebar dari kening orang-orang pada umumnya, kelopak matanya yang tertutup terlihat bergerak tak karuan seakan ingin terbuka, namun tak cukup kuat untuk membukanya.
Kedua alis pink-nya mengerenyit dalam, pun bibirnya yang terlihat kering, wajah yang memucat, dan kedua tangan yang mencengkeram seprai ranjang.
Adalah Haruno Sakura, wanita muda itu terus bergerak gelisah. Deru napasnya mulai tak beraturan, dan detik berikutnya tubuh terbalut gaun tidur putih tipis itu terduduk dengan mata terbelalak lebar.
"Mimpi itu lagi," gumam Sakura seraya menundukkan kepalanya menatap selimut yang membalut setengah tubuhnya dengan tatapan kosong.
Sakura mencoba menenangkan gerak jantungnya yang tak beraturan, setelah merasa cukup ia kembali mengangkat kepalanya dan menyeka keringatnya. Lalu ia melirik jam dinding di balik suraian kain kelambu yang menutupi pandangannya.
Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari.
Tunggu! Ia tak ingat kapan ia menurunkan kelambu. Ah, mungkin aku lupa. Batinnya.
Sakura menghela napas sejenak, lalu entah mengapa tiba-tiba saja perutnya terasa sangat lapar. Bukan 'kah beberapa jam yang lalu ia cukup banyak memakan makan malamnya? Entahlah.
Sakura menyingkap selimutnya dan bergeser keluar dari kelambu. Setelah memakai sandal rumahnya, dengan gontai ia melangkah keluar kamar menuju dapur.
Semoga saja masih ada sisa makanan. Batinnya.
.
Sakura berjalan pelan di lorong rumah dengan sinar temaram. Suara deru angin dan pepohonan bergoyang di luar sana membuat Sakura menghentikan langkahnya.
Ia melirik dinding kaca yang tertutup tirai putih dan kakinya melangkah mendekati dinding kaca itu. Setelah sampai, ia menarik sedikit tirai untuk melihat keadaan di luar dan ternyata angin tengah berhembus cukup kencang hingga salah satu pot bunga miliknya berguling ke tanah.
Sakura berkedip dan menghela napas sambil lalu melanjutkan tujuannya. Hm, sepertinya besok pekerjaannya akan bertambah. Merapikan tanaman dan pot-pot bunganya yang terkena angin.
Kakinya telah sampai pada ruang tamu yang temaram, dan Sakura sontak menghentikan langkah kakinya ketika melihat siluet tubuh seseorang di sana.
Uchiha Sasuke.
Ayah dari calon anaknya itu tengah duduk dengan tenang di sana dengan api yang berkoar-koar di dalam tungku cerobong asap. Sesekali ia menyesap wine-nya.
Ekspresi wajahnya yang kokoh itu terpahat dingin, menatap lurus lidah-lidah api yang tengah memangsa bongkahan kayu. Tatapan dingin dan tajam penuh intimidasi dari kedua iris obsidiannya. Tiga kancing teratas kemeja putihnya terlihat tidak terkancingkan dengan dasi biru dongker yang masih bertengger di sana, dan kedua lengan kemeja yang digulung hingga siku.
Apa dia baru saja pulang? Batin Sakura. Namun detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya. Heh, untuk apa aku memikirkannya? Batinnya. Lagi. Tanpa ia sadari iris klorofilnya terus terpaku pada Sasuke, dan detik berikutnya Sakura mulai berpikir bodoh.
Ia membayangkan posisi Sasuke saat ini bagai adegan sebuah film. Biasanya di film yang Sakura tonton, posisi Sasuke yang tengah duduk tenang dalam ruangan gelap temaram dengan cahaya api di tungku dan minuman beralkohol di tangannya itu; seperti yang dilakukan oleh aktor antagonis bengis yang sedang merencanakan niat busuknya. Atau seperti psikopat yang sed—oh, astaga! Ini keterlaluan, sikap paranoidnya benar-benar memalukan, bagaimana bisa Sakura berpikir yang tidak-tidak kepada seorang Uchiha Sasuke?
Tapi, bukan 'kah itu bisa saja terjadi mengingat dari awal sikap Sasuke padanya begitu menyebalkan? Kejam, bermulut pedas dan semaunya sendiri, ditambah sikap Sasuke yang dingin penuh intimidasi padanya? Bisa saja 'kan Sasuke berniat melakukan sesuatu padanya dengan rencana lici—oke, hentikan itu Haruno Sakura.
