.
Berdiam diri di kamar membuat Rukia frustasi. Ia ingin menghangatkan diri di perapian, tetapi karena ada kehadian seorang tamu tak diundang yang sedang bercengkrama dengan Orihime ia jadi tidak bisa keluar kamar. Rukia benar-benar tidak bisa hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa seperti saat ini. Ia harus keluar dan melakukan sesuatu.
Tapi apa?
"Kenapa dia bisa sampai ke rumah ini?" tanya Rukia pada dirinya sendiri.
Baru saja Rukia melangkahkan kakinya sampai ke depan pintu kamarnya, dan semua gerakannya terhenti ketika ia akan memutar handle pintu kamarnya. Apa yang akan ia lakukan sebenarnya? Keluar? Bukankah ibu tirinya sudah mengingatkan agar tidak macam-macam? Tapi, sejak kapan dan sampai kapan Rukia akan menuruti perintah absurd itu? Ia kedinginan dan butuh menghangatkan dirinya. Satu-satunya cara adalah dengan mengusir tamu tak diundang itu agar segera pulang dan ia bisa menguasai perapian.
Yeah, go for it, Rukia!
.
.
"Namanya, aku hanya ingin tahu namanya."
Samar-samar Rukia mendengar suara maskulin yang tegas itu dari balik dinding. Langkahnya terhenti oleh sebaris kalimat yang barusan terdengar jelas di telinganya. Entah kenapa, Rukia merasa seperti mendapat surat tantangan dengan sebaris kalimat tersebut—walaupun pada kenyataannya kalimat itu mempunyai makna yang sama sekali tidak ada maksud tantangan sedikitpun di dalamnya.
And Kuchiki never says no to a challenge.
"Kuchiki Rukia,"
Akhirnya Rukia bersuara tanpa pikir panjang lagi dan menampakkan sosoknya di depan kedua orang yang sedang sibuk menguasai perapian yang ditujunya. Ia benar-benar malas berpikir lebih banyak lagi dan memilih untuk segera mengambil tindakan daripada menggigil sendirian di kamar.
"…itu namaku."
Ya, Kuchiki Rukia tengah berdiri di hadapan mereka.
.
.
.
Extraordinary Fairytale
By: Shinku Amakusa a.k.a Shia
Disc: Bleach is Tite Kubo's, not mine
Warning: OOC, AU, grammatical error, misspelling, etc, etc
.
.
Chapter 10 - Understanding
.
Rukia bisa melihat dua orang yang sedang menatapnya dengan tatapan kaget yang berbeda makna. Orihime dengan tatapan kaget yang nampak tidak suka, seolah ia merasa dirinya tertantang dan tidak menyangka Rukia akan benar-benar frontal melawan perintahnya. Sementara Ichigo, dengan tatapan yang murni kaget. Ya, ia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran wanita pendek yang sekarang berdiri di hadapannya itu. Beberapa saat yang lalu ia berusaha keras untuk menghindari Ichigo sampai-sampai rela menerobos hujan deras yang awalnya ia hindari. Sekarang sosok itu justru menampakkan diri dengan berani di hadapannya. Sungguh, seorang Kurosaki Ichigo tidak pernah merasa seterkejut ini dengan tingkah seorang wanita.
"Err, apa ada yang kau butuhkan, Rukia-chan?" tanya Orihime dengan nada manis yang overdosis.
Rukia hanya memutar matanya mendengar suara manis yang dibuat-buat itu. Ia memahami betul arti nada bicara barusan. Itu terdengar seperti, go away, bitch.
"Aku membutuhkan perapiannya karena cuaca sangat dingin, dan sepertinya kalian tidak berniat untuk beranjak dari situ dalam waktu dekat. Karena itu, aku harus memberitahu kalian kalau setidaknya kita harus berbagi mengingat di rumah ini hanya ada satu perapian dan bukan hanya satu orang yang baru saja kehujanan." Rukia menjawab mantap.
Entah kenapa ia merasa sudah tidak bisa lagi selamanya menyembunyikan diri sebagai gadis sopan yang penurut. Ia terlalu lelah dengan topengnya dan hujan badai di luar membuat kesabarannya semakin terkikis habis.
"Rukia-chan! Kenapa kau berkata tidak sopan begitu pada tamu kita? Apa kau tidak tahu bahwa yang sedang duduk di hadapanmu adalah seorang pangeran—"
"—yang sangat kurang kerjaan karena repot-repot mengantarkan belajaan salah satu warganya yang menyedihkan di tengah hujan badai?" Rukia melanjutkan.
Kata-kata itu sukses membuat Orihime dan Ichigo sama-sama terdiam dan memandangnya tidak percaya. Tetapi, Rukia sudah memutuskan bahwa ia harus melakukan sesuatu pada pangeran di hadapannya ini, atau ia akan kerepotan selamanya.
