Elfjoy137 Present
KYUMIN FANFICTION
Bared To You
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan, ada beberapa tokoh OOC
DLDR
Please enjoy ^^
Remake Novel karya SYLVIA DAY 'Bared To You'.
Hak cipta terjemahan Indonesia : Gramedia
This is mature story. Don't Like? Just Don't Read !
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
.
~JOYER~
.
.
.
.
BAB 10
.
Aku terus menunduk sementara aku berjalan dengan malu melewati meja resepsionis dan keluar dari hotel melalui pintu samping. Wajahku merah padam karena malu mengingat manajer yang menyapa Kyuhyun ketika kami berjalan ke lift. Ia pasti tahu mengapa Kyuhyun mempertahankan kamar itu.
Aku mulai berjalan tanpa arah dan tujuan. Sekarang di luar gelap.
Seiring setiap langkah kakiku, adrenalin karena pelarianku mulai memudar. Gagasan licik dan menyenangkan tentang Kyuhyun yang keluar dari kamar mandi dan menemukan kamar kosong dan benda-benda seksual bertebaran di ranjang mulai menguap. Aku mulai tenang…. dan benar-benar berpikir tentang apa yang baru saja terjadi.
Apakah Kyuhyun hanya kebetulan mengajakku ke gym yang berdekatan dengan kamar hotelnya?
Aku mengingat obrolan kami di kantornya saat makan siang dan caranya menjelaskan dengan susah payah bahwa ia ingin mempertahankanku. Bagaimanapun juga, bukankah aku baru saja kembali melarikan diri? Aku sudah menjalani terapi bertahun-tahun dan tahu bahwa aku tidak boleh melarikan diri ketika sedang merasa disakiti.
Dengan hati sakit, aku masuk ke sebuah restoran dan menempati sebuah meja. Aku memesan segelas wine dan jajjangmyeon—makanan kesukaanku, berharap wine dan makanan bisa menenangkan kecemasan dalam diriku sehingga aku bisa berpikir jenih.
Ketika si pelayan kembali membawa wine-ku, aku meneguk setengahnya tanpa benar-benar merasakannya. Aku sudah merindukan Kyuhyun, merindukan suasana hatinya yang bercanda dan gembira ketika aku meninggalkannya. Mataku perih dan aku membiarkan beberapa butir air mata jatuh bergulir di pipiku.
Makananku tiba dan aku memakannya sedikit-sedikit. Rasanya hambar, walaupun aku yakin itu bukan karena kokinya atau restorannya.
Aku mengeluarkan smartphone ku dari tasku dan bermaksud meninggalkan pesan suara untuk psikiaterku. Ia menyarankan agar kami membuat janji untuk berbicara melalui video call sampai aku menemukan psikiater baru. Saat itulah aku baru menyadari 21 panggilan tak terjawab dari Kyuhyun dan SMS: 'Aku mengacaukannya lagi. Jangan memutuskan hubungan denganku. Bicaralah denganku. Tolong.'
Air mataku mengalir lagi. Aku mendekap ponsel itu ke dada, sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak bisa menyingkirkan bayangan Kyuhyun bersama yeoja lain dari benakku.
Aku begitu terkejut ketika ponsel itu bergetar di dadaku sampai aku nyaris menjatuhkannya. Masih sakit hati, aku berpikir ingin membiarkan telepon itu disambungkan ke kotak suara sebelum aku melihat layar telepon dan menyadari bahwa Kyuhyun yang menelepon—ditambah lagi hanya dia yang tahu nomor ini—tetapi aku tidak bisa mengabaikannya, karena ia jelas-jelas sedang panik. Walaupun tadi aku ingin menyakitinya, tapi aku tidak bisa lagi melakukannya sekarang.
"Halo," suaraku terdengar aneh karena tersekat air mata dan emosi.
"Sungmin! Syukurlah." Kyuhyun terdengar cemas. "Kau dimana?"
Aku memandang sekeliling dan tidak melihat apapun yang bisa memberitahuku nama restorannya. "Aku tidak tahu. Aku…..aku minta maaf, Kyuhyun."
