My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy Drama

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

.

.

Chapter 9


Ketika cinta bersemi, tidak pernah tahu kapan hal itu muncul.

Entah dalam keadaan sedih, takut, senang atau bahkan ketika kau sedang melakukan kesalahan...

.

.

.

.

.

.

Keberadaan Youngjae pada detik itu juga, mendadak membuat mobil yang ditumpangi Daehyun dan manajernya mengerem seketika.

Kaca mobil berwarna hitam kelam, sama seperti mata hitam Youngjae yang sedang membidik ganas ke arah mobil di depannya.

Di balik kaca, Daehyun mengerut alis heran. Ia heran. Ia berusaha mencari petunjuk apa yang dilakukan pemuda belia itu di depan mobilnya.

"HEI, apa yang kau lakukan?"

Teriakan itu muncul dari sekumpulan gadis yg masih berdiri memangu di pinggir jalan.

Noona-noona masternim yang seringkali bertugas massal mengambil gambar entah illegal atau legal, para artis asuhan mereka (a.k.a idola mereka).

Youngjae menyirat hitung berapa banyak yang kali ini melempar tatap siap muak. Ada yang penampilannya tidak jelas, mereka menggunakan setelan serba tertutup hingga ke muka-mukanya, entah terencana atau tidak. Sangat mengerikan. Dan Youngjae bernafas lega tidak menjadi bagian fans yang lebih addict dan sibuk seperti mereka.

Kembali ke mobil, Youngjae tak sengaja bertemu pandang dengan mata cokelat bingung Daehyun. Youngjae tidak sadar itu, karena tampakan di luar kaca seakan kertas hitam membalut dari sudut kaca ke sudut lainnya.

Daehyun bisa membaca tuntutan pada dua mata cantik itu, sama seperti pertemuan mereka sebelumnya yang haus akan keributan dan percekcokan. Raut yang jarang ditemui akan tersenyum padanya itu, menandakan bahwa dirinya ingin sesuatu yang harus diperjelas dari momentum yang pernah mereka lewati.

Satu kenangan yang cukup menohok kala Daehyun mulai ingat.

Pasti ciuman itu...

"Oh ayolah kau cwok aneh, pergi dari sana! Jangan merepotkan Jung Daehyun!"

Catat. Kumpulan perempuan bawel disana pastilah tidak mengenal Youngjae, yang satu mahluk seperti mereka. Kurang lebih.

"Kau mau cari perhatian ya? Dasar banci."

Oh, Youngjae sedikit murka. Sudah berapa kali posisinya sebagai Fanboy di lecehkan oleh mulut-mulut ular yang merasa benar. Hanya karena wajahnya cukup manis, dan penggemar cukup gila sebuah boyband, bisa identik dengan sebutan itu?

Youngjae menghela nafas, tapi enggan melarikan diri dari rencana awalnya. Cewek-cewek berisik di sisi jalan adalah faktor di luar rencananya, dan dia harus membasmi hama-hama pengganggu untuk pertemuan penting ke sekian bersama Daehyun.

" bisakah kalian menutup mulut, dan membiarkanku berbicara dengan laki-laki brengsek ini?"

Rahang mereka bisa saja jatuh. Tidak habis pikir, seorang pemuda manis sepertinya berucap sedemikian rupa. Bahkan sempat-sempatnya menyudutkan lelaki pujaan mereka.

"Kalian bangga sekali ngefans dengan orang berbisa ini. Ia tidak lebih dari sekedar playboy tukang bikin skandal, yang akan menghancurkan nama baik BA!"

Beberapa fans tidak menerima, namun tidak sedikit yang mengangguk sembunyi-sembunyi. Mungkin fakta tersebut tidak sepenuhnya salah, walaupun bagi seorang fans yang berkomitmen besar menjaga seluruh member, mereka cukup memaafkan, dan menguatkan diri.

Salah satu fangirl yang lebih tinggi sudah melangkah maju. Ia yang terlihat tidak gentar, dan mulai menggertak gigi. Mungkin tanda mengamuk.

"SIAPA KAU?! HATERS?! BERANINYA.." suaranya paling menggelegar dari Youngjae teriak tadi.

Beberapa fans mulai mengikuti, bahkan ada yang sampai menyingsing lengan, siap beradu jotos pada Youngjae dengan keberaniannya mengumpat pada idolanya. Siapa yang tidak akan marah. Jangan sepelekan kekuatan fans!

Youngjae mungkin telah sadar bahwa ia melakukan kesalahan, namun ia tidak bisa menarik ucapannya. Lagipula tadi ia hanya terbawa emosi, namun yang terpacu lebih emosi adalah fans fans murka di hadapannya. Bagus, pulang-pulang yang ia bawa ke rumah hanyalah surat kematian atas nama Yoo Youngjae.

"Tunggu!"

suara dalam mulai menginterupsi. Adu jambak tidak jadi dilakukan, karena si sumber topik malah turun dari mobilnya. Ia bergegas menarik pundak Youngjae, dan mendorong tubuh nya mendekat pada sang Manajer untuk dijejal ke dalam mobil. Terkesan dipaksa seperti aksi penculikan, itu biar Youngjae tidak berubah pikiran untuk terima undangan adu ribut dengan para fans wanita.

Daehyun masih berdiri di antara situasi yang tadi cukup panas. Tatapan para fans yang tadi sangat liar, mendadak lebih teduh , juga bingung. Kenapa Daehyun membawa anak itu ke dalam mobilnya, sedangkan mereka yang fans berat tidak? Ini sangat tidak bisa diterima!

"Tenang, gadis-gadisku. Dia adalah salah satu teman dari anggota keluargaku. Memang agak temperamental dan kami memang sedang bertengkar jadi ucapannya agak ngelantur. Tapi akan ku selesaikan. Jangan salah paham, ok?" Daehyun memberikan kedipan mesra yang menimbulkan histeris dari dalam hati para fans disana.

"Aku akan memberikan kalian tanda tangan dan foto bersama. Silahkan sepuasnya."

dan beberapa waktu ke depan, Daehyun memcahkan masalah cukup baik dengan melakukan aksi fanservice andalannya.

.

.

.

.

.

.

"Apa yang kau inginkan dariku?"

