YOU YOU YOU

Penname: Yeclo Kim

Cast:

Do Kyung Soo

Kim Jongin

Pairing: KaiSoo, HunHan, ChanBaek, KrisHo

GS/Supernatural/Romance/Fluff

Rate: M

SINOPSIS: Jongin pada Kyungsoo dan begitu pula sebaliknya.

-YOU YOU YOU-

Matahari kuning bersinar dan terik siang itu, Kyungsoo memutuskan untuk duduk sendiri dibawah pohon belakang sekolah. Sekolah ternyata memberikan memori tersendiri bagi yeoja manis itu, apalagi setelah bertemu dengan teman barunya, Luhan.

Luhan begitu menyenangkan sebagai teman perempuan, beberapa hari ini mereka menghabiskan waktu bersama, seperti pergi ke taman bermain kemarin.

Awalnya Kyungsoo merasa ambigu dengan pernyataan Luhan mengenai ia yang tak mempunyai teman dekat. Luhan itu cantik dan ramah, tak mungkin yeoja itu tak punya teman dekat.

Akhirnya Kyungsoo tahu satu hal tentang Luhan.

Flasback

"Lu, kau melamun?" Kyungsoo mengguncang pelan bahu Luhan.

Mereka hendak makan siang bersama di kantin, namun dalam perjalanan Luhan terdiam begitu saja, sorot matanya mengarah pada seseorang. Namun saat Kyungsoo melihat ke arah yang sama dengan pandangan Luhan, Kyungsoo tak dapat melihat siapapun.

"Ah… Maaf Kyung, ayo ke kantin" Luhan menggandeng tangan Kyungsoo dan membawanya ke kantin.

Kyungsoo hanya menaikkan alisnya bingung dengan kelakuan Luhan. Ada sesuatu, yeoja cantik itu pasti menyembunyikan sesuatu, dan lagi-lagi jiwa ingin tahunya muncul.

Tak bisakan kau tak perlu mencampuri urusan orang Kyungsoo?

Tak bisa, dasarnya yeoja itu yang terlalu peduli, seperti halnya saat pertama kali ia melihat Jongin, ia sangat peduli hingga berani menyapa Jongin yang saat itu menakutkan baginya.

"Nah Kyung, duduklah disini, aku akan memesan makanan, aku akan mentraktir mu ne? Jadi, duduklah, tunggu aku" Luhan segera berlari riang tanpa menunggu jawaban dari Kyungsoo.

" Luhan… Aku belum berkata apa-apa, ia sudah pergi saja" Kyungsoo menggelengkan kepalanya mengetahui sifat teman barunya itu.

Kyungsoo mengerdarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, kantin sekolah ini begitu nyaman didominasi warna coklat kayu pada meja dan kursinya. Meja kursinya pun dibuat memanjang agar cukup untuk menampung seluruh siswa siswi sekolah ini.

Di ujung tempat ia duduk, ia bisa melihat seorang siswa dan siswi sedang berbicara dan terlihat sangat dekat satu sama lain. Dapat dilihat salah satu tangan namja itu yang memeluk pinggang sang yeoja erat, seraya memberikan kecupan manis di wajah yeoja itu.

Wajah Kyungsoo memanas melihat hal itu, ia jadi teringat Jongin. Sepertinya yang ada di otak Kyungsoo, hanya Jongin, Jongin dan Jongin.

"Kyung, ini makan mu" Luhan tiba-tiba datang dan menaruh nampan makanan di depan Kyungsoo.

Kyungsoo terkejut dan memandang Luhan reflek, lalu tersenyum malu-malu.

"Kenapa Kyung? Seperti telah melakukan sesuatu yang tidak-tidak saja" Luhan tersenyum mengejek.

"Apa maksud mu dengan sesuatu yang tidak-tidak eoh?" Kyungsoo melahap sesendok makanan yang Luhan bawakan, rasanya sangatlah lezat.

"Yah, aku tak perlu menjelaskannya kan, kau pasti tau maksudku" Luhan ikut menyantap makanan yang terhidang di depannya.

"Hentikan obrolan tak ada arah ini, jadi sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu Lu, yah walaupun aku tau itu tak sopan" Kyungsoo meletakkan sendok makananya dan menatapa Luhan serius.

Luhan yang ditatap seperti itu hanya bisa melihat Kyungsoo balik dengan sendok yang masih setia di mulutnya.

"Mwo?"

"Ehm, kau bilang saat kita bertemu tadi, kau tak ada teman dekat. Apakah benar?"

"Iya"

"Kenapa bisa seperti itu?"

"Ne, tentu bisa"

"'Luhan kan cantik, baik , ramah juga, kenapa bisa tidak memiliki teman dekat?"

"Iya, tak ada"

Kyungsoo cemberut, ia kesal. Luhan membuatnya penasaran tapi jawabannya hanya seperti itu.

