Bedeviled
Main Cast:
Chanyeol, Kai, Kris, Sehun
Support Cast:
Chen, Jinyoung, Gongchan (anggap lebih tinggi dari Chanyeol), dll.
OC:
Mrs. Soyeon, Seojung ssaem
Rating: T
Chapter 7 – NEW Guy. New TROUBLE (part I)
"Anak baru itu benar-benar troublemaker, kuharap dia nggak tahu sesuatu tentangku atau ayahku"
Thursday, 15/10/2015
Chanyeol berharap cowok itu tidak akan peduli dengan tingkah gilanya atau perlakuan kasarnya pada Yixing. Dia ingin Kris terus mendesaknya untuk bercerita. Mengungkapkan semuanya. Tapi itu nggak akan terjadi. Kris sudah terlanjur kecewa padanya. Dan Chanyeol, dengan segala kecerobohannya, malah membuat orang yang dia cintai jadi menjauh.
Memang, Chanyeol tahu kalau dirinya harus jaga jarak untuk sementara waktu dari Kris. Tapi melihat Kris yang bahkan tidak mau repot-repot menatapnya atau mengabaikannnya seharian… terang saja itu berhasil bikin mood Chanyeol drop sampai ke dasar jurang paling dalam.
"Tebak dengan siapa aku bicara di Kelas Agama?" kata Chen. Dia tadi tidak ikut pulang bersama Chanyeol karena jadwal kelas agamanya memang di hari kamis, sedangkan Chanyeol hari sabtu. Satu-satunya hal yang diirikan Chanyeol dari Chen adalah teman sekelas cowok itu rata-rata siswa senior, hampir tujuh puluh persen malah, dan salah satunya Kris. Tidak seperti mata pelajaran lain, khusus untuk Kelas Agama, murid-muridnya diacak. Jadi tidak mutlak teman sekelas kita atau murid seangkatan yang berada dalam satu ruangan. Di Kelas Agama, kau bisa saja sekelas dengan para junior, senior, musuh bebuyutanmu atau malah mantan yang paling ingin kau hindari.
"Siapa?" tanya Chanyeol. Meskipun dalam hati dia sudah tahu siapa orangnya.
"Kris." jawab Chen kalem.
Genggaman tangan Chanyeol di gagang telpon begitu keras, sampai-sampai dia seperti bisa meremukkan benda itu. "Dia bilang apa?" tanya Chanyeol penasaran.
"Dia menanyakanmu."
"Oh ya?" harus Chanyeol akui, dia rada jealous sahabatnya itu berada di kelas yang sama dengan Kris. Bukannya Chanyeol tidak ingin bertukar tempat, pihak sekolah pasti tidak akan mengizinkannya. "Apa yang dia tanyakan? Dia tidak membenciku kan?"
"Mmm…" Chen tampak ragu. "Dia bertanya soal sikap anehmu. Dia ingin tahu kenapa kau bisa seperti itu. Dia bercerita soal meteor dan segala keanehan di rumahnya. Kau gila, Chan. Kalau aku jadi Kris, sudah kudorong kau ke jalan raya biar ditabrak mobil."
"Bagus sekali, Chen. Terima kasih telah menghiburku." tukas Chanyeol sarkastik.
"Sama-sama."
Chanyeol menggigiti kesepuluh kuku jarinya, gusar. "Eh… terus, kau bilang apa? Kau tidak menceritakan rahasiaku, kan?"
"Aku tidak berani, soal itu kuserahkan semuanya padamu. Aku memutuskan untuk pura-pura tidak tahu."
Baguslah Chen tidak cerita apa-apa. Rasanya melegakan. Sedikit. "Terus, terus? Gimana tanggapannya?"
"Dia tidak berkomentar lagi, hanya pergi begitu saja."
Chanyeol terdiam. Chen juga. Setelah lima menit saling hening tanpa kata, akhirnya Chen kembali bersuara. "Tenanglah, Chan. Jangan berkecil hati dulu. Justru itu pertanda bagus. Kalau dia menanyakan keadaanmu, itu artinya dia masih peduli. Kris hyung masih menyukaimu, bahkan setelah kau merusak rumahnya."
Atau bisa juga kebalikannya, Kris ingin memastikan Chanyeol benar-benar sinting dengan bertanya melalui Chen. Perasaan kesalnya meluap sampai rasanya Chanyeol kepengen mementung kepala seseorang pakai gagang telpon. Bagaimana ini? Apa belum terlambat untuk memperbaiki keadaan? Chanyeol tidak ingin pisah dari Kris. Tidak mau. Lebih baik dia pindah sekolah sekalian daripada harus melihat Kris menggandeng tangan orang lain. Lebih buruk lagi… kalau orang lain itu adalah Tao. NO! Jangan sampai itu terjadi.
Setelah mengakhiri obrolan, Chanyeol segera berlari ke kamar dan menyambar pensil diatas meja. Dia harus berlatih lebih keras. Pokoknya nonstop! Jika Chanyeol sudah lebih mahir, berbicara dengan Kris bukan lagi masalah besar.
Persis seperti sebelumnya, pensil itu melayang di udara. Chanyeol mulai memfungsikan tangannya sebagai penggerak. Pensil itu berputar-putar mengelilingi langit-langit kamar. Dia mencoba memfokuskan diri untuk membuat pensil itu berhenti. Tapi bukannya berhenti, pensil itu malah jatuh ke lantai. Oke. Memang nggak persis seperti keinginannya, tapi toh tetap saja pensil itu berhenti bergerak.
Dengan seluruh konsentrasi, Chanyeol kembali menerbangkan pensil di udara. Berusaha menyetopnya dengan suara batin. Masih gagal juga. Pensilnya terjun bebas ke lantai lagi. Dia terus mengulanginya sebanyak sepuluh kali sambil memikirkan ekspresi marah Kris saat di lorong tadi. Tidak ada perubahan sama sekali. Pensil bodoh masih saja hobi menjatuhkan diri ke lantai.
Gerrghhh! Ini mulai membosankan! Sangat!
Lalu terbesit di pikiran Chanyeol untuk melakukan percobaan lain. Mungkin kekuatannya tidak bekerja dengan sempurna karena dia bosan. Mungkin dia harus melakukan sesuatu yang lebih menarik dan seru. Lupakan perkataan Kai. Percuma saja berlatih tiap hari kalau dirinya sendiri bosan, sampai kapanpun dia tidak akan berkembang.
Chanyeol memeriksa lemari bajunya, mencari diantara tumpukan pakaian dan menarik keluar kaos buluk yang warna hitamnya sudah berubah jadi abu-abu luntur. Dia menghamparkan kaos itu di tempat tidur. Nah. Sekarang Chanyeol akan membuat kaos itu baru kembali. Lebih daripada itu. Dia akan merubah kaos itu menjadi kaos paling keren seperti yang digunakan penyanyi-penyanyi band rock.
Berubah, berubah, berubah.
Hmmm. Tidak terjadi apa-apa. Oke. Dia mengerti sekarang. Chanyeol kembali memejamkan mata dan membayangkan kaos hitam oblong tanpa lengan dengan gambar kepala tengkorak pake helm tentara di tengah-tengahnya, terus ada tulisan 'FYI, I Don'T Care If You DIE' warna putih dan berbentuk seperti lelehan darah. Sip. Dia bisa merasakannya. Begitu Chanyeol buka mata, surprisee… kaosnya belum berubah juga. Masih kaos oblong gembel dengan lubang di bagian ketek.
Ayo bekerjalah.
Berhasil! Perlahan-lahan warna hitam abu-abu luntur itu berubah kembali ke warna aslinya yang tajam. Berhasil. Hampir berhasil. Kaos Chanyeol kini kembali hitam lagi, tapi cuma itu. Lubang di keteknya masih ada. Dan masih kaos oblong biasa. Dia ingin kaos keren seperti yang digunakan penyanyi rock, bukan penggemar penyanyi rock.
Tiba-tiba Chanyeol teringat penjelasan Kai tentang cara menggerakan pensil dengan tangan untuk membantunya fokus. Apa itu akan berhasil pada kaos? Well, kita tidak akan pernah tahu jika belum mencoba.
Chanyeol mulai mengayunkan kedua tangannya diatas kaos. Kesepuluh jarinya menari lincah bagaikan sedang menggoreskan tinta diatas kanvas. Membuat jari-jarinya menjadi gunting khayalan untuk menggunting bagian lengan. Melukis tengkorak berhelm di bagian tengah. Dan untuk bagian akhirnya, Chanyeol menambahkan tulisan diatas gambar tengkorak. Percaya nggak percaya, Chanyeol berhasil kali ini!
Lengan baju terpotong, pinggiran kaos kedodoran itu menyusut sedikit hingga ke ukuran proporsional, muncul gambar tengkorak bersablon putih yang sangat keren plus tulisan 'FYI, I Don'T Care If You DIE' di bagian atasnya. Awesome Rock! Ini keren! Ini baru kaos penyanyi rock! Jika desainer kaos Billabong dan Planet Surf melihat ini, mungkin mereka akan nangis guling-guling dan memohon untuk dibuatkan satu.
Chanyeol mengangkat hasil karyanya ke udara. Memandangi atasan impiannya dengan decak kagum dan senyum puas. Park Chanyeol's Big Project! Watch out! Iblis Desainer siap beraksi!
Secepat mungkin dia mengganti kaos lama yang membosankan dengan kaos rocker ciptaannya. Baju itu begitu pas dan bagus. Dia tidak percaya telah membuat karya masterpiece ini dengan tangannya sendiri. Chanyeol merasa sangat bersemangat. Saking semangatnya dia langsung meniru Slash. Mengangguk-nganggukkan kepala dan menggaruk perutnya seolah-olah sedang menggenjreng gitar. Ini mengagumkan! Dia sudah membuat satu baju. Dengan mudah dia bisa membuat yang lainnya. Mungkin besok-besok dia bisa jadi pengusaha kaos rock branded dibawah label ternama 'PCY'. Canggih. Punya kekuatan ternyata ada untungnya.
.
.
.
.
Kris mengamati pahatan seni di pohon. Mengaguminya. Berpikir keras. Bagaimana seorang anak manusia bisa menciptakan sebuah meteor dan membuatnya menghilang di waktu bersamaan. Belum lagi inisial cinta ini. Kapan Chanyeol bikinnya? Kris sudah bertanya pada seluruh pelayannya, ramai-ramai menjawab tidak pernah lihat ada orang yang datang ke rumah dua atau tiga hari sebelumnya dan menyiapkan surprise. Padahal tadinya Kris berpikir ini cuma akal-akalan Chanyeol untuk memberinya sebuah kejutan. Bisa jadi kan anak itu menyewa orang untuk membuat semacam meteor jejadian? Atau itu cuma efek animasi khusus yang diproyeksikan dari laptop?
Apa? Bagaimana bisa? Dan kenapa? Berbagai macam spekulasi, dugaan, pertanyaan dan asumsi berputar di dalam kepala Kris. Mulai dari yang masuk akal sampai yang kartun banget alias mustahil. Lantas kalau Chanyeol bukan anak manusia, emang dia anak apa, dong? Anak Jin? Anak penyihir? Anak vampir? Anak tuyul? Anak… setan?
