Matahari memberikan warna jingga yang indah dari ujung barat menandakan hari telah menginjak waktu sore, membuat hewan malam mulai keluar dari sarangnya.

Baekhyun menatap jendela kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati. Dirinya banyak melamun sejak sampai dirumah, ini sudah beberapa jam setelah dirinya meninggalkan Chanhyun.

Apa yang dimakan? Apa Chanyeol bisa mengurusnya di hutan? Begitulah pikirnya, Tapi Baekhyun juga berusaha melupakan hal yang berkaitan dengan Chanyeol. Ia tidak boleh mengingat-ngingat hal itu atau Sehun akan kecewa mengetahui dirinya mengaharapkan bayi itu. Walaupun hatinya perih menginginkan buah hatinya disini.

Tok tok tok

"Baekhyunie?" Ayahnya memanggil dirinya dari luar, "Baby, Boleh appa masuk?"

Tuan Byun diberi tahu mengenai kepulangan anaknya yang sejak tadi hanya berdiam di kamar, membuat istrinya khawatir apalagi setelah menangis tadi. Jelas suaminya itu senang anaknya yang dulu manja yang ia rindukan kini dirumah. Tapi hatinya juga kecewa karena anaknya lebih mengutamakan egonya bersama Sehun dari pada anaknya.

Baekhyun membuka pintunya, "Appa." Baekhyun langsung memeluk ayahnya erat, "Aku merindukan appa."

"Appa juga nak."Ayahnya tersenyum membalas pelukan anaknya. Ayahnya lalu melepas pelukannya menatap wajah anaknya, "Semuanya baik-baik saja kan? Kau tampak murung."

Baekhyun berusaha tersenyum, "Ya appa."

Tuan Byun tidak ingin menanyakan soal alpha dan cucunya, dari cerita istrinya anaknya menangis di karenakan bayinya, ia yakin Baekhyun sangat menyanyangi bayinya. Tuan Byun tidak ingin membuat pertahanan anaknya runtuh kembali, jadi ia menyimpan rasa penasaraan akan sosok cucunya.

"Ayo kita nikmati udara sore dengan meminum teh di belakang rumah." Ajak Tuan Byun membuat Baekhyun menganggukan kepalanya menyetujui.

Ayah dan anak itu duduk menikmati semilir angin sore dibelakang rumah.

Tuan Byun menyesap tehnya, "Apa yang kau rencanakan selanjutnya?"

"Seperti rencana awal, Appa. Aku tidak ingin mengecewakan Sehun yang sudah menungguku dengan sabar." Terang Baekhyun, Baekhyun hanya menatap kosong menggenggam gelas berisi tehnya.

Tuan Byun menganguk, "Ayah tidak menyukainya. Apakah kau masih akan memilih Sehun?" Tanyanya.

Baekhyun menengok, melihat wajah ayahnya yang menatap kedepan, "Maafkan aku appa." Baekhyun menunduk tidak ingin melihat kekecewaan diwajah ayahnya.

"Appa sudah lelah memperingatimu." Balas ayahnya.

Setelahnya hanya keheningan yang menyelimuti mereka, dengan pemikiran mereka sendiri. Beberapa menit berlalu dengan saling berdiam, Tuan Byun mengintrupsi.

"Ayo masuk ini sudah akan memasuki malam."

Ayahnya bangkit mengajak Baekhyun memasuki rumah.

Baekhyun hanya mengangguk, "Appa masuk lebih dulu saja. Aku masih ingin disini."

Ayahnya mengangguk lalu berlalu dari sana, meninggalkan anaknya.

...

...

...

...

...

Saat ini Chanyeol tengah menyalakan api unggun dibawah rumah pohonnya. Agar bayinya merasa hangat. Chanyeol tidak bisa melakukan banyak aktivitas seperti biasanya. Dia harus menjaga bayinya, saat terbangun dipagi hari Chanhyun terbangun tapi tidak menangis, matanya menatap kesana-kemari lalu tertidur kembali, tapi siangnya Chanhyun baru menangis merasa lapar. Di hari-hari lalu ketika Chanhyun menangis karena lapar ada Baekhyun yang akan menanganinya.

Chanyeol hanya bisa menimang-nimangnya lalu menidurkan kembali, dirinya bingung apa yang bisa dimakan bayi 1 bulan, jelas ia tidak tahu karena yang ia tahu hanya asi yang bisa di konsumsi para bayi.

Bayi yang berumur 1 bulan seperti Chanhyun, belum bisa melakukan banyak hal dan lebih dari separuh harinya dihabiskan untuk tidur. Siklus tidurnya belum normal kadang terlelap disiang hari dan terjaga di malam hari. Hal ini disebabkan bayi seperti Chanhyun belum memiliki konsep jelas tentang malam hari. Kemampuan panca indranya pun baru memperlihatkan beberapa kemampuan seperti penglihatanylnta mencari sumber cahaya dan wajah sosok yang melahirkannya meski belum fokus. Sedangkan pendengarannya sudah mengenali suara ibunya dan suara-suara tinggi.

Sedang dalam komunikasi bayi berumur di bulan pertama memiliki satu mode komunikasi taitu menangis. Menangis adalah cara bayi untuk mengatakan, "Aku lapar" , "Aku ingin pipis" , Aku lelah" , dan sebagainya.

Seperti halnya sekarang contohnya, Chanhyun mulai menangis terus-menerus sejak sore tadi dan ini sudah jam 7 malam. Bahkan, suara tangisan Chanhyun sudah tidak bisa terdengar saat ini.

Chanyeol sudah mengecek apakah bayinya itu buang air besar atau tidak. Hanya satu jawaban yang dia dapatkan dengan pasti sejak tadi, Chanhyun haus dan lapar.

"Suttt please baby. Jangan menangis terus." Chanyeol mencoba menenangkan bayinya.

"Heii.. heii berhenti kau akan sakit jika terus menangis baby." Chanyeol mencoba memberikan air putih tapi bayinya menolak dan terus menangis. Chanyeol akhirnya mengajaknya keluar rumah menenangkan bayinya, terlihat bayinya mulai tenang menatap lampu yang menerangi pintu.

Chanyeol prustasi ia memakai pakaian rajut yang pernah Baekhyun buat untuknya, "Aku tidak akan mungkin membiarkan anakku seperti ini terus."

Chanyeol sudah bertekad akan menyusul Baekhyun yang tadi pagi pergi ke kota bersama kekasihnya, ia akan mencium dan mengikuti aroma Baekhyun. Ia tidak peduli apabila Baekhyun marah karena ia tidak ingin terjadi sesuatu yang pada bayinya yang masih kecil.

Lalu ia bawa bayinya yang terus menangis dari sore itu sampai memerah, bayinya dia bungkus dengan bulu kelinci, agar terhindar dari angin malam, tak lupa kepala Chanhyun memakai kerpusan.

Chanyeol merubah wujudnya menjadi werewolf, karena wujud itu berfungsi untuk berlari cepat, bertarung dan berburu. Chanyeol membawa bayinya terdiam menggunakan mulutnya.

Matanya menatap sekeliling hutan, lalu mulai berlari dengan sangat cepat, larinya bisa mencapai 60/jam saat dirinya memang benar-benar berlari. Ia berlari tanpa melihat kesana kemari dia focus pada tujuannya dengan mengikuti aroma Baekhyun tadi. Bayinya yang terbungkus tampak tenang dalam gendongan ayahnya yang berbentuk serigala tidak merasa terusik akan ayahnya yang berlari cepat atau karena udara malam yang terasa dingin di hutan.

