Aku perhatikan ada beberapa fanfic tentang chara death yg bertipe Fanon. Kupikir sesekali menarik juga klo aku buat kyk gitu. Di Fandom Indo, Luffy yang paling sering dimatikan ya? Zoro dan Nami juga pernah masing-masing sekali sih. Kalau begitu, aku buat yang Sanji mati ya? Sebenarnya aku udah pernah bikin yg genre Angst tentang pairing ini juga di fic pertama, tapi kan ending-nya ga tragedi.

Ceritanya cukup panjang biar lebih dramatis. Semoga terhibur...eh, terhibur apanya? Semoga terharu hehehe.. Oiya, kalimat yang di-italic adalah dialog khusus Sanji.


Title #10: Last Message

Words: 3453

Type: Deathfic (Sanji died)

Genre: Tragedy/Hurt-Comfort/Friendship

Summary: Para kru SH sudah mulai bisa menata rasa kehilangan mereka atas kematian Sanji, kecuali Nami. Mereka cemas karena sepertinya Nami ada tanda-tanda kegilaan dan mau bunuh diri. Benarkah demikian? Lalu, bagaimana para kru SH lainnya menghiburnya? Nakamaship and love in one. Slight: Zorobin.


We aren't brave because we've been died like hero

LAST MESSAGE

.

.

Sanji-kun, kau di mana?

Kau berjanji akan kembali bukan?

Kau berjanji tak akan meninggalkanku bukan?

Kau berjanji saat aku bangun nanti kau ada di sampingku bukan?

.

.

Nami memasuki kabin dapur yang kosong melompong. Tak ada tanda-tanda seseorang sedang sibuk menyiapkan hidangan malam seperti biasa. Luffy juga tak berkeliaran di tempat, padahal jika tahu sang koki tak ada, ia mungkin akan menyelinap ke dalam.

.

"Luffy, jangan terlalu idiot dan rakus, atau Nami akan terus memukulimu..."

Luffy, Ussop, dan Chopper mengintip Nami dari balik pintu ruang makan. Mereka tak berani masuk.

"Jangan diam di situ saja, Luffy. Ambil saja makanan seperti biasa," kata Nami menyadari keberadaan mereka.

"Eh? Kau tak marah?" Luffy heran.

"Makanlah selagi kau masih bisa makan."

"Pukul aku saja, Nami," pinta Luffy.

"Tidak," jawab Nami. "Aku tak punya alasan untuk memukulimu."

Luffy pun membuka kulkas dan mengambil makanan beku. Ia menoleh lagi siapa tahu Nami hendak memukulnya kalau melihatnya terang-terangan seperti itu.

"Nami?" Ussop ikut-ikutan heran. Ia tahu Luffy sengaja membuat alasan. Nami yang tidak marah seperti bukan Nami dan Luffy jelas lebih khawatir soal itu.

.

"Ussop, tolong tingkatkan kekuatan Clima-Tact Nami agar ia bisa selalu kuat."

Ussop mengernyit. Meski sama-sama terlihat penakut, Ussop tahu Nami lebih lemah darinya sebagai seorang wanita. Ia tahu Nami memiliki kelebihan di kecerdasannya yang nomor satu di antara semuanya tapi kekuatannya yang paling bawah. Kalau bukan karena senjata buatannya, ia tak yakin Nami bisa ikut bertempur hanya dengan mengandalkan tongkat. Dan, Ussop tak mau melihat Nami terpuruk hanya karena merasa ia harus terus-menerus dilindungi. Apalagi, jika kenyataan terakhir itu terlalu pahit.

"Chopper, kau dokter hebat. Tolong sembuhkan Nami setiap ia jatuh sakit ya?"

Nami meninggalkan mereka bertiga. Chopper hanya bisa melihat kegalauan dari punggung Nami. Ia tahu Nami sudah pulih tapi ia tak tahu cara kerja hati manusia. Atau ia tak tahu cara mengobati rasa sakit yang masih tersisa di hati Nami. Ia hanya tahu bahwa jalan pikiran manusia dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Ini seperti semujarab apa pun obat untuk menyembuhkan penyakit, jika manusia yang bersangkutan bahkan enggan hidup, obat itu tetap tak akan bekerja. Ini bukan seperti saat Nami dibawa ke negerinya karena sakit parah yang diakibatkan bakteri Casha dari Little Garden.

.

Zoro sedang membasuh keringatnya. Setelah selesai latihan berat di gym, seperti biasa ia hendak tidur untuk memulihkan stamina. Lalu, ia melihat Nami melintas.

