TITLE : Enchanté

GENRE : Romance, Humour

LENGTH : 9 of (..)

RATE : T+

CAST : Wonwoo (GS), Mingyu, Jungkook (GS)

DISCLAIMER : semua tokoh punya YME, yang saya punya Cuma plot dan typo yang bertebaran di ff gaje ini. Jika ada kesamaan plot, nama tempat, dll. Itu semua murni Cuma kebetulan. Karena saya bikin ff ini karena dapat inspirasi pas liat Mingyu lagi fansign..

SYNOPSIS : Jeon Wonwoo yang mencintai keluarganya demi apapun dimintai tolong agar bisa meminta tanda tangan seorang idola yang sedang naik daun oleh adiknya yang sakit. Tapi bagaimana jika ditengah acara fansign itu ia malah salah orang? Ia salah mengenali sang idola yang malah membuat semuanya jadi runyam!

This is a Genderswith. Please just close the tabs if you don't like any of 'genderswitch'. Please do not bash. I was just write my wild imagination into this absurd ff please enjoy

.

.

.

"wonwoo-ya, ayo turun sayang, kita sarapan bersama!" panggil nyonya Jeon pada anak gadisnya yang berada di kamarnya.

Wonwoo kemudian keluar dari kamarnya dengan senyum menghiasi wajahnya. Riasannya juga tidak seperti biasa.

Jika biasanya Wonwoo akan memilih warna yang sedikit dewasa, maka kali ini ia memilih untuk menghiasi bagian matanya dengan winged eyeliner tipis agar matanya terlihat lebih indah.

Tulang pipinya yang tinggi juga ia polesi dengan sapuan tipis blush on berwarna pink, dan tak luput ia olesi bibirnya dengan liptint berwarna pink peach, membuatnya terlihat seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.

"wonwoo sayang, ada apa denganmu?" tanya nyonya Jeon heran melihat perubahan pada anaknya.

"ada apa eomma? Tidak ada apa-apa denganku. Apa ada yang aneh?" tanya Wonwoo mulai menungkan susu kedalam gelasnya.

"hm… aniya, hanya saja kau terlihat.. berbeda."

Wonwoo hanya manaikkan bahunya mendengar perkataan sang eomma.

"Wonwoo-ya, apa kau sedang jatuh cinta?" tanya sang ibu membuat Wonwoo tersedak susu yang sedang ia minum.

"ah! Pria tampan teman lamamu itu bagaimana? Apa kalian masih berhubungan? Siapa namanya? Eomma lupa." tanya nyonya Jeon tanpa peduli dengan keadaan anaknya yang sedang mengelap sisa bekas susu diujung bibirnya.

"namanya Kim Mingyu, eomma." Jawab Wonwoo asal.

"ya,ya. Kim Mingyu. Wonwoo-ya, apakah kau berniat menjalin hubungan dengannya?" tanya nyonya Jeon lagi, membuat Wonwoo lagi-lagi mendelik malas.

"molla" jawab Wonwoo. Ia masih belum mau bercerita pada eommanya soal hubungan antara ia dan Mingyu. Namun jika saatnya sudah tepat, Wonwoo pasti akan segera memberitahu ibunya.

"ibu tidak keberatan jika punya calon menantu seperti itu. Ah! Wonwoo-ya! Nanti kau undanglah ia makan malam bersama kita disini. eomma mau mengenalnya lebih lanjut." Lanjut nyonya Jeon santai sambil mulai menyendokkan nasi keatas piringnya sendiri.

"ish, eomma! Kenapa harus mengundangnya kesini?" tanya Wonwoo jengah.

"ya! Memangnya kenapa? jelas-jelas pria itu tertarik padamu. Kesempatan seperti ini tidak boleh disia-siakan, Wonwoo-ya."

"sayang, jika pria seperti nak Mingyu saja kau tolak, maka kau mau mencari yang seperti apalagi? Jangan terlalu pemilih, anakku yang cantik.."

"saat eomma seusiamu, eomma sudah melahirkan dirimu! Sudah waktunya kau memikirkan soal pendamping sayang…" celoteh nyonya Jeon membuat Wonwoo menghela nafasnya malas.

Akhirnya demi menghentikan omelan nyonya Jeon, Wonwoo berkata,

"gaeurae! Malam ini aku akan mengundangnya makan disini! Sudah cukup, kan eomma?" tawar Wonwoo, membuat nyonya Jeon tersenyum senang.

