137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
Fifty Shades of Cho
Chapter 10
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
(Ada beberapa MARGA yang diganti demi kepentingan cerita)
DLDR
Please enjoy ^^
Disclaimer : Remake Novel karya EL James 'Fifty Shades of Grey'.
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
.
JOYER
.
.
.
"Sial! Itu eommaku."
Tiba-tiba dia menarik keluar kejantannanya dariku. Aku meringis.
Dia duduk di atas tempat tidur dan melempar kondom bekas ke keranjang sampah.
"Ayo! Kita harus berpakaian, itupun jika kau ingin bertemu eommaku." Dia menyeringai, turun dari tempat tidur, dan menarik celana jinsnya, tak pakai celana dalam!
Aku kesulitan untuk duduk karena tanganku masih terikat.
"Kyuhyun, aku tak bisa bergerak."
Senyumnya melebar, dan sambil membungkuk, dia melepas ikatan dasi di tanganku. Bentuk dasinya telah meninggalkan bekas di sekitar pergelangan tanganku.
Tampak ... seksi.
Dia menatapku. Dia geli, matanya menari penuh kegembiraan. Dia mencium keningku dengan cepat dan berseri-seri.
"Pertama kali dari yang lain," dia mengakui, tapi aku tak tahu apa yang dia bicarakan.
"Aku tak punya pakaian bersih di sini." Tiba-tiba aku merasa panik, dan mengingat apa yang baru saja aku alami, aku jadi merasakan kepanikan luar biasa.
Aku tak punya pakaian bersih. "Mungkin aku harus tinggal di kamar saja."
"Oh, tidak, tidak bisa," ancam Kyuhyun. "Kau bisa memakai kemeja atau t-shirt ku." Dia memakai t-shirt putih dan tangannya menyisir rambutnya yang berantakan.
Terlepas dari kecemasanku, aku merasa kehilangan pikiranku. Apakah aku akan terbiasa melihat keindahan namja ini?
Keindahannya memabukkan.
"Sungmin, kalaupun kau memakai karung, kau masih akan tetap terlihat cantik. Jangan khawatir. Aku ingin kau bertemu dengan eommaku. Segeralah berpakaian. Aku akan keluar untuk menenangkannya." Mulutnya menekan menjadi garis keras. "Aku mengharapkanmu keluar dalam lima menit, kalau tidak aku akan datang dan menyeretmu keluar dari sini sendiri, apa pun yang kau kenakan. T-shirtku ada di laci ini. Kemejaku di lemari. Silakan kau pilih sendiri."
Sejenak matanya melihatku dengan curiga, Kemudian meninggalkan kamar.
Sial. Eommanya Kyuhyun. Ini jauh lebih dari yang aku harapkan. Mungkin bertemu dengannya akan membantu menguraikan sebagian kecil dari teka-tekinya. Mungkin bisa membantuku memahami mengapa Kyuhyun menjalani kehidupan seperti itu ...
Tiba-tiba, aku ingin bertemu dengannya. Aku mengambil bajuku dari lantai, dan aku senang ketika mengetahui bajuku tidak kusut dan hampir tak ada lipatan. Aku menemukan bra biruku di bawah tempat tidur dan memakainya dengan cepat.
Tapi jika ada satu hal yang paling aku benci, yaitu tak memakai celana dalam yang bersih. Aku mencari ke lemari lacinya Kyuhyun dan menemukan celana boxer-nya.
Setelah memakai celananya, aku memakai jeans dan Converseku.
Aku ambil jaket, lalu masuk ke kamar mandi menatap mataku yang terlalu bersinar, muka memerahku, dan rambutku!
Sialan ... rambutku terlihat sangat berantakan.
Aku mencari sikat rambut di meja rias dan menemukan sisir. Harus kulakukan. Ekor kuda adalah satusatunya jawaban. Aku putus asa dengan pakaianku. Mungkin aku harus menerima tawaran Kyuhyun untuk mengenakan pakaiannya.
Aku kesulitan memakai jaket, senang bahwa manset menutupi pola dasinya di pergelangan tanganku, terakhir aku cemas melihat sekilas diriku sendiri di cermin.
Harus kulakukan.
Aku berjalan ke ruang tamu utama.
"Kenalkan." Kyuhyun berdiri dari tempat dia duduk di sofa.