"Hahaha, kau lucu Kyung, kau penasaran eoh?" Luhan tertawa lepas melihat ekspresi Kyungsoo yang imut karena rasa ingin tau yang tak terbendung.

"Apa ? Ya sudah, aku jadi malas bertanya lagi jika respon mu seperti itu Lu" Kyungsoo menahan rasa kesalnya karena Luhan terlalu bertele-tele menjawab pertanyaannya.

"Iya, maaf ne… aku hanya menggodamu saja. Sebenarnya bukannya tak memilikinya, aku hanya dipaksa untuk tidak memilikinya".

"Ada ya yang seperti itu? Dipaksa oleh siapa Lu? Kau tak keberatan?"

"Aku tak apa, aku bersedia tidak memiliki orang terdekat seperti sahabat atau namjachingu. Selama untuk dia" Perlahan senyum lembut Luhan menguar begitu saja, membuatnya terlihat begitu tulus.

"Apa ia orang yang berarti bagimu?"

"Ia tak menyatakan langsung padaku untuk tak dekat dengan siapapun, tapi aku bisa merasakannya. Aku merasakan keberadaannya saat aku kecil hingga saat ini Kyung"

"Jadi? Sungguh aku tak mengerti Lu. Keberadaannya? Kau tak pernah melihatnya?" Kyungsoo serasa bermain teka-teki dengan perkataan Luhan.

"Dia membuat ku seolah-olah tak melihatnya Kyung, tapi jika ia dapat menemukan hal itu, ia akan tau jika aku mengetahui dia dan memperhatikannya"

"Hal itu? Kau berencana membuat ku menjadi detektif?"

"Hahaha… tidak. Hanya saja, aku bisa memberitaumu sampai situ saja" Luhan masih melahap makannya yang tinggal sedikit.

"Ah, baiklah Lu, kau bersedia bercerita saja aku sudah senang, tapi pernahkan kau mencoba untuk dekat dengan seseorang" Kyungsoo kembali dengan wajah seriusnya.

"Oh, pernah. Sama saja walaupun itu namja atau yeoja, waktu itu aku berteman dekat dengan seorang yeoja, belum beberapa hari kita dekat, tiba-tiba ia menjauhiku, dia bilang aku berbahaya dan harus dijauhi, apa maksudnya? Aku tak habis fikir"

"Lalu saat kau dekat dengan seorang namja?"

"Saat itu kita hanya dekat kerena menjadi perwakilan sekolah pada olimpiade metematika, jadi kita sering belajar bersama, suatu hari ia menyatakan cintanya padaku. Aku tidak menerimanya karena aku tak ada perasaan padanya, tiba-tiba saat hari olimpiade, namja itu tak datang, ia kecelakaan"

"Apa? Sampai seperti itu?" Kyungsoo tak sengaja menaikan oktaf suaranya.

"Tidak tau Kyung, entah perbuatan siapa atau itu hanya takdir" Luhan berujar santai seperti tak terjadi apa-apa.

"Dan satu lagi, hal ini aku hanya menceritakannya padamu Kyung" Luhan mengakhiri ceritanya sesaat ia juga telah selesai dengan makan siangnya.

"'Lu… Sesuatu tak akan terjadi padaku kan?" Kyungsoo bergidik seram, ia adalah teman dekat Luhan mulai sekarang.

"Tak akan, selain dia, kau akan kupertahankan. Jadi tenang saja ne"

Dan Kyungsoo hanya bisa tersenyum samar mendengar akhir cerita Luhan, begitu takut apa yang terjadi kedepannya.

Flashback_off

Hingga sekarang Kyungsoo masih baik-baik saja, ia sehat dan ceria sama seperti biasanya. Jadi ia beranggapan orang yang berarti bagi Luhan namun menurut Kyungsoo adalah orang dibalik dijauhinya Luhan, telah memperbolehkan dirinya untuk menjadi teman dekat yeoja cantik itu.

Kyungsoo bersyukur akan hal itu, ia senang menjadi sahabat Luhan.

Angin semilir menerpa wajah Kyungsoo, walau matahari masih diatas sana begitu bersinar dengan cahaya kuning terangnya, perlahan wajah Kyungsoo meredup mengingat Jongin.

Jongin berjanji akan menemuinya, tapi hingga kini namja itu tak pernah datang mengunjunginya. Sudah tiga hari terakhir mereka bertemu setelah kejadian itu.

Kyungsoo merindukan Jongin, tak tau kah namja itu bahwa Kyungsoo begitu ingin melihatnya, apakah ia sehat? Ia mengkhawatirkan Jongin. Sangat.

Atau jangan-jangan Jongin meninggalkannya, jika hal itu benar, Kyungsoo tak tau harus berbuat apa. Jongin sudah membawa hatinya.

Kyungsoo berencana untuk mencari Jongin, biar saja jika orang beranggapan ia yeoja yang mengejar- ngejar seorang namja yang mungkin telah mencampakkannya.

