Title: Who will be the Father?

Pair: someone - Joonmyun

Other pair: temukan di dalamnya hoho

Genre: comedy, YAOI, M-PREG

Rate: M

Part 10

Who will be the father?

.

.

.

.

.

Kemarin itu liburan yang cukup menyenangkan, Baekhyun banyak mengambil foto-foto kebersamaan mereka selama berada di penginapan. Joonmyun juga merekam momen-momen lucu yang sekarang tengah Baekhyun pindahkan ke laptopnya.

"sayang sekali tamasyanya tidak bisa lama-lama karna bukan musim liburan" ucap Baekhyun sambil terus melihat-lihat foto-foto itu.

Joonmyun di sebelahnya juga ikut melihat dan tertawa karna ada satu foto dimana Baekhyun berpose kayang di lantai balkon. Saat itu Joonmyun yang meminta Baekhyun berpose unik untuk bayinya. "Baek, ya ampun.. aku geli sekali melihatnya" Joonmyun tak bisa berhenti tertawa.

"apanya? Itu pose keren, tidak ada yang bisa kayang seperti aku" Baekhyun tertawa juga tapi bangga karna pose itu menurutnya sangat sangat unik.

Lalu ada foto lain, Kris tengah minum kopi bersama Zitao di ruang tengah penginapan. "kau lihat? Ini wajah-wajah frustasi" Baekhyun menunjuk wajah kedua pemuda itu lalu Joonmyun tertawa lagi karnanya. "nah, ini foto hidup segan mati tak mau" ia menunjuk lagi satu foto dimana Luhan tidak sengaja tertangkap kamera sedang terbengong di depan televisi lalu di sebelahnya Chanyeol tersenyum seribu gigi ke hadapan kamera.

Mereka berdua tertawa kencang saat melihat foto lain yang lebih lucu. Itu adalah foto Sehun dan Kris yang tengah makan sup bersama, terlihat Sehun seperti iseng menepuk punggung Kris dan kemudian tidak sengaja sepotong kentang terpental keluar dari mulutnya. Di sebelah Kris ada Jongin yang melihat kejadian itu menampakkan wajah jijik sekaligus terkejut. "astaga si Tomingse ini benar-benar lucu" Baekhyun mengusap air mata di pipinya saking terlalu geli tertawa.

"Sehun hyung sepertinya sengaja saat itu" Joonmyun merasakan bayinya bergejolak di dalam perut karna tadi dia tertawa sangat kencang.

Baekhyun mengangguk "itu sudah pasti"

lalu terdengar bel pintu berbunyi. Ini baru pukul 4 sore, siapa sudah pulang? Baekhyun menutup laptopnya. "aku akan membuka pintu" ia beranjak namun Joonmyun menahan tangannya.

"aku ikut" pinta Joonmyun. Akhirnya mereka keluar bersama dari ruang tengah menuju ke pintu utama.

Ternyata itu hanya kurir pengantar barang. Baekhyun terlihat senang saat tau barang pesanannya sudah diantar, "Joonmyun, ini perlengkapan bayi yang waktu itu kita pesan online" kata Baekhyun sambil menulis tanda tangan di kertas tanda bukti pengiriman.

"benarkah? Ya ampun Baek, memangnya kau pesan sebanyak ini?" Joonmyun kaget karna ternyata banyak sekali yang Baekhyun beli.

"tentu saja harus banyak" Baekhyun mengembalikan kertas tanda bukti tersebut pada si kurir. "tolong bantu membawakan barang ini" lalu si kurir mengangguk.

"Baek, mau kau letakkan dimana semua barang ini?"

"di kamar, kamar untuk bayimu" ia tersenyum membawa sebuah kardus besar yang mungkin berisi baby stroller sementara kurir tadi membawa dua kardus lain.

Ya ampun, Joonmyun harus bagaimana? Dia sudah banyak merepotkan Baekhyun. ia menggigit bibir bawahnya lalu menyusul Baekhyun ke lantai dua, melihat dimana kamar bayi yang Baekhyun maksud. Bahkan Baekhyun menyiapkan kamar untuk anaknya, Joonmyun bingung harus dengan apa membalas budi Baekhyun ini?

