Simpang Kesepuluh: Interlude

~Tarrasque: The Serenity Game~

Main Character: VY2 Yuuma, Hatsune Miku
Main Pair: YuumaMiku

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

(Cover pic is not mine)

Summary :

"Ketika aku menodongkan senjata di tangan ku, dia bertanya 'Apakah membunuh itu membuat mu tenang?!' Lalu aku sadar, aku telah membunuh dan terbunuh berkali-kali. 'Apapun yang kau lakukan, jangan pernah menarik senjatamu lagi!' Tapi aku menggunakannya lagi demi dendam yang sebenarnya tidak ada, schródinger."

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'PUEBI' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing (termasuk dari eksistensi asing), atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX


Di sebuah malam yang tenang, seorang gadis meneteskan air matanya…

Di dalam hidupnya yang gemilang, dia lupa, ada sesuatu yang harus dia jaga. Sang gadis yang selama ini hidup dengan apa yang dia bisa, sekarang telah goyah semangatnya. Dia tidak mengatakan apapun, dia tidak memikirkan apapun, hanya duduk di atas sebuah bangku kayu dengan memegang sebuah gelas yang penuh berisi air.

Dia menjalani hidupnya dengan senyuman, dia menjalani hidupnya dengan tangisan. Dia tersenyum saat menindas, dan tersenyum saat ditindas. Pernah, pernah sekali dia menjalani apa yang disebut dengan 'kehidupan'.

Setelah semuanya mengalir begitu saja, dia sendiri tidak ingat apa yang sebenarnya sudah terjadi. Ini seperti ingatannya telah diambil darinya, tapi dia tahu, dia bisa merasakannya… Ada sesuatu yang hilang darinya, bukan temannya, bukan keluarganya, bukan pekerjaannya, bukan juga kehidupannya…

— Dia kehilangan kewarasannya.

Tanpa dia sendiri sempat sadari, sesuatu telah hilang dari genggamannya.

— Bukan sesuatu yang bisa dia pegang, bukan benda dan juga bukan orang, tapi hal itu sangat berharga untuknya. Hal yang menjaga dirinya, hal yang menjadi motivasinya— Hal yang merupakan alasan kenapa dia bisa terus berlari di atas batu yang tajam dan juga bara api yang panas bernama kehidupan—

Hal yang menjadi tujuannya walau dia harus meludahi orang lain dan diludahi orang lain selama dia bernafas.

Tapi— Dia sudah lupa tentang apa hal tersebut. Tentang bagaimana hal tersebut bisa membawa hidupnya hingga sekarang.

"Selamat tinggal…"

Air matanya menggumpal dan terjatuh, dia menangis tanpa isakan.

Itulah saat-saat terakhir dimana Shirashi Gumi, seorang atlet yang sedang dipuncak karirnya, meninggalkan tubuhnya tanpa nyawa di dalam ruangan apartemennya…

.

.

.

Shiraishi Gumi adalah gadis yang ceria, semangatnya yang membara dan tanpa batas itu membuat semua orang di sekitarnya terbawa oleh semangatnya.

Cita-citanya waktu kecil adalah menjadi sama seperti ayahnya—

Dia ingin menapakkan kakinya sebagai atlet perwakilan dari Jepang dalam Olimpiade Musim Dingin, sama seperti ayahnya. Sama seperti sosok yang sangat dia kagumi sebagai pahlawannya.

Semua senyum dan tawanya adalah penyemangat baginya, apa yang dia lakukan hanyalah kerja keras, tidak ada bakat ataupun kemampuan yang dia bawa sebelum menjadi seorang atlet nasional papan atas.

— Yap, dia murni melakukan semuanya dengan kerja keras.

Semua bermula saat dia berhasil mewakili sekolahnya sebagai atlet cabang lari jarak pendek saat SMP di kejuaraan perfektur, sebagai seorang siswi yang tidak memiliki bakat, dia hanya punya kemauan yang keras dan usaha yang mendampinginya.