"Marimo-kun, segera bayar utang-utangmu atau kau akan membuat Nami jatuh miskin."

Jatuh miskin? Zoro tersenyum sinis. Dasar Alis Pelintir, kau selalu berlebihan.

"Ah, Nami. Utangku..," panggil Zoro.

"Sudahlah, kuanggap lunas saja," jawab Nami singkat dan cepat.

Cih, pikir Zoro. Nami yang tidak cerewet soal uang bukan Nami. Ia seperti kehilangan rohnya. Apa yang kau pikirkan, koki bodoh? Apa ini yang kau ingingkan? Apa kau senang melihat Nami seperti ini?

"Nami," sapa Robin kemudian. "Bagaimana keadaan Log Post hari ini? Apa kita sudah bisa mulai berlayar?"

"Aku tidak tahu," kata Nami pendek.

"Robin-chan, aku juga menyayangimu. Maaf aku selalu memanggilmu dengan sebutan –chan, tapi aku tahu kau bisa menjadi sahabat dan kakak perempuan yang baik bagi Nami-san."

Robin masih bisa mengingat kejadian itu. Malam itu, cuaca berkabut dan badai ikut menghantam pulau. Tak ada yang bisa memprediksi hal itu karena Nami dan Sanji belum kembali. Tak ada yang bisa berpencar untuk mencari mereka. Luffy sudah mengalahkan musuh utama dengan susah payah begitu juga dengan yang lain, dan ia mempercayakan Nami sepenuhnya pada Sanji seperti saat di Thriller Bark. Seharusnya seperti itu, dan memang kenyataannya seperti itu. Mereka lalu melihat Sanji membopong Nami dari kejauhan. Mereka pun segera menghampiri karena melihat Keduanya terluka parah. Nami masih bisa diselamatkan tapi...

.

.

-flashback-

"Jangan sampai Nami melihat keadaanku yang menyedihkan seperti ini," pinta Sanji. "Aku tak mau bayangan kematianku menghantuinya saat ia sadar besok. Tolong jaga dan bawa dia pergi."

"Tolol, kamu selalu saja sembarangan!" kata Zoro.

"Kalian pasti bisa menggenggam impian masing-masing tanpaku."

"Mana bisa?" kata Luffy. "Kalau tak ada yang memasakkanku makanan, aku tak bisa menempuh lautan dan menjadi Raja Bajak Laut."

"Kau kan bisa cari koki baru," bujuk Sanji.

"Ga bisa," Luffy mulai mengeluarkan air mata. "Kau tak tergantikan. Kau Koki terhebat, masakanmu paling enak di seluruh penjuru dunia."

"Maafkan aku, Luffy, teman-teman. Kurasa perjalananku berakhir sampai di sini," lanjut Sanji.

"Lalu, bagaimana dengan Nona Navigator?" tanya Robin masih berusaha tenang. "Kau bukan orang yang tega meninggalkannya sekejam itu, Tuan Koki."

"Dia pasti mengerti, Robin-chan . Nami-san ku bukan orang lemah dan cengeng seperti itu. Itu yang membuatku semakin jatuh cinta padanya," jawab Sanji. Lalu, perutnya mual. Ia mulai batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Jangan bicara lagi!" seru Luffy.

"Sial," umpat Zoro tak tahan melihat pemandangan itu dan memalingkan muka. Ini bukan pertama kalinya ia melihat kematian seseorang, tapi... "Apa Sanji tidak bisa diobati dulu, Chopper? Lukanya lebih parah," katanya kalut.

"Tapi, Nami juga harus segera diobati!" Chopper tak kalah kalut."Dan Sanji tak mau diobati sebelum Nami dipastikan selamat terlebih dahulu."

"Sanji, kau..." kata Ussop bergetar mendengar perkataan Chopper, mengingatkannya saat mereka menyusup ke dalam Maxim. Saat itu, Ussop yang menjemput Sanji membisikkannya bahwa Nami telah aman (catatan author: ini di anime).

"Gawat, pandanganku mulai kabur. Bisa tolong sulutkan rokok?" pinta Sanji

Luffy pun menyulutkannya dan menyelipkan rokok ke mulut Sanji dengan terisak.

"Chopper, bagaimana keadaan Nami-san?"

"Dia akan segera sembuh," jawab Chopper terbata-bata mulai menangis.

