Suasana tempat dimana dia merasakan tanda dari Asia terlihat sepi. Tidak ada siapapun disini. Hanya mobil milik Naruto yang sudah penyok parah di bagian bemper depan yang terlihat di mata Hera.

Dimana mereka?

Hera terlihat cemas tiada terkira. Apakah sesuatu juga terjadi pada Asia dan Naruto? Apa ini ada kaitannya dengan hal supernatural? Dan yang paling penting apa ini semua berhubungan dengan perasaan tidak nyaman yang sekarang begitu mendera dewi pernikahan Olympus tersebut?

Hera tidak bisa memutuskan manapun saat ini. Pikirannya dikuasai dengan kecemasan akan keadaan Naruto dan Asia.

Hera sudah berlari mengitari pergudangan kosong terbengkalai ini beberapa kali. Hanya untuk memastikan bahwa ada tempat yang luput dari penglihatannya. Dia juga memakai kekuatan dewinya untuk merasakan tanda keberadaan mereka berdua namun yang terasa hanya tanda yang Hera berikan untuk Asia di tempat ini, berputar seperti angin dan muncul di beberapa tempat sedangkan Naruto sama sekali Hera sama sekali tidak merasakan pria pirang tersebut.

Mungkin hal itu adalah hal yang lumrah ketika Hera belum memberikan penanda pada Naruto. Tapi Hera yakin Naruto berada di sekitar sini.

Hera kini berada di dekat mobil milik pria pirang pemilik kedai ramen tersebut lagi. Dia memandang lagi ke sekeliling, berpikir dan memastikan semua tempat sudah dia cari.

Dan memang semua tempat sudah dia cari tapi dia tidak menemukan mereka berdua! Hera ingin berteriak frustasi karena ini. Nafasnya tersengal karena ketakutan mulai mendera Hera akibat dia berfikir yang terlalu macam-macam sekarang.

Asia… dimanakah kau?

Hera sudah hampir putus asa mencari namun dia tidak boleh menyerah begitu saja. Dewi itu menekatkan dirinya untuk mencari sekali lagi namun pandangan matanya melihat ke arah samping dirinya.

Tanda yang Hera berikan untuk Asia bergetar kuat di dalam diri Hera, menandakan gadis manis itu berada di sana. Tapi dia hanya melihat kekosongan di sana.

Lalu itu terdengar. Seperti suara pecahan kaca yang terdengar keras, Hera mendengar suara tersebut. Entah pandangan matanya menipu atau tidak, Hera jelas merasakan realita sekitar bergetar.

Dan kedua orang yang dicari oleh dewi tersebut muncul dari ketiadaan di depannya. Tidak ada lingkaran sihir, fluktuasi ubahan [Mana] apapun pada sekitar. Mereka berdua muncul begitu saja di udara dengan posisi Naruto menggendong putri kecilnya di kedua tangannya. Hera melihat Asia terpejam disana dengan deru nafas tenang pertanda gadis itu tertidur.

Hera harusnya bisa bernafas lega sekarang namun ada hal lain yang justru membuat nafas lega Hera terhenti.

Sebuah pandangan dari pria pirang yang memandang berbeda dengan apa yang selama ini Hera tahu. Apalagi dengan kedua mata yang tidak lagi berwarna biru yang Hera kenal memancarkan kehangatan.

Tidak. Pandangan itu terkesan dingin dan mata itu... Hera bisa melihat itu bukanlah mata yang seharusnya dimiliki oleh manusia.

Tidak ada manusia yang memiliki mata dengan warna ungu yang didalamnya terdapat lingkaran-lingkaran seperti spiral dan magatama yang bergerak berputar pelan di lingkaran-lingkaran tersebut.

Lalu suara itu keluar lagi menyapa pendengaran Hera. Sama seperti suara yang memberikan perintah kepada dewi tersebut tadi di-saat dewi tersebut haruslah menjaga kedai ramen milik pria pirang yang menggendong putrinya di depan mata Hera.

"Kenapa kau melanggar apa yang sudah aku perintahkan…

...Dewi."

[A love for the Queen]

Issei berjalan pulang dengan rasa senang tercermin di wajah mesumnya. Pemuda berambut coklat, host dari Ddraig tersebut tengah memeluk satu dvd porno keluaran terbaru dari seri eksklusif yang selama ini sudah Issei incar.

Wajah mesum itu sudah membayangkan bagaimana jalan cerita dari dvd porno ini di tengah jalan. Dia bahkan sampai senyum-senyum sendirian yang membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya terlihat menyingkir dari jalan pemuda berambut coklat tersebut.

