MY LIVE WITH YOU

Kehidupan Hinata, Naruto dan buah hati mereka. Asam manis cinta yang mereka bertiga rasakan.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T plus (buat jaga-jaga)

Genre : Romance, Family

Pair : NaruHina :D

Warning : Typo, OOC, OC, plus rada-rada gaje hihi~

.

.

.

.


Chapter 10 : Gaara Wedding Time Part 1~


Pagi hari itu, senyuman di wajah Hinata semakin bertambah, wanita ini terus menerus mengalun-alunkan lagu kesayangannya, mengingat hari apa sekarang.

Masih sedikit sibuk di dapur, sambil menunggu Naruto dan Hana bangun.

Kemarin malam orang yang sejak dulu ia anggap sebagai kakak, menghubunginya. Hanya sekedar mengingatkan untuk datang ke acara kakaknya itu. Ya, siapa lagi kalau bukan,

"Hah, aku sudah tidak sabar melihat pernikahan Gaara~" desahnya senang, memotong sayur bayam kesukaannya tak sabar. Sabaku Gaara, seminggu yang lalu saat piknik di taman Konoha ia sempat bertemu dengan pemuda merah itu. Dan tiba-tiba saja di berikan kejutan, sebuah undangan pernikahan olehnya.

Benar-benar mengagetkan, mengingat kalau selama mereka berteman, Gaara tidak pernah menceritakan baik padanya atau ke sahabat-sahabatnya yang lain tentang wanita yang ia sukai.

'Benar juga ya?'

'Hm~'

Saking asyiknya memikirkan hal itu, sampai-sampai suara langkah kaki yang masuk ke dalam dapur tak ia dengar, langkah kaki itu perlahan mendekatinya. Dan..

"Ohayou~"

Grep, sebuah pelukan lembut menyambut Hinata dari belakang, tangan yang kekar dari Naruto di tambah dengan wajah mengantuknya,

Sudah terbiasa dengan sikap suaminya ini, Hinata hanya bisa menghela napas pelan, wajahnya menoleh sekilas saat melihat Naruto yang masih melingkarkan kedua lengannya di perutnya, dengan kepala yang menumpu di pundaknya.

"Ohayou, Naruto-kun~" wanita indigo itu mengecup puncak kepala laki-laki itu singkat, merasa senang dengan hari ini. Ia jadi melupakan kebiasaan gugupnya, tentu saja hal itu membuat Naruto heran sekaligus senang.

"Sepertinya hari ini kau bersemangat sekali? Ada hal yang menyenangkan?" tanyanya cepat, masih tetap memeluk istrinya.

Hinata tentu mengangguk senang, "Um, Naruto-kun tidak lupa kan kalau hari ini adalah hari pernikahan Gaara~" jawabnya.

"..." Naruto terdiam sesaat, sampai...

"Ah! Benarkah? Shimata, aku hampir saja lupa, karena masalah yang datang kemarin-kemarin!" sontak laki-laki pirang itu melepaskan pelukannya, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Hee, Naruto-kun tidak boleh melupakannya!" sedikit kesal, Hinata mengembungkan pipinya. Padahal Gaara itu kan sahabat mereka sejak dulu, masa hari pernikahannya yang paling penting, Naruto sampai lupa?! Itu kan keterlaluan.

"Awas saja, nanti Gaara marah mendengar-" perkataan lanjutan Hinata terhenti seketika, saat..

Grep, Naruto kembali memeluknya, mengecup pipi mengembung istrinya gemas, "Uso~ aku hanya bercanda, Hah~ istriku ini memang tetap manis walaupun kesal~"

"..."

Lho?

"E..eh? Jadi Naruto-kun tidak lupa?" tanyanya polos, kembungan pipinya perlahan menghilang, di gantikan maniknya yang membulat tak percaya.

Naruto malah semakin membenamkan wajahnya di leher jenjang Hinata, "Mana mungkin aku melupakan hari pernikahan sabahatku, Hinata~" jawabnya santai,

Hah, sepertinya dia di jahili lagi, sedikit menghela napas singkat, "O..oh, syukurlah, hampir saja aku ingin memukul kepalamu pakai palu supaya ingat lagi."

"..."

Perkataan ceplas-ceplos Hinata membuat Naruto terdiam, apa istrinya itu bercanda? "Kau serius?" tanyanya balik.

"Iya, habisnya Naruto-kun keterlaluan sih pelupanya," ujar Hinata kembali, melupakan sejenak acara masak-memasaknya.

"..."

Oh, hampir saja ia lupa, kenapa sikap Hinata bisa berubah tiba-tiba seperti ini. Laki-laki pirang itu menghela napas panjang, wajahnya ia angkat sesaat, tangan kekarnya perlahan mulai berjalan menuruni perut istrinya.

"Oh, iya, mulai hari ini kita akan kedatangan keluarga baru ya~" ujarnya, seraya mengelus lembut perut Hinata.

Wanita itu terkikik geli, apalagi saat melihat Naruto yang melepaskan pelukannya, dan menunduk, mendekatkan telinganya di perutnya lagi.

"Bagaimana keadaanmu di sana juniorku?" tanyanya pelan.

"Naruto-kun, perutku masih belum membesar jadi dia pasti belum bisa mendengarnya~"

"Tidak apa-apa, aku akan terus memantau keadaannya,"

"Ha'i, Ha'i, tapi Naruto-kun-" perkataan Hinata terhenti, saat suaminya itu mengadahkan wajahnya bingung.

"Ada apa?"

Jari telunjuk wanita itu perlahan menunjuk ke arah pintu, sontak membuatnya ikut menoleh, dan sedikit terkejut mendapati-

"Hana?" ya, putri kecilnya itu bersembunyi di balik dinding, seolah-olah tidak ingin mengganggu moment kedua orang tuanya, gadis itu masih memegang boneka kesayangannya. Manik Lavendernya seperti bertanya-tanya 'Apa Hana boleh keluar sekarang?'

"..." tentu saja Naruto tersenyum senang, tangan laki-laki itu perlahan naik, dan mengisyaratkan putrinya untuk kemari.

"Touchan, Kaachan cedang apa?" tanya gadis kecil itu, seraya berjalan mendekati kedua orang tuanya.

"Tousan sedang memastikan keadaan adikmu~" jawab Naruto singkat, membuat manik Hana makin berbinar.

"Benalkah? Hana boleh ikutan tidak?" tanyanya kembali, tentu saja di sambut anggukan Hinata dan Naruto, perlahan Naruto menggendong putrinya, memegang tangan Hana dan membuat gadis itu menyentuh perut Hinata.

"Nah, bilang selamat pagi pada adikmu~" ujarnya.

