Sexy Lu.
Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris
Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo
Rated: M
Warning: typos, cerita aneh, mature content
GS, DLDR.
enjoy
.
.
Chapter 10
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Begitu otakku sudah kembali sadar, aku mendorong Kris jauh jauh. Melepaskan rengkuhannya yang menimbulkan malapetaka. Sehun di depanku masih menatap datar kami, dan seolah tidak berniat untuk menunggu responku, Sehun memutar tubuhnya lalu berjalan.
Aku yang mengerti bahwa dia ingin aku mengikutinya, buru buru mengekori Sehun di belakang.
"See you later babe!" Teriakan Kris di belakang membuat ku gatal untuk memukul kepalanya dengan higheels. Tapi aku urungkan, Heels ku terlalu berharga untuk menyentuh kepala kotornya.
.
.
.
Sehun yang berjalan di depan, menguarkan aura dingin yang menusuk. Sama seperti Sehun yang pertama kali aku kenal, tetapi hal ini berbeda. Aku bisa merasakan emosi yang bisa meluap dari tubuhnya. Seolah setiap detik, dia bisa saja berbalik dan menikamku.
Padahal, dari tampilan luar, dia santai sekali. Hanya membawa tumpukan buku yang biasa ia pakai untuk mengajar, sementara satu tangannya yang lain dia masukan ke saku. Sehun memang dosen dingin dan pendiam, tapi sepenglihatanku, pria itu masih cukup sopan untuk menyahut sapaan yang diberikan padanya.
Misalnya, jika ada dosen lain yang berpapasan dengannya. Atau murid murid –yang mayoritas mahasiswi kecentilan- yang menyapa dia saat di lorong, Sehun masih akan tetap mengangguk. Membalas sapaan mereka meskipun tidak seramah yang mereka harapkan. Sesekali, pria itu akan tersenyum kecil. Tapi, ini jarang-sangat jarang-kau pasti beruntung jika mendapat senyuman Sehun.
Namun, kali ini berbeda. Di lorong menuju ruang Dosen, banyak sekali orang yang berpapasan dengan kami. Dan semuanya menyapa kami-ah ralat, hanya menyapa Sehun-tapi pria itu tidak menggubris sama sekali.
Ini malah membuatku semakin takut. Tanpa sadar, genggaman ku pada paper bag berisi nasi goreng Kimchi menguat.
.
.
.
Kami sampai di sebuah ruangan. Tidak besar dan juga tidak kecil. Ada sebuah meja dengan kursi empuk yang nyaman. Itu ruang pribadi Sehun. Ah, aku beri tahu ya. Sehun termasuk salah satu dari jejeran dosen yang memiliki ruang sendiri.
Sehun duduk dikursinya, menaruh bukunya diatas meja dengan suara jatuh yang cukup keras. Aku masih membatu di ambang pintu. Entah kenapa, berduaan dengan Sehun diruang sepi, ditambah emosinya yang tak terbaca mengingatkan ku pada burgundy room.
"duduk." Sehun berkata singkat. Dingin. Dan tegas. Dengan kikuk, aku menghampiri meja Sehun dan duduk di hadapannya.
Saat itu juga, tatapan tajam Sehun seolah menembusku hingga tulang belakang. "apa yang kau lakukan?" itu pertanyaan pertama Sehun. Masih dengan ekspresi nya yang membuatku merinding.
"uhm. melakukan apa?" tanya ku. Jujur saja, aku tidak tahu maksud Sehun. Apa aku harus menjawab 'oh, aku sedang berangkat kuliah' atau 'aku sedang berdebat dengan makhluk tiang tidak punya otak' atau jawaban yang benar benar harfiah seperti 'duduk di depanmu'? Pertanyaannya terlalu ambigu!
Sehun menghela nafas panjang. Seperti meredakan emosi nya yang akan memuncak kapan saja. "maksudku, apa yang kau lakukan dengan pria itu?" tatapannya sekarang lebih tajam dari sebelumnya.
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"mianhe Sehun. Pria itu hanya orang sakit jiwa yang selalu mendekatiku. Tidak perlu khawatir. aku tidak akan menggubrisnya." kataku dengan antusias di bagian'orang sakit jiwa'. Sehun memandangku dengan sorot mata penuh selidik. Tidak ada ekspresi disana kecuali tatapan menusuk yang masih terpaku kearahku.
Jika saja itu tidak abstrak, aku yakin tubuhku sudah berlubang sekarang.
"jangan kira aku bodoh Luhan. Kau pikir aku tidak tahu kalau pria itu adalah orang yang menyerangmu di acara white mask bulan lalu?" Kata Sehun telak. Ekspresi dingin nya sekarang perlahan berubah menjadi tatapan remeh yang menyebalkan.
"tidak. Siapa juga yang mengira kau bodoh. Makanya aku bilang, dia itu orang sakit jiwa!"
"dia mengincarmu." kata Sehun. Singkat, padat, jelas dan datar. Aku mengerjap beberapa kali.
"apa?"
"tidak mungkin seorang pria sampai pindah ke kampus ini hanya karena penasaran akan seorang wanita. dia obsesi pada mu."
Terus, aku bisa apa? memangnya salahku kalau aku terlalu menarik? .
Ingin sekali aku menjawab seperti itu. Tapi tampaknya saat ini kurang tepat. Bisa bisa, dia menyambitku dengan buku tebalnya.
"tapi yang terpenting kan, aku tidak meresponnya. Dan aku juga slelau menjaga jarak dengannya. tenang lah Sehun."
Sehun diam beberapa menit disini. Kemudian, dia menjilat bibirnya dan bersikap kembali normal. Tapi yang aneh, aku merasa ada yang janggal dari sikapnya sekarang. Seperti menutup nutupi sesuatu. Atau seperti orang yang baru saja salah bicara. Atau orang yang baru melakukan salah. Atau seperti sedang berfikir keras. Entahlah, pokoknya semacam itu.
"tolong jangan salah kaprah. Disini, aku hanya ingin kau tidak melanggar aturanku. Aku bukan cemburu luhan. Hanya saja di dalam dirimu, ada investasi sebesar 3 juta yuan dan aku tidak ingin membagi wanita yang kubeli dengan siapapun. Ini murni sebagai hak kepemilikan. Bukan karena aku cemburu."ujar Sehun.
Ada kata cemburu yang dia sebutkan dua kali dalam kalimatnya. Menegaskan kalau memang dia tidak cemburu. Aku paham soal itu. Hanya saja, kenapa hatiku sedikit mencelos saat mendengar kata katanya barusan? mungkin, aku sedikit berharap kalau dia akan…
Ah. Sudahlah Luhan. Aku menampar diriku dengan tamparan imajiner.
"iya. aku mengerti. Tenang lah Hun." kalimat itu nyatanya terdengar lebih sendu dari yang kuharapkan.
Hening beberapa menit. Aku merasa, menetap di ruangan Sehun hanya akan membuatku terlambat ke kelas.
"baiklah. Kalau begitu, aku permisi." kataku sambil bangkit dan pergi dari ruangan sehun. Lebih baik aku diterpa rasa kantuk karena kuliah para dosen, ketimbang harus berlama lama diruangan Dosen seperti Oh Sehun.
Saat keluar ruangan, aku melihat ada sebuah tempat sampah yang cukup besar. Dengan langkah menhentak hentak, aku menghampiri tong sampah itu lalu membanting paper bag yang dari tadi ku pegang ke dalamnya.
Dan nasi goreng kimchi yang sudah kubuat pun, berakhir di tempat sampah.
.
.
.
Aku berjalan dikoridor menuju kelas dengan langkah besar besar. Sumpah serapah sudah aku keluarkan dalam monolog. Entah untuk Sehun, atau untuk Kris. Bagiku semuanya sama brengsek! sialan mereka berdua! yang satu membuatku dalam masalah, yang satu malah si masalahnya itu sendiri!