Mungkin beberapa merasa jijik atau mungkin beberapa merasa bahwa pemuda yang tengah memegang dvd porno di saat pulang sekolah itu sudah kehilangan moralnya. Entah bagaimana orang tua pemuda berambut coklat tersebut mendidik anaknya hingga bisa berlaku seperti tidak punya malu.

Namun sayang, apa yang kebanyakan dipikirkan oleh orang sekitar tidaklah didengar oleh Issei karena pemuda itu terlihat masih dengan senyum mesumnya memeluk erat dvd tersebut seperti sebuah harta benda yang bernilai luar biasa.

Issei hari ini akan menonton dvd ini dalam rasa tenang. Tidak ada latihan dari Naruto-sensei karena hari ini adalah hari libur latihan bagi Issei yang bagi pemuda berambut coklat tersebut, hari libur latihan ini adalah sebuah mukjizat yang tidak terkira besarnya.

Sehari libur dari latihan sadis guru gila tersebut sangat dia syukuri.

Langkah kakinya tidak terasa telah membawanya ke rumah sederhana milik kedua orang tuannya. Rumah bergaya minimalis khas Jepang dengan dua tingkat dan perkarangan hijau kecil di depan. Terlihat sepi dari luar namun Issei tahu ibunya pasti berada di dalam. Kalau untuk ayahnya, Issei mengerti bahwa ayahnya masihlah berada di kantor kerjanya.

Hmmm? Apakah ada tamu?

Ketika Issei mau membuka pintu, dia melihat ada sepatu-sepatu asing di depan pintu. Sepatu-sepatu di depan pintu rumahnya terlihat bukan punya ibu-ibu tetangga yang biasa datang kemari untuk bergosip dengan ibu Issei. Jadi siapakah tamu yang datang? Issei menerka-nerka hal tersebut beberapa saat sebelum dia kemudian menyerah.

Nanti dia juga tahu sendiri kalau dia masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum itu Issei memasukkan dvd porno miliknya ke dalam tas dahulu. Kalau di dalam ada tamu yang penting dan melihat Issei membawa dvd porno bisa jadi mereka nanti berpikiran macam-macam pada ibunya.

Lalu setelah dia juga melepas sepatu sekolahnya Issei kemudian membuka pintu rumahnya sembari mengucapkan penanda bahwa dia datang.

"Aku pulang…"

"Ah, Selamat datang." Suara sang ibu menjawab suara Issei dan kepala ibu Issei terlihat menengok siapa dari ruang tamu. "Hey Issei, lihatlah siapa yang berkunjung!"

Nada antusias ibunya dari ruang tamu membuat Issei penasaran dan pemuda coklat itu kemudian berjalan ke tempat ruang tamu di rumah ini yang berada di sisi kanan setelah pintu depan.

Issei melihat dua orang gadis muda asing yang tidak pernah dia tahu. Satu berambut biru sebahu dengan warna hijau si bagian kecil depan rambutnya sedang satunya berambut chesnut atau coklat muda yang panjang namun diikat menjadi ikatan twintail. Keduanya sama-sama memakai jubah coklat yang terlihat seperti punya pengembara gembel dengan sebuah benda besar terbalut perban di samping gadis berambut biru.

Siapa mereka? Dan apakah yang terpancar ini adalah energi suci?

Issei bisa merasakan energi suci lumayan kuat datang dari kedua gadis asing yang tidak dia kenali tersebut. Juga dari benda besar yang terbalut perban disana. Postur tubuh Issei menegang waspada secara refleks.

Pikiran Issei mewaspadai mereka berdua dan apa maksud keinginan mereka.

Meski begitu walau Issei bersikap waspada, dia menyembunyikan sikap waspadanya dengan sangatlah baik. Berterima kasihlah dia kepada guru sadisnya.

Kedua gadis itu menengok ke arah Issei, satu gadis dengan warna rambut chesnut itu terlihat melambaikan tangannya kepada Issei.

"Hey, Issei-kun!"

Gadis yang melambaikan tangan tersebut menyapa dengan ramah, seolah sudah mengenal dirinya yang membuat Issei terlihat bingung sedangkan Ibu Issei yang berdiri di samping putranya tersebut terkikik dengan geli sebelum akhirnya ikut bersuara.

"Issei, kau lupa dengan teman masa kecilmu, Irina?" Ujar ibu Issei tersebut yang membuat Issei menggali kembali ingatan di masa lampau dari balik otak mesumnya.

