"Rose—"

Rose menutup wajahnya dengan bantalnya. Ia sama sekali tidak mempedulikan panggilan Ginger. Dia terus menangis. Dia masih tidak percaya dengan kejadian hari ini. Penelope menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah laku tak biasa teman sekamarnya. Baru pertama kali ini mereka melihat Rose menangis.

"—Merlin. Rose, kau tidak apa-apa? Jangan buat kami khawatir." Kata Jasmine galak. Ginger melotot ke arah Jasmine. "Tidak bisa kah kau bertingkah biasa saja, Jasy?"

"Jangan panggil aku Jasy atau apapun itu. Nama ku Jasmine." Balas Jasmine malas.

Penelope duduk di tepi kasur milik Rose. "Rose, kumohon berhentilah menangis. Kami tidak suka melihat mu seperti ini. Lebih baik sekarang kau bangun dan menceritakan semuanya agar kami bisa membantu mu, Rose."

Dan Rose menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak mau menceritakannya. Ia hanya mau menceritakan ke Ibunya—Hermione, tapi, ia harus berpikir dua kali sebelum melakukannya. Dan saat ini yang ia perlukan adalah bagaimana caranya untuk menjernihkan pikirannya.


Apapun Untukmu © Aura Huang

Scorpius x Rose and little bit Scorpily

Disclaimer : Harry Potter milik J. K. Rowling

Sorry for typo(s) or Alur Kecepatan


Scorpius keluar dari kamar dengan seragam lengkap. Menguap pelan sambil mengacak-acak rambut pirangnya. Ia berjalan santai menuju ruang rekreasi yang mempunyai gaya seperti ruang bawah tanah.

Suara pintu kamar yang terbuka membuat Scorpius mengalihkan pandangannya. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat Albus yang keluar dari kamar dengan raut wajah yang tak biasa—raut wajahnya lesu. Sesungguhnya Scorpius ingin tertawa, tapi, ia tahan. Scorpius berjalan mendahului Al dan tersenyum sinis. "Bagus sekali wajah mu, Potter."

"Kau tidak bertanya kenapa aku seperti ini, Malfoy?" kata Al datar. Scorpius tertawa kecil mendengarnya. "Aku tidak peduli—"

"Bagus," potong Al cepat. "Untung saja kau tidak peduli kalau aku sudah mencium dia."

Scorpius menatap punggung Al tidak percaya. Tubuhnya tiba-tiba diam tanpa sebab. Kedua tangannya langsung menggepal ketika sudah bisa mengendalikan emosinya. Scorpius tahu—aku tahu. Tanpa perlu di kasih tahu lagi, ia sudah tau siapa dia yang tadi di sebut oleh Al.

Sial, umpatnya. Apa karena Al, Rose berubah? Batinnya bertanya. Tidak—tidak mungkin. Scorpius mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Rose—Kekasihnya bukan Orang yang seperti itu.

Scorpius berjalan—lalu menjadi berlari, mengejar Albus yang hampir tidak terlihat. Tangannya yang sudah mengepal dengan sempurna langsung melayang ke pipi Al. Scorpius terengah-engah. Lalu ia menarik kerah baju Al dan mencengkramnya dengan kuat. "Kau—"

"Apa?" Kata Al sinis. Scorpius menelan ludah dan menatap kedua mata hijau Al dengan tajam. "Kau—jauhi Rose atau ku bunuh kau!"

"Rose?" kata Al marah. "Kenapa kau memanggilnya Rose? Kau bukan—"

"Rose—dia Kekasih ku."

Raut wajah Al berubah menjadi datar. Scorpius melepas cengkramannya dan merapikan seragamnya. "Kaget? Tidak perlu. Karena kau sudah tahu ini, kau harus tahu diri. Pergi darinya atau ku bunuh kau."

Scorpius berjalan—menjauhi Al. Al tertawa serak yang membuat Scorpius mengernyitkan dahinya. "Kau harus tahu, Malfoy. Jangan terlalu percaya dengannya. Karena pada akhirnya—aku yakin dia akan menyakiti mu."


Lily memandang heran sang Kakak—Al yang baru saja masuk ke Aula Besar dengan wajah yang terdapat memar. Dia menyenggol lengan Rose yang membuat sepupunya itu meliriknya. "Ada apa, Lils?"

"Lihat wajah Al." Bisik Lily. Lily menghela nafas berat dan menatap Kakaknya lagi dengan penuh khawatir.

