#Jawaban review non-login:
*) Devy Kagane: Wah, makasih ya atas pujiannya. Jadi tersanjung. Hahaha ….
Ini chapter terakhir loh! Udah the end, doa-in aja biar bisa buat sekuelnya , ya! ^^
.
.
.
Drabble of Len x Miku
Genre: (little bit) Romance, and Friendship
Category: Drabble
Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corp.
Summary: Beberapa momen yang tercipta diantara Len dan Miku. Apakah suatu saat mereka akan saling menyadari perasaan masing-masing?
.
.
.
*) Special for my beloved friends
.
.
.
(Berlalu)
Tanpa mereka sadari, semua yang terjadi sudahlah terjadi. Batas-batas gelembung tipis pecah satu per satu, merangkai atom-atom cairan busa. Ya, tanpa mereka sadari, tanpa kata-kata apapun mereka sudah kembali seperti dulu. Mereka tidak merasa kaku setiap waktu dan selalu bersama-sama.
"Yang lalu ya … biarlah berlalu," kata Miku singkat.
Ya, yang lalu itu biarlah berlalu begitu saja. Walau terkadang, itu terasa menyakitkan.
(Kursi)
Benda berwarna hitam dengan penyangga besi. Ya, semua orang pasti sudah tahu benda ini. Ini adalah kursi. Hanya kursi. Lantas?
"Len, ini kursiku," kata Miku pelan, sedikit takut-takut.
Len menggeser tempatnya sedikit. Menyisakan beberapa bagian kursi.
"Udah, lu duduk disini aja," kata Len.
Miku menghela nafas. Daripada capek kagak duduk, mendingan duduk sekarang. Biarin lah satu bangku berdua, yang penting bisa duduk.
Tanpa Miku sadari, sebuah kursi pun dapat dijadikan alat modus buat Len. Ya, Len memanglah orang yang otaknya amat sangat cerdas.
(Aku Mau Hitam!)
Sebentar lagi, kelas Len dan Miku akan mengadakan acara pembuatan baju buat perpisahan. Ya, sebagai kelas paling trending topic guru-guru disekolah, mereka ingin membuat baju. Masalahnya sekarang hanyalah warna bajunya. Tulisan buat disablonnya sih udah dipikirkan mau seperti apa.
"Jadi yang bener mau warna apa?" tanya Gumi tegas, selaku ketua kelas yang baik dan benar.
"Biru," jawab Kaito paling semangat.
"Ungu aja sih," kini giliran IA yang berbicara.
"Aku mau hitam," jawab Len dan Miku berbarengan.
Deg! Muka keduanya langsung memerah. Mereka menyadari kalau jawaban mereka dan kata-kata yang mereka lontarkan itu sama. Sama-sama menginginkan warna hitam.
Yah, terkadang kalau orang beneran suka sama orang tersebut pikiran mereka selalu tersambung satu sama lain, kan?
(Teori Kebahagiaan Miku)
Miku itu orangnya sederhana. Walau begitu, Miku memiliki 'teori kebahagiaan'-nya sendiri.
"Jika dunia itu menyeramkan, ingat saja hal yang menyenangkan. Jika semua orang menjauhi diriku, anggap saja alam sebagai temanku. Jika tetesan air mata mengalir dari pelupuk mataku, ingat saja kalau aku pasti bisa hidup bahagia."
Len membaca sederet kalimat yang ada dibuku tulis Miku. Ya, tulisan yang tanpa sengaja ia temukan dihalaman belakang buku Miku saat buku tersebut terjatuh.
"Sepertinya aku mengerti mengapa dia selalu kuat biarpun ia selalu sendirian dikelas," gumam Len pelan.
Ya, Len berharap ia bisa melakukan sesuatu untuk Miku.
(Miku dimata Len)
"Menurutmu aku itu gimana?" tanya Miku kepada Len tiba-tiba. "Yah, buat intropeksi diri aja."