Gir-gir otak Issei berputar cukup keras hingga kemudian Issei terbelalak menatap gadis dengan warna rambut chesnut tersebut.

No way! Satu-satunya teman masa kecil Issei yang bernama Irina hanyalah anak tetangga sebelah yang bertetangga dengan keluarga Issei sebelum pindah ke luar negeri. Dan setahu dirinya, Irina itu adalah laki-laki! Kenapa teman masa kecilnya itu sekarang berubah menjadi seorang bishoujou?! Ganti kelaminkah teman masa kecilnya itu? Dia perlu mengkonfimasi hal ini!

"Anu…" Issei melihat ke arah ibunya dan berbisik pelan kepada ibunya. "Oka-san, bukankah Irina itu seorang cowok?"

Ibu Issei yang mendengar pertanyaan putranya ini kemudian tertawa kecil. "Oh, kau pasti menganggap Irina laki-laki karena tingkah tomboy-nya dahulu ya?" Bisik ibu Issei pula. "Dia dari dulu itu perempuan."

"Hee?" Issei terkejut akan hal itu. Tapi dulu Irina memang benar-benar seperti laki-laki dengan tingkah hiperaktifnya, potongan rambut pendek dan suka berkelahi juga.

Memandang dan membandingkan Irina yang sekarang dengan yang dulu itu bedanya seratus delapan puluh derajat. Benar-benar beda parah. Mungkinkah Irina juga menjadi feminim sekarang?

"Mou, Issei-kun kau benar-benar lupa denganku ya?" Wajah Irina merengut ketika mendengar bisik-bisik antara ibu dan anak di depannya. "Perlu aku ucapkan sumpah pertemanan kita yang rahasia agar kau percaya aku ini Irina?"

"Uhm…" Issei menggaruk pipinya yang tidak gatal. Astaga, suara Irina dulu yang besar-pun jika Issei dengarkan lagi maka sekarang sudah berubah menjadi lembut, selembut marshmallow. Kenapa bedanya terlalu jauh? Issei merasa agak canggung sekarang. "Kurasa itu tidak perlu, aku percaya kalau kau Irina-kun, eh maksudku -san."

"Kenapa ada -kun tadi? Kau masih menganggap aku laki-laki, Issei-kun?"

"Uhm… tidak, maafkan aku Irina-san."

"Kenapa kalian tidak reuni saja dengan Issei duduk di sofa?" Ibu Issei mendorong putranya dan mendudukkannya di sofa. Issei yang tidak bisa protes hanya menurut saja apalagi setelah melihat pandangan ibunya yang berkata 'temani dulu temanmu, dia datang jauh-jauh jadi kau harus sopan.'

Setelah Issei duduk berhadapan dengan Irina juga gadis berambut biru yang ada di samping Irina dan diam saja sejak Issei datang, Ibu Issei kemudian pergi ke dapur. Berniat membuat cemilan lagi.

Keheningan menyapa mereka sesaat, dengan Issei yang juga bingung mau bertanya apa.

"Bagaimana kabarmu disana?" Issei mencoba memecah keheningan yang terasa mulai menyebalkan ini. Pemuda coklat itu mencoba untuk tersenyum ramah kepada teman masa kecilnya ini yang sangat akrab dahulu di masa kecil mereka berdua.

Yang ditanya juga tersenyum di sana. "Aku baik, Issei-kun. Oh iya, perkenalkan temanku ini," Irina menunjuk ke arah gadis disampingnya. "Namanya Xenovia Quarta. Xenovia, ini teman masa kecilku yang sering aku ceritakan dahulu. Hyoudou Issei."

"Salam kenal Quarta-san." Kata Issei sopan.

"Salam kenal juga Hyoudou-san." Xenovia membalas Issei kemudian memandang ke arah Irina lalu kembali lagi ke arah Issei. "Kau pengguna Sacred Gear bukan?" kata Xenovia frontal yang membuat Issei langsung menegang di sana. "Aku bisa merasakannya dan Irina juga pasti bisa merasakannya. Apa kau tahu dunia supernatural?"

Jadi mereka tahu huh? Issei yang memasang postur tegang kini berwajah serius.

"Jika kujawab iya apa maumu?" Suara itu berubah berat. Penuh dengan nada penekanan yang memberikan perintah kepada mereka yang ditanyai untuk menjawab secara penuh. "Kau sendiri dengan energi suci seperti itu, Irina, apa maksudmu dengan datang kemari setelah sekian lama kau tidak pernah mengirim kabar apapun?"