Youngjae menyeret tubuhnya lebih menempel pada pintu mobil, enggan nempel dengan Daehyun yang beralih duduk menemaninya di jok belakang. Manajer hanya sesekali mengawasi. Tatap nya masih rada belum bisa mempercayai keberadaan seorang Youngjae yang dengan beruntungnya dapat jatah masuk mobil seorang selebritis.

"Kenapa kau selalu mempermainkanku? Aku tidak suka itu!"

"Kau tidak terima aku menggodaimu?" Daehyun melirik nakal, senyum nya sedikit tersungging. Untung saja Youngjae sampai tidak memperhatikannya. Ia pasti akan merasa tak sudi melihat tingkahnya.

"Aku butuh penjelasan dari perlakuanmu kemarin-"

"Saat aku menciummu?"

Dongwook sudah melotot di depan kaca spion, Youngjae mendadak tergagap kaget. Hadiah kejutan yang cukup istimewa yang dibocorkan cuma-cuma Jung Daehyun.

"Tsk! Berapa banyak perempuan yang kau permainkan seperti ini?! Kau licik sekali!"

Daehyun tertawa menanggapi. "Dan tidak ada perempuan manapun yang seperti kau. Aku suka reaksimu."

"KARENA aku ini bukan perempuan! dan aku tidak semurah itu. Apa yang kau berani lakukan, harus kau bayar! Aku tidak terima orang yang paling kubencii seenaknya mengambil ciuman pertamaku!"

Bentakan Youngjae memekak mengisi satu mobil. Daehyun sampai mendekap telinga dengar lekingan kemurkaan anak di sampingnya.

"Ck. Apa yang kau lakukan lagi, Daehyun?" Dongwook memijat kening ketika ia tidak sibuk menyetir mobil karena lampu merah. Ia bahkan sempat melihat ke jok belakang, dan menatap tegas artis asuhannya itu , seperti seorang ayah minta penjelasan.

"Itu tidak disengaja!" Daehyun mencoba membela diri. Tapi masih belum berhasil meyakinkan Dongwook.

"Ugh, aku punya masalah dengan skandal Shim Noona, dan sekarang masalah anak ini," Daehyun mengerut kening. "Bisa beri aku waktu sebentar."

"Aku tidak peduli." Youngjae membuang muka. Rada mengambek. "Kau ini memang tukang bikin skandal."

"Baiklah, aku akan bertanggung jawab." Daehyun memandangi pemuda manis itu yang seakan masih menuntutnya dari dua mata tegas itu. Ia coba cepat selesaikan masalah ini agar tidak membuat Dongwook semakin menyalahkannya.

"Maumu apa?" Seakan curiga Daehyun menuntut balik dengan sipitan mata. "Kecuali memintaku keluar dari BA."

"Memangnya aku sejahat itu?" Youngjae menghela nafas. Tapi sejujurnya dirinya cukup antusias. "Bagaimana

Aku ingin kau bantu aku bisa bertemu Yongguk sesering mungkin?"

"HAH?"

Dongwook dan Daehyun berHAH ria dengan permintaan Youngjae. Mereka saling menatap, dan lalu melempar pandangan horror pada Youngjae. Berharap apa yang dikatakan pemuda itu bisa ia tarik kembali.

"Aku serius."

Maka keduanya tidak jadi bernafas lega.

"Kenapa kau harus memintaku ?! Kau bisa bujuk Yongguk sendiri. Lagipula ini tidak sekali kau bertemu dengannya." Daehyun mulai ogah-ogahan merespon. Pikirannya campur aduk. Mencoba mencari cara membuat Youngjae enggan ikut campur ke masalah pribadi Yongguk.

"Itu tidak mudah! Aku harus punya alasan kuat untuk bisa terus bersamanya. Dan kau harus membantuku mencari ide, atas bayarannya!" Youngjae segan menarik baju kaos Daehyun berkali-kali. Persis seperti rengekan gadis-gadis yang pernah ia kencani ketika dirinya minta putus. Bedanya, niat permintaannya dimaksudkan untuk orang lain.

Ini gak ada kaitannya dengan Daehyun. Justru lebih kepada leader serba paling sempurna.

Harga dirinya merasa tercoreng.

"Hei , apa kau gila?! Kau seenaknya saja meminta Daehyun seperti meminta satu permen lollipop. Bahkan aku tidak yakin Daehyun bisa semudah itu memberikannya. Fans paling maniak saja tidak akan sampai hati melakukan hal ini. Seharusnya kita tidak segila ini mengijinkan orang biasa sepertinya ikut-"

"Baiklah, aku punya ide."

Dongwook mendadak mengerem mobil, seiring celotehannya dari tadi tidak didengar. Ia mendadak putar balik posisi punggung, dan melotot protes. "APA?!"

"Di dorm, kami tidak punya juru masak. Kami cukup strict dalam pola makan. Dan memesan terus adalah sesuatu yang merepotkan, sekalipun Yongguk mampu membeli 10 nampan escargot untuk makan malam kami. Tapi, tidak. Kami butuh seorang yang lebih ahli terkhusus di dalam dorm. Aku ingin merasakan makanan rumah sesekali."

Dongwook menggeleng cepat, penolakan keras! "Kenapa tidak dari dulu kau mengatakannya! Aku bisa menyewa juru masak pro, entah dari luar negeri sekalipun."

"Hyung kau bawel seperti Yongguk, lama-lama."

"HEI!" Daehyun lihat Youngjae protes tidak terima. Ia lupa bahwa pemuda itu bukan berada di pihaknya.

"Ehem. Jika aku harus menyombongkan diri, aku memang bisa masak. Lebih baik dari laki-laki manapun. Ibuku adalah mantan koki, dan aku satu-satunya anak yang bisa bantu beliau masak, bahkan belanja bahan masakan pun aku paling kenal. Aku bisa melakukannya! Terlebih memasakkan untuk Yongguk!"

Daehyun berdecak lidah. Akhir kalimat itu seakan menonjoknya. "Ya ya ya.. terserah kau. Asal kau tidak tuntut aku apapun lagi. Bayaranku tentang masalah ciuman itu sampai disini."

"Hei! Kalian dengar aku tidak?! Aku tidak paham masalah ciuman dan apapun itu, aku tidak peduli. Tapi menerima orang asing ke dalam dorm pribadi, ADALAH KESALAHAN!"