"Hn, kau bangun?" Suara dingin itu menyentak Sakura dari lamunannya. Dia Ketahuan.
Sakura menelan salivanya dengan susah payah. "Um, ya. Apa aku mengganggumu, Tu—ah, maksudku, Sasuke?"
Sasuke melirik Sakura dari ekor matanya. "Tidak, kemarilah." Ucapnya kalem.
Dengan langkah ragu, Sakura melangkah mendekati Sasuke dan ia kini berdiri di belakang sofa yang diduduki lelaki itu.
"Ke sini. Duduk. Di sampingku." Dengus Sasuke ketika melirik Sakura yang hanya berdiri kaku di belakangnya.
Sakura menghela napas lalu ia berjalan memutar dan detik berikutnya ia telah duduk manis di samping Sasuke dengan jarak jauh.
Sasuke menyesap wine-nya kembali dengan tatapan yang masih terpaku pada kobaran api di depannya. "Kenapa kau bangun?"
Sakura melirik Sasuke. "Aku … um, lapar." Cicitnya pelan.
Sasuke menatap Sakura sekilas lalu memasukan batang rokok di sela belah bibirnya, "Makan di tengah malam seperti ini tidak baik untuk kesehatan." Ucapnya di sela mematik api pada batang rokoknya.
Sakura mendengus kesal. "Tapi aku lapar, Sasuke."
Sasuke menyesap rokoknya pelan, lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "Tunggulah beberapa jam lagi untuk sarapan." Sahutnya datar dengan tatapan yang masih terpaku pada tungku.
Sakura menghela napas dan memilih untuk menurut saja. Dan ia pun ikut menatap tungku di depan sana.
Beberapa menit kemudian suasana hening membuat Sakura merasa tak nyaman, lalu ia pun memilih memerhatikan Sasuke yang tengah mengetuk batang rokoknya di atas asbak antiknya, lalu lelaki itu kembali menyesap rokoknya dengan napas dalam.
Sakura mengerenyitkan dahi ketika melihat sikap Sasuke yang berbeda dari biasanya. Baiklah, saat ini Sasuke memang masih terlihat tenang, namun melihat cara Sasuke menyesap batang rokoknya dan tatapan iris obsidian itu … di sana Sakura tahu ada yang berbeda. Oh, bahkan kau memahami tuanmu dengan sangat baik, Nona Haruno.
Sebut saja Sakura Haruno si gadis mulia yang selalu peduli pada siapapun seperti apa yang Sasuke katakan ketika melihat Sakura untuk yang pertama kalinya, walaupun Sasuke bersikap kejam padanya, lihatlah kini suatu kalimat keluar dari bibir mungilnya. "Um, ada hal yang menganggumu? Maksudku, kau seperti sedang memikirkan sesuatu." Sakura terdiam sesaat, lalu begitu sadar apa yang telah ia katakan, ia segera merutuk dalam hati. Bodoh! Apa yang baru saja kaukatakan, Sakura?
Sasuke menyesap rokoknya perlahan dan menatap Sakura. "Aku bukan seseorang yang terlalu terbuka untuk menceritakan masalahku, tapi hanya ada sedikit masalah di kantorku. Jika kau memang ingin mengetahuinya." Ucap Sasuke di sela hembusan napasnya. Suaranya masih dingin, ekspresinya masih tak terbaca, tapi setidaknya tidak ada nada sinis seperti biasanya.
Sakura mengangguk pelan. "Mm, begitu."
Sasuke kembali menumpukan pandangannya ke dapan. Dan suasana kembali hening, hanya suara kayu terbakar dan hembusan angin kencang di luar sana yang terdengar.
Sakura memeluk bahunya sendiri ketika api di tungku tak cukup hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang hanya terbalut gaun tidur tipis dari hembusan angin yang ternyata berasal dari jendela ruang tamu yang terbuka lebar dengan tirai yang melambai-lambai. Hey, Sakura baru menyadari jendela terbuka.
Sakura menghela napas ketika mungkin saja Sasuke sengaja membuka jendela. "Baiklah kalau begitu sebaiknya ak—"
"Ingin minum?" potong Sasuke seraya mengetuk kembali batang rokoknya di atas asbak. Entah untuk yang ke berapa kalinya. "Mendekatlah." Ucap Sasuke.