Irina tersentak dengan ucapan Issei. Itu memang benar bahwa Irina tidak pernah mengirimkan kabar apapun pada teman masa kecilnya ini setelah dia pindah dan sekarang tiba-tiba muncul begitu saja. Jika dia muncul sebagai orang biasa maka itu tidaklah mengapa namun masalahnya adalah Xenovia berkata sesuatu yang harusnya tidak berkaitan dengan dunia supernatural lebih dahulu.

"Issei, tunggu sebentar, aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya ingin berkunjung saja."

"Benarkah demikian?" Issei terlihat meragukan ucapan Irina. Tangan itu kemudian bersidekap. "Kau terkait dengan bagian mana? Malaikat jatuh? Atau Gereja?" Issei berkata blak-blakan sekarang. Tidak ada yang ditutupi karena mereka sudah tahu dia adalah pengguna Sacred Gear maka otomatis mereka pasti mengira dia tahu dengan dunia supernatural. "Selain berkunjung, apa yang kalian lakukan di kota yang diawasi oleh iblis?"

"Issei-kun tenang dulu. Aku memang hanya ingin berkunjung untuk mengunjungimu oke. Aku tegaskan itu dan aku baru tahu kau punya Sacred Gear ketika kau masuk tadi." Irina berkata dengan jujur yang dilihat Issei sebagai jawaban yang dia inginkan. "Lalu kau tadi berkata kota yang diawasi iblis, kau tahu mereka juga?"

Issei mendengus kecil "Hanya dalam waktu dekat ini aku tahu mereka, sebelumnya juga tidak." Kata Issei. "Jadi… kau bagian mana Irina? Gereja?"

Irina memandang Xenovia dan mengangguk kemudian. "Itu benar."

"Souka…"

"Nee, Issei-kun. Sudah berapa lama kau tahu dunia supernatural?"

Sudah berapa lama? Jika Issei jawab dia baru-baru ini tahu tentu mereka akan bertanya sesuatu yang lebih banyak lagi seperti bagaimana dia tahu dunia itu dan bagaimana rupa Sacred Gear miliknya.

Berbohong mungkin lebih baik.

"Sudah cukup lama."

"Benarkah? Lalu Sacred Gear apa yang kau miliki Issei-kun?"

"Untuk apa pertanyaan itu Irina?" Issei kemudian memandang dengan tatapan sedikit tidak suka. "Apa kau berkunjung haya untuk menginterogasi atau menyambung kembali pertemanan kita? Kukira kau tadi berkata berkunjung saja."

Mendengar perkataan Issei tersebut membuat Irina langsung mengerti bahwa topik pembicaraan ini memang harus diakhiri. Issei sudah berbeda dengan yang Irina kenal dan dengan Irina yang baru datang lagi setelah belasan tahun mereka tidak saling berkabar tahu bahwa hal ini bukanlah hal yang pantas di katakan di pertemuan pertama mereka lagi.

Issei yang melihat Irina terdiam sejenak menghela nafas lelah. Irina dan temannya datang dari pihak Gereja. Dia hanya sedikit waspada jika mereka tahu apa Sacred Gear yang dia miliki maka mereka akan berusaha untuk merekrutnya. Namun entah cara apa yang akan mereka gunakan adalah apa yang Issei belum pikirkan.

Namun meskipun direkrutpun Issei akan menolaknya untuk sekarang.

"Harusnya kau menanyakan kabarku Irina." Issei berkata dengan melepas semua postur waspadanya. "Aku cukup terkejut ketika tahu kau itu seorang gadis kau tahu."

Melihat Issei yang terlihat tenang dan melembut membuat Irina sedikit merasa bersalah. Apalagi disertai dengan ucapan Issei. Harusnya dia juga menanyakan kabar teman kecilnya ini lebih dahulu daripada masalah supernatural.

"Maaf Issei-kun." Irina meminta maaf dengan menundukkan kepalanya. "Maaf juga karena tidak memberikan kabar apapun kepadamu setelah aku pindah padahal dulu aku berjanji untuk mengirimi surat kepadamu."

"Angkat kepalamu Irina. Aku menerima permintaan maafmu." Irina mengangkat kepalanya dan melihat Issei tersenyum lembut kepadanya. "Setelah ini baru kita bicara. Tapi mari kita mulai dengan yang ringan dulu oke."

Irina mengangguk dan membalas senyuman pemuda berambut coklat tersebut.

Mereka kemudian berbincang hal ringan sebelum kemudian berbicara tentang hal berat.