Ekspresinya hangat dan menghargai. Di sampingnya wanita berambut blonde berbalik dan berseri-seri melihatku, senyum penuh kesenangan. Dia juga berdiri. Dia tanpa cela memakai gaun sweater rajut Camel berwarna kalem dengan sepatu yang sepadan.
Dia tampak rapi, elegan, indah, dan aku jadi rendah diri, tahu bahwa aku terlihat berantakan.
"Eomma, ini Lee Sungmin. Sungmin, ini Cho Heechul."
"Senang sekali bertemu denganmu," gumamnya.
Jika aku tak salah, sepertinya takjub mungkin heran dan sedikit lega dalam nada suaranya dan matanya bersinar hangat.
Aku jabat tangannya, dan aku tak bisa menahan senyum, membalas kehangatannya.
"Doktor Cho," bisikku.
"Panggil aku Heechul ahjumma," dia menyeringai, dan Kyuhyun mengerutkan kening.
"Jadi bagaiman kalian berdua bertemu?" Dia memberikan pandangan bertanya pada Kyuhyun, tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Sungmin mewawancaraiku untuk koran mahasiswa di universitasya karena aku akan menganugerahkan gelar disana minggu ini."
"Jadi kau lulus minggu ini?" Tanya Heechul ahjumma.
"Ya."
Ponselku berbunyi. Pasti Eunhyuk, aku bertaruh.
"Maaf." Aku berjalan ke dapur dan bersandar di meja sarapan, tanpa memeriksa nomor.
"Hyuk."
'Sungmin!' Sialan, ini Siwon. Dia terdengar putus asa. 'Kau dimana? Aku berusaha untuk menghubungimu. Aku ingin bertemu denganmu, untuk meminta maaf atas perlakuanku pada hari Jumat. Kenapa kau tak membalas teleponku'
"Dengar Siwon, sekarang bukan saat yang tepat." Aku melirik cemas ke arah ekspresi wajah Kyuhyun yang menatapku tajam, saat ia bergumam sesuatu pada ibunya. Aku langsung membelakanginya.
'Sebenarnya dimana kau? Eunhyuk selalu mengelak.' dia merengek.
"Aku di Seoul."
'Apa yang kau lakukan di Seoul? Apakah kau bersama dia?'
"Siwon, aku akan meneleponmu nanti. Aku tak bisa bicara denganmu sekarang." Aku langsung menutup telepon.
Aku berjalan santai kembali ke Kyuhyun dan ibunya.
Heechul ahjumma masih asyik berbicara dengan Kyuhyun.
"... Dan Donghae menelepon mengatakan kau berada disini. Aku tak melihat kau selama dua minggu, Sayang."
"Apa dia sekarang senang mencampuri urusanku?" bisik Kyuhyun, menatapku, ekspresinya tidak terbaca.
"Kupikir kita bisa makan siang bersama, tapi aku bisa mengerti kau memiliki rencana lain, dan aku tak ingin mengganggu harimu." Dia mengambil mantel krim yang panjang dan berbalik, memberikan pipinya.
Kyuhyun mencium sekilas dengan manisnya. Eommanya tak menyentuhnya.
"Aku harus mengantar Sungmin kembali ke Incheon."
"Tentu saja, Sayang. Sungmin, menyenangkan sekali bertemu denganmu. Aku berharap kita akan bertemu lagi." Dia mengulurkan tangannya padaku, matanya bersinar, dan kami bersalaman.
Kemudian Yesung muncul dari ... mana?
"Nyonya Cho?" Tanyanya.
"Terima kasih, Yesung." Dia mengantar keluar ruangan dan melalui pintu ganda ke ruang depan.
Yesung ada di sini sepanjang waktu? Sudah berapa lama dia berada di sini? Dimana dia?
Kyuhyun menatapku tajam. "Jadi si fotografer menelpon?"
Sial.
"Ya."
"Apa yang dia inginkan?"
"Hanya untuk minta maaf, kau tahu, tentang hari Jumat lalu."
Kyuhyun memicingkan matanya. "Ya aku ingat," katanya singkat.
Yesung muncul kembali.
"Tuan Cho, ada masalah dengan muatan kapal Darfur."
Kyuhyun mengangguk singkat padanya.
"Nona Lee." Yesung mengangguk padaku.
Aku tersenyum sambil mengangguk balik padanya, dan dia berbalik dan pergi.
"Apakah Yesung—"
"Ya." Dia memotong ucapanku. Apa masalahnya?