Youngjae mulai melempar tuntutan balik atas ucapan manajer tersebut. "Aku tidak sejahat itu. Jangan samakan aku dengan para sasaeng. Aku hanyalah fans pure yang ingin membantu. Kasian Yongguk. Dia selalu makan di luar, atau membeli makanan yang mahal." Matanya mendelik, mulai menatap curiga. "Aku tidak sangka manajer BA, adalah seseorang yang menyebalkan seperti ini."

"Hei, jangan membuat info aneh-aneh untuk kau sebar ke teman-temanmu!"

Youngjae bermelet, "Tentu tidak. Aku merasa beruntung aku lebih tahu BA dari fans manapun. Aku tidak akan membaginya pada mereka. Ini spesial untukku."

"Kau ini benar-benar licik." ucapan Daehyun mengundang cubitan pada pinggangnya.

Tapi entah kenapa, ia merasa cukup lega melihat laki-laki itu mulai tersenyum senang, seakan tuntas bebannya.

Daehyun tidak sadar tidak bisa melepas pandangannya dari sosok Youngjae yang masih daydreamingdengan sikap lucunya.

.

.

.

.

.

.

.

Tempat itu mulai berisik dengan cuap-cuap orang. Mata mereka mengikut pada 1 tubuh atletis yang enggan berpaling sekalipun disapa atau dipanggil hormat. Mereka kenal siapa itu. Seseorang yang sangat dihormati.

Hanya saja sesosok yang paling mereka dambakan itu, tampaknya berpenampilan berbeda. Biasanya berpakaian kemeja rapih bak seorang anak pengusaha, hari ini berpakaian baju kaos sederhana, dipadu sandal pasar.

"Presdir dimana?"

Pegawai jaga meja resepsionis kaget saat dirinya yang masih sibuk dandan ditegur oleh suara berat itu. Ia hampir saja menumpahkan polesan kukunya, dan langsung bangkit duduk.

"Ma-masih di ruangannya, Tuan Muda."

Wanita muda itu membaca raut pria tampan di hadapannya sedang tidak senang. Mungkin lagi-lagi ribut dengan presdir. Yang ia tahu, hubungan keduanya selalu tidak akur.

"Ia tidak sedang rapat, kan?"

Wanita muda itu meneguk ludah. "Ti-tidak, Tuan."

Yongguk mengangguk paham, dan melarikan diri saat itu juga ke lift terdekat tanpa sepatah kata apapun. Ia tak sabar berjumpa dengan rupa ayahnya yang kali ini buat gondok.

Berbagai pintu terlewati, karena lantai teratas diisi ruangan-ruangan para petinggi TS yang sepantar dengan Presiden. Sebentar lagi salah satu ruangan akan di tempati Yongguk sendiri, bahkan ruangan ayahnya sekalipun.

Itu jika Yongguk tidak berubah pikiran.

Tok Tok

Beberapa saat menunggu sambutan dari dalam. Namun tidak dijawab juga. Yongguk pun mulai habis kesabaran.

"Pak Presdir!"

Baru Yongguk buka tanpa ijin , Yongin yang melamun memandangi jendela kaca pun jadi sadar. Yongguk perhatikan wajah ayahnya itu sedari tadi ragu-ragu. Entahlah, ia malas bertanya.

"Apa maksud Anda menjodohkan saya pada Chungha?!"

Yongin beranjak , ia duduk kembali pada kursi empuknya, dan bersih tatap pada Puteranya yang sedang enggan beramah tamah.

"Kau sudah bertemu calon tunanganmu akhirnya."

"Itu bukan hal yang penting. Yang sekarang ingin saya tanyakan, kenapa Anda tidak bilang bahwa gadis itu adalah Chungha?!"

Yongin tidak banyak merespon selain terdengar helaan nafas untuk tuntutannya. "Memberitahu ataupun tidak, aku masih akan menjodohkan kalian." Pria itu duduk tenang pada kursinya, menjaga kewibaan.

"Anda tidak bisa seenaknya saja melakukan ini. Saya berhak menolak! Saya tidak ingin melakukan perjodohan paksa tanpa cinta!"

"Cinta itu adalah masalah terakhir. Setelah kau menikah dengannya, kita tidak akan tahu, kapan cinta itu akan tumbuh, bukan? Mungkin kau mulai menyadari setelah kau lebih dekat dengannya."

Yongguk mulai merasa panas dengan sikap dan pemikiran ayahnya tersebut, yang bersih keras tidak memahami puteranya sendiri, bahkan mencuap alasan yang tidak berperasaan.

"Sama seperti Anda. Menikahi seseorang yang tidak Anda cintai, dan ketika beliau meninggal, dan Anda akan melupakannya demi mencari wanita lain yang Anda cintai itu, benar bukan?!"

Yongin membelakak kaget dengan respon Yongguk. Ia sampai melompat dari posisi duduknya.

"Maaf, tapi Saya tidak ingin menjadi ayah ataupun suami yang brengsek pada akhirnya. Lebih baik Saya tidak menikah sama sekali, sampai saya menemukan orang yang saya katakan 'tepat' untuk saya miliki. Yang kami bisa menjaga perasaan satu sama lain"

Yongguk mulai enggan meneruskan konflik ketika melihat ayahnya sudah tidak ampun lagi ingin melawan argumennya. Ia tidak mau dengar pembelaan apapun, dia masih akan tetap berdiri pada sikap idealisnya yang sudah ia tanam selama ini.

Brak

Pintu ditutup kasar. Meninggalkan Yongin seorang diri dengan pandangan kosong.

Belum pernah Yongguk melawannya dengan singgungan itu. Dan kali ini puteranya tepat membungkamnya dengan pernyataannya.

Ia terduduk kembali pada kursinya, dan mengerut dada.

"Jiseo, apa dosaku terlalu besar padamu hingga menurun pada anak kita?"

.

.

.

.

.

.

.

Wongjun bisa melihat tuan mudanya itu berubah menjadi sangat anggun seperti putri bangsawan. Rambut diikat 1 ke samping, polesan lip gloss pink, kemeja panjang dipadu kardigan biru muda, dan celana jeans yang pas dikenakan.

Lekuk tubuh dan wajah manis itu, telah memanipulasi identitas sebagai laki-laki dalam diri Junhong.

Wajah Wongjun tampak tidak semangat. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa tuan mudanya itu punya kebiasaan aneh ini.

Namun, yang semakin membuatnya bingung, karena melihat tuan mudanya itu tidak menggambarkan wajah keberatan seperti biasanya. Bibir menciut ketika dipasang wig, atau pandangan sedih ketika dipoles bibirnya.