...

...

...

...

...

Sehun tengah memikirkan pemutusan ikatan kekasihnya, hari apa yang cocok untuk pemutusan itu. Dia benar-benar tidak sabar akan hari esok.

"Aku harus membicarakan ini dengan Baekhyun, agar segera dilaksanakan." Sehun mengusap dagunya , "Baby, sebentar lagi kau akan menjadi milikku." Senyum aneh Sehun sematkan mengingat hari-hari lalu Baekhyun selalu menolak maka ketika menjadi miliknya tidak ada alasan untuk Baekhyun menolak lagi dirinya.

Sehun mengambil handphonenya lalu mengirimkan chat pada Baekhyun.

.To: Baby Baek.

Baby

To: Baby Baek

Kau sudah tidur? Apa yang kau lakukan?

From: Baby Baek

Aku hanya berdiam saja.

To: Baby Baek

Baby kau tidurlah.

...

..

Ini sudah jam 11 malam tapi ia belum bisa tidur, sedangkan ayah dan ibunya sudah tertidur lelap. Ia merasa tidak tenang dan dadanya terasa sakit karena tidak membuang asi yang harusnya ia diberikan pada anaknya.

Cling

Terdengar bunyi handphonenya, balasan dari kekasihnya.

From: Sehunie Sarang.

Baby kau tidurlah.

To: Sehunie Sarang

Aku tidak bisa tidur, Baby.

From: Sehunie Sarang

Apa perlu aku kerumahmu untuk menemanimu?

To: Sehunie Sarang

Tidak perlu, aku akan berusaha memejamkan mataku.

From: Sehunie Sarang

Baiklah, kau harus istirahat kembali pasti kau lelah setelah perjalanan tadi pagi. Selamat malam Baby.

To: Sehunie Sarang

Ya... Selamat malam.

Baekhyun menyimpan handphonenya setelah bertukar pesan berusaha menutup matanya, ia mengubah posisi tidur menjadi menyamping, lalu mengubahnya kembali menjadi posisi telungkup.

Ting tong Ting tong

Baekhyun terduduk mendengar suara bell berbunyi, "Siapa orang yang bertamu di jam malam seperti ini."

Baekhyun bangkit untuk membuka pintu sambil mendumel kesal, dirinya tidak bisa tidur lalu ada tamu ditengah malam atau jangan-jangan itu Sehun.

Baekhyun mengendus udara karena aroma ini sangat kuat dan mengingatkannya pada seseorang, Baekhyun langsung mempercepatkan langkahnya menghampiri pintu, ia turun menuju lantai bawah dengan sedikit berlari, berharap apa yang dia pikirkan tidak benar akan seseorang itu.

.

.

.

.

Chanyeol berada di jalur hutan, ia tidak mengambil jalur perkotaan karena akan membahayakan dirinya dan bayinya jika dia berada dalam bentuk werewolf. Sekarang ia semakin dekat dengan kediaman Baekhyun dari aromanya yang semakin dekat akan semakin kuat.

Sampailah ia disebuah perumahan dengan aroma Baekhyun berasal dari salah satu rumah didepannya, bayinya ia letakan di pijakan lalu ia mengubah wujudnya menjadi manusia kembali tengah menekuk lututnya mengenai tanah.

Chanyeol cepat-cepat membawa kembali bayinya, ia menatap bangunan didepannya. Ia yakin ini adalah rumah Baekhyun. Chanyeol berjalan mendekati kediaman Baekhyun.

Chanyeol menekan bell sebanyak dua kali, menunggu disana lalu menatap pada pangkuan tangannya, ia mengusap wajah Chanhyun pelan.

"Kau akan mendapatkan asimu kembali." Bisiknya pada sang bayi. Bayi itu terusik menggeliat pelan tapi tidak sampai terbangun, Chanhyun terlihat nyaman dalam dekapan ayahnya menggeliat pelan.

Cleck

"Chanyeol..." Baekhyun berucap pelan menatap terkejut pada Chanyeol, pintu itu ia buka dan benar akan dugaannya, Chanyeol disini bersama bayinya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun bertanya-tanya untuk apa Chanyeol menyusul dirinya bahkan sampai kerumahnya ini.

"Baek.. Chanhyun menangis tanpa henti sejak sore tadi dan baru tertidur saat aku akan menuju kemari. tolonglah beri dia asi. Aku mohon." Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan memelas, berharap mendapat empati darinya.

Baekhyun mendengar itu meremas daun pintu, "K-kau bisa membeli susu formula untuknya." Bibir Baekhyun bergetar saat mengucapkan hal itu sambil menatap bayinya.

Baekhyun memejamkan matanya menguatkan dirinya, "Jika dia terus bergantung padaku, aku tidak akan bisa lepas darinya, Chanyeol. Dan itu bisa membuat Sehun kecewa!." Baekhyun memalingkan tatapannya kelain arah, ia tidak mau melihat wajah kekecewaan Chanyeol atau wajah damai bayinya. Itu akan membuatnya lemah.

Brakkkk

Baekhyun berbalik masuk lalu menutup pintu dengan keras, hal itu membuat Chanhyun terkejut lalu menangis.

Oaaa oaaa oaaaa

Suaranya sangat menyedihkan, suaranya sudah seperti anak kucing meminta asi pada sang ibu yang pergi berkelana mencari makan.

"Sutt sutt please... hey... kau akan sakit jika terus-terusan seperti ini." Chanyeol mencoba menenangkan bayinya, ia ayun-ayunkan pelan agar Chanhyun kembali tenang. Tapi Chanhyun masihlah terus menangis.

Chanyeol mengacak rambutnya menggunakan tangan satuanya sedang bayinya ada ditangan satunya tidak berhenti menangis. Mata Chanyeol ikut memerah menahan emosi dalam hatinya, kecewa, sedih, bingung dan marah menjadi satu dalam perasaannya dia tidak memiliki uang, rumah orangtuanya jauh dari sini.

"Baek, aku mohon padamu. Aku tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli susu untuk Chanhyun." Chanyeol mencoba berbicara berharap Baekhyun masih dibalik pintu atau bisa mendengar apa yang ia katakan.

Ia berusaha berkomunikasi lewat batin dengan Baekhyun, tapi Baekhyun selalu memblokirnya.

Baekhyun berada didalam menghapus airmatanya lalu berlalu menaiki tangga menuju kamarnya, mengabaikan Chanyeol disana yang terus-terusan berusaha menghubunginya lewat telepati ikatan mereka.

"Baekhyun, please ayolahh..." ia frustasi karena terus ditolak, "Baby~ Daddy mohon tenang." Chanyeol menatap cemas Chanhyun, saat mendengar suara pintu tengah membuka kunci Chanyeol semangat berbalik, senang Baekhyun mungkin masih memiliki hati untuk bayinya.

Cleck

"Baek-" Senyum Chanyeol menghilang, ia membungkuk hormat pada pria paruhbaya yang baru saja membuka pintunya.

"Anda siapa?" Tuan Byun keluar saat mendengar gaduh dari luar. Tuan Byun melirik bayi dalam gendongan lelaki dewasa didepannya.