"Syukurlah. Berarti aku bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang..." Sanji pun memberikan pesan untuk sahabatnya masing-masing dengan lirih hingga menghembuskan napas terakhir dan menjatuhkan puntung rokoknya.

"Alis Pelintir, jangan tidur!" seru Zoro.

"Oi, bertahanlah!" seru Ussop.

"Kuatkan dirimu, bro!"seru Franky.

"Jangan menyerah!" seru Brook.

Chopper ingin memeriksa keadaan Sanji tapi dicegah Luffy seolah tak perlu memastikan denyut nadi dan detak jantungnya lagi.

Luffy pun menutup kelopak mata Sanji sebelum akhirnya berteriak membahana ke langit yang disusul hujan tangis semuanya. "SANJIII!"

Semua sedih. Semua menangis. Semua kehilangan. Robin sendiri sampai tak bisa berkata-kata untuk mengeskpresikan kejadian ini, air matanya belum keluar karena begitu shock-nya.

"Sanji-kun..." tiba-tiba terdengar lirih suara Nami. "Kau di mana?"

"Gawat," seru Ussop masih mengucek mata. "Apa Nami terbangun?"

"Be-Belum, ia hanya mengigau," jawab Chopper.

"Kenapa kau masih di sini, Chopper?" bentak Luffy masih sambil bercucuran air mata. "Kau tadi tidak mendengar permintaan Sanji? Lekas bawa Nami ke Sunny sebelum ia bangun di sini!"

"Ussop, Robin, kalian temani Chopper dan Nami," perintah Zoro masih bisa berpikir meski hatinya sedang perih. "Biar aku, Luffy, Franky, dan Brook yang mengurus jasad Sanji. Cepat!"

Robin pun mematuhi Luffy dan Zoro, akhirnya ia tak kuasa menahan tangis. Bukankah ini terlalu kejam bagi Nona Navigator? Ia tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi dilihat dari kondisi Nami yang tampak tidur tenang tanpa kesakitan, ia bisa menebak bahwa sebelum Nami kehilangan kesadaran akibat lukanya, Sanji seolah telah menenangkan Nami, membuatnya tertidur tanpa rasa khawatir, dan membisikkan kata-kata penyejuk agar Nami mengalami mimpi indah. Khasnya. Ya, semua mendapat bagian menyakitkan masing-masing. Mengantar sahabat pergi untuk selamanya di depan mata dan kau tak bisa berbuat apa-apa atau nyawamu ditukar dengannya dan kau bangun dengan mengetahui kenyataan itu. Tentu tak ada yang mau memilih di antara 2 pilihan itu.

.

.

Nami membuka mata keesokan harinya. Demamnya sudah turun dan semuanya bisa lega untuk satu hal. Nami bisa langsung tahu dirinya terbangun di Thousand Sunny dan ia berterima kasih pada semuanya yang terlihat menjaganya dengan cemas di dalam kamar. Tapi tentu saja masalah yang lebih gawat akan muncul setelah ini. Dan akhirnya Nami menyadari bahwa kurang satu orang di antara teman-temannya.

"Sanji sedang di dapur ya?"

DEG! Bagaimana ini? Bagaimana mengatakannya?

"Na..," Luffy sudah mengepalkan tangan dari tadi, ia hampir angkat bicara sebelum dicegah Zoro karena sepertinya Robin yang saat itu duduk di ranjang Nami bisa mengatakannya dengan lebih tenang.

"Dengar, Nami," kata Robin mencoba bicara lembut tapi ada nada tertahan. "Kuharap kau bisa menerima kenyataan ini."

"Robin," kata Nami. "Kenapa kau berbicara dengan nada seperti itu?"

Robin mengernyit tapi ia merasa harus tetap fokus apalagi semua laki-laki di sampingnya sudah kusak-kusuk. "Nami," kata Robin lagi. "Tuan Koki sudah meninggal."

Hening... Semua pun menunggu reaksi Nami.

Tapi yang ditunggu-tunggu malah tertawa. "Robin, jangan bercanda dong. Mana mungkin Sanji..."

"Itu benar, Nami," potong Luffy. "Aku sendiri yang memimpin upacara pemakaman semalam."

"Kau minta dijitak?" kata Nami lagi.

"BUAT APA AKU BOHONG?" kata Luffy. "Kamu ga lihat bengkak di mata kami semua?"

"Oi oi, Luffy," tahan Ussop. Ia jadi ingat Luffy juga pernah membentaknya dulu yang bersikeras tak mau percaya bahwa Going Merry sudah tak bisa diperbaiki lagi. "Sabar, kita sudah sepakat kan?" bisiknya kemudian.