Len terdiam sejenak. Entah mengapa jantungnya malah berdebar-debar.
"Menurut gua … lu itu baikkk banget! Pokoknya semua yang baik-baik itu ada dimata lu. Cuman lu tukang bohong sih," jawab Len.
Deg! Entah mengapa Miku merasa hatinya sangat bahagia ketika Len mengatakan hal tersebut. Walau sejujurnya dia sedikit bingung mengapa dibilang 'tukang bohong'.
(Gua nggak bisa lihat kebelakang)
"Len, tadi si Yuzuki Yukari mencari kamu," kata Miku menghampiri Len.
Len tertegun. Yuzuki Yukari? Mencari Len? Ada apa?
"Dia mengkhawatirkan dirimu karna kamu nggak masuk kemarin," lanjut Miku lagi.
Len masih terdiam membeku.
"Hey, Len. Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Miku hati-hati.
Len mengangguk lemah.
"Kenapa kamu sama dia nggak balikan lagi? Kalian masih sama-sama suka, kan?" tanya Miku.
Len masih terdiam. Otaknya nampak lambat merespon.
"Juju raja, Mik. Gua belum bisa move on dari dia."
Miku mencengkram pelan ujung seragamnya. Walau tahu ini menyakitkan, tapi Miku tahu dirinya tidak berhak untuk menangis didepan Len.
"Tapi gua nggak bisa kembali ke belakang. Ada gadis yang gua suka," lanjut Len.
Miku menghela nafas pelan. Siapa gadis yang disukai Len?
(Jika)
"Mik, jika ada temen deket lu yang tiba-tiba nembak lu, lu mau jawab apa?" tanya Len.
Miku terdiam. Kenapa tiba-tiba saja Len menanyakan hal tersebut?
"Entahlah, tergantung orangnya," jawab Miku asal.
Entah mengapa … Len merasa ada harapan untuk dirinya menjadikan Miku sebagai miliknya.
(Gemes)
Hari ini, Miku sedang merasa sangat marah. Emosinya meluap-luap begitu saja. Tangannya terlalu malas untuk digerakkan. Perut Miku terasa sangat sakit. Ya, kita semua tahu kalau gejala ini disebut PMS. Bukan, bukan PMS yang berarti Penyakit Menular Seksual loh ya!
"Miku … yang bener tuh jawabannya ini," kata Len menggurui Miku. Habisnya, Len udah gemes ngeliat si Miku ngerjain soal Seni Budaya dengan asal-asalan.
"Apaan sih, Len?" tanya Miku dengan nada tinggi. Matanya menatap garang Len.
"Dikasih tahu yang bener juga," kata Len ketus, ikutan marah.
Kini Miku merasa bersalah. Len nampak marah lagi kepada dirinya.
"S-sorry, Len. Aku lagi bad mood," kata Miku.
Len menatap Miku sekilas. Tangannya yang usil kini mencubit pipi chubby Miku.
"Hahaha … gua tahu kok," tawa Len.
"Aduh, sakit!" keluh Miku.
"Hahaha, abisnya pipi lu bikin gemes sih," tawa Len.
Rasanya … melupakan Len semakin sulit buat Miku.
(Perubahan Len)
"Miku … mending lu segera pacaran sama Len dah," tiba-tiba saja Piko mengatakan hal tersebut pada Miku.
Miku hanya terdiam ditempat. Masih bingung.
"Akhir-akhir ini, dia semakin menjad lebih baik. Sebagai sahabatnya, gua sangat rela lu pacaran sama dia," jelas Piko lagi.
Miku masih terdiam. Jantungnya berdebar-debar.
"Belum tentu dia suka sama aku," balas Miku pelan.
"Yah, siapa tahu saja," kata Piko.
Piko meninggalkan Miku begitu saja. Meninggalkan Miku dengan pikiran yang dipenuhi banyak tanda tanya.