Mencampakkan? Bahkan hubungan kalian hanya sebatas teman Kyung, apa yang kau maksud dengan mencampakkan?

Masa bodoh dengan pandangan orang, Kyungsoo tetap menyusun rencana di kepala mungilnya bagaimana cara ia mencari Jongin yang ia sendiri tak tau apa-apa tentang namja seksi itu.

"Kau Do KyungSoo?" Sebuah suara bass menyapa gendang telinganya.

Kyungsoo mengangkat kepalanya menatap seorang namja putih dengan wajah dingin stoicnya berdiri angkuh di depan Kyungsoo, rambut coklat tersapu angin menutupi dahi putih namja itu, yeoja itu mengkerutkan dahinya merasa tak pernah kenal dengan namja di depannya ini.

"I… Iya… Ada apa?" Kyungsoo berdiri dari duduknya.

"Ini, pergilah sekarang ke alamat ini" Namja itu menyerahkan secarik note berwarna putih kepada Kyungsoo.

Kyungsoo menerimannya dan membaca isinya, tertera sebuah alamat rumah yang sangat lengkap, seolah membantu mempermudah yeoja manis itu untuk menemukan rumah itu.

"Apa? Kenapa aku harus kesana?" Kyungsoo bingung, ia menatap wajah namja didepannya.

"Seseorang memerlukanmu, jadi pergilah sekarang" Namja itu berbalik pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih bingung.

Namja itu membalikkan tubuhnya lagi dan melihat Kyungsoo yang masih menatapnya penuh tanda tanya.

Merasa otak yeoja yang ditemuinya ini lambat untuk merespon semua perkataannya, ia memutuskan untuk mengutarakan sebuah nama yang mungkin akan menghilangkan kebingungan yeoja itu.

"Kim Jongin" Sehun berucap pelan namun masih dapat didengar oleh Kyungsoo. Kemudian Sehun benar-benar pergi meninggalkan Kyungsoo.

Kyungsoo terdiam kaku, tubuhnya bergetar dan air matanya menggenang di kedua pipi bulatnya, air matanya jatuh begitu saja karena sebuah nama.

Kim Jongin.

-YOU YOU YOU-

Kyungsoo merasa kecil, yah walau ia memang sudah kecil mungil, tapi saat ini ia benar-benar menyadari betapa kecilnya ia.

Rumah di depannya begitu besar dan elegan, warnanya putih dan terdapat halaman di depannya, dan dikelilingi oleh hutan di samping kanan dan kirinya. Rumah ini adalah alamat yang ia tuju.

Walau rumah ini jauh dari perkotaan tapi Kyungsoo tak sulit untuk menemukannya, terimakasih kepada note yang diberikan oleh namja dingin yang tak Kyungsoo ketahui namanya.

Pintu gerbangnya berwarna perak tinggi menjulang seperti penghalang atau penjagaan atas rumah ini, tapi Kyungsoo tak peduli, yang ia pikirkan sekarang adalah apakah benar Jongin ada disini?

Yeoja manis ini mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah, sepi dan menakutkan, mungkin karena rindang pohon dari hutan yang hampir menutupi cahaya matahari.

Kyungsoo memberanikan diri untuk membuka pintu gerbang itu, langkah kaki mungilnya terus menapak maju menuju pintu utama rumah itu.

Kyungsoo mengetuknya keras berharap akan ada seseorang yang akan membukanya.

"Permisi, apakah ada orang?" Kyungsoo berteriak sedikit keras, ia menganggap jika dengan suara pelan, orang di dalam rumah besar ini tak akan mengdengar suaranya.

Sunyi…

Tak ada tanda-tanda ada orang yang berbaik hati membukakan pintu untuk yeoja manis ini.

Ya sudah lah, tanpa berpikir panjang lagi ia mendorong pintu besar itu dengan kekuatan penuhnya.

Dan ternyata tidak terkunci, Kyungsoo memasuki rumah itu dan disuguhi oleh pemandangan ruang tamu yang begitu mewah.

Kyungsoo pernah berpikir akan mempunyai rumah seperti ini saat ia kecil, seperti halnya rumah untuk seorang putri. Ia kagum menatap isi ruang tamu tersebut, lalu mata bulatnya mengarah pada tangga kayu mahoni yang menjulang menuju ke lantai manis itu sedikit berlari menaiki setiap anak tangga.

Terdapat lorong di lantai dua, dan pintu-pintu yang berjejer di sepanjang lorong, Kyungsoo begitu manis dengan wajah bingung karena pintu yang begitu banyak.

Ia yakin dari sekian banyak pintu ini, pasti ada Jongin didalamnya, ia juga percaya namja dingin itu tak mungkin menipunya.

Tiba-tiba langkah kaki mungilnya berhenti begitu saja di depan sebuah pintu bercat putih, pintu ini berbeda dengan pintu lainnya yang bercat tiba-tiba yakin bahwa kamar ini yang ia cari, mungkin karena dorongan mencari Jongin yang sangat besar, instingnya bekerja dengan cepat.