Baekhyun membuka sebuah pintu kamar yang berada di sebelah kamar Joonmyun, kamar yang memang belum ada penghuninya. "nah, ini dia kamar untuk bayimu. Mungkin nanti akan aku renovasi agar kamarnya bisa bersatu dengan kamarmu" Baekhyun meletakkan kardus yang dia bawa tadi di atas lantai.

"Baekhyun.." Joonmyun masih tidak tau harus berkata apa.

"tuan, saya ambilkan lagi dua barang yang tersisa dibawah" ujar si kurir.

"baik, terimakasih ya" Baekhyun mendekat pada Joonmyun, "jangan pikirkan apapun.. ini kan untuk bayimu jadi tidak apa-apa, aku tidak merasa direpotkan" dia memegang tangan Joonmyun.

"terimakasih banyak, Baekhyun."

"jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis" Baekhyun mengusap rambut Joonmyun.

"hei kalian di sini ternyata. Ada penghuni baru? Kenapa kau membuka kamar ini?" ternyata Kris sudah pulang. Dia menghampiri Baekhyun dan Joonmyun sambil melihat-lihat ke seluruh kamar.

"tidak, ini kamar untuk bayi Joonmyun!" kata Baekhyun dengan pose manisnya.

Kris menaikkan sebelah alisnya. "untuk bayi Joonmyun? Bukan kah seharusnya bayi baru lahir harus tidur bersama Ibunya?"

"rencananya aku akan merenovasi kamar ini, aku mau menyatukannya dengan kamar Joonmyun di sebelah. Kalau bayi Joonmyun juga tidur bersamanya, kamar mereka akan terlalu sempit"

"tapi memangnya kapan kau akan merenovasi kamar ini? bayi Joonmyun sudah delapan bulan, sebentar lagi akan lahir"

"itu benar, Baek. Lebih baik dia tidur bersamaku" Joonmyun mengusap perutnya, "aku sudah terlalu banyak merepotkanmu membeli banyak barang begini, jadi jangan pakai uangmu juga untuk renovasi"

"semua ini pakai uangmu?" Kris terkejut karna melihat bukan hanya ada tiga kardus berukuran cukup besar, tapi dua lagi baru saja dibawakan kurir tadi.

"iya, uangku" Baekhyun sedikit berbangga hati. "baik lah, baik. Akan aku pindahkan semua barangnya ke kamarmu" Baekhyun segera mengangkat lagi kardus besar yang tadi, namun Kris dengan cepat mencegahnya.

"biar aku saja" Kris pun mengangkat kardus itu dengan cepat, lalu Baekhyun mengangkat kardus yang lain.

Joonmyun mengikuti mereka sambil tersenyum, "terimakasih Baekkie, Kris hyung"

"sama-sama, Joonmyun-ah" jawab keduanya dengan kompak.

.

.

.

.

.

"Luhan, aku ingin bicara denganmu" Dokter Luna berdiri di hadapan Luhan untuk menghalangi jalannya ketika akan menuju ke parkiran Rumah sakit karna ini sudah waktunya Luhan pulang.

"ada apa?" Luhan nampak biasa saja berbanding dengan Luna yang terlihat agak kesal.

"sudah berapa lama sejak terakhir kali kau membawa Joonmyun untuk check-up denganku?" tatapan Luna seakan menusuk Luhan.

Luhan seperti berpikir, kemudian dia menyadari bahwa sudah lama sekali dia tidak mengantar Joonmyun check-up kehamilan. Pemuda bermata rusa itu langsung menepuk keningnya kasar, "maaf, beberapa hari yang lalu kami baru saja liburan ke luar kota jadi aku lupa mengantar Joonmyun check-up"

"apa? kau juga membawa Joonmyun liburan? Ke luar kota?" Luna tidak habis pikir.

"ya, tapi aku selalu stand by di dekatnya. memeriksakan keadaan Joonmyun dengan rutin. Dia baik-baik saja" kata Luhan meyakinkan, padahal sebenarnya dia takut juga pada reaksi Luna.

"Luhan, usia kandungannya sudah delapan bulan kan? ini adalah usia rawan pada seseorang yang hamil, apalagi Joonmyun laki-laki. Dia tidak bisa turun dari ranjang barang sebentar, dia harus full bed rest"

"tapi dia butuh fresh air, Luna.. tidak mungkin kami mengekangnya terus-terusan di dalam rumah"

"sejak Joonmyun pertama kali check-up denganku, aku selalu mempelajari kasusnya. Tolong Luhan, apapun yang terjadi jangan biarkan dia terlalu banyak bergerak" pinta Luna dengan sangat-sangat, bahkan dia mengguncang kedua bahu Luhan agar Luhan dapat mengerti.