"anakku yang pintar.."

.

.

.

"gyu!" panggil Seungkwan kepada Mingyu yang sedang berada di dapur dorm mereka. Biasa, membuatkan kesebelas orang itu sarapan adalah rutinitas harian Kim Mingyu jika tidak ada kerjaan.

"apa?" tanya Mingyu sambil terus menggoreng telurnya.

"wanitamu kemarin, apa dia bisa memasak?" tanya pria berpipi gembul itu lagi.

Mingyu sekilas mengalihkan pandangannya kepada Seungkwan, namun ia segera kembali focus dengan masakannya.

"molla. Lagipula dia BELUM jadi wanitaku." Jawab Mingyu.

"yah, sama saja. Dia akan segera menjadi milikmu." Timpal Vernon yang juga berada disana.

"yah, semoga saja. Lagipula memangnya ada apa jika dia bisa memasak?" tanya Mingyu, kemudian membawa piring berisi banyak sekali telur goreng ciptaan chef Mingyu keatas meja makan.

"aninde. Aku hanya penasaran. Jika nanti kalian benar-benar serius dengan hubungan kalian,dan melanjutkan ke jenjang pernikahan, kira-kira siapa yang akan memasak?" tanya Seungkwan sambil menyendokkan seporsi telur goreng keatas piring milik Vernon.

"manhi mogo." Ucap Seungkwan pada Vernon.

"terima kasih, hyung" ucap Vernon pada Seungkwan sambil memamerkan gigi putihnya yang rapi.

MIngyu hanya tersenyum melihat interaksi kedua temannya itu. Mereka berdua memang sudah seperti ibu dan anak. Atau malah istri dan suami?

"tidak masalah jika harus aku yang memasak setiap hari. Aku bukan orang yang terlalu peduli dengan hal seperti itu. Lagipula jika aku yang memasak, bukankah itu berarti aku sudah membantu pekerjaan rumah tangganya?" jawab Mingyu mantap, kemudian beranjak duduk didepan Seungkwan.

"huwaa… Gyu-ya, jika aku adalah perempuan, maka bisa dipastikan aku akan mengantri paling depan untuk menjadi istrimu." Ujar Seungkwan dengan mata berbinar-binar, membuat Mingyu tertawa geli.

"lalu, kalau soal pekerjaan bagaimana? Apa kau akan terus membiarkannya bekerja?" kali ini Vernon yang bertanya, sambil terus mengunyah telur gorengnya.

Mingyu kelihatan berpikir sebentar. Kemudian tersenyum.

"kalau itu aku tidak mau. Untuk apa ia bekerja? Akulah yang akan bekerja, mencari uang untuk keluarga kami. Tugas istriku nanti hanya mengurus rumah, memastikan aku dan anak-anakku terawat dengan baik."

Mendengar ucapan Mingyu, Vernon, Seungkwan, serta beberapa member lainnya yang baru saja muncul bertepuk tangan.

"choa..! choa..! uri Mingyu sangat gentle! Aku akan mengikuti langkahmu dalam menjadi suami yang baik!" ujar Seokmin dengan senyum girangnya.

"Gyu! Jika saja aku perempuan, jadikan aku istrimu!" ucap Jisoo.

"hebat sekali, pria jantan!" kali ini Jun sambil menepuk pundak Mingyu, membuat sang pria yang sedang dielu-elukan tersenyum geli.

"ahk! Bagaimana kalau siang ini kita ajak dia makan siang bersama! Bagaimana?" usul Soonyoung yang segera diangguki setuju oleh yang lain.

"maja!"

"gyu! Cepat hubungi gadismu!" paksa yang lain, membuat Mingyu tidak bisa mengelak. Ia akhirnya mengeluarkan ponsel dari kantung celananya dan menekan angka satu di fast dialnya.

"yeoboseyo?" sapa Mingyu mulai mengubungi Wonwoo. Para member lain berusaha mendekatkan kupingnya dengan Mingyu, berusaha mencuri dengar. Padahal mereka hanya tinggal menyuruh Mingyu untuk meloudspeaker ponselnya.

"…"

"ah, begini. Aku… dan member lain berencana untuk mengajakmu makan siang bersama hari ini. Bagaimana? Apa kau bisa?

"…"

"ah, benarkah? Baiklah kalau begitu.."

"…"

"baiklah, sampai jumpa nanti. Aku akan memberi tahumu lagi sisanya lewat message. Have a good day."