God! There's no such thing like that. Anak setan? Pfrtt. Yang benar saja! He-loo. Chanyeol itu jelas-jelas manusia. Fisiknya utuh. Kakinya tidak mengambang di udara. Dia tidak punya tanduk di kepala dan taring di gigi. Jadi… darimana semua keanehan itu berasal? Kris belum yakin. Pasti ada penjelasan untuk ini semua. Manusia biasa tidak akan mungkin mewujudkan semua itu secara ajaib. Kecuali…
Kecuali…
Chanyeol memang bukan manusia…
Ah, masa sih?
Kris mengacak-acak rambutnya frustasi.
Herrghhh! Park Chanyeol, kau ini apa sih sebenarnya?! Manusia kah? Jelmaan demit kah? Mana sok-sok aksi mogok bicara segala. Kris kan jadi semakin penasaran. Dia juga sih pakai acara marah segala hanya gara-gara melihat Yixing dibentak. Waktu itu Kris juga sama emosinya dan melihat Chanyeol bersikap kasar, tiba-tiba saja amarah Kris yang tadinya menggunung tumpah ruah semua. Dia tahu Chanyeol saat itu sedang dalam keadaan terpojok. Kris tahu seharusnya dia tidak mendesak Chanyeol begitu keras. Ya habis mau bagaimana lagi? Kris benar-benar penasaran setengah mampus sampai dia tidak tidur semalaman cuma gara-gara mikirin anak orang. Anak orang yang super duper ajaib. Sekarang Kris bahkan tidak yakin Chanyeol itu anak orang apa bukan.
Lalu dia itu apa? APA!?
Kris meninju pohon cinta kuat-kuat sampai daun-daunnya berjatuhan semua. Hanya ada satu cara untuk memastikan ini semua. Kris harus bikin Chanyeol menyerah dan buka mulut. Terserah mau bagaimana caranya.
.
.
.
.
Friday, 16/10/2015
Saat Chanyeol berjalan bersama Chen menuju ke undakan tangga pintu utama, dari kejauhan mereka melihat sekerumunan orang duduk di sekitar Jinyoung. Ajaibnya, Kris juga ada disana. Kris yang tempo hari bilang muak berurusan dengan Jinyoung cs, kini malah terlihat akrab dengan Tao. Chanyeol sangat tidak terima. Itu menyakitkan. Tao harus diberi pelajaran supaya dia sadar dan berhenti berganjen-ganjen ria dengan Kris-nya. Chanyeol juga harus bikin Kris buka mata lebar-lebar kalau Tao itu terlalu kejam dan tidak layak untuk cowok sebaik dia.
"Lihat itu." Chen menunjuk pakai lirikan matanya.
"Aku tahu." gumam Chanyeol. "Aku harus melakukan sesuatu."
"Chan, tolong jangan lakukan apa-apa. Plis." ada nada memohon yang teramat sangat dari ucapan Chen.
"Ayolah, Chen. Aku tidak bisa membiarkan Tao begitu saja bermesraan dengan pacarku." tandas Chanyeol. "Nanti dia ngelunjak dan berpikir aku sudah menyerah dari Kris."
Kemudian terlintas sebuah ide di kepala Chanyeol. Bagaimana jika dia memberi Tao jerawat paling besar diatas hidungnya? Dengan begitu dia bisa merasakan bagaimana rasanya jadi lelucon sekolah. Siapa tahu Tao akan sadar setelah itu dan berhenti menindas orang-orang lemah tak berdaya.
Chanyeol menahan Chen untuk berhenti lalu membisikkan ide itu di telinga Chen.
"Itu bukan ide bagus." saran Chen. "Kekuatanmu membuat semuanya kacau. Lebih baik kita jalan dan pura-pura tidak tahu saja."
"Ini pasti berhasil. Aku bisa merasakannya." Ujar Chanyeol kelewat pede, berusaha meyakinkan Chen. Memang kekuatannya sudah banyak membuat kekacauan, tapi dia kemarin beruntung mengubah kaos buluk menjadi kaos rock keren. Sudah waktunya peruntungan itu terulang kembali.
"Chan…" tegur Chen sambil memijat pelipisnya. Stress punya temen tukang ngeyel kayak Chanyeol. "Kumohon. Jangan."
Dasar Chanyeol kepala baja, dikasih tahu susahnya minta ampun. Terpaksa Chen bertindak. Dia menarik tangan Chanyeol dan menyeretnya menaiki tangga.
"Chen!" protes Chanyeol begitu tahu Chen sengaja menggagalkan usahanya. Kali ini dia melempar pelototan segalak mungkin, berharap Chen berhenti menariknya. Sori ya. Tidak mempan!
"Aku melakukan ini demi keselamatanmu." jawab Chen santai. Chen ngotot dan menarik Chanyeol pakai tenaga dalam. Memang harus pakai tenaga dalam, soalnya badannya kalah gede dari Chanyeol.
"Chen! Aku tidak mau lewat sini. Kita putar lewat pintu belakang aja ya?" rengek Chanyeol nyaris putus asa.
Chen tetap cuek sambil terus menyeret Chanyeol yang daritadi merayap kayak sapi kekenyangan di belakangnya.
"Jadi Gongchan bakal bersekolah disini?" celetuk Sandeul begitu mereka lewat.
"Yap, dia jauh-jauh pindah dari California dan tinggal bersama ibunya sekarang. Yang artinya dia akan bersekolah di Kyunghee." jawab Jinyoung sengaja menaikkan volume suaranya. "Sekarang semua orang bisa melihat kalau dia itu benar-benar ada." Chanyeol langsung ngeh kalau Jinyoung sengaja menambahkan kalimat terakhir khusus untuk menyindir dia. Rupanya dia masih dendam pacarnya diolok-olok tidak nyata. Cih. Terserah. Kayak Chanyeol bakal peduli saja.
Kris masih sama seperti kemarin. Masih tidak menatap Chanyeol dan bertingkah seolah yang lewat barusan cuma duo cacing pasir tidak penting. Ya sudah. Toh Chanyeol juga tidak berharap Kris akan menyapanya. Walau tetap saja melihat Kris yang tidak responsif begitu rasanya nyesek bukan main. Padahal kemarin mereka masih sempat berlovey-dovey. Ternyata perasaan manusia bisa berubah secepat itu. Apa Kris sudah tidak mencintainya lagi? Apa Kris memacarinya karena iseng? Apa Chanyeol akan jadi mantan ke Sembilan puluh satu? Chanyeol tidak yakin berapa jumlah mantan Kris, toh cowok itu tidak pernah cerita. Tapi Chanyeol yakin untuk cowok seperti Kris, minimal dia akan punya—paling sedikit—lima puluh mantan.
"Kau dengar tadi mereka bilang apa? Gongchan akan bersekolah disini." tukas Chen begitu mereka sudah jauh.
"Ya, aku dengar." sahut Chanyeol berusaha untuk tidak mewek detik itu juga. Lalu sebuah pemikiran mengerikan terlintas di kepalanya. Mungkin gara-gara dia Gongchan akhirnya akan bersekolah di Kyunghee. Kemarin dia keceplosan menyuruh Gongchan bersekolah disini. Sekarang itu benar-benar terjadi.
Tidak adil! Bagaimana bisa kekuatannya malah menghancurkan percintaannya sendiri dan berbalik membantu kehidupan percintaan Jinyoung?!
.
.
.
.
Chanyeol tidak sanggup menghadapi Kris hari ini. Jadi dia langsung menuju ruang uks. Niatnya sih pengen bergalau ria sepuasnya disitu.
"Ada masalah apa denganmu?" tanya Seojung ssaem.
Selain mati karena cemburu? Tidak ada. Tapi Chanyeol tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya. Seojung ssaem adalah orang paling galak dan pemarah di gedung ini kalau sudah menyangkut soal siswa-siswi yang membolos hanya gara-gara alasan sepele lalu pura-pura sakit demi menghindar dari kenyataan. Chen saja terpaksa harus memuntahi sepatunya bulan lalu biar Seojung ssaem percaya kalau dia benar-benar sakit dan bukan cuma alasan biar tidak ikut kelas olahraga.
"Kepalaku pusing, perutku mual dan sekarang aku ingin muntah." keluh Chanyeol sengaja menutup mulutnya, pasang gaya siap-siap muntah.
"Muntah? Dengan gaya berpacaran kalian yang seperti itu, aku tidak heran kalau kau mual-mual." sindir Seojung ssaem nusuk bin nyelekit.
Chanyeol mengeluarkan satu juta sumpah serapah dalam hati.
"Kau yakin tidak ingin dikirim ke rumah sakit? Mungkin yang kau butuhkan saat ini tes kehamilan atau semacamnya."
Chanyeol mengeluarkan satu milyar sumpah serapah dalam hati.
Setelah puas bikin Chanyeol manyun total, wanita itu langsung memberikan termometer. "Aku ada kelas. Silahkan berbaring saja dan jangan coba-coba panggil pacar pirangmu itu kesini. Sebentar lagi aku akan kembali." Ada sedikit ancaman tersirat dari nada bicara Seojung ssaem.
Kayaknya pacar pirang Chanyeol lebih senang berdua-duaan dengan panda penjilat ketimbang dirinya. Jadi percuma saja dipanggil kesini. Malah akan membuat mood Chanyeol semakin berantakan.
Tanpa banyak bicara, Chanyeol mengambil termometer itu lalu berbaring diatas kasur.
Dua menit setelah Seojung ssaem berlalu, Chanyeol celingukan sebentar di pintu, memastikan wanita itu benar-benar pergi. Begitu dilihatnya lorong kelas lengang dan tidak nampak manusia sedikitpun, dia buru-buru menutup pintu. Sip. Aman. Yang harus dia lakukan sekarang adalah mencari cara agar Seojung ssaem percaya bahwa dirinya benar-benar sakit dan wajib dapat surat izin untuk dikirim pulang secepatnya.
Chanyeol bisa saja memakai kekuatannya untuk menciptakan semacam penyakit bohongan untuk mengelabui si gukguk herder itu, tapi dia takut mengambil resiko. Jangan sampai ujung-ujungnya Chanyeol malah terkena penyakit infeksi misterius dan berakhir mengunyah pipi orang-orang tak berdosa. Lebih baik pakai cara aman. Letakkan saja termometer dibawah sorot lampu. Meski caranya agak kuno tapi ini sangat manjur untuk menaikkan suhu di termometer. Gimana? Ide yang cerdas kan?
Sambil nungguin termometer memanas, Chanyeol tidur-tiduran diatas kasur dan bermain criminal case di Hp. Mencoba mengalihkan pikirannya dari pemandangan tak sedap di tangga pagi tadi. Well, itu tidak berhasil. Sulit sekali mengenyahkan Kris dari otaknya mengingat mereka baru saja berciuman kemarin.
Apa mereka akan berakhir sia-sia? Sampai disini saja? Really?!
Pelupuk mata Chanyeol terasa panas dan cairan bening mengalir turun begitu saja di pipinya. Sial! Dia tidak boleh menangis. Sebagai seorang namja dia tidak boleh terlihat lemah seperti ini. Chanyeol buru-buru menghapus air matanya.
Suara hak sepatu Seojung ssaem terdengar semakin dekat dan bergema di lorong yang sunyi. Cepat-cepat dia melompat turun dari kasur dan menyambar termometer terus dimasukkan ke dalam mulut.
