Author Note: update! Hehehehe…
thanks for reviewing! ^^
To a reviewer name Nophie chan: ah! Kau benar! Aku melupakan khasnya Axel! Q_Q Vanitas tidak akan kumunculkan di cerita ini ^^"
To a reviewer name Zelvaren Yuvrezla: um, sesungguhnya seorang GM meningkatkan status player normal adalah sebuah pelanggaran. ^^" Tapi asalkan tidak ada yang melapor, maka tidak akan ada masalah, bukan? :P
Your Other Life
Chapter 10 : Boss.
Saat ini kami berada di Field Prd_Lnd_07, dimana terdapat banyak pohon di field ini sehingga kami dapat berteduh kapan pun kami mau. Sialnya, di sini banyak sekali Goblin, sehingga setiap satu battle selesai, berlanjut ke battle lain.
"You okay, Xion?" Tanyaku dengan napas yang terputus-putus karena lelah. Aku masih mengacungkan senjataku pada monster yang berada di depanku.
"I don't think so...," jawabnya sambil menyeka keringat. "Magic powerku hanya tersisa sedikit. Bagaimana denganmu?"
"Ah, sudah habis total," kataku sambil tertawa kecil.
Xion ikut tertawa mendengarnya. "Okay then, ini adalah battle terakhir, setelah ini, kita pergi dari sini."
"Yeah," kataku sambil mengangguk.
Setelah aku berhasil mengalah goblin bersama Xion, kami berdua langsung melarikan diri dari sisa monster yang masih ingin bertarung dengan kami. Kami berdua berhasil meninggalkan Pride Land dengan susah payah setelah dikejar oleh puluhan Goblin.
"Man, that was close one...," keluhku sambil membungkuk, memegangi lututku. Rasanya kakiku terasa lemas habis berlari.
"Yeah," Xion terlihat menarik napas sambil memegangi dadanya, dia menunduk karena kelelahan.
Setelah napasku kembali normal, aku lalu mengecek lokasi kami berada di map. Saat ini, kota terdekat dengan kami adalah Halloween Town. Field tempat kami berada adalah Field Hal_Twn_ 01.
"Xion, aku ingin ke Halloween Town dahulu, mau membeli item. Kau mau ikut?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Yeah," katanya sambil mengangguk. "Itemku juga habis, sehingga aku tidak dapat memulihkan Magic powerku secara instan."
Kami berdua lalu menuju ke Halloween Town, tentu saja perjalanan ke sana tidak mudah, karena kami dihadang oleh monster. Kami tidak melawan monster itu dan memutuskan untuk menghindarinya, kondisi kami berdua saat ini sedang tidak baik, HPku tinggal setengah, begitu juga Xion. Sangat beresiko melawan monster ketika item habis, meski pun monster di sini lebih lemah.
Aku dan Xion memutuskan untuk berpencar untuk menghindari monster aggressive yang mengejar kami terus-menerus...
"Nanti kita bertemu di toko item, Sora!" Teriak Xion sambil memisahkan diri dariku.
"Yeah!" Jawabku dengan keras.
Monster yang mengejar kami ini sungguh keterlaluan dan juga menyebalkan. Nama monster itu Haunted Ghost, seperti namanya, monster ini terus menghantui player hingga dia dikalahkan. Mana lagi jumlah monster yang mengejarku dari belakang semakin lama semakin banyak dan jumlah itu akan terus bertambah lagi jika tidak kukalahkan.
"Arg! Go away!" Teriakku dengan kesal sambil memukul Haunted Ghost yang mendadak muncul di depanku.
Sesekali, Haunted Ghost –yang memiliki wajah bulat bagaikan boneka, dengan mata cacat dan hendak terjatuh—muncul di depanku dalam jumlah banyak dan menyerangku secara mendadak dan membuatku kaget bukan main –karena aku diserang oleh puluhan monster sekaligus di waktu yang bersamaan, aku menghindar, menangkis, dan terkena serangan-serangan monster itu dalam keadaan berlari.