"Hum! Ohayou adik kecil, bagaimana keadaanmu? Baik-baik kan? Di cini, Kaachan, Touchan cama Hana menunggumu lho!" serunya penuh semangat,

"..." merasa tidak ada jawaban. Membuat gadis kecil itu menatap bingung Kaasannya,

"Nee, Kaachan, kenapa adik kecilnya tidak jawab, apa dia cakit?" Ia langsung khawatir. Masih terkikik kecil, Hinata yang mendengarkan pertanyaan putrinya itu menggeleng pelan. Wanita itu mengelus lembut puncak kepala Hana,

"Hum, tunggu sebentar ya~"

"Eh?"

"..."

Hinata memejamkan maniknya sesaat, sampai akhirnya ia mengangguk singkat, dan kembali memandang putrinya, "Oh, adik kecil bilang dia tidak apa-apa kok, saat ini Hana memang belum bisa mendengar suaranya, tapi nanti kalau sudah waktunya pasti dia bisa mendengar dan menjawab semua pertanyaanmu, sayang~" jelas wanita itu lembut, membuat Hana tersenyum lebar dan mengangguk paham.

"Wuah! Jadi cekalang cuma Kaachan caja yang bica bicala cama adik kecil?"

"Iya, nanti kalau ada yang mau di tanyakan bilang saja sama Kaasan~"

Bibir gadis kecil itu membentu huruf O, wajah mungilnya menoleh ke arah Tousannya, "Kalau Touchan bica tidak?" tanyanya.

Naruto menggeleng kecil, mencium pipi mungil putrinya gemas, "Untuk saat ini cuma Kaasan saja yang bisa~"

"Hoee, Kaachan hebat!" Hana langsung saja menerjang dan memeluk erat Kaasannya.

Hah~ putri mereka ini memang polos dan imut~

.

.

.

.

.

"Jadi nanti hadiah apa yang kita berikan pada Gaara, Naruto-kun?" masih sedikit sibuk menaruh makanan hasil buatannya di meja makan, wanita indigo itu menoleh pada Naruto yang kini sibuk membaca majalah serta menyeruput cappucinonya.

"Hadiah?" mendengar pertanyaan istrinya, Ia menoleh sekilas. Sampai bola matanya berputar pelan, mencoba memikirkan hadiah yang tepat untuk sahabatnya itu.

"..."

"Kulkas?"

"Itu terlalu besar Naruto-kun~"

Mencoba lagi, "Rumah, Mobil, Sofa, atau-"

"..."

Hinata menghela napasnya panjang, sepertinya dia salah meminta pendapat pada suaminya. Kalau jawaban yang di berikan hampir semuanya melenceng, Ia menggelengkan kepalanya sekilas, sepertinya dia harus memikirkannya sendiri atau mungkin menghubungi sahabatnya Sakura.

Masih tidak sadar dengan aura yang dikeluarkan istrinya,"Hah, bagaimana kalau kita berikan saja Gaara-"perkataannya terpotong saat Naruto menaikkan jari telunjuknya cepat,

"Ah, kita belikan saja baju bayi!" laki-laki pirang itu berseru keras, tanpa menyadari kekagetan Hinata.

"..."

Memandang datar suaminya, wanita indigo itu segera berbalik berniat meninggalkan Naruto. sebelum ia di panggil kembali, "Bagaimana menurutmu Hinata?" tanyanya cepat, melihat sang istri tiba-tiba saja diam tidak merespon.

"Hina-"

Hinata sontak berbalik sekilas, dengan senyuman yang tidak biasanya-

"Naruto-kun, ingat kita ingin membelikan hadiah untuk pernikahannya Gaara, bukan kelahirannya istrinya. Paham." Habis sudah kesabaran ala ibu hamilnya. Catat emosinya memang sedang tidak stabil.

"..."

Glek,

Shimata, dia lupa!

Sedikit kikuk Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal, sampai akhirnya ia mengangguk setuju, "Ah! Ahaha, i..iya juga, lebih baik kau saja yang memikirkannya, ahaha~"

"Hah, itu memang lebih baik."

OoOoOoOoOoOoOoOoOooO

Saat sarapan pagi, pun Hinata masih bingung mencari hadiah yang cocok untuk sahabat merahnya itu. Mencoba memikirkan sesuatu yang pas, sampai-

Sret, Sret, tanpa ia sadari tangan mungil putrinya tiba-tiba saja menarik pelan lengan bajunya.

"Kaachan cedang apa?" gadis manis dengan bulatan mata polosnya menanyakan sikap diam Kaasannya, sambil sebelah tangannya yang asyik bermain dengan piring makanannya. Membuat sang wanita indigo itu menoleh cepat,

Tidak ingin mengkhawatirkan putri kecilnya, Hinata segera menggeleng pelan, dan tersenyum, "Aa, tidak apa-apa kok sayang," jawabnya cepat.

Masih tidak yakin dengan jawaban ibunya, langsung saja gadis itu menoleh ke arah Tousannya yang sedang asyik menyantap sarapannya.

"Nee, Touchan, Kaachan dali tadi melamun terus, Hana jadi takut-" ucapnya pelan.

Sontak membuat laki-laki pirang itu menghentikan kegiatannya, sejak kapan putri kecilnya ini jadi sensitif dengan segala sikap Kaasannya?

"Kaasan bilang kan baik-baik saja, memangnya Hana takut kenapa?" tanya Naruto, sambil tak lupa menepuk lembut puncak kepala putrinya.

"..." sedikit terdiam.

Hana menoleh sekilas menatap perut Hinata, lalu kembali melihat ke arah Tousannya, sampai-

Dengan sikap yang amat polos, dan pose serius menurutnya, ia perlahan mendekatkan diri ke arah Naruto, mencoba membisiki Tousannya, "Gini Touchan-"

"Hana kan takut kalau nanti Kaachan banyak pikilan, adik bayi di pelut Kaachan kegugulan," jelas gadis itu singkat.

"..."

"..."

Brushhh!

Semburan nan indah langsung keluar dari bibir Naruto, yang hendak meminum air putihnya, laki-laki itu tersedak, untung saja tidak mengenai putrinya (sedikit).

Tidak ia sangka sang Putri bisa-bisa mengatakan hal tadi dengan polosnya,

"A..apa tadi? Hana bilang apa?" masih setengah kikuk, mencoba menajamkan pendengarannya, ia bertanya lagi.

Sedangkan melihat sikap Tousannya, Hana hanya bisa mengerucut bibir kesal, kejadian air minum tadi sedikit mengenai pipinya, "Huuh, Touchan, jangan cembul-cembul cembalangan! Hana belum ciap tahu, nih liat pipi Hana jadi bacah!" serunya kecil sambil menunjuk ke arah pipi kenyalnya,

Dengan ucapan tadi yang menurut kedua orang tuanya amat sangat imut. Nyaris membuat Hinata, tertawa kecil dan memeluk erat sang putri.

Kalau ia tidak mencoba tenang, tentunya.

'...'

Ya, sebenarnya ia juga sempat tersedak tadi mendengar bisikan kecil dari Hana, 'Sejak kapan Hana bisa tahu tentang keguguran segala?' batinnya shock.