Kyungsoo menyentuh daun pintu kamar itu dan membukanya pelan, saat menyentuh daun pintu itu, Kyungsoo merasa tangannya sedikit diterpa angin, seolah telah melepas suatu sihir.

Ia dapat melihat sebuah kamar yang didominasi oleh warna coklat dan terkesan maskulin dengan berbagai property khas namja.

Kyungsoo semakin jauh memasuki kamar dan ia berdiri tepat di depan sebuah jendela besar yang mempunyai balkon dengan pemandangan hutan yang indah.

Jendela itu terbuka lebar, sehingga angin masuk dengan leluasa membawa aroma pohon-pohon hutan yang menyegarkan ke seluruh penjuru kamar.

Kyungsoo membalikkan tubuhnya menjauhi jendela dan melihat sekeliling kamar itu, matanya tertarik untuk melihat bingkai foto yang tersusun rapi di atas rak belajar.

Yeoja itu membawa salah satu bingkai foto itu, terdapat empat wajah di dalam foto itu, dua dari mereka Kyungsoo sangat kenal, ada namja dingin tadi didalam foto itu. Bisa ia pastikan bahwa namja tadi adalah orang terdekat dari tiga orang di dalam foto itu.

Dan yang satu lagi, adalah Kim Jongin yang tersenyum manis dengan tiga wajah lainnya, ia terlihat begitu kekanakan, membuat tangan Kyungsoo reflek mengelus wajah Jongin di foto itu.

Ia begitu merindukan Jongin, matanya tiba-tiba mengembun, menandakan liquid bening itu akan segera meluncur bebas kembali ke kedua pipi merahnya.

Namun, ia terlonjak kaget, melihat salah satu bingkai foto lainnya. Itu adalah dirinya, foto dirinya yang sedang tersenyum.

Dari mana foto itu? Seingatnya Jongin tak pernah mengambil figurenya.

Namun, ia kembali terkejut karena sepasang lengan kekar kecoklatan melingkar di pinggangnya, memeluknya dari belakang, sungguh erat, helaan nafas mint itu menerpa gendang telinga Kyungsoo.

"Baby?"

Suara itu, Kyungsoo hafal betul itu suara siapa, suara namja yang dikasihinya.

"Jongin?" Kyungsoo membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Jongin sendu, Jongin berubah, walau 3 hari mereka tak bertemu.

Jonginnya semakin tampan, auranya semakin kuat, Kyungsoo tak bisa mendeskripsikan aura seperti apa, yang jelas Jongin semakin dewasa di matanya, rambut hitamnya ditata ke atas, memperlihatkan dahinya yang membuatnya semakin menawan.

Kyungsoo hanya mampu menutup bibirnya, dan kemudian air matanya jatuh kembali menahan rasa rindu kepada namja di depannya.

Akhirnya ia bisa melihat Jongin kembali.

"Kenapa menangis?" Jongin memajukan wajahnya dan mengecup kedua mata Kyungsoo, menjilat air mata Kyungsoo yang masih setia mengalir, lidah hangat Jongin mengelus manja kedua pipi Kyungsoo.

Diperlakukan selembut itu, yeoja manis itu hanya bisa menangis bahagia, kedua pipinya merona merah karena menangis, senang dan malu dengan perbuatan Jongin.

"Baby, kenapa baru datang? Aku menunggumu sudah lama" Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo yang ringan menurutnya dan berjalan menuju ranjang.

"Bagaimana… huks… aku… aku tau… huks… Aku tak tau cara menemuimu, hiks… Aku juga tak tau kau menungguku… hiks…"

Jongin mendudukkan Kyungsoo di pangkuannya, mereka sedang duduk berhadapan di atas ranjang. Tangan Jongin memeluk pinggang Kyungsoo sampai yeoja itu merasa sesak.

"Aku merindukanmu" Jongin memeluk tubuh Kyungsoo, membawa kepalanya pada dada Kyungsoo, menenggelamkan wajahnya ke kedua payudara Kyungsoo yang besar dan lembut. Sangat nyaman dan hangat. Menggesekan hidung bangirnya mencoba menyesap aroma tubuh sang yeoja.

"Jongin…" Tangan Kyungsoo terangakat mengelus surai hitam Jongin yang lembut, mengusapnya sayang namja yang ia ridukan pula.

"Soo… Kau merindukanku kan?" Jongin berkata manja seraya menatap Kyungsoo, walau wajahnya masih tetap di dada yeoja manis itu.

"Ne, tentu saja" Kyungsoo berujar lembut mengelus rahang tegas Jongin, ia bisa merasakan suhu tubuh Jongin. Telapak tangannya menghangat menyentuh wajah namja tampan itu.

"Kau sakit? Wajahmu hangat" Kyungsoo menyentuh dahi Jongin. Hangat. Ternyata namjanya memang sedang sakit.