Dari pembicaraan berat itulah Issei tahu Irina dan temannya adalah Exorcist yang dikirim kemari untuk sebuah tugas. Tugas mereka rahasia dan Issei memaklumi hal tersebut. Tidak ada yang mau mengatakan tugas rahasia kepada orang asing atau bahkam orang yang mereka kenal lagi. Issei juga hanya mengatakan hal-hal kecil seperti dia tidak terikat dengan para iblis dan hanya ingin hidup tenang. Dia juga berkata bahwa Sacred Gearnya hanya Sacred Gear berbasis api.

Berbohong tentang Sacred Gearnya juga tidak masalah bukan? Lagipula Ddraig memang naga api kan?

Pembicaraan itu berakhir di sore hari dan mereka berdua pamit pergi. Ibu Issei sebenarnya ingin Irina dan temannya menginap di sini namun mereka menolak. Mereka akan menginap di penginapan jadi ibu Issei hanya memberikan bekal kepada mereka. Issei juga bertukar nomer ponsel dengan Irina.

Menyambung kembali pertemanan yang terputus tidak pernah salah. Namun sepertinya dia harus memberitahukan hal ini pada gurunya karena Ddraig memperingati Issei akan sesuatu.

Seperti jiwa Ddraig merasa hal ganjil akibat Exorcist yang datang begitu saja ke kota yang diawasi oleh iblis dan pergerakan malaikat jatuh yang terlihat mencurigakan akhir-akhir ini.

Mungkin soal malaikat jatuh gurunya sudah tahu sesuatu namun Issei tidak yakin gurunya itu tahu tentang kedatangan para Exorcist ini.

[2]

Naruto menatap dewi pernikahan Olympus yang ada di hadapannya sekarang, duduk dengan menundukkan kepalanya dimana dewi itu tidak berani memandang ke arahnya akibat rasa bersalah yang mendera dewi tersebut karena dewi tersebut merasa dialah penyebab kejadian ini. Tangan dewi itu meremas erat pakaian yang dia kenakan.

Kejadian yang menyebabkan Asia harus terluka akibat dari dewa perang Ares karena suruhan dari Zeus.

Naruto kemudian menghela nafas lelah.

Mereka telah kembali ke kedai ramen milik Naruto. Asia masih tertidur dengan tenang di tempat tidurnya yang berada di kedai ramen ini. Luka yang disebabkan oleh Ares sudah hilang karena Naruto telah menggunakan jutsu penyembuhan dan dia masuk ke pikiran Asia untuk menghapus ingatan Asia yang menyebabkan putri kecilnya itu trauma akibat Ares yang telah mematahkan jemari kedua putrinya.

Mengingat putrinya kesakitan seperti itu sebenarnya masih membuat darah Naruto mendidih. Dia sebenarnya berniat untuk menyiksa Ares baru kemudian membunuhnya namun hal tersebut dia urungkan karena dia lebih memilih membuat isi kepala Ares berubah dan dewa perang tersebut akan menyerang Zeus sendiri sebelum kemudian setelah dewa perang itu sukses menyarangkan serangan, dewa perang tersebut akan memotong lidahnya sendiri lalu bunuh diri karena perintah otaknya yang diberikan oleh Naruto melalui jutsu ciptaannya dahulu yang dibuat setelah dia mempelajari seluk beluk otak manusia.

Dewa yang berakhir bunuh diri jarang terdengar bukan? Apalagi jika itu adalah dewa perang dari mitologi yang terkenal. Kehilangan satu dewa tidak pernah dipedulikan oleh Naruto karena dia tidak peduli dengan mereka.

Kedok dewi Hera yang berpura-pura sebagai manusia sudah terbongkar dan juga Naruto sudah memperlihatkan bahwa dia bukanlah manusia biasa dengan kedua matanya yang telah terlihat kepada dewi pernikahan tersebut. Naruto juga sudah berkata bahwa Ares-lah yang menculik Asia dan Naruto mengalahkan dewa itu yang membuat Hera bertanya bagaimana caranya dia mengalahkan dewa perang tersebut namun dijawab dengan diamnya Naruto pertanda dia tidak mau bicara. Dia juga tidak mengkonfirmasi pertanyaan dewi Hera yang bertanya apakah dia adalah pengguna Sacred Gear atau bukan.

"Aku tidak menyalahkanmu, dewi." Naruto berkata sambil mengambil cangkir minum yang berisi teh meja yang memisahkan dirinya dengan dewi Hera tersebut. "Hal ini terjadi karena kelengahanku semata." Ucapnya setelah menyesap teh yang dia buat.