Kyuhyun berjalan ke dapur dan mengambil ponselnya.
Sepertinya dia membaca beberapa email. Mulutnya menekan garis keras, dan dia menelpon.
"Apa masalahnya?" Bentak dia. Dia mendengarkan, menatapku, saat aku berdiri di tengah ruangan besar itu bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan, merasa malu dan tak pantas ada di tempat ini.
"Aku tak akan memberikan salah satu kru untuk mengambil risiko. Tidak, batalkan ... Sebagai gantinya kita akan menjatuhkan lewat udara ... Baik."
Dia menutup telepon. Kehangatan di matanya telah menghilang. Dia tampak menakutkan, dan melirik sekilas padaku, dia masuk ke ruang kerjanya dan kembali sesaat kemudian.
"Ini kontrak. Bacalah, dan kita akan membicarakannya akhir pekan depan. Aku menyarankan padamu untuk melakukan penelitian, supaya tahu kau terlibat dengan apa." Dia berhenti. "Itupun jika kau setuju, dan aku sangat berharap kau melakukannya." Dia menambahkan, nadanya lebih lembut, dan gelisah.
"Penelitian?"
"Kau akan kagum dengan apa yang dapat kau temukan di Internet," bisiknya.
Internet! Aku tak memiliki akses ke komputer, hanya laptop Eunhyuk, dan aku tak bisa memakai milik toko Shim, tidak untuk 'penelitian' semacam ini.
"Ada apa?" Tanyanya, memiringkan kepalanya.
"Aku tak punya komputer. Nanti aku akan meminjam milik Eunhyuk."
Dia mengulurkan sebuah amplop padaku.
"Aku yakin aku bisa ... meminjamkan satu. Ambil barang-barangmu, kita akan mengendarai mobil kembali ke Incheon dan makan siang di jalan. Aku harus ganti baju."
"Aku harus menelpon seseorang," bisikku. Aku hanya ingin mendengar suara Eunhyuk. Dia mengernyit.
"Si fotografer?" Rahangnya mengepal, dan matanya terbakar. Aku berkedip padanya. "Aku tak suka berbagi, Nona Lee. Ingat itu." Nadanya tenang dingin seperti memperingatkan, dengan sekali pandangan dingin padaku, dia balik ke kamar tidur.
Sialan. Aku hanya ingin menelepon Eunhyuk, aku ingin menelepon setelah dia masuk kamar, tapi mendadak dia bersikap cuek langsung meninggalkanku sendiri membuatku jadi lumpuh.
Apa yang terjadi pada namja ini, murah hati, rileks, tersenyum saat bercinta denganku tak sampai setengah jam yang lalu?
"Siap?" Tanya Kyuhyun saat kami berdiri di pintu ganda ruang depan.
Aku mengangguk yakin. Dia kembali menjaga jarak, sopan, sosok yang kaku, topengnya kembali dan dipamerkan. Dia membawa tas kulit dorong. Mengapa ia perlu itu? Mungkin dia menginap di Incheon, dan kemudian aku ingat acara wisuda. Oh ya ... dia akan ke sana pada hari Kamis.
Dia mengenakan jaket kulit hitam. Dia jelas tak terlihat seperti multi jutawan, miliarder, dengan pakaiannya. Dia tampak seperti mungkin seorang bintang rock berperilaku buruk atau model catwalk.
Aku mendesah dalam hati, berharap aku punya sepersepuluh dari ketenangannya. Dia begitu tenang dan terkendali.
Aku mengerutkan kening, mengingat ledakan amarahnya tentang Siwon ... Yah, tampaknya karena itu.
Yesung berdiri di belakang.
"Sampai besok," katanya pada Yesung yang mengangguk.
"Ya, Tuan. Mobil mana yang akan anda pakai?"
Dia melihat ke arahku sebentar. "R8."
"Semoga perjalanannya lancar, Tuan Cho. Nona Lee." Yesung terlihat ramah padaku, meskipun mungkin sepertinya ada sedikit rasa kasihan tersembunyi di kedalaman matanya.
Tak diragukan lagi dia pikir aku sudah menyerah pada kebiasaan seksual Tuan Cho yang dipertanyakan.
Aku mengerutkan kening pada pikir itu. Aku tak punya perbandingan, dan aku tak bisa bertanya pada Eunhyuk. Itu sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Kyuhyun. Sangat wajar kalau aku harus berbicara dengan seseorang, dan aku tak bisa bicara dengannya jika dia begitu terbuka satu menit dan berikutnya menjaga jarak.