Tapi kemenangan pertamanya yang gemilang adalah jurang awal menuju gelapnya sisi kehidupan yang lain.

Sama seperti yang orang katakan, "Semakin besar kemampuan mu, semakin besar pula tanggung jawab yang kau bawa", sebuah paradoks antara apakah kemampuan yang membawa tanggung jawab atau tanggung jawab yang membawa kemampuan.

Itulah yang dirasakan Gumi kecil saat itu.

Teman-temannya menjauhinya, dia hanya bisa berbicara dengan orang dewasa, kenapa?

Itu karena 'Sombong' adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Pada awalnya Gumi mulai dikelilingi oleh teman-teman baru, dia menjadi populer dan terkenal setelah itu. Teman-temannya menyukainya dan orang dewasa menghormatinya, dia menjadi idola dalam sekejap karena membawa nama sekolahnya menjadi terkenal ke kancah nasional.

Tapi semuanya tidak berjalan mulus, sebaik apapun kau mencoba menyembunyikannya, tetap tidak akan bisa menyembunyikan semuanya. Apa yang sebenarnya sedang kita bicarakan? Rasa sombong, tamak, dan besar kepala.

Tinggi hati, dan congkak.

Salah satu dari Tujuh Dosa Besar dan merupakan dosa yang paling berbahaya.

Itu benar, Gumi berakhir menjadi orang yang sombong.

Semua temannya pergi, dia bahkan pernah menjadi korban bully.

Tapi apa kau tahu? Dimana rasa sombong bersarang, disitulah letak dosa lain berkembang. Gumi tidak merasakan ada apapun yang salah dari sikapnya.

Disinilah, permainan 'korban' dimulai. Semua pihak akhirnya bermain menjadi korban dan tidak ada yang mau mengalah, tanpa disadari, diri Gumi yang sebelumnya hanya seorang gadis lugu yang ingin menjadi kuat kini menjadi seorang gadis egois yang selalu menganggap dirinya benar.

Semua itu berjalan hingga dia kuliah, 3 tahun masa SMA nya terbuang sia-sia dalam kegiatan sekolah yang membosankan dan kegiatan klub yang penuh kebohongan. Walau dia tetap menjadi Gumi yang hebat dalam atletik, tapi rekan satu klubnya tidak ada yang menganggapnya sebagai anggota satu tim. Tidak ada satupun orang yang bisa dikatak sebagai 'teman' oleh Gumi.

Rasa sombong sudah menguasai Shiraishi Gumi hingga ke akarnya.

Saat masuk kuliah dia sadar, tidak ada gunanya berteman dengan orang yang tidak mau mendengarkannya. Dia yang benar, mereka yang salah, itulah hal yang akhirnya tertanam di dalam hati seorang Shiraishi Gumi.

Dia adalah korban, seharusnya orang-orang meminta maaf padanya.

Mereka yang menjauhinya akan menyesal.

Oleh karena itulah, Gumi semakin tamak, dia tidak puas hanya dengan kerja keras saja. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin kemampuan yang alami, bakat murni yang mengiringi semua kerja keras yang selama ini dia lakukan.

Keinginannya adalah menjadi yang teratas dalam bidangnya— Umm, bukan, menjadi yang teratas dalam segalanya.

Dia ingin menjadi orang yang berbakat dan selalu bekerja keras sehingga tidak ada orang yang bisa mengalahkannya dan menentangnya lagi, Ratu Absolut dalam kehidupannya, Bintang Kejora dalam alur takdirnya sendiri.

Penguasa yang tidak peduli dengan apa yang diputuskan oleh Tuhan dalam dirinya.

.

Tapi, sekarang Shiraishi Gumi sudah kehilangan semua perasaan itu. Walau hidupnya lebih tenang dan dia mulai bisa bersosialisasi secara normal, ada perasaan yang hilang. Walau kehidupannya mulai diisi oleh senyuman dan juga tawa dari orang-orang yang bisa dia anggap teman, walau dia bisa merasakan kehangatan dari orang lain, dia tetap tidak merasa apa itu rasa puas, apa itu pencapaian.

