Nyaha… fui bener-bener super duper telat update….. silahkan kalo para reader pengen ngemplang fui. Fui ikhlas kok-nyiapin tameng- hehehehe

Alasan kali ini adalah… jeng jeng jeng…

Fui SAKIT. Salahkan si nyamuk aedes aegipty yang ngebuat fui harus mendekam di kamar putih dengan bau yang tidak enak karena penuh dengan obat-obatan selama beberapa minggu. Hingga fui gag bisa nyentuh pekerjaan or kewajiban fui sebagai author gaje yang masih punya utang fanfict. Hiks T_T

Sekali lagi, maafkan Fui minna-sama…-ojigi-

Daaaaan, yang memperparahnya adalah… jeng jeng… data-data fanfict fui ILANG! Oh my~ hiks hiks hiks…

Jadi, Fui untuk kesekian kalinya, memohon maaf yang sebesar-besarnya bila mengecewakan para reader atas keterlambatan update fict ini.

Yoish… Fui will present…

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning : AU, little OOC, Typo-udah tau penyakit fui yang ini kan?-, gaje, romance/friendship yang rada angsty…

This is my story… enjoy~

Si Penulis Puisi

Hening beberapa saat.

Naruto yang memandang terus ke arah Hinata yang menunduk di samping Gaara yang masih menggenggam kaleng minumannya. Sampai akhirnya, pemuda Sabaku itu angkat bicara.

"Kurasa, aku harus pergi. Aku ada janji dengan seseorang."

Meskipun dengan keras Hinata berusaha untuk ikut dan menghentikan langkahnya, Gaara tetap berjalan. Sendiri. Tak memberi ijin pada sang sahabat untuk ikut dengannya.

Gaara hanya butuh waktu untuk dirinya. Menguasai waktunya untuk ia sendiri. Ia sangat butuh itu. Butuh sekali.

Sepuluh menit kepergian Gaara, suasana yang melingkupi Naruto dan Hinata masih sama. Canggung dan hening.

Si Penulis Puisi

CHAPTER 10

Hinata menunduk. Memenuhi kepalanya dengan segala rutinitas rumah sakit yang masih aktif. Apapun yang bisa ia pikirkan selain pemuda yang ada di sampingnya kini.

Hinata mencoba bersenandung kecil. Ia tutup matanya, rileks. Dan mulai bernyanyi

"Maldo eopsi sarangeul alge hago

Maldo eopsi sarangeul naege jugo

Sumgyeol hanajocha neol damge haenotgo

Iroeke domanganigga…"

Naruto yang tepat duduk di sampingnya, terdiam kaku. Pesona yang di tawarkan Hinata dan suaranya, benar-benar merasuk ke dalam hatinya. Secara pelan. Secara lembut.

"Maldo eopsi sarangi nareul ddoena

Maldo eopsi sarangi nareul beoryeo

Museunmaleul halji damun ibi

Honjaseo nollangeot gata…" hinata masih bernyanyi pelan. Suaranya mengalun lembut dengan kedua bola bulannya yang tertutup.

Di sampingnya, pemuda yang masih menatap Hinata dengan semua rasa terpananya, mulai tersenyum.

Hinata, gadis yang pernah sekilas menjadi Dewi Venus baginya di atap gedung sekolah. Hinata, gadis yang mengajari hatinya untuk tabah. Hinata, gadis yang membuatnya mengerti tentang keberadaan awan di tengah bentangan langit alam semesta.

Dan Hinata, gadis yang kini entah kenapa membuat Naruto takut bila tak bisa melihatnya lagi. Lewat suara lembutnya, gadis itu berhasil membuat hati Naruto berdesir pelan sampai terasa nyeri. Suatu nyeri yang membuatnya candu untuk selalu merasakannya lagi. Nyeri yang bahkan tak pernah ia dapatkan saat bersama Sakura.

"Maldo eopsi waseo…" Hinata mengakhiri nyanyiannya. Kedua sudut bibirnya melengkung. Membentuk satu senyuman menawan yang terlihat seperti malaikat tanpa sayap.

