Chapter 10
Little Screet
Case in The School
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated : T
Sudah dua hari sejak kejadian tentang band Hebi yang secara mendadak datang dengan sangat tidak elitnya bersama dengan Dobe. Dan sekarang untuk tur menyusuri Konohagakure band Hebi sedang berkeliling kota dengan melewati sekolah-sekolah lainnya, tentu saja hal itu disambut dengan hangat oleh seluruh siswa dan siswi penggemar berat band Hebi yang tengah naik daun tersebut.
Sedangkan Dobe ? Dobe cuma jadi pengganggu sehingga dia sekarang cuma berleha-leha didalam rumahku sambil menerima pesanan band Hebi untuk kesekolah di Konohagakure.
"Kurasa kau harus segera sekolah Dobe. Kau tak mau ketinggalan pelajaran kan ?" Kataku pada Naruto yang masih berbaring didepan televisi sambil ngemil pop corn serta menonton movie kesukaannya.
"Tenang aja Teme, aku sudah pasang kamera kok di kelas. Semuanya udah aku rekam" Katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Eh, Dobe. Menurutmu Kabuto itu terlibat apa gak ?" Tanyaku memulai diskusi serius dengan teman masa kecilku ini. Jangan menghina ya, dia juga suka sekali dengan cerita detektif seperti aku dan sepertinya otaknya mulai encer bila dia sudah banyak bergaul denganku baik di Otogakure waktu sekolah ataupun saat senggang.
Aku dan dobe adalah kawan sejak kecil, ibu kami juga sahabatan sejak kecil. Aku masih ingat saat pertama kalinya ibuku berkunjung ke rumah bibi Kushina. Saat itu aku masih berumur tiga tahun dan begitu datang aku langsung di semprot dengan pistol mainan oleh dobe yang seumuran denganku. Bener-bener keterlaluan.
"Entahlah, aku juga belum tau. Tapi, dia kan sering juga analisis, apalagi saat itu. Aku melihatnya tersenyum sinis kearahmu sambil membetulkan letak kacamatanya yang hampirmelorot. Kupikir dia terlibat sesuatu dalam hal itu" Kata Naruto mencoba untuk mengingat-ingat kapan saat dia melihat Kabuto seperti itu.
Kurasakan sesuatu bergetar pelan didalam saku celanaku. Langsung kuambil benda yang bergetar tersebut dengan tanganku dan kutempelkan disamping kepalaku.
"Moshi-moshi" Sapaku dengan wajah yang cukup ceria. Tak ada suara ? Apa ini ? Seorang penggoda ?
"SMS kali" Sahut dobe yang tiba-tiba saja nyeletuk kayak hantu saja.
Nguuuuuiiiiiinnnggggg...!
Terdengar sirene polisi dengan bunyi yang cukup nyaring sehingga dobe kelabakan dari tempat duduknya dan senyenggol pop cornnya sampe tumpah berantakan.
"Moshi-moshi" Gila nih anak. Cari telepon aja sampe bikin kapal pecah.
"Otou-chan" Ucap Naruto dengan nada yang gembira. Kualihkan perhatianku dari dobe yang sudah berantakan pop corn kelayar hapeku yang menampilkan sebuah sms dari Hinata.
Aku gak bisa jemput kamu, aku flu. Kamu berangkat sendiri ya, Sasuke-kun ;)
Kudesahkan nafasku pelan melihat sms tersebut. Apa-apaan ini ? Masak aku mau berangkat jam tujuh kurang lima menit gini ?
Tiba-tiba saja sebuah kunci mobil mendarat tepat diatas kepalaku. Untung saja refleksku cukup cepat untuk menangkap serangan mendadak tersebut. Kualihkan pandanganku pada dobe yang lagi nyengir di depan kamarnya.
"Aku bareng dong. Aku mau kesekolahmu" Katanya dengan ekspresi watados. Dobe kesekolah ? Ada yang gak beres.
Oh, ya. Hubunganku dan Hinata makin baik lho. Yah...! Meskipun aku masih belum berani untuk mengajak Hinata kencan atau paling tidak dinner bareng lah.
Tapi, aku masih kepikiran dengan Kimimaro dan teman-temannya. Seminggu lagi dia akan menandatangani kontrak bersama dengan Hiashi Hyuuga yang dirahasiakan dari publik.
Aku mengetahuinya dari dobe yang notabene adalah anak dari kepolisian Otogakure. Ayah dobe, Namikaze Minato-san adalah inspektur di kepolisian Otogakure.
Bila aku bertaruh, maka dalam seminggu itu aku akan membuat Hinata jatuh cinta padaku. Atau melaksanakan rencanaku bila dia memang benar-benar mencintai Kimimaro. It's Okay. Jika dia mencintainya buat apa kuhalang-halangi betul gak ?
-0-
"Sssssttt...! Hinata kemana ?" Suara desisan pelan dari arah belakang bangkuku menyadarkanku dari keasyikanku saat menulis materi pelajaran. Kuputar kepalaku untuk melihat gadis berambut pink yang lagi mengendap-endap menghindari tatapan guru untuk berbicara denganku.