Menggeleng-gelengkan kepalanya kembali, Hinata menepuk puncak kepala putrinya.

"Hana, Kaasan tidak apa-apa kok, adik bayinya kan kuat, jadi pasti tidak akan kegu-ehem-maksud Kaasan pasti adik bayinya sehat-sehat saja." ujarnya lembut, ya hampir saja ia keceplosan mengatakan kalimat baru itu pada Hana.

Menatap polos sang Ibu, "Benar Kaachan, nanti kalau ada apa-apa bilang cama Hana ya?!" serunya, dan tentu saja di jawab anggukan kepala Hinata.

"Ha'i~"

"Nah, sekarang kamu sudah tidak khawatir lagi kan, ayo lanjutkan sarapannya," potong Naruto.

"..."

"Oh, ngomong-ngomong tadi Hana dapat kata-kata seperti itu darimana? Rasanya Kaasan tidak pernah mengajarkannya?" Hinata yang masih heran dengan kejadian tadi segera menanyakan,

Mencoba mengunyah makanannya, Hana menoleh pada Hinata, "Oh, itu. Aku dapat dali Haluki, dia bilang katanya Cacuke-ojican celing cekali bilang kalimat tadi cama Cakula-bacan, jadi Haluki yakin Kaachan cama Touchan akan cepelti itu juga~"

"..."

"..."

Oh, Sasuke Uchiha berani-beraninya kau mengotori otak suci Hana dan Haruki dengan sifat overprotektifmu pada Sakura!

"Naruto-kun, bisa tolong kau beritahu Sasuke tentang hal ini?"

"Dengan senang hati."

Ya, sepertinya sang Uchiha akan mendapatkan masalah hari ini.

.

.

.

.

.

"Hinata ingat, hari ini jangan pergi kemana-mana. Kau harus beristhirahat." Wanita yang mendengar perkataan suaminya yang kini hendak berangkat ke tempatnya bekerja hanya bisa mengangguk paham.

"Wakatta, Naruto-kun tidak usah khawatir, mungkin aku hanya akan pergi membeli hadiah untuk Gaara bersama Sakura-chan-" sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya, Naruto yang tadinya tengah memakai sepatu, tiba-tiba langsung berdiri tepat di hadapannya,

"Eh? Kau mau pergi, lebih baik aku saja yang membelikan hadiah, kau diam saja di rumah."

"Dan membiarkan Naruto-kun membelikan sebuah rumah besar, mobil mewah pada Gaara sebagai hadiah." Hinata melanjutkan dengan cepat.

"Tapi-"

"Kalau Gaara sampai tahu Naruto-kun memberikan hadiah seperti itu, dia pasti marah besar. Naruto-kun tahu kan sifat Gaara seperti apa sejak dulu?"

Sedikit membenarkan kata-kata istrinya, Naruto mengangguk kaku. Yah, sahabat merahnya itu di jamin akan memarahinya, mengembalikan semua hadiah yang ia berikan, dan menasehatinya dengan lantang-

"Aku tidak perlu hadiah semewah ini, dan seharusnya kau kan bisa membelikan keperluan macam-macam untuk Hinata dan Hana, dengan semua ini."

"Iya, tapi tetap saja, pasti si Teme juga tidak akan mengijinkan Sakura-chan untuk pergi,"

Mencoba menahan senyumannya, "Siapa bilang? Tadi Sakura-chan sendiri yang mengajakku berbelanja~"

Mendengar perkataan istrinya, laki-laki pirang itu sontak mengadah tak percaya, "Kau serius? Padahal baru saja kita mendengar perkataan terlarang dari Hana berkat ajaran si Teme! Masa dia-"

Manik Lavender Hinata memandang ke arah jam dinding yang mulai menunjukkan pukul sembilan pagi, sepertinya dia harus segera menyadarkan suaminya ini.

"Naruto-kun, lebih baik berangkat sekarang. Kau tidak ingin terlambat kan?"

Naruto masih tidak terima, bibirnya merengut tidak suka, "Aku belum selesai Hinata,"

Hah, beginilah sifat kekanak-kanakkan yang selalu muncul kalau suaminya ini terlalu menghawatirkannya, wanita itu menggeleng kecil. Perlahan ia beranjak dan mendekati Naruto,

"Pokoknya Naruto-kun tenang saja, aku pasti akan menjaga bayi kita tetap aman." Ujarnya pelan, seraya tangannya yang merapikan dasi sang suami.

"Hah,"

Helaan napas yang menerpa rambut indigonya membuat wanita itu kembali mengadahkan wajahnya menatap Naruto. Jari telunjuknya menyentuh pipi tan suaminya yang masih merengut,

"Nee, jangan cemberut terus." Perlahan tapi pasti, Hinata menjinjitkan kaki jenjangnya, menarik pelan kerah Naruto. Dan dengan lembut-

Cup~

Ia mengecup bibir Naruto sekilas, "Nah, sekarang berangkatlah~" ucapnya, sesaat sebelum Naruto merespon ciuman singkatnya tadi.

Menatap wanita di hadapannya yang masih tersenyum, dadanya berdebar-debar lagi. Sepertinya dia selalu kalah melawan Hinata, mendapatkan ciuman dari sang istri membuat semangatnya meningkat, sekaligus senang.

"Kau benar-benar bisa mengalahkanku Hinata," dengan pelan, Naruto merundukkan kepalanya, menuju pundak Hinata, tangan kekarnya perlahan memeluk pinggang istrinya.

"Naruto-kun?"

Entah kenapa ia merasa Naruto semakin manja saat ia memberikan ciumannya tadi, dan lihat sekarang-

Sret, Tangan Naruto tiba-tiba naik ke atas, membuat bajunya perlahan naik, kepala laki-laki pirang itu perlahan memiringkan tepat saat bibirnya mengecup leher Hinata lembut. Menimbulkan sensasi geli,

"Na..Naruto-kun, kenapa malah memelukku, ayo berangkatlah!" menahan rasa gugupnya, Hinata mencoba mendorong dada bidang suaminya, tapi nihil.

Dan bukannya menjawab yang benar, Naruto malah-

Slurp, "Hiyaa!"

Menjilat leher jenjang Hinata, membuat si empunya terpekik kaget, "Na..Naruto-kun!"

"Kau memabukkan Hinata~"

"E...eh?!" lho, kenapa suaminya ini makin tak terkendali. Apa salah tadi dia memberikan ciuman pagi? Kan hanya singkat!

"Kau janji tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan tubuhmu?" tanya laki-laki pirang itu tiba-tiba.

Mengangguk kikuk, Hinata menjawab gugup, "I..iya, iya, aku janji, jadi bisa tolong lepaskan-"

"Janji tidak akan mampir kemana-mana lagi kalau pulang nanti?"

"E..eh?! I..iya aku janji, Naruto-kun!"

