White Lotus
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Uzumaki Naruto/Hyuuga Hinata. Genre: Adventure/Romance. Rating: T. Other notes: post-canon. alternative time.
(Di sinilah semuanya yang baru dimulai. Kehidupan baru, asam-manis kehidupan yang baru pun telah siap dikecap. Apa saja yang akan terjadi setelah pernikahan Sang Hokage dan Sang Pewaris Souke?)
#9
"Kau mengingat polanya, Naruto? Tidak seperti portal chakra kemarin, kita harus masuk satu-satu dan menggambar polanya sendiri di dinding," Sakura menyilangkan tangannya di depan dada, memandang Naruto dengan pesimis.
"Hehehe, jangan meragukanku, Sakura-chan! Aku bisa, kok, bisaaa. Ini demi Hinata, huh?" Naruto pun menggambar pola di atas meja dengan jarinya, berlatih pola yang digambarkan Sakura di atas kertas sebagai pembuka kunci cara penyelamatan Hinata. "Begini, begini ..." gumamnya sambil memainkan jari.
Krek.
Pintu ruangan terbuka, mengungkapkan lelaki bermasker dimana Naruto seolah refleks untuk memanggilnya, "Kakashi-sensei! Kapan kau pulang dari misi?"
"Barusan. Naruto, maaf mengganggu rencanamu," Kakashi mendekat pada sang Hokage. "Langsung pada topik saja, ada hal penting yang darurat."
Oh, tidak, jangan lagi. Naruto sudah cukup dipusingkan oleh masalah pribadinya, penambahan masalah desa hanya akan membuatnya harus berpikir ekstra. Bisakah masalah dibayar untuk menunda kedatangannya dulu, atau bahkan membuat si masalah tadi mengundurkan diri? Andainya segampang kedengarannya.
"Tentang kau yang sedang punya masalah dengan keluarga, sudah diketahui oleh negara lain. Kau tentu tahu, akan ada pihak-pihak yang suka memanfaatkan kesempatan. Bahkan golongan nuke-nin pun patut diwaspadai."
Naruto mengembuskan napas panjang, dia membuang muka, menatap pada jendela. "Aku tahu."
"Izumo dan Kotetsu baru saja meringkus tiga orang ninja pelarian yang berusaha menyusup di daerah penjagaan timur desa yang sedang melemah. Kupikir kau mengerti maksudku."
"Yeah," angguk Naruto, tangannya naik ke tengkuk dan menggaruk bagian sana. "Aku terlalu banyak membawa pasukan hanya untuk menyelamatkan Hinata. Dan pasukan yang kubawa ini adalah para ninja yang memang punya kemampuan. Di luar sana jadi kekurangan pasukan. Baiklah, sensei, aku mengerti. Akan kubagi orang-orang yang akan membantu penjagaan sementara kami melakukan misi darurat kedua untuk Hinata. Lawan kami hanya anak kecil dan kupikir tidak apa membawa lebih sedikit orang."
"Bagus kalau kau mengerti," Kakashi tersenyum kecil di balik pelindung wajahnya. "Sekarang, bagi orang-orangnya. Beberapa ikut aku untuk merencanakan strategi penjagaan desa, dan ada beberapa yang harus kuutus juga untuk misi ke luar desa. Di luar aku bertemu Anko yang memberikan gulungan permintaan misi."
"Oke," Naruto memandang satu per satu kawannya. "Maaf tidak bisa melibatkan kalian semua, teman. Ini semua demi kepentingan desa. Sasuke, maaf—kali ini kau harus kupisahkan dengan Sakura-chan. Kau jadi pemimpin tim untuk menjaga desa. Pegang kendali pengamanan desa darurat sementara aku pergi. Ketiadaan Hokage bisa menjadi kesempatan besar untuk orang-orang yang mengincar Konoha. Bekerja samalah dengan Kakashi-sensei."
Sasuke diam saja. Ketika beradu pandang dengan Sakura, barulah dia mengangguk satu kali.
"Shikamaru, Sakura-chan, kalian ikut aku. Neji, kau juga ikut, namun dengan perlakuan khusus."
"Maksudmu?" Neji ingin menyanggah, namun tak jadi karena Naruto buru-buru melanjutkan penjelasan.
"Kau kubutuhkan untuk membuka kembali portal dari teratai kolam menuju gua. Tapi, selanjutnya untuk ke bagian berikutnya, serahkan pada kami bertiga. Kau cukup berjaga di gua agar bisa membukakan portal lagi kalau kami kembali dari sana."
"Aku bisa, Naruto—"
"Neji," potong Naruto tegas. "Aku tidak meremehkanmu. Kau kuat, bahkan lebih dari aku. Tapi kau masih perlu mengistirahatkan dirimu. Tubuhmu masih perlu banyak hal untuk diperbaiki dari dalam dan aku tidak ingin kau memaksakan diri."