Terpaksa aku berhenti berlari karena yang mengejarku ini jumlah sungguh keterlaluan! Monster ini termasuk golongan lemah untuk level 20 keatas sepertiku, tetapi jika sudah mengeroyok –alias satu lawan puluhan, bahkan ratusan—seperti ini, maka player dengan level tinggi pun bisa mati.
Aku merasa magic powerku telah pulih sedikit, maka akan kugunakan seluruh sisa magic powerku untuk membuatku dapat melarikan diri!
"Ice sweep!" Teriakku dengan wajah kesal.
Aku menyerang monster itu sambil memutarkan tubuhku 360 derajat, sehingga seluruh monster yang berada di sekitarku terkena seranganku. Ice Sweep adalah serangan yang mengandung magic ice, sehingga musuh yang terkena seranganku ada kemungkinan membeku setelah terkena seranganku dan aku dapat menggunakan kesempatan itu untuk lari selagi monster-monster itu membeku.
"Akhirnya lolos dari kejaran monster!" Teriakku kesal sambil menarik napas.
Halloween Town terlihat beberapa meter lagi dari posisiku saat ini dan aku pun melangkang menuju kesana dengan semangat. Tidak jauh dari tempatku berada saat ini, terjadi ledakan hebat dan sangat besar, saking besarnya ledakan itu, timbul angin yang berhembus kuat dari ledakan itu, aku langsung jatuh terduduk di tanah akibat hempasan angin kuat itu...
"Woah! What was that!" Kataku kagum sekaligus kaget setelah ledakan itu reda.
Di balik asap yang muncul setelah ledakan, terdapat bayangan seseorang di balik asap itu. Ah, aku salah, ada dua sosok di balik asap yang mulai menipis itu. Satu sosok seperti player, dan satu sosok lagi sama seperti player, tetapi dia memiliki sayap...
"Ah! Monster!" Teriakku sambil bangun. "Tunggu, aku tidak pernah melihat monster itu...," kataku sambil menyipitkan mata, berharap dapat melihat sosok monster dengan sayap itu dengan jelas dibalik asap yang mengepul.
Herannya, sosok monster itu sama persis dengan player biasa, yaitu berwujud manusia, tidak seperti monster umumnya yang berwujud hewan, boneka, atau benda mati seperti kotak. Sayap monster itu berbentuk seperti sayap burung dan berwarna hitam, sayap itu hanya sebelah saja...
Di depan monster itu, terlihat sosok lelaki brunette yang mencoba menyerang monster itu. Serangan dari lelaki brunette itu terus dihindari dengan mudah oleh monster itu. Mendadak, monster yang memiliki rambut silver itu menghilang...
"It been a long time, Sora," kata seseorang yang mendadak berada di belakangku.
Terdapat sebuah pedang panjang berada di leherku, aku dapat merasakan tajamnya pedang itu di leherku. Wajahku langsung memucat ketika merasakan tajamnya pedang itu di leherku. Tubuhku langsung mengkaku dengan sendirinya saking takutnya diriku. Kupaksakan kepalaku yang kaku ini untuk menoleh dan melihat, siapakah orang yang telah mengarahkan pedangnya padaku. Aku terkejut bukan main, ternyata dia adalah monster yang menghilang tadi...
"A-apa yang kau inginkan dariku?" Tanyaku dengan wajah takut.
"Sephiroth!" Teriak lelaki brunette tadi sambil berlari kearah kami, dia memiliki luka di antara kedua matanya.
Lelaki brunette itu mengarahkan pedangnya pada monster yang berada di belakangku ketika aku menunduk –setelah pedang panjang tadi menjauh dari leherku—dengan reflex karena nyaris tertusuk heavy blade lelaki brunette itu karena sesungguhnya, dia berniat menusuk monster di belakangku, bukan tubuhku yang berada di depan monster itu...
Aku terduduk dengan kaki lemas, bagaimana tidak? Bayangkan saja, bagaimana rasanya tubuhmu nyaris ditusuk oleh heavy blade? Itu sungguh mengerikan! Meski ini hanyalah sebuah game...
"We will meet again, Sora, dan ketika pertemuan kita yang berikutnya tiba, maka aku akan membalas kekalahanku," kata monster itu sambil terbang ke langit, sepertinya dia hendak pergi.