Sakura menuruti kata-kata Sasuke dengan bingung, duduk di sampingnya. Tepat di sampingnya.
Sasuke meletakkan batang rokoknya sejenak di atas asbak, lalu ia mengambil kain yang terlipat di meja kecil dan langsung menyelimuti tubuhnya dan Sakura dalam selimut yang sama. "Aku sengaja membuka jendela, kurasa ini cukup untuk menghangatkanmu tanpa menutup jendelanya." Ucap Sasuke seraya kembali mengambil batang rokoknya.
Sakura mengerjapkan matanya ketika menyadari posisinya saat ini; duduk di samping Sasuke tanpa jarak dan berbagi selimut yang hanya menutupi sampai pinggang mereka.
Baiklah, apa ia bisa mendefinisikan hal ini dengan kata; romatis? Tidak, lelaki ini hanya lelaki asing. Bukan pacar. Bukan suami. Hanya lelaki asing yang meminta seorang keturunan padanya. Tapi jujur, entah mengapa Sakura menikmati sentuhan bahu mereka yang saling bersinggungan dan betis mereka yang menempel di balik selimut.
Sakura baru mengerti arti minum yang dimaksud lelaki itu saat Sasuke menyodorkannya segelas wine padanya, ia memerimanya dengan ragu. Sakura merasa tak asing dengan minuman itu, ia pernah meminumnya beberapa kali dalam pesta yang diadakan para pegawai hotel ketika mereka mendapat bonus dari manager, dan langsung tidak menyukainya sejak cairan bening itu menyapa kerongkongannya untuk pertama kali. Ia berusaha menghidarinya.
Sakura mencuri pandang dalam diam. Dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang lelaki, kecuali kedekatannya dengan Sasuke di atas ranjang. Ironisnya, setelah beberapa menit berselang kedua bola mata bulat itu tidak juga memindahkan objeknya, justru menatapnya semakin lekat.
Sakura baru menyadari jika lelaki ini tampan—dengan struktur wajah tegas dan mata hitamnya yang tajam—belum lagi bias warna kemerahan api menerpa wajahnya, itu terlihat seperti … entahlah terlalu dramatis bila dijabarkan. Yang jelas, lelaki ini tampan. Lelaki ini memiliki segalanya.
Sakura mengalihkan wajahnya sebelum terlalu mengagumi Sasuke, lalu menghembuskan napas berat seraya mengosok lengannya pelan. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dapat sesantai ini. Menyenangkan. Menenangkan.
"Kudengar ibuku pernah berkunjung saat aku di Inggris. Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Sasuke membuka suaranya setelah menghisap kembali rokoknya dalam-dalam.
"…" Tidak ada jawaban. Sasuke menoleh untuk melihat ekspresi gadis itu. "Ya, ibumu berkunjung. Tapi, beliau tidak mengatakan apa pun." Sakura menjawab dengan wajah menerawang, ingatannya kembali pada masa lalu lelaki di sampingnya. Menyedihkan, mengerikan.
Cairan bening di gelasnya berubah menjadi kemerahan saat ikut terbias cahaya api. Tersenyum kecut, lalu menyesapnya pelan, ia mengernyit. Rasanya masih seaneh dulu.
Sasuke melirik Sakura dari ekor matanya, kemudian lelaki itu kembali menyesap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya pelan. "Aku tahu ibuku pasti menceritakan kisahku lima tahun yang lalu."
Sakura tersentak dan segera menoleh, pada saat itu pula hidung mereka nyaris bersentuhan. Ternyata Sasuke tengah menatapnya intens, segera saja Sakura mengalihkan wajahnya ke depan. "Mm …,"
"Semua orang memiliki kisah tersendiri, kupikir kau cukup cerdas untuk tidak mengasihaniku karena hal itu karena kisahmu tidak lebih menyedihkan dari kisahku." Sela Sasuke dengan wajah kaku.
Sakura kembali menguk wine-nya dan menoleh menatap iris obsidian di sampingnya dalam. "Kau benar, untuk apa aku memikirkanmu? Itu bukan urusanku." Wajah gadis itu memerah, entah karena biasan api atau karena efek minuman berakohol yang sulit ditoleransi tubuhnya.