"Jangan anggap aku seperti orang sakit, Naruto!"
"Siapa yang menyebutmu orang sakit?" sanggah Naruto. "Kau kuat. Kau hebat. Dan Konoha butuh kekuatanmu. Maka dari itu, kau tidak boleh terluka sekarang dan bertarung berat. Kami tidak ingin kehilangan Hyuuga Neji untuk yang kedua kali. Tahan sebentar lagi, kau hanya perlu pemulihan sedikit untuk kembali menjadi ninja seutuhnya. Jangan menolak keadaan, Neji."
Neji mendesis kesal. Pelan.
"Kau pasti ingin bilang bahwa kau juga mau menolong Hinata, bukan?" Naruto memastikan. "Maaf, Neji, tapi kau harus membagi tugasmu sekarang. Hinata bukan lagi gadis Souke yang harus dilindungi golongan Bunke. Dia wanita yang punya suami sekarang, dan tugaskulah sebagai suaminya untuk melindunginya."
Maka Neji pun terdiam. Dia menghela napas, kemudian mengangguk. "Aku mengerti, Hokage."
"Oke, oke, kurasa ketegangan antara ipar dan adiknya sudah selesai. Sekarang, selain yang disebutkan Naruto tadi, ikut aku," Kakashi pun berbalik untuk meninggalkan ruangan. Sebelum mencapai pintu, dia menoleh pada Hokage, "Minato-sensei dan Kushina pasti bangga padamu."
Mata lavender itu menatap kosong lantai batu dingin yang terhampar di hadapannya. Memang, biasanya iris itu menunjukkan cara pandang yang berbeda dari orang-orang—cenderung dingin dan misterius seperti teka-teki yang dasarnya begitu dalam dan tak terbaca—namun kali ini benar-benar berbeda. Seakan tidak ada setitik pun nyawa atau asa yang bisa terlihat di sana.
Tangannya terikat di balik punggungnya, dia didudukkan di depan sebuah bunga teratai besar, kelopaknya tinggal beberapa, namun bunga itu tetap merekah. Helai kelopaknya bening seperti kaca, ada pendar putih yang mengelilinginya, menemaninya melayang di udara. Jari cahayanya sedikit mengenai rambut panjang gadis itu yang terjuntai bak air terjun di punggungnya.
Hinata tertawan.
"Paman kenapa mengikat Nata-nee seperti itu? Bukannya Paman bilang tidak akan melukai Nata-nee?"
Lelaki yang diajak bicara itu berambut hitam pendek. Taksiran usianya sekitar ayah Hinata, mungkin. Kegarangan tergambar jelas dari pancaran sinar mata kelabunya. Cara dia memandang dunia begitu sinis. Kulitnya pucat, lebih pucat dari Hinata. Dia tertawa menanggapi kalimat Ichi, tawanya adalah gabungan dari nada licik sekaligus meremehkan yang dicampur dengan sedikit kemarahan yang diwarnai dendam.
"Kenapa, Paman Furiyama?"
Tawa lelaki yang dipanggil Furiyama itu lepas lagi. Cukup keras untuk membuat Ichi tambah bingung dan kerutan keningnya semakin menyata. "Dasar anak kecil, masih polos sekali," Furiyama menepuk kepala Ichi. Dari tatapan matanya, bisa dinilai bahwa dia hanya ingin mempermainkan bocah itu. "Kau tidak mengerti apapun? Ah, lucu sekali melihat kepolosanmu."
Anak kecil pun bisa membaca kecurangan. Ichi menepis tangan Furiyama yang berada di ubun-ubunnya. "Paman curang," dia mengarahkan tangannya, seberkas cahaya seperti garis kecil muncul dari kelima ujung jari kanannya.
Furiyama dengan mudah menghindar, dia melompat dengan cekatan, menyebabkan cahaya dari jarinya hanya memantul di dinding batu dan parahnya, kembali pada dirinya sendiri. "Akh!" dia memekik, terpental ke belakang karena jurusnya terpantul memberi tekanan pada pundaknya. Pakaiannya langsung berlubang, darah menetes perlahan dari lukanya, menyebabkan dia mendesis dan mengaduh bersamaan.
"Jangan pikir kau bisa mengalahkanku dengan cara konyol itu. Kau masih bocah. Mau melawanku yang sudah berkali lipat lebih berpengalaman darimu?" Furiyama mendekati teratai yang berpendar putih di balik punggung Hinata, dipetiknya satu. Diangkatnya ke depan wajahnya, dipandangnya dengan bangga, kemudian dijatuhkannya. "Matilah—"
DUAAK—
"Ugh!" Furiyama terjatuh, kelopak bunga itu pun mencapai lantai sebelum mantra yang dia ucapkan selesai. Napas Ichi tercekat, diancam dengan kematian terdengar sangat mengerikan untuknya.
"Tolong jangan seenaknya pada Ichi."