Ia malah senyum-senyum sendiri menyisir kembali poninya yang menjuntai. Ya, poni menjuntai cocok untuk menutupi wajahnya yang lonjong agak seperti laki-laki.

Ia terlihat imut sekarang.

"Ada apa, Hyung?"

Wongjun langsung menggeleng cepat setelah ditegur demikian.

"Aku merasa aneh jika Hyung melihatku seperti itu. Apa aku terlihat jelek?" Junhong berusaha mengamati lagi penampilannya ke cermin jika benar adanya. Tapi respon Wongjun sesuai harapannya.

"Anda terlihat manis, Tuan."

Junhong terkikik. "Aku Juyong, Hyung. Apa perlu, aku memanggilmu 'Oppa' agar kau ingat?"

Wongjun hanya tertawa canggung. Sudah janji bahwa panggilan Nona berlaku hanya untuk penampilannya saat ini.

"Anda mau kemana?"

Junhong membuka hp nya. "Pergi kencan dengan calon tunanganku."

Wongjun tiba-tiba meneguk ludah. Perasaan tidak wajar apa ini. Ia seperti merasa tidak bisa merelakan anaknya pergi keluar dengan laki-laki yang belum kenal luar dalam sesosok Junhong.

"A-anda yakin anda mau kencan dengan calon tunangan Anda. Bukankah seharusnya Anda merasa enggan?"

Junhong menatap hyung nya itu kelihatan ragu-ragu.

"Di-dia itu laki-laki, Tuan. Begitu juga Anda. Dan.."

Junhong tersenyum. "Aku tahu. Aku hanya bercanda tadi. Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan laki-laki."

Mendengar jawaban itu, setidaknya memberikan secercah harapan untuknya.

"Aku hanya melakukan tugasku untuk sementara. Jongup bahkan tidak tahu kebenaran ini. Cepat atau lambat, aku yakin dia akan tahu. Aku hanya tidak mau ibuku sakit semakin parah. Itu saja."

Wongjun mengangguk paham. "Maafkan saya. Saya hanya bisa membantu Tuan sejauh ini."

Junhong menghela nafas. Ia kembali memperhatikan bayangannya di dalam cermin. Apa wajah kecewanya kentara? "Jika aku benar jatuh cinta, tolong ingatkan aku lagi." ucapnya dengan nada yang lembut , yang bahkan suara angin pun lebih mendominasi.

"Apa, Tuan?"

Junhong menggeleng. "Tidak apa. Aku harus pergi sekarang."

Junhong pun beranjak merebut tas mungilnya dari meja, dan pergi. Hari ini kepergiannya bisa diantar oleh Donghae hyung yang tidak diberi kesibukan oleh ayah Junhong. Wongjun sekedar diberi kewajiban untuk menjaga rumah kali ini. Walaupun sangat disayangkan..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongup hendak mengambil kunci mobilnya. Ia sudah siap dengan setelan yang santai namun rapih. Rencana kencan hari ini haruslah menjadi kencan mengesankan. Sebelum semua orang sampai di rumah, ia harus segera melarikan diri.

Cklek

Namun sayang, ia malah berpapasan dengan Daehyun dkk di pintu utama.

"Wow! Adik kecilku mau pergi kencan, rupanya?!"

Gurat wajah Jongup jadi tidak senang. Kemana mood bahagianya beberapa menit lalu?!

"Bukan urusanmu! Aku ingin pergi sekarang juga-"

"Jongup, kau mau kemana?"

Eh, tidak lupa disambut oleh Manajer nya yang berdiri di belakang Daehyun. Kurang apes apa coba dia hari ini.

"Sudah kubilang,Hyung! Dia ini yang lagi buat skandal!" Daehyun menuntut. Barangkali masih tidak terima penuduhan yang berkali-kali dilemparkan padanya, dan menganggap partner kerjanya yang lain murni tidak bersalah.

"A-aku, hanya ingin cari ang-"

"Jongup buat skandal?!"

Dan orang asing lain menguntit di belakang punggung Manajernya, membuat Jongup panik bukan main. Pemuda itu sepertinya pernah ia lihat. Tapi ia tidak ingat betul.

"SI-SIAPA KAU!?"

Youngjae tersenyum 3 jari. Ia memberikan say "Hi" yang akrab. Walaupun Jongup tidak sama sekali merespon baik dirinya. "Aku Yoo Youngjae, dan mulai hari ini aku akan jadi juru masak kalian!"

Jongup tiba-tiba menerjang kerah kausnya Daehyun. "Permainan macam apa lagi ini! Kau ingin buat skandal dengan memasukkan fans ke dorm kita, HUH?!"

"Hei! Youngjae ini mungkin seorang fans BA, lebih tepatnya fans Yongguk*suara rendah*, tapi dia bisa diajak kerja sama. Dia sudah kontrak tidak akan berbuat semaunya! Tenang saja!" Daehyun berdehem. "Jika ia melanggar, aku tidak segan menciumnya lagi, mungkin bukan hanya di bibir saja."

Plak

Lemparan pukul dari tangan Youngjae tepat mengenai tengkuk Daehyun, hingga dirinya jatuh terduduk kesakitan. "Mau mati, Kau!?"

Jongup perhatikan gerak gerik Youngjae dan responnya pada Daehyun. Kayaknya benar, Youngjae adalah salah satu fans yang bisa diajak kompromi. Kalau dia bisa bikin Daehyun diam, Jongup mungkin bisa sedikit menerima keberadaan pemuda asing itu. Syukurlah rumah ini punya pawang pada akhirnya selain Manajer Dongwook yang jarang di dorm.

"Kau belum jawab Hyung, Jongup. Kau mau kemana?"

rupanya kelegaan itu tidak berakhir. Masih ada interogasi selanjutnya.

"Ingin jalan-jalan. Cari jajanan." Walaupun pernyataannya itu malah terdengar tidak jujur. Mata Jongup bahkan tidak bisa tenang.

"Jongup, aku tidak semudah itu tolelir lagi. Terlebih setelah kasus Daehyun membuat harga diriku tercoreng." Daehyun menatap Dongwook dengan tidak terima. "Tapi, aku akan menemanimu jalan-jalan hari ini."

"Ti-tidak perlu, HYUNG! Aku hanya ingin pergi ke-"

Drrrttt

Mendadak HP Jongup berbunyi. Di waktu yang sangat tidak tepat.