Benar benar sialan! kenapa hidupku semakin runyam?!
Tiba tiba, ditengah otak dan hatiku yang sedang panas, sebuah nama terbersit.
Sumber dari segala sumber masalah yang membuatku berada di posisi ini.
Huang Zitao!
Dengan emosi yang belum luntur, aku segera merogoh ponsel ku cepat cpeat lalu mengetik nama Tao di daftar kontak. Saking terburunya, jariku sampai terpleset beberapa kali.
Begitu aku menemukan kontak si jalang itu, tanpa pikir panjang, aku langsung menghubunginya.
Aku tidak pernah meresa se jengkel ini begitu mendengar nada sambung panggilan yang tak kunjung diangkat. Mungkin karena aku emosi.
Kenapa aku emosi? TIDAK TAHU! pokoknya kau emosi! okay?
"yeo-"
"yak! jalang bodoh! apa yang kau katakan pada Kris?" aku segera menyembur bahkan sebelum Tao menyelesaikan sapaannya.
"huh?"
"apa yang kau katakan pada adik Kenddrick hah!" beberapa mahasiswa lain yang melihatku sempat berjengit. Menatap penuh heran, jijik dan mungkin… ngeri? bayangkan saja aku sedang berdiri di tengah koridor, lalu mencak mencak dengan nada yang aku yakin terdengar sampai radius beberapa ratus meter.
Aku memutuskan untuk agak menyingkir, ke sebuah belokan koridor yang cukup sepi. Diseberang sana, Tao yang tadinya sedang mencerna omonganku, tiba tiba tertawa renyah
"yaampun Luhaaaan. Kau ini sedang menstruasi atau bagaimana. Tenang lah sedikit."
Tenang katanya? dia bodoh atau tidak punya otak? suara tawa Tao malah semakin membuatku emosi kalau boleh jujur.
"aku hanya mengobrol biasa kok. Di bar, Saat itu kami sedang berkumpul dengan kenddrick. Dia hanya bertanya darimana aku mengenalmu. Itu saja. Aku tidak menceritakan banyak hal! sumpah!" lanjut Tao dengan nada santai. Seolah sedang mengobrol tentang sex life kami seperti yang biasa kami lakukan. Ugh, ingin sekali aku menjambak rambutnya sekarang ini.
"apa kau mabuk?" aku bertanya ketus.
"uhmm.. tidak ingat. Sepertinya iya. Karena esok paginya aku terbangun di kamar hotel dengan kenddrick! hahaha" tawa sialan itu lagi! hatiku serasa speerti terkena efek vulkanik. Siap meletus dan meledak ke segela arah
"aku tidak percaya dengan jalan pikiranmu!"
"memangnya ada apa sih Luhan?" suara tawa Tao berubah menjadi nada malas yang terdengar semakin memuakkan. Aku menghirup nafas ku dalam dalam. Mencoba mereda emosi yang memuncak sebelum aku benar benar mengamuk disini.
"kau tahu, Kris itu adalah maniak yang selalu mengikutiku. Dia juga smepat memperkosaku saat acara white mask! Dan sekarang dia satu kampus denganku! ini semua gara gara kau!"
"astaga Luhan? kau tidak bohong kan?!" nah, akhirnya si jalang ini merespon dengan reaksi yang seharusnya. Panik. Merasa bersalah. Mengerti kalau dia sudah melakukan kesalahan bodoh! astaga.
"untuk apa juga aku bohong!"
"Oh Lord. Aku minta maaf. Aku benar benar tidak tahu!" suara Tao memelan. Aku kenal sekali nada suara ini. Rasa menyesal yang amat sangat. Beberapa kali, aku juga mendengar Tao berdecak. Merutukki dirinya sendiri. Intinya, benar benar sangat menyesal.
Tiba tiba, aku jadi kasihan.
"jaga jarak saja dengannya okay? apa kau ingin aku berbicara dengan Kenddrick?" usul Tao. Tapi, meskipun hal itu terdengar menggiurkan. Aku rasa bukan hal bijak membawa Kenddrick kedalam masalah ini. Ini masalahku dengan Kris. Aku bahkan tidak mengenal Kenddrick. Lagi pula, aku juga tidak ingin hubungan Tao dan Kenddrick berubah mejadi buruk.
Yang aku asumsikan, jika sifat Kris seperti ini, kakaknya pun mungkin tidak akan berbeda jauh. Aku tidak mau, jika hubungan Kenddrick dan Tao memburuk, pria itu akan melakukan hal hal gila padanya. Seperti si Kris binatang itu lakukan padaku
Oh tidak. Jangan sampai.
"tidak. Tidak usah Tao."
"lupakan lah. Aku minta maaf soal tadi ya? dan tolong, jangan beri tahu apapun lagi pada Kris tentangku." kataku lagi, tidak berniat melanjutkan permasalahan ini.
"tentu saja Lu. sekali lagi, aku benar benar minta maaf."
Panggilan itu aku matikan. Setelah merasa emosi ku benar benar sudah stabil. Aku kembali menuju kelas ku di lantai tiga.
"hey sayang. Ayo kita pergi ke kelas bersama." Kris muncul di lantai dua dan mengalungkan tangannya begitu saja di pundakku.
"lepas!" aku mengedikkan pundakku dengan kasar. Agar tangan menjijikkan nya terlepas dari badanku. Pokoknya, tidak boleh-satu pun bagian tubuhku-dijamah, dicengkram ataupun disentuh oleh binatang berambut pirang itu! Tidak akan!
"kau ini benar benar membuatku emosi! sana pergi!" aku mempercepat langkahku dan meninggalkan makhluk setinggi tiang itu dibelakang. Tapi sayang, karena kakinya yang jauh lebih panjang dari milikku, hanya dengan beberapa langkah saja Kris sudah berhasil menyeimbangkan langkah kami.
"tapi kita benar benar satu kelas." kata Kris bersungguh sungguh. Mencoba meyakinkanku bahwa dia tida berbohong dan aku akan membiarkannya pergi ke kelas bersamaku.
Dude, I don't care~ yang penting kau jaga jarak dariku!
"kalau begitu duduk jauh jauh dariku!"
"kalau aku tidak mau bagaimana?" ada senyum meledek yang tercipta di wajah Kris sebelum akhirnya aku semakin mempercepat langkahku., sementara Kris berhenti dan mentertawaiku dari belakang.
Brengsek.
.
.
.
Saat di kelas, ternyata Dosen kami belum masuk. Beberapa mahasiswa sudah tiba disana. Seperti biasa, beberapa dari mereka kan memandang ku dengan tatapan tajam. Tatapan mesum. Atau tidak acuh sekalian.
Kemudian, sorot mata mereka berganti menjadi tatapan jijik dan judging yang sangat menohok ketika Kris muncul di belakangku lalu mendudukkan dirinya di kursi sebelahku. Dia ini… stalker akut atau bagaiamana?
Jengah dengan keberadaannya, aku kemudian pindah dan duduk di kursi baris ketiga dari belakang. Kursi itu dekat dengan segerombolan anak sebenarnya. Tipe letak duduk yang paling aku hindari. Tapi aku tidak Perduli. Dalam kasus sekarang, KRIS lebih harus aku hindari dari mereka.
Namun, strategiku gagal. Kris masih membuntutiku dan duduk tepat disampingku (lagi). Aku terus berpindah tempat duduk, dan dia terus mengikutiku. Hal ini akhirnya mencuri perhatian semua mahasiwa dikelas. Mereka terang terangan memperhatikan kami yang seolah sedang main kejar kejaran rebutan bangku dalam versi slow motion.
