(n) a fertile spot in a desert where water is found.

.

-:-

.

Seingat Jihoon, mereka tiba di dorm hampir tengah malam. Setelah membersihkan diri, semuanya langsung istirahat, lelah sekali. Terakhir kali Jihoon mengecek smartphone-nya adalah pukul satu dini hari, kemudian gelap. Ia tertidur.

.

Ketika Jihoon membuka netra, yang ia lihat adalah hamparan gurun pasir sejauh mata memandang. Matahari tenggelam separuh di ufuk barat. Di bawah langit tak berawan, Jihoon merasa seperti sedang ada di dunia lain yang didominasi oranye.

Lalu matanya menangkap warna hijau samar di kejauhan. Jihoon menyipit, kemudian merasa lega telah menemukan sebuah oasis di tengah Sahara.

Jihoon mulai melangkah, hangat pasir menyapa telapak kakinya. Semakin dekat dengan oase, pohon-pohon palem nampak semakin besar dan jelas. Batangnya, daun-daunnya, semakin sejuk, semakin banyak warna hijau, dan semakin jelas ia melihat siluet seseorang duduk membelakanginya di pinggir kolam.

Jihoon berhenti melangkah, tercekat.

Sudah berbulan-bulan ia tidak melihat punggung itu, tapi Jihoon tidak akan lupa. Jihoon tidak mungkin lupa. Anak-anak rambut berantakan itu, postur tubuh itu, pose duduk itu, hanya dimiliki oleh—

"Woojin!"

Akhirnya.

Jihoon berlari kencang menuju oasis, penuh dengan harapan.

"WOOJIN-AH!"

Akhirnya,

Woojin berbalik, dan mata Jihoon mendadak panas.

"Jihoon?"

Aku menemukanmu.

.

.

.

Rasanya sudah lama sekali keduanya tidak berhadapan begini.

Woojin tidak berubah, persis seperti yang Jihoon lihat terakhir kali dengan sekop kecil dan sekantung benih bunga. Satu-satunya perbedaan Woojin hanyalah tingkah berisiknya yang mendadak lenyap. Woojin jadi pendiam. Dunia mendadak senyap.

Jika saja suasanya berbeda, Jihoon pasti sudah melempari Woojin denga semua benda yang dapat ia temukan saking kesalnya bocah ini menghilang seenak jidat. Tapi belum sempat melakukan itu, Woojin lebih dulu menjelaskan keadaanya.

"Kalau kau menyentuhku, aku akan menghilang."

Kedua lengan Jihoon yang hendak memeluk Woojin terhenti di udara, pemiliknya melempar pandangan nanar. Ada jarak satu meter di antara kedua kaki mereka. Satu meter saja, dan Jihoon masih tidak bisa menggapai Woojin.

"Aku—" seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya, suara Jihoon mendadak hilang.

"Ayo duduk. Kau sudah sampai di sini, pasti kau lelah." Woojin berucap datar.

Jihoon menurut. Ia duduk di atas pasir putih—apa di oasis pasirnya putih? Rasanya seperti pasir pantai kampung halamannya yang begitu lembut.

"Jadi, kau mau bertanya apa?"

Kenapa begitu? Woojin tidak bertanya bagaimana kabar Jihoon, kabar member, atau apakah seseorang selain Jihoon ingat padanya. Woojin justru menginginkan Jihoon yang melempar tanya. Seolah-olah Woojin sengaja muncul hanya untuk menjawab semuanya, bukan untuk...

... bukan untuk kembali.

"Wanna One..." Jihoon akhirnya menemukan suaranya, "... dan semua orang, mereka lupa padamu."

Woojin tersenyum kecil, "Tidak masalah."

Langit jingga perlahan berubah jelaga, matahari digantikan oleh gugusan bintang, dan tiba-tiba terdapat api unggun kecil di antara mereka. Cahayanya terpantul pada mata kelam Woojin, dan ekspresinya yang tidak bisa Jihoon jelaskan.

"Kenapa?"

Jihoon ingin marah, karena Woojin menyerah begitu saja.

Woojin menghela napas. "Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu."

Woojin benar. Jihoon juga sudah berusaha, dengan agak sedikit agresif (dia sudah sangat frustasi), tapi tidak ada seorang pun yang ingat. Perasaannya kini campur aduk. Jihoon senang karena akhirnya ia bertemu Woojin, kesal karena Woojin tidak seperti Woojin, dan juga sedih karena rasanya, rasanya, Woojin akan menghilang—lagi.