Daehyun begitu jail, merebut paksa hp di tangan Jongup dan menatap si nama kontak di layar monitor. "Juyong?"

Jongup panik, berusaha menarik paksa HP nya kembali. Keadaan menjadi sangat heboh.

"Halo? Dengan siapa aku bicara?" Daehyun malah berhasil mengangkat hubungan. Paksa memaksa Jongup mendadak berhenti.

"Eh, ini siapanya Junhong, ya?"

Wajah panik Jongup menjadi. Ia berdoa semoga Juyong tidak menyebut apapun yang aneh-aneh di seberang sana.

"APA?!"

Daehyun menatap wajah 3 orang di hadapannya yang sedang menunggunya melanjutkan pembicaraan. Kebenaran apa yang akan terungkap dari seorang Moon Jongup yang terkenal paling tidak berdosa di antara member BA lainnya?

.

.

.

.

.

.

.

Junhong melihat anak kecil dan kawan-kawannya berlarian. Bermain bola di tengah lapang, tertawa gembira seakan masa kecil mereka tidak menjadi beban bagi orang tua mereka.

Junhong termenung dengan sedikit jenuh. Akan berapa kali ia menemukan orang-orang penuh keceriaan dan canda tawa menyinggung dirinya?

Ia ingin menjadi anak laki-laki normal. Bermain bola bersama, berkumpul dengan teman sebaya, berpakaian seperti remaja laki-laki pada umumnya, berkencan dengan perempuan.

Bola menggelinding mengenai kakinya.

Ia mengambil bola tersebut.

"Maaf Kak. Itu bola kami." seorang anak perempuan tiba-tiba menyaut di hadapannya.

Bukankah ia mengira bahwa para bocah laki-laki yang memainkan bola itu?

Ketika ia perhatikan. Yang ia lihat justru anak kecil berperawakan bocah laki-laki.

"Kau ternyata perempuan." Junhong tertawa kecil. Menciptakan sambutan ramah untuk seorang anak kecil.

"Aku memang kelihatan seperti laki-laki , Kak." anak kecil itu menyambut uluran Junhong. "Teman-temanku bahkan sering panggil aku 'Oppa' atau 'Hyung'."

Junhong telusuri bahwa bentuk tubuh anak itu memang tegap dan cukup atletis. Tinggi. Rambutnya pendek. Mungkin besarnya terlihat tampan, jika penampilannya tidak akan jauh beda.

Minus suaranya yang manis dan lembut, seperti gadis lugu lainnya.

"Kau senang dipanggil begitu?"

"Biasa saja." Ia tersenyum. "Aku memang lebih suka penampilan seperti ini. Jadi lebih bebas main dengan anak laki-laki lainnya. Aku jadi bisa main bola. Penampilanku yang berbeda ini , bisa membuatku mengenal hal berbeda lainnya yang anak perempuan pun tidak tahu."

Junhong tenggelam pada pernyataan anak itu, seiring kepergiannya kembali pada teman-temannya yang kembali asik ke permainan.

Penampilanku yang berbeda ini , bisa membuatku mengenal hal berbeda lainnya

"Juyong!"

Suara itu membuat Junhong berpaling. Benar saja, yang baru saja hadir adalah Jongup. Nafasnya terengah-engah. Masih terbawa lari tadi.

"Kau tidak usah terburu-buru."

Junhong mengulurkan sapu tangannya. Dipakai Jongup untuk mengelap peluhnya yang berhamburan. "Terima kasih dengan sapu tangannya, dan terima kasih untuk telepon tadi."

"Bukan apa-apa."

Mereka berdua pun bercakap sembari jalan-jalan mengitari taman tersebut. Suasana menjadi sangat syahdu jika berjalan berdua bersama. Apalagi keadaan disana sangat khitmat dengan bau pohon sakura yang sebentar lagi bersemi. Hanya perlu menghitung minggu untuk musim semi.

"Aku tidak sangka kau mengaku sebagai 'teman lamaku yang baru pulang dari Inggris' pada anak keparat itu."

"Haha, siapa yang 'anak keparat'? Aku sudah curiga saja, kenapa tumben aku seperti diinterogasi oleh orang di telepon. Aku juga tahu hubungan kita masih disembunyikan pada media bahkan agensimu sendiri, jadi aku ambil kesimpulan bahwa yang tadi angkat adalah orang yang sedang curiga."

"Dia Daehyun, sesama member BA juga. Seharusnya dia jadi Hyung yang bisa kuandalkan, tapi ia justru jadi orang menyusahkan."

Junhong menepuk-nepuk punggung Jongup, memintanya 'sabar'.

"Apa yang akan kita lakukan hari ini, Juyong?"

Beberapa saat ketenangan itu menjadi sirna, Junhong mendadak menemukan sesuatu dalam benaknya ketika bersih tatap pada dua bola mata Jongup yang begitu teduh dan bermakna.

Berkali-kali ia mencoba mencari jawaban atas keterdiamannya, tapi ia belum menyadari. Mungkin sesuatu yang tidak terlalu penting.

"Bagaimana jika kita temui teman-temanmu yang pernah kau ceritakan itu. Yang membuat karirmu menjadi seperti sekarang."

Jongup tersentak gembira. "Ide yang bagus. Aku sudah beberapa bulan tidak bertemu mereka. Kami seperti kekasih LDR." ia mengambil handphonenya. "Biar kukenalkan calon tunanganku yang cantik ini."

Pipi Junhong mungkin sudah merona. Tidak percaya sebutan manis itu mendadak keluar dari mulutnya. Yang bahkan hubungan mereka belum sedekat itu.

Manakah Jongup yang menyebalkan. Tingkahnya bisa berbeda 180 derajat daripada ia bertemu Junhong.

Junhong tertunduk, menatap kardigan dan kukunya yang dipoles. Apakah penampilannya seperti ini membuatnya lebih dekat dengan Jongup? Jika iya, tidak buruk juga terlihat berbeda.

.

.

.

.

.

.

Daehyun belum bisa melepas pandang dari punggung Youngjae yang masih asyik memainkan spatula di dapur. Bunyi osengan, bau panggang, benar-benar mengitar di seluruh ruangan. Sudah lama dapur tidak tersentuh. Sesekali hanya untuk membuat salad , roti bakar, atau minuman ringan.