"Tidak, Sungmin. Ini salahku. Aku harus menemukanmu. Bisakah kau menggambarkan tempatmu sekarang? Apakah kau berjalan kaki tadi?"
"Ya. Aku berjalan kaki."
"Aku tahu pintu keluar yang kau gunakan. Ke mana arahmu tadi?" Ia bernapas dengan cepat dan aku bisa mendengar bunyi lalu lintas dan klakson mobil di latar belakang.
"Ke kiri."
"Apakah kau membelok lagi setelah itu?"
"Kurasa tidak. Aku tidak tahu." Aku memandang sekeliling mencari pelayan yang bisa kutanyai. "Aku berada di restoran. Ada kursi-kursi di trotoar… dan pagar besi. Pintu ganda…..Demi Tuhan, Kyuhyun, aku—"
Kyuhyun muncul, diluar pintu depan dengan telepon menempel di telinganya. Dan ia langsung berjalan kearahku setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku jinsnya.
"Demi Tuhan." Tubuhnya gemetar dan ia membenamkan wajah ke leherku. "Sungmin."
Aku balas memeluknya. Ia baru selesai mandi, membuatku sangat sadar bahwa aku juga harus mandi.
"Aku tidak bisa berada disini," katanya serak sambil menarik diri dan menangkup wajahku. "Aku tidak bisa berada di tempat umum sekarang. Maukah kau ikut pulang bersamaku?"
Wajahku pasti menunjukkan perasaan waswas yang masih tersisa, Kyuhyun menempelkan bibirnya ke keningku dan bergumam, "Tidak akan seperti hotel tadi, aku berjanji. Eommaku adalah satu-satunya yeoja yang pernah datang ke tempatku, kecuali pengurus rumah dan pelayan."
"Ini bodoh," gerutuku. "Aku bersikap bodoh."
"Tidak." Kyuhyun menyapu rambut dari wajahku dan menunduk untuk berbisik di telingaku. "Kalau kau mengajakku ke tempat kau tidur dengan namja-namja lain, aku juga pasti akan gila."
Pelayan muncul kembali dan kami saling melepaskan diri. "Apakah ku bawakan menu, Tuan?"
"Tidak perlu." Kyuhyun mengeluarkan dompet dari saku bagian belakang dan mengeluarkan kartu kreditnya. "Kami akan pergi."
.
.
Bared to You
.
.
Apartemen Kyuhyun seindah namja itu sendiri. Pemandangan dari atas sini, sungguh sangat indah. Apartemennya sangat berbeda dengan kantornya, yang mengilap, modern dan dingin. Apartemen pribadinya hangat dan mewah, dipenuhi barang-barang antik serta barang berseni.
"Ini….. menakjubkan," kataku lirih, merasa istimewa karena diperbolehkan melihatnya.
"Masuklah." Ia menarikku masuk lebih jauh ke dalam apartemennya. "Aku ingin kau tidur di sini malam ini."
"Aku tidak punya pakaian dan barang-barangku…"
"Yang kau butuhkan adalah sikat gigi di dalam tas kecilmu. Kita bisa mampir ke apartemenmu besok pagi untuk mengambil sisanya. Aku berjanji akan mengantarmu ke kantor tepat waktu."Ia menarikku ke arahnya dan menopangkan dagunya ke puncak kepalaku. "Aku benar-benar ingin kau tetap di sini, Sungmin. Aku tidak menyalahkanmu karena ingin keluar dari hotel, tapi menyadari dirimu sudah pergi membuatku ketakutan setengah mati. Aku harus berada di dekatmu untuk sementara waktu."
"Aku ingin di peluk." Aku memeluknya dengan erat. "Aku juga ingin mandi."
Dengan hidung di rambutku, ia menarik napas dalam-dalam. "Aku suka baumu. Baunya sama sepertiku."
Tetapi ia menuntunku melintasi ruang duduk dan menyusuri koridor ke kamar tidurnya.
Aku terkesima ketika ia menyalakan lampu kamarnya. Sebuah ranjang besar menguasai tempat itu. Itu adalah ruangan yang hangat dan maskulin.
"Kamar mandinya ada di sini."