"…"

Mingyu memutuskan sambungannya, kemudian mengulum senyum manis, membuat semua tahu jawabannya.

"ish. Menggelikan."

"ya! Jangan bertampang seperti itu! Kau kelihatan seperti stalker!"

"kau puas? Berterima kasihlah pada kami, baboya!" ucap beberapa member lain melihat tingkah Mingyu yang kelihatan sangat senang bisa mengajak Wonwoo makan siang bersama.

.

.

.

"Wonwoo-yah, hari ini aku bosan sekali makan di kantin. Mau mencoba café di seberang jalan?" tanya Eunji dengan melongokkan kepalanya kedalam kubikel milik Wonwoo.

"ah, mian. Hari ini aku tidak bisa makan siang bersama kalian. Aku sudah memiliki janji terlebih dulu. Lain kali saja, oke?" tolak Wonwoo sambil memasang wajah menyesalnya.

"mwo? Sejak kapan kau punya teman makan selain kami? Siapa itu? Pria? Kenalkan pada kami, Wonwoo-ya!" cecar Eunji. Kini gadis itu malah duduk diatas meja kerja Wonwoo dan melipat kedua tangannya didepan dada.

"a-aniya. Bukan siapa-siapa. Nanti, aku pasti mengenalkan kalian jika waktunya sudah tepat." Wonwoo mengucapkannya sambil mengalihkan pandangannya ketempat lain. Ia tidak berani memandang wajah Eunji.

Eunji menghela nafasnya, namun kemudian tersenyum. Ia tidak ingin memaksa Wonwoo untuk bercerita. Biarkan saja wanita itu yang menceritakannya sendiri.

"baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu, ya. Si tua Bangka sedang marah-marah sejak tadi."

"memang kapan dia tidak pernah marah?" tanya Wonwoo mengejek manajernya yang galak.

Saat Eunji sudah meninggalkan kubikel Wonwoo, ponsel gadis itu tiba-tiba berdering. Sebuah pesan masuk. Dari Mingyu.

From: stalker
hari ini kita akan makan siang di restaurant di daerah Gangnam. Meetup disana atau aku jemput?

Membaca pesan dari Mingyu, mau tidak mau Wonwoo tersenyum geli. Namun belum sempat ia mengetikkan balasan, sebuah pesan dari Mingyu kembali muncul.

From: stalker
kujemput saja, ya. Hehe

Kini Wonwoo benar-benar tersenyum. Ia merasa seperti anak remaja yang sedang dalam masa pendekatan dengan lawan jenis. Ups, wonwoo memang sedang dalam masa pendekatan. Meski ia sudah tidak remaja.

Wonwoo juga baru sadar. Ia masih menamai kontak Mingyu dengan nama 'stalker'. Merasa tidak nyaman, akhirnya ia mengganti nama kontak Mingyu dengan nama 'Mingoo'

Ia melakukan demikian agar orang-orang tidak curiga. Jika Wonwoo menamai kontaknya dengan nama 'mingyu', maka teman-temannya pasti bertanya, apakah Wonwoo memilki teman bernama Mingyu.

To: Mingoo
meetup saja. Berikan aku alamatnya. Aku bawa mobil sendiri.

tidak sampai satu menit, pesan balasan dari MIngyu sudah tiba.

From: Mingoo
yahh.. padahal aku ingin menjemputmu. Seperti yang dilakukan pria pada wanitanya.. tapi tidak apa jika kau tidak mau, aku tidak memaksa. Ini alamatnya. Teheran-ro, Gangnam-gu. 397.

Dengan secepat kilat, Wonwoo membalas pesan dari Mingyu. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia membalas pesan tersebut dengan seulas senyum di bibirnya.

To: Mingoo
lain kali saja ya. See u.

From: Mingoo
see u manis.

Diakhiri pesan dari Mingyu dengan emoticon berbentuk smile dan love, membuat Wonwoo mendecih geli, namun juga tersenyum malu.

.

.

.

"gyu, dimana wanitamu?" tanya Seungkwan sambil membolak-balik buku menu. Jam makan siang sudah lewat sejak lima belas menit yang lalu, namun batang hidung Wonwoo bahkan belum terlihat disana.

"bersabarlah sedikit. Ini jam makan siang. Jalanan pasti macet." Ujar Soonyoung membantu Mingyu yang sebenarnya juga terlihat sedikit kalut, takut Wonwoo membatalkan janjinya.