"Janji untuk tidak-" sebelum sempat berkata-kata,

Gyuuttt, Hinata segera mencubit gemas pinggang Naruto. Sedikit kesal juga, dengan sifat keras kepala suaminya ini.

"Ittai! Hinata, kenapa kau mencubitku?" reflek, Naruto pun melepaskan pelukannya. Mengusap-usap bagian pingganggnya yang tercubit tadi.

Hinata mendengus pelan, "Makanya percaya padaku, nah sekarang ayo berangkat! Kalau tidak berangkat nanti aku nangis lho!" Hah, emosinya yang tidak stabil ini membuatnya mendadak berubah karakter.

"Oke, oke, aku pergi sekarang~" sedikit lesu, Naruto mengecup kening Hinata sekilas dan bergegas keluar dari rumahnya. Ya, setidaknya tadi ia mendengarkan kalimat janji dari Hinata-

[...]

Melihat kepergian Naruto, Hinata menghela napasnya pelan. Kedua tangannya mengusap-usap lembut perutnya yang belum begitu besar, tersenyum kecil, ia memandang ke sana-

"Nee, kau melihat sifat Tousanmu kan? Hah, baru mau pergi sebentar saja sudah se-over seperti itu? Bagaimana aku mau bilang kalau di pesta Gaara nanti, Deidara-senpai akan datang ke sana juga. Kaasan baru tahu kalau Senpai itu bersahabat dengan Gaara."

Memikirkan bagaimana reaksi Naruto saja sudah membuat keringat sebesar biji jagung turun dari pelipisnya,

Cemburu? Atau mungkin marah-marah tidak jelas? Dan yang lebih parahnya melarangnya untuk datang ke pesta pernikahan Gaara?!

"Hah, Tousanmu itu benar-benar overprotektif~"

.

.

.

.

.

Lets Skip, Skip Time~


Pukul 16.00 p.m


"Arigatou nee, Sakura-chan sudah mau berbelanja bersamaku." Mobil putih milik Sakura terparkir rapi di depan rumahnya. Perlahan Hinata menurunkan barang belanjaannya dari mobil itu.

Bersamaan juga dengan menggendong tubuh mungil putrinya yang tengah asyik terlelap. Mungkin karena kelelahan bermain di mall tadi. Begitu juga Haruki yang masih terbaring di pelukan Sakura.

"Sama-sama, Hinata. Oh, iya nanti malam kau datang jam berapa dengan Naruto?" tanya wanita merah muda itu.

Sebenarnya Hinata belum tahu benar pukul berapa ia akan berangkat mengingat tadi dia belum membicarakannya dengan Naruto. memikirkan sejenak, sampai-

"Em, mungkin pukul delapan malam nanti. Aku mau membiarkan Hana isthirahat dulu." jelasnya, di jawab anggukan kecil sahabatnya.

"Baiklah. Kami tunggu di sana ya."

"Ha'i~"

Sakura tersenyum singkat, sampai akhirnya ia menutup pelan pintu mobilnya. Menstarter sekali lagi, dan segera melaju pergi dari rumah Hinata. Tidak lupa memberikan lambaian singkat pada wanita indigo di sana.

"Jaa, Nee!"

[...]

Melihat mobil Sakura yang perlahan menghilang dari kejauhan. Hinata mendesah lelah, masih menggendong Hana, pelan-pelan ia mengambil barang belanjaan yang sempat ia beli tadi.

"Aku harus segera menyiapkan pakaian kami bertiga," gumamnya, seraya berjalan masuk ke dalam rumah. Sebelum tepat berdiri di depan sebuah pintu berwarna kecoklatan itu-

"Kunci, kunci-" barulah wanita itu sadar kalau ia butuh kunci untuk membuka pintu rumahnya, tangan jenjangnya segera mencari kunci di dalam saku.

Srek, srek, masih mencoba mencari. Dengan sedikit terpaksa, wanita indigo itu menaruh hadiah di tangan kirinya sejenak.

"Mana dia?"

Tidak ketemu-

"Ugh~, Kaa..chan-" merasakan Hana dalam pelukannya menggeliat kecil, membuat Hinata sedikit panik. Ia tidak ingin putrinya terbangun, dengan lembut tangannya yang tadi sibuk mencari menepuk puncak kepala gadis itu.

"Sssh, tidak apa-apa." bisiknya pelan.

"..."

Dengkuran kecil kembali terdengar, Hana terlelap lagi. "Hah, untunglah."

'Ingatlah, dimana kau simpan kuncinya?' batin Hinata kecil, mencoba mengingat kembali. Sampai-

Saku belakang!

"Ah, kenapa aku bisa lupa," wanita itu tersadar, dan terpekik pelan. Tanpa basa-basi lagi, tangan kirinya segera mencari kunci itu, dan-

Ketemu!

"Yokatta, sekarang hanya perlu-" belum sempat menyelesaikan kata-katanya, sebuah teriakan menghentikan gerakannya.

"Oh! Hinata! Ternyata benar kau tinggal di sini!" suara teriakan yang entah mengapa sangat familiar di telinganya.

Sedikit ragu, wanita itu membalikkan tubuhnya cepat, dan alangkah terkejutnya saat melihat siapa yang kini berdiri di depan pagar rumahnya.

"..."

"Ka..kalian,"

Lima laki-laki tampan berdiri di sana, dengan sebuah senyuman dan lambaian kecil.

"Lama tak bertemu!" seru seorang laki-laki berambut pirang panjang padanya.

"..."

"Deidara-senpai?"

.

.

.

.

.

"Jadi ini rumahmu sekarang, un?"

"Iya," Hinata dengan senang hati menerima kelima laki-laki yang notabene adalah kerabatnya saat masih bekerja di taman kanak-kanak dulu.

Laki-laki berambut pirang bernama Deidara, pembawaannya yang ceria dan logat kentalnya. Membuat wanita itu bernostalgia.

"Gomen, kami ke sini tanpa memberitahumu terlebih dahulu." Ujar seorang laki-laki berambut merah maroon aka Nagato. Berpembawaan sopan, dan tenang.

Menggeleng kecil, Hinata mempersilahkan semua teman-temannya untuk duduk di teras luar rumahnya. Ia hanya tidak ingin kalau Naruto datang nanti, suaminya itu menyangka yang macam-macam.

"Huoo! Luas sekali rumahmu Hinata-chan!" seru seorang laki-laki yang entah kenapa sejak dulu selalu saja memakai topeng kesukaannya. Sama seperti Deidara, Tobi terlihat sangat ceria lebih malah. Meskipun umurnya sudah bertambah, tapi Hinata merasakan kalau laki-laki ini tidak berubah sama sekali.

"Terlihat indah sepertimu~"

Memutar bola matanya sekilas, Hinata mencoba tersenyum saat ternyata salah satu Senpainya masih saja bisa merayunya seperti itu. Hidan, laki-laki berambut putih.