"Woa… suaramu keren, indah banget." Puji Naruto, mengacungkan dua jempolnya ke arah Hinata. Yang dipuji, menunduk, menyembunyikan rona yang mulai menjalar di pipinya.

"A-arigato…"

Diam lagi. Dua orang itu memilih untuk menikmati hening.

12 menit kemudian, Hinata merasa aneh. Jantung yang memompa darahnya dengan kencang, mendadak berhenti sekilas, sebelum berdetak lagi dengan lebih cepat dan liar. Rasanya sesak.

Refleks, Hinata memegang dada kirinya sendiri. Satu tangan yang bebas, mencari pegangan. Naruto yang melihat itu, langsung panik.

"Hinata? Hinata, hei, kau kenapa? Hinata?"

Pik

'Dia sakit. Jantungnya lemah… tapi ia tetap mencintaimu.' Suara Gaara terngiang lagi di telinga Naruto. Ingatan tadi membuat Naruto sigap. Disandarkannya Hinata ke dalam dadanya. Lalu mencoba meredakan sakit Hinata dengan pelukan lembut.

"Hinata, hei…"

"O-obatku, a-aku…" tangan Hinata yang kanan, gemetar saat merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan satu botol penuh butir tablet. Hampir saja botol itu jatuh jika saja Naruto tak segera menangkapnya.

Naruto segera mengambil dua butir seperti petunjuk Hinata, lalu menyodorkannya ke mulut gadis itu. Hinata tanpa basa-basi lagi, segera menelannya tanpa air. Sedikit seret memang saat tablet-tablet itu melewati tenggorokannya. Apalagi dengan rasanya yang jauh dari kata manis. Namun, walau begitu, Hinata tetap menelannya.

Naruto masih menjadi sandaran Hinata yang lemah. Dirangkulnya gadis itu, memberi hangat yang ia salurkan dari tubuhnya sendiri.

Seharusnya, setelah Hinata menelan pilnya, jantungnya akan berangsur membaik. Tapi, nyatanya sekarang tidak begitu. Hinata pingsan, menelusupkan wajahnya ke dalam dada Naruto yang panik lagi. Naruto yang bingung, mengguncang-guncang Hinata pelan sambil terus memanggil namanya. Berharap, Hinata segera sadar.

Tapi, Tuhan tak mengabulkan harapan Naruto. Dalam kepanikannya, Naruto segera mencari-cari ponsel Hinata. Mencari kontak ayah gadis tersebut, lalu menghubunginya.

"Halo, Hinata?"

"Selamat siang Tuan, maaf…" Naruto bilang. Mendengar suara lelaki yang menghubunginya lewat ponsel putrinya, sang ayah berubah garang. Naruto harus ekstra hati-hati dan sabar untuk menjelaskan kejadian sebenarnya. Dari awal sampai akhir.

"Apa? Pingsan?"

"Y-ya Tuan. Sekarang Hinata aman bersama saya."

"Kau dimana? Hah?"

"S-saya, di Rumah Sakit Umum K-Konoha, Tuan…"

Tut Tut tut…

Sambungan terputus. Ayah Hinata yang memutuskannya. Sekarang, Naruto hanya perlu mencari dokter atau suster untuk membantunya menempatkan Hinata di salah satu kamar disana.

_Si_Penulis_Puisi_

Hempasan salju bulan November awal mulai turun. Mengetuk-ketuk jendela kaca berbingkai kayu sugi hutan. Angin yang bergerak tak beraturan, semakin menerbangkan butiran-butiran salju kecil yang turun dari langit.

Dingin.

Setidaknya itulah yang dirasakan Naruto sekarang. Di dalam ruangan simetris putih bersama dengan seorang gadis yang terbaring pingsan di atas ranjang. Naruto yang masih memandangi luar, berbalik. Mendekat pada Hinata yang tangan kanannya diinfus.

Sunao ni narereba kono kiri ga hareru

To kokoro ni negai sou sakenderu…

Ponsel Hinata berbunyi. Benda persegi panjang bercover putih yang diletakkan di atas meja, tetap berdering. Tanpa lama lagi, Naruto mengangkatnya. Nama Sasuke tertera disana.