Jihoon menarik napas panjang. Udara menjadi semakin dingin. Didekatkannya telapak tangan pada bara api yang anehnya, terasa hangat.

"Aku bingung harus mulai dari mana, Jin-ah."

Jihoon memijit pelipisnya yang mendadak pening, "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba hilang?"

"Apa benar aku yang hilang?"

Jihoon terperanjat. "M-maksudnya...?"

Woojin memandang Jihoon lamat-lamat. "Kau percaya aku ini nyata?"

.

Tidak mungkin, kan?

.

Jihoon tertawa getir, tidak mungkin... kan?

"Jangan bercanda!" Jihoon menyadari suaranya mulai bergetar.

"Aku kenal keluargamu, padahal kami belum pernah bertemu. Bagaimana caramu menjelaskan itu? Mainan rakit dari Daehwi, bunga di belakang dorm... bagaimana menjelaskan itu? Kau meninggalkan jejak, Woojin-ah. Mengapa? Aku tidak terlalu pintar, nilai akademikku rata-rata. Tapi aku mengerti kenapa kau melakukannya."

Kedua pasang netra mereka bertemu. "Itu karena kau ingin aku percaya bahwa kau benar ada. Iya, kan?"

Jihoon melempar seringai mengejek, "Dan saat kita sudah bertemu, kau mau bilang kalau mereka semua benar? Kalau kau ini cuma imajinasiku?"

"Jika itu ternyata memang benar, kau mau apa?"

Jihoon merasa seperti disiram bergalon-galon air es. Seluruh badannya beku, lidahnya kelu.

Jihoon tidak mengerti.

"Kenapa...?"

Seharusnya tidak seperti ini. Dengan segala keraguan dari dirinya dan dari semua orang yang telah Jihoon dapatkan, kenapa Woojin menyuruhnya menyerah?

"Ah... aku paham. Kau mau aku menerima apa yang dunia percaya, supaya aku tidak dianggap gila. Supaya aku bisa hidup normal lagi, dengan melupakanmu. Begitu?"

Dan Woojin tertawa, "Park Jihoon benar-benar hebat!" terlihat begitu senang sampai ujung matanya berair.

"Mau aku benar ada atau hanya imajinasimu... semua terserah padamu, Jihoon-ah."

Terserah padaku?

Jihoon menunduk, terserah padaku...?

Dia sendiri sedang bingung. Dia butuh jawaban. Dan ketika satu-satunya orang yang bisa memberinya jawaban muncul di hadapan Jihoon, orang itu malah berkata "terserah padamu".

Apa-apaan itu?

Jihoon berucap lantang, "BAIK! terserah padaku, kan?!"

Diambilnya segenggam pasir, lalu dilemparnya pada Woojin sekuat tenaga.

Woojin protes, "Hoi! Apa-apaan—"

"Aku percaya kau ada, dan semua orang harus tahu itu."

Dilemparnya lagi segenggam pasir hingga telak mengenai wajah Woojin.

"Hoi, Park Jihoon sialan—"

"Aku sudah berusaha meyakinkan mereka, tapi bagaimana bisa orang percaya jika tidak ada bukti? Jika kau sendiri tidak muncul di hadapan mereka?"

Jihoon mengulurkan tangan kanannya, "Karena itu, ayo ikut dengan—"

"Maaf, aku tidak bisa melakukan itu."

Sejenak, ada senyap yang mengikuti perkataan tegas Woojin. Kesunyian yang beku. Keheningan yang membuat Jihoon sesak.

"Bahkan..." jihoon tertawa miris, "... bahkan hanya untuk muncul di memori mereka, kau tidak bisa?"

Woojin terdiam, lama. Kemudian menggeleng pelan. Pelan sekali.

"Maaf."

Jihoon tercekat. "Kenapa...?"

"Karena tempat ini tidak mengijikannya."

Pantulan galaksi di atas kolam bergoyang tertiup angin malam. Dahan-dahan palem berayun, seolah-olah mengiyakan pernyataan Woojin. Jihoon merasakan angin menelusup ke tengkuk lehernya, memberinya sensasi dingin yang aneh. Jihoon mendongak menatap langit. Tak pernah Jihoon melihat gugusan bintang seindah itu.

"Sebenarnya... ini di mana?" bisik Jihoon.

Woojin diam sejenak, "Sekarang ini rumahku."

Apa itu berarti Woojin tidak akan kembali?

Seberapa lama? Seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun?

... Selamanya?

Sesuatu menghimpit dada Jihoon, membuat napasnya memendek dan matanya panas lagi. Tapi dia tak mau menangis sekarang. Tidak, sebelum Jihoon mendapat jawaban. Karena menangis hanya akan membuang-buang waktunya yang ia rasa tidak terlalu lama.