"Iya, aku merasa dingin Soo. Bisakah kau menghangatkan ku?" Jongin menegakkan tubuhnya menatap Kyungsoo lekat, kedua mata coklatnya meredup kabut terlihat seksi seakan ingin menelanjangi Kyungsoo saat itu.

"Apa yang bisa ku lakukan Jongin?"

Kyungsoo benar-benar polos yang tak tertahankan, Jongin sampai gemas dengan kepolosan yeojanya. Bagaimana jika Kyungsoo bukan dengannya, mungkin sudah lama Kyungsoo tak gadis lagi. Pikiranmu Jong!

Jongin mencium bibir tebal Kyungsoo tiba-tiba, mengecupnya sensual bibir atas dan bawah yeoja cantik itu bergantian.

Bibir merah itu sedikit terbuka, tak disiakan Jongin, digigitnya bibir bawah Kyungsoo yang menggoda, sedikit kasar hingga bibir Kyungsoo mengeluarkan likuid merah pekat, Jongin segera menghisapnya.

"Eumm… ah…ah… Jongin… uhggg…" Desahan manis Kyungsoo mengalir deras menemani kegiatan mereka yang semakin intim.

Kedua tangan Jongin tak tinggal diam, mulai melepaskan kaitan dasi seragam Kyungsoo, sedangkan tangannya yang satu lagi, meremas pelan pinggang yeojanya.

Kyungsoo menatap sayu kedua mata Jongin yang menatapnya tajam masih dengan bibir tebalnya yang dicium mesra oleh namja seksi itu.

Lidah Jongin melesak masuk ke dalam mulut Kyungsoo, menghisap saliva serasa madu milik Kyungsoo, menghisapnya cepat dan menelannya seketika.

"Jongin… ugh… eumm…"

Tangannya mulai melepas kancing kemeja Kyungsoo satu persatu, Kyungsoo benar-benar lemas karena perbuatan Jongin pada bibirnya, kedua tangan Kyungsoo hanya bisa menggenggam pergelangan tangan Jongin kuat.

Ploopps….

Suara itu terdengar menggairahkan saat ciuman keduanya terlepas, Kyungsoo bernafas terengah-engah mengangis oksigen, paru-parunya sesak karena ciuman Jongin yang luar biasa.

Tanpa Kyungsoo sadari, kemejanya terlepas dari tubuh seksi Kyungsoo, yeoja manis itu mengenakan bra baby pink berenda, kedua payudara yang besar, putih dan Jongin benar-benar tak sabar hanya sekedar untuk menyentuhnya.

"Baby?" Jongin memanggil Kyungsoo walau kedua matanya masih setia melihat kedua gundukkan payudara Kyungsoo yang menggoda.

Kyungsoo menatap Jongin mengerti, namjanya menginginkan hal itu, tapi Kyungsoo akan sedikit bermain dengan Jongin, ia agak sakit hati karena Jongin yang tiba-tiba meninggalkannya kemarin.

"Apa?"

"Ini, aku mau ini" Jongin hampir menyentuh dada Kyungsoo, jika kedua tangan kecil Kyungsoo menutupi dadanya dengan cepat. Rasakan kau Kim Jongin…

"Tidak, aku tak mau memberikannya" Suara Kyungsoo dibuat tegas dan dingin, seolah mengancam Jongin untuk segera menjauhinya, dan tampaknya hal itu berhasil.

"Wae? Wae? Wae?" Namjanya merajuk, dan terlihat lucu di mata Kyungsoo, ah… tapi ia tak boleh luluh begitu saja.

"Baby, ku mohon" Lihatlah, wajahnya yang memohon benar-benar meruntuhkan segala pertahanan Kyungsoo.

Dan akhirnya…

"Lakukan apa yang kau inginkan" Kyungsoo tersenyum tulus kepada Jongin. Tangannya terulur mengelus sayang rambut hitam Jongin.

Seolah mendapat lampu hijau dari yeojanya, Jongin segera meremas payudara kanan Kyungsoo lembut yang masih tertutup oleh branya.

Jongin melepas kaitan bra Kyungsoo dan membuang asal bra tersebut, Jongin tak bisa mengalihkan pandangannya dari indahnya payudara Kyungsoo yang bulat dan menggantung sempurna.

Dengan nipple yang mengacung tegak berwarna pink, Jongin tegang seketika, efek Kyungsoo begitu besar baginya.

Wajahnya ia benamkan di payudara polos Kyungsoo yang harum, mengecup payudara itu pada bagian kanan dan kiri.

"Ah…ah…ahhhh…."

"Baby ini sangat harum dan lembut, ini milikku kan?" Jongin menjilat payudara Kyungsoo, melumurinya dengan saliva hangat miliknya.

"Uhghhh… iya… milikmu…ah… ah…ah…"

Bibirnya sudah sampai pada nipple Kyungsoo yang menegang, Jongin segera melumat nipple itu gemas dan memainkannya dengan giginya, mengigitnya dan kemudian menghisapnya tak sabar.