Mata Furiyama sempat membulat karena kaget, tapi reaksinya itu dia hentikan dengan tertawa. "Wow, kukira kau sudah lumpuh karena genjutsu teratai itu. Ternyata tidak, ya. Istri Hokage hebat juga."
Hinata berdiri tegak di depan Furiyama, dengan mengalirkan chakra dengan jumlah besar pada titik-titik di pergelangan tangannya, membuat tali yang mengikat tangannya putus, tercerai-berai menjadi potongan kecil.
"Genjutsu tidak akan bekerja pada orang yang bisa mengatur chakra-nya dengan baik," terang Hinata, memasang kuda-kuda khas Hyuuga, siap bertarung. "Ketika kau mengucapkan mantra dan teratai itu jatuh perlahan, aku mulai menjaga chakra-ku agar tetap mengalir teratur dan efek kekacauan chakra yang dihasilkan genjutsu dari teratai itu tidak bisa mempengaruhiku."
"Wow, seperti yang diharapkan dari klan Hyuuga yang ahli memanfaatkan chakra. Plus, kau pintar berakting. Aku sempat terkecoh juga. Jadi kau hanya berpura-pura untuk membaca situasi, hm?" Furiyama berdiri dan berjalan mengelilingi teratainya. "Mengesankan. Tsuki punya putri yang hebat. Bagaimana kalau Tsuki punya putri denganku, apa dia akan seperti kau juga?" Furiyama menatap Hinata, mengejek. "Tapi kau kelihatan lemah."
Hinata mundur, melindungi Ichi. "Aku sudah tahu jurus teratai putihmu itu."
"Wah, cukup mengerikan juga ancamanmu. Tapi, coba, bisakah kau menghalangiku dari memetik kelopaknya?"
Hinata maju, hanya sekali mengerjapkan mata, dia telah berada di depan Furiyama dan menyerangnya secara beruntun dengan jyuuken. Furiyama menghindar dengan mudah, gerakannya lincah dan cekatan dalam menghindari serangan Hinata. Menyadari hal ini, Hinata semakin mempercepat serangannya. Hinata menyerang dengan tangkas, namun cara menghindar Furiyama juga lihai, dia memanfaatkan kesempatan sementara Hinata menyerangnya dengan menjulurkan tangan dan memetik satu kelopak teratai, mengucapkan mantra, "Aktifkan genjutsu, matikan pikiran Hyuuga Hinata sekarang."
Serangan Hinata berhenti ketika kelopak itu mencapai lantai, dia mendadak terduduk dan tatapan matanya kosong.
Furiyama mengambil lagi satu kelopak teratai, "Lukai kaki dan tangannya."
Kelopak itu jatuh dengan cepat ke lantai—sinarnya hilang dan dia kembali seperti bagian bunga yang biasa—tepat ketika itu, luka gores besar pun muncul di kedua pergelangan tangan dan kaki Hinata.
Semuanya berlalu dengan sangat cepat di mata Ichi. Tubuhnya yang masih terlalu muda dan kecil susah mentolerir luka pada bahunya itu, membuatnya kesakitan dan susah bangun. "Nata-nee!" dia memanggil, berharap itu bisa membangunkan Hinata. Dia berusaha bangun, tertatih-tatih dan gemetaran, ingin menerjang Furiyama, namun untuk bangkit pun dia kerepotan.
Furiyama memandang keadaan dengan puas. Satu kelopak lagi direnggut, dia menyeringai senang.
"Mati kau, Morizaki Ichiru."
"Hinata!"
Teriakan itu memantul di dinding batu yang dingin, bergema, membuat Furiyama menoleh. Bersamaan dengan itu, kelopak tadi jatuh ke lantai dan Ichi mendadak tersungkur.
"Hei, kau siapa?!" tunjuk Naruto pada Furiyama. Belum selesai rentetan pertanyaannya, dia mendapati bocah yang sebelumnya menculik istrinya jatuh dan tidak bergerak lagi—matanya setengah terbuka dan bibirnya seperti ingin memperdengarkan jeritan. "Anak itu! Siapa kau? Kau apakan dia?" Naruto berlari mendekat, Shikamaru melewati dinding dan bersiap di balik punggung Furiyama. Sementara Sakura perlahan-lahan mendekati Hinata.
"Jangan mendekat!" —CLAP, pisau menancap di lantai, beruntung Sakura dapat menghindar. Pisau berbentuk kelopak teratai itu sempat membuat Sakura tercengang.
"Wow, wow, wow, aku harus sampai menghadapi Hokage rupanya. Aku tersanjung," Furiyama menghilang dari pandangan Naruto dan kedua rekannya. "Tapi jangan pernah mau mendekat kalau tidak mau wanita ini kulukai."
"Sialan kau," tangan Naruto membentuk rasenshuriken, matanya berkilat marah memandang seringai Furiyama yang dia anggap sangat menjijikkan. "Kembalikan Hinata-ku!"
