Remake dari novel U. by Donna Rosamayna.
FF ini menggunakan alur yang sama dengan novel aslinya, jadi jika ada kesamaan cerita adalah hal yang wajar. Akan ada beberapa plot dan setting yang akan disesuaikan dengan konsep boy X boy :)
Main cast: TaeKook / VKook
Team .Uke. Jungkook, Jin, Yoongi, Hoseok
Other cast: All BTS member & other Idol (random)
Rating T
boy X boy, Yaoi
Romance, Drama, Fluff
Warning. bahasa sangat tidak baku, typo bertebaran.
DON'T LIKE DON'T READ
Chapter 9
JUNGKOOK POV
Aku melongo memandangi HP-ku. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, inilah rekor tercepat Tae Hyung membalas SMS-ku. Oke, aku punya satu sifat jelek, aku paling benci kalau SMS-ku tidak dibalas. Aku akan mengutuk-ngutuk orang yang tega tidak membalas SMS-ku apa pun alasannya. Dan setelah lebih dari sebulan mengenal Tae Hyung, aku tahu pasti Tae Hyung itu paling malas membalas SMS.
Kalaupun dibalas pasti lama pakai banget dan cuma satu-dua kata, seperti, "Oke." (waktu aku nanya "bisa tidak nganter aku ke perpustakaan besok?" Itu juga dibalasnya tiga jam kemudian) atau "Baik. Kamu?" (waktu aku berbasa-basi menanyakan kabarnya, kantornya, dan segala hal tentang dia sepanjang dua halaman SMS. Ini lebih kejam, aku kirimnya pagi-pagi, dia baru balas waktu pulang kantor). Sedangkan sisa SMS-ku yang lain tidak ada balasannya.
.
From: Tae Hyung
Halo Jungkook... Wah, bagus bgt bs dpt 85. Mungkin guru km tahu kalau km sudah susah payah (bahkan ikut membuat aku susah payah, hehe...) Oya, makasih notesnya. Sesuai janji, aku nulis planning di situ. Btw, km pernah bilang spy aku juga sungkan minta bantuan km, kan?
Nah, skrg aku tagih. Hari sabtu tgl 20 temenin aku ke pesta pernikahan temenku Namjoon ya?
.
Aku bengong, tumben SMS Tae Hyung super panjang. Waktu aku penasaran dan kurang kerjaan mengeceknya, ternyata menghabiskan tiga halaman SMS (WOW). Dan kata-kata terakhirnya bikin aku melotot. Temenin ke pesta pernikahan temen?
"Kook..."
Apa yang harus kupakai ke acara pernikahan? Ke ulang tahun Jin saja sudah ribet setengah mati begitu.
"Jungkookkk..."
Hah. Aku tersentak. Di sebelahku Jin melotot kesal.
"Eh... iya... kenapa, Jin?"
"Kamu tidak denger dari tadi aku sudah manggil kamu?"
Aku menggeleng polos. Aku terlalu sibuk membaca SMS Tae Hyung. Jin cengar-cengir menatapku.
"Aku punya dua berita buat kamu, yang satu bagus, yang satu lagi lebih bagus. Mau yang mana?"
Heh? Aku melongo. Jin ada-ada saja. Ngapain milih kalau dua-duanya bagus.
"Yang bagus dulu deh."
Jin menyodorkan HP-nya ke depan mataku.
"Barusan Taehyung SMS aku, dia bilang..."
Jin sengaja menarik napas dan mengerlingkan matanya,
"Salam buat kamu."
Aku memandang HP di tangan Jin dengan tatapan datar.
"Oh. Terus yang lebih bagus apa?"
Jin terbelalak sewot melihat reaksiku.
"Loh? Kamu kok biasa saja sih dengernya? Kook, denger ya. Aku ulangin... Taehyung ngirim salam buat kamu. Buat kamu. Salam dari Taehyung. Masa kamu tidak kaget sih? Masa tidak salam balik sih?"
Aku juga bingung sendiri. Iya, ya. Kok aku tidak kaget mendengarnya? Biasanya kan Jin yang selalu menyampaikan salamku kepada Taehyung dan memaksa cowok itu untuk bilang, "salam balik."
"Iya ya. Salam balik deh, Jin." ujarku akhirnya.
"Nah, gitu dong. Oke, sekarang berita yang lebih bagus. Kamu sudah siap?"
Aku mengernyit, bingung campur penasaran.
"Siap, siap kok. Apaan?"
Jin tampak menimbang-nimbang kata-katanya.