"Jongin… jangan… ah… ughh… jangan digigit, sakit…" Kyungsoo merasa sakit sekaligus nikmat, kedua tangannya meremas kuat rambut hitam Jongin.

Rambut hitam Jongin yang berantakan karena perbuatan Kyungsoo menambah kesan seksi pada namja itu.

Tangan Jongin yang besar dan hangat seakan pas dengan payudara Kyungsoo, meremas payudara yeoja itu kuat dan bibirnya menghisap nipple Kyungsoo, berharap akan ada air susu yang keluar.

"Baby, apakah air susunya tak keluar?" Pertanyaan konyol Jongin menguar begitu saja, membuat senyum jenaka Kyungsoo hadir menyapanya.

"Hahaha… ahh… Bagaimana bisa keluar, aku bahkan belum mengandung, ughh… Jangan diremas terlalu kencang Jongin"

"Jika begitu, aku mungkin harus membuat mu mengandung?"

"Mwo? Jangan bercanda"

" Aku tak bercanda"

Jongin melepas seluruh pakaian yang melekat pada dirinya, memperlihatkan tubuh seksinya yang terbalut kulit caramel yang seksi dan menggairahkan. Jangan lupakan juniornya yang mengacung tegak hanya untuk Kyungsoo.

Kedua pipi Kyungsoo merah seketika layaknya tomat matang. Ughh… Jongin terlalu tampan untuknya, ia tak tahan. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya ia merasa sangat malu karena Jongin.

" Kenapa kau menutup wajahmu? Aku ingin melihat seluruh tubuh yeojaku, aku ingin melihat wajah cantik yeoja ku yang selalu merona karena ulahku" Jongin berkata sangat lembut dan serak tepat di sebelah telinga Kyungsoo.

Gadis itu merinding mendengar suara husky namjanya.

"Wajahku tak merona, kau tau apa?" Tangan Kyungsoo terlepas tanpa sadar, segera ditangkap oleh Jongin dan meletakkan kedua tangan mungil Kyungsoo di atas kepala yeojanya.

"Lihatlah pipi ini… merona hanya untuk ku, hanya untuk ku baby" Jongin menjilat pipi Kyungsoo, jangan ditanya bagaimana Kyungsoo, jika boleh, ia ingin pingsan sekarang juga karena terlalu bahagia.

Bibir tebal namja seksi itu turun mengecup nipple Kyungsoo, perut putih yeojanya, dan berakhir pada vagina pink Kyungsoo yang bersih, basah dan mengeluarkan aroma khas.

Tanpa mengulur waktu Jongin mencumbu mesra vagina Kyungsoo, namja itu benar-benar hilang kendali, dijilatnya, digigitnya bibir vagina itu tak kenal ampun. Kyungsoo bergelinjang nikmat disana.

"Ahhhhh…. Jongin…. Ahh… Ahhh… Ya Tuhan….Jongin….! Ugghh!"

"Jongin… Berhenti… Jongin"

Telinga namja mu rusak Kyung, ia tak bisa mendengar suara seksi mu, ia sudah terlanjur gila oleh dirimu dan tak sabar memakanmu…

"Jongin… Hentikan sekarang… ada yang… ahhhh… keluar… uuggh…" Tangan Kyungsoo menjambak keras rambut kepala Jongin yang masih setia dengan kegiatannya dengan bibir bagian bawah tubuh Kyungsoo.

"Keluarkan"

Hanya kata itu yang keluar dari bibir Jongin, seakan ia tak waktu untuk membalas perkataan Kyungsoo.

" Apa?... Arghhh… Jongin… Arrghhhh!"

Hingga sentakan dan teriakan Kyungsoo menandakan yeoja itu orgasme, Itu menjadi orgasme Kyungsoo yang pertama kali dalam 17 tahun hidupnya.

Jongin mengisap cairan Kyungsoo, menelannya tak sabar, dan menjilatnya kembali vagina memabukkan itu.

Wajah Kyungsoo lelah, ia berkeringat dan penuh pesona, bagaimana ia begitu cantik hanya karena orgasme, senyumnya yang terlihat puas dan nikmat benar-benar mematikan untuk Jongin. Ia adalah bidadari Jongin. Selamanya.

"Baby… tak apa?" Jongin menempatkan tubuhnya di samping tubuh Kyungsoo, meletakkan kepalanya yeoja itu di lengannya dan memeluk pinggang Kyungsoo, membawa yeoja itu dalam pelukan hangatnya.

"Tak apa Jongin, hanya sedikit lelah mungkin" Kyungsoo menatap Jongin sayu dan tetap dengan senyum lugunya untuk Jongin.

" Jika begitu, Istirahatlah sayang" Jongin mengelus surai hitam Kyungsoo. Kyungsoo menggeleng pelan dan menimbulkan kebingungan pada Jongin.