Luhan jadi merasa begitu bodoh, kenapa dia malah membantah ucapan Luna yang sudah jelas-jelas adalah Dokter kandungan? "m-maafkan aku, aku akan menjaganya lebih ekstra lagi kali ini"

"jangan sampai lengah. Usia delapan bulan akan membuatnya banyak mengeluh, yang lebih fatal lagi adalah kapan saja bayi Joonmyun bisa meminta untuk keluar"

Ucapan Luna barusan membuat Luhan terbelalak. Itu benar, Luna pernah mengatakan bahwa kehamilan pada laki-laki umumnya tidak akan sampai 9 bulan. Bayi bisa saja lahir prematur.

"terimakasih atas peringatanmu, Luna. Aku akan pulang sekarang" Luhan seperti terburu-buru.

"ingat, sedikit saja Joonmyun merasakan perih di perutnya segera bawa dia ke Rumah sakit!" Luna berteriak karna Luhan sudah berlari menjauh, tapi Luhan sempat mengacungkan ibu jari ke arah Luna tanda bahwa dia mengerti apa yang Luna ingatkan.

Sementara itu Luhan segera masuk ke dalam mobilnya, dia harus cepat-cepat pulang untuk melihat keadaan Joonmyun. Dia tidak peduli jika Polisi menyadari mobilnya yang memacu kecepatan di atas rata-rata karna Luhan sudah terlalu paranoid berkat ucapan Luna.

Sesampainya di rumah, dia tidak mengucapkan salam apapun. hanya melepas sepatu terburu-buru lalu mengganti dengan sandal rumah dan berlari menuju ke ruang makan karna ini masih jam makan malam, Luhan yakin mereka semua ada di sana.

"Joonmyun!" pekiknya dengan wajah panik ketika sudah berada di depan pintu ruang makan.

Semua melihat ke arahnya dengan pandangan heran. Chanyeol sampai berkedip setidaknya 15 kali, dan Kris tidak jadi menyuapkan sup ke dalam mulutnya.

"a-ada apa hyung?" akhirnya Joonmyun bertanya untuk memecah keheningan tersebut.

"kau baik-baik saja? apa perutmu mengalami gejala perih atau mual atau sakit atau bahkan kontraksi?" Luhan segera menghampiri Joonmyun dengan segerombol pertanyaan.

"aku baik-baik saja, hyung. Hanya saja tadi pagi bayiku bergerak-gerak tidak tenang, tapi sakitnya tidak terlalu"

"kau yakin?"

"sebenarnya ini ada apa, Lu?" sahut Kris yang merasa acara makannya menjadi tidak khidmat karna sikap Luhan yang aneh.

"Joonmyun sudah masuk delapan bulan dalam kehamilannya, satu orang pun dari kalian jangan membuatnya turun dari ranjang. Kau harus istirahat total, Joonmyun-ah" tatapan Luhan seperti mengultimatum.

Sehun menyernyit, seperti mengingat sesuatu. Ah iya, Luhan pernah mengatakan padanya "Joonmyun akan semakin parah merasakan ngidam di usia dua bulan hingga delapan bulan nanti" lalu juga "fisiknya akan semakin lemah. Joonmyun nantinya harus banyak bed rest"

Sekarang dia mengerti kenapa Luhan bersikap seperti ini, karna usia kehamilan Joonmyun sudah tepat delapan bulan sekarang. bodoh sekali dia, lupa akan peringatan Luhan yang sudah lama itu. bahkan Luhan sendiripun sepertinya lupa.

"Joonmyun, apa makanmu sudah selesai?" tanya Sehun tiba-tiba.

"sudah hyung, kenapa?"

Sekarang semua tatapan beralih pada Sehun. Pemuda berkulit pucat itu beranjak dari kursi, dia menghampiri Joonmyun lalu langsung menggendong tubuh mungil Joonmyun tanpa mengatakan apapun. "h-hyung, apa yang kau lakukan?" panik Joonmyun.

"oh aku mengerti! Joonmyun benar-benar harus bed rest" Baekhyun baru mengingatnya, lalu memberi efek domino pada yang lain karna kini mereka juga sudah ingat peringatan Luhan yang sejak dulu itu.