"Sakit, dia flu" Kataku dengan nada datar seolah tidak terjadi apa-apa. Sakura tampak mengernyitkan dahinya sejenak. Aku tak peduli dengan ekspresi bodohnya itu dan langsung melanjutkan kembali kegiatanku barusan.
"Kau mau menjenguknya ?" Tanyaku dengan nada datar tanpa menolehkan kepalaku kearah gadis berambut pink itu.
"Males ah, rumahnya ketat banget. Kau belum tau rumah Hinata ya ?" Kata Sakura dengan nada pertanyaan.
"Udah tuh. Malahan aku nembak dia saat dirumahnya" Dustaku. Yah...! Aku gak sepenuhnya bo'ong sih, orang aku yang ditembak Hinata secara gak elit didepan ayahnya.
"Hah...! Kok kamu berani sih ? Kan ada kakaknya yang serem banget itu" Kurang aja nih anak, kalo ketemu dengan si Neji baru tau rasa lo.
"Berani lah, gue kan cowok" Kataku dengan gaya sok sekali.
"Ngomong-omong, loe nulis apa ya ?" Tanya Sakura sambil berdiri berusaha melihat apa yang kutulis ummm...! atau lebih tepatnya apa yang kugambar. Aku hanya memandangnya dengan tatapan datar sedangkan dia menatapku dengan tatapan heran.
"Kau gambar apa tuh ? Kok kayak njelimet gitu" Kata Sakura dengan ekspresi wajah yang cukup bingung plus kesal melihat gambarku yang sepertinya susah dibaca.
"Flowchart" Jawabku singkat, padat dan jelas. Sakura hanya memandangku dengan tatapan aneh.
"Wajar sih kalo kau belum tau. Kalo Hinata mesti udah tau" Kataku sambil terus menggambar flowchart milikku yang sempat tertunda gara-gara adegan Sakura tadi. Wajah Sakura tampak mengerut mendengar ucapanku tadi.
"Emangnya kau pikir aku bodoh apa" Sewot Sakura sambil kembali duduk dengan cukup tenang dibangkunya. Yah...! Aku suka buat flowchart untuk memudahkan pelajaranku.
Jadi aku buat flowchartnya dulu terus entar aku akan memasukannya kedalam komputer lalu kemudian aku akan belajar hanya dengan laptop, bukan dengan buku atau kertas lembaran. Jadi bisa sekalian nge-game atau mainin musik.
Kurasakan sesuatu bergetar di dalam celanaku. Siall...! Siapa sih yang berani nelepon disaat begini. Kurogoh celanaku dan kemudian kulihat siapa yang menelepon aku disaat yang penting begini.
Hinata ? Ada apa dia menelepon ? Gila banget nih kalo gue terima. Tapi kayaknya ada yang penting dech. Gua angkat apa nggak ya ?
"Sensei, boleh saya angkat telepon bentar" Kataku sambil mengacungkan tangan kearah sensei berambut keperakan yang sekarang lagi duduk sambil baca buku dengan tenang diatas kursi guru. Sensei tersebut menghentikan aktivitasnya dan kemudian memberiku isyarat untuk keluar dari ruangan.
Secepat yang aku bisa, aku keluar dari ruangan dengan membawa telepon genggam yang sudah kuangkat beberapa langkah sebelum aku keluar kelas.
"Moshi-moshi" Sapaku dengan suara berat khas dariku kearah telepon seberang yang notabene adalah telepon Hinata.
"Sasuke...! Aku mau game hentai, aku mau game yang terbaru, game yang rilis dua hari lalu. Pliiiiiiisssss...!" Hinata yang sepertinya masih dalam keadaan flu langsung merengek gak jelas dengan suara serak miliknya sambil disertai dengan jeda yang tak mengenakkan.
Kudesahkan nafas mendengar rengekan Hinata yang sangat gak jelas tersebut. Aku melarangnya untuk berhubungan dengan apapun yang berbau hentai selama sepuluh hari ini tapi rupanya dia agak keras kepala.
"Cuma satu ya ?" Kataku dengan nada yang sengaja kubuat agar sedatar mungkin.
"Iya, cuma satu aja. Pliiiissssss" Kata Hinata memohon-mohon padaku lewat pembicaraan telepon tersebut. Aku hanya mendesahkan nafasku mendengar rengekan Hinata tersebut.
"Baiklah, aku akan perbolehkan kamu untuk beli hentai" Kataku akhirnya.
"Thanks banget ya, kalo gitu aku akan siap-siap sekarang, jaa ne" Hinata tampak semangat sekali dengan pemberitahuanku barusan dan sepertinya sudah akan menutup telepon.
"Dengan syarat" Aku pun menyambung ucapanku barusan untuk mencegah Hinata menutup telepon.
"Hah...! Syarat ?" Hinata tampak bingung dengan apa yang kukatakan barusan. Kusunggingkan seulas senyuman cool mendengar suara Hinata yang terdengar bingung tersebut.