"Ayo kita lanjutkan Jongin, aku tak sepolos itu ne, kemarilah… peluk aku" Kyungsoo memeluk leher Jongin mengecup kepala namjanya.

"Benarkah? Boleh?" Suara Jongin terdengar kekanakan dan lucu. Ya Tuhan Kyungsoo baru sadar, namjanya seksi diluar sangat manis di dalam.

"Tentu saja"

Jongin segera beranjak dan memeluk manja tubuh Kyungsoo.

"Baby ini akan sakit, benar tak apa? Jika kau bersedia aku akan pelan-pelan, aku janji" Matanya berbinar antara merasa bersalah dan senang karena dapat segera merasakan tubuh yeoja yang dicintainya.

"Ya… Lakukan Jongin…"

Jemari coklat Jongin menari menapaki setiap jengkal tubuh Kyungsoo begitu pula bibirnya, tidak akan melupakan sedikitpun rasa yang tercipta dari tubuh itu.

Kyungsoo menggeliat nikmat, perlakuan Jongin membuatnya melayang merasakan ketinggian dan terhempas sesak dan penuh gairah begitu menyenangkan. Bersama Jongin ia bisa melakukannya, hanya dengan namja itu.

Jongin merapatkan tubuhnya pada Kyungsoo, menatap mata teduh Kyungsoo, menyayangi yeoja itu seutuhnya, Kyungsoo cintanya, kekuatan abadinya dan akan segera menjadi istrinya.

"Setelah ini aku akan menceritakan seluruh hidupku kepadamu sayang, yang tak pernah aku ungkapkan kepada siapapun" Jongin berujar lembut.

"Aku akan mendengarkannya Jongin" Senyum Kyungsoo menguar manis.

Namun senyum itu hilang menjadi rintihan sakit tak tertahankan ketika junior Jongin yang tak bisa dibilang kecil itu memaksa masuk vagina mungil Kyungsoo, meminta akses lebih untuk memasukinya.

"Aaaargggghhhh….. Jongin… hikss…" Rintihan Kyungsoo bersama air matanya mengiris hati Jongin, ingin menghentikannya, tapi hasratnya tak terbendung.

Jongin mencium bibir Kyungsoo berusaha meredakan sakitnya dengan mengalihkan perhatian yeojanya.

Jongin bisa merasakan cairan pekat mengalir keluar dari vagina Kyungsoo dan melumuri juniornya, ia tau, ia paham, ia akan bertanggung jawab terhadap cintanya.

"Yang pertama untukku… terimakasih baby" Jongin mencium dahi Kyungsoo pelan dan penuh perasaan.

"Ughh… Iya Jongin,,, ahhh…"

Junior Jongi telah tertanam sempurna di vagina Kyungsoo, hangat dan ketat. Jongin serasa di ambang kesadarannya. Kyungsoo terlalu nikmat.

"Bergeraklah" Kyungsoo memberi aba-aba untuknya, Ntahlah bagaimana keadaan Jongin sekarang, ia tak sanggup hanya sekedar bergerak, mungkin ia akan segera orgasme. Jongin Jongin…

Ia bergerak dengan pelan dan teratur, sungguh, mereka merasakan nikmat tiada tara, vagina Kyungsoo menjepit kuat junior Jongin, wajah Jongin memerah antara sakit, nikmat dan bahagia tentu saja.

"Jongin… Jongin… Jongin… ah.. ah… ah…" Kyungsoo hanya mampu mengucap nama Jongin disela desahan-desahan yang mengalun disetiap kerja tubuh Jongin diatasnya.

Mata Kyungsoo tak pernah lepas dari sosok seksi Jongin, namjanya benar-benar tampan dengan dahi dan dada bidang ber-abs nya yang mengkilat karena keringat. Sungguh menaikan birahi seksnya hanya karena melihat tubuh Jongin.

Pergerakan Jongin semakin cepat, kuat, bergairah dan menuntut. Kyungsoo tak sanggup lagi, sepertinya gelombang kenikmatan itu akan datang kembali.

"Jongin… uggh.. aku sudah… ahh.. tak tahan…"

Jongin menarik tubuh berisi Kyungsoo dan mendudukkan di pangkuannya. Tanpa melepas kontak intim mereka tentunya.

Dalam keadaan seperti ini, junior Jongin semakin tertanam dan menyentuh spot kenikmatan Kyungsoo, membuat gadis itu pusing dan tak tertahankan.

"Jongin…ahh…" Kyungsoo memeluk leher Jongin, erat, ia butuh tumpuan, ia tak kuat menopang tubuhnya sendiri, ia butuh tumpuan, Jonginnya…

Tangan Jongin melingkar erat mengitasi pinggang Kyungsoo, bibir tebalnya kembali mengecup mesra nipple tegang Kyungsoo, melahap sebisanya payudara sintal itu, gemas.

"Jongin… tak bisa… aku mau… ughhh… keluar…" Kyungsoo menutup matanya merasakan cairannya akan keluar kembali.