Yesung menahan pintu terbuka untuk kami saat kami keluar. Kyuhyun menekan tombol lift. "Ada apa, Sungmin?" Tanya dia.
Bagaimana dia tahu aku memikirkan sesuatu berlebihan dalam pikiranku? Dia meraih dan menarik daguku.
"Berhenti menggigit bibirmu, atau aku akan bercinta denganmu di lift, dan aku tak peduli siapa yang akan masuk ke lift bersama kita."
Aku tersipu, tapi ada sedikit senyum di bibirnya, akhirnya suasana hatinya tampaknya berubah.
"Kyuhyun, aku punya masalah."
"Apa itu?" aku jadi mendapat perhatian dia sepenuhnya.
Lift tiba. Kami masuk, dan Kyuhyun menekan tombol G.
"Yah," mukaku memerah. Bagaimana mengatakan ini? "Aku perlu bicara dengan Eunhyuk. Aku punya begitu banyak pertanyaan tentang hubungan intim. Jika kau ingin aku melakukan semua hal ini, bagaimana aku tahu—" Aku berhenti sejenak, berusaha untuk menemukan kata yang tepat. "—aku tak punya referensi sama sekali."
Dia memutar matanya ke arahku. "Bicaralah padanya jika kau harus." Dia terdengar putus asa. "Pastikan ia tak menyebutkan apa pun pada Donghae."
Aku siap berperang atas sindirannya. Eunhyuk tidak seperti itu.
"Dia tak akan melakukannya, dan aku tak akan mengatakan padamu tentang apa pun yang dia ceritakan padaku tentang Donghae. Jika dia mengatakan sesuatu padaku," tambahku cepat.
"Nah, perbedaannya adalah bahwa aku tak ingin tahu tentang kehidupan seksnya," bisik Kyuhyun datar. "Eunhyuk mungkin akan mengambil 'bola'ku jika dia tahu apa yang ingin kulakukan padamu," tambahnya lembut sehingga aku tak yakin aku harus mendengarnya.
"Oke," aku setuju seketika itu juga, tersenyum ke arahnya, lega. Membayangkan Eunhyuk dengan 'bola' Kyuhyun bukan sesuatu yang ingin aku bahas.
Bibirnya terangkat tertuju padaku, dan dia menggeleng. "Semakin cepat aku mendapatkan penyerahanmu akan lebih baik, dan kita bisa menghentikan semua ini," bisiknya.
"Menghentikan apa?"
"Kau, menentangku." Dia menangkup daguku dan langsung memberikan ciuman manis di bibirku saat pintu lift terbuka. Dia menggenggam tanganku dan membawaku ke garasi bawah tanah.
Aku, menentang dia ... bagaimana?
Disamping lift, aku bisa melihat Audi hitam 4x4, tapi jenisnya lebih kecil dan sporty warna hitam dan lampunya nyala berkelip langsung terbuka saat dia menekan tombol alarm di kunci itu.
Atapnya bisa dibuka dan bisa terlipat sendiri di kap belakang.
"Mobil yang bagus," gumamku datar.
Dia mendongak dan tersenyum. "Aku tahu," katanya, dan untuk sesaat Kyuhyun terlihat manis, muda, keriangannya sudah kembali.
Menghangatkan hatiku. Dia begitu bersemangat.
Dia membuka pintu untukku dan aku masuk mobilnya. Dia berjalan mengitari mobil dan duduk dengan anggun di sampingku.
"Jadi mobil apa ini?"
"Ini Audi R8 Spyder. Sepertinya hari ini cerah, kita bisa memakai penutup kepala. Ada topi baseball di sana. Seharusnya ada dua." Dia menunjuk ke kotak sarung tangan. "Dan kacamata hitam jika kau ingin."
Dia mulai menyalakan kunci kontak, dan suara mesin mengaum di belakang kami. Ia menempatkan tasnya di belakang tempat duduk kami, menekan tombol, dan atapnya perlahan terbuka. Dengan menyentuh tulisan switch. Dia tersenyum dan mengemudikan mobilnya keluar dari tempat parkir, dan melewati jalan tanjakan keatas dimana kita berhenti sejenak sampai palangnya terbuka.
Aku menjangkau ke dalam kotak sarung tangan dan mengambil topi baseball. Ia suka baseball? Aku memberinya topi, dan dia memakainya. Sebelum memakai topi aku menarik ikat kuncirku lebih rendah.