"Tapi… bukankah ini semua tetap aku penyebabnya, Naruto-san. Jika saja aku tidak dekat dengan Asia dan dirimu..." Hera membalas dengan nada bersalahnya. "A-aku…"

"Hal yang sudah terjadi maka biarlah terjadi. Mau diminta untuk memutar waktu-pun agar hal tersebut bisa dicegah juga tidaklah mungkin." Perlahan, cangkir teh yang Naruto pegang kembali ke tempatnya dan mata biru itu memandang ke arah Asia yang tertidur tenang di sana. Jika hal ini dibicarakan dengan kepala panas maka Naruto pasti sudah mengamuk dan tidak melihat dari sudut pandang lainnya. "Yang harus aku pikirkan adalah apa yang terjadi setelah ini. Dengan Zeus yang mengetahui aku yang telah mengalahkan Ares maka aku sudah pasti akan dia buru dan kemungkinan terburuknya adalah hal ini akan menarik perhatian banyak pihak."

Yah… jika itupun Zeus tahu dari Ares. Batin Naruto. Nafas pelan tertarik ke paru-paru Naruto. "Aku tidak terlalu peduli jika seandainya aku diburu Zeus, diburu dewa petir yang paranoid itu bukanlah masalah dan aku tidak takut dengan dewa itu. Selama dia bernyawa maka sudah pasti dia bisa mati."

Hera terhenyak dengan pemikiran dari Naruto. Wajah ayu itu naik dan menatap wajah Naruto yang juga memandangnya. "Kau berani melawan dewa terkuat Olympus Naruto?"

"Jika itu untuk melindungi orang-orang yang terpenting dalam hidupku maka aku dengan senang hati akan melakukannya dewi. Lagipula itu adalah pertanyaan konyol disaat aku sudah mengalahkan salah satu dari dewa mitologimu." Kata Naruto. "Sebenarnya aku hanya ingin hidup tenang di dunia ini tapi ternyata yang namanya takdir selalu bermain dengan caranya sendiri."

Mata biru itu kemudian menerawang jauh sekali. Mencoba untuk memperkirakan bagaimana tentang masa depan yang akan dihadapinya.

"Aku tidak menyalahkanmu karena kau memang tidaklah merencanakan hal ini. Kau hanya ingin bebas setelah pernikahanmu dan Zeus telah berakhir dewi. Kau berhak untuk dekat dengan siapapun karena kau telah lepas bebas dari penderitaanmu. Yang salah hanyalah Zeus yang tidak mengerti apapun. Untuk dewa yang telah hidup hingga milenia namun masih tenggelam dalam arogansi dan masih menjadi pemimpin adalah hal terburuk dalam mitologi kalian."

Hera tidak bisa membalas untuk itu karena memang yang diucapkan oleh pria pirang tersebut karena apa yang dia katakan memanglah benar. Kepemimpinan Zeus memanglah sangat buruk.

"Tapi itu adalah masalah kalian. Bukan masalahku. Yang jadi perhatianku hanyalah Asia seorang. Aku hanya ingin bertanya ini padamu sekali jadi tatap aku."

Muka Naruto berubah menjadi serius setelah mengatakan hal tersebut dan Hera yang menatap wajah yang serius itu merasakan sesuatu di dalam dirinya. Tatapan serius itu hanyalah untuk mengetahui satu hal yang berhubungan dengan putri kecilnya.

"Apa kau punya sesuatu rencana kepada Asia?"

Pertanyaan itu simpel diucapkan namun berat untuk dijawab. Hera yang dihadiahi pertanyaan tersebut membuka mulutnya sebentar lalu menutupnya lagi.

Apakah dia punya rencana kepada Asia? Hal seperti itu tidak pernah terlintas sekalipun di pikirannya. Dia hanya dekat dengan Asia karena Hera sudah menganggap Asia seperti putri yang tidak pernah dia miliki sama sekali. Tida pernah ada rencana untuk menggunakan Asia untuk kepentingan Hera.

Hal itu dipikirkan Hera secara matang dan mata dewi pernikahan Olympus itu menatap lagi mata biru milik pria pirang yang menantikan jawaban darinya. Lalu sebuah gelengan kepala penuh kepastian menjadi jawaban jujur dari Hera.

Tidak ada perkataan lagi dari dewi Olympus tersebut dan Naruto masih memperhatikannya sebelum kemudian tertawa kecil disana. Sebuah tawa penuh dengan rasa kegelian.

"Jawaban yang jujur sekali dewi." Naruto berkata demikian. "Untuk seorang dewi dengan predikat buruk di Olympus aku merasa ini adalah jawaban jujur yang terdengar asli tanpa perkataan apapun."

