A Doll

Chapter 10: "Escape From The Great House I"

Author: BabySmurf2601

Rated: T

Genre: Romance, Fantasy

Cast: KaiSoo and other

Summary: Pernah dengar cerita tentang seorang pemuda yang dikutuk menjadi boneka karena masuk ke hutan terlarang? Cerita tersebut benar-benar nyata di Dongguk/KaiSoo Fic/DLDR


Ada yang berbeda di malam ini. Jika biasanya senyum hangat dari Kyungsoo selalu menyambut perubahannya, kini senyum itu tidak ada. Jongin kini mendapati dirinya berada di kamar Kyungsoo sendirian, dengan suasana yang benar-benar hening dan gelap tanpa cahaya. Ia melangkahkan kedua kaki jenjangnya dan meraba-raba dinding untuk menemukan saklar lampu.

Ctek!

Begitu lampu dinyalakan, ruangan tersebut terlihat kosong tanpa si empunya. Jongin mengerenyit bingung sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Ini aneh dan terasa ganjil. Jongin pikir ini hanya lelucon, tapi ia harus kecewa karena Kyungsoo memang sedang tidak bermain petak umpet dengannya.

Kyungsoo hilang.

"Ke mana dia? Dan, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?" beberapa pikiran negatif membuat pemuda berkulit tan itu cemas. Pasalnya, hanya malam ini Kyungsoo tidak menyambutnya.

Jongin menggeleng dan berusaha menyingkirkan segala pikiran negatifnya. Mungkin saja Kyungsoo sedang ada acara—

Tapi, memangnya ada acara di atas jam 12 malam?

Cklek!

Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar, membuat lamunan Jongin pecah. Jongin menoleh dengan harapan kalau orang tersebut adalah sosok Do Kyungsoo, tapi ternyata bukan. Si pembuka pintu adalah adik Kyungsoo—Do Jinri alias Sulli.

"Seseorang mengirimiku pesan. Katanya orang itu menyuruhku untuk memberikan pesan ini padamu." dengan sedikit gemetaran, Jinri berjalan menghampiri Jongin yang tengah duduk di atas kasur. Ia memberikan sebuah kertas berwarna hitam yang dilipat dengan rapih pada Jongin. Di depan lipatan kertas itu tersemat mawar merah yang layu. Surat yang tidak asing lagi di mata Jongin.

"Apa orang yang memberikan surat ini sudah pergi?" tanya Jongin sambil membolak-balik kertas hitam tersebut.

"I-iya. Tapi, apa kau melihat Kyungsoo-oppa? Dia belum pulang ke rumah." Jongin mendongak ke arah Sulli dengan tatapan kaget. Ternyata perasaan buruknya memanglah benar—Kyungsoo belum pulang ke rumah.

"Entahlah. Aku belum melihatnya."

"Oh, yasudah."

Blam!

Setelah kepergian Sulli, Jongin buru-buru membuka lipatan kertas tersebut. Ia mulai membaca deretan-deretan huruf yang ditulis dengan tinta merah—darah—di atas kertas hitam itu. Gaya tulisan yang tidak asing, serta bentuk surat yang sangat familiar—

.

Surat dari penyihir.

.


.

Great House, sebuah rumah luas nan megah yang terletak di tengah-tengah Dongguk Forest. Penghuninya adalah penyihir bersaudara dengan beberapa boneka-boneka. Rumah para penyihir itu memiliki ribuan pintu, tetapi hanya satu pintu yang dapat membawamu keluar. Dibalik pintu-pintu, terdapat berbagai jenis ruangan yang aneh-aneh, misalnya kebun binatang, pasar, dan yang paling parah ada jurang—beberapa ruangan tergolong sebagai ruangan berbahaya, jadi berhati-hatilah saat memilih pintu.

Di salah satu koridor Great House, nampaklah seorang gadis berjubah hitam tengah berjalan dengan santai ditemani oleh gagak hitam di bahu kanannya. Suasana koridor tersebut benar-benar hening, yang terdengar hanya derap langkah kakinya. Koridor tersebut tanpa ada lampu, satu-satunya pencahayaan hanyalah sinar rembulan yang merembes dari balik jendela besar di sisi kiri. Meskipun ada banyak jendela, tapi jendela-jendela tersebut sudah tersegel sehingga orang tidak bisa keluar.

"Apa kau sudah memberikan surat itu pada Jongin?" tanya gadis itu pada si gagak di bahu kanannya.

"Tentu saja, noona. Saya yakin dia akan segera tiba di Great House." gagak berbulu hitam itu menjawab.