Dan yang terakhir pasti kalian tahu, "Kau juga tidak berubah sejak dulu, Hinata." Akasuna Sasori, temannya saat masih Sma dulu. Laki-laki dengan baby face andalannya dan sampai sekarang pun masih tetap sama.

Tentu saja Hinata senang melihat kedatangan kelima teman-temannya yang sejak dulu bersama-sama bekerja di taman kanak-kanak. Dan mungkin gara-gara mereka juga, Naruto selalu saja bersikap protektif saat menjemputnya pulang dari sana.

"Aku tidak menyangka kalau kalian akan datang kemari? Memangnya darimana kalian tahu rumahku?" tanya wanita itu heran, setahunya Ia tidak pernah memberitahu alamat rumahnya pada mereka. Bukan karena tidak mau, tapi karena dia-nya saja yang terlalu sibuk mengurus rumah tangganya jadi sampai-sampai tidak ada waktu untuk sekedar memberitahu.

"..." Hening, tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

'Lho, kenapa semuanya diam? Apa aku salah bicara?' batinnya heran.

"Ano, kalian mendengarkanku?"

"..." seakan tersadar-

"Ah! Gomen, gomen, kami hanya sedikit terkejut saja melihat perubahanmu, Hinata~" ujar Nagato, diikuti anggukan setuju semuanya.

"Perubahanku?"

Deidara, tersenyum kecil, "Yah, sepertinya sekarang kau tidak malu lagi bertemu dengan kami, biasanya dulu kan kau selalu gugup kalau bicara di depan orang banyak, un." Jelasnya,

"Benar, Hinata-chan kau terlihat tenang hari ini!" seru Tobi.

"..." sekarang giliran Hinata yang terdiam, dia sendiri juga baru sadar. Kalau beberapa minggu ini, baik sikap atau bicara gugupnya perlahan-lahan menghilang.

Tersenyum kikuk, Hinata menggaruk pipinya yang tak gatal, "Iya, sepertinya aku juga baru sadar," ujarnya.

"Ahaha, pikiran polosmu masih sama, Hinata." Hidan tertawa kecil, masih mencoba mengedip-ngedipkan sebelah matanya pada Hinata.

Ia jadi sweatdrop sendiri.

"Ugh, Kaa..chan," mendengar suara berisik yang sayup-sayup di telinganya, perlahan Hana menggeliat kecil di pelukan Hinata. Dan kenapa wanita indigo ini lupa kalau putrinya kini masih tertidur.

"Sss, tidur lagi sayang." Bisiknya lembut, menepuk punggung mungil Hana.

"Cu..alanya belicik Kaachan-" Oh, tidak gadis kecil ini mulai merengek. Kedua tangannya pun mulai mengucek-ngucek matanya.

"Ssh, daijobu, daijobu~" menggerak-gerakkan badannya, Hinata mencoba merubah posisi tubuh, mengayunkan pelan tubuh Hana dengan kedua tangannya, berharap kalau putrinya bisa tidur kembali. Bibirnya tanpa sadar menyanyikan lagu tidur kesukaan gadis kecilnya.

"Hoaahm," bibir mungil Hana terbuka sekilas, tangan mungilnya menggapai ke atas.

"..." saking asyik mendendangkan lagu untuk putrinya. Sampai-sampai wanita indigo itu tidak sadar kalau saat ini masih ada lima orang laki-laki tampan yang melihat sikapnya.

Mereka berdecak kompak, melihat Hinata yang sudah berubah menjadi dewasa. Menjadi sesosok ibu yang cantik, anggun, dan perhatian.

"Ck, beruntung sekali Naruto menjadi suaminya~" desah Hidan pelan,

"Ya, kalau saja dulu aku lebih dulu berkenalan dengannya," ujar Nagato, diikuti anggukan setuju Deidara,

"Hiks, hiks, Kau sudah dewasa sekarang Hinata-chan, Tobi terharu." Sedangkan Tobi yang entah kenapa malah menangis sesenggukan.

Dan Sasori yang hanya bisa menghela napas pelan, "Yah, dari dulu juga aku sudah bisa melihat kemesraan mereka berdua di kelas."

Pastinya sekarang ini mereka berlima tahu, kalau impian mereka mendapatkan wanita indigo itu hanya tinggal mimpi belaka.

[...]

Beberapa menit berhasil membuat Hana kembali terlelap, Hinata menghela napas lega. Dengkuran putrinya kembali terdengar.

'Sebaiknya aku membawanya ke tempat tidur,' batinnya, sebelum menatap kelima sahabat sekaligus Senpainya (kecuali Sasori) yang masih duduk santai di teras rumahnya.

"Ano, aku ingin menidurkan Hana di atas. Bisakah kalian menunggu sebentar, sekalian aku ingin membuatkan minuman." Tawarnya.

"Oh, tidak usah. Kebetulan kami berlima ingin pergi sekarang."

"Eh? Tapi kalian baru sampai-"

Deidara menggeleng sekilas, "Kami hanya ingin melihat keadaanmu Hinata, dan di lihat dari tingkah lakumu pada Hana. Kurasa sudah menjelaskan semuanya, un."

Masih tidak mengerti maksud Senpainya Hinata menatap heran, "Apa maksudnya?"

Nagato perlahan bangkit dari tempat duduknya, manik teduhnya menatap Hinata, sampai-

Plok, sebuah tepukan lembut mendarat di puncak kepala wanita indigo itu. "Tiga tahun tidak bertemu, dan kau yang kami anggap sebagai adik sudah sedewasa ini." ujarnya.

"E..eh? A..adik?" entah kenapa dia jadi gugup lagi,

Tobi ikut mendekatkan diri pada Hinata, "Kau itu kan gadis termuda yang menjadi guru di Taman kanak-kanak, jadi otomatis kami ini kakakmu. Yah, kecuali si Hidan yang terus saja mengedip gatal padamu." Jelasnya.

"Hei! Kita kan memang suka pada Hina-hmpphh!" belum selesai berkata-kata, Sasori sudah buru-buru menyumpal bibir Hidan dengan tangannya.

"Diamlah, Hidan-senpai!"

Terharu, ya itu yang di rasakan Hinata. Meski sudah tidak bekerja di sana lagi, tapi tetap saja ia merindukan semua teman-temannya ini. Wanita itu mengangguk kecil, "Arigatou, aku juga merindukan kalian semua. Senpai-senpai sudah kuanggap seperti Neji-nii," tidak bisa menahan rasa senangnya. Hinata malah meneteskan air matanya-

Membuat kelima laki-laki di sana panik, "Oi! Hinata jangan menangis dong, di pesta nanti kan kita akan bertemu lagi!" seruan Deidara, seketika menghentikkan isakannya.

'Kita?'

Wanita itu mengadahkan wajahnya kembali, "Kita? Maksudnya, bukan hanya Deidara-senpai saja yang akan datang ke pesta pernikahan Gaara?" tanyanya heran.