"Yo, teme?" Naruto mengawali. Didengarnya reaksi kaget di seberang telepon.

"Hei, dobe, mana Hinata?" Sasuke membentak. Agak heran juga kenapa bukan si pemilik yang mengangkat panggilannya. Malah Naruto.

"Kau Teme! Dia aman bersamaku. Dia tadi pingsan saat kami menunggumu di luar kamar Sakura. Jadi, aku bawa saja dia ke kamar lain."

"Dia dimana sekarang?" Sasuke bertanya lagi.

"Lantai yang sama dengan Sakura. Ruang Matahari nomor 28."

Tut tut tut…

Hubungan telepon diputus Sasuke.

"Sial, selalu di OFF dulu! Tadi Ayah Hinata, sekarang Sasuke-teme, ah!"

Naruto menggerutu sendiri. Ditariknya satu kursi untuk mendekat ke ranjang Hinata. Ponsel putihnya masih ada dalam genggaman Naruto. Benda persegi panjang itu, ia putar-putar dalam diam.

Ada suatu hasrat yang muncul dalam diri Naruto untuk mengutak-atik ponsel yang bukan miliknya itu. Dengan ragu-ragu, pemuda yang punya mata sebening langit itu pun mulai membuka-buka hand phone Hinata.

Pertama, image. Ada beberapa foto Hinata yang sedang tersenyum bersama seorang gadis kecil yang diasumsikan Naruto sebagai adiknya. Lalu seorang pria paruh baya yang berwajah kokoh. Di nama tag image itu, tertera: Tou-chan.

Naruto tersenyum geli saat melihat Neji yang terpaksa berwajah gembira. Secara, ekspresinya kan datar nan dingin, dan di foto itu, wajahnya terlihat aneh saat tersenyum secara tidak indah.

Merasa ada beberapa langkah yang mendekat dengan tergesa-gesa, Naruto menghentikan kegiatannya. Ponsel Hinata, ia kunci seperti semula, lalu ia letakkan kembali ke meja sebelah ranjang Hinata.

Asumsi Naruto benar. Selang beberapa detik, dua orang lelaki berbeda usia, masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru. Dua Hyuuga yang punya mata putih yang kokoh.

"Hinata-chan…" yang bicara Neji. Pria yang bertugas menjadi ayah, tak berkata apapun. Dia langsung menghambur kepada putrinya begitu pintu dibuka. Otomatis, Naruto yang semula duduk, langsung berdiri kikuk.

Naruto yang merasa dicuekin, garuk-garuk hidung.

"Er, Hinata Cuma pingsan pas tadi di lorong lantai tiga. Ponselnya ada disana." Naruto berkata se-relaks mungkin. Satu telunjuknya mengarah ke meja di samping ranjang Hinata.

Dua lelaki Hyuuga itu meliriknya sekilas. Lalu kembali memandang Hinata. Neji kemudian mendekat ke meja. Mengambil ponsel adiknya, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.

"K-kalau begitu, er~ saya permisi dulu. Selamat siang." Naruto bilang lagi, bersiap beranjak pergi.

Tapi, belum sempat Naruto menyentuh pintu, Hyuuga tertua disana angkat bicara.

"Hei, nak. Siapa namamu?" entah kenapa, cowok blonde itu merasa bahwa dirinyalah yang dipanggil. Seketika itu, Naruto menghentikan langkahnya. Berdiri tegak dan berbalik lagi untuk bertindak sopan kepada si pemanggil.

"S-saya, Naruto Uzumaki, Tuan."

"Hm, terima kasih."

Dan saat itu juga, Naruto merasa berdesir bahagia. Tatapan tulus yang ia dapatkan sekilas dari dua mata putih Hyuuga Hiashi, membuatnya merasa berharga. Sekilas saja, karena tatapan itu kembali tertuju pada putrinya. Walaupun begitu, Naruto merasa bahagia.

"S-sama-sama, Tuan."

"Neji, panggil dokter Tsunade. Kebetulan dia bekerja disini." Kata Hiashi lagi. Anak tertuanya itu menurut, menjawab perintah ayahnya, lalu beranjak keluar.