Taeyeon hanya menyeringai lebar membayangkan Jongin datang padanya dengan Caramel Rose. Yang ia butuhkan hanya Caramel Rose, karena bunga itu adalah bahan terakhir untuk ramuannya. Taeyeonpun nekat menyulik Kyungsoo untuk dijadikan sandera agar Caramel Rose jatuh ke tangannya.

"Hahaha, dasar bodoh…" Taeyeon tertawa geli mengingat kejadian tadi siang, tepatnya saat Kyungsoo menerima ajakannya untuk pulang bersama—waktu itu Taeyeon berubah menjadi Onew, jadi Kyungsoo tak sedikitpun curiga.

"Cara yang noona lakukan sangat licik." si gagak kembali berucap. Ternyata ia paham dengan apa yang diucapkan oleh Taeyeon.

"Diamlah, Key." gertak Taeyeon. "Dan, berhenti menjadi gagak."

Gagak hitam itu terbang dan mendarat di sebelah Taeyeon. Perlahan , tubuh gagak itu berubah menjadi sesosok manusia berjubah hitam dengan rambut pirang. Ia segera menyusul Taeyeon yang berada beberapa jarak di depannya.

"Taeyeon-noona, tunggu saya!"

.

"Malam ini Great House mengadakan pesta minum teh tengah malam. Kau adalah orang beruntung yang terpilih sebagai peserta pesta minum teh kali ini.

Persyaratan untuk hadir di pesta ini cukup mudah. Kau hanya perlu membawa undangan ini dan Caramel Rose. Jangan pernah bawa orang lain.

Kutunggu kehadiranmu di pesta minum teh tengah malam ini.

Temanmu yang bermata bulat ini juga telah menantimu. Datang atau dia akan mati.

Penyihir Bersaudara."

.

Isi surat itu masih saja terputar dengan jelas di kepala Jongin, membuat pemuda berkulit tan itu mempercepat langkahnya agar cepat sampai di Great House. Jongin juga membawa Caramel Rose sesuai permintaan penyihir bersaudara. Awalnya ia merasa enggan untuk membawanya, tapi ia terpaksa membawa Caramel Rose agar Kyungsoo bisa selamat— ia berjanji untuk tidak pernah membiarkan bunga itu berada di tangan para penyihir bersaudara.

Kriet!

Jongin membuka pintu pagar besi berkarat yang nampak sangat rapuh. Setelah itu ia buru-buru masuk ke dalam hutan tanpa rasa takut sedikitpun—karena di kepalanya hanya ada Kyungsoo. Untuk pencahayaan, Jongin tidak membawa senter atau lampu minyak, tapi ada kunang-kunang berwarna merah yang membimbingnya ke Great House.

Saat malam seperti ini, Dongguk Forest terlihat dua kali lipat lebih menyeramkan daripada di siang hari—tapi lagi-lagi hal seperti itu tak mampu menyurutkan semangat Jongin untuk tiba di Great House. Langit yang gelap, suasana mencekam, dan terdengar suara-suara binatang malam seperti burung hantu.

"Masih jauh..." Jongin menghentikan langkahnya dan mengambil nafas banyak.

Sebenarnya jarak antara gerbang dengan Great House sangat jauh—maklum, Great House berada tepat di tengah-tengah hutan. Tanpa bantuan denah atau peta, Jongin sudah hafal segala letak di dalam Dongguk Forest, tentu karena dirinya pernah menjadi penghuni sementara saat terjebak di tubuh boneka.

Dan, sekali lagi, jarak antara gerbang dengan Great House sangat jauh.

"Kyungsoo…" Jongin bergumam lirih saat wajah Kyungsoo terlintas dalam benaknya.

Pemuda berkulit tan itu menyeka peluh di dahinya sebelum kembali berlari ke dalam hutan. Mengikuti setiap kunang-kunang merah yang membimbingnya—padahal tanpa dibimbing kunang-kunangpun Jongin sudah tau arah jalannya.

Semoga ia bisa tiba di Great House dengan selamat.

.

Kembali lagi ke Great House. Saat ini Taeyeon dan Key tengah berada di depan sebuah pintu. Mereka berdua mendobrak pintu kayu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Di dalam ruangan berukuran sedang itu, nampaklah seorang pemuda bertubuh mungil duduk di kursi dalam keadaan tak sadarkan diri. Tali tambang kuat nan kokoh mengikat kedua tangan dan kakinya, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Itulah Do Kyungsoo yang disandera oleh penyihir bersaudara—minus Onew.

"Bangunkan dia dengan caramu, Key." Taeyeon menyunggingkan senyum licik ke arah Kyungsoo yang masih belum bangun.

"Baiklah, noona." jawab Key sembari mengangguk patuh.