"Kami berlima juga termasuk partner bisnis sekaligus sahabat Gaara, jadi tentu saja di undang. Kau tidak tahu ya kalau taman kanak-kanak yang sekarang ini sudah bertingkat dan di gabung sampai ke jenjang kuliah itu. Gaara yang mendonorkan dana-nya, dia dan Shikamaru ikut andil dalam pembangunan sekolah itu."

Masih setengah tidak percaya, Hinata menganga kecil. Memang ia tahu kalau tempatnya bekerja itu sudah berubah total, tapi mengenai biaya pembangunan yang Gaara dan Shikamaru berikan?

Ia tidak pernah dengar.

"Benarkah? Kukira mereka tidak pernah kembali ke Konoha, dan masih menetap di Suna saat itu."

"Mereka memang tidak datang saat rapat, karena keduanya memanggil asisten kepercayaan mereka untuk datang ke sekolah dan menggantikannya."

Mendengar lanjutan Senpainya, Hinata hanya bisa ber-oh ria. "Begitu,"

"Kalau begitu kami pulang dulu, tidak enak dengan Naruto. Kalau dia melihat kita datang, pasti sifat cemburunya akan muncul dan-"

Tin! Tin!

Suara klakson mobil terdengar nyaring, menghentikan perkataan Nagato seketika. Dan bagi Hinata, suara mobil itu sudah sangat ia kenal. Sedikit menghela napas panjang, maniknya menatap kelima sahabatnya-

"Naruto-kun sudah datang ternyata." Ujar wanita itu. Karena kebetulan mereka berenam sedang berada di teras luar rumah, jadi otomatis Naruto akan melihat mereka dengan jelas.

"Lebih baik kami pulang dulu,"

"Kalian tidak ingin menyapa Naruto-kun?"

"Setidaknya nanti malam kita akan bertemu lagi, Jaa nee~" Baik, Nagato, Deidara, Hidan, Sasori, serta Tobi segera beranjak dari sana. Berjalan menuju gerbang rumahnya yang kini sudah terbuka, menampakkan seorang laki-laki pirang yang berdiri di sana.

'Kami-sama, semoga saja Naruto-kun tidak cemburu.' Batin Hinata kecil.

.

.

.

.

.

Jii~ Risih, Hinata benar-benar risih di tatap Naruto sejak tadi. Lebih tepatnya sejak laki-laki itu beradu pandang dengan kelima sahabatnya, menghampirinya, masuk ke dalam rumah, diam di ruang makan, dan terakhir melihat dirinya membuatkan minuman.

"..."

"Naruto-kun, bisakah jangan memandangiku seperti itu?" desah wanita itu terus menerus.

"Mereka itu teman-temanmu saat bekerja di taman kanak-kanak kan?" pertanyaan terlontar dari bibir Naruto.

'Mulai lagi~'

"Iya, Naruto-kun kan tahu sendiri." Jawabnya singkat.

"Lalu untuk apa mereka datang kemari?

"Mereka hanya ingin memastikan keadaanku saja kok."

"Benar? Tidak ada maksud lain?"

Memutar bola matanya sekilas, perlahan Hinata berbalik memandang wajah suaminya, terlihat raut kesal dan cemberut di sana.

Doa-nya tadi ternyata tidak terkabul sama sekali.

"Maksud apa?"

"Menggodamu mungkin, atau mengajakmu jalan-jalan?"

Oh, ayolah! Apa suaminya ini tidak tahu kalau saat ini dia butuh ketenangan dan sedang mengandung!

"Tidak. Tebakanmu salah semua Naruto-kun." Hinata mencoba tenang. Mengendalikan emosinya.

"..." tidak ada jawaban dari Naruto, laki-laki pirang itu memalingkan wajahnya sekilas, menghela napas dan akhirnya-

Grek-

Bangkit dari tempat duduknya, berniat untuk pergi dari sana. Melihat reaksi suaminya, mau tak mau Hinata ikut menghela napas panjang. Sifat Naruto sudah ia hapal sejak dulu,

Manja, suka cemburu, merengut seenaknya.

'Tidak ada pilihan lain lagi,'

Sepertinya cara ini yang paling ampuh untuk laki-laki seperti Naruto. Yaitu,

"..."

"I..ittai, perutku sakit!" Hinata dengan cepat berpura-pura mengaduh sakit, seraya memegang perutnya. Tubuhnya perlahan ia turunkan, merosot sampai ke lantai. Melemaskan kakinya, dan mencoba berakting kesakitan.

'Mari kita lihat reaksinya~' batinnya dalam hati.

Sampai-

Tak perlu menunggu beberapa detik-

"Hinata! Kau baik-baik saja!" Naruto yang tadinya berniat meninggalkan dapur, berbalik cepat. Berlari takut menghampiri istrinya.

"Sa..kit Naruto-kun.." rintih Hinata pelan.

Naruto makin khawatir, tangannya memegang perut Hinata lembut, mengusap-usapnya pelan, "Sssh, junior jangan sakiti Kaasanmu sayang, tenang ya." Bisiknya pada sang jabang bayi.

Ingin sekali Hinata terkikik geli melihat reaksi Naruto, tapi sengaja ia tahan, "Sa..kit.."

"Ah, kita ke dokter sekarang ya? Tunggu sebentar," mencoba mencari kunci mobil di sakunya, tapi sebelum itu-

"A..ku tidak perlu Naruto-kun," tangan putih Hinata menghentikannya,

"Kau bicara apa? Nanti kalau terjadi sesuatu padamu dan anak kita, aku tidak akan tinggal diam-"

"Tidak usah Naruto-kun,"

"Hinata-"

Memotong perkataan suaminya, tangan Hinata yang tadinya memegang tangan Naruto perlahan naik, dan-

Grep-

Memeluk leher laki-laki itu,

"Hina-"

"Aku tidak perlu ke dokter, sepertinya tadi junior marah gara-gara Tousannya yang sudah cemburu pada Kaasanya ini. Kau tahu,tadi dia ingin sekali menendangmu, tapi malah perutku yang sakit." Jelas Hinata pelan.

Setengah tidak percaya, Naruto mencoba melepaskan pelukan Hinata, dan memandang ke arah perut istrinya.

"Memang benar ya?" tanyanya tak yakin. Memangnya dengan perut Hinata yang masih kecil itu, Juniornya di sana sudah bisa menendang?

"Kau tidak percaya, aduh! Dia menendang lagi!"

Oke, sepertinya Naruto terpaksa harus percaya melihat wajah pucat Hinata.

"Gomen, gomen, aku tidak tahu. Tadi aku hanya sedikit kesal saja jadi ya..kau tahu kan-" jelas laki-laki itu, membuat Hinata terkikik geli.

"Nah, jadi sekarang Naruto-kun jangan cemburu lagi, oke." ujarnya.

"Akan kucoba-"

Eh?