Al duduk di samping James dengan tenang. Tidak mempedulikan ocehan James yang bertanya; Kau kenapa? Siapa yang menghajar mu? Akan ku bantai dia! Dan sebagainya. Lily masih memperhatikan Al. Al berbeda hari ini, batin Lily. Dominique menggeser Fred paksa dan akhirnya ia duduk di samping Al. "Kau baik-baik saja?"

"Tidak. Aku tidak baik-baik saja."

Lily menghela nafas berat. "Kau di pukul? Di pukul oleh siapa? Katakan pada kami."

"Itu tidak penting," balas Al sambil mengambil puding dan menaruhnya di piring. "Lebih baik kita makan sekarang."

"Al—"

"Diam, Lils. Aku sedang tidak mood sekarang. Jadi, jangan bertanya." Potong Al pedas yang membuat Lily terdiam. Lily menunduk dan tidak berani memandang Kakaknya lagi.

"Al, jangan berkata seperti itu."

"Oh—lalu apa urusan mu, Rosie?" balas Al sambil menekan kata terakhirnya. Lily menatap Al tidak percaya. Lily meraih tangan Rose dan menggenggam tangan Rose yang berkeringat dingin. Rose melirik Lily dan tersenyum tipis. Lalu ia menatap Al lagi dengan kesal. "Tentu saja itu urusan ku, Albus—"

"Apa? Karena dia sepupu mu jadi kau selalu membelanya?"

"Hei—hentikan! Semuanya melihat ke sini." Kata Dominique tegas. Al bangun dari duduknya dan menatap Rose tajam. "Kau—ikut dengan ku."

Lily tercengang melihatnya. Tatapan Al beda dan itu membuat Lily kaget setengah mati. Bukankah Al selalu memandang Rose dengan penuh cinta dan puja? Kenapa Kakak keduanya itu memandangnya dengan penuh amarah? Batin Lily bertanya-tanya. Rose mengangguk dan bangun dari duduknya.

"Rose—"

"Tidak—tidak apa-apa. Tenang saja, Lils." Kata Rose halus. Lily menghela nafas berat dan mengangguk. Dia hanya bisa memandangi punggung Al dan Rose yang semakin lama semakin menjauh. Tubuh mungilnya itu bergerak—ia bangun dari duduknya yang membuat Kakak laki-lakinya dan sepupu-sepupunya itu menatapnya bingung.

"Lils—"

"Bagaimana kalau mereka bertengkar dan Rose terluka lagi? Bagaimana—"

"Hei," potong James buru-buru. "Sebaiknya kau duduk dan melanjutkan sarapan mu lagi."

"Ti—" kata-kata Lily hilang karena dia melihat Scorpius yang baru memasukki Aula Besar dengan wajah kacau yang lebih parah dari Al. Dia menghela nafas berat dan berjalan menghampiri Scorpius yang baru saja duduk dengan teman seasramanya.

"Lihat, si Potter kecil itu ke sini."

Lily mendengus kesal mendengarnya. Kenapa Orang-orang memanggil ku seperti itu? Batin Lily kesal. Lily menahan senyumnya ketika menyadari bahwa Scorpius sudah berbalik dan menatapnya. "Ada apa?"

"Bisa kita bicara?"

"Aku sedang tidak mood. Bisakah nanti saja? Aku akan menjemput mu bila perlu." Lily mengangguk lemah ketika mendengar jawaban ketus Scorpius. Walaupun dia sedikit senang karena Scorpius ingin menjemputnya. Lily berbalik dan lengannya di tahan. "Kau ingin aku jemput dimana?"

"Err—di kelas Sejarah Sihir?" kata Lily kaku. Scorpius mengangguk dan melepaskan lengan Lily. "Baiklah. Akan ku jemput kau di sana."


"Kau mengecewakan ku, Rose."

Rose menghentikan langkahnya ketika Al tiba-tiba berhenti di depannya. Jantung Rose berdetak dengan sangat cepat—tidak, ini bukan perasaan yang sama ketika ia berhadapan dengan Scorpius. Perasaan yang ia sekarang ini adalah takut, khawatir dan kesal. Rose menghela nafas berat. "Aku—aku mengecewakan mu apa?"

"Kau berpacaran dengannya?"

Kau—

berpacaran dengannya?