"Selamat malam Tuan Byun. Saya adalah alpha dari putra anda juga saya kemari karena bayi ini menangis terus sejak ditinggal Baekhyun. Dan semakin parah saat sore tadi, dia belum mendapat asupan makanannya, hanya air putih yang coba saya berikan itupun hanya sedikit yang masuk karena dia terus menolak. aku mohon bantu aku tuan." Chanyeol menjelaskan dengan cepat dan sangat jelas bagaimana keadaan bayinya, ia berharap bisa mendapat bantuan dari tuan Byun untuk membujuk putranya, Baekhyun.

Tuan Byun langsung menatap bayi yang dimaksud lelaki itu, yang masih menangis dari tadi dengan pelan, membuat Tuan Byun baru menyadari, "Aku akan berusaha membujuk anakku. Ayo masuk, nak." Tuan Byun mempersilahkan alpha dan anaknya lalu ia menutup pintu membiarkan alpha muda itu duduk di sofa.

Tuan Byun berjalan menaiki tangga menuju kamar Baekhyun berada.

Tok tok tok

"Baekhyunie." Tuan Byun mengentuk pintu kamar putranya dan berusaba memanggilnya keluar.

"Nak."

"Baby... buka pintunya. Appa ingin bicara." Panggilan ke dua dan ketiga masih tidak mendapat sahutan dari Baekhyun.

"Baekhyunie." Panggilnya kembali, terdengar suara langkah Baekhyun mendekati pintu.

"Kenapa appa?" Baekhyun menatap appanya dengan mata sembab. Terlihat jelas ia tengah menangis.

"Berilah anakmu asi, apa kamu tidak kasihan, nak?" Appa mulai berbicara pada intinya karena bayi itu harus segera mendapat asinya.

"Aku... tidak mau, appa. Hiks.. Bagaimana dengan Sehun jika dia tahu alpha dan bayiku menyusul kesini?" Baekhyun memalingkan wajahnya saat dirasa airmata jatuh dari pelupuk matanya.

"Sehun... Sehun... Sehun yang kau pikirkan. Itu sangat keterlaluan, dia anakmu. Dia masih bayi suara tangisnya bahkan tidak terdengar karena habis saking banyaknya ia menangis." Setelah mengatakan itu, tuan Byun berbalik menuruni tangga mengabaikan Baekhyun yang menangis. Ia sungguh kecewa pada sikap anaknya yang seperti ini. Mengabaikan bayinya hanya demi alpha yang tidak dia ketahui bagaimana aslinya.

Tuan Byun langsung menghampiri Chanyeol, "Appa akan membeli susu formula, berapa usia cucuku itu? Tuan Byun menyentuh lembut pipi cucunya yang sekarang tenang dengan menatap pada sesuatu yang terang.

"1 bulan, Tuan." Balas Chanyeol menatap gemas bayinya yang baru saja menguap dengan lucu.

"Panggil aku appa, kau anakku sekarang." Ucapan itu membuat Chanyeol bisa merasakan hangat dihatinya, Chanyeol mengangguk memberikan jawaban.

15 menit Tuan Byun kembali datang dengan kantong putih berisi susu formula dengan botol dots bayi. Mereka mencoba melihat cara membuatnya dalam kemasan setelah panasnya terasa pas. Susu itu akhirnya diberikan pada bayinya, Chanhyun menghisap susu itu, tidak lama Chanhyun menutup matanya kembali kembali tertidur.

"Tidurkanlah ia di kamar tamu." Mereka berjalan menuju kamar tamu, tapi diperjalanan Chanhyun memuntahkan susu itu lalu bayi itu mulai kejang-kejang.

"Astaga!!" Chanyeol menatap bayinya panik saat bayinya muntah dan kejang-kejang. Chanyeol menyentuh bayinya yang mulai terasa dingin, ia membuka sedikit baju Chanhyun lalu melihat ruam biru-biru disana.

"Bagaimana ini? Chanhyun kenapa?" Chanyeol sudah mengeluarkan keringat dingin, ia semakin mendekap bayinya sangat erat.

"Please Chanhyun jangan tinggalkan daddy." Chanyeol berbisik lirih, sedih melihat keadaan bayinya yang terdiam.

Tuan Byun berlari menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil miliknya, mereka akan pergi kerumah sakit untuk mengetahui keadaan cucunya, "Ayo, kita harus kerumah sakit." Dan mereka berjalan cepat menuju keluar.

Baekhyun yang terduduk didepan pintu kamarnya langsung bangun saat mendengar ribu-ribut dibawah. Terakhir yang ia lihat appa dan Chanyeol berjalan cepat keluar. Baekhyun mengusap air matanya lalu menyusul mereka dengan berlari menuruni tangga.

"Ada apa?!" Baekhyun melihat wajah Chayeol sudah pucat pasi sedangkan appanya berkeringat dingin dan terlihat sangat buru-buru.

Mereka mengabaikan Baekhyun, dan tuan Byun langsung masuk kedalam mobil, tapi Baekhyun menahan pintu mobil menuntut jawaban dari appanya.

"Appa yang terjadi appa?!" Baekhyun sedikit meninggikan suaranya tanda bahwa ia juga perlu tahu.

"Bayimu mendingin setelah mengalami muntah lalu kejang-kejang. Appa sekarang akan pergi kerumah sakit."

Deg deg deg

Baekhyun terdiam tangannya langsung melemas membiarkan pintu itu tertutup. Baekhyun berdegup kencang dengan kalap Baekhyun menghadang mobil appanya yang sudah melaju dan akan keluar dari halaman.

"Baby. Minggirlah kita sedang terburu!"

Tuan Byun merasa marah dengan kelakuan anaknya, hatinya sudah tidak tenang dan anaknya malah menahannya membuat waktu terbuang sia-sia. Baekhyun langsung masuk kedalam mobil, ia duduk di samping kemudi. Mobil itu melesat melaju dengan kencang.

Baekhyun meremas tangannya yang terasa dingin, ia melirik kebelakang menatap Chanyeol tengah menepuk pelan pipi bayi sambil membisikan sesuatu membangunkan bayi mereka. Melihat itu Baekhyun semakin kalut, ia ingat tadi ia menolak memberikan asi pada bayinya, sekarang ia melihat bayinya saat ini hanya terdiam tanpa bernafas.

Baekhyun memejamkan matanya, mengepalkan tangannya ia juga ingin memeluk Chanhyun dan membisikan kata-kata bahwa ia menyanyangi Chanhyun.

.

.

.

...

Baekhyun duduk di kursi yang tersedia disana untuk menunggu, keringat dingin tidak berhenti keluar dia memeluk dirinya sendiri menguatkan dirinya, ia memikirkan bayinya yang berada diruang ICU sendirian. Baru pagi tadi dia meninggalkan Chanhyun, belum genap 24 jam dia tinggalkan dan lihat apa yang terjadi pada bayinya.

Baekhyun mengusap air matanya yang jatuh kembali, ia menggigit bibirnya tidak bisa menahan perasaan bersalah yang menderanya. Baekhyun akan terus menyalahkan dirinya jika terjadi sesuatu pada bayi kecilnya.

Tuan Byun mendekat pada anaknya, "Sudahlah, Baekhyunie. Semua akan baik-baik saja. Yakinlah" tuan Byun mencoba memberikan ketenangan tapi tetap saja Baekhyun tidak bisa merasa tenang.