.
.
"sebaiknya kau biarkan saja aku duduk disampingmu. Atau kau akan aku buat malu." Kris berujar pelan sambil menahanku begitu aku akan bersiap untuk pindah tempat lagi. Aku menoleh kearahnya dengan kernyitan bingung. "maksudmu?"
Di detik kemudian, Kris tiba tiba menggendongku ala bridal style lalu mendudukkan ku di pangkuannya.
"YAK!"
Kedua tangan kekar Kris memeluk sempurna tubuhku. Kepalanya bahkan dia tenggelamkan di ceruk leherku dan menghirup wangi parfumku disana. Para mahasiswi terkesiap melihat kami yang sangat intim speerti ini. Dan tampaknya Kris tidak perduli.
"BRENGSEK TURUNKAN AKU!" Aku meronta ronta, mencoba melepaskan rengkuhannya dari pangkuan dan back hug sialannya. Astaga! pria goblok! aku benar benar akan membunuhnya!
Tapi rengkuhan Kris semakin menguat, memegangi ku yang bisa lepas kapanpun. Tangannya bagaikan penjara kokoh yang tidak memberikan celah bagiku untuk pergi. Aku tidak pernah setidak nyaman ini ditatap oleh para mahasiswa.
"janji dulu satu hal" Kris berbisik tenang di telingaku. Masih sibuk menciumi wangi parfum dan shampooku yang menguar.
"ASTAGA, CEPAT TURUNKAN AKU SIALAN!" entah seberapa keras pun aku berusaha, tenaga ku tidak ada apa apanya untuk Kris. Dia bahkan terlihat tidak kesulitan sama sekali untuk menahanku. Berbanding terbalik dengan aku yang sudah rusuh diatas pangkuannya, Kris malah tertawa santai. Aku berani bertaruh dia sedang menyeringai bahagia sekarang.
"yasudah kalau tidak mau janji. Kita akan belajar dengan posisi seperti ini!" tangan Kris menguat. Kepalanya yang berada di leherku membuat aku bisa mendengar sebuah desahan pelan yang keluar saat aku meronta ronta. Menggesek kejantanannya yang sepertinya sudah mulai menegang.
SHIT! Menjijikkan!
Aku melirik jam yang ada dikelas. Sepuluh menit lagi dosenku akan datang. Sementara mahasiswa lain tampaknya lebih tertarik untuk memperhatikan kami, ketimbang menyelamatkanku. –heol, memangnya kau sepenting itu- batinku dengan kurang ajarnya celetuk disaat seperti ini.
"AH! BRENGSEK. IYA IYA, APA ?!" kataku kemudian. Benar benar tidak punya pilihan sama sekali.
"hari ini , kita pulang bersama. okay?"
"TIDAK MAU!"
"yasudah kalau begitu~"
Kris benar benar sudah tegang! ini bukan resletingnya yang mencuat. Ini miliknya! dan dia membuatku sedikit bergerak gerak diatasnya. Yatuhaaaan! ini tidak boleh dilanjutkan!
Pucuk kepala dosenku pun terlihat dari jendela tinggi yang ada dikelas. Dia sedang menuju kemari dan dia tidak boleh melihat kami seperti ini. Sama sekali tidak boleh! Bagaimana kalau ini menjadi perbincangan dikalangan dosen dan Sehun tahu!
"AISHHH. IYA YASUDAH. SEKARANG CEPAT TURUNKAN AKU ATAU KUKEBIRI KAU!" Kris melepas pelukannya dan aku segera bangkit lalu menyingkir secepat kilat. Bersamaan dengan Dosen Kang yang masuk ke kelas.
"jangan pernah berfikir untuk kabur, Luhan." Kris berkata pelan. Serius sekali.
.
.
.
.
.
"ini rumah mu?" Kris yang baru saja mengantarku pulang, turun dari mobilnya dan memperhatikan gedung apartemen lama ku lekat lekat. Hey, aku masih cukup pintar untuk tidak membawanya ke tempat dimana aku dan Sehun tinggal. Bagaimana jika mereka bertemu? ah… semua akan semakin rumit. Sampai tidak bisa aku narasikan.
"uhm.. iya? kenapa?"
"arahnya berlainan dengan halte bus yang kau naiki tadi pagi" Kris berkata dengan raut wajah keheranan.
"ah.. aku sedang menginap dirumah teman." aku mengelak dengan alibi yang terbersit pertama kali di otakku. Kris mengangguk angguk, meskipun wajahnya masih terlihat tidak begitu yakin dengan jawaban tadi.
"omong omong. Dosen tadi.. siapa namanya? Oh Sehun ya? dia pria yang membelimu di white mask kan?" aku diam. Tidak tahu jawaban apa yang aman untuk pertanyaan ini.
Tentu saja Kris dan Sehun saling kenal. Pertama, mereka pernah bertemu di white mask. Tepatnya di insiden saat Kris sialan itu mau memperkosaku. Lalu, Kris juga anak pindahan di kampus dan di jurusan yang sama denganku. Kemungkinan dia juga belajar di kelas Sehun sangat besar.
"aku tidak yakin kalian tinggal bersama di apartemen yang…. seperti ini." emosiku sedikit tersulut saat mendengar Kris mengakhiri kalimatnya dengan nada remeh. Pandangannya mengedar ke seluruh bangunan dengan tatapan jijik. Yah, apartemenku memang tidak semewah milik Sehun. Atau selayak mahasiswa lain. Hanya gedung flat mungil yang catnya sudah terkelupas. Tapi, tetap saja ini rumahku! rumah yang aku bayar sewanya dengan uangku!
"jadi, dia jatuh miskin setelah membeli mu?" Kris bertanya lagi. Sekarang dengan ekspresi tanpa dosa yang dia tujukan tepat ke mataku. Tanganku gatal sekali. Ingin mencolok kedua boal mata nya.
"aku tidak tinggal bersama dia." sahutku singkat.
"wah, kenapa begitu? kau pasti tidak pernah disentuh ya!" Sudut bibir Kris tertarik. Membentuk seringaian remeh. Menemukan celah agar dia bisa masuk. Menemukan alasan yang bisa dia gunakan untuk bisa meniduriku. Dasar binatang!
"bu-kan u-ru-san-mu. Pergi sana! otak udang!"
Dan tanpa menunggu respond Kris-yang sekarang sudah memanggil manggil nama ku sambil terkekeh-aku masuk kedalam gedung apartemenku. Bersembunyi dibalik dinding dekat tangga. Menunggu Kris pergi.
Sekitar lima belas menit. Kris pun masuk ke mobilnya setelah berteriak "sampai jumpa besok, baby!" lalu pergi. Rayuan murahannya membuatku mual!
.
.
.
.
"ayah. Hari ini, apakah kau tahu bahwa anak tunggalmu tercinta itu membuatku membuang nasi goreng kimchi yang sudah aku masak?" aku membuka ceritaku pada Tuan Yunho dengan sebuah complain terhadap anaknya. Aku mondar mandir dekat ranjang sambil terus terusan mengoceh bagaimana hari ini bisa sangat teramat menyebalkan.
"yah.. memang bukan sepenuhnya salah dia sih. Aku yang membuangnya sendiri." kataku pelan saat teringat bahwa aku lah yang memutuskan membuang makanannya. Sehun sendiri saja tidak tau.
Tapi wajah Sehun yang menyebalkan dengan kalimatnya yang menusuk membuat ku tergerak untuk kembali menjadikannya 'terdakwa'
"tapi! itu juga karena dia! ini semua karena dia!"