Ia melangkah ke arah sosok mungil itu tanpa menghentikan seringai lebar di bibirnya. Begitu tiba di depan Kyungsoo, Key malah menendang kursi yang diduduki Kyungsoo sehingga kursi tersebut jatuh ke arah kiri. Cara membangunkan yang sangat bagus.

Merasa kepalanya terbentur sesuatu, kesadaran Kyungsoo pulih. Pemuda berpipi chubby itu membuka kedua kelopak matanya dan mengerjap sebentar. Ia berusaha menggerakan kedua kaki dan tangannya, namun tidak bisa. Kyungsoo baru sadar kalau dirinya diikat di kursi saat menengok ke bawah.

"Uhhh… aku di mana?" lirih Kyungsoo pelan, berusaha menahan sakit di kepalanya yang baru saja menyapa permukaan lantai marmer. Ia menengok ke kanan kiri, hingga pandangannya terhenti pada dua makhluk yang berdiri di depannya. "Taeyeon? Key? Kenapa aku berada di sini?"

Belum sempat menjawab, Taeyeon malah menempelkan ujung sepatu boot hitam miliknya di permukaan pipi mulus Kyungsoo. Pemuda berwajah manis itu tersentak kaget dan menggerak-gerakan kepalanya, berusaha menghindari alas sepatu Taeyeon. Tapi sia-sia, sebab Taeyeon menekan sepatunya ke pipi Kyungsoo dengan kuat agar si mungil tidak bisa berontak.

"Kau berada di rumah kami, Kyungsoo. Sekarang, aku ingin balas dendam pada anak manis yang seenaknya memasuki kawasan terlarang milik kami." Taeyeon menyeringai lebar, membuat Kyungsoo bergidik ngeri melihatnya.

Dan beberapa pukulan kasar mendarat dengan sukses di tubuh Kyungsoo yang hanya bisa pasrah dalam keadaan diikat.

.


.

"Great House…" Namja berkulit tan itu terdiam di depan sebuah bangunan luas nan megah bercat putih gading.

Ketika di malam hari, Great House akan terlihat sangat indah dibandingkan saat di siang hari. Itu karena kekuatan para penyihir lebih terasa di malam hari—dengan kata lain, mereka semua akan bertambah kuat di malam hari, itu sebabnya tak pernah ada satupun manusia boneka yang berhasil keluar dari hutan di malam hari. Tapi, penyihir memiliki satu kelemahan—mereka tidak bisa menggunakan sihir di luar hutan, kecuali berubah wujud.

Jongin hendak mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu, tetapi pintu lebih dulu terbuka.

Cklek!

Nampaklah seorang pemuda berambut cokelat muda dengan sepasang mata yang terlihat sipit. Pemuda itu mengenakan pakaian formal, dan mata kirinya diperban. Sosok itu menyunggingkan senyum lemah pada Jongin.

"Selamat datang di Great House. Pesta minum teh telah berlangsung 5 menit yang lalu. Bisa tunjukan surat undangannya?" pintanya.

Jongin merogoh saku celananya dan memberikan sepucuk surat berwarna hitam pada pemuda tersebut, "Apa Kyungsoo baik-baik saja?"

"Ah, mungkin tidak." si rambut cokelat muda tersenyum pahit sambil mengamati surat undangan. "Anda boleh masuk. Mari, saya antar."

Jongin mengangguk ragu sebelum mengikuti pemuda berambut cokelat muda tersebut ke dalam Great House. Koridor panjang dengan puluhan—mungkin ratusan—pintu di kedua sisi menyambut kedatangan Jongin. Pemuda berkulit tan itu tak terlalu peduli dengan kemewahan Great House, yang ada di kepalanya hanya Kyungsoo, Kyungsoo, dan Kyungsoo.

Jika ada sesuatu yang terjadi pada Kyungsoo, Jongin takkan segan-segan untuk menghajar penyihir bersaudara.

"Umm… di mana Kyungsoo?" tanya Jongin, namun si pemuda berjas di depannya tidak menggubris.

"…"

"H-hey! Kau tau di mana Kyungsoo?" ulangnya sembari menepuk bahu si rambut cokelat muda. Sosok itu menoleh ke arah Jongin dengan senyum miris yang terukir di bibirnya.

"Entahlah. Taeyeon noona dan Key hyung merahasiakannya dariku." lirihnya.

"Tapi, bukankah kalian penyihir bersaudara?" Jongin mengerenyit bingung. "Namamu… Lee Jinki, kan?"

"Iya."