Orang-orang memperhatikan kami sepanjang jalan.
Untuk sesaat, aku pikir itu tertuju pada Kyuhyun ... dan kemudian ketakutanku muncul saat berpikir setiap orang melihatku karena mereka tahu apa yang telah kulakukan selama dua belas jam terakhir, tapi akhirnya, aku menyadari itu karena mobilnya.
Kyuhyun tampaknya tidak menyadari, tenggelam dalam pikirannya.
Kyuhyun melirikku. Dia memakai kacamata hitam, jadi aku tak bisa melihat apa yang dia pikirkan. Mulutnya menyeringai sedikit, dan dia meletakkan tangannya di lututku, meremas lembut. Napasku jadi sesak.
"Lapar?" Tanya dia.
Bukan untuk makanan.
"Tidak terlalu."
Mulutnya mengencang menjadi garis keras. "Kau harus makan, Sungmin," tegurnya. "Aku tahu tempat makan yang bagus. Kita akan berhenti di situ." Dia meremas lututku lagi, lalu mengembalikan tangannya ke kemudi.
Saat kakinya menekan pedal gas. Aku merasa ditekan ke belakang kursiku. Dia mengebut.
Restorannya kecil dan intim, sebuah pondok kayu di tengah hutan. Dekorasi sederhana: kursi serampangan dan taplak mejanya motif kotak, bunga liar dalam vas kecil.
"Sudah lama aku tak kemari. Kita tak punya pilihan, mereka memasak apa pun yang sudah mereka tangkap atau kumpulkan." Dia mengangkat alisnya dengan mimik ketakutan, dan aku harus tertawa. Si pelayan wanita mencatat pesanan minuman kami.
Mukanya memerah saat dia melihat Kyuhyun, menghindari kontak mata dengan dia, bersembunyi di balik poni pirang yang panjang.
Dia menyukai Kyuhyun!
Bukan hanya aku!
"Eommaku menyukaimu," katanya datar.
"Benarkah?" Kata-katanya membuat mukaku memerah kesenangan.
"Oh ya. Dia selalu berpikir aku gay." Mulutku menganga, dan aku ingat pertanyaan itu ... dari wawancara.
Oh tidak.
"Mengapa dia berpikir bahwa kau gay?" Bisikku.
"Karena dia tak pernah melihatku dengan seorang yeoja."
"Oh ... bahkan tidak dengan salah satu dari tiga belas itu?"
Dia tersenyum. "Kau ingat. Tidak, tidak satupun dari lima belas itu."
"Oh."
"Kau tahu, Sungmin, ini merupakan pengalaman akhir pekan pertama bagiku juga," katanya pelan.
"Benarkah?"
"Aku belum pernah tidur dengan siapa pun, tak pernah berhubungan intim di tempat tidurku, tak pernah menerbangkan seorang yeoja dengan Charlie Tango, tak pernah memperkenalkan seorang yeoja kepada eommaku. Apa yang kau lakukan padaku?" Matanya membara.
Pernyataannya membuatku terkejut.
Pelayan datang dengan gelas anggur kami, dan aku segera menyesap cepat. Apa dia membuka diri atau hanya membuat pengamatan biasa?
"Aku sangat menikmati akhir pekan ini," bisikku.
Dia menyempitkan matanya padaku lagi.
"Berhenti menggigit bibir itu," ia menggeram. "Aku juga," tambahnya.
"Apa karena seks yang normal?" Aku bertanya, apakah ada sesuatu untuk mengalihkan perhatianku dari penampilannya yang intens membakar dan seksi.
Dia tertawa.
"Hanya seks sederhana, Sungmin. Tak ada mainan, tak ada tambahan yang istimewa." Dia mengangkat bahu.
"Oh."
Pelayan membawakan sup. Kami berdua menatapnya agak ragu. Pelayan menjelaskan pada kami sebelum berbalik agak marah dan kembali ke dapur. Aku berpikir dia tak suka diabaikan oleh Kyuhyun.
Aku mencoba supnya ragu-agu. Ini lezat.
Kyuhyun dan aku melihat satu sama lain pada saat yang sama akhirnya merasa lega. Aku tertawa, dan dia memiringkan kepalanya ke satu sisi.
"Suaramu menyenangkan," bisiknya.