"Wait!" Teriak lelaki brunette itu sambil menembakki monster itu dengan peluru.
Ternyata jenis senjata lelaki brunette itu bukan pure heavy blade, tetapi jenis gunblade. Lelaki itu berusaha mencegah monster itu untuk pergi, sayangnya, usahanya gagal dan dia terlihat menghela napas dalam setelah monster itu berhasil pergi.
Dia lalu menatapku dan itu membuatku sedikit takut, soalnya tadi dia nyaris menusukku...
"Maaf tadi aku menyerangmu," katanya meminta maaf.
"It's...okay..." Jawabku dengan senyum lemah, tubuhku masih terasa lemas.
Dia mengulurkan tangannya padaku dan aku meraihnya dengan ragu-ragu. Dia lalu menarikku bangun dengan mudah.
"Um, thanks."
"Welcome," jawabnya singkat.
"Um, my name is-"
"Sora, right?" Katanya menyela. "Aku sudah tahu karena kau adalah character yang terkenal di game ini," katanya memberitahu.
"Apakah Sora seterkenal ini hingga hampir seluruh player yang memainkan game ini mengenalinya?" Tanyaku terheran-heran, dahiku mengkerut saat mengatakannya.
"Dari caramu berbicara, apakah kau bukan orang yang sama ketika memakai Sora saat memenangkan event itu?" Tanya lelaki brunette itu.
"Um, saat itu Ni-san yang memakainya, bukan aku...," jawabku dengan wajah sedih. Aku menunduk saat mengatakannya, aku sama sekali tidak tahu soal event yang membuat Sora jadi seterkenal ini.
"Oh, no wonder you are clueless about Sephiroth. My name is Leon," katanya memperkenalkan diri.
"Nice to meet you, Leon," kataku sambil mengulurkan tanganku, hendak menyalaminya.
Ketika aku menyalaminya, entah mengapa aku merasa bahwa dia adalah type yang dingin. Ekspresinya terlihat datar...
Kulihat, di belakang lelaki brunette ini, terlihat seorang lelaki berambut onix spike dan seorang gadis berambut silver berlari kearah kami...
"Leon! Apakah kau berhasil mengalahkannya?" Tanya pemuda berambut onix itu.
"No, dia berhasil pergi," jawab Leon.
"Damn, seandainya tadi aku berhasil menghindari serangannya, saat ini pasti kita berhasil mengalahkannya," kata lelaki onix itu sambil menghela napas.
"Dia bahkan bisa menghindari magicku," kata gadis berambut silver itu.
"Um...," aku bingung bagaimana cara menyela pembicaraan mereka yang terlihat serius ini, aku hendak pergi, Xion pasti menungguku dan aku ingin mengucapkan salam pada Leon sebelum pergi.
"Hum, rasanya aku pernah melihatmu...,"kata lelaki onix itu sambil menatapku.
"He was Sora," kata gadis berambut silver itu.
"Oh yeah! Apakah kau bertarung melawan Sephiroth juga!" Tanya lelaki onix itu.
"Dia hanya diserang, tetapi tidak melawan," jawab Leon sebelum aku memberikan jawaban.
"Oh, that's too bad. Kukira kau akan melawannya lagi," kata lelaki onix itu dengan nada kecewa. "By the way, namaku Zack," katanya sambil menyalamiku.
"Fujin," kata gadis berambut silver itu, dia menyalamiku sesudah Zack.
"It was nice to meet you two," kataku dengan senyum. "Um, sorry, tapi aku harus pergi sekarang. Temanku sedang menungguku," mereka terlihat mengangguk ketika aku menjelaskannya. "Semoga kita bertemu lagi."
Aku lalu pergi setelah mengatakannya. Jika aku bertemu dengan Ni-san, kurasa aku harus bertanya secara detil soal event yang dimenangkan olehnya ketika menggunakan Sora. Sehebat itukah Ni-san hingga membuat Sora menjadi character yang terkenal di game ini?
To Be Continued...
Author Note: Next chapter will update tomorrow :P
so review?