Hera tertegun dengan perkataan Naruto. Wajah ayu dari dewi pernikahan tersebut yang terlihat seperti perempuan khas Eropa hanya berubah bingung kemudian. "Kenapa kau tertawa Naruto-san? Bagaimana jika seandainya aku berbohong kepadamu?"

"Jika kau berbohong maka aku tinggal membunuhmu dewi." Naruto berkata dengan nada penuh kepastian. "Lagipula seperti aku tidak bisa membaca sebuah kebohongan saja dari seseorang."

Hera terdiam. Dia dibuat tidak bisa bicara lagi. Keheningan menerpa mereka kembali beberapa saat kemudian.

"Kau tahu alasan lain kenapa aku tidak menyalahkanmu dewi?" Naruto memecah keheningan kemudian.

"Kenapa?" Balas Hera dengan nada penasaran.

"Karena bagaimana mungkin aku menyalahkanmu disaat aku melihat wajah khawatir begitu besar tercetak di wajahmu ketika kau mencari Asia dengan diriku. Kau terlihat begitu peduli kepada Asia dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku melihat dari sudut pandangmu melihat dunia."

"Naruto-san…"

"Aku telah membaca semua kisah dewa dewi di dunia buruk ini kau tahu dan aku hanya bisa prihatin kepadamu sejak awal kita bertemu." Naruto menatap lembut dewi Hera. Tatapan lembut yang tidak pernah didapatkan Hera dari Zeus sekalipun. "Apa yang kau alami selama ini bukanlah cinta, bukanlah loyalitas melainkan sebuah kebodohan. Entah ini bisa terpikir ataupun tidak tapi kenapa tak berfikir secara simpel dan mudah sejak dulu?"

"Berapa kali kau sudah disakiti? Berapa kali engkau dikhianati? Selama milenia? Sampai Olympus akhirnya mempunyai tiga belas dewa dewi dan kau masih terus dikhianati Hera. Kenapa kau buta dan tak mau melihat matamu ke arah lain untuk mencari kebahagiaanmu sendiri sejak awal jika kau merasa sudah tidak mampu lagi menahannya?"

Dewi Hera merasakan degup jantungnya mulai berpacu dengan cepat ketika mendengar hal ini. Pria ini… pria ini mengerti penderitaannya yang telah Hera alami, yang menjerat Hera terlalu dalam hingga membuatnya begitu banyak meneteskan air mata.

"Karena kuyakin mereka para pencari bahagia pasti akan menemukan hal itu pada akhirnya jika mereka mau mencarinya. Jadi mulai sekarang teriakkan kebahagiaanmu dan lindungilah hal tersebut." Naruto melihat ke atas langit-langit kedainya sebelum berdiri dan berjalan ke arah Asia yang terlelap. Hera bisa melihat punggung lebar milik pria pirang itu yang berjalan menuju ke-arah putrinya. Pria pirang itu berhenti di samping tempat tidur Asia dan membelai lembut dahi putrinya dengan penuh kasih sayang.

Hal itu semakin membuat degup jantung Hera bertabuh begitu kencang dan sebuah perasaan yang Hera tidak ketahui pasti bergejolak di dadanya. Tangan dewi itu memegang dada miliknya dan meremas baju yang disentuhnya.

Naruto… Sekarang Hera yakin pria pirang itu benar-benar berbeda. Pria pirang itu berhak marah kepadanya namun tidak dia lakukan. Dia malah membuat Hera merasa seperti ini.

Rasa seperti ratusan kupu-kupu berterbangan lepas di dada miliknya. Dan Hera kemudian sadar.

Benih yang bernama cinta itu telah ditanam tanpa disadari oleh pria pirang itu sendiri di dalam dirinya.

[3]

Ketika Issei melewati jalanan pulang menuju ke kediaman miliknya, langkah kaki itu terhenti beberapa meter ketika dia melihat seorang pria dengan rambut berwarna merah pekat berdiri bersandar di tembok jalan yang biasa dia lalui.

Pria merah itu memejamkan matanya seolah dia tengah menunggu seseorang dan ketika orang yang ditunggu telah tiba, mata milik pria itu terbuka dan melihat ke arah Issei lalu tersenyum. Issei melihat pria dewasa yang seumur dengan gurunya itu kemudian berdiri tegak.

"Hyoudou Issei-kun?" Pria itu memanggil namanya dan Issei menaikkan alis.