BRAK— "Naruto baka!" Sakura, seseorang yang secara tak langsung menimbulkan bunyi tubrukan itu, menegur Naruto dengan suara keras. Dia meninju tangan Naruto dan rasenshuriken tadi langsung melubangi dinding, menganga lebar, "Pikirkan tindakanmu baik-baik, bodoh. Itu bisa melukai istrimu sendiri," dia menggeram dalam desisan. "Pertimbangkan strategi baik-baik, ini di luar perhitungan kita, ulur waktu biar Shikamaru bisa berpikir."
Mata Naruto, yang sempat kosong sebentar karena melihat keadaan Hinata, menyala kembali. Api cahaya warna biru yang mengisi irisnya pun hidup lagi setelah dia melihat Shikamaru sedang menyipitkan matanya, menyelidiki objek aneh yang berada di tengah-tengah ruangan yang terlihat seperti bagian dari kastil ini. Benar, dia tidak boleh terbawa emosi sesaat. Ada ruang abstrak yang harus dibuka kuncinya untuk melumpuhkan laki-laki itu.
Dan Naruto punya firasat, sama seperti Sakura dan Shikamaru, kuncinya adalah benda yang ada di tengah itu. Teratai dengan cahaya putih itu, tentu saja.
"Apa maksudmu mengambil Hinata?" Naruto mulai mendingin. Tsunade sudah pernah mengajarinya diplomasi dan dia harus mengalami benjol di kepala hampir setiap hari hanya karena tidak bisa mempraktekkannya dengan baik. Perlu satu bulan sampai Tsunade berhenti menghadiahi kepalanya dengan jitakan. "Kau butuh uang? Posisi? Kurasa tidak tepat kalau kau ingin mengatakannya dengan menyandera seorang wanita, seorang istri Hokage."
"Posisi? Uang? Hahaha," Furiyama tertawa keras. "Aku tidak perlu hal-hal murahan semacam itu," ada pisau kecil yang dikeluarkannya saat dia bicara, dan ditempelkannya di leher Hinata.
"Lalu? Apa?" kontrol Naruto hampir lepas, namun hatinya berusaha menenangkan pikirannya saat dia lihat Furiyama mulai menanamkan ujung pisau itu ke leher Hinata. Sebagai ganti dari kemarahan yang tertahan, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, buku jarinya memutih. "Kalau kau mau cerita, berceritakah tapi hentikan gerakan tangan KOTORMU itu untuk melukai Hinata."
"Ow, ow, kau ternyata masih memelihara sifat ributmu itu. Kupikir Tsuki akan kurang senang punya menantu sepertimu."
"Tsuki ..." Naruto menggumamkan nama itu. Awalnya terdengar agak asing, tapi lantas dia mengingatnya. Hinata, pada suatu malam setelah mengantarkan laporan ke kantornya dan mereka memutuskan untuk pulang bersama, pernah menceritakan tentang nama ibunya. "Kenapa kau bisa tahu nama ibu Hinata?"
"Hm, ternyata kau tidak tahu apa-apa tentangku. Aku ragu apa anak ini juga tahu, kecuali si Tuan Hiashi itu mau bermurah hati menceritakannya," ada nada tak senang ketika dia menyebut nama ayah Hinata. "Aku di sini untuk melakukan sesuatu yang tentunya tak asing di telingamu. Seperti yang pernah sahabatmu coba. Si Uchiha Sasuke itu."
"Apa hubungannya Sasuke-kun dengan ini?" Sakura menggeram, tangannya sudah mencapai saku kecil di kakinya untuk mengambil shuriken.
"Kau bilang apa padaku tadi, Sakura-chan? Dinginkan kepalamu," tegur Naruto. Sakura pun memejamkan matanya, menghela napas untuk menenangkan diri, seraya menanamkan pikiran positif di kepalanya, Sasuke-kun tidak mungkin terlibat. Tidak, tidak, jangan. Aku percaya dia.
"Yah, bocah Uchiha itu tidak punya hubungan apa-apa, jangan panik, Merah Muda," Furiyama seperti mempermainkan Sakura. "Aku hanya ingin balas dendam, pada ibu dan ayahnya."
"Tapi mengapa harus di hari pernikahan kami, ha?" Naruto mulai egois. Tentu, sampai detik ini dia masih belum bisa terima bahwa hari bahagianya terganggu. Dia masih merasa bahwa ketidakadilan kehidupan masih merengkuhnya, tidak bolehkah dia bahagia walau hanya satu hari?
"Karena semua ini ada hubungannya dengan pernikahan. Aku ingin Hiashi melihat bahwa pernikahan pun bisa jadi hal yang pahit," volume suara Furiyama meninggi, kilat marah menyala di dalam matanya, seolah mampu membakar apa yang ada di depannya.