Sehun menggendong Joonmyun sampai ke kamarnya, dia cukup terkejut saat melihat banyaknya perlengkapan untuk bayi yang sepertinya baru dibeli. "kau membeli perlengkapan bayi?"

Mata Joonmyun tak dapat lepas dari manik tajam milik Sehun yang mempesona, "bukan aku yang beli, tapi Baekhyun" ia duduk di ranjang sesaat setelah Sehun menurunkannya.

"dia sudah seperti Ibumu saja." Sehun mengusap rambut Joonmyun. "benar yang dikatakan Luhan hyung, kau harus istirahat total. Kami semua lupa soal peringatannya itu, padahal sekarang kau sudah hamil delapan bulan"

"tapi hyung─"

"tidak ada tapi-tapian Joonmyun-ah. Kembali lagi seperti kemarin-kemarin, kau harus mengirim pesan padaku jika butuh sesuatu" Baekhyun masuk ke kamar diikuti Kris, Luhan, Chanyeol, Jongin, dan Zitao di belakangnya.

"simpan juga nomor ponsel yang lain, termasuk aku. jadi kami akan bergantian menjagamu" usul dari Kris yang membuat Chanyeol mengangguk setuju.

"benar. ya ampun, paman Chanyeol tidak ingin kau sakit sayang" Chanyeol refleks mengelus perut Joonmyun, membuat pemuda manis itu terkekeh geli. Sementara Jongin dan Zitao yang melihatnya serasa mau muntah.

"berhenti lah menjijikan" sungut Luhan yang juga tidak tahan melihat Chanyeol begitu.

"sekali lagi, terimakasih karna kalian sangat peduli padaku" Joonmyun berucap begitu tulus.

.

.

.

.

.

Bukan tidak mungkin perkataan Baekhyun ketika tamasya kemarin tak membayang-bayangi pikiran Kris, Luhan, dan Zitao. terutama, tentu saja Zitao.

Dia jago wushu, terkenal seperti preman, gemar marah-marah, dan tentu saja lelaki jantan. Jadi sekarang Zitao memutuskan untuk bergerak lebih dulu. Dia sebenarnya sudah menyiapkan hadiah ini dari jauh-jauh hari, namun tetap saja rasa gengsinya yang membuat Zitao tidak mau memberikan hadiah tersebut untuk Joonmyun.

Dia sudah siap dengan segala resiko, karna Zitao juga merasa tersiksa jika terus-menerus memendam perasaan.

Ia mengetuk pintu kamar Joonmyun malam itu, tentu saja ketika semua orang sibuk bercanda di ruang tengah dia mengambil kesempatan.

"masuk saja" suara Joonmyun terdengar dari dalam.

Zitao membuka pelan pintu itu, dengan wajah malunya dia menatap Joonmyun yang kini cukup terkejut karna tumben sekali Zitao berkunjung ke kamarnya. "maaf kalau aku mengganggumu" ucap Zitao tersenyum kecil.

"tidak apa-apa hyung, aku kan juga belum tidur"

Pemuda itu menghampiri Joonmyun dan duduk di pinggir ranjang. "ini untuk bayimu, hadiah dariku" Zitao meletakkan sebuah hadiah yang sejak tadi dia sembunyikan dibalik punggung.

"maaf jadi merepotkanmu, terimakasih banyak" Joonmyun tersenyum manis padanya.

Zitao menjadi lebih gugup sekarang karna berhadapan langsung dengan Joonmyun dalam suasana seperti ini, hanya mereka berdua dalam satu ruangan. Apalagi Zitao akan berbicara mengenai hal yang cukup serius. "aku.. minta maaf atas sikapku yang kurang baik padamu selama ini, tapi pada dasarnya sikapku memang seperti itu terhadap semua orang"

"aku mengerti, aku tau sebenarnya Zitao hyung adalah orang yang sangat baik. Apalagi Zitao hyung juga memperhatikan aku selama ini. terimakasih banyak"

Ia menatap dalam-dalam ke manik mungil milik Joonmyun, sedikit menarik napas dengan gugup. "itu karna.. aku menyukaimu" kalimat itu meluncur dari mulut Zitao.