Nami pun mengamati ekspresi Luffy dan semuanya. Tapi, ia masih bersikeras. "Sanji-kun masih hidup," kata Nami bangkit dari ranjang. "Kalau dia tidak ada di dapur mungkin dia sedang berbelanja. Aku akan menunggunya pulang, aku akan mencarinya!"

"Luffy benar. Sekuat apapun usahamu untuk menunggunya, ia tak akan pernah pulang ke Sunny lagi, Nami. " sambung Zoro. "Kami bahkan telah menguburkannya di dekat sini. Kalau kau masih tak percaya, akan aku antar."

Tak cuma Zoro, semua lalu mengantarkan Nami untuk menunjukkannya. Tapi...

"Itu hanya nisan kosong. Kalian ini kenapa sih? Sanji-kun tidak ada di situ."

Nisan kosong? Jelas-jelas Franky mendesainnya dan menunjukkan betapa itu tempat pembaringan terakhir sahabat mereka. Betapa itu melukiskan bagaimana menyesakkan hatinya saat harus menguburkannya. Zoro menggali dan menutup lubang dengan tangan terpaksa. Brook memainkan Requiem sepanjang malam dengan biolanya dan berharap dapat membagi Yomi-Yomi andai bisa. Robin berusaha tenang dengan berjaga di samping Nami semalaman, namun setiap kali ia mendengar Nami mengigau, air matanya langsung keluar lagi. Chopper dan Ussop saling berpelukan semalaman berharap itu hanya mimpi. Luffy yang menurunkan jasad Sanji, dan setelah Franky selesai membuatkan pusara, ia lalu meraung-raung dengan menghancurkan bebatuan sekitar karena merasa itu semua salahnya sebagai kapten. Ya, semua sudah habis-habisan menangis malam itu dan sepakat tak menunjukkan kesedihan yang berlebihan di mata Nami karena Sanji juga berpesan hal itu secara tersirat. Okelah bahwa Nami sebelumnya masih bersikeras tak percaya karena ia tak melihat langsung detik-detik kematian Sanji semalam. Namun, meski telah melihat bukti yang disodorkan, reaksi Nami sungguh di luar dugaan. Tak ada tangisan. Tak ada raungan kesedihan. Semuanya bingung. Ini tidak normal.

"Nami, tunggu!" seru Zoro melihat Nami pergi kembali ke kapal. Yang lain pun ikut mengejarnya.

Luffy sebenarnya sudah merelakan Sanji pergi tapi kalau melihat kondisi Nami seperti itu, ia...

"Luffy?" kata Ussop melihat Luffy masih tertinggal sedang mengetuk-ngetuk pusara Sanji.

"Oi, Sanji" kata Luffy entah apa yang ia panggil. "Bangun dan temuilah Nami. Kumohon..."

Ussop pun menangis lagi. Apa yang sebenarnya telah kau rencanakan, Sobat?

-end of flashback-

.

.

Sesekali Nami terlihat mengunjungi pusara Sanji. Robin dan yang lainnya pun membiarkannya saja karena sepertinya ia perlu sendiri. Nami ke sana untuk memastikan bahwa ingatannya salah. Sanji yang terakhir ia lihat masih baik-baik saja, masih bisa tersenyum, masih bisa menggombal dan membuatnya melayangkan pukulan, masih bisa mengusap lukanya dengan lembut dan mendekapnya penuh kehangatan. Malam itu...

"Aku akan membawamu keluar dari sini dengan selamat, Nami-san. Aku pasti akan mengantarkanmu ke tempat Chopper. Sekarang Istirahatlah dulu, tidurlah, pulihkan tenagamu."

"Tapi, kamu bagaimana? Kau sendiri juga terluka."

"Aku akan baik-baik saja. Aku ini kuat. Atau kau meragukanku?"

"Tidak."

"Baguslah. Mimpikan diriku ya?"

"Sinting, siapa juga yang mau memimpikanmu?" bentak Nami. "Bisa-bisanya kau berkata seperti itu di situasi seperti ini."

"Hei, rasa sakitnya seperti menghilang kan?"

"Eh, kau benar."

"Makanya, pikirkanlah hal-hal yang menyenangkan. Seperti saat kau sedang memarahi Luffy atau Marimo, seperti saat kau sedang menggambar peta di perpustakaan, seperti saat kau sedang menikmati angin untuk melihat cuaca. Atau bisa juga pikirkan masa depan saat kau berhasil menggapai impianmu. Jangan pikirkan diriku atau situasi sekarang."