"Omong kosong—"
DUARR—sebuah ledakan besar muncul dari balik punggung Furiyama. Furiyama, yang memang punya sensitivitas yang tinggi dan refleks yang bagus, segera melompat sambil membawa Hinata, menaiki dinding untuk kemudian berdiri di atas palang kayu di langit-langit.
"Sial," ucap Shikamaru. Tangannya sudah siap dengan segel jurus andalannya, namun karena ruangan ini begitu gelap dan tak ada cukup cahaya untuk menimbulkan bayangan, dia gagal. Trik ledakan yang sengaja dia buat tadi, untuk menimbulkan cahaya dan membuat bayangan, tidak mungkin dapat digunakan lagi, itu sudah terbaca oleh Furiyama. Satu-satunya cahaya yang bisa membuat mereka melihat di kegelapan kastil ini cuma dari pendar teratai itu, dan teratainya tak cukup terang untuk menghasilkan bayangan besar sebagai penjerat.
"Kau kira aku tidak memperhitungkan ini? Nara dan segala modifikasi jurus bayangannya, gampang sekali dilumpuhkan kalau di ruang gelap begini," dia berbicara dari atas dengan wajah senang. Senyumnya memudar sesaat ketika melirik pada teratai di sana. Kelopaknya tinggal tiga, berarti kesempatannya juga berkurang.
Naruto beradu pandang dengan Shikamaru, kemudian mereka menganggukkan kepala bergantian. Shikamaru melirik Sakura, dan Sakura terlihat mengerti, dia tersenyum kecil, senyum kecil yang mantap. Naruto pun melompat naik, Furiyama menghindarinya dan melompat ke belakang. Tepat di belakang sana, Shikamaru sudah menghadangnya dengan sebuah kunai. Perhitungan sang Hokage dan penasihatnya itu rupanya meleset, Furiyama melesat kembali ke bawah kurang dari sekejap mata. Mereka berpikir bahwa dengan membawa Hinata di tangannya, gerakannya akan melambat ketika dikepung, tetapi mereka salah. Furiyama benar-benar sudah terlatih.
Tapi tunggu, belum selesai. Sakura, yang masih berada di bawah, berlari menuju teratai itu dan mencoba mengambilnya—
—terlambat. Furiyama sudah lebih dulu tiba di teratai itu, mencabut satu kelopaknya dan berujar lantang, "Ikat kaki dan tangan mereka!"
Secara mengejutkan, sulur-sulur tanaman merambat muncul dari lantai dan menarik kaki Naruto dan Shikamaru yang masih berada di udara, serta Sakura yang tengah berlari. Sakura tersungkur, Shikamaru dan Naruto terhempas ke lantai dengan keras. Pergelangan tangan dan kaki mereka terjerat erat oleh tanaman yang mengikat seperti kuatnya jeratan baja itu.
"Aku bukan ninja," Furiyama mulai bercerita. Dengan Hinata yang dia bawa dengan merangkul lehernya (Naruto benar-benar geram akan hal itu, istrinya yang sedang tidak sadar dicekik dan diseret kesana-kemari sambil melayang? Andai dia bisa langsung mengirim Furiyama ke kolam neraka, Naruto akan dengan senang hati melakukannya), Furiyama bersandar pada tembok, tak jauh dari tempat tersungkurnya Sakura. "Tapi aku mempelajari kecepatan seorang ninja. Hanya untuk membuat Tsuki terkesan."
"Apa hubungannya dendammu dengan Hinata? Dia tidak bersalah!" bela Naruto.
"Dendam tidak perlu hubungan ini-itu yang merepotkan seperti yang kau tanyakan, Tuan Hokage. Yang terpenting adalah bagaimana kau memuaskan rasa sakit hatimu pada orang yang menyakitimu," dia menyeringai bangga. "Membunuh orang yang menyakitimu, itu juga bukan pilihan yang baik. Kau tidak akan puas. Lebih menyenangkan kalau kau melihat dia terpuruk karena orang yang disayanginya."
"Dasar kotor," Naruto mendesis, "Lepaskan!" dia meronta.
"Ah, masih ribut juga kau. Tapi sebaiknya kau kuceritakan dulu tentang ibunya, aku dan Hiashi," Furiyama mulai menyayatkan pisaunya pada leher Hinata. Darah segar mulai mengucur.
"Hentikan, sialan!" Naruto berteriak, namun ia mencoba untuk tidak gegabah. Otaknya mulai dia coba gunakan, memikirkan trik untuk menjebak balik Furiyama. Membangunkan Kurama untuk minta bantuan, mungkin? Kebetulan sekali, Furiyama sedang ingin bercerita. Si bodoh itu mengulur waktunya sendiri, pikir Naruto. "Jangan lukai dia! Hinata tidak bersalah, kubilang! Serahkan Hinata padaku dan kau boleh melukaiku sepuasnya! Aku sudah menjadi bagian keluarga Hyuuga sekarang, kau bisa menggunakanku!"