Naruto yang masih terdiam, sadar, lalu gugup sendiri. Buru-buru dia keluar ruangan. Mendahului Neji yang berjalan tenang di belakangnya.

Kakak Hinata itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Naruto yang ketakutan, gugup, tapi bahagia.

"Dasar aneh."

_Si_Penulis_Puisi_

Cinta yang dulu

Di tutup rimbunnya salju musim dingin

Terbit perlahan

Terkait dengan rasa getaran

Yang merambat di hati sang Mentari

Mulai detik itu

Cinta yang bukan cinta

Luntur

Dan berganti

Dengan…

Cinta yang benar Cinta

_Si_Penulis_Puisi_

Naruto melangkah mantap. Menuju Ruang Bougenfil kamar nomor 15. kamar Sakura. Ada satu niat yang ingin ia lakukan sekarang. Saat ia mulai sadar. Sangat sadar.

Di depan pintu kamar Sakura, dua mata biru milik Naruto melihat Sasuke yang duduk tenang di kursi panjang. Dipercepatnya laju langkahnya, mendekat pada Sasuke.

"Woy, Sas!" Naruto teriak, sempat mendapat beberapa pandangan tajam dari beberapa orang di sekitar mereka. Pemilik mata onyx kelam itu mendelikkan matanya sebentar pada Naruto. Lalu mendongak.

"Apa?"

"Ikut aku!" dengan cepat, Naruto menyambar tangan sahabat lamanya itu. Menyeretnya masuk kembali ke dalam ruangan Sakura.

"Lepasin gak? Aku bisa jalan sendiri!" Sasuke mendengus, menepis genggaman tangan Naruto di lengannya.

Akhirnya, setelah sejenak saling tatap tajam, mereka berdua masuk ke ruangan itu. Naruto yang berjalan di depan.

"Permisi…" sapa Naruto sopan. Dua orang di dalam ruangan, menatap pintu dan pergerakannya.

"Naruto-kun… Sasuke-kun…" lirih Sakura. Kedua matanya memandang heran. Si ibu yang cepat tanggap, mempersilahkan dua pemuda itu untuk menjenguk anaknya kembali.

"Kebetulan kalian belum pulang. Tante mau ke rumah sebentar. Ngambil baju buat Sakura pulang nanti. Tante minta tolong, titip Sakura sebentar ya…" kata Ibu Haruno, ramah.

"Ibu, aku kan bukan anak kecil~" Sakura merengut malu.

"Oke Tante." Dan di lain pihak, Naruto mengiyakan permintaan sederhana Ibu Haruno yang baik hati. Sedangkan Sasuke hanya mengangguk kecil sebagai tanda ia bersedia.

Di dalam ruangan. Dengan hanya satu perempuan yang ada di antara dua pemuda. Saling diam dan tak berniat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. Sasuke terlalu malas bicara. Naruto belum siap bicara. Dan Sakura, takut bicara.

Bagaimana Sakura tak takut? Di dalam ruangan yang sama dan di waktu yang sama, dia berhadapan dengan dua pemuda yang sama-sama berpengaruh dalam hidupnya.

Naruto, sahabat baik yang menjadi pacar namun tak ia anggap sebagai pacar.

Sasuke, pemuda yang ia cintai, mantan kekasihnya yang beberapa jam lalu mengajaknya untuk kembali.

Lalu? Dia harus memilih siapa?

Jujur, dia sangat mencintai Sasuke. Tapi bagaimana dengan Naruto nanti?

"Sakura-chan, kita putus yuk…" satu kalimat ringan diucapkan Naruto dengan tanpa dosa.

Dua orang lainnya tentu saja kaget mendengarnya. Sasuke dan Sakura menoleh bersamaan ke arah Naruto yang masih nyengir.

"Hehehe. Aku sadar, aku Cuma sayang Sakura-chan sebagai sohib aja. Lagian, aku juga tahu kalau Sakura-chan dan si Teme ini masih saling suka." SasuSaku makin melongo.