Mulut Rose terbuka kecil. Ia sedang memikirkan kata-kata yang ingin ia keluarkan sekarang. Aku harus mengatakan apa? Mengatakan "Apa—apa kau bercanda?" atau "Lelucon mu garing sekali, Al." atau "Aku tidak mengerti maksud mu"—

"Kau tahu siapa dia bukan?

Sial.

"Kau harus mengerti—"

"Mengerti kata mu? Kau bahkan tidak mengerti dengan diri ku!" bentak Al kasar. Rose menghela nafas berat dan menatap Al putus asa. "Aku bisa menjelaskannya, Al. Sungguh. Tapi, tolong, jangan seperti ini."

"Kau berpacaran dengan Scorpius Malfoy. Pemuda brengsek yang suka mempermainkan Wanita dan kau menyuruh ku untuk diam?"

Dia tidak suka mempermainkan Wanita!

"Al, dia tidak seperti itu." Balas Rose sabar. Al menghampiri Rose yang membuat Gadis itu mundur selangkah sambil menahan nafas. Lebih baik kau mengutuk ku dari pada kau melakukan hal itu, Al! Batin Rose menjerit.

"Aku tahu. Kalian berdua pasti akan pergi ke Hogsmeade bersama, bukan?"

Rose menelan ludahnya dan mengangguk tanpa suara. Bisa ia dengan Al menghela nafas berat dan menjauhkan badannya dari Rose. "Aku ikut."

"Apa?"

"Aku ikut dengan kalian berdua. Jadi, kita bertiga akan pergi ke Hogsmeade bersama-sama." Jelas Al yang membuat kedua mata Rose membulat dengan sempurna. Tidak—tidak mau! Ini adalah kencan pertama ku dengan Scorpius! Aku tidak mau! Rose berteriak dalam hati. "Errr—Al,"

"Ya?"

"Tidak bisa." Kata Rose dengan raut wajah bersalah. Sejujurnya ia masih kesal dengan Scorpius—Well, mana bisa ia melupakan Scorpius yang berdua dengan Gadis lain di perpustakaan walaupun Gadis itu sepupunya sendiri. Tapi, ini adalah kencan pertamanya!

"Kenapa? Apa karena ini adalah kencan pertama kalian, huh?"

"Ya." Balas Rose spontan. Rose langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan Al memutar kedua bola matanya malas. "Aku akan tetap ikut."

Rose memandang Al tidak percaya. Al pergi meninggalkannya sendiri di lorong Hogwarts sepi. Rose mendengus kesal dan menatap keluar Kastil. Ia tidak tahu kenapa soal percintaannya seperti ini. Ini semua terlalu sulit—astaga.


"Tugas kali ini adalah tugas kelompok."

Al ingin menjambak rambut Professor Hagrid. Bah! Kenapa tugas kelompok? Aku bisa menyelesaikannya sendiri! Batin Al menjerit-jerit. Suasananya sekarang tidak bagus. Sangat tidak bagus. Al mendengus kesal dan memperhatikan teman-temannya yang senang mendengarnya. Well, tugas dari Professor Hagrid rata-rata membuat Anak-anak ogah menyelesaikannya sendiri.

"Kelompok Pertama; Crabbe dan Goyle!"

Al menguap bosan. Tidak kaget dengan raut wajah Crabbe dan Goyle yang saling tidak menerima satu sama lain. Sama-sama bodoh, batin Al mengejek. Ia tidak tahu sudah berapa kata kasar atau ejekan yang keluar dari mulutnya. Ia tidak bisa berhenti walaupun sudah mencoba untuk mengerti. Tapi—sial. Mengetahui sang Pujaan hati sudah mempunyai Kekasih yang rupanya adalah musuhnya.

"Kelompok Lima; Malfoy dan Potter!"

SIAL SIAL SIAL SIAL SIAL

"Saya tidak mau satu kelompok dengan dia, Professor."

Al menatap Scorpius sinis. Pemuda bermata hijau seperti Ayahnya itu menatap Pemuda berambut pirang yang sedang berdiri tegak dan memandang Professor Hagrid dengan datar. Al mengalihkan pandangannya dan menatap Professor Hagrid. "Saya juga tidak mau, Sir."

"Tidak ada komentar." Balas Professor Hagrid santai. Al mendengus kesal dan memaki dalam hati. Semua kelompok mulai berkumpul dan mulai mencari tugas dari Professor Hagrid; cacing koot.

"Cacing koot,"

Al melirik Scorpius yang sudah menghampirinya dengan selembar kertas lusuh.