Furiyama tertawa sinis, "Menyerahkan Hinata, maksudmu? Boleh. Akan kulakukan, tapi saat dia sudah menjadi mayat, hahaha!" suara Furiyama menggelegar, memantul di dinding berkali-kali. "Aku melamar Tsuki terlebih dahulu. Aku bahkan belajar ilmu ninja untuk membuat dia senang melihatku. Aku bahkan memberi janji harta untuknya. Tapi dia lebih memilih Hiashi yang menjijikkan itu, laki-laki yang dingin padanya, yang cuma ninja biasa dari kalangan Hyuuga, daripada aku yang benar-benar mencintainya dan menjanjikan kebahagiaan untuknya. Tsuki yang kucintai itu bodoh. Cintanya buta pada Hiashi. Dan Hiashi itu juga brengsek. Dia egois. Tak mau melepaskan Tsuki untukku padahal dia tahu bahwa aku lebih mencintai Tsuki. Mereka sama-sama menyakitiku, maka dari itu aku juga ingin membuat mereka merasakannya!"
"Kau gila!" Naruto berontak, matanya mulai memerah.
Dia tertegun sebentar. Cerita ini ... rasanya dia pernah mendengar ini. Aha, yang waktu itu, sewaktu mereka mencari bunga lili putih di padang rumput pada suatu malam, sebelum mereka menikah.
Naruto makin geram.
Diam-diam, ketika Naruto mengamuk di sana, Sakura menggulingkan diri mendekati kaki Hinata. Chakra hijau mengalir dari tangannya, dia coba memotong tanaman itu dengan chakra-nya. Tapi sayang, kontrolnya kurang baik karena konsentrasinya sedang tidak fokus. Dia mencobanya lagi, sambil terus mengingat ajaran Tsunade, bahwa sebuah pisau chakra dapat tercipta dengan mengontrol aliran chakra dengan baik—suatu kemampuan yang memang harus dimiliki ninja medis.
Berhasil. Sulur itu pun melonggar, walau tidak bisa lepas sepenuhnya, seakan ada pengaruh sihir yang membuatnya tak semudah itu dilepaskan. Sakura cepat-cepat mengangkat tangannya sebelum dijerat lagi, menyentuh kaki Hinata dan mengalirkan chakra ke sana.
"Ukh!" Sakura mengaduh ketika jerat sulur itu kembali membelenggunya. Tapi dia tersenyum.
DUAKK!
Furiyama yang baru saja akan melanjutkan cerita dendamnya, terlempar ke belakang karena tinju pada perutnya. Hinata.
Sakura masih mempertahankan senyumnya, "Kau meng-genjutsu Hinata, 'kan?"
"Bagaimana kau tahu?" Furiyama mencoba bangun, tapi pukulan tadi disertai dengan chakra yang membuat dia melemah.
"Mata seseorang yang terkena genjutsu itu menunjukkan gejala yang khas. Hanya tinggal mengalirkan chakra pada seseorang terkena genjutsu, maka semua akan berhenti," Sakura menerangkan, "Kautahu salah satu alasan mengapa Uchiha Sasuke, yang kau sebut bocah itu, menjadikanku sebagai istrinya?" dia tersenyum lagi. "Karena aku ahli dalam ilmu genjutsu meski tidak bisa menggunakannya, dan dia mengakuiku atas itu, agar kami bisa terus bekerja sama sebagai partner."
"Terima kasih, Sakura," Hinata memasang kuda-kuda siaga. Caranya berdiri cukup mengkhawatirkan, karena kedua kakinya terluka parah. Tapi, tanpa peduli apapun, dia berlari maju ke arah Furiyama, secepat yang dia bisa.
Furiyama bangun, namun dia membaca sesuatu dari gerakan Hinata. Dia memicingkan matanya.
Benar saja, Hinata langsung membelokkan langkahnya, menuju teratai putih yang hanya tinggal dua kelopaknya itu. Furiyama menggunakan kecepatan hebatnya, melindungi teratai putih tersebut. Hinata, yang tidak bisa menggunakan kecepatan maksimalnya karena terluka pun tidak sempat memetik kelopaknya, seperti yang dia ingin lakukan. Furiyama meninju bahunya hingga ia terpental ke belakang.
Dengan mudah, Furiyama memetik satu kelopak dan dia pun mengucapkan mantra, "Lukai kepala Hyuuga—"
"Jauhkan tanganmu dari Hinata!" Naruto, yang telah berubah menjadi setengah kyuubi—berjubah kuning dengan garis hitam, matanya merah dan berpupil rubah, melepaskan diri dari sulur yang mengikatnya. Sulur itu terbakar dan langsung menjadi abu.