(Cara Menembak)
"Cara ditembak mana yang paling kamu suka?" tanya Rin sambil menunjukkan banyak sekali foto-foto aktor korea yang sedang menembak aktris korea dalam berbagai akting drama kore terkenal. Tak hanya cuplikan drama korea saja, tetapi juga cuplikan berbagai MV korea paling booming.
"Yang ini," jawab Miku sambil menunjuk foto personil boyband Korea yang sedang berakting memberikan sebuah cincin pada seorang gadis yang entah-siapa-itu.
Foto itu terdapat banyak balon. Sang personil tersebut memberikan cincin yang diikat dengan sebuah tali balon berwarna merah muda.
"Wah, iya, ya ini romantis. Bagus buat referensi FF korea," kata Rin.
Tanpa Miku sadari, Len mendengar percakapan mereka berdua.
(Ketetapan hati)
Jantung Len mendebar dengan sangat kencang. Hari ini ialah hari perpisahan kelas 3 SMP. Bukan, bukan karena Len takut nggak lulus. Len optimis lulus karena Len rajin belajar dan mengerjakan soal UN dengan sesempurna mungkin. Lalu, apa yang membuat jantung Len berdebar-debar?
"Tarik nafas, Len. Rileks aja, jangan tegang waktu nembak dia," saran Piko.
Len menarik-menghembuskan nafas secara teratur dan perlahan. Lelaki berambut pirang itu mencoba sebaik mungkin agar tidak gugup.
"Tapi ini hari terakhir gua bertemu dia disekolah. Gua dan dia beda SMA, Ko. Gua takut gagal dan ditolak dia," kata Len.
Piko tersenyum.
"Gua yakin, lu bisa nembak dia dengan sempurna didalam kelas nanti. Anak kelas juga udah ngebantuin, kan?" Piko menepuk pelan bahu Len.
Len tersenyum. Ya, ini seharusnya ialah hari yang paling membahagiakan untuknya.
(I Love You)
Miku melangkah pelan menuju kelasnya. Kegiatan wisuda sudah selesai beberapa menit yang lalu. Hanya saja, anak sekelas menyuruh Miku pergi ke kelas terlebih dahulu.
Clek! Miku membuka perlahan pintu kelasnya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah balon berwarna-warni yang dipegang semua teman sekelasnya.
"A-ano … apa sekarang ada yang ulang tahun?" tanya Miku bingung.
Semua temannya langsung tersenyum misterius. Kemudian sebuah suara musik terdengar. Lantunan musik 'No Other' yang dibawakan Super Junior itu mengalun.
Len mendekat kearah Miku. Tangan Len nampak membawa sebuah balon berwarna merah cerah.
"Would you be my girlfriend?" tanya Len sambil menyodorkan balon tersebut. Disana terdapat cincin yang berukirkan 'L with M' yang diikat tali balon tersebut.
Jantung Miku dan Len berdebar-debar kencang. Semua penonton disana juga nampak sangat antusias.
"Y-yes, I do," jawab Miku gugup.
"Yeay!" teriak semua anak sekelas.
Balon-balon yang sempat digenggam itu kini telepaskan. Cincin berukir yang diikat itu kini dipasangkan dijari manis Miku sesudah tali balon tersebut dilepaskan. Kini, sepasang kekasih baru lahir didunia ini.
.
.
.
Jodoh itu sudah pasti tidak akan kemana-mana. Benar begitu, bukan? ^^
.
.
.
The End! Akhirnya cerita ini finish juga. My first complete fanfic, yeay!
Sudah lama ya belum dilanjutkan. Maklumlah, netbook baru dibetulin sekarang. Jadinya baru dilanjutin.
Well, rencananya sih mau ada sekuel yang tipe-nya multichapter. Nggak drabble lagi kayak begini. Tapi entah kapan dibuatnya. Soalnya masih banyak fanfic yang hiatus. Pokoknya sampai benar-benar udah tuntas deh!
Finally, see you next time! ^^