"Pangeran, saya yakin di istana anda ada perapian yang jauh lebih nyaman dan hangat dari tempat ini. Bukankah akan sangat dermawan jika anda membiarkan rakyat jelata seperti saya untuk menikmati perapian sederhana di hadapan anda?" Rukia menatap Ichigo.
Ichigo mengangkat bahunya. "Tentu saja, kita bisa berbagi,—"
Rukia bersumpah ia melihat kilatan nakal dalam tatapan pangeran berambut orange itu padanya.
"—silakan duduk di sebelahku dan kita bisa mengobrol sambil menikmati perapian." Lanjutnya sambil sedikit bergeser dari tempat duduknya semula, menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya seolah mengajak Rukia untuk benar-benar menuruti kata-katanya.
Yang ia tahu akan membuat wanita itu meledak. Entah marah atau malu.
"Kau—!" Rukia hampir saja bereaksi seperti dugaan Ichigo kalau saja ia tidak segera mengendalikan dirinya dan menyadari apa yang dilakukan Ichigo padanya.
Tantangan.
"Bukannya anda tadi terlihat seperti sedang mencari seseorang?"
"Oh, memang. Kau perhatian sekali hingga menyadari hal itu?"
Acuhkan senyum menggoda itu, Rukia. Acuhkan.
"Akan lebih baik kalau anda segera meneruskan perjalanan anda untuk mencari orang tersebut bukan?"
"Memang. Tapi aku sudah menemukannya, jadi tidak perlu terburu-buru."
"Anda yakin sudah menemukannya?"
"Sangat yakin."
"Tapi, sepertinya tadi anda salah orang."
"Oh, aku sangat yakin, Rukia. Sekarang berhentilah berdiri di sana dan duduklah di sini."
Demi Urahara si pedagang pasar mesum yang tidak akan pernah normal, pria mempesona—ehem—menyebalkan di hadapannya itu benar-benar membuat Rukia harus menahan dirinya untuk tidak berteriak stress. Bukan hanya rambut orange itu berani menyebut namanya dengan casual seperti itu (walaupun berat bagi Rukia mengakui bahwa ia cukup senang bagaimana namanya diucapkan dengan baritone rendah yang menggoda itu), tetapi ia juga secara terang-terangan menggodanya!
Apa mengajak lawan jenis untuk duduk berdua di tempat sesempit itu bukan termasuk menggoda namanya? Tolong katakan sesuatu, seseorang!
Di sisi lain, Inoue Orihime yang sejak tadi mulai merasa terasingkan jelas tidak suka dengan atmosfir ruangan yang terasa menjengkelkan baginya ini. Walaupun berbicara dengan bahasa sopan, cara kedua orang itu bertengkar dan meributkan hal kecil seakan-akan mereka sudah saling mengenal begitu lama. Seolah begitulah cara mereka saling menggoda satu sama lain.
Dan Orihime tidak terima! Harusnya ia yang menggoda Kurosaki-kun—yang ia harapkan akan menggodanya balik walau terasa mustahil—dan bukan wanita yang selama ini bekerja sebagai pembantu di rumahnya. Ia harus segera berbuat sesuatu sebelum ia dipecundangi lebih jauh lagi.
"Ahem," Orihime memulai. "Sepertinya kau membutuhkan baju ganti, Kurosaki-kun. Kalau kau terus memakai baju basah itu kau bisa masuk angin."
Ichigo menghentikan perang kontak mata dengan Rukia untuk sesaat dan memeriksa bajunya yang memang basah kuyup. "Sepertinya kau benar," gumamnya.
Orihime tersenyum senang dan menoleh ke Rukia. "Rukia-chan, bisakah tolong kau ambil—"
"apakah kau akan mengambilkan baju ganti untukku?" potong Ichigo.
Kontan Orihime menoleh padanya dan Ichigo melihat tatapan kaget dan tidak menyangka, sekaligus sedih di mata wanita berambut coklat itu. Oh, ada kemarahan juga di sana. Sepertinya ia tidak menyangka bahwa ucapannya akan berbalik menyerang dirinya sendiri. Ichigo tahu persis, wanita itu tidak akan sanggup menolaknya.
"Baiklah, Kurosaki-kun." Ia menghela nafas berat dan berdiri. "Akan segera kuambilkan pakaian ganti untukmu. Tunggu sebentar ya…" katanya sambil tersenyum kemudian segera berjalan menjauh. Ketika akan melewati Rukia, ia berhenti sebentar dan berbisik,
'Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Rukia-chan.' geramnya sebelum berlalu.
Rukia memejamkan matanya sebentar. 'Tentu saja.' jawabnya dalam hati, lebih kepada dirinya sendiri daripada untuk Orihime.