"kalau saja dia tidak mengatakan hal hal yang membuatku sakit hati. Pasti aku tidak-" kalimatku tertelan bulat bulat saat Siwon tiba tiba masuk sambil membawa buah dan minuman untukku. Aku mengangguk kikuk kearahnya. Kemudian, pria itu kembali pamit dan menghilang di depan pintu.
"kau tahu? lupakan. Anggap saja aku tidak pernah membicarakan hal tadi. Okay?" kataku lagi. Masih pada Tuan Yunho yang tidak bergeming
"aku minta maaf telah menghujanimu dengan curahan hati bodohku. Ayah seharusnya mendengar hal yang gembira." aku mendudukkan diriku dikursi biasa, menghirup nafas dalam dalam. Kembali mengatur emosiku yang sudah tersulut seharian ini.
"Baiklah. apa yang ayah ingin ketahui hari ini?"
Dan obrolan satu arahku pun berlanjut.
.
.
.
.
.
Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah supermarket dekat rumah sakit. Siwon memang menawarkan bantuan, tapi aku menolak. Sebenarnya, alasan ku keluar hanya karena ingin merokok saja. Pikiran mumet seharian ini mendesak ku untuk menghirup lintingan nikotin itu.
Aku sedang berada di halaman belakang dekat parkiran rumah sakit. Berdiri di balik dinding dengan asap yang mengepul dari mulutku. Lalu, tiba tiba, sebuah suara yang familiar terdengar.
"hai sexy." katanya. Aku menoleh dan mendapati Kris yang entah muncul darimana dengan sebuah senyum lebar. Rambut pirangnya membuatku bisa mengenali dengan mudah meskipun hari sudah malam.
"kau lagi?!" aku merasa sedikit perih saat asap rokok tertelan di kerongkongan. Afek kaget ditambah semburan yang aku lontarkan pada Kris. Dia terkekeh pelan.
"darimana kau tau aku disini?!"
Kris merogoh sakunya dan mengambil sekotak rokok dengan santai. Ia menyalakan rokok itu lalu menghisapnya sebelum dia menjawab pertanyaanku tadi.
"well, aku baru saja ingin pulang, lalu aku melihatmu kesini." kata Kris. Kepulan asap terlihat keluar bersamaan dengan mulutnya yang bergerak gerak terbuka.
"KAU MEMBUNTUTI KU?!"
"Aku hanya ingin memastikan kau sampai dengan selamat." Kris mengedikkan bahunya seolah itu hal yang biasa. Kami berdua menyender berdampingan dalam hening sekarang. Sibuk dengan rokok masing masing.
"ck! kau memang pria sinting mesum yang pernah aku temui." kataku pelan sambil melempar punting rokok ku yang sudah habis. Saat mataku tertuju kedepan, aku menemukan sosok lain yang berhasil membuat tubuhku terserang panik.
Oh Sehun. Sedang berjalan menuju pintu masuk di dekat kami.
"menyingkir!" reflek, aku mendorong Kris dan membawanya untuk pergi dari situ. Rokok yang ia pegang bahkan sampai terjatuh entah kemana. Kaki panjangnya nyaris tersandung saat aku terus mendorong Kris. Tidak lupa, mataku memastikan Sehun yang sedang berjalan tidak menyadari keberadaanku.
" . hey-astaga. kita mau kema-. Lu! yaampunnn. Pelan pelan sayang~" sial! Kris berisik sekali.
"ssstttt!"
"geez, aku tidak tahu kau se agresif ini!" akhirnya aku menoleh kearah Kris yang sudah tertawa tawa. Kami sekarang berdiri bersembunyi dibalik sebuah mobil.
"kenapa wajahmu panik seperti itu?" tanya Kris lagi. Menyadari sikap anehku tiba tiba.
"tidak apa apa."
Bohong! aku ketakutan sekali tadi! jika Sehun menemukan aku bersama Kris. Berduaan., Malam malam. Maka habislah aku. Lalu jika aku masuk mengikuti Sehun kedalam Rumah Sakit, Kris pasti akan menyusulku. Lalu dia akan berteriak 'Luhan sayang Luhan sayang'. Kemudian, Siwon akan mendengar dan semua akan runyam. Maka habislah aku (lagi)
"yasudah. Ayo ku antar kau pulang."
"tidak."
"tenang saja Lu, aku hanya ingin mengantarmu pulang kali ini." Kata Kris dengan nada tenang yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Pria itu tersenyum. Cukup tulus. Bukan seriangaian mesum yang selalu aku lihat.
"apa kita harus bernegosiasi lagi?" nah, seriangaian mesum itu kembali lagi sekarang! oh Tidak. Bernegosiasi dengan Kris adalah hal buruk. Sudah kubuktikan di ruang kelas tadi siang.
"uh yasudah. Ayo kita pulang."
.
.
.
.
"kau dimana?" suara Sehun terdengar dari seberang telfon ketika aku baru saja sampai di apartemen lamaku. Ingat, aku tidak akan membirakan Kris mengantarku ke tempat sehun.
"aku.. baru sampai di apartemen."
"kenapa kau pulang duluan?" ada nada heran dari kalimat Sehun
"ada barang yang ingin aku ambil di apartemenku." sepertinya, aku harus mulai men-stok segudang alasan yang akan aku berikan jika hal hal seperti ini terjadi lagi.
"jadi kau berada di apartemen mu yang lama?"
aku mengangguk. seolah Sehun melihat anggukanku, akhirnya dia pun berkata."baiklah. Akan aku jemput kau disana."
"tidak usah!" duh, aku takut Kris itu belum benar benar pulang dan mereka akan bertemu disini. lalu semua akan runyam. Astaga, kenapa hidupku sekarang jadi sangat menyedihkan dilihat dari sudut manapun! Sudah berapa banyak kata runyam yang aku pakai untuk menggambarkan situasi sekarang?
ck!
"kenapa?" Sehun bertanya dengan nada bingung-dan sepertinya juga curiga.
"a-aku berangkat sendiri saja."
Sehun menghela nafasnya disana."sudah malam. Berbahaya jika kau keluar sendiri."
"baiklah"suara Sehun yang tenang berhasil menghipnotisku untuk menurut.
.
.
.
.
"seharusnya jika memang ada hal penting yang mendesakmu pulang lebih dulu, kau bisa mengabari ku untuk datang lebih cepat. Aku bisa mengantarkanmu." Sehun menegurku saat kami sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Dia masih sibuk menyetir dengan pandangan lurus kedepan.
"aku.. tidak ingin merepotkanmu."
"Turuti saja kata kata ku Luhan." suara otoriter tak terbantahkan kembali terdengar. Menelan nada tenang yang baru saja ia pakai saat mengucap kalimat sebelumnya. Sedikit membuatku kesal sebenarnya.
"ne~" aku menyahut dengan senandung malas.
.
.
Mobil kami berhenti disebuah restoran yang berada di arah jalan pulang. Sehun sudah melepas seat bealt nya saat aku menatap kebingungan.
"kenapa kita disini?"
"kau pasti belum makan kan?"
aku mengangguk.
"ayo." dan pria itu turun dari mobil. Saat kami bersiap untuk masuk, ada beberapa pelanggan lain yang sedang berdatangan. Nyaris menyenggol tubuhku. Tiba tiba, tangan Sehun merain pinggangku dan menarikku lebih dekat kearahnya.
Aku tersenyum dengan wajah menghangat.
.
.
ooo
.
.
Tampaknya, hari ini kegilaan Kris berada di takaran paling maksimal. Saat itu, hari sudah sore dan aku tidak memiliki kelas appaun. Aku sudah melangkah dengan terburu. Pandanganku awas ke segala arah. Takut takut si manusia keparat dengan rambut jagung itu muncul dan mengganggu.
Hampir saja aku mencapai pintu keluar, tiba tiba lengangku ditarik seeorang dari belakang. Membuat tubuhku berbalik secara otomatis.