Ada beberapa detik keheningan, keduanya tenggelam dalam iris mata masing-masing. Sasuke menghisap sisa rokok terakhirnya dalam-dalam tanpa mengalihkan tatapannya dari Sakura, lelaki itu mematikan puntung rokoknya dan ia meraih gelas wine dari tangan Sakura, kemudian Sasuke meneguk habis wine itu seraya menatap Sakura tajam dari balik gelasnya.
Trak!
Sasuke meletakkan gelas itu di atas meja dan mulai mendekatkan dirinya pada Sakura. Sakura menutup mata begitu merasakan deru napas halus Sasuke menerpa wajahnya—ia memejamkan mata saat sesuatu terlintas di pikirannya—hidung mereka saling bersentuhan.
Berselang beberapa detik, ia merasakan sesuatu yang lembut menempel di permukaan bibirnya, mulanya diam tanpa pergerakan. Tapi saat salah satu di antara mereka memulai, tanpa sadar keduanya saling mencium bibir satu sama lain dengan lembut.
Ini pertama kalinya Sasuke berinisiatif mencium seorang gadis—di luar area tempat tidur—karena di luar sana banyak gadis yang akan dengan senang hati mencium atau bahkan tidur dengannya tanpa perlu lelaki itu memulai.
Sakura menghisap bibir atas Sasuke saat lelaki itu menggulum dalam bibir bawahnya. Bergerak untuk melumatnya. Menghantar listrik statis bertegangan rendah di sekujur saraf, menghantam kerja otaknya dengan tragis, ia tidak dapat berpikir dengan akal sehat dan pergerakan tubuhnya pun terkunci.
Sakura hanya dapat menyalurkan perasaannya dengan mengacak rambut tebal Sasuke. Dan tidak tahu mengapa, ia menikmati apapun yang lelaki itu lakukan terhadap tubuhnya—kali ini. Dia terbuai, seolah memang ini 'lah hal yang memang diinginkannya setelah beberapa hari mereka tidak lagi melakukan skin-ship karena kesibukan Sasuke di kota.
Ia benar-benar dibuat terlena oleh Uchiha Sasuke. Sentuhannya membuat ia gila, membuatnya hilang akal. Sakura yakin ia sudah gila, tapi ia tidak bisa menghentikannya.
Tangan kiri Sasuke meraih pinggang Sakura dan meremasnya sensual, membuat wanita itu gemetar. Masih dengan berciuman, tangannya membelai pinggang dan semakin naik ke atas, merengkuh tengkuk wanita itu untuk memperdalam cumbuannya sampai ketika lelaki itu sadar atas tindakannya, lalu melepas pagutan panas itu.
Menyisakan kecewa dalam diri Sakura meski beruntung Sasuke tidak memberi jarak antara mereka. Lelaki itu menatapnya dalam.
Sasuke merasa seluruh saraf dalam tubuhnya meremang, gairah dalam dirinya bangkit dengan signifikan. Ia tidak dapat menampik hasrat lelaki dewasanya menginginkan Sakura sekarang.
Sialan, kapan terakhir kali dia melakukan seks dengan Sakura? Kenapa bisa sebergairah ini?
"Aku tidak bisa berhenti, Sakura." Bisik Sasuke serak karena gairah yang semakin menggebu.
Nah, sejak kapan Sakura begitu menyukai namanya ketika disebut dengan nada berat seperti itu?
Tangan Sakura bergerak menangkup rahang kuat lelaki yang sedang menatapnya dalam, membalas tatapan intens yang sejak tadi diarahkan padanya. Menerka-nerka apa yang ada dipikiran Sasuke, wajah tampannya sulit terbaca. "Lakukanlah." Bisik Sakura pelan.
Tak lama berselang Sasuke mengecupnya pelan, dua kecupan ringan sebelum mencium dengan intens. Lidahnya juga ikut andil dalam pagutan itu.
"Oh, astaga!" wanita itu mendesah begitu ciuman Sasuke menjalar ke lehernya, Sakura menarik napas dalam-dalam lalu mengigit bibir bawahnya. Mengantisipasi desahan yang lebih kencang.
Tanganya mencengkram kuat selimut saat Sasuke mengulum daun telingannya, menghembuskan napas beratnya di sana.