Senyuman Joonmyun sedikit mengendur setelah mendengarnya, ia terlihat seperti terhenyak namun Zitao tidak bisa menebak apa yang saat ini Joonmyun pikirkan.

"maaf, aku hanya ingin mengungkapkannya karna aku pikir mungkin aku bisa gila jika terus-menerus memendamnya" ia dengan cepat menjelaskan.

Namun respon Joonmyun berubah, ia tersenyum lembut dan menatap Zitao penuh sarat akan haru sekaligus tersanjung. Ia menggenggam tangan Zitao yang mana membuat pemuda hobi belanja itu semakin gugup. "terimakasih sekali karna Zitao hyung sudah menyukaiku. Aku tidak menyangka hyung memiliki perasaan seperti itu padaku, tapi.. maaf, aku tidak bisa membalas perasaan hyung"

Hati Zitao terasa seperti disiram oleh air yang sangat dingin, membeku, lalu pecah.

"perasaan manusia tidak bisa dipaksakan, jadi.. aku tidak bisa memaksakan perasaanku untuk membalasnya" karna aku sudah menyukai orang lain, lanjutnya dalam hati.

Tapi Zitao belajar sesuatu dari ini semua. Menilik dari kata-kata Baekhyun saat tamasya kemarin, lalu jawaban Joonmyun yang seperti ini, Zitao belajar bahwa apapun yang dia inginkan tidak selalu bisa ia dapatkan dengan mudah.

"aku mengerti. Justru aku merasa lega sudah mengungkapkannya padamu. mendengar jawabanmu seperti ini membuatku sedikit patah hati, tapi terimakasih Joonmyun, kau memberiku pelajaran berharga"

"pelajaran berharga?" Joonmyun mengerjap bingung.

"pelajaran berharga" Zitao mengusap perut Joonmyun, "baiklah, ini begitu ajaib bahwa aku merasa sangat lega. Setidaknya kau tau bahwa aku menyukaimu, aku tidak pernah membencimu"

"aku tau itu, hyung. Maafkan aku, sekali lagi aku berterima kasih padamu"

"kau terlalu banyak mengucap kata maaf, juga terlalu banyak mengucapkan terimakasih. Sekali-sekali banggakan lah dirimu sendiri" Zitao tidak mengerti kenapa kalimat sebijaksana itu bisa terdengar dari mulutnya.

Joonmyun terkekeh, dia pun mengangguk. "terimakasih nasihatnya hyung, ah aku mengucapkan terimakasih lagi. eum.. bukan berarti aku tidak menyayangimu, aku sangat menyayangimu hyung"

Zitao mengusap pipi Joonmyun sebentar, "aku juga menyayangimu. Semua yang ada di sini menyayangimu"

Setelahnya Zitao pamit keluar dari kamar Joonmyun, dia menghela napas begitu bebas lalu merenggangkan seluruh otot-otot di tubuhnya. Dia sudah lega mengetahui bahwa Joonmyun ternyata tidak menyukainya, namun ia akan tetap menyayangi Joonmyun meski dia tidak bisa bergerak lebih jauh.

Sudah pastI Zitao tidak akan memberitau soal ini pada orang lain. Kira-kira bagaimana nasib mereka nanti? Zitao menebak mereka pasti juga mendapat jawaban yang sama dari Joonmyun.

Who will be the father?

Chanyeol, Jongin, dan Sehun menelan ludah dengan kasar menatap sejenak pada deretan perlengkapan bayi yang serba ada di toko yang mereka kunjungi sekarang. meskipun para pelanggan yang lain melirik mereka dengan pandangan geli, namun mereka tidak peduli.

Jongin berdeham, "aku.. akan membelikan baby walker itu untuk bayi Joonmyun" ia menunjuk baby walker lucu berwarna biru di sudut ruangan.

"kalau begitu aku akan melihat-lihat yang lain" Chanyeol meninggalkan Jongin dan Sehun lebih dulu.

"cepat selesaikan urusan kita di sini" bisik Jongin pada Sehun yang mungkin sudah merasa risih.

Sehun melihat Jongin yang sudah berjalan menuju ke deretan baby walker di sudut ruangan, dia pun akhirnya berjalan untuk melihat mainan-mainan karet yang aman untuk bayi. Juga mainan-mainan lain yang lucu. Sehun mungkin akan membelikan dua untuk bayi Joonmyun.