"Hmmm... sebenarnya ini rahasia, Kook. Tapi aku bocorin saja deh ke kamu. Tadi Taehyung nanya ke aku. Dia bilang kamu ada waktu tidak Sabtu depan, dia mau ngajak kamu jalan..."
Aku membelalakkan mata. Serius? Sabtu? Sabtu itu malam minggu kan? Berarti ini... ini... ajakan kencan?
"Aku rasa dia naksir kamu deh. Cie, Jungkook... Hm, gimana? Kamu bisa kan, Kook?" tanya Jin penuh semangat.
Aku terdiam. Iyalah. Aku sangat kaget mendengarnya. Aku tidak percaya. Aku heran. Aku takjub. Tapi... kenapa aku tidak bahagia mendengarnya? Jin menatapku dengan ekspresi tidak sabaran.
"Kook... bengongnya jangan lama-lama, kali. Nanti rejeki kamu keburu dipatok ayam. Gimana? Aku bilang oke saja ya?"
"Memangnya kapan sih, Jin?" tanyaku tak bersemangat.
Ini jelas bukan aku. Aku yang dulu pasti sampai loncat-loncat kegirangan. Tidak peduli ada banjir bandang, gempa bumi delapan skala Richter, atau angin taufan... Asal Taehyung mengajakku kencan, pasti aku akan mengangguk dan mengatakan "iya, yes, setuju, aku bersedia".
"Minggu inilah. Sekarang kan tanggal tujuh belas, berarti Sabtu itu..."
Jin melihat kalender di HP-nya.
"Tanggal dua puluh. Iya, dua puluh Desember..."
Aku terdiam dan langsung cepat-cepat membuka SMS dari Tae Hyung, pesta pernikahan temannya kan tanggal dua puluh Desember?
"Gimana, Kook?"
"Emm..."
Ya Tuhan. Ada apa sih dengan diriku? Ini kan bukan pilihan sulit. Sudah pasti kencan sama Taehyung jauh lebih menyenangkan daripada pergi ke resepsi pernikahan orang yang tidak aku kenal. Tapi sudah semenit berlalu dan aku tetap tidak dapat memberikan jawaban.
"Kook kok bengong sih? Kamu kaget banget ya sampai tidak bisa ngomong gitu? Ya sudah, tidak apa-apa. Aku saja yang bilang ke Taehyung kalau kamu bisa..."
Jin langsung mengetik SMS balasan. Tanganku refleks menahannya.
"Jangan, Jin..."
Jin tersenyum.
"Nah, gitu dong. Kamu pasti mau bilang sendiri ke Taehyung, kan?"
Jin pasang tampang meledek.
"Oke deh. Aku tidak campur tangan."
Aku menggeleng. Bukan. Bukan. Ya Tuhan. Aku kenapa sih?
"Emm... Jin, sori. Kayaknya aku tidak bisa..."
Jin melotot mendengar perkataanku barusan. Dia memegang keningku.
"Kook, kamu tidak sakit kan?"
Aku kembali menggeleng. Jelas aku bohong. Menolak kencan dengan Taehyung? Sudah pasti aku sakit. Aku pasti sakit parah.
"Jadi kenapa kamu tidak bisa? Memangnya kamu ada acara apa hari itu sama Appa kamu? Tidak bisa dimundurin lagi? Taehyung loh, Kook. Taehyung. Kamu kan sudah lama suka sama dia, dan sekarang, kesempatan itu dateng. Appa kamu pasti bisa ngertilah."
Aku terdiam, tidak memahami diriku sendiri. Seharusnya aku tergila-gila sama Taehyung. Dia perfect di mataku. Tapi, kenapa hari ini dia tampak tidak penting lagi?
"Tidak ada acara sama Appa sih, tapi aku... aku..."
Aku diam, tak mampu melanjutkan katakata. Jin mengangkat sebelah alisnya. Itu tanda kalau dia menginginkan penjelasan selengkap-lengkapnya dariku. Karena tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, aku memutuskan menunjukkan SMS Tae Hyung kepada Jin. Jin membaca SMS itu dan melotot.
"Hah? Aku tidak salah denger, Kook. Kamu mau pergi sama dia ke pesta pernikahan?"
Aku ragu-ragu sejenak, tapi kemudian kuputuskan mengangguk. Jin langsung menjerit histeris. Dia shock banget.
"Hah? Kamu gila ya, Kook? Ngapain kamu pergi sama dia?"
Yugyeom, Jackson, Vernon, dan tentu saja Bambam yang lagi ngegosip serempak menengok. Mereka berjalan mendekati aku dan Jin.
"Emm..." aku makin tidak enak hati.
"Sori, Jin, tapi masalahnya, aku sudah janji sama dia. Dia sudah bantu aku waktu itu... sekarang gantian dia minta aku..."
"Kalau gitu dia jahat dong? Masa ngasih bantuan pamrih gitu sih. Kook, terus terang aku tidak suka kamu deket-deket dia. Aku tidak percaya sama ahjussi itu. Inget, Kook. Dia itu orang kantoran, jauh lebih tua daripada kamu. Dunia kamu dan dunia dia jelas beda banget."
"Tapi, Jin... bukan gitu, dia baik kok. Buktinya dia mau nemenin aku ke perpustakaan waktu itu. Dia tidak seperti yang kamu kira, Jin. Lagi pula, dia itu hyung, bukan ahjussi."
Jin benar-benar melotot sekarang. Pasti dia heran karena aku belain Tae Hyung.
"Jadi kamu suka sama dia?" tanya Jin dengan nada dingin dan tegas.
Aku bingung. Suka? Apa benar aku suka? Yang aku tahu, aku nyaman bila sedang bersama Tae Hyung, aku senang dengan semua perhatian dan caranya memperlakukanku. Saat bersama Tae Hyung, aku suka lupa dia itu cowok kantoran dan aku anak SMA. Aku yakin ini lebih dari suka.
"Kook, kamu suka sama dia ya?" Jin bertanya lagi.
"Kook, please. Buka mata kamu lebar-lebar. Apa yang kamu lihat dari ahjussi kayak dia? Aku yakin dia pasti playboy. Dia pasti sudah banyak pengalaman dengan cowok. Aku tidak mau dia nyakitin kamu..."
Aku menatap Jin. Dari tatapannya aku tahu Jin bermaksud baik. Aku tahu dia mengkhawatirkanku. Tapi Jin salah. Tae Hyung tidak seperti yang dia bilang.
"Jin, kamu tidak boleh menilai orang kayak gitu. Kamu kan tidak tahu apa-apa tentang Tae Hyung."
Jin tampak berang mendengar perkataanku.
"Oke. Aku memang tidak tahu apa-apa soal Tae Hyung. Tapi kamu sendiri memangnya tahu banyak tentang dia? Coba sebutin, apa yang kamu tahu tentang dia?"
Aku tertegun. Apa yang kutahu? Aku hanya tahu dia anak rekan Papa dan dia jauh lebih tua daripada aku. Selain itu apa? Aku bahkan tidak tahu dia kerja dimana, aku juga tidak kenal teman-temannya.
"Nah. Kamu juga tidak tahu kan, Kook?" ujar Jin sambil menatapku tajam.
"Woi. Woi. Kalian berdua kenapa sih?" Jackson memecahkan suasana yang mulai memanas itu.
Aku dan Jin sama-sama menengok. Aku hendak menjawab pertanyaan Jackson, tapi Jin langsung memotongnya.
"Tuh si Jungkook. Masa dia lebih memilih pergi sama ahjussi tukang burger dan bunga itu sih," kata Jin sewot.
"Hah? Kamu jadian sama dia Kook?" tanya Jackson.
Makin kacau kan.
"Tidak kok. Aku cuma mau nemenin dia pergi ke acara pernikahan."
"Kalau kamu bukan siapa-siapa dia, ngapain kamu kerajinan nemenin dia ke sana? Jungkook, kamu hati-hati deh. Kamu kan belum kenal-kenal banget sama dia," Bambam ikut menimpali.
"Iya, Kook. Oke, dia memang keren banget dengan bunga satu truknya itu. Tapi itu bukti kalau dia memang berjiwa playboy. Dia bisa melakukan apa saja untuk menaklukkan hati cowok. Setelah dia bosan, baru ditinggal..." Yugyeom juga tidak memihakku.
Aku menatap Vernon. Tinggal dia yang belum berkomentar. Terus terang, aku mengharapkan kata-kata dukungan darinya. Vernon menatapku, wajahnya tampak bingung.
"Aneh. Kok melenceng dari ramalan, ya?"
.
.
.
Perdebatan dengan teman-temanku benar-benar tidak membuahkan hasil. Intinya mereka melarangku pergi. Bahkan Jackson yang waktu itu mengakui Tae Hyung bisa dipercaya, juga ikut terkontaminasi kata-kata Jin dan Bambam. Vernon malah menakut-nakutiku akan terjadi hal yang tidak mengenakkan kalau aku tetap nekat pergi.
Ini pertama kalinya pikiranku dan Jin tidak sejalan. Biasanya kami selalu kompak dalam segala hal. Biasanya apa yang baik di mataku, pasti baik juga di mata Jin. Tapi ini juga pertama kalinya aku tetap ngotot. Aku ingin membuktikan perkataan Jin salah.
.
.
.
"Tadi siang Taehyung menelepon Appa."
Papa membuka pembicaraan saat kami sedang makan malam bersama.
"Dia minta izin mengajakmu ke acara pernikahan temannya besok."
"Boleh kan, Appa?" tanyaku.
"Emmm..."
Papa berpikir sejenak. Aku menunggunya dengan harap-harap cemas.
"Tapi kamu mau janji satu hal sama Appa, gimana?" tanya Papa.
"Apa?" tanyaku dengan hati berdebar.
"Janji apa? Asal Appa tidak meminta ulangan bahasa Inggris dapat 100, aku akan berusaha memenuhinya."
"Hari Minggu, kamu ikut makan siang sama Appa."
Aku terperangah. Perjanjian menyenangkan macam apa ini? Itu sih tidak usah ditanya. Kalau diajak makan, siapa yang nolak sih?
"Sip. Aku pasti ikut." jawabku cepat, takut Papa berubah pikiran.
Papa hanya tersenyum sekilas mendengar jawabanku lalu kembali konsen dengan makanan di piringnya. Aku benar-benar lega karena Papa tidak berniat mempersulitku. Tapi aku juga tidak menyadari, kalau Papa hari ini agak lain. Sepertinya ia sangat sibuk dengan pikirannya sendiri.
.
.
.
Hari Sabtu pun tiba...
Aku sudah siap dari pukul enam. Aku mengenakan celana jins dan kemeja bahan satin silk biru muda. Aku tidak punya celana panjang kain seperti orang kantoran dan jas juga tidak punya, Masa pinjam punya Papa? Ukuran badan kami berbeda, yang ada aku malah kelihatan makin aneh nanti. Jadi hanya ini yang terbaik yang bisa aku pakai.
Tepat pukul setengah tujuh, mobil VW Beetle Tae Hyung parkir di depan rumahku. Tae Hyung keluar dari mobil. Ia mengenakan kemeja putih, dasi, dan setelah jas hitam. Aku dan Hyuna terpana.
"Papa kamu mana, Kook?"
Eh? Aku tersadar. Memalukan. Aku sempat mematung karena terkagum-kagum melihat penampilan Tae Hyung barusan.
"Appa pergi. Ada acara," kataku.
Oh ya, ngomong-ngomong Papa ada acara apa? Kok aku lupa nanya tadi? Tae Hyung menatapku lalu tersenyum.
"Kamu manis."
Napasku sesak seketika. Ini pertama kalinya ada cowok yang memujiku manis selain Papa. Hyuna cengar-cengir di sampingku.
"Makasih," kata Hyuna.
Eh? Aku jadi bingung sendiri. Kata-kata tadi buat siapa sih? Aku? Hyuna? Atau kami berdua? Aku masih sibuk berpikir saat Tae Hyung membuka pintu mobilnya untukku.
"Silakan, cute bunny."
Mukaku merona lagi. Benar kata Jin, Tae Hyung sangat pintar memikat hati cowok. Jadi ini ya rasanya diperlakukan dengan manis oleh cowok?
.
.
.
Tae Hyung mengisi buku tamu dan memasukkan amplop ke kotak yang disediakan. Salah satu cewek penerima tamu menyerahkan cenderamata berupa boneka kelinci mungil ke Tae Hyung. Cewek itu tersenyum super manis. Tae Hyung balas tersenyum. Cewek-cewek penerima tamu yang lain bisik-bisik.
"Nih, Kook. Buat kamu, lucu kan kayak kamu sama-sama kelinci, cute."
Tae Hyung menyerahkan boneka itu untukku. Aku langsung tersenyum sumringah sambil berharap mukaku tidak merona lagi.
"Makasih."
Tidak bohong. Bonekanya lucu banget. Boneka itu dalam posisi duduk dan membawa hati berwarna merah di tangan kirinya. Di tengah-tengah hati itu ada tulisan Namjoon & Zico.
Tae Hyung menggandeng tangan kananku, rasanya darahku berdesir. Sesaat sebelum kami memasuki ruangan, aku sempat mendengar celoteh para penerima tamu.
"Gila. Tu orang bother's complex kali ya. Masa malam minggu begini datang ke acara kawinan sama adeknya sih."
"Beruntung banget tuh cowok, punya kakak ganteng kayak gitu."
"Ya sudah. Nanti kita deketin saja adiknya, terus tanya, kakaknya sudah punya pacar atau belum."
DEG.
Aku refleks memeriksa penampilanku. Apa aku terlihat seperti anak-anak banget? Dalam ruangan ternyata lebih parah lagi. Begitu aku dan Tae Hyung masuk, aku merasakan semua orang di ruangan itu memandang kami. Oke, tepatnya sih memandang Tae Hyung. Dan mereka bisik-bisik. Aku tidak mendengar mereka bisik-bisik apa, tapi dari cara mereka memandang Tae Hyung (dan aku sesudahnya), sepertinya mereka memiliki harapan yang sama dengan para penerima tamu di depan.
Tae Hyung sepertinya tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Dia tetap menggandeng tanganku. Terus terang, genggaman tangannya itulah yang membuatku dapat bertahan berdiri. Tae Hyung mengajakku menyalami pengantin. Aku mengangguk. Setelah mengantri dalam rombongan, akhirnya kami tiba juga di depan kedua mempelai.
"Wah, kamu kalau didandanin ternyata cakep juga ya, Namjoon."
Tae Hyung langsung tertawa lebar saat menyalami salah satu pengantin di sana. Mereka berpelukan akrab. Pengantin itu tersenyum tak kalah lebar.
"Thank you, Tae."
Dia menepuk-nepuk pundak Tae Hyung lalu celingukan.
"Loh? Kok kamu sendiri? Hoseok mana?"
Hoseok? Siapa itu Hoseok? Tae Hyung langsung menarikku mendekat.
"Kenalin, Jungkook."
Aku tersenyum dengan rikuh sambil menyalami teman Tae Hyung itu. Namjoon juga tersenyum, tapi wajahnya tampak bingung. Untungnya antrian di belakang kami masih panjang, jadi Namjoon tidak bisa menanyakan apa-apa. Aku dan Tae Hyung beralih dari Namjoon dan menyalami pengantin yang satu lagi.
"Kita makan sebentar ya, Jungkook. Habis itu kita pulang. Kamu tidak bosan, kan?" Tae Hyung berbisik di kupingku.
Suaranya begitu lembut. Jantungku seperti melompat. Tapi sebelum aku menjawab, sekelompok orang menghampiri Tae Hyung.
"Hai, Tae," ujar mereka.
Mereka bergantian bersalaman dengan Tae Hyung. Tanpa basa-basi mereka bertanya,
"Sama siapa nih?"
Seperti tadi, Tae Hyung tersenyum.
"Kenalin, ini Jungkook."
Mereka semua menyalamiku. Ada yang tertawa tertahan, ada yang cengar-cengir, ada yang pasang tampang jutek, sisanya memandang dengan penuh tanda tanya. Terlukis jelas di jidat mereka, mereka sebenarnya penasaran siapa aku. Tae Hyung ternyata pintar membaca situasi. Dia mengatakan pada mereka semua kami ingin mengantri makanan dulu.
Namun, saat kami berhasil meloloskan diri dari kerumunan, pada arah jam dua belas, aku melihat seorang cowok datang ke arah kami.
Waktu seperti bergerak lambat. Cowok itu berjalan dengan sangat anggun, menyerap perhatian seluruh orang yang ada di ruangan ini. Rambut cokelat jamurnya luar biasa. Wajahnya tidak usah ditanya, cakep banget. Kulitnya halus, hidungnya juga mancung kecil. Dia mengenakan baju hitam yang melekat sempurna pada tubuhnya. Sepatu yang bagus dan kelihatan mahal berpadu serasi dengan kakinya. Cowok itu berdiri di hadapan Tae Hyung. Tercium wangi parfumnya yang sangat enak
"Halo, Taehyung." katanya ramah sambil mencium pipi Tae Hyung.
Aku langsung menegang. Enak saja dia cium-cium.
"Oh, kamu. Ini kenalin... Jungkook."
Cowok itu menatapku sekarang. Pandangan ramahnya berubah tajam. Ia menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku mengulurkan tangan dan mencoba tersenyum. Di depan pangeran sempurna ini aku merasa seperti itik buruk rupa.
"Hoseok." ujarnya sambil tersenyum dan menyalamiku.
Hatiku mencelos. Ini Hoseok yang disebut-sebut Namjoon tadi. Siapa dia? Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba tanganku terasa dingin. Aku terkejut, tangan Tae Hyung merangkulku dengan hangat.
"Sori, kami mau makan dulu, Hoseok. Permisi."
Setelah itu, setiap stan makanan yang aku dan Tae Hyung datangi mendadak ramai. Orang sepertinya ingin berdiri sedekat mungkin dengan kami berdua. Mereka berusaha menyelidiki, menguping pembicaraan kami, dan yang paling menyebalkan, ada yang sempat-sempatnya memotret aku dan Tae Hyung dengan kamera HP. Aku benar-benar rikuh. Aku tidak suka suasana ini. Tae Hyung sepertinya bisa membaca perasaanku.
"Kita pulang, yuk," katanya.
Aku mengangguk. Sejujurnya, aku sudah tidak tahan berdiri di ruangan ini lebih lama lagi. Tiba-tiba... Seorang cowok datang dari belakang Tae Hyung. Menepuk bahunya.
"Hei."
"Eh... kamu, Jim."
Tae Hyung tersenyum dan kembali memperkenalkan aku. Terus terang, aku sudah muak bersalaman dengan orang-orang hari ini. Aku benci cara mereka menatapku, seakan seperti ingin bertanya, "kenapa pangeran membawa balita ke pesta dansa istana?"
"Jadi ini," ujar Jimin.
Aku terperangah. Dari sekian banyak tamu, hanya dialah yang sepertinya tahu siapa aku. Aku menatap Jimin dan berusaha tersenyum ramah. Jimin menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Suara MC membahana di ruangan.
"Alumni Seoul University berfoto bersama dengan kedua mempelai."
"Giliran kita tuh," kata Jimin.
Aku terkesiap. Bukannya kami mau pulang tadi?
"Aku tidak ikut deh, Jim. Mau balik," ujar Tae Hyung.
Fiuh. Diam-diam aku menarik napas lega. Aku senang pikiran Tae Hyung sama denganku. Jimin tampak tak senang dengan penolakan Tae Hyung.
"Yang bener saja kamu. Ini kawinannya Namjoon, temen akrab kamu sendiri. Masa kamu tidak mau foto bareng dia?"
Tae Hyung terdiam, menimbang-nimbang perkataan Jimin. Lalu Tae Hyung menghela napas berat.
"Kook, tidak apa-apa kan aku foto sebentar? Habis itu kita langsung pulang kok."
Mau tidak mau, aku tersenyum. Berusaha menyembunyikan kekesalanku pada si Jimin. Jimin merangkul Tae Hyung. Mereka berjalan menjauhiku. Dan dalam sekejap aku merasa sendirian. Aku terkucil. Aku kesepian.
Saat itu aku sadar, kata-kata Jin ada benarnya. Duniaku dan Tae Hyung benar-benar jauh berbeda. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Aku terkejut.
"Hai..."
Aku benar-benar sangat terkejut sekarang. Hoseok berdiri di depanku.
"Taehyung mana?"
"Em, lagi foto di panggung."
"Oh."
Hoseok melihat panggung. Aku berusaha melihat panggung juga, tapi terhalang kerumunan orang-orang di sekitar kami.
"Taehyung tidak pernah bilang dia punya adik. Kamu siapa? Sepupunya?" tembaknya langsung.
Aku menarik napas. Aku harus bilang apa? Karena aku memang bukan siapa-siapa.
"Aku… anak teman papanya Tae Hyung."
Hoseok terbelalak. Detik berikutnya, ia tertawa sepertinya sangat geli mendengar jawabanku.
"Kamu panggil dia 'hyung'?"
"Tadinya malah mau panggil 'ahjussi', tapi Tae Hyung protes..."
Hoseok tertawa lagi.
"Aku kira kamu pacarnya," ujarnya dengan suara yang lembut.
"Karena kalau pacarnya, aku harus mengingatkan kamu...," sambungnya.
Aku tertegun. Apa maksudnya?
"Kamu lihat cowok baju merah di sana?"
Hoseok menunjuk cowok di pojok ruangan. Aku mengangguk.
"Dia mantan pacarnya Taehyung."
Aku sesak napas.
"Cowok berbaju biru itu juga," katanya lagi, menunjuk cowok lainnya.
"Yang pakai jas cokelat itu, yang baju garis-garis itu, yang rambutnya dicat merah itu, yang pakai anting itu, yang barusan lewat itu juga..."
Kakiku terasa berat. Aku terpaku seperti patung.
"Masih ada dua puluh lagi yang belum kusebutkan. Lagi pula, aku tidak hafal semuanya," ujar Hoseok lagi.
Dia menatap lurus ke mataku.
"Taehyung itu playboy," ucapnya tegas.
"Dan kamu tahu apa yang dia lakukan padaku?"
Aku tidak mau tahu. Aku tidak mau tahu.
"Apa?" tanyaku pelan, seperti mencicit.
"Dia menciumku dengan panas di depan umum, lalu mencampakkanku," ucap Hoseok lirih.
Kepalaku seperti baru saja dihantam palu seberat satu ton.