Rasa tidak nyaman menghantui dirinya, dia berakhir gila dan tidak mengerti dengan apa yang dia sendiri sebenarnya inginkan.

Diselimuti rasa takut dan kehilangan, akhirnya Shiraishi Gumi mengakhiri hidup nyaman yang baru saja dia dapatkan.

Permainan itu, permainan itu merebut segalanya darinya. Ketika nafas terakhir yang dia hembuskan sudah dekat, sosok ayahnya yang pernah menjadi alasan dia menemukan jawaban dalam dirinya kembali muncul.

Ketika ajal sudah dekat, dia perlahan mengingat apa yang sebenarnya menciptakan Shiraishi Gumi yang dulu pernah menjadi seorang gadis yang kuat. Walau jalan hidupnya salah, walau dia bukanlah pihak yang benar, selama dia menjalankan apa yang dia inginkan itu semua tidak masalah.

Kehidupan yang tenang tidak selalu membawa kebahagiaan.

Lalu—

Kehidupan tenang itu jugalah yang menjadi pemandangan akhir dari seorang Shiraishi Gumi.

Walau sampai akhir hayatnya dia tidak bisa ingat apa yang menjadi alasan dia menjalani kehidupan yang penuh duri, tapi dia menutup matanya dengan senyuman.

Tidak ada penyesalan lagi yang tertinggal.

Melihat apa yang sudah terjadi, ada satu orang yang mengetahui masa lalu seorang Shiraishi Gumi dalam permainan yang penuh malapetaka ini.

Tapi— Orang tersebut tidak akan bisa menceritakannya pada orang lain.


XOXOX


"Ka—Kaito! Kaito!"

Lui berlari di lorong sekolah sambil meneriaki nama Kaito, para siswa yang kebingungan dengan apa yang Lui lakukan bergantian menatap Lui dengan tatapan risih.

Lui ternyata berlari ke ruang Klub Penelitian Gaib (Palsu) yang selalu menjadi tempat Kaito singgah setiap pulang sekolah. Lui tidak mengetuk dan langsung menggeser pintu dengan kasar.

Suara debuman pintu yang bertemu dengan tembok terdengar setelah suara gerekan pintu yang digeser, tapi walau berbagai suara berisik tercipta disana, mata Kaito tidak berpaling sedikit pun dari televisi yang ia sedang tonton.

"Ka—Kaito!"

Lui terdiam setelah melihat apa yang Kaito sedang tonton, berita kematian Shiraishi Gumi, hal yang ingin Lui beritahukan pada Kaito hingga berlari di lorong sekolah dan menyebabkan keramaian.

Lui akhirnya berhenti panik dan mendekati Kaito dengan tangan yang gemetar.

"Ap—Apa berita itu benar?" Tanya Lui.

"Tidak salah lagi, setelah 3 hari tidak terlihat, seorang teman di universitasnya mencoba menjenguk Gumi di apartemennya, saat temannya menekan bel berkali-kali dan tidak mendapatkan jawaban apapun, dia memanggil ibu pemilik apartemen untuk membawa kunci utama dan memaksa masuk. Alangkah terkejutnya mereka menemukan tubuh Gumi yang sudah mulai membusuk, bau tidak sedap dan serangga yang menyengat keluar begitu saja ketika pintu itu terbuka. Ini pasti ulah makhluk gaib— Atau setidaknya itulah yang ingin aku katakan." Ucap Kaito panjang lebar.

"Apa dia benar-benar bunuh diri?" Tanya Lui.

Kaito tidak langsung menjawab.

"Hmmm…"

Dia bergumam.

"Aku juga tidak tahu, kita asumsikan saja seperti itu. Kau tahu bukan, aku terlalu bodoh untuk menganalisa suatu masalah. Sebentar Lui, apa kau ingat sesuatu tentang apa yang dikatakan Administrator saat kita pertama memulai permainan ini?" Tanya Kaito balik.