"Kenapa kita harus mencari ini. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pelajaran. Oh—aku yakin ini untuk makanan peliharaannya yang tidak jelas." Kata Scorpius yang membuat telinga Al tuli karena mendengar rengekkan Pemuda di sebelahnya. Sial—kenapa Rose mau dengan Pemuda yang seperti banci ini? Harusnya dia memilih ku. Aku ini bukan banci seperti dirinya.

"Sebaiknya kau yang cari dan aku yang akan menulisnya."

Al menatap Scorpius tajam. "Tidak. Lebih baik kau melakukan dua-duanya dan aku akan membantu mu dengan doa."

"Tangan ku akan kotor jika bermain tanah. Bukankah kau sering bermain tanah, Potter?" tanya Scorpius sinis. Al tertawa datar mendengarnya. "Ya. Aku sudah bermain tanah dengan Rose."

Menyadari raut wajah Scorpius berubah membuat Al senang. Al bisa memanfaatkan keadaan ini—keadaan dimana banyak Orang. Al yakin, Scorpius tidak akan berani menyinggung tentang Rose di depan umum seperti ini. Memberikan senyuman sinis ke Scorpius lalu Al mengalihkan pandangannya. "Oh—aku sudah minta izin Rose. Aku akan pergi ke Hogsmeade dengan kalian berdua. Jadi, kita bertiga akan bersenang-senang akhir pekan nanti."

"Sial—"

"Kau pikir aku akan membiarkan kalian berdua bersenang-senang tanpa ku?" bisik Al pelan. Al tersenyum miring ketika melihat Scorpius mengepalkan tangannya.

"Jangan memancing ku, Potter. Kau akan tahu akibatnya nanti." Kata Scorpius dengan penuh amarah. Al terkekeh pelan mendengarnya. "Aku tidak sabar menunggunya, Malfoy."


Scorpius menguap. Pemuda berambut pirang itu sekarang sedang menunggu Lily yang sepertinya akan pulang telat karena Professor Binns yang tidak bisa berhenti mengoceh. Sebenarnya ia bisa saja langsung ke asrama dan berbaring di atas ranjang empuk. Tapi, ia tidak tega melakukannya ke Lily. Lily sudah seperti Adiknya—kalian tahu itu.

Tidak mempunyai perasaan khusus. Scorpius menyadari itu. Dia melakukan ini karena dia sudah janji dan Lily adalah temannya. Seringkali ia lihat, Lily dan Rose pergi atau berbincang bersama-sama yang membuat Scorpius yakin hubungan Lily-Rose sangat dekat.

Pintu terbuka dan membuat Scorpius tersentak kaget. Murid Tahun Pertama keluar dan sekali-kali menatap Scorpius bingung. Hei—ini Gryffindor dan kenapa ada Slytherin di sini? Apa dia tersesat? Batin mereka yang melewati Scorpius. Scorpius mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya. Kadang-kadang ia mendapati anak genit yang memberikan senyuman centil ke arahnya. Scorpius diam-diam tertawa melihatnya.

"Errr—Scorpius?"

Scorpius mengalihkan pandangannya dan menemukan Gadis bertubuh mungil dengan rambut merah. Scorpius tersenyum. "Hai. Aku tidak tahu kalau kau akan telat."

"Maaf. Professor Binns sepertinya sedang ingin mengoceh panjang lebar." Kata Lily pelan. Lily menarik Scorpius agar mereka berdua menjauhi kelas.

"Kau ingin mengatakan apa tadi? Saat di Aula Besar."

"Oh—apakah kau tahu kalau Al terluka tadi pagi? Aku ingin bertanya kepada mu. Apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya Lily dengan wajah khawatir. Scorpius menghela nafas berat. Pelakunya aku, Lily! Aku! Aku yang menghajarnya tadi karena dia mencium Gadis ku!

"Tidak. Aku tidak tahu, Lily."

"Ah," balas Lily dengan wajah polos. "Aku sudah yakin itu. Tadi James sempat menunduh mu. Aku tidak percaya dengan omongannya."

Scorpius tersenyum tipis. Sifat Lily dan Rose hampir sama; suka mengoceh. Tunggu—kenapa dari tadi aku membicarakan mereka berdua? Tanyanya dalam hati. Lily-Rose itu berbeda. Scorpius mencoba untuk menyakinkan dirinya bahwa mereka berdua berbeda—BERBEDA.