Coba?!

"Aduh! Sepertinya aku mau pingsan!" Hinata berseru lagi, Naruto kelabakan.

"..."

"Oke, oke! Tousan janji tidak akan cemburu lagi, jadi jangan menyakiti Kaasanmu."

Fix, Naruto kalah hari ini. Walau sebenarnya ia melihat gelagat aneh istrinya tapi tetap saja, wajah pucat dan kesakitan Hinata merupakan senjata ampuhnya.

Menyentuh pelan pipi suaminya, Hinata mengecup sekilas, sambil memperlihatkan senyuman kemenangan, "Nah, itu dia jawaban yang kutunggu-tunggu~" wanita itu perlahan bangkit, dari posisinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Sebaiknya Naruto-kun bersiap-siap untuk nanti malam," ujarnya dengan nada sing a song sebelum meninggalkan dapur,

Membiarkan Naruto berdiam diri di sana, membeku, dan barulah ia sadar kalau-

"..."

"..."

"Hah, sepertinya aku di bohongi," ternyata dia hanya di kerjai istrinya.

.

.

.

.

.


Pukul 19.00 p.m


"Hinata kau sudah siap?" Naruto mencoba memanggil istrinya yang masih berkutat di kamar. Sedangkan dirinya sudah selesai sejak setengah jam tadi, dengan tuxedo yang terlihat cocok untuknya, rambut yang kali ini ia rapikan ke belakang tapi dengan sedikit poni jabriknya yang mencuat ke depan, menambahkan kesan tampan,

"Fuh, tuxedo ini membuatku gerah." Tangan tannya mencoba melonggarkan dasi di tuxedonya, sebelum-

"Naruto-kun, jangan merusak penampilanmu lagi." Suara dari atas tangga menghentikan gerakannya,

Menghela napas sejenak, "Aku gerah memakai pakaian ini di dalam rumah, kau sudah siap-" berbalik melihat penampilan istrinya,

"..."

Membeku.

Diam.

Tidak bisa berbicara apa-apa.

"..."

Di depan matanya kini berdiri seorang wanita berambut indigo yang sengaja di buat ikal, berbalut dress putih tanpa lengan, dengan sebuah cardigan berwarna senada melekat di sana, kaki jenjang dengan high heels yang tidak terlalu tinggi. Membawa tas kecil, Dan sebuah senyuman anggun-

Dia tidak berlebihan-

Tapi memang kenyataannya seperti itu,

Tanpa sadar bibirnya bergumam, "Cantik."

"Eh?" Hinata yang mendengar pujian sang suaminya langsung merona merah.

"..."

Hana yang baru ikut turun dari tangga, melihat atmosfer kedua orang tuanya yang terlihat malu-malu kucing itu memiringkan lehernya heran,

"Touchan, kalau Hana gimana?" tanyanya beranjak turun dan menghampiri ayahnya.

Gadis kecil itu sengaja Hinata pakaikan dress berlengan panjang berwarna biru langit agar tidak kedinginan nantinya, tentu saja dengan pita biru cantik yang melingkari pinggangnya. Rambut pendeknya yang ia gerai, di tambah hiasan bando berwarna putih berisikan pita kecil di sana. Dengan sepatu bots kecil berwarna putih.

Putri mereka benar-benar terlihat seperti malaikat kecil sekarang.

Seakan tersadar dari lamunan, keduanya segera memandang Hana. Dengan gemas Naruto menggendong putrinya, mengayun-ayunkannya pelan-

"Putri Tousan cantik sekali, sama seperti Kaasannya~" ujarnya kecil.

"Kyahaha, Touchan juga kelen! Iya, kan Kaachan?!"

Hinata mengangguk setuju, "Um, Naruto-kun tampak keren dan tampan hari ini."

Yah, pujian dari sang istri dan putrinya tentu saja membuat laki-laki pirang itu tersenyum malu.

"Kalau begitu kita berangkat sekarang?"

"Ya, Gaara pasti sudah menunggu kita."

.

.

.

.

.

Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil mereka tepat berhenti di depan sebuah gereja yang letaknya berdampingan dengan sebuah hotel bernama 'Seven Eyes'. Hana yang baru pertama kali melihat tempat berisikan hiasan-hiasan bunga berseru senang,

"Huwaa, Kaachan bunganya banyak cekali!" serunya,

"Ha'i, Ha'i," masih menggendong putrinya Hinata segera keluar dari dalam mobil. Maniknya melihat banyak sekali tamu yang datang, dan kebanyakan orang yang tidak ia kenal.

Naruto yang ikut turun setelah meminta penjaga di gereja untuk memarkirkan mobilnya, "Ayo masuk," Ia mempersilahkan lengannya pada Hinata, membuat wanita itu dengan senang hati merangkul suaminya.

"Um."

[...]

Masuk ke dalam gereja dan di sambut meriah oleh alunan musik yang lembut, membuat lagi-lagi Hinata berdecak pelan, "Pernikahan Gaara mewah sekali," gumamnya,

"Ya, setidaknya hari ini kita bisa melihat siapa pengantin wanita sahabat kita."

Acara Pernikahan yang akan di laksanakan hari ini, yang di hadiri bermacam-macam orang. Dan pesta pernikahan yang dilaksanakan dalam gedung bintang lima di samping gereja.

"Hinata! Naruto!" suara seruan memanggil keduanya, sontak membuat mereka menoleh ke sumber suara dan-

"Temari! Shikamaru!"

Terlihat seorang wanita cantik berbalut dress, dan seorang laki-laki memakai tuxedo dengan tampang malas andalannya menghampiri mereka.

Bruk! Tanpa basa-basi wanita pirang itu memeluk erat Hinata, dan Naruto berbarengan, "Aku benar-benar merindukan kalian berdua!" serunya.

"Aku juga, Temari. Sudah berapa tahun kita tidak bertemu," ujar Hinata kecil,

"Sepertinya kekuatanmu makin kuat Temari." Goda Naruto.

"Yah, aku perlu melatih kesabaran dan kekuatanku untuk laki-laki malas sepertinya~" Temari melepaskan pelukannya, setengah terkikik geli melihat wajah cemberut Shikamaru.

"Mendokusei."

Naruto menghela napas pelan, menepuk pundak sahabat nanasnya, "Lama tak bertemu sobat, sikapmu masih sama seperti dulu." ujarnya seraya menunjukkan cengiran kecil.

"Kau juga, Naruto." mendengus, dan ikut tersenyum.

"Jadi kapan kalian akan menyusul Gaara?" pertanyaan yang terlontar dari bibir Naruto sontak membuat kedua pasangan di sana-

"..."

Blush~

Memerah.

Setengah kikuk, Temari menggaruk pipinya yang tak gatal, dan sebelum mengucapkan kata-katanya-

"Kau tahu tidak kalau, dua hari lalu Shika sudah melamarnya~" suara seseorang memotongnya. Membuat semua orang di sana sontak menoleh ke arah belakang Temari, menampilkan-

"Ino! Sai!"