Lui terlihat mengingat-ingat apa yang sudah terjadi, kemudian dia membalas pertanyaan Kaito dengan tanda tanya, kembali.

"Sesuatu tentang kehilangan keinginan dan harapan?"

"Apa mungkin, Shiraishi Gumi tidak hanya kehilangan ingatannya selama permainan, tapi juga kehilangan keinginannya yang merupakan alasan dia menjadi seorang Shiraishi Gumi yang kita ketahui? Bukankah dia terlihat berbeda saat terakhir kali kita bertemu, dia pergi dengan sopan seakan kita ini orang asing…"

Kaito mencoba mengingat apa yang terjadi saat permainan labirin mereka berhenti tiba-tiba, keadaan Shiraishi Gumi saat itu benar-benar berbalik seratus delapan puluh derajat. Setelahnya, perkataan tentang kehilangan harapan menjadi alasan yang paling masuk akal.

Tapi, apapun yang terjadi— Shiraishi Gumi bunuh diri, itu adalah kenyataannya.

"Tidak ada gunanya kita bertanya-tanya dengan apa yang sudah terjadi." Ucap Kaito.

Kaito berdiri dan mengambil tas serta jaketnya.

"Kau mau pergi kemana—?"

"Miku dan Mikuo masih belum masuk sejak saat itu, dan walau aku telah mengunjungi tempat tinggal mereka, tidak ada yang membukakan pintu. Yuuma memang masih masuk sekolah, tapi dia sepertinya sengaja menghindar dari kita. Yuuma selalu datang telat dan pulang cepat, serta tidak ada cara yang berhasil untuk menangkapnya selama di sekolah. Entah Yuuma bisa melihat masa depan atau bagaimana— Dia selalu bisa menghindari kita."

Ucap Kaito. Tapi maaf Kaito, Yuuma memang bisa melihat masa depan, persis seperti yang kau katakan.

Kaito melangkah pergi dari ruangan tersebut.

"Kita tidak bisa menghubungi partisipan yang lain, tapi ada satu orang yang bisa ku temui dan sekarang aku akan pergi menemuinya." Lanjut Kaito.

Kaito meninggalkan Lui yang kebingungan dan ketakutan sendirian di sana, Lui bahkan terlalu takut untuk menanyakan siapa yang akan Kaito temui.

.

.

.

Kaito sampai di sebuah rumah yang megah dan besar, tamannya saja mungkin setengah dari luas seluruh tanah dari daerah mewah itu. Dia menekan tombol intercom di depan gerbang besar tersebut dan hanya mengatakan namanya.

Gerbang dengan cepat terbuka dan membiarkan Kaito masuk, dalam sekejap, Kaito pergi ke dalam area tersebut. Tanaman hijau menghiasi pemandangan selama Kaito berjalan, walau rumah itu sangat besar, tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangan Kaito.

Kaito sampai di depan pintu rumah tersebut, tapi dia tidak perlu menekan bel lagi untuk meminta izin masuk.

"Masuklah." Suara judes itu terdengar dan mempersilahkan Kaito masuk.

Dalam rumah itu pun tidak kalah besar, tidaklah berlebihan untuk menyebutnya sebuah istana dibandingkan hanya sebuah rumah. Tapi tetap saja, rumah tersebut terlalu besar dan mubazir jika hanya ditinggali oleh seorang wanita saja.

"Masih saja sepi."

"Bukankah sudah ku bilang? Semua pembantu ku sedang mengambil cuti karena mereka semua terus di sini selama liburan! Dan sekarang, aku sedang malas untuk kembali ke hotel yang biasa aku tempati."

Yap, itu adalah rumah dari Megurine Luka, si Balerina ternama. Tanpa ada yang menyadari, Kaito dan Luka sudah saling bertukar kontak dan alamat.