"Kau akan pergi ke Hogsmeade, bukan? Kau akan pergi dengan siapa?" Lamunan Scorpius buyar. Melirik Gadis mungil di sampingnya yang sedang menatapnya dengan kedua mata yang berbinar dan Scorpius tertawa. "Aku akan pergi dengan Kakak mu, Al."

"APA?"

Scorpius langsung memutar kedua bola matanya malas. "Astaga, suara mu—"

"Maaf," kata Lily merasa bersalah. "Hanya saja aku kaget—kau tahu. James bilang, kau dan Al tidak pernah akur."

"Memang."

Lily mendengus. "Lalu, kenapa kalian pergi bersama nanti? Bukankah itu tidak bagus?"

"Sangat tidak bagus," kata Scorpius asal. "Tapi, ia keras kepala. Jadi, aku tidak bisa melakukan apapun. Sekalipun aku meninggalkannya sendiri nanti, dia pasti akan mengejar ku lagi. Apa, Kakak mu itu menyukai ku?"

Lily tertawa keras mendengarnya. "Tentu saja tidak, Scorp. Kakak ku itu normal—tidak menyukai sesama jenis."

"Lily!"

Mereka berdua berhenti dan menemukan Hugo yang sedang berlari-lari kecil sambil memandang mereka berdua heran. Lily mengernyitkan dahinya. "Ada apa, Hugo?"

"Kenapa kau pergi bersamanya?" tanya Hugo heran sambil menunjuk Scorpius santai. Lily menggembungkan pipinya dan menatap Hugo kesal. "Tidak ada urusannya dengan mu!"

"Whoa—santai, Lily. Dan, Weasley, kau sendiri ada perlu apa ke sini?" kata Scorpius melerai mereka berdua sebelum mereka berdebat panjang dan Scorpius menjadi patung dadakkan.

"Lucy dan Roxanne mencari Lily. Lalu, aku di paksa mereka berdua untuk lari ke arah kalian berdua."

Lily menghela nafas berat dan menatap Scorpius. "Maaf. Aku harus pergi sekarang."

"Oh, tidak apa-apa, Lily."

Scorpius tersenyum tipis dan Lily pergi meninggalkan Scorpius dan Hugo. Scorpius tersentak kaget saat mendapati tatapan tajam dari Hugo. Scorpius menelan ludah dan mencoba untuk bersikap normal seperti biasanya. "Ada apa, Hugo?"

"Cih," kata Hugo sinis. "Jangan bilang kau ingin bermain api di belakang Rose."

"Tidak." Balas Scorpius sambil menggelengkan kepalanya. Hugo menghela nafas berat dan tersenyum tipis. "Bagus—jangan sekali-kali kau menyakitinya atau akan ku bunuh kau."


Sehari sebelum kunjungan ke Hogsmeade membuat Rose semakin gila. Dia tidak bisa menemui Scorpius seorang diri karena ada yang mengikutinya; Al. Jadi, sekarang ia sudah kumpulkan keberaniannya untuk pergi ke lapangan Quidditch yang sedang di pakai oleh Slytherin untuk berlatih.

"Malfoy! Malfoy! Malfoy!"

"Potter! Potter! Potter!"

Rose mendengus kesal dan memberikan tatapan tidak suka ke arah Gadis-gadis centil yang tidak tahu diri. Dia duduk santai dan menatap sang Kekasih yang sedang berlatih.

"Apa yang kau lakukan di sini, Weasley? Mencoba untuk mengintip mereka berlatih atau mencoba untuk mengikuti strategi mereka?"

Rose mendapati tatapan tajam dari Stephanie Goyle dan Victoria Nott. Rose tidak peduli dengan mereka berdua dan lebih memilih untuk duduk di kursi penonton dengan tenang.

"Sebaiknya kau pergi, Weasley."

"Aku ingin berbicara dengan seseorang, Goyle. Sebaiknya kalian berdua yang pergi." Balas Rose kesal. Stephanie menghentak-hentakkan kakinya kesal. "Pergi sekarang! Kau bisa berbicara dengan seseorang itu nanti."

"Astaga, Goyle. Kau sangat berisik." Balas Rose sambil menggelengkan kepalanya. Stephanie cemberut dan langsung duduk di samping Rose tanpa minta izin. "Oh, aku tahu. Kau ingin menunggu Potter itu kan? Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Kenapa kau harus ke sini?!"