"uhm. Aku jadi penasaran. Wanita seperti apa yang Mingyu sukai sampai seperti ini. Wonshik hyung bilang ia cukup cantik." Hwang Taeoh, manajer Seventeen mereka yang lain kali ini turut dalam acara makan siang mereka. Selain karena mereka akan mengikuti acara rekaman, juga karena rasa penasaran akan gossip yang menyebar dikalangan member sebong bahwa Mingyu memiliki kekasih.

"uh! Hyung! Dia bukan cukup cantik lagi, tapi memang sangat cantik!" puji Seungkwan sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

Mingyu mendelik mendengar ucapan temannya itu,

"ya! Dari kemarin kuperhatikan kau yang paling bersemangat saat membicarakannya, apa kau juga tertarik pada gadisku?" tanya Mingyu sengit, namun hanya dibalas tatapan geli oleh pria chubby itu.

"yaish! Kau ini. Wonwoo-ssi memang cantik, lalu memangnya kenapa? bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa kau belum resmi menjadikannya milikmu? Hey man, lagipula sebelum cincin meingkar di jari manis, gadis itu masih milik umum, sah-sah saja jika aku menyukainya." Ucap Seungkwan tanpa peduli, dan malah terkekeh mendengar ucapannya sendiri.

Sebenarnya Mingyu kesal, namun ucapan Seungkwan ada benarnya juga. Membuat MIngyu ingin secepatnya menjadikan Wonwoo miliknya seorang.

"neo! Awas saja, kau ya! Besok pagi tidak ada jatah sarapan untukmu!" ancam Mingyu sambil menuding wajah gembul Seungkwan.

"curang! Kenapa ancamannya selalu saja jatah makanan! Tidak kreatif! Hansoliiie.. lihat, MIngyu tidak mau memberiku makan." Seungkwan malah mengadu pada Vernon yang sedari tadi duduk disampingnya, namun tidak mengatakan apa-apa.

"gwenchana hyung. Aku yang akan membuatkanmu makanan." Ucap Vernon menenangkan sambil menepuk bahu Seungkwan.

Seungkwan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, kemudian ia terkekeh.

"ah, kalau begitu.. lebih baik tidak usah, hehehe… kau ingat? Terakhir kali kau ingin membuatkanku ramen, airnya direbus hingga menguap habis dan pancinya gosong! Lebih baik aku beli delivery saja. Hehe..."

"aih hyung! Itu kan kejadian yang sudah lama sekali! Kenapa masih dibahas terus!" percakapan ini berlanjut menjadi perdebatan antara Seungkwan dan Vernon yang ngotot ingin membuatkan Seungkwan sarapan, hingga suara lembut yang agak serak menyapa mereka.

"selamat siang.."

Seketika semua mata tertuju ke pintu masuk. Jadi untuk siang ini mereka memilih untuk makan siang di restoran jepang yang menyediakan ruangan pribadi yang biasa digunakan untuk menjamu tamu penting, sehingga privasi mereka tidak terganggu.

"ah! Wonwoo-ssi!" teriak Hao dari ujung ruangan. Ia kemudian berjalan menghampiri Wonwoo, kemudian menuntun gadis itu untuk duduk dibangku yang telah disediakan, yaitu disamping Mingyu.

Kini mereka semua sudah berkumpul didepan meja makan berbentuk lingkaran besar. Mereka semua terdiam, hingga suara manajer Taeoh memecah keheningan.

"ah, annyeong haseyo. Namaku Hwang Taeoh. Aku adalah manajer kedua Seventeen. Sebelumnya kau pasti sudah bertemu Wonshik hyung, kan? Ia adalah sunbaeku. Aku sudah mendengar banyak tentang Wonwoo-ssi. Salam kenal." Ucap Taeoh sambil menyodorkan tangan kanannya, mengajak Wonwoo untuk bersalaman.

"ne, annyeong haseyo. Aku Jeon Wonwoo. Aku temannya Mingyu. Anda pasti sudah mendengar gossip-gosip miring tentang saya, bukan? sungguh perkenalan yang kurang menyenangkan. Hehehe…" balas Wonwoo.

"eyy.. kau temannya Mingyu saja? Tidak mau jadi teman kami?" tanya Seungkwan sambil mempoutkan bibirnya lucu.