Ini adalah titik kebimbangan Sehun. Chanyeol, Baekhyun, lalu kemungkinan Jongin sudah tidak menyukai Joonmyun. Memberi ruang bebas untuknya, Kris, dan Luhan. sebenarnya agak rasis berbicara seperti ini karna terkesan membuat Joonmyun seperti barang yang diperebutkan dengan cara konyol.

Ia mencintai Joonmyun.

Entah apa yang Kris ataupun Luhan rasakan pada Joonmyun, apakah sudah sampai pada tahap sepertinya? Atau masih dalam tahap menyukai? Sehun tidak mau tau, yang pasti dia sudah memiliki kesiapan mental dan mungkin juga materi untuk Joonmyun.

Hadiah yang lucu sudah dia pilih untuk bayi Joonmyun, ia harap bayi Joonmyun akan menyukainya nanti. Lalu ia juga memiliki hadiah untuk Ibunya, sesuatu yang tidak begitu mahal jika dibandingan semua barang yang dibeli oleh Zitao.

Sehun merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwana ungu, kemudian membukanya.

Itu adalah cincin permata yang sederhana, namun pasti terlihat cantik jika dipakai di jari manis Joonmyun. Namun Sehun menutup kotak itu lagi lalu menyimpannya kembali di saku jaket. Tentu saja kebimbangan itu melandanya lagi, merasa bersalah pada yang lain jika dia merebut Joonmyun.

"kau sudah memilih?" Jongin menghampirinya.

"ha? Ya, sudah. Aku membelikan mainan-mainan ini" Sehun menunjuk dua mainan yang dia pilih tadi.

"aku juga sudah memilih hehe" Chanyeol juga menghampiri mereka sambil memperlihatkan kotak yang berisi baju-baju bayi yang lucu.

Jongin dan Sehun melongo tanpa eskpresi. Wajah tanpa ekspresi milik Jongin dan Sehun melawan ekspresi penuh gigi milik Chanyeol sekarang.

"kau yakin bayi Joonmyun laki-laki?" tanya Jongin.

Chanyeol memutar bola matanya merasa tak percaya Jongin menanyakan hal aneh seperti itu, "coba kau pikir, Ahn Jaehyun itu laki-laki dan Joonmyun juga laki-laki. Gen mana yang akan bisa menciptakan bayi perempuan dari sperma mereka berdua?"

Seketika suara berat Chanyeol yang cukup besar itu membuat orang-orang di sekitar mereka tertawa geli.

Sehun merebut kotak yang Chanyeol pegang lalu memukul kepala pemuda itu berkali-kali dengan perasaan kesal namun tetap dengan ekspresi datar. Chanyeol hanya memejamkan mata sambil menghela napas memaklumi amarah Sehun, setelah itu dia tersenyum kembali karna Sehun sudah meninggalkannya untuk ke kasir.

Chanyeol mengambil kotak itu lagi sambil menaruh perhatian pada Jongin sekarang, "bagaimana kalau kita juga membeli barang untuk calon bayi kita? Oppa pikir─" sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Jongin merebut kotak tadi dari tangan Chanyeol kemudian ikut memukul Chanyeol seperti yang Sehun contohkan sebelumnya.

Nasib.

.

.

.

.

.

Setelah membunuh waktu dengan membaca buku berlembar-lembar seharian Joonmyun merasakan perih sekaligus mulas di perutnya, dia segera meminum obatnya lalu setelah itu mengusap-usap perut sambil tarik-ulur napas kuat-kuat. Tidak seperti biasanya, sakit itu tak cepat hilang bahkan setelah dia meminum obat.

Dia menggigit bibir bawahnya, "kenapa kau memberontak sayang? Ada apa denganmu?" Joonmyun mengajak bayinya berbicara agar bayinya bisa tenang.

Namun bayinya tetap tidak mau mengerti, rasa mulas itu semakin menjadi ketika dirasa Joonmyun ingin mengeluarkan sesuatu.

Oh tidak, apakah mungkin ini saat anaknya akan lahir? Joonmyun tidak kuat dengan rasa mulasnya, dia sampai menekan perut dengan cukup kuat karna rasa sakit yang hebat. "Ibu mohon, jangan sekarang.." gumam Joonmyun merintih.