"Apa kau selalu memikirkanku, Sanji-kun?"

"Ya, selama memikirkanmu, rasa sakitku hilang."

"Tak adil," sergah Nami. "Aku tak boleh memikirkanmu tapi kau memikirkanku."

"Kalau bgitu pikirkan saja kita menikah lalu kau dan aku akan memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan. Aku akan membuka restoran di All Blue dan kau membantuku mengelolanya agar kita bisa kaya raya."

Nami menjitak kepala Sanji. "Memangnya siapa yang mau menikah denganmu?"

"Makanya... Sudah kukatakan kau pasti tak akan mau kan?"

Padahal bukan itu maksud perkataanku tadi, batin Nami. Rupanya Sanji tetap tak membolehkanku memikirkan lukanya. Nami pun tersenyum geli. "Tapi, itu tidak buruk kok."

"Benarkah?" tanya Sanji dengan muka memerah.

"Ya," kata Nami lalu menyandarkan kepalanya di dada Sanji. "Bagaimana kalau kita namai anak kita, Jimmy dan Sanna?"

"Kedengarannya bagus."

"Tentu saja. Itu kan gabungan dari kedua nama kita."

Sanji tersenyum mendengarnya. Ia lalu menyelimuti Nami dengan jasnya sampai Nami tertidur. "Sweet Dream, Nami-san."

Ya, itulah senyum penuh harapan yang terakhir kali Nami lihat. Bagaimana ia bisa terbangun dan mendengar berita bahwa Sanji telah pergi begitu saja? Bagaimana ia tiada? Apa ia tertembak? Apa ia menenggak racun? Apa ia tertusuk pedang? Apa ia dipaksa bunuh diri? Apa ia tertimpa reruntuhan di gua semalam? Apa ia sendirian melawan badai dan terhempas? Nami sungguh sama sekali tak memiliki ingatan itu, lantas bagaimana ia harus percaya? Sanji pasti masih hidup. Ia hanya sembunyi. Aku hanya harus menemukannya.

.

Dan saat Nami melihat betapa dalamnya laut yang berada di bawahnya, ia kemudian merasa Sanji berada di sana.

"Nami," panggil Brook melompat turun dengan ringannya dari menara pengawas. "Bisa kau perlihatkan celana dalammu hari ini?"

Nami yang terkejut tiba-tiba mundur dari pagar dek. "Ambil saja di lemari," katanya lalu berlalu melewati Brook.

"Brook, kau teman mesumku. Kau boleh meminta celana dalam pada perempuan mana saja asal jangan pada Nami."

Sama seperti Luffy dan Zoro yang ingin mendapatkan amarah Nami, Brook sengaja menanyakan hal-hal yang dibenci Nami. Tapi ia juga tak berhasil.

.

.

Akhirnya tiba waktu makan malam dan semuanya berkumpul di ruang makan. Hening...

"Aku lapar…," kata Luffy tiba-tiba memecah keheningan.

"BIsa ga sih kamu lebih prihatin sedikit?" protes Zoro. Ternyata Luffy kalau sudah lapar tetap saja seperti itu, batinnya. Tapi, wajar juga sih. Ini sudah hari keempat sejak kepergian Sanji dan mereka hanya makan seadanya. Mereka sendiri sedikit demi sedikit sudah bisa menata hati masing-masing. Ya, kecuali Nami.

"Mari kita minum COLA!" kata Franky.

"Aku tak akan kenyang hanya dengan Cola," keluh Luffy. "Robin, kau tak bisa memasak?"

"Bisa sedikit sih, tapi takutnya seleraku tak sama dengan kalian saat kucicipi," jawab Robin.

"Kau terlalu banyak minum kopi," kata Zoro lagi. "Atau kau memang suka yang pahit-pahit?"

"Kau sendiri maniak sake," timpal Ussop dengan nada meledek.

"Dan aku susu," sambung Brook garing. "Meski seharusnya aku sudah tak bisa menikmati rasanya karena tak memiliki lidah."

"Aduh, orang kedua yang bisa masak itu Nami," kata Luffy. "Ga kalah lezat lho…"

"Benarkah?" Chopper, Robin, Franky, dan Brook tak tahu hal itu. Kebetulan apa ini?

"Tapi dia minta bayaran sih," keluh Ussop kalau mengingat masa lalu sebelum Sanji bergabung.