Victoria duduk di samping Stephanie dengan tenang. "Sebaiknya kau pergi, Weasley. Sebelum penggemar Potter itu menyerang mu."

"Aku tidak mencari Al," balas Rose kesal karena dua Gadis di sampingnya membicarakan Al terus-menerus. "Aku mencari seseorang dan bukan Al. Jadi, jangan sok tahu."

Teriakkan penggemar semakin menjadi ketika Scorpius berhasil memasukkan quaffle ke dalam lingkaran. Rose menutup kedua telinganya ketika Stephanie mulai berteriak seperti yang lainnya.

"SCORPIUS! KAU YANG TERHEBAT!"

Rose mendengus kesal. Melirik Stephanie yang sepertinya mulai mengacuhkannya membuatnya menghela nafas lega. Dia malas—sangat malas meladeni kedua Gadis di sampingnya. Mengalihkan pandangannya dari Penggemar tidak jelas, ia menatap Scorpius yang sedang terbang dengan sapu kesayangannya.

Pemuda berambut pirang itu tersenyum ke arahnya. Rose ikut tersenyum melihatnya. Tapi, senyumnya luntur ketika Bludger memukul Scorpius hingga Pemuda itu hampir terjatuh dari sapu. Stephanie dan Victoria menjerit yang membuat Rose semakin menjadi. Rose ingin langsung bangun dan meneriakkan nama sang Kekasih. Tapi—ini tempat umum. Rose menghela nafas berat.

"Aw—pasti Scorpius sangat kesakitan karena tadi."

"Itu pasti. Tapi, tenang saja, ia sudah mulai beraksi lagi."

Rose bangun dari duduknya ketika para pemain sudah mengakhiri latihannya. Berjalan santai menuju Kastil Hogwarts sambil melirik kebelakang. Berharap dalam hati semoga Scorpius akan menghampirinya. Sungguh—Rose sangat merindukan Scorpius.


Scorpius langsung memisahkan diri. Berjalan mengikuti Rose diam-diam yang pasti akan pergi ke Danau sambil mengusap perutnya yang terkena pukulan tadi. Kenapa sakit sekali?! Batinnya berteriak. Melihat Rose yang sudah tidak terlalu melihat, dia langsung berlari-lari kecil untuk menyusul Rose.

Rose berhenti di tepi Danau. Tempat favoritnya tidak pernah berubah, batin Scorpius. Scorpius menghampiri Rose sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Hai, Rosie."

"Hai. Sudah lama kau tidak memanggil ku seperti itu." Balas Rose lembut. Scorpius tidak bisa marah lagi dengan sang Kekasih. Perasaan marah yang sempat ia alami karena Al mencium Rose dan Rose tidak memberitahunya—sudah hilang. Mendekatkan wajahnya ke wajah Rose dan menciumnya singkat. Lalu Scorpius tersenyum jahil. "Sekarang, ciuman Potter sudah hilang karena sudah ku hapus."

"Maaf—"

"Aku marah—awalnya. Tapi, sekarang tidak. Emosi ku sudah hilang karena aku sudah menonjoknya kemarin." Kata Scorpius sambil memberikan cengirannya. Rose tertawa kecil dan menunduk—menatap kedua sepatu merahnya yang baru ia bersihkan kemarin. "Aku minta maaf, Scorpius. Harusnya aku tidak menghindari mu waktu itu."

"Aku juga minta maaf. Maaf karena aku tidak selalu ada seperti Potter yang selalu ada untuk mu." Balas Scorpius kaku. Rose menatap Scorpius tidak percaya. "Walaupun Al selalu ada di sisi ku—rasanya beda. Aku lebih bahagia bersama mu walaupun kita tidak terlalu sering berbincang seperti ini."

Keduanya saling menatap satu sama lain dan tertawa bahagia. Scorpius ingin memeluk Rose tapi ia tahan karena dia berkeringat karena latihan tadi. Ia tidak mau Rose ikut bau sepertinya. Scorpius menatap datar daun-daun berterbangan. "Potter—dia sungguh-sungguh ingin ikut? Padahal ini kencan pertama kita."

"Kencan pertama kita," Ulang Rose pelan. "Aku tidak bisa melakukan apapun agar ia tidak ikut. Maaf, Scorpius."

"Tidak apa-apa. Lagipula kita bisa membuatnya cemburu nanti." Kata Scorpius sebal. Rose menatap Scorpius bersalah. "Kau tahu?"