Naruto pun berdiri, tanpa mempertimbangkan lebih banyak hal, dia berlari ke arah Hinata sambil membentuk satu klon. Klon tersebut menyelamatkan Hinata, sementara Naruto yang sesungguhnya berlari cepat menghampiri Shikamaru, melepaskan jerat si sulur dengan membakar pangkalnya. Api langsung merembet ke tubuh sulur, Shikamaru lekas-lekas melepaskan diri saat sulur itu putus sebelum membakar tubuhnya. Hal yang sama dilakukan Naruto untuk Sakura. Shikamaru lantas berlari kilat ke teratai, mencabut kelopak terakhirnya, serta meniru apa yang sebelumnya dilakukan Furiyama, sambil memandang tajam pada lelaki itu, "Ikat dia!"
Saat teratai itu jatuh ke lantai, sulur yang sama menjerat Furiyama. Secepat-cepatnya dia bergerak, kecepatan Naruto dalam melakukan semuanya masih bisa mengalahkannya. Dia sempat jatuh terjerembab, sulur-sulur itu pun menariknya, membebat kakinya hingga lutut.
Namun, Furiyama sempat menyeringai. Mungkin dari keempat orang itu, tak ada yang memperhatikannya.
"Kau belum mengatakan namamu," Naruto, masih dalam mode bijuu, mendekati Furiyama. "Tapi simpan saja itu untuk di pengadilan nanti," tangan Naruto terangkat ke atas, menciptakan api chakra yang akan digunakannya untuk merantai Furiyama. Berterima kasihlah pada Kakashi yang mengajarinya ini.
"Kalian salah perhitungan lagi, bocah-bocah," senyum Furiyama. "Dasar masih muda semua. Hokage-nya juga masih belum banyak pengalaman, belum tahu banyak hal."
"Jangan banyak bicara di kala kau sudah kalah, pengecut," Naruto telah selesai memborgol Furiyama. Dia menghampiri Hinata, merapikan rambut wanita itu. "Sakit sekalikah? Kita akan segera pulang, Hinata."
"Kalian tidak lihat kuncup kecil di tengah teratai itu?" dia masih tersenyum. "Aku masih bisa melakukan hal menarik dengan ini."
Mata Shikamaru menyelidiki. Memang, di tengah teratai yang telah habis kelopaknya itu ada kuncup yang menjulang tinggi, terbuat dari kelopak yang sama. Matanya segera berpindah pada Furiyama, dan laki-laki itu mengucapkan sesuatu tanpa suara, mulutnya komat-kamit tanpa maksud yang jelas.
Benar saja, ada sesuatu yang terjadi. Kuncupnya melayang mendekati Furiyama, dan sekarang berada di hadapan wajah Furiyama. "Kuncup ini sedikit berbeda. Dia memang hanya bisa diambil sebagai yang terakhir, tapi dia tidak perlu dipetik. Dia akan menuruti mantra khusus si pemilik pertamanya, dan melakukan fungsi sama seperti yang lain."
Hinata berontak dari Naruto, ketangkasannya melebihi reaksi Naruto, pemuda yang tengah menunduk sambil memegang tangannya itu sampai terlempar karena Hinata menyingkirkannya dengan cukup keras.
"Matilah kau—"
"Hakke Kuuhekishou!"
Kuncup itu pun terpental ke dinding, langsung jatuh merosot ke lantai tanpa sempat Furiyama mengucapkan mantranya.
"Jyuuken!" Hinata yang sudah terengah-engah melayangkan pukulan terakhirnya untuk Furiyama, lelaki itu pun jatuh ke lantai, disusul Hinata yang juga jatuh pada lututnya, menatap pada Furiyama dengan mata sendu namun sorotnya tegas. Kedua tangannya merah, berikut pula kakinya karena luka yang menganga di sana. Lehernya juga sudah berwarna kemerahan. Luka yang masih basah ada di sana, buah karya dari pisau Furiyama dan segala kelicikannya.
Naruto meringis melihatnya. Dia hampiri perempuan itu, tapi Hinata tidak peduli, kelihatannya. Dia mencoba bangkit dengan gemetar, mendekati tubuh Ichi yang tergeletak tanpa nyawa tak jauh dari sana.
Hinata menunduk, kemudian meraih tubuh kecil Ichi dengan kedua tangannya, merengkuhnya, dan menangis hingga tetes-tetes air matanya jatuh ke wajah Ichi.
Naruto benar-benar menyerah jika dia harus melihat interaksi Hinata dengan anak-anak. Entahlah, semua terlihat begitu manis, hangat, dan memanja matanya hingga ia merasa lebih dari terharu, jika dia harus mengungkapkannya dengan kata.
Dia biarkan waktu berlalu beberapa saat dengan cara ini. Shikamaru dan Sakura membereskan Furiyama dengan memotong sulur yang mengikatnya, sekaligus memperkuat borgol chakra-nya.
"Dia hanya alat, ya," Naruto menyentuh pundak Hinata.