Mereka berdua memasuki ruangan yang terlihat seperti ruang perjamuan, meja yang besar dan panjang sempat mereka lintasi, tapi mereka terus berjalan dan melewati pintu lain di dalam ruangan ekstra besar tersebut.

Singkatnya, sekarang mereka memasuki dapur.

Luka membuka kulkasnya dan mengambil sekaleng bir untuk diminum.

"Ini masih sore dan kau sudah meminum bir?"

"Diam."

Percakapan mereka benar-benar tidak produktif.

"Jadi, ada alasan apa kau datang ke sini lagi, bocah?" Tanya Luka.

"Kasarnya, apa begini cara kau berbicara dengan orang yang sudah bolak-balik membawa mu pergi dari bahaya dan mengantarkan mu yang sedang pingsan untuk pulang tanpa meminta pamrih apapun?" Balas Kaito.

"Dasar bocah sialan."

"Apa kau perlu aku berteriak 10 fakta tentang dirimu keras-keras di tengah jalan raya sekarang juga?"

"Ugh!"

Luka terpojokkan.

"Bocah sialan…" Lanjut Luka.

Kaito terkekeh puas.

Hubungan mereka berdua jadi lebih dekat semenjak kejadian tersebut, walau Kaito tidak bisa asal-asalan ke kediaman selebriti sekelas Megurine Luka karena ada kemungkinan tersebarnya rumor buruk tentang mereka berdua.

Semenjak Kaito mengetahui masa lalu seorang Megurine Luka, Luka tidak bisa melepas Kaito begitu saja. Siapa yang bisa menjamin kalau Kaito akan tetap tutup mulut dan diam selamanya tentang hal itu walau Kaito sendiri sudah berjanji akan melakukan hal itu?

Singkatnya, Luka terlalu paranoid dan tidak bisa mempercayai perkataan seorang bocah ingusan seperti Kaito, atau setidaknya itulah pandangan Luka terhadap Kaito.

"Apa Nona Megurine sudah mendengar berita tentang Shiraishi Gumi?"

"Sudah, dan berhentilah memanggilku Nona, cukup panggil aku Luka."

"Ahh… Oke, baiklah."

"Apa kau mengerti tentang sesuatu dibalik kematian tersebut?" Tanya Luka.

"Tidak, aku terlalu bodoh untuk mengerti." Jawab Kaito.

"Dasar makhluk tidak berguna." Balas Luka, tentu dengan nada yang menjengkelkan.

Kaito sempat tersenyum hambar.

"Tapi aku tahu satu hal, perkataan tentang 'hilangnya keinginan' bukanlah omong kosong belaka." Ucap Kaito setelahnya.

Luka mengeluarkan sekaleng cola dari kulkasnya dan melemparnya pada Kaito.

"Apa yang akan dikatakan orang kalau mereka sampai tahu kalau Megurine Luka yang dikenal cantik dan anggun ternyata hidup seperti seorang hikkikomori?" Ledek Kaito.

"Bicara lagi dan lidah mu putus."

"Ugh… Maaf."

Ssssh!

Suara kaleng cola yang terbuka menghiasi suasana ruangan tersebut.

"Bagaimana keadaan teman yang kau ceritakan itu?" Tanya Luka.

"Miku? Yah, kami masih belum ada kontak." Ucap Kaito, dengan nada sedih.

Mata Kaito jelas-jelas memancarkan kesedihan saat membicarakan Miku, untuk sejenak, Luka merasa sudah menebar garam pada luka Kaito.

"Aku minta maaf, karena telah mencoba menghilangkan ingatan mu tentang dia, walau tidak sengaja. Kau menyukainya bukan? Si gadis berkuncir dua itu." Celetuk Luka.

Mengingat kembali apa yang sudah terjadi, itu benar. Luka pernah mencoba menimpa ingatan berharga Kaito tentang orang yang Kaito sukai. Saat semua itu berlangsung, kepala Kaito rasanya mau pecah, mudahnya, dia dipaksa untuk membenci orang yang dia suka.