Chanyeol duduk agak jauh dari tempat Baekhyun menunduk menatap pijakan dengan tatapan kosong. Ia sangatlah bodoh dan merasa tidak becus mengurus Chanhyun, ia tidak bisa menjaga anaknya. Chanyeol merasa frustasi akan keadaan mengusap wajahnya kasar.

Tuan Byun melihat pasangan anaknya yang sama-sama menyalahkan diri mereka masing-masing atas apa yang menimpa Chanhyun. Tuan Byun mendekat pada Chanyeol menepuk bahu Chanyeol memberinya kekuatan.

Chanyeol melepas tangannya dari wajah ketika merasakan sebuah tepukan, ia mendongak lalu tersenyum pada Tuan Byun.

Mereka menunggu dalam keheningan, mereka tidak akan bisa tenang sebelum dokter memberitahukan keadaan bayi malang itu.

Drtttt drrrtt drrrrttt

Bunyi getaran yang berasal dari handphone tuan Byun, ia bangkit ketika melihat layar istrinyalah yang menelfon, "Hallo?"

"Kau dimana? Kenapa Baekhyunie dan kamu tidak berada di rumah?" Tanya sang istri terdengar dari suaranya, ia khawatir.

"Aku tengah berada di rumah sakit bersama Baekhyun, anaknya menyusul kemari bersama pasangannya dan bayi itu masuk rumah sakit. Cepatlah kemari aku akan memberitahukan alamatnya lewat chat dan bawa pakaian hangat untuk Baekhyunie." Terang Tuan Byun.

Mendengar kata 'anaknya menyusul bersama pasangannya' sudah dipastikan itu adalah cucunya, langsung terdengar ribut disebrang telepon. Bisa dibayangkan oleh tuan Byun bahwa istrinya langsung bergegas kemari dengan tergesa.

"Baik sayang. Aku akan menyusul kesana."

Tut tut tut

Sambungan itu terputus, bertepatan dengan seorang dokter keluar dari ruang ICU.

Chanyeol bergegas mendekati dokter, "Bagaimana dengan putraku?" Chanyeol menatap cemas dan langsung bertanya dengan panik, ingin segera mengetahui keadaan putranya.

Hal ini tidak berbeda jauh dengan Baekhyun, Baekhyun menggenggam erat pakaian bagian bawahnya menunggu sebuah jawaban.

"Cepatlah katakan!" Baekhyun sudah tidak sabar karena dokter hanya diam sambil menghela nafas dalam.

Sebelum menjawab dokter menatap Baekhyun dan Chanyeol, " Apakah kalian orangtua bayi?" Pertanyaan itu mendapat anggukan dari mereka.

"Apakah bayi itu diberi air putih dan susu formula? Kenapa bayi berusia dini tidak beri asi?" Pertanyaan itu membuat Baekhyun menunduk merasa bersalah, sedang tuan Byun dan Chanyeol mengangguk mengiyakan.

Sang dokter menghela nafasnya kembali setelah mendapati jawaban, "Bayi yang baru lahir tidak boleh diberi air putih atau mengencerkan susu formula hal ini dapat mengundang resiko keracunan air pada bayi karena perut kecilnya hanya bisa menerima asi. Hal ini bisa disebut intoksifikasi air, yaitu kondisi ketika kadar garam dalam darah turun drastis ke level yang terlalu rendah sehingga mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh dan dapat memengaruhi fungsi otak dan jantung. Tolong jangan beri bayi berusia dibawah 6 bulan air putih." Jelas sang dokter.

Mendengar hal itu Chanyeol bertanya kembali, "Lalu bagaimana keadaan bayi kami sekarang?"

Dokter tersenyum menenangkan, "Bayi itu sudah mendapat perawatan, untung saja bayi itu segera ditangani sehingga tidak membahayakan nyawanya dan sekarang bayi itu berada di ruang rawat khusus . Sekali lagi, tolong beri bayi itu asi sebagai bentuk perhatiannya, bukan air atau susu formula. Saya permisi." Setelah menjelaskan sang dokterpun pamit undur diri.

"Hah... " Chanyeol duduk dikursi tunggu, melepas penat dan sesak di dadanya yang menumpuk setelah apa yang dokter ujarkan. Baekhyun hanya berdiri disana malu untuk memulai sesuatu karena ini dari perbuatannya

Chanyeol menatap kasihan pada Baekhyun "Duduklah."

Baekhyun menggigit bibirnya saat dirasa bergetar. Chanyeol bangkit dari duduknya, lalu membawa Baekhyun kepelukan mengusap punggung Baekhyun, menenangkan agar Baekhyun berhenti menangis dan berhenti menyalahkan dirinya.

"Ini bukan salahmu, ini karena takdir kita yang begitu rumit. Aku mengerti akan keadaanmu yang pasti bingung akan keadaan."

Baekhyun malah menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol meredam tangisan kekecewaan, ia meremas pakaian Chanyeol.

.

..

.

.

.

..

.

Pagi ini sangat cerah dari hari-hari biasanya, matahari tampak semangat menyinari bumi seolah ia berada di pihak Sehun. Karena hari ini hari pertama ia dan kekasihnya akan memulai kembali kenangan yang sudah lama tidak mereka lakukan.

Sehun memperbaiki tampilan rambutnya, wajahnya tampak segar seperti ia terlahir kembali berbeda di hari-hari kemarin tanpa kekasihnya.

Sehun mengambil jam tangan untuk ia gunakan di tangan kirinya, "Kita akan memulai kembali."

Sehun menutup apartementnya berjalan mendekati lift.

Ting tong

Sehun menunggu dengan senyum yang masih berada di wajahnya, tak pernah pudar menemani perasaan berbunganya.

Tapi, 15 menit berlalu tidak ada tanda-tanda seseorang akan membuka pintu, "Apakah baby masih tidur?" Bertanya pada dirinya sendiri.

Karena Baekhyun semalam sulit untuk tertidur, mungkin hal itu membuat Baekhyun masih menikmati tidurnya, sedang orangtua Baekhyun pasti telah pergi bekerja.

Cleck

Sehun melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 10 pagi, Sehun langsung menengadah untuk melihat siapa gerangan yang membuka pintu.

"Eomma?" Sehun tersenyum sambil menatap heran eomma Byun. Biasanya di waktu seperti ini orangtua Baekhyun bekerja, ia juga melihat eomma Byun membawa tas besar.

"Sehunie? Maafkan eomma, eomma tidak mendengar bunyi bell, eomma kira tidak ada tamu." Eomma Byun menatap terkejut Sehun lalu tersenyum setelahnya.

"Apa sehunie akan menemui Baekhyunie?" Tanyanya, ia membelakangi Sehun untuk mengunci pintu, tampaknya ia akan pergi.

"Iya eomma, apa Baekhyunie masih tertidur? Dan apa yang eomma bawa?" Tanya Sehun penasaran, saat melihat eomma Byun malah mengunci pintunya sambil membawa tas.

"Baekhyunie saat ini berada dirumah sakit karena anaknya, Chanhyunie harus mendapat perawatan. Eomma juga akan kembali kesana sekarang membawa pakaian ganti untuk yang tengaj tunggu disana. Kau ingin ikut bersama eomma?" Ucapan itu menyurutkan senyuman Sehun.

Senyum yang sejak tadi terpasang langsung pergi meninggalkan wajah tampan Sehun.