Akhirnya mereka berdua tiba di sebuah ruangan luas dan bergaya mewah. Di ruangan tersebut terdapat beberapa sofa yang melingkari sebuah meja berbentuk bundar dengan tea set di atasnya. Ini adalah ruang pesta minum teh tengah malam.

Onew mempersilahkan Jongin untuk duduk di sofa. Awalnya Jongin sedikit ragu—karena bisa saja kalau Onew sedang memasang jebakan—tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sofa berwarna merah marun itu.

Jinki menuangkan teh ke dalam salah satu cangkir, "Silahkan diminum tehnya."

"Cih, kau pikir aku bodoh? Kau sudah memasukkan obat bius di dalam teh tersebut, kan?" tebak Jongin, tepat sasaran. Onew hanya menggigit bibir bawahnya dan melempar cangkir itu ke sembarang arah. Pemuda berambut cokelat muda itu kembali menuangkan teh ke salah satu cangkir, tapi kali ini dari tempat yang berbeda.

"Anda memang benar, Tuan Jongin." Onew tersenyum. Ternyata Jongin tidak sebodoh yang ia pikirkan. "Saya pamit dulu—"

"Eh, tunggu! Katamu pesta teh ini telah berlangsung beberapa menit yang lalu, tapi ke mana peserta lainnya?" cegat Jongin sambil menahan lengan Onew yang hendak pergi.

"Mereka semua sedang sibuk dengan sebuah urusan. Saya pamit dulu, permisi." Onew segera pergi berlalu, meninggalkan Jongin yang masih terdiam di sofa tanpa sedikitpun menyentuh cangkir teh di hadapannya.

Jongin memandang permukaan teh yang tenang di dalam cangkir berwarna merah darah itu, "Dasar, lagi-lagi ia menuangkan teh beracun untukku."

.

.

"Akh! Kumohon hentikan!"

Jeritan-jeritan yang terdengar pilu nan menyedihkan itu lolos dari bibir mungilnya. Saat ini tubuhnya tiduran dalam posisi miring dengan kedua tangan dan kaki yang diikat di kursi. Tendangan-tendangan melayang ke arah perut, wajah, dan anggota tubuh lainnya.

Daritadi Kyungsoo sudah memohon agar Taeyeon dan Key berhenti menendangnya, tetapi kedua penyihir itu malah tidak mempedulikannya. Wajah Kyungsoo dipenuhi lebam, bahkan darah sempat keluar dari mulutnya. Bagian-bagian tubuh lainnya juga mengalami luka karena menerima tendangan kuat.

Dan, Kyungsoo hanya bisa pasrah.

Karena dia hanya si kecil yang lemah.

Karena dia tak bisa berbuat apa-apa.

"Rasakan itu!" Taeyeon menggesek-gesekkan alas sepatunya pada pipi Kyungsoo yang mulai lebam. Kyungsoo meringis sakit. Darah mulai merembes dari pipi chubbynya.

"Taeyeon—" Kyungsoo tak sanggup mengeluarkan suaranya lagi. Sekarang dia terlalu lelah untuk sekedar bersuara.

Pemuda berwajah manis itu memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sakit di sekujur tubuh. Jika hari ini ia akan mati, kenapa tidak langsung dibunuh saja? Kyungsoo lebih memilih ditembak timah panas ketimbang dihajar habis-habisan dalam waktu yang lama.

Rasanya Kyungsoo ingin mati sekarang juga.

"Taeyeon, bunuh aku saja. Aku tak mau disiksa seperti ini." pintanya, masih dengan kedua mata yang tertutup.

"Tidak! Aku lebih suka menyiksamu sampai mati seperti ini." Yeoja berwajah cantik itu menyeringai, menampilkan deretan gigi-gigi taringnya yang terlihat sangat tajam—seolah, jika gigi taring itu menyentuh sedikit permukaan kulitmu, maka kulitmu akan sobek.

"Ukhh!" Kyungsoo kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya setelah mendapat tendangan di perut.

"Kumohon, cepat bun—"

Tok! Tok! Tok!

Omongan Kyungsoo terputus oleh suara ketukan pintu dari luar. Taeyeon menggeram kesal, marah karena ada seseorang yang mengganggu acara balas dendamnya. Ia berjalan menghentak ke arah pintu dan membukanya.

"O-Onew!" pekik Kyungsoo yang langsung dihadiahi tendangan di pipi dari Key.

Jinki yang melihatnya hanya menggigit bibir bawahnya, sedikit rasa bersalah muncul di hatinya. Ia langsung teringat tujuannya datang ke sana setelah melihat tatapan tajam nan menusuk yang dilemparkan oleh Taeyeon.