"mau kemana sayang?" Kris berkata dengan ekspresi yang.. duh, aku tidak harus terus menjelaskan pada kalian kan? pokoknya, dia selalu menyeringai. Atau tersenyum. Atau smirk dengan tatapan lapar mesum yang menjijikkan!
"aku mau pulang!" kau melepaskan cengkramannya lalu bersiap untuk pergi sampai tiba tiba, si Kris gila kuadrat itu menggendongku. elampirkan tubuhku diatas satu pundaknya. seperti karung beras yang baru diangkat.
"kau emmang anak nakal!"
plak!
sebuah tamparan pelan dengan kruang ajarnya dia daratkan ke pantatku. Aku baru saja ingin melepaksan diri sampai –lagi lagi-sebuah suara lain yang aku kenal terdengar.
"Kris Wu, kau dipanggil dosen Kim keruangannya." Sehun, tampaknya sedang berada di depan Kris. hey, aku tidak tahu! yang aku lihat hanya punggung pria sinting itu saat ini!
"ah. Begitukah?" Kris menyahut singkat. –masih dengan tubuh ku yang ada di pundaknya-
"ya. Dan sebaiknya kau cepat karena beliau memiliki jadwal yang cukup padat."
"ok." Kris kemudian menurunkan tubuhku. Wajahku sudah merah seperti tomat. Entah karena darahku yang berpindah ke kepala atau karena emosi. Sepertinya dua duanya.
"until next time, sayang~" Kris, yang tampaknya sedang mengibarkan bendera perang. Secara gamblang melemparkan kedipan kearah ku didepan Sehun. Lalu, dia pun pergi.
Aku yang sedang sibuk menahan emosi sempat terlupa atas keberadaan Sehun di depanku. Cepat cepat aku mendongak dan menatap pria itu yang tengah berdiri tepat di hadapanku.
"kita perlu bicara." Sehun berujar dengan aura menyeramkan.
.
.
.
.
"hun. a-"
"diam!"
"jangan. Berbicara. Sedikitpun." lanjut Sehun lagi. Kami sekarang sudah berada di mobil untuk bersiap pulang. Aku ingin sekali menjawab dengan sebuah protes seperti 'tadi kau ingin bicara' atau 'katamu kita perlu bicara?!' tapi aku urungkan saat menyadari Sehun yang tengah menyetir dengan kecepatan gila gilaan seperti sekarang ini, bukanlah Sehun yang 'aman'.
Aku tidak pernah merasa, seketakutan ini Sebelumnya.
.
.
.
"ku lupa apa aturan dariku untukmu Luhan?!" Sehun menghardikku. Tepat saat pintu apartemen baru saja tertutup. Aku yang baru masuk sampai terlonjak kaget. Jantungku berdegub kencang dan bisa kurasakan mataku terbelalak.
"lalu kau melanggarnya? terang terangan?!" Sehun melangkah kearahku dengan buas. Matanya berkilat penuh amarah. Dia tidak berteriak teriak. Tapi nadanya yang tajam justru lebih menyeramkan. Tiba tiba, otakku serasa macet untuk sekedar menjawab.
"aku tidak mengizinkanmu dekat dengan lelaki lain!" kata Sehun,dia menarik tas sling bag yang kupakai lau melemparnya ke sofa. Sekarang 'macet' itu menjalar sampai tubuhku. Aku bahkan tidak bisa untuk merespon segala amukan Sehun ini.
"lalu apa yang ku dapat tadi!? hah?!" jarak wajah Sehun dengan wajahku sangat dekat. Aku bahkan bisa meraskan nafasnya yang menyapu dikulit wajahku. Matanya menembus paru paruku yang sekarang terasa sesak.
Aku kelabakan.
"Sehun. aku bisa jelaskan. a-"
"aku tidak butuh penjelasanmu." Sehun mendesis. Mencengkram lenganku lalu menyeretku ke sebuah lemari kaca yang aku kenal. Pintu mausk ke burgundy room. Sehun menekan tombol tersembunyi hingga lemari itu bergeser.
Ia menarikku masuk kedalam sana dan menutup kembali pintunya.
Dalam dua detik, ia melepaskan cengkramanku dengan kasar. Tangan putihnya beralih ke ikat pinggang yang ia kenakan.
"dengar Luhan, aku bukan pria yang suka memberi kesempatan kedua" kata Sehun sambil membuka ikatan itu. Bunyi dentingan terdengar saat mata besinya jatuh keatas lantai. Sehun malepas dasi yang ia kenakan" sekarang, Kau harus mendapat hukumannya!"
Jika kau tanya bagaimana perasaanku sekarang. Aku akan menjawab: Panik.
.
.
.
BGM : EXO - MONSTER
Sehun melangkah kearahku, dia melepas segala pakaian yang melekat di tubuhku dengan paksa. "diam." titahnya saat melihat mulutku yang sudah terbuka.
She got me going crazy, woo
Sehun mendorongku hingga terjatuh diatas kasur. Memudahkannya untuk menanggalkan calana yang aku pakai
Why is my heart racing? Woo
Sekarang dia meraih kedua lenganku. Mengikat dengan dasi yang tadi ia lepas. Cukup kencang hingga aku sedikit sakit.
You're beautiful, my goddess
But you're closed up, yeah yeah
Sehun melepas kemeja yang ia pakai. Melemparkannya kesegala arah. Amarahnya masih terasa dari nafas nya yang memburu. Sekarang, pria itu sudah naked sepenuh nya di depanku. Menampilkan otot perut dan kejantanannya yang mengacung tepat kearahku.
I'll knock so will you let me in?
I'll give you a hidden thrill
Sehun menundukkan dirinya di atasku. Bibirnya memagut panas milikku, mengabsen tiap gigiku yang bertabrakan dengan giginya. Bibirku berdarah saat dengan sengaja Sehun mengigit penuh nafsu. Tangannya menjamah panas payudaraku, menyingkirkan tanganku yang mengganggu. Aku menikmati setiap sentuhannya meskipun dia melakukan itu dengan kasar
There's curiosity in your eyes,
you've already fallen for me
Sehun mengangkat tubuhku, menggendongku seperti anak kecil, lalu membenturkan diriku di dinding ruangan yang dingin. Dia menempelkan tubuhnya, melingkarkan kakiku ke pinggangnya. Menjaga agar aku tidak jatuh dengan cara paling intim.
Don't be afraid, love is the way
Shawty, I got it
Aku panik saat merasakan foreplay ini belum cukup 'basah' untukku. Aku belum 'siap'. Sementara Sehun sudah menggerakkan miliknya, mengarah kedalam lubangku. Ah tidak.
You can call me monster
Sehun yang melihat kepanikan dalam raut wajahku hanya bisa tersenyum remeh. Smirk paling menyebalkan yang pernah aku lihat.
I'm creepin' in your heart, babe
I'll flip you over, break you down and swallow you up
Sehun memasukan miliknya. Menyatukan diri kami yang belum siap. Aku mendesah penuh sakit. Ini tidak benar! tapi ini juga tidak Salah.
I'll steal you and indulge in you
I'm gonna mess you up
Sehun menarik tubuhku lagi lalu menjatuhkannya diatas meja. aku meringis kesakitan. Dia memutar tubuhku sampai aku memunggunginya. Oh Tuhan, Doggy style saat se-kering ini benar benar membuat perutku seolah tertusuk!
I'm engraved in your heart
So even if I die, I'll live forever
Plak! Sehun menampar bokongku sambil terus menghentak. Bunyi meja bergesek dengan lantai menimbulkan suara derit yang memekik. Sehun mengerang saat aku melenguh perih. Dia semakin gila menancapkan miliknya pada tubuhku.