Sementara aku mengamati kamarnya, Kyuhyun mengeluarkan handuk dari lemari dan memberikannya padaku. "Terima kasih."
Ia menarikku dan sepertinya mengerti bahwa maksudku lebih dari sekedar handuk. Matanya menatapku dengan tajam, "Rasanya menyenangkan karena kau ada disini."
"Aku tidak tahu kenapa aku berakhir seperti ini, bersamamu." Tapi aku benar-benar menyukainya.
"Apakah itu penting?" Kyuhyun mendongakkan daguku, dan mendaratkan ciuman dihidungku. "Aku akan meletakkan pakaianuntukmu di tempat tidur."
Aku pun mandi dan mengenakan kemeja Cho Industries kebesaran yang disediakan Kyuhyun untukku, lalu aku menelpon Donghae dan memberitahunya bahwa aku tidak akan pulang malam ini dan menceritakan insiden di hotel secara singkat.
Donghae bersiul. "Aku bahkan tidak tahu harus berkomentar apa tentang hal itu."
Lee Donghae yang tidak bisa berkata-kata menyatakan segalanya.
Aku bergabung dengan Kyuhyun di ruang duduk, dan kami duduk di lantai di meja kopi untuk melahap Sphagetti—'oh Tuhan, mi lagi'.
Kami menonton tayangan ulang drama polisi Seoul yang kebetulan melibatkan adegan yang di ambil di jalan di depan gedung Chofire.
"Kurasa pasti keren sekali melihat bangunan milikku berada di televisi seperti itu." Kataku.
"Lumayan, kalau mereka tidak menutup jalan selama berjam-jam untuk syuting."
Aku mendorong bahunya dengan bahuku. "Dasar pesimistis."
.
.
.
Ketika aku terbangun, kamar tidur itu masih gelap dan aku berguling ke sisi ranjangku. Aku duduk dan melirik jam digital di nakas Kyuhyun dan menyadari bahwa saat itu masih jam tiga pagi.
Lalu Kyuhyun mengerang dan bergerak-gerak gelisah, dan aku menyadari apa yang mengusik tidurku. Suara yang dikeluarkan Kyuhyun terdengar menderita, desisan napasnya terdengar menyoksa.
"Jangan sentuh aku," bisiknya kasar. "Singkirkan tanganmu dariku!"
Aku membeku, jantungku berdebar keras. Kata-katanya menembus kegelapan, dipenuhi amarah.
"Dasar bajingan busuk." Ia menggeliat, kakinya menendang selimut. Punggungnya melengkung dan ia mengeluarkan suara mengerang yang anehnya terdengar erotis. "Jangan. Ahh, demi Tuhan….Sakit."
Ia menegang, tubuhnya melilit. Aku tidak tahan melihatnya.
"Kyuhyun." Karena Donghae terkadang mendapat mimpi buruk, aku tahu aku tidak boleh menyentuh orang yang sedang mengalami mimpi buruk. Sebagai gantinya, aku berlutut di sisi ranjangku dan memanggil namanya. "Kyuhyun, bangunlah."
Tiba-tiba bergeming, Kyuhyun jatuh berbaring kembali, tegang dan penuh antisipasi. Dadanya naik turun karena napasnya yang terengah.
Aku berbicara dengan tegas, walaupun hatiku remuk. "Kyuhyun. Kau sedang bermimpi. Bangunlah."
Ia berbaring lemas di atas kasur. "Sungmin…..?"
"Aku di sini." Aku bergerak dan berjalan menghindari cahaya bulan tapi tidak melihat kilatan yang menandakan bahwa Kyuhyun sudah membuka mata. "Apakah kau sudah bangun?"
Napasnya mulai mereda, tetapi ia tidak berbicara. Tangannya terkepal di seprai. Aku menarik baju yang kukenakan melewati kepala dan menjatuhkannya di atas tempat tidur. Aku bergeser mendekat, mengulurkan tangan untuk menyentuh lengannya dengan ragu. Ketika ia tidak bergerak, aku membelainya, ujung jariku membelai lengannya.
"Kyuhyun?"
Ia tersentak bangun. "Apa? Ada apa?"