Sayang sekali memang, dari 3 member yang menghuni dorm, tidak ada satupun dikatakan bisa masak. Bahkan disebut "pantas memasak", jika tidak mau ada suara ledakan.

Setiap hari , beberapa member akan keluar dorm. Mencari makan di luar. Jika ada di dorm, maka konsekuensi memesan deliver jika tidak ingin mati kelaparan.

Cklek

Gambaran Daehyun terhenti ketika suara pintu utama terbuka. Yang ia lihat adalah seorang pria kekar , dengan raut suntuk, lagi. Dengan penampilan tidak biasa. Mungkin pinjam baju dari 'selingkuhannya' lagi. Ia masih belum percaya, bahwa Yongguk lebih prefer pada laki-laki imut itu yang namanya, Him.. Himc..Hime...?

"Punya masalah dengan ayahmu, Bang?"

Cetusan itu sontak membuat Yongguk melempar kerut dahi yang rada kesal. Daehyun yang melihat ekspresi tidak mau diganggu itu, memberi jawaban setimpal. Tebakannya tidak meleset.

"BANG YONGGUK?!"

Gotcha.

Youngjae bahkan tidak segan melepas apron atau membersihkan sedikit noda panggangan dari sudut bibirnya, ataupun mematikan kompor terlebih dahulu ketika ada percakapan asing melibatkan seseorang. Tebakannya benar, idolanya di depan mata. Mimpi apa semalam, ia bisa jadi koki di rumah 'calon kekasih' nya sendiri (yang jika tidak direbut Himchan)

"Kau!? Eum.." Yongguk coba mengingat.

"Aku teman Himchan!" Youngjae tersenyum lebar dengan penuh percaya diri, yang sontak membuat Yongguk bergelut kaget. Ia langsung melempar senyum. Entah sebagai keramahtamahan, formalitas untuk seorang sahabat calon kekasihnya?

"Kenapa kau ada disini? Tidak bersama Himchan?"

Daehyun triggered. Iya, namanya Himchan!

Youngjae pada awalnya bersungut iri. Tapi ia bisa menjaga perasaan atas penolakan tersirat itu. "Tidak, ia ada urusan. Tapi aku disini karena dikontrak jadi juru masak BA mulai hari ini! Sebentar, biar kuhidangkan dulu."

Youngjae berlari kecil menuju dapur kembali sebelum ia menghasilkan makanan gosong.

Sementara itu Yongguk langsung lempar tuntutan dari bidikan matanya yang tegas dan rada menakutkan.

"Jangan hakimi aku. Ini demi kebaikan kita juga."

"Kebaikan kepalamu! Kau tidak melapor sama sekali padaku untuk menerimanya! Kau kira selama ini aku siapa disini? Pohon Bonsai?" Yongguk beradu argumen dengan berbisik.

"Setidaknya aku lebih peduli dengan Bonsai."

Yongguk hampir akan melempar sepatunya yang setengah terlepas ke lelaki kurang ajar itu.

"Berterima kasihlah padaku. Dia adalah sahabat 'kekasihmu' itu. Karena dia, pendekatanmu jadi lebih mudah. Dan aku bisa makan enak di dorm."

Yongguk benci mengaku bahwa ia setuju. Tapi, ia juga benci kelakuan seenak jidat Daehyun. Tapi bau masakan dari dapur melupakan kekesalannya sejenak. Ia berjalan mendekat, dan mendapati anak muda itu terlihat riang menangani menu-menu.

Begitu telaten.

Mungkin pertimbangan Daehyun tidaklah buruk.

"Jangan melihatnya terlalu lama." Daehyun muncul menarik bahu Yongguk, membuat pria penasaran itu menyudahi pengawasannya. Ia baca ekspresi Daehyun, kok jadi dia yang kelihatan sebal.

"Aku tidak ingin membuat Youngjae jadi sok kepedean diawasi 'gebetan' nya sendiri."

Membuat Yongguk ingin mendengus mendengar alasan itu.

"Makanan siap!" Youngjae muncul menenteng piring-piring dengan menu nikmat. Baunya kemana-mana. Dua pria pemilik dorm tampaknya hampir menjatuhkan air liur.

"Ini suatu kehormatan bisa melayani kalian." ia tersenyum lebar setelah menyusun piring sesuai yang dia harapkan. "aku benar-benar fans yang beruntung."

"Terima kasih, Youngjae. Tapi kau tidak seharusnya melakukan ini."

Youngjae menurunkan senyumnya. Ia melempar pandang pada Daehyun. Ketika mereka saling bertatapan, ada pesan-pesan tersirat saling ditukar. Youngjae hanya tak ingin rencananya ketahuan oleh Yongguk.

"Kita butuh seorang juru masak, bukan? Anak ini tidak keberatan."

Yongguk mengamati curiga. "Sekarang kau benar sudah sangat dekat dengannya, hingga kau mempercayakannya menjadi juru masak."

"Jangan pandang aku begitu." Daehyun melempar pandang tak terima. "Ini keinginan-"

Aww

Pinggang Daehyun dicubit kasar Youngjae, keduanya jadi lempar sengitan permusuhan. Yang satu tidak sudi diperlakukan demikian, yang satu minta tuntutan tutup mulut dan tidak bertingkah.

Yongguk tidak ingin semakin lama larut dengan pemandangan romantis di depannya. Ia cukup jeaolus karena tidak ada Himchan di sampingnya yang ia bisa cubit manja.

"Kalian bisa makan dulu, aku sedang tidak mood." senyum Yongguk agak dipaksakan. Mereka berdua mendesah agak kecewa. Mungkin karena tak ingin ditinggali berdua saja.

"Tapi aku sudah membuat banyak untuk-."

"Nanti kumakan, tapi tidak sekarang. Maaf." Yongguk menginterupsi ucapan Youngjae yang mencoba membujuknya. Senyum lemahnya berhasil membuat Youngjae terbungkam dan tidak meneruskan kalimatnya. Ia membiarkan Yongguk meninggalkan tempat dan pergi ke kamarnya.

Youngjae tidak bisa melepas pandangannya pada sosok Yongguk yang sudah menghilang punggungnya. Bibirnya bak bulan sabit telungkup. Ia tidak bisa menahan kekecewaan setelah berjuang masak-masak dengan sepenuh hati untuk memamerkan keahliannya pada pemuda pujaannya itu.