"heum! Wonwoo-ssi. Mulai sekarang kau juga teman kami! Jangan sungkan!" kali ini Soonyoung yang dibalas anggukan semua member.

"ah, rasanya aku ingin turut memasukan Wonwoo-ssi kedalam grup, jadi kita ber-13. Bagaimana? Pasti menarik." Ucap Seungcheol yang dibalas dengan kekehan tanda setuju semua member, namun tidak dengan Taeoh. Pria itu malah melempar Seungcheol dengan sebutir kacang.

"ya! Pria gila! Kalian itu boyband! Bagaimana bisa Wonwoo-ssi masuk kedalam grup? Mau mengubahnya menjadi laki-laki seperti di drama?" cecar Taeoh, namun dibalas dengan dengusan malas Seungcheol yang kemudian mengusak kepalanya yang baru saja dilempari kacang.

"ish! Aku kan hanya bercanda! Kau itu terlalu banyak menonton drama hyung! Yasudah kita pesan saja makanannya. Aku sudah lapar."

Akhirnya mereka memilih untuk memesan makan dan tenggelam dalam acara makan siang mereka yang tentu saja dipenuhi canda dan tawa yang dilontarkan oleh setiap member, termasuk Wonwoo.

"terima kasih, kau mau datang." Ucap Mingyu pada Wonwoo sebelum mereka berpisah untuk kembali menjalani aktifitas masing-masing.

"seharusnya aku yang berterima kasih. Kalian sudah sangat baik mau mengundangku yang orang asing ini makan bersama kalian." Ucap Wonwoo malu-malu.

Mingyu tidak suka mendengar ucapan Wonwoo, ia kemudian mencubit pipi Wonwoo, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.

"jangan bicara begitu. Memangnya kau orang lain? Tidak dengar tadi kau sudah mereka anggap teman? Lagipula kau itu calon kekasihku, sama sekali bukan orang asing!" ucap Mingyu membuat Wonwoo melongo sebagai responnya.

Entahlah, semenjak mengenal Mingyu, respon Wonwoo semakin lambat.

"ya! Cheesy sekali kata-katamu!"

"ish! Aku bukan sedang menggombal, tapi itu memang kenyataan!"

Wonwoo hanya menghela nafasnya, kemudian ia baru teringat suatu hal.

"ah! Aku baru ingat. Malam ini, apakah kau sibuk?" tanya Wonwoo sambil mengigit bibirnya malu-malu.

"sepertinya tidak, wae?"

"itu.. euhm.. sebenarnya.. eomma mengundangmu untuk makan malam dirumah. Apa kau keberatan?" tanya Wonwoo sambil menundukkan wajahnya, tidak berani menatap wajah Mingyu yang sedang menatapnya intens.

Tentu saja tanpa sepengetahuan Wonwoo, wajah Mingyu berubah menjadi sangat cerah. Ia bahkan tersenyum sumringah.

"mwo? Keberatan? Tentu saja tidak! Calon ibu mertua mengundangku, tentu saja aku harus datang! Pukul berapa aku harus ke rumahmu?" tanya Mingyu membuat wajah Wonwoo merona malu mendengarnya.

"ish, jangan bicara ibu mertua begitu! Kau ini.."

"aku tidak peduli, pokoknya ibumu adalah calon ibu mertuaku, titik!" Mingyu tetap pada pendiriannya, membuat Wonwoo hanya memutar matanya malas.

"ya, terserah kau sajalah.. bagaimana kalau jam delapan? Kau bisa?" tanya Wonwoo sambil melihat jam di pergelangan tangannya.

"jam delapan? Kedengarannya bagus. Biasa aku sedang lapar-laparnya saat jam segitu. Baiklah, aku akan datang!" Mingyu berkata dengan penuh semangat, bahkan ia tidak sadar bahwa orang-orang kini mulai menatap curiga kearah mereka akibat suara keras Mingyu barusan."

"sstt.. jangan keras-keras! Baiklah kalau begitu! Aku pergi dulu! Sampaikan salamku pada yang lain! Bye-bye.." Wonwoo kemudian beranjak pergi, meninggalkan Mingyu terlebih dulu, tentu saja. Karena akan mencurigakan jika mereka kelihatan jalan berdua di sebuah restaurant, sedangkan member lainnya sudah pergi lebih dulu menggunakan van mereka.

.

.

.

"eomma" panggil Jungkook pasda nyonya Jeon yang sedang membaca majalah di sofa kamar rumah sakit.

"heum?"