"Kamu kamu ini kan sahabat aku, aku sayang sama kalian. Dan aku mau kalian juga sayang-sayangan lagi kayak dulu, hehehe…" lanjut Naruto enteng, kedua tangan berada di belakang kepala.

BLETAK!

"Adaw, sakit Teme!" satu benjolan kecil mencuat di kepala Naruto. Jitakan dari Sasuke tadi lumayan keras. Reflek, kedua tangan pemuda blonde itu mengelus-elus kepalanya yang benjol sendiri.

"Dasar baka!" Sasuke berbalik, mau pergi. Bila dilihat wajahnya dari dekat, kita mungkin bisa melihat rona merah tipis yang semakin kentara di wajah putihnya. Rona merah yang juga ada di wajah Sakura.

Disebut seperti itu, Naruto malah tertawa. Ditariknya bahu Sasuke dari belakang, membuat pemuda itu hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh, bila saja Naruto tidak segera menjatuhkannya di kursi di samping ranjang Sakura.

SasuSaku saling pandang, lalu cepat beralih ke arah lain. Saling membelakangi. Tak mau atau malu karena rona merah itu semakin dan semakin menguar di wajah keduanya.

Melihat itu, Naruto kembali tertawa.

"Hahaha, kalian ini… malu-malu kucing! Wahaha!" tawa Naruto membahana. Semakin membuat keduanya salting sendiri.

"Diam BAKA!" Sasuke mendesis. Perlahan, Naruto menghentikan tawanya. Memandang dua sohibnya yang masih saling membelakangi. Pemuda Uzumaki itu mendekat ke arah mereka, duduk di antara mereka berdua, lalu bilang,

"Ayolah, aku mau lihat kalian jadian lagi. Oke?" naruto menggenggam tangan kiri Sakura dan tangan kanan Sasuke.

"Apaan sih!" tapi, Sasuke menepisnya.

"K-kau yakin, Naruto-kun?" lirih Sakura, kedua emeraldnya menatap Naruto tak enak, tapi ada kebahagiaan dan curahan terima kasih di sana. Naruto hanya menjawabnya dengan anggukan kepala mantap sambil tersenyum.

Tangan Naruto yang bebas, menarik tangan kanan Sasuke lagi. Tentu saja pemuda onyx itu berontak. Tapi terpaksa kalah dengan Naruto saat kedua mata hitamnya tak sengaja bertemu dengan dua mata hijau yang meneduh milik Sakura.

"Nah, sini. Kalian tuh bagusnya jadian lagi. Aku sayang kalian, sohib-sohibku. Jangan khawatir ama aku. Aku udah punya sesuatu hal yang menakjubkan untuk diriku sendiri. Hehehe" Naruto bilang sambil sesekali membiarkan bayangan-bayangan Hinata yang tersenyum melintasi memorinya.

Aksi Naruto berikutnya adalah, menyatukan dua tangan itu. Menumpuknya menjadi satu genggaman. Kedua pemilik tangan, hanya bisa menatap tangan mereka yang perlahan ditautkan Naruto menjadi satu. Lalu, saat tangan berkulit tan milik Naruto menjauh, keduanya saling tatap. Lama. Senyum bahagia tercipta di wajah mereka, err, walaupun si Sasuke hanya bisa tersenyum tipis.

Tiba-tiba, Sakura menoleh pada Naruto yang masih ada didekatnya.

"Dan ini, sebagai tanda terimakasihku, dan tanda kalau kita sohib'an lagi."

CUP

Sakura bilang, lalu dengan cepat mengecup pipi Naruto, ringan. Yang dikecup, reflek bengong, memegang pipinya yang menghangat. Sasuke mendelik tak suka. Dibuanganya pandangannya ke arah lain.

"Hehehehe, si Teme cemburu nih ye…? Ahahaha, sini sini, biar aku kecup." Naruto nyengir, melepas tubuhnya dari asal duduknya dan mendekati Sasuke. Mencoba melakukan hal yang sama pada Sasuke, hal yang sama yang Sakura lakukan padanya tadi.

"Najis!" Sasuke cepat beralih ke samping. Pergerakannya diikuti Naruto dengan riang. Seolah menganggap ini awal persahabatan kecil mereka lagi.