Come here girl, you call me monster
(You call me monster)
Cukup sudah. Sisi Jalang ku terpancing. Ada sebuah hal dalam diriku yang membuatku ingin membalas perbuatan Sehun. Ada sosok liar dalam diriku yang ingin mendobrak keluar
I'll go into your heart
Saat Sehun membalik tubuhku, aku menjatuhkan diri. Diatasnya hingga kami tergeletak dilantai.
She got me going crazy, woo
(Oh yeah, she got me)
Aku duduk di membuat Sehun sambil melepas ikatan dasi sehun dengan gigiku. Melonggarkannya hingga cukup mudah untuk melepasnya. Sehun menatapku dengan seksama. Yang aku hanya balas dengan tatapan menggoda yang angkuh
Why is my heart racing? Woo
(Oh yeah, oh yeah, she got me)
Sehun terduduk, membuat ujung hidung kami bersentuhan saking dekatnya. Dia mencengkram pinggangku, memeluknya erat sementara aku mengalungkan kedua tanganku dan membalas ciumannya.
I'm a bit impatient
Sehun bergerak tidak sabar. Miliknya hanya menggesek lubangku sekarang dan dia sudah tegang luar biasa.
I'm not that gentle (I hated you)
Cengkramannya beralih ke bokongku saat aku mengigit cuping telingannya
But I want you
"I want you Luhan" Sehun berbisik dengan suara berat.
That's right, my type
My heart doesn't lie
Aku tersenyum bangga saat melihat Sehun merasa nafsunya di ubun ubun. Aku menciumi dadanya yang bidang, terus menggesek bokongku diatas miliknya yang menegang
It has started, I'm sending
a danger signal from inside
aku menubruk nubrukkan diriku pada badannya. Mencoba menekan payudaraku yang menegang. Menyentuh dada bidangnya yang mengalirkan getaran panas. Tangan Sehun mengusap punggungku dengan usapan sarat akan nafsu
Don't be afraid, love is the way
Shawty, I got it
Aku benar-benar menyukai saat aku mulai mendominasi Sehun, aku bangkit dari dudukku, dan mulai membrikan blow job pada batang Sehun yang sudah menegang.
You can call me monster
Aku sempat menahan tubuhnya saat Sehun ingin bangun dan melancarkan aksinya padaku. no honey, this is my show time!
I'm creepin' in your heart, babe
I'll flip you over, break you down and swallow you up
Aku menghisap miliknya, memasukannya dalam sekali hisap ke kerongkonganku. Memberikan gigitan kecil pada selangkangannya. Sementara Sehun mendesah frustasi karena tangannya tidak aku biarkan menjamah tubuhku
I'll steal you and indulge in you
I'm gonna mess you up
"Lu. Stop teasing me or I'll knock you down for sure" Sehun mengancamku dengan suara berat yang entah kenapa terdengar semakin menantang ditelingaku.
I'm engraved in your heart
So even if I die, I'll live forever
Aku mendongak. Menatap lurus lurus kearahnya dari balik selangkangan. "really?" sebelah alisku naik. Memberikan tatapan mencemooh yang sangat menyebalkan.
Come here girl, you call me monster
"enough." Sehun berkata tegas lalu duduk dengan tatapan tajam kearahku.
I'll go into your heart
"game on." katanya lagi, lalu dengan mudahnya, dia sudah menarikku berdiri.
I feel a tremble
I'm flipping over your life
Ada perasaan berdesir yang menakutkan saat Sehun menutup mataku dengan dasinya. dasi hitam yang membuatku tidak bisa melihat apapun juga meskipun dari siluet.
I'm sorry, you make me so crazy
You know you do
Aku masih menerka nerka apa yang akan Sehun lakukan. Ada sbeuah keheningan yang ganjil. Tidak ada bunyi gerakan apa pun. Tidak ada sentuhan apapun. hanya sapuan lembut AC yang mengelus diriku yang sedang berdiri waspada. lalu tiba tiba…
Everyone's afraid of me, so I'm untouchable man
But in the end, you can't reject me
Bruk! aku meraskaan tubuhku membentur sebuah lemari yang menimbulkan bunyi gemerincing. bibir Sehun menjalar panas di leherku, tangannya yang dingin masuk kedalam lubangku. aku memekik! ia membasahi jarinya dengan es batu! darimana ia mendapatkan es batu sialan itu?!
You'll hide and steal glances at me
then get surprised (Who?)
ah! ini terlalu dalam! terlalu besar! terlalu perih karena jari Sehun cukup runcing di ujungnya. belum lagi sensasi dingin aneh yang menggoda g-spotku. Aku melenguh
I'm your antinomy,
I'm a part of your existence (How we do?)
bulu kuddukku berdiri, Sehun sudah memberrkan kissmark disegala bagian tubuhku, dimanapun! tangangku yang tadinya sibuk mengenggam rambutnya sekarang terlepas saat perlahan kepala Sehun semakin menunduk.
Accept me for who I am
Put away your fearful worries
Jari Sehun di dalam lubangku terlepas. Sehun menggendongku dan melemparkanku keatas kasur. Tubuhku sempat memantul beberapa inci. Membuat sensasi kaget saat tiba tiba saja aku terhempas. Rasa merindingku belum hilang
Enjoy the pain that you're able to endure
Fall deeper inside
kedua tanganku tertarik keatas, aku bisa merasakan lingkaran besi dan mendengar bunyi ceklikan yang aku kenal. ini pasti borgol. Sehun memborgolku (lagi?!)
I'll play with you however I want
Play inside my hands
Nafasku menderu saat tangan Sehun menyentuh rahangku turun terus semakin kebawah dengan sebuah kalimat berat yang menakutkan "This is Your punishment."
Don't run away, you'll forever linger near
Nafasku memburu. Dadaku semakin naik turun. Mata yang tertutup tidak membantu sama sekali.
You can call me monster
plak!
I'm creepin' in your heart babe
I'll flip you over, break you down and swallow you up
sebuah cambukan menampar badanku. Tidak sesakit dulu, tapi karena mataku yang tertutup sensasinya lebih menakutkan. Sehun memasukan miliknya dalam sekali hentak sampai tubuhku melengkung keatas dan bergerak gerak diatas kasur.
I'll steal you and indulge in you
Tanganku yang terikat menahanku untuk melakukan apapun. Aku dipaksa pasif. Dipaksa untuk meneirma hujanan sentuhan Sehun padaku.
I'm gonna mess you up
I'm engraved in your heart
cambukan itu kembali menampar tubuhku. Kemudian, aku merasa sesuatu menyumpal mulutku penuh sekali. Entah apa yang Sehun masukan kedalam sana. Aku benar benar tidak bisa berfikir saat hentakan penisnya semakin dalam.
So even if I die, I'll live forever
suara ranjang berderit, geraman Sehun, bunyi gesekan rantai borgol, tamparan cambukan serta desahanku yang tertahan menghiasi ruangan itu.
Come here girl,
you call me monster
Aku merasakan kepalaku pusing. Pusing karena nikmat. Pusing Karena tusukan ini, pusing karena tubuhku seolah membara. ada Sebuah sensai menggelitik saat sesuatu dalam diriku terpancing untuk keluar
I'll go into your heart
dan saat itu juga, aku menyiram penis milik Sehun di dalam tubuhku dengan cairan orgasme. meraskaan kulit kejantanan pria itu yang basah dengan milikku.
Creepin', creepin', creepin'
Creepin', creepin', creepin'
Yeah~ Oh, creepin'
Setelah itu, aku tidak begitu ingat. Yang aku tau, Sehun terus menghentakkan tubuhnya dengan kecepatan gila, bahkan saat aku sudah jatuh lemas. tidak sadar.