"Anaknya?" Tanya Sehun mengulang apa yang membuat senyumnya menghilang, entah ia salah mendengar apa yang eomma Byun katakan mungkin, tapi tatapan empati eomma Byun yang dilayangkan padanya sudah bisa menjawab apa yang ia tanyakan.

.

..

...

...

...

Sehun menarik lengan Baekhyun menjauh dari sana menuju taman rumah sakit yang sedikit lebih sepi.

"Apa ini?! Kau membiarkan mereka kembali?!!"

Sehun melepaskan cengkramannya pada lengan Baekhyun menatap marah atas apa yang terjadi. Siapa yang tidak akan kecewa, mereka baru akan memulai kembali kasih dan seseorang yang tidak diharapkan dalam hubungan mereka kembali hadir yang bahkan baru kemarin mereka tinggal.

"Sehunie. Dia anakku, aku tidak bisa begitu saja mengabaikannya saat keadaannya seperti ini. Aku mohon biarkan dia bersama kita."

Baekhyun berusaha meraih tangan Sehun, ia ingin menggenggamnya meminta pengertian atas apa yang terjadi, tapi Sehun menghempaskannya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Sehun marah dan itu membuatnya sedih karena ia yang membuat Sehun seperti ini.

Sehun menatap kearah Baekhyun, "Kau tahu. Aku tidak akan sudi dia ada diantara kita!" Bentaknya.

"Ini bukan salahnya."

Suara baritone tiba-tiba menyeruak diantara mereka membuat mereka berbalik menatapnya. Sehun langsung menatap pria itu dengan tajam, terlihat dari tatapannya hanya kebencian yang dilayangkan Sehun.

Sehun langsung menerjang Chanyeol mendorongnya hingga terhempas ke tanah lalu memberinya beberapa pukulan, meluapkan perasaan bencinya pada lelaki itu. Chanyeol hanya diam menerima pukulan itu dengan lapang dada.

"Sialan! Kau dan bayimu adalah sialan! Jika saja kalian tidak hadir diantara hubunganku dengan kekasihku ini tidak akan serumit ini!!" Sehun meremas kerah lelaki dibawahnya dengan erat.

Baekhyun sedari tadi sudah berusaha memisahkan Sehun dari Chanyeol.

"Cukup sehun!! Berhenti!!!" Baekhyun berteriak dengan keras karena panggilan sejak tadi ia layangkan tidak mereka hiraukan, ia menarik sehun dengan cukup kuat. Dan berhasil.

Baekhyun melirik Chanyeol sebentar lalu menuntun Sehun pergi dari sana. Baekhyun menatap Sehun, ia berucap pelan, "Ayo Sehunie."

"Baek."

Chanyeol memanggil dari belakang mengentikan langkah mereka, Baekhyun berbalik menatap dengan tatapan bertanya sedang Sehun semakin merasa panas dihatinya ingin kembali menyerang jika saja Baekhyun tidak mencengkram lengannya dan memberikannya usapan pelan disana.

Chanyeol mendekati mereka lalu membuang nafasnya dengan keras, " Aku akan membawa Chanhyun pada keluargaku ketika ia sembuh nanti, kau tidak perlu bertanggung jawab."

Hal ini menuai dua reaksi berbeda, Sehun menatap Chanyeonl terselip rasa puas dengan tatapan mengejeknya Sedang Baekhyun menatap dengan mata sedikit membesar, terkejut atas apa yang Chanyeol ujarkan, "Tidak bisa, Chanyeol. Chanhyun membutuhkan aku!" Nada bicara Baekhyun sedikit meninggi tidak terima hingga mendapat protesan dari Sehun yang tidak menyukai perkataan Baekhyun.

"Kau tidak bisa seperti itu Chanyeol! Dan Sehunie aku tidak akan peduli, kau akan menerima bayiku atau tidak aku akan tetap menjaganya!" Baekhyun berbalik menatap Chanyeol yang juga menatapnya, bibir Baekhyun bergetar menolak keputusan sepihak Chanyeol.

"Seperti kesepakatan awal. Aku dan bayiku tidak akan mengganggu hubungan kalian. Bayiku akan mendapat asi tapi bukan darimu."

Chanyeol berlalu dari sana sebelum akhirnya Baekhyun memegang erat lengan Chanyeol meminta berbalik menatap padanya, ia menggeleng-gekengkan kepalanya acak, "Jangan Chanyeol! Biarkan dia bersamaku."

"Apa-apaan ini Baekhyun?" Sehun mendekat berusaha membawa Baekhyun menjauh dari Chanyeol.

"Kau tidak mengerti perasaanku seperti apa hiks. Kau tidak mengerti."

Sehun mengangkat tangan tanda menyerah, "Baik... kau boleh bersama bayinya. Tapi jangan harap nanti ia akan aku anggap anakku. Karena prinsipkku masih sama kita dan anak kita."

Chanyeol menatap Baekhyun yang tengah menagis sambil menundukan kepalanya, "Aku mengikuti apa katamu supaya tidak menganggu khidupanmu. Baik... baikkk bayi itu boleh barsamamu tapi keluargaku perlu tahu keberadaannya."

Ucapan itu membuat Baekhyun mengangkat kepalanya, Sehun hanya memutar bola matanya kesal akan keputusan itu.

"Pemutusan itu akan aku lakukan secepatnya juga." Lanjut Chanyeol.

Baekhyun menatap dalam Chanyeol, ia menggulirkan tatapannya supaya tidak menatap Chanyeol. Hatinya entah kenapa tidak tenang, tapi ia menekan itu semua jadi ia mengangguk.

"Bagus! Ayo!" Sehun menarik Baekhyun pergi menjauh dari Chanyeol setelah Baekhyun mengangguk menyetujui meninggalkan Chanyeol yang masih menatapnya sampai ia tak terlihat.

...

...

...

...

...

...

Perkembangan Chanhyun meningkat drastis, tubuhnya telah memerah kembali dan hangat. Hanya membutuhkan pemeriksaan rutin kerumah sakit agar Chanhyun dapat sembuh total.

Chanyeol dan Baekhyun masih bersama menunggu perkembangan sang anak yang sudah kembali kerumah Byun, dengan Chanyeol akan tertidur disofa kamar Baekhyun. Mereka akan terjaga bersama saat Chanhyun terbangun, Chanyeol membantu Baekhyun, ia menata bantal menjadi tumpukan agar Baekhyun nyaman menyandar ketika menyusui Chanhyun.

Sedang tuan Byun ia akan pulang lebih awal bersama sang istri untuk menemani cucu mereka, dengan Sehun yang tidak pernah datang kembali sejak pertama menginjakan kakinya kerumah sakit dan hanya berinteraksi dengan Baekhyun lewat sebuah chat. Bayinya menyusu pada Baekhyun dengan sesapan kuat seakan-akan tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya sumber makannya membuat Baekhyun meringis. Mereka berbincang dengan ringan dan semakin lama semakin serius.

Mereka menanyakan kelanjutan hubungan mereka kedepannya akan seperti apa dan Chanyeol menyela Baekhyun yang akan angkat bicara , ia mengatakan sama seperti keputusan awal mereka tidak ada yang diubah. Itu membuat orang tua Baekhyun kecewa berbeda dengan Chanyeol yang sudah menerima sedang Baekhyun mengalihkan tatapannya pada bayinya.