Aku duduk di tumitku dengan tangan menempel di paha. Aku melihatnya mengerjapkan mata menatapku, lalu menyusurkan kedua tangannya ke rambutnya. Aku bisa merasakan mimpi buruk yang masih menempel dalam dirinya, bisa merasakan ketegangan tubuhnya.
"Ada apa?" tanyanya serak, dan menopang tubuh dengan sebelah siku. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku menginginkanmu." Aku berbaring di tubuhnya, menindih tubuhnya. Aku mendesakkan wajahku ke lehernya yang lembap dan menghisap kulitnya yang terasa asin. Aku tahu dari mimpi-mimpi burukku sendiri bahwa dipeluk dan dicintai bisa menyingkirkan hantu-hantu itu untuk sementara.
Lengannya memelukku, tangannya membelai tulang punggungku. Aku merasakan dirinya melepaskan mimpi itu dengan desakan panjang dan malam.
Aku mendorongnya berbalik kembali, memanjat ke atas tubuhnya dan menempelkan mulutku ke mulutnya. Kejantanannya menempel di tubuhku dan aku mendesakkan pinggulku ke tubuhku. Rasa tangannya di rambutku, menahanku untuk mengambil alih kendali ciuman itu, dengan cepat membuat tubuhku basah dan siap. Kulitku seolah-olah terbakar. Aku menggesekkan tubuhku ke tubuhnya, menggunakan tubuh Kyuhyun untuk memuaskan diri sementara Kyuhyun mengeluarkan suara penuh gairah dan menggulingkanku ke bawah tubuhnya.
"Aku tidak punya kondom disini," gumamnya sebelum mencium puncak payudaraku dengan lembut.
Aku senang ia tidak memiliki persiapan. Ini bukan tempatnya untuk bermain-main dengan yeoja lain, ini adalah apartemennya dan aku adalah satu-satunya kekasih yang pernah diajaknya ke sini. "Aku tahu kau pernah menyebut tentang pemeriksaan kesehatan ketika kita membahas tentang alat pencegah kehamilan, dan bahwa itu adalah tindakan yang bertanggung jawab, tapi—"
"Aku percaya padamu," kataku. Kyuhyun mengangkat kepala, menatapku. Ia membuka kakiku, mendesakkan kejantanannya ke dalam tubuhku. Tubuhnya terasa sangat panas dan sangat lembut.
"Sungmin," desahnya sambil memelukku erat-erat. "Aku tidak pernah… ya ampun, kau terasa sangat nikmat. Aku sangat senang kau ada disini."
Aku menarim bibirnya ke bibirku dan menciumnya. "Aku juga."
.
.
.
Aku terbangun dalam posisi tepat seperti ketika aku tertidur, dengan Kyuhyun di atas tubuhku dan di dalam tubuhku. Matanya dipenuhi gairah sementara aku terbangun dalam keadaan panas dan nikmat. Rambutnya terlihat seksi karena acak-acakan setelah tidur.
"Kuharap kau tidak keberatan," gumamnya sambil tersenyum nakal, bergerak keluar-masuk tubuhku. "Kau hangat dan lembut. Aku menginginkanmu."
Aku melengkungkan punggung, mendesakkan payudaraku ke dadanya. Dari jendela aku melihat cahaya fajar yang lembut memenuhi langit. "Ahh… Aku benar-benar bisa terbiasa bangun seperti ini."
"Itulah yang kupikirkan pada jam tiga pagi tadi." Kyuhyun menggoyangkan pinggulnya dan mendesakkan tubuhnya jauh ke dalam tubuhku. "Kupikir sebaiknya aku membalas kebaikanmu."
Tubuhku hidup kembali, denyut nadiku berpacu. "Ya, tentu saja."
.
.
Bared To You~
.
.
Donghae tidak ada di rumah ketika kami pulang ke apartemenku, ia meninggalkan surat pendek untuk memberitahuku bahwa ia pergi bekerja tetapi akan pulang tepat waktu untuk makan bersama Eunhyuk.