"Lama tak bertemu, dan kuharap pesta pernikahan kalian akan datang tak lama lagi." goda wanita blonde itu senang.

"Sepertinya kita akan reunian bersama hari ini." ucap Sai singkat. Ternyata kedua pasangan itu pintar sekali bersembunyi-

"Semuanya sudah berkumpul!" seruan kembali datang, seorang wanita berambut merah muda aka Sakura dengan Sasuke, juga putra mereka Haruki, serta wanita cantik bercepol dua aka Tenten, kakak sepupu Hinata, Neji, dan Kiba datang bersamaan.

"Hinata! Ino! Temari! Aku merindukan kalian!" Tenten berlari cepat, dan memeluk ketiga sahabatnya.

"Kami juga merindukanmu!"

"Kyaa! Hana dan Haruki manis sekali!"

"Ciapa meleka Kaachan?" tanya Hana bingung,

"Mereka sahabat-sahabat Kaasan, sayang."

"Oh! Calam kenal!"

"Calam kenal!" Haruki ikut-ikut berteriak kecil.

"Manisnya!"

Yah, seperti biasa pertemuan para wanita akan selalu heboh, sedangkan para laki-laki hanya-

"Lama tak bertemu sepertinya kau makin malas Shikamaru." Ucap Sasuke singkat.

"Mendokusei."

"Kalian benar-benar berubah." Ujar Sai.

"Kita kan baru bertemu, bagaimana kalau saling berpelukan." Tawar Naruto senang, sebelum-

"Tidak. Kau mau wanita-wanita itu memukuli kita?" tolak Neji cepat.

"Hei! Jangan menyindirku!"

"Siapa yang menyindirmu, Kiba?"

"Oh, iya Teme! Aku ingin memberikanmu sebuah pelajaran karena sudah berani mengotori pikiran suci putriku!"

"Hn, aku tidak melakukan apa-apa."

"Apa!"

"Putri dan Putra kalian manis sekali, Sasuke, Naruto."

"Tentu saja!"

Yah, hanya basa-basi dan pertengkaran biasa.

{...}

Merasa ada yang kurang dari mereka, Temari melihat-lihat sahabatnya. "Lho, ngomong-ngomong kemana Shion?" tanya wanita itu.

"Tadi kata Kyuu-niisan, Shion sakit, jadi terpaksa tidak bisa datang ke sini." Jelasnya sedih.

"Hah, berkurang satu sahabat kita." Desah Tenten.

"Kita bisa menjenguknya besok." Saran Sakura cepat,

"Kau benar, besok kalian berdua masih ada di Konoha kan?" tanya Ino pada Tenten dan Temari.

"Tentu saja, kebetulan untuk beberapa minggu ini aku dan Neji ingin merilekskan diri di Konoha."

"Aku juga, sama." Sahut Temari.

"Baiklah kalau begitu, besok kita menjenguknya.".

.

.

.

.

Mereka berniat mencari Gaara ke ruangannya, saat di rasa gereja yang terlalu besar ini membuat semuanya sedikit bingung mencari. Sampai saat Hinata menoleh-noleh, berharap bertemu dengan ruangan laki-laki itu-

Dan...

"..."

"Hinata!" sebuah seruan memanggilnya, (lagi)

Hinata yang asyik mencari, menghentikan kegiatannya sesaat, dan menoleh singkat.

"Deidara-senpai, Nagato-senpai, Tobi-senpai, Hidan-senpai, Sasori!" kelima laki-laki yang sempat menemuinya tadi, terlihat lagi. Kini dengan style yang berbeda.

"Benarkan kita bertemu lagi, un." ujar laki-laki berambut pirang aka Deidara. Sebelum mereka berlima berniat menghampiri Hinata, untuk sekedar menyapa wanita itu.

Grep-

"Eitt, kalian tidak boleh mendekati istriku kurang dari satu meter." Tangan kekar Naruto tiba-tiba saja menarik Hinata ke dalam pelukan. Dan tangan yang satunya terangkat tepat di depan kelima sahabatnya, seperti mengisyaratkan untuk tidak mendekat lebih jauh.

Sepertinya, suaminya ini benar-benar lupa dengan peringatannya tadi. Tidak boleh cemburu sembarangan.

"Naruto-kun-" mencoba berbicara dengannya, tapi-

"Seperti biasa kau tetap protektif, Naruto." ujar Nagato singkat.

"Ya, ya tetap berdiri di sana. Kenapa kalian bisa ada di sini?"

"..."

Haruskah ia berpura-pura pingsan agar suaminya ini mengerti?

Hah, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang baginya. Jadi, Sampai bertemu di chap selanjutnya!


TO BE CONTINUED~


A/N :


Huaa, akhirnya Mushi dapet apdet juga! Gomen, banget udah lama nggak publish. Tapi karena ceritanya tidak bersambung dari chapter sebelumnya, Mushi bisa bernapas lega. Yoshh! Karena udah banyak banget wordnya, terpaksa Mushi potong dan jadiin dua chap! XD

Chap ini dan untuk chap selanjutnya hanya menceritakan bagaimana pernikahan Gaara, dan aksi cemburu Naruto. Simple kan? Ahaha #gampar# Ga nyangka bakal manggil anggota Akatsuki buat masuk jadi karakter Mushi #muahaha#soalnya dulu pernah ada yang request di MDWY tapi nggak bisa Mushi penuhi. Nagato dan Pein itu beda orang ya, jadi jangan salah sangka, ehehe #plak# XD

Dan berdasarkan Voting nama yang chapter lalu ternyata nama yang terpilih adalah..

Jreng!

Hikaru! Yosh, banyak yang milih itu, jadi Mushi bakal pakai itu buat nama putranya NaruHina. Gomen bagi yang tidak terpilih namanya #ojigi#


[...]


Answer :

Shion beneran hamil? Ahaha enggak kok, cuman bercanda doang calon mertua Mushi #tendang# :D

Nama Hikaru emang kedengeran kayak cewek, tapi menurut Mushi itu juga keren, soalnya kan punya arti cahaya. Cocok buat cewek ataupun cowok #gampar#

Konflik? Masih mikirin, tunggu aja ya XD kalian ada yang punya ide? #stock cerita berkuras#

Apdet cepet? Gomen untuk beberapa bulan ini Mushi belum bisa apdet cepet :(


[...]


Wuah! Karena wordnya udah kepanjangan, jadi untuk kali ini Mushi nggak bisa tulisin satu persatu nama kalian. Chapter depan pasti Mushi tulis :)

Arigatou buat yang meriview, mem fav, mem follow dan nungguin, semoga di chap ini kalian nggak bosen ya #pundung#

*LOVE YOU ALL* #BIG HUG#


Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi

Kalau begitu Akhir kata kembali

SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7

JAA~