"Umm… Jongin sudah datang." jawab Onew dengan volume suara kecil, bermaksud agar Kyungsoo tak mendengarnya—tapi Kyungsoo malah mendengarnya secara tidak sengaja.

"Jo-jongin?!" Kyungsoo langsung membulatkan kedua matanya kaget. "Onew! Jongin di ma—"

"DIAM!" bentak Key, Kyungsoo langsung menutup bibirnya rapat-rapat.

Pemuda berwajah manis itu tak bisa melepas tatapannya dari Taeyeon dan Onew yang bercakap-cakap di ambang pintu. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang diucapkan oleh kedua penyihir tersebut. Tapi samar-samar Kyungsoo bisa mendengar kata 'Caramel Rose', 'Jongin', dan 'boneka'.

Tak lama setelah mereka berdua saling bercakap-cakap, Taeyeon dan Key berjalan meninggalkan ruangan tersebut, menyisakkan Kyungsoo yang tersungkur di atas lantai dan Onew yang masih berdiam diri di ambang pintu.

"Hyung!" setelah memastikan Taeyeon dan Key benar-benar pergi, Onew berlari menghampiri Kyungsoo. Pemuda bermata sipit itu membuka semua tali yang mengikat kedua tangan dan kaki Kyungsoo. "Maaf! Maaf! Maaf!"

"Ah, iya. K-kau kenapa melepas talinya?" Kyungsoo mengerenyit bingung sambil bangun duduk. Ia perlu mendongak untuk melihat Onew, karena pemuda berambut cokelat muda itu berdiri. "Matamu kenapa?"

"Hmm… hanya ditusuk pisau oleh Taeyeon noona. Hyung, ayo kita pergi! Kalau kita tidak pergi, nanti Taeyeon noona dan Key hyung kembali." ajak Onew. Ia menarik kedua lengan Kyungsoo agar pemuda bertubuh mungil itu bangun berdiri.

"Ayo!" mereka berdua berlari meninggalkan ruangan itu.

Mereka tak tahu hal apa yang akan mereka temui di Great House.

.

.

Jongin masih terdiam di atas sofa. Hingga, derap langkah kaki yang mendekat ke arahnya membuat Jongin mendongak. Pemuda berkulit tan itu langsung menggeram kesal saat kedua maniknya menangkap sosok kesayangannya diseret oleh Taeyeon dengan tidak berkeperimanusiaan.

Taeyeon langsung menghempaskan tubuh 'Kyungsoo' ke atas lantai marmer. Ia menyeringai lebar ke arah Jongin yang nampak mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ekspresi marah yang tercetak jelas di wajah Kai justru membuat seringai Taeyeon semakin lebar. Taeyeon suka jika membuat orang lain marah karena ulahnya.

"Sekarang berikan Caramel Rose, maka aku akan mengembalikan Kyungsoo padamu, Jongin…" Taeyeon menendang-nendang kecil kaki 'Kyungsoo' yang tak sadarkan diri di atas lantai.

Jongin memandang sosok mungil itu. Mengamatinya dengan detil seolah tak ingin melewatkan satu inchi permukaan kulitnya. Jongin harus berterima kasih pada Taeyeon yang telah membuatnya belajar banyak di Dongguk Forest, termasuk belajar satu hal penting yang dimiliki oleh setiap penyihir.

"Bukan. Aku tahu itu adalah Kim Kibum." ujar Kai sambil tersenyum puas melihat raut terkejut di wajah Taeyeon. Namun sedetik kemudian, Taeyeon kembali menyunggingkan seringai lebar—yang bagi Kai terlihat sangat memuakan.

"Rupanya kau cukup pintar, Jongin." Taeyeon bertepuk tangan selama 5 detik. Ia melepas ikatan tali pada kedua tangan dan kaki 'Kyungsoo', dan tak lama sosok itu berubah wujud menjadi sosok aslinya—Kim Kibum.

"Jadi, di mana Kyungsoo yang asli? Cepat beritahu aku!" gertak Kai. Tayeon hanya tersenyum kecil dan mendudukan diri di sofa. Yeoja berambut cokelat tua itu menuangkan teh ke cangkir lalu meneguknya sampai habis.

"Lebih baik kita pesta minum teh dulu sambil menunggu Kyungsoo datang."

.

.

Kyungsoo dan Onew nampak berlari di salah satu koridor Great House. Mereka berdua berada di koridor yang bersuasana pesta ulang tahun, di mana balon-balon warna-warni menghiasi langit-langit koridor dan wallpaper tema ulang tahun menempel di dinding. Di kedua sisi koridor terdapat berbagai macam pintu dengan bentuk yang beragam—tentu pintu-pintu tersebut sangat berbahaya jika kalian salah masuk.