"Bersama ku sayang, jangan meninggalkan ku" Pergerakan Jongin begitu cepat hingga mereka mencapai titik kenikmatan bersama.

"Jongin…!"

"Baby…"

Suara mereka melebur menjadi satu, begitu pula cairan cinta mereka menjadi satu di tubuh Kyungsoo.

"Hoshh… ah… ah…haahhh…"

Helaan nafas berat akibat kegiatan panas mereka terdengar di kamar Jongin, mereka masih dalam keadaan berpelukaan dengan Kyungsoo dipangkuan Jongin.

Tiba-tiba mereka menjadi gugup dan sungkan untuk memandang satu sama lain, Jongin menunduk dan Kyungsoo yang memalingkan mukanya kemana saja asal tidak ke wajah tampan Jongin.

Namun masih dengan mata yang saling melirik karena malu dengan hal yang baru mereka lakukan mungkin. Sungguh imut…

"Baby?" Jongin berusaha memulai percakapan dan memandang wajah indah yeoja dipangkuannya, ia namja jangan jadi pengecut.

"Iya…" Akhirnya Kyungsoo memandang Jongin, dengan pipinya yang merona bak mawar.

Jongin tersenyum tulus, Kyungsoo membulatkan matanya terkejut, walau Jongin sering tersenyum lembut padanya, namun senyum ini terasa beda untuknya. Ia seakan rela untuk bercinta dengan Jongin kapanpun hanya sekedar untuk mendapat senyum seperti ini dari namjanya.

"Aku mencintaimu Do KyungSoo, jangan pernah sekalipun untuk mencoba meninggalkan ku" Jongin berujar tegas dan gentle dengan suara serak seksinya mengalun di telinga Kyungsoo.

Yeoja itu…

Ia menitikkan air matanya kembali.

"Hiksss…. Huu… Waaaaa…. Hiksss" Tangisnya pecah meraung tak terkendali. Bahagia.

"Aku… sangat… mencintaimu… hiksss… Kim JongIn" Yeoja itu berusaha berkata di sela tangisnya.

Jongin tersenyum menghapus airmata Kyungsoo, inikah yang disebut orang mencintai dengan tulus? Airmata ini bukan kebohongan, Airmata perwujudan dari perasaan Kyungsoo untuknya. Bahkan airmata ini menggantikan tangisnya yang kusam karena terhempas waktu mengingat takdir yang menghantuinya.

Mereka berdua saling melempar senyum karena perasaan sesak bernama cinta itu telah diungkapkan, mereka tersenyum, berdua, sangat indah.

Saat ini Jongin memiliki Kyungsoo, salah satu alasannya… alasan ia masih ada di dunia…

Alasannya untuk hidup…

TBC

Yeclo's chat:

Overdyosoo : Aniya, aku berusaha akan menyelesaikannya. Gomawo. Fighting!

Ruixi1: Full Kaisoo di chap ini, Hunhan? Tunggu ne…

Chocohazelnut07 : Dia memang pemaksa, tapi ia mungkin pesonanya… Teman hidup Jongin sepertinya? Haha… Chanbaek, Hunhan, Fighting!

Babyjunma: Fighting! Gomawo ne

Kim YeHyun: Ne, sudah update, selamat membaca

Daebaektaeluv : Sepertinya yang baru rilis Kaisoo ne,, ditunggu ne,, Gomawo. Krisho ditunggu…

BlackXX: Ne, Gamsahamnida… Tak apa, selamat membaca

Humaira9394 : Hahaha, tak apa. Gomawo ne, selamat membaca

LianimiDYO : Ne, sudah update, selamat membaca

JonginDO : Ne, selamat membaca

Lovesoo : Di chap ini full Kaisoo, semoga dapat terobati

Dhyamanta1214 : Semangat, Gomawo ne… Full Kaisoo .. hehehe

Kaisooshipp : Gomawo nee

Jongsoo : Gomawo nee

NopwilineKaiSoo : Sesama semester tua. Fighting! Aku datang… selamat membaca…

Elove185: Hunhan ditunggu, sudah update, Gomawo

Kim fany : Ne, sudah dilajut, Gomawo…

Jdcchan : Jati diri mereka masih dirahasiakan. Sudah diupdate…

Sehunsdeer : Adiknya Baek? Ditunggu ya… Selamat membaca

Miss Wuhan: Di chap ini mereka NC an author nim. Gomawo ne… Sudah di update…

Yeclo's note:

Sebelumnya saya minta maaf karena lama sekali mengupdate ff ini, terimakasih kepada reader yang setia menunggu…

Terimakasih sebesar-besarnya #bowbow

Saat ini saya sedang skripsi dan melanjutkan kembali ff ini. Semangat!

Fict ini terinspirasi dari Film, Drama, Anime, Music Video dan Music's lyric.

Maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan

Terimakasih kepada semua yang telah mereview dan memberi semangat

Salam kenal…