"Ya ..." Hinata menyeka air matanya yang jatuh ke wajah Ichi. "Alat yang digunakan Furiyama untuk memancingku ke sini. Kalau tidak, pasti lebih susah untuk menculikku."
"Tapi dia hebat. Dia bisa membuka portal chakra yang cuma bisa dibuka oleh keluarga Hyuuga, dan jurus perpindahan dimensi begini."
"Dia memang berasal dari klan istimewa, Naruto-kun. Dia berbakat. Dan kurasa ... Furiyama campur tangan dalam mengajarinya."
"Mungkin," Naruto mengembuskan napas panjang, bentuk kelegaan atas ini semua. "Ayo pulang, Hinata. Kau akan kubawa. Ichi biar dibawa oleh Sakura-chan dan Shikamaru yang mengurus laki-laki gila itu."
"Tidak. Kumohon, Naruto-kun, biarkan aku membawa Ichi. Untuk terakhir kalinya."
"Tapi kau terluka—"
"Ini tidak apa-apa," Hinata berdiri, Ichi masih di pelukannya. "Percayalah padaku, Naruto-kun, aku bisa melakukannya."
Naruto tak punya pilihan yang lebih baik.
Mereka pun kembali. Hinata hampir terjatuh ketika mencapai pintu dimana simbol kunci itu berada dan Naruto menawarkan diri kembali untuk menolongnya, namun dia kembali menolak.
Mereka hanya tinggal mengikuti pola simbol yang tertempel di tembok, dan mereka langsung terpindahkan menuju gua, ada Neji di sana. Neji, tanpa perintah siapapun, mengambil Ichi dari tangan Hinata, sebelum Hinata sempat bereaksi, Naruto sudah mengangkat tubuhnya.
"Sudah jadi tanggung jawabku untuk menolongmu, Hinata. Setidaknya biarkan aku menjalankan tugasku," lelaki itu membopongnya, seraya tersenyum manis.
Pintu portal terbuka, mengantarkan mereka kembali ke kediaman Hyuuga. Ada beberapa orang yang telah menanti mereka di tepi kolam, sengaja berjaga di sana. Mereka sambut Hokage yang akhirnya pulang dengan istrinya, rasa kaget sekaligus haru terpetakan dengan jelas di wajah.
Dengan angin yang meniupkan rambut Hinata untuk menyentuh wajahnya, Naruto akhirnya benar-benar disadarkan; Hinata telah kembali. Hinata datang. Hinata selamat. Hinata benar-benar kembali, ke pelukannya, ke rumahnya, ke desa yang dia cintai.
Maka Naruto pun mengeratkan dekapannya pada tubuh Hinata yang masih dibopongnya, bahkan ketika sampai ke dalam. Ketidakpercayaan itu pupus habis ketika dia menunduk dan menemukan bahwa Hinata sedang tersenyum padanya.
end.
A/N: jangan terkecoh status 'end'. masih ada epilog kok, hehe. tapi yang jelas, segala pertarungan selesai di sini. maaf updatenya lama, RL stuffs are hectic. tugas kuliah menyerang, aku lagi punya target tertentu *grins*, plus, bagi waktu buat ini, buat itu, buat ono di RL, juga bagi waktu buat fandom ini, fandom itu, blablabla, banyak prioritas tuh gini deh ngohoho. maaf ya jadi cerita panjang, sebab kupikir kalian perlu tahu, soalnya ada yang nagih kenapa apdetnya lama DX
maaf juga kalau adegan pertarungannya ngga greget, adventure and action are not my league /nanges/, but i do put efforts in it. aku kebiasaan di romens sih, makanya belum terasah di action—aku bikin ini pun buat latihan. jadi maaf kalo kurang ngena, ya DX tapi semoga ngga janggal deh /sobs/
daaan, selamat bagi anda-anda yang menebak bahwa penjahatnya adalah orang yang dulu pernah melamar ibu hinata 8D berarti kalian inget banget jalan cerita di White Lily dong yaaaa hihihi~
biggest thanks to those who has reviewed in the previous chapter:
Silit, leontujuhempat, almira-chan, Karizta-chan, ricky. nursidiq, AF Namikaze, arisaarishima27narutouzumaki10, Hyuuga Divaa Atarashii, yuan, m. u. albbab, Uzumaki 21, 2nd silent reader, AnnisaIP, arip. scarlet, Vicestering, Gray Areader, Amu B, Yui Kazu, Ayzhar, kensuchan, arul. dhesmosedhichii, Durara, utsukushi hana-chan, 7th ChocoLava, Reysa00018, Luna-san, mangetsuNaru, Misti Chan, juanda. blepotan, goGatsu no kaze, K, HimeAkai11, Guest, N
and those who have favorited plus followed this fic! here, lemme give you my biggest gratitude!
.
.
p.s.: kalau ada yang janggal dan perlu diperbaiki, don't be hesitate to tell me!
