Horeee... balik ke one chapter per one day mode!! !! !!
Saturday Date, Saturday Jealousy
Suasana di kafe yang dikunjungi Raito dan L terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang pacaran di pojokan dan beberapa keluarga yang asyik mengobrol. Kafe itu lumayan kecil, namun nyaman. Dari speaker yang dipasang di sudut-sudut ruangan terdengar lagu-lagu yang slow dan klasik yang mengalun dengan merdunya. Ryuk yang tidak ingin mengganggu sudah pergi duluan ke rumah Raito.
Raito dan L duduk di meja yang agak terpisah dengan yang lain. Mereka duduk di sofa yang berhadapan. Raito mengamati cara duduk L yang persis dengan B. mau tak mau ia tersenyum melihatnya.
'Kedua orang ini benar-benar mirip. Kalau saja aku tidak tahu, pasti aku mengenggap mereka orang yang sama…'
"Jadi Yagami-kun, apa yang menyebabkan kau tahu aku bukan orang Jepang?" L bertanya langsung ke sasaran.
"Mudah saja, Ryuga-san. Pertama saya dapat membedakan aksen dengan sangat baik. Sehingga saya tahu bahwa walaupun aksen Jepang anda sangat baik, tetap saja ada pengucapan aneh dalam aksen anda."
"Hm? Bisa saja itu hanya kebetulan…"
"Ya, bisa saja kebetulan, namun buku yang berada di tangan anda berkata lain. Jarang ada orang Jepang yang bisa membaca buku bahasa Inggris setebal itu kecuali sudah tinggal lama di luar negeri. Lagipula buku bahasa Inggris nonfiksi setebal itu belum pernah kulihat di toko buku manapun."
"Buku ini kubeli seminggu yang lalu di sebuah toko kecil di Winchester. Tidak mungkin sudah diterbitkan di Jepang," ujar L, "Pengamatan yang bagus… Yagami-kun."
"Winchester? Jadi anda sering keluar negeri, Ryuga-san?"
"Ya, aku sering pergi ke berbagai negara karena tuntutan profesi. Jepang ini adalah salah satunya."
"Pantas saja… Tetapi ada yang aneh…"
"Apa yang aneh?"
"Ryuzaki berkata bahwa dia berasal dari Jepang… namun anda berkata Jepang adalah salah satu negara tempat anda singgah, sehingga sudah pasti Jepang bukan negara asal anda bukan? Apa itu artinya kalian berasal dari tempat yang berbeda? Tapi kalian kembar kan?"
"Ah, Yagami-kun, sepertinya akan terlalu cepat untuk mengatakan bahwa seseorang tidak berasal dari suatu tempat hanya karena ia berkunjung ke negara itu karena tuntutan profesi. Tapi kau benar. Aku bukan orang Jepang, dan walau semirip apapun, Ryuzaki dan aku bukan anak kembar… "
"Bukan? Lalu kenapa kalian sangat mirip?"
"Yah, ceritanya panjang Yagami-kun…"
"Jelaskan saja, kita punya seluruh waktu di dunia, Ryuga-san…"
Siang ini Beyond Birthday dipanggil ke kantor pusat kepolisian Kanto untuk memberi laporan mengenai kasus yang telah diselesaikannya. Pertemuannya dengan para pemimpin kantor kepolisian pusat itu bisa dianggap membosankan. Sangat membosankan. Dan rapat itu berlangsung selama dua jam. Dua jam penuh bersama orang-orang membosankan. Hanya untuk menceritakan kembali kejadian yang sudah terjadi dan pulang dengan tenang.
Terkadang ia berpikir kenapa orang-orang ini tidak terikat saja dengan motto 'Yang lalu biarlah berlalu'. (Sehingga kita nggak perlu belajar sejarah XD)
Saat ini B sedang berjalan pulang ke hotel tempatnya menginap. Namun entah mengapa ia ingin mampir ke kafe tempat ia dan Raito pernah datangi beberapa hari yang lalu. Siapa tahu dia sedang ada di sana, sehingga mereka berdua bisa mengobrol lagi. Lagipula hari ini hari Sabtu, salah satu hari di mana Raito biasa pergi ke kafe di dekat rumahnya. Beyond mengakui bahwa mengobrol dengan Raito sama halnya dengan mengobrol dengan L, sama sekali tidak membosankan.
So… there he goes.
B menyusuri jalan menuju kafe di dekat rumah Raito yang dikenalnya dengan baik. Jalanan di Tokyo yang padat membuatnya teringat kembali pada beberapa anak di Whammy House yang mengidap claustrophobia. Dia mencatat dalam pikirannya kalau ia harus menghubungi Roger dan menyarankan agar anak-anak itu nantinya tidak boleh pergi ke Jepang, mengingat Jepang adalah sebuah negara kecil dengan penduduk padat yang membuat orang yang mengidap claustrophobia menjadi merasa tidak aman.
Ketika sampai di dekat jembatan penyebrangan, matanya melihat ke arah kafe yang berada di seberang jalan. Ia melihat kedua orang yang tak diduganya berada di kafe yang sama.
L dan Raito.
Berada di kafe yang sama.