"Eumhh!" ia mencoba menahan suara-suara halus itu meski berakhir dengan kegagalan besar, bukannya berhenti desahan itu justru semakin menjadi. Lenguhan itu bahkan keluar setiap kali ia menghembuskan napas.
Ciuman Sasuke semakin mengebu di tulang selangka Sakura, sementara wanita itu merasa di ujung jurang saat bagian bawahnya sudah berdenyut tak terkendali.
Sasuke merebahkan tubuh ringkih Sakura begitu berhasil melenyapkan gaun tidur tipis berwarna putih beraksen bunga, membiarkan Sakura berbaring di sofanya hanya terbalut bra hitam dan celana tidur yang kemungkinan besar akan berakhir sama, lenyap.
"Bernapaslah." Suara dalam Sasuke diiringi senyum geli. Lagi-lagi Sakura mengerjap. Ia bahkan lupa bernapas? Memalukan! Sasuke benar-benar membuat ia lupa diri.
Sakura terjerumus dalam di sorietasinya hingga tidak begitu menyadari kapan tepatnya Sasuke meloloskan serat-serat benang yang melingkupi tubuh mereka. Yang ia tahu dengan pasti, bagaimana gilanya ia karena perlakuan Sasuke dibibirnya.
Ciuman kali ini lebih mengebu dari sebelumnya, mereka telah menyerah dengan akal sehatnya dan lebih mengikuti nafsu yang terus mendesak.
"Hhmmp, ahhh!" desahan frustasi terdengar dari sela percumbuan itu.
Kedua pasangan itu pun melenguh frustasi begitu tanpa sengaja gerakan resah Sakura menekan sesuatu yang ada di antara selangkangan Sasuke.
Perlahan ciuman panas Sasuke berpindah, menuju leher putih jenjang, memabukkan. Meninggalkan bekas merah kebiruan.
Sakura dapat merasakan itu dengan jelas, bibir lembut Sasuke menghisapnya dalam, meninggalkan jejak panas lalu setelahnya terasa dingin dan basah.
Sakura tak tahu kenapa ia sepasrah ini seolah seseorang membayangnya terbang dengan kencang.
"Ahm … S-Sasu~Sasuke!"
Lelaki itu akhirnya tenggelam dalam lekuk leher jejang yang terasa pas, berlama-lama di sana.
Berbeda dengan cumbuan intens Sasuke yang terkesan kasar, tangan kekar Sasuke justru meremas lembut buah dada Sakura. Wanita itu mengerang dengan gelisah. Terdapat sensasi menyenangkan begitu tangan kakar-kasar Sasuke mengesek buah dada lembutnya. Ini menakjubkan.
Nipplenya mengaras, dan kewanitaanya basah. Gadis itu sudah lebih dari siap. Sakura membutuhkan pengangan untuk bertahan, dengan spontan ia berpegangan pada bahu Sasuke begitu lelaki itu meningkatkan remasannya.
Keduanya terengah, takjub dengan apa yang mereka lakukan, keduanya tidak pernah mendapat sensasi sedemikian hebat seperti ini pada seks sebelum-sebelumnya. Apa yang membuat ini terasa berbeda? Mereka tidak tahu apa jawabannya.
Tangan kekar itu menjalar dari pinggang ramping menuju pundak putih telanjang gadis itu. Membelainya lembut dengan ibu jari sekaligus merengkuhnya agar ciuman mereka terus terpadu.
Sasuke terkonprontasi untuk merasakan dengan jelas kelembutan dada sigtal itu, ciumannya dalamnya terus turun hingga bermuara pada targetnya. Buah dada putih dengan ukuran pas itu terlihat menantang Sasuke untuk berbuat lebih.
Nipple kemerahannya pun terlihat begitu tegang, Sasuke memangkupnya dengan tangannya, mengagumi kekenyalanya seolah sedang menggengam sebuah jelly yang akan bergetar saat kau mengayunkannya.
Setelah itu Sasuke mempermainkan buah dada yang lain dengan mulutnya. Mengecup, mengulum dan menghisap. Sasuke lepas kendali malam ini. Wanita pink itu kalah dengan telak di bawah kuasa Sasuke, seringkali ia mencoba mengangkat tubuhnya meski berakhir dengan kembali terhempas.
.
"Nghhh! Ahh, ahhn, ahh! Sasuke! Ya Tuhan! Anghh!"