Onew bilang, jalan keluar dari Great House sangat susah, satu-satunya jalan adalah melewati koridor ulang tahun, lalu masuk ke pintu berbentuk segi enam, melintasi koridor utama, lalu keluar lewat pintu besar bergaya mewah—rumit memang. Dan, jangan pernah lupa kalau tiap-tiap koridor itu sangat panjang.

Jadi, Onew memutuskan untuk tidak jadi keluar dari Great House. Ia menyusun rencana lain agar usaha kedua kakaknya gagal.

Onew akan pergi ke pusat Great House, tempat di mana segalanya tentang Dongguk Forest, dan penyihir dapat diatur—sekaligus tempat boneka-boneka yang akan digunakan untuk pesta para penyihir. Ia berencana untuk mengubah semua boneka menjadi wujud aslinya, dengan demikian pesta para penyihir tidak akan pernah ada.

Tapi, ruangan yang disebut sebagai pusat Great House itu sangat sulit untuk dibuka oleh Onew—karena kekuatan sihirnya telah dicabut Taeyeon. Tapi Onew akan memikirkan cara lain. Pokoknya ia harus membawa Kyungsoo keluar dari Great House dengan selamat, dan membatalkan pesta para penyihir.

"Kanan atau kiri?" Kyungsoo menghentikan langkahnya ketika menemukan dua jalur, yaitu ke arah kanan dan ke arah kiri.

"Sebentar…" Onew terdiam sambil memijit pelan pelipisnya, berusaha mengingat-ingat.

Setelah beberapa detik, Onew segera menarik pergelangan tangan Kyungsoo ke arah kanan, "Aku yakin ini jalannya."

.

.

Atas perintah Taeyeon, Key meninggalkan ruang utama Great House menuju tempat di mana Kyungsoo berada. Entah kenapa ia merasakan firasat aneh saat semakin dekat dengan ruangan Kyungsoo. Key-pun mempercepat langkahnya untuk memastikan apakah firasat anehnya itu benar atau tidak.

Akhirnya ia tiba di depan pintu ruangan tujuannya. Tanpa berlama-lama, Key segera membuka pintu tersebut.

Cklek!

Ia tersentak kaget begitu mendapati ruangan tersebut kosong. Key mengepalkan kedua tangannya erat-erat, dan berbalik menuju ruang utama. Ia sudah tahu siapa si pelaku—siapa lagi kalau bukan Jinki? Sejak awal Key juga sudah tahu kalau Jinki akan membebaskan Kyungsoo, tentu karena Jinki adalah pengkhianat yang berpihak pada manusia.

Sebelum tiba di ruang utama, Key berhenti sejenak karena kedua telinganya menangkap bunyi derap langkah kaki tak jauh darinya. Key menoleh ke belakang dan tersenyum lebar. Ia harus berterima kasih karena kemampuan khususnya adalah dapat mendengar suara sejauh 1,5 kilometer.

Key segera berlari mengikuti sumber suara.

"Rupanya kalian nekat sekali pergi ke pusat…" pemuda berambut pirang itu menyeringai saat menyadari bahwa sumber suara itu membawanya pergi ke arah pusat Great House.

Nama lain pusat Great House adalah The Center. Di sana adalah ruangan yang cukup luas, dan jarang disentuh oleh penyihir. Siapapun bisa mengatur Dongguk Forest dan para penyihir di The Center, bahkan manusia biasa bisa melakukanya. Oleh karena itu, ruangan tersebut sangat dijaga ketat oleh para penyihir. Hanya Taeyeon yang bisa memasukki pusat Great House.

Bagi Key, mustahil apabila Jinki berhasil memasukki The Center karena kekuatan sihirnya telah dihapus.

Iya. Itu mustahil—

Seandainya Jinki tak menemukan kunci menuju pusat.

.

"Aku lelah, Onew! Apa masih jauh?" Kyungsoo menghentikan langkahnya sambil menstabilkan deru nafasnya. Ia terlihat sangat kelelahan, peluh membanjiri wajah manisnya.

"Sebentar lagi, hyung. Kita harus cepat!" seru Onew sambil menarik pergelangan tangan Kyungsoo agar pemuda mungil itu kembali berlari menuju The Center.

"Onew—"

Bruk!

Sepertinya Onew lupa kalau Kyungsoo bukanlah atlit lari, alhasil Kyungsoo jatuh tersungkur ke atas lantai. Kyungsoo bangun duduk, dan merutuki tubuhnya yang terlalu lemah. Ia tidak mau berhenti hanya gara-gara kelelahan, ia ingin pergi menuju pusat Great House agar semuanya berjalan normal—tak ada penyihir, tak ada manusia boneka.