Sejujurnya eomma Byun memang menginginkan Sehun tapi sejak melihat Park Chanyeol bagaimana ia bertanggung jawab pada bayinya dan sangat menyayangi anaknya juga begitu perhatian pada Baekhyun seperti seorang suami yang mencintai istrinya dan semakin mencintai karena memberikannya keturunan membuat eomma Byun menyayangkan keputusan mereka yang memilih berpisah. Mereka terlihat sangat cocok bersama cantik dan tampan.

Chanyeol meminta izin sore itu untuk menemui keluarganya yang telah lama ia tinggalkan, tuan Byun akan mengantarnya tapi Chanyeol menolak dan tuan Byun memberikan uang untuk memesan taxi yang akhirnya Chanyeol terima karena tuan Byun terus memaksa akan mengantarnya jika ia tidak menerima uang itu. Ia juga mendapat usapan dipunggungnya dan senyuman hangat dari eomma Byun saat ia akan pamit menandakan bahwa eomma Byun memberinya sebuah izin untuk melepas rindu bersama keluarganya dan mengatakan bahwa ia akan menemani Baekhyun untuk menjaga Chanhyun.

Chanyeol berjalan pelan mendekati rumah keluarganya setelah turun dari taxi yang mengantarnya, menekan bell dan setelahnya ia mendengar suara langkah seseorang dari dalam.

Ceklek

"Siapa-- CHANYEOLIEEE?!" Teriak eommanya langsung memeluk erat dirinya saking merindukan anaknya yang sudah lama tidak ia lihat, "Kenapa kau tidak pernah kemari, nak. hiks" Eommanya masih memeluknya denga perasaan bahagia.

"Chanyeol" Terlihat seorang pria paruh baya berjalan pelan kearah Chanyeol, "Kau pulang?" Tanya ayahnya menatap anaknya dengan senyuman.

"Ne, appa."

Eomma park melepas pelukan pada anaknya sambil smenghapus air matanya, Chanyeol lalu beralih memeluk appa, appanya memberikan tepukan dipunggungnya.

"Ayo kita masuk." Ucap ayahnya setelah melepaskan, Chanyeol mengangguk menyetujui.

Eomma byun terus memegang tangan anaknya erat, ia tidak ingin kehilangan sosok anak laki-lakinya lagi, "Bagaimana kabarmu disana nak?"

"Aku baik eomma. Aku sudah merasa nyaman disana." Chanyeol tersenyum menatap ibunya.

Mereka terus berbicara menanyakan kehidupan Chanyeol di hutan dan sebaliknya Chanyeol juga bertanya akan kehidupan keluarganya disini, sang ibu menagatakan bahwa kakaknya sekarang bekerja sebagai seorang wartawan di televisi dan ayahnya masihlah menjadi Presdir di perusahaannya yang sudah bangkit kembali.

"Apakah kamu akan pergi lagi?" Tanya eommanya, membuat suasana kembali serius.

"Ya... Aku telah terikat dengan takdirku." Balasan Chanyeol jelas membuat kedua orang tuanya terkejut sekaligus bahagia.

"Benarkah Chanyeoliee? Lalu dimana matemu?" Tanya eomma Park menatap berbinar anaknya sambil meremas tangannya, sedang ayahnya tersenyum senang.

"Tapi... Aku akan kembali kehutan untuk pemutusan ikatan kita. Dia tidak menginginkanku. eomma, appa." Perkataan itu langsung menyurutkan binar bahagia eomma juga ayahnya dan mendapat tatapan bingung appanya.

"Kenapa seperti itu?"

"Dia telah memiliki kekasih, aku melakukannya padanya secara tidak sengaja, appa. Dulu dia mengalami heat di hutan dan... aku menyerangnya." Terang Chanyeol, "Aku akan kembali kesini jika... aku hidup. Tapi jika aku tidak kembali kalian tahu apa yang terjadikan?" Chanyeol mencoba tersenyum menatap kedua orang tuanya.

Jelas ucapan itu membuat eommanya tidak bisa membendung kesedihan, ia baru saja merasa senang anaknya kembali tapi anaknya akan pergi untuk pemutusan entah itu berujung maut atau tidak.

Chanyeol duduk dilantai memegang tangan eomma dan appanya, "Eomma, appa kalian sudah memiliki cucu, bayi itu bernama Chanhyun dia baru berumur 1bulan."

Chanyeol mencoba membuat eomma dan appanya tidak bersedih karena pemutusan itu, "Aku ingin tenang ketika aku tidak selamat, jadi kalian harus mengikhlaskan aku dan jangan membenci mateku karena ia menginginkan pemutusan ini."

Eommanya memejam matanya menahan air matanya yang ingin keluar, hatinya sakit. Kenapa kehidupan anak laki-lakinya sangat miris sekali. Pertama ditinggal istrinya meninggal dan sekarang lebih buruk dari itu, anak lelaki satu-satunya akan diputuskan ikatannya oleh mate yang tidak menginginkannya.

"Appa mendoakan mu yang terbaik dan besok kami akan menemui cucu kita." Balas appanya mendukung keputusan Chanyeol membuat Chanyeol tersenyum menatap appanya.

"Terima kasih, appa."

"Tidurlah disini. Eomma mohon." Eomma Park menatap anaknya memohon, ia tidak ingin kehilangan moment yang tersisa ini.

Chanyeol mengangguk membuat eommanya memekik senang, eommanya langsung pergi untuk membereskan kamar Chanhyeol yang mrmang setiap harinya juga ia bersihkan, tidak pernah terlewat.

Setelah makan bersama yang sangat membahagiakan bahkan sang kakak nekat pulang dari busan menuju seoul untuk bertemu sang adik yang sudah lama tidak berjumpa. Mereka berbincang dengan selingan candaan kakaknya yang menyebalkan sampai larut.

Chanyeol memasuki kamarnya, berbaring sambil memikirkan anaknya yang berada di kediaman Byun. Ia ingin kembali menemani bayi itu tapi ingin menyenangkan eommanya terlebih dahulu sebelum esok pergi menemui bayinya bersama-sama.

"Hah... Ini sangat melelahkan." Chanyeol menerawang menatap langit-langit kaamarnya.

.

.

..

.

.

Hari ini Chanyeol, Baekhyun dan Sehun mengubah wujud mereka bersama berlari ditengah hutan yang penuh dengan pohon pinus. Mereka akan menemui tetua atas usulan Chanyeol yang mengatakan bahwa ia ingin pemutusan itu dilakukan sekarang, ia ingin cepat-cepat meluruskan hubungan rumit ini dan tentu saja Baekhyun memberitahukan hal ini pada Sehun dan Sehun mengiyakan. Baekhyun juga meminta orangtuanya tidak bekerja karena hari ini pemutusan hubungannya dengan Chanyeol akan dilakukan ia meminta orangtuanya menjaga Chanhyun saat ia pergi sebentar menemui tetua mereka.

"Ada apa kalian kemari?" Tetua dari werewolf menatap orang-orang didepannya, sangat aneh tidak seperti biasanya werewolf dewasa datang kehutan untuk menemuinya.

"Salam nek, ada yang perlu kami bicarakan bersama menyangkut pemutusan sebuah ikatan takdir." Ucap Baekhyun menjawab pertanyaan sang tetua. Sang tetua menatap mereka lama lalu mesuk kedalam gubuk itu. Mereka mengikuti seolah mengerti bahwa sang tetua meminta mereka ikut masuk setelah Baekhyun mengatakan hal itu.