"Tapi, klo Nami kita suruh masak di dapur, nanti..." kata Robin tak melanjutkan kata-katanya. "Dapur itu penuh kenangan akan tuan Koki."

"Biar saja, mungkin dia akan senang klo kita membayarnya," sahut Zoro. "Terpaksa bayar sih, tapi klo tidak bgitu, apa lagi yang bisa membuatnya ceria? Strategi Luffy gagal."

"Huh, kita saja yang bodoh mau-maunya percaya pada strategi orang paling idiot sekapal," kata Ussop.

"Habis mau gimana lagi?" kata Luffy pelan kalah suara dengan perutnya. "Sanji bilang aku ga boleh terlalu idiot ternyata aku masih idiot juga ya?"

"Tak apa-apa Kapten. Kami semua tahu kaulah yang paling mencemaskan Nona Navigator," hibur Robin. Waktu rapat (makan) malam kemarin, memang Luffy yang dengan semangat mengutarakan bahwa semua harus bisa membuat Nami enerjik kembali. Tunggu, Robin tiba-tiba menyadari satu hal lagi betapa mereka kehilangan besar, keahlian strategi yang dipegang Sanji dalam situasi genting. Tapi, soal menyusun dan pembagian strategi masih ada Nami. Kebetulan lagi?

"Ups, maaf Luffy," kata Ussop khilaf. Lalu, ia menoleh lagi ke Zoro. "Bukankah kau tadi hendak membayar utang tapi Nami menolaknya?"

"Aku tadi malah mau bilang belum punya uang, tahu!" jawab Zoro. "Kukira itu bisa membuatnya cerewet. Iya kan, Luffy?"

"Tapi, ide bro Zoro boleh juga," sambung Franky. "Kita harus melakukan hiburan yang SUPER, dan itu dengan merelakan uang kita."

"Tunggu, uang dari mana?" tanya Ussop. "Selama ini yang pegang uang di kapal kan hanya Nami dan..," Ussop tak melanjutkan kalimatnya. "...Sanji,"lanjutnya lesu.

Semua hening kembali dan memikirkan cara lain. Kenapa kebetulan itu muncul lagi? Masa mengambil uang belanja dari dompet almarhum? Lantas bagaimana caranya membuat Nami ceria kembali? Menghibur langsung secara empati gagal. Membuat lelucon gagal. Memancingnya marah dan cerewet gagal. Ingin memberinya uang tak bisa. Membiarkannya sendiri juga malah semakin mengkhawatirkan. Apa tak ada yang bisa dilakukan selain diam menunggu? Apa harus hantu Sanji sendirikah yang bisa mengatasi hal ini?

"Ngomong-ngomong, Nami di mana?" kata Chopper tiba-tiba.

"Gawat!" kata Brook teringat sesuatu.

"Ada apa, Tuan Tengkorak?" tanya Robin,

"Tadi siang, aku melihat Nami bersandar di pagar dek, melihat laut di bawahnya, dan menjorokkan badannya. Jangan-jangan ia mau..."

"Mau kencing ya?" sambung Luffy semakin tak fokus karena perutnya keroncongan.

"BODOH! Memangnya cowok!" kata semua kecuali Robin membentak Luffy.

"Robin," seru Zoro ikut gelisah. "Apa Nami tidur?"

"Iya, tadi sudah kubangunkan tapi ia tak mau," jawab Robin.

"Kalau begitu, ayo sekarang kita ke kamar Nami," perintah Zoro.

Namun, Nami tidak ada di kamar. Semua pun panik. Begitu pula dengan Luffy yang mendadak kelabakan dan langsung lupa perut laparnya. Apalagi Brook mengatakan kalau Nami ada tanda-tanda mau bunuh diri.

.

.

Nami ternyata sedang mendekam di depan pusara Sanji untuk yang kesekian kali. Ia membisu tapi di hatinya seolah sedang terjadi percakapan.

Sanji-kun, kata Nami. Aku kemari karena aku akan berlayar besok. Sudah beberapa hari ini aku membuat cemas semuanya. Karena itu aku ingin mengucapkan ...

Jangan ucapkan selamat tinggal, potong Sanji

Eh?

Karena aku akan tetap ikut berlayar denganmu sampai kau bisa menyelesaikan peta dunia.

Nami sadar, ia ingin menyertakan All Blue di dalam petanya, membawa impian Sanji dan membuktikan pada dunia bahwa All Blue itu ada di akhir perjalanan ini. Tapi, bagaimana caranya kau ikut denganku?