Ouch! Spontan Chanyeol tersentak begitu benda panas itu membakar lidahnya. Bola lampu membuat benda bodoh itu menjadi terlalu panas. Buru-buru dia keluarkan dari mulut begitu sosok tinggi kurus Seojung ssaem muncul di pintu.
Seojung ssaem mengambil termometer di tangan Chanyeol lalu mengamatinya.
"Apa anda akan menelpon Ibu saya sekarang?" tanya Chanyeol berusaha mengatur wajah senormal mungkin. Jangan sampai trik memalsukan suhu termometernya ketahuan.
Tatapan tajam wanita itu menusuk balik mata Chanyeol. "Kelihatannya kita harus menelpon kamar mayat. Dengan suhu seperti ini seharusnya kau sudah mati gosong dalam sebuah insiden kebakaran." Kemudian telunjuknya mengarah ke pintu. "Kembali ke kelas. Sekarang!"
Kenapa dia membiarkan benda tolol itu berdiam diri di bawah lampu terlalu lama?
Seojung ssaem menunggu Chanyeol segera angkat kaki, tapi namja itu tetap tak bergeming. Pergi dari ruang uks jelas bukan pilihan, yang masuk pilihan sekarang adalah memohon dengan wajah semelas mungkin. "Kumohon, Seojung ssaem. Saya tidak bisa masuk kelas sekarang. Tidak hari ini. Tolong biarkan saya duduk disini untuk hari ini saja. Pleaseeee…"
"Kelas, Chanyeol." tangan kanan Seojung ssaem siap mendaftarkan nama Chanyeol dalam buku daftar siswa-siswi tukang bolos di SMA Kyunghee.
Wanita ini jelas tidak punya hati. Bagaimana bisa dia tidak luluh lihat tampang melas super imutnya Chanyeol? Hebat. Pantas saja dia masih betah jadi gadis tua sampai sekarang. Soalnya pria manapun tidak akan ada yang tahan bedekatan dengannya lebih dari satu hari. "Tolonglah, ssaem. Saya bersedia melakukan apa saja sebagai balas budi jika anda mau berbaik hati. Biarkan saya disini, setidaknya sampai anak-anak senior enyah dari sekolah untuk perjalanan panjang studi tour ke museum."
"Pergi." ucapnya tegas dan final.
Kini Chanyeol tahu apa yang akan terjadi pada Jinyoung-Jinyoung lain di dunia ini saat mereka dewasa nanti. Mereka akan tumbuh menjadi orang-orang seperti Seojung ssaem.
Setelah melemparkan tatapan kejam terbaiknya, Chanyeol bangkit dari ranjang uks dan meninggalkan ruangan.
Wanita itu mungkin bisa menyuruhnya pergi dari ruang uks, tapi dia tidak bisa menyuruh Chanyeol berjalan cepat. Namja itu berjalan super lambat menyusuri lorong. Saat dia hampir berbelok ke toilet, Mrs. Soyeon—Ibu Kepala Sekolah terhormat—memergokinya dan langsung memanggil bocah itu.
"Park Chanyeol, bisa kesini sebentar?"
Ck. Ketahuan deh.
Chanyeol berbalik dan menatap wanita paruh baya bertampang baby face itu, sebelas dua belas sama anaknya. Disampingnya berdiri cowok tinggi menjulang nan cakep sekali. Mukanya tampak familier. Chanyeol pernah melihat cowok ini dimana ya?
"Untung aku bertemu denganmu," tukas Mrs. Soyeon. "Aku ada meeting sebentar dengan para guru, maukah kau mengantar murid baru ini berkeliling? Sekalian tunjukkan dimana kelas XI-C."
Bagai terhipnotis, Chanyeol hanya bisa mengangguk patuh sambil menatap kagum wajah super tampan di hadapannya. Okelah, hatinya memang masih milik Kris Wu. Tapi sumpah cowok ini keren banget. Matanya nyaris magis. Dia kan jadi serba salah mau menolak tawaran Mrs. Soyeon.
"Bagus." ujar Mrs. Soyeon. "Nah, Chanyeol. Perkenalkan, ini Gong Chansik. Murid pindahan dari California."
.
.
.
.
Dia adalah…
Gong Chansik.
Gongchan. Gongchan-nya Jinyoung!
Hell. Ternyata aslinya jauh lebih keren daripada foto di facebook. Tinggi menjulang, tampan, hidung mancung, mata tajam, bahu lebar, tatanan rambut up-to-date, dan alis tegas yang membingkai kedua matanya. Dia terlihat seperti model majalah fashion remaja trendi masa kini. Apa dia memang model sungguhan?
Sekilas dia tampak ramah dan mudah didekati.
"Kau… Chanyeol? Park Chanyeol yang itu?" cowok itu bertanya dengan seringai yang membuat harga diri Chanyeol merasa terbanting-banting keras detik itu juga. Chanyeol mendapat firasat kuat kalau cowok sengak ini dan dirinya tidak akan jadi teman baik.
"Yeah." Chanyeol berharap Mrs. Soyeon tidak meninggalkan dia berdua saja dengan calon musuh barunya ini. Akhirnya bertambah lagi satu orang menyebalkan di Kyunghee. Bagus. Hidupnya terasa makin indah saja.
Gongchan mengayunkan ransel dari bahu kanan ke bahu kiri. "Sial sekali aku harus melihat tampangmu di hari pertamaku bersekolah di Korea." Lalu setelah puas bikin Chanyeol tercengang gondok, cowok itu melesat pergi dengan cueknya.
Bodohnya tadi Chanyeol sempat berpikir Gongchan orang baik dan bisa dijadikan teman. Disini patut digaris-bawahi! Setiap orang yang bergaul dengan Jinyoung adalah orang-orang berfisik sempurna namun memiliki cacat karakter parah.
"Memangnya kau tahu harus kemana?" tukas Chanyeol sambil menjejeri langkah Gongchan.
"Nanti kucari tahu. Sekarang bisakah kau menyingkir? Aku lebih suka nggak terlihat bersamamu di depan umum."
Wow. Sepertinya Jinyoung sukses besar menjejalkan reputasi buruk Chanyeol ke kepala cowok ini. "Yeah, senang berkenalan denganmu juga." balasnya penuh sindiran.
Chanyeol menunggu cowok itu melontarkan kalimat balasan yang menjengkelkan, tapi bel istirahat keburu berbunyi dan tiba-tiba saja lorong panjang yang tadinya sunyi itu telah dipenuhi ratusan kepala.
Jinyoung berlari keluar kelas dan langsung memeluk Gongchan seolah dia pemeran utama dalam telenovela. "Aku senang sekali kau disini." serunya heboh dengan senyum bahagia tiada tara yang merekah dari ujung ke ujung. Gongchan balas tersenyum dan mengeratkan pelukannya lalu mengecup puncak kepala namja yang lebih pendek darinya itu.
Santai sekali ya mereka bermesraan begitu di depan umum. Di tengah-tengah lorong lagi! Sehingga semua mata bisa menonton mereka berpelukan. Ih! Chanyeol buru-buru pergi darisitu sebelum dia muntah-muntah beneran.
"Baro, Sandeul, Tao, Baekhyun! Ayo sini kenalan sama Gongchan." teriak Jinyoung norak.
Jinyoung begitu sangat amat sungguh senang sekali. Chanyeol begitu sangat amat sungguh siap bunuh diri.
"Aku sangat bersemangat menyambut acara pensi pelepasan siswa senior nanti. Dan kudengar-dengar salah satu dari kalian akan pergi dengan Kris hyung." tukas Jinyoung lagi-lagi sengaja memberi pengumuman ke seluruh dunia. "Kudengar-dengar dia sedang mencari ban serep atau semacamnya, karena pacar bodohnya itu sungguh mengecewakan."
Langkah Chanyeol terhenti mendadak. Denyut nadinya bertambah cepat, seperti motor balap yang sedang berpacu di arena. Dia tidak salah dengar kan? Apa barusan bedebah itu menyebut-nyebut nama Kris? KRIS?! Membuka pendaftaran 'ban serep'?!
TIDAAAKKK MUNGKIIINNNNN!
Teriakan keras dalam pikiran Chanyeol memicu kekuatannya hingga setiap pintu loker di sepanjang lorong kompak terbuka lebar dan seluruh isinya berterbangan keluar.
Kai pasti akan terkesan. Chanyeol tidak cuma membuat satu pensil bergerak di udara, tapi lusinan pensil, bersama dengan tas, buku-buku, kertas-kertas, sepatu, baju olahraga dan properti lainnya melayang di udara dan sebagian lagi berserakan di lantai. Membuat jalanan di sepanjang lorong tampak kacau seperti habis terkena sapuan badai maha dasyat.
Orang-orang berteriak dan berlarian panik kesana-kemari. Tapi Chanyeol seperti tidak mendengar apapun. Dia tidak perduli. Dia lebih memerdulikan suara jantungnya sendiri yang kacau balau. Coba bayangkan! Kris. Kris-nya akan menggandeng tangan makhluk lain selain dia. Bagaimana dia sanggup melewati dua tahun terakhirnya di Kyunghee jika harus menyaksikan Kris main mata dengan orang lain? Selain itu, Jinyoung akan terus-menerus menghinanya, dan sekarang pacarnya ada disini untuk membantu Jinyoung melakukan itu.
Antara sadar dan tidak, Chanyeol terus melangkah di sela-sela buku dan benda-benda lain di lantai. Isi kepalanya kosong. Tatapannya menerawang jauh ke depan. Dia tampak seperti boneka tak bernyawa yang digerakkan oleh ilmu hitam. Sekarang tidak ada lagi yang bisa dia perbuat selain melanjutkan kehidupannya yang sepi dan menyedihkan. Tanpa harapan.
Tiba-tiba kakinya tersandung tumpukan buku-buku tebal di lantai hingga Chanyeol mendapati dirinya jatuh terduduk diantara timbunan benda-benda lain. Kalau Chanyeol tidak sedang mati rasa, pasti dia sudah merasa kesakitan. Tapi Chanyeol benar-benar tidak merasakan apapun selain jiwanya yang gamang dan terasa hampa. Dia cuma duduk diam sambil menatap orang-orang yang panik serta kekacauan di sekitarnya. Kini keadaan lorong berantakan.
Cocok sekali.
Hidupnya juga seperti itu.
.
.
.
.
"Calm down, man." bisik Chen saat mereka berdiri berdampingan untuk mengantre hidangan makan siang. "Jinyoung cuma asal ceplos saja. Kau tahu sendirilah bagaimana cecunguk itu, mulutnya tidak pernah disaring. Kris hyung tidak mencari penggantimu kok. Seratus delapan puluh delapan persen aku yakin dia masih menyukaimu. Percaya deh."
Chanyeol mencibir pesimis. "Tahu darimana? Kris sudah nggak menyukaiku lagi. Aku nggak akan heran kalau dia mencari penggantiku." jawabnya sementara Ibu kantin menyendokkan spaghetti dan tiga bakso daging ke nampan Chanyeol.