"Kenapa kau tak pernah berhubungan seks yang normal sebelumnya? Apakah kau selalu melakukan ... err, apa yang telah kau lakukan?" aku bertanya, sangat tertarik.
Dia mengangguk perlahan.
"Semacam itulah." Suaranya waspada. Dia mengernyit sejenak dan sepertinya menimbang-nimbang.
Lalu ia melirik ke atas, keputusan sudah dibuat. "Salah satu teman ibuku membujukku ketika aku berumur lima belas tahun."
"Oh." Sialan semuda itu!
"Dia punya selera yang sangat khusus. Aku menjadi submisifnya selama enam tahun" Dia mengangkat bahu.
"Oh." Otakku telah beku, tertegun hingga tak bekerja oleh pengakuan ini.
"Jadi aku tahu apa yang menyebabkan ini, Sungmin." Sinar matanya mendalam.
Aku menatapnya, tak mampu menyuarakan apa pun,bahkan alam bawah sadarku pun diam.
"Aku benar-benar tak memiliki pengenalan seks yang normal."
Keingintahuan bertambah besar.
"Jadi kau tak pernah berkencan dengan siapa pun di kampus?"
"Tidak" Dia menggeleng tegas.
Pelayan mengambil piring kami, mengganggu kami sejenak.
"Kenapa?" aku menanyakan saat pelayan pergi.
Dia tersenyum sinis. "Apakah kau benar-benar ingin tahu?"
"Ya."
"Aku tak mau. Dia itu semua yang aku inginkan, perlukan." Dia tersenyum sayang pada ingatannya.
"Jadi kalau dia adalah teman ibumu, berapa umurnya?"
Dia menyeringai. "Cukup tua untuk tahu banyak."
"Apakah kau masih bertemu dengannya?"
"Ya."
"Apakah kau masih ... err ...?" mukaku memerah.
"Tidak!" Dia menggeleng dan tersenyum sabar padaku. "Dia teman yang sangat baik."
"Oh. Apakah ibumu tahu?"
Dia menatapku seakan mengatakan jangan mulai menjadi bodoh. "Tentu saja tidak."
Pelayan kembali dengan membawa makanan lainnya, tapi selera makanku telah lenyap. Pengungkapan yang mengejutkan.
Kyuhyun yang submisif... sialan. Aku meneguk banyak anggurku.
Astaga, semua pengakuannya, begitu banyak yang harus dipikirkan. Aku perlu waktu untuk mengolah ini, saat aku sendiri, bukan ketika aku terganggu oleh kehadirannya
"Makanlah, Sungmin."
"Aku benar-benar tak lapar, Kyuhyun." Aku terguncang oleh pengungkapannya.
Ekspresinya mengeras. "Makanlah," katanya dengan tenang, terlalu tenang.
Aku menatapnya. Namja ini – menjadi korban pelecehan seksual saat remaja - nadanya begitu mengancam.
"Beri aku waktu sejenak," gumamku pelan. Dia berkedip beberapa kali.
"Oke," bisiknya, dan dia meneruskan makannya.
Akan seperti ini jika aku sudah menandatangani kontrak itu, dia memerintahku. Aku mengerutkan kening. Apakah aku menginginkan ini?
Sambil meraih pisau dan garpu, aku potong daging steak. Ini sangat lezat.
"Apakah akan, eumm ... menjadi seperti ini 'hubungan' kita?" Bisikku. "Kau, terus memerintahku?" Aku tak berani untuk menatapnya.
"Ya," bisiknya.
"Aku mengerti."
"Dan lagi pula, kau juga akan menginginkanku seperti itu," tambahnya, suaranya rendah.
Aku sangat meragukannya. Aku mengiris sepotong daging, memasukkannya kedalam mulutku.
"Ini langkah besar," gumamku sambil makan.
"Ya." Dia menutup matanya sebentar.
"Sungmin, kau harus melakukannya dengan keberanianmu. Lakukan penelitian, baca kontraknya. Aku senang untuk membahas beberapa hal. Aku masih di Incheon hingga Jumat jika kau ingin membicarakan kontrak itu." Kata-katanya seperti terburu-buru. "Telepon aku, mungkin kita bisa makan malam. Bagaimana jika hari Rabu? Aku benar-benar ingin ini berjalan. Bahkan, aku tak pernah menginginkan apapun seperti aku ingin ini cepat berjalan."
Kejujurannya yang berkobar, keinginannya, tercermin dalam matanya.