Aku ada di dalam birunya laut. Di dalam birunya langit. Di dalam hembusan angin.

Benar juga, aku kan menyadarinya siang tadi. Lalu, setelah itu?

Terserah kau.

Bodoh.

Aku tak keberatan kau melupakanku.

Siapa yang mau melupakanmu?

Selamanya?

Ya.

Kalau begitu, aku tak akan mati. Aku berjanji padamu bahwa aku akan berjuang untuk hidup.

Kau memang masih hidup. Saat aku memejamkan mata waktu itu, kau hanya pergi sebentar. Kita pasti kelak bertemu lagi kan? Di kehidupan yang lain, batinnya.

Nami-san ku memang cerdas. Aku percaya kau bisa memahami pesanku.

.

"NAMIIIII! Kau di mana?" terdengar suara teman-temannya khawatir.

.

Ah, sudah waktunya, kata Nami beranjak berdiri. Kalau bertemu Bellemere, salam ya? Katakan padanya, aku baik-baik saja. Aku tak menangis.

Tentu saja. Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai membuatmu menangis.

Aku tahu. Kalau aku menangis, nanti kau yang sedih.

Dan Nami pun seolah melihat Sanji tersenyum kepadanya. Senyum yang sama dengan yang terakhir kali ia lihat secara nyata.

.

"Aku di sini!" seru Nami menjawab panggilan teman-temannya dan berlari mendekat.

Luffy sampai paling dulu, ia menabrak keras Nami dan memeluknya. "Syukurlah, kukira kau bunuh diri. Aku tak sanggup kehilangan nakama lagi."

"Luffy, mana mungkin aku mau menyia-nyiakan pengorbanan Sanji-kun."

"Berarti kau sudah bisa menerima kematian Sanji?" tanya Zoro.

"Sudah kubilang Sanji-kun tidak mati," jawab Nami.

"Oi oi oi..," kata semuanya.

"Nami masih GILA!" teriak Luffy.

"BODOH!" kata Nami langsung menjitak Luffy hingga terkapar. "Aku hanya tidak suka kalian menggunakan kata-kata ia telah mati. Bukankah Sanji juga masih hidup di dalam hati dan kenangan kalian semua?"

Hening... Semua lalu meresapi kalimat Nami.

"Ternyata nee-san lebih tegar dari kita semua," kata Franky kemudian mewek. "Aku tidak menangis lho..."

"Shishishi, Nami telah kembali!" kata Luffy duduk dan memperlihatkan nyengir lebar.

"Jadi kamu lebih suka dipukuli?" timpal Ussop.

Nami tertawa. Ya, aku kembali. Sanji-kun juga sudah kembali.

"Nami, kau...," kata Robin.

Nami menoleh menatap Robin. "Maaf membuatmu cemas, Robin. Kau tahu kan? Aku butuh waktu..."

Robin menghela napas lega. Ya, harusnya aku bisa tahu. Harusnya aku percaya kata-kata Tuan Koki.

"Ayo kita pulang ke kapal!" seru Brook. "Akan kumainkan lagu untuk menghibur kalian semua."

Mereka semua pun berjalan menuju pantai.

.

"Teman-teman, terima kasih kalian selalu menyayangi dan memperhatikan Nami-san."

.

"Alis Pelintir?" Zoro yang paling belakang jalannya mendadak berhenti. Ia lalu menoleh ke belakang, memandang pusara Sanji yang sudah terlihat jauh.

"Tuan Pendekar?" tanya Robin ikut menghentikan langkah, tidak mau Zoro tertinggal dan tersesat,

"Kau mendengar sesuatu, Robin?" tanya Zoro.

Robin menatap Zoro dalam, mencerna kata-katanya sebelum akhirnya ia menyadari apa maksudnya. "Ah, hanya hembusan angin," kata Robin sedikit mengetes Zoro.

"Entahlah, atau ini hanya perasaanku saja? Tiba-tiba aku merindukan pertengkaranku dengan Sanji."

"Aku juga merindukan Tuan Koki menjamuku dengan kopi dan cemilannya,"

"Hei, berarti kau juga mendengarnya barusan bukan?"

Robin tertawa kecil melihat respon Zoro yang merasa sedikit dikerjai. "Memang hanya perasaanlah yang bisa mendengarnya."

"Kau benar. Mungkin inilah yang dimaksud Nami," kata Zoro lalu mengulurkan tangannya. "Ayo, kita juga kembali."