"Enak juga." Youngjae berbalik, melihat ia tidak sendiri di ruang makan itu. Daehyun sudah duduk dan mencicipi satu demi satu makanan yang ada. "Aku yakin ini cukup untuk satu kali makan."

Youngjae awalnya merasa tak rela. Namun melihat kelahapan pria yang paling ia benci itu, berangsur hatinya membuncah senang. Masih ada yang menghargai jerih payahnya. Ia tidak sadar sedikit menyungging senyum.

"Yongguk akan menyesal tidak menikmatinya masih panas-panas gini."

Kriettt

Youngjae menarik kursi, duduk di hadapan Daehyun. Melihat pria itu dengan ekspresi agak digalakkan.

"Sisakan untuk Yongguk dan Jongup juga, dasar Kau Rakus." Ia membuang muka, dan perlahan ikut juga makan. Yang tanpa sadar malah melewatkan senyuman Daehyun yang mengarah padanya.

.

.

.

.

.

.

.

Jongup membukakan pintu untuk Juyong , memasuki sebuah bar. Dentuman musik dimana-mana, mengacaukan konsen Juyong. Sebayangnya adalah sebuah tempat latihan dance mewah yang biasa digunakan agensi-agensi besar, tapi yang ini, terlihat seperti tempat dance kelas kakap pencari uang dari para peminat nafsu.

Apa kau yakin ini tempatnya?

Juyong berkali-kali mengindari sentuhan kulit dari orang-orang setengah mabuk atau yang larut dengan musik keras. Ia masih terlalu muda untuk masuk ke tempat seperti ini, jadi ia tidak berpengalaman pada keadaan seperti ini. Ia menarik baju Jongup, sambil melongok ke setiap sudut. Mengawasi keadaan yang begitu berpendar cahaya warna-warni.

"Hei, Bro!"

Sesaat Juyong bingung Jongup memanggil seseorang di belakang bar. Awalnya pemuda yang dipanggil tidak menyadari atau bahkan acuh. Ia tak bisa kenal Jongup yang sekarang sedang tutup masker dan topi. Ia memang terlihat seperti orang lain.

Semakin dekat meja bar, baru ngeh lah bahwa yang dipanggil adalah dirinya sendiri. Dia dan Jongup saling berjabat bagai teman dekat. Mereka mengobrol beberapa menit untuk menyambut rindu sesaat mengabaikan keberadaan Juyong, barulah keduanya menyambut Juyong segera ikut tuntunan pria berambut ungu terang itu.

.

.

.

.

.

Gudang

"Maaf aku harus membawa kalian kemari. Tidak ada tempat yang lebih tenang dari disini."

suara-suara asik tadi memang sudah tidak terdengar, tapi Juyong masih tidak menyangka dibawa ke tempat yang begitu berantakan dan rada bau alkohol.

"Perkenalkan namaku Jooheon . Aku bekerja jadi bartender disini."

Uluran jabatan tangan besar Heon* , membuat Juyong mundur takut-takut, bersembunyi di balik Jongup. Keduanya terkikik sebentar.

"Pacarmu cantik dan imut, Bung. Aku cemburu sekali padamu. Seharusnya aku menerima tawaran agensi brnsek itu untuk jadi salah satu trainee."

Jongup tertawa, Juyong malah semakin takut. Wajah Heon terlihat menakutkan walaupun nada bicaranya terdengar ramah saja.

"Dia adalah sahabatku sekalian partner dance ku sebelum aku debut. Kami berjuang bersama di jalanan." Juyong lebih peka terhadap pembicaraan Jongup. Ia mengangguk paham saja.

"Bung, aku jadi ingat ketika kita hampir mati kedinginan, tapi kita malah menghibur seperti orang gila di tengah salju yang turun drastis. Kau sangat semangat sekali, sampai kakiku saja mati rasa." Heon berceloteh. Ia mulai berlogat agak kasar bak preman jalanan.

"Pantas saja orang kaya itu lebih melirikmu."

"Oh ayolah Heon. Dia juga menawarimu sebenarnya. Tapi aku masih heran kenapa kau menolaknya. Kau dan Taemin adalah penari yang luar biasa." Percakapan Heon maupun Jongup direkam baik di pendengaran Juyong.

"Ah, lupakan saja." Heon tiba-tiba menarik salah satu kotak kayu. Masih berisi sesuatu, terbukti dari dentingan botol-botol kaca di dalamnya. Ia melengos duduk dengan agak angkuh. "Aku tidak sebaik kau soal menari. Lagipula aku tidak sanggup meninggalkan Pria Tua-ku sendirian, lalu aku begitu saja training bertahun-tahun meninggalkannya menjadi tidak berguna."

Ia memetik api untuk rokoknya, untunglah masih ada ventilasi di ruangan sesempit ini. "Sedangkan Taemin? Ehmm.." ia menghembus asap seperti dalam keadaan pasrah.

"Ada apa dengan Taemin?"

Hembusan kedua dari Heon disambut endikkan bahu. "Anak itu sudah jadi normal, Bung. Ia pergi bersama pacarnya dan menjadi anak yang taat agama."

"Dia mengejar mimpinya? Syukurlah."

"Yeah, 'syukurlah'. Sedangkan aku jadi kesepian."

Jongup beralih pandang pada Juyong. Memintanya untuk sejenak mendengar ocehan mereka walaupun masih beberapa belum paham. Ia menginteruksi, akan menjelaskannya nanti.

"Juyong , maksudku, tunanganku ini. Dia sudah mendengarkan cerita kita. Sejak aku menjadi sangat terpuruk, direkrut Agensi TS, dan menjadi artis. Tapi ia ingin lebih kenal dengan kalian."

Heon tiba-tiba mendelik tajam pada Juyong, membuat 'gadis' itu semakin dirutuk takut. "Sebenarnya kau membuang waktu menanyakannya padaku. Aku hanya seorang bartender tak berguna demi Pak Tua -ku yang sakit-sakitan."

Jawaban Heon justru tidak memuaskan hati Juyong. 'Gadis' itu memberanikan diri untuk maju dan duduk di samping Heon. Perlakuan nya mendadak buat Heon dan Jongup kaget. Tapi itu tidak berlangsung lama, sampai mereka kenal bahwa Juyong orang yang begitu baik dan ramah sebenarnya.