Kyungsoo bangun berdiri, meski kakinya terasa sangat lelah—baginya sama seperti saat mengikuti lari marathon di sekolah, "Ayo!"

Sebenarnya Onew merasa kasihan pada Kyungsoo. Pemuda bertubuh mungil itu masih saja semangat untuk pergi menuju The Center tanpa mempedulikan kedua kakinya yang mulai kelelahan dan sekujur tubuhnya yang dipenuhi lebam setelah dipukuli Taeyeon dan Key.

Akhirnya, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju The Center. Onew memutuskan untuk berhenti di depan sebuah kotak aneh yang entah namanya apa. Ia terlihat memencet-mencet tombol di atas kotak itu sambil tersenyum kecil.

"Itu apa?" tanya Kyungsoo polos.

"Mesin telepati. Kau bisa mengirimkan telapati untuk orang lain. Aku yakin kita tidak akan mampu keluar dari Great House tanpa bantuan orang luar. Karena, yeah, kita semua terjebak dan tidak bisa berbuat banyak." jawab Onew. Ia memejamkan kedua matanya, fokus mengirimkan telepati ke beberapa orang yang ia kenal.

Hening.

Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke penjuru koridor untuk sekedar menghapus rasa bosannya. Yang ia lihat hanyalah pintu, pintu, dan pintu. Entah ada berapa pintu di Great House, namun salah satu pintu berhasil menarik perhatiannya. Ya. Pintu itu—pintu kayu berbentuk lingkaran dengan corak bunga yang terlihat sangat indah.

Tanpa sepengatahuan Onew, Kyungsoo melangkah mendekati pintu itu. Kyungsoo memegang kenop pintu tersebut dan memutarnya, mendorongnya pelan untuk melihat ke dalam.

Tempat yang tidak asing—

Kyungsoo melangkah ke dalam pintu dengan polosnya.

Dan pintu bercorak bunga itu tertutup dengan sendirinya, membawa Kyungsoo pergi entah ke mana.

.

.

.

::: To Be Continue :::


(A/N)

Alohaaa, readersss '-')/

Aku dateng dengan chapter 10'-')/

Sekarang aku ganti penname lagi, sebenarnya cuma ganti angka belakangnya aja sih (2601) :3

Jujur, sebenarnya aku pengen nulis cara-kabur-kyungsoo-dari-rumah-penyihir dengan cara yang lebih keren, tapi otakku gak nyampe ke situ T.T Jadi maap kalo cara-kabur-Kyungsoo-dari-rumah-penyihir nya jelek dan tidak elit T.T

Sebenarnya kepikiran buat bikin Onew diperban matanya itu setelah inget Hannah di anime Kuroshitsuji ._.

Oh ya, tittle chapter ini (Escape From The Great House) itu dapet nama game lho! Nama game nya itu The Great House Escape (cuma dibalik aja ._.) Aku pernah main itu sambil nge-cheat, soalnya rada susah ._. Udah ada yang pernah mainin?

FF ini secepatnya bakal tamat, dan setelah itu rencanya mau bikin FF baru lagi (padahal masih banyak utang FF lain ._.)

Makasih yah, yang udah baca FanFic ini . Apalagi yang udah memberikan review untuk FanFic ini di chapter kemarin .


Thanks To:

Nada Lim: Nasibnya Dio kali ini lagi ga beruntung. Iya, Luhan masih jadi boneka entah sampe kapan '-'

kyeoptafadila: Watak Onew di FF ini baik kok, ga ada jahatnya sama sekali (paling jahatnya cuma sama kakak2nya doang '-'). Sangtae itu apa? '-'

Hisayuchi Kim: Iya 'Onew' itu bukan Onew, tapi Taeyeon yang nyamar. Kalo 'Onew' itu Onew, ga mungkin dia nyulik Kyungsoo :))

ajib4ff: Jangan galau dong, galau itu tidak baik/? '-'

Jenny: Kayaknya Dio itu campuran antara polos ama pabo '-' Onew sifatnya baik kok, yang di chapter kemarin yang jadi 'Onew' itu bukan Onew, tapi Taeyeon yang nyamar. Ini udah dilanjut, semoga suka yaaa :))

PandaDeer: Yang kemarin yang nyulik itu bukan Onew, Onew kan baik :)) Maap updatenya lama TwT Aku bakal bikin HunHan bersatu kok, sama kayak KaiSoo

soo baby: Nama lama akun kamu itu HyunieKyungie? '-' Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :))

Nurfadillah: Huwaa, makasih . Di sini Kyungsoo ngilang lagi lho, padahal kemarin barusan diculik ._. Kyungsoo emang bakal mentingin orang yang dia sukain ketimbang hal lainnya :))

BBCnindy: Iya, happy end kok meski masalahnya rumit. Aku juga bingung lho/? ._.