Semua penghuni rumah akan pulang sore hari nanti kecuali Luhan yang akan pulang lebih awal karna dia mulai sekarang harus mengawasi Joonmyun. Dengan sekuat tenaga Joonmyun meraih ponselnya untuk menghubungi Luhan.

"halo? Ada apa Joonmyun? Aku sedang dalam perjalanan pulang"

"Luhan hyung... tolong aku" Joonmyun kembali merintih sambil memegangi perutnya.

"Joonmyun? Kau kenapa? Katakan padaku"

Joonmyun menarik-ulur napas kembali dengan kencang. "bayinya! Luhan hyung!" karna sudah tidak kuat, Joonmyun tanpa sadar berteriak.

"ya Tuhan! Aku akan segera sampai Joonmyun, tunggu lah aku. sebentar lagi!"

"tidak bisa sebentar hyung, sekarang juga! aku mohon!"

Lalu tiba-tiba pintu kamar Joonmyun dibuka dari luar, muncul lah Chanyeol lebih dulu dengan cengiran bodoh andalannya. "Joonmyun-ah~"

"kami membawa hadiah untukmu" Jongin di belakang Chanyeol, lalu kemudian Sehun juga masuk ke kamar.

Joonmyun tidak bisa menjawab apa-apa, dia pusing karna merasakan mulas yang tidak tertahankan lagi, wajahnya pun sudah memerah. Kedua tangannya nampak terus menekan perut.

"Joonmyun! Ada apa denganmu?" Sehun berlari menghampiri Joonmyun dengan wajah paniknya. Jongin dan Chanyeol juga baru sadar ternyata Joonmyun tengah merasakan sakit, mereka bahkan tidak sadar sudah melempar hadiah-hadiah yang mereka beli untuk Joonmyun.

"h-hyung.. sakit!" rintih Joonmyun kembali, air mata tumpah ruah ke pipinya hingga menimbulkan isakkan.

"aku akan menghubungi ambulans!" Jongin gemetaran meraih ponsel di saku celananya karna ia terlalu panik.

"tidak ada waktu!" Sehun menggendong tubuh Joonmyun dengan cepat lalu membopongnya keluar kamar.

Chanyeol menghentikan Jongin yang masih berusaha mencari nomor ambulans di ponselnya, kemudian menarik pemuda manis itu untuk menyusul Sehun keluar.

Sementara di luar Sehun berlari dengan cukup kencang, tapi dia berhenti sejenak karna mobil Luhan yang berhenti di depan gerbang. Nampak Luhan turun dari mobil dengan terburu-buru juga menampakkan wajah tak kalah panik dari yang lain.

"hyung! Pakai mobilmu!" teriak Sehun mendarah daging, ia tidak mau hal buruk menimpa Joonmyun.

"aku tau!" Luhan kembali lagi ke mobilnya, dia membuka pintu penumpang di belakang lalu dengan cepat Sehun masuk ke mobil membawa Joonmyun dalam pangkuannya.

Jongin menyusul dengan masuk lewat pintu di sebelah kiri, saat di dalam dia langsung menggenggam tangan Joonmyun yang berkeringat dingin sementara Chanyeol duduk di sebelah Luhan yang kini mulai menyetir dengan kecepatan tinggi.

Chanyeol sedikit was-was dengan ekspresi Luhan sekarang dan hanya pasrah mencengkram sabuk pengamannya. Di belakang, Jongin berusaha mati-matian menenangkan Joonmyun. "tarik dan hembuskan napasmu dengan teratur, terus seperti itu Joonmyun" Jongin menggenggam tangan Joonmyun semakin erat.

"kau bisa, bertahan lah.. kau pasti bisa" Sehun membisikkan kata-kata itu berulang kali di telinga Joonmyun yang masih menangis.

Joonmyun menoleh pada Sehun di sebelahnya, jarak wajah mereka begitu dekat. Joonmyun sadar ia memang menyukai pemuda ini, ia memiliki hati untuk Sehun. "hyung.. aku─"

"jangan katakan apapun, tetap lah berdoa pada Tuhan" Sehun mengusap air mata Joonmyun menggunakan ibu jarinya, menatap dalam manik Joonmyun, menyampaikan perasaan cintanya yang paling besar.

Akhirnya mereka sampai di Rumah sakit tempat Luhan bekerja. Para suster dengan sigap menyiapkan brankar untuk Joonmyun setelah diperintah oleh Luhan. Sehun merebahkan Joonmyun dengan hati-hati di atas brankar kemudian ikut berlari mengantar Joonmyun ke ruang ICU.