"Aku akan menemanimu, kau berjanji hanya beli satu bukan ?" Kataku sambil tersenyum misterius entah pada siapa.
"Uhhh...! Etto..." Hinata tampak sedang berpikir tentang apa yang aku pikirkan.
"Gak usah alasan. Aku jemput entar sepulang sekolah, kita beli cuma satu aja" Kataku sambil tetap tersenyum penuh kemenangan entah pada siapa.
"Emangnya kamu mau beli game hentai anime apa sih ?" Tanyaku sambil membetulkan posisiku yang kurang enak sambil memperhatikan arlojiku.
Kayaknya jamnya Kakashi-sensei bakalan abis beberapa saat lagi jadi aku santai aja nelepon.
"Scorpion, kamu tau kan ? Anime dengan genre romance yang biasa tayang di nichuri TV setiap pukul empat itu lho" Scorpion ? Judulnya aneh banget. Scorpion ? Kalajengking ? Kok kurasa ada yang aneh ya dengan kata-kata begituan.
"Kau tau gak tokoh utamanya, aku sudah lupa siapa namanya ? Keren banget lho" Kata Hinata dengan nada berteriak tertahan. Aku hanya mendesah pelan melihat kalo ternyata pacar (sementara)ku lebih menyukai cowok fantasi dari pada cowok setampan gue.
"Tokoh utamanya itu yang mana sih ? Yang bodoh itu ya ?" Kataku dengan nada datar. Memang sih, biasanya tokoh utama anime itu orangnya pada goblok semua. Semuanya bertindak dulu sebelum berpikir. Apalagi anime-anime fantasi itu, kayaknya tokoh utamanya selalu dapet hoki. Setelah babak belur habis dipukulin, tiba-tiba kekuatannya balik lagi lalu nyerang balik sampe musuhnya itu teler semuanya.
Kalo gue jadi musuhnya sih, pastinya gue simpan energi dulu dan buat aja dia jatuh mental dulu. Pasti berhasil, soalnya orang bodoh mentalnya selalu kuat.
"Sembarangan aja bodoh, itu anime misteri lho. Tentu saja tokoh utamanya pinter banget. Yang berambut duren itu lho" Jelas Hinata.
Duren ? Scorpion ? Jangan-jangan ?
Kulihat Kabuto sepertinya sedang melihat sesuatu dari pintu kelas dengan tampang datar, tak terlihat kesinisan apapun dalam wajahnya tersebut.
"Maaf, Hinata. Aku ada urusan" Kataku sambil menutup telepon tanpa menghiraukan Hinata yang melayangkan protes menghadapi syarat yang kuberikan.
"Chot..." Sempat kudengar suara protes dari Hinata yang terdengar cukup keras dari hapeku.
Aku pun berjalan dengan pose santai khasku menuju kearah Kabuto yang tampaknya sedang serius menatap kearah tempat parkir.
"Ada apa ?" Tanyaku pada Kabuto yang masih berdiri dengan tegap didepan pintu kelas sambil mencoba untuk memandang didepannya. Dia menoleh sebentar kearahku sebelum akhirnya kembali memandangi tempat parkir dimana terdapat banyak sekali motor yang berdiri disana.
"Kau pendiam sekali, Sasuke-kun. Apa kau akan terus begini ?" Tanya Kabuto dengan wajah datar kearahku. Kudesahkan nafasku pelan sambil memandangi tempat parkir tersebut.
Aku telah mencoba untuk mendekatinya sejak dia telah (hampir) membongkar rahasia antara hubunganku dengan Hinata, mencoba untuk menyelidikinya. Tapi, apa yang kudapat ? Nothing.
Dia terlalu tertutup dan sangat tidak ramah. Meskipun dia sering berbicara banyak tentang analisisnya, tapi dia tidak pernah bicara sepeser pun tentang dirinya dan itu membuatnya sangat misterius.
Aku mengetahui beberapa anak perempuan menyebutnya menyebalkan, karena dia sangat tidak peduli dengan perasaan seseorang. Terlebih lagi, dia menggunakan reaksi seseorang secara spontan untuk menebak perasaannya.
Pernah kutemui dia yang sedang menganalisis seorang anak perempuan yang tertutup sekali sehingga dia bisa mengorek informasi yang sangat sensitif dan penting.
Kelemahannya adalah simpulannya, dia menyimpulkan sesuatu secara tergesa-gesa sehingga tak jarang informasi yang dia kumpulkan akan sia-sia.
Dia selalu dijemput saat pulang pergi dan mungkin aku akan ketahuan bila kukuntit dia di belakangnya.
"Sialan, dobe"
TBC
Apakah yang sedang terjadi di sekolah Sasuke ?
Ceritanya agak rumit ya ? Sabar aja, entar juga makin lama makin jelas (ato malah makin gaje).
Yang jelas, dua orang anak ini bukan anak SMA biasa, mereka special, apalagi Sasuke (dia kan main character disini).
Happy Read