Memanipulasi, menimpa ingatan orang lain dengan ingatan lain adalah kemampuan Luka. Ini sedikit berbeda dengan kemampuan Rei yang telah tewas di awal semua kekacauan ini, Luka lebih mengendalikan secara mental sedangkan Rei mengendalikan secara fisik. Walau Luka sendiri belum bisa mengendalikan akan kemampuannya, seperti apa ingatan yang ingin dia tanamkan pada orang lain serta ingatan apa yang inign dia timpa. Karena kemampuan ini memerlukan konsentrasi tinggi, Luka perlu kontak mata atau sentuhan untuk bisa mengaktifkannya. Luka juga bisa melihat ingatan orang lain yang menjadi targetnya dan mengobrak-abriknya.

Mengingat kembali tentang Rei.

"Apa kau tahu? Kasus tentang kematian Kagene Rei yang tidak pernah ditemukan mayatnya? Orang yang pertama tewas saat semua ini baru berawal dulu?" Tanya Kaito.

Luka mengangguk kecil sambil meminum birnya.

"Adik perempuannya, Kagene Rui, pernah disorot oleh media. Ternyata adiknya adalah seorang anggota dari sub unit idol ternama. Kasus itu akhirnya ditahan karena dianggap tidak bisa diselesaikan, adiknya tetap memaksa agar kasusnya tidak dihentikan karena alasan yang sama, jadi mereka menahan penyelidikannya." Ucap Kaito.

"Bagaimana dengan mu, apa kau sudah menemui partisipan lainnya?" Tanya Luka.

"Hanya kau dan teman sekolah ku, Lui."

"Bagaimana dengan bocah berambut pink itu, aku menaruh kecurigaan besar kepadanya." Ucap Luka.

"Aku belum bertemu dengannya, sepertinya dia sengaja menghindar dariku."

Mereka berhenti sejenak, suara dari kaleng yang menabrak sudut tempat sampah sebelum masuk ke dalamnya terdengar, Luka melempar kaleng birnya yang sudah habis.

"Kita kembali ke topik awal, jadi, apa alasanmu datang ke sini?"

"Aku ingin membuat perjanjian."

"?"

"Kesepakatan." Lanjut Kaito.

"Jelaskan."

"Aku ingin kau membantu ku untuk memecahkan misteri di balik semua ini, hanya mengikuti apa yang dikatakan Administrator hanya akan membawa akhir buruk lainnya atau setidaknya itulah yang aku yakini. Aku tidaklah pintar, jadi aku butuh bantuan orang tanggap seperti mu untuk membantu ku." Jelas Kaito.

"Kau bilang ini kesepakatan, apa untungnya bagiku?"

"Apa kau ingin rahasia mu terbongkar?" Balas Kaito.

BRAK!

"Ini bukan kesepakatan, kau hanya memeras ku!" Ucap Luka sambil menggebrak meja.

"Aku hanya meminta balas budi yang setimpal setelah aku menyelamatkan mu dan setelah apa yang sudah kau lakukan pada ku, itu tidaklah salah. Bukankah kau juga penasaran? Mendapatkan jawaban dari semua masalah pelik ini akan menguntungkan bagimu juga, apa aku salah?"

Kaito berkata dengan wajah serius, Luka sempat tersentak sedikit, kemudian dia kembali memasang wajah juteknya.

"Katakan seperti itu sejak awal, aku tidak suka caramu berbicara yang seakan memeras ku tadi." Ucap Luka, dengan wajah lelah.

"Jadi?"

"Baiklah, aku ikut."

Jabat tangan di antara mereka berdua telah menjadi nota tidak tertulis dari kesepakatan yang mereka jalani.

Akhirnya mereka mendiskusikan banyak hal lain bersama hingga malam, sebelum akhirnya Kaito pamit untuk pulang.


XOXOX


Jeda yang berlangsung ini tidaklah begitu lama, bagi Yuuma semuanya akan berjalan cepat setelah dia melihat apa yang akan terjadi di masa depan.