"Aku tahu semuanya, Rose."

"Harusnya—"

"Sebelum ada kejadian ini. Aku sudah yakin dia memiliki perasaan dengan mu. Jadi, jangan minta maaf lagi." Potong Scorpius hangat. Rose tersenyum dan mendekatkan dirinya ke Scorpius. "Bagaimana dengan tubuh mu? Apa sakit karena serangan tadi?"

"Tidak apa-apa. Ini sudah resiko." Balas Scorpius sambil menahan cengirannya. Rose tersenyum dan mengalihkan pandangannya. Melihat Rose yang menutup kedua matanya—Scorpius yakin, pasti Rose sedang menikmatinya. Tapi—

—kenapa sekilas ia membayangkan Lily yang sedang berada di sampingnya?


"Aku tidak percaya ini. Kau akan pergi dengan Scorpius nanti?"

Al menggerutu kesal ketika Lily menanyakan hal yang sama lagi. Seketika ia menjadi menyesal karena datang ke Asrama Gryffindor. Saat ia datang, Lily dengan setia mengekorinya kemana pun.

"Aku serius, Al. Kau akan pergi dengannya?"

"Merlin! Jangan bertanya dan kenapa kau memanggil namanya?" kata Al gemas. Lily mendengus mendengarnya. "Aku ingin tahu! Aku memanggil namanya karena dia itu teman ku!"

"Kenapa kau mau berteman dengan dia. Itu menjijikan." Kata Al malas. Mengambil sebotol air mineral dingin dan membuka tutupnya. Lily mendorong Al kesal. "Dan kenapa kau pergi ke Hogsmeade dengannya kalau dia menjijikan?!"

Al tersedak. Kenapa dia tahu? Batinnya bertanya. Alasan khusus kenapa dia pergi dengan Scorpius adalah karena Scorpius akan pergi dengan Rose. Al tidak akan membiarkan Scorpius berduaan dengan Rose di Hogsmeade. MANA MUNGKIN AKU MEMBIARKAN MEREKA BERDUAAN SAJA, Batin Al menjerit heboh.

Marah—dia masih sangat marah. Karena Scorpius sudah memberikan pukulan mautnya ke pipinya, dia tadi langsung melempar Quaffle ke Scorpius yang sedang mencuri pandang ke Rose. Untung saja tidak ada yang menyadarinya, batin Al bersyukur. Sebenarnya Al ingin Scorpius langsung jatuh dan di rawat. Tapi—ah doanya tidak manjur.

"Kau pasti sedang berpikiran yang tidak-tidak." Al mendengus ketika mendengar sindiran halus Lily. Dia masih lupa kalau adiknya yang mungil ini masih berada di sampingnya. "Berpikiran jorok maksud mu?"

"Iya," balas Lily santai. "Lihat—kau tiba-tiba diam dan mulut mu sedikit terbuka. Apa jangan-jangan kau memikirkan yang tidak-tidak dengan Scorpius?"

"Aku tidak berpikiran mesum seperti James ataupun Fred, Lils. Aku sedang memikirkan hal lain." Balas Al ketus. Bisa-bisanya Lily berkata seperti itu, batin Al gemas.

"Kau tidak normal ya? Aku yakin semua Pria pasti pernah berpikiran mesum termasuk diri mu."

"Ganti topik, Lils. Kau masih terlalu kecil untuk membicarakan itu."

"Terserah," balas Lily ketus sambil bangun dari duduknya. "Yang penting, jangan kau apa-apakan Scorpius besok."

"Bukan urusan mu."

"Tentu saja urusan ku, Al."

"Tidak peduli."


"Jubahnya kau simpan, kan?"

Rose mengangguk. "Apakah kita masih membutuhkan Jubahnya, Scorpius?"

"Sepertinya." Balas Scorpius berat. Walaupun Al akan ikut bersama mereka. Mereka masih membutuhkan barang punya James ini.

"Ekhem."

Scorpius dan Rose berbalik. Menemukan sosok yang akan menganggu mereka berdua di kencan pertama mereka nanti. Rose menghela nafas berat dan menatap kedua Pemuda itu bergantian. "Kenapa, Al?"

"Kenapa harus pakai Jubah milik James?"

"Agar tidak ketahuan, mungkin?" balas Scorpius kesal. Menyadari raut wajah Scorpius yang tidak senang membuat Rose makin gelisah. Jangan bertengkar—jangan bertengkar, batinnya berdoa.