"Aku harus menghadiri jamuan makan malam hari ini," kata Kyuhyun sambil mencondongkan tubuh melewati bahuku untuk membaca surat kecil dari Donghae. "Kuharap kau bisa ikut bersamaku dan membuat acara itu lebih menyenangkan."
"Aku tidak bisa mengabaikan Donghae," kataku dengan nada meminta maaf dan berbalik menatap Kyuhyun. "Teman yeoja lebih penting daripada kekasih dan semacamnya."
Kyuhyun memerangkapku di meja makan. "Donghae bukan yeoja. Tapi aku mengerti maksudmu. Aku ingin menemuimu malam ini. Apakah aku boleh mampir ke sini setelah makan malam dan bermalam di sini?"
Aku membelai rompinya, merasa seolah-olah aku memiliki rahasia istimewa karena aku tahu benar seperti apa Kyuhyun tanpa pakaian. "Dengan senang hati."
.
.
.
Ketika aku selesai berpakaian dan keluar dari kamar dua puluh menit kemudian, Kyuhyun meraih dua wadah kopi dari meja dan kami turun ke lobi. Shindong menuntun kami ke pintu depan dan masuk ke kursi belakang SUV Bentley milik Kyuhyun yang menunggu.
Sementara sopir Kyuhyun melajukan mobil di jalan raya, Kyuhyun menatapku dan berkata, "kau benar-benar mencoba membunuhku. "Apakah kau mengenakan garter lagi?"
Aku menarik rokku keatas dan menunjukkan daerah bagian atas stoking sutra hitamku dikaitkan ke tali garter hitam berenda.
"Sialan."
Umpatanya membuatku tersenyum. "Kau menyukainya?"
"Aku jadi bergairah." Suaranya serak, dan menarik celana panjangnya yang sesak. "Bagaimana aku bisa menjalani hari ini tanpa memikirkan dirimu yang berpakaian seperti itu?"
"Selalu ada waktu makan siang," kataku, membayangkan acara tidur siang di sofa kantor Kyuhyun.
"Aku punya jadwal makan siang dengan rekan bisnisku hari ini. Aku pasti akan mengubah jadwal, kalau aku tidak mengubahnya kemarin."
"Kau mengubah janjimu untukku? Aku tersanjung."
Kyuhyun mengulurkan tangan dan membelai pipiku dengan ujung jarinya, tanda sayang yang lembut dan sangat intim yang kini sudah menjadi kebiasaannya. Aku mulai ingin menerima sentuhan-sentuhan itu.
Aku menyandarkan pipiku ke telapak tangannya. "Bisakah kau meluangkan lima belas menit hari ini untukku?"
"Akan kuusahakan."
"telepon aku kalau kau sudah tahu waktunya."
Aku menarik napas dalam-dalam, merogoh tas, dan memegang hadiah yang entah diinginkannya atau tidak, tetapi aku tidak bisa melupakan saat ia bermimpi buruk. Kuharap apa yang ingin kuberikan kepadanya bisa mengingatkannya pada diriku dan seks jam tiga pagi, dan membantunya menghadapi mimpi buruknya. "Ada sesuatu. Kupikir….."
Tiba-tiba rasanya sombong apabila kuberikan benda itu kepadanya.
Kyuhyun mengerutkan kening. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja…." Aku menghembuskan napas dengan cepat. "Dengar, ada yang ingin kuberikan kepadamu, tapi aku baru sadar bahwa hadiah itu semacam—well, ini bukan benar-benar hadiah. Aku mulai berpikir ini tidak pantas dan—"
Kyuhyun mengulurkan tangan. "Berikan padaku."
"Kau boleh menolaknya—"
"Diamlah, Sungmin." Ia menekkukan jari. "Berikan padaku."
Aku mengeluarkannya dari tas dan menyerahkannya.
Kyuhyun menunduk menatap foto yang dibingkai itu tanpa berkata apa-apa. Bingkainya indah. Fotonya adalah foto diriku yang berpose di pantai dalam bikini merah dan topi jerami yang lebar—kulitku kecokelatan, aku terlihat bahagia, dan meniupkan ciuman kepada Donghae yang pura-pura berperan sebagai fotografer high-fashion dengan menyerukan dukungan-dukungan konyol. 'Cantik, Sayang. Tunjukkan kepadaku gaya genit. Tunjukkan kepadaku gaya seksi. Brilian. Luar biasa. Tunjukkan kepadaku gaya liar….errr…'
Aku bergerak-gerak malu di kursi. "Seperti yang ku katakan tadi, kau tidak perlu menyimpan—"
"Aku—" Kyuhyun berdehem. "Terima kasih, Sungmin."