Apa yang sedang dia lakukan sekarang telah menghabiskan banyak waktu baginya, berjalan dan singgah, datang dan pergi, terdiam dan bingung. Yuuma menghindari orang-orang di sekolahnya dan pergi mencari informasi ketika waktu pulang sekolah tiba.

Apa yang Honne Dell, orang yang mengaku sebagai pelajar tersebut lakukan benar-benar mengganggu Yuuma. Hingga akhirnya Yuuma membawa kesimpulan kalau mereka punya sedikit 'kesamaan'.

"Yuuma? Kiriyama Yuuma?" Suara panggilan itu berhenti.

Sekarang, Yuuma dan Akita Neru, si Jurnalis, sedang saling bertatap muka di dalam sebuah restoran keluarga.

Mereka membicarakan kematian Shiraishi Gumi dan beberapa hal lain yang mengganggu mereka.

"Apa ada hal lain yang mengganggu mu?" Tanya Neru.

"Tidak, tidak ada." Jawab Yuuma.

Neru mengambil kopinya dan meminumnya perlahan, hujan yang deras di luar restoran keluarga yang mereka datangi turun seperti ribuan peluru yang ditembakkan dari langit.

"Kembali ke topik, Shiraishi Gumi diketahui meminum racun untuk melakukan bunuh diri. Polisi menemukan beberapa barang bukti seperti gelas berisi air dengan bau aneh dan juga sidik jari Gumi di gelas tersebut. Tubuhnya ditemukan dalam keadaan setengah busuk, dia dikabarkan terakhir masuk kuliah dengan kondisi yang terlihat baik-baik saja. Ada beberapa hal yang menarik perhatian ku, kedua lengannya penuh dengan sayatan, sepertinya dia sempat menyakiti dirinya sendiri terlebih dahulu untuk beberapa alasan." Jelas Neru.

"Aku terkesan dengan seberapa bagusnya informasi yang kau dapatkan." Balas Yuuma.

Neru hanya tersenyum.

"Aku ditunjuk sebagai partisipan di tengah permainan, tiba-tiba begitu saja. Lalu aku dibawa ke tempat kalian setelahnya, masih ada banyak hal yang tidak aku mengerti. Jadi, mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi seperti ini dengan salah satu partisipan adalah hal terbaik yang bisa aku dapatkan sekarang." Tegas Neru.

"Baguslah kalau kau tidak kecewa dengan informasi dariku."

"Jadi, apa ada hal lain yang mengganggu mu? Apakah tentang gadis berkuncir dua itu? Wajah mu tidak menunjukkan bahwa kau fokus, mungkin kita bisa hentikan percakapan tentang Gumi dan 'permainan' ini untuk sementara." Sanggah Neru, sambil menekan kata permainan.

"Kau mendapatkan ku." Yuuma berkata dengan senyuman.

"Apa kau menyukai gadis itu? Hatsune Miku?" Tanya Neru.

Yuuma terdiam.

"Aku menyerahkannya pada imajinasi mu."

"Haha, sungguh masa muda. Orang dewasa seperti kami sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lupa rasa romansa. Walau untuk ku, pekerjaan ku adalah kisah romansa."

"Mencintai pekerjaan sendiri adalah hal yang bagus bukan?" Tanya Yuuma.

"Begitulah."

Mereka berdua meminum kopi mereka lagi.

"Apa tidak apa-apa? Maksud ku, kau menghindari teman-teman mu di sekolah kan? Aku pikir itu bukan hal yang baik untuk dilakukan remaja seperti mu."

"Sejauh apa kau bisa melihat tentang ku?"

"Sebagai jurnalis, membaca ekspresi dan keadaan seseorang adalah kemampuan wajib yang harus dimiliki. Kami tidak bisa asal menulis berita dari wawancara yang penuh rekayasa, mencari kebenaran adalah kepuasan tersendiri bagi profesi seperti ini." Ucap Neru sambil memutar pulpen di tangannya.

Neru kemudian tertawa kecil.