Robin tersenyum lembut. Ia meraih tangan Zoro dan menggenggamnya.

.

.

Nami-san, aku di sini.

Aku tak akan kemana-mana.

Aku berada di tempat yang paling dekat denganmu.

Aku juga selalu ada di sekelilingmu.

.

.

END

We are brave because we keep the hope to living


Huuu..., Author sebenarnya ga kuat ngetik crita ini TT_TT

Jangan tanya detil petualangan kali ini gimana, siapa musuhnya, bagaimana Nami kalah dan bagaimana Sanji menyelamatkannya. Jangan tanya pula penyebab kematian Sanji. Kalian boleh membayangkan ia terhempas tebing seperti di Drum Kingdom. Atau ia disambar petir seperti di Skypea. Atau ia tertikam pisau seperti di Thriller Bark. Atau ia tertembak dadanya seperti Bellmere (di anime diperhalus, jadi bukan kepala). Atau punggungnya bolong seperti Ace. Bayangin Titanic yang pas Jack meninabobokan Rose di rakit juga boleh deh hehehe... (entah kenapa aku merasa andai One Piece difilmkan oleh Hollywood, Leonardo diCaprio cocok bgt buat meranin Sanji^^).Terserah. Kalau kalian bisa membuat skenario Fanon Luffy tewas tertabrak truk/mobil atau tewas karena pertarungan, kurasa skenario terbaik untuk kematian Sanji adalah ia meninggal karena mengorbankan nyawanya untuk Nami (atau teman-temannya). Klo AU, ya bisa dengan Sanji mendorong Nami yang hampir ketabrak mobil di jalan (tapi klo kyk gini Nami bisa dihantui rasa bersalah). Atau jangan dibayangkan lah. Bayangkan aza Sanji meninggal dengan bahagia, damai, dan tanpa penyesalan sedikit pun. Bayangkan yang indah-indah atau lihat avatar profilku. Oiya, kalau bisa, sekalian tonton video di youtube, cari yang judulnya "Sanji and Nami" yang pake BGM "When You're Gone"-nya Avril Lavigne. Aq mewek juga liat itu.

Maaf dialog khusus untuk Franky ga ada, aku ga tau apa yg khas dari Franky untuk Nami. Soal yang Nami bersikeras bahwa manusia itu ga akan mati kecuali bila ia dilupakan terinspirasi dari quote keren dokter Hiluluk (kalian ga menganggap Nami beneran gila kan?). Sori klo critanya kepanjangan karena aku ingin sekaligus menceritakan betapa kekeluargaan mereka terutama di bagian yang Author udah semena-mena bikin kru SH mencemaskan Nami setengah mati tapi ternyata yang bisa nyembuhin hati Nami tetep az cuma Sanji (dan Nami) sendiri. Namanya juga fic SanNa^^. Oiya, kukasih bonus slight Zorobin sebenarnya itu untuk gambaran bahwa mereka mewakili perasaan kru SH yang lain bahwa yg kehilangan Sanji ga cuma Nami. Klo mereka yg super cool az merindukan sahabat, apalagi yg laen?

Di fandom English sih aku nemu yg kematian Sanji juga, judulnya "Diving for Gold". Tapi critanya, Nami menghabiskan malam dengan Sanji yang sekarat berdua saja sampai dia meninggal. Setelah lelah menangis, baru deh dia ninggalin jasad Sanji lalu pergi cari pertolongan dan akhirnya ketemu ma kru SH. Author-nya lebih detail ngasih musuh dan penyebabnya (lebih gore dan bloody). Meski bacanya mewek tapi aku kurang suka konklusinya.Terlalu private dan ujung-ujungnya saling ngomong "I Love You." Makanya di sini aku balik, anggap az fic kali ini alternative ending dari "Diving for Gold", jadinya kru SH yg liat kematian Sanji tapi Sanji tetap bisa ninggalin yg lebih berkesan untuk Nami. Sanji dan Nami tetap nakama, sampai akhir cerita ini pun statusnya nakama. Ga perlu deklarasi cinta tapi begitulah perasaan mereka.

Oiya, di sini Sanji emang mati, tapi fic SanNa blom tamat koq. Mungkin untuk crita brikutnya, tensinya kukasih yg ringan-ringan lagi. Sedih ga sedih, nangis ga nangis, suka ga suka; kalau kalian udah baca, klik tombol biru di bawah ini.

Semoga ga terlalu OOC (P.S: Makasih buat ReadR atas masukannya. Udah diedit niy^^)