"apa eomma tahu ada seorang pria yang akhir-akhir ini dekat dengan eonni?" tanya Jungkook pelan. Ia tidak ingin terlalu membuat kehebohan.

"arra. Pria bernama Kim Mingyu itu, kan?" jawab nyonya Jeon masih sibuk dengan majalahnya.

"menurut eomma bagaimana?"

Pertanyaan Jungkook kali ini berhasil membuat nyonya Jeon mengalihkan pandangannya dari majalah tersebut.

"bagaimana apanya? Tentu saja pria itu tampan, ia juga kelihatannya pria yang baik. tapi eomma terserah pada eonnimu saja. Yang penting ia bahagia." Jawab nyonya Jeon kembali membalikan halaman majalah yang ada dihadapannya.

"eomma menyetujui jika pria itu bersama dengan eonni?"

Nyonya Jeon menghela nafasnya pelan, kemudian menutup majalahnya dan berjalan menuju brangkar Jungkook.

"semua terserah kepada eonnimu, sayang. Selama pria itu bisa membuat eonnimu bahagia, dan ia tidak menyakiti eonnimu, maka eomma akan menerimanya." Ujar nyonya Jeon lembut sambil mengelus kepala Jungkook.

"kalau kau bagaimana? Kau juga sudah mengenal teman eonnimu itu?" tanya nyonya Jeon terus memeluk tubuh mungil anak bungsunya.

"euhm." Anggukan Jungkook jadi jawabannya.

"lalu bagaimana?"

"heum.. awalnya aku tidak terlalu menyukainya. Namun sekarang.. sama seperti eomma, yang penting eonni bahagia, maka aku akan mendukung mereka."

Nyonya Jeon terus mengelus sayang pundak Jungkook. Ia sesekali mengecupi puncak kepala putri manisnya.

"anak pintar."

Melepas pelukannya pada Jungkook, nyonya Jeon berkata pada Jungkook,

"Jungkookie, kelak kau juga, temuilah pria yang baik, yang mencintaimu apa adanya, ya!" nasehat nyonya Jeon untuk Jungkook yang hanya dibalas anggukan dan binary mata menggemaskan gadis itu.

.

.

.

Ini bukan pertama kalinya Wonwoo berkutat didapur, namun entah mengapa hari ini gerakannya di dapur terasa lebih menyesakkan.

Mengingat hasil masakannya akan dicicipi oleh Mingyu – yang notabene seorang idol yang pasti sering makan di restaurant ternama.

Membuat Wonwoo merasa kecil hati dengan hasil masakannya, meskipun sang ibu sudah berkata bahwa masakan Wonwoo hari ini adalah yang paling enak yang pernah ia buat.

Tadinya Wonwoo berniat untuk membeli makanan jadi saja, tetapi kemudian ia berpikir bahwa, sesekali tidak ada salahnya membalas budi baik seseorang. Pasalnya, Wonwoo sudah menerima makan siang gratis hari ini, jadi ia setidaknya harus membalas perlakuan baik Mingyu.

Wonwoo kini sudah rapi, ia bahkan sudah menata makanannya diatas meja makan. Nyonya Jeon juga sudah menunggu Mingyu sejak tadi, namun pria itu belum juga datang.

"sayang, apa kau yakin tidak salah mengucapkan jam nya?" tanya nyonya Jeon dari ruang tamu pada Wonwoo.

"aniya eomma. Aku sudah mengatakan padanya jam delapan. Mungkin ia sibuk. Bersabarlah sedikit." Jawab Wonwoo.

Tepat setelah berkata demikian, bel pintu rumah Wonwoo berbunyi, membuat hati Wonwoo sesungguhnya berdebar sangat keras.

"anyyeong." Sapa Mingyu saat melihat Wonwoo membuka pintu untuknya.

"hai. Silahkan masuk." Wonwoo mempersilahkan Mingyu masuk.

Mingyu segera masuk kedalam rumah dan menyapa nyonya Jeon. Ia bahkan memberikan nyonya Jeon sebuket bunga berwarna-warni yang luput dari pandangan Wonwoo.

"astaga, Mingyu-ssi. Ini sangat manis. Terima kasih banyak." Ucap nyonya Jeon malu-malu.

"animnida, ahjumeoni. Anda pantas mendapatkan yang lebih dari pada ini."

"apakah hanya aku yang mendapatkannya? Wonwoo bagaimana?" goda nyonya Jeon pada Mingyu.