"Tetua... Kami kesini ingin memutuskan sebuah ikatan takdir, apakah itu bisa dilakukan disini?" Sehun bertanya tentang maksud tujuan mereka kesini, setelah mereka masuk dan duduk di sebuah gubuk itu.

"Itu bisa tapi itu akan menyiksa pihak yang tidak diharapkan." Jelas sang tetua singkat menatap tiga orang didepannya."Jadi siapa yang akan memutuskan ikatan takdir?" Lanjutnya.

Baekhyun yang tadinya terus menunduk langsung menatap sang tetua. Baekhyun mengangkat tangannya, "Saya nek."

Sang nenek mengangguk, "Lalu alpha yang tidak diharapkan itu? Apakah kau, nak?" Tunjuknya pada Sehun membuat Sehun menggeleng akan menjawab sebelum seseorang lebih dulu berucap.

Chanyeol berjalan lebih dekat pada sang tetua lalu membungkuk tanda hormat. "Saya nek"

"Sangat disayangkan." Sang nenek merasa kekuatan yang kuat ketika lelaki itu menghampirinya, Sang tetua menatap Chanyeol lalu tersenyum. Ia sering melihat lelaki itu ketika berburu didejat gubuknya, berkemauan tinggi dan tidak pantang menyerah. Alpha yang sudah jarang dan sulit didapatkan untuk saat ini.

"Kita bisa berkumpul disini, nanti sore untuk pemutusan itu." ujar sang tetua.

Chanyeol mengintruksi, "Nek. K-kita bisa melakukannya dekat rumah pohonku." Si nenek tetua itu menatap Chanyeol lalu mengangguk, lalu diikuti yang lain.

"Dimanapun asal kita cepat melakukan pemutusan itu, benarkan baby?" Sehun memeluk Baekhyun tersenyum sambil memejamkan mata merasa tenang dan Baekhyun hanya mengangguk pelan dengan matanya menatap Chanyeol.

'Maafkan aku, Chanyeol. Maaf'

Chanyeol tampak tidak memiliki basa-basi padanya, mereka bahkan tidak saling tegur atau menyapa. Hal ini yang membuat Baekhyun kecewa pada Chanyeol. Karena ia terabaikan, setidaknya Chanyeol harus memberikan kata perpisahan padanya atau berbicara pada Chanhyun.

...

Sore ini semua berkumpul dihutan tempat pemutusan yang sudah disepakati bersama, ditunggu-tunggu oleh mereka dengan perasaan cemas, senang untuk Sehun dan biasa saja untuk Chanyeol. Orang tua Baekhyun ikut menemani anaknya dalam pemutusan ini bersama Chanhyun dalam gendongan eomma Byun sedangkan keluarga Chanyeol, tidak Chanyeol biarkan ikut untuk melihat pemutusan ini.

Keluarganya telah dipertemukan dengan Chanhyun kemarin di kediaman Byun. Dan setelahnya suasana sangat riuh karena kebisingan yang yoora lakukan, kakaknya.

Sang tetua maju mendekat pada Chanyeol yang berada di sebuaah lingkaran, berkeliling mengelilingi Chanyeol yang terduduk dengan tongkat sebagai pembantunya jalannya, "Kau mendekatlah." Titahnya pada Baekhyun.

Baekhyun berjalan mendekat.

"Bacalah sumpahnya, setelah ini tidak akan ada ikatan diantara kalian." Sang nenek duduk bersila, Baekhyun menatap ragu pada Chanyeol yang terlihat datar,.

"Cepatlah, baby!" Sehun berseru membuat Baekhyun gugup.

"A-aku bersumpah... ingin me-memutuskan takdirku dengan alphaku. Aku..." Baekhyun bibirnya bergetar saat ia merasa sakit dipinggulnya seperti digigit ribuan semut, "aku ingin hidup tanpa ta-takdir dengan memecahkan ikatan kami."

Baekhyun merasa matanya memanas saat sekelebat bayangan kenangan mereka, ia mengingat wajah Chanyeol yang tersenyum, dikala lelahnya setelah pulang berburu untuk dirinya yang tengah hamil, candaan mereka dan pengorbanan Chanyeol untuknya dan saat masa-masa mereka bersama dihutan.

"Maaf, Chan." Baekhyun berjalan mendekat pada Chanyeol mengangkat tangan memegang sebuah batu menggosok pada leher Chanyeol yang terdapat tandaikatan mereka dengan satu kali gosokan keras.

Ikatan mereka akan terhapus. Harusnya Chanyeol hanya akan merasa sakit lalu melemah.

Tetua terus menyentak tongkat di tanah semakin kuat tiga kali ketukan, semua energi berkumpul.

Chanyeol langsung mengerang, tanda phoenix dilehernya memerah, dan semakin pekat seperti darah berkumpul disana, "Arggghh."

Sang tetua terus membaca doa-doa yang tidak di mengerti mereka. Sang tetua membuka mata menatap Chanyeol.

"Ikatan ini sangat kuat, ini bisa membahayakannya." Ucap tetua, membuat Baekhyun meremas batu yang ia pegang menghilangkan rasa takut yang tidak berhenti datang padanya.

Ayah dan ibu Baekhyun ikut berdiri gelisah melihat didepannya, eomma Byun mengeratkan pelukan pada Chanhyun. Menghilangkan resah didadanya merasa kasihan pada Chanyeol.

Chanyeol mengerang sakit saat keseluruhan tubuhnya seperti di tusuk-tusuk es yang runcing, karena ikatan mereka terlalu kuat pembuluh tandanya pecah. Bagi mate baik alpha atau omega memutuskan takdir akan melukai pasangan mereka sendiri jika ikatan itu kuat maka akan membuat mate yang tak diharapkan mati karena pembuluhnya bisa pecah.

Baekhyun menangis, perasaan takut menyergapnya saat melihat urat- urat leher Chanyeol menonjol dan meregang kaku lalu darah keluar dari tanda Chanyeol, dan tangan Chanyeol mulai terkulai lemah dan Chanyeol menatap Baekhyun.

Chanyeol berusaha bernafas sedang tatapannya kosong, ia seperti ikan yang membutuhkan air mangap meminta sedikit udara yang sulit untuk ia dapatkan, Sebelum matanya bergulir pada eomma Byun menangis memeluk Chanhyun lalu menutup setelahnya

"Aku yakin kau kuat nak." Sang tetua mendekat memegang lengan Chanyeol memeriksa apakah ia bisa menyelamatkan, ia menyentuh pembuluh yang pecah. Setelahnya ia berdiri menatap yang lain menggeleng, "Ikatan mereka sangat kuat." Sang tetua mundur menghembuskan nafasnya lalu memejamkan matanya, ia menengafah menatap langit, "dan tidak ada harapan."

Raungan tangis langsung mengisi keheningan setelah sang tetua memberitahukan hal itu.

"CHANYEOLLL!!" Baekhyun berteriak menjatuhkan tubuhnya disamping Chanyeol. Ia menangis keras kemudian membawa kepala Chanyeol pada pahanya. "No... Chanyeol maafkan aku... Aku menyesall. Hiks" Baekhyun menggoncangkan badan Chanyeol semakin kalap. Ia benar-benar marah pada dirinya yang egois, bukan ini yang ia inginkan. Bukan dengan Chanyeol pergi seperti ini.