"Oh—takut rupanya."

"Hei," bisik Rose. "Daripada kalian berdua bertengkar, sebaiknya kalian berdua pergi ke Asrama sekarang."

"Dengannya?" tanya Scorpius sambil menunjuk Al kesal. "Tidak mau. Lebih baik aku pergi sekarang. Sampai jumpa lagi, Rosie."

Rose tersenyum ketika Scorpius mengacak-acak rambutnya. Al mendengus kesal ketika melihat adegan di depannya. Scorpius menyeringai dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

"Sudah berapa lama?"

Rose mengalihkan pandangannya dari punggung Scorpius. "Berapa lama?"

"Kalian—aku yakin kau tahu apa maksud ku." Kata Al ketus. Rose tersenyum tipis. "Sebelum masuk ke Tahun ke tiga. Dan apakah kau percaya dengan cinta pertama, Al?"

Rose mengikuti langkah Al. Rose tahu—tanpa di kasih tahu, Al pasti mengantarnya terlebih dahulu sebelum pergi ke Asramanya. Percuma saja kalau dia menolak. Al keras kepala—sama sepertinya.

"Tidak."

"Kenapa?" tanya Rose heran karena mendengar jawaban Al. Al tertawa datar. "Rata-rata cinta pertama itu berakhir tragis. Memangnya kau tidak tahu? Sudah banyak yang mengalaminya."

"Kau mengharapkan hubungan ku dan Scorpius seperti itu?" tanya Rose spontan. Sebenarnya ia tidak ingin langsung berkata seperti ini—tapi, mulutnya tidak bisa di ajak kerja sama. Sial, batinnya.

"Tidak."

"Al," kata Rose sambil menahan lengan Al. "Kau terlalu baik untuk ku. Aku tidak pantas untuk mu. Aku tidak mau hubungan persaudaraan-persahabatan kita retak seperti ini. Kau tidak sehangat dulu setelah tahu hal ini. Aku tahu—"

"Aku menyukai mu dan aku tidak suka hubungan mu dengan Malfoy. Karena itu aku seperti ini!" Potong Al kasar. Rose mengalihkan pandangannya dan berjalan mendahului Al. Tidak peduli—tidak peduli, kata Rose dalam hati. Aku tidak mau Al menyukai ku! Bukankah dia sudah melihat dengan kedua matanya sendiri kalau aku menyukai Scorpius? Benar-benar menyukai Scorpius.

"Rata-rata cinta pertama itu berakhir tragis."

Apakah Al bermaksud untuk menyindirnya bahwa cinta pertamanya nanti akan berakhir tragis? Rose mendengus kesal. Mengumpat dalam hati cinta pertamanya dengan Scorpius tidak akan berakhir tragis—tapi, akan berakhir dengan memulai yang baru. Bukankah aku sudah berjanji ke Lily untuk menjadikan Scorpius menjadi miliknya? Kata Rose dalam hati.

Rose tidak pernah mengikari janji yang ia buat dengan Lily. Sekalipun ia sangat mencintai Scorpius, tapi, kalau Lily yang meminta. Ia akan rela menerimanya—maksudnya, mencoba untuk rela menerimanya.

Kadang-kadang Rose berpikir. Siapakah yang jahat di sini? Rose—dirinya, atau Lily? Tapi, Rose yakin yang jahat adalah dirinya sendiri. Pertama; ia berpacaran dengan Scorpius (Pemuda yang di taksir oleh Lily), kedua; ia membuat Al patah hati dan hubungan mereka berdua agak renggang, ketiga; pada akhirnya ia yang akan memutuskan Scorpius.

Rata-rata

Cinta Pertama

Itu

Berakhir

Tragis

TIDAK, Batin Rose menjerit. Tidak akan—tidak akan berakhir tragis dan Rose berjanji kepada dirinya sendiri. Memejamkan kedua matanya dan berharap air matanya tidak jatuh. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Al. Menghela nafas berat dan dia mulai berlari-lari kecil ke asramanya untuk beristirahat, karena besok—akan menjadi hari yang panjang bersama Al dan Scorpius.


BERSAMBUNG

Terimakasih yang sudah memberikan review di chapter 9; Lilyan florence, rina. Kartina. 980, rosejean, novy. Fajriati, Auliar18, Nisa Malfoy, aprillia. D. Pratiwi. 5, Tamu doang, beky, Mrs. Y Malfoy

Rnr?thanks.