"Ah, well…." Aku senang melihat gedung Chofire di luar jendela. Aku melompat keluar dengan cepat ketika sopir menghentikan mobil dan meluruskan rok dengan tanganku, merasa malu. "Kalau kau mau, aku bisa menyimpannya untuk sementara."
Kyuhyun menutup pintu Bentley dan menggeleng. "Ini milikku. Kau tidak bisa mengambilnya kembali."
Ia menautkan jemari kami dan menunjuk ke arah pintu putar dengan tangan yang memegang bingkai foto. Wajahku memanas ketika menyadari bahwa ia bermaksud membawa fotoku ke tempat kerjanya.
.
.
.
Salah satu hal yang menyenangkan tentang bisnis periklanan adalah setiap harinya selalu berbeda. Aku sibuk sepanjang pagi dan baru hendak memikirkan apa yang harus kulakukan untuk makan siang ketika teleponku berdering. "Selamat siang. Ini Lee Sungmin dari kantor Tan Hangeng."
"Aku punya berita," kata Donghae sebagai kata ganti sapaan biasa.
"Apa?" Aku tahu dari suaranya bahwa ini berita bagus, apa pun beritanya.
"Aku mendapatkan iklan SPAO."
"Oh, Tuhanku! Donghae, itu luar biasa! Aku menyukai jins mereka."
"Apa yang akan kau lakukan saat makan siang?"
Aku tersenyum lebar. "Merayakannya bersamamu. Apakah kau bisa tiba disini jam dua belas?"
"Aku sudah dalam perjalanan ke sana."
Aku menutup telepon dan bersandar ke kursi, sangat gembira untuk Donghae sampai aku ingin menari. Aku kembali memerikan inbox dan menemukan berita Google untuk nama Kyuhyun. Lebih dari tiga puluh berita, hanya dalam satu hari.
Aku membuka e-mail dan panik sejenank membaca berbagai tajuk utama yang menyangkut "wanita misterius". Aku membuka situs pertama dan mendapati diriku berada di blog gossip.
Di sana, dalam foto berwarna, terdapat foto Kyuhyun yang sedang menciumku di trotoar di luar gym-nya.
'Cho Kyuhyun, bujangan paling diminati di Seoul, kemarin terlihat sedang memeluk seseorang dengan penuh semangat di depan umum. Seorang sumber di Cho Industries menyatakan bahwa yeoja misterius yang beruntung itu adalah sosialita Lee Sungmin, putri multi miliuner Kim Kangin dan istrinya, Leeteuk. Ketika ditanya tentang hubungan antara Cho dan Lee, sumber kami membenarkan bahwa Nona Lee adalah "wanita penting" dalam hidup sang jutawan saat ini. Kami membayangkan ada banyak hati yang hancur di Korea Selatan pagi ini.'
"Oh, sialan," desahku.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Annyeong ^^
Maaf ya untuk beberapa chapter saya tidak banyak berkomentar. Banyak yang nanya juga u.u
Maaf~ Bukannya saya tidak mau menjawab, tapi saya ingin kalian sendiri yang menemukan jawabannya di setiap bab nya ^^
Supaya kalian penasaran, kkk~
Oh iya disini ada yang nonton SS6 ? Selamat ya ^^ have fun, buat yang gak nonton, ayo nabung agar SS7 nanti bisa nnton dan semoga Sungmin mommy sudah pulang ^^
Oke cukup sekian. Semoga kalian makin penasaran. Di bab ini makin penasaran kah? Bagus. Haha ~
Oh iya, do'ain ya semoga tanganku cepet sembuh. Tanganku sakit kalau di gerakin, jadi agak terhambat buat ngetik. Ini bukan alasan untuk telat update ya, hehe ~