Dan di sinilah, kedua orang itu hanya bertatapan dalam diam sebelum salah satu mulai angkat bicara.
"Namamu bagus, kenapa kau begitu pelit untuk memberitahuku hal itu?" tanya Ichigo basa-basi.
"Anda tidak perlu tahu nama seorang rakyat jelata sepertiku, pangeran." jawab Rukia sambil mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kau meninggalkan pesta malam itu? Apa yang terjadi?" Ichigo berusaha untuk mengacuhkan jawaban Rukia tadi dan memulai pembicaraan yang sebenarnya.
"Sudah kubilang, anda salah orang, pangeran."
"Hentikan omong kosong itu, Rukia!" Kali ini Ichigo tidak tahan lagi dan ia sontak berdiri dari tempat duduknya, membuat Rukia memandangnya kaget. Iris violetnya membesar dan kakinya mendadak kaku melihat Ichigo berjalan ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Ichigo berhenti tepat di hadapan Rukia, membuat wanita itu mendongak menatapnya yang jelas lebih tinggi.
Rukia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Otaknya berteriak-teriak untuk segera menjauh, tetapi hatinya seolah berpegangan erat pada tiang agar tidak beranjak barang sejengkal saja dari tempat itu. Seluruh tubuh Rukia seperti mengkhianatinya. Jantungnya berdegub lebih kencang dari normal, dan Rukia mulai khawatir Ichigo punya pendengaran supersonik yang tajam karena ia tidak mau Ichigo sampai mendengarnya. Ya ampun, hanya berdekatan seperti ini saja sudah membuat jantung Rukia bertalu-talu, apalagi jika sampai pria tampan di hadapannya ini melakukan lebih? Contohnya seperti tiba-tiba membelai wajahnya dengan jari-jarinya yang kokoh seperti yang sedang dilakukannya saat ini.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengenalimu? Aku tidak tahu kenapa, tapi aku bahkan bisa mengenalimu dari jauh. Warna kulitmu, tekstur rambutmu, warna matamu, suaramu, semuanya, Rukia. Semuanya. Kau tidak tahu betapa jelas kau tergambar dalam ingatanku. Aku masih ingat bagaimana rasanya menggenggam tanganmu…"
Dan sekarang Rukia bahkan tidak sadar Ichigo sedang menggenggam tangannya kirinya yang sedang menganggur itu,
"…memeluk pinggangmu…"
Atau meletakkan tangan kiri Ichigo yang lebar ke pinggangnya,
"…dan semua yang kurasakan saat kau berada sedekat ini denganku."
Menarik Rukia lebih dekat dengannya, tetapi tidak cukup dekat untuk sebuah pelukan karena Ichigo belum puas menikmati violet yang menatapnya begitu dalam itu. Rukia sendiri seperti terhipnotis. Bahkan seorang Kuchiki yang selalu mengutamakan rasio kali ini hanya dapat bungkam dengan sentuhan sihir seorang Kurosaki Ichigo.
Ya, setidaknya sampai Ichigo mengatakan sesuatu yang lain.
"Akui sajalah, berapa banyak orang sih yang memiliki tubuh sependek kamu? Bagaimana mungkin kau mengatakan aku salah orang? Aku tidak sebodoh i—Auuw!"
Rukia menginjak kakinya dengan keras, membuat Ichigo mengaduh keras dan menghancurkan semua atmosfir romantis yang sudah tercipta. Rukia segera melepaskan diri dari Ichigo dan berjalan menuju perapian sambil mendengus kesal.
"Jangan pernah menyinggung soal tinggi badan, dasar tiang listrik!" maki Rukia kesal.
Ichigo tertawa mendengar makian Rukia yang sudah diduganya, membuat Rukia semakin kesal.
"Kenapa tertawa? Itu sama sekali tidak lucu, kepala jeruk." Rukia mengganti panggilannya.
"Tuh, kau sudah berani berbicara seperti itu padaku. Kau pikir berapa rakyat jelata yang berani berbicara pada pangeran seperti itu? Masih berani bilang aku salah orang?" tantang Ichigo.
Rukia baru saja menyadari kebodohannya. Tetapi, seorang Kuchiki Rukia tidak akan semudah itu menyerah pada pangeran berambut orange.
"Heh, pede sekali kau. Bahkan ketika raja sekalipun aku akan tetap berbicara seperti ini. Kau tidak spesial atau apapun."
"Oh ya? Kalau begitu ayo ikut aku ke istana dan aku akan melihatmu membuktikan hal itu." Ichigo menimpali sambil berjalan mendekat ke perapian juga.
"Aku tidak perlu membuktikan apapun padamu." jawab Rukia dingin.
Ichigo menghela nafas. Berbicara dengan wanita ini tidak pernah mudah. Ia harus segera menangkapnya sebelum ia pergi terlalu jauh.