"Siapa?" Issei bertanya sembari membuat langkah mundur beberapa langkah. Ddraig meneriakkan kata-kata tentang orang di depannya ini sangatlah berbahaya dan dia harus mundur. Issei yang percaya dengan Ddraig melakukan apa yang jiwa naga itu katakan di pikirannya. "Apa maumu?"

Bermain aman dengan menjaga jarak, setidaknya Ddraig berkata dia harus kabur maka dia akan kabur jika berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya.

Pria itu sepertinya bisa melihat postur tubuh Issei yang sangat waspada. Issei melihat pria itu maju selangkah.

Dan Issei mundur selangkah pula.

Melihat gerakan tersebut, pria itu tentunya mengerti jika Issei menjaga jarak dengannya.

"Melihat kau yang tidak mau didekati, maka aku tidak akan mendekatimu, aku datang dengan damai Sekiryutei."

Issei terkesiap dan semakin waspada. Pria ini tahu tentang dirinya yang merupakan Sekiryutei berarti pria ini bukanlah orang sembarangan.

"Namaku Sirzech Lucifer, Hyoudou-kun." Pria itu mengenalkan namanya yang langsung membuat Issei membeku seketika ketika mendengar nama terakhir dari pria di depannya tersebut.

Lucifer?!

Siapa yang tidak tahu Lucifer? Meskipun Issei bukanlah orang yang religius, setidaknya dia tahu bahwa nama terakhir itu merupakan nama dari raja para iblis.

Dan menurut Ddraig, nama Lucifer sekarang disandang oleh orang yang memimpin Underworld dan itu menjadi gelar

Seorang Maou.

Ini buruk! Kenapa yang merupakan Maou menemui Issei seperti ini?

[Pergi darinya sesegera mungkin Issei! Dia bukanlah orang yang bisa kau lawan. Hanya gurumu itu yang bisa melawannya!]

Ddraig kembali berteriak di kepalanya, kembali menyuruhnya kabur dari hadapan pria berambut merah itu yang tersenyum tenang di sana.

Namun meskipun senyuman itu terlihat tidak berbahaya, bagi Issei itu seperti senyuman malaikat maut saja. Issei merasa keberuntungannya sedang berada di level paling buruk selama ini. Dewi Fortuna pasti sekarang tengah menahan keberuntungannya.

"Jangan takut Sekiryutei, aku datang bukan untuk bertarung atau punya keinginan untuk itu." Pria yang mengenalkan namanya sebagai Sirzech itu berusaha meyakinkan Issei kembali.

Sayang Issei tidak mau mengambil resiko dengan mempercayai perkataan seperti itu. Di pikirannya berbagai kemungkinan telah dia pikirkan dalam sekejap dan tanpa ba bi bu lagi, Issei mengeluarkan benda seperti kelereng dari sakunya.

Teknik menghilang yang biasa digunakan para ninja yang diajarkan oleh gurunya sebagai pelatihan dasar dan Issei mencoba menggunakannya. Dia melemparkan benda seperti kelereng itu ke bawah dengan keras dan suara ledakan kecil yang memuntahkan asap putih begitu tebal langsung menyelimuti jalanan.

Ddraig! Pergi sekarang!

[Siap partner!]

Api menyelimuti bagian bawah Issei dan merambat dengan cepat ke atas. Teknik teleportasi api milik Ddraig yang dia pelajari dari sihir kuno para naga adalah apa yang akan dilakukan Issei.

Dan ketika asap tersebut menghilang, menyisakan Maou tersebut disana yang tidak berbuat apapun selain tersenyum geli, Issei benar-benar sudah tiada di sana.

[...Bagian kecil yang telah tertanam selesai…]

A/N : Dengan begini maka semua hal di canon berubah total. Apa aku melewatkan arc Riser? Jika kubilang iya maka kemungkinan yang lain akan terbuka. Dengan Exorcist yang datang lebih cepat dari Canon dan masalah Issei dengan para iblis yang mulai rumit dengan maka kemungkinan Chaos bisa kuambil di Chapter-chapter berikutnya. Masalah Naruto dengan Olympus juga baru dimulai di babak pertama.

Terima kasih untuk semua dukungan yang ada. Aku membatasi setiap chapter yang kutulis hanya sepanjang 4k bisa kurang bisa lebih.

Selain itu, aku menulis hanya untuk kesenangan. Bukan konsisten karena ini hanyalah hiburan semata, tidak ada keuntungan yang kudapat jika aku konsisten dan fokus di cerita saja. Aku hanya menuruti keinginanku menulis sesuka hati. Terima kasih.

Sampai jumpa di chapter depan para senpai terhormat.