"Sepertinya kehidupan pribadi mu penuh dengan sensitifitas, aku akan berhenti mengungkitnya."

"Jadi kau tahu lebih dari ini?"

"Siapa tahu?" Jawab Neru dengan senyuman.

'Sebenarnya siapa yang bisa melihat masa depan di sini?' Gumam Yuuma pelan.

"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Neru.

"Tidak, tidak ada."

Deng! Deng! Deng!

Jam tangan Yuuma mengeluarkan bunyi yang tidak biasa, sepertinya ini sudah terlalu malam baginya untuk terus berkeluyuran seperti ini. Yuuma mengambil jaketnya dan berdiri dari kursinya, dia pamit undur diri.

"Sepertinya hari ini cukup disini dulu, terima kasih atas segala informasinya."

"Tidak-tidak, aku yang harusnya berterima kasih, aku mendapat banyak hal hari ini. Hubungi aku lagi jika kau merasa perlu, aku akan meluangkan waktu untuk mu." Jawab Neru.

Yuuma tersenyum dan menunduk, dia kemudian memakai jaketnya, mengeluarkan payung kecil dari tasnya dan pergi dari restoran itu.

.

.

.

"Kak, aku akan pergi membeli bahan makanan dulu, jadilah gadis yang baik selama aku pergi."

Suara Mikuo terdengar, dia beranjak pergi dari kursinya dan membuka pintu di belakangnya.

Mikuo dan Miku masih ada di rumah, mereka tidak keluar selama 3 hari dari sana. Mikuo akhirnya pergi untuk membeli beberapa bahan makanan dan meninggalkan Miku, walau Miku sendiri tidak merespon satupun perkataan Mikuo selama 3 hari ini.

Tidak lama setelah Mikuo menutup pintu tersebut, pintu itu terbuka lagi, menampakkan sosok Yuuma yang sedikit kebasahan karena hujan. Entah dia masuk lewat mana atau sudah berapa lama dia ada di dalam rumah itu, anehnya, Mikuo sudah pergi tanpa ada satupun rasa curiga.

Saat mata Miku melihat sosok Yuuma, entah kenapa Miku mengerang, dia terlihat marah dan mulai melempar segala hal yang ada di dekatnya ke arah Yuuma.

BUK! BUK! PRANG!

Mulai dari bantal, gumpalan selimut hingga piring yang masih berisikan makanan. Yuuma hanya bisa menghindar dan memasang wajah sedih.

"Aku rasa, kau masih membenci ku."

Yuuma menghampiri Miku dan duduk di kursi yang di duduki Mikuo. Cahaya bulan menerangi wajah mereka berdua dari jendela, sedangkan Miku yang tidak terkendali akhirnya mencakar Yuuma tepat di pipinya.

Tapi Yuuma tidak menahan apalagi menghindar, dia menerima amarah Miku dengan wajahnya.

Ketika Miku ingin memukulnya lagi, Yuuma akhirnya memegang tangan Miku.

Dia memeluk Miku dalam diam.

Hingga sesuatu keluar dari bibirnya.

"Mungkin ini sudah saatnya aku mengatakan semuanya…"

Kalimat itulah yang membawa Miku kembali tenang, dan kalimat itu juga—

— Yang akan membawa kebenaran dari diri seorang Kiriyama Yuuma.


XOXOX


"Apakah seorang manusia masih harus memanusiakan manusia lainnya?"

"Di dalam jeda yang menutup hati, di akhir keretakan diri."

"Di ambang jiwa yang terdegradasi oleh emosi."


XOXOX


Simpang kesepuluh selesai~

Selamat Tahun Baru Imlek semuanya~ Semoga dapat banyak angpao ya~

IPK akhir cukup memuaskan walau masih kalah sama beberapa anak di kelas, ya setidaknya saya bisa ambil SKS penuh semester depan XD

Oh iya, masih banyak kejutan yang saya siapkan dalam fiksi ini, jadi stay tune aja ya~

Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian