Jangan pikir fic ini berakhir pada chapter 9... walaupun episode-nya sudah selesai, tapi fic ini masih belum selesai. Ngomong-ngomong updatenya kelamaan ya? Oke deh, sorry deh kalo gitu... namanya juga orang sibuk...#banyakbacot!

Selamat membaca!

Pairing : Natsu D. & Lucy H.

Genre : Humor

Disclaimer : Hiro Mashima

Warning : Warning? Ah lupakan... author sakit perut, bye.

"Hai pemirsa, kita bertemu di acara Natsu The Explorer! Saya Natsu Dragneel bersama kameraman rekan saya, Gray Fullbuster akan menemani anda selama... yaaa... kurang lebih 30 menit lah... tapi pemirsa, sebenernya saya megang kamera ini sendiri lho. Saya gak tau temen saya kemana." Kata Natsu yang celingak-celinguk mencari manusia yang bernama Gray.

Tak lama, terdengar bunyi klakson motor. Natsu menengok ke asal suara. Terlihat Gray yang hampir jatoh gara-gara ada karung di tengah jalan.

"Napa lu?" Tanya Natsu.

"Tuh! Karung ngalangin aja! Udah gua klaksonin masih gak mau minggir juga!" Gerutu Gray sambil mengambil alih kamera.

"Eh! Sampe nenek lu idup lagi juga tuh karung gak bakal gerak! Mau lu klaksonin beribu kali juga kalo gak diambil atau ketiup angin juga gak bakal pindah tuh karung." Kata Natsu yang udah pasrah sama kebodohan rekannya itu.

"Lagian, naro karung di situ!" Gerutu Gray lagi.

"Oke, pemirsa. sekarang rekan saya udah dateng. Kita langsung aja ya. Hari ini kita berdua bakalan dateng ke kampung Pedih Perih! Katanya di situ ada tempat sulam alis yang terkenal! Langsung aja kita pergi ke sana ya! Sekarang saya lagi nunggu bis nih!"

"Nunggu bisnya lama gak?" Tanya Gray.

"Gak. Bentar lagi juga dateng." Jawab Natsu sambil melihat jam tangannya.

Tak lama,bis pun datang ke arah mereka. Mereka pun naik ke bis tujuan kampung Pedih Perih.

"Nih, pemirsa. kalo mau naik bis ke kampung Pedih Perih tuh tarifnya udah ditentuin. 2.000 per orang. Jadi gak usah takut kemahalan pemirsa!" Jelas Natsu. "Waktu tempuhnya sekitar 15 menit dari halte. Di sepanjangan perjalanan kita bisa liat ada lembah yang masih asli, ada warung-warung juga... " Lanjut Natsu.

Gray pun menyorot jendela sebelah kiri tempat mereka duduk.

15 menit kemudian.

"Nah, kita dah sampe nih pemirsa. Sekarang kita udah ada di depan pintu masuk kampung Pedih-Perih. Langsung aja kita ke tempat sulam alisnya." Natsu pun berjalan menuju sebuah rumah penduduk yang lumayan ramai.

"Nih pemirsa tempatnya. Lemayan rame sih... tapi kita tunggu aja." Kata Natsu. Kamera pun dijeda.

"Sekarang giliran saya nih pemirsa!" Kata Natsu sambil bersiap berbaring disebuah kasur yang sedang ia duduki.

Penyulam pun mulai meraba-raba alis Natsu. Kemudian ia mulai mengambil jarum dan peralatan lainnya. Penyulampun mulai menyulam kedua alis Natsu.

"Mas. Sulaman yang cocok buat alis saya kayak gimana ya?" Tanya Natsu.

"Ooh... ini mah cuma dirapiin doang, sama tambahin dikit aja... " Jawab penyulam yang fokus dengan alis Natsu.

"Sakit gak mas?" Tanya Natsu.

"Gak. Kayak digigit semut aja... " Jawab penyulam.

"Yalah... kalo mas jawab sakit, temen saya mana mau disulam alis... " Kata Gray.

Natsu terbangun tiba-tiba. "Apaan? Sakit ya? Bedeh! Gak mau ah!" Kata Natsu yang beranjak turun dari kasur.

"Gak kok mas! Gak sakit! cuma kayak digigit semut aja kok! Masa gak tahan sih..." Kata penyulam itu membujuk Natsu.

Natsu pun dengan was-was tidur kembali ke atas kasur.

Penyulam itu pun kembali memulai sulamannya pada alis Natsu. Beberapa saat suasana di dalam ruangan hening. Mata Natsu melirik ke setiap sudut ruangan. Gray terus menyorot wajah Natsu dan penyulam itu bergantian.

"Mas. Kok alisnya temen saya item-item gitu?" Tanya Gray sengaja untuk menakut-nakuti Natsu.

"Oh... gak. Ini emangnya begini. Nanti dicuci juga ilang... " Jawab penyulam itu dengan santai. "Gimana? Gak sakit kan?" Tanya penyulam itu pada Natsu.

"Gak sih mas. Dikit doang... " Jawab Natsu sambil melihat langit-langit ruangan itu.

"Mas, harga sulaman kayak gini berapa?" Tanya Natsu.

"Harganya dari 50.000 sampai 150.000, tergantung alisnya. Kalau kayak gini 100.000." Jawab penyulam itu sambil mengganti peralatan yang ia gunakan.

"Gray, Gray! Alis gua gimana keliatannya?" Tanya Natsu sambil tersenyum penuh harap.

"Hmmm... bentuknya lumayan. Pas lah sama muka lu." Jawab Gray dengan mulut yang cemberut dan kedua alis yang mengangkat.

"Widih! Gua makin cakep gak?" Tanya Natsu lagi.

"Gak sih kayaknya." Jawab Gray singkat.

Beberapa menit suasana di ruangan itu kembali hening. Natsu tampak tegang saat disulam alis.

30 menit kemudian, Natsu keluar dari ruangan itu. Dia mengelap keringat yang membasahi dahinya.

"Beh... nahan kentut gua di dalem..." Gumam Natsu sambil menghela nafas ringan.

"Nahan kentut? Berarti tadi lu kentut dong!?" Tanya Gray sambil menutup hidungnya.

"Gak bau kok kentut gua... tenang aja... " Kata Natsu santai.

"Napa lu nahan kentut?" Tanya Gray yang masih menutup hidungnya.

"Mungkin muka si penyulam itu merangsang kentut kali ya?" Tebak Natsu asal. "Pemirsa. sekarang kita akan menuju kebun binatang kampung Pedih Perih... kebun binatang ini adalah salah satu tempat wisata yang lemayan terkenal di kampung ini. Untungnya dari sini deket, jadi kita jalan kaki aja ya." Lanjut Natsu.

Gray pun menjeda kamera.

Sekarang Natsu sedang berada di kebun binatang.

"Nih pemirsa! sekarang saya udah ada di kebun binatang kampug Pedih Perih. Kita liat yuk apa aja yanga ada di dalam." Kata Natsu sambil berjalan memasuki kebun binatang sederhana itu.

"Disini suasananya masih asri... masih kayak hutan... tapi hewan-hewan di sini masih dikandangin... kan lebih enak kalau binatangnya di keluarin terus kita bisa main bareng... ya gak Gray?" Tanya Natsu.

"Ya! Bener, bener!" Jawab Gray sambil menaik-turunkan kameranya.

"Liat pemirsa. ada kadal... ada burung... ada koala, ada anjing kampung... " Jelas Natsu.

"Heh! Anjing kampung mah bukan binatang di kebun binatang! Itu mah cuma sembarang masuk aja!" Kata Gray dari balik kamera.

"Lu rekam gua aja, gak usah komentar." Kata Natsu dengan mata yang meredup dan alis yang diangkat-angkat.

"Napa lu angkat-angkat alis? Alis baru? Pamer? Idih, gak banget!" Kata Gray yang merinding kejiji-an.

Kamera dijeda.

"Nah, pemirsa, ada monyet nih..." Kata Natsu yang berniat melihat monyet tersebut dari dekat.

"Dan inilah pemirsa... pertemuan antara buyut dengan cicitnya setelah berjuta abad..." Kata Gray dari balik kamera.

Natsu menatap Gray sinis.

"Nih. Monyetnya bongsor banget nih... " Kata Natsu yang sedang menggenggam pagar besi kandang monyet tersebut.

Monyet itu tampak tidak senang dengan kehadiran Natsu berserta Gray yang memegang kamera. (merasa pernah membaca adegan ini? Ya! Anda betul! Adegan Natsu-Gray di rumah Jellal!)

Monyet itu dengan cepat berlari ke arah Natsu sambil teriak-teriak pake bahasa monyet.

"UWAUWA! UU! AA!" Teriak monyet itu.

"Idih! Astaga! Ada apa sih emangnya sama gua? Sampe-sampe monyet aja gak suka sama gua!?" Tanya Natsu dengan muka sedih ala drama.

"Ckck... sekarang gua bingung... kok Lucy bisa mau sama lu ya?" Tanya Gray.

"Ya dong! Gua kan ganteng... " Kata Natsu pe-de gile.

"Bukan, masalahnya sekarang monyet aja gak suka sama lu, apa nanti Lucy masih suka sama lu?" Tanyanya lagi.

"Diem lu!" Kata Natsu yang sudah kalah dengan perkataan Gray. Ini namanya pembunuhan mental.

"Liat nih... gua coba bersahabat dengan monyet ini... " Gumam Natsu sambil mendekati monyet yang lagi makan pisang itu dengan perlahan.

"Hati-hati bro." Gumam Gray. Natsu menghentikan langkahnya sejenak dan menengok ke arah Gray.

"Tumben lu perhatian sama gua..." Kata Natsu dengan wajah bingung.

"Bukannya perhatian, kalo lu diserang monyet itu, dan luka parah, gua bingung siapa nanti yang jadi host-nya... " Kata Gray dengan wajah super bingung yang sayangnya gak kerekam.

Natsu menatapnya sinis, kemudian melanjutkan langkah banyangannya lagi. Kenapa disebut langkah bayangan? Karena langkahnya perlahan dan gak disadari sama tuh monyet.

"Diem... tenang... dikit lagi... " Gumam Natsu yang deg deg-an kalau-kalau monyet itu tiba-tiba teriak.

Dan benar saja, monyet yang lagi sibuk makan pisang itu tiba-tiba menengok ke arah Natsu. Natsu langsung mematung saat itu juga.

Monyet itu berjalan gagah ke arah Natsu.

"Wah, gua mau diteriakin lagi nih... " Gumam Natsu.

"UWA! UU! AA! UWAWA!" Teriak monyet itu sambil memukul-mukul dadanya.

"Apaan sih! Eh! Gua mau temenan sama lu! Ayolah! Garang amat sih! nanti gua kasih pisang!" Kata Natsu.

Monyet itu malah membuang mukanya sambil menyilangkan tangannya.

"Alah! Sok jual mahal lu!" Kata Natsu. Ia pun mengeluarkan sebuah pisang dari dalam kantung jaketnya.

"Nih... " Kata Natsu sambil menyodorkan pisang itu ke dalam kandang si monyet. Perlahan namun pasti, pisang itu terus mendekat ke arah tangan monyet yang sok jual mahal itu.

Dan akhirnya pisang itu menyentuh tangan monyet itu. Perlahan tapi pasti, monyet itu melirik-lirik pisang itu sembunyi-sembunyi. Tangannya mulai menggapai pisang itu. Dan saat jarak antara jarinya dengan pisang itu hanya 1 cm, tiba-tiba Natsu menarik pisang itu sampai keluar kandangnya. Monyet itu menatapnya.

"Iih... mau banget ya... ?" Tanya Natsu dengan nada mengejek-menggoda si monyet.

"Eh, kok lu malah maen sama monyet sih?" Tanya Gray yang heran dengan tingkah laku Natsu yang menggoda monyet itu dengan pisang.

"Eh! Seru tau!" Kata Natsu yang terus memasukkan dan mengeluarkan pisang itu dari kandang monyet itu.

Monyet itu tampak lelah dengan wajah yang kesal.

"Napa? Udah capek? Nih, gua kasih... " Kata Natsu dengan wajah sombong.

Monyet itu pun tersenyum dengan wajah yang kelelahan, tangannya menggapai pisang itu. Namun naas, Natsu menarik kembali pisang itu, membuat tangan monyet yang sudah lemas itu terjatuh sia-sia.

"Hahai! Mau banget ya sama pisang ini? Ya udah nih gua kasih!" Kata Natsu yang melempar pisang itu ke dalam kandang.

Monyet itu berjalan lemas ke arah pisang itu lalu duduk sambil mengupas kulitnya.

"Katanya mau temenan? Tapi malah dikerjain... " Kata Gray sambil geleng-geleng.

"Itu monyet mah lebih cocok dikerjain daripada dijadiin temen!" Kata Natsu yang berjalan dengan wajah kemenangan.

"Ya udah, pemirsa. sekian dulu episode Natsu The Explorer, kalo ada episode lanjutannya, nih video bakalan lanjut, tapi kalo gak, berarti udah tamat. Oke? Sampai jumpa lagi!" Kata Natsu sambil lambai-lambai tangan.

TV LCD 90 inch itu dimatikan oleh Natsu karena layar sudah mengeluarkan tulisan 'resume', 'menu', dan 'play again' yang menandakan kalau video itu telah habis.

"Eh! Bikin lagi yuk! Lanjutin!" Kata Natsu.

"Iiih... ketagihan dia... idih..." Kata Gray dan Jellal sambil menunjuk Natsu dengan wajah mereka yang kejiji-an.

"Dapet duit juga ngak... ngapain dilanjutin? Dimana-mana orang biki talk show mah dapet duit kek biar semangat..." Ujar Mavis yang lagi tidur-tiduran di sofa.

"Ya udah, lain kali aja. Sekarang kita masukin video ini ke CD, biar kalo mau nonton gak repot musti buka kamera lagi... " Kata Natsu.

"Oh, ya udah... masukkin aja sekarang... " Kata Lucy.

"Gray, cabut tuh kabelnya." Kata Natsu pada Gray yang berdiri dekat TV.

Natsu pun menggulung kabel itu dan memasukkannya ke dalam tas.

"Eh, lu semua... " Panggil Natsu. Semua yang dipanggil Natsu itu pun nengok.

"Cara masukkin video ini ke dalam CD gimana?" Tanya Natsu.

OWARI

Haii! Rasanya tumben author gak publish...

Oh iya, sedikit bocoran untuk readers, author itu selalu mempublish fic itu hari jumat pada malam hari lho... biasanya tengah malem... kenapa? Soalnya author selesai bikin ficnya jam segitu sih...

Oke, akhir kata,

Jangan lupa review! :D