Dengan saling meledek. Saling bermain. Dan tertawa bersama.

Dan akhirnya, dua pemuda itu kejar-kejaran lucu di dalam ruangan Sakura, dengan ditingkahi derai tawa Sakura yang tak kuasa melihat mantan come back to be pacar dan pacar back to sobatnya itu melakukan hal seperti anak kecil.

Tampaknya, mereka bertiga sudah benar-benar kembali.

_Si_Penulis_Puisi_

Saat tak ada lagi peluh kesedihan

Dan sekat penghalang

Tlah sirna di antara ikatan ini

Ikatan persahabatan

Yang pernah ternoda oleh cinta

Kembali terang dan bersih

Karena saling merelakan dan berusaha

Memahami hati masing-masing

Dan kini…

Biarlah mereka kembali bersama

Dengan tawa lepas

Seperti yang dulu…

_Si_Penulis_Puisi_

"Tuan Hiashi, saya punya kabar bagus untuk anda." Seorang dokter cantik yang baru memeriksa Hinata, melepas stetoskopnya, lalu perlahan mendekati Hiashi.

Pria paruh baya itu menoleh sedikit, namun tetap diam.

"Jantung putri anda sudah stabil sekarang." Si dokter bernama Tsunade itu melanjutkan ucapannya.

"Hanya itu?" Hiashi menyela. Di dalam ruangan hanya ada tiga orang yang masih sadar. Neji, , dan Hiashi.

Putra sulung Hiashi itu duduk di samping ranjang adiknya. Diam dan menunggu ayahnya selesai dengan urusannya.

menggeleng. Wanita cantik itu tersenyum tenang dan bersiap untuk berkata lagi.

"Tidak Tuan, ada satu berita lagi…" dan saat tutur kata si dokter cantik itu mengalir, Hiashi tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Matanya terlihat sangat bahagia. Berbinar cerah, dan terus seperti itu sampai sang dokter berhenti bicara.

"Terima kasih dokter, terima kasih…"

_Si_Penulis_Puisi_

Hhohhoo… alurnya kecepeten nggak…?

Maaf yah~ojigi~

Kritik dsan saran masih dibutuhkan, so, yang mau nge-flame, gag usah malu-malu, oke? Hahahaha

Yang mau ripiu juga gag usah malu-malu yaw….

RIVIEW…

Salam

NaruHina Lovers

Balesan review =

Crunk riela chan = maaf cz baru bias apdet, silahkn enjoy yah…

Felice a.k.a fian = hmmmm, makasih yaw. Ni baru apdet, sorrryyyyy

Sayaka dini chan = reaksinya ada di chap ini. Baca n ripiu lagi yah…

RAB = wahahaha, iya iya. Maaf telat update

Vecalen 20= jadinya ada di chap ini. Baca yaw, jangan lupa buat ninggalin ripiu, hehehe

zephyrAmfoter= jyah… ntar gag sesuai jalan cerita malahan. Hehehe. Maaf baru apdet…

Briggitta= makasiiiihhhhh

Doblang = wokeeeeeh

Hyuunami kazega magrita chan = busyeeeet, panjang bener namanya…. Hahahaha. Maaf yaw, fui khilaf deh.

Yuri ohara = nyahahaha, makasih

Reno = naruto mau di bunuh? Wahahaha, awas, ada mbak Hinata yang siap jyuuken kamu…

Haruno aoi = he'em, lam kenal jugaaa….. makasih yaw dah mampir

Hinata audina = wew, aku jadi maluuuuu, hahahaha. Makasih bget yaw.

I'm ichiruku lovers = karena aku suka ngutak atik pairing. Hahahaha. Penyakit Hinata kan udah jelas, kalau dia punya sakit jantung? Ya kan?

Ki-chan = oke, ni apdetannya

Kimochi no hyuuki chan = makasih yaw. Oke oke.

Sayurii dei-chan = Gaara ama HAnabi. Hahaha, lucu kan?

Dwi93jun takahashi chan = wew, aku salut ama namamu, artinya apa tuh? Oke…