Karena semua ini... cuma mimpi.

"Kenapa baru sekarang kau muncul di mimpiku?"

Ditatapnya mata Woojin lurus-lurus. Jihoon bisa melihat bayangan dirinya yang begitu linglung, dan ekspresi Woojin yang melembut, dengan senyum simpul yang tulus.

"Sebab bunganya sudah mekar. Terima kasih sudah merawatnya, nae sarang Hoonie."

Samar-samar, langit mulai berubah biru bersamaan dengan terbitnya cahaya di cakrawala. Bintang-bintang bersembunyi, suhu udara menghangat. Pagi datang, dan Jihoon merasa ia tengah dijemput untuk kembali ke realita.

"Tunggu—aku belum mau bangun!" Jihoon berdiri, mendapati api kecil di antara mereka mulai meredup, hendak padam. "Woojin, tolong aku!"

Woojin hanya berdiri di sana. Cahaya pagi menyirami anak-anak rambutnya, turun ke pundak, hingga ke seluruh tubuhnya. Woojin nampak begitu nyata.

"Waktuku juga hampir habis, Jihoon."

Panik, Jihoon menggigiti kuku jarinya sembari bergumam. Banyak hal yang masih ingin ia tanyakan. Apakah woojin baik-baik saja di sini? Apa dia senang? Apa dia tidak sekali pun ingin kembali? Apa saja pilihan yang ia punya? Apa yang bisa Jihoon lakukan untuknya? Dan masih banyak, banyak sekali. Tapi pertanyaan yang keluar justru—

"Kau ini benar nyata, kan?"

"Senyata yang kaulihat."

"Maksudku kau benar-benar pernah ada, kan? Di bumi? Sebagai Wanna One—sebagai Park Woojin?"

Woojin terkekeh, "Selama kau percaya, Jihoon-ah, maka aku akan hidup."

Api kecil telah padam seluruhnya. Cahaya di langit menyebar cepat, menerangi dunia. Kaki-kaki Jihoon mendadak lemas.

"Kalau kau hidup... lalu kenapa—kenapa kau bisa ada di sini? Kenapa tidak menetap di tempat yang sama denganku dan yang lainnya, Woojin-ah?"

"Aku ada, kok." Woojin menyengir, "Aku selalu ada di tempat yang sama."

"Lalu kenapa orang-orang melupakanmu?!" Jihoon berteriak parau, "KENAPA HANYA AKU?!"

Woojin tidak menjawabnya.

Jihoon pikir, Woojin mungkin ingin melarikan diri, atau malah bunuh diri. Entah karena terpaksa, atau keinginannya sendiri—Jihoon tidak pernah tahu. Yang jelas, Woojin berhasil membuat dirinya mati di hadapan semuanya. Sebab memori adalah nyawa lain dari kehidupan seseorang.

Tapi dia ingin tetap hidup untuk Jihoon. Jihoon sama sekali tidak paham. Namun ia rasa, beberapa kejadian tidak perlu pemahaman, hanya perlu diterima. Maka, Jihoon akan menerima memori tentang Park Woojin, menjaganya agar tetap hidup.

"Apakah... apakah kita akan bertemu lagi?"

Woojin hanya tersenyum tipis, tipis sekali.

"Ah, mataharinya sudah terbit."

Kenapa cepat sekali?! Jihoon masih belum siap berpisah dengan Woojin, lagi.

"Hei, Park Jihoon..."

Sebelum sosok Woojin menghilang, ia merangsek maju untuk meraih Jihoon dalam pelukan erat. Jihoon bisa merasakan lengan-lengan Woojin yang dingin melingkupi tubuhnya, dan bisikan terakhir dari sang sahabat sebelum dunia berubah hitam seluruhnya.

.

.

.

Terima kasih sudah percaya padaku, Jihoon-ie.

.

.

.

Aku sayang padamu.

.

.

.

.

.

Pukul tiga dini hari. Di luar jendela, gerimis menyapa bumi. Samar-samar di kejauhan terdengar suara kendaraan lalu lalang, berpadu dengan cicada musim panas.

Jihoon terbangun dengan perasaan hampa. Seluruh tubuhnya berkeringat. Dilihatnya member lain tidur dengan lelap, dihitungnya jumlah mereka dengan telunjuk yang bergetar.

Ada tiga orang.

Ranjang Woojin tidak kembali, begitu pula dengan dirinya.

Di tengah gelapnya malam, Jihoon terisak dalam diam.