Dengan seringaian khasnya, Mingyu merogoh sesuatu dari dalam jaketnya, kemudian berjalan mendekati Wonwoo, dan memberikannya pada gadis itu.

"yang ini untukmu. Sekuntum mawar merah yang sedang merekah indah untuk perempuan yang menggenggam hatiku." Bisik Mingyu tepat disamping telinga Wonwoo.

Wonwoo menerima bunga dari Mingyu malu-malu. Wajahnya kini merah hingga ke telinga, membuat Mingyu sangat senang. Ia bahkan ingin mengabadikan wajah Wonwoo saat ini menggunakan kameranya.

"aigoo.. pria yang romantis sekali.. ah, sudahlah. Bagaimana kalau kita mulai acara makan malamnya?" ucap nyonya Jeon memecah keheningan.

"ah, eomma benar. Mingyu, ayo makan." Ajak Wonwoo pada Mingyu, kemudian beranjak menuju ruang makan.

"silahkan dinikmati. Kau tau Mingyu-ssi, ini Wonwoo sendiri yang membuatnya." Ucap nyona Jeon membuat Wonwoo lagi-lagi tersipu malu.

"woah.. jeongmal? Gomawo, Wonwoo-ya, aku akan makan dengan lahap kalau begitu."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Wonwoo segera menyendokkan seporsi nasi kedalam piring dan memberikannya pada Mingyu.

"cha. Makanlah." Ucap Wonwoo.

Wonwoo bahkan mengambilkan beberapa sendok lauk dan memberikannya kedalam piring Mingyu, membuat nyonya Jeon yang sedari tadi berada disana mengulum senyum penuh arti.

"aigoo.. kalian sangat manis. Persis seperti aku dan ayah Wonwoo saat baru pertama menikah dulu.." ucap nyonya Jeon membuat Mingyu terkekeh mendengarnya, sedangkan Wonwoo merona malu.

"eomma!"

"woah.. jinjjayo, ahjumeoni? Kalau begitu apakah aku dan Wonwoo harus mengikuti jejak ahjumeoni dan abeonim?"

"eum! Geuromyo! Kulihat kau begitu serasi bersama dengan Wonwoo. Dan ah! Jangan panggil ahjumeoni terus! Panggil eomoni, ne?" pinta nyonya Jeon santai sambil menyendokkan nasi kedalam mulutnya.

"ne, eomoni."

"hum! Makananya sangat enak. Kau sangat pintar, Wonwoo-ya." Puji Mingyu setelah menyendokan makanan kedalam mulutnya sendiri.

"ish, jangan suka berbasa-basi. Aku tidak suka." Wonwoo malah memalingkan wajahnya kearah lain, karena ia pikir Mingyu hanya berusaha sopan.

"aku tidak basa-basi, aku benar-benar suka masakanmu." Ucap Mingyu penuh semangat dengan mulut masih penuh makanan.

Namun sepertinya Mingyu memang tidak berbohong, dilihat dari cara makannya dan porsi yang ia ambil, membuat Wonwoo mendesah lega mengetahui MIngyu menyukai masakannya.

"aahh.. terima kasih makanannya." Ujar Mingyu kekenyangan sambil mengelus perutnya.

"kau kenyang?" tanya Wonwoo sambil membereskan piring yang ada disana."

"tentu saja aku kenyang. Aku makan dua porsi!" jawab Mingyu.

Nyonya Jeon hanya tersenyum melihat tingkah kedua anak muda ini. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan ruangan dan memberikan waku bagi Wonwoo dan Mingyu untuk berduaan.

"kau benar-benar pandai memasak, Wonwoo-ya." Puji Mingyu dibelakang Wonwoo yang sedang mencuci piringnya.

"sudah jangan memuji terus. Aku tidak akan melakukan ini jika eomma tidak memintaku." Ucap Wonwoo agak ketus. Namun Mingyu rasa ia tidak peduli dengan nada suara Wonwoo.

Karena ia malah menumpukan dagunya pada pundak Wonwoo.

"kenapa tidak? Jika kita sudah resmi nanti, aku akan memintamu untuk membuatkanku makanan setiap hari."

Saat ini Mingyu baru bisa menumpukan dagunya pada pundak Wonwoo, meski sesungguhnya ia ingin memeluk tubuhnya. Namun Mingyu sudah harus berpuas diri dengan itu untuk sekarang ini.