"Kudengar kau hampir diterima agensi juga? Dan kau meninggalkannya?" Tatapan Juyong cukup menyentuh hati Heon. Untung saja ia masih tahu diri siapa gadis ini sebenarnya. "Kau hebat dalam menari, jangan sia-siakan bakatmu."

"Kau tidak tahu, Cantik. Tidak semudah itu membuat komitmen."

Juyong menghela nafas menikmati kesabaran. "Aku pun juga, berkomitmen menjadi orang lain demi Ibuku adalah komitmen yang tidak main-main."

Beberapa saat Jongup dan Heon menjadi tidak peka dengan balasannya.

"Tapi kau belum mencoba. Lagipula beberapa agensi merekrut tidak pakai sistem cukup strict untuk masa training. Kau bisa sekaligus mengurusi ayahmu."

Heon menyipit mata sinis, sampai dua bola matanya hampir tidak kelihatan. Ia kali ini melempar tatapan tuduhan kepada Jongup.

"Hei, Bung. Berapa banyak yang kau ceritakan pada pacarmu ini?"

Jongup menggeleng tidak tahu. "Aku hanya banyak pamer tentang diriku sendiri, jika kau mau tahu."

Juyong menginterupsi, "Aku hanya ingin mengenalmu dan yang lainnya. Heon orang yang menarik, begitu juga dengan Taemin. Jika dia berada disini."

Heon sedikit mendengus, "Ketika kau tadi sangat takut padaku tadi,"

"Maafkan aku, aku hanya pemalu dengan orang baru." Juyong sampai mengulur tangan pada Heon. "Perkenalkan aku Choi Juyong, semoga kita bisa berteman."

Heon mengamati tangan mulus, dan wajah manis di hadapnnya secara bergantian. Mimpi apa semalam sampai gadis secantik ini mau berkenalan dengannya. Sayang sudah ada yang punya.

"Bung, kau sangat beruntung. Aku harus mengatakannya dua kali." Lalu Heon membalas jabatan itu dengan hati cukup berdegup. Yang bahkan membuat Jongup jadi tertawa geli lihat sisi malu-malu sahabat lamanya itu.

.

.

.

.

.

.

Jongup maupun Juyong berhasil keluar dari tempat berisik itu. Mereka berdua mencari tempat yang lebih sepi pengunjung, yaitu taman kota yang lebih teduh dan tenang. Keduanya kembali duduk di bangku batu.

"Heon kelihatannya suka padamu." Jongup sampai berlagak cemburu sambil memanyun bibir. Juyong tertawa melihat tingkah kekanakan pria itu.

"Semua orang bisa saja suka padaku," ujarnya.

"Hei, apa kau penasaran dengan Taemin?"

Juyong mengangguk, minta penjelasan.

"Taemin bermimpi ingin jadi pendeta. Tapi ia punya hobi menari."

"Terdengar berlawanan."

"Yeah, dia adalah penari hebat."

Keduanya sejenak menikmati angin lalu yang lebih berhembus barusan.

"Ia punya kekasih, seorang anak seumurannya. Gadis itu cantik dan pemalu, sepertimu."

"Apa dia lebih cantik?"

Jongup menggeleng. Dia optimis, "Kau lebih cantik."

Juyong tertawa malu-malu setelah mendengarnya, sekaligus lega.

"Ia pernah bilang, jika ia hanya menjadi penari jalanan, ia akan menyerah dan menjadi pendeta saja."

"Bukankah seharusnya ia juga ditawari seperti Heon?"

Jongup mendesah kecil. "Taemin pernah kecelakaan, dan punya luka di wajahnya. Agensi manapun tidak akan menerima wajah cacatnya, katanya."

"Taemin juga tidak mau mengoperasi wajah. Pacarnya tidak suka itu."

"Ah, dia adalah pacar idaman."

"Aku juga setia, kok."

Juyong terdiam. Mencoba tidak peka saja.

"Itu juga menjadi alasan Heon tidak mau menerima tawaran agensi apapun."

"Maksudmu?"

Jongup tiba-tiba terkikik. Suasana yang agak muram itu menjadi sangat terhibur mendadak.

"Salah satu agensi yang sama menawari Heon, menawari Taemin juga dengan satu syarat mau di oplas. Penolakan Taemin, akan membuahkan penolakan dari Heon. Mungkin kau pikir anak itu sangat ketergantungan dengan Taemin, bukan?"

Juyong mengangguk saja. Walaupun ia masih belum mengerti alasan jelasnya.

"Heon suka dengan Taemin, Juyong."

Juyong kaget, hampir saja melompat dari kursinya.

"Sungguh?!"

"Laki-laki itu menjadi putus asa, ah tidak, putus cinta. Ia menghabiskan waktunya minum-minum, sampai direkrut jadi bartender karena ia tahu cintanya tidak akan pernah terbalas. Baru tadi aku tahu bahwa Taemin menjadi pendeta entah dimana. Aku harap ia baik-baik saja."

Juyong cukup terkejut dengan fakta itu. Ia merebahkan diri pada punggung bangku, dan tatapannya hanya kosong.

"Bukankah aneh merasa putus asa seperti itu, apalagi Taemin seorang laki-laki. Aku harap dia move on dan hidup lebih normal."

Mendengar pernyataan Jongup, hatinya seakan hancur. Ia tertegun sambil meratap dari dalam lubuk hatinya.

Jongup justru memperkeruh suasana hati Juyong. Gadis itu dilihatnya hanya menunduk dan begitu hening, tidak ikut merasa terhibur dengan kalimat becanda nya. Dirinya dengan sengaja menidurkan kepala di atas paha Juyong hingga membuat 'gadis' itu agak terperanjat.

Jongup bisa membaca wajah cantik itu. Yang selalu terlihat familiar dengan seseorang.

"Kau benar-benar mengingatkanku dengan seseorang."

dan mendadak wajah Juyong berubah menjadi khawatir.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Lee Jooheon (terinspirasi : Jooheon Monsta X) : Sahabat sekaligus partner menari Jongup ketika dirinya belum debut. Tipikal keras kepala dan pemabuk. Tapi dia baik hati dan sahabat yang setia. Suka menari, merokok, minum, ataupun berkelahi. Tapi sangat peduli ayahnya.

Lee Taemin (terinspirasi: Taemin Shinee) : Penari handal yang akhirnya pindah (entah dimana) menjadi seorang pendeta, dan sudah bertunangan. Sahabat Jongup juga.

Review, Follow, Fav? ^^