Chris1004: Aku juga kasian sama kepalanya Kyungsoo ;-; Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :))

Baby Panda Zi TaoRis EXOtics: Iya, heheehe...

12Wolf: Semoga di chapter ini TBC nya tepat waktu yaa :D

cyanx. clalu1: Kyungsoonya dibawa ke rumah penyihir, dihajar habis-habisan terus ngilang setelah masuk ke pintu aneh '-' Ini udah dilanjut, semoga suka :))

PutriPootree: Seru banget, chingu . Apalagi kakak2nya kece2 semua masaaa . /nyambungkemos._./ Pokoknya semuanya bakal jadi normal kok, ga ada lagi manusia boneka :)) Di chapter ini si Kyungsoo lebih ngenes lagi lhooo, puas aja gitu nyiksa dia, muheuheueuhue XD Itu 'Onew', bukan Onew :))

Melani Fujoshi Elfxostan: Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :3

Srdkj414: Beneran suka? Makasih ;A; Iya ini Happy Ending kok. Soal KaiSoo moment, aku masi bingung juga ._.

hanifa tias: Jongin beda gimananya? '-' Iya ini bakal dilanjut kok :)) Makasih yaa :3

KaiSoo'sChild: Iya, maunya sih Dongguk Forest dibikin lebih serem lagi, tapi otakku ga nyampe T.T Kyungsoonya diculik ke rumah penyihir :3 Ini udah dilanjut, maap updatenya ga bisa cepet :3

miparkland: Huwaaa, makasih infonya chingu :3 Yang nyulik bukan Onew, tapi 'Onew' :3 Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :3

Sihyun Jung: /ikuttumpengan/ Luhan emang terlalu baik, jadi dia semudah itu maafin Kyungsoo. Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :))

Schatzi: Kyungsoonya mau dibawa ke rumah penyihir buat disandera :3 Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :3

yeoxogg227: Hansel & Gretel? Bagian mananya, chingu? '-' Iya, mereka jadi manusia kok. Si Baygon cuma nyempil dikit, nanti kutambah perannya dah di chapter depan, kasian aja masa bias cuma jadi cameo '-'

BunnyPoro: Tapi, kayaknya di chapter ini Kyungsoo lagi ga selamat :|

asroyasrii: Wkwkwkwk, aku baru2 ini kepikiran, kenapa bunganya ga dimakan dengan cara lebih elit coba? Diseduh sama teh coba '-' HunHan nyelip aja, nanti bersatu kok '-' Tapi di chapter ini Kyungsoo disiksa lho, terus ilang lagi :3 Maap ga bisa update cepet

Kim Chan Soo: Bukan Onew, tapi 'Onew' :3 Iya ini udah dilanjut :) luv you too :* muachhh/? ._.

Eun bin k-pop: Masih dong, aku bakal tamatin FF ini kok :3 Horornya cuma nyempil di awal dikit :3 Iya bakal aku sambung terus :") Makasih yaaa :")

dewifiraa: Ahaha, makasih yaa . Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :))

DearrSeohyun: 100 persen Happy Ending kok :)) Soalnya ga tega bikin KaiSoo Sad Ending :3

Guest: Makasih . Ini udah diupdate, semoga suka yaa :))

chanyeora: Iya, ini hepi ending :) Crosses Finger itu apa? '-'

Kimkai: Ini udah dilanjut :) Aduh, aku kurang bisa kalo bikin yang romantis2 gitu, maklumlah masi pemula :))

DaraKrsmnta: Ini sambungannya udah dateng .

LAB27: Ini udah dilanjut :3 Kyungsoo ga dibikin jahat, cuma dibikin sedikit tersiksa aja :) Makasih yaa .

ulfarafida: Makasih . Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :)

Lulu: IYA INI UDAH DILANJUT MAAP UPDATENYA GA BISA CEPET2 .

KaiSoo Fujoshi SNH: Aku malah seneng nyiksa Kyungsoo masa '-' Ya wajar aja dah si Sehun nyuekin Kyungsoo, lagian Kyungsoonya juga jahat '-' Iya, itu Onew-Onew-an/? ._. Ini udah dilanjut, semoga suka yaa :3

Jonginda: Makasih . Iya ini udah aku lanjut, semoga suka yaa :)) Aku masi kurang tau soal KaiSoo moment-nya '-'

Guest: Hoh, gapapa kok :3 Makasih yaa .


.

.

.

Review Please!