Esok paginya, aku terbangun diranjang kamar kami bersama Sehun. Dan baru mengingat bahwa aku tidak meminum obatku sebelum melakukan kegiatan kemarin.
Tapi, Sehun tidak mungkin keluar di dalam.
Iya kan?
.
.
ooo
.
.
Sarapan pagi ini bersama Sehun, lebih hening daripada yang sebelum sebelumnya. Tidak ada suara dentingan dari piring pria itu. Dan aku juga tidak berniat untuk makan. Alhasil, aku hanya memain mainkan risotto lembek di mangkukku. Aku mendongak dan mendapati Sehun sedang memperhatikan ku dengan tatapan tidak terbaca
duh! dia mau apa lagi sih!
"kenapa kau menatapku seperti itu? ka belum puas menghukumku?" pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
"jika kau bertanya aku puas atau tidak, jawabannya tentu saja tidak. Tidak akan pernah puas padamu Luhan." ada rasa berdesir saat mendengar kata ''puas' yang diucapkan Sehun. Dan aku cukup pintar untuk mengetahui hal itu berhubungan dengan sex kami. Salahkah aku bangga pada kenyataan Sehun menyukai sex bersamaku? Sepertinya tidak apa apa
"tapi yang aku maksudkan adalah, kenapa kau bisa bersikap tidak bersalah seperti itu. Lihat caramu memandangku! seperti menantang! kau ini perempuan atau bukan? Keras kepala sekali!" lanjut Sehun dengan kritikan pedasnya yang fantatis.
"keras kepala?" aku membeo. Tatapan ku memicing tidak terima.
"kau yang keras kepala!"
Sehun seidki ttersentak saat aku menyembur kearahnya. Hal ini jarang-sangat jarang- terjadi.
"seharusnya kau dengar dulu penjelasanku!"kataku kesal. Hal ini ku jaidkan sebagai ajang untuk melampiaskan rasa protesku padanya. Apa apaan dia! tiba tiba menghukumuku seolah aku lah yang melakukan kesalahan besar. Seolah aku yang genit dengan lelaki lain. Dia seharusnya mendengarkanku dulu sebelum menghukum!
yeah, meskipun hukumannya enak.
"Kris tiba tiba muncul lalu aku bisa apa? aku baru akan melepaskan diri lalu kau datang. Kalau kau memang tidak suka, enyahkan saja dia!"
"kau memintaku membunuhnya?" ada nada dingin yang terlampau serius dari nada Sehun. Tiba tiba, aku jadi kelabakan sendiri.
Bodoh sekali aku baru ingat Sehun adalah anggota-ah ralat, anak dari ketua- mafia. Yang artinya membunuh Kris hanya akan berarti membunuh seekor lalat. Hal ini terlalu berlebihan bagiku. Sebenci bencinya aku pada Kris, rasanya aku masih belum cukup memilik nyali untuk benar benar mengenyahkannya dalam arti harfiah.
"ti-tidak." kataku datar lalu memutuskan untuk menyuap risotto banyak banyak ke mulutku. sebaiknya mulutku tetap penuh daripada terus berceletuk hal hal yang membahayakan.
Di depanku, Sehun tampak sedang terdiam dengan raut wajah yang ganjil.
.
.
ooo
.
.
"seungil chukkae hamnidaaaa. Seungil chukkae hamnidaaa~" ketiga temanku Baekhyun-Kyungsoo-Zitao sedang bernyanyi nyanyi dengan suara sumbang mereka. Lengkap dengan seonggok kue tart dengan lilin diatasnya.
"yeaayyy. Tiup lilinnya Luhaaaan" kata Zitao riang. Aku menurut. Memanjatkan doa –yang aku tidak akan beri tahu kalian apa itu, hahahhaa-lalu meniupnya hingga padam. Ketiganya bertepuk tangan gembira. Kekanakkan sekali
Tapi aku suka.
"ini hadiah dari kami semuaaaa" Baekhyun memberikan sekotak besar hadiah dengan pita putih diatasnya.
"terima kasih semuanya." kataku tulus. Jujur saja, semenjak tujuh hari insiden di burgundy room dengan Sehun, aku benar benar pergi kekampus dengan perasaan waspada lebih tinggi dari sebelumnya. Aku benar benar takut kecolongan Kris dan berakhir menjadi masalah yang lebih besar dengan Sehun.
Tapi, semua cukup terobati dengan kejutan kecil dari sahabatku disbeuah cafe. Meskipun, aku cukup sedih, Ibu belum mengucapkan ulang tahun untukku hari ini.
"ayo cepat buka." Kyungsoo mendesak dengan senyum nya yang berbentuk hati.
Aku tersenyum simpul lalu membuka kotak itu. Dan! astaga! sebuah lingerie Victoria Secret limited edition! berbahan sutra terbaik dengan hiasan swarovsky di disana sini. Keren!
"goddamn it! ini kan mahal sekali! hanya ada sepuluh di dunia!" aku memekik tidak percaya. smenetara Tao, Bekhyun dan Kyungsoo malah menyeringai bangga
"kita beruntung! lelaki yang membeli Kyungsoo memiliki koneksi dengan perancangnya." jelas Tao
"pakai ini, untuk menggoda Sehun!"
"iya. Pasti dia akan bertekuk lutut padamu."
"ah.. bayangkan saat berlian itu membalut boobsmu~"
Baekhyun, Tao dan Kyunsgoo bersahut sahutan. Ah, aku jadi ingat belum menceritakan soal sex life ku pada mereka.
"ehm. omong omong soal itu…."
"aku dan Sehun.. sudah melakukan hal itu."
"apa?! benarkah?"
"terus terus?"
"lalu.. bagaimana? sex nya hebat tidak?"
mereka bersahut sahutan lagi. Mirip seperti Alvin and the Chipmunk.
"oh God! yang terbaik!" aku berkata heboh. Aku tidak bohong kok!. Haruskah aku menjelaskan benar benar detail pada kalian? oh kawan, aku jamin kalian pasti akan iri. Dan mulai berfantasi liar. hahaha
"ommayaaa. Aku jadi ingin mencoba nya!" kata Bekhyun dengan kerlingan nakal. Dasar murahan! hahaha "ingat pacarmu dirumah!"
"lalu?" Tanya Tao, meminta cerita yang lebih spesifik.
"lalu.. yeah.. aku sampai squirting asal kalian tahu. Endurance nya diatas rata rata! Benar benar gila"
"akhirnya ada yang bisa menaklukanmu Lu. Selama yang kau tahu, kau termasuk jalang yang lebih menyukai tipe bercinta femdom." timpal Tao lagi. Ah, aku setuju dengan pernyataannya.
"uhm.. aku juga bernah melakukan femdom dengan Sehun." bayangan Sex kami di burgundy room terakhir kembali terproyeksi di benakku.
"tapi tidak bertahan lama. Dia sudah kembali menguasaiku." lanjutku lagi. Kemudian menyuruput minumanku. Entah kenapa, membicarakan sex dengan Sehun membuat aku sedikit gerah
Saat Kyungsoo, Baekhyun dan Zitao sedang sibuk berdecak kagum dan berkasak kusuk. Sebuah notifkasi pesan masuk dari Sehun terpampang di ponselku
Pulang lah sekarang Lu. Ada sesuatu hal yang penting.
Dan pesan itu sukses membuatku menyudahi acara kumpul dengan teman temanku.
Ah… ada apalagi ini.
.
.
.
.
.
.
.
"kau mau kemana?" kalimat itu terlontar dari mulutku saat aku mendapati Sehun sedang berdiri diruang TV dengan pakaian rapih. Tangannya sibuk mengenakan jam tangan Hubolt-nya yang mahal. Aku semakin heran begitu melihat pasporku berada diatas meja.