Mengapa aku? Mengapa tidak salah satu dari tiga belas wanita ini? Oh tidak ... akankah aku menjadi sebuah nomor?
Empat belas dari sekian banyak?
"Apa yang terjadi dengan tiga belas yeoja itu?"
Dia mengangkat alisnya karena terkejut, kemudian menggelengkan kepalanya pasrah. "Bermacam-macam, tapi intinya," ia berhenti sejenak, aku pikir dia berusaha untuk menemukan kata-kata yang tepat.
"Ketidakcocokan." Dia mengangkat bahu.
"Dan kau berpikir bahwa aku mungkin cocok denganmu?"
"Ya."
"Jadi kau tidak berhubungan lagi dengan salah satu dari mereka?"
"Tidak, Sungmin. Aku penganut hubungan monogami."
"Aku mengerti."
"Lakukan riset, Sungmin."
Aku meletakkan pisau dan garpu. Aku tak bisa makan lagi.
"Sudah? Apa kau sudah selesai makan?"
Aku mengangguk. Dia cemberut padaku, tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Aku menarik napas kecil lega.
Perutku bergolak dengan semua informasi baru ini, dan aku merasa sedikit pusing karena anggur. Aku menyaksikan dia makan semua yang ada di piringnya. Dia makan seperti kuda. Dia pasti berolah raga untuk tetap dalam kondisi prima. Ingatan tentang celana piyama yang tergantung di pinggulnya datang tanpa diminta masuk ke dalam pikiranku.
Gambarannya benar-benar mengganggu. Aku menggeliat tak nyaman. Dia melirik ke arahku, dan aku tersipu.
"Aku akan memberikan segalanya untuk mengetahui apa yang kau pikirkan saat ini," bisiknya.
Aku tambah tersipu.
Dia tersenyum nakal padaku. "Aku bisa menebak," dia menggoda lirih.
"Aku senang kau tak bisa membaca pikiranku."
"Pikiranmu, tidak. Tapi tubuhmu. Aku sudah tahu cukup banyak sejak kemarin." Suaranya tidak senonoh. Bagaimana dia bisa beralih dengan cepat dari satu suasana ke suasana yang lainnya?
Dia melambai ke pelayan dan meminta bon. Setelah dia membayar, dia berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Ayo." Dia menggenggam tanganku, dan membawaku kembali ke mobil.
.
.
Saat dia parkir di luar apartemenku, tepat jam lima sore. Lampu menyala , Eunhyuk ada di rumah. Mengepak, tak diragukan lagi, kecuali jika Donghae masih ada di sini. Dia mematikan mesin, dan aku menyadari bahwa aku akan meninggalkannya.
"Apakah kau mau masuk?" Aku bertanya. Aku tak ingin dia pergi. Aku ingin memperpanjang waktu kami bersama.
"Tidak. Aku punya pekerjaan yang harus diselesaikan," katanya sederhana, menatapku dengan ekspresi tak terduga.
Aku menatap tanganku, saat aku menautkan jari-jariku bersama-sama. Tiba-tiba aku merasa emosional.
Dia akan pergi. Mengulurkan tangannya, dia mengambil salah satu tanganku dan perlahan menarik ke mulutnya, lembut mencium punggung tanganku, seperti kebiasaanya, sikap manis.
"Terima kasih untuk akhir pekan ini, Sungmin. Ini adalah... yang terbaik. Rabu? Aku akan menjemputmu dari tempat kerja, atau dimana?" Katanya lembut.
"Rabu," bisikku.
Dia mencium tanganku lagi dan menempatkan kembali di pangkuanku. Dia keluar, memutar ke sampingku, dan membuka pintu penumpang.
Memasang senyum di wajahku, aku keluar dari mobil dan menegakkan kepala menyusuri jalan setapak, tahu bahwa aku harus menghadapi Eunhyuk, aku jadi merasa benar-benar takut.
Aku berbalik dan menatap dia di tengah jalan.
"Oh ... omong-omong, aku memakai pakaian dalammu." Aku memberinya senyum kecil dan menarik bajuku sampai terlihat celana boxer yang aku pakai sehingga dia bisa melihat.
Mulut Kyuhyun menganga, terkejut. Reaksi yang hebat.
Suasana hatiku segera jadi berubah, dan aku berbalik masuk ke dalam rumah.
.
.
.
TBC
.
.
.
SORRY FOR TYPO(S) *bow*