"Aku sangka kamu korban dia yang selanjutnya. Makanya seluruh ruangan menatap kamu tadi. Mereka pikir Taehyung sudah bosan dengan cowok-cowok seumuran dengannya, makanya pacaran sama ABG."
Hoseok menarik napas dan kembali tersenyum.
"Syukurlah kalau ternyata bukan..."
Hoseok pamit dan berlalu meninggalkanku. Aku sendirian lagi. Tapi kini lebih parah. Aku seperti terperosok ke lubang yang sangat gelap dan dalam.
.
.
.
TAEHYUNG POV
Aku gelisah di panggung, ingin aksi foto-foto tidak penting ini selesai secepatnya. Aku rasanya ingin mengamuk saat untuk kesekian kalinya fotografer itu berkata, "Yak. Sekali lagi".
Akhirnya sesi foto super membosankan ini selesai lima belas menit kemudian. Tanpa berbasa-basi dulu dengan teman-teman aku yang lain, aku langsung meluncur turun dari panggung. Tapi ada yang menahan aku, saat menoleh, aku lihat Hoseok ada di belakangku.
"Kenapa?" tanyaku datar.
"Kok buru-buru, Tae? Tidak tunggu acara selesai dulu? Kan ada acara lempar bunga nanti."
Aku tertawa tertahan.
"Hoseok, aku tidak butuh acara gituan."
"Waktu acara pernikahan Jimin, kamu ada di situ sampai akhir. Namjoon juga sahabat kamu kan?"
"Kali ini tidak bisa. Sudah malem. Aku harus nganter Jungkook pulang," jawabku sambil celingukan mencari sosok Jungkook.
"Tae, dia cowok yang punya janji dengan kamu waktu itu, ya? Sampai kamu ninggalin aku tiba-tiba waktu di rumah sakit?"
Aku memandang Hoseok tajam.
"Hoseok, please. Hargai privacy aku. Kamu tidak perlu tahu semuanya tentang aku."
"Apa dia juga cowok yang sama dengan cowok yang dibilang Jimin? Cowok yang bikin kamu kelimpungan cari motor dan tukang jual bunga?"
Hoseok memang keras kepala dan tidak bisa dibilangin. Aku membalikkan badan, tidak berminat menjawab. Tapi Hoseok kembali menahan tanganku. Dia mencengkeramnya kuat-kuat.
"Kamu cuma perlu jawab iya atau tidak. Itu saja."
Aku menghela napas, berusaha menahan emosi.
"Iya, itu dia."
Hoseok terkesiap. Dia melepaskan cekalan tangannya.
"Oh, oke. Berarti dia sepenting itu buat kamu. Semoga kamu bahagia," ucapnya dingin.
Dia menyunggingkan senyuman tipis yang sulit aku artikan, lalu berbalik meninggalkanku. Walaupun bingung, aku tidak mau capek-capek memikirkan ucapan Hoseok barusan. Aku menyusuri ruangan mencari Jungkook. Sudah lebih dari dua puluh menit, Jungkook pasti sudah bosan banget.
Setelah celingak-celinguk, akhirnya aku berhasil menemukan Jungkook. Aku lihat dia berdiri sambil menunduk di pojok ruangan, persis kayak anak hilang. Aku jadi pengin ketawa melihatnya. Aku melewati sebuah vas bunga. Wah, pas banget. Aku tarik setangkai mawar putih dari situ.
"Apakah cute bunny sudah siap untuk pulang?" ujarku sambil menyodorkan bunga mawar putih kehadapan Jungkook.
Mudah-mudahan dia tidak ngambek karena sudah aku tinggalin begitu lama. Jungkook mendongak. Aku kaget melihat wajahnya yang pucat.
"Kamu kenapa?" tanyaku panik.
Aku mengulurkan tangan hendak memegang tangannya.
"Kamu sakit?"
Jungkook menepis tanganku. Wajahnya memerah menahan marah.
"Tidak usah pegang-pegang. Aku bisa jalan sendiri."
Aku bengong. Kenapa dia mendadak jadi judes? Wah gawat. Jungkook berjalan mendahuluiku ke arah pintu keluar. Aku mengikuti langkahnya yang cepat. Orang-orang di ruangan memperhatikan kami berdua, tapi aku sama sekali tidak peduli. Di depan pintu, aku berhasil menahan tangan Jungkook. Dan aku makin kaget.
Tangan Jungkook panas. Aku cepat-cepat membungkuk dan memegang wajahnya. Benar, dia panas. Dia sakit. Aku langsung melepaskan jas dan membungkus tubuhnya dengan jas itu.