"tepatnya, kita yang akan kemana." kata Sehun mengoreksi. Aku semakin tidak mengerti.
"ayo. Kita sudah ditunggu." Sehun meraih paspor ku, dan menghampiri ku yang masih membatu ditempat. Dia memberikan pasporku lalu berjalan kearah pintu. Dengan gerakan cepat aku meraih tangannya. Menghentikan langkah Sehun. pria itu berbalik dan menatapku bingung.
"ta-tapi, aku belum bersiap. Apakah kita pergi jauh? aku belum packing Sehun." Kataku, yang lucunya agak panik sekarang. Kenapa juga harus panik?
Sehun tertawa pelan, membuat sebuah senyum tercipta diwajahnya saat tawa itu reda. "kita bisa membelikan keperluanmu disana." Kata Sehun.
"ayo."
Sebuah uluran tangannya diberikan kepadaku. Bersamaan Senyum kecil saat aku menyambutnya meskipun masih keheranan. Sehun yang bersikap lembut, selalu berhasil menghipnotisku.
.
.
.
.
.
.
"China?!" Aku memekik tidak percaya saat private jet kami mendarat di Bandara Beijing. Aku tiba tiba merasa sangat antusias. Bergerak gerak seperti anak kecil di atas kursi. Menatap dengan binar mata cerah ke pemandangan luar jendela. Ahhh aku rinduuu sekali pada Beijing.
"Kenapa kau membawaku ke China?" Sehun yang sedang duduk didepanku tidak menjawab apapun. dia hanya mengangkat bahunya dengan senyum miring. Menggodaku agar semakin penasaran.
"Sehun jawab aku!" ini sudah pertanyaan ke sekian kalinya. Kami baru saja keluar dari imigrasi dan Sehun benar benar tidak membuka suaranya sejak kami turun dari Private Jet. Pria itu hanya menyahut dengan dengusan, Senyum kecil, atau kalau aku sudah menarik narik lengannya karena kesal diacuhkan, dia hanya akan mengedikkan bahu.
Baru saja ingin memaki Sehun, tiba tiba tangan Sehun meraih tanganku. Membuat langkahku terhenti. Sehun menoleh dan meraih kedua pundakku dengan kedua tangannya. Lalu, dengan senyum kecil, dia memutar tubuhku mengarah ke suatu titik.
"Selamat ulang Tahun Luhan. Ini hadiahku untukmu." Kata Sehun yang masih berdiri di belakangku. Aku masih tidak mengerti apa maksud Sehun sampai tiba tiba aku mengenali sosok perempuan tengah melambai ramah ke arah kami.
"I-Ibu?"
Di detik kemudian, mataku sudah berkaca kaca.
.
.
.
Author P.O.V
Yang terdengar di ruangan mewah itu hanya musik berdentum dentum dari speaker mahal yang dipasang secara khusus. Mini bar yang terletak di sudut ruangan, dari tadi sudah sibuk menyiapkan minuman minuman untuk sang Tuan Muda.
Kris, tengah menikmati waktu santainya di apartemen. Akhir akhir ini, Pria itu tak tertarik lagi untuk pergi ke bar, meniduri pelacur pelacur kelas atas, one night stand dengan teman teman wanitanya seperti biasa. Dia seolah sudah mengunci targetnya akan seorang perempuan. Perempuan yang berhasil membuat Kris enggan melakukan kebiasaannya pada orang lain, terkecuali dirinya.
Entah Rasa penasaran atau sebuah Ambisi, Sex appeal Kris pada yeoja lain hilang dan hanya tertuju pada Luhan sekarang. pria itu hanya ingin Luhan. Jikapun Rihanna, Shakira atau Adriana Lima bersujud memohon untuk ditiduri olehnya, tetaplah Kris akan memilih Luhan. Entah apa yang sudah gadis itu lakukan padanya. Kris juga tidak tahu.
Seorang pria suruhan Kris masuk sambil membungkuk sopan, membuat Kris yang sedang berleyeh leyeh di sofa kemudian mendudukkan dirinya dengan antusias. Tidak sabar akan berita yang dibawa oleh pesuruhnya.
"Tuan Muda Kris. Ini semua berkas yang anda inginkan." kata pria itu sambil membeirkan sebuah map pada Kris yang disambut oleh senyum bahagia yang lebar sekali. Dia menaruh gelas wine nya lalu membuka map itu dengan terburu.
"ah! kau memang hebat!" Kata Kris gembira. Dia membuka map itu dan membacanya sambil mengangguk angguk. Merasa cukup puas.
"terus pantau mereka, oke? Aku butuh penawaran menarik untuk negosiasi ku berikutnya" titah Kris pada orang suruhannya. Pria itu mengangguk patuh, lalu segera pergi begitu Kris mengibaskan tangannya.
Kris tersenyum miring sambil menaruh map itu dengan asal diatas meja. Map yang berisi data lengkap Luhan dan keluarga. Termasuk sang Ibu.
Kris meraih gelas wine nya lagi lalu menenggak cairan itu dengan senyum penuh arti, saat sebuah rencana brilian terbersit di benaknya.
.
.
.
.
.
TBC
A/N
apa ini? aku update pagi pagi? huuu maaf mian mian. Kalo nanti malem takutnya engga bisa. Hahaha
hm, katanya mau hiatus ja? aduh, maaf kan author yang labil ini. Aku merasa ga adil aja untuk readers ku yang setia. Yang selalu nunggu sampe PM aku untuk lanjutin. Yang Review panjang panjang di setiap chap. So, aku memutuskan untuk lanjut demi kalian guys :")
Dan juga untuk temen temen Public Chat 'yehet' di EXO L INA AMINO ku: JungHyunJin94 oknum yang pertama kali nemuin ff ku. Karena kamu anak anak lain tertular :") Terus Amal dan Jimin Ica 18+ yang terinfeksi ff ini. Yesi yang bela belain bikin acc FFN di app karena browsernya nge bann. hahahah ini kocak sih yes. Sabar ya bosqu. :*
kak Yeol61_ine, yang selalu 'bedah cerita' Sexy Lu di Public Chat. Endorse ke setiap member yang baru nongol lalu berakhir dengan membayangkan hal hal 'yang iya iya'. wkwkwk selalu semangat empat lima buat nagih lanjutannya.
Lalu. Dim, uri maknae yang gara gara Sexy Lu jadi menetas sebelum waktunya. yang ngabayangin 'diacak acak' sama Sehun. huuu aku jadi ada beban moral disini. apalagi pas kamu nanya "kak, BDSM itu apa ya?" tolong hamba yalord. Semoga kamu hanya membaca ini dan tidak mempraktekkan nya sama sekali ya :")
Also, ParkJein dan Soo. Leader dan curator kami yang selalu sabar nanganin anak ajaib kayak kita kita kwkwkw
Thanks juga untuk reader ffn lain yang aku gabisa sebutin satu satu (ini aja udah panjang) mungkin pas ceritanya abis aku baru bikin special thanks(?) *plak. sok ngartis lu moj* makasih untuk segala reviewnya dan semoga tetep setia baca cerita Luhan yang ternistakan olehku disini wkwk.
aku tau pasti ada reader dibawah umur yang kecolongan ngebaca ini, yah… aku juga ga bisa tau. yang penting, kalian ga 'macem macem' aja ya. *beban moral semakin meningkat*
satu lagi, tips dari kak ine: "bacanya sambil denger lagu religi biar kembali suci :D " wkwkwk
(Sex Scene kurang eksplisit? sabar kawan, semua ada tanggal 'main' nya *wink* )
well, see u di next chapter! Thanks for reading. aku tunggu tanggapannya!
gomawo! :*
-Moza