Kedua betis telanjang itu terus bergerak tergesa mengejar kenikmatan yang semakin dekat. Sasuke melesakan ereksinya lebih dalam. Kejantanan itu terasa semakin kasar mengesek lorong kewanitaan Sakura.
Ia terus menyentaknya dalam, setiap kali menemukan kenikmatan. Respon pasrah Sakura pun ikut andil, membuat Sasuke semakin menyenangi kegiatan malamnya itu tidak peduli sofa tempat mereka bercinta berdecit mengerikan.
"Ohh … asstaga-Ahm! S-Sasu~Sasuke—"
Denyutannya semakin kuat saat Sakura melenguh, pertanda wanita muda itu sudah sampai pada klimaksnya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sasuke mengerakkan pinggulnya kuat, menghujamkan kejantanannya dengan cepat di lorong basah nan sempit itu. Batang kejantanannya mulai membengkak, semakin mengeras menghujam titik sensitif kewanitaan Sakura yang berkedut di bawah sana.
"Sial. Kau benar-benar luar biasa!" umpat Sasuke dengan wajah yang sedikit bersemu—berbeda dengan wajah Sakura yang banyak bersemu merah.
Tusukkan terakhir, sang Uchiha itu sukses mencapai puncaknya. Menyemburkan berliter-liter sperma di dalam rahim Sakura.
.
Sasuke masih mendekap Sakura ketika merasakan bahunya basah. Bukan—bukan karena keringatnya, namun sesuatu yang lain. Air mata.
Sasuke merotasikan kedua matanya ketika menyadari Sakura menangis. "Kenapa kau menangis, heh? Sudah kubilang—"
"Akhh! S-sakit …" rintih Sakura.
Sasuke segera mengangkat wajahnya dari lekukan leher Sakura dan ia menatap Sakura yang menggigit bibir bawahnya dengan tatapan bingung dan—khawatir?
"Katakan, kau kenapa?" tanya Sasuke gusar.
Sakura mencengkeram bahu telanjang Sasuke kencang hingga Sasuke merasakan keram di kedua bahunya. "Akh, S-Sasuke sakiiiiiit!" Sakura menjerit parau. "P-perutku sakiittt! Argggghhhhhh!"
Dengan cepat Sasuke melirik perut Sakura, namun tidak ada apa pun, tapi tubuh Sasuke langsung membeku ketika pandangannya ia turunkan pada penyatuan mereka.
"Darah …," lirih Sasuke, "astaga!" Sasuke segera menarik keluar kejantanannya dari kewanitaan Sakura yang berdarah dan beranjak berdiri dan memakai kembali pakaiannya.
"Anggh! Perutku! Sakiiiiit!" Sakura kembali merintih mencengkeram perutnya yang terasa bagai ditusuk ribuan jarum.
Sasuke mentap nanar darah di kewanitaan Sakura. "Demi Tuhan," lirihnya, Sasuke segera menyelimuti Sakura dengan selimut. "KAKASHI, CHIYO, SIAPA SAJA! HUBUNGI DOKTER SENJU!" Teriak Sasuke panik.
Kakashi dan Chiyo terbangun dan segera berlari ke ruangan di mana Sasuke berteriak. "Ya, Tuhan! Ada apa dengan nona Sakura?!" pekik Chiyo ketika melihat Sasuke tengah mendekap Sakura yang diselimuti sengan selimut yang terdapat bercak darah.
Kakashi pun sama terkejutnya. "Tuan—"
Sasuke menatap mereka tajam. "Apa kalian tuli?" desisnya dingin. "PANGGIL DOKTER SENJU SEKARANG!"
Tanpa membuang waktu lagi, Kakashi dengan cepat menghubungi dokter yang Sasuke maksud.
.
Dokter Senju datang sepuluh menit kemudian dan langsung menangani Sakura. Sasuke berdiri gelisah di depan pintu kamar tempat Sakura ditangani.
Ia tak mengerti dengan apa yang terjadi, mengapa bisa seperti ini? Apa ia terlalu kasar menyetubuhi Sakura? Tapi biasanya tidak seperti ini 'kan? Mengapa bisa? Mengapa? Lebih dari itu, mengapa ia sekalut ini hanya karena Sakura? Sepertinya ia benar-benar sudah gila. Tapi, Sasuke tak peduli akan hal itu. Untuk sekarang, keselamatan Sakura adalah prioritas utamanya.