"Ayo pulang," ujarku sambil merangkul pundaknya.
Tapi lagi-lagi Jungkook menolak. Dia mendorong aku.
"Aku bisa pulang sendiri," ujarnya ketus.
"Pulang sendiri, gimana? Kamu kan pergi bareng-bareng aku, jadi aku berkewajiban nganter kamu pulang, Kook."
"Pokoknya aku pulang sendiri. Tae Hyung tidak usah ngurusin aku!"
Teriakan Jungkook sukses membuat orang-orang yang ada di situ terbelalak kaget. Suasana sunyi seketika. Pandangan orang-orang tertuju pada kami berdua. Bahkan beberapa orang sampai keluar, ikut menyaksikan. Sialan. Mereka pikir ini bioskop?
"Kook ah..." aku memegang tangannya.
"Kamu kenapa? Aku salah apa sama kamu?"
Jungkook menatap lurus ke mataku. Dia menatapku dengan mata berair.
"Aku salah besar... ternyata Jin benar."
"Kenapa? Salah apanya? Jin bilang apa ke kamu?" tanyaku dengan nada lebih lembut, memegang bahunya.
Jungkook mundur. Dia menatapku dengan pandangan terluka.
"Jangan pegang-pegang. Jangan samain aku sama cowok-cowok korban Tae Hyung."
DEG!
Jantungku berdetak kencang. Apa yang sudah terjadi sebenarnya saat aku berfoto tadi? Mataku menyapu tajam orang-orang yang berkerumun menatap kami berdua. Siapapun orangnya, aku harus bikin perhitungan dengan dia. Aku kembali menatap Jungkook.
"Kook.. Oke. Kamu marah, tapi please pulang sama aku. Kamu mau pulang naik apa malam-malam begini? Bahaya. Bisa-bisa aku dimarahin sama papa kamu kalau dia tahu aku biarin kamu pulang sendiri."
"Aku tidak sendirian... aku..."
Sebelum Jungkook selesai menjawab, sebuah honda jazz pink (Suer. Pink.) berhenti di depan kami berdua. Aku terkejut. Seorang cowok turun dari bangku belakang. Cowok itu... Jin?
Dia menarik tangan Jungkook dan menatapku galak.
"Heh, Ahjussi. Denger ya, Jangan coba-coba sentuh Jungkook!"
Tanpa memedulikan aku yang masih melongo bingung, Jin menyuruh Jungkook masuk ke mobilnya. Jungkook menurut. Aku panik dan berusaha menahan Jungkook.
"Kook... aku..."
Jin mendorong aku.
"Minggir! Kalau ahjussi masih berani ganggu Jungkook, saya akan panggil polisi."
Dan... BRAAK...
Pintu mobil ditutup dengan kasar. Sepersekian detik kemudian, mobil itu berlalu meninggalkanku. Aku berdiri terpaku di jalan. Berusaha menahan emosi yang siap meledak didadaku. Kerumunan orang makin banyak. Mereka menatapku dengan sejuta tanda tanya.
Aku melotot tajam pada mereka semua, lalu berjalan menuju mobil dengan langkah gontai. Tiba di depan mobil, aku lihat Hoseok berdiri di situ. Tersenyum.
"Sekarang kamu tahu gimana rasanya tidak dipedulikan, Tae. Gimana?"
Aku membelalak marah. Apa dia penyebab semua ini?
"Hei, apa yang kamu bilang ke Jungkook?" ujarku gusar.
Hoseok bergeming. Dia menatap mataku dengan berani.
"Aku nolongin dia. Dia terlalu baik untuk cowok brengsek kayak kamu," ujarnya tajam lalu kembali tersenyum dan berjalan melintasiku.
Aku menahan tangannya.
"Maksud kamu apa?"
Hoseok menepiskan tanganku.
"Kamu sendiri yang tahu diri kamu seperti apa. Ingat, Taehyung. Siapa menabur, dia juga yang menuai... Roda kehidupan berputar."
.
.
.
Aku mengendarai mobil dengan emosi memuncak. Sudah puluhan kali aku berusaha menghubungi HP Jungkook tapi lagi-lagi diputus. Aku emosi.
Aku membanting HP ke bangku sebelah dan memaki panjang-pendek. Sampai akhirnya aku diam dan mengakui kalau Jimin benar. Aku tidak mungkin sama Jungkook. Dia terlalu baik buat aku. Dia tidak mungkin bisa tahan menghadapi aku dan segala masa lalu aku.
Dan seakan belum cukup masalah untuk malam ini... Sampai di rumah, aku harus menghadapi masalah yang lain...
-TBC-