Memikirkan fakta tentang Kris yang sudah tidak menginginkannya lagi nyaris membuat Chanyeol gila. Tapi begitu tiba giliran Chen yang memilih menu, Chanyeol menyuarakan kegelisahannya. "Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa." jawab Chen mantab. Jangan sampai dia terlibat masalah lagi gara-gara temannya ini kelepasan pakai kekuatan.
Chanyeol menghela napas pasrah. Dia tidak punya pilihan lain selain tenang dan tidak berulah untuk memperparah nasib buruknya yang kalau dipikir-pikir jarang sekali beruntung. Semua ini gara-gara kekuatannya! Kenapa sih dia harus jadi anak iblis yang punya kekuatan!? Jadi anak iblis saja tidak cukup ya? Kenapa harus punya kekuatan segala?! Kekuatannya menyusahkan diri sendiri pula! AARGHH!
Setelah mengambil secangkir puding coklat, Chanyeol melangkahkan kaki-kaki panjangnya menjejeri langkah Chen. Saat mereka melangkah menuju meja, Chanyeol terpaku mendapati sang pujaan hatinya malah nongkrong dengan Suho di dekat meja anak-anak populer. Bukan itu saja, Kris bahkan masih berakrab-akrab ria dengan Tao. Jinyoung nggak bohong. Cowok itu jelas telah mendapatkan penggantinya. Dan sial sekali orang itu adalah Tao.
"Abaikan saja. Kris hyung sedang bosan dan dia butuh bergaul dengan teman-teman lamanya kan?"
Chanyeol melotot sebal "Teman-teman lama? Tao teman lama Kris?! Hei, dia bahkan sering jutek pada Tao sebelum pacaran denganku. Ini tidak wajar dan aku tidak bisa diam saja." tandas Chanyeol geram.
"Chan, diam saja, oke? Kita akan pikirkan cara lain bersama-sama. Cara lain yang lebih aman. Dan kumohon jangan mengacau lagi."
Belum sempat Chanyeol menjawab, datang Tiffany dan Irene ikut bergabung di meja Suho dkk. Mereka duduk memepet Kris dan berusaha menggeser Tao dari situ. Kayaknya pengumunan Jinyoung tadi berhasil menarik minat para ban serep gatal di sekolah ini. Menyebalkan! Kris juga tidak protes sama sekali. Malah asik haha-hihi. Chanyeol jelas makin panas.
"Tuh, tuh, tuh, kau lihat mereka kan?" Chanyeol menoleh dan berbisik parau pada Chen, nada suaranya gemetar nahan mewek. Terlebih ketika tangan Kris menelusup masuk ke dalam kantong kripik Tiffany lalu tangan mereka bergesekan dan ekspresi tawa bahagia Kris saat Irene bercerita sesuatu yang lucu. Benar-benar modus cewek-cewek itu. Tidak bisa dibiarkan! Ini namanya ngajakin perang.
Chen mengendikkan bahu santai. "Apa? Bukankah Tiffany nuna dan Irene nuna memang lumayan dekat dengan Kyungsoo? Mereka sering duduk disitu. Tafsiranmu terlalu berlebihan. Kau harus lebih santai sedikit dan berpikiran positif."
Bukan Chanyeol namanya kalau dia bisa tenang semudah itu. "Saat ini Kris pasti sedang menilai salah satu dari mereka, mana yang cocok untuk menggantikanku." bibir manyun merengut ekstra monyongnya adalah bukti kuat kalau namja itu sedang menahan diri untuk nggak nangis bombay.
"Chanyeol! Sudah kubilang jangan berulah!" ketus Chen sambil mengambil cangkir berisi puding coklat yang melayang tiga senti dari tempatnya. Secepat kilat namja itu meletakkannya kembali keatas nampan sebelum ada saksi mata lain.
Chanyeol melongo. Sejak kapan puding itu mengambang di udara? Padahal Chanyeol tidak berniat sama sekali untuk membuat puding itu terbang. Apa sekarang tiap kali dia emosi benda-benda disekelilingnya juga akan ikut bereaksi?
"Itu bukan aku." Chanyeol membela diri.
"Yeah, bukan kau. Bukan kau juga yang membuat lorong kelas berantakan dalam hitungan detik." Ujar Chen setengah menyindir.
Chanyeol mengusap wajahnya gemas. "Itu tidak sengaja dan benar-benar diluar kendali. Bukan salahku."
Chen berdecak sambil mengibaskan tangan. "Sudah. Habiskan saja pudingmu dan jangan bertingkah aneh-aneh. Kris itu masih sayang padamu, yakin dan percaya saja."
Tapi Chanyeol tidak mau makan apapun. Dia hanya menatap spaghetti dan bakso-bakso daging tanpa selera. Puding coklat pun terlihat nggak menarik lagi di mata koloni cacing dalam perutnya.
Chanyeol mendongak dari puding dan kembali menyoroti Kris yang sedang dikelilingi para fans-fansnya yang berniat merebut perhatian namja itu. Perasaannya amarah Chanyeol mencuat kembali ke permukaan. Perasaan ini sama dengan perasaan yang berkecamuk dalam dirinya saat menyebabkan loker-loker terbuka dengan keras. Kali ini Chanyeol tahu kekuatannya tidak akan mengecewakan.
Tatapan Chanyeol beralih dari benda kenyal di nampannya lalu ke Kris.
Puding.
Kris.
Puding.
Kris.
Rasanya makanan itu seperti memanggil namanya. Bukan untuk dimakan, tapi untuk ditembakkan keseberang ruangan hingga mendarat tepat di tengah-tengah meja Kris. Itu akan mengalihkan perhatian Kris kepadanya. Menghentikan aksi tebar-tebar pesona dan senyum miring peluluh hati kepada orang-orang nggak penting selain Chanyeol. Apa dia berani mencoba? Secara teknis itu bukan tindakan yang salah. Lumayan kan? Sekalian buat latihan.
Setelah melihat keadaan sekitar dan memastikan tidak ada yang memperhatikan dirinya, termasuk Chen yang kini sibuk main mata dengan Xiumin, dia mulai bertindak. Dengan satu kali gerakan sapuan, Chanyeol menerbangkan puding tersebut dari nampan menuju ke meja Kris. Hanya saja, perjalanan si puding coklat tidak semulus perkiraan Chanyeol, karena bukannya mendarat di meja, puding itu malah mendarat di kepala Jinyoung yang kebetulan lewat dan menghalangi lintasan terbang puding coklat.
Gumpalan coklat yang lengket dan kenyal meleleh di pipi dan rambut Jinyoung. Sebagian lelehan coklat menetes dari wajah dan menodai baju seragamnya. Chanyeol terpaksa nahan ketawa melihat namja malang itu berteriak histeris. Chanyeol nggak bermaksud melakukan itu. Tapi dia sama sekali tidak merasa menyesal. Well, itu terlihat adil-adil saja baginya.
Saat itulah Chanyeol menoleh dan memergoki Gongchan tengah menatapnya. "Chanyeol yang melakukan itu!" tukasnya kepada Jinyoung, cukup keras sehingga bisa di dengar siapapun. "Dia melemparkan puding itu kearahmu."
Heck! Dasar pengadu!
Usaha Chanyeol membuahkan hasil. Tidak hanya menarik perhatian Kris, dia juga menarik perhatian seisi kantin.
"Aku tidak melakukannya!" bantah Chanyeol cepat. "Aku bahkan nggak menyentuh puding itu." yang secara teknis memang benar.
"Tapi aku melihatmu melakukannya." Gongchan makin ngotot.
"Oh ya?" Chanyeol mendengus sinis. "Apa kau melihatku menyentuh puding itu dengan tanganku? Tidak kan?" Lalu saat menyadari bahwa argumen soal tangan akan menarik perhatian orang ke 'bakat istimewanya', Chanyeol terpaksa mengalah. "Baiklah. Kau menang. Aku yang melemparnya."
Pengumuman kecil itu membuat Jinyoung geram bukan main. Chanyeol sering melihat namja itu marah sebelumnya, tapi nggak separah ini. Matanya menyipit ke ukuran ekstrem dan hanya berupa garis lurus, dia mengangkat nampan tinggi-tinggi lalu melemparkannya. Nampan Jinyoung beserta seluruh isinya berhasil mendarat di dekat sepatu Chen.
"Shit!" pekik Chen tak terima. "Jangan sepatu baruku!" Roti selai krim isi pisang coklat nggak cocok untuk dilempar, jadi Chen mencobloskan sedotan ke kotak jus, membidikkannya ke Jinyoung dan meremasnya hingga seluruh isi jus anggur muncrat ke Jinyoung. Memperparah penampilannya. Lengkap sudah. Puding coklat dipadu anggur. Jinyoung terlihat seperti kue raksasa berjalalan. Setengah penghuni kantin bersorak melihat cowok songong itu megap-megap emosi. Merasa harga dirinya sudah diinjak-injak oleh dua bocah cupu ini.
Mimik wajah Jinyoung saat mengamati kemeja penuh nodanya sangat menakutkan, sanggup membuat ribuan bunga di taman jadi layu. "Astaga. Kalian harus menerima balasannya." desis Jinyoung berang melalui gigi yang terkatup rapat.
"PERANG MAKANAN!" teriak Gongchan makin memperkisruh keadaan. Semenit kemudian seisi kantin hiruk pikuk. Meja-meja dan kursi dibalik hingga membentuk tameng, anak-anak berlindung di belakang meja serta ratusan makanan berterbangan di udara.
Spageti, puding, kue, salad, sup, hotdog, bubur gandum, dan macam-macam makanan melayang ke seluruh penjuru kantin. Chanyeol buru-buru merunduk di bawah meja saat tembakan bakso melayang tepat kearahnya. Dia meraih beberapa butir bakso dari nampan dan balas melempari Jinyoung. Bidikan Chanyeol nggak sebaik saat dia menggunakan kekuatan, tapi setidaknya dia masih sempat mengenai namja itu beberapa kali. Ini hal paling seru yang pernah dia alami selama dua tahun bersekolah di Kyunghee. Benar-benar mengasyikkan. Bahkan Chanyeol sendiri kini berlumuran saos tomat di sekujur tubuhnya. Untung dia bawa kaos olahraga sebagai cadangan.
Chanyeol baru akan berdiri untuk melempari Tao dan cewek-cewek yang tadi keganjenan dengan Kris ketika pintu kantin terbanting membuka dan muncul sosok Ibu kepala sekolah dari sana. Wajahnya tegang dan siap-siap ngamuk. Dengan menggunakan pengeras suara, teriakannya berdenging dan membahana di segala penjuru. "BERHENTI! JATUHKAN SEMUA MAKANAN ITU! SEKARANG!"
.
.
.
.
"Aku ingin semua diam!" perintah Mrs. Soyeon. Kantin berubah hening, sehening kuburan. Dia menjauhkan pengeras suara dari depan wajahnya. Dia nggak membutuhkan benda itu lagi, tidak ada yang cukup gila untuk melawan ketika dia sedang murka. "Pertama lorong sekolah yang berantakan, dan sekarang ini? Aku tidak bisa membiarkan semua kekacauan ini terjadi di Kyunghee!" bentaknya tegas.
Dia memandang berkeliling, sesekali matanya hinggap di sejumlah orang yang biasa berbuat onar. Hampir semua anak menunduk takut dan tidak ada yang berani bertatapan langsung dengan sorot tajam Mrs. Soyeon. "Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas ini semua."
Krikrikrikkrik. Para jangkrik menjawab pertanyaannya.
"SEKARANG!"
Ketika semuanya sibuk bersembunyi dan saling sikut satu sama lain, Chanyeol memutuskan untuk maju. Lebih baik bermain sportif daripada diadukan Gongchan atau yang lain. "Saya." Jawab Chanyeol sambil maju selangkah demi selangkah mendekati Mrs. Soyeon. "Saya yang memulai."
Wanita itu mengamati Chanyeol sedemikian rupa. Agak kaget dengan Chanyeol yang selama ini dikenal kalem, lemah, dan sering jadi korban penindasan sekarang telah berani mengacau di kantin sekolah. "Kenapa?" tanyanya singkat, padat dan jelas.
Chanyeol menunduk sambil angkat bahu. "Karena… karena… itu bodoh. Dan aku menyesal."
"Ayo ikut." Mrs. Soyeon memberi kode bagi Chanyeol untuk jalan duluan.
"Bukan cuma dia!" tahan Jinyoung. "Chen juga ikut memulai!" telunjuknya menuding lurus ke wajah Chen.
Chen tergagap di fitnah secara kejam begitu. Jari telunjuknya balik menuding ke muka Jinyoung. "Itu tidak benar. Dia yang salah!"
Mrs. Soyeon menarik napas panjang. "Kalian bertiga ikut ke ruangan saya. Kita akan selesaikan masalah ini sampai ke akar-akarnya. Lalu siapa yang berteriak 'perang makanan'?"
"Kris." tukas Gongchan menuduh seenaknya tanpa ragu sedikitpun.
"Pembohong!" teriak Chanyeol. "Kau pelakunya!" dia nggak bisa lolos begitu saja setelah memfitnah Kris. Chanyeol jelas tidak terima pacarnya dituduh sembarangan.
"Saya tidak tahu apa yang dia bicarakan." Jawab Gongchan sok polos. "Dia sudah mencoba mengganggu saya sejak anda perkenalkan tadi pagi." Kemudian tatapan penuh simpatinya beralih ke Chanyeol. "Kita ini bukan bocah ingusan lagi, Chanyeol. Kalau kau suka padaku bilang saja. Jangan malah sengaja cari gara-gara demi menarik perhatian."
WHAT?! Berani sekali dia?! Dan di depan Kris!? Ckckck. Tidak hanya jahat, cowok itu juga pembohong yang baik. Ekspresi wajahnya meyakinkan sekali. Pasti setelah ini akan beredar rumor buruk kalau Park Chanyeol berusaha menggoda anak baru sementara dia sendiri masih berstatus kekasih Kris Wu, sang pangeran sekolah.
Bisa Chanyeol rasakan disetiap detik tatapan Jinyoung ada ribuan pisau belati berterbangan, siap mengoyak tubuhnya jadi serpihan-serpihan kecil. Perfect. Sekarang si rubah licik itu mengira Chanyeol ada hati dengan cowoknya.
"Aku nggak suka padamu! Aku bahkan membencimu sejak pertama kali melihatmu!" balas Chanyeol tak kalah kejam.
"Biasanya, jika orang terlalu banyak protes itu artinya dia nggak mau mengakui kenyataan." Gongchan berhasil membuat Chanyeol mati kutu parah. Bagaimana dia harus menanggapi hal itu? Jika Chanyeol membantah, itu artinya dia banyak protes. Otomatis itu akan mendukung tuduhan bullshit cowok itu, tapi kalau Chanyeol diam saja, maka semua orang akan berpikir Chanyeol menyetujui ucapan Gongchan.
Saat Chanyeol tengah gelagapan dilanda dilemma, tatapan Mrs. Soyeon beralih ke namja pirang tinggi yang daritadi hanya berdiri diam dengan ekspresi kaku.
"Bagaimana Kris? Ada yang ingin kau sampaikan sebelum aku menyeret kalian semua?" tanya Mrs. Soyeon.
"Saya nggak tahu apakah Chanyeol suka padanya." jawab Kris super duper dingin, sanggup merontokkan bulu-bulu penguin di kutub utara.
APA?! Kenapa Kris bisa berpikiran Chanyeol ada hati dengan curut itu?! "Aku nggak suka dia!" tandas Chanyeol pada Kris dan semua orang di ruangan itu. Mereka harus tahu.
"Bukan itu maksud pertanyaanku tadi, Kris." tukas Mrs. Soyeon sambil memijat keningnya yang mulai nyut-nyutan. "Apa kau yang berteriak 'perang makanan'?"
"Bukan." jawab Kris singkat. Tapi dia tidak balas mengadukan Gongchan atau menuding orang lain.
"Berhenti berbohong." perintah Gongchan. "Sudah jelas kaulah pelakunya, Kris."
Sudah tahu salah masih berani mengkambing-hitamkan orang lain. Tidak cukup ya dia cari gara-gara dengan Chanyeol? Kenapa harus dengan Kris juga? Maunya apa sih?! Chanyeol gemas sekali ingin melempari muka cowok itu pake kursi kantin. Nada bicaranya luar biasa bikin jengkel. Dasar tidak beradab. Tidak tahu sopan santun. Padahal Kris kan lebih tua setingkat diatasnya. Apa karena kebiasaan anak-anak di luar Negri jarang memanggil orang yang lebih tua dengan embel-embel makanya dia jadi kurang terdidik? Chanyeol juga sih sekarang mulai memanggil Kris tanpa embel-embel, tapi itu jelas beda kasus.
"Cukup!" potong Mrs. Soyeon. "Kalian berdua juga ikut ke ruanganku."
.
.
.
.
Chanyeol's P.O.V
"Ini semua gara-gara kau, anak aneh." desis Jinyoung saat kami semua menunggu di ruang kepala sekolah dan siap menerima hukuman. "Akan kupastikan kau lebih menderita dari sebelumnya."
Aku pura-pura budek dan mengabaikan hama pengganggu itu. Banyak hal lebih penting dalam pikiranku sekarang. Salah satunya, aku duduk berdesak-desakan di sofa panjang di samping Kris yang nggak mau memandangku, cuma menatap piala-piala bodoh. Kris yang nggak lagi menatapku penuh pemujaan. Kris yang sudah berani nongkrong di meja lain dan tebar-tebar pesona dengan orang-orang. Kris yang sampai saat ini masih menjadi obsesiku. Dan Kris yang melihatku sebagai pelopor perang makanan di kantin. Berani bertaruh apa pun hukuman dari Mrs. Soyeon, nggak mungkin lebih berat dari yang sudah kuderita.
Tapi Jinyoung nggak membiarkanku tenang sedikitpun. Mulut embernya itu terus saja mengata-ngataiku dan membeberkan semua kejadian memalukan pada Gongchan. Termasuk saat aku menjambak rambut Kris dan berpidato panjang lebar soal lebah di tengah-tengah jam makan siang.
Gongchan menggelengkan kepala. "Astaga, Chanyeol. Kau benar-benar payah dan tukang cari perhatian. Apa kau berharap dengan begitu seisi sekolah akan—"
"Sir, can you shut your fucking mouth, please?" Kris akhirnya buka suara sambil melempar tatapan tajam ke Gongchan.
Aku memandanginya, tapi hanya dari sudut mataku. Aku nggak percaya diri untuk melakukan kontak mata langsung. Dan apa Kris baru saja membelaku atau cuma karena jengkel dengan Gongchan dan baru mengekspresikannya sekarang?
"No. What's your problem, dude?" balas Gongchan tak kalah sengit.
Kedua tangan Kris terkepal membentuk tinju. "Hmm… apa ya kira-kira… mungkin karena kau mencoba menyeretku kedalam masalah yang nggak ada sangkut pautnya denganku."
Ha? Tidak ada sangkut pautnya dia bilang? Oh, Kris. Seandainya cowok itu tahu justru dialah motifasi terbesarku dalam menggerakkan puding itu hingga mendarat di kepala Jinyoung.
"Dan kau beruntung aku nggak mengadukanmu." tukas Kris.
Gongchan mengendikkan bahu. "Nggak ada bedanya dan nggak bakal ngaruh tuh." Lalu dia melirikku. "Sudah ada yang melakukannya untukmu."
"Benar, kenapa kau nggak mengadukannya sendiri, hyung?" tanya Chen pada Kris.
"Aku…" Kris masih betah memelototi Gongchan. "Tidak suka menjerumuskan orang kedalam masalah."
Gongchan tenang-tenang saja. Dasar muka badak. Alih-alih merasa tersinggung, dia malah bersiul-siul santai. Benar-benar cari mati. Kalau Gongchan tampak nggak merasa terganggu sama sekali dengan sindiran Kris, lain halnya dengan aku dan Chen. Bahkan Jinyoung pun merasa nggak nyaman mendengar ucapan Kris. Itu karena kami semua saling menuding dan menyalahkan orang lain. Kami semua, kecuali Kris. Setelah itu tidak ada lagi yang berkomentar sampai Mrs. Soyeon kembali.
"Ada yang ingin menyampaikan sesuatu?" tanya kepala sekolah setelah berdehem singkat.
"Saya nggak bersalah disini." protes Gongchan masih berusaha terlihat polos.
Aku memutar bola mata muak.
"Benarkah?" Mrs. Soyeon berlagak kaget. "Padahal barusan aku bertanya pada Moon Ahjuma selaku petugas kantin dan dia yakin sekali kau bukan cuma meneriakkan 'perang makanan', tapi juga melempari kepalanya dengan hamburger."
Hahah! Kena kau Gong Chansik! Mau ngomong apa lagi, hah? Tidak bisa! Sudah jelas dia tidak bisa berkelit lagi. Ada bukti nyata dan saksi mata yang jadi korban pelemparannya. Dan orang itu adalah Moon Ahjuma. Aku jadi semakin care dengan wanita tambun itu. Besok-besok aku akan lebih rajin memesan jus buatannya sebagai tanda terima kasih.
Mrs. Soyeon menggelengkan kepala, ekspresinya terlihat kecewa. "Sayang sekali. Bukan seperti ini kesan pertama yang ingin kau perlihatkan di sekolah barumu, anak muda."
Gongchan benar-benar diam seribu bahasa dan hanya menunduk dalam-dalam.
"Kris, kau boleh pergi." kata Bu kepala sekolah. "Dan segera kemasi perlengkapanmu, sebentar lagi bis ke museum akan datang dan menjemput kalian."
Kris mengangguk singkat sambil berdiri lalu melangkah pergi. Itu membuatku sedih. Meskipun masih merasa malu atas segala yang telah terjadi diantara kami, aku tetap ingin berlama-lama duduk di dekatnya.
Mrs. Soyeon menyela pikiranku, "Dan hukuman untuk kalian…" tatapan matanya bergantian menyoroti kami berempat. "adalah tetap berada di sekolah seusai pelajaran sepanjang minggu ini dan dua minggu berikutnya. Sampai acara pensi pelepasan siswa senior dimulai."
Chen tersentak. Aku tahu apa yang dia cemaskan. Ayahnya pasti akan membunuhnya kalau tahu anak kesayangannya yang terkenal kalem dan rajin itu dapat masalah apalagi sampai dihukum segala. Chen memiliki catatan tanpa cela sepanjang sejarah mulai dari TK sampai SMA, suatu kewajiban dalam keluarga Chen, apa pun yang kurang dari itu bakal disambut dengan ceramah dan berjam-jam waktu belajar tambahan. Mendadak aku jadi merasa bersalah dan tidak enak pada sahabatku itu.
"Bagaimana dengan kelas agama seusai sekolah?" tanya Chen. "Meski sebenarnya saya nggak terlalu keberatan sih kalau bolos."
"Kalian bisa terbebas dari hukuman pada hari itu. Tentu saja sesuai jadwal kalian masing-masing. Yang tidak ikut kelas agama tetap harus menghadap ke ruangan saya seusai jam sekolah." tukas kepala sekolah mencoba memberi keringanan sedikit.
Lalu aku menyadari sesuatu. Jika Chen ikut kelas agama di hari kamis, itu artinya aku akan terjebak bersama Jinyoung dan Gongchan seharian itu. Benar-benar tidak adil! Mendadak aku ingin minta pindah kelas agama. Yah, seandainya itu bisa. Sayangnya tidak. Jadwal kelas tidak boleh diganggu gugat sembarangan. Apalagi kalau alasannya super sepele kayak ingin sekelas dengan pacar.
"Mrs. Soyeon." selaku. "Yang lain tidak perlu dihukum karena tindakan saya. Hanya sayalah yang seharusnya dihukum." Bukannya mencoba jadi pahlawan, aku memang tidak mau menjalani hukuman bareng manusia-manusia bobrok yang kubenci.
"Baik sekali kau mau menanggung semua kesalahan, tapi bukan cuma kau satu-satunya yang terlibat dalam masalah ini." ujarnya.
"Tapi saya yang memulai. Itu jauh lebih buruk. Tidak apa-apa, salahkan saya saja." Aku nggak peduli bahkan jika Mrs. Soyeon mengeluarkanku dari Kyunghee. Sepertinya, itu malah solusi tepat untuk sebagian besar masalahku selama ini. Aku nggak perlu ketemu Jinyoung dan pacarnya lagi. Aku nggak perlu menghadapi Kris dan acara tebar-tebar pesonanya, silahkan saja dia jungkir balik dengan ban serep atau apapunlah itu. Nggak ada lagi ejekan. Nggak akan ada lagi yang mengataiku anak aneh dan pecundang. Aku akan mendekam di rumah saja. Seperti liburan panjang. Yah, kecuali bagian dimana Mama akan menghukumku seumur hidup. Tapi itu lebih baik daripada berurusan dengan Jinyoung dan pacarnya seusai jam sekolah. Berurusan dengan mereka selama jam sekolah saja sudah mimpi buruk, aku nggak perlu waktu tambahan lagi untuk 'mengenal' mereka lebih jauh.
"Dia benar." untuk pertama kalinya Jinyoung melanggar hukum alam dan sependapat denganku. "Ini sepenuhnya salah Chanyeol."
"Iya," timpalku untuk pertama kalinya pula sepemikiran dengan Jinyoung. "Jinyoung dan yang lain nggak perlu menerima hukuman. Mereka tidak bersalah."
Mrs, Soyeon memajukan posisi duduknya lalu menatapku. "Aku tahu kau mencoba menolong temanmu, Chanyeol. Tapi aku tidak perduli, keputusanku sudah bulat. Kalian semua, tanpa terkecuali, harus menerima hukuman yang setimpal."
"Jinyoung bukan teman saya. Tanya saja semua orang."
Mrs. Soyeon mengabaikanku. "Kalian akan memulai hukuman besok. Sekarang kalian bisa kembali ke kelas masing-masing."
Selesai sudah. Mrs. Soyeon nggak berubah pikiran. Aku resmi akan terjebak bersama Jinyoung dan Gongchan selama dua minggu lebih.
.
.
.
.
Aroma yang terlalu akrab menyeruak ke hidungku saat aku berjalan memasuki ruang tengah. Bau campuran vanili, lavender dan mint. Lilin-lilin pemurnian milik ibuku. Dia menyalakannya hampir di setiap sudut rumah. Dia melakukan ini sekali sebulan untuk menyingkirkan roh-roh negatif dari rumah. Tapi itu baru separuh dari ritual pengusirannya. Setelah lilin-lilin itu dinyalakan, dia mengambil tiang totem raksasanya dan mengelilingi rumah sambil mengguncang-guncangkan tiang konyol itu. Katanya itu untuk menakut-nakuti hantu supaya cepat pergi. Meski menurutku, kemungkinan besar para hantu itu bukannya pergi malah tertawa. Habis gerakan Mama mengguncang-guncangkan benda itu terlihat lucu sekali.
"Chanyeol," Mama berputar mengelilingi ruangan dengan kecepatan super. Kupikir tiang totem itu akan membuat dia keberatan dan jatuh menimpanya. Tapi Mama hebat juga, dia tahu cara mengontrol tiang berat itu. "Bagaimana harimu?"
"Baik." jawabku berbohong. "Aku masih akan berada di sekolah seusai jam pelajaran selama beberapa minggu ke depan."
Dia dan semua wajah pada tiang totem menatapku penasaran. "Kenapa?"
"Hmm… proyek esktra kulikuler."
Dia memberi isyarat agar aku melanjutkan cerita dustaku (untuk yang kesekian kalinya). Aku benar-benar takut melihat reaksi Mama jika tahu aku kena hukuman.
"Tentang apa?"
Aku diam sejenak. Semua mata pada tiang itu membuatku semakin gugup. "Romeo dan Juliet."
"Oh ya? Aku suka drama itu." ujar Mama. "Lalu apa yang kau lakukan untuk tugas itu?"
Seperti biasa. Interogasi beruntun. "Engg… memainkan beberapa adegan." Aku nggak mau berbohong pada Mama, tapi aku juga nggak mau memberitahu dia soal hukuman. Mama nggak perlu tahu setumpuk kekacauan yang telah kuperbuat dengan kekuatan gilaku. Lagipula, jika bukan karena aku memiliki kekuatan ini, aku nggak akan pernah membuat sebuah meteor jatuh di halaman rumah pacarku, aku juga nggak akan berusaha mengabaikan cowok itu, yang artinya Kris mungkin tidak akan marah dan masih mau berkencan denganku—bukan orang lain—dan kalau bukan gara-gara itu, tidak ada alasan bagiku untuk membuat puding coklatku terbang. Jadi, kesimpulannya, bukan aku yang salah. Kekuatankulah yang salah.
"Kelihatannya menyenangkan. Aku bisa mengetes dialogmu nanti."
Gawat! Aku nggak punya waktu untuk menghapal Shakespeare! "Tidak apa-apa. Sudah kuatasi. Selain itu, kami cuma menampilkannya di kelas. Orangtua dilarang menonton."
Mama dan tongkatnya bergerak mendekatiku. "Sungguh?"
Aku mengangguk pelan sambil pasang wajah semeyakinkan mungkin.
"Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol…" dia menggeleng berkali-kali.
"Ya?" aku tersenyum lebar kepadanya, menunjukkan lesung pipitku.
"Aku tahu soal perang makanan, Mrs. Soyeon sudah menelponku."
Goddamnit! Seharusnya aku tahu. Itu sebabnya dia melontarkan pertanyaan macam-macam.
Aku menelan ludah melihat ekspresi Mama yang seolah ingin mementung kepalaku dengan tiang berwajah seram itu.
Mama berkacak pinggang sambil berdecak-decak. "Apa yang merasuki pikiranmu sampai bertindak bodoh seperti itu?" tanyanya lamat-lamat namun sukses membuat bulu kudukku merinding.
"Kris nggak mau menegurku lagi dan dia menggoda cewek-cewek, jadi aku marah." Aku menggigit bibir bawahku, suaraku terdengar gemetar dan aku benar-benar berusaha keras agar tidak mewek dramatis dihadapannya.
Mama tarik napas beberapa kali, tapi tampaknya itu tidak membuat dia tenang. Dia mungkin khawatir aku akan mengikuti jejak jahat Ayahku. "Itu bukan alasan. Kau tidak boleh memulai perkelahian tiap kali kau marah. Mama tidak pernah mengajarimu berbuat begitu, ingat?"
"Aku tahu." gumamku dengan bibir tertekuk.
"Sepertinya tidak." Dia menghela napas lagi. "Pertama perang makanan, kedua berbohong padaku. Dan jangan pikir aku tidak tahu soal anak-anak yang sering mengganggumu di sekolah."
Aku terperangah kaget. Darimana dia tahu?! Oke, Mama memang ahli membaca ekspresi wajah manusia. Tapi aku sama sekali tidak pernah memberitahu dia soal itu. Tidak ada yang memberitahu dia soal itu. Atau jangan-jangan…
"Kenapa? Kaget ya aku bisa tahu?" Yeah, kini dia membaca pikiranku. "Aku bertanya pada Ayahmu dan untungnya dia mau menceritakannya setelah kudesak berkali-kali."
Sudah bisa kutebak. Aku nggak kaget lagi. Sekarang aku malah kesal karena Papa berani membocorkannya pada Mama tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu.
Mama menatapku sendu. Tatapan yang membuat dadaku terasa nyeri dan sekarang aku dipenuhi perasaan bersalah yang teramat dalam. "Aku kecewa padamu, Chanyeol. Aku ini ibumu dan kau tidak pernah menceritakan apapun padaku. Kau tidak pernah terbuka soal ini. Aku benar-benar kecewa. Kau terus berbohong selama ini, padahal kita tinggal serumah tapi aku baru tahu semuanya dari Ayahmu. Orang yang baru-baru saja muncul di kehidupan kita. Apa kau masih menganggapku sebagai Ibu?"
Oke. Aku benar-benar ingin menangis sambil memeluknya.
"Padahal aku sudah berjanji akan selalu mendukungmu dan menerimamu apapun yang terjadi. Apa kau tidak percaya padaku, Chanyeol?" tatapannya makin dalam dan makin membuat dadaku sesak. Aku bisa melihat mata Mama yang mulai berkaca-kaca.
"Ma… aku bisa menjelask—"
"Naik ke kamarmu. Sekarang." perintahnya tegas.
Aku menurut. Sudah cukup aku membuat Mama kecewa. Aku tidak mau memperparah keadaan dengan membantahnya. Padahal aku ingin bercerita panjang lebar soal alasan utamaku merahasiakan semua itu karena nggak mau membuat dia cemas. Tapi aku tahu Mama tidak mau dengar apapun saat ini. Aku harus mencari momen yang pas dan membiarkan perasaan Mama tenang dulu baru bisa curhat padanya.
Mama mengikutiku naik ke kamar dan menyita iPod, ponsel, serta komputerku. "Jangan kemana-mana dan pikirkan semua perbuatanmu."
Nggak masalah. Dia mengambil semua barang-barang berhargaku. Apa lagi yang bisa kulakukan?
.
.
.
.
Saturday, 17/10/2015
Sepanjang malam kemarin Mama hanya diam saja. Dia memang nggak menghindariku, tapi rasanya sudah cukup buruk. Aku gelisah sendiri dan meskipun berada di sofa yang sama, dia hanya bungkam tanpa melirikku sama sekali. Kalau kuajak bicara juga hanya menyahut seperlunya, paling panjang kalimatnya hanya empat kata: "Ambil sendiri di kompor". Dan empat kata itu jelas-jelas tidak bisa membuat perasaanku membaik.
Mama benar-benar kecewa padaku. Berat sekali mencairkan suasana diantara kami, leluconku semuanya gagal total dan hanya mengundang tawa para jangkrik. Sampai-sampai Papa kusuruh turun tangan untuk membujuk Mama. Bahkan dia pun angkat tangan menyerah.
"Sabar saja, Chan. Mamamu memang seperti itu kalau lagi ngambek. Coba terus dan jangan menyerah. Mudah-mudahan kalian cepat baikan."
Apa-apaan? Dasar tidak bisa diharapkan!
Di pagi hari Mama agak mendingan, dia sudah mau bertanya ini itu soal menu makan siang dan makan malam apa yang kuinginkan untuk hari ini. Tapi cuma sebatas itu saja! Dia nggak secerewet biasanya dan hanya tenang-tenang saja saat aku nggak sengaja menumpahkan air ke taplak meja. Aku ingin minta maaf padanya tapi mulutku terasa berat sekali. Melihat Mama yang nggak responsif dan lebih banyak menyibukkan diri dengan buku-buku mistisnya, aku jadi mengurungkan niat untuk membahas masalah Jinyoung cs dan minta maaf. Mungkin aku bisa melakukannya nanti sepulang sekolah.
Dalam perjalanan menuju sekolah, aku mengayuh sepedaku beriringan dengan Chen. Semenjak marahan, Kris tidak menjemputku lagi. Boro-boro antar jemput, datang ke rumahku saja tidak! Nyesek sih. Bukan berarti aku menyerah, aku hanya belum siap menceritakan padanya soal rahasia besarku lalu melihat reaksinya. Apa dia bisa menerimaku? Apa dia masih mau jadi pacar seorang anak iblis yang memiliki kekuatan perusak maha dasyat?
"Nggak masuk akal kalau kau terus menghindari Kris hyung." ujar Chen diantara napasnya yang agak terengah-engah karena mengayuh sepeda.
"Tentu masuk akal. Kau tahu alasanku melakukannya."
Chen melirikku sebentar. "Kenapa?"
Apa dia pura-pura pikun? Atau memang bodoh? "Aku sudah menjelaskannya padamu. Kekuatanku cenderung di luar kendali. Aku tidak mau mengambil resiko."
"Kekuatanmu toh sudah sering seperti itu." Chen mengingatkanku. "Kris ada disaat kau menghapus ingatan semua orang, dia ada disampingmu saat meteor jatuh plus ukiran cinta itu masih bersarang di pohonnya. Jadi tunggu apalagi? Tunggu keadaan semakin memburuk dan pacamu keburu disambar Tao? Kau malah semakin memperparah keadaan dengan berpura-pura dia nggak ada."
"Tapi gimana jika terjadi hal-hal lain? Seperti kembang api ajaib atau sketsa wajah kami sedang berciuman terukir di pohonnya? Sesuatu yang secara khusus berhubungan langsung dengannya. Dia akan mengira aku aneh!"
"Dia sudah mengira begitu." jawab Chen.
"Apa?"
Chen mengendikkan bahu. "Yah, kau selalu bersikap ganjil di dekatnya dan dia sudah pasti memperhatikan. Jadi nggak ada bedanya kalau dia mengetahui rahasiamu lebih cepat. Mungkin itu malah membuat keadaan lebih baik."
"Kau benar." gumamku sambil menghela napas. Mencoba mengabaikan Kris nggak ada gunanya, hanya membuat dia mengira aku gila dan tidak tahu adat.
"Kurasa Kris hyung saat ini hanya sedang bingung. Dia butuh pelampiasan dan mungkin begitulah caranya dia menghilangkan perasaan galau."
"Apa? Dengan menggoda cewek-cewek?" tanyaku rada terdengar sinis.
"Dengan bersosialisasi." ralat Chen. "Dia itu pangeran sekolah, ingat? Seorang bintang perlu memoles binarnya setiap saat agar tidak mudah redup begitu saja. Lagipula, berpacaran denganmu bukan berarti dia jadi harus menutup diri dan tidak boleh bergaul lagi kan?"
Lagi-lagi aku terpaksa mengakui perkataan Chen ada benarnya juga. "Menurutmu aku belum terlambat? Apa aku belum benar-benar gagal dengannya?"
"Tentu saja belum." Chen meyakinkanku. "Dia menyukaimu dulu, dan masih menyukaimu sampai sekarang. Mumpung kau belum mengabaikan dia terlalu, kurasa kesempatan kalian untuk rujuk masih terbuka lebar. Kau hanya harus jujur dan bersikap baik mulai dari sekarang."
Aku tersenyum tulus pada Chen. Beruntungnya punya sahabat adalah, kau tidak harus menanggung semua beban pikiranmu sendirian. Tapi senyumanku hanya berlangsung selama lima detik karena di detik keenam aku bisa merasakan sesuatu yang keras menghantam kepalaku dan membuatku oleng. Aku sukses ambruk bareng sepedaku. Rasanya sakit luar biasa! Tubuhku mendarat keras di aspal jalanan. Apesnya sepedaku juga ikut-ikutan jatuh menimpaku. Aku melirik benda kurang ajar yang barusan menghantam kepalaku. Tebak apa? Bola basket. Yep. Dengan inisial GC di salah satu sisinya.
Wait… GC?
Aku sedang bersusah payah bangkit sambil mengerang kesakitan ketika aku merasakan ada tangan lain yang bergabung dengan Chen dan membantuku berdiri.
"Hati-hati, bodoh! Kalau naik sepeda itu lihat-lihat dong. Jangan asal lewat saja!"
Ha? Siapa sih orang ini?! Sudah dia yang salah melempar bola basket sembarangan masih berani menuduh balik! Bukannya minta maaf malah ngatain bodoh!
Tatapanku perlahan naik dari kaki menuju ke wajahnya. Another Surprise, ternyata itu Gongchan. Pantas saja suaranya terdengar familier.
"Nggak salah? Justru kau yang bodoh! Melempar bola seenaknya. Kau sudah membuatku celaka dan malah balik menyalahkanku. Dasar manusia tak tahu diri!" omelku galak. "Untung saja aku tidak kenapa-napa. Untung saja pada saat jatuh tidak ada truk le—mmph!" aku tidak sempat melanjutkan ocehanku karena sebuah telapak tangan besar membungkam mulutku. Aroma parfum musknya menyeruak masuk ke lubang hidung.
Cowok itu menarik pergelangan tanganku paksa lalu meletakkan perban diatas telapak tanganku. "Tuh pakai. Buat luka di siku kananmu."
Memang ada luka di siku kananku karena jatuh tadi, tapi itu kan gara-gara dia. Aku tidak sudi dikasihani olehnya! Aku membuang perban itu ke jalanan. "Nggak butuh."
Dia hanya menyeringai sinis lalu menggelengkan kepala. "Merepotkan saja. Dasar bocah neraka."
MOTHERFU—! APA DIA BARU SAJA MENGATAIKU BOCAH NERAKA?!
Namun belum sempat aku lanjut ngomel, dia sudah keburu melenggang pergi dengan santainya sambil memutar bola basket diatas telunjuk.
"Chen, Chen." Aku menarik-narik baju Chen yang sedang mengembalikan sepedaku ke posisi semula. "Apa kau dengar tadi? Dia menyebutku bocah neraka!"
"Lho? Memang kau bocah neraka kan? Masa bocah surga? Tidak cocok."
Aku mendelik gondok dengar leluconnya yang nggak lucu sama sekali. "Bukan itu, Chen! Demi Tuhan. Dia tahu rahasiaku! Darimana dia tahu rahasiaku? Kau tidak memberitahu siapapun kan?" repetku.
Chen melotot tidak terima. "Sudah dibantuin masih nuduh. Dasar manusia tidak tahu terima kasih."
"Lalu darimana dia tahu aku bocah neraka?" aku masih panik tidak jelas.
"Geez! Dia tidak tahu apa-apa, Chan! Berhentilah paranoid! Itu hanya kalimat ejekan biasa. Tahu sendirilah spesies seperti mereka itu hobi mengarang julukan aneh demi memojokkan orang. Berlebihan sekali sih kau ini."
Iya ya. Mungkin itu cuma kalimat olok-olok biasa. Lagi-lagi kepanikan menguasai pikiranku.
"Sudah ayo cepat naik, pintu gerbang hanya berjarak tiga meter dari sini dan nggak lucu kalau kita telat gara-gara aku harus menunggui kau selesai mengkhayal."
Aku meraih sepedaku dari tangan Chen, menaikinya dan mulai mengayuh sepeda menuju ke gerbang sekolah.
End P.O.V
.
.
.
.
Melihat adegan di depan sana, Kris hanya membeku dibelakang setir. Dia bahkan tidak berkedip sama sekali. Bagaimana anak baru bernama Gongchan itu menolongnya lalu memberikan perban pada Chanyeol… entah kenapa itu membuat dia jengkel setengah mati. Menyulut sesuatu di dalam dirinya. Padahal Kris tadi baru akan melompat turun dari mobil, tapi anak itu langsung nyamperin Chanyeol dan memegangi tangannya. Mana tatapan matanya kelihatan serius sekali memperhatikan Chanyeol.
Shit!
Siapa sih anak itu?! Baru datang sudah berani cari gara-gara.
Kris menaikkan kembali kaca jendela disampingnya lalu menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya menuju gerbang sekolah begitu dua namja itu sudah menghilang dari depan sana.
.
.
.
.
Hal yang menyebalkan dari menjadi terdakwa di Kyunghee adalah… kau tidak bisa menghabiskan waktu istirahat dengan bersantai-santai di kantin. Coba lihat kemoceng jelek, sapu ijuk dan kain pel bau ini. Hidup Chanyeol selama dua minggu kedepan adalah mengabdi sebagai tukang bersih-bersih sekolah. Tentu saja yang akan makin sempurna jika dijalani bersama musuh bebuyutan dan pacar idiotnya.
"Aku berharap panitia pensi lebih cerdas memilih tema pensi tahun ini. Ide bawah laut tahun lalu benar-benar payah. Aku hampir saja memakai kostum ikan hiu kemana-mana." keluh Jinyoung pada cowoknya.
"Kenapa? Padahal kau cocok lho dengan imej ikan hiu. Kejam dan haus darah." ledek Chanyeol.
Jinyoung berbalik dan memicingkan mata. "Oh ya? Sepertinya ada yang perlu diingatkan soal kostum manusia kerang bodoh."
"Hei! Itu bukan kostum manusia kerang! Itu kostum pengawal istana bawah laut!" protes Chanyeol.
Jinyoung tertawa menghina sambil menggesek-gesekkan kemoceng pada salah satu jendela di ruang kepala sekolah. "Pengawal istana? Topimu jelek sekali, kukira kau memakai cangkang kerang atau semacamnya. Kau lebih cocok jadi manusia kerang hijau. Sungguh cocok dengan imejmu… bodoh, aneh dan konyol. Hahah!"
Muka Chanyeol terlipat tiga belas saking sebalnya. "Yeah, bisakah Tuan Ikan hiu diam saja dan kembali pada kemoceng kekurangan bulunya?"
Jinyoung masih tertawa, tapi dia sudah kembali fokus pada jendela berdebu dihadapannya.
"Aku tahu," celetuk Gongchan sambil menjentikkan jari, "Kurasa sebaiknya kita usulkan ide rumah hantu ke panitia pensi. Kita bisa berdandan jadi anak buah iblis. Dan Chanyeol pasti cocok jadi Raja Iblis pengacau paling kejam di abad ini."
YA TUHAN. Ternyata dia memang tahu! Selama sedetik pemikirannya tentang Kris teralih begitu saja. Entah bagaimana Gongchan mengetahui rahasianya. "AKU BUKAN IBLIS." bantah Chanyeol memberi tatapan sehoror mungkin. "Kenapa kau berpikiran begitu? Aku sama saja seperti manusia pada umumnya. Beri tahu mereka, Chen!"
Napas Chanyeol keluar masuk cepat dari lubang hidungnya. Detak jantungnya mendadak mengalami peningkatan. Ini malapetaka. Dari semua orang, kenapa harus makhluk seperti Gongchan yang tahu rahasianya!? Dia pasti akan memeras Chanyeol, mengadukan Chanyeol ke majalah gosip, menelpon FBI, apa saja. Lalu sedetik kemudian semua dugaan itu sirna. Chanyeol langsung merasa dirinya bodoh bukan main. Nggak mungkin Gongchan tahu. Napanya melambat dan detak jantungnya kembali berpacu normal. Tapi itu semua nggak cukup cepat untuk menyelamatkan dirinya dari olok-olok Jinyoung.
"Wah…" Jinyoung menggeleng sambil menyilangkan tangan di dada. "Kayaknya ada yang jengkel hari ini." Lalu dia meletakkan kemoceng warna-warni itu di meja. Chanyeol tahu apa yang akan dia lakukan. Peniruan karakter. Gaya khas Jinyoung banget. "AKU BUKAN IBLIS! AKU BUKAN IBLIS!" Dia membuat suara Chanyeol jadi lebih dramatis dan berlari mengelilingi ruangan sambil melambaikan tangan dengan gaya super lebai.
Gongchan tertawa keras. "Iya, Chanyeol, kenapa kau marah sih?" dia memandangi Chanyeol seolah anak itu baru saja menelan selusin pil formalin yang habis digunakan untuk mengawetkan katak.
"Mungkin dia nggak suka dipanggil iblis." sahut Chen sebelum Chanyeol sempat melontarkan alasan-alasan aneh lainnya.
"Kalau begitu…" tatapan menantang Gongchan beralih ke Chen. "Seharusnya dia nggak membuat semua orang terjerumus masalah dan terjebak dalam hukuman payah ini."
Jadi ternyata begitu. Chen benar. Gongchan tidak tahu Chanyeol memiliki gen iblis, dia mungkin cuma jengkel karena harus menjalani hukuman di hari pertama kepindahannya di Seoul.
"Kau juga sama bersalahnya sepertiku." ujar Chanyeol tak terima jadi satu-satunya tersangka.
"Tidak. Kau sendirilah yang bikin gara-gara. Kau yang memulainya. Ingat puding coklat itu?"
Yang menyedihkan adalah, mengakui fakta kalau perkataan Gongchan memang benar. Segala kekacauan dalam hidup Chanyeol seratus persen gara-gara ulahnya sendiri. Bisa-bisanya dia berpikir mengabaikan Kris adalah ide yang bagus. Jika seandainya Chanyeol berbicara baik-baik pada Kris setelah kejadian meteor dan bukannya malah kabur, mungkin mereka masih bersama-sama sekarang.
Mrs. Soyeon masuk ke dalam ruangan dan menyuruh keempat orang itu kembali ke kelas masing-masing karena sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai. Gongchan jalan duluan sementara Jinyoung bergelantungan mesra di tangannya. Dua orang itu nempel terus macam perangko. Iugh. Bikin envy saja! Untung Gongchan tidak sekelas dengan Chanyeol, kalau tidak, penderitaannya bakal double-double. Seruangan dengan empat bakteri menyebalkan saja sudah cukup, tidak perlu ditambah satu amuba lagi.
"Kau benar-benar kehilangan kendali tadi." tukas Chen sambil mengekori Chanyeol. "Nggak mungkin Gongchan tahu tentang Ayahmu. Dan kau malah hampir membocorkannya. Kau harus menjaga diri supaya nggak berlebihan menghadapi segala hal."
Chanyeol berhenti jalan dan berbalik menghadapnya. "Berlebihan? Menurutku aku pantas berlebihan saat ini. Kris sudah benar-benar melupakanku. Dia bahkan sudah pindah meja dan dan bermesra-mesraan dengan Tao di depan mataku."
Chen menggeleng. "Dia melakukan itu karena dia pikir kau sudah melepaskannya. Kau cuma perlu menunjukkan bahwa itu nggak benar. Cobalah merebutnya kembali. Jangan hanya mengeluh dan mengeluh saja bisanya. Kris hyung masih menyukaimu, Chan. Aku sampai capek sendiri mengatakannya dan kau tidak peka-peka juga."
"Dulu… sebelum aku jadi aneh."
Kalau saja Chanyeol itu bukan sahabatnya, sudah dia tendang Chanyeol sampai mental ke luar angkasa. Nyebelinnya minta ampun! Dasar bebal. Dikasih tahu jawabannya berputar disitu-situ saja. Pemikirannya njelimet kayak benang kusut!
"Kalau begitu jangan aneh lagi, tingkatkan latihanmu dan cari jalan keluar untuk membuat keadaanmu dan Kris membaik. Buat dia melihat bahwa meskipun kau makhluk setengah gaib, kau tetap namja yang sama. Orang yang dia cintai."
Lagi-lagi harus dia akui perkataan Chen benar. Chanyeol tidak boleh membairkan Tao menang. Chanyeol pasti bisa mendapatkan Kris kembali. Dia hanya perlu memperjuangkannya.
Maka ketika dia tidak sengaja bertemu Kris di toilet, Chanyeol memberikan senyum tercerahnya. "Hai, Kris." sapanya berusaha tidak canggung.
"Hai," jawabnya tanpa menoleh sedikitpun. Well, setidaknya dia nggak sepenuhnya mengabaikan Chanyeol.
"Terima kasih karena sudah mengajakku nonton video Paramore waktu itu." Chanyeol tahu itu percakapan yang basi banget. Kejadiannya sudah lama sekali. Tapi Chanyeol benar-benar bingung harus memulai dari mana.
"Tentu." Dia malah asik memperhatikan tangan penuh sabunnya di wastafel.
Ugh. Jawaban satu kata memang menyakitkan. "Jadi… kupikir-pikir…" Chanyeol tarik buang napas mencoba mengumpulkan semua keberaniannya. "Mungkin kita bisa makan pizza di Red Tomato lagi setelah aku menyelesaikan kelas hukuman hari ini."
Chanyeol belum pernah menawari seseorang kencan sebelumnya. Rasanya mendebarkan. Kris juga berpikirnya lama sekali, butuh berapa millennium sih untuk menjawab ajakan kencan Chanyeol tadi?
"Nggak bisa, aku ada les persiapan masuk universitas sampai malam."
Menyedihkan. Ajakan kencan Chanyeol ditolak oleh kekasihnya sendiri. Chanyeol baru tahu kalau Kris ikut les persiapan masuk perguruan tinggi. Sejak kapan? "Oh, iya… maaf." Chanyeol memaksakan senyum, hanya agar Kris tidak melihat wajah sedihnya. "Mungkin lain kali kalau begitu?" tanyanya hati-hati.
Kris angkat bahu cuek. "Mungkin."
Di telinga Chanyeol, kalimat 'Mungkin' tadi terdengar seperti: "Aku lebih suka menyelam di air es bareng ratusan ular yang menggerogoti jari kakiku ketimbang pergi bersamamu." Karena kedengarannya sama saja.
Kris mungkin sudah melupakannya. Tapi Chanyeol tidak mau menyerah semudah itu.
.
.
.
.
Salah besar kalau Chanyeol berpikir Kris sudah melupakannya. Tidak. Itu sama sekali tidak benar. Justru yang terjadi sekarang adalah Kris yang sedang dilanda dilemma berat.
Apa dia hentikan sampai disini saja ya?
Tapi Kris masih ingin memberi pacarnya itu sedikit 'pelajaran' karena akhir-akhir ini telah menghindar dan berbohong padanya. Dia benci dibohongi. Apalagi untuk hal sebesar itu. Dia masih gila sampai sekarang dan susah tidur karena memikirkan hal-hal ajaib yang terjadi waktu itu. Penjelasan rasional apapun tidak ada yang sreg. Percuma saja mendesak Chanyeol kalau orangnya sendiri susah jujur dan terus menghindar. Untuk itulah gunanya dia memberi sedikit 'pressure' pada Chanyeol. Bukan karena Kris kejam apalagi tukang selingkuh, tapi dia ingin Chanyeol merenungi semua perbuatan yang telah dia lakukan sebelumnya.
Nanti setelah semua ini usai, setelah bibir sang namja kesayangan telah memberikan pengakuan yang gamblang, lengkap, mendetail, jelas, jujur dan tentu saja harus diakhiri dengan permohonan maaf dari lubuk hati yang paling dalam, Kris akan memastikan pacarnya itu mendapatkan sesuatu yang jauh lebih panas dari susu coklat di pagi hari.
.
.
.
—TBC—
.
.
~Coming Soon Chapter—"New Guy. New Trouble (part II)"—Coming Soon Chapter~
A/N: FF ini saya posting dalam rangka memperingati hari patah hati saya. Berharap dengan menulis ff ini maka rasa sakit hati saya akan hilang, ternyata dugaan saya salah besar, ingus saya masih meler dan mata saya semerah mata ikan lohan. Jadi saya mau curhat dikit (yang nggak mau baca silahkan di skip aja), dua hari yang lalu saya baru aja putus sama pacar..eng… mantan saya. Saya sayang banget sama dia, kami udah pacaran lama banget dari maba, terus sekarang dia nyerah gitu aja dengan alasan 'perbedaan diantara kita yang gak bisa disatuin dan udah nggak bisa diapa-apain lagi'…
Mood saya pas ngetik ff ini juga stuck sampai disini aja. saya gak mood buat ngelanjutin lebih panjang lagi, jadi nanti kalau saya udh agak mendingan dan lagi ad waktu lowong… bakal sy sambung di part II. Bener. Saya udah gak sanggup lagi. Mood saya kacau banget.
Ya udah gitu aja. Yang mau kirim pendapat atau saran soal tulisan saya silahkan, tapi jangan kirim komentar yang aneh-aneh ttg saya. Saya lagi sensi.
Terus buat temen2 yang berpikir saya mau pindah otp, kalian salah besar. Karena saya udah cinta mati sama Krisyeol dan Kaihun, dan rasanya nggak adil aja kalau harus memihak salah satunya. Bodo amat author kaihun udh banyak, saya tetap mau nulis ttg mrka. Dan saya juga gak akan ngelupain Krisyeol. Pokoknya mereka is the best dan saya gak akan berhenti nulis ttg mereka.
Ya udah gitu aja. sekian.