Berdua.
Sedang mengobrol sambil tertawa.
'L dan Raito. Akhirnya mereka bertemu juga. Seharusnya ini akan menjadi hal yang menarik… tapi kenapa?'
Botol berisi selai stroberi terjatuh dari tangannya dan pecah berkeping-keping begitu bersentuhan dengan tanah.
'Kenapa aku merasa tidak suka?'
"Jadi Ryuzaki menganggapmu menarik dan menirumu, Ryuga-san? Aneh…"
"Kadang-kadang aku juga menganggapnya aneh. Namun kurasa kau lebih aneh Yagami-kun."
"Hah? Kenapa?"
"Namamu Tsuki tapi dibaca Raito. Menurutku itu sangat aneh."
"… namamu yang mirip nama artis terkenal itu yang lebih aneh… Rasanya nggak ada cocok-cocoknya sama sekali…"
"Dalam hal itu aku setuju denganmu Yagami-kun."
"Jealous: feeling resentment against someone because of that person's rivalry, success, or advantages; inclined to or troubled by suspicions or fears of rivalry, unfaithfulness, etc., as in love or aims," B berkata, mengutip salah satu kamus yang pernah dibacanya.
"Kalau memang aku cemburu aku cemburu pada siapa? L atau Raito?" tanyanya pada diri sendiri.
B menghormati L. B menyukai L. Karena itulah ia meniru L. B berusaha untuk menjadi sepertinya. Ia berusaha untuk dapat melampauinya. Ia akan menjadi pengganti L. Namun saat ini, ketika melihat Raito berbicara dengan santai dengan L sambil tertawa, B mau tak mau merasa tersaingi oleh kehadiran Raito.
Di lain pihak, B menyukai Raito. Karena mungkin dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tertarik selain L. Berbeda dengan L, Raito memiliki penampilan yang menarik, wajah yang tampan, dan Raito juga unik, pintar, dan baik. B sendiri merasa tertantang untuk dekat dengan Raito karena anak itu tidak lagi memiliki lifespan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Raito? Itulah pertanyaan yang ingin ia jawab sampai sekarang. Namun ketika melihatnya berbicara dengan L, mau tak mau B menjadi sedikit tak senang, entah mengapa perasaannya seolah mengatakan L akan mengambil Raito darinya. Ia ingin menarik Raito dari hadapan L saat itu juga.
"Sebenarnya aku cemburu pada siapa?"
Raito melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul dua siang. Ia menoleh ke arah L yang telah menghabiskan strawberry short cake dalam waktu singkat. L meletakkan garpu perak di atas piring dengan hati-hati menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Tampaknya aku harus segera pulang, Ryuga-san."
"Hm? Baiklah, aku juga ada urusan penting setelah ini. Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi Raito-kun?"
"Boleh. Di mana? Jam berapa?"
"Hmmm… bagaimana kalau kita makan malam pukul tujuh di restoran hotel tempatku menginap? Aku akan menyuruh orang untuk menjemputmu tiga puluh menit sebelumnya."
"Menyuruh orang? Kedengarannya anda kaya sekali Ryuga-san."
"Sejujurnya aku bahkan tidak punya uang sama sekali Raito-kun."
"Jadi…?"
"Anggap saja aku seorang investor tanpa modal…"
"…Maksudnya?"
"Sejujurnya aku juga tidak mengerti maksudnya, Raito-kun."
"Hahaha… kalau begitu kutunggu jam setengah tujuh… sampai jumpa besok Ryuga-san…."
"Sampai jumpa besok Raito-kun."
Raito segera berlalu dari hadapan L. Ia melambaikan tangannya dari kejauhan.
L berpikir, 'Raito Yagami... Sesuai dengan perkiraanku… bukan… lebih baik dari perkiraanku…'
L mengeluarkan permen gulali rasa ceri dari saku celana jeansnya.
"Oh God... I think I'm falling in love with you Raito-kun," gumam L tidak jelas.
Raito turun dari jembatan penyebrangan. Ia merasa nyaman berbicara dengan Ryuga di kafe itu. Entah kenapa antara Ryuzaki dan Ryuga perbedaannya sudah semakin jelas. Ia menyukai perbincangannya dengan Ryuzaki, namun perbincangannya dengan Ryuga terasa lebih menarik, lebih bebas, dan dengan jelas membuktikan siapa yang meniru dan ditiru. Raito tidak menyadari ada orang yang memperhatikannya sejak tadi.
"Meeting someone, Raito-kun?" terdengar suara yang telah dikenal oleh Raito dengan baik dari belakangnya. Raito berbalik dan menatap orang yang sejak tadi ada di sana.
"Ryuzaki…"
You can't blame gravity for falling in love.
Albert Einstein
Wow!! !! !! ! Satu Chapter lagi selesai!! !! !!
Kenapa tiba2 ada Quote? abis kayanya pas sih... apa nggak ya? yasudahlah... Haduuuh… udah nyampe chapter sepuluh… heheheh… chapter selanjutnya akan segera datang!!
Review en Commentnya ditunggu!!
Ngomong2 Matt Mello ama Near kemana yah?
--D--