"operasinya mungkin akan dimulai sekarang, percayakan padaku.. aku pasti menyelamatkan Joonmyun" Luhan menghadang Chanyeol, Jongin, dan Sehun yang tadinya ingin menerobos ruang ICU itu.

"kami percaya padamu, hyung!" Chanyeol menjawab dengan yakin.

"tolong selamatkan dia, apapun yang terjadi" Jongin ternyata masih lemas dan gemetar akan kejadian yang mendadak ini.

"apakah aku boleh masuk? Setidaknya aku ingin menenangkan dia sebelum dibius" Sehun menatap tajam pada Luhan.

"tidak bi─"

"harus bisa" Sehun tidak peduli pada larangan Luhan. ia menerobos masuk ke ruang ICU lalu menghampiri Joonmyun yang kini sedang diurus oleh para suster.

Luhan menghela napasnya, dia tidak percaya Sehun benar-benar nekat. "apa dia kerasukan sesuatu?" tanya Luhan sarkatis pada Chanyeol dan Jongin.

"tidak, itu karna ia sangat khawatir pada Joonmyun." Jongin menatap mata Luhan, ia seketika teringat kejadian di restauran ayam waktu itu. waktu Sehun bercerita padanya bahwa Sehun mencintai Joonmyun. "orang yang dia cintai" lanjut Jongin lagi sebelum akhirnya dia duduk di kursi tunggu dengan perasaan lelah.

Chanyeol mengangguk pelan untuk meyakinkan Luhan, "intinya sekarang, tolong selamatkan dia hyung"

Luhan terhenyak sambil menutup pintu ruang ICU.

.

.

.

.

.

Sehun menggenggam tangan Joonmyun dengan erat lalu menatap manik Joonmyun yang terus berlinangan air mata. "apa aku akan baik-baik saja, hyung?" tanya Joonmyun parau, "ini sangat sakit"

"kau akan baik-baik saja, kau kuat Joonmyun-ah"

"apakah bayiku juga?"

"iya, bayimu juga kuat. Dia sangat kuat bertahan hingga detik ini. kalian sangat hebat" Sehun mengangguk lalu mengusap surai kecoklatan milik Joonmyun.

"bagaimana jika aku mati? Atau... bayiku mati?"

"hentikan pemikiran bodoh itu. tentu saja itu tidak akan terjadi, Joonmyun percaya lah pada Luhan hyung yang akan menyelamatkanmu"

Joonmyun sedikit bersyukur karna ada banyak harapan yang tertanam dalam dirinya. "terimakasih kalian sudah menyayangiku dan bayiku. Aku betul-betul minta ma─"

"jangan ucapkan lagi kata maaf" Sehun sebenarnya sudah akan menangis, namun dia menahannya sekuat tenaga karna tidak ingin membuat Joonmyun putus asa. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kotak kecil berwarna ungu tadi dan mengeluarkan cincin permata yang cantik itu. "berjanji lah untuk bertahan, karna setelah itu aku akan meminangmu" Sehun memakaikan cincin itu di jari manis Joonmyun.

Joonmyun menangis semakin hebat, semakin terisak karna perasaannya untuk Sehun ternyata terbalas secepat ini. "Sehun hyung.." ia tidak dapat berkata-kata lagi.

"berjanji padaku untuk bertahan, aku akan selalu menemanimu" Sehun tidak kuat lagi, setitik kristal jatuh ke pipinya lalu dia langsung berbalik untuk pergi meninggalkan Joonmyun.

Ia sempat bertemu pandang dengan Luhan yang sejak tadi menatap ke arah mereka berdua. Luhan tertegun ketika Sehun memakaikan cincin itu di jari manis milik Joonmyun. Tapi kini dia melihat tatapan Sehun yang merasa menyesal padanya.

"tidak apa, aku akan menyelamatkan Joonmyun apapun yang terjadi" Luhan menepuk bahu Sehun sebelum akhirnya mereka berpisah karna Sehun diusir keluar oleh para suster.

.

.

.

.

.

TBC

Tidak ada edit, maaf untuk post yang terlambat, maaf untuk cerita yang semakin tidak jelas, dan chapter berikutnya akan penuh dengan kejutan. I love you all