"Aku mencintaimu Chanyeol... " ia berbisik ditelinga Chanhyeol "maafkan aku hiks aku mohon!" Baekhyun berteriak mengguncangkan badan Chanyeol, "aku mohon kembali." Baekhyun melirih menyembunyikan wajahnya di leher Chanyeool, air matanya mengenai pembuluh Chanyeol yang pecah.

"Hiks aku tak mau jika seperti ini! Aku tak mau berpisah denganmu seperti ini!!!" Baekhyun seperti orang gila, ia terus berteriak meraung tak terima.

Sehun mulai mendekat membawa bahu Baekhyun naik untuk membawanya pergi, menjauhkan dari Chanyeol.

"Chanyeol!!!." Teriak Baekhyun lalu memukul dada Chanyeol sambil berontak melepaskan pegangan Sehun.

Sang tetua menatap pria yang menutup matanya sedih, "Kau sangat baik, nak. Mengutamakan kebahagiaan pasanganmu sedang kau merelakan nyawamu. Kelak ketika kau diberi kesempatan kembali kau akan menemukan kebahagiaanmu, dengan mate yang berbeda."

Baekhyun mendengar itu semakin mengencangkan tangisannya, apa yang dimaksudkan sang tetua membuat Baekhyun merasa tidak terima.

Ayah dan eommanya mendekat, eomma Byun menghapus air matanya. Ia mengusap punggung anaknya.

Baekhyin menggeleng gelengkan kepalanya tak tahan dengan sakit hatinya yang terasa menghujam. Tak ada yang mau membantunya mengembalikan alphanya!. "Aku mohon Chanyeoll" Baekhyun terus berbisik didekat telinga Chanyeol dan menyentuh luka pembuluh Chanyeol. Mengusapnya pelan.

"Baekhyun, kau sendiri yang mengatakan bahwa kau memilih aku, kau harus menerima ini." Sehun merasa panas hatinya melihat Baekhyun seperti ini. Setelah memilihnya dan membuat ia kehilangan alphanya. Apa yang harus ditangisi? Padahal Baekhyun sendiri yang menginginkannya.

"Sayang, peganglah bayimu." Baekhyun langsung membawa bayinya dan memeluknya erat.

Oaaaa Oaaaaa oaaaa

Bayinyalangsung menangis saat Baekhyun membawanya dalam pangkuannya menyalurkan kesedihannya pada sang bayi bahwa ayahnya telah pergi untuk selamanya. Meninggalkannya.

Bayinya seolah mengetahui sang ayah telah pergi dengan tenang menangis dengan keras, Bayinya tidak akan bisa melihat ayahnya tidak akan mengetahui rupanya.

Tuan Byun memeluk bahu anaknya lalu mengusapnya memberikan anaknya kekuatan, "Kau harus menerimanya." Ucap ayahnya.

"A-aku tidak bisa. Aku tidak ikhlas appa Hiks" Suara Baekhyun menjadi serak karena menangis, "Bukan seperti ini. Bukan seperti ini perpisahan yang aku inginkan hiks. Seandainya aku tahu ini akan terjadi aku tidak akan melakukannya huks."

Penyesalan. Seperti itulah dia selalu datang diakhir.

"Ingat.. jangan sia-siakan yang menjadi keputusan awalmu? Kau yang menginginkan ini terjadi. Walaupun kau tidak tahu akan seperti ini jadinya. Kau harus menerimanya. Chanyeol sudah mengizinkanmu" Sang ayah menasehati melihat sosok yang terbaring didepannya setelahnya ia mengusap wajahnya kasar.

Beberapa hari bersama alpha anaknya itu membuat tuan Byun merasa telah memiliki teman sealphanya, alpha itu sangat dewasa dan hampir memiliki hobby yang mirip dengannya. Beberapa hari ini ia habiskan dengan berbincang dan sekarang ia melihatnya terbaring disini, wajahnya pucat pasi tanpa nyawa.

Baekhyun menggeleng lemah.

"Aku akan menghilangkannya." Sang tetua mengusap kepala Chanyeol, Chanyeol berubah kewujud wolf yang besar lalu tubuh Chanyeol ditutup dengan daun-daun yang lebar. Setelah daun itu menutupi, daun itu jatuh mengenai tanah, sedang sosok Chanyeol telah pergi tak terlihat.

"Ayo, nak."

Mereka mulai menigggalkan jiwa Chanyeol disana, sedang raga telah pergi menghilang seperti debu. Baekhyun dibantu berjalan oleh Sehun, dia masih menangis hatinya berdesir perih, ini benar-benar melukai Baekhyun. Teramat melukainya.

Sang tetua memelankan langkahnya membiarkan orang-orang itu pergi lebih dahulu. Tetua menatap orang-orang yang didepannya, tatapannya tidak bisa diartikan menatap kedepan.

"Mempercayai alpha lain dan mengabaikan takdir... hanyalah kehancuran semata."

~

.

.

.

.

.

"Aku akan menikahimu secepatnya, baby agar kau tidak merasa kesepian dan terima kasih sudah memilihku. Aku mencintaimu" Sehun memeluk Baekhyun, lalu mencium kening Baekhyun yang masihlah dilanda kesedihan walaupun ini sudah dua hari berlalu, tatapannya sangat kosong, hampa hal ini membuat keluarganya khawatir dengan keadaan Baekhyun.

~

..

.

.

.

.

TBC

SATU CHAP LAGI. DOAIN

AKU MINTA MAAF SEBESAR-BESARNYA BUAT PEMBACA FF INI YANG TIDAK ADA FEELNYA SAMSEK ㅠㅠㅜ aku tahu ini berantakan banget ini panjangnya audubillah mudah mudahan ga bosen bacanya karena ceritanya garing. Aku udah berusaha semampunya, juga mencoba memperbaiki cara tulisannya. Aku harap maklum yaaa ekwk ini ff pertama aku. Aku bakal berusaha di ff ff selanjutnyaa semampunya.

Aku jadi lebih suka ff oneshoot/ twoshoot ajalahㅠㅠ nekad ini ff chaptered bikin puyeng. Heuuuu

Maaf yaaa.. Aku gapede aslian Update Chap ini karena nulis chap ini udah kehilangan mood aslian dah aku paksain ㅠㅠㅠ. Aku harap chap ini masih pantas dibaca.

Mifi andromax aku rusak yang bikin kepikiran sampe ngelupain ff ini. Ada yang punyakah mifi mini andromax kah? Kenapa semua lampu indikator merah semua yaa? Padahal udah di reset berapa kali sampe disimpen dua hari tetep pas dinyalain masih sama tanpa itu aku gabisa internetan sepuasnyaa rumah aku susah jaringan,paling bisa internetan di jalan ini up juga di pinggir jalan:''')

Big thanks buat yang review dan masukannyaa aku bakal terima aku juga jadi lebih sering baca-bqca cara membuat cerita buat pemula wkwk.

Thanks banget guys. Baekinibottom, guest, liJunYi, kimayrra99, daeri beeyeol, milkybaek, balbal137, ParkBaek267, park chan2, myut, Narin.s , ParkYooAh, kekei-chan, every.mong.

CHANYEOL IN BLACK FAKKKKK ANJIRR GILAAA KERENN CHANBAEK SEBELAHAN!!!