"ish, memangnya aku pelayanmu?"

"ya! Kau itu bukan pelayanku, tapi istriku nanti! Memangnya ada, istri yang tidak mau memasakkan suaminya makanan?" cecar MIngyu Karena kesal dengan ucapan Wonwoo barusan.

Wonwoo juga kesal dengan ucapan Mingyu, namun ia tidak mengatakan apa-apa selain membalikan tubuhnya dan menatap Mingyu dengan tatapan menyeramkan.

"ah wae! Kenapa menatapku seperti itu?! Kau itu kan memang calon istriku! Memangnya kau tidak mau jadi istriku?" tanya Mingyu menggoda Wonwoo.

"kepedean sekali kau jadi orang."

Mingyu menyeringai dibelakang Wonwoo. Ia kemudian memberanikan diri untuk menyelipan kedua tangannya diantara tangan Wonwoo, melingkari perut ramping gadis itu dengan tangannya, dan memeluk Wonwoo dari belakang.

"kau yakin? Pria sepertiku hanya ada satu didunia, loh.. dan yang bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi istriku itu hanya kau, diantara jutaan wanita di dunia." Goda Mingyu kembali meletakan dagunya diatas pundak Wonwoo.

Wonwoo merasa risih, ia berusaha melepaskan tangan MIngyu dari perutnya, namun usahanya nihil. Pria itu malah mengencangkan kaitan tangannya.

"Kim Mingyu, lepaskan tanganmu dari perutku atau isi makananmu keluar lagi karena perutmu aku tinju?" ancam Wonwoo dengan suara rendahnya, membuat Mingyu tak ayal turut seram pada gadis itu. Ia akhirnya memilih untuk menuruti keinginan Wonwoo.

"baiklah, baiklah. Aku lepaskan. Puas sekarang?" mingyu kemudian beranjak menuju sofa ruang tamu, menunggu Wonwoo selesai melakukan pekerjaannya.

Setelah Wonwoo selesai melakukan pekerjaannya, Mingyu berada di rumah Wonwoo selama kurang lebih dua jam. Tanpa disangka, ternyata topic obrolan mereka bisa tersambung, bahkan cenderung bisa lupa waktu jika sudah mengobrol.

Hingga Wonwoo yang sedang menguap menahan kantuk membuat Mingyu tersadar bahwa ia sudah harus pulang malam ini.

"ah, sudah malam. Aku harus segera kembali. Kau juga, istirahatlah. Lain kali aku akan datang lagi." Ucap Mingyu bangun dari duduknya.

"ah, kau benar. Ini sudah pukul sebelas malam. Baiklah kalau begitu."

Wonwoo mengantarkan Mingyu hingga ke pintu depan. Hari ini penyamaran Mingyu hanya berupa topi berwarna biru tua dan jaket berwarna senada, membuat penampilannya masih bisa diketahui.

"cepatlah pulang. Hati-hati dijalan. Jangan mengebut. Kalau mengantuk berhentilah sebentar dipinggir jalan." Nasehat Wonwoo pada Mingyu.

Merasa gemas akan tingkah Wonwoo yang sudah berlagak seperti istrinya, Mingyu mengusak gemas surai gadis itu. Ia kemudian menggenggam tangan Wonwoo.

"ne,ne. aku pulang dulu ya. Annyeong. Aku akan menemuimu lagi nanti. Jaljja." Mingyu kemudian masuk kedalam mobilnya, melesat pergi.

Wonwoo pun sama, setelah Mingyu pergi dari kediamannya, ia segera menutup pintu rumahnya dan mematikan lampu.

Tanpa sadar bahwa ada seseorang yang memperhatikan itu semua.

TBC

Halooo.. thanks god aku bisa update ff ini tepat waktu. Ini benar-benar baru aku selesain malam ini, meski setengah partnya udah aku tulis dari beberapa hari yang lalu.

Maklum tjuy, sibuk banget. Pulang training juga udah gak ada tenaga, pasti langsung tidur setelah beberes, makanya agak terbengkalai.

Sumpah ya maafin aku kalo ff ini udah ga ada rasa feel nya, ga nyambung, alur ngalor ngidul, typo everywhere, etc. because aku bikin ini bener-bener disela-sela waktu senggang yang ada tanpa sempet aku baca ulang buat revisi.

Yah seperti biasa, review kalian adalah sumber penyemangat buat lanjutin ini ff. jadiii… review juseyongggg..