"Tenanglah, Tuan," Kakashi mengelus bahu Sasuke. Menenangkan. "Nona Sakura akan baik-baik saja," Sasuke menatap Kakashi gusar, "percayalah!"
"Aku akan membunuhnya," desis Sasuke kalut, "aku bersumpah akan membunuh Tsunade jika dia tidak bisa menyelamatkan Sakura."
Kakashi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa Tuan Uchiha jadi berlebihan seperti ini? Batin Kakashi. Atau jangan-jangan… Kakashi tersenyum penuh arti di balik maskernya. Sepertinya Tuan Sasuke sudah mulai mencintai nona Sakura. Semoga saja…
Sedangkan Chiyo hanya diam. Ia juga sangat mengkhawatirkan Sakura.
Satu jam berlalu dan pintu kamar terbuka, menampilkan raut wajah lelah Senju Tsunade dengan keringat yang membasahi keningnya.
Sasuke menghampiri Tsunade dengan wajah khawatir, namun disembunyikan oleh raut wajah datarnya. "Bagaimana?"
Tsunade menghela napas dan segera menyentil dahi Sasuke. "Dasar bodoh!" omelnya, Sasuke menatap Tsunade tajam. Walau pun Tsunade adalah dokter kepercayaan Sasuke sejak kecil, bukan berarti wanita itu dengan seenaknya berbuat seperti itu 'kan?
"Apa yang kaulakukan, Nenek tua?" desisnya tajam.
"Dulu kau memaksaku untuk membuat adiknya segera dioperasi dan menyuruhku pindah rumah ke desa ini sampai aku harus setiap hari menghabiskan tiga jam perjalanan menuju rumah sakit tempatku bekerja!" Tsunade berkacak pinggang, "sekarang kau dengan bodohnya memberikan wine dan melakukan seks dengan wanita hamil muda seperti dia? Apa yang kaupikirkan sebenarnya, hah?! Dia pendarahan! Untungnya masih bisa diselamatkan! Bagaimana kalau tidak? Dia bisa keguguran!" bentak Tsunade kesal bukan main.
"Bukan urusanmu," Sasuke membuang mukanya kesal. Kenapa Tsunade kembali mengungkit masalah operasi adik Sakura? Itu bukan urusan wanita itu 'kan? Ya, walau tak dapat ditampik sebelum menjalankan rencananya, Sasuke memang menceritakan rencananya pada Tsunade, maka dari itu setelah mendapat informasi bahwa adik Sakura dalam keadaan kritis dan ditangani oleh Tsunade, Sasuke langsung memaksa Tsunade untuk mempercepat operasi agar Sakura dengan cepat pula menyetujui penawarannya. Sasuke pun memaksa Tsunade pindah ke sini untuk saat-saat seperti ini. Karena dokter yang akan menangani proses melahirkan Sakura kelak adalah Tsunade.
Dewi fortuna memang selalu berada di pihaknya ketika rencananya berjalan mulus hingga sekarang. Ya, setidaknya sampai Sakura mengalami pendarahan dan terancam keguguran hanya karena melakukan seks dan meminum wine ta—tunggu! Keguguran?
"Apa?" Dengan cepat Sasuke menatap Tsunade. "Dia—"
"Dia hamil," sela Tsunade, "baiklah anak muda, sekarang kau berhasil mendapatkan apa yang kauinginkan. Jagalah bayi yang ada di dalam kandungannya dengan baik! Aku pulang dulu," setelah itu Tsunade melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Sasuke yang terpaku.
Kakashi dan Chiyo saling berpandangan dalam keadaan shock. Sakura hamil?! Batin mereka.
Sasuke menatap pintu kamar di depannya kosong. "Hamil?"
To be continue
A/N : Hollla minna :D Well, sepertinya chapter ini chapter terpanjang dari chapter lainnya deh. Tadinya mau dibagi dua, tapi mengingat pas bagian lemonnya itu di bagian keduanya, Sasa mikir ulang deh, gak mungkin 'kan bulan puasa nanti Sasa update yang ada lemonnya? xD Segitu aja sih, sampai jumpa abis lebaran nanti. Terima kasih.
Salam sayang,
UchiHaruno Misaki.