"Hei, Rukia, dengar aku." Ichigo menggenggam bahu Rukia dan membuatnya memandangnya langsung. "bisakah kita berhenti dengan semua ini dan kau mulai berbicara serius denganku?"
Rukia menatapnya. Ia bisa melihat sorot mata memohon di wajah Ichigo dan ia sungguh tidak tega melihatnya seperti itu. Tetapi, Rukia juga tahu apa yang bisa dan tidak bisa terjadi. Sebesar apapun perasaannya untuk Ichigo, mereka tidak bisa bersama. Setidaknya begitulah pikir Rukia, dan ia menghela nafas panjang.
"Kau ingin aku berbicara serius denganmu? Baiklah. Aku, seorang rakyat jelata biasa, dan kau, seorang pangeran penerus kerajaan Karakura yang dipuja banyak orang."
"Lalu?"
Pertanyaan polos Ichigo membuat Rukia frustasi.
"Kita hidup di dunia yang berbeda, Ichigo!" Rukia mendorong Ichigo keras-keras dan menatapnya nanar. "Tidak bisakah kau melihat hal itu? Berhentilah keras kepala dan berbahagialah dengan orang yang hidup di dunia yang sama denganmu! Sebesar apapun keinginanku untuk memelukmu, aku tidak bisa! Apa yang akan dikatakan orang tentangmu nantinya? Kau adalah calon penerus kerajaan ini, Ichigo. Kau harus mempertimbangkan semuanya matang-matang karena seluruh negeri ini bergantung padamu nantinya. Aku tidak mau merusak reputasimu dan menghancurkan hidupmu! Tidak bisakah kau mengerti hal itu?!"
Rukia tidak bisa menahan air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia tidak menyangka bahwa menjelaskan hal ini akan begitu menyakitkan baginya. Rukia segera menghapus air matanya, melihat jelas Ichigo yang hanya berdiri diam menatapnya.
"Kalau kau sudah paham, segera hentikan semua ini dan berbahagialah dengan orang yang tepat." Rukia memutuskan untuk membalikkan badannya.
"Baiklah."
Di luar dugaan, jawaban Ichigo yang mantap itu membuat dada Rukia lebih sakit ketimbang penjelasannya beberapa saat yang lalu. Ia tidak tahu harus merasa lega karena persuasinya berhasil, atau sedih dengan kenyataan bahwa inilah akhir dari sihir yang memberikan kebahagiaan padanya selama ini.
"Kau benar, Rukia. Terima kasih telah menyadarkanku."
Dan setelah itu, Ichigo melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Rangiku, disusul dengan Renji dan Chad yang menatapnya heran. Orihime yang baru saja kembali dari mengambil baju langsung tergopoh-gopoh dan panik melihat Ichigo yang sudah siap untuk pergi lagi. Ia segera berlari melewati Rukia untuk melepas kepergian Ichigo. Beberapa detik kemudian Tatsuki dan Rangiku datang dan menepuk punggung Rukia sambil tersenyum puas.
"Kerja bagus, Rukia." kata Tatsuki sambil berjalan menginggalkannya bersama dengan Rangiku.
Rukia segera berlari ke kamarnya, menutup pintu dengan agak terlalu keras tetapi ia tidak peduli. Ia bisa melihat dengan jelas dari jendela kamarnya kalau hujan sudah mulai berhenti. Mendadak kakinya kehilangan tenaga untuk terus berdiri dan membuatnya merosot ke lantai. Berkebalikan dengan hujan yang berhenti di luar sana, air mata Rukia justru mengalir begitu deras saat ini. Seolah ia menyedot habis air hujan di luar sana.
Ia tidak ingin mengatakannya, tetapi ia harus mengakuinya.
'Sayonara… Ichigo….'
.
.
Tbc
.
A/n: I have nothing to say after disappearing for about… a year? Hahahahaha… Maafkan saya, para pembaca sekalian. Beneran deh, rasanya nggak enak kalau meninggalkan fic yang discontinued, karena kayak semacam PHP gitu. Karma does exist, jadi aku berusaha untuk kembali. Dan sepertinya ini tinggal 1 chapter lagi. Semoga chapter terakhirnya nggak harus muncul setahun lagi ya… hehehehe…
Maaf kalau ceritanya jadi aneh, sudah setahun vakum nulis sih… Semoga masih bisa diterima yah. Terima kasih banyak buat semua yang sudah review, menguatkan dan membuat saya tabah untuk berjuang melanjutkan fic ini. Hahahahaha. Eh, tapi beneran terima kasih banyakkkk! I looooveeee you guys! Muah!
What do you think about this chapter?
Like it? Hate it? Tell me with reviews~
Last but not least, arigatou gozaimasu and ja matta!
